Disclaimer : Naruto © Masashi Kishimoto

Warning: OOC, OC(s), typo(s), shonen-ai, semi canon / canon modified. (flashback time~)

.

Ps: Italic means flashback

.

.

~Memories~

.

.

"Kau mau memulai sesuatu yang baru denganku?"

"Sebuah hubungan di mana aku ada untuk melindungimu, dan kau menunjukan kesetiaanmu pada diriku seorang."

"Hari sudah gelap, saatnya kembali."

Deidara mengerjapkan matanya beberapa kali saat kesadaran perlahan menghampirinya.

"Deidara, saatnya pulang."

Deidara tersentak dan segera membuka matanya secara keseluruhan ketika mendengar suara Sasori. Dirinya yang sedari tadi tidur dengan posisi duduk bersandar pada batang kokoh sebuah pohon tua, kini menatap sekitar guna mencari keberadaan Sasori.

"Danna!" serunya memanggil Sasori. Ia yakin Sasori berada di dekatnya, karena baru saja ia mendengar Sasori mengajaknya pulang bersama. Ah, mungkin saja Sasori bersembunyi di balik pohon tempatnya bersandar—pikirnya.

"Hari sudah gelap, saatnya kembali."

Deidara tertegun ketika suara Sasori kembali terdengar. Namun setelah mencari berulang kali dengan cara mengedarkan pandangannya ke seluruh penjuru, ia menyadari sosok Sasori tak berada di dekatnya.

Deidara pun menyadari suara Sasori berasal dari dalam kepalanya sendiri.

"Masa lalu, un?" bisiknya lirih seraya mendongak menatap langit gelap tak berbintang.

Ya, ia ingat saat dirinya dan Sasori menikmati matahari terbenam di atas sebuah bukit yang indah. Saat itu hari mulai gelap dan Sasori mengulurkan tangannya ke arah Deidara seraya mengajak Deidara untuk pulang—kembali ke markas.

Deidara tak mengerti mengapa pikirannya secara otomatis memutar kalimat-kalimat yang pernah Sasori ucapkan di masa lalu. Ia pun tak paham mengapa hingga saat ini Sasori belum juga datang untuk menjemputnya. Deidara menghela napas panjang kemudian kembali menyandarkan punggungnya di batang pohon yang kokoh. Ia akan tetap menunggu hingga Sasori datang.

"Berjanjilah kau tidak akan melukai dirimu sendiri dan apapun yang terjadi jangan pernah pergi meninggalkanku."

Saat mendengar suara Sasori di dalam kepalanya, Deidara hanya dapat memejamkan mata sembari berbisik, "Aku berjanji, Danna."

Sebuah bisikan yang tertiup angin malam.

.

.

Cuaca hari ini sepertinya tidak berpihak pada Deidara, terbukti dari turunnya tetes demi tetes air dari langit yang gelap. Tubuh Deidara yang belum sepenuhnya kering tersebut kini mulai basah kembali. Kali ini pun ia tidak memutuskan untuk mencari tempat berteduh.

Matanya yang sayu berkilat merefleksikan kilat terang yang menembus awan. Tak berapa lama terdengar gemuruh halilintar yang menggetarkan bumi. Bunyi yang begitu keras tersebut sama sekali tak membuat Deidara terkejut. Sebaliknya, Deidara hanya terdiam menatap nanar kilat-kilat yang membelah langit.

Kenangan masa lalu kembali mengerjar Deidara. Bayang-bayang sang partner kembali menari-nari dalam benaknya. Teringat kembali saat Sasori memeluk Deidara dengan erat guna menenangkan Deidara yang saat itu begitu ketakutan pada petir.


"Trauma masa kecil tak semudah itu untuk dihapuskan, Deidara. Aku mengerti apa yang kau rasakan," bisiknya dengan nada setenang mungkin. "Tapi saat ini kau tidak perlu takut lagi karena kau memiliki seseorang yang akan selalu melindungimu."

Membuka matanya perlahan, Deidara mendongak untuk dapat menatap wajah Sasori.

"Aku tidak akan membiarkan siapapun atau apapun menyakitimu," ucap Sasori seraya merendahkan wajahnya untuk memberikan sebuah kecupan ringan namun penuh kasih sayang pada kening Deidara. "Selama aku masih hidup, aku akan terus melindungimu. Menjagamu agar kau tetap aman dan selamat. Ya, selama aku masih hidup, Deidara, yang berarti...selamanya."

Bibir Deidara melengkung membentuk sebuah senyuman. Gemuruh petir di luar sana tak lagi menakutinya seperti sebelumnya. Setelah membisikkan 'terima kasih' kepada Sasori, Deidara kembali membenamkan wajahnya pada dada kiri Sasori, menagih kehangatan, kenyamanan, dan rasa aman.

"Setiap kau mendengar bunyi petir, ingatlah apa yang kukatakan hari ini," ucap Sasori yang mendekap Deidara dengan lebih erat lagi, seolah tak ingin melepasnya agar dunia tak bisa menyakiti Deidara lebih dari yang pernah ia rasakan.


"Sekarang aku mendengar bunyi petir, Danna, dan aku mengingat apa yang kau katakan hari itu, un," gumam Deidara kepada Sasori yang entah berada di mana saat ini. Berkat apa yang Sasori katakan hari itu, rasa takut Deidara terhadap petir lenyap begitu saja.

Tatapan mata Deidara semakin lama terlihat semakin kosong. Semangat dan keceriaan yang biasanya terpancar dari bola mata birunya yang indah kini lenyap entah ke mana. Mungkin hanya kehadiran Sasori yang mampu mengembalikan semangat, keceriaan, dan kebahagiaan Deidara.

Menunggu bukanlah sebuah hal yang mudah bagi seniman perakit bom ini. Terutama menunggu seseorang yang begitu ia rindukan seraya mengenang seluruh momen-momen penting dalam perjalanan hidup mereka, perjalanan cinta mereka.


Deidara seolah terhipnosis dengan indahnya langit yang membentang di atasnya. Tanpa sadar, kini kedua tangannya terangkat ke arah langit. Dengan sedikit berjinjit, Deidara mencoba untuk berdiri lebih tinggi.

"Kau ingin menggapai langit?"

Pertanyaan Sasori membuat Deidara tersentak, namun akhirnya ia mengangguk tak menyahuti.

"Untuk apa? Kau sudah memilikinya," ucap Sasori.

Deidara menurunkan kedua tangannya kemudian berbalik untuk memberi tatapan bingung pada Sasori. "Maksud Danna?"

Tersenyum tipis, Sasori menyahuti, "Langit itu, kau sudah memilikinya di matamu."

Rasa hangat menjalar perlahan ke wajah Deidara membuat kedua pipinya menunjukkan semburat kemerahan.

Sasori meraih tangan kanan Deidara dan menggenggamnya. "Tapi, jika kau ingin menggapai langit yang sesungguhnya, aku yakin kita akan menggapainya suatu hari nanti," ucapnya seraya mendongak menatap langit."

Meski Deidara tak mengerti apa yang Sasori maksud, namun tak ada pilihan lain bagi dirinya selain percaya. Percaya pada apa yang Sasori katakan. Suatu saat mereka akan menggapai langit, ya, Deidara merpercayainya.


Kedua mata Deidara melebar saat salah satu momen terindah dalam hidupnya berputar di dalam kepalanya. Kalimat Sasori, yang mengandung sebuah arti tersirat, kini mulai Deidara sadari secara perlahan-lahan.

Menggapai langit suatu hari nanti.

Ya, kalimat tersebut mengandung sebuah makna yang tak tampak. Sebuah makna yang tak Deidara tangkap saat Sasori mengucapkannya. Tetapi kini, rupanya Deidara perlahan mulai mengerti.

Yang Sasori maksud dengan menggapai langit bukanlah terbang setinggi-tingginya dengan burung tanah liat Deidara. Raga manusia tak akan pernah mampu menggapai langit, tetapi jiwa manusia, mungkin saja bisa menggapainya.


Sasori mengambil sesuatu dari balik jubah hitamnya. Perlahan namun pasti, ia mengeluarkan setangkai bunga yang melambangkan perasaannya kepada Deidara. Setangkai bunga yang ia dapatkan dengan perjuangan.

Setangkai bunga yang mampu membuat kedua mata Deidara melebar.

"Bunga ini memang tak seindah bunga-bunga yang kau berikan padaku. Tetapi bunga ini adalah bunga yang tepat untuk melambangkan perasaanku padamu," ujar Sasori.

Deidara masih mematung. Di hadapannya kini, Sasori berdiri dengan senyum di wajahnya, dan setangkai bunga Edelweis di tangan kanannya. Tentunya Deidara tahu makna yang terkadung dibalik bunga putih yang tumbuh di puncak gunung ini. Ia tak menyangka Sasori akan memetik bunga keindah ini untuknya. Benar memang, jika dilihat dari segi fisik, bunga Edelweis ini tak lebih indah dibanding bunga lainnya. Akan tetapi, makna yang ingin disampaikan oleh pemberi bunga ini jauh lebih dalam dari makna yang terkandung di bunga lain.

"Deidara, terimalah perasaan cintaku yang tak akan lekang oleh waktu, yang tak akan pernah mati. Perasaan cinta yang abadi," ucap Sasori seraya menyodorkan bunga tersebut kepada Deidara yang masih mematung.

Masih terdiam seribu bahasa, Deidara menerima bunga yang benar-benar melambangkan perasaan Sasori. Atau tepatnya, bunga yang melambangkan mereka berdua.

Tersenyum, Deidara mengecup bunga berwarna putih tersebut. Rasa haru dan bahagia yang ia rasakan benar-benar membuatnya kehilangan kata-kata. Rasa rasa sayang, cinta, kekaguman, ketulusan, pengabdian, harapan, syukur, dan kerinduan yang ia rasakan pada Sasori benar-benar disempurnakan oleh cinta abadi yang Sasori berikan.

"Terima kasih, Danna. Aku menerima cintamu yang abadi, un."

.

"Jangan meninggalkanku, un!"

"Apa yang kau bicarakan? Aku tidak akan pernah meninggalkanmu."

"Tapi...Danna mengatakan semua yang terlahir sebagai manusia akan berakhir sebagai manusia, un. Danna terlahir sebagai manusia. Apa Danna juga akan berakhir seperti manusia pada umumnya, un?"

"Deidara, aku tidak pernah mengatakan hal itu padamu. Kau hanya bermimpi. Mimpi buruk. Mimpi bukanlah sebuah kenyataan."

"Aku...takut kehilangan Danna, un," bisiknya lirih.

Tatapan mata Sasori melembut. Ia tahu bagaimana perasaan Deidara saat ini karena ia juga merasakan ketakutan yang sama. Deidara takut kehilangan Sasori sedangkan Sasori takut kehilangan Deidara. Rasa yang sama tersebut membuat Sasori mengerti betul betapa tertekannya Deidara.

"Dengar, Deidara. Aku tidak akan pernah meninggalkanmu, selama kau tidak pergi meninggalkanku."


"Apa Danna benar-benar tidak akan pernah pergi meninggalkanku, un?" bisik Deidara dengan nada datar seraya menatap nanar langit yang masih mencurahkan air ke bumi. Luka di tubuh Deidara terasa semakin kebas. Seluruh tubuhnya terasa beku oleh hawa dingin yang menusuk ditambah dengan guyuran hujan. Perlahan Deidara mulai tak dapat merasakan apa-apa di tubuhnya.

Kebas. Mati rasa.


Ya, aku pernah mendengar tentang benang merah takdir, dan aku mempercayainya.

Tetua Iwagakure yang kau ceritakan itu bukanlah Sang Pencipta. Hanya Ia yang Menciptakan kita yang tahu apakah benang merah takdir hanya menghubungkan seorang laki-laki dengan seorang perempuan saja.

Aku tak akan bertemu dengan perempuan yang telah ditakdirkan untukku karena tak ada satu perempuan pun yang ditakdirkan untukku.

Apa pun yang terjadi, aku tidak akan pernah meninggalkanmu.

Kau mengatakan suatu hari nanti mereka yang telah ditakdirkan untuk bersama, akan bertemu dan bersatu. Deidara, aku sudah bertemu dan bersatu dengan ia yang telah ditakdirkan untukku. Aku bertemu dengannya tiga tahun yang lalu di kuil Iwagakure.

Mata Deidara berkaca setelah membaca tulisan tersebut. Segera saja ia berlari menghampiri Sasori yang masih duduk dengan tenang di tepi danau.

"Danna..." bisiknya saat ia sudah berdiri tepat di belakang Sasori.

Perlahan Sasori menoleh ke belakang untuk memberikan sebuah senyuman kepada Deidara. "Kau sudah mengikuti benang merahmu?" tanyanya.

Deidara hanya bisa mengangguk untuk menutupi rasa harunya.

"Seperti itulah benang merah takdir, Deidara. Benang itu bisa saja kusut, tapi tidak akan pernah putus. Untuk mencari ujungnya, diperlukan usaha dan kesabaran. Tapi pada akhirnya, kau berhasil menemukan ujungnya, bukan?" papar Sasori seraya berdiri kemudian mendekati Deidara.

Tepat di hadapan Deidara, Sasori mengangkat tangan kanannya setinggi dada untuk menunjukan kelingkingnya yang terikat oleh benang merah.

"Takdir benang merahmu adalah aku. Dan takdir benang merahku adalah kau, Deidara. "


Sejak saat itu Deidara yakin Sasori adalah takdirnya. Benang yang sama terikat di kelingking mereka berdua. Benang yang bisa mengendur, bisa kusut, tetapi tak akan pernah terputus apa pun yang terjadi. Karena itu, saat ini Deidara tetap percaya bahwa sebentar lagi benang merah yang terikat di kelingkingnya akan menarik Sasori untuk datang kepadanya.

Bukankah mereka berdua saling terhubung?

Jika memang takdir benang merah memang ada, pastilah benang merah tak kasat mata itu akan mengembalikan sang Danna pada pelukan Deidara. Karena alasan itulah Deidara tetap duduk di bawah guyuran hujan, menunggu dan mengenang sang Danna di saat yang bersamaan.


Pemuda beriris biru Azure tertegun saat Sasori menyelipkan bunga kecil bermahkota biru—sewarna dengan iris mata Deidara—di telinga kiri Deidara.

Setangkai bunga forget-me-not yang dikenal dengan bunga yang memiliki arti 'jangan lupakan ia yang telah memberikan bunga ini padamu' kini memperindah wajah Deidara yang sudah dibingkai dengan sempurna oleh rambut pirangnya.

Perlahan Sasori meraih kedua tangan Deidara—kelingkingnya yang masih terikat oleh benang merah kini bertemu dengan kelingking Deidara yang juga masih terikat benang yang sama—kemudian mengangkatnya setinggi dada mereka.

"S-sasori no Danna?" bisik Deidara terbata, rasa gugup yang sudah lama tak ia rasakan ketika berada di sisi Sasori kini kembali menguasai dirinya. Mungkin karena Sasori tengah menggenggam kedua tangannya seraya menatap matanya dengan sebuah tatapan intens.

"Deidara, menikahlah denganku."

.

"Aku, Sasori, bersumpah akan terus mencintai Deidara, dalam suka maupun duka, senang maupun sedih, dan dalam keadaan tersulit sekalipun, bahkan meski maut harus memisahkan, aku akan tetap mencintainya sepenuh hati. Kalaupun seandainya dunia menentang, langit dan bumi tak mengizinkan, aku tak akan pernah berhenti mencintainya."

Sasori mengambil cincin berwarna hijau yang merupakan cincin milik Deidara kemudian perlahan menyematkan cincin tersebut di telunjuk tangan kanan Deidara.Setelah menyematkan cincin, Sasori menatap mata biru Deidara seraya berucap, "Aku mencintaimu, Deidara."

Deidara mengigit bibir bawahnya, sekuat mungkin menahan agar air matanya tak jatuh membanjiri pipinya. Segera ia mengambil cincin Sasori yang berwarna ungu, lalu dengan perlahan dan penuh penghayatan, Deidara menyematkan cincin tersebut di ibu jari tangan kiri Sasori.

Deidara mengangkat wajahnya, kali ini ia membiarkan air mata haru yang sedari tadi dibendungnya kini menetes perlahan. "Aku juga mencintai Danna, un," bisiknya.

.

.

.

Kenangan akan prosesi suci yang menyatukan Sasori dan Deidara perlahan membuat seluruh perasaan di hati Deidara bergejolak. Tanpa direncakan sama sekali, air mata telah menetes dari kedua mata Deidara yang tampak lelah. Bayangan saat Sasori mengucapkan janji sucinya membuat sebuah isakan terdengar dari bibir Deidara.

"Aku juga mencintaimu Danna, un," bisik Deidara mengulangi kalimat yang ia ucapkan di saat upacara pernikahan mereka, seraya mengepalkan kedua tangannya di depan dada kirinya—seolah mencoba untuk mengurangi rasa sakit pada jantungnya.

"Kita akan selalu bersama 'kan, Danna?" bisik Deidara lirih di sela tangis dan isakannya.

Walau ia tak tahu apa yang tengah terjadi pada Sasori saat ini, namun kenangan atas kebersamaan mereka cukup untuk membuat Deidara menangis terisak di tengah guyuran hujan.


"Aku bahagia memilikinya, Danna," ujar Deidara seraya tersenyum.

Sasori mengangguk. Tangan kirinya ia gunakan untuk memeluk pinggang ramping Deidara, sedangkan tangan kanannya ia gunakan untuk memeluk tubuh mungil Akasuna. "Aku pun begitu."

Akasuna menggeser posisinya sehingga kini ia berada tepat di tengah-tengah orang tuanya. Tangan kanannya ia lingkarkan di leher Deidara sedangkan tangan kirinya di leher Sasori. Kedua tangan mungilnya mencoba memeluk kedua orang tuanya seerat mungkin.

"Akasuna sayang Saso-tousan dan Dei-tousan," ujarnya dengan suara yang menggemaskan namun terdengar begitu tulus.

Diiringi dengan senyum bahagia, Deidara berucap, "Kami juga menyayangimu, Akasuna."

.

"Aku...sa-ngat...menyayangi...Saso-tousan...dan...Dei-tousan."

.

"Apakah ratusan tahun lagi dunia masih tetap seperti ini, un?"

"Aku tidak tahu. Tapi mungkin saja dunia di masa depan tidak seperti dunia kita kini. Mungkin membaik, mungkin juga memburuk."

"Apa Danna akan hidup sampai masa depan itu datang, un?"

"Menyaksikan masa depan tanpamu?" tanya Sasori setelah cukup lama ia terdiam.

Tersenyum tipis, Deidara berucap, "Saat aku kecil, tetua Iwagakure pernah mengatakan bahwa seseorang yang telah meninggal akan bereinkarnasi kembali di kehidupan yang selanjutnya, un. Mau tidak mau aku percaya pada reinkarnasi yang dimaksud olehnya. Jadi, jika reinkarnasi memang benar-benar ada, maka aku akan lahir kembali dan menemukan Danna yang telah menungguku di masa depan."

"Lalu semuanya akan terulang? Kau meninggalkanku, setelah itu aku harus menunggu hingga kau dilahirkan kembali, lalu tak lama kemudian kau meninggalkanku lagi, begitu hm? Kau terdengar egois, Deidara."

"Sejujurnya aku tidak ingin meninggalkanmu sendirian, Danna. Dan tentang pertanyaan Danna tadi..." Deidara tersenyum lebar sebelum melanjutnya kalimatnya, "Bagiku, kehadiran Danna di sisiku sudah lebih dari cukup. Selama kita bersama, rintangan sesulit apapun pasti bisa kita lewati. Benar kan, Danna?"

.

"Aku mencintaimu, un."

"Aku juga mencintaimu, Deidara."


Tangisan Deidara semakin menjadi. Tubuhnya gemetar oleh tangis dan isakan yang tak mampu ia bendung. Seluruh rasa kecewa, sedih, cemas, khawatir, dan semua emosi yang berkumpul di dalam hatinya kini ia tumpahkan.

Kendati dirinya yakin Sasori akan segera datang, namun hati kecilnya berkata Sasori tak akan datang.

Sasori sudah pergi.

Pergi jauh meninggalkannya.

Tetapi akal sehatnya menolak. Mengingat semua hal yang sudah mereka lewati selama ini, mustahil rasanya jika kini Sasori pergi meninggalkannya. Lagipula, bukankah Sasori sudah berjanji untuk tidak akan pernah meninggalkan Deidara?

"Danna..." bisik Deidara seraya terus menangis.


"Maafkan aku."

Sasori menarik Deidara ke dalam pelukannya, mendekap Deidara dengan begitu erat seolah tak ingin melepaskannya. Tatapan mata Sasori melembut, meski Deidara tak dapat melihatnya.

"Danna? Kau benar-benar...berbeda hari ini, un. Ada apa denganmu?" tanya Deidara seraya perlahan membalas pelukan Sasori dengan tangan kanannya.

Sasori mendekap Deidara lebih erat hingga pemuda berambut pirang tersebut merasa sedikit sesak.

"Hari ini akan menjadi sebuah hari yang berbeda, Deidara," bisik Sasori lirih. "Hari yang merupakan sebuah permulaan bagi sesuatu yang besar, sesuatu yang kita harapkan selama ini. Masa depan yang cerah telah menanti kita berdua, Deidara. Oleh karena itu, tentukan pilihanmu dan ikutlah bersamaku."

Deidara mengerutkan dahinya. Ia sama sekali tak mengerti dengan apa yang di maksud oleh Sasori. Untuk pertama kalinya Deidara sama sekali tak memiliki bayangan tentang topik apa yang kini tengah dibicarakan oleh sang Danna. Tak sedikit pun bayangan terlintas di dalam kepalanya.

"Walaupun menyakitkan, inilah yang terbaik."


"Aku akan menemukanmu."


Saat itulah kenyataan menghantam Deidara dengan begitu keras seolah menghancurkan jiwa raganya yang sudah rapuh. Isak tangis Deidara tak lagi terdengar, tetapi air matanya tetap mengalir—bercampur dengan air hujan.

"Tidak mungkin..."

Ya, Deidara sudah menyadari sesuatu.

Walaupun terlambat.

"SASORI NO DANNA!"

Teriakan berhasil memecahkan keheningan malam, disambut oleh gemuruh halilintar.

Namun, sang pemilik nama tak akan pernah menyahuti.