Disclaimer : Touken Ranbu milik Nitro
AN : mencoba menulis anmitsu/yasukiyo. Sedikit mikakiyo... maaf kalau ada karakter yang out of character.
Terimakasih bagi pembaca yang masih setia membaca fic ini meskipun author sering update di waktu yang engga pasti. Author akan berjuang menulis fic ini sampai habis.
Malam itu, seluruh toudan duduk di lantai lobby lantai enam. Reijin Akinaga—si gadis cilik, saniwa cilik—terlihat senang karena bisa main guru-guruan. Si gadis cilik mengayunkan penggaris panjang sebagai pengganti tongkat untuk menunjuk sementara Hasebe mendorong papan tulis kecil untuk di pakai.
"Rei, bahaya mengayunkan penggaris!" seru Otegine.
"Engga ko~k!" kata Rei yang menggunakan penggarisnya kemudian dan berpose ala samurai.
"Aku (washi) adalah samurai!" seru Rei.
"Logat itu pasti dari Mutsu," kata Kashuu datar.
"Gyahahhaha! Artinya Rei lebih suka aku daripada kalian!"
"Rei-sensei, kapan mau mulai pelajarannya?" tanya Hasebe.
"Maaf, sebentar...heya." saniwa Reijin mengambil kendali.
"Begini, aku harus menjelaskan soal paling mudah. Apakah itu saniwa? Ayo jawab!" seseorang mengangkat tangannya.
"Ya, Hasebe?"
"Seseorang dengan kemampuan memanggil jiwa dalam sebuah benda mati—jiwa itu akan disebut tsukumogami."
"Tepat. Namun saniwa hanyalah salah satu dari berbagai macam kemampuan spiritual. Ada juga yang kalian sebut dengan pengguna kata-kata—kotodamashi, lalu ada onmyoji, kekkaishi, miko dan sebagainya. Lalu, saniwa terbagi tiga masa. Generasi lama, generasi menengah dan generasi muda. Aku adalah salah satu dari generasi lama, oleh karena itu kekuatan spiritualku cukup tinggi. Dan satu hal lagi, kebanyakan dari orang tua kalian adalah saniwa atau juga pemilik kalian di kehidupan lampau. Bisa juga pencipta kalian dulunya."
"Eh?"
"Okita Yasusada, sebagai contoh. Date Mitsutada, Oda Hasebe, Hiromitsu Kurikara, Minamoto Imano...yah, beberapa dari kalian tak memiliki nama pedang. Akan aneh bukan? Lagipula, setiap anak yang lahir dari dua orang tua saniwa biasanya lebih dari satu dan salah satunya akan menjadi saniwa dan sisanya kemungkinan besar adalah tsukumogami. Itu salah satu syarat saniwa terus mampu menumpas musuh, mencegah perubahan sejarah. Ada pertanyaan?"
Uguisumaru mengangkat tangannya.
"Kebanyakan orang tua kami meninggal. Meskipun penyebabnya wajar untuk manusia, aku merasa heran. Kenapa bisa begitu?" tanya Uguisumaru.
"Dalam kebanyakan kasus, saniwa tak akan berusia panjang setelah memiliki tsukumogami sebagai anak. Dalam beberapa kasus, mereka akan kehilangan kekuatan setelah punya anak. Seperti halnya Yotsune-san. Dia punya anak perempuan tahu. Hanya saja saniwa yang satu itu meninggal cepat. Kalau tak salah, partner gadis itu adalah...siapa ya? Hum...oh, Hotarumaru. Makanya kamu masih pelajar sekolah dasar sekarang."
'Wow, saniwa sampai ingat siapa saniwa dan siapa pedangnya ya?' batin Hotaru.
"Lalu, mengenai saniwa, satu saniwa punya satu pedang spesial yang akan melayani kami sampai mati. Tiap saniwa punya pedang yang berbeda. Namun basis kalian sama. Bisa di bilang, bila kalian bertemu dengan oodachi versi kalian, ataukah naginata versi kalian, mereka adalah pedang saniwa lain. Namun, apa yang terjadi bila ada naginata atau oodachi musuh dengan wajah kalian? Jawabannya, saniwa yang tercemar."
"Aruji-sama, saniwa dan pedang yang tercemar bisa di murnikan lagi." sela Aizen sambil mengangkat tangannya.
"Tepat. Saniwa dan pedang yang tercemar akan di kurung dalam sungai Sanzu dan disucikan terus menerus sampai ketika jiwa mereka kembali murni. Lalu, saniwa juga tak boleh melanggar rahasia surga."
"Aruji, apakah itu rahasia surga?" tanya Sayo.
"Rahasia surga adalah...rahasia. Makanya disebut rahasia. Namun, bila kita melanggar, membocorkan rahasia surga, orang itu akan di eksekusi di tempat atau di berikan hukuman yang keterlaluan, mengerikan, menyakitkan dan membuatmu menderita hingga ratusan tahun. Seperti apa yang diterima jenderal Tianpeng di cerita 'menuju ke barat', kalian bisa saja terikat tragedi ribuan tahun."
Para toudan bergidik.
"Lalu, tubuh kalian dan ikatan jiwa sudah kuberitahu. Jiwa kalian terikat berkat simbol pedang sementara pedang kalian adalah perantara kekuatan kalian di dunia ini. Karena itu meskipun pedang kalian menghilang atau patah, kekuatan kalian menjadi tak stabil namun simbol pedang adalah titik lemah kalian. Bila tubuh kalian memiliki reaksi penolakan, satu-satunya jalan adalah mengikat jiwa kalian secara paksa dengan tubuh seperti ritual yang kulakukan untuk Aizen Kunitoshi. Namun kebanyakan dari kalian tidak punya perlindungan khusus seperti itu."
Tarou mengangkat tangannya—dia duduk di baris paling belakang. Saniwa mengangguk, memberi izin untuk bertanya.
"Bagaimana dengan kompatibilitas?" tanya Taroutachi.
"Tiap pedang memiliki kompatibilitas yang berbeda dengan pedang lain. Lalu, tiap pedang memiliki kemampuan tersembunyi yang mampu dicapai kalau memenuhi syarat tertentu. Lagipula, beberapa pedang sudah menguasai kemampuan tersembunyi itu." Saniwa tersenyum jahil.
"Selanjutnya, kuberitahu saja, kalian bisa berkumpul sebanyak ini, sebagian adalah karena saniwa partner kalian sudah meninggal. Tsukumogami yang sudah kehilangan saniwa otomatis akan mencari saniwa baru terdekat atau saniwa dengan kekuatan spiritual tertinggi. Juga karena pedang lain campur tangan dalam dokumen kalian. Atau kalian diberikan oleh saniwa lain. Secara insting maupun dari pengaruh luar."
"Bagaimana kalau kami mati?" tanya Midare.
"Kondisi di mana kalian semua mati, jiwa kalian akan kembali ke citadel jiwa. Citadel jiwa adalah dimensi tertentu dimana jiwa para saniwa dan pedang yang tak turun ke dunia manusia menetap. Tentu saja dalam dimensi itu, kalian tak perlu makan dan mengeluarkan. Atau pun melakukan hal yang biasa di lakukan manusia." Saniwa mulai menggambar skema bertulis 'pup', 'makan'. 'minum' dan 'bernafas' yang semuanya dicoret dengan x besar-besar.
"Sesi pertanyaan masih berlanjut!" kata saniwa yang menikmati permainan guru-guruan ini.
"Aruji, bagaimana dengan ingatan di citadel jiwa?" tanya Yasusada sehabis mengangkat tangan.
"Hm. Itu pertanyaan bagus. Kebanyakan dari kalian ingat citadel jiwa namun sebagian dari kalian lupa. Terlalu banyak memori tak baik untuk otak manusia. Terlalu banyak memori akan mengakibatkan kegilaan dan kehilangan sense untuk memilah kenyataan dan mimpi. Sebagian besar memori kalian di citadel jiwa di hilangkan agar kalian tak memiliki memori yang berlebih. Namun, ada juga yang bisa mengingatnya karena alasan tertentu." kata saniwa.
"Ada pertanyaan lagi?"
Seluruh toudan hening mencerna penjelasan saniwa.
"Oh iya, jangan lupa untuk rileks. Pelajaran hari ini selesai~" Reijin terdiam sejenak. Gadis itu menguap.
"Rei ngantuk..." personanya kembali menjadi si gadis cilik.
"Rei mau tidur?" Hasebe menawarkan untuk membawanya ke kamar.
Rei mengangguk dan memeluk Hasebe. Kashuu hanya diam dan menatap lututnya. Sepertinya, ada sesuatu yang mengganjal di hati.
'Tapi apa?'
Kashuu kembali membuka kamar Yasusada dan memanjat ke ranjangnya. Sejak Yasusada mengijinkan Kashuu tidur di ranjangnya, Kashuu selalu lebih memilih tidur di temani Yasusada daripada tidur sendiri. Mata merah Kashuu melihat Yasusada yang tidur sambil menguasai tempat tidur. Mata biru Yasusada terbuka, menangkap sosok Kashuu dan Yasusada bergeser, memberi tempat kepada Kashuu.
Kashuu berbaring, punggung dan lengan mereka bertemu dan Kashuu tak bisa menyangkal kalau memang ada perasaan di antara mereka berdua. Hanya saja, Kashuu tak ingin mengakuinya. Kalau dia mengakui perasaan itu, seolah perasaannya kepada Mikazuki terasa semu dan seolah, semua yang dilakukan Mikazuki untuknya terasa hanya mimpi dan lagi, menurut Kashuu, Yasusada akan menolaknya.
Kashuu tak ingin berpikir terlalu keras. Dia membutuhkan tidur demi kecantikan kulitnya (meskipun Kashuu tak terlalu peduli sekarang. Wajahnya sudah cukup menarik untuk dipuji banyak orang). Begitu Kashuu tertidur lelap, Yasusada mengubah posisi tidurnya, memeluk Kashuu, berpura-pura seolah Yasusada hanya bermimpi memeluk guling.
Kashuu bermimpi. Malam itu Yasusada dan Kashuu di panggil ke kamar saniwa. Saniwa menatap mereka dengan tatapan serius.
"Satu-satunya cara mengalahkan para pasukan perusak sejarah, hanya ada satu, menyegel sumber kekuatan mereka yang ada di dalam sungai Sanzu. Sampai saat ini, mereka mampu mencemari seluruh pedang yang dalam perjalanan menuju reinkarnasi. Tapi, ini tak bisa dibiarkan terus menerus." Saniwa terdiam sejenak.
"Aku memanggil kalian berdua karena aku percaya salah satu dari kalian bisa menerima dan melakukan tugas ini."
"Kami?" Yasusada menatap saniwa.
Saniwa Akinaga Reijin sekilas sama dengan saniwa lainnya, wanita, lemah, dan hanya manusia biasa dengan kekuatan spiritual yang tinggi. Satu-satunya yang unik darinya adalah hobinya mendukung cinta tak peduli gender, menonton anime dan main games buatan manusia. Namun terkadang, sebagian saniwa lain tak berani mendekatinya karena dia sering di anggap aneh dan terlalu idealis layaknya anak kecil meskipun sudah tua.
"Kalian berdua adalah pedang Okita Soji. Kalian adalah pedang yang memiliki jiwa yang bersih dan sangat, sangat langka. Ah, aku tak mempermasalahkan soal asalmu, Kashuu. Kamu boleh saja pedang buatan orang sungai. Namun, jiwamu bersih dan jernih seperti namamu."
Kashuu mengeraskan rahangnya. Saniwa menghela nafas.
"Maaf. Aku terus berbicara seperti ini, karena aku tak mau mengatakannya." cahaya di sepasang mata coklat itu meredup.
"Aruji-sama, tolong katakan saja." kata Kashuu dengan mantap.
"Kita semua tahu kalau sumber kegelapan yang mencemari para pedang berasal dari dasar sungai Sanzu, dimana letak sungai Sanzu sendiri tak strategis, tepat diantara dunia spiritual dan dunia manusia. Karena itu mereka mencemari pedang dengan membisikkan kata-kata keraguan." Kashuu dan Yasusada mengangguk.
"Untuk itu, aku mengusulkan sebuah ide kepada para saniwa lain untuk menyegel sumber kekuatan kegelapan itu. Hanya saja, untuk menyegel kekuatan kegelapan, kami memerlukan jiwa yang suci dan bersih sebagai perisai untuk menyegel sumber kekuatan kegelapan. Namun, ada konsekuensi bagi jiwa itu." Kashuu dan Yasusada menatap satu sama lain.
"Apa...konsekuensinya?"
"...Jiwamu akan terkurung ratuan, ribuan tahun sebelum mampu kembali suci dan bererinkarnasi. Itu artinya, jiwamu akan tertidur selama ratusan, ribuan tahun sampai kegelapan itu kembali lepas."
"!"
"Tentu saja, kalian boleh menolak dan kita anggap pembicaraan ini tak pernah ada." kata saniwa.
"Aruji-sama! Bukankah itu sama saja dengan..! Kau meminta kami untuk 'mati' sampai entah kapan?! Itu artinya, tak ada lingkaran reinkarnasi selama itu kan?!" tanya Yasusada.
"Melihat reaksimu...kamu menolak, eh, Yasusada?" wajah saniwa terlihat kecewa.
Yasusada berdiri dan keluar dari ruangan tanpa bicara.
'Tentu saja! Karena hanya dengan terus bereinkarnasi-lah, Yasusada bisa terus bertemu dengan jiwa Okita. Meskipun kadang tak bertemu.' batin Kashuu.
"Aruji-sama, apakah ada sesuatu yang diberikan sebagai pengganti itu? Maksudku...tak mungkin mereka memberi ijin secara cuma-cuma untuk kami—tsukumogami—untuk melepaskan kesempatan reinkarnasi bukan?" tanya Kashuu.
"Tentu saja. Sebagai balasan akan pengorbanan jiwa, kalian tentu saja akan diberikan sesuatu yang sepadan. Satu permintaan kalian, apa saja—terkecuali memutar waktu—akan diberikan. Tentu saja itu juga bila masuk di akal dan masih bisa dikabulkan." jawab saniwa.
"Kalau begitu, aku menerima tugas ini." kata Kashuu.
Sepasang mata coklat itu membesar.
"Apa kamu yakin, Kashuu Kiyomitsu? Sekali lagi kamu menjawab 'ya', ini akan menjadi perjanjian jiwa. Dan kamu tak bisa menolaknya." tanya saniwa.
"Aku menerima tugas menyegel sumber kegelapan dengan jiwa ini sebagai media." kata Kashuu mantap sambil menatap mata saniwa.
"Sebagai gantinya..."
Kamar saniwa hening seketika mendengar permintaan Kashuu. Saniwa Akinaga hanya diam. Wanita itu mengambil segelas sake dan meminumnya sedikit sebelum akhirnya dia membuka mulutnya.
"Kashuu...kamu yakin?" tanya saniwa.
"Sangat yakin. Lagipula, Aruji-sama tahu bagaimana perasaanku terhadap Yasusada."
Saniwa menghela nafas.
"Baiklah kalau begitu. Dengar baik-baik, Kashuu Kiyomitsu, kegelapan itu sangat menyukai pedang dengan kemampuan spiritual yang tinggi. Karena itu, aku akan memberikanmu ini." saniwa memegang tangan Kashuu.
Kashuu merasakan sedikit geli namun dia menahannya sebelum saniwa melepas tangan mereka.
"Ini...?"
"Semacam spiritual booster dariku. Untuk memancing kegelapan itu. Kuharap kamu bisa menyelesaikan misi ini."
"Baiklah. Terima kasih, Aruji-sama." Kashuu berdiri dan berjalan keluar namun dia berhenti.
"Aruji-sama?"
"Ya, Kashuu?"
"Tolong jangan beritahu Yasusada tentang hal ini."
"Aku janji." Saniwa tersenyum.
"Terima kasih, Aruji-sama." Kashuu keluar dari ruangan itu.
Saniwa tersenyum kecil.
'Aku sudah tak bisa lari dari perjanjian jiwa. Cepat atau lambat, kegelapan dalam tubuhku akan memakanku. Aku...' Kashuu terbatuk-batuk.
Dalam realita, Kashuu terus terbatuk-batuk. Yasusada membuka matanya, menatap Kashuu dengan wajah setengah sadar sebelum khawatir. Dia cepat-cepat turun dari ranjang dan mengambil air minum hangat untuk Kashuu yang terus batuk. Kashuu pun bangun karena kesakitan.
"Kiyo! Kamu kenapa?!" tanya Yasusada khawatir.
"Minum dulu!" kata Yasusada sambil memberikan segelas air hangat.
"...terima kasih." Kashuu meminum airnya pelan-pelan.
Yasusada menanti jawaban dengan sabar.
"Aku hanya mimpi buruk...ahahah...mimpi yang tak menyenangkan." kata Kashuu.
Yasusada berasumsi Kashuu memimpikan Insiden Ikedaya namun mata biru itu tak bertemu mata merah Kashuu. Yasusada menghela nafas.
"Kamu bohong." kata Yasusada.
"Beri tahu aku." tambahnya,
"Cuma mimpi buruk. Err...tenggelam...makanya aku batuk-batuk." Kashuu beralasan.
"Baiklah kalau begitu." Yasusada hanya menerima alasan itu.
Keesokan harinya, Kashuu dan para toudan di panggil oleh Yotsune-san. Bapak pemilik kos merangkap asrama itu memberikan mereka semua tiket masuk gratis ke taman bermain hiburan.
"Selamat berlibur, bocah-bocah." kata Yotsune-san.
"Hari jumat malam kalian semua berangkat. Kalian sudah kupesankan hotel." tambah Yotsune-san.
"Enaknyaaaa~~ Rei juga mau~~!" kata Rei sambil mengintip dari balik sofa.
"Kenapa Rei tidak ikut?" tanya Yasusada.
"Karena kalau putri kecil ini ikut, dia bakal merengek dan menyusahkan. Bagaimana kalau dia ngompol atau kena panic attack? Dia perlu 'ayah'nya." kata Yotsune-san.
"Lagipula aku sibuk mengurus urusan asrama dan diskusi dengan Dokter Kotarou."
"Yotsune-san kan cuma main go sama dokter!" gerutu Rei sambil menggembungkan pipinya.
Seluruh toudan terdiam.
'The truth has been spoken!' batin Kashuu.
"Orang tua memang mainannya cuma main go ya?" ejek Yasusada dengan wajah tersenyum.
"Mati kamu bocah...!" Yasusada kaget begitu Yotsune-san tiba-tiba menggamit t-shirt Yasusada dan membanting Yasusada ke lantai dengan cepat.
"Feh...! Begini-begini meskipun kata kalian aku sudah tua, jangan pernah meremehkan mantan atlit bela diri. Lagipula hanya putri kecil yang boleh menggodaku dengan sebutan orang tua." kata Yotsune dingin.
"Sama-sama saniwa tapi beda perlakuan..." bisik Midare.
"Yah...inilah 'mampus' dari Yotsune-san. Kalau tak cukup, dia bakal mengeluarkan lebih banyak lagi...serangan judo dan aikido...karate juga..." kata Yamanbagiri yang bergidik.
"Manba-nii-chan! Rei mau di peluk!" pinta Rei yang tak melihat situasi maupun kondisi.
"Kenapa engga mau sama abang Jirou, Rei?" Jirou menggendong Rei dan mata Rei berair.
"Rei benci tinggi!" jerit Rei yang kaku akibat takut.
"Makanya Iwatooshi tak pernah menggendongnya di pundak. Dia kaku kalau melihat ketinggian. Kakaka! Padahal tinggi pemandangannya lebih bagus!" kata Yamabushi
"Intinya kita akan ke amusement park ya?" Kashuu menatap tiketnya.
"Uuhhh...aku tak pernah dengar nama taman ini?" Kashuu tak bisa berkomentar apa pun saat melihat tiketnya.
Tiket itu seperti ke taman main air ketimbang tiket taman bermain hiburan.
"Enjoy saja. Kalian perlu waktu rileks." kata Yotsune-san yang kali ini mempraktekkan gerakan karate ke Tsurumaru.
Tsurumaru memukul lantai dengan tangan kanannya yang masih bebas.
"Yotsune-san! Tangan! Tanganku! Bisa patah! Aku salah! Aku salaah! Aku minta maaf!" seru Tsurumaru yang mengaku salah.
Kashuu menatap tiketnya. Matanya memicing memikirkan nama taman yang super aneh itu.
Takanara Greenland.
"...namanya agak..." Kashuu tak melanjutkan komentarnya.
