FF ini milik TaniaMs, saya hanya meremake dari cerita aslinya.

Cast:

Cho Kyuhyun

Choi Siwon

Etc.

Happy reading

.

.

oOoOoOo

Sebulan sebelum pernikahan.

"Selamat malam!"

Kyuhyun hanya menggelengkan kepalanya begitu melihat senyum lebar Siwon. Dia menggeser tubuhnya dari pintu, memberi ruang sehingga Siwon bisa masuk lalu kembali menutupnya.

Dia hanya sendirian dirumah karena 30 menit yang lalu kedua orang tuanya serta Donghae terbang ke Jepang. Ayahnya bilang ada rekan bisnisnya yang meninggal, jadi mereka semua pergi dan meninggalkannya sendirian di rumah. Tidak benar-benar sendiri, mengingat di gerbang ada satpam juga ada dua orang asisten rumah tangga yang kemungkinan saat ini mendekam di ruangannya sendiri.

Begitu Siwon tahu kabar ini, namja itu langsung meneleponnya. Memaksanya untuk ke apartemen. Tapi Kyuhyun benar-benar malas pergi kemanapun apalagi harus dia yang menyetir. Akhirnya namja itu mengalah dan datang ke rumahnya.

Belum sempat Kyuhyun menyentuh sofa tempat Siwon duduk, namja itu berkata dengan ringan, "Bersiaplah. Kita makan malam di luar."

"Aku sudah makan," balas Kyuhyun dan segera menghempaskan tubuhnya ke atas sofa. Dia benar-benar sedang tidak ingin pergi kemanapun. Termasuk kalau Siwon berniat menyeretnya untuk melihat konser Si Kyung.

"Tapi aku belum makan."

"Lalu?" tanya Kyuhyun tak peduli. Memusatkan perhatiannya pada layar televisi.

"Astaga," keluh Siwon. "Tunanganmu belum makan, dan kau hanya mengatakan'lalu'?"

Kyuhyun mendesah. "Kalau kau belum makan, pergilah ke belakang. Minta tolong buatkan makanan pada Shin ajhumma," ujarnya. "Aku sedang tidak ingin kemanapun. Aku serius."

"Baiklah," putus Siwon. "Aku keluar sebentar. Kau tidak perlu mengunci pintunya."

Kyuhyun hanya menggumam sebagai jawaban. Benar-benar tidak menaruh perhatian pada Siwon sepenuhnya. Pada dasarnya Siwon tidak melakukan kesalahan ataupun mereka tidak sedang bertengkar. Hanya saja moodnya sedang jelek karena dia baru saja datang bulan. Seperti sebelum-sebelumnya, entah karena alasan apa, hari pertama tamu bulanannya datang, moodnya memburuk seketika di tambah lagi perutnya sakit minta ampun. Jadi siapapun yang berani mencari masalah, dia pasti akan melibas orang itu sampai mati.

Seharusnya aku menyuruh Hae oppa sebelum pergi untuk memesan pizza sialan itu, batin Kyuhyun kesal.

Semenjak di high school, Kyuhyun menyadari bahwa satu-satunya hal yang dapat menyelamatkan mood buruknya saat datang bulan adalah Pizza. Setelah menghabiskan beberapa potong, suasana hatinya akan membaik. Meskipun begitu, dia tidak ingin menelepon untuk memesan pizza itu. Dia hanya ingin orang lain yang melakukannya.

Mungkin aku memang seaneh itu, pikirnya.

Dengan malas, Kyuhyun berbaring di sofa dengan posisi menelungkup. Setidaknya dengan posisi seperti itu, sakit perutnya tidak akan begitu terasa. Dia nyaris berada di alam mimpi saat mencium aroma itu. Aroma pizza. Bahkan kalaupun dia tertidur, dia pasti akan langsung terbangun jika mencium aromanya.

Kyuhyun membuka matanya, dan langsung disuguhi sekotak pizza ukuran medium dengan toping seafod kesukaannya. "Ya Tuhan," gumam Kyuhyun sambil merubah posisinya menjadi duduk.

"Kau bisa menciumku lalu mengucapkan terima kasih," balas Siwon sambil menyeringai.

Kyuhyun menoleh menatap Siwon. Tanpa pikir panjang, dia segera menghambur dan mencium Siwon dalam-dalam. Namun, saat Siwon berusaha memperdalam ciuman mereka dia buru-buru mendorong namja itu sambil menyeringai. "Kau tidak seberuntung itu, bung."

Siwon mendesah. "Kau memang sangat mahir menghancurkan suasana," ujarnya. Namun tak urung juga dia tersenyum saat Kyuhyun menyantap pizza pesanannya dengan nikmat. Bahkan saat dia masih terpesona, yeoja itu sudah mengambil potongan kedua. "Hei, bukan kau yang belum makan disini," protes Siwon.

"Terima kasih banyak," ujar Kyuhyun sembarangan. "Seperti yang kukatakan tadi, kalau kau ingin makan, kau bisa minta Shin ajhumma untuk buatkan sesuatu."

"Aku sudah makan."

Kyuhyun menoleh. "Benarkah? Kapan?"

"Sambil menunggu pesanan pizza, aku makan dirumah."

Kyuhyun mengangguk-angguk. "Baguslah," ujarnya. "Aku hanya tidak ingin kau kelaparan, lalu menyusahkanku."

Selama beberapa menit berikutnya, Kyuhyun hanya diam dan berkonsentrasi pada pizzanya. Namun, karena Siwon sudah berbaik hati memesankan pizza itu untuknya—tanpa dia minta sama sekali—dia pun memberikan satu potongan terakhir untuk namja itu. Kyuhyun membuang kotaknya ke tempat sampah, lalu mencuci tangannya di wastafel. Setelah itu, dia kembali bergelung di sofa, di depan televisi.

"Kenapa kau memesan pizza?" tanya Kyuhyun sambil menyandarkan kepalanya di bahu Siwon.

"Memangnya kenapa? Bukankah kau menyukainya?"

"Bukan begitu," balas Kyuhyun. "Yah, dari sekian banyak menu, kau memilih pizza."

"Kau sedang datang bulan, kan?" tanya Siwon tanpa basa-basi.

Kyuhyun segera mendongak. "Bagaimana kau tahu? Apakah ada darah di celanaku?" tanya Kyuhyun panik dan buru-buru berdiri. Dia melihat bagian belakang tubuhnya dengan susah payah, namun dia tidak melihat bercak darah sama sekali.

"Duduklah." Siwon menarik tangan Kyuhyun sehingga yeoja itu kembali duduk di sampingnya. "Tidak ada darah sama sekali."

"Ini memalukan. Tapi bagaimana kau tahu aku sedang datang bulan?"

Siwon tersenyum tipis. "Kita tidak sedang bertengkar tapi suasana hatimu sangat buruk. Apalagi yang kupikirkan selain itu?" Siwon mengangkat bahu. "Seingatku, moodmu selalu memburuk saat kau datang bulan."

Kyuhyun menatap Siwon penuh haru. Tidak pernah ada orang sebelum ini, bahkan mungkin di masa yang akan datang, yang bisa memahaminya seperti Siwon. Bahkan dulu dia selalu bertengkar dengan Yonh Hwa atau mantan kekasihnya yang lain saat tamu bulanannya datang. Mereka tidak mengerti, bahkan setelah dia menjelaskannya bahwa moodnya memang selalu memburuk di hari pertama datang bulan. Tapi Siwon tidak melakukannya.

"Dan, kalau-kalau ingatanku tidak salah, pizza selalu berhasil mengembalikan suasana hatimu seperti semula."

Kyuhyun mencium Siwon sekilas. Dan memeluk namja itu erat. "Terima kasih."

"Anytime, Babe." Siwon balas memeluk Kyuhyun.

oOoOoOoOo

"Wah, kejutan!"

Kyuhyun mendongak, dan matanya langsung bertemu dengan tatapan merendahkan milik Yuri.

Kyuhyun baru saja selesai makan malam di restoran terbaik yang ada di The Star Hotel. Beberapa saat setelah makan, dia pamit pada Siwon karena ingin ke toilet. Dan betapa terkejutnya dia saat bertemu dengan Yuri disana. Seharian ini semuanya berjalan baik, bahkan nyaris terasa sempurna jika dia tidak bertemu dengan Yuri di toilet itu.

Berusaha mengabaikannya, Kyuhyun kembali mencuci tangannya dengan air yang mengalir.

"Kau tidak mungkin melupakanku, kan Kyuyun?"

Kyuhyun menutup kran, dan menatap Yuri malas-malasan. "Well, kau Yuri. Rekan bisnis serta teman kuliah Siwon."

Yuri bersedekap. "Hanya sebatas itu?"

Kyuhyun mengerutkan kening. "Memangnya apa lagi?"

"Tidak ingatkah kau pada Taecyeon?"

"Taecyeon?"

"Tampaknya kau benar-benar lupa, eh?" Yuri mendengus. "Baiklah. Aku akan mengingatkanmu kembali. Kau berpacaran dengan Ok Taecyeon saat tahun kedua high school. Kau berpacaran dengannya padahal kau tahu bahwa dia punya kekasih di sekolah lain. Kau merebut Taecyeon dari yeoja itu. Saat yeoja itu memintamu untuk melepaskannya kau berkata dengan santai bukan salahmu jika christian meninggalkan yeoja itu."

Kyuhyun terkejut mendengar perkataan Yuri. Benar. Yang di katakan Yuri adalah salah satu dari sekian banyak scene dalam hidupnya. Itu terjadi sudah lama sekali. Dan seingatnya yeoja yang di maksud yeoja itu bukan Yuri, tapi dia memang tidak begitu ingat, bahkan rasanya dia juga tidak tahu nama yeoja itu.

"Yeoja itu adalah aku," ujarnya dingin.

Tidak mungkin, batin Kyuhyun.

"Mungkin saat itu aku tidak bisa membalasmu," ujarnya. "Dan aku cukup bahagia pada akhirnya kau juga di campakkan olehnya demi yeoja lain. Tapi itu tidak membuat perasaanku membaik. Aku mencintai Teacyeon, dan kau merebutnya dariku. Dan menurutmu itu bukan salahmu? Hah!"

"Memang bukan salahku, kan?" Kyuhyun menatap Yuri tajam. "Kalau Teacyeon cukup mencintaimu, dia tidak akan meninggalkanmu dan berbalik memilihku."

Mata Yuri membara karena emosi. Saat Kyuhyun berlalu di sampingnya, dia bertanya dengan santai. "Kau mencintai Siwon, bukan?"

Kyuhyun berhenti mendadak, namun tidak berbalik untuk menatap Yuri.

"Tentu saja kau mencintainya." Yuri menjawab pertanyaannya sendiri. "Kau mencintainya sehingga cukup yakin menikah dengan namja itu."

Kyuhyun ingin berbalik dan menanyakan maksud perkataan Yuri, tapi dia tidak akan memuaskan wanita itu. Sehingga yang dia lakukan adalah terus berjalan tanpa repot-repot berbalik lagi. Begitu tiba di mejanya, wajahnya pasti sangat keruh karena Siwon bertanya padanya.

"Apa yang terjadi?"

Sambil terus berdiri, Kyuhyun menggenggam tangan Siwon erat. "Kau mencintaiku, bukan?"

"Tentu saja," jawab Siwon dengan kening berkerut. "Waegeure?"

Kyuhyun menggeleng dan menarik tangan Siwon pelan. "Ayo kita pulang."

Perjalanan pulang terasa lambat. Kyuhyun hanya diam, sibuk memikirkan semua perkataan Yuri. Pikirannya menolak semua kemungkinan yang akan dilakukan oleh Yuri. Tapi hatinya tahu dengan jelas bahwa wanita itu pasti akan berusaha untuk merebut Siwon darinya. Entah bagaimanapun caranya.

Siwon mencintaiku, kan? Kyuhyun meyakinkan hatinya sendiri. Seharusnya perkataan Yuri tidak perlu dia pedulikan. Tapi tetap saja hatinya cemas. Takut menghadapi kenyataan bahwa ternyata cinta namja itu tidak cukup besar untuknya.

Dengan pikiran tak menentu, Kyuhyun mengeluarkan ponselnya dalam lift yang akan mengantarkannya pada lantai apartemen Siwon berada. Dia mengetikkan beberapa kata, dan begitu pintu lift terbuka dia buru-buru keluar.

KyuhyunCho

Be sure to catch me, because I'm falling for you SiwonChoi

Siwon berhenti dan mengeluarkan ponselnya yang berbunyi. Dia membuka pemberitahuan yang muncul di layar ponselnya dan tertegun. Dia mendongak dari layar dan mendapati Kyuhyun tengah berusaha memasukkan password pada panel kunci.

Tanpa suara, dia menarik yeoja itu ke dalam pelukannya. Meskipun sudah memperkirakannya, dia tetap terkejut saat mendengar isak tangis Kyuhyun. Sambil terus mengelus punggung yeoja itu, Siwon hanya bisa menerka-nerka apa yang terjadi pada Kyuhyun.

oOoOoOoOo

Kyuhyun merasa hidupnya berjalan sangat sempurna. Selama beberapa bulan terakhir, dia selalu bahagia—menurutnya—dan terasa terlalu bahagia. Namja yang mencintainya, pernikahan, lalu pekerjaannya yang juga tidak menimbulkan masalah besar. Seharusnya dia tidak perlu memikirkan semua itu, tapi bukankah hidup itu tidak selalu tentang kebahagiaan? Mungkin hanya perasaannya. Mungkin karena kata-kata Yuri sehingga pikirannya mulai terganggu. Cemas kalau-kalau kebahagiaan itu direnggut darinya.

Sebelum jam menunjukkan pukul sembilan pagi, Kyuhyun sudah berada dalam perjalanan menuju apartemen Siwon. Hari ini akhir pekan, dan kebetulan mereka berdua ada janji temu dengan desainer untuk fitting baju pengantin pukul sepuluh nanti. Jadi dia datang lebih awal ke apartemen calon suaminya itu, karena tampaknya Siwon belum bangun. Aneh menurutnya karena biasanya Siwon selalu bangun pagi. Itu terbukti ketika teleponnya yang puluhan kali tidak di angkat sejak dia baru bangun. Mungkin namja itu kelelahan karena Siwon masih berada di bar ketika pukul dua dini hari untuk merayakan kerja sama dengan beberapa klien.

Kyuhyun tengah memasukkan kode apartemen pada panel ketika ponselnya berbunyi. Dengan malas, dia mengeluarkan ponselnya dari saku dan mengangkat panggilan dari oppanya itu.

"Wae oppa? Aku bahkan baru sampai di apartemen Siwon." Kyuhyun langsung mengomel sebelum Donghae sempat mengucapkan salam.

Dia berhasil masuk ke dalam apartemen Siwon, dan hanya bisa mendesah pasrah karena apartemen itu masih gelap. Tirai-tirai yang menutupi jendela yang berada di sisi kiri masih tertutup rapat. Hanya ada cahaya remang-remang yang berasal dari cahaya matahari yang berusaha menembus tirai.

"Ne, kalau kau nanti pulang, belikan aku es krim juga coklat."

Kyuhyun memutar bola matanya. "Seperti yang aku katakan tadi, aku bahkan baru sampai di apartemen Siwon. Dan kau sudah menitipkan sesuatu jika aku pulang," omelnya. "Kenapa oppa tidak meneleponku nanti saja? Ketika aku akan pulang?"

"Aku takut lupa, jadi aku katakan sekarang," balas Donghae riang.

"Minimarket hanya satu blok jauhnya dari rumah." Kyuhyun berjalan menuju kamar setelah dia menyibak seluruh tirai yang menutupi jendela di ruang duduk. "Oppa beli saja sendiri."

Kyuhyun mendorong pintu kamar hingga terbuka, dan detik selanjutnya yang dia dengar adalah jeritannya sendiri. Kedua tubuh yang sedang saling memeluk di atas tempat tidur itu terlihat terperanjat karena jeritannya barusan. Bahkan selimut yang ada pun tidak begitu menolong untuk menutupi tubuh polos keduanya.

"Kyuhyun, apa yang terjadi?" diseberang sana Donghae memberondongnya dengan pertanyaan yang sama terus menerus.

Dengan tangan gemetar, Kyuhyun memutuskan panggilan dengan Donghae, dan hanya bisa terpaku ketika Siwon mulai bangun dari tidurnya. "Siwon," panggil Kyuhyun dengan suara serak. Bahkan dia sudah tidak bisa melihat wajah Siwon dengan jelas, karena pandangannya kabur oleh air mata.

Siwon berhasil mendapatkan fokusnya dan terkejut mendapati Yuri yang—tanpa busana—tidur disampingnya. Lalu dia menoleh ke depan, tatapan terluka Kyuhyun langsung mencambuknya. "Kyu, ini tidak seperti—"

"Oh, hai Kyuhyun," potong Yuri. Dia menatap Kyuhyun sambil menyeringai lebar. "Maafkan aku. Seharusnya aku pergi lebih awal, jadi kau tidak akan melihat ini, tapi kami sangat kelelahan."

Kyuhyun menatap Siwon penuh harap. "Katakan kalau dia bohong," pintanya. Dia mengusap air matanya dengan kasar, ketika air matanya terus menetes.

"Aku tidak bisa." Siwon merenggut rambutnya. Dia benar-benar kacau saat ini. kepalanya benar-benar pusing, dan semua hal yang terjadi setelah dia mabuk tampak buram. "Aku tidak ingat," akunya. Lebih baik dia jujur dari pada mengemukakan pembelaan, karena pasti Kyuhyun tidak akan mempercayainya dengan mudah.

"Well, sayang sekali karena aku mengingat semuanya," kata Yuri memperkeruh suasana. "Siwon benar-benar punya stamina yang bagus—"

"DIAM YURI!" bentak Siwon.

"Tadi malam kau tidak bilang begitu." Yuri mengibaskan rambutnya. "Kau bahkan sangat suka desahanku."

"CUKUP!" Kyuhyun habis kesabaran. "Tutup mulutmu yeoja sialan!"

"Yeoja sialan?" Yuri menaikkan alis. "Well, ini apartemen Siwon. Bukan apartemenku. Jika aku yeoja sialan seperti yang kau katakan, seharusnya kami berada di apartemenku. Jadi—"

"Hentikan," ujar Kyuhyun pelan. Dia tahu apa yang akan di katakan Yuri selanjutnya.

"Mengutip kata-katamu," lanjut Yuri santai. "Kalau Siwon cukup mencintaimu, dia tidak akan tidur denganku sementara kalian berdua tengah mempersiapkan pernikahan."

Kata-kata Yuri benar-benar menohoknya, lalu tatapannya beralih pada Siwon. Berharap namja itu akan melakukan sesuatu untuk memperbaiki atau membantah semua perkataan Yuri. Namun Siwon hanya terdiam dan menatapnya penuh permohonan maaf.

oOoOoOoOo

Donghae dan Eunhyuk hanya diam ketika Kyuhyun terus menangis di hadapan mereka. Bahkan sudah hampir dua jam, dan tangis yeoja itu tak kunjung berhenti. Kyuhyun akan sesenggukan selama beberapa saat dan detik selanjutnya dia kembali menangis histeris.

Kyuhyun benar-benar tidak percaya, ini akhir dari semua mimpi indahnya. Orang yang paling dia harapkan kesetiaannya, ternyata adalah orang yang sama dengan mantan-mantan kekasihnya dulu. Demi Tuhan, mereka akan menikah kurang dari sebulan lagi, dan Siwon tidur dengan Yuri.

Apakah semua namja menganggap seks adalah kebutuhan dasar? Lalu, kenapa selama ini Siwon bersikap seolah-olah tidak masalah kalau mereka tidak melakukan seks? Kenapa namja itu seperti menjaganya, menghormati pilihannya tidak ada seks sebelum pernikahan kalau ternyata pada akhirnya namja itu memilih tidur dengan wanita lain? Dari pada dia harus menderita mimpi buruk ini, tidak masalah jika dia harus melanggar janjinya sendiri. Asalkan Siwon tidak tidur dengan wanita lain. Dia akan berusaha melakukan apapun.

Dia mencintai Siwon. Sangat. Dan perasaannya semakin terasa sesak mengingat fakta itu. Dia pikir, Siwon adalah orang yang tepat, yang akan menangkapnya saat dia jatuh. Tapi semuanya hancur lebur begitu dia memasuki kamar Siwon.

"Astaga, Kyu! Berhentilah menangis!" bentak Donghae akhirnya. Tidak tahan melihat dan mendengar tangis Kyuhyun yang sarat akan kepedihan. "Kalau kau tidak berhenti, aku akan pergi ke apartemennya, dan membunuh namja itu dengan tanganku sendiri!"

Kyuhyun segera berhenti menangis, dan menggeleng pada Donghae. "Jangan. Kumohon."

Donghae mendengus. "Sudah dua jam Kyu, dan bajingan itu masih belum menunjukkan batang hidungnya," geramnya. "Aku mulai mempertanyakan seluruh kalimat cinta yang selama ini dia lontarkan! Meskipun aku menyukainya, tapi aku tetap tidak bisa menerima kalau dia menyakiti adikku!"

"Wah!" Eunhyuk berdecak kagum pada Donghae dan mendapat pelototan dari namja itu.

"Kalau dia masih tidak muncul dalam satu jam ke depan, aku akan menelepon Choi ajhumma, dan membatalkan pernikahan kalian! Ah tidak." Donghae berhenti bicara. "Kalian akan tetap meneruskan persiapan pernikahan ini. Aku yakin Siwon tidak akan menceritakan masalah ini pada keluarganya."

"Lalu?" tanya Eunhyuk karena Donghae berhenti bicara.

"Tepat sehari sebelum pernikahan, aku akan membatalkan pernikahan kalian secara resmi. Kalau perlu aku akan mengadakan konfrensi pers, dan membongkar perselingkuhannya saat itu. Yeah. Itu ide yang bagus."

Kyuhyun menatap Donghae tak percaya, dan dia kembali menangis. Bahkan beberapa saat yang lalu Donghae memaki pegawai butik yang menghubungi Kyuhyun perihal janji temu mereka. Kakaknya itu mengomel panjang lebar, padahal inti yang sebenarnya dalah Kyuhyun tidak akan fitting baju pengantin dalam waktu dekat.

Eunhyuk mengusap puncak kepala Kyuhyun sementara yeoja itu terus menangis terisak. "Sudahlah, Kyu," ujarnya. "Mungkin saja Siwon sedang mencari bukti untuk mematahkan kata-kata Yuri."

"Setidaknya dia mengucapkan maaf atau apapun," isaknya.

"Aku benar-benar heran." Donghae kembali mengomel. Dia benar-benar kesal sekarang, dan kekesalannya itu tidak akan hilang sebelum dia berhasil menghajar Siwon sampai babak belur. "Seharusnya yang kau lakukan tadi adalah memaki Siwon dengan ribuan stok makianmu yang spektakuler itu! Bukannya malah meninggalkan namja itu dan menangis meraung disini! Kau tampak menyedihkan, Kyuhyun!"

"Aku tidak bisa membencinya oppa. Setelah apa yang dia lakukan, aku tetap tidak bisa walaupun hanya memaki kelakuannya." Kyuhyun terisak keras. "Aku hanya kecewa—"

"Omong kosong! Itu omong kosong!" teriak Donghae. "Apa bedanya Siwon dengan Yong Hwa? Kau bahkan memaki-maki Yong Hwa sampai namja itu tidak sanggup membalasnya! Kenapa kau harus terlihat lemah di depan Siwon?! Kemana dirimu yang dulu?!"

Kyuhyun tidak menjawab dan terus menangis.

Akhirnya, Eunhyuk yang buka suara. "Mereka berdua berbeda jauh. Ketika Yong Hwa tidur dengan wanita lain, harga dirinya yang terluka. Harganya dirinya tidak bisa menerima kenyataan bahwa Yong Hwa tidak tahan dengan prinsipnya dan memilih tidur dengan asistennya sendiri. Tapi Siwon," ucap Eunhyuk menggantung. "Dia mencintai namja itu. Sangat. Dan ketika kenyataan ini menamparnya, bukan harga dirinya yang terluka. Tapi hatinya."

oOoOoOoOo

***TBC***

Thanks for R&R ^_^