FT Island Fan Fiction
Mr. Cassanova
©MikiHyo
.
Cast : FT Island, Kira Akegawa, Kazu Uzumi, Miki Amakura, & Other Cast
Genre : Romance, Friendship, Hurt/Comfort
Rated : T
Length : Part (On Going)
Desclaimer : Hak Cipta dilindungi Tuhan Yang Maha Esa ^^
A/N : Maaf atas keterlambatannya, aku bener-bener stuck. Mudah-mudahan part ini lebih baik dari sebelumnya. Makasih buat yang udah ngikutin Mr. Cassanova
.
.
Part 26
.
.
Hongki POV
.
"Hongki-ah, aku ingin bertanya padamu,"tiba-tiba saja Wonbin menaruh gitarnya dan menatapku. "Kenapa kau bersikeras untuk mempertahankan Band ini?"
"Kenapa? Tentu saja karena aku menyukainya. Menurutku menciptakan lagu, bermain musik dan bernyanyi jauh lebih baik daripada mengurus berkas-berkas kantor dan hanya ribut soal harta"
Wonbin tersenyum simpul.
"Benarkah? Bukankah dengan begitu masa depanmu sudah jelas, kau tidak perlu repot-repot lagi memikirkan kesejahteraanmu nanti. Kau akan langsung jadi atasan dan punya anak buah yang banyak, hartamu pun akan semakin melimpah"
"Ya, kau pikir aku orang yang seperti itu? Apa gunanya hanya menerima hasil kalau kau sendiri tidak bisa merasakan jerih payahnya? Aku tidak suka dengan kehidupan datar seperti itu"
Kali ini bukan hanya tersenyum, ia langsung tertawa begitu mendengar jawabanku.
"Hahaha kau memang hebat Hongki-ah, aku suka jalan pikiranmu"
"Jadi kau sedang meledekku? Yaish, dasar di Silly ini"aku balik menggerutu.
"Padahal kita baru kenal satu sama lain, bahkan belum sampai 1 bulan. Tapi aku sudah bisa merasa nyaman bersamamu dan Jonghun. Kenapa kalian berani mempercayakan hal ini kepada orang yang baru kalian kenal? Aku saja tidak menyangka akan bertemu orang seperti kalian"
Aku pun mendekatkan diri kepada Wonbin sambil membawa Mic yang biasa kupakai untuk bernyanyi. Kutaruh Mic ku itu di samping Gitarnya yang ia letakkan di atas meja.
"Apa sekarang kita masih seperti orang asing? Lihatlah, bagaimana bisa instrument ini bekerja kalau kita tidak saling mengenal. Laguku tidak akan bagus kalau tidak ada benda ini,"aku menyentuh gitarnya.
"Dan apa kau pikir alunan musik tanpa nyanyian akan selamanya indah?"kini aku kembali mengangkat Mic ku. "Bukankah ini takdir? Karena instrument ini saling membutuhkan makanya kita bertemu. Bersama itu lebih baik"aku pun tersenyum.
Kulihat Wonbin tercengang mendengar semua ucapanku. Tak lama kemudian ia kembali tersenyum.
"Kau benar. Bagaimana bisa aku berpikir dangkal seperti tadi, hahaha. Kita memang ditakdirkan untuk mengambil jalan takdir ini bersama"
"Tentu saja. Kau, aku, Jonghun.. ah, kita harus mencari anggota lain juga. Kita semua akan menjalaninya bersama sampai takdir ini habis"
"Itu artinya selamanya?"
"Ya, kita akan bersama selamanya"
Aku terdiam. Suaraku tak bisa keluar, nafasku tercekat. Mulut ini, aku ingat ia pernah mengatakan hal itu. Bersama selamanya? Aku yang mengatakannya.
Namun kenapa semuanya berubah sekarang? Padahal dulu seyakin itu. Manusia memang tidak akan bertahan lama. Sama seperti hidup yang sewaktu-waktu akan mati, perasaan pun sewaktu-waktu bisa mati.
Kenapa aku membencinya?
"Wonbin Hyung melakukannya karena kita Hyung. Juri itu benar-benar meremehkan kita hanya karena kita masih anak-anak. Wonbin Hyung menyadarinya,"
Ucapan Minhwan kembali terngiang dalam kepalaku.
"Ia menolak tawaran itu karena ia lebih memilih bersama kita. Bukankah bersama lebih baik? Kita bisa latihan lebih lama lagi dan membuktikan kemampuan kita. Itu yang ia maksud, tapi kenapa kau tidak bisa memahaminya Hyung?"
Minhwan menceritakan semuanya padaku. Alasan mengapa Wonbin tidak mau kita ikut dalam audisi lagi.
"Aku memang dekat dengannya. Tapi tetap saja, aku sudah bersamamu sejak kecil Hyung. Kau sudah kuanggap Hyung ku sendiri, bukan hanya kau tapi semuanya. Aku menyayangi kalian semua sebagai Hyungku. Karena itu kumohon mengertilah… Berbaikanlah dengan Wonbin Hyung sebelum ia pergi, maka kita bisa bersama seperti dulu lagi"
"Temanmu akan pergi,bagaimana bisa kau bilang tak perduli?,"
"Hongki-ah…orang yang kucintai hanya kau. Hanya Lee Hongki…"
BRAKK!
Kupukul meja ini dengan sekuat tenaga. Pikiranku berkecamuk membuat emosiku serasa dipancing habis-habisan. Rahangku mengeras, gigiku menggeratak, mataku panas. Aku benar-benar tidak bisa menahannya.
"I'm a Foolish Person…"
.
.
Author POV
.
"Iya, semuanya sudah kusiapkan. Aku akan berangkat setelah ujian akhir selesai. Kalian tidak perlu khawatir"Wonbin tersenyum tipis sambil berbicara dengan Orang Tuanya ditelepon.
Tangannya yang lain masih sibuk memilih buku yang berjajar di rak. Ia sedang berada di toko buku untuk membeli beberapa buku music terbaru.
Namun perhatiannya teralih saat melihat seseorang diluar jendela sana. Orang itu berjalan sendiri dengan raut wajah yang tak bisa diprediksi.
"Eomma, aku ada urusan, nanti ku telepon lagi"
Wonbin pun memutus sambungan teleponnya dan langsung berlari mengejar orang itu.
.
.
"Kira!"
Gadis yang merasa namanya dipanggil itu pun menoleh. Betapa terkejutnya ia saat melihat orang yang baru saja memanggilnya.
"Wonbin-ah…"
Wonbin pun mempercepat langkahnya mendekati gadis Jepang itu.
"Ya,"nafasnya sedikit tersengal. "Kau kenapa?"
Wonbin menyadari bahwa Kira sedang dalam kondisi yang tak baik. Terlihat jelas dari sirat matanya yang sendu.
"Apa yang terjadi?"tanyanya lagi.
Kira pun hanya bisa diam. Wajahnya tertunduk seperti enggan untuk memperlihatkan kesedihannya.
"Apa… terjadi sesuatu padamu dan Hongki?"
Kira menggeleng lemah. "Tidak ada apa-apa. Aku harus pulang sekarang"
Namun belum sempat Kira melangkah, Wonbin langsung menahan tangannya. Kira pun menatapnya, dan dengan cepat Wonbin kembali melepas tangannya.
"Maafkan aku…"
"Wonbin-ah…"
"Seharusnya aku bisa menahan perasaanku. Aku benar-benar sudah merusak hubungan kalian"
"Sudahlah, ini tidak ada hubungannya denganmu"
"Tentu ada!"
Kira tersentak. Matanya membelalak kaget saat Wonbin menggertaknya.
"Aku… padahal aku sudah bilang bahwa aku ingin melihatmu bahagia bersama orang yang kau cintai, tapi ternyata aku malah merusak semuanya,"
Kira masih terdiam tanpa tahu harus berkata apa.
"Aku benar-benar sudah menghancurkan hidup orang-orang yang kusayangi. Kau dan juga Hongki.. aku benar-benar minta maaf"tiba-tiba saja Wonbin membungkukan tubuhnya dihadapan Kira.
Kira pun tersontak kaget dengan sikap Wonbin. Beberapa pasang mata mulai mengelilingi mereka karena sekarang mereka memang sedang berada ditempat umum.
"Wonbin-ah apa yang kau lakukan?"
"Maafkan aku. Padahal aku benar-benar mengharapkan kebahagiaan kalian, tapi aku masih terlalu egois,"
Kira hanya bisa menggigit bibir untuk menahan perasaannya. Sesungguhnya ia pun tidak mau melihat orang yang ia sayangi berbuat seperti ini, namun tetap saja yang ia cintai hanya Hongki. Ia tidak mau membohongi perasaanya.
"Aku akan menemui Hongki dan menjelaskan semuanya. Kalian seharusnya bersama, kau membutuhkan Hongki dan Hongki membutuhkanmu"
"Wonbin-ah kau tidak perlu berbuat seperti itu. Aku akan menyelesaikannya sendiri"
"Tidak, ini semua terjadi karena aku. Aku akan menyelesaikan semuanya, soal hubunganku dengan Hongki… Entah dia akan membenciku seumur hidup atau pun mungkin kami akan kembali,"Wonbin menggantungkan kata-katanya. Berharap ucapan terakhirnya bisa terwujud walau dalam harapan kecil. "Apapun yang terjadi, aku akan menerima semuanya"
"Kalau begitu mari kita selesaikan"
Wonbin dan Kira pun langsung menoleh spontan kearah orang yang baru saja menyahuti ucapan mereka. Mata mereka membelalak lebar saat melihat siapa orang itu.
"Hongki-ah.."
"Kau bilang mau menyelesaikan semuanya kan? Kalau begitu ayo kita bicara"
Mereka bertiga pun menatap dalam satu sama lain.
.
.
Miki POV
.
"Kau mengatakannya?"aku terkejut tak percaya dengan ucapan Minhwan barusan.
"Kurasa aku memang harus mengatakannya kepada Hongki Hyung. Aku tidak bisa membohongi perasaanku lagi, aku masih berharap kami bisa kembali bersama"jelasnya lagi.
Aku pun hanya bisa terdiam. Ini soal cerita masa lalunya yang ia beritahu padaku dulu. Soal bagaimana hubungannya dengan Hyung-hyungnya dulu, dan sekarang mereka semua berpisah.
"Lalu bagaimana reaksi Hongki sunbae? Dia mendengarkanmu?"tanyaku lagi.
"Aku tidak tahu. Dia hanya diam. Jonghun Hyung bilang untuk tidak mengganggunya sekarang, tapi aku tidak perduli. Aku harus mengatakannya. Mungkin Hongki Hyung tidak akan mendengarku, tapi aku yakin… kalau dia memang ingat apa yang sudah kami lalui bersama dulu, dia pasti akan menyelesaikannya.."
Kutatap wajah dengan perasaan mengambang itu. Tersirat jelas ketidakyakinan atas ucapannya. Wajah pujaan itu kini berubah, mungkin dimata orang lain ia masih terlihat baik. Namun aku tidak melihatnya seperti itu, perasaanku mengatakan ia sedang tidak baik.
"Minhwan-ah"
"Hm?"
"Tenanglah,"entah apa yang kupikirkan, tanganku bergerak sendiri untuk menggenggam tangan yang mengepal kaku itu. "Aku memang tidak tahu apa-apa, tapi aku yakin.. apapun yang terjadi nanti, itu adalah yang terbaik. Karena kau pun sudah mengusahakan yang terbaik"
Minhwan menatapku tak percaya. "Kau…"
Aku pun tersadar dan langsung melepas genggaman tanganku. Wajahku memanas, jantungku berdegup kencang.
"Maaf, aku hanya ingin mengatakan itu"ucapku terbata tanpa mau menatapnya.
"Kau… sejak kapan kau memperhatikanku seperti ini?"
Aku pun terperanjat kaku. Bagaimana bisa dia menyadarinya? Atau memang tingkahku sudah berlebihan? Tidak, Miki tolong jaga sikapmu!
"Ya, jawab aku"ia menuntut.
"Ah? Aku hanya melakukan apa yang mau kulakukan. Lagipula aku juga tidak tahu mengapa kau menceritakan ini semua padaku, tapi aku merasa aku memang harus membantumu"ucapku yang masih tak mau menatapnya.
"Kau benar,"
"Eh?"kali ini aku pun spontan menoleh kearahnya. Aku langsung terdiam begitu indra penglihatan ini menagkap sosoknya yang sedang menatapku dalam.
"Kenapa aku menceritakannya padamu ya? Padahal dulu bertemu pandang denganmu saja aku tidak mau"ia tersenyum tipis.
"Entahlah.. aku hanya merasa nyaman disini"ia memeggang dadanya sembari menjawab pertanyaannya sendiri.
Aku pun tersentak, benar-benar tidak percaya apa yang ia katakan.
"Bisa pinjamkan aku pundakmu?"tanyanya sambil mendekatkan tubuhnya disampingku.
"Ke-kenapa?"wajahku benar-benar panas sekarang. Aku yakin warna wajahku sudah seperti kepiting rebus, terlebih lagi saat ia menyandarkan kepalanya dipundakku.
"Aku memikirkan hal ini semalaman, bahkan aku hampiri dibuat stress sampai tidak bisa tidur. Aku mengantuk…"ucapnya pelan sambil memejamkan matanya perlahan.
Aku hanya diam, masih tak percaya dengan apa yang terjadi. Namun kuberanikan diri untuk menatap wajahnya yeng terlihat tenang itu lebih dalam lagi.
Wajah itu.. padahal dulu aku sangat membencinya. Selalu berkata kasar dan bersikap ketus. Tapi… kalau tidak melihat wajah ini, aku pasti merindukannya.
"Apa kau sudah tidur?"
Tak ada jawaban. Kulihat wajah itu benar-benar terlelap, memang tersirat raut muka lelah disana. Dia pasti benar-benar mengantuk.
"Kau benar-benar membuatku bersikap bodoh akhir-akhir ini,"ucapku pelan. "Tapi karena itulah aku menyadari perasaanku, mengapa aku berbuat seperti itu…"
Aku menggigit bibir bawahku dan membuang wajahku dari hadapannya.
"Aku… menyukaimu…"
Akhirnya kukatakan. Perasaanku, itulah yang sejujurnya. Kini aku sadar bahwa aku menyukai orang ini. Entah sejak kapan aku pun tidak tahu, yang jelas… perasaan ini tidak salah lagi.
Keheningan pun mewarnai perjalanan waktu ini. Ia benar-benar terlelap disampingku, baguslah ia tidak mendengar ucapanku barusan karena aku belum siap mengatakannya kalau harus langsung didengar olehnya.
Tiba-tiba Handphonenya berbunyi dan tubuhnya tersontak kaget seketika. Ia pun langsung menarik tubuhnya untuk duduk kembali. Sepertinya ia kaget sekali, apa suara Handphone itu benar-benar mengaggetkannya?
"Ash…"ia terlihat bingung dan meraba-raba saku bajunya.
"E-eum.. Handphone mu disini"ucapku pelan sambil menunjuk kearah Handphone yang masih berdering disampingku.
"A-ah, iya"
Aku mengerenyit saat melihat raut wajahnya yang seperti salah tingkah. Ia pun langsung mengambil Handphone itu dan beranjak dari kursi.
"Kalau begitu aku duluan"ucapnya cepat dan langsung meninggalkanku.
Aku pun masih terdiam bingung dengan sikapnya yang tiba-tiba berubah. Namun aku hanya bisa tersenyum sekarang melihat orang yang kusukai terlihat lebih baik dari sebelumnya.
Orang yang kusukai?
"Ash, Miki kau sudah gila!"
.
.
Author POV
.
Keheningan menyelimuti suasana disaat Hongki dan Wonbin hanya terdiam menatap satu sama lain. Hongki menyuruh Kira untuk pulang lebih dulu, Kira pun merasa hal ini harus mereka selesaikan berdua, ia tidak berhak ikut campur.
Dan sekarang hanyalah ada Hongki dan Wonbin di tempat ini. Tempat yang jauh dari keraimaian agar penyelesaian masalah ini tidak terganggu.
"Apa… selamanya kau akan seperti ini?,"akhirnya Wonbin pun membuka mulutnya. "Sampai kapan kau akan membenciku?"
Hongki tak langsung menjawab. Arah matanya menerawang, entah apa yang ada dalam pikirannya sekarang.
"Aku tidak masalah walau harus dibenci, tapi satu permintaanku,"Wonbin menghela nafasnya. " "Jangan membuatnya menangis lagi. Ini salahku, seharusnya aku lebih menyadari posisiku"
"Lupakan masalah Kira sekarang"
Wonbin pun mengerenyit mendengar ucapan Hongki.
"Kalau kau terus-terusan membawanya dalam masalah ini, maka tidak akan ada habisnya. Jangan coba untuk merusak pertahananku dalam menahan emosi ini sekarang"Hongki mendesis.
"Tenang saja, tanpa kau bilang aku sudah mengerti. Aku tidak akan mengecewakannya lagi"
Wonbin pun tersenyum tipis. "Aku bisa percaya padamu"
"Dari pada memikirkan orang lain, kenapa tidak pikirkan dirimu sendiri?"
"Eh?"Wonbin kembali dibuat bingung dengan ucapan Hongki.
"Selalu saja begitu, tidak pernah berubah. Selalu berbohong"Hongki pun mempertegas nada bicaranya.
"Bohong? Hongki-ah apa maksudmu?"Wonbin semakin tidak mengerti.
"Kau selalu berpikir dengan mementingkan orang lain maka itulah jalan terbaiknya. Selalu membohongi dirimu sendiri, melakukan sesuatu yang sebenarnya berat untuk kau lakukan. Padahal dalam sesaat kau bisa kehilangan semuanya hanya karena sikap sok baikmu itu"
"Hongki-ah apa sekarang kau hanya mau mengkritikku seperti itu?"
"Kau benar-benar pengecut Wonbin"
DEG.
Wonbin langsung terdiam begitu pernyataan Hongki seakan menembus cepat kedalam jantungnya. Mimik wajahnya semakin mengerenyit tak percaya.
"Kenapa kau bilang aku pengecut? Apa karena sikapku itu?"
Hongki hanya mengangkat sebelah alisnya dan menatap Wonbin remeh.
"Kau tahu kenapa aku seperti itu?,"Kali ini Wonbin berbalas menginterupsi Hongki. "Seseorang pernah mengatakan padaku bahwa bersama itu lebih baik. Dari pada memikirkan diri sendiri, bukankah lebih baik kalau bersama-sama dengan yang lainnya?"
Hongki masih diam tanpa merubah ekspresi wajahnya sedikitpun.
"Hal itu memang benar, lebih baik kalau bersama. Dan ucapanmu juga benar, terkadang sikap sok baik itu justru menjerumuskan orang itu kedalam penderitaannya sendiri"Wonbin tersenyum tipis.
"Lalu apa kau mau bilang kalau manusia itu tidak boleh berbuat baik? Baik itu memang butuh jerih payah sampai harus merasakan sakit, berbeda dengan Jahat yang bisa mendapatkan semuanya dengan mudah"
"Sudah kubilang aku tidak suka jalan pikiran seperti itu"telak Hongki dengan cepat.
Wonbin pun kembali diam dan menatapnya intens.
"Apa kau lupa? Aku tidak suka jalan pikiran seperti itu. Mendapatkan semuanya dengan mudah, aku lebih suka menikmati jerih payah,"jelas Hongki. "Berbuat baik tidak harus jadi pengecut yang selalu mengalah"
Pikiran Wonbin pun mulai terbuka. Kini ia mengerti apa maksud ucapan Hongki.
"Pikiran dangkalmu itu sudah membuat orang lain menyalahkanmu mentah-mentah. Kau pikir itu baik? Kau malah membuat orang itu terlihat berdosa karena sudah membencimu mati-matian"
"Hongki-ah…"
"Untuk apa menyembunyikan semuanya? Tak usah kau katakan, aku pun tahu bahwa Juri itu mmpermainkan kita. Kalau saja dulu kau tidak bersikap pengecut dan sengaja menyalahkan diri hanya untuk yang lain mungkin aku tidak akan marah padamu"jelas Hongki.
Wonbin tersenyum tipis. "Itu karena kebersamaan lebih penting. Lebih baik aku yang pergi dari pada harus melihat kalian yang pecah"
Hongki pun mendengus kesal. "Kau bilang kebersamaan? Kau lihat apa jadinya kita sekarang?"marah Hongki.
"Kau mengundurkan diri, Jaejin pun sama! Bahkan aku, Jonghun dan Minhwan sampai enggan untuk menyentuh instrument-instrument itu dalam beberapa saat! Tidak ada lagi FTIsland! Kau masih mau bilang kalau itu demi kebersamaan?"
Jantung Wonbin serasa berhenti seketika. Ucapan Hongki benar-benar menusuk perasaannya, sakit. Namun sakit karena itu memang benar.
Bagaimana bisa ia tidak menyadarinya? Bukankah ini berbeda dengan tujuannya semula? Ia keluar karena ia tidak ingin melihat teman-temannya yang berpisah. Namun itu justru membuatnya lebih buruk.
"A-aku…"
"Itulah mengapa aku selalu memanggilmu si Bodoh! Kau memang bodoh Wonbin-ah! Bodoh! Dasar Silly!"Hongki terus mengumpat tanpa memperdulikan air mata yang sudah mengalir melewati kelopak mata cantiknya. Hatinya benar-benar sakit mengingat semuanya.
Wonbin pun merasa matanya ikut panas, seakan-akan air matanya akan tumpah dalam beberapa saat.
"Apanya yang kebersamaan? Kau justru meninggalkan kami… Kau benar-benar menyakitiku Wonbin-ah, menyakiti kami semua…"racau Hongki dengan nafas tersengal.
"Hongki-ah, aku…"
"Kau benar-benar…"
Seketika Wonbin pun langsung berlutut dihadapan Hongki. Wajahnya tertunduk seperti enggan memperlihatkan air mata yang mulai mengalir membasahi pipinya.
"Maafkan aku…"
Hongki hanya diam tanpa respon apapun. Air mata masih mengalir deras dari kelopak matanya.
"Aku benar-benar bodoh tidak menyadari semuanya. Selama ini kupikir yang kulakukan adalah yang terbaik, tapi ternyata…"
Keheningan pun kembali menyelimuti saat mereka berdua kembali terdiam.
.
.
Minhwan POV
.
"Aku menyukaimu"
Aku terdiam. Otakku masih mencerna apa yang baru saja gadis ini katakan.
"Aku benar-benar menyukaimu Minhwan-ah. Awalnya kupikir aku akan terus menolak perjodohan ini, tapi ternyata aku benar-benar menyukaimu"ucap Bomi tegas.
"Bomi… aku…"aku tidak tahu apa yang harus kukatakan.
"Apa kau tidak menyukaiku?"
Pertanyaan itu justru semakin membuatku bungkam. Aku berdoa lebih baik mulutku bisu sekarang agar aku tidak perlu menjawab apapun.
Entah kenapa perasaanku tidak enak. Pikiranku sekarang sedang melayang kepada Hongki Hyung dan Wonbin Hyung. Ternyata aku memang kuran tidur semalaman karena memikirkan hal itu.
"Minhwan-ah"Bomi kembali memanggil.
"Maaf… bisakah kita tidak membahas hal ini sekarang? Kurasa aku butuh istirahat, kau tahu aku tidak tidur semalaman. Aku pun tidak bisa berpikir dengan baik"ucapku dengan senyum tipis.
Raut wajah Bomi pun langsung berubah drastis.
"Kau tidak memikirkan perasaanku Minhwan"
"Eh?"
"Kau pikir seorang gadis bisa dengan gampangnya menyatakan perasaannya pada orang yang ia sukai. Aku pun semalaman memikirkan hal ini"lirih Bomi.
Demi apapun aku harus mengituk diriku sekarang. Benar-benar bodoh, bagaimana bisa aku menganggap pernyataan cinta ini hanyalah hal sepele?
"Bomi-ah, maaf…"aku pun hanya bisa mengungkapkan penyesalan.
Bomi tak menjawab apapun, kelihatannya ia benar-benar marah padaku.
Aku pun memberanikan diri untuk merengkuhnya perlahan. "Aku tidak bisa menjawabnya sekarang, tapi satu hal yang harus kau tahu,"
"Aku menerimamu disini"
.
.
I always waited for a love that resembles the sky to be given to me
You became a bright light to me, who was exhausted by the world
What is going on now with drops that my fingers allow
Is this really what my hearts decided to be last?
.
To Be Continued
.
.
Author : Scene mesra-mesraannya MinKi dipercepat! Saya mau cepet-cepet pacaraaan!
Miki : Yang mau pacaran ama Minan tuh sebenernya Author apa saya sih? =_=
Author : SAYA!
#AuthorSarap
