Authors Note:
Fujoshi desu xD , ZERLIN thank you for your kind review :D
Hikari-chan holla :D lama ga nongol, tau2 panjang aja reviewnya ;D but thank u as always uda sempetin waktu nge review di tengah-tengah tugas yang numpuk (sembah sujud) dan yak, ane lagi banyak pikiran dan sama lelah hayati juga T_T (jadi curcol)
Gapapa gan, imaji liar saya juga masih sebatas peluk n cium,, rating nggak mengizinkan lebih soalnya :P flashback juga mulai dikeluarin satu persatu, dan sambil menunggu final, mulai mengeluarkan berbagai kartu, semoga uda mulai kebaca patternnya ya? :D Tapi ceritanya jadi absurd ya? T_T , ane harus berjuang lebih keras buat menjelaskan lebih detail dengan clue2 yang sejibun soal mereka.
Babang naho kali dipakein topi pattisier, atau baju festival kayaknya lucu juga (jadi ikut ngebayangin) memang suki, tapi Slaine pasti ngamuk, nanti ane ditembak sama Tharsis lagi
And for all of you: thank you for reading this fanfic. I hope you also enjoy this chapter ; )
Also, Happy New Year 2017 juga buat semuanya. May this year bring more opportunities, peace, love, etc. Wish you all the best for the coming year.
Khusus buat Hikari-chan : thank u doanya, semoga Hikarin juga cepet dapet pacar ya :P
.
.
.
Aldnoah Zero not mine
Obsession by cyancosmic
Warning : AU, OOC, Typos, Gender Bender, Fem!Slaine
.
.
.
Enjoy !
Chapter 26: Deception
"Kou… mori?"
Inaho memandangi sosok yang berdiri mematung di luar di tengah hujan deras dari jendela geser di dalam rumahnya. Cukup lama ia mengamati sosok tersebut, namun sosok yang dipandanginya tidak juga bergerak. Lama kelamaan, si pemuda bermanik merah akhirnya memutuskan untuk membuka pintu geser dan keluar dari rumahnya.
Tangannya menggenggam payung dan ia berjalan ke halaman rumahnya. Ia mendekatkan payung yang digenggamnya pada gadis yang sedari tadi berdiri di tengah hujan itu dan berkata, "Kenapa kau hanya berdiri di luar, Koumori?"
Koumori, gadis berambut perak dengan manik sebiru lautan itu menggerakkan kepala saat melihatnya. Rambut, wajah juga gaun yang dikenakannya sudah basah kuyup dan kedinginan, namun gadis itu tak juga beranjak walau sudah mendengar suaranya. Karenanya, Inaho memutuskan untuk memanggil namanya sekali lagi.
"Slaine?"
Si gadis berambut perak itu mengangkat kepalanya saat mendengar namanya disebut. Manik sebiru lautannya langsung tertuju pada Inaho dan sejumput kesedihan terlintas saat mata mereka saling bertemu. Gadis itu pun akhirnya membuka mulutnya dan ia berkata, "Orenji…"
Mendengar gadis itu masih mengenalinya, Inaho pun menangkap pergelangan tangannya. Ia merasakan dingin yang menyengat di kulit saat menggenggam pergelangan tangan si gadis, namun ia mengabaikannya dengan cepat dan menarik gadis itu mendekat padanya agar terlindung dari hujan. Tangannya juga meraih gadis itu dan menyelimutinya dengan mantel yang ia kenakan sebelumnya.
"Kau kedinginan," ujar pemuda itu sembari melingkupi si gadis dengan mantelnya sendiri.
"Aku tidak apa-apa," jawab gadis itu. Ia mencoba menepis tangan si pemuda, namun pemuda itu tetap memakaikan mantel tersebut padanya. "Orenji…"
"Ayo masuk!"Pemuda itu berkata sembari memapahnya dengan satu tangan dan payung di tangan lain. "Kita bicara di dalam."
Gadis berambut perak itu menolak untuk masuk. Kakinya tetap kaku di tempat dan berulang kali Inaho memaksa, gadis itu akan menggeliat dan melepaskan diri darinya. Tidak punya pilihan lain, pemuda bermanik merah itu akhirnya melepaskan pegangannya pada payung dan mengangkat gadis itu. Ia bahkan tidak peduli ketika gadis itu meronta-ronta di pelukannya hingga akhirnya mereka tiba di dalam rumahnya. Barulah saat itu ia menurunkan gadis itu dan beranjak menuju ke ruangan yang lain.
Ia mengambil sehelai baju yang dibawanya dari Vers, mengambilkan handuk dan membawanya ke ruang tengah. Ketika ia kembali, gadis itu masih tetap berdiri mematung, tidak bergerak. Di tengah udara yang dingin ditambah tetes-tetes air yang mengalir dari gaun dan rambutnya, Inaho heran, gadis itu tidak menggigil kedinginan.
Mengira gadis itu akan mati kedinginan bila dibiarkan, Inaho akhirnya bergerak menuju ke perapian yang ada di tengah ruangan. Ia membakar kayu di tungku dan membiarkan udara panasnya mengalir memenuhi ruangan. Berkat itu, suhu di dalam ruangan meningkat dan menjatuhkan lebih banyak tetes air dari gaun juga rambut si gadis.
Namun, sudah dihangatkan seperti apa pun, gadis itu tetap berdiri mematung. Melihatnya, Inaho pun menghela napas dan meletakkan handuk di kepala si gadis. Ia mengeringkan rambut yang basah di kepala juga tangannya dan sembari melakukannya, ia berkata, "Sebaiknya kau ganti bajumu, Koumori. Kalau tidak kau akan mati kedinginan."
Tanpa diduga Inaho, gadis berambut perak itu membuka mulutnya dan berkata, "Biarkan saja aku mati kedinginan. Aku memang berniat begitu."
Tangan Inaho berhenti bergerak mendengar ucapannya. Ia menatap gadis itu selama beberapa saat, sebelum akhirnya lanjut mengeringkan rambut gadis itu. "Kalau memang kau berniat mati kedinginan, jangan lakukan itu di depan rumahku!"
Gadis itu tidak menjawab, ia hanya menunduk membiarkan Inaho mengeringkan rambutnya. Ia tidak peduli dengan tetes air yang mengalir dan membasahi tatami milik pemuda itu.
"Kalau kau berdiri di depan rumahku, aku pasti akan menarikmu masuk seperti tadi," ucap pemuda itu sembari menunduk dan mengelap sisa tetes air yang mengalir di wajah gadis bermanik sebiru lautan itu. "Lain halnya kalau kau sudah tahu bahwa aku akan melakukannya dan tak membiarkanmu mati seperti tadi."
Kali ini, ucapannya membuat gadis itu mengangkat kepala. Manik sebiru lautan yang ia sukai akhirnya bertemu pandang dengan manik merah miliknya. Melihatnya, mau tak mau Inaho terjerat oleh pesona sebiru lautan dan membuat pemuda itu mendekat padanya.
"Orenji," ujar gadis itu tiba-tiba ketika Inaho mulai mendekat padanya, "apa… sebaiknya aku mati saja?"
Ucapannya membuat Inaho berhenti bergerak. Tatapannya tak pernah lepas dari gadis itu.
"Kalau aku mati… apa aku akan bisa memiliki diriku lagi?"
"Kenapa kau tiba-tiba bilang begitu, Koumori?" Pemuda itu bertanya, masih mempertahankan akal sehatnya. Ia menyentuh kepala gadis itu dan mengeringkannya sekali lagi, namun untuk bajunya ia berkata, "Sebaiknya kau ganti dulu bajumu dengan baju yang kering, baru setelah itu kita bicara."
"Aku tidak…"
"Atau aku terpaksa menggantikan baju untukmu,"ucap pemuda itu sembari mencengkeram bahu si gadis berambut perak. "Bagiku tidak masalah."
Mendengar ancamannya, si gadis berambut perak menundukkan kepala. Pada akhirnya, gadis itu mengambil baju yang diserahkan pemuda itu dan pergi ke ruangan lain untuk mengganti bajunya. Sementara ia melakukannya, Inaho menunggu dengan membakar beberapa kayu untuk menghangatkan ruangan. Ketika ia telah menambahkan beberapa batang kayu, gadis itu masuk kembali dengan memakai pakaian pemberiannya.
"Aneh," ucap gadis itu ketika ia menggerakkan tangan di balik baju kemeja putih bersih yang Inaho berikan padanya. "Terlalu besar untukku."
"Apa yang kau harapkan dari seorang pemuda yang tinggal sendirian?" tanya pemuda itu sembari membantu gadis itu menggulung bagian pergelangan tangannya agar gadis itu dapat menyembulkan jemarinya. "Kau justru harus curiga kalau aku menyimpan gaun yang muat dengan ukuranmu."
"Bodoh," kata gadis itu dengan seulas senyum tipis di wajahnya. "Kau bodoh sekali, Orenji."
"Siapa yang bodoh sebenarnya?" Pemuda itu mundur sedikit darinya dan menatap gadis itu. "Gadis yang berdiri di tengah hujan di depan halaman rumahku, atau pemuda yang membiarkan gadis itu masuk dan berteduh?"
Si gadis berambut perak tidak menjawab. Mulutnya terkatup rapat dan senyum yang sebelumnya muncul, kini lenyap digantikan dengan raut kesedihan yang sempat terlihat oleh pemuda itu. Kesedihan itu kini terpampang begitu jelas, hingga membuat pemuda itu mendekat dan mengangkat wajah gadis di hadapannya.
"Ada apa?"
Gadis itu memalingkan wajahnya dan mencoba untuk mundur selangkah. Namun Inaho menahannya dengan mencengkeram tangannya. Hati-hati, pemuda itu menariknya kembali dan menyentuhkan tangan pada wajah si gadis. Ketika ia melakukannya, gadis itu tetap mengalihkan pandangan sehingga ia harus memaksa gadis itu untuk menatapnya.
"Kalau kau tidak bicara, aku tidak bisa membantumu, Koumori," ucap pemuda itu sembari menyentuhkan tangannya dengan perlahan, memaksa gadis itu untuk menatapnya.
Mendengarnya, Koumori pun menggerakkan kepala kembali ke arahnya. Gadis itu masih menunduk selama beberapa saat, hingga Inaho mengangkat dagunya dan memaksanya menatap padanya. Ketika gadis itu menunjukkan wajahnya, Inaho dapat melihat kesedihan yang sedari tadi menghantui gadis itu.
"Koumori…"
"Aku…," ujar gadis itu dengan suara sedih, "harus menikah dengan Marylcian, Orenji."
Pemuda itu mengerutkan dahi, "Kenapa?"
"Ia… memberikan lagi sepuluh ribu keping emas pada keluargaku," ucap gadis itu dengan sedih. "Keluargaku… keluargaku menerimanya dan mereka… mereka bilang aku harus menikah dengannya."
Suara gadis itu bergetar, begitu juga dengan tangan Inaho yang mencengkeram pergelangan tangannya. Ia tak sadar, bahwa dirinya mencengkeram gadis itu begitu erat, hingga gadis itu berjengit sedikit.
"Kau tidak perlu menikah dengannya, Slaine," ujar pemuda itu sembari menyelipkan tangannya di rambut gadis itu. "Kau bisa membayarnya kembali, sehingga ia tak dapat menikahimu."
"Sampai kapan, Orenji?" Gadis itu balas bertanya padanya. "Sampai kapan aku harus membayarnya? Ini sudah kedua kalinya ia memberikan jumlah yang besar untuk membeliku. Kalau aku mengembalikan uangnya, apakah ia akan berhenti membeliku? Apakah ia akan berhenti memberikan jumlah untuk bisa mendapatkanku?"
"Kou…"
"Aku tidak mau menikah dengannya,"ujar si gadis berambut perak dengan airmata mengalir. "Aku tidak mau. Aku harus bagaimana, Orenji?"
Pemuda itu menahan wajah si gadis dan memaksa gadis itu menatapnya. Lalu ia berkata, "Ada satu cara untuk menghentikannya."
"Bagaimana… caranya?" Gadis itu bertanya sembari mengerjapkan mata. "Bagaimana caranya agar ia berhenti membeliku?"
"Menikah denganku."
Ucapan pemuda itu membuat si gadis mengerjapkan mata beberapa kali, sebelum akhirnya ia mengalihkan pandangan. "Aku tidak sedang bercanda, Orenji!"
"Aku juga serius,"ujar pemuda itu sembari menghadapkan kembali wajah si gadis berambut perak padanya. "Kalau kau sudah menikah, ia tak bisa lagi membelimu. Warga desa takkan membiarkannya."
"Tapi…"
"Kau tidak harus sungguh-sungguh menikah denganku,"kata pemuda itu lagi, "pernikahan ini hanya status untuk membuatnya berhenti mendapatkanmu."
Manik sebiru lautan gadis itu menatap ke arah lain. Si gadis bimbang. Ia tak yakin dengan tawaran yang diajukan oleh pemuda bermanik merah ini. Berpura-pura menikah tidak ada di dalam kamusnya, namun bila ini satu-satunya cara agar sang Tuan Tanah berhenti mengincarnya, maka ia tak punya pilihan lagi.
"Kalau begitu… aku bisa meminta salah satu pemuda di desa untuk berpura-pura," ujar gadis itu lagi, "mungkin salah satu dari mereka ada yang…"
"Tidak! Tidak bisa mereka." Pemuda itu mencengkeram lengan si gadis berambut perak. Cengkeraman tangannya membuat gadis itu mengernyit, namun pemuda itu tidak menyadarinya. "Kalau hanya mereka, Marylcian masih bisa membelimu. Namun kalau kau menikah denganku, ia tak bisa semudah itu membelimu kembali."
"Kalau begitu…"
"Koumori!"
Gadis itu menghentikan ucapannya dan menatap pemuda bermanik merah di hadapannya. Gadis itu mengerutkan dahinya, menunggu pemuda itu bicara.
"Hanya aku, yang bisa menikahimu," kata pemuda itu sembari mendekat dan meletakkan kepalanya di bahu si gadis. "Orang lain akan menyerahkanmu untuk sejumlah uang, atau karena ancaman. Tapi Marylcian tidak bisa mengancamku atau pun menawarkan sejumlah uang untuk membuatku menyerahkanmu."
"Aku tahu…," jawab gadis itu walaupun terdengar ragu, "tapi Orenji, sampai kapan kita harus berpura-pura menikah? Bagaimana kalau suatu saat kau harus kembali ke tempat asalmu? Saat itu, tanpa ancaman atau sejumlah uang pun, Marylcian akan dengan mudah mendapatkanku."
"Aku tidak akan kembali."
"Orenji…"
"Aku akan berada di sisimu,"jawab pemuda itu. Kedua tangannya yang semula mencengkeram lengan si gadis berambut perak, kini terulur untuk memeluk gadis berambut perak itu. "Selama aku hidup, takkan kubiarkan siapa pun merebutmu dariku."
"Tapi…"
"Apa kau tidak percaya padaku, Koumori?"
Pertanyaan itu membuat Koumori mengatupkan kembali mulutnya. Kata-kata yang tadinya sudah berada di ujung lidahnya, langsung tertahan begitu mendengar pertanyaan pemuda itu. Tidak percayakah ia pada pemuda ini? Bukankah selama ini pemuda itu selalu menepati semua yang ia katakan? Bukankah selama ini pemuda itu sudah banyak sekali menolongnya? Kenapa ia meragukannya?
"Aku…"
"Menikahlah denganku, Koumori,"ujar pemuda itu lagi. "Jangan menikah dengan orang lain!"
Gadis itu masih bimbang. Manik sebiru lautannya bergerak-gerak dengan gelisah mendengar perkataan pemuda yang memeluknya itu. Pemuda itu sendiri pun tahu bahwa gadis itu masih membutuhkan waktu untuk memikirkan ucapannya. Namun, ia tak mau gadis itu mempertimbangkannya di saat pikirannya jernih. Saat itu, sudah tak ada harapan lagi baginya untuk mendapatkannya.
Maka itu, ketika si gadis berambut perak menganggukkan kepala dan mengucapkan 'Ya' pelan, Inaho tak bisa lagi menahan diri untuk tidak tersenyum. Tangannya mendekap gadis itu semakin erat dalam pelukannya dan bila mungkin ia ingin mendekapnya selamanya. Gadis itu setuju untuk menjadi miliknya. Walaupun untuk saat ini, status pernikahan mereka hanya untuk pura-pura hingga Marylcian berhenti mengejar gadis itu.
Bagi Inaho, pura-pura pun tak apa. Ia masih punya banyak waktu untuk membuat gadis itu jatuh cinta padanya. Waktunya sangat berlimpah dan selama rentang waktu itu, perlahan-lahan, ia akan membuat gadis itu sangat tergantung padanya, hingga tak tahu bagaimana caranya hidup tanpa dirinya. Ketika itu terjadi, gadis itu pun pasti akan melupakan status pura-pura mereka dan menjalani hidup bagaikan suami istri biasa. Saat itu tiba, gadis itu pasti takkan menyadari bahwa ia telah terjebak untuk menjadi miliknya selamanya
"Kau… tidak akan kembali ke negeri asalmu?"
Inaho menganggukkan kepalanya. "Tidak akan."
Inaho terbangun begitu mendengar suara yang memanggil-manggil namanya. Dengan susah payah, pemuda bermanik merah yang menutupi sebelah matanya itu mengerjap-ngerjapkan mata dan mencari-cari sumber suara yang memanggilnya. Begitu ia menemukannya, ia pun mengulurkan tangan yang disambut oleh uluran tangan gadis itu.
"Ohayou, Kaizuka-san!"
"Ohayou, Slaine!" Pemuda itu membalas perkataannya dan menggunakan satu tangan untuk mengucek sebelah matanya. "Jam berapa sekarang?"
"Jam tujuh." Gadis itu berkata sembari menaruh kedua lengannya di atas ranjang yang digunakan si pemuda bermanik merah untuk berbaring. "Kau tidak lupa janjimu kemarin 'kan?"
"Janji?"
Gadis berambut perak itu mengerucutkan bibir saat mendengar perkataan pemuda itu. "Bukankah kau janji untuk menemaniku bermain ski? Kau yang bilang bahwa aku tidak boleh meluncur tanpa pengawasan 'kan?"
"Oh," ujar pemuda itu sembari menaruh tangan di dahinya dan memejamkan mata, "soal itu rupanya."
Melihat keadaannya, gadis itu kembali mendekat pada si pemuda berambut dark brown yang masih berbaring itu. Si gadis mendekat dan berkata, "Kau kenapa, Kaizuka-san? Apa kau tidak enak badan? Kau masih kelelahan setelah talkshow kemarin?"
"Tidak. Bukan itu," jawab si pemuda sembari menyentuh wajah Slaine dan dengan perlahan menjauhkannya darinya. Ia pun menggerakkan badan dan menyingkap selimut yang sebelumnya menutupi tubuhnya. Kemudian ia juga berkata, "Kau serius ingin meluncur pagi-pagi begini? Tidakkah sebaiknya kau tunggu sampai siang?"
Slaine menggelengkan kepala. "Tidak, tidak. Kau sudah berjanji padaku untuk segera melakukannya begitu kita sampai di cottage. Jangan coba-coba mengingkari janjimu!"
Kaizuka Inaho menghela napas sembari meletakkan satu tangannya di belakang leher. Ia menjejakkan kakinya ke lantai dan berjalan menuju ke kamar mandi yang berada di dalam kamarnya. Ia berhenti di wastafel dan mencuci mukanya terlebih dulu dengan si gadis berambut perak mengikuti di sampingnya, memantau keadaan.
"Kaizuka-san, kau baik-baik saja?"
"Tidak," jawab pemuda itu sembari mengeringkan wajah dengan handuk yang ada di samping wastafel. "Aku tidak baik-baik saja."
"Kau sakit lagi?" Si gadis berambut perak bertanya dengan khawatir. Gadis itu meletakkan satu tangannya menyentuh dahi pemuda yang lebih tinggi lima belas senti darinya itu. "Kau tidak demam, tapi apa ada hal lain yang kau rasakan?"
"Ya," jawab pemuda itu, "tiba-tiba saja aku benci udara dingin dan tidak ingin keluar apalagi dengan salju menumpuk."
Mendengar itu, Slaine menurunkan tangannya dan menatapnya sembari menganggukkan kepala. "Oh,ya? Lalu apalagi keluhanmu, Tuan Kaizuka? Apakah kepalamu berdenyut-denyut setiap kali kau mendengar kata 'ski'?"
"Telingaku berdenging," ucap pemuda itu sembari memiringkan sedikit kepalanya dan sengaja menyentuhkannya pada dahi gadis di hadapannya. "Sepertinya aku terkena penyakit musim dingin."
"Gawat sekali!" Gadis berambut perak itu berkata dengan nada terkejut. "Kalau begitu, sebagai obatnya, kau harus membiasakan diri dengan ski. Dimulai dengan berski di pagi hari bersama seorang gadis muda. Dijamin kau akan langsung sembuh setelahnya."
Mendengar itu, pemuda bermanik merah mengangkat kepalanya dari gadis itu. Pemuda itu melingkarkan tangannya, memeluk si gadis berambut perak dan ia berkata, "Apa gadis muda itu tidak punya hobi lain selain bermain ski? Aku alergi dengan kata yang terdiri dari 3 huruf, diawali dengan huruf S dan berakhir dengan huruf I."
"Jangan khawatir! Dokter bilang ski itu tidak berbahaya selama berada dalam pengawasan." Gadis berambut perak itu menunjukkan cengiran kekanakanannya. "Atau kau rela gadis muda itu berski seorang diri bersama pemuda lain? Bagi si gadis muda, itu bukan masalah sih!"
"Kau tidak boleh bermain ski, Slaine!"
"Kau sudah berjanji bahwa aku boleh bermain ski," ucap gadis itu sembari memberikan tatapan mengancam. "Kau pilih, mau menemaniku atau melihatku ditemani orang lain? Pilihanmu."
Pemuda itu mengangkat kepalanya, "Sekarang kau mengancamku."
Si gadis berambut perak mengangkat bahu, "Kau yang memulai."
Mendengar itu, si pemuda bermanik merah menghela napas dan mengacak-acak sedikit rambutnya. Kemudian pemuda itu menyentuhkan dahinya pada dahi Slaine dan ia berkata, "Apa bagusnya salju yang menumpuk di luar, Slaine?"
"Sangat bagus! Dunia yang berwarna dalam sekejap berubah menjadi seperti negeri langit. Semuanya berwarna putih." Gadis itu berkomentar dengan mata berbinar-binar. "Cantik sekali."
"Kau tidak pernah bilang begitu saat melihat jemuran baju yang kucuci bersih."
"Itu berbeda, Kaizuka-san!" Gadis itu langsung mengerutkan dahi dan mengerucutkan bibir.
"Ya, kau hanya ingin bermain ski." Pemuda itu menjawabnya sembari menganggukkan kepala. "Apa kau akan mempertimbangkan kalau kubilang aku ini orang sakit?"
Slaine mengerucutkan kembali bibirnya. "Tidak ada alasan."
Pemuda berambut darkbrown itu menghela napas dan berkata, "Padahal aku ini orang sakit."
"Sekarang kau bilang kau orang sakit! Kemarin waktu kau benar-benar sakit kau malah menyamar sebagai orang sehat," gadis itu kembali berkata sembari balas memeluk pemuda di hadapannya. "Kau harus lebih konsisten lagi dalam mendalami peranmu, Kaizuka-san."
Inaho tidak mengatakan apa-apa dan kembali menghela napas. "Ingatanmu terlalu detail, Slaine."
"Warisan orang tuaku," ucap gadis itu sembari mengangkat kepalanya, mengusahakan agar manik sebiru lautannya dapat bertemu pandang dengan satu-satunya manik merah yang ada. "Lagipula, aku tahu, setiap kali kau harus menyelesaikan pekerjaanmu, kau akan berpura-pura sakit. Waktu itu juga begitu."
"Waktu itu kapan?" Pemuda itu bertanya sembari mengambil sikat gigi dan melepaskan gadis itu. "Aku tidak ingat."
"Waktu kau harus melanjutkan novelmu, kau berpura-pura bahwa tanganmu terluka," kata si gadis yang masih mengawasi si pemuda mengoleskan pasta gigi pada sikat. "Lalu kemarin, sebelum talkshow, kau berpura-pura sakit berat dan tak didengarkan oleh Calm-san."
"Ah…"
"Tak kusangka, kau berbakat akting, Kaizuka-san," jawab gadis itu sembari meletakkan kedua tangannya di depan dada. "Kemarin ini juga, kukira kau sakit parah karena wajahmu pucat sekali."
Pemuda bermanik merah itu menganggukkan kepala dan berkata, "Lalu kenapa kau berhenti mencurigaiku, Slaine?"
"Apa?"
"Bukankah sebelumnya kau memaksaku untuk menjelaskan diagnosis Dokter Yagarai padamu?" Pemuda itu bertanya sembari menyikat giginya. "Kenapa sekarang kau berhenti mencurigaiku kalau kau belum tahu hasil diagnosisnya?"
"Itu…," jawab Slaine sembari menundukkan kepala. "Aku…"
"Kemarin, kudengar ruang data Dokter Yagarai dimasuki pencuri," ujar pemuda itu lagi sembari mengeluarkan sikat saat bicara. "Untungnya tidak ada yang dicuri selain file milikku."
"Kaizuka-san…"
"Aku penasaran," ujar pemuda itu lagi, "apa pencurinya bisa membaca diagnosisnya ya? Atau ada orang lain yang membantu pencurinya untuk membacakan hasil diagnosisnya?"
Gadis itu tidak mengatakan apa-apa dan hanya menundukkan kepala. Ia diam sebelum akhirnya ia berkata, "Aku keluar dulu. Kalau kau sudah selesai, panggil saja aku."
Kaizuka Inaho tidak mengatakan apa-apa. Ia tetap menggosok giginya sembari mengamati punggung gadis itu dari cermin wastafelnya. Ia masih bisa melihat gadis itu membuka pintu kamar dan keluar dari sana hingga sosoknya menghilang. Baru setelahnya, pemuda itu membuang cairan pasta yang ada di mulutnya dan berkumur.
Setelahnya, pemuda itu menatap pantulan dirinya di cermin. Ia memerhatikan manik merah di matanya yang hanya tersisa satu. Ia juga memerhatikan wajahnya yang semakin tirus dari hari ke hari juga memerhatikan kulitnya yang pucat. Ia menyadari bahwa keadaan dirinya sudah jauh lebih buruk dari lima ratus tahun yang lalu. Kali ini ia tak dapat mengabaikannya lagi, seperti kata Yuki-nee beberapa hari yang lalu.
"Ya, sebentar!"
Wanita berambut hitam sebahu tergesa-gesa membuka pintu kamar hotelnya. Sesaat yang lalu, ia memesan layanan kamar untuk membawakannya makanan, karena itu ia tak menaruh curiga dan dengan segera melepas selot pada pintu kamarnya. Wanita itu juga menarik pintu dan membukanya terlebih dulu tanpa mengintip dari lubang pintu, sehingga ia menyesali perbuatannya.
"Nao-kun…" ujar wanita itu ketika melihat pemuda bermanik merah yang muncul di ambang pintu kamarnya.
Pemuda itu mengangkat satu alisnya mendengar namanya disebut. Kemudian ia berkata, "Boleh aku masuk?"
Tak punya pilihan, wanita berambut hitam itu pun menyingkir sedikit dari ambang pintu sehingga pemuda berambut darkbrown itu bisa masuk ke dalam. Setelahnya, pemuda itu melenggang ke dalam dan masih berdiri di tempat hingga Yuki menawarkannya tempat duduk di samping meja. Baru saat itu pemuda itu menempatkan dirinya di kursi sementara Yuki duduk di pinggir ranjang, di hadapannya.
"Apa yang… membawamu kemari, Nao-kun?" Yuki memberanikan diri untuk bertanya pada pemuda yang tak mengucapkan apa pun setelah masuk ke dalam kamar. Sikap diamnya, membuat Yuki sang kakak sekalipun gentar padanya. Di saat seperti ini, ia teringat ucapan sang Ratu yang mengatakan bahwa ia takkan diusir pulang seperti Orbital Knights yang lain. Entah mengapa, sekarang ia meragukan perkataan itu ketika melihat ekspresi di wajah adiknya.
"Aku yang seharusnya menanyakan hal itu, Yuki-nee," ucap pemuda itu, akhirnya membuka mulut ketika ditanya. "Kenapa kau datang ke Bumi?"
"Aku…"
"Kau juga datang diam-diam, tanpa sepengetahuanku," kata sang adik yang menatap tajam wanita berambut hitam itu. "Kau bahkan sampai menyembunyikan identitasmu dariku dan tidak menemuiku sebelumnya. Apa maksudmu sebenarnya?"
"Aku… diberi tugas oleh Seylum-san."
Pemuda itu mengangkat kepalanya dan menatap Yuki. "Sudah kuduga."
"Ini… tidak seperti dugaanmu, Nao-kun," Yuki kembali berkata untuk membela dirinya. "Aku tidak bermaksud untuk menyakiti Slaine-mu seperti Orbital Knights yang lain. Aku…"
"Yuki-nee," kata pemuda itu memotong ucapan wanita berambut hitam di hadapannya, "kupikir, kau sedang melakukan penyamaran untuk misi duta besarmu di Bumi. Aku tidak mengatakan apa pun soal Slaine."
Ucapan adiknya membuat Yuki menelan ludah. Tanpa ia sadari, ia sudah terjebak lebih dulu dengan ucapannya sendiri. Ia pun menundukkan kepala dan akhirnya berkata, "Ya, kupikir kau ingin memperingatkanku soal Slaine."
"Kalau memang tugasmu berhubungan dengannya, maka ya, aku akan memperingatkanmu soal itu," ujar pemuda berambut darkbrown itu sembari menatap kakaknya. "Kuharap, kau tidak menentangku juga seperti bangsa Vers lainnya, Yuki-nee."
Wanita berambut hitam itu mengangkat kepalanya sedikit dan ia berkata, "Aku tidak menentangmu. Untuk apa aku menentangmu, Nao-kun?"
"Yuki-nee…"
"Seharusnya aku berterimakasih karena tak menyangka seorang gadis manusia bisa mengubah adikku hingga seperti ini," kata Yuki sembari menatap adiknya yang sudah tumbuh menjadi seorang pemuda dewasa. "Adikku yang tak pernah menunjukkan ekspresi apa pun semenjak kematian ayah dan ibu, tahu-tahu menjadi sangat ekspresif ketika berada di hadapan seorang gadis biasa."
Inaho tidak mengatakan apa-apa. Pandangan matanya menatap kakaknya yang tengah berbicara. "Apa yang ingin kau katakan, Yuki-nee?"
"Adikku yang bahkan tidak menunjukkan ekspresi khawatir ketika aku tidak kembali ke Vers untuk beberapa saat, bisa menunjukan ekspresi semacam itu ketika si gadis manusia memegangi kepalanya yang sakit," ujar si wanita dengan pandangan mata yang tak lepas dari Inaho. "Kau yang tak pernah mau berdebat dengan seseorang, kini mau beradu argumen dengan seorang gadis walaupun perdebatan itu tidak ada artinya. Kau yang selalu merasa benar, kau yang selalu merasa bahwa orang lain hanya pantas dinilai berdasarkan fungsi, dapat berekspresi begitu lembut hanya di hadapan gadis itu. Bagaimana aku bisa menentang seseorang yang sudah mengubah adikku menjadi seperti itu?"
Pemuda yang duduk di satu-satunya bangku yang ada di kamar itu melipat tangannya dan menatap si wanita berambut hitam legam. Tidak seperti menghadapi Orbital Knights yang lain, pemuda itu memilih untuk membiarkan android miliknya dalam bentuk handphone. Ia mendengarkan dan menunggu, hingga saudaranya itu menyatakan maksudnya.
"Kurasa, Seylum sekalipun akan merasa iri pada gadis yang sanggup mengubahmu menjadi seperti itu," ucap Yuki-nee sembari menaruh satu tangannya di dagu. "Bukan seorang Ratu, tapi seorang gadis manusia yang mengubah Kaizuka Inaho menjadi seperti sekarang. Tak heran semua Orbital Knights yang kembali sampai menyebutnya penyihir."
"Dia bukan penyihir, Yuki-nee!" Inaho langsung mengomentari perkataan saudaranya. "Jangan menyebutnya seperti itu!"
"Tapi tidak salah 'kan?" Wanita berambut hitam itu menggerakkan kepalanya sedikit. "Gadis itu yang mengubahmu menjadi seperti sekarang."
"Aku tidak berubah, Yuki-nee," kata pemuda itu lagi. "Aku masih sama."
Yuki menggelengkan kepala. "Kau berubah, Nao-kun. Jauh berubah dibanding lima ratus tahun yang lalu. Hanya saja, perubahan ini tidak seluruhnya baik untukmu."
Adiknya yang kini hanya mempunyai satu manik merah itu tidak menjawab. Pemuda itu memilih untuk menutup mulutnya, walaupun pandangan matanya tetap terarah pada Yuki. Pemuda itu seolah tengah mengawasi semua gerak-geriknya.
"Kau yang sekarang memang jauh lebih manusiawi dibanding kau yang dulu," ujar Yuki yang akhirnya bangkit berdiri dan mendekat pada adiknya. Ia menyentuh wajah adik laki-lakinya itu dan berkata, "Tapi kau juga jauh lebih kurus dibandingkan yang kuingat."
"Hanya perasaanmu saja, Yuki-nee," jawab pemuda itu sembari menepis tangan kakaknya. "Penampilanku masih sama seperti ratusan tahun yang lalu. Sama halnya seperti kau ataupun Orbital Knights yang lain. Lima ratus tahun di Bumi takkan mengubah wujud kita terlalu banyak."
Sekali lagi, wanita berambut hitam legam itu menggelengkan kepalanya. Lalu ia berkata, "Tidak, Nao-kun. Kau sudah lebih kurus dari yang dulu. Mukamu pucat, wajahmu tirus, kelopak matamu seperti orang yang tidak tidur berhari-hari dan rona kulitmu pun tidak cerah. Tanda-tanda orang sakit sudah muncul di sekitar wajahmu."
"Kau tidak perlu mengatakannya padaku, Yuki-nee. Aku juga punya cermin, kau tidak perlu repot-repot memberitahu penampilanku."
Yuki memejamkan matanya. Ia akhirnya menundukkan kepala dan menyentuhkan dahinya pada sang adik."Nao-kun, kumohon hentikan menyiksa dirimu sendiri dan pulanglah! Kau sudah cukup menderita selama lima ratus tahun ini."
Mendengar ucapan kakaknya, Inaho pun terdiam, tidak lagi mengucapkan perkataan pedas seperti sebelumnya. Ia membiarkan wanita itu memeluk kepalanya dan menyentuh rambut darkbrownnya. Namun saat ia membuka mulut, pemuda itu berkata, "Kali ini, aku akan tetap tinggal, Yuki-nee."
Wanita itu sudah tahu jawaban apa yang akan diberikan pemuda itu. Ia pun hanya dapat menunduk sembari membenamkan wajahnya di rambut darkbrown adiknya. "Kalau kau tidak menyayangi dirimu sendiri, paling tidak kau harus tahu bahwa suatu saat nanti, kau akan membuat gadis itu bersedih karena kau tak ada lagi di sisinya."
"Aku tahu, Yuki-nee…"
"Kau membuatnya begitu tergantung padamu," kata Yuki sembari memejamkan mata, "kau membuatnya hanya melihatmu seorang, tapi diam-diam, kau berencana untuk meninggalkannya seorang diri tanpa kehadiranmu. Tidakkah… kau terlalu kejam padanya?"
Pemuda itu tidak langsung menjawab. Ia tertegun untuk beberapa saat dan baru membuka mulutnya untuk berkata, "Aku tidak akan meninggalkannya dalam waktu dekat. Aku akan hidup cukup lama untuk berada di sisinya."
"Dengan kondisimu sekarang, kau takkan hidup lebih lama dari dua tahun," ujar Yuki sembari menundukkan kepala. "Kau hanya punya waktu dua tahun untuk berada di sisinya. Apa menurutmu itu cukup?"
"Tidak cukup."
"Kan? Makanya lebih baik kau segera…"
Ucapan Yuki terpotong ketika ia melihat ekspresi adiknya. Ia pun mengatupkan kembali mulutnya dan menunggu adiknya bicara.
"Waktunya tidak cukup," ujar Inaho sembari menundukkan kepala, "tapi aku tidak mau menyia-nyiakan waktu lagi. Kalau aku meninggalkannya sekarang, ia mungkin takkan hidup cukup lama untuk menungguku kembali."
"Nao…"
"Karena itu, aku akan berada di sisinya," ujar sang adik sembari menyunggingkan senyum yang tak pernah dilihat Yuki. "Dan menepati semua janji yang dulu pernah kukatakan padanya."
Yuki melepaskan pelukannya dari pemuda itu dan ia menatap adik laki-lakinya dengan mengerutkan dahi. "Nao-kun?"
"Kali ini, aku takkan membuatnya meragukanku lagi," ujar pemuda itu sembari mengangkat kepala dan menatap Yuki. "Jadi maafkan aku, aku tidak akan kembali ke Vers lagi, Yuki-nee."
Wanita berambut hitam itu menatap adiknya selama beberapa saat dan menundukkan kepala setelahnya. Ia meletakkan kepalanya di bahu sang adik dan berkata, "Slaine tidak tahu soal ini, bukan?"
"Aku takkan membiarkannya," ujar pemuda itu sembari mengepalkan tangan. "Ia tidak boleh tahu soal ini."
"Aku sudah bertemu dengan Slaine dan aku memberikannya perumpamaan yang akan membuatnya berpikir soal kesehatanmu." Wanita itu mengangkat kepalanya dan menatap adiknya yang ada di hadapannya. "Cepat atau lambat, ia akan menyadari bahwa kesehatanmu memburuk dan kau harus segera dibawa ke Vers untuk diobati."
"Slaine takkan tahu…"
"Tidak, gadis itu cerdik," ujar wanita berambut hitam itu. "Cepat atau lambat, ia akan menanyakannya sendiri pada Dokter yang merawatmu di Bumi ketika kau lengah. Gadis itu pasti akan mengetahui kondisi tubuhmu dan saat itu terjadi, ia sendiri yang akan mengirimmu kembali ke Vers."
"Ia takkan melakukannya."
"Kenapa kau bisa yakin?" Yuki mengerutkan dahi, kebingungan dengan perkataan adiknya yang terdengar begitu pasti. "Gadis itu bisa saja mengetahuinya 'kan? Ia bisa saja mengelabui Dokter, atau mencuri dokumennya dan melakukan sederet tingkah tak masuk akal lainnya."
"Memang," jawab Inaho sembari menyentuh handphonenya yang berwarna orange dan mengubah bentuk androidnya menjadi sebuah robot. Begitu androidnya sudah berbentuk robot mini, ia mengambil amplop cokelat yang ada di tangan robot tersebut dan menunjukkannya pada Yuki. "Tapi semua usahanya percuma, karena sang dokter sudah tak punya file asli untuk ditunjukkan padanya."
"A…"
"Jadi… silakan saja membobol ruang data rumah sakit, atau melakukan apa pun untuk mengetahuinya," ucap sang adik sembari bangkit dari tempat duduk dan menyerahkan kembali amplop pada robot jingganya. "Tapi ia takkan memperoleh jawaban yang sebenarnya."
"Kau… menyembunyikannya sampai sejauh ini?" Mulut Yuki ternganga melihat amplop yang dipegang adiknya. Walaupun sang adik tidak menunjukkan isinya, ia sudah dapat menduga apa yang tertulis di dalamnya. "Kau memalsukan catatan kesehatanmu sendiri?"
Inaho tidak mengucapkan apa-apa. Pemuda itu terus melangkah, meninggalkan tempat duduk dan menuju ke pintu keluar. Sebelum membuka pintu, sang adik kembali berkata, "Paling tidak, usahamu untuk membujuk Slaine sia-sia. Gadis itu takkan percaya ucapanmu."
"Kau… membohonginya?" Yuki menatapnya dengan tidak percaya. "Kau membohongi gadis itu sampai seperti ini? Bukankah kau bilang kau tidak mau ia meragukanmu?"
"Ini demi kebaikannya," ujar pemuda itu. "Ia tidak perlu khawatir soal kesehatanku. Aku bisa mengatasinya sendiri."
"Tapi… gadis itu juga berhak tahu." Yuki kembali berkata sembari menyentuh pundak adiknya. "Kau tidak bisa mengatakan ini demi kebaikannya, gadis itu yang akan menentukan sendiri apa yang baik baginya. Bukan kau, Nao-kun! Tahu begitu, seharusnya dari awal aku mengatakan padanya yang sebenarnya saja!"
Kali ini, adiknya yang selalu dikasihinya, adiknya yang selalu dirawatnya dengan penuh kasih sayang itu memberikan tatapan mengancam padanya. Sang adik yang selama ini selalu mendengarkan ucapannya, kini memandangnya dengan cara yang sama seperti ia menatap musuh-musuhnya. Bagi sang adik, sekarang ini ia adalah musuh yang harus dimusnahkan.
"Jangan katakan apa pun lagi, Yuki-nee!" Pemuda itu berkata, "Terakhir kali kau ikut campur, aku kehilangan Slaine, dan aku tidak mau itu terjadi lagi."
"Nao-kun…"
"Lagipula, sekarang ini ia takkan percaya padamu. Malahan semakin kau mencoba memberitahunya, ia akan semakin waspada denganmu," ujar pemuda itu. "Bagaimana pun, Slaine hanya akan memercayai data yang ia pegang. Ia tidak sebodoh itu sampai memercayai hasutan seorang wanita bernama Izu-san yang baru dikenalnya."
Yuki terperangah mendengar ucapan adiknya. "Bagaimana kau tahu? Kau bahkan tidak ada di sana saat aku mendekati gadis itu."
Sang adik tidak mengatakan apa-apa. Tanpa banyak bicara, ia membuka daun pintu dan melangkahkan kaki keluar dari kamar. "Selamat tinggal, Yuki-nee!"
Ingatannya akan sang kakak terputus ketika ia mendengar bunyi gaduh dari ruang keluarga yang ada di depan kamarnya. Hal ini akhirnya membuat Inaho memakai jaket tebalnya yang berwarna hijau tua, menyampirkannya ke tubuhnya sebelum beranjak keluar dari kamar. Ia menatap sekelilingnya dan ketika tidak melihat gadis itu, pemuda itu pun melangkahkan kaki dan menuju ke teras depan cottage mereka.
Matanya langsung menangkap sosok berambut perak, yang mengenakan jaket parasut berwarna tua dengan kerah berwarna merah terang yang serasi dengan rambutnya. Sosok itu tampak bersusah payah menarik papan ski untuk dua orang menuju ke mobil SUV di halaman cottage. Satu papan ski terjatuh sehingga sosok itu berbalik kembali untuk mengambilnya. Namun sebelum gadis itu mendapatkannya, Inaho sudah mendapatkannya lebih dulu dan menatap gadis berambut perak itu.
"Kaizuka-san…"
Pemuda itu tidak langsung menjawab, ia menarik tangan Slaine yang berbalut sarung tangan berwarna putih yang robek karena terkait papan ski yang jatuh sebelumnya. Tanpa banyak bicara, pemuda itu melepaskan sarung tangan yang dikenakan gadis itu dan menggantinya dengan sarung tangannya sendiri. Lalu ia berkata, "Kau akan kedinginan di cuaca seperti ini, Slaine…"
Gadis berambut perak itu memandangi tangannya dan sarung tangan baru yang melingkupi jemarinya. Kemudian gadis itu pun berkata, "Kau juga akan kedinginan, Kaizuka-san."
"Aku orang Vers," jawab pemuda itu. "Aku lebih tahan dingin darimu."
Ucapannya membuat gadis itu tersenyum dan berkata, "Siapa yang sebelumnya mengatakan bahwa ia terkena penyakit musim dingin?"
"Bukan berarti aku tidak tahan dingin," ucap pemuda itu sembari mengenakan sarung tangan berwarna putih, milik Slaine, yang robek di bagian jarinya. "Atau kau tidak membaca dengan teliti laporan kesehatanku sebelumnya?"
Pupil di manik sebiru lautan itu melebar begitu mendengar perkataan pemuda itu. Namun dengan segera, si gadis berambut perak mengalihkan perhatiannya sembari menundukkan kepala.
Melihat tingkahnya, pemuda itu menghela napas. "Apa kau yang membobol ruang data milik Dokter Yagarai, Slaine?"
"Kau bicara apa?" Gadis itu berkata sembari menggerakkan kedua tangannya. "Kenapa tiba-tiba kau menuduhku membobol ruang data itu?"
"Jawablah sebelum aku bertanya pada Tharsis." Pemuda itu berkata lagi sembari mengeratkan sarung tangan berwarna putih itu di tangannya. "Aku tahu kau takkan suka bila aku melakukannya."
Mendengarnya, gadis itu mengatupkan mulutnya dan menundukkan kepala. Untuk beberapa saat, gadis itu terdiam di hadapan Inaho. Melihat tingkah gadis itu, Inaho pun membuka mulutnya dan hendak mengucapkan perintah pada sang android. Namun saat itu, gadis itu memotong ucapannya dengan berkata, "Kau pasti sudah tahu aku yang melakukannya karena Tharsis mengatakannya padamu."
"Aku belum bertanya padanya," jawab Inaho sembari mengangkat bahu. "Aku bertanya lebih dulu padamu."
Slaine tetap mengalihkan perhatian, sebelum akhirnya ia menghela napas dan menjawab "Aku dan Mazurek yang melakukannya."
Kini giliran pemuda bermanik merah itu yang menghela napas saat mendengar perkataan si gadis berambut perak. "Kenapa kau melakukannya?"
"Karena… kau tidak akan menjawab jujur bila aku bertanya," ujar Slaine dengan tetap menunduk. "Kau akan mengelak dan akan mengatakan bahwa kau baik-baik saja."
"Kau tetap tidak percaya juga?"
"Bukankah kau juga sama saja?" Slaine mengangkat kepalanya dan menatap si pemuda berambut darkbrown yang berada di hadapannya. "Kau juga tak memercayaiku dan selalu bertanya pada Tharsis lebih dahulu. Bukankah kau pun tidak percaya padaku?"
"Slaine…"
"Kalau aku bertanya, kau pasti takkan menjawab jujur," ujar gadis itu lagi, "makanya aku mencuri datanya. Kupikir, dengan begitu aku akan mendapatkan kebenarannya."
Pemuda itu meletakkan tangannya di leher dan berkata, "Lalu… apa isi data penelitiannya?"
"Itu…"
"Kali ini, aku tidak berbohong 'kan?"
Slaine kembali mengalihkan perhatian sebelum akhirnya ia menganggukkan kepala. Sikapnya, membuat pemuda itu mengulurkan tangan dan menarik gadis itu ke pelukannya. Ia menyentuhkan kepala gadis itu ke bahunya dan tidak berkata apa-apa.
"Maaf." Gadis itu berkata lagi. "Maafkan aku, Kaizuka-san."
"Apa… sulit bagimu untuk memercayai ucapanku?"
"Sulit," jawab Slaine sembari meletakkan kepalanya di bahu pemuda itu. "Aku takkan pernah tahu kapan kau berbohong dan kapan kau jujur. Berbohong sangat mudah bagimu, Kaizuka-san."
Kali ini, giliran pemuda itu yang menggelengkan kepala. "Kau salah, Slaine. Berbohong tidak pernah mudah untukku."
"Tapi… kau melakukannya hampir sepanjang waktu," ujar gadis itu sembari memejamkan mata sementara tangannya menyentuh jaket yang pemuda itu kenakan. "Segala sesuatu yang berhubungan dengan kesehatanmu, selalu kau sembunyikan. Kau membuatku tidak tahu apa-apa setelahnya. Kau selalu begitu."
"Kau benar…"
"Jangan… sembunyikan apa pun lagi dariku, Kaizuka-san." Gadis itu berkata sambil mencengkeram jaket pemuda itu dengan erat. "Kumohon."
Pemuda itu mengangguk dan memeluk gadis itu erat-erat. "Aku takkan melakukannya lagi."
"Kau mau berjanji?"
Inaho menganggukkan kepala sekali lagi, sementara gadis itu mencengkeram jaketnya kuat-kuat. "Aku takkan berbohong lagi padamu."
Slaine tidak mengatakan apa-apa. Ia terus menunduk dan membenamkan diri di balik jaket berwarna hijau tua pemuda itu. Walaupun begitu, ia menggigit bibir bawahnya dan memejamkan mata kuat-kuat, sebelum akhirnya ia berkata, "Terima kasih, Kaizuka-san."
"Untuk?"
"Untuk…," tangan si gadis mencengkeram erat jaket pemuda itu, "selalu berkata jujur padaku."
Pemuda itu menundukkan kepala dan menyentuhkan dagunya pada rambut gadis itu. Ia terus memeluk si gadis, hingga tidak menyadari bahwa manik sebiru lautan itu tidak ikut menyuarakan ucapan terima kasih, seperti yang gadis itu ungkapkan. Alih-alih tersenyum, manik biru itu justru menyatakan kesedihan yang tak dapat ia katakan.
"Kaizuka-san…"
"Ng?"
"Aku… bisa memercayaimu 'kan?"
"Tentu saja, Slaine," ucap pemuda itu sembari mengusap rambutnya. "Kau selalu bisa memercayaiku."
Slaine tidak mengatakan apa-apa. Gadis itu tetap diam dan ia membenamkan wajahnya di dada pemuda bermanik merah tersebut. Ia memejamkan mata, sementara tangannya mencengkeram erat jaket tebal yang dikenakan pemuda itu. Tanpa disadari pemuda itu, si gadis menggerakkan mulutnya tanpa suara sehingga pemuda itu tidak dapat mendengarnya. Namun, siapapun yang melihat akan menyadari apa yang hendak ia ucapkan.
'Kau pembohong, Kaizuka-san.'
…
[t.b.c
Thank you for reading, if you mind, please give me any review :D]
