=Two Worlds=

"Kita tidak pernah sendirian di semesta ini"

Story & Cover by:

Zanas-kun

Genre:

Fantasy, Friendship, Humor, Action

Disclaimer:

Kuroko no Basuke character by Fujimaki-sensei

Warning:

[OOC, alur lambat, Typo]

If you like it click Next, if you hate it click close/back

DON'T LIKE DON'T READ!

Enjoy!


Mereka langsung berlari melalui bangunan hitam dan jalan batu sesampainya mereka di pelabuhan, kembali ke tempat Ras mereka berada, dengan sihir atau dengan tenaga mereka sendiri, tapi saat tersadar mereka sudah ada di Tokyo. Mereka langsung mengerti kalau ruang hitam ini menyatukan kedua dunia, lapisan pelindung sudah rusak parah dan mungkin tidak akan bertahan lama. Sanada, Nijimura, Haizaki dan Mayuzumi terpisah dari Kuroko dan kawan-kawan entah kapan.

Begitu mereka sampai ke apartemen tempat mereka tinggal, Takao sudah tidak ada, barang-barangnya, semua. Seperti dia memang tidak pernah pindah ke apartemen itu. Padahal terbunuh di dunia sana bukan berarti orang itu di dunia sini juga mati. Tapi tubuh dunia sini mereka masih ada, tertidur tapi tidur mereka akan jarang memiliki mimpi. Apa kelompok Hazama menculiknya?

"Kelompok? Sanada, sepertinya kau salah paham" ujar Haizaki kental akan sinisme, wajahnya seperti mengecap sesuatu yang pahit dan sangat menjijikkan. "Musuh kita sekarang adalah seluruh keluarga Ryuugazaki" Sanada langsung terdiam mendengar pernyataan Haizaki, pikirannya kalut. Lalu dia melihat ke dalam kamarnya dengan Takao. Melihat dirinya sendiri tertidur seperti ini rasanya aneh.

Segera saat mereka menyentuh tubuh mereka yang tidur kedua tubuh mereka bersatu , tubuh dunia sana yang mereka pakai sekarang menipis, transparan, lalu saat sadar mereka membuka mata, terbaring di tempat tidur. Dan di sebelah kasur mereka, tergeletak begitu saja di lantai adalah atribut dan senjata yang mereka kenakan barusan. "Duh, mana muat" gumam Sanada melihat pakaian miliknya yang dari dunia lain, akhirnya dia hanya memakai jubahnya saja, lalu pakaiannya hanyalah kaos dan celana panjang, lalu setelah melepaskan pedang dari pengikat, dia membawanya keluar kamar.

Setelah mencari jejak di penjuru apartemen mereka kembali keluar karena ada beberapa bukti kecil bahwa ada yang masuk ke apartemen mereka saat mereka tidak ada.

"Tidak mungkin Hazama bisa menciptakan yang seperti itu" kata Nijimura melihat ruang hitam yang meluas, didahului oleh retakan di udara dan gemuruh.

"Bukankah itu karena Gadha milik Murasakibara yang mereka ambil?" sahut Haizaki menyeringai jengkel. "Pikun kalian" ejek Haizaki kemudian

Gadha dari Era Kegelapan milik Murasakibara adalah senjata kuno dengan kekuatan menghancurkan yang hebat. Dijuluki Era Kegelapan karena Gadha itu bangkit setiap Matahari 'menghilang' dalam kurun waktu yang lama. Mulai dari zaman dahulu, sebelum masehi hingga saat ini, contohnya Black Sunday pada 1950 karena Kebakaran hutan, Letusan Gunung Tambora dan Krakatau di Indonesia, dan Letusan Gunung Mayon dan Pinatubo di Filipina, setiap peristiwa hilangnya Matahari yang menyebarkan rasa takut, resah, hingga penyakit pada manusia. Gadha itu menyerap kegelapan dan apa yang ditimbulkannya, lalu menjadikannya kekuatan.

"Masuk akal" sahut Mayuzumi. Nijimura dan Sanada diam saja.

Seluruh Kota kini sedang berada dalam kekacauan. Riuh klakson kendaraan, sirine polisi maupun pemadam kebakaran dan raungan makhluk bukan manusia dan jerit panik warga memenuhi langit kota. Mereka diberitahu Kuroko dan kawan-kawan jika sekolah hari ini libur dan mewajibkan murid untuk bersembunyi di rumah mereka masing-masing atau ke tempat aman yang telah di sediakan pemerintah bagi mereka yang ada di luar. Himbauan sama yang diberikan lembaga keamanan masyarakat dan pejabat pada warganya. Scene yang sering ada dalam film tentang apocalypse.

Saat ini mereka melihat kenyataan yang menampar keras mereka. Dikhianati keluarga sendiri yang menyelamatkan mereka dari takdir yang kejam sangat menyakitkan. Dan keluarga itu juga yang menyebabkan orang orang yang seharusnya mereka lindungi menjadi seperti ini. Mereka tidak tau lagi apa yang mereka lakukan selama ini, untuk apa?

Nijimura menarik nafas dalam-dalam. "Kita akan menyebar ke seluruh kota dan melakukan tugas kita seperti biasa, bantu yang sedang kesusahan, dan cari Takao. Anggaplah ini atas dasar kemanusiaan dan persaudaraan yang kita miliki, Dan ini seperti biasanya, hanya saja lebih sibuk dan kita tak perlu menyembunyikannya lagi" katanya sambil tersenyum dan menarik Double Blade miliknya.

Dan rasa kagum mereka pada Nijimura bertambah karena ketegarannya dan ia masih bisa memimpin dengan baik. Jauh di dalam hati mereka, mereka bersyukur mempunyai kapten sekeren ini.

"Bagaimana dengan Kuroko dan yang lainnya, Nijimura?" Tanya Mayuzumi sesaat sebelum mereka pergi ke arah berbeda.

Nijimura terdiam sejenak, "Hm… untuk saat ini kita fokus pada ini dulu, lagipula kepemimpinan mereka mungkin beralih pada Akashi, mereka sudah tak membutuhkan kita lagi untuk bergerak" dan Nijimura mengakhirinya dengan tawa geli yang ringan. Mayuzumi tersenyum, dan Haizaki mendengus geli. Lalu berpencarlah mereka ke empat arah berbeda.

Di tempat lain, saat para Gate Guardians berlari kembali pada Ras mereka masing-masing, entah kenapa mereka malah berada di beberapa wilayah terpisah di kota Tokyo. Kise dan Kuroko bertemu di tengah jalan menuju sekolah. Akashi, Murasakibara dan Midorima bertemu di dalam sekolah. Sedangkan Kagami dan Aomine bertemu di tengah keributan masa. Masing-masing dengan tubuh manusia, tapi atribut dan Senjata milik mereka di dunia sana.

"Pasti berat untuk Sanada-kun, Haizaki-kun dan para senpai" kata Kuroko, memikirkan jika dia berada di posisi mereka pasti dia tidak bisa bangkit kembali. Kise mencoba untuk menghibur "Mereka pasti bisa mengatasinya, Kurokocchi! Mereka kan kuat, orang-orang paling keren yang pernah kutemui-ssu!"

Kuroko tersenyum dan mengangguk, lalu mereka berdua melihat sekilas Sanada berlari ke arah yang berlawanan dengan orang-orang panik di dekat mereka. Dan di belakang pemuda tigabelas tahun itu mengikuti beberapa makhluk dunia lain. Kuroko dan Kise mengejarnya.

"Akashi, sekarang kita harus apa? Menemukan yang lainnya atau.." Tanya Midorima

Akashi menutup ponselnya "Pertama, kita harus menyelesaikan masalah ini terlebih dahulu" katanya sambil menatap sekawanan makhluk yang menyerang warga kota tanpa bulu. Midorima dan Akashi memanggil Senjata Legenda mereka, dan Murasakibara mengepalkan tinjunya, bersiap untuk bertarung.

"Cih, diantara semua orang kenapa malah ketemu kau"

"Kau pikir aku juga mau ketemu kau? Amit-amit"

Meskipun mereka saling mencibir satu sama lain mereka tetap bertarung dengan luar biasa, tanpa peduli orang sekitar yang membatu melihat mereka, histeris ketakutan akan mereka, atau merekam aksi mereka. Dan kedua pemuda itu tanpa ragu terus maju ke arah langit dan sisi hitam Kota. Bahkan mereka dengan lihai melepaskan diri dari cengkeraman petugas keamanan dan orang-orang.

Saat Kise dan Kuroko berhasil menyusul Sanada, mereka melihat sisi lain kota di hadapan pemuda berambut putih itu adalah kota yang di selimuti warna hitam, dengan garis siluet putih dan retakan besar di langit, dan di berbagai macam sudut sisi kota Tokyo. Di daerah sini sudah sepi sekali.

Mereka melihat Sanada menarik pedang di balik jubahnya, dan para makhluk transparan di belakangnya langsung bersiaga di sekelilingnya. Lalu Sanada berlari tanpa ragu ke sisi hitam kota yang mereka sadari meluas. Setelah melihat satu sama lain, Kise dan Kuroko berlari menyusulnya.

Beralih ke Akashi, Murasakibara dan Midorima yang berlari berlawanan dengan massa, mereka menghindari petugas kepolisian agar tidak di paksa ke pos pengungsian. Saat mereka berlari Murasakibara bertanya "Aka-chin, aku tidak memiliki Senjata Legenda milikku, apa yang bisa kulakukan?"

Midorima kaget saat Murasakibara bertanya seperti itu, tapi ia tidak berkomentar "Kau akan bertarung di garis depan bersamaku, bahkan tanpa Senjata Legenda, kau memiliki kemampuan fisik yang luar biasa" jawab Akashi. "Untuk lebih rincinya ikuti arahanku tergantung situasi" lanjutnya kemudian.

Beberapa saat kemudian mereka ada di bagian kota Tokyo yang telah sepi penduduk, keadaannya tak perlu di tanyakan lagi, berantakan. Tapi yang membuat mereka waspada adalah area hitam pekat yang meluas, ruang yang menyatukan kedua dunia. Di gedung sebelah mereka terdengar dentuman keras, lalu sesaat kemudian sebuah makhluk terlempar keluar memecahkan jendela kaca gedung, terjun bebas dan menghantam tanah dengan suara dentuman, lalu gelombang kejut yang mengikuti. Setelah itu mereka melihat surai abu-abu yang tertiup angin diantara debu yang terbang.

"Ah" Mayuzumi baru menyadari keberadaan mereka setelah dia menarik Tanto-nya di dada makhluk yang dia kalahkan. Seekor Minotaur dengan rambut hitam pekat dan bertubuh kekar.

Mereka saling bertatapan selama beberapa detik "Kalian kesanalah duluan, masih banyak yang harus kuselesaikan disini" kata Mayuzumi menunjuk ruang hitam beberapa Kilometer di hadapan mereka.

"Mayuzumi-san, ada yang ingin ku tanyakan" kata Akashi sebelum pergi. Mayuzumi menatapnya

"Apa anggota Ryuugazaki memang seperti ini apa adanya? Dari Legenda yang berkembang, Ryuugazaki adalah 'keluarga' yang turun temurun membantu Gate Guardians menyeimbangkan kedua dunia, apa aslinya memang seperti ini sejak dulu?" Midorima heran kenapa Akashi menanyakan pertanyaan seperti itu pada Mayuzumi.

"Tidak, awalnya kami tidak seberagam ini. Awalnya Ryuugazaki adalah garis keturunan murni hanya dari dua keluarga manusia saja. Yaitu klan rambut putih dan rambut perak. Keluarga mereka adalah keluarga yang besar dan solid, tapi karena kedua keluarga adalah orang baik-baik, mereka menerima siapapun yang ingin bergabung dengan mereka melewati suatu tes khusus, sekaligus memperluas jangkauan perlindungan mereka dan menambah kekuatan dukungan mereka pada Gate Guardians" Mayuzumi menjawab dengan lengkap, mengejutkan Midorima dan Murasakibara, tidak terlalu untuk Akashi.

"Tapi lama kelamaan, karena besarnya anggota yang bernaung di bawah nama Ryuugazaki, konflik internalpun terjadi, seperti perebutan kekuasaan, kudeta, fitnah menyebar, dan sebagainya yang biasa kalian baca atau dengar di media kabar. Dan keturunan keluarga asli itu tersingkir" lanjut Mayuzumi, diikuti dengan helaan nafasnya yang berat dan ekspresinya yang suram.

"Jadi anggota sebenarnya Ryuugazaki adalah Sanada dan Shiori? Senpai, kau mengatakan hal yang begitu banyak seolah mengetahui segalanya, kau sebenarnya siapa?" Tanya Akashi, dia sudah mempunyai dugaan di pikirannya mau se-klise apapun itu seperti dalam cerita fiksi. Tapi mau bagaimana lagi.

Mayuzumi diam, sebenarnya malas untuk memberitau "Jika saatnya tiba aku akan tau, lagipula kau sudah ada dugaan bukan?"Lalu dia berlari pergi ke sumber suara raungan tak jauh dari tempat mereka.

"Akashi, ayo" ajak Midorima, Akashi hanya menjawab dengan "hm" dan mereka pergi ke sisi kota yang telah berubah hitam dengan garis putih tersebut.

Nijimura terus bertarung dan bertarung, badannya seperti otomatis menebas dan bergerak, tapi pikirannya ada di tempat lain. Dulu, suatu hari Shiori kecil mendatanginya dengan setumpuk berkas tua bersama dengan Mayuzumi yang sebaya dengannya. Bocah lelaki bersurai abu-abu lembut dengan mata seperti ikan mati. Saat ia membaca apa yang dibawakan Shiori, ia terkejut dan Mayuzumi menjelaskan semuanya, dengan alasan hanya ia, bocah sebaya yang tidak pernah ia temui, yang bisa dipercaya. Anak yang aneh sekali.

Awalnya mereka tak begitu akrab, tapi hubungan mereka tidaklah buruk, anggota keluarga yang lainnya tampaknya juga tidak ada masalah dengannya, kecuali mereka sering sekali melewatkan keberadaan pemuda pendiam tersebut. Hanya saja ia lumayan dekat dengan Sanada dan Haizaki.

Mayuzumi sering sekali terlihat mengawasi semua orang di anggota Ryuugazaki, walaupun sorot matanya kosong, terkadang Nijimura heran entah dia itu memang memperhatikan atau hanya sekedar bengong. Pernah sekali ia bertanya, tapi di jawab tidak ngapa-ngapain dan mengalihkan topik. Terkadang Nijimura tidak melihatnya beberapa hari, dan ia kira Mayuzumi dikirim dalam misi, sama sepertinya jadi dia tidak curiga sama sekali.

Tapi beberapa kali ia sadari atmosfir antara Mayuzumi dan kakek Hazama aneh. Karena terasa terlalu samar ia tak bisa menyimpulkan dan perasaan itu terpendam oleh kesibukannya.

"Shuuzou, apapun yang terjadi lindungi Sanada." Katanya di saat mereka berlari tadi.

"Ha? Tentu saja, aku kaptennya, juga kapten kalian semua. Itu tanggung jawabku, memangnya ada apa?" Dan Mayuzumi hanya tersenyum tipis padanya, lalu menepuk pundaknya sambil lalu.

Sanada adalah yang paling dekat dengan Hazama di kelompok mereka selain Shiori. Nijimura tidak akan terkejut jika bocah putih itu berbalik melawan mereka dan berpihak pada Hazama. Sampai tadi ia lihat bocah itu tidak bicara benar sama sekali semenjak apa yang terjadi di dunia sana. Apa yang akan dilakukan bocah itu saat ia mengerti keadaan mereka saat ini? Seharusnya ia bersama Sanada sekarang, Nijimura sedikit menyesal memutuskan mereka untuk berpencar.

Di tengah pertarungannya dia mendecih kesal "Apa-apaan?!" dan melampiaskan kekesalan dan kebingungannya pada lawannya.

Di sisi kota Tokyo yang lain…

Kagami dan Aomine melihat Haizaki bertarung sengit di atas gedung dengan beberapa makhluk yang hanya mereka lihat di televisi maupun buku cerita. Beberapa kaca toko dan kendaraan hancur akibat kecelakaan dan para oknum yang memanfaatkan kekacauan yang terjadi, tapi saat ini semuanya sepi.

"Aomine, menurutmu kenapa Hazama tidak membunuh Haizaki dan yang lainnya?" Tanya Kagami saat mereka memukul jauh musuh dan menutup lubang antar dunia yang terbuka. Yang ia maksud Nijimura dkk, Aomine mengerti itu.

"Hah?! Mana ku tau?! Si kakek gila itu mau ngapain juga pokoknya tugas kita adalah menghentikannya! Sempat juga kau sok mikir muluk BAKAgami!" teriak Aomine karena ia berlarian untuk membasmi musuh lebih banyak.

Kagami terpicu "Bangsat! Aku tanya baik-baik juga dasar AHOmine!" katanya misuh misuh dan mengambil aksi lebih berani, yaitu langsung berlari dan memasuki area kota yang menghitam persis seperti di dunia sana, jika perluasan area hitam ini dibiarkan, ia rasa hanya itu yang tidak boleh terjadi.

Aomine mendecih dan memutar Deathscythe besarnya, memunculkan pusaran air dan menghanyutkan semua musuh di sekitarnya, lalu dia berbalik dan berlari menyusul Kagami.

Sekilas Haizaki melihat Kagami dan Aomine yang bertarung dan saling bertengkar, lalu untuk kedua kalinya ia melihat mereka berlari tanpa ragu ke kegelapan itu. Setelah melempar serangan terakhir dengan Naginata miliknya seluruh musuhnya telah ia habisi. Saat bermaksud menarik napas sejenak dan menutup mata, bayangan di balik matanya malahan mereka (ia dkk dengan kiseki no sedai) yang sedang duduk di taman sekolah saat makan siang, dan pesta Thanksgiving di keluarga Ryuugazaki.

Saat itu mereka bermandikan sinar matahari dan gelak tawa.

"Fuck" membuka matanya kembali, Haizaki duduk beberapa meter di dalam gedung selesai ia membangun shelter untuk dirinya sendiri, ia memasang penghalang sebesar kegelapan itu agar tidak meluas, dan lubang-lubang antar dunia tidak bertambah ataupun lebih besar. Penghalangnya berbentuk rantai transparan yang bercahaya kecil seperti kunang-kunang, tidak bisa dilihat oleh mata manusia biasa. Ia mempertaruhkan seluruh kekuatan gaib miliknya dan berkonsentrasi penuh. 'Sebaiknya kalian tidak sia-siakan ini , para bajingan!' batinnya mengumpat.

Nijimura dan Mayuzumi yang melihat rantai itu langsung mengetahui kalau Haizaki yang melakukannya. Mereka memujinya dalam hati. Mereka berdua akan melindungi kota dari luar.

Dengan ini ketujuh Gate Guardians dan Sanada telah masuk ke dunia yang diciptakan Hazama.

Dan dunia itu kini telah membentuk sebuah labirin yang sering berubah, terkadang menjadi seperti dunia sana, lalu selanjutnya berubah menjadi kota Tokyo lagi, terus menerus seperti itu secara bergantian dengan waktu tak menentu. Dan jalan yang mereka lewati juga selalu berubah.

Tujuan para Gate Guardians adalah menemukan Hazama, dan kelima orang yang menjadi sumber labirin kegelapan ini.

Lalu menghabisi mereka.

Sanada berlari dan berlari tak tentu arah, pikirannya sangat kalut dan menyadari bahwa tindakannya percuma sedari tadi, ia berhenti dengan napas terengah. Ia bahkan tak menyadari beberapa makhluk dunia lain yang mengikuti di belakangnya. Sanada bergumam merutuki diri sendiri "Sebenarnya apa yang aku…" lalu dia menutup wajahnya dengan kedua tangannya.

'Sanada! Kakek mau adakan pesta barbekyu nih, panggil semuanya kemari!'

'Sanada! Mulai sekarang mansion ini adalah rumahmu, dan kami keluargamu! Menyenangkan bukan?!'

'Sanada, bagaimana jurus kakek?! Hebat kan! Mau belajar?'

'Sanada…'

'Sanada…'

'Kakek sayang kamu, kami semua menyayangimu'

"Sanadacchi!" Sanada tersentak dari kenangan rusak yang menggerogoti hati miliknya, dan melihat Kise juga Kuroko berlari menyusulnya.

"Kise… Kuroko… kenapa kalian ada di sini? Yang lain dimana?" tanyanya setelah mereka berhenti di hadapannya.

"Kami berpencar-ssu!" jawab Kise di tengah napasnya yang memburu "Kenapa makhluk-makhluk ini…? Mereka mengikutimu terus-ssu! Bahkan membantu dan melindungimu-ssu!" katanya tergesa sesuai apa yang ia lihat. Saat Kise mencoba akan menyentuh salah satu makhluk tersebut, makhlut itu melompat mundur dan mendesis, mirip kucing liar yang terancam.

"Entahlah, mungkin mereka ingin membantu kita? Tidak semua makhluk dunia lain liar dan ganas" jawab Sanada tenang, tapi seperti jawaban yang asal ia katakan sambil mengelus salah satu makhluk itu.

"Sanada-kun?" panggil Kuroko, memperhatikan raut wajah Sanada dan sorot matanya.

"hm?" Sanada menoleh kearahnya.

"Kau baik-baik saja?" Tanya Kuroko khawatir

"… Aku baik-baik saja, hanya berpikir" jawab Sanada, tapi ia tak melihat lurus kearah mata mereka, melainkan ke arah lain. "Kalian mencari Hazama bukan? Dugaan terkuatku dia ada di Mansion kami"

Kise dan Kuroko mengangguk "Maukah kau mengantar kami kesana, Sanada-kun?" Tanya Kuroko. Sanada mengangguk "Ayo"

Di posisi Akashi, Midorima dan Murasakibara.

Begitu ketiganya memasuki kegelapan itu mereka langsung di hadang oleh makhluk setengah manusia, yang mereka asumsikan adalah anggota Ryuugazaki. Tapi, meskipun mereka anggota Ryuugazaki yang asli atau bukan, Akashi dan yang lainnya telah menetapkan hati untuk mengalahkan siapa saja yang menghadang mereka. Sama dengan pemikiran Nijimura, Mayuzumi dan Haizaki.

"Ayo, Atsushi" matanya berubah menjadi golden-red, kedua pedangnya bercahaya merah, seperti menciptakan ilusi optik bagi lawannya dengan gerakannya yang lihai seperti menari di medan pertempuran.

Dan Murasakibara, dengan kepalan kosong dan tendangannya saja sudah menghempaskan musuh beberapa meter kebelakang, semakin ia fokus dengan serangan dan pertahanannya, semakin bertambah kekuatan dan ketahanan tubuhnya. Ia tidak mengerti, ia hanya membiarkan tubuhnya bergerak sendiri dan mengikuti instingnya.

Di belakang, Midorima memanggil Senjata Legendanya dan melakukan support untuk Akashi dan Murasakibara, sekaligus merasakan posisi Gate Guardians yang lain, ia tau kalau Kise dan Kuroko sekarang sedang menuju kea rah yang pasti, berbeda dengan Kagami dan Aomine yang kesana-kemari tanpa arah. Lalu ia sadari saat ia menggunakan kekuatannya, area hitam di belakangnya perlahan mundur. 'tapi jika aku memfokuskan untuk memperlambat percepatan-nya, dengan area seluas ini, bisakah aku bertahan?' karena jujur saja ia takut mati. Belum lama ini ia hanyalah seorang remaja biasa dengan bakat basket tak terbendung. Ia juga tak tau sudah seberapa luas ruang hitam ini tersebar.

[Gate Guardians, kenapa kalian baru datang sekarang?]

[Kami sudah mati]

[kalian tak bisa menyelamatkan siapapun]

[kalian sudah terlambat]

[terlambat]

[dunia ini akan hancur]

[Banyak yang mati karenanya]

[penyimpangan telah terjadi sejak lama]

[Kalian terlambat]

"Orang mati tidak berhak untuk protes bahkan bicara, kematian kalian hanya bukti bahwa kalian tidak becus menjalankan kewajiban kalian, dan kalian kalah oleh kehidupan. Dasar pecundang" Kata Akashi mengakhiri kata-kata mereka yang ia duga di atur oleh Hazama untuk melemahkan mereka. Itu tidak akan terjadi.

Akashi tidak akan membiarkan rencana Hazama berjalan mulus.

Lalu semua 'mayat' Ryuugazaki itu ambruk dengan bagian tubuh yang hancur, atau terbelah. Kedua mata Akashi kembali berwarna merah. "Midorima, tunjukkan jalannya" segera mereka bertiga berlari dengan Midorima yang berada paling depan.

Aomine dan Kagami mengikuti Phoenix kecil yang muncul dari pedang Kagami untuk menuntun mereka pada Hazama dan para bonekanya.

Nijimura duduk di atas truk yang berhenti di tengah persimpangan, di sekitarnya adalah makhluk makhluk dunia sana yang tergeletak tidak sadar. Dia samar-samar mengingat Di gulungan yang dibawa Shiori kecil dulu, kalau tidak salah cara yang digunakan jika lapisan pelindung rusak adalah… Mengorbankan salah satu anggota keluarga Klan Rambut Putih. Itu adalah salah satu bentuk kepercayaan dan tradisi yang secara turun temurun di lakukan, dan memang paling efektif dari pada menutupi lubang satu persatu yang justru akan menimbulkan korban lebih banyak. Saat ritual, anggota yang jadi persembahan akan menyatu dengan lapisan pelindung, dan akan terus berputar menjadi saksi jalannya alam semesta.

'Kalau begitu, kakek Hazama tidak akan mengorbankan Sanada kalaupun bocah itu ada di tangannya. Jadi Kakek Hazama hanya membutuhkan Senjata Legenda dan waktu. Tapi, jika Sanada tau tentang hal ini… tch'

Nijimura berdiri dan melompat turun dari truk, segera ia berlari menuju sisi kota yang menghitam itu dan berteriak "Mayuzumi! Jaga Haizaki!"

Mayuzumi yang bersandar di gang dekat truk itu mendengus "Tak perlu kau bilang aku akan melakukannya" lalu di berjalan ke arah ujung gang lainnya "Bagaimanapun dia adalah adikku"

.

.

.

.

.

.

.

Sanada, Kise dan Kuroko terhenti oleh makhluk-makhuk setengah manusia yang Sanda kenali adalah anggota Ryuugazaki. Memperhatikan mereka, Sanada tak bisa berhenti untuk berpikir 'mereka tak berbeda dari boneka'.

Menelan ludah, dia menarik Katana miliknya, dan mengarahkannya pada anggota Ryuugazaki di depannya.

"Jangan memaksakan diri, Sanada-kun. Biar kami yang-"

"Tidak, Kuroko. Ini juga adalah tugasku sebagai anggota keluarga mereka." Sergah Sanada, merasa memiliki tanggung jawab besar dan ingin menyibukkan diri.

Kise maju melewati mereka "Yosh, kalau begitu sebaiknya kita tak usah sungkan dan segera menyelesaikan ini-ssu!" katanya penuh optimis.

Lalu sesaat sebelum menyerang juga Kuroko berkata pada Sanada "Kembalikan mereka dengan cara yang manusiawi, Sanada-kun" katanya sambil tersenyum tipis, dan mengayunkan tongkatnya untuk menyebarkan kutukan yang menyebabkan mereka kembali menjadi mayat yang membusuk sesuai berapa lama mereka telah mati.

Kata kata Kuroko mengiang di kepala Sanada saat ia sudah bersiap menebas tubuh tiga orang di depannya. Awalnya ia akan menebas mereka begitu saja, dengan perasaan mereka adalah musuh, mereka adalah mayat hidup yang di kendalikan, pengganggu yang harus cepat di bunuh.

Tapi di lihat kembali, mereka adalah orang-orang yang menerimanya. Di saat dunia begitu dingin padanya. Di kota sebelum ia di tampung, di mana malam lebih panjang dari siang dan musim dingin terasa datang lebih cepat dari musim yang lain, ia sendirian. Bertahan hidup untuk esok hari. Makhluk dunia lain di sampingnya tak membantu sama sekali, hewan liar dan orang lain hanya membebaninya. Mereka akan merebut, meminta dan mengganggunya. Selalu seperti itu dan akhirnya, suatu hari ia tumbang, dan mereka hanya diam melihatnya membeku di tumpukan salju.

Meskipun Hazama memungutnya untuk menjalankan rencana buruk seperti ini, Sanada bersyukur kakek itu menemukannya.

Dan hampir saja ia merasa simpati pada Makhluk-makhluk setengah manusia di depannya yang meneteskan air mata saat menyerangnya. "Aku akan membebaskan kalian segera" batin Sanada

"Beristirahatlah dengan tenang" satu per satu ia memotong leher mereka, lalu mendoakan jasad mereka yang perlahan membusuk hingga yang tertinggal hanya tulang mereka. Dan ketiga pemuda itu kembali berlari menuju Mansion Ryuugazaki.

"Tunggu Kise-kun! Sanada-kun!" teriak Kuroko, Kise dan Sanada menyahut kaget dan siaga bertarung selanjutnya "Ada apa?/-Kurokocchi?!"

Kuroko bersandar ke tiang listrik terdekat, terengah engah dan kepayahan "… Aku tidak kuat lari lagi" Kise dan Sanada speechless.

"… kugendong mau ya, Kurokocchi"

.

.

.

.

.

.

.

TBC


BOOM! Malah banyak pertanyaan yang muncul bukan? Siapa sebenarnya Mayuzumi? Bagaimana bisa Haizaki adalah adiknya? Apa rencana Hazama terhadap Sanada dan Shiori? Apa yang akan terjadi selanjutnya?

Tapi semua itu akan terjawab seiring berjalannya cerita ini menuju akhir #asekdah

Chapter kali ini rasanya cepat ya, wordsnya lebih dikit dari yang kemaren si

Sebenernya aku pingin matiin satu lagi Chara disini, enaknya siapa ya (khekhekhekhekhe)

Apa Sanada ku buat berkhianat aja ya? Huehuehuehuehue #ditendang

Dan aku masih bingung ama giliran kedua kepribadian Akashi ini, jadi mulai sekarang si bokushi ku keluarin pas saat-saat tertentu aja dah #mojok

Padahal di awal2 dia udah di deskripsiin Bokushi, maafkeun #meluklutut

Betewe Ogiwara dkk selamat di tempat berlindung sementara pemerintah, beberapa anggota klub basket bahkan ada yang jadi suka relawan untuk mencari warga yang mungkin terjebak atau tertinggal, wuih! SEMANGAT MASA MUDA YA/oi

Dan aku nggak ngeship KiKuro sama sekali asal kalian tau

Atau Aokaga

Atau AkaMidoMura (ndak harus trisom njir)

They're too mainstream for my liking

Sampai jumpa chapter depan dan…

SELAMAT TAHUN BARU MINNA XD