Zonk
"Aku bersedia."
Chanyeol tersenyum lebar.
Yang lebih pendek itu berlari ke arah Chanyeol dan memeluk lelaki tinggi itu.
Suara orang terkejut sudah tidak diragukan lagi terdengar di berbagai penjuru.
Yuan?
Dia sudah mencak - mencak di tempatnya.
Baekhyun yang baru melangkah sekali hanya bisa mematung.
Chanyeol tidak menyatakan cinta pada dirinya.
Melainkan pada perempuan di sampingnya.
Tzuyu, si murid sempurna yang tidak Baekhyun sangka – sangka.
Baekhyun tersenyum miris.
Ia berbalik, mencoba menahan air mata yang keluar.
Kalau hati Baekhyun adalah pulau dan perasaannya adalah laut,
Maka Chanyeol adalah nuklir yang meledak di dasar bawah laut itu.
Membuat laut berguncang –campur aduk tidak jelas dan menenggelamkan pulau hingga tidak terlihat dari peradaban.
Perasaanya benar – benar hancur sekarang.
Luhan berada di sampingnya dan memeluk erat Baekhyun kembali.
Membawanya ke dalam tenda milik Sehun dan dirinya.
Sedangkan Baekhyun masih diam seribu bahasa.
Mengabaikan tatapan heran yang diberikan semua orang.
Ia masih bingung dengan apa yang baru saja terjadi.
"Baek, malam ini kau menginap saja di tendaku. Biar Sehun bersama Chanyeol." Luhan mendudukan Baekhyun di kasur.
Baekhyun menatap Luhan dengan pandangan kosong.
"Huh?" Baekhyun dengan wajah bingungnya.
Luhan menghela napasnya, "Sudah, lebih baik kau istirahat. Aku akan pergi keluar untuk memberitahukan kalau kau sakit karena kedinginan."
Lalu Luhan keluar dari tenda dan meninggalkan Baekhyun sendirian.
Bersama beribu sesak di dadanya.
Dalam diri Baekhyun, ia mengumpat pada Chanyeol.
Bertanya pada Chanyeol tentang semua yang telah terjadi di lalu – lalu.
Tak berapa lama, Baekhyun tertawa kecil dan membuat air mata turun mengalir di pipinya.
Dia merebahkan dirinya di kasur.
Menutup wajahnya dengan bantal.
Mencoba meredam suara tangisannya.
Dari awal sudah Baekhyun bilang bukan?
Ia tidak terpikir sama sekali untuk berharap lebih pada Chanyeol.
Walau pun ia sering berbohong pada dirinya sendiri.
Sekarang, saatnya ia duduk dan diam.
Menanti waktu untuk memulihkan hatinya yang sudah tidak berbentuk lagi.
Dan membiarkan tangan baru menghapus air matanya kini.
Dirinya terbangun di tengah malam karena dingin yang mendera dirinya.
Selimut yang entah oleh siapa dikenakan ke Baekhyun sudah berada di bawah kasur.
Kepala Baekhyun agak pening.
Dia ketiduran.
Dan karena saking dinginnya, ia merasa ingin buang air kecil.
Ketika baru saja tangannya bergerak untuk menarik resleting tenda, Baekhyun mendengar suara Luhan yang meninggi.
"Kau ini bodoh atau apa?! Apa kau tak mengerti perasaan Baekhyun?!"
Penasaran, Baekhyun menurunkan sedikit resleting tenda dan mengintip.
Di sana, ia bisa melihat Luhan yang berkacak pinggang dan Chanyeol yang bersedekap.
"Maksudmu?"
Luhan mendengus, "BAEKHYUN ITU SUKA PADAMU BAJINGAN!"
"A-apa?"
"Kau memulainya dari sarung tangan cokelat, beribu perhatian kau berikan, bersikap manis padanya di depan semua orang, dan bahkan kau mencium Baekhyun dua kali! Sialan!" Luhan berbicara hingga dadanya naik turun.
Chanyeol melotot, "Tidak! Itu salah sangka!"
"Salah sangka katamu?!"
"Iya! Baekhyun… sudah kuanggap adik sendiri! Aku sering canggung dengannya karena ia terlihat tidak nyaman. Tapi aku selalu merasa gemas seperti pada adikku sendiri." Chanyeol mengambil nafasnya,
"Lagipula aku memperlihatkan sikap manis dan romantis pada Baekhyun di depan umum karena ingin memperlihatkannya ke Tzuyu. Bagaimana reaksi Tzuyu melihatku bersikap manis, apakah ia suka atau tidak. Dan itu bisa menjadi referensiku ketika berkencan dengan Tzuyu."
Wow.
Terimakasih atas penjelasannya Park sialan Chanyeol.
Baekhyun merasa hatinya yang sudah pecah berkeping – keping kembali diinjak hingga remuk dan menjadi debu.
Luhan menampar Chanyeol. "Adik macam apa yang kau cium Park! Apa ketika membuat lagu ada Tzuyu di sana?!"
Pertanyaan Luhan juga merupakan pertanyaan yang ada di benak Baekhyun.
Ketika ia selesai membuat lagu itu, hanya ada mereka berdua di kamar Chanyeol.
"Baekhyun bilang ia butuh inspirasi. Dan kupikir kalau ia butuh sebuah kecupan untuk membantunya mencari inspirasi tentang cinta dan– TUNGGU! KAU TAHU DARI MANA?!"
Luhan hanya memutar bola matanya malas.
Chanyeol menghela napas.
"Untuk masalah ciuman di rumahku, aku mengetes apakah Baekhyun akan marah atau tidak setelah berciuman denganku. Bahkan tadi ketika Tzuyu lewat di pos ketiga, aku sontak mencium lebih lama dan Baekhyun hanya malu - malu lalu bersikap biasa lagi."
Luhan tampak semakin geram.
Baekhyun semakin merana.
"Baekhyun tidak menunjukan masalah apapun ketikaku menciumnya. Dan kupikir ia cocok untuk bahan memanas – manasi Tzuyu. Dan saat lagu itu dibuat, aku sudah menawarkan Baekhyun untuk menyanyikan lagu ini pada Tzuyu."
"Lagunya sangat bagus Baek. Jadi, apakah kau mau –"
Baekhyun ingat itu.
Dia memotong ucapan Chanyeol karena kepalang malu dan segera berlari pulang.
Penyesalan datang bertubi – tubi dalam benaknya.
"Dan untuk ciuman yang berlebihan, aku minta maaf. Aku terbawa suasana."
Luhan yang sudah tidak tahan hampir saja menerjang Chanyeol apabila tidak ditahan Sehun.
Sehun memeluk erat Luhan, menahan kuat tubuh kecil yang memberontak itu.
"Chan, kupikir kau lebih cocok dengan Baekhyun." Sehun berusaha menghalangi Luhan, "Ah–tapi selamat ya dengan kekasih barumu!"
Lalu Sehun membawa Luhan pergi dari situ.
Baekhyun yang melihat kejadian tadi merasa kakinya menjadi sangat lemah.
Tidak kuat untuk menopang seluruh berat badannya, ia jatuh terduduk.
Rasa yang ada di hati Baekhyun untuk Chanyeol hanyalah sia – sia.
Baekhyun merebahkan dirinya di lantai pelan.
Membiarkan dingin merasuki tulangnya.
Berharap malam ini cepat selesai.
Dan berharap ia bisa terbangun dari mimpi buruk ini.
Setelah sarapan, seluruhnya kembali bersiap pulang.
Berterimakasih pada Luhan, seluruh barangnya sudah dibereskan Luhan dari tendanya.
Baekhyun sendiri sudah janjian dengan Jongin untuk duduk bersama di bus.
Namun ketika bus mulai bergerak, Park Chanyeol lah yang berada di sampingnya.
Hampir selama beberapa saat mereka berdiam diri.
Hingga Baekhyun berusaha memecahkan kecanggungan yang ada di sekitar mereka.
"A-ada apa?" Baekhyun bertanya ke Chanyeol namun pandangannya mengarah ke depan.
"Apa kau baik?" tanya Chanyeol balik dan sama seperti Baekhyun, pandangannya fokus ke depan.
Baekhyun mendengus pelan, "Syukur aku baik." Ia menatap ke arah langit, mencoba menahan air mata, "Kenapa tidak duduk dengan Tzuyu?" suaranya parau.
"Jongin dan Tzuyu memberikanku kesempatan untuk menyelesaikan masalah kita."
"Masalah apa?" Baekhyun pura – pura bodoh.
Atau memang ia benar – benar bodoh karena bisa – bisanya ia jatuh ke tangan Chanyeol.
"Aku ingin minta maaf," Chanyeol berdeham, "Aku tidak bermaksud memberimu harapan. Aku menganggapmu sebagai adikku. Sedari kecil, diriku menginginkan seorang adik yang seluruh sifatnya ada dalam dirimu."
Tidak ada jawaban dari Baekhyun.
Baekhyun hanya tersenyum kecil.
Lalu Ia mengambil earphone dan memasangkannya ke telinga. Kemudian mengenakan kudung jaketnya, bersender pada jendela.
"Aku ingin tidur." suara Baekhyun kacau.
Ketika ia menutup matanya, terasa lagi – lagi air mata yang sedari tadi ditahan mengalir di kedua pipinya.
Sedikit mengintip, Baekhyun melihat Chanyeol hendak menghapus air matanya namun Jongin datang dan menyuruh Chanyeol pindah.
Bahkan ketika ia sudah disakiti berkali – kali, Baekhyun masih merasakan rasa berdesir di hatinya karena perbuatan kecil Chanyeol.
Akhirnya Jongin duduk di sebelah Baekhyun.
Baekhyun meringkuk di kursinya.
Meletakan jaket miliknya untuk menutupi seluruh badan –mulai dari wajah hingga Baekhyun yang meringkuk di kursi.
"Tidurlah."
Bukannya tidur, Baekhyun semakin terisak.
Ia tidak bisa menahan rasa perih di hatinya lagi.
Seluruh sakit dari dalam dadanya ia keluarkan.
Suasana bus yang tadinya ramai dengan anak – anak menjadi sepi karena suara isakan itu.
Berasal dari satu sumber, seluruhnya menatap ke arah kursi Baekhyun-Jongin.
Amber yang sedang bermain gitar tadi berteriak, "Baek! Jangan sedih! Akan kucarikan yang lain!"
Lalu mulai muncul berbagai teriakan lainnya.
"Duh! Pasangan kerudung kuning dan serigala tidak bisa di ship lagi ya!"
"Baekhyun jangan menangis! Ada kami di sini!"
Jongin terlihat kelabakan.
"Baekhyun tidak menangis gara – gara Chanyeol kok! Dia menangis karena sedang menonton drama! Bahkan aku juga hampir menangis karena adegan drama ini!"
Luhan menyela, "Iya! Aku yang merekomendasikan dramanya, kok!"
Suasana hening.
Tidak lagi terdengar suara isak tangisan yang pilu.
Begitu juga suara ramai.
Benar – benar hening.
Hingga Amber kembali memecahkan keheningan itu, "AYO KITA MULAI LAGI COVER LAGUNYAA!"
Kembali, suasana menjadi ramai.
"Yak Jongin sialan!" Luhan datang ke tempat duduk Jongin- Baekhyun dan langsung memukul kepala belakang lelaki berkulit tan. Di saat yang bersamaan, Jonghyun bersusah payah mencapai tempat duduk Jongin dan Baekhyun karena goncangan bus.
"Kenapa?"
"Kau ini perlu belajar lagi sepertinya untuk mencari alasan yang lebih bagus." Luhan mendengus.
Jongin mengernyit dan dijawab oleh Jonghyun, "Seluruh anak di sini juga tahu kalau seluruh gadget kita ditahan oleh Jongdae tanpa pengecualian. Jadi Baekhyun mau menonton drama dari mana?"
Mendengar itu, Jongin menyeringis. "Yang penting aku sudah berusaha."
Jonghyun mengangguk dan menepuk pelan pundak Baekhyun.
Luhan menghela napasnya, "Jangan menangis Baek. Kami tidak tega mendengarnya."
Lalu Jonghyun mengajak Jongin ikut maju ke depan, turut dalam meramaikan bus.
Dan Luhan kembali ke tempat duduknya setelah mendapat tolakan bahu dari Baekhyun.
Byun Baekhyun ingin sendirian kali ini.
Jongin awalnya ragu untuk meninggalkan Baekhyun, tapi akhirnya ia pergi juga ke depan bus untuk ikut bernyanyi – nyanyi ketika melihat Baekhyun yang sudah tenang dan sepertinya tertidur.
Setelah berbicara singkat dengan Baekhyun, Chanyeol merasa sangat bersalah.
Dari kecil, ia ingin sekali punya adik. Namun tidak bisa karena Ibunya sudah tidak bisa mengandung lagi.
Seluruh sifat dan rupa adik yang selama ini ada dalam bayangan Chanyeol sangat cocok dengan Baekhyun.
Pertama kali mereka kenalan, Chanyeol sempat merasa perasaan aneh di hatinya.
Tapi karena ia ragu akan perasaan itu, ia mencoba mencari berbagai sumber di internet untuk mengecek kepastian rasa di hatinya.
Menyerah karena ia semakin bingung, Chanyeol iseng bertanya pada Lee Kyung, siswi baru yang bisa membaca kartu tarot dan hal mistis lainnya.
Dan jawabannya pun membuat Chanyeol ragu.
Ia jatuh hati pada Baekhyun.
Awalnya ia percaya dan ingin mengungkapkannya.
Hingga ada satu pikiran yang menganggu.
Apa benar ia memang jatuh cinta pada Baekhyun karena memang seorang Byun Baekhyun atau bayangan adik yang diidam – idamkan ada di dalam diri Baekhyun?
Setelah berkutat beberapa hari, Chanyeol memilih untuk membiarkan dirinya menganggap Baekhyun adalah adik kecilnya.
Meski ia sedikit menangkap adanya rasa dari Baekhyun, ia kembali menepis hal itu karena melihat Baekhyun sendiri yang melakukan semua hal yang dilakukan pada dirinya dilakukan juga pada Jongin.
Dan sekarang di sampingnya ada Tzuyu yang tertidur.
Entah bagaimana melihat kepolosan Tzuyu membuat ia ingat akan Baekhyun. Chanyeol terpicu untuk menjadikan Tzuyu kekasih karena surat dan cokelat yang diberikan perempuan itu menyentuh hati Chanyeol.
Tzuyu ingin memiliki pacar pertama yang ia inginkan dalam hidupnya sebelum pasangannya dipilihkan oleh orang tuanya.
Chanyeol pun mengerti bagaimana rasanya itu ketika melihat kakaknya yang dijodohkan ke sana ke mari oleh ibunya.
Maklum, anak wanita adalah harta berharga bagi perusahaan.
Sedangkan anak lelaki digunakan untuk mengabdi di perusahaan.
Hingga akhirnya Tzuyu telah menempati posisi sebagai kekasihnya.
Chanyeol membuang napasnya kasar dan melihat ke arah tempat duduk Baekhyun untuk mendapati jaket yang menutupi wajah Baekhyun turun hingga hanya menutupi badannya saja.
Dengan matanya sendiri, Chanyeol bisa melihat bekas lelehan air mata dan keringat di wajah Baekhyun.
Perlahan, ia berjalan ke tempat duduk Baekhyun –tanpa adanya Jongin dan Luhan yang pasti.
Mengangkat tangannya untuk mengambil jaket dan membenarkannya malah membuat Chanyeol melihat telapak tangan kiri Baekhyun yang membiru dan keluar sedikit darah di bagian dekat ibu jari.
Beserta seperti bekas gigitan.
Chanyeol terhenyak.
Baekhyun menahan isakannya dengan menggigit telapak tangannya.
Ia menghela napasnya kasar dan memilih untuk mengusap wajah Baekhyun dengan sapu tangannya.
Baru saja ia ingin mengelap keringat Baekhyun, suara Jongin berdeham keras terdengar.
Bukan dehaman ejekan seperti biasanya, yang Chanyeol dapatkan ialah dehaman marah.
Chanyeol mundur dan kembali duduk di tempat duduknya.
Lalu menyadari kalau Tzuyu telah bangun dari tidurnya dan melihat kejadian tadi.
Line
Chanyeol blocked.
.
Kakao Talk
Park Chanyeol blocked.
.
Channie3
+1036141627 blocked.
.
LoeyPark
User blocked.
Baekhyun menuruni tangga bus terakhirnya dan menghela napasnya kasar.
Bahkan setelah beberapa lama, ia masih saja merasakan sakit.
Segera ia menggelengkan kepalanya, mencoba melupakan semuanya dan berjalan dengan dua tasnya yang cukup berat.
Memang hanya semalam, tapi karena Baekhyun membawa peralatan masak dan lainnya, terpaksa ia membawa tas lebih.
Yang perlu dipertanyakan adalah Luhan.
Ia tidak membawa peralatan masak apapun tetapi membawa tiga tas.
Baekhyun pikir Luhan membawa semua baju yang ada di lemarinya.
"Sini biar kubantu."
Suara lelaki berat terdengar.
Siapa lagi.
Park Chanyeol.
Baekhyun memutar bola matanya, mencoba menahan segala perasaan yang ada di hatinya.
"Chanyeol-ssi, boleh bicara sebentar?"
Chanyeol terkejut dengan panggilan Baekhyun namun masih mengangguk.
"Ya?"
"Apa Luhan sudah berbicara tentang surat cinta di hari valentine dulu?"
"Surat cinta? Belum… Ah! Atau kau–"
"Surat cinta yang kau dapat semester satu dulu tolong kau simpan baik – baik sebagai kenangan dariku. Aku ijin pamit pergi untuk melanjutkan sekolahku di luar negeri," Baekhyun menarik napasnya pelan,
"Aku tau Canada bukanlah tempat yang sulit untuk kau pergi ke sana dengan uangmu, tapi aku berharap kita tidak perlu bertemu lagi di kemudian hari dengan sengaja."
Chanyeol dengan rambut hitam legamnya yang mengalun lembut mengikuti angin itu berdiri mematung di tempatnya.
Keadaan hening beberapa saat.
Baekhyun berdeham lalu mencoba tersenyum.
Walau ia tahu, senyumnya sangat terlihat dipaksakan.
"Terimakasih atas segalanya, aku mencintaimu. Selamat tinggal."
Alphabetical : Baekhyun
26 chapters
Written by Kimji
Has already come to the end. Thank you for all your support and every second that you spent to read this story.
Do you know how many alphabets are actually in alphabetical order?
ㅤㅤㅤㅤㅤㅤㅤㅤㅤㅤㅤㅤㅤㅤㅤㅤㅤㅤㅤㅤㅤㅤㅤㅤ
ㅤㅤㅤㅤㅤㅤㅤㅤㅤㅤㅤㅤㅤㅤㅤㅤㅤㅤㅤㅤㅤㅤㅤㅤㅤㅤㅤㅤㅤㅤㅤㅤㅤㅤㅤㅤㅤㅤㅤㅤㅤㅤㅤㅤㅤㅤㅤㅤㅤㅤㅤㅤㅤㅤㅤㅤㅤㅤㅤㅤㅤㅤㅤㅤㅤㅤㅤㅤㅤㅤㅤㅤㅤㅤTwenty six sir.
Wrong, read Adam Bede to find out.
