London Gossip
Rated : M
By : CountessCaroline
Disclamair : Harpot series sudah pasti milik J.K Rowling. Gossip Girl series milik CW TV sedangkan novelnya sendiri oleh Cecily von ziegesar.
A/N : Apa kabar semuanya? CC dan S disini. Senang dapat kembali. Ini adalah chapter 26 dan itu artinya tamat. Aku sebenarnya sedih. Oh sangat sedih. Tapi ini sudah setahun lebih semenjak LG publish, jadi harus ditamatin. Aku harap sih endingnya tidak terlalu mengecewakan dan bagi yang kurang puas aku masih sediakan epilog di ch 27 nanti. Baca ya...
Bagi yang udah bersedia membaca LG ini aku dan S ucapkan terimakasih banyak. Rasanya terharu ada yang baca LG ini. Aku awalnya sangat tidak percaya diri untuk menulis sebuah fanfic. Biasanya fanfic-fanfic ku hanya tersimpan di laptopku dan yang pasti bisa baca cuman S doang.
Aaaaaaa semakin terharu kalau ingat itu. Makasih semuanya yang mau baca. Bahkan ada yang jadi pembaca setia, ngefollow, dan ngefav. Jujur setiap review yang kalian tulis sangat membantuku. GOMAWO...
Akhir kata aku dan S cuman mau bilang selamat membaca guys! Kalian tau bahwa aku dan S sayang kalian...
Tambahan : (tentang chapter kali ini)
Pertama, bersiap-siaplah membaca lebih banyak. Karena menurutku ch 26 ini lumayan panjang.
Kedua, untuk ch ini aku masukin beberapa lagu yg kusuka dengerin selama buat ch 26 ini. Mulai dari Melody day- I'll wait, Baek A yeon-morning of canon, Madonna-bitch I'm Madonna, trus Sistar-shake it, dan terakhir Glee-saving all my love for you. Sekedar info sih dari beberapa lagu itu, aku sengaja masukin liriknya. Jadi aku minta maaf kalau membuat kalian jadi susah untuk masuk kedalam alurnya. Emmm...tapi enggak ada salahnya kalau kalian coba dengerin lagunya. Menurutku enak didengerin kok.
Terakhir, ada scene sedikit ehem-ehem haseum. Well bukan karena aku enggak menghargai ini bulan puasa. Tapi aku dan S udah rencanain alurnya sejak jauh2 hari, jadi nanti susah lagi kalau alurnya diubah. Maaf untuk itu ya! Skip aja kalau enggak suka hahahah...
Chapter 26
Don't be such and please come to me!
"Jadi selama ini kau sudah menyukaiku?" Hermione bertanya dengan rasa terkejut yang meledak hampir keseluruh tubuhnya. Draco baru saja menceritakan awal pertemuan mereka. Itu sontak membuat Hermione terdiam terpaku memandang Draco.
Draco terkekeh melihat reaksi Hermione. Sarapan Hermione sepenuhnya telah abis tanpa sisa sedikitpun dan kini mereka tengah berbaring diranjang dengan saling menatap. Draco masih terkekeh. Hermione mengernyit melihat tingkah Draco tersebut. "Kau bercanda ya?"
"Demi merlin Love! Apa aku terlihat bercanda?"
"Tentu saja. Kau terkekeh begitu"
"Salahkan raut terkejutmu itu. Kau sangat lucu sekali dengan raut seperti itu" Draco menyeringai sepenuhnya mencoba mengoda Hermione.
"Dasar menyebalkan" Dengus Hermione kesal. Anehnya dia malah tersenyum dan menyandar sepenuhnya terhadap Draco.
Draco membelai rambutnya. Sesekali ia memberikan kecupan sayang pada puncak kepala Hermione. "Aku tidak bercanda. Aku sangat serius. Tiap hari aku kepantai itu dan menunggumu. Aku sangat berharap dapat kembali bertemu denganmu. Aku bahkan berlatih mengucapkan kata-kata maaf untukmu. Itu bukanlah hal yang akan seorang Draco malfoy lakukan, kau tau itukan?" Kedua mata abu-abu itu menatap Hermione.
Hermione menatap balik. "Kenapa kau tidak katakan itu sejak pertama kali kita akhirnya bertemu kembali?"
"Aku terlajur marah padamu" Ucap Draco dengan ekspresi kesal yang dibuat-buat.
Hermione mengernyit tidak mengerti. Ia merubah posisinya dengan tidak lagi berbaring pada Draco. Kini ia duduk dan menatap prianya tersebut dengan cemberut. "Kenapa kau marah padaku?"
"Tentu saja aku marah. Siapapun akan marah. Aku selama ini menunggumu, bahkan aku pindah kemari untuk mencarimu dan yang kudapatkan kau malah tidak ingat sedikitpun padaku, belum lagi kau berpacaran dengan Diggory. Untuk yang terakhir itu aku sangat marah. Sangat-sangat marah"
"Ya!" Sahut Hermione memekik kesal mendengar ucapan Draco. Ia semakin cemberut."Tentu saja aku tidak ingat padamu. Memang kau pikir aku akan mengingat orang yang membentakku dan membuatku menangis disaat pertama kali bertemu" Lanjut Hermione begitu cepat dan tanpa henti dalam satu tarikan napasnya. Ia memandang Draco tajam, sedangkan Draco justru memandangnya dengan tatapan yang lebih terlihat terkejut, sebelum akhirnya pria berambut pirang platina tersebut malah tertawa.
Hermione semakin tidak mengerti. "Malfoy saat ini aku sedang marah dan kau malah tertawa?"
Draco menghentikan tawanya dan menggantinya dengan senyuman yang begitu manis. Hermione sudah pasti luluh. Pria itu kemudian menyeringai. Ia merengkuh wajah Hermione, membawanya untuk menciumnya. Itu sebenarnya kecupan yang terlalu singkat. "Kau semakin lucu saat marah Granger" Ucapnya ketika telah menarik diri.
Wajah Hermione memerah, melebihi tomat yang sudah matang. Ia langsung bangkit dan duduk dengan tegak tanpa berani memandang Draco. Draco menyeringai melihat itu. Ia pun ikut bangkit duduk. Pandangannya tetap terfokus terhadap Hermione yang memandang lurus kedepan, menghindari tatapannya. "Granger" Draco memanggil sambil menyentuh salah satu tangan Hermione. Ia genggam tangan itu begitu erat namun terasa lembut.
"Kau tau Malfoy" Hermione memandangnya dengan malu-malu. Ia menggigit bibirnya dan wajahnya semakin terlihat merona. "Kita mungkin saja sudah berpacaran sejak dulu jika kau berani mengatakan kalau kau menyukaiku" Lagi-lagi Hermione mengalihkan tatapannya dengan malu setelah ia berbicara seperti itu.
Draco tertawa. Ia begitu terlihat bahagia. Namun Hermione malah cemberut mendengar tawanya. Ia menoleh dengan cepat. "Kenapa kau tertawa lagi? Aku serius Malfoy! Aku sama sekali tidak bercanda"
"Aku tau kau serius. Aku sangat mengenalmu Granger." Draco menghentikan tawanya. "Aku bisa saja memberanikan diriku mengatakan bahwa aku mencintaimu, tapi masalahnya dulu kau pasti mengira aku sedang berusaha menjahilimu lagi. Kau tidak akan percaya dan justru akan memakiku. Kau sangat membenciku saat itu."
Yeah itu benar. Hermione harus akui. Hubungan mereka dulu sangat buruk. Tiap mereka bertemu hanya ada pertengkaran. Jadi pasti akan terdengar gila jika tiba-tiba Draco mengatakan mencintainya. Itu sangat terdengar gila. Setidaknya untuk saat itu. Faktanya sekarang Hermionelah yang akan gila bila Draco tidak mengatakan mencintainya. Ia sangat mencintai pria itu dan sama sekali tidak mau cintanya harus bertepuk sebelah tangan. Untunglah itu tidak terjadi. Keduanya sama-sama tau mereka saling mencintai.
Hermione merengkuh wajah Draco dan menarik pria itu mendekat padanya. Ia mencium kening Draco, pria itu memejamkan matanya. Hermione tersenyum sambil kemudian melanjutkan mencium kedua mata Draco, lalu turun ke pipinya, puncak hidungnya, hingga berakhir pada bibirnya. Untuk bagian itu ia mengecupnya cukup lama. "Kenyataanya sekarang aku sepenuhnya mencintaimu Draco malfoy"
Keduanya tersenyum dengan tatapan bahagia yang tidak dapat disembunyikan. "So maukah kau melupakan masa lalu dan hanya memikirkan masa depan kau bersamaku? Masa depan kita berdua?"
Draco terkekeh. "Apa kau baru saja melamarku Miss Granger?" Ia menyeringai jahil.
"Tidak!" Jawab Hermione tegas. Ia juga mengubah ekspresinya segalak mungkin. "Aku tidak akan pernah melamarmu Malfoy. Kaulah yang harus melamarku! Itu tidak dapat diganggu gugat. Titik"
Draco kembali terkekeh. "Jadi perkataanmu barusan artinya apa?"
"Well aku hanya mau kau tau..." Hermione terdiam sejenak untuk mengelus tulang hidung Draco. Ia sengaja menatap menggoda. "Emmm aku akan mengatakan iya jika kau melamarku"
"Itu wowww!" Draco tertawa. "Aku pasti pria paling beruntung didunia ini"
"Pastinya" Hermione terkekeh senang sambil mencium kembali Draco. Kali ini bukan sekedar kecupan biasa yang hanya mempertemukan bibir mereka. Draco dengan penuh gairah menggoda Hermione untuk membuka mulutnya. Mulut manis itu terbuka, Draco sepenuhnya memasukkan lidahnya dan menghisap dalam-dalam dengan sesekali melumat bibir Hermione. Penuh suka cita Hermione membalas setiap lumatan itu.
"Aku mencintaimu"
Ucapan itu pasti sudah terlalu sering kita dengar keluar dari mulut Hermione maupun Draco. Kita pasti tidak akan pernah meragukan betapa mereka berdua saling mencintai untuk satu sama lain. Termasuk Seseorang yang diam-diam telah menguping sejak tadi pembicaraan kedua orang yang saling mencintai itu. Mrs Granger harus akui ia enggak pernah melihat Hermione bisa seperti itu. Putrinya tampak bahagia. Sangat bahagia, seolah ia sama sekali tidak mengenal apa itu penderitaan. Pasti akan susah untuk memisahkan mereka, pikirnya dengan menghela napas. Ia belum bisa menerima Draco. Walau sebenarnya ia tidak ragu lagi akan perasaan Draco pada putrinya. Mrs Granger kembali menghela napasnya. William benar. Hermione sudah cukup dewasa untuk menentukan pilihannya. Mrs Granger akan mencoba membuat kompromi dengan pilihan putrinya itu. Tapi bukan berarti ia akan berhenti untuk mengarahkan kepilihan yang tepat bukan? Lagipula putrinya sudah sangat terlihat jatuh cinta. Ia seakan mabuk dengan cinta. Oh itu tidak benar, pikir Mrs Granger. Ia tau putrinya. Hermione adalah orang yang sangat terorganisir. Ia selalu melakukan segalanya dengan berhati-hati dan sempurna. Ia juga sangat percaya diri dan mempunyai ambisi. Hermione bahkan telah membuat semua rencana masa depannya sejak ia masih TK. Mrs Granger yakin tidak ada sama sekali tertera menikah muda di list putrinya tersebut. Namun yang terjadi sekarang adalah hal sebaliknya. Hermione bahkan menghancurkan wawancaranya dengan Yale? Oh itu masih membuat Mrs Granger merasa ingin mati saat itu juga jika mengingat hal memalukan yang telah Hermione lakukan. Seakan itu semua belum cukup kini Hermione meminta ingin segera dilamar? What the hell...
Draco jelas-jelas telah merubah Hermione. Ini tidak bisa dibiarkan. Sebagai seorang ibu, Mrs Granger sangat menginginkan Hermione memiliki masa depan yang bagus. Menikah muda bukan salah satunya. Putrinya boleh mencintai bocah Malfoy itu, tapi Mrs Granger tidak akan membiarkan Hermione sampai harus menjual masa depannya dengan cinta. Masih banyak yang harus Hermione lakukan. Salah satunya adalah kuliah. Mrs Granger akan pastikan Yale tidak akan pernah menolak Hermione.
000
Senyum senang masih terhias diwajah Draco ketika ia kembali kekamarnya. Dokter Carles bersikeras bahwa ia juga harus beristirahat. Draco membuka pintu kamarnya. Mrs Granger yang sejak tadi berada di kamar itu lantas bangkit berdiri dari tempat duduk yang ia duduki. "Aku tidak bermaksud membuatmu terkejut" Ucap Mrs Granger tanpa kemarahan namun tidak juga dengan keramahan.
"Aku tidak terkejut, hanya saja..."
"Aku sebenarnya tidak berniat berlama-lama berbicara denganmu, jadi bisa kau masuk" Potong Mrs Granger membuat Draco masuk dan menutup pintunya. Mereka saling berdiri dengan jarak yang bisa dibilang cukup jauh untuk saling mengobrol.
"Ada baiknya kau duduk." Lanjut Mrs Granger dengan kening berkerut seolah itu sangat menganggunya.
Draco menurut tanpa banyak berkomentar. Ia duduk diranjangnya dan Mrs Granger hanya berdiri seolah tidak sudi untuk duduk kembali dikursi dimana ia duduk. "Terus terang aku masih tidak menyukaimu." Kata Mrs Granger membuka pembicaraan diantaranya dengan Draco. "Tapi sepertinya mantan suamiku sangat menyukaimu, dan putriku tergila-gila padamu."
"Saya akan membuktikan kalau saya pantas untuk bersama Hermione." Ucap Draco mencoba membela dirinya dan meyakinkan Mrs Granger.
"Kau tau, mantan suamiku ada benarnya. Putriku sudah cukup dewasa. Aku tidak berhak lagi untuk mengatur hidupnya."
Draco menatap terkejut mendengar ucapan Mrs Granger tersebut. "Anda..."
"Ini bukan seperti yang kau pikirkan" Lagi-lagi Mrs Granger memotong ucapan Draco. Sepertinya itu sudah bagaikan kebiasaanya. "Aku akan bertoleransi dengan keputusan putriku untuk memilihmu, tetapi itu bukan berarti aku setuju jika putriku menjadi buta akan cinta"
"Iya?" Draco dibuat tidak mengerti.
"Aku sangat mengenal putriku, sepertinya kau pun sangat mengenalnya juga kan?"
Draco mengangguk.
"Berarti kau tau bahwa ia memiliki segudang impian yang begitu ia inginkan, iyakan?"
Tentu saja Draco tau. Draco kembali mengangguk.
"Sialnya hubungan kalian ini membuatnya melupakan semua impiannya itu." Mrs Granger terdiam sejenak dan menghela napasnya mencoba untuk tidak berteriak penuh amarah dan hilang kendali. Ia harus sabar. Wanita terhormat tidak akan berteriak hilang kendali kan?
"Belum apa-apa ia begitu ingin dilamar olehmu. Aku mendengar obrolan kalian tadi pagi. Itu jujur sangat mengangguku. Aku yakin betul putriku layak mengejar impiannya dan menjadi wanita karir yang sukses. Ia sangat berbakat. Hidupnya akan sayang sekali bila harus menikah muda dan hanya menjadi sekedar ibu rumah tangga. Aku memang tidak perlu khawatir ia akan sengsara, mengingat kau adalah pewaris satu-satunya Malfoy corp. Lagipula siapa didunia ini yang tidak mengenal kerajaan bisnis mu itu? Hanya saja sekali lagi kutekankan, Hermioneku layak untuk menjadi sukses dan bersinar. Apa sekarang aku mengerti maksudku?"
"Tentu saja Mrs Granger. Tapi percayalah. Aku pun memikirkan hal yang sama. Hermione sangat berbakat dan kami terlalu muda untuk menikah. Aku memang mencintainya namun aku tidak akan seegois itu untuk merebut impiannya"
Mrs Granger mendengus. "Kau sepertinya sama sekali tidak mengerti apa maksudku. Ini bukan hal yang akan selesai dengan kau berkata begitu. Ini benar-benar berbeda. Kau membuatnya tidak fokus. Dia bahkan menghancurkan wawancaranya dengan Yale karenamu. Apa kau tau itu?"
"Apa maksudnya itu? Ada apa dengan wawancaranya?"
Mrs Granger untuk kesekian kalinya mendengus. Kali ini ia bahkan memutar bola matanya. "Biar kutebak kau sama sekali tidak tau soal itu"
"Mrs Granger?" Draco menuntut penjelasan.
"Putriku mengacaukan wawancaranya karena ia justru berkicau mencurhatkan semua perasaanya tentangmu kepada pewawancaranya. Itu jelas merupakan tamparan yang memalukan untukku"
Draco terdiam. Itu juga merupakan tamparan untuknya. Ia tau betul Yale adalah salah satu impian Hermione. Draco sudah pasti merasa bersalah.
"Apa sekarang kau masih mengira putriku dapat tetap fokus pada impiannya?"
Draco terdiam. Namun kali ini ia menatap Mrs Granger.
"Aku tidak memaksamu untuk mengakhiri hubunganmu dengan putriku." Untuk pertama kalinya Mrs Granger menatap Draco dengan lembut. "Aku yakin kau juga peduli pada putriku. Jadi bisakah kau setidaknya memberikan waktu padanya untuk berpikir? Hermione sangat perlu memokuskan pikirannya kembali. Lagipula jika ia keterima di Yale, kalian pasti akan menjalin hubungan jarak jauh, dan kau sendiri juga pasti akan sibuk untuk mengurusi perusahaanmu, well bagaimana pun kita sama-sama tau Lucius berada dipenjara sekarang ini. Aku tidak mau dia sampai merelakan yale hanya karena tidak ingin jauh darimu. Dengan kau memberikannya waktu untuk terbiasa tanpa kehadiranmu, well besar kemungkinan ia akan kembali fokus dengan impiannya dan lebih baiknya lagi mungkin saja akhirnya putriku menyadari ia tidak sungguh-sungguh mencintaimu. Bagaimana menurutmu?"
Draco memejamkan matanya. Ia terlihat tersiksa. Ia ingin selalu bersama Hermione, disisi lain Draco akui semua ucapan Mrs Granger itu benar.
Apa yang harus kulakukan?
"Pikirkanlah baik-baik. Buktikan padaku kalau kau benar-benar peduli pada putriku! Jangan ambil keputusan yang salah" Ujar Mrs Granger sukses membuat Draco semakin bingung. "Aku percaya kau sudah cukup dewasa untuk memilih pilihan yang benar." Mrs Granger pun berbalik pergi. Pintu langsung tertutup dan hanya tinggal Draco seorang dengan segala macam pemikiran yang terus berputar-putar diotaknya tanpa henti.
000
Sebulan berlalu.
Butuh waktu sebulan bagi Hermione untuk benar-benar pulih sepenuhnya dan dapat beraktivitas kembali. Walau tidak untuk bekas lukanya. Ia masih menggunakan secara teratur salep yang diresepkan Dokter Carles untuk menghilangkan bekas jahitan pada perutnya. Hermione juga sebenarnya bisa menggunakan salep itu untuk menghilangkan kata mudblood pada tangannya, tapi sayang sekali ia tidak berniat menggunakannya. Walaupun Dokter Carles menyarankan. Memang luka yang berbekas pada tangannya itu sama sekali tidak mengurangi kecantikan yang ia miliki. Ia tetaplah Hermione granger yang cantik. Semua orang tau itu.
Hermione benar-benar bermaksud menjadikan luka itu sebagai tanda bahwa betapa sulitnya rintangan yang ia harus lalui untuk bisa bersama Draco. Jadi ia tentu akan berpikir ulang jika ingin mengakhiri hubungannya dengan Draco. Ia sangat mencintai pria itu dan tidak akan pernah berpikir untuk berhenti mencintainya. Luka itu sebagai bukti kuatnya.
Hubungannya dengan Draco pada saat ini baik-baik saja. Itulah yang Hermione coba yakinkan pada dirinya.
"Kau dan Draco baik-baik saja. Kau mencintainya dan Draco mencintaimu. Kalian saling mencintai" Ucap Hermione didepan kaca kamar mandi Hogwarts. Itu ucapannya yang kesepuluh kalinya. "Malfoy hanya sibuk. Yah dia sibuk sehingga ia tidak mengangkat teleponmu, ataupun membalas sms dan emailmu. Dia benar-benar sibuk. Sadarlah Hermione!" kali ini Hermione menepuk-nepuk pipinya. Ia menatap lekat-lekat wajahnya dan menghembuskan napasnya. Oh dia kelihatan kacau sekali dengan mata sembab seperti itu. Ia meyalakan keran di westafel dan memutuskan membasuh mukanya. Ia kembali melihat kekaca. Ia terlihat lebih baik. Hermione pun mengikat rambutnya dalam kuciran sederhana. Ia pun merapihkan seragammya.
Ia mengernyit melihat seragamnya. Sudah berberapa tahun ia menggunakan seragam Hogwarts itu, dan tinggal menghitung beberapa hari lagi, ia akhirnya bisa membuang jauh-jauh seragamnya itu. Senang namun juga sedih. Masa-masa SMA sangat menyenangkan. Hermione setuju untuk itu. Di Hogwarts jugalah ia dapat dipertemukan kembali dengan Draco. Hermione berterimakasih untuk itu. Memikirkan hal tersebut dan mengingat Draco membuat kesedihanya kembali muncul. Oh sialan.
Draco tiba-tiba berubah drastis. Ia menjadi sedikit bicara tiap kali bersamanya. Tak ada juga senyuman walau Hermione membuat lelucon. Seringaian nya pun menghilang. Hermione sama sekali tidak ingat kapan terakhir kalinya prianya itu menyeringai dan mengodanya. Draco juga tidak pernah menciumnya walau itu hanya sekedar kecupan. Andai Hermione yang mencium duluan Draco tidak akan membalas. Pernah sekali waktu Draco justru menghindar. Jadi jangan harapkan adanya sentuhan ataupun tindakan yang lebih intim.
Hermione sudah sampai mendekati tahap frustasi terhadap Draco. Ia sangat sedih ketika Draco sangat jarang untuk menjeguknya ketika ia masih dirawat dirumah sakit, bahkan Draco juga tidak ada untuk menjemput Hermione ketika akhirnya ia dapat pulang. Hermione benar-benar ingin marah. Ia ingin berteriak tapi yang terjadi Hermione hanya menghela napasnya dan mencoba berpikir positif bahwa Draco memang sedang sibuk saat ini. Setelah Lucius dipenjara, Malfoy corps sepenuhnya diurus oleh Draco. Dengar-dengar terjadi pemerosotan saham dan ada beberapa masalah yang ditimbulkan akibat terbongkarnya kejahatan Lucius. Draco sedang menangani hal tersebut.
Draco bahkan tidak pernah kesekolah lagi. Memang tidak ada larangan untuk para murid tingkat akhir untuk tidak kesekolah. Bagaimanapun mereka tinggal menunggu kelulusan bukan? Soal Hermione itu urusan lain. Ia pasti senior yang paling rajin masuk kesekolah. Menurutnya akan sia-sia ia bersedih dikamarnya. Ia akan terus mengingat Draco. Namun jika ia disekolah, setidaknya ia dapat sedikit melupakan kesedihannya. Ia sekarang ini tengah aktif terlibat dalam beberapa acara yang akan diadakan Hogwarts. Mengingat dia kan adalah ketua osis, ia tentu harus berperan aktif. Salah satunya ia sedang disibukkan dengan prom night. Belum lagi ia disibukkan dengan urusan pemilihan queen bee yang akan menjadi penerusnya. Untuk soal itu ia sama sekali belum memikirkan siapa yang tepat untuk mengantikannya. Lagipula keputusan tidak sepenunya berada ditangannya. Padma dan Parva masing-masing mempunyai hak untuk memilih, Astoria? Oh itu sih sudah pasti. Lavender? Untuk yang satu itu Hermione jujur malas mengakuinya, tapi Lavender pun memiliki hak.
"Bee?" Suara memanggil yang disertai pintu terbuka, membuat Hermione menoleh terkejut.
Itu Astoria. Sahabatnya tersebut menghampirinya. "Aku mencari-carimu sejak tadi. Rupanya kau disini" Ucapnya ceria.
Hermione hanya tersenyum. Sama sekali bukan jenis senyum ceria. Itu senyum yang dibuat-buat. Ia lantas mematikan keran air yang masih menyala dan kini sepenuhnya menatap Astoria.
"Kau diam-diam menangis lagikan?" Raut ceria Astoria menghilang.
"Menangis itu normal As. Terkadang itu baik untuk kesehatanmu" Hermione mencoba untuk tersenyum ceria.
"Demi apapun Draco keterlaluan" Ucap Astoria emosi. "Apa perlu aku menemuinya dan menghajarnya? Aku akan dengan senang hati lakukan itu. Begitu juga dengan Cedric. Kali ini aku akan memberitaunya."
"As" Hermione tidak setuju. "Dia hanya sibuk dan begitu banyak pikiran. Jika kau lakukan itu, ia akan mengira aku pacar yang sama sekali tidak pengertian dan manja yang bisanya hanya mengadu dan menyulitkannya."
"Tapi hampir selama sebulan ini ia seperti mencampakkanmu Bee?"
"Dia tidak mencampakkanku. Dia hanya sibuk. Itu saja" Jawab Hermione walau sebenarnya ia tidak yakin. Astoria benar, Draco sudah keterlaluan. "Jangan mengajakku berdebat As. Kita sudah terlalu sering berdebat soal ini"
Astoria menghembuskan napasnya tanda mengalah. "Baiklah"
"Trims" Hermione tersenyum. Kali ini senyum yang tanpa dibuat-buat.
"Kau benar-benar butuh bersenang-senang. Ayolah! Yang lainnya sudah menunggu" Astoria segera mengganti topik. "Kita harus merayakan perta kemenangan cheers kita oke? Jadi hilangkan raut sedihmu itu!"
Hermione terkekeh tertawa. "Baiklah kapten" Jawabnya, mengingat Astoria memang adalah kaptennya dalam tim Cheers.
Astoria ikut tertawa. "Kita harus cepat. Parva sejak tadi mengeluh bahwa ia kelewat kelaparan untuk menunggu lebih lama lagi"
Tawa Hermione meledak. Lucu saja baginya membayangakan Parva merengek-rengek kelaparan. Hermione sebisa mungkin berusaha untuk bergembira, bagaimanapun ini waktunya ia bergembira. Sebagai anggota cheers ia patut bergembira dan bersenang-senang akan kemenangan timnya untuk yang kesekian kalinya secara berturut-turut dalam lomba cheers nasional. Itu prestasi yang menakjubkan.
"Ayolah! Kumohon angkatlah" Gumam Hermione seratus persen memohon. Saat itu ia baru saja pulang dari acara bersenang-senangnya dan kini tengah berbaring diranjanya tanpa sedikitpun mengganti seragamnya. "Malfoy kumohon!" Ucap Hermione. Itu artinya sudah 20 kali ia mengucapkan kata tersebut. Sesaat yang masih terdengar hanyalah nada sambung dari handphonenya.
"Hallo"
Hermione hampir meloncat kaget dan begitu histeris. Ia bangkit duduk. "Malfoy?"
Terdengar Draco seperti menghela napasnya. "Ada apa?"
Hermione mencoba tidak mempedulikan itu. Ia terlalu gembira. Akhirnya dalam minggu ini Draco mau mengangkat teleponnya. "Aku benar-benar senang kau akhirnya mengangkat telepon dariku. Kau tau aku..."
"Granger saat ini aku sibuk. Katakan ada apa?" Draco menyela Hermione. Suaranya tidak lembut tapi juga tidak kasar. Ia begitu terdengar datar di telinga Hermione. Bahkan Draco seperti terdengar bosan. Hermione menyadarinya tapi ia tidak mau untuk menyadarinya. "Well aku baru saja pulang dari acara bersenang-senangku. Kau tau kan team Cheers memenangkan kejuaraan nasional untuk kesekian kalinya. Aku sangat senang dan ingin..."
"Apa hanya itu yang kau ingin katakan?" Lagi-lagi Draco menyela.
Bukan. Jawab Hermione dalam hatinya. Ia menggigit bibirnya bermaksud menahan isakannya. Air mata mulai menumpuk memenuhi sudut matanya.
Tentu saja bukan. Begitu banyak pertanyaan yang ingin kutanyakan padamu. Ini tentang hubungan kita Malfoy. Ini sama sekali tidak baik-baik saja. Aku sangat takut saat ini. Aku juga sangat sedih akan sikapmu padaku. Aku tau kau sibuk, tapi ini sudah sangat keterlaluan. Ada apa denganmu?
"Apa kau membaca setiap sms ataupun email yang kukirim?" Ucap Hermione dengan mengelap air matanya yang mulai berjatuhan. "Dan apa kau tau berapa banyak aku telah meneleponmu?
"Aku membacanya. Tapi aku terlalu sibuk untuk membalasnya. Termasuk aku terlalu sibuk untuk mengangkat teleponmu. Kau tau aku sibukkan?"
Hermione tidak bisa menahan isakannya lagi. Draco mendengar itu. "Apa hubungan kita ini masih baik-baik saja?" Suara Hermione bergetar. Ia sebisa mungkin menahan isakannya tapi sepertinya gagal total.
"Sejauh ini aku merasa hubungan kita baik-baik saja. Itu semua tergantung padamu. Jujur untuk saat ini dan entah sampai kapan aku benar-benar akan sibuk, jika kau muak dengan itu aku tidak akan melarangmu apabila kau ingin mengakhirinya"
"Semudah itu kau mengatakan untuk mengakhiri?" Rasanya benar-benar seakan ribuan paku menusukmu. Sialnya itu tusukan yang tepat kehati dan jantungmu secara bersamaan.
"Granger aku tidak mengakhiri hubungan kita. Aku tadi bilang, keputusan ada ditanganmu. Jika kau muak denganku kau bisa memutuskanku. Itulah yang kukatakan." Terdengar Draco menghela napasnya dengan kesal. "Bisa kita tidak berdebat? Aku sibuk, aku lelah, dan kau justru mengajakku berdebat. Oh itu bagus sekali"
Hermione mengelap air matanya yang seakan sudah membanjiri wajahnya. Ia juga sudah terisak-isak begitu hebat tanpa henti. Namun Hermione menahannya. Ia enggak mau terlihat menyedihkan betapapun keadaan ini sangat menyedihkan untuknya.
"Kau tau sebentar lagi kelulusan. Sebagian besar teman-teman kita saat ini sibuk memikirkan rencana kedepan untuk masa depan mereka. Mulai dari universitas mana yang mereka ingin tuju, jenjang karier yang mereka inginkan, lalu..."
"Aku merindukanmu Malfoy" Potong Hermione sama sekali tidak mempedulikan ucapan Draco. "Aku tau kau sibuk. Aku mencoba untuk mengerti Malfoy. Aku selalu menyakinkan diriku bahwa hubungan kita baik-baik saja walau kutau sebenarnya sama sekali tidak baik-baik saja. Ini membuatku bertanya-tanya ada apa denganmu? Kau tidak akan begini jika tidak ada sesuatu. Aku sangat mengenalmu Malfoy. Kau berubah saat ini."
"Aku yang justru merubahmu Granger! Aku!" Terdengar Draco membentak. "Jadi berhenti untuk mengatakan aku yang berubah"
Hermione semakin terisak. Ia berbicara dengan tidak jelas. Mungkin sebagian besar orang akan kesulitan untuk memahaminya. Pengecualian untuk Draco. Ia bahkan bisa langsung mengerti apa yang sebenarnya Hermione ingin katakan walau hanya dengan memandang kedua matanya. "Aku pernah bilang padamu bahwa kita akan selalu bersama kan? Enggak peduli kalau ternyata kita sudah mulai membenci satu sama lain atau bahkan sudah muak akan hubungan kita ini. Kita akan tetap bersama. Itu yang akan kulakukan."
"..." Draco tidak menyahuti. Ia menjadi membisu.
Hermione tetap terisak-isak. Ini sangat memalukan. Ia kelihatan sangat menyedihkan. Draco bahkan tidak mau menyahutinya. Sebenarnya jika Draco mengatakan mencintainya, Hermione pasti akan segera melupakan masalah ini dan kembali ceria lagi. Tapi Draco tidak lakukan itu walau sejak tadi Hermione menunggunya untuk mengatakan hal tersebut.
"Aku mencintaimu dan aku merindukanmu Malfoy" Akhirnya Hermione lah yang mangatakannya. "Sangat mencintaimu" lanjutnya lagi benar-benar putus asa karena Draco tetap diam saja. Tanpa mau semakin membuatnya tampak menyedihkan, Hermione segera mematikan Handphonnya. Ia lalu menjatuhkan dirinya keranjang dalam posisi telungkup dan mulai menangis sekerasnya. Ia menyembunyikan wajahnya diatas bantal. Ia menangis sejadi-jadinya.
Dorota yang sejak tadi diam-diam menguping dan mengintip pun memutuskan memberanikan diri untuk masuk kedalam kamar nona kesayangannya itu. Dorota sama terlihat sedihnya. "Miss Mione?" Ia meletakkan nampan berisi sepenuh makan siang itu diatas meja. "Ini waktunya kau makan" Ucapnya sama sekali tidak mau mengungkit topik Draco.
"Tinggalkan aku Dorota! Aku ingin sendiri saat ini." Hermione memerintah ditengah-tengah isakannya.
"Miss Mione"
"Aku serius Dorota! Tinggalkan aku!"
"Jangan bersedih seperti ini kumohon Miss Mione. Tuan Draco mencintaimu, dia hanya terpaksa melakukan itu"
Isakan Hermione seketika berhenti. Ia bangkit duduk dengan pandangan mata langsung tertuju pada Dorota. "Apa?"
"Apanya yang apa?" Dorota bertanya balik. Ia terlihat gugup karena baru menyadari ia begitu kelewat tolol untuk bisa keceplosan seperti itu.
"Kau menyebut Draco terpaksa melakukan itu?" Kedua mata Hermione yang berair menyipit penuh kecurigaan.
"Maksudku sebenarnya eu... Bahwa pasti ada alasan kenapa tuan Draco sampai melakukan itu, iyakan?"
"Dan kau pasti tau alasannya Dorota. Katakan padaku sekarang juga"
Dorota segera tertawa. Tawanya bukan kerena ada hal yang lucu, itu tawa yang berbeda.
"Dorota!"
"Itu hanya perkiraanku saja Miss Mione" Dorota mengelak. Harusnya dia tau itu percuma. Hermione sangat mengenalnya.
"Tapi kenapa kau terdengar begitu yakin?"
"Eu itu... Eu... Miss Mione itu..."
Hermione menghela napasnya. "Dorota aku tau kau sedang berbohong. Aku sangat mengenalmu. Kita sudah saling sama-sama mengenal. Jadi katakan saja!"
Dorota menunduk merasa bersalah karena berbohong. "Baiklah" Ia pun memulai menceritakan segalanya yang ia tau. Itu bermula dari ketidaksengajaan dan rasa keponya yang akut. Ia sejak awal mulai curiga ketika Mrs Granger hanya terdiam terpaku tanpa mencoba mengusir Draco keluar waktu itu. Setelahnya pun Mrs Granger pergi begitu saja dengan tidak sedikitpun mengomelinya karena membiarkan Draco masuk. Diam-diam Dorota mengikuti Mrs Granger dan ia bersembunyi. Ia mendengar dengan sangat jelas sejak awal pembicaraan diantara Draco dan Mrs Granger. Jadi Dorota sangat tau betul kenapa Draco tiba-tiba berubah.
"Jadi ini semua karena ibuku?" Tanya Hermione terlalu terkejut mendengar fakta itu.
"Nyonya hanya berniat baik Miss Mione. Dia peduli padamu" Ucap Dorota berusaha membuat Hermione tidak salah paham.
"Jika dia peduli padaku, ia tidak akan melakukan ini Dorota." Hermione terlihat gusar dan hampir mendekati meledak. Ia bangkit dari ranjangnya. "Dimana ibuku? Dia dibutiknya atau ia berada di pabrik pakaiannya? Katakan padaku Dorota! Aku harus bicara padanya!"
"Eu..itu...itu..eu.."
"Dorota!" Lengkingan memanggil dari luar itu sontak membuat Hermione menoleh kearah pintu. Itu ibunya. Suatu kejutan yang tidak terduga. "Dorota dimana mapku, aku menyuruhmu menyiapkannya" Teriakan itu kembali lagi terdengar. Mrs Granger memang sengaja pulang pada jam segini karena ia meninggalkan map nya yang tertinggal. "Oh ya ampun benar-benar...Dorota!"
"Ada diruangan anda Your Grace" Sahut Dorota ikut berteriak. Mrs Granger sangat tidak suka untuk tidak disahutin. Ia juga tidak akan pernah repot-repot berbicara pada pelayan lain. Ia hanya selalu berbicara pada Dorota, mengingat Dorota adalah kepala pelayannya. Dorota lekas-lekas berlari keluar. Tapi ia kalah cepat dengan Hermione yang segera menyusulnya. Langkah-langkah kaki itu begitu cepat menuruni tangga dan segera berjalan dalam kemarahan menuju ruang kerja ibunya.
Pintu terbuka dalam suara yang keras. Hermione berdiri diambang pintu. Ia terlihat seperti medusa yang akan segera mengamuk. Mrs Granger yang sibuk memilah-milah kumpulan mapnya lantas menoleh kearah Hermione. Tidak ada sama sekali raut terkejut darinya, ia begitu tenang. Seolah tidak menyadari betapa telah memuncaknya kemarahan Hermione. "Sangat tidak sopan untuk tidak mengetuk terlebih dahulu sweetheart, kau tau itukan?"
"Kita perlu bicara!" Suara Hermione penuh penekan walau ia tidak menjerit berteriak.
"Saat ini bukan waktu yang tepat sayang. Aku perlu segera pergi. Ada rapat yang harus kuhadiri" Sahut Mrs Granger sama sekali tidak terdengar serius menanggapi ucapan Hermione. Ia bahkan telah sibuk akan map-mapnya.
"APA PEKERJAAN SIALANMU ITU JAUH LEBIH PENTING DIBANDING AKU?" Sekarang Hermione benar-benar membentak.
Mrs Granger menghela napasnya. Ia menoleh dengan tenang. Keduanya saling berdiri berhadapan dalam jarak yang lumayan jauh. "Hermione dari dulu aku sudah membicarakan soal ini denganmu. Semua pekerjaan yang kulakukan ini untukmu. Kau sudah dewasa, jadi berhentilah merajuk seperti anak kecil. Aku saat ini memang sibuk, tapi aku berjanji padamu natal nanti kita akan menghabiskan waktu kita berdua saja. Bisa kau bersabar untuk beberapa minggu lagi?"
Hermione nampak tidak peduli.
"Aku tau kau ada hubungannya dengan perubahan Draco padaku" Lontar Hermione berhasil membuat Mrs Granger membeku. "Apa kau masih tidak ada waktu untuk berbicara padaku?"
"Apa Dorota yang memberitaumu?"
"Jangan salahkan Dorota!"
Mrs Granger menghela napas dengan sabar. "Kurasa kita memang perlu bicara. Masuklah dan tutup pintunya!" Mrs Granger berjalan kearah meja kerjanya dan duduk dibangkunya. Ia menatap baik-baik Hermione yang melangkah kearahnya. Pintu telah tertutup.
"Duduklah!" Perintah Mrs Granger ketika Hermione hanya berdiri saja dihadapan mejanya. Tampa bicara Hermione menurut. "Bicaralah Hermione! Kau ingin memarahiku bukan?"
"Kenapa kau lakukan ini padaku?" Tanya Hermione sama sekali tidak mempedulikan ucapan ibunya tersebut.
"Tentunya demi kebaikanmu." Mrs Granger menjawab dengan singkat.
Hermione mendengus tidak percaya. "Mom pasti tau kalau hampir selama sebulan ini aku diam-diam menangis karena begitu sedih dan Mom justru bilang itu demi kebaikanku?"
"Kau hanya belum terbiasa. Itu saja."
"Apa maksudmu aku belum terbiasa?" Hermione sangat marah. "Hubunganku kacau dan aku harus terbiasa untuk itu? Yang benar saja! Mom pasti benar- benar ingin menyiksaku."
"Hermione sayang lihatlah dirimu! Kau berubah! Benar-benar berubah. Sebagai orang yang melahirkanmu aku tentu khawatir. Sudah kubilang kulakukan ini untuk kebaikanmu"
"Berhentilah mengucapkan demi kebaikanku!" Sekali lagi Hermione membentak. "Kau tau aku tersiksa karena kau berhasil membuat Draco berubah padaku dan kau malah terus saja mengucapkan itu demi kebaikanku. Apanya yang demi kebaikanku?"
"Dengar! Apa kau kira aku enggak tau soal kau menghancurkan wawancaramu dengan Yale?" Mrs Granger seketika itu juga membuat Hermione terdiam. "Hal memalukan itu sampai terjadi karena kau sama sekali tidak fokus. Kau kehilangan fokusmu Hermione. Kau bahkan tidak peduli lagi dengan semua impianmu"
"Mom aku bukan tidak peduli."
"Benarkah? Lalu apa artinya ucapanmu bersama Draco sebulan yang lalu?"
"Apa maksudmu?"
"Aku mendengarnya semua percakapan kalian. Dari situ aku sangat yakin kau sudah sangat tergila-gila padanya hingga rela memikirkan untuk menikah muda. Apa yang sebenarnya ada diotakmu Hermione?"
Hermione memejamkan kedua matanya dan menghembuskan napasnya. Ia berbicara setelah membuka kembali kedua matanya "Mom mengatakan sendiri bahwa aku sudah cukup dewasa untuk memilih jalan hidupku. Mom juga mengatakan tidak akan mengekangku lagi. Kemana ucapanmu itu? Apa itu hanya bualanmu saja?"
"Aku melakukannya Hermione! Aku menerima keputusanmu untuk menjalin hubungan dengan bocah Malfoy itu. Hanya saja saat ini aku meminta padanya untuk tidak menganggumu dulu. Menurutku kau perlu mendapatkan kembali fokusmu. Aku tau kau cinta padanya, tapi coba kau pikirkan apa kau serius mau membuang semua impianmu?"
"Harus berapa kali bilang Mom. Aku tidak akan pernah membuang impianku. Aku akan mewujudkan semua impianku. Hubunganku dengan Draco sama sekali tidak membuatku melupakan impianku. Aku bisa menjadi sukses seperti yang kau harapkan dengan Draco disampingku. Aku bisa buktikan padamu"
Mrs Granger bangkit berdiri. Wajahnya sama sekali tidak menunjukkan ekspresi apapun. "Kau benar-benar terlalu naif" Mrs Granger kemudian mengambil map-mapnya. Ia sudah sangat terlambat. Ia melangkah menuju pintu. Ia juga bahkan sudah membukanya.
"Mom!"
Mrs Granger berdiri ditempatnya. Ia tidak bergerak, namun juga tidak menoleh kebelakang pada Hermione.
"Aku serius dengan mengatakan aku akan membuktikannya padamu."
"..."
"Aku mencintaimu Mom. Aku berterimakasih karena kau sudah melahirkanku kedunia ini. Kau orang yang berharga dalam hidupku. Termasuk juga Draco. Jadi kumohon jangan paksa aku untuk memilih diantara kalian berdua. Kenyataanya aku tidak akan pernah bisa memilih"
Mrs Granger membalikkan badannya. Ia menatap dengan tatapan yang jauh lebih lembut. Hermione dapat melihat kedua mata ibunya dipenuhi air mata. Tapi tidak ada setetes pun air mata itu yang membasahi wajahnya. "Aku jauh lebih mencintaimu. Aku tau hubungan kita semakin buruk setelah perceraianku dengan ayahmu, belum lagi dengan kesibukanku. Tapi Hermione aku ibumu, dan seorang ibu selalu jauh lebih mencintai anaknya. Aku ingin kau tau itu." Saat itu juga Mrs Granger berbalik pergi. Ia berdiri dengan tegap dan selalu anggun seperti biasanya. Ia tidak sedikitpun menoleh dan hanya terus berjalan walau ia tau saat ini Hermione menangis. Mrs Granger memang sangat ahli dalam bersikap seolah tidak terjadi apa-apa.
"Miss Mione" Dorota berhambur masuk. Hermione langsung memeluknya. Ia menangis begitu keras. "Dorota" Hermione terisak-isak.
Dorota mengelus punggung Hermione, mencoba menenangkannya. "Nyonya mencintaimu. Ia sama sekali tidak berbohong Miss Mione."
"Hiks...hiks...hiks...aku tau Dorota. Aku tau"
Yeah Hermione sudah tau itu. Sejak dulu ia memang sudah tau. Hanya saja baru saat ini ia benar-benar yakin ibunya sayang dan mencintainya.
000
Cara terbaik untuk menyelesaikan masalah adalah dengan menghadapinya. Itulah yang akan Hermione lakukan. Hari ini ia bahkan tidak akan kesekolah. Ia merubah arah tujuannya. Ia sudah putuskan akan menemui Draco. Senyum menghiasi wajahnya ketika ia melewati lobby gedung apartemen Draco. Hermione segera melangkah menuju lift.
"Miss Granger"
Suara memanggil itu menghentikannya. Ia menoleh dan mendapati Dobby, yang kini merupakan asisten Draco tersebut tengah berlari kearahnya. "Apa yang anda lakukan disini?" Terlihat sekali ia terkejut akan kedatangan Hermione.
"Apa maksudmu dengan kenapa aku datang kesini? Apa kau ada masalah dengan itu?"
Dobby menunduk. Ia bermaksud meminta maaf. "Maafkan saya! Tapi jika kedatangan anda kesini untuk mengunjungi tuan Draco. Dia tidak ada disini Miss."
"Oh ayolah. Jangan berbohong padaku. Aku tau dia disini. Handphoneku terhubung dengannya" Sahut Hermione bagaikan skatmat bagi Dobby. Pintu lift terbuka, dan Hermione segera masuk kedalam. Dobby tentu mengikuti. Mereka di dalam lift sekarang.
"Jika kau memaksa, itu akan menyusahkanku Miss Granger." Dobby menatap dengan pandangan memelas.
Hermione menoleh malas. "Sebenarnya ada apa denganmu Dobby? Aku hanya ingin menemui pacarku, itu bukan tindakkan yang melanggar hukum bukan?"
"Iya itu memang benar, tapi aku...eu...aku..."
"Kau tidak perlu khawatir" Hermione tersenyum menenangkan. "Aku akan melindungimu"
Dobby menundukkan kembali kepalanya. Dia kalah total. "Baiklah"
Senyum Hermione melebar. Masalahnya dengan Dobby selesai dan kini ia sangat tidak sabar untuk menyelesaikan semua permasalahan dengan Draco. Ia begitu merindukan pria itu. Ia ingin segera berbaikan dan memeluknya. Ketika pintu lift terbuka, rasa hangat menjalar keseluruh tubuh Hermione. Ia sudah tidak asing lagi dengan seluruh interior ruangan apartemen Draco.
"Dimana dia?" Hermione menoleh kepada Dobby yang berdiri disampingya. "Draco belum bangun?"
Dobby menatap jam tangannya. Ia menggeleng. "Tuan sudah bangun Miss Granger, ia pasti sedang mandi saat ini"
Hermione tersenyum. Ia menenteng bawaanya menuju dapur. Ia meletakkan kantung belanjaanya diatas meja makan, dan mulai mengeluarkan makanan yang ia bawa. Dobby tetap mengikutinya seolah mengawasi. Raut wajahnya tetap menunjukkan rasa khwatir dan takut disaat yang bersamaan.
"Ayolah Dobby, hilangkan ekspresimu itu!" Hermione terkekeh sambil tetap sibuk menyiapakan sarapan untuk Draco. Ia sangat terlihat ceria. Namun Dobby justru semakin terlihat sedih. Untuk beberapa menit Hermione disibukkan dalam menata begitu cantik makanan yang ia bawa.
"Bagaimana menurutmu Dobby? Terlihat cantik bukan?" Hermione tersenyum puas melihat hasil karyanya. Memang bukan dia yang memasak, tapi dialah yang menata menjadi indah seperti ini.
"Tentu saja. Kau sangat berbakat Miss Granger"
Hermione menghela napasnya ketika melihat raut khawatir Dobby sama sekali tidak berubah. "Kau tau Dobby, aku benar-benar serius dengan mengatakan aku akan melindungimu. Aku bahkan akan membelamu jika Draco tetap memarahimu karena membiarkanku masuk. Kau percaya padaku kan?"
"Aku tidak pernah tidak percaya pada anda Miss, hanya saja..."
"Dobby" Langkah kaki terdengar menuruni tangga. Draco melangkah keruang tengah dan menghampiri meja dalam balutan handuk yang melingkari pinggulnya. Rambut pirang platinanya itu masih dalam keadaan setengah basah ketika ia menuangkan voodka kedalam gelas. Ia langsung meminumnya hingga abis. Akhir-akhir ini vodka bagaikan teman yang selalu menemaninya. Baik pagi, siang dan malam. "Kau tak perlu menyiapkan sarapan. Kita akan segera pergi, kau tau itukan?" Teriak Draco ketika mendegar suara dari arah dapur. Ia bahkan tidak perlu repot-repot menoleh kebelakang untuk melihat siapa yang menghampirinya dan memeluknya dari belakang.
Draco terdiam membeku. Ia sama sekali tidak menoleh.
Hermione tidak bisa menghilangkan ekspresi senangnya ketika dapat kembali memeluk Draco dari belakang seperti ini. Ia menghirup aroma memabukkan dari tubuh Draco. Prianya itu benar-benar wangi. Ia rindu wanginya. "Kau harus sarapan Malfoy. Aku orang yang akan paling bersedih jika kau sampai sakit" Ucap Hermione sambil mengecup tiap bagian punggung terbuka Draco, termasuk bekas luka tembak waktu itu. "Demi merlin aku sangat merindukanmu Malfoy" Hermione mempererat pelukkanya pada Draco. "Apa kau merasakan hal yang sama? Apa kau juga merindukanku?"
Tentu saja aku merindukanmu. Aku sangat tersiksa selama sebulan ini Granger. Aku ingin bersamamu sebentar saja. Tapi sialnya aku tidak bisa lakukan itu. Kita harus menjaga jarak. Itu demi kebaikanmu.
"Granger"Panggil Draco sama sekali tidak menjawab pertanyaan Hermione itu.
"Emmm?" Hermione tetap terdengar ceria.
"Apa yang kau lakukan disini?" Suara Draco begitu datar.
Raut ceria Hermione memudar. Ia semakin mempererat pelukannya. "Aku begitu frustasi karena begitu merindukanmu. Jadi aku memberanikan diriku kesini walau kau melarangku. Jadi jangan salahkan Dobby oke?"
"Granger" Draco terdengar kesal. Ia melepaskan pelukkan Hermione. Ia membalikkan badannya dan kini berdiri berhadap-hadapan dengan Hermione. "Pulanglah!"
"Kenapa?"
Draco menghela napasnya melihat sikap keras kepala Hermione. "Aku saat ini sibuk. Aku tidak ada waktu untuk bermain-main denganmu. Jadi pulanglah!" Draco berbalik pergi. Ia berjalan menaiki tangga menuju kamarnya. Sebisa mungkin ia tidak menoleh kebelakang. Melihat Hermione yang sedih akan melemahkan tekadnya.
"Malfoy berhentilah untuk bersikap menyebalkan seperti itu. Aku sudah tau semuanya."
Langkah Draco terhenti. Ia masih berada ditangga.
"Aku tau ibuku yang menyuruhmukan?"
Draco membalikkan badannya kembali. Tatapannya bertemu dengan tatapan Hermione. "Aku sudah mengatasinya. Kau tidak perlu lagi berpura-pura menjadi menyebalkan begitu padaku"
Rahang Draco mengeras. Begitu pula dengan tangannya yang tiba-tiba terkepal. "Dengan cara apa kau menyelesaikannya?" Ia terlihat marah. Hermione tau itu.
Helaan napas terdengar dari Hermione. Ia sudah sangat lelah akan akting Draco ini. "Ayolah berhenti bersikap seperti itu. Aku sudah tau. Jadi kumohon datanglah padaku."
"Dengan cara apa kau menyelesaikannya Granger? Aku minta kau menjawabnya sekarang juga!"
"Oh boy" Hermione memutar bola matanya. "Kau kenapa Malfoy? Kau harusnya senang bukannya marah-marah seperti ini padaku"
"Jawab aku Granger!"
"Aku bilang padanya aku tidak akan melupakan impianku, aku akan mewujudkan semuanya walau kau tetap bersamaku. Apa itu sudah cukup menjawab pertanyaanmu?" Jawab Hermione dengan marah. Draco menghembuskan napasnya lega. Ia jujur takut sekali kalau Hermione sampai bertindak bodoh. Pelan-pelan ekspresi marah Hermione menghilang. Kini ia merasa benar-benar lega telah mengatakan semua itu. Ia kembali menatap Draco. Tatapannya penuh sayang. "Apa sekarang hubungan kita sudah baik-baik saja?"
Ekspresi wajah Draco ikut melembut. "Hubungan kita selalu baik-baik saja Granger"
Senyum muncul diwajah Hermione. "Jadi sekarang kau bisa datang padaku? Aku serius dengan mengatakan aku merindukanmu"
"Sayangnya tidak Granger. Aku belum bisa kembali padamu. Tidak untuk sekarang"
"..."
Itu benar-benar bagaikan sambaran petir untuk Hermione. Itu sangat tidak mungkin keluar dari mulut Draco. Sangat-sangat tidak mungkin. Tidak heran Hermione kini tertawa. "Kau sedang bercanda atau menggodaku?"
"Aku tidak memiliki rasa humor saat ini" Damn it! Wajah Draco begitu serius. Ia memang berkata jujur kalau ia tidak sedang bercanda ataupun menggoda Hermione.
"Malfoy"
"Dengar aku baik-baik Granger. Ibumu memang menyuruhku untuk menjaga jarak denganmu dan aku melakukannya. Tapi sebenarnya bukan karena hanya hal itu. Aku sangat mencintaimu. Itulah alasannya utamanya kenapa aku sampai melakukan ini"
"Malfoy" Hermione melangkah lebih dekat kearah Draco. Prianya itu masih berdiri diatas tangga. "Aku sudah menyelesaikannya Malfoy"
"Granger aku tidak mau menjadi penghambatmu dalam mencapai impianmu"
"Kau sama sekali bukan penghambatku"
"Berpikirlah lagi sebelum mengatakannya! Aku serius"
Hermione terkekeh kesal. "Aku jauh lebih serius. Kau sama sekali bukan penghambatku. Percuma saja kau memberi waktu untuk ku berpikir. Jawaban akan selalu sama. Aku mencintaimu dan kau bukanlah penghambatku."
"Aku tetap akan memberikan waktu untukmu berpikir. Jadi pulanglah!" Draco berbalik dan kembali menaiki tangga menuju kamarnya.
"DEMI MERLIN MALFOY! BISAKAH KAU BERHENTI MENYURUHKU UNTUK PULANG?" Teriak Hermione begitu diluar kendali dengan amarah dan kekesalan. Ia begitu putus asa. Bukan ini yang ia harapkan. Draco tetap melanjutkan jalannya. "AKU TIDAK AKAN BERANJAK PERGI SEDIKITPUN SEBELUM KAU MENARIK KATA-KATAMU. KAU DENGAR AKU KAN MALFOY!"
"Tinggalah selama yang kau mau, tapi aku harus pergi saat ini."
"Malfoy" Hermione terdengar memohon. Tenaganya langsung lenyap begitu saja.
Draco tetap tidak berhenti. Ia menghilang dari pandangan Hermione. "Maaf" hanya kata itu yang terdengar darinya.
Sungguh sangat menyedihkan!
000
Astoria Pov,
Ini buruk. Tanda alarm bahaya yang berada diriku berbunyi sangat keras sejak Hermione sama sekali tidak mau mengangkat telepon dariku. Ia juga tidak membalas sms dan segala email yang kukirim. Keadaan benar-benar semakin buruk ketika kutau Draco telah pergi ke italia sejak tiga hari lalu. Ini sudah pasti ada hubungannya. Aku tidak tau dia dimana? Aku mencoba ke apartemenya dan yang kudapatkan hanyalah Dorota yang menutup rapat-rapat mulutnya. Aku lantas memberanikan diriku menemui Mrs Granger. Ia pasti tau.
"Entahlah As" Jawab Mrs Granger. Ia duduk di meja kerjanya dengan kaca mata yang turun hingga ke ujung hidungnya. "Aku memang tau dia dimana, tapi aku rasa dia butuh sendiri saat ini"
"Mrs Granger aku mengkhawatirkannya?"
"Begitu pula aku." Terjadi ketegangan antara aku dan Mrs Granger. Aku enggak merubah raut wajahku. Ini waktu yang tepat untuk bersikap keras kepala. Mrs Granger menghela napasnya mengalah. "Hermione berada di apartemen Draco"
Senyumku muncul. "Trims"
"Pergilah, bawa dia pulang"
"Tentu saja" Tiba-tiba aku berubah bersemangat. Hubungan persahabatan ku bersama Hermione telah membaik. Rasanya aku akan menyesal sekali bila kami tidak menikmati waktu kami berdua sebagai sahabat. Sudah lama kami tidak bersenang-senang. Jelas sekaranglah waktunya. Ini bahkan tahun terakhir kami di hogwarts. Tentu jangan sampai di sia-siakan. Persetan dengan urusan percintaan. Aku akan menyadarkan Hermione tentang itu.
"Bee" Aku memanggilnya, namun ia benar-benar bersikap bagai tidak mendengarku. Aku telah berada di apartemen Draco dengan sedikit bantuan dari Jack, supir pribadi Draco. Untunglah dia tidak ikut ke Italia. Thank God. Kau sangat membantuku.
"Ayolah Bee" panggilku lagi. Sepenuhnya sia-sia. Ia pasti mengira aku mahluk kasat mata yang tidak terlihat. Sejak aku muncul hingga sekarang, Hermione hanya berbaring diranjang Draco dalam posisi meringkuk miring membelakangiku dengan memeluk erat salah satu kemeja Draco. Ia memang tidak menangis dan aku bersyukur untuk itu. Tapi astaga demi apapun di terlihat menyedihkan. Semua orang pasti akan setuju denganku jika mereka melihat Hermione yang sekarang ini.
"Kau mau terus begini?" Tanyaku tidak mau menyerah.
"Aku sudah katakan padanya tidak akan beranjak pergi sebelum dia menarik kata-katanya"
"Oh boy" Aku kesal mendengar jawabannya itu.
"Pulanglah As" Ia bangkit duduk dan menyandar. Suaranya begitu parau, pertanda ia telah banyak menguras suara dan air matanya selama tiga hari ini dengan menangis.
"Jangan harap!" Jawabku. "Ayolah Bee! Kita bisa bersenang-senang kan? Daripada kau terus bersedih begini"
Ia menatapku horor. "Apa kau mengira aku masih dapat bersenang-senang pada saat ini?"
"Tentu saja! Hermione yang kukenal tidak akan bersedih hanya karena seorang pria"
"Draco berbeda untukku."
Aku menghela napasku mendengar ucapannya yang begitu keras kepala itu. Ini memang terlihat percuma. Namun bukan berarti aku akan menyerah. "Aku akan bertanya padamu. Apa hubunganmu dengan Draco berakhir?"
"Tentu saja tidak!" Ia menjawab dengan sangat marah. Kedua matanya menatapku penuh ancaman. "Jangan bicara seperti itu lagi."
"Kalau begitu kenapa kau bersedih?"
"As" Hermione memanggilku dengan nada memohon untuk tidak membahas masalah ini terlalu jauh.
"Hermione hubunganmu tidak berakhir. Kalian berdua hanya butuh waktu sendiri-sendiri untuk saat ini. Aku tau Draco kekasihmu, namun tetap saja bukan berarti dia harus bersamamu sepanjang waktu. Kau juga perlu waktumu sendiri."
Dia menatapku tanpa berkedip sedikitpun untuk beberapa saat. Ia pasti tengah memikirkan ucapanku. "Bagaimana?"
Hermione bangkit berdiri. Ia tiba-tiba berjalan menuju pintu. Astaga apa lagi sekarang? Ia membuka pintunya dan berjalan keluar tanpa sepatah kataku pun yang ia ucapkan padaku. "Hermione?" Terus terang aku semakin keheranan. "Kau mau kemana?"
"Ayolah As!" Suaranya terdengar memerintah. Itu memang baru Hermione yang kukenal. "Kita harus segera membeli gaun. Seminggu lagi prom. Aku tidak mau terlihat jelek." Ia sama sekali tidak menoleh kebelakang. Terdengar langkah-langkah kakinya menuruni tangga dengan terburu-buru. "Astaga As ! Apa lagi yang kau tunggu? Cepatlah!" Teriaknya dari bawah.
Aku segera keluar dari kamar, dan melihat kebawah, tepat kearahnya. "Apa maksudnya ini? Jujur saja, kau membuatku bingung."
Ia memutar bola matanya dan melipat tangannya didada dengan gaya yang mengintimidasi. "Kita jadi bersenang-senang atau tidak?"
Aku langsung tersenyum. Rupanya aku berhasil menyadarkannya. "Tentu saja. Ayolah my lady" Aku menuruni tangga sama cepatnya seperti yang baru saja dia lakukan. Ini pasti akan menyenangkan. Firasatku terkadang selalu benar. Untuk kali ini aku begitu yakin. Senyum dan tawa langsung melingkupi kami berdua. Sisa hari itu kami mengunjugi hampir seluruh butik di setiap sudut kota ini. Dan hasilnya nihil. Kami hanya berulah serta bersikap menjadi pembeli yang menyebalkan dengan mencoba gaun ini, gaun itu tanpa sedikitpun membelinya. Itu semakin menyenangkan ketika tidak ada satupun pemilik butik yang mengeluh. Kemungkinan kecilnya karena mereka semua mengenal siapa aku, dan kemungkinan besarnya karena mereka tau Hermione adalah anak seorang Evelyn Granger.
Kami berdua terus saja terkikik senang. Ekspresi Hermione benar-benar berubah total. Aku enggak mengerti bagaimana bisa ia dapat mengubahnya secepat itu? Apa karena ucapanku itu? Jika iya itu pasti sangat luar biasa untukku. Perlu diketahui saat ini aku benar-benar mengalami krisis rencana masa depan. Otakku benar-benar kosong untuk menentukan universitas mana yang benar-benar kuminati dan aku pun tidak pernah kepikiran mau mengambil jurusan apa? Tapi berkat tadi aku jadi tertarik untuk mengambil psikiater? Eummm... Sayangnya aku tidak akan tahan berlama-lama duduk di bangku pendidikan. Jadi kurasa tidak untuk psikiater. Bagaimana dengan psikiolog? Emmm maybe. Nanti kurasa aku harus meminta pendapat Hermione untuk itu.
Well...Ada baiknya kita lupakan soal diriku dan masalahku itu. Faktanya aku juga tidak terlalu memikirkannya. Mari kembali ke Hermione dan aku. Setelah hasilnya nihil dalam memilih gaun kami. Aku dan dia memutuskan pulang. Lebih tepatnya aku dan dia menginap apertemen Draco. Bagaimanapun walau aku berhasil membuatnya kembali ceria, tetap saja ia bersikeras ingin tinggal di apartemen Draco. Kami tidak lupa untuk menelepon Padma dan Parva juga untuk kemari. Sudah pasti bakalan ada pesta piyama.
Kami berempat memakai piyama yang super lucu dan imut. Dengan wajah bermasker, musik yang menghentak-hentak, makanan yang super banyak dan kekehan tanpa henti, kami bermain perang bantal. Ini malam yang super gila. Aku enggak bisa membayangkan jika Draco pulang dan melihat kamarnya menjadi kapal pecah seperti ini. Aku mengungkapkan rasa khawatirku itu pada Hermione, namun ia malah mengedikkan bahunya dan berkata itu balasan yang setimpal untuk Draco karena telah membuatnya bersedih. Oh boy! Aku, Padma, dan Parva tertawa tanpa henti mendengarnya.
"Iya?" Jawabku ketika nada dering handphoneku berdering. Saat itu aku tengah berbaring terkapar diranjang bersama-sama dengan Hermione, Padma dan Parva.
"As kupikir kau akan membawa Hermione pulang"
Keningku berkerut seketika itu juga. Aku melihat layar handphoneku dan baru menyadari itu Mrs Granger. "Ya Mrs Granger?"
Ia terdengar menghela napasnya dengan kesal. "Bisa aku berbicara dengan Hermione? Kau bersamanya kan saat ini?"
Aku segera memberi handphoneku pada Hermione. "Ibumu"Ucapku menjawab tatapan matanya yang bertanya.
"Iya Mom?" Jawab Hermione dengan menekan loudspeaker.
"Kenapa begitu ribut sekali? Kau tidak pergi ke klub malam kan?" Terdengar suara Mrs Granger yang sudah pasti tidak suka dengan apa yang baru kami lakukan.
"Tentu saja tidak. Aku berada di apartemen Draco. Percayalah. As bersamaku, begitu pula Padma dan Parva."
"Kecilkan musiknya kalau bagitu!"
Hermione memutar bola matanya. Ia melirik Parva. Seakan mengerti Parva mengecilkan suara musiknya. "Sudah kulakukan. So ada apa?"
"Kenapa kau tidak pulang?"
"Aku tidak akan pulang sebelum Draco manarik kata-katanya. Mom pasti sudah tau itu."
Lagi-lagi Mrs Granger terdengar menghela napasnya. "Oke terserah. Ada yang lebih penting. Apa saja yang kau lakukan seharian ini hingga seluruh temanku meneleponku?"
"Well...Aku hanya berniat membeli gaun promku. Seminggu lagi prom. Kau juga pasti tau itu."
"Kutebak kau juga pasti membuat keonarankan?"
"Salahkan saja mereka karena tidak memiliki gaun yang sama sekali pantas untuk kugunakan Mom."
Aku, Padma dan Parva terkekeh pelan mendengarnya. "Kenapa kau tidak langsung saja ketempatku? Itu akan jauh lebih baik sweetheart. Kerena keonaranmu ini mau tak mau aku harus mengirimkan tanda permintaan maafku untuk mereka."
"Mom aku sama sekali tidak berbuat onar, aku hanya..."
"Aku tau." Sela Mrs Granger dengan suara yang benar-benar lembut. Kurasa itu pertama kalinya aku mendengar nada suaranya sebaik itu. "Datanglah ke butik setelah acara kelulusanmu besok. Ajaklah As dan sikembar juga." Mendengar itu, Parva langsung berteriak histeris karena begitu senangnya. Disusul denganku dan Padma. Kami bertiga sontak meloncat-loncat gembira.
"Oh ayolah Guys! Jangan norak begitu!" Hermione mengeluh dan segera turun dari ranjang menjauhi kami yang tengah histeris meloncat-loncat.
000
Hermione Pov,
Ucapan Astoria harus kuaikui benar. Hubunganku dengan Draco baik-baik saja. Aku tidak harus bersedih. Kami hanya rehat sejenak. Draco akan segera kembali dan kami akan menyelesaikannya. Aku akan langsung menjawab aku tetap mau bersamanya. Aku mencintainya. Dia sama sekali bukan penghalangku. Draco justru impian terbesarku untuk saat ini dan kedepannya. Kami akan membangun masa depan kami.
Aku tak sabar untuk segera menemuinya setelah ia pulang. Ia memang enggak menjawab teleponku. Tapi besar kemungkinan dia pulangkan? Maksudku enggak mungkin dia melewatkan acara kelulusannya. Itulah yang awalnya kukira. Namun ternyata salah. Sangat salah. Draco belum kembali dari Italia. Ia sama sekali tidak menghadiri acara kelulusan kami itu. Harusnya aku bahagia karena predikat lulusan siswi terbaik berhasil kuraih. Terwujud sudah salah satu impianku. Sayangnya tanpa dia rasanya percuma saja. Ayahku datang jauh-jauh dari perancis untuk acara kelulusanku itu. Ia sampai membatalkan semua jadwalnya. Ayahku memang yang terbaik. Ia sangat mencintaiku. Begitu pula ibuku. Keduanya datang dan kami melakukan foto bersama layak keluarga yang bahagia. Sudah lama sekali kami tidak melakukan hal yang bersifat kekeluargaan. Aku anggap foto bersama salah satunya.
Aku juga bersenang-senang dengan As, Padma, Parva, dan Lavender. Info terbaru, aku memaafkan Lav. Bagaimana pun kami telah berteman cukup lama dan aku lelah dengan pertengkaran. Oleh sebab itu juga aku memutuskan memperbaiki hubunganku dengan Little J. Bukan berarti aku datang memohon maaf padanya. Sudah pasti aku tidak akan sudi lakukan itu. Dia lah yang datang padaku? Tentunya!
"Lakukan yang benar Little J" Perintahku padanya ketika aku, As, Padma, Parva, dan Lav berpose untuk melakukan foto bersama. Kami semua berada di halaman Hogwarts saat itu.
"Aku cukup ahli untuk hal ini" Sahutnya dengan tersenyum. Kami berlima berpose dengan berbagai gaya. Satu kesamaan kami berlima adalah kami tiada henti-hentinya memamerkan senyum. Usai semua itu, Padma, Parva dan Lav kembali sibuk bersama keluarga mereka. Aku bilang pada mereka untuk datang ke butik ibuku. Mereka sudah pasti setuju. Kini hanya aku dan As saja termasuk Jenny. Sebelum akhirnya si Potter Freak datang menghampiri.
"Hey Harry" Astoria langsung menghadiahi si aneh itu dengan pelukan. Hey-hey apa aku melewatkan sesuatu? Oh my God jangan bilang As mulai menyukainya. Astaga jika begitu kemungkinan besar mereka akan pacaran. Oh ayolah siapapun tau kalau si aneh Potter itu juga tergila-gila pada As. Aku bukan cemburu. Apalagi pada Potter. Hanya saja aku jauh lebih merasa As layak mendapat yang terbaik. Misalnya Cedric. Tapi aku tidak berhak mengaturnya bukan? Walau aku sahabatnya sekalipun, tetap saja kami memiliki batasan.
"Hey As" Sapanya balik. Si aneh itu menatapku. Aku mengernyitkan keningku menatap tatapannya. Ia memang telah menolongku dan Draco. Aku sangat berterimakasih untuk itu. Aku juga telah mengucapkannya langsung padanya ketika ia menjegukku ketika aku masih dirawat. Tapi...
Jujur saja aku masih tidak menyukainya. Mungkin karena aku Hermione Granger dan dia adalah Harry Potter si aneh. Kami berasal dari dunia berbeda. Sangat-sangat berbeda. Aku tak yakin akan cocok dengannya. Ia memang hanya akan cocok dengan As mengingat As sangat merakyat dan berjiwa bebas.
"Selamat untuk menjadi siswa lulusan terbaik" Ucap Astoria begitu senang seolah dialah yang mendapatkan predikat itu. "Kau benar-benar pintar"
Ia lagi-lagi menatapku. "Tapi tidak sepintar Granger"
Aku terkekeh. "Oh tentu saja. Jumlah nilaiku jauh lebih besar darimu Potter. Thank untuk mengakuinya"
"Bee!" Astaga aku semakin yakin As mulai menyukai si aneh ini. Lihatlah dia baru saja memprotesku.
"Itu kenyataannya" Si Potter itu semakin aneh karena membelaku. Ia bahkan mengulurkan tangannya. "Selamat"
Aku sangat keheranan namun aku balas menjabat tangannya. "Kau semakin aneh Potter"
Dia terkekeh tertawa. Begitu pula Astoria. "Aku tidak melihat Malfoy. Dia tidak datang?"
Gara-gara dia mengungkit itu aku berubah sedih. Si Potter ini selain aneh ia juga perusak mood. Aku melepas tanganku darinya. Tiba-tiba menjadi kebingungan harus bereaksi seperti apa. "Dia kelewat sibut. Perusahaanya jauh lebih pentingkan dibanding acara kelulusan ini? Walau dia tidak datang orang-orang tetap bangga padanya karena telah menjadi lulusan terbaik setelahmu" Aku menekankan kata setelahmu dengan nada sebal.
"Apa itu juga artinya kau sama sekali tidak penting untuknya?"
What the helllllllll... si Potter ini. Bagaimana bisa dia berpikiran seperti itu? Dia mencari mati heh?
Astoria tertawa. Aku tau ia sengaja tertawa untuk mencairkan suasana diantara aku dan si freak. "Tentu saja bukan begitu, iyakan Bee?"
Tatapanku sama sekali tidak beralih dari si freak. Aku benar-benar memandangnya dengan kemarahan. "Tentu saja As! Draco mencintaiku. Aku sama sekali tidak akan pernah meragukan perasaanya. Aku penting untuknya dan dia penting untukku. Kau mengerti Potter?"
Dia terkekeh kesal. Aku tau itu. "Lalu kenapa dia tidak datang? Katamu kau berarti untuknya kan?"
Damn it kau Potter. "Astaga" Aku mendegus kesal. "Kau mau bertengkar denganku heh Potter? Jujur saja aku akan senang meladenimu"
Astoria kembali berusaha mencairkan suasana. Ia tertawa seolah tidak terjadi apa-apa dan segera memanggil Jenny. "Jenny kemarilah dan foto kami"
Aku tidak menoleh pada Little J dan terus saja menatap tajam pada Potter. Kami berdua saling menatap tajam. "Ayolah guys! Mari kita berfoto oke?"
"Iya itu kedengaran ide yang bagus. Kalau perlu dipajang di mading dan hias dengan tulisan Queen bee dengan si aneh Potter yang menjijikkan. Pastikan itu terjadi Little J. Cetak fotonya dan pajang!" Aku melirik Jenny dengan pandangan mengancam. Itu membuatnya terlihat salah tingkah. "Baiklah"
"Dasar kekanak-kanakan" Gumam si Potter tapi aku tidak peduli. Kami bertiga mengambil posisi untuk di potret. Si Potter freak ini berdiri diantara aku dan As. Aku menatap lurus kedepan, tidak sudi untuk menatapnya lagi. Aku bahkan menjaga jarak darinya.
Jenny telah bersiap-siap untuk mengambil gambar kami. "Hermione posisimu terlalu jauh. Mendekatlah sedikit"
"Tidak bisa begini saja?Aku enggak mau berdekatan dengannya" Si Potter mendegus mendengarku mengucapkan itu.
"Ayolah Bee!"Ucap Astoria. Demi apapun, Astoria yang jatuh cinta sangat menyebalkan bagiku. Dengan tidak banyak omong aku menurut.
"Tersenyumlah!" Ucap Jenny dan aku kembali menurut. "Oh Demi merlin Harry" tiba-tiba Jenny mengeluh. Ia manatap marah kepada si freak yang notabennya adalah kakaknya sendiri. "Kameranya disini. Berhenti menatap kearah Hermione"
What? Dia manatapku? Pasti ada yang salah darinya. Jangan-jangan ia mencoba menjahiliku mengingat pertengkaran kami belum kelar bukan?
"Awas saja kalau kau berniat menjahiliku Potter!" Aku berbisik mengancamnya.
Dia mendengus. "Apa yang kau bicarakan itu heh?"
Aku balas mendengus. Jenny mengambil gambar kami bertiga. Sepertinya bakal hanya As yang tersenyum. Jujur pada saat itu aku sama sekali tidak tersenyum. Kemungkinan besar si Potter juga tidak tersenyum, mengingat ia baru saja mendengus padaku. Dia benar-benar sialan. Aku benci padanya. Kami berdua tidak akan cocok menjalin hubungan apapun selain permusuhan. Dia lebih cocok untuk menjadi patner bertengkar kan?
"Granger" Seseorang berteriak memanggiku.
"Weasley?" Aku menoleh kearah Ginny weasley yang berlari-lari kearahku. Bocah Weasley itu nampak kerepotan membawa bawaanya.
"Hey Gin" Astoria menyapanya jauh lebih ramah dari panggilanku.
Ginny menatapnya sekilas. "Hey Greengrass dan eu... Hey Potter junior" Ginny melirik juga Jenny yang saat itu melototinya dengan penuh benci. Sekedar info mereka berdua tengah hangat-hangatnya untuk saling membenci. "Hey Harry" lanjutnya menyapa dengan jauh lebih lembut dan sukses mendapat anggukan singkat dari si freak."By the way selamat untuk kelulusanmu" ia bahkan merona. Aku dapat lihat itu. Demi apapun rasanya aneh sekali kenapa tiba-tiba si Potter freak yang norak ini menjadi begitu banyak disukai? Astoria lah, Ginny, lalu siapa lagi heh?
"Oh boy" Aku memutar bola mataku. "Weasley kau memanggilku karena apa sebenarnya heh?"
Dia akhirnya menatapku juga. Dia nyengir seakan bersalah kemudian menyodorkan sebuket besar mawar merah dan sekantung bingkisan yang ia bawa. "Ini"
Aku menerimanyan kebingungan. "Kau baik sekali" Ucapku seratus persen tidak mengerti sejak kapan si Weasley junior ini menjadi sangat baik padaku.
"Jangan salah paham Granger. Itu bukan dariku. Draco yang menyuruhku memberikannya padamu."
"Kau serius?" Oh ya ampun! Ini sangat membuatku gembira. Aku bahkan ingin menangis karena terharu.
Ginny mengangguk dan kemudian berbisik. "Dia ada disini."
"Mana? Dimana dia Weasley?" Aku segera melihat kekiri dan kekanan. Pokoknya segala arah kulihat. Tapi hasilnya nihil. Aku sontak melototi si bocah weasley ini. "Kau mempermainkanku heh?"
"Demi merlin Granger kau bisa membuatku terkena amukkannya." Keluhnya terdengar sangat marah. "Aku seharusnya tidak boleh memberitaumu soal itu, eh tapi kau malah melihat kekanan dan kekiri mencarinya. Sekarang dia pasti marah padaku"
"Jadi dia benar ada disini?"
"Tentu saja. Dia memerhatikanmu sejak dari tadi."
Air mataku seketika menumpuk dimataku. "Kenapa dia tidak menghampiriku?"
Ginny menghela napasnya. "Katanya kau masih perlu waktu untuk sendiri tanpa boleh diganggunya"
Oh damn.. Holly damm... Lagi-lagi tentang itu. Harus sampai kapan ia menyadari bahwa itu akan percuma saja. Malfoy berhentilah bersikap menyebalkan seperti itu dan kumohon segeralah datang padaku. Aku merindukanmu Malfoy!
"Itu dari Draco?" Astoria berjalan lebih dekat kearahku. Aku mengangguk bersemangat. Astoria tersenyum. "Oh itu romantis sekali Bee"
"Dia memang romantis As. Dan luar biasanya dia adalah milikku."
Astoria terkekeh. "Tentu saja dia milikmu"
Kau lihatkan itu Potter! Draco peduli padaku. Ucapanmu sama sekali tidak benar. Rasakan itu! Kau pasti tertampar begitu keras dengan rasa malu.
000
Author Pov,
Hermione gagal total untuk bertemu Draco. Ia kecewa bercampur sedih tentunya. Rasanya ia sama sekali tidak mempunyai semangat ke prom. Lagipula siapa yang akan jadi pasangannya? Teman-temannya memiliki pasangan, hampir semuanya yang datang kesana memiliki pasangan. Semuanya! Dan dia tidak? Oh tentu saja dia sudah pasti tidak akan datang.
"Bee?" Pintu kamarnya terbuka. Siapa lagi yang memanggilnya Bee kecuali Astoria.
Hermione berbaring diranjangnya tanpa bergerak. Ia hanya menoleh singkat pada Astoria. Sahabatnya itu menghampirinya dan naik keranjang dengan setelan cheersnya lengkap dengan rambut terikat kebelakang. "Kenapa kau memakai itu heh?" Hermione bangkit duduk dengan kening berkerut akan penampilan As.
Astoria tersenyum lebar penuh rasa percaya diri. "Well aku enggak mau melewatkan prom"
Hermione seketika tertawa keras. Air mata bahkan keluar karena tawanya. "Jangan bercanda! Kau mau ke prom dengan seragam cheers?"
Astoria menggangguk bersemangat. "Well tidak ada salahnya mengenakan seragam ini untuk terakhir kalinya"
Hermione menggelengkan kepalanya tidak percaya. "Jangan mempermalukan dirimu sendiri oke? Jika si Potter itu tidak mau datang ke prom, kau tidak perlu memperlihatkan betapa menyedihkan dirimu As. Kita bersenang-senang aja disini. Emmm kita bisa menonton film favorite kita, bagaimana?"
"Oh no no no!" Astoria menggeleng. "Kaulah yang justru tidak boleh menunjukkan kesedihanmu Bee. Kita tidak boleh terlihat menyedihkan dengan tidak datang. Kita harus datang dan ayo buat keonaran."
"Keonaran?"
"Yah." Astoria pun kemudian mencondongkan tubuhnya kearah Hermione. Ia menunjukkan raut iblis yang tengah tersenyum. "Kau dan aku akan datang bersama, memakai seragam cheers kita dan mari kita tunjukan pada mereka siapa sebenarnya queen bee dan ratu pesta nya!"
Hermione tersenyum senang. "Jawabannya kita As. Sudah pasti kita. Aku queen bee nya dan kau sang ratu pestanya"
Keduanya bagaikan sepasang iblis berparas cantik. Dengan senyum mereka datang. Musik menghentak keseluruh penjuru ruangan aula yang kini bagaikan sihir berubah menjadi sesuatu yang menakjubkan. Dekorasi penuh dengan ornamen-ornamen salju buatan dan kristal. Yeah harus diakui dekorasi bak istana es ini menakjubkan.
"Wow damn it!" Gumam Astoria pelan. "Kau yang melakukan ini semua?"
Hermione menggeleng. "Aku memang ketua nya. But awalnya aku sudah berencana tidak akan datang, jadi kuserahkan semuanya pada mereka."
Astoria terkekeh. "Anak buahmu telah bekerja keras rupanya"
"Oh sudahlah As. Junior-junior itu akan menjadi keras kepala bila mendengarnya." Hermione memutar bola matanya. Itu memang kebiasaanya bukan? Mereka berdua melanjutkan perjalanan mereka. Semua orang mulai memandangi namun keduanya nampak tidak peduli. Mereka memang tidak berpenampilan yang paling memukau tapi semuanya diam-diam menyadari mereka berdua telah mengambil semua perhatian.
"Hey-hey" Blaise Zabini menatap dari atas hingga kebawah penampilan kedua sahabat itu. "Ada apa dengan gaun kalian? Sejak kapan seragam cheers itu menjadi sebuah gaun?"
Hermione mendengus namun Astoria tersenyum. Damn bagi Blaise, itu senyum paling menggoda yang ia lihat untuk malam ini. "Come on Blaise! Ini memang bukan gaun, tapi kau harus akui bahwa kami jauh terlihat menggoda dengan rok cheers kami iyakan?"
Tatapan mata Blaise seketika turun melihat kearah rok itu. Holly damn, pikirnya membenarkan ucapan Astoria. "Melihat sesuatu yang kau sukai Zabini?" Tanya Hermione dengan dengusan.
Blaise menyeringai. "Tentu saja" Ia lalu menatap Astoria. "Mau bersamaku Greengrass? Aku akan dengan senang hati meninggalkan Luna untukmu"
Astoria tertawa. "Maaf aku tidak tertarik. Hari ini aku bersama sahabatku ini" Astoria merangkul Hermione. Keduanya sama-sama tersenyum. Blaise menyeringai. "Draco akan cemburu mengetahui ini Granger."
"Toh dia tidak disini" Sahut Hermione berusaha bersikap cuek, namun sebenarnya ia masih kesal sekali akan kenyataan tersebut. "Jangan berpikiran yang macam-macam Zabini! Aku dan As tidak terlibat hubungan sesama jenis"
Blaise terkekeh. Ia segera meminum seteguk minuman yang bewarna merah bagaikan darah itu. "Minumlah! Aku dan Theo akhirnya berhasil memasukan diam-diam voodka kedalamnya. Mabuklah sedikit girls?" Ucapnya kemudian berlalu pergi dengan tetap memamerkan seringaiannya.
Hermione menggeleng melihat tingkah tersebut. "Dia gila!" Pekik Hermione kesal.
"Tapi dia ada benarnya. Kita harus bersenang-senang Bee" Astoria mengambil segelas untuk Hermione. Ia menyodorkannya. "Ayolah hanya segelas. Aku akan menjaga mu untuk tidak mabuk" Tambahnya ketika Hermione hanya mengernyit memandangnya. Hermione tersenyum dan segera mengambil gelas itu untuk meneguknya dengan pelan minuman yang begitu dingin tersebut. "Ini enggak buruk" Ujarnya sambil menghela napas lega.
Musik mengalun lembut kali ini. Tiap-tiap pasangan kini mulai berdansa. Astoria dan Hermione saling terdiam dengan minuman yang setia menemani mereka. "Ngomong-ngomong bagaimana menurutmu dengan calon king and queen prom kali ini?" Astoria menoleh pada Hermione.
Hermione terkekeh. "Aku sudah pasti akan langsung memilih Parva dengan Theo. Kau taukan Parva telah begitu lama mengejar-ngejar Theo. Jadi jika dia terpilih, Parva pasti akan begitu senang"
"Kau benar. By the way, aku tidak melihat Padma. Apa dia tidak datang?"
"Enggak usah mencarinya. Dia sibuk bercumbu mesra dengan Ron weasley. Kau tau kan kakak Ginny itu?"
Astoria tersedak mendengarnya. Ia terbatuk-batuk dan akhirnya malah tertawa. "Bagaimana kau tau heh? Kau melihatnya?"
"Tentu saja. Bagaimana bisa aku berkata begitu jika tidak melihatnya. Percayalah aku baru melihat mereka diam-diam menyelinap ketempat yang lebih gelap dan sepi"
Astoria makin tertawa. Ia juga menggeleng-gelengkan kepalanya tidak percaya Padma bisa begitu. "So bagaimana dengan Lav? Kurasa ia pantas menang menjadi queen prom. Errrr walau aku tidak yakin dengan Longbottom sebagai pasangannya."
Hermione bergidik ngeri. "Oh no no no. Aku tau betul alasannya mengajak Longbottom hanya untuk mendapat simpati orang-orang. Apalagi dengan kampanye tentang stop bullying. Yang benar saja! Jelas-jelas dialah yang sering membully, parahnya Longbottom lah korbannya. Aku yakin sekali kalau Longbottom itu baru saja di ancam untuk mau menjadi pasangannya."
Astoria tertawa terbahak-bahak mendengarnya. "Dan bagaimana dengan Blaise dan Luna?"
Kali ini Hermionelah yang tertawa terbahak-bahak. "Zabini itu gila dan Lovegood jauh lebih gila. Kau yakin mau memilih orang seperti itu untuk menjadi king and queen?"
"Komentarmu benar-benar kejam" Astoria tertawa. Musik tiba-tiba berganti menjadi jauh lebih menghentak. Orang-orang berteriak histeris senang. Hermione menatap Astoria dengan semangat yang terlihat jelas.
"What?" Astoria bertanya kebingungan ketika Hermione manariknya kelantai dansa. "Kita mau kemana Bee?"
"Come on As! Ini lagu favorite kita! Ayolah menari denganku ratu pesta!"
Musik mengalun keras. Dj memainkan dengan baik lagu bitch I'm Madonna. Semua bisa dibilang bergoyang-goyang dilantai dansa. Hermione tertawa tanpa henti. Begitu pula dengan Astoria. Mereka menari kesana kemari dalam gerakan tarian yang begitu kompak dan serasi. Itu bukan hanya sekedar gerakan tidak beraturan, loncat-loncat kesana-kemari dan berteriak histeris. Itu benar-benar tarian.
" Oooohohohohoh..." Astoria ikut menyanyikan.
"You' re gonna love this" Hermione balas menyahuti.
"Oooohohohohohoh..."
"You can't touch this"
"Oooohohohohohoh..."
"Cause I'm bad bitch!"
Keduanya kembali tertawa begitu senang seolah tidak ada perasaan sedih yang baru saja menghinggapi mereka. Musik tetap dimainkan. Bahkan semakin keras, belum lagi dengan para sorakan yang membabi buta terdengar. Lampu berkelap-kelip menambah keseruan malam itu.
Keseruan belum berakir sampai disitu. Musik segera berganti ketika lagu menghebohkan itu harus berakhir. Kini justru berganti dengan yang makin menghentak. Orang-orang kembali berteriak bersemangat. Hermione dan Astoria melakukan hal yang sama. Kedua perempuan itu menguasai lantai dansa dengan setiap gerakan mereka. Orang-orang perlahan-lahan hanya terfokus menatap kehebohan kedua sahabat tersebut. Khususnya kaum pria mulai mengelilingi mereka dalam lingkaran dan bersorak menggila, melupakan pasangan mereka masing-masing.
Dasar pria!
Astoria dengan senyum ceria ciri khasnya mulai maju kedepan dan menunjukan bakat menarinya. Ah dia benar-benar kembali menjadi ratu pesta.
Kaum lelaki tentu bersorak menyaksikan tarian itu.
A dance to only tempt you
I'm blasting my charm into your heart
Just by our fingers brushing, my heart pounds
My heart is shaking
Shake it shake it for me
Shake it shake it for me
…
Seakan tidak mau kalah, kini Hermione melakukan hal yang jauh membuat seluruh ruangan itu bersorak-sorak. Ini sangat menyenangakan.
Nana nana nana (hey)
Nana nana nana (hey)
This electrifying feeling makes me dance
This moment (shake it)
Bae bae baby
Love me love me love me now
Don't you know my shaking heart?
So let's dance
Just shake it let's dance
A little hotter, completely wilder
Make it louder
More, make it loude
Keep shaking me
Amazingly shake me
(Shake it oh shake it)
All night, with me, Shake it baby
…
Astoria dan Hermione untuk kesekian kalinya tertawa terbahak-bahak. Sudah lama sekali kedua sahabat itu tidak bersenang-senang seperti itu. Rasanya terakhir kali mereka bergila-gilaan ketika masih duduk di bangku smp dan itupun karena mabuk untuk pertama kalinya. Kini kegilaan mereka kembali terulang. Begitu luar biasa menambah atmosfer pesta. Harus diakui malam prom ini milik mereka. Sang queen bee bersama ratu pestanya. Kedua sahabat yang kini bersatu kembali menjadi persekutuan yang tidak akan mampu dilawan oleh siapapun.
Napas keduanya seakan abis dan tak tersisa. Dengan ngos-ngosan Hermione menarik Astoria kerah minuman berada. Ia menyerahkan kepada Astoria segelas. "Minumlah!"
"Kau tidak boleh mabuk young lady! Aku memperingatimu" Ancam As dengan tertawa dan mulai menegak minumannya bersamaan dengan Hermione.
"Kau sudah terdengar seperti ibuku As" Hemione ikut tertawa.
"Hey girls!"
"Wow kau disini?!" Tanya keduanya kompak ketika menemukan Cedric menghampiri mereka.
"Kalian jahat sekali bersenang-senang tanpa aku" Ucap Cedric yang saat itu mengenakan setelan jas hitam yang membuatnya beribu-ribu kali lipat lebih tampan. Ia bahkan memamerkan senyum andalannya.
"Kupikir kau sedang pergi berlibur dengan ayahmu. Kau tidak jadi ke karibia?" Tanya Astoria sukses membuat kening Hermione berkerut.
"Aku bahkan tidak tau soal itu" Keluhnya menatap secara bergantian antara Astoria dan Cedric. Itu jelas tatapan curiga.
"What?" Astoria tidak suka ditatap seperti itu. "Ada apa dengan tatapanmu itu?"
"Apa kalian sekarang berpacaran?" Tanya Hermione begitu blak-blakkan.
"Tentu saja tidak" Astoria menjawab begitu cepat. Wajahnya memerah. Cedric hanya terkekeh. "Kau menyakiti perasaanku dengan menjawab secepat itu As"
Astoria menoleh kearah Cedric. Ia menghampiri pria yang sekaligus sahabatnya itu dan merangkulnya layaknya seorang sahabat. "Jangan bicara begitu heh? Kau sahabat terbaikku setelah Hermione."
Hermione mendegus melihat kedua sahabatnya itu. Ia menegak minumnya dan mulai bicara kembali. "Pacaranlah! Dimataku kalian lebih terlihat seperti sepasang kekasih"
Buru-buru Astoria melepas rangkulannya. "Ya! Kau tau siapa yang kusukai, jangan coba-coba menjodohkanku. Hubunganku dengan Ced bisa jadi berantakkan. Iyakan Ced?"
"Aku jauh lebih menyukaimu untuk menjadi kekasihku As" Sahut Cedric dengan raut yang begitu serius.
"Ced" Astoria terdengar lelah akan topik pembicaraan tersebut.
Hermione menghela napasnya melihat respon Astoria. Apalagi ketika melihat Harry bersama Little J baru saja datang. Jujur saja Hermione enggak habis pikir kenapa Si aneh itu tiba-tiba datang. Ia sangat tau Astoria telah dibuat menangis kerena si aneh itu berkata tidak ada niatan untuk datang ke prom. Tapi what the hell! Kenapa ia tiba-tiba datang?
Hermione menatap Astoria. "Aku lebih mendukungmu bersama Cedric dibanding kau harus bersama si freak Potter yang baru datang itu"
Astoria langsung menatap arah lirikan Hermione. Ia tersenyum dan melambaikan salah satu tangannya. Kedua kakak adik Potter itu datang menghampiri. Jenny sangat cantik. Gaunnya berwarna merah yang begitu mencolok, belum lagi dengan rambutnya yang tergulung keatas itu. Segala hal tentangnya sangat berbanding terbalik dengan Harry yang hanya memakai kemeja putih yang bahkan menurut Hermione itu kemeja yang kebesaran. Hermione menggelengkan kepalanya kenapa Astoria bisa menyukai pria senorak itu?
"Hey Harry! Aku sangat terkejut kau datang" Seketika suara Astoria berubah lembut dan wajahnya lagi-lagi memerah.
"Eu itu sebenarnya karena..."
"Karena aku!" Jawab Jenny menyela penuh percaya diri. "Aku memaksanya datang As."
"Oh begitu" Astoria tetap terdengar ceria. Ia harusnya melihat raut Cedric sekarang ini. Hermione merasa prihatin untuk Ced dan merasa benci yang amat sangat untuk Harry. Pria aneh itu bahkan sekarang meliriknya. Hermione memutar bola matanya jijik.
"Gaunmu begitu mencolok Litlle J. Warna merahnya membutakanku?" Ucap Hermione dengan menghindari menatap Harry.
"Benarkah?" Oh sialan. Jenny mengira itu pujian. Jelas kan itu hinaan. Harusnya ia tau perbedaan hinaan dan pujian bukan?
"Jangan mengira itu pujian. Aku baru saja mengkritikmu. Dandananmu bahkan membuatmu terlihat tua. Kau harus segera berubah jika kau ingin menjadi kandidat kuat untuk menjadi queen bee. Asal kau tau Weasley junior cukup menarik perhatian. Ia bisa saja mengalahkanmu dan sebenarnya aku cukup tertarik padanya." Tatapan Hermione beralih kearah Ginny yang pada saat itu berlari-lari menerobos kerumunan orang-orang yang tengah berdansa mesra. Wanita berambut merah itu tampak tangguh dan mengairahkan disaat bersamaan ketika hanya mengenakan kaos putih sederhana dan hot pants yang disertai sebuah sepatu convers. Well dia tidak terlihat seperti wanita yang tengah berpesta di prom.
"Granger kita perlu bicara" Ucapnya langsung bagaikan perintah.
Jenny mendengus melihatnya. "Sungguh penampilan yang bagus untuk menghadiri prom Weasley"
Ginny tidak menyahutinya. Ia segera menyapa Cedric, Astoria, dan Harry. Khusus untuk Harry ia sama meronanya dengan As. Hermione mendengus melihatnya. "Kita perlu bicara Granger"
"Bicaralah aku mendengarmu"
"Oh tidak disini"
"Kenapa tidak disini?" Kali ini Jenny menyerocos kesal. Ia sangat tidak suka dengan kedekatan Hermione dengan Ginny. Bagaimanapun itu pasti akan membahayakan posisinya sebagai kandidat utama penerus Hermione sebagai Queen bee.
Ginny menatap tajam kerahnya. "Bukan urusanmu!" Ia lalu kembali menatap Hermione. "Kau harus ikut denganku"
"Ada apa sebenarnya?" Astoria menjadi penasaran.
"Bukan apa-apa Greengrass." Ginny menoleh pada Astoria. "Ini hanya urusanku dengan Granger. Kau tenang saja, aku tidak akan melukainya atau apapun yang hal buruk yang sedang kau pikirkan" Tambahnya seakan bisa membaca secara jelas pemikiran Astoria. "Ayolah!" Ia menarik Hermione ikut bersamanya. "Kau akan menyesal sampai mati jika kau tidak ikut denganku"
"Tapi mau kemana kita Weasley?"
"Oh ayolah jangan banyak bertanya. Saat ini aku sedang menjalankan misiku. Jadi ayolah"
Hermione pasrah ditarik. Ia menoleh kebelakang dan berteriak pada Astoria. "As aku akan segera kembali. Berdansalah dengan Cedric. Jauh-jauh dari si Potter freak itu..."
Astoria diam-diam mengeluh kesal akan tingkah Hermione yang mencoba menjodohkannya dengan Cedric. Lihatlah sekarang Cedric menyikutnya. "Mau berdansa heh?"
"Itu kedengarannya bagus" Sahut Jenny kelewat bersemangat, ia bahkan membuat Astoria kembali menutup mulutnya karena tidak diberi kesempatan untuk berbicara. "Ayo kita berdansa. Kau maukan berdansa denganku Ced. Rasanya benar-benar aneh jika aku harus berdansa dengan kakakku sendiri" Ia sekilas melirik Harry yang paa saat itu terus menatap Hermione yang berlalu pergi bersama Ginny.
"Tapi..." Ced tentu menatap Astoria.
"Berdansalah dengan Jenny" Kata Astoria membuat Jenny dengan berani menarik Cedric kelantai dansa. Ia benar-benar menyebalkan. Andai Hermione tau, Jenny kemungkinan besar akan langsung di hapus dari daftar kandidat menjadi queen bee.
"So Harry" Sontak Harry terhentak terkejut dangan suara Astoria tersebut.
"Iya?" Harry akhirnya menatapnya juga.
Astoria tersenyum. "Mau berdansa. Aku sangat ingin berdansa saat ini, tapi seperti yang kau lihat sendiri aku tidak memiliki pasangan."
"Tapi aku tidak bisa berdansa. Itulah alasan kenapa aku menolak ajakanmu untuk datang kemari"
Astoria tertawa akan kejujuran Harry. Ia juga benar-benar merasa lega. "Tapikan sekarang kau sudah terlanjur disini, jadi ayo berdansa. Aku akan mengajarimu." Ucapnya kemudian langsung menarik Harry bersamanya.
"Aku bisa menginjak kakimu As"
"Aku tidak peduli"
"Tapikan..."
"Ayolah Harry"
"Baiklah"Suara Harry memelan. Dia pasrah di tarik oleh Astoria.
000
"Maaf. Untuk sementara kamar mandi ini tidak bisa digunakan" Ucap Blaise tiap kali para wanita hendak masuk. Ia juga selalu menghadiahi mereka dengan kedipan mata yang merayu.
"Oh ya ampun" Theo yang berdiri disamping Blaise segera menyikut pria itu. "Berhentilah mengedipkan matamu seperti itu. Bisa-bisa akhirnya kau sakit mata Blaise."
"Uhuh?" Balas Blaise kesal akan ucapan tersebut.
Theo menghembuskan napasnya. Ia terlihat kesal. "Aku tidak percaya Draco tega menyuruh kita bagaikan penjaga kamar mandi wanita seperti ini hanya demi Granger"
"Ayolah dude! Apa salahnya membantu"
"Kau tau, aku sebenarnya heran sekali, kenapa ia tidak bertemu saja dengan Granger. Aku sangat kesal. Ia selalu katakan Granger butuh sendiri tiap kali aku bertanya. Padahal aku saja tau, Granger itu setengah mati merindukannya"
Blaise terkekeh. Jarang sekali ia melihat Theo menjadi uring-uringan begini. "Draco lakukan itu karena ia sangat mencintai Granger."
"Menurut ku itu aneh. Ia mencintai Granger, tapi malah menyiksa dirinya sendiri dengan menahan dirinya untuk tidak bertemu dengan Granger. Itu anehkan?"
"Menurutku kau yang aneh" Blaise menyeringai. "Aku jarang sekali melihatmu uring-uringan seperti ini. Apa ini karena kau kesal harus berpisah dulu dengan salah satu si kembar india itu? Siapa ya namanya? Padma atau Parvati? Jujur aku enggak bisa membedakan mereka."
"Parva" Jawab Theo begitu cepat. Ia juga terlihat marah. Anehnya wajahnya merona. Itu jelas membuat Blaise makin menyeringai. "Ah...kau rupanya menyukainyakan? Akui saja kau selama ini hanya bersikap menjual mahal!"
"Ha ha ha lucu sekali" Theo tertawa kesal. Ia segera mengalihkan tatapannya dari seringaian menyebalkan Blaise. Ia langsung mendapati Dorota, pelayan pribadi Hermione muncul dengan berlari-lari sambil membawa gaun yang masih terbungkus rapi.
"Dimana nonaku?" Tanyanya dengan napas ngos-ngosan. Wajar saja ia seperti itu, mengingat ia memiliki bentuk tubuh yang ekstra dan sangat-sangat sehat.
"Eu didalam" Jawab Blaise kaget akan kedatangan Dorota. Tanpa banyak bicara, Dorota menerobos masuk kedalam. Pintu langsung tertutup kembali dalam bunyi yang keras. Blaise dan Theo saling melirik satu sama lain.
Dorota bernapas lega melihat Hermione. "Oh syukurlah. Apa aku terlambat?"
"Belum tapi hampir" Jawab Ginny dengan menoleh sekilas pada Dorota sebelum akhirnya kembali sibuk dengan wajah Hermione yang kini tengah ia rias. Hermione sendiri hanya diam saja. Ia pasrah dalam posisi duduk disebuah kursi dengan Ginny yang sejak tadi mendadaninya. "Kau membawa gaunnya dengan selamatkan?"
"Tentu saja. Ini gaun yang berharga" Jawab Dorota dengan mengelus penuh sayang dan hati-hati akan gaun yang masih dipegannya. Gaun itu adalah jenis long dress dengan warna metalik dan hitam yang memukau. Gaun panjang itu juga bermodel tanpa lengan dengan bagian bawah melebar begitu cantik. Hermione sudah pasti akan luar biasa apabila menggunakannya. "Sepatu cantik rancangan spesial dari Jimmy choo ini akan membuatmu tambah memukai Miss Mione" Lanjutnya sangat terdengar senang sambil memamerkan sepasang sepatu yang masih terbungkus rapi. Ini benar-benar bagaikan impian masa kecil Hermione. Dorota tau itu secara percis. Gaun yang dibawanya ini merupakan rancangan Hermione sendiri ketika ia masih berusia dua belas tahun.
"Kau tau Dorota, aku akan menggunakan gaun rancanganku ini ketika promku nanti. Lihatlah indah bukan? Aku juga akan menjadi queen promnya."
Dorota ingat betul Hermione pernah berkata begitu dan sekarang semua itu sebentar lagi akan terwujud. Dorota harus berterimakasih pada Draco. Berkat diakan semuanya ini. Pria itu telah merencanakan sejak jauh-jauh hari.
"Demi merlin diamlah Granger. Jangan terus mencoba membuka matamu. Riasanmu bisa hancur oke?" Pekik Ginny kesal. Apalagi saat itu ia tengah menghias mata Hermione.
Hermione menghembuskan napasnya kesal. Ia tetap memejanmkan matanya "Bisa aku saja yang merias diriku sendiri? Aku benar-benar ragu akan kemampuanmu"
Ginny terkekeh. "Jangan berkata begitu Granger. Walau aku terlihat tomboy, tapi aku ahli untuk ini. Aku bisa membuatmu semakin cantik. Percaya padaku dan tutup mulut cerewat mu itu! Aku benar-benar harus berkonsentrasi dengan misi yang tengah kujalankan ini"
Hermione mendengus dengan tetap memejamkan matanya. "Kau terus saja mengatakan misi padaku. Apa itu misi dari Draco?"
"Tentu saja, siapa lagi kalau bukan dia?"
"Lalu dimana Draco sekarang ini? Aku sangat merindukannya. Apa kau tidak mengatakan itu padanya?"
"Aku mengatakannya. Tapi ia kelewat keras kepala" Ginny sekarang berpindah menata rambut Hermione.
"Dia menyebalkan."
Ginny terkekeh mendengar kekesalan Hermione. "Dia memang menyebalkan"
"Ginny aku serius dimana dia sekarang ini?"
"Entahlah. Terakhir kami bertemu, dia datang ketempatku, nyelonong masuk kekamarku dan memaksaku untuk segera ke prom sialan ini"
"..." Tak ada lagi sahutan dari Hermione. Ia kelewat sedih. Percuma sajakan melakukan semua ini tanpa Draco yang akan melihatnya.
000
Hermione berkedip tidak percaya dengan apa yang baru dilihatnya. Ia lagi-lagi kembali berkedip memandang penampilannya. Ini luar biasa. Ia sangat cantik. Bukan berarti sebelumya tidak cantik. Hermione selalu cantik, hanya saja untuk saat ini ia begitu berbeda. Apalagi dengan gaun ini. Ia ingat betul pernah menggambar sketsa yang sama percis dengan apa yang ia kenakan sekarang ini. Rasanya seperti mimpi.
"Bagaimana heh? Kau terlihat jauh lebih cantikkan?" Ginny bertanya tepat dibelakang Hermione kini berdiri. Melalui pantulan kaca dihadapannya, Hermione menatap Ginny melalui kaca itu. "Damn it Weasley! Kau mengejutkanku dengan bakatmu"
Ginny tersenyum penuh kemenangan merespon pujian Hermione tersebut. Hermione membalikkan tubuhnya dan menatap Ginny. "Dari mana kau mendapatkan gaun ini"
"Bukan aku yang mendapatkannya Granger. Aku sudah bilang aku hanya menjalankan misiku untuk meriasmu"
"Jadi maksudmu Draco yang melakukannya?"
Dorota jalan menghampiri. Ia mengangguk bersemangat dengan air mata yang menumpuk disudut matanya. "Beberapa waktu lalu, saat kau masih di rawat dirumah sakit. Tuan Draco bertanya padaku, apa yang kau inginkan saat prom dan aku lantas mengambil diam-diam sketsa gaunmu itu dan memberikannya padanya"
"Oh itu sungguh..." Hermione terdiam karena begitu tidak bisa dibuat bicara.
"Romantis?" Tanya Ginny seakan mencoba membantu Hermione melanjutkan ucapannya.
Hermione mengangguk. Air matanya keluar begitu saja dan menumpuk disudut matanya. "Yeah romantis. Sangat romantis"
"Oh no no no Granger jangan menangis. Kau tidak akan terlihat sempurna lagi jika riasanmu sampai luntur"
"Miss Weasley benar. Jangan menangis Miss Mione! Ayolah-ayolah! Kau berdandan secantik ini bukan untuk berdiam diri dikamar mandi. Ayo-ayo kita harus cepat!" Dorota segera menarik Hermione keluar dari kamar mandi dan ikut bersamanya.
"Dorota benar. Ayolah!" Ginny buru-buru mengikuti dari belakang. Kedatangan mereka bertiga sangat tepat waktu. Orang-orang kini berkumpul didekat panggung dengan wajah yang penuh ketengangan. Setiap kandidat pasangan king and queen prom telah berdiri diatas panggung. Ada lavender dengan Neville, Parva dan Theo, lalu pasangan terakhir adalah Blaise dengan Luna. Semua yang hadir disitu belum menyadari sedikit pun akan perubahan penampilan Hermione. Mereka terlalu fokus dan menantikan king and queen prom mereka.
Suara Drum terdengar. Suasana tambah tegang. Sayangnya tidak untuk Hermione. Ia sibuk melihat kesana dan kemari mencari-cari Draco. Ia yakin Draco ada disini juga.
Prof McGonagall terdengar berdeham. "Raja dan ratu prom kali ini diberiakan pada..." Prof McGonagall membuka amplop yang masih tersegel itu. Ia segera membacanya dengan lantang dan sama sekali tidak peduli itu kini membuat seluruh orang-orang bertanya-tanya. "Ratu prom kali ini adalah Hermione Granger"
"What?" Hermione memekik kaget dengan apa yang baru didengarnya. Itu mustahilkan? Ia bahkan tidak mencalonkan dirinya. Lampu sorot segera menyinari keberadaanya. Orang-orang yang berbisik ribut itu seketika juga menoleh kearah Hermione. Suasana hening mendadak. Prof McGonagall yang nampak tidak menyadari adanya sesuatu yang salah lantas memanggil nama Hermione kembali. "Miss Granger" panggilnya. "Naiklah keatas panggung. Ini waktunya menyerahkan mahkotamu bukan?"
Dorota menepuk tangannya dengan semangat begitupula Ginny. Keduanya juga mendorong Hermione untuk berjalan mendekati panggung. Tepuk tangan terdengar cukup keras ketika Hermione telah berdiri di atas panggung.
Astoria dan Harry yang melihat dari jauh diam tidak bergerak dengan apa yang mereka saksikan. "Itu benar-benar Granger?" Tanya Harry dengan nada suara yang begitu keras.
"Itu memang Hermione. Astaga dia cantik sekali."
"Dia menang?"
"Sepertinya begitu." Astoria tersenyum. "Aku bertanya-tanya siapa yang telah sangat berjasa melakukan itu padanya?"
"Enggak usah bertanya-tanya Greengrass. Sudah pasti aku jawabannya" Suara menjawab yang tiba-tiba muncul membuat Astoria maupun Harry terhentak terkejut. Itu Draco.
"Drake?" Astoria menoleh kesamping, Draco kini berdiri dalam balutan setelah abu-abu yang melekat begitu pas ditubuhnya. Draco hanya mengangguk singkat sebagai responnya. Kedua matanya tetap terfokus pada Hermione yang kini baru saja mendapatkan mahkota yang begitu indah menghiasi kepalanya."Dia sangat cantik"
"Hermione memang selalu cantik. Tapi harus kuakui dia begitu cantik saat ini." Astoria makin tersenyum. Bagitu pula dengan Draco. Keduanya sama-sama terlihat kompak. Astoria bahkan tidak menyadari Harry berlalu pergi. Pria aneh itu begitu cepatnya melangkahkan kakinya keluar. Ia seperti akan mati bila berlama-lama di pesta tersebut.
"Aku... Aku..." Ucap Hermione dengan suara bergetar dan penuh kegugupan. "Aku tidak pernah menduga ini. Maksudku...oh demi merlin! Aku bahkan tidak mencalonkan diriku. Rasanya benar-benar aneh aku menang. Aku mengira Parva yang akan menang. Aku serius Parva." Hermione menoleh pada Parva. Wanita india itu tersenyum. Ia tidak sedikitpun kecewa karena tidak menang. Sebenarnya bisa dibilang tidak ada yang kecewa, kecuali Lavender tentunya. Dia bahkan segera mendorong Neville dan bergegas pergi.
"Well ini tidak benar" Hermione meneruskan dengan suara sedih. Ia melepas mahkotanya. "Ini memang impianku tapi jika begini caranya aku tidak akan menerimanya. Aku tau pasti pilihan kalianlah yang lebih pantas"
"Pake itu Granger" Suara Draco yang memecahkan keheningan membuat semua mencari-cari keberadaanya. Lampu sorot segera terpancar kearahnya. Itu cukup menyilaukan hingga Draco setengah menutup matanya. Ia berjalan melewati kerumunan orang-orang. Hermione dapat melihatnya. "Kau pantas mendapatkannya. Aku memilihmu oke?"
"Aku juga" Astoria mengangkat salah satu tangannya tinggi-tinggi.
"Begitu pula aku" Parva mengangakat tangannya yang kemudian disusul oleh Padma."Aku sudah pasti memilihmu"
"Termasuk aku" Ucap Dorota dengan jauh lebih keras dibanding yang lain.
"Aku harus akui, aku pasti akan memilihmu Granger" Ginny tersenyum sambil ikut mengangkat salah satu tangannya.
"Kau kira kau saja. Aku juga" Jenny nampak tak mau kalah dengan Ginny. "Aku memilihmu Hermione" lanjutnya sukses memancing orang-orang melakukan hal yang sama. Semuanya satu-persatu kini telah mengangkat tangan mereka.
Draco berjalan kearah Hermione. Ia menaiki panggung dan tersenyum. "Kau pantas memakai ini Granger." Draco memakaikan kembali mahkota itu. "Kau sangat cantik"
"Dan kau menyebalkan" Hermione tiba-tiba menampar Draco. Orang-orang terhentak kaget melihatnya. Draco sendiri terkejut akan tamparan yang didapatkannya.
"Aku..."
Plak. Untuk kedua kalinya Hermione lagi-lagi menampar Draco. "Itu untuk membuatku menangis dan bersedih karena begitu merindukanmu"
"Well..."Draco kesulitan untuk berkata-kata. "Aku memang layak mendapatkan itu"
Senyum Hermione muncul. Ia kemudian merengkuh wajah Draco kearahnya dan mencium bibir prianya tersebut dengan kecupan bertubi-tubi. Blaise terdengar bersiul-siul yang kemudian disusul dengan sorak meriah. Suara musik mengalun lembut mengiringi kegembiraan. Satu persatu orang-orang mulai membawa pasangan mereka ke lantai dansa dan mulai berdansa diiringi dengan lagu saving all my love for you dari Whitney Houston.
Hermione menarik dirinya dari Draco. Wajahnya terus berseri ketika dengan erat tangannya masih merangkul leher prianya tersebut. "Aku benci dengan sikap menyebalkanmu" Hermione menunjukkan raut cemberutnya. Musik mengiringi pembicaraan keduanya.
It's not very easy, living all alone
My friends try and tell me, find a man of my own
But each time I try, I just break down and cry
Cause I'd rather be home feeling blue
So I'm saving all my love for you
Draco terkekeh sambil mempertemukan dahinya dengan dahi Hermione. "Aku melakukannya demi kebaikanmu"
"Aku tau apa yang terbaik untukku Malfoy. Aku sudah pernah katakan padamu bahwa akan percuma saja. Jawabannya akan selalu sama. Aku mencintaimu dan aku ingin kau selalu bersamaku."
Draco memejamkan matanya, terlihat sangat menikmati moment kebersamaan diantara mereka berdua. "Itu percis sama dengan apa yang kurasakan"
"Kalau begitu berhenti bersikap menyebalkan dan kumohon datanglah padaku"
Draco membuka matanya. Kedua matanya menatap lembut. "Sudah kulakukan. Aku datang padamu, Granger."
"Kau berjanji tidak akan pergi lagikan?" Hermione membalas tatapan Draco.
Draco mengangguk. Ia kembali tersenyum."Andaipun aku harus pergi aku akan mengajakmu. Kita akan selalu bersama iyakan?"
"Tentu saja" Hermione ikut mengangguk. Kedua matanya kembali di penuhi air mata. "Aku mencintaimu Malfoy"
"Aku lebih mencintaimu Granger" Ucap Draco sambil menarik Hermione turun dari atas panggung. Ia membawa kekasihnya tersebut kelantai dansa dan mulai merangkul pingganya dengan erat sementara Hermione sendiri tetap merangkul leher Draco. Keduanya saling tersenyum dengan kening yang saling bertemu. Musik nya begitu romantis. Semuanya terasa begitu sempurna ketika mereka mulai berdansa pelan, bergerak kekanan dan kekiri secara berirama.
No other women is gonna love you more
Cause tonight is the night
That I'm feeling alright
We'll be making love the whole night through
So I'm saving all my love
Yes I'm saving all my love
Yes I'm saving all my love for you...
"Mau pergi dari sini?" Tanya Draco ketika mereka telah berdansa hampir satu lagu penuh. Ia menyeringai. "Aku ada kejutan untukmu"
"Lagi?" Hermione menatap dengan pandangan terkejut.
"Biasankalah Love. Mulai sekarang aku akan sering memberikanmu kejutan"
"Kau memang selalu mengejutkanku, Mr Malfoy" Sahut Hermione tertawa gembira.
"I know" Draco ikut tertawa. "Ayolah!" Ia langsung memenggang tangan Hermione dan berlari keluar bersama-sama. Astoria melihatnya dan tersenyum sebagai respon. Sebagai sahabat ia pasti akan ikut berbahagia.
"Mau berdansa?"
Oh God...
Astoria menatap jengkel terhadap Cedric yang berdiri didepannya dengan menjulurkan tangan. Pria itu malah tersenyun makin lebar ketika Astoria melototinya. "Ayolah. Hanya sekali. Aku berjanji akan menjadi dansa yang memyenangkan"
"Jika tidak menyenangkan?"
Cedric tetap memamerkan senyumnya. "Aku akan membelikanmu cokelat sebanyak yang kau mau"
Astoria mau tak mau tertawa. Ia menerima uluran tangan Cedric dengan ekspresi berubah total. Dia jauh lebih terlihat gembira.
000
"Apa sekarang aku bisa membuka mataku?" Hermione bertanya ketika akhirnya ia dapat merasakan mobil sport hitam Draco berhenti. "Kita sudah sampaikan?"Saat itu kedua mata Hermione tertutup dengan dasi Draco.
"Jangan berani buka sebelum aku perintahkan!" Kata Draco memperingatkan. Ia turun dari mobil dan membukakan pintu untuk Hermione serta menuntunnya keluar. "Pelan-pelan" Lagi-lagi Draco memerintahnya.
Hermione tidak bisa menahan senyumnya. "Kau benar-benar tukang perintah heh"
"Kau lebih tau dariku Love" Draco ikut memasang senyum. Ia mengandeng tangan Hermione mengikutinya. Mereka berjalan menurun ke daratan yang jauh lebih rendah. Mobil mereka tertinggal diatas sana. Draco tampak bersemangat membawa Hermione ikut bersamanya. Sulit bagi Hermione mengikuti tiap langkah kaki Draco yang bersemangat itu. Apalagi dengan sepatu high heels seperti ini. Sepatunya memang indah, Hermione bahkan sangat menyukainya. Hanya saja jika untuk dipake ditempat seperti ini rasanya tidak pas. Hermione kesulitan untuk berjalan. ia juga bertanya-tanya kemana mereka ini sebenarnya. Draco sejak tadi menutup mulutnya jika ditanya. Ia akan menjawab itu kejutan. Tidak boleh diberitau. Dan dengan kedua mata yang juga ditutup Hermione sama sekali tidak bisa menebak kemana mereka sebenarnya pergi.
Suara air yang beradu yang terdengar bagaikan ombak membuat Hermione mulai menduga-duga. Ia mempertajam segala indranya khususnya indra penciumannya. Bau laut. Kening Hermione berkerut. Draco membawanya ke pantai? Itu hanya dugaan sementaranya. Lagipula aneh saja jika benar Draco membawanya ke pantai pada musim dingin seperti ini. Memang salju tidak turun tapi tetap saja aneh. Dugaan Hermione seakan diperkuat dengan angin yang semakin berhembus kuat.
"Ayo Love!" Ajak Draco tidak sabar akan rasa semangatnya yang menggebu-gebu.
"Malfoy pelan-pelan. Sepatuku membuatku kesulitan berjalan" Keluh Hermione. "Bisa aku membuka mataku saja?"
Draco berhenti berjalan. Keduanya sama-sama berhenti. "Jangan lakukan itu!" Jawab Draco tegas.
"Tapi..."
"Ayolah!" Draco lantas mengendong Hermione. Itu membuat Hermione memekik terkejut. Dengan begitu mudahnya Draco mengangkat tubuh Hermione berada di bahunya. "Sekarang kau tidak kesulitan lagi kan?"
"Demi apapun kau harus berhenti melakukan kebiasaan ini Malfoy. Aku serius!"
Draco terkekeh mendengarnya. "Benarkah?" Tanya Draco bermaksud menggoda. Pria itu pun melanjutkan jalannya. Seringaian menghiasi wajahnya ketika lagi-lagi ia berhasil membuat Hermione memekik kaget ketika bokongnya terkena tepukan tangan Draco.
"Owww...Malfoy! Demi merlin kau juga harus berhenti memukul bokongku!"
Draco tertawa terbahak-bahak."Kupikir kau menyukainya. Terakhir kali aku melakukannya kau langsung mengeram tak karuan dengan wajah memerah, dan napas tidak beraturan."
Wajah Hermione memerah secara alami. Ia merasa malu sekali. Draco benar-benar blak-blakkan mendeskripsikan bagaimana dirinya ketika berada dipuncak kenikmatan percintaan mereka. "Jangan menggodaku. Itu memalukan jika sampai didengar orang."
"Aku pastikan tidak akan ada yang mendengar kita" Draco tertawa. Dari kejauhan ia dapat melihat Dobby dan Jack. Mereka datang tepat waktu. Dobby memenggang sebuah kandang binatang pastinya. Masalahnya binatang apa itu? Draco tersenyum memikirkan betapa akan terkejutnya ketika Hermione melihat apa yang dia bawa sebagai kejutannya. Draco memberi tanda kepada Dobby dan Jack meninggalkan kandangnya hewan itu dan segera pergi.
"Boleh aku membuka mataku?" Tanya Hermione ketika Draco telah menurunkannya.
"Belum boleh" Jawab Draco kembali dengan suara tegas. "Ada yang harus kukatakan. Jadi kau harus dengarkan aku dulu!"
"Oke baiklah" Hermione menyetujui dengan suara yang berubah pelan karena begitu gugup.
"Granger" Draco memulai dengan memanggil namanya. Prianya itu menggenggam kedua tangannya erat "Aku telah cukup berpikir berulang-ulang akan keputusanku ini. Selama sebulan lebih tanpa bertemu denganmu dan benar-benar menyendiri, aku sadar bahwa itu menyiksaku. Rasanya aku sangat benci untuk berjauhan denganmu. Aku sudah cukup muak telah menunggumu dari usiaku 10 tahun hingga sekarang kau telah menjadi milikku. Aku sudah pasti enggak mau menunggu lagi. Aku mau bersamamu sepanjang waktu Granger. Itu pasti kedengaran egois. Tapi percayalah aku tidak bermaksud menghancurkan semua impianmu. Aku tau kau ingin kuliah di yale dan menjadi sukses bahkan melebihi ibumu. Aku akan mendukungnya Granger. Aku akan membantumu mewujudkannya. Itu tidak akan menjadi penghalang dalam hubungan kita."
"Malfoy" Suara Hermione bergetar begitu saja. Mendengar Draco berkata seperti itu pasti membuat setiap wanita bahkan rela saling membunuh hanya demi mendapatkan posisi Hermione. "Aku tidak akan mengambil universitas manapun bahkan yale sekalipun jika itu justru membuat kita perpisah dalam jarak ribuan mil. Aku akan tersiksa bila itu terjadi"
Draco tersenyum. Senyum yang bahagia. "Aku belum selesai bicara, Granger"
Hermione tetap bersikeras. "Aku tau maksud pembicaraanmu ini. Jangan diteruskan kumohon. Pendirianku akan tetap sama. Aku muak bila kita harus berpisah lagi."
"Kau sama sekali tidak tau maksudku love" Draco terkekeh. Ia lalu mengambil langkah untuk lebih dekat dengan Hermione. Sebuah kecupan lembut diberikanya pada kening Hermione. Senyum masih menghiasi wajah tampannya itu. "Dengarkan aku dulu oke? Aku berani bertaruh ini sama sekali tidak ada hubungannya dengan harus berpisah."
"Jadi ini tentang apa?"
"Ambil napasmu, Granger. Keep calm!" Draco tidak bisa tidak tertawa akan reaksi Hermione. Dia segera mengambil kandang hewan itu. Dengan hati-hati ia membukanya. Ia juga segera menahan napasnya. Bagaimanapun tiap kali ia mengendong kucing itu, yang ada Draco akan segera bersin-bersin. "Kau boleh buka matamu sekarang"
Hermione tentu tanpa berpikir untuk kedua kalinya segera membuka matanya. Kejutan yang enggak pernah terpikirkan olehnya tentu sangat berhasil membuanya terkesiap terkejut. Ia menutup mulutnya dengan tangan menahan teriakan gembira yang hampir saja ia lontarkan. "Oh ya ampun ini lucu sekali" Katanya segera mengambil kucing bertubuh gendut itu Dari Draco.
Apa yang baru saja dikatakan Hermione itu seratus persen benar. Kucing itu lucu sekali. Dengan bulu lebat bewarna coklat, ekor yang bergerak-gerak kekanan dan kekiri tanpa henti, tubuh gendut dan pendek serta yang paling menggemaskan bagi Hermione adalah hidungnya yang pesek.
"Aku tau ini masih terlalu awal untuk memberimu hadiah natal. Tapi aku sangat enggak sabar untuk melihat ekspersimu."
Hermione mendongak. Ia masih tersenyum. Bahkan tersenyum lebar sekali ketika tatapannya bertemu dengan Draco. "Oh Malfoy kucing ini lucu sekali. Lihatlah!" Hermione kini mengaruk-garuk sayang sekitar leher kucing coklatnya. "Dari mana kau tau aku sangat ingin memelihara kucing?" Hermione melihat kesekitarnya. Ia terpukau melihat suasana malam di pantai. Tak ada satupun kecuali mereka berdua serta si kucing tentunya. "Kau bahkan membawaku kepantai. Ini benar-benar percis seperti harapan yang kutulis di diaryku"
Draco menyeringai bangga pada dirinya sendiri. "Aku orang nomor satu yang mengenalmu Granger."
"Benarkah? Atau jangan-jangan semua kejutan ini karena Dorota?" Kedua mata Hermione menyipit curiga. Ada senyum jahil di wajahnya.
"Well..." Draco enggan mengakui. "Sedikit bantuan Dorota"
Tawa lolos keluar begitu saja dari mulut Hermione. "Sudah kuduga"
"Aishhhh kau ini" Draco cemberut kesal. "Berterimakasihlah"
"Trims Malfoy" Ucap Hermione dengan bibir maju kedepan seakan memberi Draco kecupan jarak jauh. Ia menggoda nya."Aku mencintaimu"
Draco tersipu malu. Hermione tertawa senang melihatnya. "Sayangnya..." Senyum Hermione menghilang. Draco menatapnya dengan bertanya-tanya. "Ibuku pasti tidak mengijinkanku merawatnya" Lanjut Hermione sedih.
"Kau mengkhawatirkan soal itu?"
"Tentu saja. Lihatlah dia bahkan kucing terlucu yang pernah kulihat" Hermione membelai-belai sayang kucingnya. "Apa yang harus kulakukan?" Hermione mendonggak menatap Draco.
Draco memamerkan seringaiannya. "Tinggalah bersamaku. Itu jalan keluarnya"
"Heh?" Hermione kehilangan pikirannya. Ia sulit mencerna ajakan yang baru didengarnya itu.
"Tinggalah bersamaku" Ulang Draco. Rautnya serius, pertanda dia tidak main-main. Hermione yang sudah sangat mengenalnya, tau ekspresi apa itu. "Ayo kita hidup bersama! Tinggal satu atap bersamaku, tidur seranjang tiap hari denganku, bahkan makan bersamaku Granger. Pokoknya apapun itu ayo lakukan bersamaku. Aku sudah bilang aku mau selalu bersamamu. Aku bahkan telah menyipakan apartemen kita di new haven." (Amerika, dekat dengan yale)
"Malfoy" Hermione semakin terkejut-kejut.
"Aku tau itu pasti terlalu cepat untuk kita. Tapi hanya itu yang biasa kupikirkan. Faktanya Granger, aku jauh lebih ingin melamarmu dan menikahimu. Hanya saja aku tidak mau bersikap egois sepenuhnya. Jadi kumohon jangan tolak aku dan tinggalah bersamaku."
"..." Untuk sekian kalinya Draco berhasil membuat Hermione sulit berkata-kata.
"Ayolah Granger!" Draco memohon ketika melihat Hermione hanya terdiam terpaku tanpa menjawabnya. "Jika kau menolak, aku tidak tau lagi apa yang harus kulakukan. Aku bahkan akan kerepotan bila harus merawat kucing gendut itu sendirian. Kumohon tinggalah bersamaku dan ayo rawat kucing itu bersama-sama."
"Astaga Malfoy...tentu saja!"
Hermione menerjang Draco dengan ciuman. Ia menarik kerah mantelnya dan membawa Draco menunduk tepat ke bibirnya. Hermione membuka mulutnya dan mengoda ujung bibir Draco untuk terbuka. Dia telah memejamkan kedua matanya ketika lidahnya membelai lidah Draco. Jantung Draco berpacu cepat. Hanya dengan berciuman bersama Hermione, Draco bahkan bisa menggeram puas. Mereka berdua larut akan perpaduan lumatan yang terjadi diantara bibir dan lidah mereka. Sama sekali tidak menyadari si kucing gendut yang terhimpit diantara keduanya. Tubuh itu bahkan semakin merapat ke satu sama lain untuk lebih dekat. Betapa malangnya kucing yang terlupakan itu.
"Meong"
Hermione sudah pasti tidak mendengarnya. Begitu pula Draco. Untunglah bagaikan terompet dari surga, suara bersin Draco menyelematkan si kucing dari himpitan. Diam-diam kucing itu bersyukur akan bersin-bersin yang terjadi pada Draco.
"Hachim...hachimm...hachim..."
Draco melepaskan dirinya dari Hermione dengan terbersin-bersin. Oh sialan pikirnya.
"Kenapa?" Hermione terlihat keheranan Draco tiba-tiba bersin-bersin. Draco bahkan melangkah mundur darinya ketika ia mendekat.
"Granger" Draco menutup mulut dan hidungnya dengan tangan. " Waktunya kucing ini kembali kekandangnya oke?" Ia segera mengambil kucing gendut itu dengan tangannya yang lain. Ia buru-buru memasukkannya kedalam kandang dan menutupnya. Penuh kelegaan Draco menghembuskan napasnya.
"Kau alergi kucing?" Tanya Hermione ketika menyadari apa yang terjadi. "Astaga Malfoy! Kenapa kau membelikanku kucing kalau begitu?" Hermione segera berjalan kearah Draco. Ia mengelus wajah kekasihnya tersebut. "Oh ya ampun malangnya pacarku ini"
"Ini bukan alergi yang buruk. Aku hanya akan bersin-bersin jika kucing gendut itu terlalu dekat denganku"
Hermione tertawa. "Berhenti menyebutnya kucing gendut. Namanya Crookshanks sekarang. Kau harus memanggilnya seperti itu"
Kening Draco berkerut tidak suka. Ia adalah pria paling pecemburu didunia ini, jadi jelas ia juga cemburu dengan Crookshanks. "Oh jadi sekarang kau lebih peduli padanya dibanding aku"
Kedua bola mata Hermione berputar mendengar nada cemburu dari Draco. "Ayolah jangan mengajakku beradu pendapat. Aku baru saja menerima ajakanmu tinggal bersama dan lagipula Crookshanks itu kucing pemberianmu. Jadi jangan cemburu padanya." Hermione tersenyum. Ia pun menunjukkan raut terimut andalannya ketika mencium bibir Draco yang cemberut. "Aku sangat mencintaimu dan kelewat sayang pada kucing kita"
Draco terkekeh disela bibir mereka yang bersentuhan. Dengan gairah yang meledak-ledak ke penjuru tubuhnya, Draco merengkuh wajah Hermione dan memiringkan kepalanya, mencoba memperdalam ciuman diantara dirinya dan Hermione. Ciuman yang mendalam terjadi diantara keduanya. Entah sampai kapan akan berakhir.
"Malfoy aku mulai kedinginan" Keluh Hermione ketika ciuman mereka berakhir. "Disini mulai semakin dingin. Aku bahkan tidak bisa merasakan jari-jariku" Hermione menunjukkan Jari-jari tangannya yang membeku kedepan Draco.
Draco terlihat tersenyum. Pria itu lantas merengkuh kedua tangan Hermione dan meniupkan napas hangatnya. "Bagaimana?" Tanyanya ketika tatapannya bertemu dengan tatapan Hermione.
Wajah Hermione memerah. Baginya itu tindakan yang begitu intim dan menggoda. Draco terlihat jauh lebih seksi. "Kau membuatku menginginkanmu"
Draco terbatuk-batuk mendengarnya. Tapi pria itu segera menyeringai. "Kau berhasil menggodaku dengan berkata begitu Granger. Kau harus bertanggung jawab sekarang juga" Ucapnya penuh kesenangan sekaligus gairah ketika membuat Hermione memekik kaget karena lagi-lagi berhasil diangkat begitu mudahnya kebahunya. Dalam posisi terbalik Hermione berteriak. "Malfoy!" Ia memukul-mukul tak bertenaga ke punggung Draco. "Turunkan aku! Oh ya ampun! Aku bisa jalan sendiri. Turunkan aku Malfoy!"
"Tidak disini Granger" Kekeh Draco. Ia juga menepuk nakal bokong Hermione. "Aku akan menurunkanmu di mobil dan kemudiam kita akan bercinta penuh gairah. Aku pastikan kau akan klimaks berulang kali dengan menyebut namaku"
"Oh boy kau terdengar mesum Malfoy"
"Tapi kau menyukainya, akui saja love!"
Wajah Hermione semakin merona. Kenyataanya itu benar sekali. "Astaga Malfoy kau benar-benar harus turunkan aku!" Pekik Hermione tiba-tiba berubah panik.
"Jangan harap love."
"Tapi Malfoy. Kita melupakan Crookshanks. Dia masih tertinggal disana. Dia bisa kedinginan Malfoy"
"Oh Shit" Lekas-lekas Draco menurunkan Hermione dan kembali berlari secepat kilat untuk mengambil kucing gendut mereka. Hermione sontak tertawa melihatnya. Draco yang bertingkah konyol memang sangat menggemaskan dan lucu. Bisa-bisa Hermione tidak akan berhenti tertawa jika mengingat kejadian malam ini.
000
Jingle bell... Jingle bell...
Jingle bell rock
Jingle bell swing
And jingle bell ring
Snowin' and blowin'
Up bushels of fun
Now the jingle hop has begun
...
Itu adalah lagu yang mungkin terlalu sering didengar akhir-akhir ini. Semua orang penuh suka cita menyambut natal. Seluruh london telah di hiasi dengan ornamen-ornamen natal yang sudah pastinya didominasi oleh warna merah dan hijau sejak jauh-jauh hari.
Draco untuk pertama kalinya merasakan kebahagian natal bersama orang yang ia cintai selain ibunya. Kemaren hari yang mengembirakan. Sehari sebelun natal, Hermione mengajaknya mengunjungi makam ibunya. Mereka membawa bunga dan berdoa. Lebih tepatnya Hermione memberikan doa yang begitu indah.
Malamnya mereka berdua makan malam bersama Mr dan Mrs Granger. Perlu diketahui Mr Granger datang langsung dari perancis. Setelahnya mereka semua pergi ke gereja. Itu sudah semacam tradisi dikeluarga Granger. Draco tidak keberatan untuk melakukannya. Dia justru menyukainya. Hari yang menyenangkan, namun harus diakui melelahkan. Jadi jangan heran ketika hari natal itu tiba, Hermione maupun Draco masih tertidur.
Draco memeluk Hermione yang meringkuk membelakanginya. Dengan mata masih tertutup, pria berambut pirang platina itu menempelkan dagunya pada bahu telanjang Hermione. Sebuah selimut menambah kehangatan mereka dari salju diluar sana. Senyum senang terpancar dari wajahnya ketika pelukan tangannya berubah jadi elusan. Perut lembut Hermione ia belai dengan pelan. Ia menyeringai menyadari Hermione masih sama telanjangnya dengannya. Semalam mereka juga melakukkannya. Itu mengairahkan sama seperti malam-malam lainnya. Hermione akan memejamkan kedua matanya rapat-rapat dengan wajah memerah, dan napas tidak beraturan ketika klimaks itu menyebar keseluruh tubuhnya. Memikirkan itu membuat Draco merasakan bagian sensitif antara selakangannya meneggang.
Penuh gairah di pagi hari, ia menciumi leher Hermione. Begitu pula dengan sekitar bahunya. Kekasihnya tersebut mulai bergerak-gerak menggeliat. Mungkin karena kegelian. "Bagunlah Love!" Suara Draco menggoda dengan berbisik.
"Emmmm" Hermione menggeliat menghindari ciuman Draco pada lehernya. Kedua matanya masih terpejam rapat-rapat. "Jam berapa sekarang?" Ia bertanya parau, benar-benar masih mengantuk dengan kedua mata yang tetap terpejam.
"Jam enam" Jawab Draco sama sekali enggak fokus. Ia terlalu sibuk merayu Hermione dengan cumbuan-cumbuannya.
"Oh demi apapun itu terlalu pagi untuk bangun" Hermione kembali menenggelamkan kepalanya dalam-dalam ke bantal. "Ngomong-ngomong selamat natal. Aku mencintaimu" Tambah Hermione sebelum akhirnya mulai kembali ke alam minpinya. Ia pastinya mengantuk berat.
"Selamat natal juga untukmu. Aku sangat-sangat mencintaimu love"
"..." Hermione tidak menyahuti. Ia terlalu mengantuk. Semalam cukup melelahkan, belum lagi Draco menyentuhnya berkali-kali. Rasanya jadi tambah melelahkan. Namun melelahkan dalam artian baik. Hermione harus akui ia suka setiap menitnya.
"Granger" Panggil Draco menghentikan cumbuan yang ia berikan."Bangulah! Jangan tidur lagi"
"Emmmmm" Sahut Hermione singkat dengan tetap memejamkan matanya.
Draco mencemberutkan bibirrnya. Ia juga mmemasang raut kesal. "Hadiah natalku mana?" Ia mencoba membuat Hermione untuk bangun.
"Semalam aku sudah memberikannya padamu. Jam tangan itu hadiah yang kuberiakan." Jawab Hermione mengantuk. Tidak sedikitpun dia merubah posisi meringkuknya ataupun membuka matanya. "Jadi biarkan aku tidur oke?"
"Granger" Draco terdengar merengek bagaikan anak kecil.
"Mmmmm"
"Aku lapar!" Draco tidak menyerah untuk mencoba membangunkan Hermione.
Hermione menghela napasnya. Ia merubah posisinya dengan berbaring terlentang dengan Draco yang telah duduk menghadapnya. Hermione membuka matanya. "Aku telah menyiapkan lasagna. Ada dikulkas. Kau bisa memanaskanya"
Draco terkekeh melihat Hermione tidak mengerti lapar apa yang dia dimaksud. "Aku lebih suka memakanmu love"Draco segera berada di atas Hermione dan mencium bibirnya. Hermione yang terkejut, membuka mulutnya begitu saja. Lidah Draco mengodanya. Ia terhanyut akan belaian tersebut. Hermione balas melumat bibir yang mengairahkan itu. Lidahnya dengan berani bermain dengan lidah lihai Draco. Leguhan keluar dari mulutnya ketika Draco memasukinya. Dalam sekali hentakkan ia bisa merasakan setengah dari bagian Draco memasukinya.
Gerakan yang begitu lembut dan perlahan selalu Draco lakukan ketika mulai memasuki kehangatan Hermione. Ia menghembuskan napas bersamaan dengan Hermione ketika merasakan kejantanannya masuk seluruhnya. Dia terdian sejenak dengan kedua mata terpejam. Rasa begitu mencintai menyebar ke seluruh bagian tubuhnya disaat pinggulnya bergerak.
Hermione mulai mengikuti irama yang mereka buat. Pinggulnya akan ikut bergerak ketika tiap kali pinggul Draco bergerak. Dahi mereka bertemu. Helaan napas keduanya saling menerpa wajah masing. Hermione mendesah nikmat seiring dengan pinggul Draco yang mulai bergerak cepat. Kedua tangannya terulur merangkul bahu Draco.
Suara meong yang tiba-tiba muncul dan berulang-berulang kali terdengar mengejutkan Draco dan Hermione. Itu Crookshanks dengan ekor yang bergerak tanpa henti kekanan dan kekiri. "Meong" Ia seakan memanggil kedua majikannya.
"Oh tidak, tidak boleh!" Teriak Draco cepat-cepat melepaskan dirinya dari Hermione ketika kucing mereka itu mendekat. Jujur saja diam-diam Draco memaki diri sendiri karena membiarkan pintu kamar terbuka. Pria itu turun dari ranjang dengan keadaan telanjang bulat. Ia terlihat begitu percaya diri dengan keadaanya itu. Dia mengambil Crookshanks dalam gendongannya.
"Hachim..." Seperti biasa Draco selalu bersin jika Crookshanks berada begitu dekat dengannya. Hermione yang masih berbaring di ranjang tertawa terbahak-bahak melihat itu.
"Dia pasti lapar Honey." Ucap Hermione disela-sela tawanya. "Dan hari ini giliranmu memberinya makan"
"Si gendut ini memang selalu lapar, bukan?" Draco berjalan keluar.
"Malfoy namanya Crookshanks!" Teriak Hermione marah namun tidak didengar Draco. Pria itu buru-buru keluar menghindari Hermione yang akan segera mengomel.
Hermione memutar bola matanya. Dengan rasa kantuk yang menghilang begitu saja, ia turun dari ranjang menuju kamar mandi. Hari ini adalah hari natal, tapi bukan berati hari untuk bermalas-malasan. Hari ini juga Hermione sebenarnya ada urusan yang harus ia selesaikan. Misalnya tentang pemilihan Queen bee selanjutnya. Setiap kekuasaan pasti ada masa turunnya dan sekaranglah Hermione harus menyerahkan mahkotanya.
"Bagaimana rasanya?" Tanya Hermione satu jam kemudian dengan tersenyum lebar melihat Draco melahap sarapannya. Wanita itu bahkan mencondongkan tubuhnya kedepan untuk mendekati Draco yang duduk disebrangnya. Prianya itu masih dalam keadaan bangun tidur dengan hanya memakai celana piyama, rambut acak-acakan dan sepenuhnya bertelanjang dada. "Enakkah?"
Draco mengangguk tanpa melihat Hermione. Saat itu ia sangat terlihat menikmati menyantap lasagna-nya. Perlu diketahui baru-baru ini pria berambut pirang platina itu sangat menyukai memakan lagsana ketimbang makanan lainnya.
Hermione kembali duduk dikursinya. Ia tetap tersenyum. "Kau tau, butuh perjuangan bagiku untuk bisa menyiapkan lasagna sesenak ini. Aku harus mengambilnya dari kulkas, memasukanya kedalam mikrowave, mengatur waktunya, menunggu dan mengeluarkannya hingga memotong dalam ukuran yang pas sampai akhirnya aku dapat menghidangkannya untukmu."
Draco yang sejak tadi mendengarkan ucapan Hermione itu langsung tertawa keras. Baginya itu benar-benar lucu, mengingat Hermione hanya tinggal memanaskan. Draco kemudian mencondongkan tubuhnya ke arah Hermione dan sebuah kecupan dia berikan tepat pada bibir kekasihnya itu. Senyumnya muncul ketika Hermione merengkuh wajahnya serta membalas kecupan yang diberikan dengan ciuman yang sebenarnya.
"Trims" Ucap Draco beberapa menit kemudian setelah kembali pada posisi duduknya.
"For what? Untuk lasagna-nya atau ciuman yang baru kuberikan?" Hermione menyeringai, entah kenapa kebiasaan Draco itu memulai tertular padanya semenjak mereka tinggal bersama.
"Dua-duanya" Pria itu ikut menyeringai. Tawa terdengar diantara keduanya. Terlihat begitu bahagia setelah semua masa-masa sulit yang telah mereka lalui. Butuh perjuangan untuk sampai pada moment ini.
Hermione menatap jam tangannya. Keningnya berkerut. Waktu benar-benar cepat berlalu, jika ia tidak berangkat sekarang ia akan telat. Hermione bangkit berdiri dan melepas celemek yang ia gunakan. "Mau kemana?" Tanya Draco ketika melihat Hermione berjalan keluar. Kekasihnya tersebut terlihat cantik. Selalu. Tidak peduli apapun yang ia kenakan. Termasuk seperti sekarang ini ketika ia menggunakan terusan polos selututnya yang bewarna krem serta stocking hitam.
"Hari ini pemilihan Queen Bee yang baru, kau tau itu kan?" Hermione berjalan menuju ruang tengah dan mengambil trench coat berwarna coklat serta tas chanelnya yang begitu serasi.
"Ini hari natal Love" Teriak Draco dari meja makan. "Haruskah hari ini?" Draco terdengar tak rela Hermione pergi.
"Honey itulah alasan terbesar kenapa harus hari ini. Aku akan langsung pulang, kau tidak perlu khawatir oke?" Sahut Hermione sambil memakai sepasang sepatu bootnya.
"Aku akan mengantarmu" Draco bangkit berdiri dan berjalan keluar menuju ruang tengah dimana Hermione telah bersiap-siap pergi.
Hermione menoleh kebelakang, tepat memandang Draco. "Aku sudah memesan taksi. Lagian hari ini kau harus mengajak Crookshank jalan-jalan. Kau tidak lupa itukan?" Ia tersenyum ketika Draco berubah cemberut. "Aku pergi" Ucap Hermione sebelum menghilang masuk kedalam lift. "Aku mencintaimu"
Draco menghela napasnya. Ia sangat berharap hari ini bisa bermalas-malasan bersama Hermione. Tapi nyatanya tidak. "Aku juga mencintaimu" Ucapnya sambil menatap lift tanpa berkedip.
"Meong"
Suara meongan dari Crookshank membuat Draco menatap kebawah, kearah kucing gendut itu kini bermalas-malasan dikakinya. Draco terkekeh. Betapapun menyebalkan dan menyusahkan Crookshanks, Draco dan Hermione terlanjur sayang padanya. Draco bahkan membelikan inisial C yang berarti Crookshank pada gelang Hermione.
"Ayolah kucing gendut, hari ini waktunya kita bersenang-senang" Draco mengendong Crookshank. "Kali ini kita hanya...hachim..." Seperti biasa Draco selalu bersin. "Berdua saja...hachim...Oh damn...Hachim..."
"Meong" Crookshank hanya bisa mengeong dengan khawatir.
000
"Aku tidak telatkan?" Hermione segera duduk bersama-sama dengan Astoria, si kembar india, dan juga levender di sebuah kafe dengan meja melingkar.
"Kau telat pun kami tidak akan marah. Lagipula itu akan menjadi telatmu yang pertama kalinya" Ucap Lavender langsung tersenyum meminta maaf ketika Hermione menatap tajam padanya. "Maaf" Tambahnya. Untung Hermione langsung mengalihkan tatapan darinya.
"Hey Bee" Astoria menyapa. "Selamat natal. Kau suka hadiah dariku?"
"Tentu saja" Jawab Hermione jujur. "Dan kutebak kau pasti sangat menyukai hadiah natal yang kuberikan, iyakan?"
Astoria tertawa mengingat foto dirinya dan Hermione yang berbingkai begitu indah sebagai hadiah natal. Belum lagi dengan sebuah tiket berlibur ke Bali sebagai hadiah tambahannya. "Aku serius ingin kau berangkat ke Bali bersama Cedric. Well sekedar info aku memberikannya tiket ke Bali juga sebagai hadiah natalku. Jadi angan biarkan dia pergi ke Bali sendirian"
"Oh ya ampun" Keluh Astoria lelah akan sikap Hermione yang terus berusaha menyatukannya dengan Cedric.
Lavender dan si kembar tertawa. Hermione ikut tertawa. "Selamat natal juga untuk kalian" Katanya disela-sela tawanya. "Kuharap kalian menyukai hadiah dariku"
"Tentu saja" Jawab ketiganya dalam satu suara yang kompak.
"So ayo kita lakukan musyawarahnya. Aku benar-benar tidak bisa berlama-lama"
Parva terkikik mendengarnya. Semua mata menatapnya, terutama Hermione. "Acara ini pasti membuat acara bermesraanmu dengan Malfoy terganggu, iyakan?" Tawa langsung terdengar menyusul. Astoria, Lavender, dan Padma tertawa.
"Ha ha ha Lucu sekali" Hermione menyahuti sinis. "Ayolah guys! Ini bukan karena hal itu."
"Tapi wajahmu memerah Hermione" Kali ini Padma yang berbicara. Tawa semakin menjadi-jadi.
"Oke cukup!" Hermione seketika menghentikan tawa dari Astoria, si kembar, dan juga Lavender. "Ayo langsung saja ke pengambilan suara. Little J atau Weasley Junior?"
Kedua nama itu memang dua kandidat yang tersisa setelah mengalami berbagai macam pertimbangan dintara kelimanya. "Kau Padma?" Hermione bertanya sambil menatap Padma.
"Aku sudah mempertimbangkan, kurasa Little J lebih bisa meneruskan Hogwarts club dan menjadi Queen Bee" Sungguh tidak terduga Padma tidak memilih Ginny, mengingat sekarang ia tengah berkencan dengan Ron.
"Kau Parva?"
"Aku sudah pasti Ginny. Little J dan sikap ambiusnya membuatku ngeri. Ginny jauh lebih baik. Dia orang yang sangat asik dan baik"
"Kau Lav?"
"Aku Weasley." Jawab Lavender membuat Hermione mengernyit sejenak. Bagaimanapun Hermione mengira dia akan memilih Little J, apalagi Lav sangat dekat dengan Jenny. Oh Hermione benar-benar baru mengerti jadi seperti itu ya perilaku baik didepan dan menjelek-jelekkan dibelakang. Lavender sangat mencerminkan hal itu. Kemungkinan besar dia tidak memilih Jenny pasti karena Jenny bukanlah dari kalangan atas.
"Dan kau As?"
"Emmmm..." Astoria berpikir dengan cukup lama terdiam tanpa suara. Kelemahan Astoria ia selalu kesulitan bila di beri pilihan. "Bisa aku tidak memilih?"
Hermione memutar bola matanya mendengar pertanyaan itu. "Kau harus memilih"
"Baiklah. Aku akan memilih Jenny saja" Jawabnya, sudah pasti lebih karena Harry. Semua mata kembali terfokus pada Hermione. Hermione menghela napasnya. Skornya dua sama. Sekarang Jawabannya yang akan menjadi penentu. Dua pilihan Jenny atau Ginny. Masing-masing ada kelebihan dan kekurangannya.
Jenny dengan sikap ambisius, gigih, pandai berbicara, teroganisir, rapih dalam segala hal, dan mempunyai bakat yang tidak bisa dibilang sedikit. Sayangnya dia tidak memilki nama keluarga yang terpandang, ia juga berasal dari kelas bawah. Sedangkan Hermione tau, tidak ada dalam sejarah Hogwarts Club, Queen Bee mereka dari kelas yang lebih rendah.
Sedangkan Ginny 180 derajat berbeda, dia sangat berbakat untuk menarik perhatian orang-orang, dia ceria, menyenangkan karena sikap masa bodonya, bebas, blak-blakan, dan dia dari kelas atas. Tapi dia orang yang sangat semaunya. Menurut Hermione itu kekurangan terbesarnya. Bagaimana pun seorang Queen Bee harus menjadi panutan.
"Bee?" Suara Astoria menyadarkan Hermione. Sahabatnya itu kembali menghela napas sebelum bicara.
"Setelah kupikir-pikir aku tetapkan pilihanku pada Little J"
"Wow itu sangat mengejutkan" Gumam yang lainnya terkejut. Mereka awalnya mengira Hermione akan memilih Ginny. Bagaimanapun Little J pernah mencari masalah dengan Hermione, sedangkan Ginny, dia justru membantu Hermione untuk bersama kembali dengan Draco. Jadi tentu mengejutkan Hermione memilih Jenny.
"Untuk pertama kalinya Queen Bee berasal dari dari kalangan bawah" Guman Lavender tidak terlalu senang pemenangnya Jenny.
"Aku yakin dia bisa walau dia dari kalangam bawah" Hermione bangkit berdiri. Ia telah mengambil tasnya. "Nah, ini waktunya memberi tau Little J. Kuserahkan pada kalian. Jangan lupa berikan ini" Hermione mengambil kotak perhiasan yang berisi kalung berbentuk kunci dari dalam tasnya. Itu sudah turun menurun diwariskan.
Hermione berjalan keluar. Ia tengah menunggu taksi ketika handphonenya berdering. Ada panggilan masuk. Kening Hermione mengerut mengetahui nomor tidak dikenal meneleponnya. Siapa itu?
"Hallo?" Angkat Hermione ragu-ragu.
"Ini kau Granger?" Oh Hermione langsung tau siapa yang meneleponnya.
"Oh ya ampun! Aku jujur bertanya-tanya kapan kita saling bertukar nomor handphone Freak?"
"Aku mencuri nomor handphonemu dari adikku"
Hermione tertawa kesal. "Ada apa kau repot-repot mencuri nomorku hanya untuk bisa meneleponku seperti ini?"
"Eu... ada yang ingin kubicarakan"
"Bicaralah"
"Tidak melalui telepon seperti ini Granger. Kita harus bertemu karena ini penting"
Hermione mendegus kesal. "Sepenting apa heh? Jujur saja saat ini ada aku ada urusan yang lebih penting"
Untuk kali ini Harry terdengar mendengus. Nada suaranya pun berubah. "Jika urusan penting yang kau maksud adalah bermesraan dengan Malfoy, kau bisa lakukan itu nanti Granger. Aku serius mengatakan ada hal penting yang ingin kukatakan dan kau perlu tau. Datanglah ke resto italia waktu itu. Aku akan menunggumu" Harry segera mematikan handphonnya. Hermione mendengus jengkel. Enak saja Potter Freak itu memerintahnya! Dia pikir dia siapa bisa bersikap seperti itu pada Hermione Granger.
"Kupikir kau sudah pergi sejak tadi Bee" Astoria menepuk bahu Hermione. Hermione menoleh terkejut kepadanya. "Oh boy As! kau mengejutkanku"
Astoria nyengir. "Ada apa heh sehingga kau belum juga datang kepelukkan priamu?"
Hermione memutar matanya. "Salahkan si Potter yang kau sukai itu. Dia baru saja meneleponku"
"Benarkah?" Astoria tentu terkejut apalagi selama beberapa hari ini Harry menjadi sulit untuk ditemui dan di hubungi. Tapi sekarang dia malah menelepon Hermione? "Apa yang dia katakan?"Astoria mencoba tersenyum.
"Well dia mengajakku bertemu. Dia benar-benar menyebalkan karena berani mengucapkan itu dengan nada memerintah" Hermione menggelengkan kepalanya mengingat itu. " Demi apapun dia membuatku kesal. Ada baiknya kau saja yang menemuinya As."
"Heh? Aku?"
Hermione mengangguk. "Dia ada si restoran italia dekat dengan queen walk's. Kau pasti tau tempat itu."
Dert...dert...dert...Handphone Hermione yang lagi-lagi bergetar membuat helaan napas kesal dari Hermione. Ia mengira itu dari Harry lagi. Ia hampir mengangkatnya dengan bentakkan. Untung itu tidak terjadi.
"Hey Honey!" Itu Draco. Jelas suara Hermione berubah menjadi lembut saat menyapanya.
"Kau sudah selesai dengan acara pemilihan Queen Bee mu itu?"
Senyum ceria muncul dari wajah Hermione. "Kenapa heh? Kau merindukanku?"
"Aku sudah pasti merindukanmu. Jadi datanglah ketaman. Aku berada disini bersama Crookshanks. Kucing gendut ini jauh lebih merindukanmu sepertinya"
"Malfoy" Hermione memanggil marah, karena Draco lagi-lagi menyebut kucing gendut pada Crookshanks.
Draco terkekeh. "Aku tunggu kau. Sampai ketemu ditaman. Aku mencintaimu Love"
Senyum Hermione makin melebar. Ia langsung berpamitan dengan Astoria dan mulai berjalan terburu-buru ketaman yang dimaksud. Kelihatannya Hermione bahkan tidak ingat lagi dengan Harry.
000
Astoria dengan ragu turun dari taksinya tepat didepan restoran yang Hermione maksud. Banyak sekali pengunjung yang tengah menikmati makan siang mereka. Astoria menjadi kesulitan mencari keberadaan Harry. Keningya berkerut mencari-cari, melihat kekanan dan kekiri. Tapi hasilnya nihil.
"Bisa saya bantu miss?" Seorang pelayan pria bertanya padanya.
Astoria tersenyum ramah. "Aku mencari temanku. Kami janjian disini. Dia pria berkaca mata, dengan rambut hitam legam yang acak-acakkan dan oh iya ada semacan luka didahinya."
"Oh" Pelayan itu merespon tau. "Dia telah berjam-jam duduk tanpa memesan. Rupanya dia menunggu anda" Pelayan itu tersenyum kecewa.
"Bisa kau antar aku ke mejanya"
"Dia tadi duduk disitu" Pelayan itu menunjuk kesuatu arah. Astoria tetap kesulitan melihat karena saking banyaknya orang.
Astoria kembali tersenyum ramah dan berjalan kearah yang dimaksud. Perasaanya berubah tidak karuan. Jantungnya berpacu makin lama makin cepat. Ia hampir sampai. Oh rasanya campur aduk untuk Astoria. Ini pertama kalinya lagi As dapat bertemu dengan Harry.
Ia berusaha menunjukan senyum tapi rasanya jadi percuma ketika yang ia lihat meja itu kosong. Tidak ada sama sekali Harry. Astoria menghenbuskan napasnya sedih. Ia menyalahkan dirinya sendiri karena terlalu lama untuk memutuskan kemari. Ini sudah berjam-jam, wajar saja Harry pergi. Dengan lemas Astoris memutuskan duduk. Dia gagal menemui Harry. Rasanya menyedihkan. Semakin terlihat menyedihkan ketika ia melihat sesuatu diatas meja.
Sebuah foto. Ada dirinya, Harry, dan Hermione waktu kelulusan. Astoria ingat foto itu. Air matanya langsung keluar begitu saja. Firasat yang begitu ia takutkan kini terjawab sudah. Firasat itu sangat akurat. Foto itu buktinya. Fotonya telah terbelah manjadi dua bagian. Menjadi bagian terpisah antara gambar Astoria seorang diri dengan Harry yang bersama Hermione.
Oh God...
Enggak mau mempermalukan dirinya, Astoria bangkit berdiri dan segera keluar. Ia mengelap air matanya sebisanya dengan tangan-tangannya. Menyedihkan sekali baginya.
"As"
Astoria terlonjak kaget melihat Cedric didepannya. "Ced? Bbbbagaiman kau..."
"Aku mengikutimu. Maaf untuk itu. Tapi aku memang khawatir."
Buru-buru Astoria kembali mengelap air matanya. Ia tau itu percuma. Tapi dia bersikeras enggak mau terlihat menyedihkan dihadapan Cedric. "Kau tak perlu sampai mengikutiku. Aku tidak dalam bahaya apapun"
Cedric menghela napasnya. "Ayo lupakan Potter dan mari datang padaku As. Ayo pergi ke Bali bersamaku. Disana mungkin kau bisa merubah pikiranmu tentangku. Aku serius mencintaimu"
"..." Astoria diam saja. Saat ini ia sedang kacau dan begitu patah hati. Mendengar ajakan Cedric tentu siapapun akan tergoda. "Aku..."
Dering Handphone yang berbunyi harus memotong ucapan Astoria. Handphonenya dan Handphone Cedric secara bersamaan berbunyi. Itu merupakan email masuk.
"Jika kalian ingin tau siapa aku? Datanglah ke club Zabini. Kurasa itu tempat yang pantas untuk membuka jati diriku yang sebenarnya. Kalian akan menyesal bila tidak datang. Jadi pastikan untuk datang. XOXO. YOU KNOW YOU LOVE ME. LONDON GOSSIP."
000
Hampir seluruh murid Hogwarta mendapatkan email itu dari London Gossip. Seketika itu juga semuanya berbondong-bondong datang ke klub milik Blaise. Mereka semua terlihat tidak peduli lagi dengan kehangatan bersama keluarga di hari natal. Mengetahui identitas siapa itu sebenarnya London Gossip jelas lebih sayang untuk di lewatkan. Itu sangat penting.
Hampir di saat bersamaan semuanya kompak tiba di klub Blaise. Si pemilik klub pun bahkan baru saja datang. Ia jujur saja sangat penasaran. Semua orang telah berkumpul di dalam. Suara musik yang mengalun lembut menjadi tidak terdengar karena hampir seluruh orang-orang sibuk berdiskusi.
"Aku tidak percaya seorang Zabini tertarik juga dengan London Gossip?" Sindir Draco melihat sahabatnya itu dengan tertawa.
Blaise melototinya. "Sedangkan kau sendiri apa yang kau lakukan Drake? Jelas-jelas kau juga datang"
"Aku datang karena Hermione langsung menarikku secara paksa untuk kemari. Gara-gara situs bodoh itu, acara kencanku dengannya gagal total"
Blaise terkekeh. Theo yang baru muncul bersama Parva datang menghampiri. Parva sendiri buru-buru menghampiri Hermione Cs disebrang sana. "Demi merlin London Gossip ini menyebalkan. Dia menghancurkan acara kencanku" Keluh Theo membuat Blaise kesal karena kini kedua temannya mengeluh karena gagal kencan.
"Apa hanya aku satu-satunya pria yang jomblo heh?" Blaise mengeluh keras. Theo dan Draco kompak tertawa.
"Damn it" Pekikan penuh kesal juga datang dari Cedric ketika dia menghampiri ketiga sahabatnya itu. Astoria yang datang bersamaya segera berlari kearah Hermione Cs. "Gara-gara London Gossip ini, Astoria tidak jadi mengatakan iya untuk ajakkanku. Itu menyebalkan bukan?"
"Kaulah yang lebih menyebalkan" Sahut Blaise sambil melototi Cedric. "Jujur saja kalian bertiga ini menyebalkan" Lanjutnya malah membuat Draco dan Theo semakin tertawa. Sedangkan Cedric menatap tidak mengerti.
"Kita harus memberikan London Gossip itu pelajaran. Situs bodoh itu telah mencuri semua privasiku" Ucap Astoria berapi-api. "Aku akan menamparnya berkali-kali dan menjambaknya hingga rambutnya rontok semua. Aku benar-benar..."
"Oh ya ampun As" Hermione segera menyela sebelum semua makian kasar keluar dari mulut Astoria. Bagaikan ibu yang melindungi anaknya dari pengaruh buruk, Hermione menutup teligga Crookshanks yang kala itu sedang berada di gendongannya. "Crookshanks bisa mendengarnya"
"Hermione dia hanya kucing" Astoria terdengar semakin marah karena Hermione sama sekali tidak terlihat kesal pada London Gossip.
"Oh ayolah girls" Ginny segera menghentikan perdebatan yang akan segera terjadi diantara Hermione dan Astoria. "Ada baiknya kita tidak berkelahi."
"Sangat setuju" Sikembar india Lavender, serta queen bee baru Little J kompak menjawab. Hermione dan Astoria saling mengangguk menyetujui.
"Dimana dia sebenarnya?" Astoria kembali bertanya dengan berapi-api. "Kenapa dia belum datang-datang juga?"
"Apa dia tidak jadi datang?" Tanya Lavender.
"Iya itu mungkin saja" Jenny akhirnya menyahuti. Sang Queen bee baru itu terlihat tenang menghadapi persoalan ini.
"Dia keterlaluan jika dia tidak datang." Geram Astoria terlihat menjadi orang yang paling kesal diantara semuanya.
"Aku paling enggak suka menunggu. Aku benci menunggu." Guman Hermione pelan sambil membelai sayang Crookshanks.
"Tunggulah sebentar lagi Bee. Aku punya firasat dia akan datang. Akhir-akhir ini entah kenapa firasatku selalu benar" Astoria langsung teringat akan firasatnya yang mengatakan Harry menyukai Hermione. Dan ternyata itu benar. Binggo.
"Oh lihatlah ada yang datang!" Astoria segera menunjuk kearah pintu yang terbuka. Semua perhatian tertuju pada pintu itu. Satu yang langsung terdengar keluar dari mulutnya mereka hanyalah kata "TIDAK MUNGKIN"
Harry menatap heran orang-orang yang menatapnya. Hermione bahkan langsung menghampirinya dan menamparnya. "What the fuck denganmu Freak.!"
"Ada apa Granger?" Tanya Harry sambil mengelus pipinya yang tertampar. Hermione mendegus dan kembali memberikan tamparan yang keras pada pipi Harry yang satunya lagi. "Bahkan tamparan ini enggak akan pernah setimpal setelah apa yang telah kau lakukan pada kami semua"
Orang-orang beteriak setuju penuh amarah. Khususnya para kaum wanita. Para pria sebagian masih terheran-heran dan tidak menyangkan London Gossip adalah seorang pria, parahnya lagi itu adalah Harry potter. Begitupula dengan Astoria. Ia jatuh berlutut tidak bertenaga.
"Berani-beraninya kau membuat situs sialan yang membicarakan kami dan membocorkan semua privasi kami. Itu melanggar hukum Potter. Kami semua bisa memasukkanmu kedalam penjara sekarang juga."Hermione hampir menjambak rambut Harry dan melakukan semua yang Astoris sebutkan beberapa saat lalu. Ia sangat ingin lakukan itu. Untung Crookshanks masih ada dalam gendongannya, hingga ia tidak sampai melakukannya.
"Kau mengira aku London Gossip?"
"Kenapa kau bertanya balik begitu? Jangan berpura-pura. Semuanya sudah jelas. Kaulah London Gossip itu" Hermione semakin terlihat emosi. Sorakan setuju kembali terdengar. Mereka secara kompak memaki-maki Harry.
"Demi merlin! Kalian salah mengira orang"
Hermione hanya mendengus mendengarnya. "Lalu kenapa kau keluar dari pintu itu?"
"Apa salahnya keluar dari pintu itu? Memang selalu harus lewat pintu depan heh?"
"Berhenti mengelak dan mengakulah Potter. London Gossip mengirim email bahwa dia akan masuk lewat pintu belakang dan kau masuk lewat pintu belakang!"
Lagi-lagi yang lainnya berteriak kompak mengatakan iya dengan keras. Harry dibuat tidak berkutik. Rasanya ia pasti akan segera diadili dan mati. Seluruh orang-orang ini terlihat mengamuk.
Dert...dert...dert...
Suara Handphone yang bergetar dan disusul dengan nada dering yang kemudian secara berturut-turut terdengar hampir di seluruh Handphone setiap orang membuat mereka semua sibuk akan handphone masing-masing. Sudah bisa ditebak ada email masuk dari London Gossip. Ini semakin mengherankan.
"Oppppps maaf tapi aku tidak bisa datang. Dari kejauhan aku dapat melihat kalian telah repot-repot berbondong-bondong datang, tapi sayang sekali aku tidak bisa datang. Kalian sangat terlihat bagaikan pembunuh-pembunuh sadis. Aku bisa kehilangan nyawaku jika aku datang. Terserah kalian mengira aku pengecut, tapi inilah aku. Aku akan menyesal jika harus mengakhiri ini semua. Aku cinta dengan situs yang kubuat. So tanpa memikirkan kalian setuju atau tidak? Aku akan tetap menjadi orang yang tidak pernah diketahui oleh siapapun. Aku cinta kalian dan kalian juga cinta aku. Mari kita bersama-sama kembali. Aku akan selalu menjadi tempat ter-update kalian dalam mengetahui info terbaru dari Bee, A, D, C dan orang-orang disekitar mereka. Jadi bagi kalian berempat, jangan marah bila aku menghantui kehidupan kalian. Percayalah itu bukti sayangku pada kalian. XOXO. YOU KNOW YOU LOVE ME. LONDON GOSSIP."
"Kalian baca itukan?" Tanya Harry sebenarnya ingin berteriak marah. Khususnya pada Hermione yang telah menamparnya dua kali. "Kau mau berkata apa Granger? Jelas-jelas tuduhanmu itu tidak ada yang benar"
"Aku..." Hermione kesulitan untuk berbicara. Ia ingin mengubur dirinya dalam-dalam saat ini.
"Kau harus meminta maaf padaku?"
"Baiklah!. Aku minta maaf, puas?" Hermione terdengar lebih marah dibanding Harry.
Harry mendegus kesal."Yang seperti itu kau sebut meminta maaf?" Untuk pertama kalinya Harry membentak seorang wanita. Sialnya wanita itu adalah Hermione.
"Dia sudah meminta maaf Potter" Draco datang menyusul. Ia langsung mendekap Hermione kedalam pelukkannya.
"Itu bukan meminta maaf namanya!"
"Bersyukurlah dia setidaknya meminta maaf padamu" Geram Draco menahan amarahnya. Dengan begitu posesive Draco mengajak Hermione yang masih terkejut berbalik pergi. Suara meriah langsung terdengar ketika Blaise yang naik keatas meja bar berteriak. "Ayo berpesta! Minum dan makanlah sepuasnya. Kalian tidak perlu membayarnya!." Blaise memang sangat tau bagaimana caranya untuk merubah suasana menjadi menyenangkan.
"Yeahhhhhh!" Suara musik yang terdengar nge-beat membuat semua melupakan apa yang baru terjadi. Tapi tidak untuk Harry, Astoria, Hermione, Draco dan Cedric.
Harry bahkan masih kelihatan marah. "Kau harus bertangung jawab karena telah menamparku" Ucap Harry kepada Hermione yang berjalan pergi bersama Draco. Sontak kedua pasangan kekasih itu berhenti ditempatnya. Draco segera berjalan kearah Harry dengan tenang, namun wajahnya penuh kemarahan ketika mencengkeram kerah baju Harry. "Apa maumu Potter, Aku bisa mengganti rugi sebesar yang kau mau. Sebutkan saja berapa?"
Harry tertawa kesal. "Lagi-lagi uang. Apa orang-orang sepertimu hanya bisa mengandalkan uang heh?"
"Kau benar-benar..." Draco hampir memberikan tinjunya pada Harry, tapi tertahan karena Hermione berteriak histeris.
"Malfoy jangan!" Hermione datang menhampiri. Ia melepaskan tangan Draco dari Harry."Kumohon!" Suara Hermione melembut. Draco menghela napasnya. Orang-orang terdiam melihat kejadian itu.
"Aku akui aku salah Potter. Aku minta maaf. Sangat-sangat meminta maaf. Aku tulus mengatakan itu"
"..."Harry diam saja. Ia tidak tau harus berkata apa? Hermione memang kelihatan tulus.
"Ayo kita pergi oke? Kita masih ada kencan yang harus kita lakukan. Lihat Crookshanks kita bahkan terlihat sedih" Ucap Hermione kepada Draco. Andai Hermione melihat ekspersi dari Harry sekarang ini. Ia akan tau pria berkaca mata itu terlihat cemburu padanya. Hermione sayangnya malah sibuk mengelus-ngelus Crookshanks. Tapi sepertinya tidak untuk Draco. Ia melihatnya secara jelas.
"Ayolah Malfoy!" Ajak Hermione kembali. Draco menghela napasnya dan merangkul Hermione pergi. Rasanya ia ingin sekali meninju Potter. Berani-beraninya pria aneh itu melirik wanitanya. Hermione hanya miliknya. Yeah hanya miliknya. Memikirkan itu membuat Draco tidak tahan. Ia tiba-tiba membalikkan badannya dan mencengkran baju Harry untuk kedua kalinya
"Malfoy!" Pekik Hermione begitu kaget dengan apa yang dilihatnya. Ini benar-benar menjadi tontonan yang menarik untuk orang-orang.
Draco menghiraukan Hermione. Dengan kemarahan yang ditahan, Draco bicara penuh ancaman kepada Harry. "Aku akan menghajarmu jika kau berani menatap seperti itu lagi pada wanitaku. Aku serius Potter"
"Apa-apaan kau ini? Kau bahkan bukan suaminya Malfoy. Berhenti bersikap bahwa Granger milikmu"
"DIA MEMANG MILIKKU" Cengkraman Draco makin kencang. "Berhenti menyukainya!"
"Tapi aku menyukainya. Kau mau apa?"
"Fuck!" Draco langsung meninju keras hidung Harry dan membuatnya tersungkur jatuh. Cukup sudah. Hermione berjalan penuh amarah melihat apa yang dilihatnya.
"Oh demi apapun! Apa yang kalian lakukan?"
"Kau tak dengar apa yang baru si aneh ini katakan?" Tanya Draco tentu masih kesal.
Hermione menghela napasnya. Ia menatap jengkel kerah Harry yang telah bangkit berdiri dengan hidung yang penuh dengan darah yang mengalir. "Apa-apan kau mengatakan itu heh Potter? Jangan berani-beraninya kau mencoba membalas tamparan yang kuberikan dengan menghancurkan hubunganku dengan Draco. Apa kau mengerti itu?"
Harry menatap serius Hermione. "Aku serius menyukaimu Granger. Itulah hal penting yang ingin kukatakan"
Hampir semua orang terkejut mendengarnya. Tapi tidak untuk Astoria. Dia sudah tau. Sialnya itu masih menyakitinya.
"Maaf tapi aku tidak menyukaimu. Buang saja perasaanmu itu dariku. "Hermione berbalik pergi kearah Draco. Ia segera merangkul tangan kekasihnya tersebut dan sama sekali tidak peduli pada Harry. Yeah itu memang kelihatan kejam. Harry sangat salah untuk menyukainya.
"Ayo kembali berpesta!" Kali ini Astoria yang berteriak dari atas meja. Dia sudah bertekad untuk melupakan rasa patah hatinya. Orang-orang langsung bersorak untuknya. "Dan Ced" Ia kemudian menatap Cedric. "Ayo ke Bali bersamaku" Dengan bergebu-gebu, Astoria turun dari atas meja itu dan segera berlari kearah Cedric kemudian menerjangnya dengan ciuman yang sudah pasti akan dibalas Cedric.
Suara bersorak-sorak kembali semakin menjadi-jadi melihat sepasang kekasih baru itu. Benar-benar ini natal tergila. Blaise akui itu.
000
Dorota menggelengkan kepalanya dengan keheranan melihat nona kesayangannya baru saja mengacak-ngacak seluruh pakaiannya. Entah ada angin apa Hermione pulang dan segera sibuk mencari-cari baju. Sekedar info, Hermione memang sudah pindah ke apartemen Draco, namun sebagian besar pakaiannya yang begitu banyak itu masih berada dengan rapih di mol pribadinya.
"Miss mione" Dorota memanggil ketika melihat kamar nonanya tersebut sangat sepi. Kemana dia?
"Aku didalam kamar mandi Dorota" Teriak Hermione dari dalam kamar mandi.
"Kau sudah memilih pakaian-pakaianmu?"
"Sudah. Pakaianku yang kuletakkan diatas ranjang itu tolong kau masukkan kedalam koper"
"Baiklah" Dorota tersenyum dan segera mengemas semua pakaian itu. Hari ini Draco baru saja memberikan kejutan pada Hermione dengan mengajak berlibur ke New york. Itu sangat mengejutkan. Draco memang tidak pernah berhenti mengejutkannya bukan?
"Miss mione?" Dorota begitu heran dan bertanya-tanya ketika melihat raut wajah Hermione yang baru keluar dari kamar mandi itu. "Kau kenapa?"
Hermione menggeleng. Ia kembali mengelap sisa air matanya dan tersenyum sangat gembira. "Tidak ada apa-apa Dorota."
"Lalu kenapa kau menangis?" Dorota segera menghampiri dan berdiri dihadapan Hermione. "Katakan saja padaku! Ada masalah apa?"
Hermione malah semakin tersenyum. "Ini bukan masalah Dorota. Ini justru anugerah bagiku dan Draco. Aku benar-benar bahagia. Oh ya ampun ini memang terlalu cepat dan sangat mengejutkan, tapi..."
Kening Dorota berkerut tidak mengerti apa yang sebenarnya dibicarakan Hermione. "Tapi apa?"
"Tapi aku bahagia" Air mata turun dari wajah Hermione. Itu sama sekali bukan air mata sedih. Jelas itu air mata terharu. "Aku memang belum yakin. Ini sungguh...Oh ya ampun aku sangat bahagia."
"Kau membuatku tidak mengerti" Ucap Dorota begitu jujur.
"Aku akan memberitaumu ketika aku sudah tau secara pasti oke?"
Dorota mengangguk, tapi tetap tidak mengerti apa yang sebenarnya terjadi. Sebelum sempat ia bertanya lebih lanjut, pintu kamar terbuka dan Draco menghampiri.
"Sudah selesai Love?" Tanyanya dengan menyeringai.
Hermione berlari kearahnya. Draco langsung menangkapnya dan membawanya berputar-putar. Dorota tersenyum melihat tingkah pasangan kekasih itu.
"Aku mencintaimu" Ucap Hermione ketika Draco telah menurunkannya.
"Dan aku lebih mencintaimu" Sahut Draco segera mengambil koper Hermione. "Trims Dorota" Ucapnya sambil tersenyum
"Tentu saja tuan Draco"
Hermione kemudian menghampiri Dorota dan memberikan kecupan sayang pada pipinya. "Aku akan membawakanmu oleh-oleh Dorota"
"Pastikan bawa yang banyak untukku oke?"
"Pastinya" Jawab Hermione segera merangkul salah satu tangan Draco. Keduanya pergi keluar dan menghilang dari pandangan Dorota.
Dorota sejenak masih tersenyum, sebelum akhirnya berubah menjadi menghembuskan napas melihat kekacauan dikamar Hermione ini. Dengan cemberut dia mulai merapihkan. Menjengkelkan sekali harus bersih-bersih. Wajah cemberut Dorota tetap tidak hilang begitu saja. Sekarang ia harus mengambil tempat sampah dikamar mandi. Itu hal yang paling malas untuk dia lakukan.
Dorota masuk kedalam kamar mandi Hermione. Ia masih cemberut. Dorota bersyukur karena kamar mandi mewah yang didominiasi oleh warna putih itu tidak berantakkan. Ia tersenyum tentunya.
"Kenapa ini ada disini?"
Pertanyaan itu yang langsung terlontar dalam benak Dorota ketika melihat suatu benda yang tidak asing lagi untuk setiap wanita. Ia mengambil sebuah testpack dari tempat sampah. Ia melihatnya baik-baik. Bahkan berulang kali. Tanda garis merah yang terdiri dari dua garis yang membentuk tanda positif tersebut tidak berubah-ubah walau Dorota berulang-ulang melihatnya. Oh ya ampun...
Apa itu artinya...Oh God...Ini seakan menjelaskan semua omongan Hermione tadi.
"Miss Mione" Gumam Dorota begitu pelan, bahkan bisa dibilang hampir tidak terdengar. Itu membahagiakan, namun itu akan terlalu cepat jika memang terbukti benar. Dengan wajah yang sulit di artikan, Dorota segera menyembunyikan testpack itu kesaku bajunya. Mrs Granger tidak boleh sampai tau. Setidaknya Hermione sendirilah yang harus memberitaunya. Yaeh Hermione sendiri yang harus memberitaunya. Dan yang terpenting lagi ia harus segera memberitau Draco.
000
London Gossip Net
Sebelum
Selanjutnya
Ajukan pertanyaan
Email masuk
Foto
P.S : Semua nama tempat, orang, dan peristiwa asli telah diubah atau disingkat demi melindungi pihak yang tidak bersalah, yaitu aku.
Who am I ? That's a secret I'll never tell...
Hey girls and maybe boys
Selamat datang di London Gossip, yang akan selalu menjadi paling depan mengetahui info mengenai Bee, As, D, C, dan orang-orang disekitar mereka.
Ini Jujur kukatakan tahun yang menyenangkan. Semua kejutan ada ditahun ini. Pasangan-pasangan baru pun ada di tahun ini. Mulai dari Bee dengan D, A dengan C, Bahkan si kembar india telah memiliki pasangan. Aku jadi bertanya-tanya kapan BZ akan berhenti menjadi playboy dan mulai serius menjalin hubungan seperti teman-temannya? Itu pertanyaan terbesar yang belum terjawabkan olehku?
By the way, selain cerita para pasangan itu, sekarang kita memiliki queen bee baru. Selamat Little J. Kau sukses mengejutkan kami semua. Tahun ini penuh kejutan sekali, iyakan? Seorang Queen bee dari kelas bawah? Oh itu wow sekali. Semoga kau bisa bertahan. Bagaimapun kalangan atas benar-benar bisa menjadi sangat jahat. Kuatkan mental dan ragamu Little J.
Ngomongin Little J berarti kita juga harus membicarakan Mr Freak. Si tuan aneh itu memang sangat mengejutkan kita tentang perasaan suka nya pada Bee. Sampai sekarang aku masih sulit untuk mempercayai itu. Sejak kapan dia menyukai Bee? Yang aku tau dari dulu dia hanya tergila-gila pada A. Cintanya cepat sekali berubah rupanya. Sialnya ia bernasip buruk. Bee menolaknya, dan A pergi kepelukkan C. Malangnya dia.
Aku bahkan semakin prihatin terhadap GW. Junior yang gagal menjadi Queen bee itu malah memilih berdekat-dekatan dengan Mr Freak. Terlihat sekali dia menaruh hati pada tuan aneh itu. Apa sih yang dia lihat? Selera nya benar-benar aneh deh!
Well bagaimana pun tahun ini akan segera berakhir. Aku sedih sekali, tapikan waktu terus berputar. Jadi ketemu tahun depan guys. Aku akan segera kembali dari libur panjang ini dan membawa berita-berita mengejutkan dari keempat tokoh utama kita. Aku sih punya firasat Bee dan D akan mengejutkan kita semua. Aku tidak sabar untuk itu. So...
Happy holliday...See you...
XOXO. YOU KNOW YOU LOVE ME. LONDON GOSSIP.
000
End
000
Yeah itu dia ch 26. Kuharap tidak terlalu mengecewakan. Lagipula tidak ada yang sempurna keculi Tuhan, iyakan?
Jadi aku minta maaf bila masih banyak kekurangan. Aku akan mencoba menjadi lebih baik lagi untuk Fict terbaruku nanti.
Oh iya aku mau mengingatkan bahwa aku masih menyediakan epilog di ch 27. Jangan lupa untuk menyempatkan waktu kalian untuk membacanya oke?
Seperti biasa mari kita tanya Jawab.
Pertama, Bagaiman dengan Ch kali ini? Aku sangat penasaran akan tanggapan kalian.
Kedua, Scene apa yang sama sekali tidak kalian suka? Emm... misalnya yang menjengkelkan kalian.
Ketiga, Well sekedar info tambahan aku berusaha untuk membuat sedikit humor kedalam Ch kali ini, sedikit kejutan, sedikit scene bersedih-sedih dan juga memasukan ektra romance untuk Dramione. Tapi aku sih merasa gagal total untuk itu. Hahaha... Kalau menurut kalian bagaimana? Gagalkah? Atau sediki berhasil diriku ini? Jika berhasil waktu scene apa?
Terakhir adakah saran untuk alur epilog?
Nah itu aja sih yang aku tanyakan. Aku akan senang dan berterimakasih kalau kalian menjawabnya. Tidak juga tidak apa-apa. Aku dan S akan selalu mengucapkan terimakasih. Setidaknya tinggalkan jejak kalian. Aku akan excited membacanya.
See you...
Kalian tau bahwa aku dan S sayang kalian...
KNOW YOU LOVE ME. LONDON GOSSIP.
