Waiting for Eunhae, D-273 (Hyukjae), D-275 (Donghae)

Title : Aureola

A.I : AU, Fantasy-ish, StillDiabetesInducingFluff, K

.

a/n : this is the continuation to the previous drabble.

.

'Aureola'

.

.

Author's POV

Donghae memperhatikan refleksinya sekali lagi di depan sebuah cermin besar. Ia membetulkan dasinya untuk kesekian kalinya, walau sebenarnya dasi tersebut sudah terlihat rapih dan tak bercela. Setelahnya, ia perlahan mengusap rambutnya, berhati-hati agar tidak merusak tatanan yang sudah susah payah dilakukan oleh Sora-noona dan Donghwa-hyung. Ia menarik napas, kemudian mengulaskan sebuah senyuman angelic.

Akhirnya hari ini tiba.

.

.

.

"Cantik."

"E-eh?"

"Bunga-bunga di rambutmu," jelas Hyukjae dengan seulas senyuman. "Selama ini aku terus membayangkan seperti apa rasanya melihat bunga milik soulmateku, ternyata jauh lebih cantik dari yang kubayangkan."

"B-begitukah?" tanya Donghae, masih merasa amat malu meski senang di saat yang sama. "Bunga apa yang ada di rambutku, Hyukjae? B-banyakkah bunga magnolia?"

"Tidak," jawab Hyukjae dengan wajah polos, meski sebenarnya ada empat bunga magnolia merah muda yang berderet diantara helaian rambut brunette itu. "Tapi ada banyak bunga myrtle," godanya.

Hyukjae berbohong, tentunya. Bunga myrtle melambangkan cinta sejati dan sebuah simbol pernikahan. Mungkin mereka memang sepasang soulmate, namun cinta tetap terlalu cepat untuk tumbuh, mengingat belum ada dua jam lamanya mereka bertemu. Tapi Hyukjae yakin hal tersebut hanya membutuhkan waktu. Karena sekarangpun, ia sudah dapat merasakan afeksi yang begitu nyata terhadap soulmatenya itu.

Manis, polos, dari waktu singkatnya mengenal sang soulmate, ia tau Donghae akan dengan mudahnya mempercayai ucapannya.

"Myrtle?" lagi-lagi sebuah magnolia merah muda terkembang.

Lihat, lagi-lagi ia merasa malu. Sungguh manis bukan?

"Sungguh?"

"Ne, sungguh."

Apa yang terjadi berikutnya mengejutkan Hyukjae. Karena walau kecil, sebuah bunga daisy mengembang. Segera, Hyukjae merasa perasaannya menghangat.

Ah, ternyata cinta memang tidak ditentukan oleh waktu.

Ia sungguh merasa, jatuh cinta pada soulmatenya ini, pada Donghae, bukanlah sesuatu yang sulit sama sekali. Melainkan mudah, sangat mudah. Tidak akan membutuhkan waktu lama, atau bahkan mungkin ia sudah jatuh tanpa ia sadari sekarang. Ia balas menatap Donghae dengan lembut, yang kini menatapnya dengan begitu banyak kasih sayang yang tak terucap dengan kata-kata.

Suatu hari nanti, akan sungguh kubuat bunga myrtle mengembang.

.

.

.

"Donghae? Kau sudah siap?"

Donghae menoleh, kemudian pintu terbuka dan kedua orang tuanya memasuki ruangan tersebut. Sang eomma menggunakan gaun yang membuatnya terlihat menawan, walau usianya yang tak lagi muda. Sementara itu sang appa mengenakan jas yang Donghae yakin dibeli baru hanya untuk hari ini saja.

"Eomma, apa dasiku terlihat berantakan?" tanya Donghae.

"Tidak, tapi akan jadi berantakan jika kau terus berusaha mengubahnya," sang eomma menjawab sambil terkekeh.

"Kau terlihat tampan, nak. Tak ada yang perlu kau khawatirkan," suara sang appa terdengar berat, lembut dan menenangkan.

Donghae tersenyum lebar, kali ini menunjukkan gigi gingsulnya yang manis. Namun kemudian ia terkejut ketika melihat sang eomma yang mulai terisak sambil menatapnya dengan mata berkaca-kaca.

"E-eomma kenapa? Ada apa?" tanyanya dengan panik.

"Eomma hanya bahagia. Ah, kau sudah besar sekarang," ia tertawa. "Tak bisa dipercaya, rasanya baru kemarin kau pulang sambil mengumumkan dengan riangnya bahwa kau telah menemukan soulmatemu."

"Atau ketika ia pulang sambil tersenyum karena; aku berhasil membuat Hyukkie dan eomma tersenyum!"

"Appa!" protes Donghae dengan renggutan.

Sang appa tertawa, dan melihat kedua orang tuanya, perlahan renggutan Donghae berubah menjadi seulas senyum, dan akhirnya ia tertawa bersama mereka.

.

.

.

Beberapa bulan telah berlalu sejak pertemuan pertama mereka. Banyak bunga yang tumbuh dan menghilang seiring dengan segala macam perasaan yang mereka rasakan. Hal tersebut merupakan hal yang sangat normal, tentunya. Bunga jenis apapun dapat berkembang, dan dapat juga menghilang. Meski begitu tentunya perasaan tidak sepenuhnya menghilang, namun perasaan yang terkuatlah yang muncul dengan jelas dan dapat terlihat.

Donghae menatap Hyukjae dengan penuh kekhawatiran. Soulmatenya itu terlihat cukup muram sejak pagi hari ini, sebuah bunga willow seolah tergantung di sisi rambutnya.

"Hyukkie…" panggil Donghae, akhirnya tidak tahan melihat ekspresi sedih itu. "Gwaenchana?"

Hyukjae terlihat terkejut atas pertanyaan itu. Awalnya ia ingin menyangkal, namun melihat bunga carnation merah di rambut Donghae mengurungkan niat itu. Ia tau, ia tidak akan bisa berbohong pada Donghae, dan ini hanya akan membuat Donghae ikut merasa sedih. Maka Hyukjae memaksakan sebuah senyuman.

"Nan gwaenchana… Hanya saja, eomma…" ia menghela napas panjang. "Eomma terlihat begitu kesepian belakangan ini, aku khawatir padanya."

"Ah…"

Untuk sesaat Donghae ikut menatap sendu. Belum lama ini, appa Hyukjae meninggal karena sakit, dan eommanya jatuh kedalam depresi yang cukup berat. Beruntung, Hyukjae dan Sora berhasil menghibur beliau, dan beliau kini siap untuk berdiri tegap sekali lagi. Akan tetapi, rupanya terkadang beliau bisa merasakan kesepian yang menerpa kembali.

Hyukjae merupakan anak yang sangat filial. Terutama sekarang setelah ia menjadi satu-satunya namja di keluarganya. Ia menjadi begitu protektif terhadap sang eomma dan juga noonanya itu.

"Kalau kau mau…" Donghae berhenti sejenak, mengangkat tangannya untuk menangkup sebelah pipi Hyukjae. Kemudian perlahan, ia mengusap helaian rambutnya, persis dibawah bunga willow itu. "Kita bisa mengunjungi eomma hari ini? Lagipula, kita sudah sering kencan berdua. Aku juga ingin menghabiskan waktu dengan eomma," usulnya.

Hyukjae terlihat terkejut, namun kemudian perlahan, seulas senyum mengembang di wajahnya. Ekspresinya berubah jauh lebih tenang dan lega. Ia memejamkan matanya, merasakan Donghae mengusap helaian rambutnya sekali lagi, tak menyadari bunga willow yang perlahan terjatuh bersamaan dengan ucapannya yang berikutnya, digantikan dengan bunga edelweiss yang mekar dengan indahnya.

"Gomawo, Hae. Saranghae…"

.

.

.

Suara pintu dibuka menghentikan tawa ketiga orang tersebut.

"Hae? Appa? Sudah waktunya," Donghwa melongok dari pintu, mengingatkan mereka. Kemudian ia menggesturkan kepada eommanya untuk ikut dengannya.

Donghae dapat merasakan jantungnya berdegup kencang dalam antusiasme dan juga rasa gugup. Sang eomma tertawa melihat ekspresi yang ia kenal benar tersebut, mengusap sudut matanya sebelum memeluk anaknya itu sekali lagi, dan mencium suaminya sebelum berpamit dan mengikuti Donghwa keluar ruangan.

Beberapa saat kemudian, Donghae dan appanya sudah bersiap di depan sebuah pintu besar. Donghae merapihkan jas nya sekali lagi, dan sang appa tersenyum sebelum menatap matanya.

"Kau siap, nak?"

"Sejak hari pertama aku bertemu dengannya, appa," balas Donghae yakin dengan napas yang sedikit tertahan karena semua perasaan yang membuncah dihatinya.

Appanya mengangguk. Dengan satu dorongan pasti, pintu pun terbuka.

.

.

.

"Hae…"

Donghae mengangkat kedua tangannya, menutup mulutnya yang terbuka karena keterkejutan. Karena disanalah Hyukjae, berlutut di hadapannya dengan sebuah kotak berwarna biru tua, yang membuka menampilkan cincin perak yang begitu indah. Ia menatap Hyukjae, dan melihat bagaimana tatapan itu dipenuhi begitu banyak kasih sayang dan cinta. Seolah itu tidaklah cukup, diantara helaian rambut hitam Hyukjae, Donghae dapat melihat bunga convallaria, mungil namun begitu indah dan seolah bercahaya. Disisinya sebuah bunga primrose yang cantik.

"…Gyeorhon hae jullae?"

Donghae mengangguk. Sekali, dua kali, dan terus hingga air matanya mengalir dan ia terisak pelan, menangis dalam rasa bahagia yang begitu penuh. Hyukjae tersenyum, menyematkan cincin itu pada jemarinya sebelum bangkit berdiri dan memeluk soulmatenya itu dengan erat. Matanya sendiri mulai berkaca-kaca, dilingkupi perasaan bahagia yang serupa.

Donghae mulai tertawa pelan, masih dalam tangisannya, dan Hyukjae ikut tertawa dan menangis bersamanya.

Hari itu merupakan salah satu hari terindah dalam hidupnya.

.

.

.

Ketika pintu dibuka, lagu here comes the bride mulai mengalun di grand piano yang dimainkan oleh pemain musik. Ah, Donghae sangat menyukai lagu tersebut, selalu mengimpikannya untuk memutar untuknya, walau ia cukup merasa judul lagu tersebut agaknya tidaklah adil karena tentunya ia bukan seorang bride. Namun lagu tersebut merupakan sebuah tradisi yang dimainkan di hampir semua pernikahan.

Ia berjalan menuju altar, bersama appanya di sisinya. Semakin ia mendekat, ia tidak bisa menyembunyikan senyuman bahagianya melihat Hyukjae yang sudah menunggunya di sana, juga tersenyum dan balas menatapnya dengan begitu lembut. Seolah semua orang lain yang berada di sana saat itu tidak Nampak bagi mereka, karena kini mereka hanya terbawa kedalam dunia milik berdua.

Donghae dengan samar mendengar appanya berbicara singkat pada Hyukjae, sebelum menyerahkan tangannya. Hyukjae mengambil tangannya dengan begitu lembut, perasaan cinta dalam setiap sentuhannya.

Tatapan Donghae terbawa kearah wajah Hyukjae, juga pada bunga-bunga indah diatas rambutnya. Ada banyak bunga, yang menggambarkan cinta, kasih sayang, janji, ketulusan, semua yang membuatnya merasa begitu bahagia. Indah, begitu indah dan dalam hatinya Donghae bertanya-tanya apakah sekarang diatas rambutnya juga dipenuhi bunga-bunga yang indah? Donghae tidak tau, tapi ketika ia telah menukar sumpah untuk hidup selamanya dengan Hyukjae, ketika ia merasakan bibir lembut suaminya itu kita menciumnya, ia tau hidupnya telah sempurna. Itu lebih dari cukup untuknya.

Dan itu juga cukup bagi Hyukjae, yang permohonannya telah dikabulkan.

Karena sejak memasuki altar, diatas helaian rambut Donghae telah terbentuk sebuah mahkota bunga dengan untaian bunga myrtle yang begitu indah, putih bersih dan terang.

Bagaikan lingkaran malaikat penuh dengan kebahagiaan.

.

.

.

.


Myrtle : The emblem of marriage, True love

Daisy : Innocence, Purity, Loyal love

Willow Flower : Sadness

Red Carnation : My heart aches for you

Edelweiss : Deep love and devotion

Convallaria / Lily of the Valey : You've made my life complete

Primrose : I can't live without you

Another rainbow puke yay!

Oh iya, judul fic ini, Aureola, artinya lingkaran malaikat / angel ring. Sebelum ada yang salah sangka dan menghilangkan huruf u nya XD

ANYWAY! God I should really stop making promises I can't keep ugh I've been telling that to myself but damn Rey you're so inconsistent /slaps self. Maaf kemaren gajadi update, aku mendadak harus pergi nemenin temen urus kerjaan ;_;

I'll stop making update schedules *zips own mouth*

Bales review dulu deh…


Elpeu : nih lanjutannya hehehe. Tambah parah lagi rainbow puke nya XD

reni. t : kkkkk. Kalo ini nyata sih enak ya bisa tau soulmate secara pasti. Jangan sedih~ pasti nanti muncul kok! Wew kayak drama aj slowmotion pas nabrak kkkk. kuselipin edelweiss nih ;)

eunhaehyuk44 : karena aku entah kenapa selalu bikin eunhae super sweet kkk. Semoga suka ya ini kelanjutannya! Hikari sama takeru katanya bakal jadi canon di yang movie tri ini. Lalu aku bener udah kecantol taichi x yamato, sumpah gemes banget sama ini dua XD . di movie tri kedua mereka di jebak sama yang lain biar di bianglala berduaan. Terus di movie 3 kemarin yamatony ada blushing gitu pas lg ngomong sm taichi kkkkk

yuukinatsu : ahh ic. Yah ga berani nonton deh kalau begitu kkk. Mau nonton kalo yang meranin eunhae :D /plak. Gomawo too! :D

eunhaeboo : aku gabisa bikin angst gakuat kkk. Itu di yg post kemarin ada linknya kan kumasukin, coba aja cek dr situ. Videonya sanxz itu :D

.

What will I post next hmmmmmm…..