Disclaimer : Naruto © Masashi Kisimoto
Inspiride by : OreImo
Summary : Semua masih sama. Adiknya masih menjengkelkan seperti biasa. Tapi semua makin rumit saat banyak gadis yang menunjukkan sinyal-sinyal ketertarikannya dan ditambah lagi sebuah bahaya besar mengancam kedamaian dunia shinobi. Bagaimanakah Bolt menghadapi semua ini?. Simak saja ceritanya. . .
Genre : Romance, Sci-fi, Adventure, Drama, & Family
Rate : T
Setting : Canon, Dunia Shinobi Modern, Konoha Metropolitan
Warning : Teen Naruto New Generation, Typo, OOC, Gaje, Menistakan banyak chara dll.
Jum'at, 29 Januari 2016
Happy reading . . . . .
.
My Cute Sister? Season II
By Si Hitam
Chapter 26. Sibuk.
Dua bulan sudah berlalu semenjak kepulangan Himawari, semuanya tetap sama. Ya, semuanya sama seperti sebelum Himawari pergi. Bolt dan Himawari masih sering bertengkar, meributkan sesuatu yang tidak penting, entah apapun itu. Naruto yang sama sekali tidak berubah, sifat daughter complexnya tidak sedikitpun berkurang, malah yang ada semakin menjadi-jadi. Selalu memanjakan Himawari, menuruti apapun kemauan peri kecilnya, bahkan ketika Himawari hanya dengan alasan bosan, meminta agar semua topeng ANBU Konoha ditambahkan hiasan hidung badut, Naruto tidak segan-segan menggunakan wewenangnya sebagai Hokage untuk membuat aturan itu. Hal ini tentu saja membuat malu Kesatuan ANBU Konoha karena mereka jadi bahan tertawaan ANBU dari negara lain. Hinata sebagai ibu rumah tangga, walaupun kadang kerepotan karena ulah aneh semua anggota keluarganya, tapi dia senang, dia bahagia, dan dia sangat bersyukur diberkahi keluarga kecil ini untuknya.
Saat ini jauh lebih baik daripada sebelumnya, apalagi untuk Bolt dan Himawari. Mereka memang sering bertengkar, tapi itu jauh lebih baik daripada tidak bertegur sapa sama sekali, apalagi tinggal serumah. Hinata masih ingat, sebelum Himawari ketahuan olehnya melakukan latihan berbahaya, sebelum Bolt berbicara padanya membela Himawari, kedua kakak beradik itu tidak mau saling menyapa.
Yang selalu terlihat di mata Hinata saat itu adalah Himawari yang terkesan menjauhi Bolt dan Bolt yang tidak peduli dengan sikap Himawari. Awalnya sempat bingung, apa yang menyebabkan kedua anaknya seperti itu, padahal setahu Hinata, saat kecil dulu kedua kakak beradik itu sangat dekat dan sulit dipisahkan. Dulu Himawari selalu menempel pada Bolt kemanapun Bolt pergi. Bolt juga sangat menyayangi Himawari, pernah dulu suatu ketika Himawari jatuh sakit, Bolt bahkan tidak tidur semalaman hanya untuk menunggui dan menjaga adiknya yang ternyata terkena demam ringan saja.
Itu dulu, Hinata masih ingat kalau semuanya berubah saat Himawari menginjak usia 9 tahun. Beberapa bulan setelah kasus insiden penyerangan Momoshiki dan Kinshiki yang menangkap suaminya, Naruto. Entah apa sebabnya, sejak saat itu hubungan kedua kakak beradik makin renggang, dan sampai setahun lalu tidak pernah bertegur sapa sama sekali. Bahkan saat makan pun, walau mereka duduk berdampingan, tapi tidak pernah saling melirik, apalagi berbicara.
Hinata tentu merasa khawatir, dia juga sudah membicarakan hal ini pada Naruto. Tapi kata Naruto biarkan saja, anak muda punya masalahnya sendiri, dan mereka pasti belajar untuk menyelesaikan itu. Sebagai orang tua, cukup hanya mengamati saja dan akan turun tangan bila memang peran orang dewasa dibutuhkan. Entah sejak kapan Naruto yang terkenal bodoh itu bisa menjadi sangat bijak.
Itulah yang sejak tadi Hinata pikirkan sebagai seorang ibu. Dia menatap Bolt yang saat ini sedang sarapan bersamanya. Naruto sudah sarapan pagi-pagi bersama Himawari. Beberapa hari belakangan kedua orang itu makin sibuk, Naruto yang harus mengurus persiapan Jounin Exam yang akan dilangsungkan di Konoha sebulan lagi, dan Himawari yang semakin sibuk latihan untuk ikut ujian kenaikan pangkat menjadi jounin.
"Mama, kenapa melamun?" tanya Bolt karena melihat ibunya yang sejak tadi berhenti memasukkan makanan ke mulut.
"Ahh..." Hinata sedikit tersentak, "Tidak apa-apa, hanya memikirkan kalian saja. Tidak terasa anak-anak Mama sudah besar, padahal Mama merasa baru kemarin melahirkan kalian"
"Hihihiiii.. Itu tandanya Mama sangat bahagia bersama kami, sehingga waktu bertahun-tahun tidak terasa sudah dilewati" ungkap Bolt dengan cengiran diwajahnya
"Iya, kamu benar Bolt-kun" kata Hinata membenarkan apa kata putranya.
Hening sejenak lagi, Hinata terdiam tidak melanjutkan ucapannya. Harus dia akui, tidak ada yang lebih membahagiakan ketimbang apa yang ia miliki sekarang. Masalah memang tidak akan pernah lepas dari hidup manusia, namun dengan keluarga utuh yang dia bina bersama suami tercinta, tidak sedikitpun ada keluh kesah yang timbul dihatinya walau seberat apapun masalah yang mereka hadapi.
Sempat Hinata prihatin dengan hubungan antara suami dan putranya dulu yang menjadi renggang karena masalah 'perhatian seorang kepala keluarga', bahkan sampai tersangkut konflik besar yang melibatkan seluruh dunia shinobi. Tapi itu semua terselesaikan dengan baik. Tidak ada satu masalah pun yang tidak bisa Naruto selesaikan, terlebih sang putra juga mewarisi tekad suaminya.
Lalu untuk hal yang satu ini pun, tentang hubungan Himawari dan Bolt, sebagai ibu mereka, Hinata bisa yakin kalau masalah itu pasti akan diselesaikan oleh mereka nantinya. Jadi tidak ada lagi yang perlu ia khawatirkan. Dan tepat seperti apa yang dikatakan Bolt, dia tidak merasa kalau telah menghabiskan waktu bertahun-tahun membina rumah tangga, saking bahagianya hingga tidak sempat memikirkan hal lain lagi.
"Memikirkan apa lagi, Mama?" tanya Bolt heran melihat ibunya jadi diam lagi.
"Eh…!" Hinata lagi-lagi tersentak dari lamunannya, lalu dia teringat satu hal yang belakangan ini selalu muncul di pikirannya, "Kamu sudah besar Bolt-kun, sebentar lagi kamu pasti akan menikah dan memiliki keluarga sendiri. Mama pasti kesepian nanti"
"Aaa-, , , ," Bolt jadi tersipu, dia tiba-tiba jadi teringat lagi tentang Mirai dan apa yang terjadi saat itu. "Aku belum memiliki kekasih, jadi yang dipikiran Mama masih lama"
"Heh, massa? Yang benar?"
"Beneran, sumpah deh" sahut Bolt seraya mengacungkan jari telunjuk dan jari tengahnya.
"Tapi, Mama lihat Sarada-chan, Amaru-chan, bahkan Mirai-chan sepertinya menyukaimu." kata Hinata memastikan.
Hinata memang tidak tahu menahu bagaimana kehidupan asmara putranya, tapi hanya dengan sepintas mengamati, dia sudah tahu gadis-gadis mana saja yang tertarik dengan Bolt. Hinata itu orang yang peka, berbanding terbalik dengan Naruto.
"Loh?" Bolt terkejut, dia memang dekat dengan perempuan-perempuan yang tadi disebutkan ibunya, tapi dia tidak menyangka ibunya bisa dengan cepat menyimpulkan seperti itu, "Dari mana Mama bisa menyimpulkan seperti itu? Walaupun dekat, tapi hanya sebatas teman saja, tidak lebih" elak Bolt tidak terima tuduhan ibunya.
"Hihihiiii,,, entah lah, anggap saja insting wanita" jawab Hinata. "Hmmmm,,,, Kenapa tidak kau pilih saja salah satu dari mereka?"
"Itu tidak mungkin kan?"
"Atau ambil saja semuanya, punya banyak istri Mama rasa bukanlah hal buruk, malah bagus. Itu artinya kau lebih hebat dan melampaui papamu"
"Mama..! Jangan memberiku saran yang tidak-tidak. Memangnya Mama mau kalau diduakan Papa?"
"Mama yakin papamu tidak akan sanggup berbuat seperti itu"
". . . . ."
"Iyaiyaaa,,,, Ya sudah deh, pokoknya siapapun yang nanti jadi kekasihmu dan membuatmu jatuh cinta, Mama pasti mendukung kok"
"Sudah aaaah,,, berhenti!. Aku malu kalau membahas topik ini" rengek Bolt.
"Iyaaaa" sahut Hinata, "Ummm, kalau Hima-chan, apa dia sudah punya kekasih? Soalnya Mama tidak terlalu tahu bagaimana pergaulan Hima-chan, dia lebih sering bercerita pada Papamu"
"Eh...?" Bolt jadi tersentak dengan topik baru ini, walaupun tidak beda jauh dengan topik yang tadi. "Aku juga tidak tahu. Mama tahu sendiri kan bagaimana hubunganku dengan Hima"
"Begitu yaa"
"Iya"
Mendengar pertanyaan ibunya tadi, Bolt jadi kepikiran dengan Himawari. Selama ini, walau selalu merepotkan dan membuatnya kesal, tapi hanya itulah satu-satunya cara yang merekatkan hubungannya dengan Himawari. Hanya 'masalah' yang di dapat Himawari lah yang membuatnya sebagai kakak bisa diandalkan dan dekat dengan adiknya itu.
Jika Himawari sudah punya kekasih, nanti pasti kalau ada apa-apa, bukan dirinya lagi yang jadi tempat mengadu masalah. Ini membuat Bolt sedikit takut, jika hal itu terjadi, Himawari akan semakin jarang bergantung padanya, maka hubungannya yang sudah membaik dengan Himawari sebagai adik-kakak selama setahun terakhir ini, pasti akan kembali renggang, bahkan yang paling parah mungkin tidak akan bertegur sapa lagi. Sebagai kakak, Bolt tentu tidak ingin hal itu terjadi.
"Oh iya Mama. Kok sepi? Himawari belum bangun? Dia tidak sarapan?" tanya Bolt. Tidak ingin memikirkan hal tadi lebih jauh lagi. Itu terasa tidak mengenakkan baginya, apalagi setelah dia mengakui kalau dirinya itu siscon, sejenis penyakit jiwa yang kurang lebih sama dengan yang diidap ayahnya.
"Himawari sudah bangun pagi-pagi, dia sarapan berdua dengan Papamu. Katanya, dia ada latihan dengan Paman Yamato dan Yin Kurama. Dia kan ingin ikut Jounin Exam nanti"
Yamato yang memiliki kekkei genkai Mokuton (elemen kayu), tentu menjadi pengawas latihan yang tepat untuk Jinchuriki Kyubi baru seperti Himawari. Selama beberapa minggu ini, latihan Himawari selalu dibantu oleh Yamato. Naruto pun sebagai ayah, juga tidak jarang menyambangi tempat latihan Himawari jika pekerjaannya bisa ditinggal sebentar.
Untuk pertama ini, latihan Himawari masih berfokus pada sinkronisasi penuh dengan kekuatan Bijuu dalam jangka waktu yang lebih lama tanpa menguras stamina Himawari sendiri. Selain itu juga mencoba menggabungkan senjutsu sennin mode dengan bijuu mode, sama seperti yang biasa Naruto lakukan. Latihan jutsu baru atau pengembangan ninjutsu akan dilakukan setelah latihan tahap awal ini selesai. Begitulah saran Kakashi, mantan Rokudaime Hokage yang dulunya juga melatih Naruto.
"Hmmm, tumben dia rajin" sahut Bolt.
"Bukannya tumben, dia memang sangat ingin menjadi jounin kan? Kalau kamu, beneran tidak ikut Jounin Exam, Bolt-kun?, Sudah lama loh kamu jadi chunin"
"Iya, aku tidak ikut, Mama. Malas banget, lagipula aku tidak ingin menjadi ninja, apalagi menjadi hokage. Aku ingin memiliki jalan hidup yang berbeda dengan Papa dan almarhum kakek Minato"
"Ya, kalau begitu keinginanmu, Mama tidak akan melarang. Kalau saja kamu mau fokus di perusahaan keluarga kita, Bibi mu pasti sangat senang, kau sangat cocok ditempatkan disana"
Seperti yang dikatakan Hinata, Hanabi yang sampai sekarang belum menikah apalagi memiliki penerus, tentu berharap besar pada Bolt. Bolt jenius jika dihadapkan dengan masalah bisnis, bakatnya terlalu berharga untuk disia-siakan. Tapi walau begitu, Hanabi tidak pernah memaksakan kehendaknya pada Bolt. Dia tidak ingin keponakannya meneruskan apa yang ia rintis dengan terpaksa kalau tidak mau perusahaan raksasa milik keluarga Hyuga jatuh bangkrut.
"Yah, kalau untuk itu, lihat saja nanti. Aku masih sangat muda, Mama. Jadi aku ingin sedikit menikmati hidup lebih lama lagi, sebelum nanti fokus berkarir dan berpikir mencari uang"
"Iya deh,, Mama ngerti kok"
"Heheee, Terima kasih ya, Mama"
"Iyaa, sama-sama Bolt-kun"
.
Bolt sedang bersantai ditengah teriknya matahari yang saat ini sedang berada dipuncaknya. Dia berada di taman tempat biasanya dia tidur. Sebelum terlelap untuk tidur siang, dia merasakan keberadaan seseorang yang familiar dengan sensornya. Mode sensor Bolt selalu aktif, jadi dia tahu pasti siapapun yang ada disekitarnya.
Tepat sekali, ternyata itu adalah Shikadai. Sahabat bermalas-malasan. Kebetulan ada yang bisa diajak menemani, Bolt bangun dan memanggil sahabatnya itu.
"Oooey, Shikadai…" sapa Bolt ketika Shikadai lewat tepat di depan taman kecil tempatnya bersantai.
"Oh, ada apa Bolt?" tanya Shikadai yang kini telah mendekat ke tempat Bolt dibawah pohon rindang.
"Sepertinya kau sedang sibuk?"
"Ya, begitulah" jawab Shikadai seadanya.
"Massa? Ayolaaaah,,,, temani aku tidur disini!. Biasanya kau lebih malas daripada aku"
"Ck, aku beneran sibuk, Bolt" Shikadai mendecih menolak ajakan Bolt.
"Memangnya kau sibuk apa, hah?"
"Aku ada janji dengan Ryuzetsu."
"Hoooo, janji dengan seorang gadis ternyata" sikap Bolt jadi lain, walau tidak bisa menemani, tapi lumayan lah bisa dijadikan objek ledekan.
"Heh!, Bisa tidak kau tidak memasang wajah aneh menjijikkan seperti itu?, Seperti bukan kau saja"
"Ah, iya iyaaa. Jadi bagaimana hubunganmu dengan Ryuzestu? Sudah sampai tahap mana sekarang" tanya Bolt sembari memasang wajah antusias penasaran.
Shikadai tidak menjawab, malah berbalik badan dan hendak pergi menjauh.
"Hoi, jangan merajuk. Kau seperti anak gadis baru puber saja" cibir Bolt.
"Huuuhh" menghela nafas, lalu menatap Bolt, "Aku hanya membantu Ryuzetsu latihan, itu saja"
"Hah?" Bolt bingung. "Dia latihan bersamamu? Ku kira dia bersama Hima dan Amaru. Hari ini, sejak pagi-pagi sekali Hima juga sudah pergi berlatih"
Ya, seperti yang dikatakan ibunya. Himawari pergi berlatih sejak pagi-pagi, dan Bolt mengira kalau Amaru dan Ryuzetsu juga ikut kesana.
"Makanya, jangan ketinggalan informasi" ledek Shikadai, "Jounin Exam nanti adalah ujian perorangan, individual. Berbeda dengan Jounin Exam di Kumogakure 2 tahun lalu yang masih menggunakan sistem tim 3 orang. Karena hal itulah, jadi wajar kalau mereka latihan sendiri-sendiri"
"Begitu ya"
"Ya. Ryuzetsu memang pada dasarnya tidak memiliki fisik yang kuat, jadi latihan yang dia jalani tidak seperti kebanyakan ninja lain yang berlatih untuk meningkatkan kekuatan, kecepatan atau stamina. Ryuzetsu berlatih dalam berbagai macam simulasi pertarungan untuk membuat banyak strategi-strategi jitu agar bisa mencapai hasil maksimal dengan efektif dan efisien walau hanya berbekal kemampuan bertarungnya yang terbatas"
"Hmmm, pantas saja dia berlatih bersamamu. Hanya kau saja yang mungkin cocok untuk latihan seperti itu"
"Baiklah. Ya sudah, kalau begitu aku pergi dulu ya, Ryuzetsu mungkin sudah menungguku terlalu lama" kata Shikadai lalu langsung beranjak pergi tanpa menunggu persetujuan Bolt.
"Iyaaa, pergi sana!" sahut Bolt dengan nada mengusir.
Menatap kepergian Shikadai, Bolt menghela nafas, "Huuuuuh,,, masing-masing pada sibuk. Lebih baik, tidur saja dulu. Tidak ada yang bisa ku lakukan juga sekarang kan?"
.
Setelah tidur siang di taman, tempat tidur kesukaan Bolt, dia tiba-tiba bangun sekitar jam 2 siang. Penyebabnya ialah perut lapar yang minta jatah makan siang. Dia berniat pulang saja. Hari ini ibunya, Uzumaki Hinata, ada dirumah karena sedang tidak ada kesibukan di perusahaan HMC, dan pastinya sudah memasak makan siang dirumah.
Sebenarnya hampir setiap hari ibunya itu memasak makan siang. Walaupun sering sibuk, tapi ibunya itu selalu meluangkan waktu siang, untuk siapa lagi kalau bukan untuk ayahnya yang sibuk di kantor hokage. Tapi bukan untuk ayanya saja, ini demi dirinya dan Himawari juga. Ibunya tidak suka jika ada anggota keluarganya yang makan di luar apalagi mengkonsumsi makanan yang gizinya tidak seimbang. Ibunya seringkali mengantarkan makanan ke kantor Hokage, atau walaupun tidak sempat biasanya dirinya sebagai satu-satunya anak laki-laki yang diminta mengantarkan.
Saat ini, Bolt sedang dalam perjalanan pulang, melewati deretan toko. Saat berjalan dia tidak terlalu memperhatikan kedepan, sehingga,
Bruuukkk,,
"Eh,, maaf." kata Bolt yang tidak sengaja bertabrakan dengan seseorang. Dia tidak jatuh, tapi orang yang ternyata adalah seorang gadis berambut merah yang baru ditabraknya tadi lah yang terjatuh ke tanah. Bolt mengulurkan tangan berniat membantu gadis yang jatuh karenanya.
"Iya, tidak apa-apa, aku juga yang terburu-buru" sahut si gadis tadi.
"Eh, Bolt-niisan/Amaru" kata keduanya bersamaan ketika ternyata saling kenal.
"Sekali lagi ya, maafkan aku" kata Bolt setelah membantu Amaru berdiri.
"Emm, ini juga salahku karena berjalan terburu-buru"
"Memangnya kau terburu-buru untuk apa?" tanya Bolt basa-basi.
"Heheee, aku ada bimbingan dengan Uchiha-shissou" katanya dengan riang
"Bimbingan dengan Bibi Sakura? Apa untuk persiapan Jounin Exam juga?" tebak Bolt
"Umm, benar sekali"
"Haaaahh, kalian bertiga benar-benar sibuk ya"
"Maksud Bolt-niisan?" tanya Amaru tidak mengerti.
"Iyaa, kau, Ryuzetsu dan Hima. Semuanya sedang sibuk latihan sendiri-sendiri"
"Heheee, mau bagaimana lagi. Ini pertama kali kami ikut Jounin Exam, dan kami tidak ingin hasilnya mengecewakan"
"Ya sudah deh"
"Baiklah, kalau begitu aku pergi dulu ya, Bolt-niisan"
"Iyaa, hati-hati dijalan" kata Bolt pada Amaru yang sudah beranjak pergi.
"Umm, terima kasih"
.
"fiuu,,,, fiuuu,,,,, fuuuuu. . . . ." Bolt bersiul-siul sepanjang perjalanan pulang. Sebentar lagi dia sampai di rumahnya, dan menikmati masakan terenak sedunia, masakan buatan ibunya sendiri.
"Eh? Sarada..." kata Bolt heran.
Ketika Bolt tinggal beberapa meter lagi sampai di pintu pagar rumahnya, dia melihat sosok gadis yang sejak kecil telah menjadi sahabatnya. Dia heran karena Sarada hanya berdiri menatap ke arah rumahnya dari depan pintu pagar. Kalau memang ada urusan, kenapa tidak masuk saja sekalian.
"Oh, Hai Bolt. Ku kira kau ada di rumah" kata Sarada setelah tahu ada orang yang menyapanya.
"Kau mencariku?"
"Iya"
"Kenapa tidak masuk saja sih? Malah berdiri mematung dari tadi. Sudah lama ya?"
"Belum, baru saja aku disini." Jawab Sarada, "Bisa kita bicara sebentar? Di sini saja, tidak usah masuk kedalam rumah. Ada sesuatu yang ingin ku beritahukan padamu "
"Memangnya ada apa?"
"Begini,, anoo..." Sarada ragu untuk mengungkapkannya atau tidak.
"Ayo, katakan saja"
"Aku akan ikut Jounin Exam"
"..." Bolt tidak menyahut.
"Mitsuki juga ikut" sambung Sarada lagi.
"Begitu ya.. Uuumm, maaf. Mungkin kali ini aku juga tidak akan ikut lagi" kata Bolt serius.
Ninja-ninja Konoha maupun ninja dari desa lainnya supaya dapat mengikuti ujian kenaikan pangkat Jounin Exam minimal harus berumur 16 tahun. Untuk Jounin Exam kali ini, ada pengecualian yaitu untuk tim 7 yang dibawah bimbingan Mirai. Himawari, Ryuzetsu, dan Amaru bisa mengikuti Jounin Exam walau umur mereka masih belum mencukupi. Karena tim mereka sarat akan pretasi maka mereka diberikan kesempatan untuk menjajal kemampuan di Jounin Exam kali ini.
Lalu, sebenarnya ujian kenaikan pangkat Jounin Exam tahun ini adalah kesempatan kedua bagi Sarada. Jounin Exam diadakan 2 tahun sekali, sebelumnya bertempat di Kumogakure. Pada Jounin Exam yang diselenggarakan di Kumogakure dua tahun lalu, salah satu dari tiga tahapan ujian adalah ujian tim.
Saat itu, beberapa ninja lulusan akademi seangkatan Bolt sempat bermasalah. Penyebabnya adalah Bolt dan Shikadai yang tidak ingin ikut dalam ujian itu. Ketidakikutsertaan Shikadai bisa dimaklumi oleh teman setimnya yaitu Inojin dan Choucou. Mereka memang tim yang solid, jadi Inojin dan Choucou memutuskan juga tidak ikut. Tapi karena hal ini, Temari marah besar dirumah. Beberapa hari Shikadai tidak ingin pulang, takut dengan amukan ibunya, beruntung ayahnya, Shikamaru, berhasil membujuk Temari.
Berbeda dengan Sarada, dia dan mitsuki sangat ingin ikut Jounin Exam namun tidak jadi. Dia marah besar pada Bolt karena Bolt tidak ikut. Sarada dan Bolt sempat bertengkar hebat selama beberapa hari karena itu. Bahkan Naruto, Hinata, Sasuke, dan Sakura tidak bisa berbuat apa-apa saat itu. Mitsuki sebagai bagian dari tim juga tidak bisa berbicara banyak, dia tidak ingin mulut pedasnya asal bersuara dan membuat hubungan kedua sahabatnya makin memburuk.
Ketika itu, Sarada bersikeras memaksa Bolt ikut. Semua orang tahu kalau salah satu impian Sarada adalah menjadi Hokage, dan apa yang dilakukan Bolt hanya dengan alasan 'malas' membuat Sarada marah besar. Sarada tidak ingin jalannya menjadi Hokage terhambat hanya karena dia tidak bisa naik pangkat menjadi Jounin.
Setelah hampir dua minggu, pertengkaran mereka berakhir ketika Sarada memilih untuk mengalah. Saat itu, Bolt datang langsung menemui Sarada yang sedang menumpahkan amarahnya dengan menghancurkan tempat latihan tim nya, sangat mengerikan karena tempat latihan hancur berantakan layaknya sebuah bekas peperangan besar.
Untuk pertama kalinya, Sarada tidak bisa berkata apa-apa untuk membalas ucapan Bolt. Bolt hanya berkata singkat,,,,
'Tidak perlu mendapatkan pangkat tinggi untuk menjadi hokage, asal kau diakui oleh orang lain untuk menjadi hokage, maka saat itulah kau sudah menjadi hokage. Apa kau lupa, kalau "Nanadaime-sama" yang sangat kau hormati dan kagumi itu, hanyalah seorang ninja berpangkat genin?'
Masih didepan pintu pagar rumah Bolt, Sarada tersenyum mengingat hal tadi, "Tidak apa-apa. Lagipula Jounin Exam tahun ini tidak ada ujian tim. Hanya ujian individual, jadi tidak masalah kalau kau tidak ikut"
"Um, yah. . . . Aku sudah mendengarnya tadi dari Shikadai"
"Emmm, , , , hanya itu saja yang ingin ku beritahukan padamu. Kalau begitu, aku pamit" lalu Sarada beranjak pergi meninggalkan Bolt.
Sarada mencari Bolt bukan hanya untuk mengatakan itu saja, dia sangat berharap kalau Bolt mau ikut Jounin Exam kali ini bersamanya. Pasti akan menjadi kenangan manis. Namun apa boleh buat, Bolt menolak dan dirinya tidak mungkin memaksanya lagi seperti dua tahun lalu. Bisa-bisa akan bertengkar lagi dan Sarada tidak ingin itu terulang.
"Sarada , , , ," seru Bolt, membuat langkah Sarada terhenti. "Berjuanglah, aku yakin kau pasti bisa mewujudkan impianmu menjadi hokage" teriak Bolt menyemangati.
"Umm . . . Terima kasih, sampai jumpa, Bolt" Sarada tersenyum senang.
Walaupun Sarada tidak bisa membuat kenangan manis karena tidak mengikuti ujian bersama Bolt, namun mendapatkan kalimat penyemangat dari pemuda yang sudah lama mengisi hatinya adalah modal paling berharga untuk lulus ujian kenaikan pangkat nanti.
.
.
.
To be Continued. . . . .
.
Note : Yoooo….. Pertama, aku mau klarifikasi dulu untuk chapter 25 kemarin. Kayaknya ada yang menganggap kalau asal muasal Himawari menbenci Bolt karena ejekan di kamar mandi itu. Tidak sama sekali, bukan itu asalnya. Yang kemarin itu hanyalah mimpi aneh Bolt yang mana dia tidak mengakui kalau Himawari yang galaknya minta ampun saat di mimpi itu adalah adiknya. Bolt punya impian bahwa adiknya itu imut, manis, penurut dan semacamnya. Jadi itu hanya mimpi Bolt saja, dan tidak ada hubungannya dengan kejadian dimasa lalu.
Alasan Himawari seperti membenci Bolt bukan itu, ada kejadian yang lebih serius lagi, masalah yang lebih kompleks, melibatkan emosi yang bisa tidak bisa dikatakan ringan untuk anak-anak, dan jelas tidak seperti pertengkaran kecil di mimpi Bolt. Nanti bakal di ulas lebih jelas kok. Mohon pengertiannya, heheee….
Lalu, kenapa Bolt sampai mimpi seperti itu, karena sebenarnya Bolt itu siscon. Dan Bolt sendiri baru-baru ini aja nyadar kalau ia siscon.
Pairnya BoltMirai? Aku suka pair itu, tapi lihat aja deh, bisa juga BoltSara, karena jujur aku lebih condong kesana, atau Bolt sama cewe lain. Nanti saja ya… sabar dikit…
Katanya fic ini kayak alur sinetron? Hahaaa, biarin. Gpp juga. Masing-masing orang boleh berpendapat bagaimanapun. Tapi kalau disebut ga ada ujungnya, jangan deh. Aku sudah memiliki akhir cerita ini kok.
Lalu chapter ini dan yang kemarin, masih pemanasan. Chapter depan kita mulai konflik serius, dan itu berhubungan dengan dunia perninjaan.
Karena cerita sudah berlangsung satu tahun sejak season I, maka umur pemeran cerita ini,
Uzumaki Himawari – 15 tahun
Uzumaki Buroto/Bolt – 18 tahun
Uchiha Sarada – 18 Tahun
Naruto – 38 tahun
Sarutobi Mirai – 21 tahun
Dan chara-cara lainnya umurnya menyesuaikan canon, seperti teman seangkatan Bolt yang seumuran dengan Bolt, teman setim Himawari yang seumuran dengannya juga, serta bapak-bapak dan ibu-ibu mantan Rokie 12 yang pasti seumuran dengan Naruto.
Saya masih punya banyak kekurangan, jadi mohon bantuannya baik itu kritik atau saran di Kolom Review atau lewat PM agar lanjutan fic ini lebih bagus kedepannya.
