Lesson 14

Ask before you assume (part two)


Song inspiration: Cigarettes After Sex - Nothing's gonna hurt you baby

.

Sore itu aku merasa seperti zombie. Aku telah siap jatuh tidak sadarkan diri di tempat tidurku ketika aku menyusun buku-bukuku di loker.

Beberapa menit lagi, Han... kataku pada diriku sendiri sementara kelopak mataku menutup perlahan.

"Hei." Sebuah bisikan menggelitik telingaku dan aku tersentak terkejut.

"Sehun..." kataku sembari mencengkeram dadaku.

Dia terkekeh. "Kau hampir jatuh tertidur di sini," godanya. "Kau harus berterima kasih padaku karena sudah membangunkanmu,"

"Terserah." Aku menggerutu.

Sehun berkedip dan melihat sekitar untuk memeriksa apakah ada yang akan mendengarkan kami, dan rupanya tak ada. Lorong sepi.

"Jadi jam berapa kau akan datang malam ini?" Dia bertanya, mencondongkan tubuhnya mendekat.

Oh benar... Aku sepenuhnya lupa bahwa aku berencana pergi ke tempatnya.

"Umm bisakah kita bertemunya besok saja?" Aku bertanya penuh harap. "Aku tidak tidur dengan baik tadi malam,"

"Itu bukanlah masalahku, 'kan?" bisik Sehun, mendekatkan wajahnya pada wajahku.

"Tapi—"

"Luhan, hanya ada satu alasan mengapa aku mengizinkanmu pergi tadi malam." Dia berkata dingin. "Itu karena kau berjanji akan berada di tempatku malam ini,"

"Mmm..." Aku mendengung sementara jari-jarinya menyusup ke rambutku dan mulai membelainya lembut. Aku membenci sekaligus menyukai bagaimana dia mengendalikan keinginanku. Aku siap melakukan segalanya yang dia minta. Aku gemetar ketika merasakan jarinya tergelincir ke bawah, menyusuri lengkungan tengkukku, klavikulaku serta membelai dengan lembut kulit di pundakku. Dengan mata tertutup kuulurkan tanganku ke depan, meraih apa yang aku anggap sebagai kemejanya. Aku mendengar napasnya memberat sementara aku membuka bibirku mengeluarkan erangan.

Dengan keras dia membanting pintu lokerku tertutup dan aku membuka mata. Tangannya menggenggam erat pergelangan tanganku kemudian menyeretku ke suatu tempat. Aku melihat sekitar dengan ketakutan karena aku mendengar suara beberapa mahasiswa yang tertawa di kejauhan, namun tidak ada yang terlihat. Aku gemetar takut, Sehun begitu gegabah saat ini dan aku tidak tahu apa yang dia rencanakan padaku.

Aku tersentak ketika dia membuka pintu toilet. Menyadari apa yang dia inginkan, aku berusaha untuk membujuknya. Untungnya di sana kosong, namun tidak menutup kemungkinan siapa pun akan masuk.

"Tidak Sehun..." Aku memohon. "Ayo pergi ke tempatmu,"

"Ini adalah hukumanmu karena kau menolakku," kata Sehun, menyeretku ke dalam salah satu bilik toilet yang sempit. "Jika kau tidak ingin tertangkap basah sedang bersama Profesormu, kau harus tenang!"

Aku tahu aku tidak akan bisa tenang. Aku tahu aku akan mengerang seperti maniak begitu dia menyentuhku dengan bibirnya.

Punggungku menempel pada pembatas bilik dan aku menatap Sehun dengan pandangan mohon maaf. Sehun menyeringai jahat. Aku menduga dia telah menemukan kerentananku yang akan membuatku terangsang dan gelisah. Rambut halus di kulitku berdiri ketika dia dengan kasar membenturkan bibirnya pada bibirku dengan tangannya yang menahan kepalaku. Tenggorokanku membuat suara dengungan nikmat yang kemudian meluncur keluar dari bibirku ketika kurasakan selangkangannya menekan selangkanganku. Aku lupa bahwa aku tidak boleh membuat suara apa pun dan Sehun menghukumku kemudian dengan gigitan keras pada bibirku.

"Diam Luhan." Dia mendesis. "Jika kau membuat suara lagi..."

Aku tidak ingin tahu apa yang akan dia lakukan padaku. Aku mengangguk cepat, wajahku berkeringat dan lidahku menjilat bibirku, tepat di mana dia menggigitku. Dia tidak berhenti menggesekkan selangkangan kami bersama-sama. Dia begitu keras hanya dengan ciuman dan aku ingin tahu seberapa terangsangnya dia.

Seluruh pakaianku dilepas dan Sehun dengan kebaikan hatinya menggantungkan itu pada gagang pintu. Aku telanjang bulat dan gemetar, menggigit bibir menahan diri dari membuat suara apa pun ketika dia menatap tubuhku dari atas ke bawah.

"Aku sudah memutuskan," bisiknya. "Aku akan menyetubuhimu di sini..."

Kukuku menggaruk pembatas yang tidak membantu sama sekali di belakangku. Tidak banyak ruang tersisa di sini, aku melihat dengan hati-hati ketika dia bergerak mendekat. Aku menelan ludah sementara dia mengangkat tangannya kemudian menempatkannya di pundakku. Dengan lembut dia meremasnya membuatku nyaris membuka mulut untuk mengeluarkan desahan kenikmatan. Aku gemetar sebab telapak tangannya yang menempel di kulitku kemudian meluncur ke bawah menekan ereksi tegakku. Tubuhku menggeliat putus asa sementara aku melakukan usaha sia-sia menahan rintihan di dalam diriku. Aku tidak lagi mengantuk; tindakan tidak senonohnya telah memberiku energi. Aku ingin disiksa olehnya, disetubuhi dalam ruangan sempit ini sementara aku yang berusaha keras menekan suara kenikmatanku.

"Aku akan membuat kesepakatan." Dia berbisik, melepas kancing kemejanya. "Jika kau berhasil menahan suaramu ketika aku menyetubuhimu, kau bisa kembali ke asrama. Jika tidak... Aku akan membawamu pulang ke tempatku dan menyetubuhimu sampai aku puas..."

Itu akan sangat sulit. Pikiranku sudah lelah namun tubuhku menginginkan itu. Gairahku menyuruhku untuk mengerang, berkata padaku untuk menangis dalam kenikmatan dan membiarkan dia membawa tubuhku untuk digagahi sepanjang malam. Itu terdengar begitu menggoda namun aku tidak yakin apakah tubuhku sanggup untuk melewati malam tanpa tidur lagi.

Tubuhnya menekanku dengan wajahnya yang begitu dekat sementara aku terengah dan mencoba melawannya. Dia mengamatiku dengan lekat; aku tahu dia menikmati kegelisahanku ketika jari-jarinya meremas pantatku. Aku tersentak namun berhasil mengendalikan suara apa pun yang keluar dari tenggorokanku. Dia terkekeh melihatku berkeringat dalam pelukannya kemudian mencium bibirku lembut.

Aku berhasil menurunkan celananya ke bawah. Sementara dia sibuk dengan bibirku, aku meraih penis tebalnya dalam genggamanku. Napasnya memberat ketika dia menggosokkan penisnya di tanganku dan aku bertanya-tanya bagaimana dia melakukan itu. Aku nyaris tidak bisa bahkan menahan suaraku ketika penisku menempel di pinggulnya, membuat gesekan manis yang membuat tubuh bagian bawahku seperti terbakar oleh hasrat.

"Sial, kau begitu menggairahkan," bisiknya dalam ciuman, sementara kurasakan precumnya merembes di jari-jariku. Aku berlutut, menyambar pangkal kejantanannya kemudian menciumi setiap jengkalnya. Dia bertopang pada pembatas ketika aku mendorongnya keluar masuk mulutku. Aku meraih penisku sendiri dan mulai mengocoknya. Lutut goyah berusaha menjaga keseimbangan. Batang kerasnya memenuhi tenggorokanku, meredam eranganku sehingga aku bersyukur dia tidak menyadarinya. Gairahnya sudah sangat tinggi dan aku memutuskan untuk memanfaatkan itu.

Aku mengocok penisku dengan kuat sementara dia menggosokkan kepala penisnya pada bibir dan lidahku. Matanya membara bertemu dengan mataku. Bibirku meluncur ke bawah untuk menghisap testisnya hingga akhirnya dia mengeluarkan erangan berdosa.

Dia menarikku berdiri. Aku sempoyongan berusaha tegak, menjilati bibirku sebelum kemudian dia menciumku. Aku memutar-mutar pinggulku pada selangkangannya, menggesek penis kami bersama-sama dan membuatku nyaris tidak bisa menahan erangan kegembiraanku.

Dua jarinya dimasukkan ke dalam mulutku namun aku masih tidak mengeluarkan suara apa pun dan aku berharap dia mengesihaniku. Dia mengeluarkan jarinya, bibirnya kembali ke bibirku dan lidahnya menjilati setiap bagian dalam mulutku. Dia melingkarkan salah satu kakiku di pinggangnya untuk memudahkannya mendapat akses ke lubangku yang memohon untuk dipuaskan. Semua indraku dipenuhi olehnya, bahkan lubang berkedutku menelan jarinya masuk dengan begitu kelaparan.

"Baby kau begitu sempit..." Dia mengerang. "Seolah kau belum pernah disetubuhi sebelumnya..."

Aku terangah, mendorong pantatku pada jari-jarinya. Tiga jarinya dalam diriku sekarang dan aku merasa itu tidak cukup. Aku tidak bisa bahkan membuka mulut untuk memohonnya agar segera menyetubuhiku. Aku sudah cukup menderita dan aku ingin penisnya memuaskanku. Aku begitu ketagihan, tidak lagi peduli di mana kami bercinta. Yang kuinginkan hanyalah orgasme yang mengacaukan tubuhku lagi dan lagi...

Kabut gairah begitu tebal di otakku sehingga aku bahkan tidak menyadari ketika dia mengangkatku dalam pelukannya. Kedua kakiku membungkus erat pinggangnya dan kejantanannya menembusku dengan kuat. Aku kehilangan semua pengendalian diriku, tidak mungkin sanggup menahan rasa sakit karena ditembus dan perasaan direnggangkan dengan begitu lebar. Aku menangis, mengerang dan merintih sementara kukuku menusuk kulitnya. Dia terkekeh karena dia telah menang.

"Mari mulai yang pertama dari banyak ronde malam ini..." gumamnya. Aku merengek, merasakan ciumannya di wajahku.

Tubuh lemahku mulai dientak naik turun pada penisnya. Aku berpegangan pada tengkuknya, jari berkeringatku tergelincir di kulitnya yang lembut ketika Sehun mengisiku dengan begitu sempurna. Rasa sakit mereda dan tubuhku telah siap untuk meledak, entakkannya begitu agresif sampai aku merasakan seluruh dunia berputar di sekitarku.

"Aku menginginkanmu." Aku bergumam. "Aku sangat menginginkanmu setiap waktu..."

"Begitukah?" Dia mengejek. "Aku tidak pernah tahu itu..."

Aku terisak ketika lidahnya berputar-putar di leherku, kulitku yang panas dihanguskan oleh jilatannya yang tanpa henti. Punggungku bergesekkan dengan dinding saat dia menggenjotku dengan kekuatan yang tak tertandingi, dan kemudian aku sampai, menyemburkan cairanku di antara dada kami, tangisan dan eranganku menggema dalam bilik toilet yang kecil.

"Kau gila," bisikku. Suara tawanya terdengar begitu menyenangkan di telingaku ketika dia dengan lembut menyeka air mataku dengan ibu jarinya.

Dia sungguh gila dan aku menyukai bagaimana aku tidak tahu apa yang akan dia lakukan padaku selanjutnya...


.


Segalanya berjalan lebih dari baik antara aku dan Sehun. Dia begitu menggoda, menantangku namun juga selalu memastikan aku baik-baik saja. Insiden bilik toilet masih segar dalam ingatan meski bahkan setelah minggu-minggu berlalu, dan aku hanya bisa gemetar kapan pun memikirkannya. Kami kembali ke tempatnya malam itu di mana dia memberiku makan, membiarkanku mandi kemudian membawaku ke tempat tidur agar aku bisa beristirahat. Aku mengira dia tidak akan benar-benar menggagahiku sepanjang malam sebagaimana yang dia katakan, namun rupanya, aku terbangun beberapa jam kemudian oleh tangan dan mulutnya yang dengan gelisah mencumbuiku dan membawaku kembali pada kesadaran. Malam itu hanya menjadi lebih menarik setelahnya...

Aku menghabiskan beberapa malam setiap minggu bersama dia namun aku juga memastikan untuk bergaul dengan teman-temanku. Aku menyadari bahwa meski Sehun penting, teman-temanku tak kalah penting. Sehun sendiri juga sangat senang ketika aku katakan padanya bahwa aku sudah baikkan dengan Yixing dan Baekhyun. Namun dia tidak begitu senang ketika kuberitahu tentang niatku memperbaiki pertemananku dengan Kris. Aku tertawa dan takjub melihatnya berusaha tetap bersikap sopan sementara ia menolak gagasan tentang menerima Kris sebagai temanku.

Aku tahu semua ini dimulai dengan kami berdua yang hanya bermain-main dan bersenang-senang. Namun segalanya serius sekarang karena kami semakin terlibat dalam kehidupan satu sama lain.

.

Hanya ada satu hal yang bisa aku pikirkan di meja makan siang satu hari. Apakah Sehun menganggapku pacarnya? Aku telah belajar untuk tidak menuntutnya karena aku tahu dia hanya akan memintaku untuk tidak membahasnya, namun aku perlu tahu.

Baekhyun menempatkan cup dessert di nampanku dan menjentikkan jarinya di depan wajahku.

"Makan dessertmu, tukang melamun." Baekhyun terkikik.

Aku melotot padanya dan Yixing ketika mereka duduk di depanku. Kudorong pikiranku untuk aku renungkan nanti.

"Jadi apa kau akan datang ke pesta?" Baekhyun bertanya dan aku menatapnya bingung.

"Orang tuaku pergi jadi rumahku bebas akhir pekan ini." Dia menjelaskan dengan gembira. "Aku berpikir untuk mengadakan pesta untuk semua teman dekatku!"

"Wow, kedengarannya menyenangkan." Aku tersenyum.

"Kau harus mengajak...pacarmu." Yixing tertawa dan aku memerah.

"Dia bukan..."

"Tentu saja dia iya!" kata Baekhyun, memukul tinjunya di atas meja. "Ajak dia, oke?"

"Tapi dia...Profesor." Aku membisikkan kata terakhir. "Apa tidak apa-apa jika dia datang ke pesta ini?"

"Hanya akan ada kita-kita, Hannie." Baekhyun meyakinkan. "Aku, kau, Yixing dan ketiga pacar kita,"

"Tunggu..." Aku mengalihkan pandanganku pada Yixing. "Kau punya pacar?! APA? BAGAIMANA? KAPAN?! AKU INGIN TAHU SEMUANYA!"

"Hanya jika kau mengajak pacarmu pertama-tama." Yixing mengedipkan mata dan aku bergumam rendah mengutuknya.

"Dia harus bergaul dengan teman-temanmu." Baekhyun menganjurkan sembari tersenyum. "Kalian sudah berhubungan selama berbulan-bulan."

Baekhyun benar. Itu akan membuatku bahagia apabila Sehun bergaul dengan teman-temanku...

.

Malam itu, dia mengundangku untuk makan malam di tempatnya. Aku melangkah ke dalam apartemennya yang terasa seperti rumah bagiku. Sehun selalu baik hati dan peduli dan aku selalu mendapati diriku tersenyum kapan pun berada di dekatnya.

Duduk di atas konter dapur, aku menontonnya memasak sesuatu yang lezat untukku. Dia begitu hangat dan menawan, bertanya tentang bagaimana hariku dan mendengarkanku dengan begitu sungguh-sungguh.

"Sehunnie?" Aku memanggilnya agak ragu.

Dia menatapku dengan senyum dan mendesakku untuk melanjutkan.

"Apa kau bebas akhir pekan ini?" tanyaku, menarik-narik lengan kaosnya.

"Untukmu?" Dia mengembuskan napas. "Selalu..."

Aku memerah dan dia mencium hidungku.

"Apa yang ada dalam pikiranmu?" tanyanya, menatap mataku dengan penuh kasih sayang.

"T-temanku... Baekhyun..." Aku memulai. "Dia mengadakan pesta di tempatnya. Dan dia ingin aku mengundangmu juga."

Dia menyipitkan mata selama beberapa detik. Aku tidak tahu apakah itu pertanda baik...

"Luhan, aku tidak bisa pergi, Baby." Dia terkekeh. "Jika ada anak yang melihatku di pesta itu—"

"Tidak, itu hanya Baekhyun dan Yixing," potongku cepat. "Dan pacar mereka..."

"Entahlah..." Dia menggaruk belakang lehernya. "Maksudku, mereka semua anak-anak dan aku tidak ingin menghabiskan akhir pekan bersama mereka,"

"Aku anak-anak juga," kataku dengan marah. "Lalu mengapa kau mau menghabiskan waktu bersamaku?"

"Aah itu karena kau jauh lebih pintar dari anak lain." Sehun menangkup wajahku di telapak tangannya. "Maaf Baby, aku merasa tidak akan nyaman bergaul dengan teman-temanmu,"

"Baiklah..." kataku murung, menatap jari-jariku dalam diam dan berkata pada diriku sendiri bahwa Sehun tidak salah... Meski aku sungguh menantikan pertemuannya dengan teman-temanku.

"Aku akan memberimu after-party untuk menebusnya." Dia mengedipkan mata dan aku tersenyum malu.

Esok paginya, Baekhyun bertanya apa aku mengajak Sehun.

"Umm maaf Baek." Aku berusaha tersenyum. "Aku tidak berpikir dia akan mau."

Baekhyun menatapku beberapa saat, namun untungnya dia tidak mendebat.

.

Pesta itu cukup menyenangkan. Aku bertemu pacar baru Yixing yang ternyata merupakan salah satu senior kami di Universitas. Suho berada di semester akhir dan dia adalah anak yang cerdas. Dia adalah seorang yang menghibur Yixing dan mendorongnya untuk berbaikan denganku ketika ia bertemu Yixing pada tugas sesi bimbingan. Kemudian mereka mulai berkencan dan aku sangat bahagia untuk sahabatku.

Pesta berakhir hingga larut malam dan pada dini hari semua orang pingsan setelah menari dan minum terlalu banyak. Aku berpamitan pada Baekhyun yang teler dan berjalan menuju apartemen Sehun. Aku sudah berjanji untuk mampir setelah pesta namun aku tidak yakin apakah dia masih terjaga.

Rupanya Sehun masih terjaga dan dia horny malam itu. Kami memiliki seks liar sepanjang hari. After party sudah pasti jauh lebih menyenangkan, meski melelahkan.

Hari pertama dalam seminggu, aku masih sangat pusing karena pesta namun aku tidak bisa lagi tidur di kelas. Tanda dari akhir pekanku yang liar dengan Sehun masih ada di leherku dan aku berusaha menyembunyikannya dengan turtleneck. Namun begitu, bibirku yang bengkak tidak bisa disembunyikan dan itu cukup membuktikan bahwa Sehun telah melahapku dengan buas sepanjang akhir pekan tanpa interupsi.

Yixing dan Baekhyun tidak bisa berhenti menggodaku. Dengan malu-malu aku mengabaikan komentar mereka namun mereka terus menjadikan kehidupan seks ku yang intens sebagai bahan candaan hingga kelas selesai hari itu.

"Jadi Luhan..." Yixing terkekeh. "Berapa banyak turtleneck yang kau punya?"

"C-cuma satu," gumamku karena aku tahu apa yang akan dia katakan selanjutnya

"Jadi apa kau akan memakainya lagi besok?"

"Ya." Aku berbisik dan teman-temanku terbahak keras.

"Seseorang rupanya ketagihan untuk melahapnya," kata Baekhyun mencubit pipiku. Aku berdecak.

"Enyahlah, kalian," kataku, menggerutu.

"Ayolah." Baekhyun menggoda. "Kau berkencan akhirnya setelah 18 tahun menahan diri. Apa kau pikir kami akan berhenti begitu saja?"

"Kami tidak... Berkencan..." Pipiku merah padam.

"Yeah benar." Yixing mengejek. "Kau harus datang ke kelas kimia kami kapan-kapan Baekhyun. Ketegangan seksual begitu tebal di udara. Itu mengagumkan mereka tidak saling menerkam satu sama lain di kelas."

Aku menutupi wajah dengan kedua telapak tanganku untuk menyembunyikan senyumku. Teman-temanku yang menjengkelkan memelukku dengan gembira dan aku bahkan tidak bisa protes. Aku tahu mereka benar-benar bahagia untukku.

"Profesor Oh." Yixing berkata. "Selamat sore..."

"Diam Yixing." Aku mengerang. "Pertama kali memang lucu tapi aku tidak akan tertipu untuk—"

"Hai." Sehun menyapa ketika aku melepaskan tanganku dari wajahku.

"H-hei..." gumamku malu-malu. Teman-temanku terkikik menjengkelkan sebelum mengucapkan selamat tinggal padaku.

"Luhannie kau tidak bisa memakai turtleneck itu selamanya, kau tahu!" Baekhyun berteriak dan aku mendesah.

"Maaf." Aku tersenyum canggung pada Sehun. "Mereka idiot kadang-kadang."

Sehun mengangguk namun aneh dia tidak menatapku.

"Apa semuanya baik-baik saja?" tanyaku, suaraku dipenuhi kekhawatiran.

"Y-yeah, aku hanya... Aku..." Aku belum pernah melihat dia begitu kesulitan dalam berkata. Dia menarik napas dalam dan aku bertanya-tanya mengapa dia tampak begitu bingung.

"Temanmu." Dia berkata dengan wajah berpaling dariku. "Apa mereka selalu mengatakan sesuatu seperti itu?"

"Aku sudah terbiasa." Aku mengedikkan bahu.

"Apa kau tidak apa-apa mereka menggodamu dengan...namaku?"

"Ya," kataku, bingung. "Kenapa itu harus menggangguku? Itulah yang biasa dilakukan teman."

Dia mengangguk dan aku melihatnya hanya berdiri di depanku, tampak seolah tidak bisa memutuskan apa yang harus dilakukan dengan tangannya.

"Apa kau merasa kurang baik?" Aku bertanya, menggenggam tangannya.

"Sepertinya." Sehun bergumam, melepas tangannya dari genggamanku. "Dan aku tidak ingin kau tertular jadi... Lebih baik jika aku sendirian malam ini...'

"Aku tidak akan sakit, jangan khawatir." Aku menggelengkan kepala.

"Tidak, aku hanya akan langsung tidur saat pulang." Sehun tersenyum tidak nyaman. "Kau tidak perlu berada di sana,"

"Baiklah," kataku ragu. "Katakan padaku jika kau butuh sesuatu."

Aku harap dia tidak benar-benar sakit atau apa pun.

"Sampai jumpa nanti kalau begitu." Sehun tersenyum dan aku melihatnya berbalik kemudian pergi.

Aku bertanya-tanya apa yang tengah terjadi dalam pikirannya.


.


520!