Tittle: Elf

Disclaimer: Fujimaki Tadatoshi

Genre: Supernatural, Crime, Friendship

Rate: T

Warning: OOC, OC figuran, Typo pake es, bahasa tidak sesuai EYD

Enjoy...

Chapter 25: Case 4, The Stray Member, Haizaki

"Eins?" Kise yang mengucapkan nama itu menatap empunya nama dengan pandangan tidak percaya. "Yang benar saja? Kenapa Kurokocchi tidak memberi tahu kami ssu?!" Protesnya pada Kuroko yang masih saja mengacungkan pedangnya.

Kuroko, tanpa mengalihkan pandangannya dari Haizaki yang mengaku sebagai Eins, menjawab pertanyaan Kise. "Maaf, aku memang tidak tahu, Kise-kun."

"Eh?"

"Huh!" Untuk pertama kalinya setelah pengakuannya, Haizaki membuka suara. "Kau tidak perlu kelihatan terkejut seperti itu, Ryota. Memang apa anehnya kalau aku Eins?"

Dengan wajah memberengut, Kise menjawab. "Bukan apa-apa ssu. Tapi jadi rekan kerjamu di sini aja kadang bikin aku kesal. Gimana jadinya di Divisi Keajaiban?"

"Maksudmu apa, kuning?" Berbeda dengan nada meremehkan yang sebelumnya, Haizaki berkata dengan nada heran. "Siapa bilang aku mau bergabung dengan Divisi Keajaiban?"

"Hah?"

.

.

.

(Setting Skip)

"Haah~.. Bosaaan...!" Erang Aomine yang tiduran dengan santainya di sofa. "Kapan Kise dan Tetsu datang..."

"Kau berisik, Aomine. Kalau bosan lebih baik main game dengan Kagami sana!" Kesal Midorima.

Aomine yang sepertinya baru ngeh dengan ide itu pun bangkit dengan cepat menuju Kagami. "Ide bagus, Mido!"

"Kenapa namaku disingkat, nodayo!?"

Selang beberapa menit setelah percakapan di atas, pintu kantor terbuka pelan dan masuklah tiga orang yang pernah mereka temui sebelumnya.

"Yahoo! Taiga!" Sapa satu-satunya wanita di sana, Alex.

"Lho? Kalian datang?" Tanya Kagami heran dan langsung menghentikan permainan mereka.

Nijimura yang lebih dahulu duduk menjawab dengan nada malas. "Tentu saja. Kasus ini kan kerjasama antara kita. Kita harus berbagi informasi."

"Ini ruang kerja atau taman bermain?" Nash yang sedang memandang keliling ruangan bergumam tidak nyambung.

CKLEKK

"Kami pulang..."

Tidak berselang lama, pintu kembali terbuka, menampakkan Kise dan Kuroko. Tapi baru selangkah Kuroko memasuki ruangan, tubuhnya menegang dan kabur dari sana tiba-tiba. Meninggalkan semua orang di ruangan itu yang memandang heran.

"Lho? Kurokocchi mau kemana?!"

"Sialan si cebol itu! Berani-beraninya dia melarikan diri!" Nash yang melihat aksi Kuroko tadi langsung naik pitam dan berniat mengejar. Tapi dihalangi oleh Nijimura karena mereka masih harus membahas kasus ini.

Begitu mereka menyamankan diri di sofa, Midorima menyerahkan lembaran yang diserahkan Takao sebelumnya dan menjelaskan detail sisanya.

"Begitulah. Jadi sekarang kita tinggal menunggu penyelidikan dan Momoi, nodayo."

"Momoi?"

"Informan kami. Kita ketahuan sedang menyelidiki kasus ini. Jadi Satsuki mengirimiku pesan untuk menunggu sampai besok. Untuk menjelaskan temuannya." Jawab Aomine terdengar tidak ikhlas. "Dasar si jelek itu. Gimana dia bisa tahu?"

"Kalian sendiri? Apa yang telah kau dapatkan, Alex?"

"Kami juga memantau orang ini," Tunjuknya ke foto mayat yang mereka selidiki. "Tapi kami lebih berfokus kepada siapa dia bekerja. Jadi kami mencoba membajak teleponnya dan ternyata ia menghubungi seseorang untuk mendapatkan barang itu. Hanya saja, orang yang dihubunginya ini tidak meminta uang, melainkan organ tubuh seperti yang kalian katakan." Jawab Alex mewakili yang lain.

"Kami juga berusaha melacak nomor telepon orang itu, tapi ia juga cukup cerdik sehingga nomornya tidak terlacak oleh kami. Yang kami dapatkan hanyalah rekaman suara percakapan mereka." Sambung Nijimura.

"Baiklah," Ucap Alex lagi. "Kurasa itu saja untuk hari ini. Kalau ada hal baru lagi langsung hubungi kami. Kami juga akan mencari informasi sebanyak mungkin. Bye.."

"Tunggu dulu! Urusanku dengan si cebol itu belum selesai!" Protes Nash ketika tahu ia gagal melabrak Kuroko.

"Nanti saja. Kau bisa melabraknya begitu kasus ini selesai." Ucap Nijimura. Kemudian mereka pun berlalu dari sana.

Selang beberapa lama setelah pasukan Divisi Pelindung Amerika Serikat pergi, suasana menjadi hening hingga sebua suara terdengar. "Mereka sudah pergi?" Tanya suara itu.

Hening sejen—

"HWAAA! KUROKO! SEJAK KAPAN!?" Baiklah, tadi tidak sejenak.

"Sejak mereka keluar tadi." Jawab pemilik suara—Kuroko—lempeng. "Urusan mereka sudah selesai?" Tanyanya lagi. Mereka yang masih dalam mode syok terapi menangguk.

"Syukurlah.. Kalau begitu aku pul-"

"Eeepepep! Tunggu sebentar ssu!"

Kuroko yang sudah siap melarikan diri lagi langsung ditahan oleh Kise yang dari terus saja memelototinya. Meskipun begitu bagi Kuroko pelototan Kise lebih berkesan menyebalkan daripada menyeramkan.

"Kurokocchi. Kau sudah janji mau menjelaskan sesuatu kan?" Ucap Kise penuh penekanan. "Sekarang duduk dan jelaskan ssu!"

Pemuda bersurai langit itu mengerjap sesaat. Kemudian menghela napas dan duduk di samping Kise. Teman-temannya yang lain memandangi mereka berdua dengan heran.

"Menjelaskan apa sih?" Tanya Kagami.

"KAU DIHAMILI KISE YA TETSU!?"

BLETAK!

Jeritan tidak jelas Aomine dihadiahi jitakan oleh 'tertuduh'. "YA GAK LAH AOMINECCHI! SERATUS KALI PUN AKU MELAKUKANNYA KUROKOCCHI GAK BISA HAMIL SSU!"

"APA?! SUDAH SAMPAI SERATUS KALI!?"

"ITU PERUMPAMAAN BEGOMINECCHI(?)!"

"WOY! KENAPA JADI NGOMONGIN YANG BEGITUAN SIH!?"

Teriakan demi teriakan itu diakhiri dengan teriakan Kagami. Sedangkan Kuroko dan Midorima menunggu mereka selesai dengan tenang. Setelah semuanya kembali tenang, Kuroko pun memulai ceritanya.

"Tadi kami bertemu dengan Eins." Singkat, padat, jelas, berisi.

"Apa?!"

"To the point banget ssu!?"

"Maksudmu... salah satu Divisi Keajaiban?" Tanya Kagami.

"Siapa dia? Bu-bukannya aku mau tahu, nodayo."

"Haizaki Shougo. Dia model seperti Kise-kun."

"Awalnya dia menyerang kami dan bilangnya mau bertemu kami ssu. Tapi begitu kusinggung Divisi Keajaiban, dia bilang dia tidak mau bergabung."

.

(Flash Back)

"Tidak bergabung? Kenapa ssu! Sudah jelas kau-"

"Kalau begitu kau tidak berada di pihak kami." Ucap Kuroko mengambil kesimpulan sepihak. Tanpa aba-aba ia menerjang Haizaki dan mengarahkan pedangnya pada leher pemuda itu.

Kise yang melihat ini tentu saja terkejut. Kuroko yang seharusnya menjaga dan membimbing mereka malah menyerang salah satu dari mereka.

TRANGG!

Entah harus lega atau tercengang, Kise melihat warna leher Haizaki berubah menjadi keperakan. Seakan-akan leher pemuda itu dilapisi oleh besi, membuat percikan api akibat gesekan kedua benda logam itu. Entah setebal apa besi di leher si model, pedang Kuroko yang dapat membelah benda setebal apapun tak sanggup barang menggores sedikit saja leher Haizaki.

Haizaki tersenyum penuh kemenangan melihat ekspresi kaget dua orang di depannya. Tangannya kemudian terlapisi besi seperti lehernya dan menggenggam pedang Kuroko erat. Ia kemudian melemparkan pemuda mungil itu ke atas, lalu menaikkan tangannya sehingga muncullah silinder besi tebal yang menyodok perut Kuroko telak. Akibatnya, Kuroko tersungkur di lantai dan pedangnya terlepas dari genggamannya.

Haizaki yang sejak tadi tidak bergeming dari tempatnya melangkah mendekati Kuroko yang masih memegangi perutnya, mengabaikan kepanikan Kise di belakang bocah itu. Ia kemudian mengacungkan tangannya, namun kemudian kembali melangkah dengan muka masam, mendekati pedang yang terlempar. Tanpa menunggu waktu lama, pemuda bersurai silver itu mengambil pedang itu dan menghujamkannya ke perut Kuroko yang tidak sempat menghindar.

CREPP!

Sepertinya keberuntungan masih berada di pihak Kuroko. Ketika mata pedang tinggal berjarak beberapa senti dari perutnya, Kise sempat membuat pilar es yang mampu menahan tusukan Haizaki, sehingga pedang di tangannya hanya menembus es beberapa senti.

"Kurokocchi, baik-baik saja?!" Kise dengan cepat menghampiri pemuda itu dan membantunya berdiri. Kise mengangkat Kuroko di dadanya. "Shugo-kun! Sebenarnya apa yang kau pikirkan?!" Marah Kise di balik pilar es yang menghalangi mereka.

Haizaki yang sudah melepaskan pedang Kuroko mengerjap heran. "Seharusnya kau tanya temanmu itu, Ryota. Kenapa dia menyerangku duluan!?"

Mendengar seruan Haizaki, Kise hanya bisa terdiam sambil menatap Kuroko yang sepertinya berhasil memulihkan dirinya.

Begitu merasa lebih baik, Kuroko berdiri sendiri dan menjawab pertanyaan di benak keduanya. "Maaf, Haizaki-kun. Aku hanya ingin menguji kekuatanmu. Dan sesuai dugaanku, kau memang sudah lama membangkitkan kekuatanmu."

"Sudah lama? Sebenarnya, berapa lama kau memiliki kekuatan itu, Haizaki-kun?" Kise, yang sudah dirundung rasa penasaran berusaha bertanya perlahan. Pilar es di antara mereka dicairkan sehingga pedang Kuroko kembali terjatuh di lantai.

"Entahlah, sudah beberapa tahun ini kekuatanku bangkit. Dan tidak sekalipun aku merasakan kebangkitan yang lain hingga enam bulan lalu." Jawab Haizaki yang sudah kembali songongnya.

"Itu pertama kalinya aku bangkit." Gumam Kise.

"Kalau begitu, kenapa kau tidak pernah menunjukkan dirimu? Padahal selama ini aku menunggumu dan yang lain." Tanya Kuroko yang entah kenapa suaranya melemah.

"Sudah kubilang, aku tidak mau bergabung dengan Divisi Keajaiban."

"Tapi kenapa ssu!?"

"Karena aku tidak ingin hidup dengan menjadi seperti kalian. Aku tidak mau menjadi sok pahlawan dan membunuh orang dengan alasan menciptakan kedamaian! Heh! Maaf saja, aku bukan orang baik." Cerocos Haizaki.

"Lalu, kau ada di pihak mana?" Sekali lagi Kuroko bertanya dan kembali memasang posisi siaga.

"Tidak dimana-mana. Kenapa aku membaritahumu ini lagi sih!? Padahal si nomor 2 sudah menemuiku beberapa tahun lalu." Pernyataan Haizaki tak ayal membuat Kuroko menggeretakkan gigi.

"Sudahlah! Aku hanya ingin menyapa kalian, aku malas berdebat!" Pemuda bersurai silver itu berbalik dan melangkah menjauhi mereka. Namun, sebelum jauh, ia berhenti dan berbalik sedikit. "Tapi, kau curang juga. Padahal aku dan Ryota sudah menunjukkan kekuatan kami. Kenapa kau tidak menunjukkan sihirmu, peri kecil?" Ucapan yang terkesan mengejek itu diakhiri dengan senyum yang juga mengejek. Kemudian ia kembali berbalik dan menghilang di belokan lorong.

.

(Flash Back End)

"Jadi si Haizaki itu tahu kalau kau seorang penyihir?" Tanya Aomine yang dibalas anggukan Kuroko. "Tapi darimana dia tahu?"

"Mungkin diberitahu si nomor 2 yang dia sebut tadi." Gumam Kagami. "Sepertinya mereka tidak sekali dua kali bertemu."

"Lalu, si nomor 2 itu tahu darimana ssu?"

"Kau pernah bertemu dengannya, Kuroko?" Pertanyaan Midorima juga dibalas Kuroko dengan anggukan. "Kapan, nodayo?"

"Ketika kita menyusup ke markas bawah tanah para peneliti bulan lalu." Jawab Kuroko cepat. "Zwei. Nama sebenarnya Ogiwara Shigehiro. Ia merupakan orang pertama yang bangkit di antara kalian. Dia diasuh dan dilatih langsung oleh Zwei sebelumnya, Nijikata-san. Aku bertemu dengannya beberapa kali sebelum pembantaian lalu. Setelah itu kami tidak pernah bertemu lagi hingga waktu itu."

"Kalau begitu, kenapa tidak kau ajak dia untuk bergabung!?" Pekik Kagami agak kesal dan heran.

"Karena, sejak awal dia sudah bukan teman kita." Ucapan Kuroko membuat yang lain tambah bingung. "Dia mengatakan padaku kalau dia bekerja untuk seseorang bernama Odin. Namanya beberapa kali disebutkan dalam sejumlah kasus dan kabar yang datang tidak pernah menyenangkan. Odin ini sepertinya tertarik dengan kekuatan kalian. Karena itulah, aku tidak bisa menganggap Ogiwara yang bekerja untuknya berada di pihak kita." Jelasnya panjang lebar. "Itulah kenapa aku menyerang Haizaki-kun lebih dulu, karena sekarang aku tidak bisa mempercayai orang luar dengan mudah."

"Jadi, kau bermaksud melindungi kami dari si Odin itu?" Tanya Aomine memandang Kuroko intens. Kuroko tidak menjawab, namun balik menatap Aomine intens seakan menjawab 'iya'. Mengetahui jawabannya, Aomine mendengus geli. "Padahal kau lebih lemah dari kami. Aku salut padamu, Tetsu."

"Terserah." Kesal Kuroko sambil memanyunkan bibirnya.

.

.

.

(Setting Skip)

Di sebuah apartemen sederhana, seorang pemuda jangkung sedang duduk santai di depan televisi dengan bungkus besar snack di tangan. Pemuda itu fokus menyimak berita yang disampaikan di televisi meski kelihatannya tidak begitu. Sangat jarang sebuah berita dapat menarik perhatian pemuda bersurai terong ini.

Di tengah aktivitasnya, seorang pemuda lain dengan poni miring yang menutupi mata kirinya datang dan menyapa, yang dibalas sapaan malas. Pemuda yang satunya itu pun mengambil tempat duduk di samping pemuda jangkung dan ikut menonton televisi.

"—Hingga kini polisi sedang menyelidiki identitas mayat tersebut. Namun dugaan sementara menyatakan mayat tersebut merupakan salah seorang gembong narkoba yang tengah buron. Se—"

"Hooh... Beritanya menarik. Ini ulahmu, Atsushi?" Si pemuda berponi miring mengalihkan fokusnya dari berita televisi ke arah pemuda yang dipanggilnya Atshushi.

"Hng..." Sedangkan Atsushi, alias Murasakibara sendiri menjawab dengan gumaman malas khasnya.

"Memangnya apa yang telah dia lakukan sampai kau membunuhnya?" Pemuda berponi miring bertanya dengan nada tertarik.

"Dia menembakiku. Terus jantungnya rusak. Makanya kumakan saja jantungnya." Jawab Murasakibara minim antusias.

"Hahaha! Tidak sabaran seperti biasanya, ya! Atsushi.." Pemuda itu tertawa ringan mendengar cerita Murasakibara, seolah pembunuhan yang dilakukan rekannya itu sebuah lelucon konyol.

Suasana menjadi hening setelahnya, kecuali suara televisi yang dibiarkan menyala di tengah-tengah mereka. Murasakibara sibuk dengan snack dan pikirannya sendiri, sedangkan pemuda di sampingnya masih asyik menonton televisi. Terkadang Murasakibara mencuri pandang ke arah si pemuda, seakan ingin menyampaikan sesuatu.

"Ne... Muro-chin." Setelah sekian lama berdebat dengan benaknya, Murasakibara pun memberanikan diri berbicara.

'Muro-chin' yang merasa dipanggil menoleh ke arah teman besarnya dengan senyuman terulas. "Hm? Ada apa?"

"Ada yang ingin kukatakan." Sahutnya sedikit ragu. Pemuda yang satunya hanya diam, menunggu Murasakibara menyelesaikan kalimatnya. "Aku ingin berhenti."

Sorot mata 'Muro-chin' tidak berubah sama sekali, ekspersinya pun masih sama. Kecuali senyumannya yang sejak tadi terpatri kini menghilang. "Boleh aku tahu kenapa?" Tanyanya dengan nada sangat datar.

Murasakibara berkeringat dingin mendengar nada tidak biasa ini. Namun ia tetap menjawab pertanyaan itu. "Aku sudah lelah Muro-chin. Aku tidak suka melakukan ini. Ini tidak benar!" Jawabnya sedikit lebih tegas dari biasanya.

"Murasakibara Atsushi."

"Gawat!" Rutuk Murasakibara dalam hati. Ia tahu, kalau nama panjangnya disebut, tentu hal tidak menyenangkan akan terjadi.

"Atsushi ingat namaku?"

"Himuro.. Tatsuya."

"Atsushi ingat janjimu?"

"Menurutimu dalam keadaan apapun."

"Anak pintar." Puji Himuro. Tangannya perlahan mengelus gagang pisau yang entah sejak kapan ada di tangannya. Melihat itu, Murasakibara mulai gemetar.

"Atsushi ingat janjimu yang lain?" Tanyanya, mulai mengeratkan genggamannya kepada pisau.

Murasakibara tidak menjawab. Dia tidak dapat menjawab. Tubuhnya benar-benar gemetar. Keringat dingin semakin banyak mengalir di wajahnya. Matanya menatap horor ke arah pisau di tangan Murasakibara.

"Tidak akan membiarkanku terluka sedikitpun. Iya kan?" Himuro bertanya sambil mengetuk-ngetukkan bagian tajam pisau ke lengan kirinya. Dengan gemetar Murasakibara menganggukkan kepalanya. Melihat wajah pucat Murasakibara, pemuda itu menjauhkan pisaunya dan meletakannya di atas meja. Melihat itu pemuda jangkung itu menghela napas lega. "Jadi, apa yang sebaiknya Atsushi lakukan?"

"Menurut dengan Muro-chin saja." Kali ini pemuda bersurai ungu itu dapat menjawab dengan nada malasnya yang biasa. Meski juga terdengar nada putus asa di dalam jawabannya.

Mendengar jawaban dari teman besarnya itu, Himuro kembali tersenyum simpul. "Baiklah kalau begitu. Atsushi mau snack lagi? Aku baru membuat pop corn." Tawarnya kepada Murasakibara dan meneruskan menonton beritanya.

.

.

.

TBC

A/N:

Saya bingung mau nulis apa di A/N... Minta maaf lagi kali ya..? #Dihajar

Hehe... setelah sekian lama, akhirnya saya punya laptop saya sendiri...! Notebook sih... tapi saya senang...

Saya emang berpikir untuk mengupdate chapter yang baru begitu saya beli laptop sendiri, tapi ternyata perlu waktu beberapa bulan biar duitnya ada. Saya selama ini agak kerepotan waktu menulis fanfic karena selalu pinjam (baca:rebutan) punya Ba-chan. Tapi, setelah saya punya sendiri... SAYA BISA MENGERJAKANNYA KAPANPUN! BAHKAN TENGAH MALAM SEKALIPUN! (capslock jebol oi!)

Selain itu teman saya ngajakin kolaborasi buat nulis ffn di fandom sebelah. Katanya pelampiasan karena endingnya jelek... Padahal menurut saya bagus kok.. /no offense/. Jadilah agak ngadat tulisan saya (alasan!)

Yup! Ngomgong-ngomgong soal chapter ini... Murasakibara.. gimana jelasinnya ya? Ada sesuatu pada Murasakibara, dan itu akan saya jelaskan nanti... mungkin sekarang? Pokoknya, dia punya semacam phobia..

Kalau untuk Eins sendiri, sementara ini dia jadi anggota lepas (?). Dan hanya muncul sedikit. Kejelasan untuk Eins akan saya barengkan dengan Akashi nanti...

Tapi kali ini saya gak bikin episode gantung. Saya bingung...

Ah, ngomong-ngomgong... Selamat Hari Raya Idul Adha (late)

Baiklah segitu dulu cuap-cuap gak jelas saya... (dosen saya udah masuk).. Akhirul kata...

RnR Please...

Balasan untuk yang tidak pakai akun

Aziichi

Ah, iya. Saya emang udah merencanakan peran Haizaki dari awal. Tapi dia baru berperan sedikit sih...

Hmm... saya juga berharap Kuroko dibikin bagian Keajaiban #plakk (Lha, pan lu authornya!)

Mura: Nyemm... enak.. seger. Tapi aku gak mau bagi-bagi sama Azi-chin!

Hai! Saya akan semangat! Maaf karena telat update.. Selamat membaca dan terima kasih... #bow

.

.

Omake 1

Kuroko yang melihat Nash di dalam ruangan menghentikan langkahnya. Ia dengan cepat berbalik dan pergi meninggalkan ruangan itu.

GREPP

Namun belum sempat mengambil langkah, Nash sudah lebih dulu meraih kerah belakang Kuroko dan mengangkatnya—seperti anak kucing.

"Eits! Mau kemana kau, cebol...?" Geram Nash di telinga Kuroko. Sedangkan si cebol sendiri sudah ketakutan setengah mati dengan wajah datar khasnya.

"Aku... harus ke toil—"

"GAK ADA TOILET-TOILETAN! Kita selesaikan urusan kita di sini sekarang!"

"Hoi! Nash! Apa-apaan kau!? Turunkan Tetsu!" Bela Aomine. "Memangnya apa masalahmu, hah!?"

"Masalahku? DIA BELUM BAYAR HUTANGNYA YANG 3M!"

Hening...

"APA!? KUROKO PUNYA HUTANG 3M!?"

"Jangan berlebihan, Nash-san. Cuma 3M." Ucap Kuroko yang masih diangkat kayak anak kucing.

"3M itu bukan 'cuma', anak muda." Batin mereka.(A/N: Saya heran, kenapa ketika mereka membatin, batin mereka sama?)

"Marebu Maratus Mapuluh." Sambung Kuroko.

SIIINGG...

"Rupiah."

"KITA DI JEPANG NYET! GAK PAKE RUPIAH! LAGIAN MASA UTANG SEGITU KAMU GAK BISA BAYAR KUROKO!" Kali ini satu ruangan berteriak ke telinga malang Kuroko.

Omake 2

Haizaki mengangkat pedang Kuroko dan menghujamkannya ke perut Kuroko yang tidak sempat menghindar.

JLEBB

"AKH!"

Kuroko mati.

Elf tamat.

.

"HOI! KENAPA KAMU BUNUH KUROKOCCHI BENERAN, SHUGO-KUN!? LIHAT! FANFIC-NYA JADI TAMAT KAN!"

"A-AKU GAK SENGAJA! SIAPA SURUH DIA MAIN TIDURAN DI SITU!"

"Khh... Akan... ku..balas kau... Haizaki..kun..." Kuroko sekarat. "Sequel Elf.. Pembalasan Hantu Kuroko. Nantikan." Mati.

"JANGAN BIKIN SEQUEL SEMBARANGAN! LAGIAN SEMPAT-SEMPATNYA SEKARAT MIKIRIN SEQUEL!" Teriak Kise ke mayat Kuroko.

"LHA, KENAPA JUGA SEQUELNYA HOROR GITU!?" Ini Haizaki.

"HOI! SIAPA SURUH BIKIN TAMATAN ELF DI SINI HAH! BELOM TAMAT PRET!" Kalau yang ini author.

Dan mereka pun perang capslock jebol.