CHAPTER 26

A LITTLE LONGER

.

.

.

Yunho POV

Meeting bulanan di hotel Hilton benar-benar menguras tenagaku, semua orang yang kuajak rapat juga tampak kelelahan setelah tiga hari dua malam melakukan diskusi, beberapa proyek untuk musim dingin harus segera kami rampungkan demi kejar setoran pada partner bisnis kami, untung saja para pegawaiku adalah pegawai terbaik yang selalu bekerja ekstra demi membuahkan hasil yang maksimal. Wanita baru yang kurekrut beberapa minggu lalu juga sangat berperan dalam tim kami, ia banyak memberi andil pada pada bisnis kami.

"Bos tandatangan disini"

Sekretarisku memberi banyak lembar surat untuk ditandatangani, tampak wanita cantik itu mengantri dibelakang sekretarisku.

"Ini semua selesai" ujarku menyerahkan lembar terakhir yang telah kutandatangani, setelah sekretarisku pergi gadis yang tadi dibelakangnya tersenyum kearahku

"Kau lupa melihat desainku untuk beberapa aksesoris" ujarnya sambil menyerahkan sketsa gambarnya, ketika ia menurunkan buku gambarnya tampak belahan dadanya yang cukup terbuka, sebagai seorang lelaki mataku sangat cepat menangkap pandangan indah tersebut.

"Hmm coba kulihat"

Aku berusaha untuk meneliti lukisan tasnya walau aku tidak fokus karena posisinya membungkuk dan menunjukkan belahan dadanya yang sangat seksi, sial seharusnya aku lebih tegas dalam menentukan sikap untuk pakaian karyawan.

"Bagus, coba kau perlihatkan pada kepala bagianmu" ujarku sambil menyerahkan sketsanya dengan cepat, aku tidak ingin berlama-lama dengannya.

"Kau dingin sekali, apa ini karena rapat itu?" protesnya pada sikapku.

"Apa? Hmm…iya aku lelah sekali". Kataku memberi alasan.

"Bagaimana kalau aku mentraktirmu, ada masakan enak yang ingin aku perlihatkan padamu" ujarnya.

"Sekarang aku tidak ada waktu aku ingin mengunjungi anakku"

"Baiklah, mungkin lain waktu saja" ujarnya dengan wajah kecewa, walaupun begitu ia belum berhenti juga untuk membuatku menarik diri dari perhatiannya.

"Kalau minggu ini kau ada waktu bisa kau pergi melihat lelang untuk amal perusahaan kita?...aku tidak enak datang sendiri, Pak Kim dan Pak Lee katanya tidak bisa hadir" ujarnya lagi.

"Akan aku usahakan" jawabku dengan cepat.

"Baiklah, selamat bersenang-senang" katanya sambil mengedipkan sebelah mata padaku lalu beranjak pergi.

.

Di mobil aku melepaskan dasiku sambil menarik nafas lega, berbicara dengan gadis itu sungguh membuat dadaku ketar-ketir, entah mengapa walaupun aku berusaha untuk tidak menggubrisnya namun setiap ia berbicara padaku aku tidak pernah bisa untuk melepaskan pandanganku darinya.

Aku menggerakkan mobilku dan kupasang headseat sambil menekan nomor yang kuhapal, aku rndu sekali padanya, hanya dia yang bisa menjadi pengalih perhatianku pada orang-orang yang mencoba mendekatiku.

"Halo" ujar suara berat diujung sana

"Jae bagaimana kabarmu?"

"Kau baru bertanya soal itu beberapa jam lalu padaku, memangnya ada apa?"

"Aku hanya rindu padamu, apa orangtuaku ada disana?"

"Ada tapi sebentar lagi mereka akan keluar, katanya ada undangan makan malam dari sahabat ayahmu"

"Mereka mengajak kalian juga?"

"Hanya Binnie"

"Aaah baguslah, kalau begitu aku kesana sekarang ya"

"Kau mau kesini sekarang?"

"Iya"

"Baiklah akan aku tunggu"

Tak lama kemudian aku sudah ada didepan pintu rumah orangtuaku, Jae sendiri yang membukakan pintu untukku, senyumnya mengembang saat melihatku, jelas sekali ia sangat senang melihatku datang, tanpa banyak basa basi aku langsung menarik tangannya ke kamar, seperti anak kecil yang mendapatkan mainan baru aku pun tak sabaran ingin memakai mainan baruku, aku langsung menciumnya bertubi-tubi di bibir dan lehernya, ia sampai kewalahan dengan seranganku dan mencoba mendorongku menjauh.

"Kau ini kenapa sih" katanya sedikit panik

"Hei cepatlah sebelum mereka kembali" ujarku yang mencoba menyerangnya lagi namun ia mendorongku.

"Aku kan sedang hamil, kau tidak lihat kondisiku?"

"Aku lihat, apa kau juga tidak melihat diriku yang sangat bernafsu sekarang?!" tanyaku balik.

"Kita sudah berjanji agar tidak berhubungan badan sampai menikah nanti"

"Aku tidak peduli, cepat berbaring!" ujarku setengah memaksa, ia berbaring dengan perut buncit diatasnya, bibir kami beradu lagi sedangkan tanganku dengan sigap melepas piyamanya.

"Aaah"

Jepitan kakiku diantara pahanya sedikit menyulitkannya, aku membelai perut besarnya lalu kuciumi dengan lembut, jae mengerang kecil saat pusarnya kujilati.

"Yunho" ujarnya setengah tertahan, perlahan bibirku menyapu perut bawahnya lalu turun kebawah, juniornya sudah mengeras waktu lidahku menyambanginya, melihat umpanku bekerja dengan baik dengan cepat aku segera mengeksekusinya. Aku segera memasukkan juniornya dimulutku, kukulum sambil memaju mundurkan juniornya dengan cepat.

"Ha...nngh..arh..ah"

Rintihan lembut terlepas dari bibir merahnya, aku merapatkan jari-jari kami lalu kugerakkan mulutku maju mundur melawan juniornya, rintihannya yang semakin cepat membuat dadaku bergejolak, mulutku semakin cepat bergerak, tangannya bergetar hebat sebelum ia mengerang dengan keras

"AAHH!"

Lelehan cairan hangat menyembur keluar dari dalam mulutku, jae buru-buru mangambil tisu dan membersihkan mulutku.

"Maaf, aku tidak sengaja" katanya tidak enak padaku

Buru-buru aku membaringkannya lagi, seperti kesetanan aku menciumnya lagi tanpa ampun, aku haus sekali akan dirinya, aku bisa mati jika tidak melampiaskan nafsuku padanya.

"Aah…nnghh Yunho"

Ia menarik rambutku menjauhkan bibirku dari bibirnya, ia menatapku dengan tatapan sayu.

"Aku rindu padamu Jae" kataku sambil menyentuh bibirnya yang merekah

"Aku juga" balasnya, wajahnya yang pucat akibat kesakitan oleh perut buncitnya tidak menyurutkan niatku untuk menghabisinya malam itu.

"Jae aku ingin dirimu malam ini" ujarku serius, ia menatapku, Senyumnya mengembang kecil, tiada sepatah katapun keluar dari bibirnya namun ia mengangguk pelan dan mendorong kepalaku ke pelukannya.

"Hati-hati pada janinnya"

.

.

.

Baju kami tergeletak tak beraturan dilantai namun ritme tubuh kami bergerak secara bersamaan, erangan-erangan kecil terkesiap dari bibirnya saat aku menggoyangkan tubuhku keatas melawan tubuhnya, dengan kondisi perutnya yang buncit aku memangkunya duduk di atas pahaku, dengan susah payah juniorku menembus pantatnya, ini tidak mudah mengingat tubuhnya yang harus kutopang belum lagi rintihannya membuatku harus serba ekstra hati-hati memasukannya.

"Ah..ah..ah"

Kami berdua mengerang saat tubuh kami melawan satu sama lain, rasanya luar biasa nikmatnya, aku serasa naik ke langit berikutnya begitupun dengannya, walau kelihatan menyakitkan baginya ia tetap menikmatinya.

"Arghh Jae enak sekali kau sempit sekali, sudah lama kau tidak dimasuki olehku" kataku menggodanya

"Yun..ho..aku..ti..dak kuat lagi" ujarnya sambil memelukku

"Aaah..aah…sebentar lagi sayang" ujarku sambil mendorong pantatku kuat-kuat

"Aah Yunho keluarkan!"

Dengan cepat aku menggenjot tubuhku kearahnya, ia berteriak dengan hebat sambil memelukku, rambutku disela-sela jari-jarinya, tubuh kami saling menghentak sebelum akhirnya kami mencapai klimaks.

"Hah..hah.."

Nafasku tersenggal saat pertempuran kami usai, Jae berbaring lemas disampingku sambil memegang perut buncitnya.

"Jae kau sungguh hebat sekali" kataku sambil mencium lembut keningnya.

"Yunho aku rindu padamu" katanya padaku, perlahan airmatanya jatuh, aku sungguh bodoh sekali ia pastinya menderita dengan semua kondisi ini, semua perjalanan pahit yang harus ia lewati pasti menguras emosinya.

"Kita pulang saja ya Jae, aku butuh dirimu di rumah". Kataku menghiburnya. Dengan berderai air mata ia menggeleng padaku.

"Aku harus mendapatkan restu ayahmu".

"Lupakan restu ayahku, kita bisa bertahan hidup sendiri, aku bisa menghidupi kalian walau tanpa dukungan orangtuaku".

"Ayahmu ia juga sangat menderita"

"Ia tidak menderita ia hidup berkecukupan"

"Tapi ia kehilangan dirimu, kehilangan anak yang ia cintai, saat ia melihat fotomu ia selalu menatapnya dengan lama, saat kutanya appa-nim kenapa kau selalu melihat foto Yunho kecil lalu ia menjawab bahwa ia merindukan saat kalian bersama, saat kau selalu bilang kau ingin disamping ayahmu, saat kau bilang ayahmu adalah pahlawan bagimu, sekarang walau ia memberikan donor untuk anakmu kau masih membencinya".

"Kau jangan memikirkan itu, aku sudah dewasa dan bisa menentukan hidupku sendiri"

"Yunho bersujudlah pada ayahmu dan minta maaf padanya, kenapa kau terus memusuhi ayahmu sendiri"

"Aku tidak bisa, ia membencimu dan orang membencimu tidak akan kumaafkan"

"Tapi ia punya alasan membenciku"

"Kenapa kita membicarakannya?, kenapa kita tidak bicarakan anak kita yang mau lahir saja"

Jae menatapku tanpa berkedip, matanya yang besar menahanku, aku sungguh tidak mengerti kenapa ia mau hidup menderita demi mendapat restu keluargaku, benar-benar keras kepala.

"Aku mencintaimu Yunho, aku juga ingin dicintai oleh keluargamu" ujarnya pelan, karena gemas aku tidak tahan untuk tidak mengecup bibir indah itu lagi, aku menghisap bibirnya dengan kuat.

"Kau keras kepala sekali".

oOo

JAE POV

"Kami pulang!"

"Selamat datang" ujarku sambil membungkukkkan tubuhku saat calon mertua dan anakku pulang.

"Omma…Bin bawa kue untuk omma"

"Iya terimakasih ya sayang"

"Apa ada yang datang kesini?" Tanya ayah Yunho penasaran.

"Ah tidak Appa-nim, aku sendirian dari tadi".

"Oya? Apa tadi Yunho datang kesini?". Tanyanya lagi.

"Apa? Ah tidak"

"Kalian tidak berbuat yang tidak-tidak dirumahku kan?, wajahmu pucat dan rambutmu tampak baru dirapikan, jalanmu pun tidak biasa, kau pikir aku bodoh?" katanya. Aku menunduk malu.

"Maafkan aku"

"Sayang jangan begitu, mereka kan jarang bertemu, kau harus paham dengannya" kata Umma Yunho berusaha membelaku.

"Yah aku paham, anak jaman sekarang pasti tidak memikirkan etika moral sama sekali"

"Yah sayang kenapa bicara seperti itu!" ujar ibu Yunho tidak enak terhadapku

"Memangnya kenapa? Anak jaman sekarang memang mudah sekali main tidur dengan siapa saja walau mereka tidak terikat pernikahan bahkan mereka tidak peduli jika membuahkan anak…benar-benar" katanya sambil menatap sinis kearahku, aku semakin malu menatapnya, semua yang diucapkannya tidak salah tapi aku juga tidak bisa berbuat apa-apa. Aku sedih sekali sampai ingin menangis.

"Omma ayo makan kuenya" ujar Bin kemudian menghiburku.

"Iya".

oOo

"Ini gambar barunya"

"Terimakasih Hyuna, desainmu sangat disukai oleh Avail, berkat karya-karyamu kita kebanjiran pre-order yang cukup sampai tahun depan"

"Apa artinya aku akan dapat bonus?"

"Tentu saja, kau salah satu pegawai yang kompeten disini, semua perusahaan pasti akan berlomba mendapatkanmu"

"Termasuk diirmu?"

"Tentu saja, aku akan mendapatkanmu lebih dulu dibanding orang lain"

"Untuk bonusnya apa aku boleh meminta permintaanku sendiri?"

"Apa itu?"

"Dinner romantis dengan bosku"

"Hmm…Kita akan dibicarakan kalau kita dekat seperti ini"

"Memangnya kenapa? Kita kan cuma makan malam, apa kau memikirkan hal yang lainnya?"

"Ah ti..tidak, maksudku kita harus hati-hati menjaga sikap, kau tahu mulut orang-orang kan?"

"Memangnya kenapa? Kau kan belum menikah dengan siapa-siapa, kita sama-sama single"

"Kalau tidak ada hal lain lagi kau boleh meninggalkan kantorku"

"Kau ini galak sekali"

Gadis itu melangkah pergi namun ia memundurkan kakinya lagi dan menatap balik Yunho.

"Pokoknya aku tunggu malam ini ya, aku ingin bonusnya dibayar malam ini juga" ujarnya lalu pergi keluar.

Yunho mengendurkan dasinya lagi seraya memaki dirinya sendiri yang tidak bisa berbuat apa-apa dihadapan gadis itu

oOo

Di restoran bintang lima

"Aku bisa bangkrut kalau semua pegawaimu minta bonus di tempat seperti ini" kataku bercanda padawanita cantik didepanku, malam ini ia memakai gaun merah yang sangat menonjolkan bentuk tubuhnya, jika bukan karena mempunyai Jae dan anak-anak aku pasti sudah tergoda olehnya.

"Namanya juga dinner romantis" ujarnya menggodaku dengan senyumnya

"Hyuna aku serius tentang perkataanku tadi siang" kataku mulai serius.

"Perkataanmu yang mana?".

"Tentang kita harus hati-hati dengan hubungan kita".

"Maksudmu kau takut hubungan kita dibicarakan orang?".

"Iya, dan lagi aku juga tidak benar-benar single".

"Apa maksudmu, kau sudah menikah?".

"Belum resmi tapi cepat atau lambat aku akan menikah dengan seseorang, ia ibu dari anak-anakku"

"Oh begitu ya, tapi kau kan belum resmi menikah dengannya"

"Tapi aku harus setia padanya" balasku mengingatkannya.

"Apa jalan denganku membuatmu berpikiran untuk tidak setia padanya?". Tanyanya

"Apa maksudmu?"

"Kau sangat memperhatikan tentang omongan orang di sekitarku, tapi kau tetap jalan denganku, kau juga berkata kau harus setia dengan pasanganmu tapi kau tetap makan malam denganku, apa aku salah berkata jika kau masih penasaran dengan diriku?" ujarnya sambil merapatkan kedua tangannya dan memberikanku senyuman nakalnya.

"Lebih baik habiskan saja makanannya" kataku buru-buru, aku tidak ingin terjerumus oleh ucapannya semakin dalam, jelas aku perlu mewaspadainya, ia bukan saja wanita menarik namun ia pandai berbicara.

"Bersulang" katanya sambil mengangkat gelasnya padaku, aku mengangkat gelasku juga, saat gelas kami beradu tiba-tiba gelasku bergoyang lalu menumpahkan anggur kebajunya, ia panik dengan gaunnya yang kotor lalu ia meminta ijin untuk pergi ke belakang.

Aku melonggarkan kemeja dalamku saat ia berlalu ke toilet, kenapa aku jadi panik didekatnya sampai teledor menumpahkan minumanku padanya, aku pasti sudah gila.

Di toilet wanita

Hyuna membersihkan gaunnya dengan mencipratkan air pada bekas kotoran di gaunnya, ia lalu membuka tas kecilnya, mengambil bedak dan lipstick, bibirnya sedikit demi sedikit mengembang.

"Hah ibu dari anak-anakmu, yang benar saja Jung Yunho, kau akan lupa dengan ucapanmu sendiri" ujarnya menyindir pada pantulan dirinya sendiri.

Ia mengambil parfum merah dari dalam tas, garis bibirnya kian naik, urat pipinya mengembang, ia melihat pada cermin sambil menyemprotkan parfum yang ia pesan khusus dari seorang dukun.

"Lihat saja, kau tidak akan bisa lari dariku" .

oOo

Kata siapa author ngga suka dikritik? Its fine untuk kritikan tapi yang sesuai aturan, author hanya ngga suka orang-orang yang ngomong seenaknya tanpa aturan seperti ngomong pedes sampai nge-bash tapi ngga pake id, apa ngga pengecut namanya, ngerasa omongannya keterlaluan sampai si reader tidak berani untuk menampakkan diri, its so suspicious.

Kritik seharusnya membangun bukan menjatuhkan mental si author sendiri karena tulisan perlu pengembangan bukan penghakiman, itulah mengapa ada kritikan yang sangat tidak bisa ditolerir disini yang akhirnya author hapus.

For all my reader author mengucapkan Selamat Idul Fitri Mohon maaf lahir dan bathin, semoga kita bisa menjadi pribadi lebih baik di tahun-tahun berikutnya.

Thanks for Reading…