Warning : T semi M rate, some OC, maybe OOC, typos, ada chara minor.

If you wanna fully understand the story you can read Neverland and Side Story.

Genres : Adventure/Fantasy/Friendship/Humor/Romance.

Pair : Akan diketahui seiring berjalannya alur (berniat SasuSaku). Other hints.

Disclaimer : I do not own Naruto, they're belong to Masashi Kishimoto (except the OC).

This story belong to Riyuki18, dedicate to all reader and please do not copy paste this story without our permission.

.

Please enjoy it!

.

NEVERLAND 2 : SAVE THE WORLD

Chapter 25

(Awakening)

.

.

Pada cerita dichapter sebelumnya Naruto mendapat kabar mengenai serangan yang melanda Kirigakure dan Iwagakure. Munculnya Utakata yang membantu Hotaru membuat Naruto dan teman-temannya kewalahan! Utakata mengajak Sakura untuk pergi, bagaimana nasib gadis itu selanjutnya? Lalu bisakah Gaara dan kawan-kawan menemukan Joker, sementara mereka berpapasan dengan NPC the hermit! Apakah mereka akan saling bertarung atau sebaliknya?

.

.

Terjadi ketegangan di Konoha. Sasuke dan yang lainnya berusaha melawan Utakata agar pemuda itu tidak bisa membawa Sakura pergi, namun pada kenyataannya Utakata terlalu tangguh bagi mereka. Pemuda itu tak terhentikan dan pada akhirnya lagi-lagi Sasuke hanya bisa melihat Sakura dibawa pergi. Dia merasa benar-benar tak berdaya, untuk melindungi seseorang yang begitu penting baginya dia tidak mampu.

"SIAL, SIAL, SIAL, SIAL!" teriak Naruto yang kesal sambil memukul-mukul aspal jalanan dengan sangat keras dan pukulannya itu menyebabkan tangannya jadi berdarah.

"Na-Naruto… Jangan lakukan itu!" Hinata mencoba mencegah Naruto agar pemuda itu tidak menyakiti diri sendiri. Hinata tau kalau Naruto pasti sangat terpukul lagi-lagi mereka harus kehilangan Sakura, bahkan di depan mata mereka sendiri tanpa bisa berbuat banyak.

Sementara Sasuke terdiam sambil menahan emosinya. Dia memang tidak seperti Naruto yang selalu melepaskan emosinya keluar. Pemuda itu lebih memilih diam dan menahannya. Kalau boleh jujur dia juga sama marahnya dan kesalnya seperti Naruto sekarang ini.

"Lebih baik kita obati luka-luka kita dulu, setelah itu baru kita pikirkan langkah selanjutnya… " kata Neji sambil berdiri dan membantu Lee. Yang lain juga tengah berusaha untuk berdiri sambil menahan rasa sakit.

"Kalian, apa kalian tidak apa-apa?" saat itulah muncul sosok Marie yang berlari ke arah mereka dengan sangat tergesa. Dia dapat merasakan kekuatan Joker dari jauh, karena itulah dia bergegas menuju tempat, sumber dimana kira-kira dia merasakan kekuatan itu berasal.

"Marie!" sapa yang lainnya cukup terkejut dengan kehadiran NPC itu.

"Apa yang terjadi? Aku dapat merasakan adanya kekuatan Joker disini, makanya aku segera kemari," balas Marie menjelaskan alasannya kenapa dia bisa sampai datang. Tapi dia sendiri langsung kaget saat melihat keadaan Naruto dan kawan-kawan yang bisa dikatakan dalam keadaan terluka.

"Kami diserang oleh Utakata dan dia membawa Sakura pergi lagi!" jawab Naruto dengan kesal, dapat terdengar adanya amarah dalam nada suaranya.

"Maafkan aku datang terlambat… " Marie tertunduk sedikit karena merasa tak berguna. Seandainya dia datang lebih cepat mungkin dia bisa melakukan sesuatu untuk menolong Sakura.

"Su-sudahlah Marie… Ja-jangan jadi merasa bersalah. A-aku yakin, Sakura pasti bisa kita se-selamatkan! Be-benar kan, Naruto?" balas Hinata berusaha untuk mencairkan suasa tegang diantara mereka. Hinata menoleh ke arah Naruto yang berdiri di sebelahnya seolah gadis itu ingin menyemangati Naruto kembali untuk berjuang bersama-sama membebaskan Sakura dari Utakata.

"Hinata… Ya, aku yakin kita bisa menolong Sakura!" Naruto tersenyum sesaat begitu matanya bertemu pandang dengan tatapan lembut Hinata. Ada suatu semangat baru saat dia mendengar ucapan Hinata barusan. Naruto bersemangat kembali dan berjanji untuk membebaskan Sakura dari Utakata.

"Kuharap kalian mau menerima ini… " Marie kemudian berjalan dan memberikan mereka masing-masing sebuah botol berisi cairan berwarna putih seperti susu.

"Apa ini giant potion?" tanya Asakura yang dapat langsung mengenali benda yang diberikan oleh Marie padanya juga pada yang lainnya. (Note : giant potion adalah semacam item potion yang ada di dalam permainan Neverland. Jenis potion ini ada tiga, small potion, M-potion dan giant potion. Efek dari giant potion lebih besar dari kedua potion lainnya).

"Obat itu bisa menyembuhkan luka dan rasa sakit kalian dengan cepat, diminumlah." Marie mengangguk, membenarkan dugaan Asakura. Dia menyuruh Naruto dan yang lainnya untuk segera meminum obat tersebut.

"Baiklah, akan kuminum! Setelah itu aku akan mengejar Sakura dan Utakata!" Naruto dengan antusias segera membuka tutup botol dari giant potion dan langsung meminumnya.

Sementara Naruto dan kawan-kawan sedang memulihkan diri beberapa saat, mari kita lihat aksi penyusupan yang dilankukan Gaara, Ash dan Nathan di dalam istana tersebut. Ketiga pemuda yang harus bertemu pandang dengan the hermit mengalami kepanikan.

.

.

"Kita ketahuan… bagaimana ini? Apa perlu kita menyerangnya duluan?" tanya Akira sambil berbisik pelan pada Gaara. Jujur saja kalau diharuskan untuk bertarung dia siap kapan saja untuk melakukannya.

"Jangan dulu, kita lihat situasinya dulu… " balas Gaara. Dia merasa kalau sosok di depannya ini tidak berbahaya. Siapa tau mereka memiliki tujuan yang sama.

"Dengar, kami kemari tidak bermaksud untuk membuat kekacauan. Kami kemari hanya ingin mencari Joker!" Gaara berusaha sebaik mungkin untuk menjelaskan maksud kedatangannya pada sosok yang mirip Rei itu.

"Untuk apa kau mencari Joker?" tanya sosok itu penuh dengan curiga. Dia memperhatikan ketiga pemuda yang ada di depannya. Kalau dilihat ketiganya tampak tidak berbahaya, tapi meski begitu dia tetap harus waspada.

"Joker adalah teman kami! Kami kemari untuk membebaskannya!" jawab Gaara dengan cepat dan tanpa ragu, mengatakan kalau Joker adalah temannya.

"Kalau begitu tujuan kita sama. Aku kemari juga ingin membebaskannya. Namaku Saiga, the hermit." Ternyata benar dugaan Gaara kalau mereka memiliki tujuan yang sama. Sosok di depannya itupun memperkenalkan dirinya sebagai Saiga, the hermit.

"Jadi kau Saiga, NPC the hermit yang kuperbarui itu? Astaga, kau benar-benar jadi mirip Rei! Hahahaha aku ini memang hebat, kan? Ciptaanku benar-benar bisa mirip begini!" balas Ash sambil cengengesan dan malah mengagumi hasil ciptaannya sendiri.

"Ini bukan saat yang tepat untuk kagum, Ash!" Gaara menjitak pelan kepala pemuda itu agar dia tersadar kalau ada hal yang lebih penting yang harus mereka lakukan dan itulah yang menjadi alasan kenapa mereka bisa berada di dalam istana milik Joker sekarang ini.

"Maaf, maaf! Baiklah, ayo kita masuk ke dalam. Aku yakin Joker ada di dalam sana!" Ash mengelus kepalanya sesaat. Setelah itu dia berjalan mendekati pintu dari sebuah ruangan yang hanya ada satu-satunya itu. Yang lain juga segera berjalan mendekati pintu besar yang memiliki ukiran bunga mawar di pintu itu.

Krieeeeeeek…

Bersama-sama mereka membuka pintu besar itu. Perlahan pintu itu terbuka dan menimbulkan bunyi decit yang keras. Ruangan itu sedikit demi sedikit mulai terlihat. Begitu gelap dan sunyi, seperti tak ada tanda-tanda kehidupan di dalamnya.

"Hey, apa kau yakin ini tempatnya?" tanya Akira pada Ash yang merasa tidak yakin.

"Sudah diam saja, ayo masuk!" balas Ash yang segera masuk ke dalam ruangan itu disusul oleh Gaara dan Saiga. Akira akhirnya mau tidak mau ikut masuk ke dalam meskipun dia meragukan mereka dapat menemukan Joker di dalam sana.

"Di dalam sini gelap sekali!" kata Akira sambil berjalan menelusuri jalan setapak yang ada di tempat itu. "Selain itu, tempat ini juga sangat dingin! Mulutku bahkan sampai keluar asap!" Akira berhenti dan meniupkan napasnya ke udara dimana dia bisa melihat adanya asap tipis yang keluar dari dalam mulutnya.

"Aku akan membuat tempat ini terang agar lebih mudah untuk dilihat." Saiga melemparkan benda bercahaya yang sedari tadi dipegangnya ke arah atas. Seketika benda bercahaya itu bersinar lebih terang. Cahayanya yang putih kebiruan akhirnya menerangi seisi ruangan tersebut.

"Wah, jadi dalamnya seperti ini!" Akira menatap kesekeliling ruangan tersebut yang ternyata hanya dikelilingi tebing-tebing curam dan tempat dia berpijak kini juga merupakan tebing curam yang begitu tinggi. "Uwaaah! Ha-hampir saja! kalau tadi aku tidak berhenti, mungkin aku sudah terperosok jatuh ke bawah sana!" Akira langsung terperanjat kaget begitu menyadari dirinya berada di ujung tebing. Untung saja tadi dia berhenti, kalau dia tadi terus berjalan mungkin saja dia sudah jatuh ke bawah. Berkali-kali pemuda itu mengurut-urut dadanya merasa lega karena dia masih beruntung.

"Lihat, disana ada orang!" Ash menunjuk ke arah sosok yang berada di bawah bersama dengan ratusan tumpukan bunga mawar. Sosok itu terlihat tengah tertidur lelap bersama dengan tebing-tebing curam yang menjulang tinggi dan dengan kokoh menjaga sosok itu agar tidak terbangun dari tidurnya.

"Itu Joker!" kata Saiga yang bergegas berlari ke arah ujung tebing. "Kita harus menyelamatkannya!" pada awalnya Saiga berniat untuk melompat turun ke bawah tapi niatnya harus terhenti karena bunga-bunga yang ada di bawah itu merambat naik ke arah mereka dan menyerang mereka. Bunga-bunga itu seolah ingin menjaga Joker dari berbagai kemungkinan yang mengancam.

"Kalau begini kita tidak akan bisa mendekatinya! Apa yang harus kita lakukan?" Gaara dan yang lain terpaksa harus bergerak mundur menghindari bunga-bunga tersebut. Ash berdecak kebingungan, karena kalau bunga-bunga itu terus menghalangi mereka tidak akan pernah bisa mendekati Joker.

"Aku rasa aku bisa mengatasinya… " kata Gaara yang kemudian berlari ke tepian tebing. Pemuda itu berdiri disana dan sepertinya dia hendak melakukan sesuatu. "Graveyard!" ternyata pemuda itu mengeluarkan sebuah jurus.

Setelah Gaara melakukan jurus tersebut seketika muncul butiran-butiran pasir berterbangan ke atas. Butiran-butiran pasir itu berasal dari dalam tanah, tepat di bawah bunga-bunga itu berada. Perlahan butiran-butiran pasir itu menjadi satu dan semakin melebar dan melebar. Dengan satu gerakan tangan Gaara memberikan perintah pada pasir-pasir itu untuk menutupi bunga-bunga itu.

BLUGH!

Pasir yang sudah membesar dan melebar itu akhirnya jatuh ke bawah menyelimuti bunga-bunga tersebut untuk menghambat pergerakan dari bunga-bunga itu. Kini tempat tersebut menjadi mirip gurun, dipermadanikan pasir dengan kerlap-kerlip butiran pasrinya yang mengkristal.

"Ayo turun!" Gaara langsung melompat turun begitu juga dengan yang lain. Mereka harus bergerak cepat sebelum efek ikatan pasir miliknya itu menghilang. Gaara dan yang lain bergegas berlari menghampiri sosok yang tertidur itu.

"Aku akan melepaskanmu dari sini, Joker!" kata Saiga yang langsung berusaha melepaskan ikatan-ikatan sulur tanaman yang mengikat hampir di seluruh tubuh NPC itu. "Akh… " Saiga segera melepaskan tangannya kembali dan terlihat ada darah yang mengalir dari telapak tangannya itu.

"Hey, kau tidak apa-apa? Hati-hati, sulur tanaman itu memiliki banyak duri!" tanya Ash yang sempat kaget karena tiba-tiba saja NPC itu mengaduh kesakitan. Dia kemudian menyuruh yang lainnya untuk hati-hati karena tanaman itu memiliki duri yang sangat tajam yang tumbuh di sisi sulur-sulur tersebut.


Somewhere else…

.

.

Di tempat yang berbeda terlihat Sakura yang tengah berjalan dengan kawalan dari Samui, Atsui dan Darui sementara Utakata dan Hotaru berjalan di depannya. Bisa dilihat kalau Sakura sangat tidak senang dengan perlakuan yang dia terima.

"Sebenarnya kau mau membawaku kemana? Ke Neverland?" tanya Sakura dengan rasa sedikit malas.

"Aku memang ingin membawamu ke Neverland tapi tidak sekarang, karena ada hal lain yang harus kulakukan," jawab Utakata dengan santai. Sikapnya jadi berbeda dari yang tadi. Sebelumnya Utakata terlihat sangat serius untuk membawa Sakura tapi sekarang dia malah terkesan cuek dan malas-malasan. Benar-benar sikap yang membuat Sakura geleng-geleng kepala dan membuatnya bingung kenapa pembawaan seperti itu bisa identik dengan sikap Joker yang terkadang berprilaku abstrak dan susah ditebak.

"Apa yang sebenarnya kalian inginkan dariku? Kalian satu-persatu bermunculan dan memperebutkanku seperti barang! Sebenarnya kenapa kalian memperlakukan seperti ini?" tanya Sakura dengan luapan emosi yang sudah tidak bisa dia kendalikan. Dia lelah harus terus-terusan diburu seperti ini, dan membuat hidupnya menjadi sangat tidak tenang.

"Kau keliru, Sakura. Yang kami butuhkan dan inginkan sebenarnya bukan dirimu, melainkan apa yang ada di dalam dirimu!" balas Hotaru sambil melirik sedikit ke belakang. Jawaban dari Hotaru sukses membuat Sakura tambah kebingungan.

'Aku belum sempat bertanya apa-apa pada Arkhan dan yang lainnya waktu itu… Sebenarnya apa yang ada di dalam diriku ini?' Sakura bertanya-tanya dalam hati. Tangannya terkepal dan kemudian dia meletakkan tangannya itu pada tengah dadanya, seolah ingin meraba atau merasakan sesuatu yang ada di dalam dirinya.

"Sepertinya kau belum tau apa-apa, ya? Akan kujelaskan nanti setelah kita sampai," balas Utakata yang menyadari raut wajah bingung dari Sakura. Sebenarnya dia merasa kasihan juga dengan Sakura yang harus menjadi korban hanya karena 'sesuatu' yang bersemayam di dalam dirinya tanpa gadis itu sadari.

Kini mereka berhenti di sebuah halte bus, dan tak lama muncul sebuah bus yang menuju ke arah pusat kota Konoha. Utakata menyuruh Sakura untuk naik ke atas bus tersebut, setelah itu dia yang lainnya menyusul naik ke atas. Gerak-gerik mereka terlihat biasa dan tak mencurigakan, membuat supir bus itu tak menyadari kalau dia sudah membiarkan orang-orang berbahaya masuk ke dalam busnya. setelah dirasanya tak ada penumpang lain, bus itu segera dijalankan sang supir menuju pusat kota Konoha yang hanya berjarak satu kilometer dari tempat mereka.

ooo

Meanwhile…

.

.

Sementara itu Gaara, Ash, Akira dan Saiga pada akhirnya berhasil membebaskan Joker dari sulur-sulur tanaman yang mengikat dirinya.

"Bagus! Sekarang kita pergi sebelum pasir-pasir itu habis!" kata Gaara menyuruh mereka semua untuk cepat pergi sebelum efek kekuatan ikatan pasirnya pada bunga itu benar-benar hilang.

"Biar aku yang membawanya!" balas Saiga yang kemudian dengan sigap dia segera meggendong tubuh Joker yang tampak mengecil. Dibawanya sosok itu di belakang punggungnya.

Drap… Drap… Drap… Drap… !

Keempatnya berlari bergegas pergi untuk keluar.

"Ah, tunggu sebentar!" begitu sampai di depan pintu itu, tiba-tiba saja Saiga masuk kembali ke dalam. Gaara dan yang lain hanya saling berpandangan.

"Apa yang mau dia lakukan?" tanya Akira dengan penasaran. Kemudian pemuda itu melongok melihat ke dalam, begitu juga dengan Gaara dan Ash yang juga jadi ikut penasaran.

Ternyata di dalam Saiga membuat sedikit tipuan. Saiga melemparkan benda bercahaya yang ada di tangannya itu ke atas.

Srrriiiinnnnngggggg!

Benda yang terlempar itu kemudian mengapung di udara sambil memancarkan sinarnya yang begitu terang ke seluruh ruangan tersebut. Seketika ruangan tersebut terlihat seperti pada semula, dimana masih ada Joker di bawah sana. Tempat itu benar-benar nyaris sempurna seperti tak pernah tersentuh oleh siapapun.

"Setidaknya butuh waktu bagi mereka untuk menyadari adanya perubahan di tempat ini!" kata Saiga yang setelah mengambil kembali benda tersebut dia bergegas keluar.

"Tipuan yang bagus kawan!" Akira terlihat senang sambil menepuk bahu Saiga.

"Misi penyelamatan sukses!" Gaara tersenyum senang sambil bertos ria dengan Ash yang berlari di sebelahnya. Misi mereka untuk membebaskan Joker benar-benar berhasil. Keempatnya segera memasuki lubang dimensi yang akan menghubungkan mereka langsung ke Sunagakure.


Meanwhile in Iwagakure...

.

.

Di Iwagakure, Temari, Hery, Shun dan Reiki segera bertindak untuk memberikan bantuan.

"Kita berpencar keempat penjuru. Aku akan pergi ke arah sana. Yang lain ikut aku!" begitu sampai Temari segera memberi perintah untuk berpencar keempat tempat.

"Ayo kita lakukan!" balas yang lain mengerti apa perintah Temari. Mereka berempat segera memisahkan diri. Temari berlari ke utara, Shun pergi ke timur, sementara Reiki dan Hery masing-masing pergi ke barat dan selatan. Masing-masing dari mereka pergi bersama dengan lima puluh orang tentara yang juga datang dengan mereka.

"Kalian bersiaplah! Kali ini kita akan menghadapi sesuatu yang belum pernah kita hadapi sebelumnya! Persiapkan semua senjata kalian!" sambil berlari Temari memperingati semua pasukan yang ikut bersamanya untuk selalu waspada karena apa yang mereka hadapi kali ini berbeda dari semua tugas dan misi yang pernah mereka lakukan. Kali ini mereka akan menghadapi monster!

ooo

Kirigakure...

.

.

Pada Negara ini kondisinya juga tak jauh berbeda dari Iwagakure, hanya saja bantuan lebih cepat datang ke Kirigakure sehingga keadaan dapat lebih bisa ditangani.

"Sepertinya kita bisa menghentikan monster-monster itu… " kata Tifa yang kini sudah berkumpul di tengah bersama dengan pasukannya. Sejak awal mereka datang, Tifa dan pasukannya terus mencari monster-monster yang membuat kekacauan di Kirigakure.

"Nona Tifa, celaka! Ada rombongan monster yang muncul dari sektor barat!" beberapa orang ninja berlari dari arah barat menghampiri Tifa dan membawa kabar yang kurang baik.

"Apa katamu? Bukankah wilayah itu sudah kita bersihkan?" Tifa tampak tidak percaya dengan kabar yang didengarnya barusan. Dia yakin sekali bagian barat itu sudah dibersihkan sebelumnya, tapi kenapa monster-monster itu bermunculan kembali.

"Monster-monster itu keluar dari lubang dimensi di bagian itu, dan bukan hanya itu saja. Kemungkinan besar lubang dimensi itu terbuka pada empat titik pada wilayah ini." Ninja itu menjelaskan mengenai keberadaan lubang dimensi. Wajah Tifa pucat seketika. Tentu dia tau apa artinya itu. monster itu bukanlah dikirim dari pihak tertentu melainkan keluar dari dalam lubang dimensi yang terbuka, sama seperti para ninja pasukannya.

"Nona Tifa, lebih baik kita mundur dan mencari bantuan dari yang lain!" salah satu ninja menyarankan Tifa untuk mundur, karena jumlah monster yang berdatangan akan semakin banyak sementara mereka sudah bertarung sejak tadi dan itu mengurangi kekuatan mereka.

"TIDAK! Kita tidak akan mundur! Kita akan terus disini!" tampaknya Tifa bersikeras untuk tetap berada di Kirigakure untuk mempertahankan kota dari serangan para monster.

"Kalau itu keputusan anda… Kami akan mengikutinya!" balas ninja-ninja itu yang kagum dengan semangat dan kemauan keras Tifa untuk tidak mundur.

"Kita akan membagi tim menjadi empat, masing-masing tim pergi ke pusat dimana lubang dimensi itu berada dan hancurkan setiap monster yang ada disana!" sekali lagi Tifa memberikan perintah dan kali ini dia berniat untuk menyerang ke titik pusat dimana monster-monster itu keluar.

"Akan segera kami laksanakan!" jawab para ninja itu secara serempak. Dengan cepat mereka segera berpencar menjadi empat bagian menuju ke tempat tujuan mereka masing-masing, sementara Tifa sendiri kini juga tengah pergi ke arah barat dari wilayah Kirigakure.


Sunagakure…

.

.

Gaara akhirnya berhasil kembali ke Sunagakure dengan Joker dan Saiga yang juga ikut bersamanya.

"Gaara, akhirnya kau kembali juga!" Baki terlihat sangat mencemaskan Gaara yang pergi begitu lama. Dia khawatir terjadi sesuatu pada pemuda yang sudah dianggapnya seperti anak sendiri itu. "Apa kalian semua baik-baik saja?" tanyanya lagi sambil mengecek keadaan Gaara dan yang lainnya satu-persatu sampai akhirnya dia menyadari kalau bertambah muatan dua orang. "Tuan Gaara, siapa mereka?" tanyanya sambil menunjuk Saiga yang tengah menggendong Joker di belakang punggungnya.

"Penjelasannya nanti saja. Sekarang kami harus pergi dulu, dan urusan disini kuserahkan padamu," jawab Gaara yang tampak begitu tergesa. Sekarang yang menjadi fokus utamanya adalah membawa Joker ke tempat yang lebih aman dulu.

"Ah, baiklah. Serahkan semua urusan disini padaku!" balas Baki yang langsung mengerti dan tidak banyak bertanya pada Gaara. Setelah itu Gaara dan yang lainnya bergegas pergi dari sana.

ooo

Konohagakure…

.

.

Di Konohagakure, bus yang ditumpangi Sakura mendadak saja diserang oleh seekor monster besar bersayap yang tiba-tiba saja melompat ke depan kaca mobil dan membuat supir bus itu hilang kendali sehingga membanting setir hingga mobil itu terbalik ke samping.

Ckiiiiiiiiiiiiiitttttt… CRASH!

Mobil itu terbanting ke samping membuat seisi penumpang mobil di dalamnya berteriak panik ketakutan. Lalu monster yang ukurannya cukup besar itu kembali hinggap ke sisi mobil itu, mengakibatkan benturan yang sangat keras.

"Apa yang terjadi? Bukankah itu ladybug killer? Kenapa monster itu bisa ada disini?" Sakura sangat kebingungan melihat monster serangga itu. Monster yang bernama ladybug killer itu memang cukup dikenal Sakura dan seharusnya jenis monster itu hanya bisa ditemukan di dalam dunia game, karena monster sebesar itu tidak mungkin ada di dunia nyata.

"Hotaru awasi Sakura, aku akan keluar dan menyingkirkan monster itu," kata Utakata menyuruh Hotaru menjaga Sakura sementara dia akan mencoba melenyapkan monster yang menjadi penghalang mereka.

Pemuda itu keluar dari dalam bus, seketika itu ladybug killer segera mendeteksinya sebagai mangsa. Ladybug killer adalah jenis monster yang agresif dan akan menyerang setiap benda atau apapun yang bergerak di dekatnya. Kemampuannya ada pada kulit kerasnya dan juga kaki-kaki serangga besarnya, selain itu tanduknya juga dapat digunakan untuk menghantam musuh dan melemparkan musuh jauh.

BUGH… BUGH… BUGH…

Serangga besar itu kini berbalik ke arah Utakata seolah menatap Utakata dengan tajam. Suara langkah kakinya yang berbalik terdengar sangat keras dan menimbulkan getaran disekitar sang monster.

BUGH BUGH BUGH BUGH BUGH BUGH BUGH!

Dengan langkah yang cepat monster itu mundur ke belakang sambil setengah menundukkan tanduk besar yang ada di kepalanya.

"Heee? Jadi begitu? Baiklah, akan kuterima tantanganmu!" kata Utakata seraya menyeringai setelah dia mengetahui kalau binatang besar itu menantangnya untuk berduel. Pemuda berambut coklat itu segera mengeluarkan sebilah pedang yang berkilat bagaikan Kristal.

BUGH BUGH BUGH BUGH BUGH BUGH BUGH!

Tanpa mau menunggu lama, monster besar itu segera bergerak maju dengan gerakan menyeruduk sambil memamerkan tanduk besar yang ada di kepalanya itu.

"Majulah!" Utakata juga bersiap dengan pedangnya menyambut sang monster.

Zrreeeeet!

Dengan satu gerakan cepat dia berlari melesat menuju sang monster. Sosok Utakata yang berlari cepat itu seolah berbaur dengan angin dan sosoknya tak bisa terlihat.

Zraaaaaaatttt!

Hanya dalam sekejap tubuh monster besar itu kini terbelah menjadi dua bagian. Keadaan hening sesaat, semua hanya mampu memandang kejadian itu dengan tatapan takjub dan terheran-heran sekaligus. Mereka belum bisa mencerna apa yang dilakukan Utakata barusan.

"He-hebat! Hebat sekali! Kau telah menyelamatkan kami semua!" seru salah seorang sambil melontarkan pujian pada Utakata. Tak lama terdengar suara tepukan tangan yang begitu riuh. Mereka menyambut Utakata bagaikan pahlawan yang telah menyelamatkan mereka.

"Kita jalan saja dari sini!" Utakata menoleh ke arah Hotaru, Sakura, Samui, Atsui dan Darui yang sudah berada di luar bus dan menyuruh mereka semua untuk berjalan kaki menuju tempat tujuan mereka.

Mereka berjalan menuju sebuah hotel yang terletak di pusat kota dengan ditatap oleh berpuluh-puluh pasang mata. Sepertinya aksi yang dilakukan Utakata sangat berdampak sementara Sakura hanya bisa menggerutu kesal karena orang-orang itu salah menilai Utakata. Dia bukanlah pahlawan, tapi dialah kekacauan yang sebenarnya dari semua peristiwa ini.

.

.

Sakura dibawa ke ruangan kamar bertuliskan 308 di hotel tersebut. Di dalam sana ternyata sudah menunggu satu sosok pemuda berambut putih dengan topeng silver yang terpasang di wajahnya. Pemuda itu terlihat sedang duduk santai di sofa dan hanya menanggapi kedatangan Utakata dan yang lain dengan santai.

"Kalian bertiga segera beri laporan pada Alice kalau kami sudah mendapatkan Sakura kembali." Setelah di dalam, Utakata segera memberi perintah pada Samui, Atsui dan Darui untuk memberi kabar pada Alice. Ketiga sosok itu segera mematuhinya dan meninggalkan tempat tersebut dengan cepat.

"Sekarang apa yang mau kau lakukan?" tanya Sakura dengan dingin tapi tetap tidak bisa menyembunyikan kecemasan yang tersirat pada wajah manis gadis itu.

"Kita lihat saja," balas Utakata sambil tersenyum sinis. Setelah mengatakan itu, Sakura dapat melihat manik hitam milik Utakata kini berubah menjadi biru sepenuhnya membuat Sakura mengernyit dan bertanya-tanya apa yang sedang terjadi pada Utakata dan apa yang dilakukannya.

ooo

Meanwhile in Sunagakure…

.

.

Di sunagakure, Gaara membawa Joker ke tempatnya. Pemuda itu menyuruh Saiga membaringkan sosok itu di atas tempat tidurnya.

"Kenapa dia terlihat berbeda dari terakhir yang kulihat… " gumam Gaara yang masih belum bisa mengerti dengan perubahan fisik yang terjadi pada Joker. Sosok itu kini malah terlihat seperti dua tahun di bawah umurnya (umur Gaara disini enam belas jadi Joker terlihat sepantaran sama Shouta). Sementara Saiga juga tampak ikut bingung.

"Hey, kalian lihat barusan? Tubuhnya bergetar!" Akira yang seperti melihat adanya suatu gelombang gerakan langsung menunjuk Joker yang tampak bergerak. Semua mata langsung menatap sosok itu, dan memang benar terlihat ada pancaran sinar biru terang yang menyelimuti tubuh itu. entah apa maksud dari semua ini.

"Kurang ajar!" sementara di tempat yang berbeda, Utakata yang tadinya berniat untuk mengkontrol semua NPC malah tidak bisa menggunakan kekuatannya. Pemuda itu berdecak dengan sangat kesal.

"Utakata, ada apa?" tanya Hotaru dengan bingung. Belum pernah dia melihat Utakata semarah ini sebelumnya.

"Jangan katakan kau gagal menggunakan kekuatan itu, Utakata," balas sosok bertopeng itu dengan santai dan terkesan mencibir kegagalan Utakata barusan.

"Diam kau Yagura!" bentak Utakata pada sosok yang dipanggil Yagura. "Ada seseorang yang melakukan interupsi pada kekuatanku, tapi bagaimana mungkin?" kata Utakata sambil mencengkramkan tangannya pada bahu sofa berwarna cream pada ruangan itu.

"Mungkin saja kalau yang melakukannya adalah Joker yang asli," timpal Yagura seenaknya, seolah apa yang dikatakannya itu bukanlah masalah besar. Sementara Sakura hanya bisa diam melihat pertengkaran tersebut.

"Sudah kubilang diam! Apa kau tidak sadar dengan yang kau katakan barusan? Tidak ada Joker lain selain kita!" balas Utakata menatap tajam pada Yagura yang malah terkesan seperti menjatuhkan teman sendiri.

"Terserah kau saja. lebih baik aku keluar!" Yagura akhirnya memutuskan pergi keluar karena dia sedang malas bertengkar dengan Utakata.

"Lalu bagaimana? Kau tidak bisa menggunakan kekuatanmu… " tanya Hotaru yang sedikit khawatir pada Utakata. Apa mungkin mereka akan berhadapan dengan musuh yang mampu menghentikan kekuatan Utakata? Musuh itu pasti kuat sampai bisa melakukan hal seperti itu.

"Aku kucari dia dan akan kuhancurkan!" jawab Utakata sambil memukul bahu sofa dan setelah itu pemuda tersebut juga ikut meninggalkan ruangan.

Disisi lain aura biru yang menyelimuti tubuh Joker perlahan-lahan mulai menipis dan menghilang. Gaara dan yang lain melihatnya hanya bisa terbengong-bengong, tak mengerti apa yang sebenarnya terjadi tadi. Disaat Gaara dan yang lainnya masih dibuat bingung dengan kejadian tadi, sekarang mereka harus dikejutkan lagi oleh Joker yang akhirnya membuka matanya.

"Jo-Joker?" Saiga terlihat senang saat melihat sosok itu akhirnya membuka matanya kembali.

Joker terdiam sesaat sambil melihat orang-orang yang kini berdiri di hadapannya. Apa yang akan terjadi setelah Joker membuka matanya? Bagaimana nasib kota Iwagakure, Kirigakure serta Konohagakure yang telah diserang monster? Lalu benarkah Utakata akan mencari Joker?

TBC…


A/N : Sejauh ini, chapter ini adalah chapter terpanjang yang kami tulis dan chapter yang paling dinantikan karena akhirnya Joker membuka matanya juga. Serangan kini mulai berdampak ke Konoha berarti tinggal dua lagi *lirik Oto dan Suna*.

Terima kasih untuk yang selalu mengingatkan dengan saran, pendapat, serta kritiknya dan kami sebisa mungkin untuk memperbaikinya. Semoga kami bisa menyelesaikan cerita ini dengan cepat (karena mungkin kami berniat untuk berhenti menulis di fanfic, tapi masih tergantung kondisi Riku saat ini). Sekali lagi kami mau mengucapkan terima kasih untuk yang terus mengikuti cerita-cerita kami, terima kasih atas dukungannya dan terima kasih mau meluangkan waktu membaca cerita kami yang tidak sempurna ini, semoga kalian terhibur.

.

.

"HAPPY READ!".