TIME
.
Arlian Lee
.
Jung Taekwoon / Lee Jaehwan
..and many more...
.
Disclaimer: Chara's are not mine, this is pure fanfiction, Alternative universe, Out Of Character
.
Genre's: Angst, romance, hurt, drama
.
Pair : LeKen slight! Others.
.
Please don't! Blame, Bash, Plagiarize and other bad things
.
.
.
Chapter 25
.
Dan yang membuat Taekwoon harus mengurangi kebahagiaannya adalah keadaan sang ibu.
Bukan ibunya, melainkan keadaan yang membelenggunya.
Taekwoon tak tahu harus melakukan apa lagi untuk bisa membuat keadaan sang ibu kembali menjadi seperti dulu. Hidup normal, berpikir normal dan berperilaku normal. Hampir sepuluh bulan Nyonya Jung ada di rumah sakit jiwa namun kembalinya Nyonya Jung masih belum terdeteksi. Pihak rumah sakit masih memutuskan untuk merawat lebih lama lagi Nyonya Jung disana.
Di awal musim semi ini, Taekwoon dan Jaehwan menyempatkan untuk menjenguk lagi Nyonya Jung. Sudah lama mereka tak melihat keadaan sang ibu. Terakhir sekitar tiga bulan yang lalu. Saat Jaehwan masih mengandung besar.
"Apa eomma sudah makan?"
Menjadi rutinitas tanya yang selalu dilontarkan setiap kali tiba di tempat ini. Jaehwan menggenggam tangan Nyonya Jung. Menyalurkan kehangatan untuk sang ibu mertua.
Yang ditanya mengangguk antusias. Senyum cerah dengan gigi rapi tertata itu muncul menyertai anggukannya.
"Kalau Jaehwannie? Apa Jaehwannie sudah makan?" Tanya Nyonya Jung seraya mengusap pipi gemuk Jaehwan.
"Jaehwan sudah makan, eomma!"
"Ah, eomma punya kue dari perawat. Jaehwannie mau?"
"Kue?"
Lalu Nyonya Jung berdiri dari duduknya. Ia berjalan menuju meja dan mengambil sesuatu dari atas meja itu. Benar, ada dua potong kue lapis. Segera Nyonya Jung membawanya ke hadapan Jaehwan dan menyodorkan kepada yang muda.
Jaehwan mengambil uluran kue itu.
"Boleh Jaehwan bagi dengan Taekwoon hyung?"
"Jangan!"
"Jangan?!" Tolakan Nyonya Jung membuat Jaehwan menoleh pada Taekwoon yang tampak terkejut. "Kenapa?"
Alih-alih menjawab, Nyonya Jung malah terkikik kecil. Ia mendekatkan bibirnya ke arah telinga Jaehwan. Ada bisikan lirih setelahnya. "Taekwoon anak nakal." Lalu tawa pecah di antara keduanya. Taekwoon hanya tersenyum tipis melihat kedua orang yang ia sayangi tertawa seperti itu.
Mungkin Nyonya Jung memang belum sembuh, tapi satu adegan ini cukup membuat Taekwoon senang.
Setelahnya Taekwoon duduk di depan Nyonya Jung sembari memegang tangan sang ibu. Ia mengecupnya kilat setelahnya.
"Kalau begitu, kue itu eomma makan eum? Eomma makan bersama Jaehwan, eum?"
Nyonya Jung mengangguk. Ia mencuil kue itu dan memasukkan ke dalam mulutnya. Tak lupa, ia juga melakukan hal yang sama untuk Jaehwan. Mencuil kecil kue itu dan menyuapkannya untuk Jaehwan. Jaehwan menerimanya dengan senang hati. Kemudian kikikan kecil kembali terdengar mengalun.
Taekwoon mengecup puncak kepala Nyonya Jung.
"Cepat sembuh, eomma! Cepat kembali ke tengah-tengah keluarga kita. Apa eomma tahu kalau Keluarga Jung sekarang bahagia? Hanya kehadiran eomma yang kami tunggu. Eomma, apa eomma tidak ingin bertemu dengan cucu eomma? Dia sangat tampan sekali."
Seperti biasa, Nyonya Jung tidak menjawab ucapan Taekwoon. Ia masih sibuk dengan kegiatannya memakan kue lapis yag masih tersisa satu potong.
"Jae!"
Jaehwan menoleh kepada Taekwoon.
"Jaga eomma dulu. Hyung akan menemui dokter dulu."
"Eum."
.
Taekwoon pun mengetuk pintu dokter Kang setelah ia sampai di depan ruangannya. Ada yang ingin didiskusikan dengan Dokter Kang tentang keadaan sang ibu. Ia juga sudah lama tak mengomunikasikan tentang ini.
Mendapat jawaban dari dalam, Taekwoon menggeser pintu itu. Senyumnya mengulas begitu melihat Dokter Kang menyambutnya dengan baik.
"Duduklah, Taekwoon-sshi."
"Apa sayang mengganggumu?"
Dokter Kang melepaskan kaca matanya dengan sebuah senyum terulas. "Tidak. Kau ingin bertanya tentang eomma-mu?" Tanyanya.
"Ya." Taekwoon duduk dengan sopan. "Bagaimana eomma saya? Apa ada perkembangan dari segi medis? Kalau saya perhatian sepertinya eomma sedikit lebih baik dibandingkan sebelumnya."
Anggukan kecil menjadi reaksi atas tanya Taekwoon.
"Ya, eomma-mu sekarang bisa mengontrol emosinya. Ini perkembangan yang baik. Eomma-mu juga cukup baik diajak berkomunikasi walaupun terkadang masih ada jawaban yang nyeleweng. Tapi.." Dokter Kang membaca salah satu file yang mungkin berisi tentang kondisi Nyonya Jung. "Akibat gangguan jiwa ini, sebagian memori dari Hyemi-sshi menghilang. Dan sepertinya itu cukup permanen."
"Hilang?" Ulang Taekwoon. "Apa selalu seperti itu?"
"Tidak. Setiap orang yang mengalami hal ini akan memiliki efek yang berbeda-beda. Tapi tidak masalah kan? Kalau memang harus seperti itu?"
Taekwoon terdiam sejenak. "Ya, kalau memang harus seperti itu. Dan dok, dokter tadi bilang kalau eomma sudah bisa mengontrol emosinya dengan baik. Apa mungkin kalau kami.."
"Membawanya pulang?" Senyum hangat tampak di wajah lelah dokter paruh baya itu. "Saya menyarankan untuk jangan dulu. Memang eomma anda mulai bisa mengontrol emosinya. Tapi masih perlu pengawasan yang lebih dulu. Nanti kalau memang sudah bisa dibawa pulang, saya pasti akan menghubungi anda."
Dan Taekwoon harus menelan kembali keinginannya untuk membawa Nyonya Jung pulang. Mungkin Tuhan memang bersikap adil kepadanya. Ia tak boleh serakah. Ada yang pasti Taekwoon dapat tapi ada yang harus Taekwoon lepas atau ikhlaskan. Salah satunya ini. Ia telah mendapatkan kebahagiaan dari Jaehwan dan buah hatinya. Ia juga harus mengikhlaskan kenyataan bahwa Nyonya Jung masih harus berjuang dengan keadaannya.
Taekwoon tahu, Tuhan pasti punya rencana yang lebih baik. Dan ini adalah yang terbaik.
.
.
.
Musim semi baru saja tiba dua minggu yang lalu. Dingin yang tersisa juga masih samar-samar ada, meski congak mentari tampak jelas di langit sana. Ini tidak panas, tidak. Melainkan hangat. Dan musim seperti ini yang disukai Jaehwan.
Tumbuhan akan tampak menghijau dengan sendirinya. Bersemi dan mengganti putih yang sempat berkuasa. Berbagai jenis bunga-bunga akan memberi keindahan sejati di sekitar sana. Apalagi aroma bunga yang ditawarkan. Harum dan menenangkan.
Keduanya pun duduk di salah satu bangku taman yang dikelilingi banyak bunya bersemi selepas menjenguk Nyonya Jung.
"Hangat sekali." Gumam Jaehwan begitu ia merasakan sentuhan surya yang sempat melewatinya.
Taekwoon menengok ke arah Jaehwan dengan senyum mengembang. Mata terpejam milik Jaehwan dan bibir yang terkatup itu membuat Taekwoon kembali jatuh cinta untuk kesekian kalinya.
Ia membiarkan Jaehwan untuk sesaat menikmati aroma khas musim semi yang ia sukai. Sembari menunggu Jaehwan memeluk aroma musim semi, ia menerawang ke atas sana. Langit yang tampak jauh dari jangkauannya menjadi obyek menarik untuk diamati. Sekitar lima menit berselang, sesuatu melintas diingatannya.
"Jae?!"
"Ya?"
"Apa kau tahu kalau tiga hari lagi adalah hari jadi kita yang pertama? Hari ulang tahun pernikahan kita?" Tanya Taekwoon dengan tatapan serius.
Bola mata Jaehwan membesar. Ia tampak terkejut dengan tanya Taekwoon. Jika boleh jujur, ia tak memperhatikan hal itu. Sungguh, ia tak tahu dan tak begitu peduli dengan itu. Mungkin karena pikirannya terfokus dengan si mungil juga Nyonya Jung ataupun lainnya.
"Ah, Jaehwan lupa." Lalu ia mengusik kembali ingatan yang tersimpan setahun lalu itu. Jika ditilik, sepertinya memang benar. Ah, iya. Itu benar! Jaehwan ingat kalau mereka menikah saat musim semi. "Maaf."
Taekwoon tersenyum dengan tangan mengusap pipi Jaehwan. "Tidak apa-apa. Ada yang kau inginkan sebagai kado ulang tahun pernikahan?" Tanyanya lagi.
"Kado?"
"Ya, kado? Ada yang kau inginkan?"
Jaehwan terdiam untuk beberapa jenak. Kado? Apa yang ia inginkan untuk kado ulang tahun pernikahannya? Sepertinya ia tak butuh apa-apa lagi. Apa yang telah ia punyai sudah menjadi kado yang indah untuknya.
"Aku tidak ingin apa-apa lagi."
"Sungguh?"
"Hmm.."
Detik selanjutnya Jaehwan tak sengaja melihat ke arah sisi lain dari taman itu. Ada satu keluarga kecil yang sedang melakukan piknik. Reflek bibirnya melengkung dengan sorot teduh yang juga memancarkan pendar kehangatan. Dulu ia pernah menangis membayangkan sebuah keluarga bahagia. Keluarga kecil yang dikelilingi kebahagiaan. Dan sekarang ia pun telah memilikinya. Sebuah keluarga kecil yang ia dambakan seperti apa ia lihat sebelumnya. Atau, atau malah lebih bahagia?
Taekwoon mengikuti arah pandang itu dengan pikiran berisikan tanya.
Jaehwan pun memutar pandangannya kembali pada Taekwoon yang menatapnya. "Ah, aku tidak ingin kado berupa barang. Aku hanya berharap kita bisa menjadi keluarga bahagia seperti mereka. Tertawa bersama, bercanda bersama, dan berbagi kasih bersama. Aku ingin kita bisa menghabiskan waktu bersama selamanya. Kebahagiaan yang akan selalu menyelimuti kita sampai waktu akhir yang memisahkan kita." Ucap Jaehwan dengan bulir bening yang mengintipmalu di balik kelopak mata.
"Kita pasti akan seperti itu." Taekwoon mengangkup pipi Jaehwan. "Apa yang kita lalui cukup berat, Jae! Kita berada dalam kebahagiaan ini tidak mudah melaluinya. Jalan yang kita tempuh sempat menjauhkan kita dari kebahagiaan dan pada akhirnya kita bersama dibalut kebahagiaan. Hyung yakin, bahwa kebahagiaan kita akan abadi. Selamanya akan bertahan." Satu kecupan disematkan pada kening Jaehwan.
Jaehwan pun memejam dan mengijinkan air mata untuk terjatuh perlahan. Seiring dengan kecupan di keningnya yang tak lekas melepas, Jaehwan berharap asa yang ia bumbung tinggi itu tak akan berakhir percuma. Ia melantunkan do'a dalam hatinya semoga Tuhan akan selalu menaburkan bunga kebahagiaan di keluarga mereka.
.
.
.
Yang ia lihat saat ini adalah sosok Hongbin, bukan?
Sanghyuk tak percaya jika Hongbin sangat pandai menjaga bayi mungil keluarga Jung. Selama ditinggal oleh kedua orangtuanya, Taekhwan dibawa oleh Hongbin dan Sanghyuk baru tahu kalau Hongbin sangat menyayangi bayi mungil itu.
Rasa tanggung jawab bak seorang ibu terasa menguar di sekitar Hongbin.
Ia pun mendekat pada dua sosok yang tengah bermain di atas ranjang. Mengingat Taekhwan masih berusia enam minggu yang belum begitu bisa bergerak-gerak bebas.
"Dari apa yang aku lihat, sepertinya naluri hyung untuk memiliki anak begitu kuat. Kau tampak seperti eomma-nya, hyung!" Ungkap Sanghyuk setelah ia duduk di tepi ranjang.
Hongbin mengangkat wajahnya dan menatap Sanghyuk dengan sebuah senyum tipis. "Ya, aku memang menginginkan seorang bayi. Aku juga tidak tahu kenapa. Rasanya setiap kali menggendong Taekhwan, dadaku bergejolak. Aku juga iri dengan Jaehwan hyung yang memiliki bayi semanis ini." Jawabnya.
Mendengar jawaban itu memancing Sanghyuk untuk mengukir senyum. Wajah manisnya tampak semakin manis dengan senyum yang ada. Bahkan sepasang mata sipit itu perlahan menghilang.
"Bagaimana kalau kita menikah? Kau bisa memiliki anak setelah menikah nanti."
Hembusan pelan menjadi reaksi pertama setelah ucapan Sanghyuk. Menikah? Hongbin ingin sekali menikah. Tapi melihat bagaimana mereka sekarang itu rasa tidak mungkin. Menikah bukan perkara yang mudah. Butuh banyak persiapan dan itu bukan hal main-main.
"Kau selesaikan dulu kuliahmu, baru kita membicarakan ini."
Sanghyuk mengernyit. "Kenapa harus selesai kuliah? Aku bersedia menikahimu sekarang, hyung!" Ia menatap dalam kedua mata bulat Hongbin. Ada pancar keseriusan yang berpendar disana.
"Selesai kuliah, kita bekerja. Mau makan apa kalau kita tidak bekerja? Apalagi kau yang akan menjadi pihak dominan memiliki kewajiban lebih tinggi. Kita tidak mungkin terus meminta orangtua kita kan?"
"Ah, masalah itu."
Sanghyuk mengangguk paham. Jika masalah itu, Sanghyuk sudah punya jawaban. Sebenarnya ia ingin menyembunyikannya dulu dari Hongbin, tapi tidak mungkin terus-terusan ditutupi. Hongbin pun berhak tahu, bukan?
"Ada proyek besar yang bisa menjadi batu tumpuan untuk karirku, hyung!"
"Maksudmu?" Tanya Hongbin dengan mata memicing bingung.
"Aku sedang menggambar proyek apartemen dan beberapa gedung perkantoran. Itu lumayan untuk menjadi titik awal karirku. Nominalnya pun lumayan besar juga. Kalau nanti ini sukses, aku akan masuk ke perusahaan besar yang sudah menjaminku tanpa harus menunggu aku lulus. Tapi aku juga akan menyelesaikan kuliahku dengan segera."
Hongbin terkesiap dengan ucapan Sanghyuk. Apa tadi? Proyek besar? Sejak kapan Sanghyuk melakukan itu semua? Dan kenapa ia menutupi itu darinya?
"Jadi kau?"
Sanghyuk mengecup pipi Hongbin kilat. "Maaf kalau aku menutupi ini dari hyung! Aku hanya tidak ingin hyung kecewa kalau nanti aku gagal. Tapi aku sudah menyelesaikan itu semua dan tinggal koreksi dari pembimbing aku. Jika tidak ada masalah, gambar aku akan dikirim lalu diproses. Jadi jangan khawatir kalau kita menikah sekarang kita tidak bisa bertahan tanpa uang orangtua. Yakinlah, kita bisa melakukan itu." Tukas Sanghyuk mencoba untuk meyakinkan Hongbin.
Tanpa disadari, Hongbin merasa tersentuh dengan ucapan Sanghyuk. Ia tak bisa menganggap remeh lelaki yang ada di depannya ini. Ada keseriusan dan kesungguhan yang disuguhkan oleh Sanghyuk untuknya. Lalu apa lagi? Apa ia harus menundanya?
"Begini saja." Hongbin menatap Sanghyuk yang bersuara. "Setelah proyek ini berhasil, kita menikah. Bagaimana?"
"Kapan proyek ini akan dikirim?"
"Paling lama dua minggu lagi. Setelah selesai, mereka akan mulai melakukan pembangunan dan berarti tugasku selesai. Bagaimana?"
Hongbin memainkan bibirnya sejenak lalu mengangguk. Tidak ada yang salah untuk berharap atas ini semua. Ia juga seharusnya memberikan kesempatan untuk Sanghyuk juga kan? Kesempatan bagi Sanghyuk membuktikan apa yang diucapkan. Hongbin yakin Sanghyuk akan berhasil dengan itu semua.
"Baiklah, aku setuju."
Segera Sanghyuk memeluk tubuh Hongbin. Sejak awal ia juga memiliki keinginan untuk menikahi Hongbin. Selepas proyeknya selesai, ia ingin melamar Hongbin. Tapi ia harus membongkar rencananya lebih cepat. Namun ia tak mempermasalahkan ini. Toh, Hongbin juga telah setuju. Jadi buat apa ditutupi lagi?
"Aku tidak akan mengecewakanmu, hyung!"
"Aku percaya."
Dan satu kecupan dalam menyambangi bibir tipis Hongbin. Mengabaikan tatapn polos dari malaikat kecil keluarga Jung yang sejak beberapa menit lalu dibiarkan bermain sendiri.
.
.
.
Jaehwan membaca novel dan Taekwoon bermain dengan Taekhwan. Adalah kombinasi paling indah di dunia ini. Jaehwan bersyukur sekali Taekwoon pulang lebih awal. Jam lima sore ia sudah ada di rumah. Hal ini jelas memberikan sedikit keringan bagi Jaehwan untuk mengurus si buah hati.
Setidaknya Jaehwan bisa bersantai lebih cepat dan lebih lama. Untuk urusan si kecil bisa ditangani oleh Taekwoon yang beitu senang bermain dengannya. Seperti saat ini.
"Nanti kalau sudah besar, kau harus seperti eomma-mu yang penyayang. Kau harus menjadi seorang dominan yang penyayang."
Sudah ke berapa kalinya Taekwoon mengatakan itu? Selain mengatakan itu, Taekwoon akan selalu membubuhkan kecupan-kecupan ringan di wajah si mungil.
"Jadi dominan yang penyayang dan jangan seperti appa yang pendendam."
Jaehwan yang tengah membaca novel itu menoleh pada Taekwoon seketika. Ingin rasanya ia tertawa dengan tingkah konyol Taekwoon. Oke, itu memang hal wajar. Tapi Jaehwan seolah melihat sisi lain dari Taekwoon. Ia tak pernah tahu jika Taekwoon akan seposesif itu kepada anaknya dan mendoktrin setiap apapun yang akan terjadi pada anaknya.
Padahal ia bukan dewa.
"Dan kau jangan menjadi anak lemah agar bisa jadi dominan seperti appa."
Lagi-lagi Jaehwan ingin ketawa.
Tiba-tiba dering ponsel terdengar mengganggu acara Taekwoon yang membacakan perintah pada sang anak. Lekas Jaehwan mengambil ponselnya dan melihat siapa yang menelpon.
"Oh, Gyu hyung? Ada apa?"
.
Baik Jaehwan maupun Taekwoon tak tahu maksudnya apa tiba-tiba memanggil mereka datang ke Kediaman Kim. Jaehwan bahkan harus membungkus Taekhwan dengan berlapis-lapis pakaian agar angin tak bisa membelai seinchipun kulitnya. Setelah menidurkan si mungil di kamar Jaehwan, mereka berdua berdiri di depan Sungkyu dengan tatapan tanya.
Senyum yang melengkung dari bibirnya itu pun tak mampu membuat Jaehwan ataupun Taekwoon paham.
"Selamat datang! Hyung mengundang kalian ke konser solo."
"Konser solo?" Ulang Jaehwan. "Maksud hyung apa sih?"
Sungkyu tersenyum lebar sekali. Perut buncit itu tampak menantang di mata Jaehwan saat Sungkyu berjalan ke arahnya. Tangan halus Sungkyu menyentuh lengan Jaehwan.
"Woohyun! Kalian akan menikmati konser solo dari Woohyun." Sungkyu menarik Jaehwan untuk duduk di salah satu kursi meja makan dan menghadap pada piano di ruangan sebelah yang memang tak memiliki penyekat. "Kalian adalah penonton VVIP. Duduk dan nikmati."
Jaehwan masih belum paham dengan ini semua. Sementara Taekwoon sepertinya bisa membaca situasi ini. Tebakannya adalah Woohyun akan memainkan piano itu di depan mereka semua. Tapi untuk apa?
Dan dugaan Taekwoon benar. Woohyun keluar dari kamar dengan setelah keren untuk duduk di balik piano. Senyumnya yang terpaksa dikeluarkan itu tampak menggelikan di mata Taekwoon. Kenapa dengan suami hyungnya itu? Apa ini permintaan Sungkyu? Atau...
Ah, Taekwoon tahu. Pasti Sungkyu memang memiliki peran penting di balik ini semua. Pasti asalan mengidam yang membuat Woohyun terjebak dalam permainan ini. Dasar para uke kalau sedang hamil menyusahkan!
"Selamat malam, Para penonton!" Meskipun hanya ada tiga orang disana, Woohyun bersikap seolah banyak sekali yang melihat. "Terima kasih telah hadir pada konser solo saya! Saya akan membawakan lagu Gomawo untuk pembuka konser ini."
Lalu ia memulai untuk menyetubuhi piano hitam itu. Jaehwan yang masih belum mengerti hanya mengikuti saja, Taekwoon hanya bisa menebak itu bertepuk riuh menyambut dentingan piano. Sementara Sungkyu sang pelaku berseru dengan tepuk tangan menggema di penjuru ruangan.
Suatu hari kau datang padaku perlahan-lahan.
Kau memberikanku segala yang kau miliki.
Dengan alasan bahwa kau mencintaiku.
Satu bait lagu itu terdengar mendengung. Jaehwan memperhatikan wajah Woohyun yang tampak begitu cerah. Ini jauh lebih cerah dibandingkan setelah ia keluar kamar tadi. Wajah cerah dengan sorot mata yang tertuju pada Sungkyu.
Banyak waktu kita bersama
Cinta yang sudah aku terima setiap hari.
Sekarang aku ingin mengembalikannya padamu.
Pandangan Jaehwan pun beralih pada Sungkyu, lelaki itu tersenyum haru dengan tangan yang menangkup. Lihat bola mata itu. Manikan segaris miliknya telah tergenang air tipis yang siap untuk jatuh kapan saja. Pasti saat ini Sungkyu mengenang kembali lembaran kisah yang telah mereka susun bersama.
Setiap momen yang membuatku bahagia sampai sekarang
Aku akan menyanyikan lagu dengan momen-momen itu.
Ah, manis sekali. Jaehwan pun lama-lama ikut tersentuh dengan lirik yang dibawakan. Sederhana namun cukup membuat hatinya perlahan menangis. Ia pun merasa kalau lagu itu juga untuknya. Meski yang bernyanyi adalah Woohyun, bukan Taekwoon.
Aku akan bernyanyi untukmu, laguku untukmu.
Aka kau tahu hatiku?
Aku harap pemeran utamanya adalah kau.
Terima kasih dan aku mencintaimu.
Sampai hari terakhir hidupku, aku akan hidup sebagai priamu
Terima kasih karena tetap di sisiku.
Dan Jaehwan menggenggamkan tangannya pada Taekwoon selama mendengarkan lagu itu. Dari tatapan matanya saat melihat Taekwoon sebentar, ia bisa menilai bahwa Jaehwan mungkin iri dengan Sungkyu. Iri dinyanyikan seperti itu oleh Woohyun. Hey, bukankah Jaehwan juga pernah seperti ini? Bukankah Taekwoon juga pernah bernyanyi untuk Jaehwan. Walaupun itu hanya sekali tapi kan..
Mungkin Jaehwan benar-benar larut dalam keromantisan yang dibawakan oleh Woohyun hingga ia ikut menitikkan air matanya.
Jika Jaehwan saja menitikkan air mata bagaimana Sungkyu? Lelaki itu sudah menangis dalam senyumnya sejak bait kedua. Ia merasa terenyuh dengan lagu-lagu itu. Sungkyu memang kembali mengingat masa-masa bersama Woohyun. Yang membuat Sungkyu bersyukur adalah Woohyun tetap berada di sisinya saat ia sulit memiliki keturunan awal-awal pernikahan mereka meskipun banyak yang telah ia lakukan untuk memancing kehamilannya.
Hingga pada akhirnya Sungkyu menerima kabar bahwa ia telah menyimpan janin di perutnya. Janin yang dirindukan itu akhirnya datang ke tengah-tengah keluarga mereka. Sungkyu senang dan bahagia. Apalagi Woohyun yang juga mengharapkan kehadiran buah hati di keluarga mereka.
Satu lagu telah mengalun manis dari bibir Woohyun. Mengundang tepuk tangan dari penonton yang ada. Bukan hanya tepuk tangan, melainkan pujian diberikan kepada Woohyun dari Jaehwan yang tak menyangka jika kakak iparnya itu memiliki suara sebagus itu. Woohyun pun dihadiahi pelukan erat dari Sungkyu.
"Waaahh! Hyung! Suaramu bagus sekali! Aku tidak tahu kalau kau punya suara sebagus itu." Jaehwan masih bertepuk tangan. "Terus, kenapa kau tiba-tiba bernyanyi seperti ini? Apa sih, maksud dari ini semua?"
Sungkyu mengusap air matanya dan melepas pelukannya. "Woohyun memang pandai bernyanyi. Ini hyung yang minta. Hyung mengidam sebuah konser kecil. Kau tahu kan kalau hyung memiliki cita-cita sebagai penyanyi dulu? Dan jabang bayi malah ingi appa-nya yang bernyanyi. Ya sudah. Jadinya seperti ini." Jelas Sungkyu.
"Ah... Seperti itu! Pantes." Tanggap Jaehwan mangut-mangut. "Apa saja yang sudah hyung minta waktu ngidam?"
"Banyak.. Bahkan jauh lebih mengerikan darimu, Jae!"
Di tengah obrolan kecil yang dilakukan oleh Jaehwan dan Sungkyu seputar waktu mengidamnya, Taekwoon tiba-tiba duduk di belakang piano. Ia tersenyum pada Jaehwan yang menatapnya bingung. Kerutan tipis jelas terlihat di kening Jaehwan.
"Apa yang akan kau lakukan, hyung?"
Taekwoon menggoda Jaehwan dengan gerakan jari di tuts-tuts piano.
"Hadiah ulang tahu pernikahan. Bagaimana dengan sebuah lagu?"
"Uh?"
Kerlingan kecil menyentak pandangan Jaehwan. Lelaki yang lebih muda itu tersenyum senang manakala bibir tipis Taekwoon mulai mendengungkan sebuah lagu yang manis sekali.
You're a falling star, you're the get away car,
You're the line in the sand whne I go too far,
You're the swimming pool, on an August day,
And you're the perfect thing to say.
And you play it coy but it's kinda cute.
Ah, when you smile at me you know exactly what you do.
Baby don't pretend that you don't know it's true.
Cause you can see it when I look at you
And in this crazy life, and through these crazy times,
It's you, it's you, you make me thing, you make me sing.
You're every line, you're every word, you're everything.
Jaehwan lekas memeluk Taekwoon selepas lagu itu selesai. Pelukannya mengerat dengan cepat. Seakan tak pernah ingin lepas dari lelaki itu. Sudah lama sekali Jaehwan tak mendengarkan Taekwoon bernyanyi dengan piano dan hari ini adalah salah satu hari yang terindah untuknya. Dengan keadaan dadakan tanpa persiapan Taekwoon masih bisa membuat Jaehwan menangis haru seperti ini.
Tangan Taekwoon menusap punggung Jaehwan yang masih belum ingin lepas darinya. Walaupun tatapan menyedihkan itu keluar dari Sungkyu. Sempat Taekwoon melirik kepada sang kakak dan bisa membaca apa yang ada disana. Mungkin ia kesal. Bukankah ini konsel solo Woohyun? Tapi kenapa malah Taekwoon yang menghabiskan sisanya?
"Jangan menangis Jae! Ini semua untukmu." Taekwoon melepas pelukannya dan mengecup kilat bibir Jaehwan. "Sebagai kado ulang tahun pernikahan kita. Maaf kalau hyung tidak menyiapkan hal yang romantis."
Kepala Jaehwan menggeleng dengan wajah yang nyaris sembab jika ia tak berhasil menghentikan air matanya. Ia mengecup pipi Taekwoon dalam dan mengabaikan decakan kesal dari Sungkyu.
"Ini adalah kado termanis yang aku dapat hyung! Terima kasih! Terima kasih!"
Lalu Jaehwan mengecup bibir itu. Namun hanya butuh beberapa detik untuk bisa berubah menjadi lumatan memabukkan.
"Yaa!" Pekikan Sungkyu membuat Taekwoon terpaksa melepaskan bibirnya. "Kenapa jadi kalian yang menampilkan adegan drama sih? Ini kan konser solo Woohyun."
Ditanya seperti itu, Jaehwan hanya nyengir dan melepaskan tangan Taekwoon di pinggangnya.
"Maaf hyung! Maaf!"
Dan Sungkyu hanya mendengus kesal.
.
.
.
Taekwoon ingin merayakan ulang tahun pernikahan mereka dengan mengajak Jaehwan dan Taekhwan jalan-jalan sepuasnya. Ia telah meminta Dongwoo mengisi kekosongannya cuti selama dua hari. Taekwoon akan pergi berlibur dengan Jaehwan dan Taekhwan.
Namun saat ia sampai di gedung apartemen, ia melihat mobil Jaehwan keluar dari parkir basement. Taekwoon mengerut bingung. Detik selanjutnya ia berusaha mengejar mobil Jaehwan yang melaju menembus jalanan Ibu Kota Seoul. Hingga Jaehwan berhenti di salah satu gereja tempat mereka biasa beribadah.
Taekwoon mengerutkan keningnya bingung. Apa yang akan ia lakukan? Ibadah? Ini bukan hari-hari khusus ibadah. Lalu?
Dengan rasa rasa penasaran yang membuntuti, Taekwoon mengikuti langkah kaki Jaehwan dengan pelan-pelan. Ia tak ingin membuat Jaehwan terkejut dengan kehadirannya. Kemudian ia berdiri di belakang Jaehwan dalam jarak yang cukup dekat namun masih belum disadari oleh Jaehwan.
Saat ini di depan altar itu tangan Jaehwan mengatup. Mata bulat yang berselimut kabut tipis menatap lembut salib yang menggantung. Bibirnya terbungkam beberapa saat sebelum menggumamkan sebuah pujian untuk yang Kuasa. Lantunan pujian itu tampak menggema di penjuru gereja yang sepi. Menenangkan dan mendamaikan. Taekwoon yang berdiri disana pun terlena dengan gumaman itu. Ia menatap dalam punggung Jaehwan dengan penuh kasih.
Perlahan kelopak tipis itu memejam. Bibirnya mengatup sejenak sebelum mulai bergerak kecil. Ia menunduk mulai meloloskan beberapa bulir air yang bersarang di bola matanya.
"Tuhan..." Bibirnya memanggil Sang Kuasa. "Ku ucapkan terima kasih untukmu."
Taekwoon tersadar dengan suara Jaehwan. Sepertinya lelaki itu akan berdo'a.
"Jaehwan tahu, Engkau memang yang paling penyayang. Yang paling setia dan paling pengasih. Engkau yang selalu menumbuhkan benih kebahagiaan dan kasih sayang di dunia ini." Tangkupan itu semakin erat seiring dengan bulir yang turun. "Terima kasih, untuk semua kasih sayang yang Engkau turunkan untukku. Terima kasih untuk semua janji yang kau berikan kepadaku. Engkau telah mengabulkan keinginanku dan menepati janji-Mu."
"Terima kasih telah memberikan satu tahun penuh warna dalam pernikahanku."
Taekwoon memperhatikan dengan seksama setiap ucapan Jaehwan.
"Kau telah membiarkanku mengerti apa itu sakit, apa itu kecewa, apa itu marah, apa itu benci dan..." Jaehwan menarik dalam nafasnya. Isakan yang cukup mengganggu ucapannya terpaksa harus ia singkirkan dulu. "Apa itu cinta.. Kau mengajarkanku banyak hal dari berbagai peristiwa yang terjadi kepadaku.
"Tuhan! Terima kasih untuk setahun ini. Setahun yang begitu berarti untukku, begitu bermakna untukku dan begitu berharga untukku."
Taekwoon ikut merasakan ada yang lembab di kedua matanya. Ia ikut menangis seperti sang istri.
"Tuhan.. Hari ini adalah satu tahun pernikahanku dengan Taekwoon hyung. Terima kasih sekali lagi Jaehwan ucapkan untuk semua yang Kau berikan. Terima kasih telah mengirimkan Taekwoon hyung untuk Jaehwan walaupun Engkau sempat memberikan cobaan melaluinya. Tapi Jaehwan tahu dan sadar bahwa dengan demikian Jaehwan jadi mengerti apa artinya tulus memaafkan dan tulus mencintai."
"Tuhan.. Jaehwan bahagia hidup bersama Taekwoon hyung. Bahagiaaa sekali.. Apalagi dengan kehadiran si mungil Taekhwan, hidup kami menjadi begitu lengkap."
Untuk sesaat ia memberikan kesempatan mengusap air matanya yang telah membasahi kedua pipi. Ia juga menetralkan nafas yang mulai menipis akibat tangisan lirihnya. Ia tidak sedang bersedih tidak. Ia menangis karena kebahagiaan. Semua yang terjadi kepadanya memang karunia Tuhan bukan? Dan tidak salah kalau ia mengucapkan terima kasih kepadanya.
"Tuhan.. Untuk permintaanku sebagai hadiah ulang tahun pernikahanku adalah..."
Taekwoon mengusap air mata di pipi. Ia menajamkan pendengarannya. Apa yang ia inginkan sebagai kado ulang tahun pertama pernikahan mereka? Selama ini Jaehwan tak meminta banyak kepada Taekwoon. Apa yang diinginkan Jaehwan dari Tuhan?
"Jaehwan memohon kepadamu, Tuhan! Hanya ini yang Jaehwan inginkan.. Tuhan.. Ijinkan apa yang Jaehwan dapatkan ini tak akan pernah berakhir. Ijinkan kebahagiaan yang telah Jaehwan dapatkan akan tetap sama seperti ini selamanya. Jika memang di mata-Mu Jaehwan bukan manusia yang serakah, ijinkan kebahagiaan ini bertambah setiap harinya. Ijinkan keluarga Jaehwan selalu berada dalam balutan kebahagiaan. Jaehwan memohon itu, Tuhan.. Jaehwan mohon."
"Juga.."
"Jangan pernah buat Taekwoon hyung berpaling dariku. Kuatkan cintanya untukku. Jangan biarkan dia mencintai seseorang yang lain. Selalu jagalah hatinya untukku. Aku tidak ingin berpisah dengannya. Aku-"
Grep..
Dengan langkah yang cepat Taekwoon memeluk tubuh Jaehwan begitu mendengar permintaan Jaehwan kepada Tuhan.
Jaehwan tersentak. Ia merasakan tubuhnya menegang. Sebuah pelukan erat melingkar di pinggangnya. Siapa yang memeluknya? Bahkan ia bisa mendengar deru nafas tak teratur di telinga.
Masih dalam keadaan terkejut, tubuh Jaehwan diputar paksa oleh Taekwoon. Mata bulat indahnya bisa melihat siapa sosok itu meski sedikit kabur. Kabut yang menyelimuti kristalnya membuat daya pandang itu berkurang.
"Taek-Taekwoon hyung?"
"Jae!" Taekwoon memeluk Jaehwan dengan erat. "Jae! Aku akan terus mencintaimu.. Aku akan tetap disampingmu. Aku akan selalu ada untukmu. Sampai kapanpun... Sampai kapanpun aku akan tetap berada di sisimu. Kau jangan mencemaskan itu. Aku akan menjagamu dan aku akan membahagiakanmu."
Jaehwan tersentuh dengan ucapan itu. Hatinya menghangat dan dadanya berdegup kencang. Binar ketulusan yang berpancar dari kedua mata musang itu. Lantas Jaehwan menarik kedua ujung bibirnya di tengah-tengah air mata yang masih betah menuruni pipi.
"Kita pasti bisa! Kita pasti bisa menjaga kebahagiaan yang kita miliki sekarang." Lalu ia mendongak dan menatap dalam salib yang menggantung. Beberapa detik berselang, ia membalikkan tubuhnya dan mengangkat tangan kanannya. "Dan di depan Tuhan, aku berjanji. Saya, Jung Taekwoon. Berjanji kepada-Mu Tuhan untuk selalu menjaga Lee Jaehwan sampai kapanpu. Mencintainya dengan sepenuh hati dan menyayanginya sepanjang hari. Sampai waktu memisahkan kami dan sampai waktu tak berpihak kepada kami."
"Jung Taekwoon akan selalu ada untuk Lee Jaehwan sampai kapanpun."
Tanpa terasa tangisan Jaehwan kembali pecah. Air itu menyeruak dari kelopak tipis mata Jaehwan. Rasa bungah bercampur kebahagiaan itu begitu besar meletup dalam dirinya. Taekwoon kembali menatap Jaehwan dengan tatapan keseriusan. Tangannya menangkup wajah Jaehwan kembali dan mengukir senyum setelahnya. Selang beberapa detik, jarak yang ada mulai terkikis.
"Aku mencintaimu." Deru nafas Taekwoon begitu terasa di wajah Jaehwan.
"Aku juga mencintaimu hyung."
"Dan Tuhan!" Taekwoon kembali menatap salib itu. "Ijinkan aku mencium istriku di hadapan-Mu. Maafkan aku yang mungkin lancang. Aku hanya ingin membuktikan bahwa aku-,"
Belum juga Taekwoon selesai mengatakan apa yang ingin ia katakan, Taekwoon sudah mendapati bibir tebal Jaehwan ada di atas bibirnya. Bibir itu bergerak kecil. Mencoba untuk menangkup bagian bawah bibirnya. Taekwoon pun mengikuti pergerakan bibir Jaehwan. Mengimbanginya dengan pelan dan penuh kasih sayang.
Jaehwan tahu Tuhan tak akan marah dengan mereka, kan? Bukankah mereka juga berciuman saat pertama kali resmi menjadi suami istri? Jaehwan memeras kemeja Taekwoon dengan erat.
Sementara Taekwoon, ia menikmati setiap kelembutan bibir Jaehwan yang ada di dalam tangkupan bibirnya. Setiap kelembutan yang menghantarkan kasih sayang dan kehangatan. Sebuah ketulusan dan kesungguhan yang terasa jelas.
Dalam hati ia kembali berjanji. Mengucap janji kepada yang Kuasa bahwa ia tak akan melepas istri tercintanya itu.
Waktu yang telah berjalan selama ini begitu banyak memberikannya pelajaran hidup. Ia begitu banyak mengalami hal-hal yang diluar dugaan. Ia hanya berharap waktu akan terus bersamanya dan berpihak padanya.
Waktu akan selalu membawa kebahagiaan untuk mereka.
Waktu akan selalu menyertai setiap langkah kehidupan mereka dengan kasih sayang dan cinta.
Dan waktu akan memisahkan mereka pada saat yang tepat. Pada saat yang memang ditakdirkan dan sama-sama membuat mereka kuat menghadapinya.
Tapi...
Taekwoon selalu berharap Tuhan akan selalu mengabulkan asanya di setiap perjalanan hidup. Di setiap kehidupan yang berlalu dan di setiap waktu yang ia tempuh.
Satu asa yang akan selalu ada di genggaman adalah hidup bahagia dengan orang-orang yang cintai selamanya.
Harapan yang sama bagi Taekwoon maupun Jaehwan.
"Tuhan... biarkan waktu berjalan dengan kasih sayang dan kebahagiaan yang selama ini kau berikan. Biarkan waktu menjadi saksi untuk kehidupan yang kami jalani dan jangan biarkan perpisahan datang pada waktu yang tak tepat. Karena aku mencintai Jaehwan sepenuh hati. Aku sangat mencintainya, Tuhan."
.
.
.
END
.
Akhirnyaaaaa...
Selesai juga ini FF.
Terima kasih banyak bagi kalian yang berpartisipasi dalam cerita ini. Yang kesal sama cerita ini, yang seneng sama cerita ini, yang gemes sama cerita ini, yang kecewa sama cerita ini, yang puas ato gak puas. Wkwkwkwkwkwkw
.
Saya ucapkan terima kasih.
Sampai jumpa di FF berikutnyaaaa...
.
Special thanks for :*
Bhellaep, CandytoPuppy, Jyani408, Ssang-seung, bulantaurus, luis franscisco, restiana, thyng941, Lvinnie, lightningklass, Sky Onix, yoitedumb, 21parkjiin, Phee Anee, SeptiaAnjani, faulinarisma, idhaaand, megisuwari dan guest ato siapapun yang belum kesebut. Hahahaha
.
Terima kasih banyak.
Kecup cinta satu-satu dari saya.
.
.
.
:* :* :*
.
Salam hangat
.
.
~Arlian Lee~
