Disclaimer: Kuroko no Basuke bukan milikku, tapi milik dari Fujimaki Tadatoshi
Warning: Slash, AU, OOC, OC, typo, etc.
Rating: M
Genre: Adventure, Supernatural
Pairing: Akakuro
THE EMPEROR
By
Sky
Akashi Manor, Kyoto-Jepang
Suara gesekan pena itu adalah satu-satunya suara yang terdengar di penjuru ruangan tersebut, sebuah ruangan yang cukup besar dengan deretan beberapa rak yang terisi penuh oleh buku-buku dengan rapi. Di sisi ruangan itu terdapat sebuah perapian yang menyala untuk menjaga suhu di dalam ruangan tersebut tetap hangat, namun hangatnya yang ditimbulkan dari perapian itu tidaklah mampu untuk menghangatkan hati dari sang tuan rumah serta pemilik dari kantor yang tertata dengan rapi tersebut.
Akihiko menghentikan gerakan tangan kanannya, membuat tulisan yang tengah ia lakukan terhenti untuk beberapa saat. Tanpa mengutarakan sepatah kata apapun laki-laki paruh baya tersebut meletakkan pena yang sedari tadi ia genggam di tangan kanannya, ia pun tidak tanggung-tanggung untuk memberikan tatapan yang kedua kalinya pada dokumen di hadapannya sebelum dirinya beranjak dari tempat duduknya, menghentikan apa yang ia kerjakan beberapa saat yang lalu. Tubuhnya yang tegap dan dipenuhi oleh ketegasan itu pun berjalan menghampiri jendela besar yang ada di sana, disibakknya gorden berwarna merah marun dari kedua jendela besar tersebut sampai memperlihatkan kedua kaca bening yang memantulkan bayangannya sebelum pemandangan indah dari hamparan hutan yang mengelilingi manornya.
Sang tuan besar dari keluarga Akashi tersebut mendorong kedua jendela itu keluar, membuat mereka terbuka dan hal pertama yang menyapanya adalah terpaan angin yang lembut di sore hari, menerbangkan rasa penat yang sedari tadi ia rasakan saat menandatangani beberapa dokumen penting di atas meja kerjanya. Kedua kaki milik Akihiko pun kembali menuntunnya berjalan keluar sampai dirinya tepat berdiri di atas balkon jendela ruangan kerjanya, menatap ke arah luar dengan kedua pasang mata berwarna merah ruby yang tidak diselimuti oleh emosi apapun, satu hal yang bisa menggambarkan sosok dari seorang Akashi Akihiko ini adalah ia begitu tenang dan berwibawa dengan ketegasan yang tersembunyi di balik masker kalemnya.
"Sangat menenangkan, irama alam memang membuatku jauh lebih baik setelah bekerja keras," gumam Akihiko dengan suara kecil, kedua bola matanya itu terpejam untuk beberapa saat lamanya ketika alunan lembut dari sang mentari menimpa wajah pucatnya sementara sang angin pun membelai wajahnya untuk beberapa saat. Kedua sensasi sejuk dan panas, mengingatkan Akihiko pada putra semata wayanya dan juga mendiang istrinya, mereka berdua adalah dua orang yang mirip namun juga berbeda pada saat yang sama.
Akashi Seijuurou itu bisa diibaratkan seperti es abadi meskipun elemen utamanya adalah api yang membara. Ia begitu dingin dan hatinya pun tidak bisa meleleh untuk menerima apa itu yang dinamakan perasaan, begitu mirip dengan Aiko ketika wanita itu belum menjadi istrinya. Mereka berdua penuh ditutupi dengan kebanggaan yang terselimut begitu kental di dalam es abadi yang menyelimutinya, bahkan api yang bersarang dalam tubuh keduanya pun tidak akan padam maupun dipadamkan oleh sang es. Mungkin bagi orang lain baik Seijuurou dan Aiko adalah orang yang sulit untuk dimengerti, bagi Akihiko yang telah mengenal keduanya sangat baik bisa bisa membaca mereka layaknya ia membaca sebuah buku. Dua orang yang sangat ia cintai itu memang sedikit merepotkan, tapi bukan berarti Akihiko tidak mencintai keduanya.
Berbicara mengenai Seijuurou, ingatan dari Akihiko pun bergulir dari apa yang ia lihat melalui bola kristalnya tadi pagi, sebuah energi yang begitu dahsyat mengelilingi tubuh putranya serta teman-teman putranya setelah kemunculan dari Virgo, dan hal itu pula berhasil mematahkan kutukan yang Toru berikan kepada mereka. Seulas senyum pun akhirnya mendapatkan tempat di wajah tampan Akihiko, laki-laki yang baru menginjak usia 45 tahun itu pun merasa bangga dengan pencapaian yang putra semata wayangnya dapatkan, sepertinya kekhawatiran berlebih dari Aiko dan dirinya mengenai Seijuurou sirna sudah. Anak itu mampu mengurus dirinya sendiri, tidak heran kalau Akihiko maupun istrinya menunjuk putra mereka menjadi ahli waris dari kedua keluarga yang bisa dikatakan tergolong tua serta melegenda itu, keluarga Akashi dan keluarga Akihiko, dua buah keluarga yang sama-sama menghilang serta sama-sama memiliki kekuasaan mutlak.
"Seijuurou, meskipun kau masih menjadi putra bodohku, tapi kau cukup membuatku bangga," gumam Akihiko pada dirinya sendiri, ia pun membalikkan tubuhnya sehingga punggungnya dapat bersandar pada pembatas balkon jendela tersebut dengan santai. "Baik aku dan ibumu merasa bangga padamu."
Ucapan yang begitu tulus namun mengandung banyak makna itu pun terselip begitu saja dari bibir Akihiko, diterbangkan oleh angin yang mungkin akan membawanya menuju ke tempat Seijuurou berada. Tatapan kalem laki-laki paruh baya itu pun beranjak dari hamparan hutan luas yang ada di sekitarnya menuju ke arah langit biru yang kini telah dihiasi oleh semburat merah, membuatnya bagaikan sebuah lukisan indah dengan kanvas biru itu sebagai dasarnya.
Harus Akihiko akui memang, pada awalnya ia dan sang istri pun merasa sedikit ragu dengan perkembangan yang putra semata wayangnya itu berikan, meskipun keduanya adalah orang yang suka menyebut diri mereka sebagai seorang yang perfeksionis serta mutlak dalam memprediksikan sesuatu, baik dirinya dan Aiko tidak bisa meramalkan masa depan Seijuurou dengan baik. Bagi mereka, Akashi Seijuurou itu mirip seperti wild card yang tidak bisa ditebak bagaimana masa depannya maupun tindakan yang akan ia lakukan, bahkan untuk Aiko yang memiliki kemampuan untuk meramal masa depan pun ia tidak bisa menebak masa depan yang Seijuurou tempuh nantinya. Tapi, bila pencapaian dari putranya saja sudah sampai sejauh ini maka Akihiko pun tidak perlu cemas lagi dan juga tidak perlu memata-matai Seijuurou melalui bola kristalnya.
Ingatan Akihiko pun bergulir lagi ke arah mendiang istrinya, betapa dirinya sangat merindukan kehadiran lembut dari Aiko saat ini, tapi takdir telah berkata lain mengenai hal itu. Akihiko tidak menyesal atas pengorbanan yang Aiko buat untuk menyelamatkan dirinya dan Seijuurou, tapi pada saat yang sama ia ingin menyalahkan adik pertama dari istrinya. Perebutan tampuk kekuasaan untuk menjadi kepala keluarga dari keluarga Hiwatari memang sangat mengerikan tapi hal itu pantas bila mereka bisa menjadi kaisar tertinggi seperti kaisar pertama yang ada, ujiannya hanya singkat yaitu mereka harus membuktikan siapa yang terkuat dengan membunuh satu sama lain sebelum mereka dapat mengklaim posisi tertinggi tersebut. Dua kandidat tertinggi yang terpilih 10 tahun yang lalu adalah Hiwatari Aiko (marganya berubah menjadi Akashi) dan Hiwatari Mayura (marganya berubah menjadi Haizaki), dua dari tiga saudara yang tersisa dari keluarga Hiwatari saat itu. Dan sekarang yang terpilih sebagai kandidat untuk mempertaruhkan tampuk kekuasaan itu adalah Seijuurou dengan Shougo, hal ini benar-benar membuat Akihiko khawatir.
"Tapi, Seijuurou adalah Akashi. Aku tahu kalau anak itu pasti memiliki segudang rencana untuk menghadapi takdirnya tersebut, terlebih sekarang ini Tetsuya ada di sampingnya. Aku harap Tetsuya mampu mencegah anak bodoh itu dari tindakan gegabah yang akan ia lakukan," gumam Akihiko lagi, ia memejamkan kedua matanya untuk beberapa saat lamanya sebelum membukanya lagi, menikmati alunan musik alam yang tengah bermain dengan merdu di sekelilingnya. Sebuah alasan mengapa Akihiko membangun kediamannya di tempat seperti ini dengan hutan yang mengelilinginya, hal itu membuat dirinya menjadi lebih tenang daripada tinggal di tengah perkotaan seperti yang lainnya.
Ada sebuah pepatah yang mengatakan kalau orang tidak boleh melupakan sejarah, termasuk sejarah keluarganya di mana mereka berasal, karena mungkin saja sejarah keluarga itu adalah kunci ke mana arah takdirmu akan membawamu pergi. Perjalanan takdir dari mereka semua tidak akan berhenti di sana saja, bahkan perjalanan itu pun mampu menerbangkan semua yang mereka kenal ke ambang pintu gerbang ketidaknyataan.
Akihiko tertawa kecil ketika hal itu tersemat secara tiba-tiba di dalam benaknya, dan bagi dirinya keluarga itu adalah nomor satu yang tidak mungkin bisa digantikan oleh apapun. Mendengus pelan untuk menahan tawanya, laki-laki paruh baya yang juga terkenal sebagai hunter dalam legenda itu pun akhirnya beranjak dari tempatnya berdiri.
"Apapun yang terjadi, Seijuurou, kau masih memiliki kami di sini," ujar Akihiko pada dirinya sendiri tanpa ada harapan anaknya mampu mendengarkan perkataannya.
Mungkin selama ini Akihiko selalu bersikap dingin kepada Seijuurou, berlagak kalau ia terus mengekangnya dan bahkan menganggapnya tidak berguna, namun jauh di dalam lubuk hati yang terdalam rasa cintanya pada sang anak sangatlah besar, bahkan ia melakukan semua itu untuk mendidik Seijuurou. Dan semua pengajaran tidak langsung dari Akihiko pun bertambah keras semenjak Aiko pergi dari dunia ini selama-lamanya.
"Dan sepertinya tiga dari dua belas pecahan jiwa penjaga gerbang mistis sudah berhasil kau lalui, tapi ujian itu masih jauh dari kata cukup. Seijuurou dan Shougo, aku tidak bisa membayangkan bila kedua orang itu bertemu."
Aku punya firasat kalau Seijuurou dan diriku akan bertemu lagi, tidak lama lagi. Tapi, kapan pun itu aku akan menantikan hal itu, pikir Akihiko kepada dirinya sendiri sebelum ia pun kembali masuk ke dalam kantornya.
Sore hari yang menarik di Akashi manor memang tidak sering terjadi, tapi bagi seorang Akashi Akihiko semua itu sama menariknya dengan menoleh ke dalam masa lalu. Andai saja dirinya mampu membalikkan waktu maka semua ini tidak akan terjadi, namun yang terjadi biarlah terjadi dan yang mati tidaklah bisa kembali lagi di dunia ini. Semua orang tentu menyadari semua itu tanpa mereka mempelajarinya lebih lanjut lagi.
Cepat atau lambat, kau akan menyadari siapa dirimu yang sebenarnya, Seijuurou. Kau adalah bagian dari Arcana ini, Kaisar kecilku. Senyuman kecil yang terukir di wajah Akihiko langsung sirna begitu saja saat sosok tubuhnya itu kembali memasuki kantor tersebut. Namun, ia tetap membiarkan jendela besar ruangan tersebut terbuka, membuat angin yang lembut masuk ke dalamnya dan memberikan efek lambaian kecil pada gorden merah marun yang terpasang pada jendelanya.
Kediaman Nijimura, Kerajaan Elven Hitam
Denting piano yang mengalun pelan pada ruangan itu terus mengalir begitu saja, menyemarakkan suasana dari ruangan yang terlihat begitu sepi tersebut. Tidak ada yang bersuara, bahkan ruangan yang sedari tadi terisi oleh alunan piano itu pun memiliki aura yang sangat berat, sebuah ketegangan yang ibaratnya bisa diiris menggunakan pisau kalau saja hal itu bisa dilakukan.
Jemari lentik milik Midorim tetap menari di atas tuts-tuts piano, membuat irama yang tadinya begitu lembut kini berubah menjadi cepat dan liar, menyuarakan apa yang tengah ia rasakan meskipun mimik wajah miliknya itu masih terlihat begitu tenang, tidak mengisyaratkan apapun. Ia terus memainkan piano yang ada dihadapannya tanpa ada rasa peduli, bahkan remaja berambut hijau tersebut juga menghiraukan tatapan yang menghujam punggungnya dari keempat remaja yang ia tahu tengah memperhatikannya.
Berbeda dengan apa yang terjadi dua hari yang lalu, mereka berenam kini bukanlah anak-anak lagi secara fisik, mereka berenam telah berubah kembali ke bentuk tubuh masing-masing dalam usia yang normal, tubuh usia 17 tahun untuk Kiseki no Sedai dan Tetsuya. Bagaimana Tetsuya bisa melakukan itu, baik dirinya dan yang lainnya (minus Seijuurou sepertinya) masih tidak memiliki jawabannya. Dan berbicara mengenai remaja pencinta vanilla milkshake tersebut, tanpa melihat ke belakang pun Midorima dapat menemukan Tetsuya tengah duduk bersimpuh di atas lantai dengan kepala dan punggungnya bersandar pada sang kaisar merah sendiri, Akashi Seijuurou.
"Hentikan permainanmu itu, Midorimacchi, kau membuatku sakit kepala-ssu!" rengek pemuda berambut pirang yang sangat Midorima kenal. Rasanya Midorima ingin menghujam pemuda itu dengan anak panah sihirnya atau mungkin mengubur Kise hidup-hidup agar suaranya yang sangat memekakkan telinga itu tidak mengganggu konsentrasinya lagi.
Merasakan kesabarannya yang semakin lama semakin menipis, Midorima pun langsung saja menghentakkan kedua jemari tangannya di atas tuts piano dengan kasar, membuat suara yang berdenging hebat muncul dari sana.
"Hei, Midorima, kau tidak perlu sekasar itu!" Ujar pemuda berkulit kecoklatan. Aomine yang sedari tadi tiduran di atas sofa panjang di sana langsung membuka kedua matanya saat Midorima memukul grand piano di sana dengan kasar, mengganggu tidur siangnya saja.
Baik Aomine dan Kise tidak mengerti apa yang saat ini tengah berkecamuk di dalam pikiran Midorima, apa mungkin pemuda berkacamata itu sudah mulai gila karena hal yang terjadi pada Kiseki no Sedai semakin lama semakin pelik akhir-akhir ini? Bahkan dari posisi tidurannya itu sedari tadi, Aomine bia merasakan ketegangan yang tidak biasa tengah terjadi di sana. Oleh karena itu sedari tadi Aomine menghindarinya, bahkan caranya itu juga ditiru oleh Murasakibara yang sedari tadi duduk di kursi sebelah. Hanya saja kalau Aomine dengan cara tidur siangnya, maka Murasakibara pun menggunakan taktik makan yang sering ia gunakan.
Ketegangan yang Midorima ciptakan di ruang tengah rumah Nijimura itu semakin menuju pada puncaknya, membuat siapapun yang di sana sedikit sulit untuk bernapas. Kise yang duduk bersandar pada sofa yang menjadi tempat tidur Aomine pun menggigit bibirnya, kedua mata kuning madunya itu beranjak dari sosok Aomine ke arah Midorima sebelum balik lagi ke arah Aomine, namun tidak lupa tatapannya itu pun menuju ke arah pasangan kalem yang sedari tadi kelihatannya tidak terpengaruh oleh apa yang terjadi. Ya, Seijuurou dan Tetsuya kelihatannya masih sibuk dengan dunia mereka masing-masing, bahkan bisa-bisanya Tetsuya tertidur dengan mempergunakan paha sang kaisar sebagai bantalnya dalam situasi seperti ini.
"Shintarou," sebuah suara kalem milik sang pemimpin Kiseki no Sedai pun terdengar, membelah kesunyian yang sedari tadi tercipta dan mau tidak mau menarik perhatian mereka semua kepadanya.
Seijuurou menutup buku yang tengah ia baca dengan suara yang cukup keras, namun tidaklah terlalu keras sampai membangunkan Tetsuya yang saat ini tengah tertidur. Meletakkan buku tersebut di samping tempat duduknya, Seijuurou pun mengangkat wajahnya, membuat kedua mata heterokrom miliknya tersebut mengarah langsung kepada rekan-rekannya.
"Kalau kau membangunkan Tetsuya dengan tindakanmu itu, aku akan membuatmu menyesal, Shintarou," ujar Seijuurou lagi, dibelainya rambut lembut milik Tetsuya sebelum dirinya kembali menatap Midorima yang terlihat sedikit gusar. "Sesuatu mengganggumu?"
Ucapan yang singkat dan terdengar begitu kalem dari tuan muda Akashi itu langsung membuat suhu di ruangan itu semakin dingin, bahkan kebingungan yang Midorima rasakan pun juga terasa membeku begitu saja. Seijuurou yang masih duduk dengan santai pada tempat duduknya itu tidak mau ambil pusing, ia malah menyibukkan diri dengan membelai rambut lembut milik Tetsuya yang ada di atas pangkuannya. Kelihatannya anak itu belum mampu beradaptasi dengan tubuh barunya, hal ini terbukti dengan kondisi Tetsuya yang sedikit melemah dan sering merasa lelah begitu saja.
"Akashi," sahut Midorima, membuat perhatian Seijuurou yang sedari tadi tertuju pada tunangannya kini berpindah pada sosok tangan kanannya. Dalam diam ia melihat Midorima bangkit dari tempat duduknya, berjalan menjauhi piano tersebut sebelum berdiri tepat di hadapan Seijuurou dan Tetsuya, menatap sosok Seijuurou dengan tatapan penuh perhitungan dan rasa ingin tahu yang tidak terbendung di sana.
"Shintarou," kata Seijuurou lagi, memanggil nama pemuda itu untuk kedua kalinya, namun kali ini ia memberikan sedikit penekanan sebelum mengangguk. "Apa yang kau inginkan?"
"Bukankah itu sudah jelas, Akashi, yang kuinginkan saat ini adalah penjelasan. Kau terlalu banyak menyimpan rahasia ini, bahkan sampai hal itu pun terjadi seperti dua hari yang lalu," jawab Midorima, ia pun langsung menaikkan kacamatanya yang tidak melorot untuk naik ke pangkal batang hitungnya, sebuah tanda kalau ia merasa tidak sabar sekarang ini.
Sepertinya apa yang dikatakan oleh Midorima muncul di dalam benak yang lain, hanya saja Midorima adalah orang pertama yang menanyakan hal itu. Entah itu karena ia cukup berani apa cukup bodoh, tidak ada yang tahu dengan pasti.
"Jawaban apa?" Tanya Seijuurou, ia berpura-pura tidak mengerti apa maksud Midorima padahal dalam hati ia sebenarnya tahu akan hal itu, bahkan bila ia mau maka sederet kalimat monolog yang mungkin dapat menjelaskan semuanya langsung terulas begitu saja, hanya saja Seijuurou tidak mau terburu-buru untuk memberi tahu mereka, karena pada dasarnya Seijuurou ingin rekan-rekannya ini mampu menafsirkan sendiri.
Melipat kedua lengannya di depan dada dengan kedua mata emerald tersebut menatap Seijuurou dengan tajam, Midorima pun mendengus kecil. "Jangan pura-pura tidak paham akan apa maksudku, Akashi. Kami semua tahu kalau kau memiliki jawaban atas misteri ini, bagaimana kalau kau beritahu kami apa itu sehingga kami tidak akan tertinggal di balik bayanganmu saja."
Masih dengan tatapannya yang tenang, Seijuurou bergeming sedikit dan tidak mengutarakan sepatah kata apapun, namun kedua bola mata yang berbeda warna itu masih tidak beranjak dari sosok pemuda yang ia akui sebagai tangan kanannya itu.
"Aku benci untuk mengakuinya, Aka-chin, tapi aku setuju dengan Mido-chin di sini. Aku penasaran juga," ujar Murasakibara yang duduk tidak jauh dari mereka. Kedua mata amethyst milik Murasakibara mungkin tidak menatap ke arah Seijuurou maupun Midorima, keduanya terfokus pada pemandangan hutan yang ada di luar sana, namun perhatiannya itu tertuju begitu lekat pada pembicaraan ini.
Mendengar Murasakibara yang sudah mengutarakan pendapatnya, hal ini langsung memancing Kise dan Aomine untuk memberikan anggukan singkat, sebuah pernyataan tanpa suara yang mengatakan kalau mereka berdua juga setuju dengan Midorima.
"Semuanya setuju denganku, Akashi. Bagaimana kalau kau ceritakan duduk permasalahannya sekarang juga, aku yakin kalau cerita yang keluar dari mulutmu itu sangat menarik, nanodayo," sahut Midorima, ada rasa puas dan juga sedikit kesombongan yang terbesit dalam suaranya, namun tentu saja semua itu langsung Seijuurou hiraukan.
Melihat desakan yang diberikan oleh mereka semua, maka Seijuurou pun mau tidak mau harus melakukan apa kata mereka. Mungkin ini kali pertamanya ia melakukan ini, namun ia harap apa yang nantinya mereka dengar tidak mempengaruhi kesetiaan Kiseki no Sedai pada dirinya.
"Baiklah, apa yang ingin kalian ketahui dulu?" tanya Seijuurou, tangan kanannya masih sibuk membelai rambut lembut milik Tetsuya.
"Bagaimana kalau mengenai keluarga Hiwatari dulu, Akashi. Aku tahu kalau ibumu, Akashi Aiko-sama, adalah kepala keluarga dari klan Hiwatari sebelum beliau menikah dengan Akashi Akihiko-sama, tapi yang aku tidak mengerti adalah kematian Aiko-sama yang tiba-tiba. Dan hubungan apa yang kau miliki dengan Haizaki itu?" Dua buah pertanyaan dalam satu pernyataan, Seijuurou menyandarkan bahunya pada sofa yang ia duduki ketika mendengarkan pertanyaan itu mengalir begitu saja dari bibir Midorima.
Sepertinya pertanyaan itu juga membuat yang lainnya diam membeku di tempat, tidak ada yang berani bersuara sedikit pun, bahkan Aomine yang sedari tadi ingin protes pun langsung mengurungkan niatnya. Mungkin bukan hanya Aomine saja yang bingung akan kematian dari Akashi Aiko yang yang terkesan sangat misterius, namun mereka tidak pernah bertanya-tanya mengapa Seijuurou terus menutupi fakta itu. Dari Kiseki no Sedai yang ada di sana, kelihatannya hanya Midorima seoranglah yang tahu akan informasi ini.
"Sebelum aku menjawab pertanyaanmu itu, Shintaro, izinkan aku untuk bertanya terlebih dahulu," kalimat yang keluar dari bibir Seijuurou bukanlah permintaan izin, namun sebuah perintah yang tidak bisa dibantah. "Apa yang kalian ketahui tentang keluarga Hiwatari?"
Midorima menyipitkan kedua matanya, namun ia memberikan anggukan kecil sebelum menjawab pertanyaan Seijuurou.
"Keluarga Hiwatari adalah satu dari lima keluarga hunter pertama yang ada di dunia ini sejak 6000 tahun yang lalu. Bersama dengan keluarga Akashi dan ketiga keluarga hunter pertama lainnya, mereka menyeimbangkan hubungan yang ada pada dunia manusia dan dunia supernatural sampai semuanya berubah 3000 tahun yang lalu," Midorima menghentikan penjelasannya, kedua matanya yang menatap Seijuurou dari balik kacamatanya itu berkilat kecil. "Keluarga itu mengkhianati keseimbangan yang ada dan mencoba membunuh kaisar pertama yang berasal dari keluarga Hiwatari sendiri, sejak saat itu mereka dikatakan sebagai keluarga terkutuk. Katakan padaku kalau aku salah, Akashi!"
Seijuurou pun menggelengkan kepalanya, merasa terkesan dengan penjelasan yang Midorima berikan pada mereka semua. Dengan gerakan singkat dari tangan kanannya, ia memerintahkan Midorima untuk melanjutkan penjelasannya kembali.
"Sebagai hukumannya, sang kaisar pertama dan keempat hunter tertingginya pada saat itu menghapus jejak dari keluarga Hiwatari dari muka bumi ini, dan dari darah kedua belas anggota keluarga Hiwatari tersebut mereka menciptakan dua belas penjaga gerbang yang nantinya akan menjaga keseimbangan dunia ini dan kunci dari kekuatan. Namun, sang kaisar sendiri pun adalah seorang Hiwatari, jadi keberadaan keluarga itu tidak benar-benar hilang, bahkan anak darinya pun masih menyandang nama keluarga terkutuk itu. Dan kau, Akashi, kau memiliki darah terkutuk itu mengalir deras di dalam tubuhmu!"
Kise yang mendengarkan cerita dari Midorima langsung menelan ludah, merasa dadanya sesak ketika ia mengetahui sebuah kenyataan yang ada. Ia pikir ini semua adalah lelucon, namun ternyata jawabannya adalah tidak. Mungkin mereka sudah tahu kalau Seijuurou adalah seorang Hiwatari, namun mereka tidak pernah tahu apa alasan keluarga itu memiliki darah buruk dan diklaim sebagai keluarga terkutuk. Penjelasan mengenai bagaimana pemberontakan terbesar itu terjadi cukup membuat Kise merinding, ia jadi teringat akan penjelasan gurunya yang mengatakan kalau pemberontakan yang diredam oleh kaisar pertama dan keempat hunter nya adalah pemberontakan terbesar sepanjang sejarah, kejadian itu menelan puluhan ribu orang yang berasal dari hunter, makhluk supernatural, serta manusia biasa yang tidak bersalah, namun Kise tidak pernah tahu kalau dalang dari semua ini adalah keluarga Hiwatari dan mendengarkan semua itu langsung membuat bulu kuduknya merinding.
"A-Akashicchi…" ucapan Kise itu langsung terpotong begitu saja saat kedua mata heterokrom Seijuurou yang sedari tadi tidak beranjak dari sosok Midorima kini mendelik ke arahnya.
"Ryouta, meskipun aku seorang Hiwatari tapi aku ini seorang Akashi juga. Aku tidak akan melakukan hal bodoh seperti apa yang dilakukan oleh leluhurku," ujar Seijuurou dengan singkat, sepertinya ia bisa tahu akan apa yang ingin Kise tanyakan padanya. "Mungkin aku mewarisi ambisi mereka, tapi ketamakan mereka? Tidak, aku tidak menyukainya."
Sebuah jawaban yang begitu jujur dan tegas itu langsung membuat mereka menganggukkan kepala mereka, tapi yang namanya keraguan pasti masih ada di dalam hati masing-masing namun lebih baiknya mereka semua tidak akan mengatakan hal itu pada Seijuurou. Selama ini Seijuurou telah memimpin mereka dan tidak pernah sekali pun mengecewakan mereka, oleh karena itu Midorima dan yang lainnya akan melakukan hal yang sama, mereka akan mencoba untuk menghiraukan fakta kalau Seijuurou berasal dari keluarga terkutuk itu.
"Kedua belas penjaga gerbang mistis memang diciptakan dari darah serta jiwa kedua belas hunter terbaik keluarga Hiwatari, tidak heran kalau mereka langsung mengenaliku sebagai salah satu dari mereka. Tapi, untuk mengendalikan kedua belas penjaga itu agar tidak melampaui batas, mereka berlima pun menciptakan sebuah kristal yang bernama Gem di mana benda itu hanya bisa digunakan oleh mereka yang memiliki darah Hiwatari mengalir deras dalam tubuh mereka," imbuh Seijuurou, kali ini kedua matanya tertuju pada sosok sang tunangan yang masih tertidur, ia pun menambahkan 'dan di sinilah mengapa kristal itu bisa berada pada genggaman Tetsuya.'
"Tunggu, aku sedikit bingung, Akashi. Kalau memang keluarga Hiwatari adalah keluarga pengkhianat, tapi mengapa benda sepenting Gem harus dikendalikan oleh mereka?" tanya Aomine yang tiba-tiba bangkit dari posisi tidurannya sejak tadi.
Murasakibara yang mendengarkan penjelasan Seijuurou dan Midorima mau tidak mau menggeleng-gelengkan kepalanya, merasa temannya itu sedikit bodoh untuk bisa menangkap maksud tersirat akan penciptaan Gem.
"Mine-chin sedikit lamban di sini~."Cemooh Murasakibara pada pemuda berkulit kecoklatan itu.
"Hei, aku tidak lamban di sini, Murasakibara! Hanya penasaran saja!" Protes Aomine, ia tidak terima bila dikatakan lamban oleh raksasa berambut ungu tersebut.
Baik Midorima dan Seijuurou langsung melemparkan tatapan terkesan pada sosok Murasakibara yang sepertinya telah berhasil menyimpulkan sesuatu dari penjelasan mereka berdua. Meski pemuda berambut ungu itu selalu terlihat malas dan tidak memiliki motivasi, tapi ia cukup tajam juga hingga mampu menyimpulkan suatu hal dari sebuah penjelasan saja yang ia terima.
"Yang dimaksud oleh Murasakibara adalah keluarga itu sudah musnah bersama ambisi yang mereka miliki, dan satu-satunya Hiwatari yang tersisa saat itu adalah kaisar pertama dan anak-anak yang berasal darinya. Jadi, dengan perlindungan dari darah keluarga terkutuk, kristal itu akan tetap aman," kata Midorima yang kembali menjelaskan, namun tiba-tiba saja kedua matanya langsung tertuju pada sosok Tetsuya yang masih tertidur di sana. "Dan kelihatannya Kuroko memiliki darah keluarga terkutuk itu dalam nadinya, tidak heran ia bisa menggunakan sihir dan mampu mengendalikan Gem."
Mendengar kalimat itu mau tidak mau membuat Seijuurou tertawa kecil, merasa lucu dengan kesimpulan yang Midorima berikan. Bukankah Virgo telah menjelaskan semuanya? Tentang identitas dari seorang Kuroko Tetsuya yang merupakan sepupu dari Seijuurou, tapi kelihatannya penjelasan itu tidak didengarkan oleh yang lainnya. Satu-satunya orang yang mengerti semua ini secara baik kecuali Seijuurou sendiri adalah Nijimura, karena bagaimana pun juga ibu dari Tetsuya adalah guru dari Nijimura.
"Tetsuya itu adalah sepupuku, Shintarou. Dia adalah putra dari Hiwatari Sakura, adik termuda dari Okaa-sama dan bibi Mayura," jawab Seijuurou dengan kalem, "Tiga hunter bersaudara dalam keluarga Hiwatari, mereka dibenci namun juga dihormati. Dan Shougo sendiri adalah sepupuku juga karena ibunya adalah adik dari Okaa-sama,"
Dan siang itu juga, tepat di dalam ruang tengah kediaman Nijimura, Seijuurou mulai menjelaskan hubungannya dengan Haizaki Shougo serta takdir yang membelenggu mereka berdua, sebuah takdir di mana mereka berdua harus saling bertarung sampai titik darah penghabisan demi sebuah tampuk kekuasaan yang ditinggalkan oleh kaisar pertama mereka. Dan pada saat itu juga, Kiseki no Sedai pun tidak pernah merasakan kengerian yang terasa begitu nyata seperti penjelasan yang Seijuurou berikan pada mereka saat itu. Sedikit yang mereka berlima ketahui, Tetsuya yang masih menggunakan pangkuan Seijuurou sebagai bantal sebenarnya telah bangun sejak tadi, hanya saja ia ingin mendengarkan penjelasan itu secara diam-diam, dan apa yang ia dengarkan itu cukup untuk membuatnya terkejut.
Okaa-san, sebenarnya siapa aku ini? tanya Tetsuya dalam hati, ia semakin menenggelamkan wajahnya pada pangkuan Seijuurou, menggunakan belaian lembut yang tidak henti-hentinya membelai rambutnya sebagai alat untuk menenangkan dirinya. Hanya satu yang Tetsuya inginkan saat ini, ia ingin mengetahui kebenaran.
"Seijuurou, meskipun kau masih menjadi putra bodohku, tapi kau cukup membuatku bangga. Baik aku dan ibumu merasa bangga padamu."
AN: Terima kasih sudah mampi dan membaca
Author: Sky
