.
Warning : Rate T, contain incest, yandere chara, siscon/brocon, twisted/Chara death
Genre : Slice of life/psychology/Tragedy
No Pair
Disclaimer Masashi Kishimoto
Story by Akatsuki Ren
.
POSESIF
You Belong To Me : 2
Chapter 25
...
Sakura akhirnya tidak kembali melanjutkan pelajaran di kampus. Gadis itu memutuskan untuk bolos dan pergi. Sakura memutuskan untuk mencari ketenangan seorang diri tanpa menyadari kalau sejak ia keluar kampus ada seseorang yang sudah mengikutinya.
Sakura masuk ke sebuah lapangan basket yang masih berada di satu komplek dengan wilayah kampusnya. Gadis itu duduk dan hanya ditemani oleh belaian lembut angin yang menerpa wajah dan rambutnya. Saat ini yang ada di dalam pikirannya adalah kalung tersebut. Kalung yang menjadi pengikat antara dirinya dan sang kakak kini sudah tidak ada lagi. Dia tidak peduli pada Matsuri dan kawan-kawannya yang ia tinggalkan terkapar di dalam kamar mandi. Dia juga tak peduli kalau gadis-gadis itu tengah sekarat atau mau mati sekali pun.
"Apakah aku memang harus melupakanmu, Kakak... ?" ucapnya lirih bertanya pada dirinya sendiri.
"Kenapa kau harus pergi secepat itu? Aku bahkan belum tahu pasti apakah kau memang sungguh-sungguh mencintaiku atau tidak... " Sakura tertunduk sambil memikirkan tiap pengakuan yang tercelos dari bibir sang kakak. Apa Sasori memang benar-benar membalas perasaannya atau ungkapan itu dilakukan hanya untuk menenangkannya.
"Aku mencintaimu, Sakura... "
Jantung Sakura berdetak cepat. Dia mendengar sebuah suara yang mirip dengan suara Sasori dan suara itu terdengar sangat jelas di telinganya. Perlahan gadis itu mengalihkan pandangannya ke arah samping dan dia mendapati sesuatu yang membuatnya tak bisa berkata apa-apa lagi.
"Apa aku sedang berhalusinasi kembali... " Sakura menatap sosok pemuda yang berdiri di depannya dengan perasaan kalut. Apakah pemuda yang dilihatnya sekarang hanyalah sebuah fatamorgana yang terwujud dari hasratnya ataukah dia benar-benar sosok yang nyata.
"Katakan padaku apakah saat ini aku sedang bermimpi?" ucapnya bertanya pada sosok tersebut.
"Kau tidak bermimpi Sakura... " Gadis merah muda itu terhenyak mendengar jawaban yang terlontar dari Sasori. Apakah ini artinya dia sedang tak bermimpi dan yang ada di hadapannya benar-benar Sasori?
"Benarkah? Untuk membuktikannya, aku ingin kau memelukku. Apakah kau akan menghilang setelah itu, atau tidak... Bisa 'kan?" Sakura tidak peduli yang ada di hadapannya adalah sosok Sasori asli atau memang hanya halusinasi. Dia hanya ingin kembali merasakan sensasi dari pelukan hangat sang kakak yang sudah bertahun-tahun tak ia rasakan.
Greb!
Pemuda yang berdiri di depannya tanpa banyak bicara langsung memeluk erat tubuh Sakura yang haus akan kasih sayang. Sakura dapat merasakan sensasi hangat yang tersalurkan saat tubuhnya didekap oleh Sasori. Tangan pemuda itu membelai lembut helaian merah mudanya yang tertiup angin dan satu tangannya lagi mengusap pelan punggungnya.
"Kau... " Sakura menjauhkan dirinya dari Sasori dan menatap pemuda itu lekat-lekat, "kau benar-benar Sasori... " Akhirnya ia sadar kalau dia tak sedang berhalusinasi atau pun berimajinasi. Pemuda itu benar-benar Sasori.
"Sakura, maafkan aku. Maaf karena aku telah membuatmu lama menunggu," balas pemuda itu penuh dengan rasa sesal. Tangannya membelai pipi kiri Sakura yang tampak agak memar, bekas tamparan dari Matsuri.
"Kenapa? Kenapa setelah sekian lama kau baru datang? Kenapa kau sama sekali tidak memberi kabar!? Kenapa kau membiarkan aku sendirian. Apa kau sudah tidak peduli lagi padaku? Atau... Kau marah kepadaku?" Sakura mencecar berbagai macam pertanyaan pada sang kakak sambil menahan isakan tangisnya sendiri agar tidak pecah.
"Saat itu keadaan benar-benar sulit. Aku sendiri tidak tahu kalau ternyata aku selamat... " Sasori tersenyum agak miris mengingat saat itu dia benar-benar hampir mati kalau bukan karena Hidan yang tiba-tiba saja datang dan membawanya keluar dari tempat itu.
Pemuda itu memang sempat mengalami koma beberapa bulan pasca kejadian kebakaran itu dan belum mengetahui kabar apa-apa tentang Sakura yang ada di Sunagakure. Setelah ia berhasil melewati masa kritis dan bangun dari komanya, ia juga masih membutuhkan waktu untuk pemulihan diri terutama pada bagian kakinya yang sempat mengalami kelumpuhan.
"Setelah sembuh aku mencarimu di Konoha. Tapi aku tak menemukan sedikit pun jejakmu. Kau seperti menghilang dan itu membuatku sangat cemas... " Sasori juga menceritakan mengenai pencariannya terhadap Sakura di Konoha.
Ah, Sakura benar-benar jadi merasa bersalah. Dia memang pergi meninggalkan Konoha begitu saja karena saat itu dia pikir semuanya sudah berakhir. Dia sama sekali tak menyangka kalau ternyata sang kakak selamat dan mencarinya selama ini.
"Lalu, apa yang membuatmu bisa berada di Sunagakure?"
"Hm... Apa, ya? Takdir, mungkin?"
Sasori menjawab sambil tertawa membuat Sakura tersenyum lega. Dia benar-benar merindukan saat seperti ini. Saat mereka berdua berbicara berdua saja sambil bercanda dan hal itu membuat perasaannya bahagia.
"Hidan yang membawaku kemari. Dia bilang ada suatu hal yang ingin ia selesaikan di Sunagakure dan membutuhkan bantuanku," jawabnya kali ini serius, "dan aku sama sekali tak menyangka akan bertemu denganmu di Sunagakure... " Sasori tersenyum miris mendapati kenyataan kalau sejauh apa pun dia pergi ternyata dia masih belum bisa lepas dari Sakura. Jujur saja saat itu dia hampir melupakan gadis itu, tapi ternyata takdir berkata lain. Ia kembali bertemu dengan adik sekaligus istriya yang begitu ia cinta.
"Jadi yang waktu itu di jendela... " Sakura jadi teringat saat ia melihat sosok Sasori yang berdiri di jendela kamarnya saat ia baru pulang dari rumah Dokter Chiyo.
"Yah, itu adalah aku... Saat itu aku sangat terkejut sampai tak bisa berkata apa-apa. Tapi aku senang ternyata kau baik-baik saja." Sasori setengah tertawa saat mengatakan kalau saat itu dia memang benar-benar ada di sana dan shock melihat Sakura yang ternyata juga ada di sana. Sebenarnya dia sudah mendapatkan informasi mengenai gadis yang menjadi anak angkat di keluarga Sabaku, hanya saja dia memang belum siap untuk bertemu Sakura saat itu.
"Tapi apa yang kau lakukan di tempat Sabaku? Apa kau sengaja mencariku atau ada hal lain?" Sakura yakin kakaknya tak mungkin ke kediaman Sabaku tanpa tujuan. Pasti ada sesuatu yang membuat pemuda itu berada di sana pada waktu itu.
"Sebenarnya ini yang ingin aku bicarakan padamu, Sakura." Mendadak saja raut wajah Sasori berubah gelisah. Apa pun itu Sakura merasa kalau ada kaitannya dengan keluarga Sabaku. Sejak awal Sakura memang sudah merasakan ada yang tidak beres di dalam keluarga Sabaku, terutama Gaara dan Kankuro.
"Katakan saja. Mungkin aku bisa membantumu?" Sakura menawari bantuan kalau memang ada hal yang bisa dia lakukan.
"Ada suatu hal yang perlu kau tahu mengenai keluarga Sabaku. Saat ini aku sedang membantu Hidan untuk melakukan pembalasan atas pembunuhan Hotaru yang dilakukan oleh Gaara." Pernyataan Sasori tidak membuat Sakura sampai terkejut. Entah mengapa dia sudah bisa menduga hal itu. Menurutnya Gaara adalah tipe pemuda yang dapat melakukan hal tersebut. Pemuda itu memang berbahaya.
"Aku ingin membawamu pergi Sakura, karena Temari dan Kankuro mulai mengincarmu." Sasori meremas kedua bahu Sakura dengan sikap yang posesif. Seakan takut kalau ia melepaskan tangannya gadis itu akan menghilang.
"Temari-nee dan Kankuro... Mereka berdua mengincarku?" Sakura melepaskan kedua tangan Sasori dari bahunya dan menatap sang kakak dengan penuh tanda tanya. Ia memang menyadari kalau Temari ada maksud lain terhadap dirinya. Tapi Kankuro? Dia sama sekali tidak menduga kalau Kankuro juga memiliki keinginan tersendiri terhadap dirinya.
"Kankuro. Sepertinya dia tertarik untuk menjadikanmu salah satu 'koleksinya'. Aku tidak bisa membiarkan hal itu terjadi padamu." Raut wajah pemuda itu berubah jadi menyeramkan. Seolah-olah ia siap menerkam siapa pun yang berani menyakiti Sakura.
"Dia ingin menjadikan aku koleksi?" Sakura sungguh tidak mengerti apa maksud dari yang dibicarakan Sasori.
Menjadikan dia koleksi? Hei, dia bukan barang atau karya seni antik 'kan? Sesaat, saat pikiran Sakura melayang ke arah benda-benda seni, bulu kuduknya berdiri. Kini ia baru paham dan menyadari apa yang diinginkan Kankuro terhadap dirinya. Pantas saja pemuda pendiam itu suka menatapnya dengan tatapan intens yang mengamati seolah dia adalah suatu benda karya seni yang memiliki suatu harga tinggi. Terkadang Sakura juga sering melihat pemuda itu menyeringai ke arahnya. Tapi perlakuan itu tak diterimanya sejak Temari dekat dengan dirinya.
"Tunggu apa lagi? Ayo kita pergi sekarang, Kak?" Sakura menarik lengan Sasori dan meminta untuk dibawa pergi olehnya.
"Tidak bisa Sakura. Mereka akan curiga kalau kau tiba-tiba saja menghilang." Sasori menggeleng lemah. "Aku akan menjemputmu nanti malam, bersabarlah sedikit lagi," ucapnya yang berjanji akan menemui Sakura pada malam harinya.
"Aku akan menunggu kedatanganmu, Kak... " Sakura mengangguk mengerti dan melemparkan senyuman terbaiknya untuk Sasori.
'Sakura. Sepertinya dia memang sudah banyak berubah... ' Sasori membatin senang melihat perubahan sikap pada Sakura. Kalau Sakura yang dulu mungkin dia akan terus memaksa atau bahkan sampai mengancam agar Sasori mau membawanya pergi saat ini juga.
"Sampai aku datang menjemputmu. Tolong jaga dirimu baik-baik," pintanya setengah memohon. Ada suatu perasaan tak enak yang menyusup masuk ke dalam hatinya.
"Aku janji!" balas Sakura yang kemudian kembali memeluk tubuh Sasori dan mendekapnya erat.
"Baiklah, Sakura. Aku harus pergi dulu. Mengenai pertemuan kita sekarang, anggap saja tidak pernah terjadi." Sasori melepaskan dekapan Sakura dan berjalan pergi meninggalkan Sakura di sana, meskipun ada rasa ingin terus bersamanya, tapi ia harus bisa menahan diri agar semua yang telah direncanakan tidak gagal.
Sunagakure University
Matsuri dan kawan-kawannya ditemukan oleh office boy kampus yang hendak ke kamar mandi untuk membersihkan toilet. Laki-laki berusia 21 tahun itu terkejut mendapati Matsuri dan yang lain tengah terkapar di lantai dengan keadaan yang mengenaskan. Cepat-cepat pihak kampus memanggil ambulan dan membawa keempat gadis itu ke rumah sakit terdekat.
"Eh, ada apa? Kenapa ramai begini?" Utakata yang baru datang lekas tertarik dan ikut berkerumun di depan toilet yang memang tak jauh dari kelasnya.
"Utakata, kau baru datang?" Sara melirik ke arah pemuda berambut coklat itu.
"Begitulah. Ngomong-ngomong apa yang terjadi? Kenapa di sini ramai sekali dan ada petugas?" Utakata segera memberondong Sara dengan beragam pertanyaan.
"Matsuri dan teman-temannya ditemukan dalam keadaan terluka di dalam kamar mandi. Menurut petugas setempat kemungkinan besar ada seseorang yang menyerang mereka dan sekarang mereka sedang menyelidiki siapa pelakunya." Sara menceritakan apa yang ia dengar dari dua orang petugas yang memang berjaga khusus di wilayah kampus mereka.
"Lalu, apa sudah ada petunjuk?" tanya Utakata yang jiwanya sebagai seorang penyelidik langsung bangkit seketika.
"Gadis-gadis di kelas kita mengatakan kalau Matsuri dan kawan-kawannya sempat pergi dengan Sakura. Masalahnya sekarang tak ada satu orang pun yang melihat gadis itu," balas Sara yang merasa agak cemas. Dia merasa kalau apa yang terjadi pada Matsuri merupakan perbuatan yang dilakukan Sakura, entah atas motif apa.
"Hmmm... " Utakata terdiam sejenak. "Astaga untuk apa aku ikut memikirkannya!" tiba-tiba saja pemuda itu menepuk jidatnya sendiri sambil merutuk, membuat Sara terheran-heran akan sikap aneh Utakata.
"Sara, sebenarnya ada hal penting yang ingin aku bicarakan padamu. Ikut aku sebentar!" tanpa menunggu jawaban terlebih dahulu dari Sara, Utakata langsung menarik gadis itu keluar dari kerumunan dan meninggalkan tempat kejadian.
...
Kedua remaja dewasa itu pergi dan masuk ke dalam kelas mereka. Di dalam sana Utakata langsung menutup pintu kelas dan sempat melongok ke jendela untuk memastikan di luar tak ada siapa-siapa.
"Utakata apa yang sedang kau lakukan?" tanya Sara tak mengerti dengan tindak-tanduk Utakata yang berubah seperti seorang paranoid.
"Sekarang katakan padaku, di mana Hidan dan Mei." Utakata mendekati Sara dan meminta penjelasan dari gadis itu atas keberadaan Hidan dan Mei. Sara tampak shock mendengar pernyataan itu keluar dari mulut Utakata. Tapi dia tetap berusaha untuk bersikap tenang dan natural.
"Apa sebenarnya maksudmu? Aku sama sekali tidak paham. Bukankah yang selama ini dekat dengan Mei adalah kau dan Temari? Kenapa kau tidak tanya ke Temari saja. Mereka 'kan punya 'hubungan'," jawab Sara berusaha untuk memberikan respon yang logis, "lalu Hidan. Kita sama-sama tahu kalau Hidan sudah tewas dalam tragedi kebakaran itu 'kan?" ucapnya lagi mengingatkan Utakata kalau Hidan sudah meninggal lama.
"Jangan bohong kepadaku, Sara!" Utakata tiba-tiba saja berkeras dan hal itu membuat Sara jadi gugup.
Sikap gugup Sara membuat Utakata semakin curiga padanya. Tatapan pemuda itu memicing tajam seolah ingin menembus apa yang ada di dalam pikiran dan hati Sara saat ini.
"Aku tidak bohong kepadamu, Utakata!" gadis itu dengan cepat mengalihkan pandangannya dari tatapan Utakata yang begitu intens.
"Aku sudah cukup lama bersamamu dan aku sangat tahu tindakan yang kau lakukan kalau sedang menutupi sesuatu. Mengaku saja, selama ini kau diam-diam berkomunikasi dengan Hidan dan membantunya untuk balas dendam 'kan, Sara." Suatu pernyataan dari Utakata yang sepertinya tak perlu dijawab lagi oleh Sara karena semua dugaan pemuda itu memang benar.
"A-aku... " Sara tampak panik dan berusaha untuk mencari kalimat yang tepat untuk menapik semua perkataan Utakata.
"Sekarang tunjukkan padaku di mana Mei dan Hidan!" Utakata kembali menyambar tangan Sara dan menyeretnya untuk keluar dari kelas.
.
.
Utakata keluar dari dalam kelas sambil menyeret Sara untuk ikut bersamanya. Sepertinya pemuda itu sudah bisa menebak keberadaan Mei dan Hidan sekarang. Tak ada lagi orang lain yang bisa dicurigai selain Sara. Gadis itu memang cukup dekat dengan Hidan dan pasti dia yang membantu Hidan memberikan informasi mengenai Sabaku juga gerak-gerik Mei.
"Utakata, lepaskan aku! Kau mau membawaku ke mana?" Sara berusaha meronta. Tapi tenaganya tentu saja kalah kuat jika dibandingkan oleh Utakata.
"Kita ke rumahmu. Sekarang," ucapnya penuh penekanan tanpa peduli dengan Sara yang memohon untuk dilepaskan.
Sementara itu tak jauh dari mereka. Para petugas setempat sudah selesai melakukan pemeriksaan terhadap tempat kejadian perkara dan bersiap untuk melaporkannya ke pihak polisi yang lebih berwenang mengenai kejadian yang dialami oleh Matsuri dan kawan-kawannya.
"Untuk sementara jangan ada yang menggunakan tempat ini dulu," kata petugas itu memberitahukan pada semua mahasiswa dan mahasiswi yang ada di sana untuk jangan mengutak-atik tempat kejadian sebelum ada perintah.
"Baiklah, baiklah. Ayo sekarang kalian bubar sekarang," ucap petugas yang satunya meminta agar sekumpulan mahasiswa itu membubarkan diri.
"Utakata, jangan menarik-narik aku seperti ini!"
Suara Sara terdengar diantara sekumpulan mahasiswa yang sedang berbondong-bondong meninggalkan tempat kejadian perkara. Kankuro yang ada di tempat bersama Temari melihat gerak-gerik keduanya sangat mencurigakan.
"Temari. Lebih baik kau kembali ke kelas. Sepertinya ada hal yang harus aku urus bersama Gaara." Pemuda itu berjalan meninggalkan Temari yang masih berdiam diri di sana. Kankuro mengeluarkan ponsel hitamnya dan segera menghubungi Gaara.
"Gaara, aku butuh bantuan... "
TBC
