Title : Missin' U

Genre : Brothership, Family, Hurt, Tragedy, Drama

Cast : Cho Kyuhyun, Kim Kibum, Shim Changmin, Park Jungsoo, Kim Heechul

Rated : Fiction T

Warning : Typo(s), Geje, Bored, Drama, Bad Plot, Ooc(Out of Character). Dia *nunjuk Cho Kyuhyun* masih diusahakan milik saya. Jangan mengcopy paste meskipun menyertakan nama. Don't like it? Don't read it!

Disclaimer : All cast isn't mine. I own only the plot.

Summary : Dulu aku mengira tak ada yang salah dengan persaudaraan kita. Sekarangpun aku masih berpikir begitu. Tapi hyung, mengapa kau berubah? Aku merindukanmu yang dulu, yang memelukku ketika musim dingin datang, yang menggandengku ketika musim semi datang. Hyung—12 tahun, apa kau tak merindukanku?

.

.

©PrincessKyunie©

Present

.

Enjoy reading!

.

.

94Squads, I love you so much ^^

Chapter 25

Kyuhyun sampai di mansion Kim sebelum pukul 9 pagi itu. Terimakasih pada Daddy-nya yang kelewat rajin sehingga ketika matahari bahkan belum naik, beliau sudah menarik selimutnya. Kyuhyun memang berjanji membantu membersihkan rumah saat makan malam semalam. Tapi kan tidak sepagi ini juga. Dan ketika Kyuhyun protes, Tuan Cho beralasan bahwa beliau harus segera menemui seseorang untuk membicarakan pameran.

Ngomong-ngomong soal pameran, Kyuhyun melihat bagaimana Daddy-nya begitu antusias beberapa hari ini. Memang sih, untuk seorang seniman, mengadakan pameran adalah salah satu impian mereka. Kyuhyun juga bermimpi melakukan pameran dengan hanya karyanya yang dipamerkan disana. Dia ingin orang melihat bagaimana dia menunjukan perasaannya pada selembar kanvas putih itu.

Satpam yang ditemui Kyuhyun menyambut Kyuhyun dengan ramah. Lalu mengantarkan Kyuhyun sampai depan pintu utama. Kyuhyun mengetuk dengan canggung sebelum pintu terbuka dan sosok berpakaian rapi menyapa Kyuhyun.

"Mencari siapa?" terdengar ramah namun Kyuhyun tak menemukan senyum diwajah pria itu.

Kyuhyun menoleh kebelakang, memastikan dia tak salah rumah. Karena kemarin seharian dia di kediaman Kim, sosok pria ini tak ditemuinya. Kyuhyun menggaruk tengkuknya canggung ketika pria didepannya menatapnya menyelidik. Sesungguhnya Kyuhyun tak suka ditelisik begitu.

"Kyuhyun?" suara familiar terdengar. Terlihat Kibum setengah berlari menuruni tangga menuju kearahnya.

"Saya mencari Kibum" ringis Kyuhyun.

Pria berjas hitam itu sedikit menunjukan reaksi sebelum menunduk hormat pada Kyuhyun sambil membukakan pintu lebih lebar. Kyuhyun balas membungkuk formal sebelum masuk kedalam mansion Kim.

"Kemarin tidak ada pria itu" komentar Kyuhyun ketika Kibum menggiringnya duduk di kursi pantry. "Aku mau air mineral saja" katanya ketika melihat Kibum mengeluarkan jus jeruk dari dalam lemari es.

"Kau melupakannya" bukan sebuah pertanyaan, jadi Kyuhyun tak berniat menyela. Pemuda itu menerima sebotol air mineral yang disodorkan oleh Kibum, lalu meminumnya. "Dia Bobby hyung"

"Bobby hyung?"

"Orang kepercayaan Ayah" jelas Kibum. Dia juga duduk di kursi pantry yang lain, menghadap Kyuhyun. "Dulu kau sering mengerjainya" ada jeda, "Mengajaknya main petak umpet tapi kau malah ketiduran di kamar Ayah. Dia sampai pucat ketika tak menemukanmu" kenang Kibum. Dia ingat bagaimana pucatnya wajah Bobby hyung kala itu ketika ditanyai Ibunya perihal keberadaan Kyuhyun. Kamar Tuan Kim adalah ruangan yang tak boleh sembarang orang masuk. Tentu saja Kyuhyun tak akan ditemukan.

"Ah! Hyung gendut itu!" Kibum mencibir mendengar cara Kyuhyun menyebut Bobby. Meski apa yang baru saja disebutkan Kyuhyun baru menyadarkannya bahwa yang membuat Kyuhyun tak mengenali Bobby adalah bahwa perawakan pria itu sudah tak seperti dulu. Bobby yang sekarang tidak gendut seperti dulu.

"Harusnya hyung mengatakannya padaku tadi. Kan aku jadi tak enak padanya" Kyuhyun masih saja Kyuhyun yang dulu, lebih suka menyalahkan orang lain, dan Kibum dibuat terkekeh olehnya. "Eh tapi dia kan juga tidak mengenaliku" katanya lagi.

Kibum terkekeh lagi, nyaris tergelak malah. "Kau juga dulu gendut"

Kyuhyun mendelik, "Aku tidak gendut. Aku chubby!"

"Apa bedanya?" alis Kibum naik sebelah, tampak senang menggoda Kyuhyun.

"Pipiku saja yang gendut. Badanku tidak gendut!" Kyuhyun menatap Kibum sengit. Jelas sekali tersinggung dengan pendapat Kibum tentang dirinya dimasa lalu. Kibum akhirnya hanya tertawa menanggapinya. Tak lagi menggoda Kyuhyun.

"Sudah datang ternyata" Tuan Kim tiba-tiba sudah ada diantara mereka. Semalam, ketika beliau dan Nyonya Kim pulang dari perjalanan bisnisnya, Kibum belum tidur, menyambut mereka dengan wajah antusias –yang jelas bukan Kibum sekali. Kemudian sulung Kim itu mengutarakan rencananya yang sudah disetujui Kyuhyun pada kedua orangtuanya. Dan Tuan Kim tak bodoh untuk menolak sebuah 'jalan' yang diberikan Kyuhyun dan Kibum.

Kyuhyun mengangguk canggung, membuat Kibum meringis. "Sudah sarapan, Kyu?" Kyuhyun kembali mengangguk, memperhatikan pria setengah abad itu dalam diam.

"Kami baru mau sarapan" ini suara Kibum, berusaha mengusir kecanggungan yang mendadak tercipta. "Kau yakin sudah sarapan?"

Kyuhyun mendengus keras, "Memang aku seperti orang yang sedang menahan lapar?" ketusnya, namun tetap melangkah kearah meja makan mengikuti Kibum yang menarik lengannya.

Pria berjas hitam yang adalah Bobby ada juga disana, sedang berbicara dengan Ibunya. Nyonya Kim tersenyum sumringah pada Kyuhyun, membuat Kyuhyun balas senyum. Kyuhyun juga menjawab bahwa dia sudah makan ketika Nyonya Kim menawarinya sarapan.

Kyuhyun yakin si Bobby hyung itu mengamatinya. Dia merasakannya. Tapi ketika Kyuhyun mengangkat wajahnya, pria itu, yang berdiri didekat Tuan Kim –padahal sudah diajak sarapan bersama tapi dia menolak, sudah menundukan kepalanya lagi. Jadi Kyuhyun memilih acuh. Dia memilih mengamati Ayah, Ibu dan Kibum hyung-nya yang tengah memakan sarapannya. Tanpa sadar, senyum berkembang dibibirnya.

Kyuhyun rindu.

Dulu, dia belum menyadari bagaimana bahagianya hanya karena bisa makan bersama keluarganya. Tapi ketika dia tinggal bersama keluarga Cho, dia mulai menyadarinya. Di meja makan kecil itu, Ayah dan Ibu Cho-nya membahas banyak hal; mulai dari pekerjaan sampai hal-hal remeh yang kadang membuat Kyuhyun tertawa keras. Jadi saat itu, Kyuhyun berpikir; apa dulu keluarganya sehangat ini?

"Kuliahmu bagaimana, Bum?"

Kyuhyun tersenyum mendengar pertanyaan yang diajukan Tuan Kim. Dia terlalu muda dulu. Jadi dia pasti tak mengingat percakapan orangtuanya dan Kibum. Dia terlalu fokus dengan makanannya. Pasti. Itulah kenapa pipinya selalu lebih gendut dari anak seusianya.

"Baik"

Kyuhyun mendengus. Kibum benar-benar menyebalkan dengan jawaban singkat dan datarnya.

"Kau sendiri, Kyu?"

Kyuhyun tergagap, tak menyangka akan mendapat pertanyaan juga. Anak itu mengerjap pelan sebelum tersenyum canggung ketika empat pasang mata kini berfokus padanya. "Baik juga" Kyuhyun merutuk jawaban yang keluar dari mulutnya. Bukan, bukan karena jawabannya buruk tapi karena Kyuhyun baru saja mencela jawaban Kibum dan dia malah menjawab dengan jawaban yang tak kalah buruk.

"Kau suka?"

"Huh?" alis Kyuhyun bertaut.

"Jurusan yang kau ambil. Kau suka?" Tuan Kim menjelaskan.

Kyuhyun mengangguk antusias. "Suka" kemudian senyum lebar. "Aku bisa menunjukan perasaanku lewat lukisan. Aku suka saat orang berasumsi banyak hal pada lukisanku, kemudian aku akan menjelaskan pada mereka maksud lukisanku yang sebenarnya. Atau kalau aku malas, kubiarkan mereka mengira-ngira saja" ada kekehan diakhir kalimat Kyuhyun.

"Tuan Cho mendidikmu dengan baik" gumam Nyonya Kim.

Senyum dibibir Kyuhyun hilang mendengar gumaman Nyonya Kim. Dia merasa suasana mulai canggung. Anak itu berdehem pelan sebelum mendorong kursi ke belakang lalu berdiri. "Aku akan menunggu didepan saja" katanya sebelum berlalu, tak memberi waktu pada empat orang itu untuk menanggapi.

Awalnya Kyuhyun berjalan cepat, namun saat memasuki ruang tamu dia mulai berjalan melambat. Sepasang manik cokelatnya mulai memperhatikan dinding ruang itu. Warna dindingnya masih sama. Kyuhyun ingat, Ibunya tak suka warna yang terlalu cerah seperti kuning dan biru, membuat sakit mata katanya. Padahal Kyuhyun suka sekali dengan warna biru, baby blue apalagi. Jadi dinding rumahnya selalu berwarna putih –mungkin, setidaknya itu yang Kyuhyun ingat dulu.

Dulu, ada banyak foto di dinding itu. Foto keluarga, dan yang paling mendominasi adalah foto dirinya dan Kibum. Namun sekarang, yang ada hanya lukisan yang Kyuhyun taksir harganya puluhan juta won. Nampaknya hobi Ibunya tersalurkan dengan baik. Tapi Kyuhyun jadi sedih, foto dia dan Kibum tak ada disana.

Membuka pintu utama, Kyuhyun kembali baru menyadarinya. Keluarga Kim-nya adalah keluarga yang luar biasa—kaya. Kyuhyun sebenarnya tak tahu kriteria apa hingga seseorang atau sebuah keluarga disebut kaya, tapi melihat bagaimana perbedaan tempat tinggal keluarga Cho dan keluarga Kim membuatnya menyadari perbedaan yang besar.

Kyuhyun tidak berniat membandingkan, tapi—dia tetap saja membandingkannya dalam diamnya.

"Melamun?"

Kyuhyun berjengkit, menoleh kearah sumber suara. Si Bobby hyung berdiri disampingnya, ikut memandang kearah depan. Tatapan mata pria itu datar, seperti Kibum. Aneh sekali, padahal Kyuhyun ingat, dulu si Bobby hyung ini orang paling ekspresif daripada orang disekitarnya.

Mendengus, Kyuhyun memilih kembali menatap lurus kedepan.

"Sudah lama tidak bertemu" suara si Bobby hyung kembali terdengar. Kyuhyun mengangkat bahu acuh. Kalau si Bobby hyung adalah orang yang dulu dia kenal, kenapa rasanya dingin sekali nada bicaranya. Jadi, Kyuhyun akan anggap saja Bobby hyung ini orang asing dulu –yang harus dia jaga jarak dengannya, sebelum memperlakukannya seperti orang yang dia kenal. Bagus sekali idemu, Kyu!

"12 tahun?" sebuah pertanyaan. Kyuhyun jawab dengan dengusan. "Bagaimana kabarmu?" tanyanya lagi setelah tak mendapat jawaban Kyuhyun. Pria itu akhirnya menoleh, mendapati potret samping Kyuhyun yang menawan. Sudah tidak ada lagi pipi chubby yang sering mendapat cubitan semua orang diwajah itu –alasan dia tak mengenalinya saat pertama bertemu tadi, anak itu tumbuh menjadi pria tampan –seperti Kibum. Benar-benar gen yang sempurna.

"Baik"

"Kau berubah" Kyuhyun akhirnya menoleh, "Banyak" lanjut Bobby. Ada senyum yang tersungging disana.

Kyuhyun mendengus kesal, "Wah, benarkah? Kau juga"

Pria itu memutar bola matanya malas mendengar jawaban Kyuhyun yang terlalu datar. Kalau itu Kibum, dia bisa memakluminya. Tapi Kyuhyun? Bocah itu seharusnya lebih ekspresif. Seperti 12 tahun lalu. Heol, sepertinya Bobby lupa, waktu 12 tahun bukanlah waktu yang singkat.

"Apa-apaan jawabanmu itu?" tapi dia tak bisa menerimanya. Kyuhyun yang dikenalnya adalah bocah cerewet yang banyak membuat orang jatuh cinta padanya.

Kyuhyun mendengus, keras, sengaja supaya si Bobby hyung tahu bahwa protesan pria itu tak mempan padanya. Kemudian menatap datar pria itu, "Waktu bisa mengubah banyak hal. Asal kau tahu" mata anak itu menyipit –menatap menyelisik pada si Bobby hyung, "Kau juga berubah, dulu kau um—bagaimana aku menyebutnya? Gendut? Tambun? Atau oversize?" sepasang manik cokelat itu menyipit, mencela.

Gantian si Bobby hyung yang mendengus, keras, dengan mata melotot pada Kyuhyun. "Dasar bocah nakal!" pria itu membelit leher Kyuhyun dengan lengannya, membuat Kyuhyun tersentak kemudian berusaha melepaskan diri sambil misuh-misuh.

"Aigo, kalau dilihat sedekat ini, kau makin imut"

"Siapa yang kau bilang imut?!" Kyuhyun masih berusaha melepaskan diri. "Lepaskan!"

.

.

Kyuhyun berjalan dengan canggung diantara Ayah dan Ibunya. Terkutuklah Kibum yang memilih berjalan disamping Ibu, menggandeng lengan wanita itu dengan manja malah. Kyuhyun tak punya pilihan, mau menolak takut menyinggung, menerima dan malah dia berjalan dengan tak nyaman begini. Jadi, bukankah ini salah Kibum?

Namdaemun sudah ramai. Maklum akhir pekan. Mereka sudah berjalan cukup lama. Hanya berjalan, sesekali berhenti, melihat dagangan yang menurut mereka menarik tanpa membelinya. Sebenarnya Kyuhyun ditawari topi –ngomong-ngomong itu topi yang diinginkannya, tapi anak itu menolak. Tak enak. Beberapa kali Kyuhyun melirik Ayahnya yang berjalan dengan senyum dibibirnya. Entah apa yang membuat pria itu memamerkan senyum mahalnya. Kyuhyun tak paham, pun tak berniat bertanya. Dia malah masih memikirkan alasan Orang tuanya membawa mereka kemari.

Kyuhyun tak paham. Diantara banyak tempat yang bisa mereka kunjungi dan lebih private –seandainya mereka berniat berbicara dengannya, entah mengapa orang tuanya memilih Namdaemun, salah satu tempat dengan kadar keramaian yang sering membuat Kyuhyun gemetar. Dia benci suasana yang terlalu ramai.

Kyuhyun mengeryit, kepalanya pusing dan perutnya mulai mual. Suara orang yang berbicara saling bersahutan mulai memenuhi kepalanya, pun banyaknya orang yang berlalu lalang disampingnya, membawa bayangan kejadian dimasa lalu.

"Kyu" sebuah tepukan membuat mata Kyuhyun terbuka. "Gwenchanayo?" Kyuhyun mendapati bukan hanya Kibum yang tengah menatapnya khawatir, tapi juga kedua orangtuanya. Dan mereka sedang berjongkok mengelilinginya, mengabaikan beberapa pengunjung yang melirik pada mereka.

Eh?

Kyuhyun berdehem, kemudian buru-buru berdiri. Dia sedikit mundur ketika tak menemukan keseimbangan tubuhnya. Beruntung Kibum menahan punggungnya. Dia meringis pada Kibum ketika saudaranya itu menatapnya khawatir sekaligus memeringatinya.

"Aku tidak terlalu bersahabat dengan suasana yang ramai" aku Kyuhyun. "Tapi sekarang sudah tidak apa-apa" sebuah cengiran yang terlihat canggung muncul diwajah Kyuhyun. Anak itu masih berusaha menahan rasa mual yang kembali mulai muncul.

.

.

Tuan Kim akhirnya membawa mereka masuk kedalam sebuah kedai ramen yang cukup terkenal setelah dibisiki Kibum mengenai phobia yang diderita Kyuhyun. Pria itu sempat menatap Kibum tak percaya sebelum melihat sendiri bagaimana wajah Kyuhyun memucat dan tangan anak itu mulai berkeringat. Jadi dengan pertimbangan dari Nyonya Kim dan Kibum, Tuan Kim memilih memasuki kedai ramen yang pernah direkomendasikan anak buahnya.

Kyuhyun bahkan sudah melupakan betapa mualnya dia beberapa saat yang lalu begitu tahu kedai ramen pilihan sang Ayah. Anak itu tersenyum sumringah begitu mendudukan dirinya disamping Kibum, kemudian buru-buru membuka buku menu yang ada didepannya meskipun dia sudah hafal menu kedai ini.

Saat pindah ke Seoul beberapa bulan yang lalu, Kyuhyun ingin sekali makan ramen di kedai ini. Kata Changmin, ini salah satu kedai ramen paling recommended. Tapi Kyuhyun tak pernah punya waktu untuk sekedar mampir, kalaupun ada, itu saat kedai ini sedang ramai-ramainya. Dan Kyuhyun benci itu.

Kibum hampir tertawa keras melihat reaksi yang ditunjukan Kyuhyun. Benar. Sejak dulu Kyuhyun selalu berekspresi sebaik itu. Anak itu selalu menunjukan ekspresi yang membuat orang lain iri padanya entah ketika kesal, senang, sedih atau bagaimanapun perasaannya. Kyuhyunnya begitu tulus seperti itu. Dan Kibum salah satu orang yang iri itu.

"Miso ramen" kata Kyuhyun begitu seorang pelayan datang menanyakan pesanannya. Ramen jenis ini dibumbui dengan pasta kedelai (miso), menghasilkan rasa pekat, sup cokelat dengan kaya rasa dan kompleks. Gaya ini berasal dari Hokkaido dimana musim dingin yang panjang mendorong kebutuhan untuk jenis sup ramen yang hangat, tetapi sekarang sudah menyebar hampir diseluruh wilayah Jepang.

Kibum sendiri memilih Shoyu ramen, jenis ramen yang terbuat dari kaldu ayam tetapi sering mengandung daging lainnya seperti daging babi, daging sapi atau ikan tergantung pada daerah. Shoyu ramen adalah jenis yang paling umum dari ramen dan biasanya yang disajikan ketika menu tidak menentukan jenis sup tertentu.

Sedangkan Tuan dan Nyonya Kim memilih Tonkotsu ramen yaitu jenis ramen yang terbuat dari tulang babi yang telah direbus sampai mereka larut kedalam kaldu putih. Mempunyai rasa pekat, sup krim juga sering dibumbui dengan kaldu ayam dan lemak babi.

Pelayan berlalu setelah membacakan ulang pesanan mereka. Kyuhyun mengamati suasana kedai yang lumayan lenggang karena sudah lewat makan siang, mengamati interior kedai yang unik, kemudian sepasang matanya bertatapan dengan Kibum yang tengah mengamatinya dalam diam. Kyuhyun menggaruk tengkuknya, salah tingkah sendiri.

"Sering kemari?" tanya Kibum. Dia memperhatikan Kyuhyun sejak tadi. Adiknya itu memang membuka buku menu, tapi jelas sudah menentukan menunya sejak sang Ayah mangajak mereka masuk kedalam kedai ini.

"Belum pernah" Kyuhyun nyengir. "Changmin merekomendasikannya"

"Changmin?" Nyonya Kim bertanya. Beliau ingat Changmin tentu saja. Bagaimana bisa lupa pada sosok tinggi yang jadi satu-satunya teman Kyuhyun sejak masih kanak-kanak? "Bagaimana kabarnya?"

Kyuhyun menjawab antusias, menceritakan Changmin dengan mata berbinar pada kedua orang tuanya. Nyonya Kim tersenyum, terpesona pada cara Kyuhyun menceritakan Changmin. Beliau tak tahu bahwa pertanyaannya yang sederhana itu mampu membuat Kyuhyun berbicara sepanjang dan sesantai ini. Seolah tak pernah bersikap canggung padanya.

"Jadi kalian sekampus?" giliran Tuan Kim yang bertanya, ikut masuk dalam pembicaraan keluarganya.

"Heum" Kyuhyun mengangguk, "Kami satu departemen di Design & Art, tapi beda jurusan" Kyuhyun nampak berpikir, mengingat kapan dia dan Changmin membicarakan tentang kuliah. Tapi tak pernah. Omongannya dengan Changmin kadang berakhir dengan pembicaraan tak penting. Tapi Kyuhyun suka. Lagipula, karena tahun pertama hanya mengambil MKDU, jadi Changmin selalu mengambil kelas yang sama dengan Kyuhyun. Entah bagaimana bisa begitu, Kyuhyun pernah bertanya namun jawaban Changmin tak pernah memuaskan. Kyuhyun sih tak pernah ambil pusing, toh Changmin tak mengganggunya –kadang-kadang sih, tapi daripada dia tak punya teman dikelasnya.

"Memangnya dia ambil jurusan apa?" Tuan Kim tahu, sejak dulu Changmin memang selalu membututi Kyuhyun, tapi tidak tahu sampai mengambil kuliah di departeman yang sama dengan Kyuhyun, tak tahu kalau anak tinggi itu punya passion di seni.

Kyuhyun nampak berpikir, "Heum, aku tak bertanya" jawabnya sambil terkekeh. Kyuhyun tak pernah bertanya, dia cuma tahu Changmin selalu mengambil duduk disampingnya, sejak awal, sejak dia masih belum menyadari siapa si pemuda sok kenal yang ijin duduk disampingnya itu adalah sahabatnya, Shim Changmin.

"Woah, visualnya benar-benar menakjubkan" mata Kyuhyun bersinar ketika mendapati semangkuk ramen didepannya. Kemudian mata berbinarnya berganti menatap mangkuk Tuan dan Nyonya Kim serta mangkuk didepan Kibum, membandingkan visual 3 jenis ramen dihadapannya.

"Selamat makan" suara Kyuhyun yang berseru riang terdengar. Tanpa melihat ekspresi kedua orangtua dan Kibum, dia mengambil sesendok kuah ramen kemudian meminumnya. "Enaaak" katanya sambil nyengir. Tak melihat ketiga pasang mata itu menatapnya dengan perasaan yang membuncah, senang.

Dan kemudian percakapan biasa lainnya terdengar, tak secanggung sebelumnya. Pembicaraan sederhana yang membuat mereka saling menyelami rindu selama 12 tahun yang tak dilewati bersama.

.

*TBC*

.

Yeay akhirnya chapter 25 bisa update juga ^^ gimana gimana? Gak penting ya chapter ini? Wkwk harap maklum ya. Mereka kan harus punya family time supaya punya kenangan indah bareng Kyukyu.

Btw, aku gak tau di Korea sana ada MKDU apa gak, jadi jangan bahas itu ya. Wkwk.

Chapter selanjutnya mulai serius lagi nih, jadi aku mau ngasih tau kalo ending fanfic ini mungkin gak sesuai harapan kalian ya. jadi please ntar jangan bully aku

Makasih buat yang nyempetin komen dan vote. Aku padamu pokoknya. Di chapter ini jangan lupa komen dan vote juga ya

Sampai jumpa di chapter selanjutnya ^^

Paypay ddankyu *peluk kalian satu-satu*