I F**KED YOUR BOYFRIEND (INDONESIAN)
by Becklypark
DISCLAIMER
Story Belongs to Chanyeoboo and the original story is here
www wattpad com/167017442
(spasi diganti titik)
.
WARNING
Smut, MPREG! = Male Pregnancy, Cheating, abuse/dubcon, slight noncon
Cast: Byun Baekhyun, Park Chanyeol, Oh Sehun, and Others
.
DREAMLIKE
.
Semua orang mengarahkan wajah mereka ke sumber suara, menargetkan lelaki tinggi yang bersandar di samping pintu, tampan seperti biasanya.
Park Chanyeol.
.
.
Baekhyun merasakan jantungnya kembali hidup, kembali hidup dari kegelapan yang membelenggunya sesaat matanya bertemu dengan mata raksasanya. Jantungnya berdetak dengan tak terkendali, dia membiarkan formulir itu melesat dari tangannya sambil menghindari tatapannya teralih. Dan pada saat itu, dia tahu apa arti cinta sesungguhnya. Dia akhirmya tahu bagaimana merasakan seperti apa jatuh cinta dengan begitu teramat dalam.
Terasa seperti akhirnya dapat kembali melihat. Seolah-olah sesuatu yang menutupi telah terangkat dan dia akhirnya dapat melihat kehidupan yang apa adanya. Merasakan seperti seolah-olah alam semesta merencanakan agar mereka berdua bertemu—itulah takdir.
Takdir.
Semuanya terasa tak mungkin. Setiap masalah terasa menghilang dan semua yang tersisa adalah dirinya dan pemikiran akan orang yang dia cintai.
"Siapa dia? Lelaki lain yang menggoyangkan pantatmu layaknya seorang jalang yang tak tahu diri?!" Ayahnya Baekhyun menyela, mengejek anaknya dengan geram. Chanyeol menggemertakkan giginya pada lelaki tua itu, sambil beranjak dari tembok yang Ia sandarkan untuk mendekati mereka. Menyimpulkan bahwa lelaki tua itu pasti merupakan ayahnya Baekhyun, Chanyeol sudah membenci keberaniannya. Dia tidak pernah menjadi lelaki yang dapat menahan amarahnya pada seseorang, tetapi saat ini, saat ini dia tahu bahwa dia harus melalukan hal yang sebaliknya.
Tak ingin mengatakan bahwa dirinya tak dapat melakukan ini jika bukan si brunet tak berada di sana. Hanya sosoknya lah yang memberikan Chanyeol perasaan yang langka, detak jantung yang tak karuan dan keberanian. Harapan.
Sehun menatapnya dengan pandangan kebencian dan menghinakan, tak ingin menyadari situasi yang tiba-tiba berubah. Semua yang berada di dalam tubuhnya berteriak marah dan dia butuh sebuah waktu sulit untuk menahannya, tak bangkit melompat untuk menyerang lelaki yang sangat Ia benci. Lelaki yang menyebabkan semua ini, yang mengambil segala miliknya pergi. Dan dia mungkin akan melakukan hal itu lagi.
Luhan menyadari kemarahan mendadak sehun yang luar biasa, namun tetap terdiam, walaupun pelatuk pemikirannya masih menusuk benaknya. Sehun masih jatuh cinta pada Baekhyun. Dia tidak pernah berhenti. Lelaki rusa itu mulai menggigiti bibirnya sesaat Ia melepaskan tangan kekasihnya, mulai merasakan sebuah bongkahan pada tenggorokannya.
"Chanyeol…" Baekhyun sedikit berbisik dalam sebuah nada rapuh dan bergetar, masih kewalahan dengan seluruh ragam perasaan yang menghantamnya secara bersamaan. Tuan Byun mengernyit pada lelaki tinggi itu sementara wanita yang berada di sampingnya mengerutkan bibirnya. Tak perlu mengatakannya, dia tahu siapa dia. "dia lelaki yang menghamili Baekhyun," terangnya pelan, namun sedikit terdengar oleh suaminya. Matanya seketika membelalak dalam kemarahan, dia melepaskan tangannya yang bersedekap.
"Oh, lelaki itu?" cemoohnya keras. "Bajingan yang tak bertanggung jawab akan kejadian sialan ini?!"
Chanyeol memiringkan kepalanya pada yang lebih tua, tatapannya tak berubah dan bahkan samasekali tidak. Dia kemudian mengerutkan bibirnya dan menundukkan pandangannya, rasa berdosa itu masih bertahan di dalam tenggorokannya. Dia telah mengetahui ini akan menjadi sebuah urusan yang sulit untuk terselesaikan, dan kehadiran lelaki ini tak mengurangi kegelisahannya.
Meskipun begitu dia tak ingin kalah dalam perjuangan ini. Dia akan melawan untuk seseorang yang paling dia cintai, dan dia telah siap untuk memberikan segalanya sebelum hal itu terlalu terlambat. Bahkan juga itu berarti dia akan kehilangan dirinya, dia tak berencana untuk kehilangannya.
"Maafkan aku," suaranya akhirnya keluar, dengan seluruh mata mengarah padanya. "Aku minta maaf untuk semuanya, untuk…" suaranya menjadi goyah, bibirnya mulai bergemetar. Chanyeol mengangkat kepalanya, mata-yang-saat-ini-berkaca-kacanya menargetkan si brunet yang berada di tempat tidur. Baekhyun merasakan hatinya menegang, kepalan tangannya mengepal sesaat dia mencoba untuk menahan isakannya, emosi membuatnya kewalahan. Mata mereka bertemu sekali lagi dan tak ada satupun dari mereka yang ingin mengalihkan pandangan saat ini. "Maafkan aku yang menggodamu, meninggalkanmu, menjadi seorang bajingan, menghancurkan kehidupanmu, untuk semua yang kulakukan."
Kata-kata itu mengalun di dalam ruangan itu, setiap kata membuat jantung Baekhyun berdetak.
Chanyeol kemudian mengalihkan pandangannya menuju orangtua si brunet. "Aku meminta maaf karena telah merenggut takdir sempurna yang anak Anda miliki," dia menghela napas sedih sebagai tambahan. "Aku tak pernah berpikir untuk menemukan diriku jatuh cinta, tetapi dia membuat segalanya menjadi mudah setiap harinya."
Sehun dengan gugup menggigiti bibirnya, alisnya saling mengerut satu sama lain, sementara Baekhyun menjadi kaku, tubuhnya kewalahan dengan emosi yang tiba-tiba dan wajahnya memberontak untuk berubah menjadi kacau dalam waktu singkat. Perkataan Chanyeol terdengar tak realistis belaka dan tak dapat dibayangkan, seperti mimpi. "Baekhyun…" tidak mungkin dia—
"Aku mencintaimu, Byun Baekhyun," suara lembut Chanyeol terdengar dan bersemayam di udara. "Sangat, sangat amat. Lebih dari kata-kata yang dapat terucap, aku…"
Raksasa itu mengambil beberapa langkah mendekati Baekhyun, mata merahnya penuh akan airmata. "T-Tetapi aku mengacaukannya, aku menghancurkanmu, aku melakukan ini padamu, ini kesalahanku—" suaranya goyah pada akhirnya, tak pernah berhasil untuk menyelesaikan kalimatnya.
Aku mencintamu, Byun Baekhyun.
.
.
Lebih dari kata-kata yang dapat terucap.
.
.
Pikiran Baekhyun mengulang kata-kata itu layaknya sebuah kaset pengulang yang tak pernah berakhir, masih mencoba untuk menyadarkannya, untuk memahaminya. Tanpa Ia sadari, lelehan airmata hangat melucur turun di wajahnya.
Luhan terkejut, menjadi hanya terkejut seperti lainnya yang hadir, sambil perlahan Ia melirik Sehun. Sesulit apapun yang lebih muda mencoba untuk menahannya, rasa sakit itu tertulis jelas seluruh wajahnya. Kemarahan, kesedihan, kehancuran.
"Baekhyun…" Chanyeol melanjutkan dengan lembut, nada yang emosional, membuat jantung Baekhyun berdebar hanya dengan menyebutkan namanya. "Aku sangat menginginkanmu, aku… menginginkan sebuah masa depan hanya bersamamu."
Airmata mengalir turun tak terkendalikan, isakkannya menjadi sedikit terdengar dan tak henti-henti. Bibirnya menolak untuk begerak untuk membiarkan tiga kata yang sangat amat Ia ingin untuk katakan, sebagai gantinya Ia berbisik dengan rapuh "Chanyeol," Chanyeol berada tepat di depannya, menolak aborsi, mengakui perasaannya, tetapi momen ini terlalu indah untuk berakhir. Raksasa itu melangkah semakin mendekat dan mendekat, kini berdiri di depan si brunet sebelum Ia terduduk di samping Baekhyun. Lelaki mungil itu hanya menatapnya dengan mata lebar yang berkaca-kaca, bibirnya sedikit terbuka, dan napasnya semakin menerpa yang lebih tinggi tiap kali semakin dekat dan semakin dekat.
Terduduk disamping cinta dalam hidupnya, dia menggapai tangan pucat yang lebih kecil. Dia menangkupnya pada genggamannya, dan hell, betapa sangat mengherankan bahkan hanya dengan sentuhan kecil yang Ia dapatkan membuat seluruh tubuhnya bergemetar tak terkendali dan seketika memanas. Mereka saling mengunci tatapan sesaat semua orang tetap terdiam dan memperhatikan mereka. Wajah Baekhyun sudah dibasahi air mata dan tangisannya semakin mengeras ketika dia mendapatkan manik cokelat yang sangat Ia cintai tengah menatap matanya. Sehun sudah gelisah dan menepi, membuat Luhan menyadari ini dalam sekejap, tetapi hal yang selanjutnya mereka lihat adalah sebuah titik kehancuran.
Chanyeol mengusap tangan yang bergemetar itu, menghelakan "Aku sangat amat mencintaimu," sebelum dia membiarkan tangannya memegang pipi si brunet, menariknya untuk sebuah ciuman lembut dan menggairahkan. Bibir yang saling bersentuhan itu—apa yang amat mereka dambakan. Intens, luar biasa, dan mematikan akal.
Tak pernah Sehun pikir bahwa Ia akan melihat kedua orang itu berciuman di depannya. Tidak pernah sama sekali memiliki pikiran seperti itu.
Tetapi dia tidak mendapatkan titik kehancuran itu.
Karena lelaki berambut pirang itu saat ini mengepalkan tangannya, meremasnya dan dia terlihat seperti tak akan pernah membiarkan yang lainnya pergi lagi samasekali. Sehun mengalihkan pandangannya menuju Luhan, kehangatan mendadak melenyap dari tubuhnya, dan tangannya secara tak sadar meremas punggung yang lainnya.
"Ini sebuah lelucon, kah? Bajingan ini benar-benar berpikir kalau dia bisa melakukan dan mendapatkan apapun yang dia inginkan," Ayahnya Baekhyun menyela, terkekeh dalam sebuah nada yang mengejek sesaat semua orang terkejut akan perlakuan mereka. "menoreh masa depan omong kosong itu, mengatakan itu seperti anak bodoh dan konyol," dia kemudian menambahkan, "pulanglah, dia akan menyingkirkannya dan kau bisa lanjut menjadi seorang lelaki brengsek seperti apa pun."
Chanyeol menggemertakan giginya akan perkataan menghina itu, menjadi marah pada lelaki yang lebih tua itu karena telah menganggap pengakuannya sebagai sebuah lelucon. Dia menurunkan pandangan sesaat dia—
"Diam."
Baekhyun menjawab menggantikan raksasanya, suaranya geram dan keras. Tak pernah samasekali dalam hidupnya menjadi kasar pada ayahnya, tetapi dia tidak menyesali itu sama sekali. Ribuan hal berlarian di dalam pikirannya, perkataan jujur raksasanya padanya, dan itu hampir benar-benar menghancurkannya. Chanyeol mendongak hanya untuk mengunci tatapannya dengan Baekhyun lagi, yang tengah kehilangan dirinya dalam hitungan detik.
Tuan Byun memicingkan matanya pada anak lelakinya, mulutnya menganga sesaat Ia dibingungkan oleh sikap menghina yang tiba-tiba dari si brunet. Baru saja akan menggerakan bibirnya untuk mencemoohnya, dia tiba-tba terpotong. "Aku akan memberikanmu apapun," Chanyeol mengalihkan kepalanya pada yang lebih tua, hampir terdengar putus asa. "Apapun yang kau inginkan, aku bisa menawarkanmu sebuah villa, uang yang banyak, seorang pegawai yang lebih baik! Hanya biarkan aku… memilikinya, hanya jangan membuatnya teraba—"
"Oh aku mengerti… jadi kau adalah seorang pewaris dari perusahaan Park," dia mengernyit, perlahan menyilangkan lengannya lagi sambil mengambil langkah mendekat. "Aku mengapresiasi penawaranmu sebanyak-banyaknya, aku tidak berencana memiliki seorang anak pelacur bedebah itu." Chanyeol mengeratkan kepalan tangannya, tak dapat bersabar lagi. "kasihan orangtuamu. Kasian kau. Berapa banyak jalang lagi yang sudah kau hamili?"
Dia menghela napas sebagai tambahan, mengarahkan pandangnnya menuju anak lelakinya. "Dan kasihannya kami memiliki seorang anak lelaki yang bisa hamil. Betapa memalukannya," ayah Baekhyun berkata menghinakan.
Lelaki hamil itu tidaklah benar-benar hidup di kehidupan masyarakat yang bergengsi, kenyataannya, itu merupakan kasus yang langka. Perkataan memalukan ayahnya menusuk rasa sakit yang membakar di organ terpentingnya, di dalam jiwanya, di dalam organ terpenting di dalam jiwanya.
"Pergi!" teriak Baekhyun. Menjadi seorang yang tengah hamil merupakan sebuah alasan akan keadaannya yang memburuk, dia mencoba untuk menstabilkan napasnya. Semua orang menatapnya terkejut, terkejut karena keagresifan si brunet yang tiba-tiba. Chanyeol dengan khawatir mengambil tangannya padanya lagi, mencoba untuk menenangkannya karena stress merupakan hal terakhir yang harus diperhatikan salah satunya ketika sedang hamil. "Pergi dari sini! Aku sangat membencimu! Ini anakku, anak berharga kami, jadi pergilah sialan!" lanjut Baekhyun memekik.
"Baekhyun sayang…" ibunya menyela dan mencoba untuk mendekati anak lelakinya sebelum Ia ditarik kembali.
"Sebetulnya, aku memiliki ide yang lebih bagus," ucap Tuan Byun, menarik wanita itu dan mengarahkan jalan mereka menuju pintu. "Dia benar."
"Kau gila, Jinhyuk! Dia anak kita!" teriak nyonya Byun, mendapatkan niat suaminya.
"Tidak lagi. Aku tidak memiliki hubungan sama sekali dengan jalang yang berada di sana itu."
Baekhyun merasakan sebuah getaran merambat pada tulang belakangnya dan hampir menggigit bibirnya terluka, menyadari apa yang baru saja Ia lakukan secara tak sengaja berteriak kasar. "Kau adalah bajingan keparat dalam percakapan ini, bagaimana kau bahkan memiliki orang-orang yang melihat dan memanggilnya seorang jalang?!" Chanyeol akhirnya membiarkan kemarahannya meluap, kesabarannya benar-benar telah lenyap.
Baekhyun hanya dapat menghelakan tidak sesaat ayahnya mengabaikan ketidaksopanan yang lebih tinggi dan mendorong pegangan pintu kebawah. Teriakan ibunya merupakan satu-satunya suara yang dapat terdengar di dalam ruangan itu.
.
.
.
Mereka meninggalkannya.
Orangtuanya membuangnya.
.
TBC
.
(a/n:) maaf kemarin tidak bisa update karena berhalangan kesibukan pribadi. Maaf buat yang minta sehari 2 chapter. Please lah, sudah satu chapter sehari berarti dalam seminggu sudah 7 chapter di upload-_- let me eat u guys rawwwrrr! I gak janji tapi chapter selanjutnya mungkin nanti sore di up juga. Thanks.
.
I F**ked Your Boyfriend by Chanyeoboo
www wattpad com/user/chanyeoboo
(ganti spasi dengan titik)
Copyright © 2015 chanyeoboo
All Rights Reserved
.
p.s. Thanks for read and reviews.
