.

Bleach © Tite Kubo

Bleach Fanfic Story – Dragon Ice and Wolf of Black Snow

Bount Arc

-I do not own Bleach-

Don't Like, Don't Read

Warning : TYPO, OOC, OC, AU, Etc


- Chapter 26 -

Selesai makan malam bersama dan beristirahat sebentar. Toshiro, Akatsuki, Matsumoto dan Rukia berjalan ke ruang latihan. Kukaku dan yang lainnya mengikuti karena juga ingin melihat latihan mereka. Toshiro melihat seluruh bagian ruangan yang luas itu sebelum memberi anggukan pada Akatsuki. Gadis itu juga membalas dan memusatkan energinya sebelum mengayunkan tangan. Sebuah dinding es hitam bening dan indah muncul menutupi dari atas kebawah dan hanya menyisakan sedikit tempat untuk yang ingin melihat.

"Untuk apa dinding ini, Nokage-sensei?" Tanya Rukia.

Akatsuki tersenyum, "Ini untuk mencegah orang lain terluka."

Toshiro melangkah masuk kedalam, "Rukia, Matsumoto, ayo. Yang lain jangan mengganggu." Perintahnya langsung dengan nada suara tanpa pertanyaan. Rukia dan Matsumoto mengikuti, Akatsuki masuk sambil menutup pintu masuk dengan dinding es yang sama. Yoruichi terdiam sambil mengangkat satu alisnya. Dia terlalu penasaran jadi tidak berkata apapun. Bagaimana pun dia sedikit heran dan bingung. Kenapa kedua orang itu terkesan sangat merahasiakan latihan mereka?

.

Akatsuki berdiri disamping Toshiro. Rukia dan Matsumoto berdiri didepan keduanya. Kapten itu memperhatikan Akatsuki yang mengangguk sebelum melihat pada Rukia. "Kuchiki..." panggilnya jelas "... Sebelum aku dan Akatsuki melanjutkan latihanmu ada yang ingin aku pastikan terlebih dahulu."

"Apa, Hitsugaya-taichou?" Tanya Rukia.

"Aku ingin bertanya, apa yang dimaksudmu dengan berlatih dengan kami? Apa kau ingin kami memberikan petunjuk padamu atau ingin kami mengangkatmu menjadi murid kami?" Tanya Toshiro dengan serius.

"Maksud Hitsugaya-taichou, aku belum menjadi murid?" Tanya Rukia jelas terkejut.

"Tidak..." Jawab langsung Toshiro sebelum menyilangkan tangannya. "Melatih dan mengangkatmu jadi muridku adalah dua hal yang sangat berbeda. Matsumoto disini sudah memilih menjadi muridku dan aku tahu betapa protektif Kuchiki-taichou pada dirimu. Aku tidak ingin membuatmu sedih dengan hal ini. Tapi aku bersedia akan berbicara tentang hal ini dengan Kuchiki-taichou jika kau ingin menjadi murid kami... Jadi, katakan pilihanmu Kuchiki Rukia apa pilihanmu?"

.

.

.

Akatsuki dan Matsumoto terdiam, mereka mengerti yang dimaksudkan oleh Toshiro. Rukia melebarkan matanya sebelum mulai berpikir alasan kenapa dia ingin dilatih oleh Kapten divisi sepuluh itu. Dia sadar kalau dia ingin lebih kuat, kuat untuk menolong kakaknya. Sejak serangan Aizen dan kelemahan dirinya yang bahkan tidak bisa melindungi diri sendiri. Rukia memutuskan untuk lebih kuat agar tidak akan ada lagi yang terluka karena dirinya.

Matanya melihat kekuatan yang ditunjukan dari kapten dan wakil kapten divisi sepuluh pada saat serangan Aizen. Hal itu membuatnya iri dalam hati. Dia ingin seperti keduanya dan mengingat elemen mereka yang hampir sama. Rukia memutuskan untuk berlatih dibawah ajaran mereka.

.

.

.

"Aku..." Rukia berbicara pelan, matanya terlihat semakin penuh keyakinan. "Aku ingin menjadi murid kalian, Hitsugaya-sensei, Nokage-sensei..." Sambungnya dengan jelas.

Toshiro menatap pada mata Rukia dengan sangat jelas. Matanya tertutup sebentar, Akatsuki berubah sama seperti yang dia lakukan ketika mereka mengangkat Matsumoto menjadi murid. Aura Matsumoto juga ikut berubah dan tatapan menjadi lebih berbeda seperti penuh dengan penilaian. Rukia melihat itu semua sebelum menyadari aura lebih besar muncul berbeda didepannya. Mata kebiruan yang menyala, Rukia hampir mengambil langkah mundur saat kapten divisi sepuluh itu berbicara dengan penuh wibawa.

"Kuchiki Rukia..." Toshiro memulai. "Aku sudah melihatmu dan juga mendengar permohonan darimu. Sebagaimana yang kulakukan pada muridku yang sebelumnya. Aku ingin mendengar alasan yang sesungguhnya ada dihatimu. Kebenaran dari kenapa kau ingin menjadi murid kami?"

Rukia menelan ludah, dia tanpa sadar berlutut untuk menunjukan kerendahan posisinya. "Hitsugaya-taichou, aku Kuchiki Rukia dari divisi tiga belas memohon untuk menjadikanku sebagai muridmu karena aku ini lemah." Kepala Rukia tertunduk dalam dan malu. "A-aku ingin lebih kuat, melihat bagaimana Ichigo dan Nii-sama berusaha menolongku membuat betapa lemah diriku ini. Mereka terluka karena diriku... Aku tidak ingin melihat hal itu lagi. Aku selalu iri dengan kekuatan yang kalian tunjukan karena itulah aku ingin seperti kalian... Kumohon terimalah aku sebagai murid kalian!" Rukia bersujud sekarang.

Tempat itu menjadi hening, Toshiro tampak tenang karena orang yang lain disana tidak akan bisa mendengar apa yang mereka bicarakan. Matsumoto mau tidak mau juga menatap lembut. Rukia sama seperti dirinya yang mendapatkan dorongan setelah kejadian itu. Akatsuki juga tersenyum kecil, dia bisa mencium kejujuran dan ketulusan Rukia.

"Bangun, Kuchiki Rukia..." Kata Toshiro.

Rukia mengangkat kepalanya dengan perlahan, berdiri melihat pada kapten itu. Toshiro masih melihat padanya. "Kuchiki Rukia dari divisi tiga belas, kami disini sudah mendengar alasan dan juga permohonanmu. Aku bisa melihat keinginan kuat dan tulus dalam hatimu. Kau adalah Shinigami dengan api semangat tinggi dan didampingi oleh zanpakutou es, Sode no shirayuki." Kapten itu terdiam sebentar berpikir, Rukia seperti tegang dan takut menunggu kalimat selanjutnya.

"Kami memutuskan untuk menerima permohonanmu dan mengangkatmu sebagai murid."

Rukia menahan nafasnya, dia seakan ingin meledak dalam kebahagiaan. Toshiro tersenyum melihat betapa gadis itu ingin menahan emosi. "Kami menerimamu dengan syarat tujuanmu dan alasan aslimu dalam menjadi kuat tidak boleh hilang dan bimbang. Kau akan mendengarkan perkataan kami selama latihan dan begitu juga seterusnya. Apa kau sanggup dengan syarat ini, Kuchiki Rukia dari divisi tiga belas?"

"Saya bersedia!" Rukia membungkuk.

Ketiga orang disana tersenyum mendengarnya. Tidak lama terdengar suara isakan, ketiganya menoleh dan melihat Rukia menutup matanya menahan air mata. Toshiro sekarang gugup dan gelisah. Dia tidak pernah terbiasa dengan gadis yang menangis. Bisa dibilang kalau itu adalah kelemahan baginya. Akatsuki tertawa melihat reaksi tuannya sementara Matsumoto segera menghibur antar sesama murid.

.

.

.

Yoruichi, Kukaku, Ichigo, Ganju, Sado, Orihime dan Ishida bersama tiga Mud-soul yang lain memperhatikan apa yang dilakukan oleh empat orang yang diujung lain ruangan itu. Mereka tidak bisa mendengar apapun atau lebih dekat. Dinding es itu membatasi jarak mereka dan membuat semua semakin penasaran.

Beberapa saat yang lalu Toshiro dan Akatsuki tampak melihat pada Rukia dan membicarakan sesuatu yang serius. Bisa dilihat dari sana semua menjadi tegang dan sangat berbeda. Toshiro berubah aura bersama Akatsuki dan secara mengejutkan Matsumoto. Mereka seperti menilai gadis itu dan mengatakan sesuatu padanya yang membuat gadis itu merespon dengan berlutut lalu bersujud pada Toshiro seperti memohon sesuatu.

"Apa yang sebenarnya mereka bicarakan?!" Ichigo terlihat kesal dan mencoba menekankan telinganya pada es itu tapi tidak berhasil mendengar apapun. Dia benar-benar penasaran sekarang.

Orihime memperhatikan, "sepertinya Hitsugaya-kun menanyakan sesuatu pada Rukia-chan."

"Makanya... Apa yang mereka bicarakan?!" Ganju juga melakukan hal yang sama dengan Ichigo.

Mereka melihat Toshiro berbicara dengan Rukia dan gadis itu berdiri. Dia berbicara banyak membuat wajah gadis itu semakin bersinar setiap ucapannya. Rukia membungkuk saat itu, ketiga orang didepan gadis itu tersenyum sebelum menoleh pada Rukia yang tampaknya menangis. Matsumoto segera memeluk gadis itu sementara Akatsuki melirik pada Toshiro yang hanya memalingkan wajah.

Setelah Rukia tampaknya tenang, Toshiro kembali berbicara dan diikuti dengan kedua wanita disana mengambil posisi dan mengeluarkan zanpakutou mereka. Mulut semua yang disana kembali terdiam dan mulai memperhatikan.

.

Toshiro melihat pada Akatsuki yang mengangguk sambil mengeluarkan Kuroyuki dan memegang pada tangan kirinya. Kapten itu juga mengeluarkan Hyorinmaru. "Rukia, sekarang aku ingin kau menyerangku dengan semua kemampuanmu. Rangiku, kau akan berhadapan dengan Akatsuki. Mode pertarungan kali ini adalah tim. Aku ingin melihat kemampuan kalian berdua. Kalian boleh membantu bertahan satu sama lain tapi yang menyerang adalah masing-masing, mengerti?"

Kedua shinigami itu mengangguk, mereka mengeluarkan zanpakutou dan mengambil posisi siap. "Maju..." kata Toshiro dan diikuti oleh kedua orang didepannya itu yang maju menyerang.

.

.

.

Pertarungan itu berlangsung dengan sedikit menarik menurut Toshiro. Matsumoto dan Rukia sangatlah jarang berlatih atau bahkan bertarung bersama. Tapi keduanya bisa saling menutupi satu sama lain, kekurangan mereka. Ketika Akatsuki akan menyerang Matsumoto, Rukia akan membantu bertahan sedangkan Matsumoto menyerang dan begitu pula sebaliknya.

Senyuman Toshiro semakin lebar ketika Rukia membantu dengan Kido. Dia tahu Matsumoto tidak terlalu biasa dengan kido. Rukia mungkin akan menjadi pasangan yang cocok untuknya. Mata Toshiro melihat pada Akatsuki yang juga menatap balik. Dia tahu Akatsuki memikirkan hal yang sama.

'Mereka bisa menjadi tim yang hebat...'

.

.

.

"H-hebat..." Gumam Ichigo melihat latihan itu.

Semua melebarkan mata bahkan Yoruichi yang mantan kapten. Rukia dan Matsumoto benar-benar berbeda saat itu. Kecepatan, kekuatan, teknik, pertahanan dan serangan mereka juga berbeda dari apa yang pernah lihat sebelumnya. Mereka bahkan tampak bisa mengikuti alur gerakan dan irama satu sama lainnya. Tidak peduli itu secara acak, dari atas, bawah atau titik buta mereka.

Rukia dan Matsumoto perlahan bisa mengetahui Irama dan pola serang mereka masing-masing. Mereka saling mendukung satu sama lainnya. Tapi bukan hanya mereka, Toshiro dan Akatsuki juga tidak kalah. Mereka sama baiknya dengan Rukia dan Matsumoto, Bukan... Mereka jauh lebih baik dari kedua yang ada disana. Ini benar-benar menunjukan sedekat apa mereka.

"Mereka benar-benar bukan shinigami biasa..." Puji Kukaku tampak kagum.

Yoruichi melihat pada temannya. "Apa kau yang dengar tentang mereka? Aku sangat jarang kembali ke Soul Society sejak sekian lama."

Kukaku mengangkat satu alisnya. "Kau belum mendengarnya?" Wanita itu menatap pada teman masa kecilnya yang hanya mengangguk. "Ya, memang benar. Kau pergi dari Soul Society sebelum mereka masuk." Wanita berambut hitam itu memperhatikan pasangan kapten dan wakil kapten muda itu. Semua memasangkan telinga diam-diam untuk mendengarkan apa yang akan dikatakan oleh Kukaku.

"Aku dengar dari beberapa orang di Rukongai kalau mereka adalah shinigami jenius yang hanya bisa muncul setiap seratus tahun. Mereka masuk ke akademi dengan jalur spesial karena kemampuan mereka. Salah satu kapten yang membawa mereka, kalau tidak salah kapten divisi tiga belas." Kata Kukaku.

"Ukitake?" gumam Yoruichi.

"Ya..." Wanita berambut hitam itu mengangguk kecil. "Banyak sekali rumor tentang mereka. Beberapa orang kalau wakil kapten dari divisi sepuluh adalah jelmaan monster atau juga makhluk hasil eksperimen semacam itu. Lalu ada yang bilang kalau kapten divisi sepuluh itu memiliki kemampuan untuk mengalahkan setiap kapten yang ada. Ada juga yang berkata kalau mereka pasangan kapten dan wakil kapten paling jauh lebih berbahaya dari divisi enam atau sebelas."

"Yang benar?!" Ichigo kaget.

Ganju juga menelan ludah, matanya masih belum berpindah dari empat shinigami yang berlatih disana. "Yang kudengar dari orang-orang, kalau semua shinigami di divisi sepuluh itu berubah banyak. Ada yang bilang kalau mereka memiliki pola latihan yang tidak biasa sejak dia menjadi kapten mereka."

BOOM!

Terdengar ledakan saat itu yang mengejutkan semuanya. Mereka melihat asap dan uap menutupi bagian tempat latihan itu. Es dan salju menutupi setiap sudut bahkan langit-langit. Beberapa bagian lantai retak, ada juga yang seperti terpotong. Semua seperti menarik nafas ketika melihat Rukia dan Matsumoto sudah berlutut dengan nafas terengah-engah. Beberapa memar terlihat dan baju mereka sedikit robek. Tangan mereka memegang pada zanpakutou mereka seperti bisa jatuh kapan saja.

Tapi, berbeda dengan kedua wanita itu. Toshiro dan Akatsuki berdiri didepan mereka dan hanya sedikit berkeringat. Kapten itu sedikit memiringkan lehernya seperti baru saja pemanasan. Akatsuki hanya tersenyum, dia memainkan zanpakutou-nya dengan handal menggunakan tangan kirinya dengan santai.

"Mereka monster..." Kata Ishida pada akhirnya.

.

.

.


.

.

.

The Dragon Ice, Toshiro.