Author Note: updateeeeeee~ man, masih harus update 3 chapy lg sebelum hiatus =w=" mau hiatus dua minggu! Ngantuk banget begadang nungguin download! Arg! -tapi pingin nonton juga -

DISCLAIMED! Aku bukan pencipta Kingdom Hearts! Mau pun Square Enix! Semuanya milik Tetsuya Nomura! And I one of his fans! LOL!

Your Other Life

Chapter 26 : Player Versus Player.

Aku menghela napas pelan. "Roxas," panggilku tanpa menatapnya. "Seandainya, jika aku lepas kontrol, langsung kalahkan aku. Jumlah HPku saat ini di bawah seperdelapan saja," kataku dengan senyum sinis.

"What!" Roxas terlihat bingung mendengar kata-kataku.

Aku berteriak keras ketika hendak menyerang players yang berada di sekitarku. Kesempatan untuk mengalahkan dan mendapatkan seribu bendera dari Lightning Ghost sangat kecil, tetapi kesempatan memenangkan event menjadi sangat besar, jika aku dapat mengalahkan beberapa players dan mengumpulkan bendera yang mereka dapatkan.

Meski senseku terasa kuat dan mempunyai reflex yang sangat bagus, tapi tidak semua serangan bisa kuhindari, karena sulit sekali menghindar dengan sempurna jika diserang oleh puluhan players...

Tubuhku terasa berat, pertanda bahwa HPku sudah sangat sedikit. Mendadak, aku disiramin oleh sesuatu. Tubuhku merasa sedikit ringan, mungkinkah itu potion? Aku mencari orang yang melemparkan item padaku, ternyata Leon yang melemparkan item tersebut.

Aku langsung tersenyum padanya sebagai ucapan terima kasih, tidak kusangka dia masih bisa memperhatikan kondisiku, padahal dia dikepung oleh puluhan players dan monsters, sama sepertiku.

Aku menggenggam senjataku seerat mungkin, entah mengapa tenagaku terasa kembali meski hanya sedikit. Aku kembali menyerang, akan terus berjuang hingga titik darah penghabisan!

Aku merasa ada yang aneh. Aku merasa damage seranganku turun sedikit setelah HPku pulih sedikit. Apakah kekuatanku terpengaruh oleh jumlah HPku?

Beberapa puluh menit berlalu, Lightning Ghost berhasil dikalahkan oleh seorang player. Mengejutkannya, dia adalah Xion. Olette terlihat berada di sampingnya, mungkinkah mereka satu group?

Mengetahui Xion berhasil mengalahkan Lightning Ghost dan mendapatkan seribu bendera, puluhan players langsung menyerbunya, berusaha mengalahkan Xion dan mendapatkan seribu bendera yang di milikinya.

Aku langsung berlari ke arah Xion, bukan untuk menolongnya, melainkan menyerang player yang mencoba menyerangnya. Focus para players tertuju pada Xion, sehingga tidak memiliki pertahanan saat kuserang dari belakang.

Meski berpasangan, kebanyak players di sini bergerak sendiri-sendiri, tidak terlalu perduli pada partnernya masing-masing. Roxas juga begitu. Kira-kira, siapa ya partnernya?

Aku menembakkan magic thunder tepat dimana terdapat puluhan players berada, tidak perduli musuh mau pun teman. Ini adalah perang dingin! Siapa yang kuat dapat bertahan, dan yang lemah akan kalah! Tapi semoga saja tidak ada temanku dan teman Leon yang kena...

"Judgement Tried!" Aku melempar senjataku.

Senjataku berputar dengan cepat dan terlihat terpecah menjadi tiga bagian, mengenai beberapa players sekaligus.

Mendadak, aku merasa ada seseorang berada di atasku. Aku langsung menahan serangan yang berasal dari atas. Seorang gadis berambut pink yang sangat kuat—menurutku— berusaha mengalahkanku.

Jenis senjatanya Gunblade, dia menembakkiku terus-menerus dari atas, hingga seluruh pelurunya habis. Ketika dia hendak turun dan menyerangku, aku bersiap-siap melompat untuk menyerangnya.

Sayangnya, Terra berada di depanku, menghentikanku...

"...Temanmu?" Tanya gadis berambut pink tersebut.

"Yeah, Lightning," jawab Terra pada gadis tersebut.

"Temanmu?" Tanyaku sambil menatap Terra.

"Hanya partner dalam event," jawab Terra.

"Maaf sudah menyerangmu," kata Lightning dengan datar.

"Tidak apa-apa," balasku sambil menggelengkan kepalaku.

Semakin lama, players yang ada tersisa sedikit—akibat saling serang. Jika perkiraanku benar, kira-kira hanya tersisa kurang dari seratus players. Monster yang tersisa mungkin sekitar sepuluh ribu.

Aku sudah mengumpulkan bendera sekitar limabelas ribu —yang kebanyakan berasal dari player yang kukalahkan. Leon mengatakan dia mempunyai bendera sebanyak duapuluh lima ribu lebih.

Saat ini, Olette, Xion, Namine, dan Fuu telah keluar area event karena kalah. Aku beberapa kali nyaris saja kalah jika Leon tidak menolongku...

"Thanks, Leon," kataku padanya, dia berada tepat di belakangku.

Dia terlihat hanya mengangguk.

"Jangan dekati pemuda berambut blond di sana, yang bersama seorang gadis blond bersenjata knife. Ke duanya adalah player killer yang sudah berpengalaman," kata Leon memperingati.

Aku mengangguk dan kami memisahkan diri lagi, mencari target masing-masing, sesuai dengan kemampuan. Sesekali, aku dibantu oleh Ventus atau Roxas, terkadang keduanya membantuku jika aku menghadapi player killer.

Tanpa kami sadari, kami bertiga membuat formasi serang. Dimana Ventus bertugas menyerang dari kanan, Roxas menyerang dari kiri, dan aku, sebagai finishing blow menyerang dari atas.

Formasi ini cukup membantu, karena mengacaukan focus musuh, terutama player.

Mendadak, sebuah magic fire meluncur kearahku. Ketika aku menghindarinya, seseorang menyerangku. Aku menahan serangannya, meski tidak sempurna. Player lain terlihat hendak menyerangku juga. Astaga, aku baru sadar, bahwa kedua players ini adalah player killer yang Leon maksud tadi.

"Finish him, Rikku!" Teriak pemuda blond tersebut pada gadis bersenjata knife, dia mencoba mengalahkanku.

"Got it, Tidus!" Balas Rikku, player killer yang menggunakan senjata knife, pada temannya yang berambut blond.

Aku menahan seluruh serangannya dengan sempurna, tapi aku khawatir tidak akan bertahan lama jika keduanya menyerangku.

'Damn,' pikirku ketika tidak sanggup menahan sempurna dua serangan sekaligus.

Ketika aku menangkis serangan dari player killer bernama Tidus, player killer yang satunya, Rikku, langsung menyerangku dari belakang. Aku terpaksa menghindari serangan dari Rikku dan membiarkan serangan Tidus mengenaiku.

Serangan dari belakang lebih berbahaya daripada serangan dari depan, karena resiko critical hit sangat tinggi. Bisa-bisa aku kalah sekejap terkena critical hit.

"Awas, Tidus!" Teriak Rikku.

Sebuah magic thunder menyambar, sesaat setelah dia menghindar. Sialnya, aku terlambat menghindari magic tersebut...

"Aaaaaarg!" Teriakku kesakitan.

Celaka! Jika terus terkena magic thunder, bisa-bisa HPku akan habis!

Kupaksakan tubuhku untuk bergerak, menjauhi wilayah magic. Tubuhku terasa kesemutan terkena magic thunder, tapi untungnya aku berhasil keluar sebelum kehabisan HP.

Setelah keluar, Rikku langsung menyerangku dan aku menahan serangannya. Senjataku terlempar karena tanganku kesemutan. Untungnya Roxas datang menolongku karena kebetulan dia berada di dekatku. Ventus juga terlihat berlari mendekatiku, mungkin ingin membantu Roxas...

Kulihat Leon —bersama Zack— menyerang Tidus. Sejak kapan dia berada di dekat sini?

"Kau kuat juga," komentar Roxas ketika melawan Rikku, dahinya terlihat mengkerut, dia terlihat sangat waspada.

"Roxas! Ven! Hati-hati! Dia player killer yang berpengalaman!" Kataku memperingati ke duanya.

"Aku tahu. Dia Rikku, cukup terkenal dengan gerakkannya yang gesit dan cepat," balas Roxas.

"That right!" Balas Rikku dengan senyum, dia lalu memukul mundur Ven.

Roxas menangkis serangan Rikku, tidak seluruhnya, serangannya memang sangat gesit, mungkin Roxas sedikit kesulitan menghadapinya.

Aku bersiap-siap menyerangnya, begitu pula Ventus, dia hendak menembakkan magic pada Rikku.

Rikku mendadak menjauhi Roxas, berlari mendekatiku yang tidak dapat memulihkan HP karena kehabisan item...

Ventus menembakkan magic fire sebanyak tiga buah. Fire meluncur sangat cepat, mengikuti arah Rikku bergerak. Fire pertama berhasil dihindarinya, begitu juga yang kedua. Untuk fire ke tiga, dia menembakkan magic fire. Kedua fire saling bertabrakkan dan meledak, asap hitam menutupi sosok Rikku.

Aku bersikap waspada, dia pasti hendak menyerangku. Aku harus berhati-hati, karena bisa saja satu serangannya langsung mengalahkanku—jika serangannya critical hit.

Aku langsung menahan serangannya ketika melihatnya meluncur keluar dari asap. Aku harus focus agar dapat menangkis seluruh serangan!

Rikku terlihat kesal melihatku menangkis semua serangannya dan tidak memberinya celah untuk melukaiku.

Aku menghela napas dalam. Entah mengapa, rasanya beberapa menit belakangan ini, kesadaranku serasa menurun, seperti ingin tertidur. Tubuhku juga aneh, rasanya seperti bergerak sendiri, padahal aku merasa lelah menggerakkan tubuhku karena terasa berat akibat jumlah HP yang tinggal sedikit.

Herannya, beberapa kali pandanganku buram, dan kali ini, rasanya semua terlihat sedikit lebih gelap dari biasanya...

To Be Continued...

Author Note: jeng jeng jeng jeng! Apakah yang terjadi selanjutnya? =w=? Apakah berserk? Ataukah menghilang? Ataukah tewas di tempat? -slap!- review~