Wonwoo bakal berubah kan? Adore96 eh? Berubah jadi apa? O_O
Btw kapan wonwoo kapan bisa ketemu sama jihoon lagi? an2794 ntar, beberapa ch lagi :3
Jauh amat jadiaannya thor? Jangan bilang habis pacaran langsung ending? Arlequeen kim haha. Nggak kok :3
Tpi thor, kok sifat wonu agak berubah ya? atau masih sama? Pengaruh gendernya bukan? Atau trauma? Kimxjeon bisa jadi yang dua terakhir XD
Kalo bisa sertakan akun sosmed kamu dong? Rie chocolatos akun sosmed ya…. aku jarang mainin sosmed akhir2 ini, tpi fb dan instg selalu ku cek sih, klw twit rada jarang :3 fb : Leo Nyan, istg : aliy . fid, twit : Leo Nyan (kalau ga salah ya, aku lupa usernamenya apa)
Itu wonu ke sekolah pake baju cewe apa cowo sih thoor? Sindijulia masih pake seragam cowo sayang.
Wonu pas masuk sekolah masih pake seragam cewe ya? trus kana belom nyebarin tentang wonu yg ternyata cewe? Rise chan seragam cowo! Belum, tapi udah di ch ini
Eh situ kan jeonghan bilang 'pertolongan kecil waktu keserempet truk' itu kapan ya? ch berapa? Guest112 hampir keserempet truk. Itu kalau ga salah antara ch 4 atau 5, aku pun lupa XD
Aniwey, itu nanti ga aneh kalo wonu tau2 muncul sekolah pake rok? Masa satu sekolah percaya sihir kek lumrah banget ni ff genrenya fantasy? Atau dunia wonu memang rada fantasy? Mrs. EvilGameGyu eyy. Siapa yg bilang dia pake rok langsung. Baca aja deh di ch ini :3
D ch brp mereka jadian? Habis ini ada masalah lagi g? vokaliana tyas udah kujawab di ch kemaren ya hha. Masih ada banyaaakk~
Thor kapan kana musnah ? reader jangan ah, kasian/plak
XDD
Ch 26
Enjoy! ^0^
.
.
"Aku akan mengantarmu pulang."
Wonwoo berdiri di depan pintu kelas dengan syok. Kata-kata yang baru saja keluar dari mulut pemuda tinggi bernama Mingyu itu benar-benar membuatnya terkejut dan merona malu.
"Min.."
Sebuah siulan panjang terdengar, siulan itu keluar dari mulut teman sekelas Wonwoo yang tertarik untuk menggoda keduanya. Di susul suara 'cie cie' lalu bisik-bisik yang sengaja di keraskan. Menyadari itu Wonwoo jadi salah tingkah, dengan cepat ia mendorong tubuh Mingyu untuk menjauh dari ruang kelasnya.
Mingyu terkekeh.
Keduanya menuju ruang loker untuk mengganti sepatu. Lalu keluar dari gedung menuju parkiran, berjalan beriringan tanpa ada obrolan terucap. Mereka lalu menaiki sepeda Mingyu dan Mingyu segera mengayuh pedal untuk keluar dari wilayah sekolah.
"Aku harus mengambil barangku di apartment Jisoo-eonnie." Ucap Wonwoo.
Mingyu mengangguk, tetap berfokus pada jalan di depannya.
"Mingyu, kau dengar?" tanya Wonwoo.
"Iya."
Wonwoo tersenyum kecil, ditatapnya punggung dihadapannya dan ia bisa merasakan dadanya berdegup aneh. Senyumnya makin lebar. Dan ia harus terkejut saat tubuhnya tiba-tiba oleng karena sepeda itu melintasi polisi tidur, dengan cepat ia berpegangan pada blazer Mingyu.
"Pegangan yang erat atau kau bisa jatuh." Ucap Mingyu saat merasakan blazer belakangnya tertarik.
Wonwoo mengangguk, tapi ia bingung, dimana harus ia berpegangan?
"Noona? Pegangan?" tanya Mingyu.
"D-dimana?" tanya gugup.
Mingyu menepi, lalu menarik kedua lengan Wonwoo untuk melingkar di pinggangnya, "Disini, pegangan yang erat." Modus.
Wonwoo bisa merasakan wajahnya memanas. Dengan posisi seperti ini, ia tahu wajahnya akan menempel pada punggung Mingyu. Mingyu kembali mengayuh pedal.
"Apa saja yang ada di apartmen Jisoo-noona?" tanya Mingyu.
Wonwoo tersadar, "A-apa?"
"Barang apa saja yang ada di apartmen Jisoo-noona?" ulang Mingyu.
"Oh… Ehm… gak banyak kok, Cuma beberapa stel baju sama beberapa buku pelajaran…" jawab Wonwoo lalu memiringkan kepalanya untuk melihat wajah Mingyu, "tidak apa kan?"
Mingyu meliriknya lalu fokus ke jalan lagi dan mengangguk. Wonwoo tersenyum, Mingyu ikut tersenyum. Beberapa menit kemudian, mereka sampai di gedung apartment Jisoo dan segera menuju unit gadis itu.
"Kau sebetulnya bisa tinggal lebih lama disini." Ini Jisoo, dia cemberut.
Wonwoo tertawa hambar, "Aku tidak bisa terus merepotkanmu, eonnie." Lalu memeluk Jisoo.
"Kan sudah pernah di bilang, aku tidak merasa repot sama sekali, aku malah senang kau menemaniku." Balas Jisoo.
Wonwoo tersenyum lebar, "Terimakasih eonnie. Kapan-kapan aku akan mengunjungimu."
Jisoo pada akhirnya tersenyum, "Baiklah. Terimakasih kembali."
Mingyu yang melihat adegan itu dari pintu terkekeh. Kemudian Jisoo mengantar keduanya hingga pintu, Wonwoo dan Mingyu pun berpamitan lalu pergi.
"Ku bawakan juga sini." Ucap Mingyu, ingin mengambil tas berisi baju yang di bawa Wonwoo. Wonwoo dengan cepat menepisnya dan merengut.
"Aku bisa bawa sendiri. Kau sudah membawa buku ku, jadi biarkan aku membawa yang ini." Protesnya.
Mingyu terkekeh, "Baiklah, baiklah."
Keduanya lalu menaiki sepeda Mingyu dan menuju gedung apartment Wonwoo. Setelah sampai, mereka berdua menuju unit Wonwoo.
"Thanks, Mingyu." Ucap Wonwoo yang dibalas dengan anggukan Mingyu.
"Apapun untukmu." Mingyu mengedipkan sebelah matanya. Wonwoo memukulnya pelan dan merasakan wajahnya memanas.
"Apa-apan kedipan mata itu, haishh…" Mingyu tertawa mendengarnya.
Setelah keduanya terdiam sejenak sambil saling bertatapan, Mingyu pun pamit pulang. Wonwoo tersenyum lebar lalu masuk ke dalam unitnya dan mengunci pintu.
.
.
.
PRANG!
Kana menatap Wonwoo yang kini memungut nampan kotor makan siangnya yang terjatuh ke lantai. Dia tertawa mencemooh, sedangkan Jisoo yang berada di dekat Wonwoo mencoba untuk menahan Jeonghan yang siap mengamuk.
"Bersihkan yang benar, heh wanita jejadian!" seru Kana.
"Diam Kana!" seru Jeonghan.
"Diam?! kau yang diam!" balas Kana, ia lalu melirik kearah kedua temannya yang mulai mencemooh Wonwoo.
Wonwoo berdiri dan menaruh nampan diatas meja. Ia mengacuhkan Kana dan teman-temannya, lalu mengajak Jeonghan dan Jisoo untuk pergi.
.
"Kau seharusnya membalas Wonwoo, aku benci melihat gadis itu!" protes Jeonghan, "atau kalau kau tidak bisa, biarkan aku yang melakukannya!"
Wonwoo mengangguk-angguk, "Ya." Jawabnya.
"Kau harus membalasnya atau mereka akan terus membully-mu!"
Wonwoo menghela napas.
"Lalu, bagaimana dengan dia yang gembar-gembor bahwa kau wanita jejadian?" tanya Jisoo.
"Entahlah." Jawab Wonwoo, ia memijit kepalanya.
"Baiklah, sampai nanti," ucap Jisoo dan Jeonghan di ujung tangga.
Wonwoo mengangguk dan tersenyum pada kedua gadis itu. Jisoo dan Jeonghan membalas senyumnya dan menaiki tangga, tapi sebuah panggilan menggelegar terdengar dan itu membuat mereka berhenti melangkah.
"HEY! WANITA JEJADIAN!"
Wonwoo membeku. Teriakan itu memenuhi satu lorong tempat ia berada dan beberapa murid yang ada disana segera menoleh kearah sumber suara. Kana menghampirinya dan menarik kerahnya sambil menatapnya sengit. Bisik-bisik ribut mulai terdengar.
"Apa-apaan kau berani sekali mengacuhkanku?! Memangnya kau siapa?!" suara Kana meninggi.
Wonwoo menatap gadis itu tajam, "Lepaskan aku."
"Setelah aku memukulmu." Jawab Kana.
Wonwoo bisa merasakan ketakutan menyerangnya, tapi ia mencoba menutupinya, "Kalau begitu, aku akan balas memukulmu."
"Coba saja!" Kana lalu melayangkan tinjunya, tapi dengan cepat Wonwoo menahannya. Kana melepaskan cengkramannya pada kerah baju Wonwoo untuk bisa menyerang Wonwoo lebih leluasa.
"Dasar wanita jejadian! Enyah saja sana jalang!"
"Kau saja yang enyah, brengsek! Jalang jangan teriak jalang!"
Dan mereka saling tampar lalu saling menjambak.
"Manusia tidak tahu malu! Sudah merebut Mingyu dan sekarang kau menutupi dirimu kalau kau itu wanita?! Bagaimana bisa?! Kau transgender?! Menjijikkan!"
Wonwoo tidak menjawab, tapi ia marah sekali mendengar ucapan gadis itu. Kana lalu tertawa keras.
"Kau diam?! Berarti aku benar?!" Ia tertawa lagi, lalu menatap kearah murid lain dengan tatapan kemenangan, "Kalian lihat? Kalian dengar?! Dia seorang transgender!"
Keributan lalu terdengar, bahkan beberapa murid keluar dari kelas untuk melihat apa yang terjadi. Jeonghan dan Jisoo ternganga melihat hal itu. Wonwoo mematung di tempat.
"Kalian masih tidak percaya?! Baiklah! Mari kita lihat apakah dia punya dada yang terbuat dari silikon agar kalian percaya!" Kana lalu menatap Wonwoo licik dan meremas dadanya.
PLAK!
Wonwoo menampar Kana kuat, matanya berkaca, ia merasa dilecehkan. Kana memegang pipinya, lalu menatap Wonwoo sengit.
"Hah! kenapa? Aku benar kan?! Kau bahkan tidak menyangkalnya!" seru Kana, ia lalu menggertakkan giginya.
"KANA! CUKUP!" Jeonghan berteriak, dia sangat marah.
Kana lalu menoleh kesal, "Diam kau gadis lesbi! Pacaran saja sana sama gadis disebelahmu itu!" Jeonghan terkejut mendengarnya.
Jisoo menatap Kana tajam, kemarahannya terpancing, ia turun dari tangga dan melayangkan tamparan pada Kana.
"Tutup mulutmu, Kana! Kau sudah keterlaluan! Kau tidak tahu apa-apa dan kau memfitnah kami?!" Jisoo benar-benar tidak bisa menahan amarahnya pada gadis itu.
"Aku tahu semuanya!" seru Kana.
"Kau. Tidak. Tahu. Apapun!" Jisoo menggertakkan giginya.
Murid-murid yang lain mulai berdatangan karena penasaran.
"Terus saja mengelak! Aku benar! Aku tahu apapun!" Kana membalas.
"Kau tidak tahu apapun!" seru Jisoo.
"Terus kenapa?! Masalah?! Lepaskan aku!" Kana berteriak dan mendorong Jisoo agar melepaskan cengkraman pada kerahnya. Jisoo terdorong kebelakang dan menabrak Wonwoo yang sedari tadi berdiri terdiam membeku, dan hal itu membuat Wonwoo oleng dan ia mendapati dirinya akan terjatuh dari tangga sedangkan Jisoo jatuh terduduk dilantai dan menabrak besi tangga.
"Wonwoo!" Jisoo terkejut, ia mengulurkan tangannya untuk menggapai tubuh Wonwoo tapi ia menghentikannya saat melihat Mingyu berlari cepat dari bawah untuk menolong Wonwoo sebelum gadis itu terguling di tangga.
Wonwoo bersiap kemungkinan terburuk kepalanya lah yang pertama kali menyentuh lantai tangga yang keras dan tubuhnya yang berguling setelah itu, tapi itu tak terjadi, ia malah merasakan sebuah dekapan yang menahannya kuat agar tidak terjatuh dan sepasang lengan kokoh yang membantunya untuk berdiri dan menuntunnya menaiki tangga dan membawanya menjauh dari ujung tangga.
Jisoo berdiri dan menghela napas lega. Ia lalu menghampiri Wonwoo dan memeluknya diikuti Jeonghan.
"Wonwoo, kau tidak apa? Kau baik?" tanya Jeonghan.
Wonwoo mengangguk. Tatapan matanya lalu bertabrakan dengan mata Mingyu yang menatapnya khawatir, lalu Mingyu menoleh kearah Kana dan menatap gadis itu tajam, sedangkan Kana tampak kaget melihat kehadiran pemuda tinggi itu.
"Aku sudah memperingatkanmu, Noona." Mingyu menuding gadis itu, "berani-beraninya kau melukai mereka." Mingyu menggertakkan giginya.
"A.. memangnya kenapa?! Itu karena mereka mengangguku!" jawab Kana.
"Aku tidak peduli apa yang terjadi padamu, tapi kau melukai Noona dan teman-temannya!" bentak Mingyu.
Mingyu yang baru menyadari apa yang dia ucapkan segera menutup mulutnya dan melirik kearah Wonwoo yang menatapnya dengan mata membesar. Mingyu menatapnya dengan tatapan minta maaf dan Wonwoo hanya terdiam melemas dan menundukkan kepala.
Bisik-bisik ribut kembali terdengar, kebanyakan tidak percaya dengan apa yang mereka dengar.
'Wonwoo seorang wanita?'
'Itu terdengar tidak mungkin, tapi Mingyu memanggilnya noona!'
'Ini bukan candaan?'
'Wow. Gila. Bagaimana bisa?'
'Berarti Kana benar?'
'Dia transgender.'
'Jadi Jeonghan dan Jisoo juga tahu kalau dia transgender? Mingyu juga?'
'Ini topik hebat. Ada apa dengan Wonwoo?'
'Untuk apa dia transgender? Agar bisa bersama Mingyu?'
'Hush. Proses operasi transgender itu bukan dalam hitungan hari tahu! Bisa sampai berbulan-bulan!'
'Iya juga, tidak mungkin ya.'
'Jadi… dia wanita asli?'
'Aku tidak percaya.'
"Tutup mulut kalian! Dia tidak pernah operasi transgender!" teriak Jeonghan dan hening seketika.
Lalu Kana tertawa keras, "Tidak pernah?! Kau tidak lihat sekarang dia wanita? Lalu bagaimana bisa ia menjadi wanita kalau bukan operasi?"
"Tutup mulutmu!" seru Jisoo.
Kana tertawa lagi lalu menatap Mingyu, "Kau yakin kau masih ingin dengan wanita jejadian ini?!" Mingyu tak menjawab.
Tapi dia mengangguk, dan itu membuat Kana berang.
"APA?! APA KAU GILA?! APA KAU BUTA?!" teriaknya.
"APA KAU TIDAK BISA MEMILIH YANG LEBIH BAGUS?! LIHAT AKU! AKU CANTIK! KAYA! AKU BISA MEMBELI APAPUN YANG AKU MAU! DAN LEBIH PENTING AKU WANITA! BENAR-BENAR WANITA!"
Mingyu tertawa, beberapa murid disana juga tertawa mendengar hal itu. Kana terdiam dengan rona di wajahnya, malu dengan apa yang baru saja ia ucapkan, tapi segera ia tepis karena ia tahu ia benar.
Mingyu lalu mengambil ponsel dari sakunya dan membuka sebuah foto, menunjukkannya setengah pada Kana. Mingyu menyeringai kemudian bertanya, "Kau mau tahu foto apa ini?"
Kana tidak menjawab.
"Ini foto masa kecilmu. Seseorang pernah memberikannya padaku. Kau masih ingat seperti apa masa kecil mu?" tanya Mingyu lagi.
Wajah Kana memucat.
"Kau mau foto ini disebar?"
Kana menggeleng cepat.
"Maka dari itu, jangan melukai Wonwoo dan sekarang, minta maaf padanya!"
Kana diam, melirik kearah Wonwoo yang sekarang menatapnya. Raut wajah Kana berubah jijik. Ia tidak ingin minta maaf.
"Cepat minta maaf, atau foto ini akan tersebar." Ancam Mingyu sambil mengangkat ponselnya.
Kana menggertakkan giginya dan mengepalkan tangannya kuat-kuat. Ditatapnya Wonwoo dengan perasaan tidak rela.
"Maafkan aku." Ucapnya cepat.
Wonwoo tidak menjawab, dan Kana pergi begitu saja sambil menghentakkan kaki. Semua orang menatap gadis itu kemudian bisik ribut kembali terdengar. Mingyu berjalan kearah ketiga gadis yang berumur lebih tua dengannya dan mereka menatapnya dengan takjub.
Mingyu menunjukkan foto itu kepada ketiganya dan Jeonghan, Jisoo berusaha untuk tidak tertawa, sedang Wonwoo merasa kasihan melihat foto itu walaupun ia tertawa juga.
"Baik, sudah." Ucap Mingyu kemudian menyimpan foto itu dan menatap Wonwoo lurus, "Noona, maafkan aku sudah membocorkannya." Ucapnya penuh sesal.
Wonwoo terdiam sejenak, menatap jari jemarinya yang ia mainkan, lalu mendongak untuk menatap Mingyu, "Tidak apa, lagipula sudah terlanjur karena Kana memanggilku 'wanita jejadian'."
Mingyu tidak komentar hanya mengangguk, lalu Jisoo menyela, "Apa ini sudah bel?"
Mingyu lalu melihat arlojinya, "Berapa menit lagi."
Jisoo mengangguk, "Baiklah, ayo kita kembali Jeonghan." Jeonghan mengangguk, "bye, Wonwoo. Jaga dirimu." Lalu keduanya naik tangga dan meninggalkan dua orang itu berdiri berhadapan dengan canggung di depan tangga.
Keheningan merambat diantara keduanya, tidak ada pula kontak mata yang terjadi, Wonwoo sibuk menunduk dan memainkan jarinya sedang Mingyu menatap kearah lain selain Wonwoo dan mengusap tengkuknya, canggung.
"Umm…"
Mingyu melirik saat mendengar Wonwoo bergumam dan mulai menatap kearah gadis itu.
"Terimakasih sudah menolongku." Ucap Wonwoo.
Mingyu mengangguk senang, "Tidak apa, lagipula aku memang harus menolongmu."
Wonwoo nyengir, "Kau datang di waktu yang tepat."
"Tentu saja." Jawab Mingyu, "aku mendengar ribut-ribut dari lantai bawah dan aku langsung mengkhawatirkanmu. Untunglah aku tepat waktu, jika tidak…. Aku tidak tahu apa yang terjadi. Itu menakutkan."
Wonwoo bisa merasakan pipinya merona, "Iya, itu menakutkan…. Aku takut sekali jika jatuh dengan kepala duluan. Pasti menyakitkan."
Mingyu mengangguk, ia menjulurkan tangannya, hendak memeluk gadis itu tapi dengan cepat segera ia tahan menyadari banyak yang menatap mereka.
"Sudahlah. Itu sudah terlewati." Jawabnya.
"Tapi, sekali lagi terimakasih Mingyu." Balas Wonwoo, menatap Mingyu tepat dimata dan tersenyum manis sekali.
Mingyu senang melihat senyum gadis itu dan ia membalasnya dengan senyum manis pula hingga menunjukkan gigi taringnya, "Apapun untukmu."
Keduanya saling tersenyum hingga bel terdengar dan lalu berpisah untuk masuk kelas.
.
.
.
Wonwoo terdiam saat teman sekelasnya berkumpul mengelilinginya saat pelajaran selesai. Ia kikuk. Ia tahu apa yang akan mereka lontarkan dari mulut mereka.
"Serius kau itu wanita?"
"Kau wanita? Bagaimana bisa?"
"Itu benar? Jadi selama ini kau menyembunyikan gendermu?"
"Untuk apa?"
"Woaahh… bagaimana bisa?"
"Tapi selama ini kau masuk kamar mandi cowok kan?"
"Wonwoo, jawab kamii."
"Wonwoo, kenapa kau menutupi gendermu?"
"Tapi, ini aneh sekali. Kau sebelumnya suka menggoda cewek.."
"Mungkin untuk menutupi gendernya.."
"Eh,.. tapi itu terlalu…"
"AAAW. BAGAIMANA INI, AKU PERNAH MENYUKAIMU." Ngomong-ngomong yang teriak ini seorang siswi.
"Kenapa Wonwoo?"
Wonwoo bingung harus menjawab bagaimana, haruskah ia menceritakannya semuanya. Ia memainkan tangannya gugup. Ia melirik Soonyoung, mencoba meminta bantuan. Soonyoung sendiri menonton adegan tadi sambil mulut menganga lebar, tapi setelah itu tersenyum lebar, tidak tahu kenapa. Soonyoung menaikkan alisnya, tidak mengerti dengan komunikasi Wonwoo.
"Hey.. Wonwoo."
"Aku tidak percaya, aku ingin memastikannya apa benar kau wanita." Ucap salah seorang siswi dan mendekatinya, lalu melotot pada seluruh kaum lelaki untuk berpaling, "Jangan ada yang melihat!" teriaknya tajam.
Wonwoo merona hebat, mencoba melindungi diri dengan menunduk dalam dan memeluk diri sendiri. Sedang para siswi gencar mendekatinya, mengintarinya dan mencoba meraba-raba tubuhnya. Sedang para siswa meringis ngeri dan ada beberapa yang malah ingin juga.
"Aah! Jangan!"
"Aaaw! Hentikan!"
"Uhh.. hentikaaan! Hentikaan!"
"Ja-ja-ja—jangan sentuh ituuuuu~"
"Aa—ahh.."
Ia menciptakan suara desah erotis yang ambigu. Para siswi tampak begitu puas sedang para siswa merona malu mendengarnya, cewek-cewek dikelas mereka sungguh brutal.
Bahkan Mingyu yang akan menghampiri pintu kelas Wonwoo mematung menyaksikan hal itu. Ia merona hebat lalu terbirit pergi.
Wonwoo merasa terlecehkan kali ini, sangat terlecehkan. Matanya berair dan ia terisak. Para siswi langsung panik.
"Aah… kalian membuatnya merasakan traumanya lagi." suara Soonyoung terdengar dan satu kelas langsung menatap kearahnya, termasuk Wonwoo yang melirik dari sela jemari yang menutup wajahnya.
"Eh? Trauma apa?"
"Yaah.. gimana ya? hmm… jadi.."
"Tunggu! Kau sudah tau kalau dia wanita?"
Soonyoung mengangguk, lalu melanjutkan aktingnya, "Dulu pernah ada yang menyerangnya, untung sih dia tidak apa-apa, tapi dia jadi trauma karena itu dan mulai berpura-pura dan berdandan seperti cowok."
"Benarkah itu Wonwoo?"
Wonwoo mengangguk, mengikuti akting Soonyoung yang bagus. Ia diam-diam mengirim satu jempol untuk Soonyoung dari bawah meja.
"Oh ya ampun… kami minta maaf, kami tidak tahu…"
Wonwoo mengangguk kecil, "Iya.. tidak apa.."
"Kami minta maaf…"
"Iya, aku maafkan.."
"Baiklah!" Lalu hening untuk sejenak.
"Jadi… selama ini kau lebih suka memakai baju cowok?" Wonwoo mengangguk.
"Pantas saja bajumu selalu kebesaran. Kupikir untuk menutupi kekurusan tubuhmu."
"Aku berpikir… aku ingin melihatmu memakai rok. Pasti kau makin cantik! Bagaimana? Mau mencobanya setelah lama tidak mencoba?"
Wonwoo menggeleng, "Rok sekolah terlalu pendek. Risih." Jawabnya lalu disambut tawa.
"Bagaimana kalau waktu prom nanti?"
"Oh iya juga! Toh terserah mau memakain gaun apa saja!"
Wonwoo menatap mereka bingung. "Prom? Apa?"
"Oh ya, kau tidak masuk kemarin."
"Tidak ada yang memberitahumu? Mingyu? Soonyoung? Atau dua kakak kelas yang cantik itu?" Wonwoo menggeleng.
"Eum.. tidak… belum, mungkin…"
"Jadi, tiga hari lagi, akan diadakan prom night sekaligus pergantian ketua OSIS dan bawahannya. Setelah itu akan ada dansa bersama! Bagaimana? Tertarik untuk sekali saja memakai gaun?"
Wonwoo melongo, bingung untuk menjawab.
"Bagaimana? Bagaimana?" salah satu dari mereka bertanya sambil menaik turunkan alis.
"Eh.. aku tidak tahu.. lagipula.. aku tidak mungkin berdansa…"
"Aah. Pembual. Mingyu pasti mengajakmu beransa." Goda mereka. Wonwoo lalu merona malu.
Merasa tidak ada yang penting untuk dibahas lagi selain pembicaraan antar cewek, para siswa pun memutuskan untuk pulang. Sedang Wonwoo harus mencoba bersabar menghadapi mereka sampai akhirnya Mingyu datang menyelamatkannya.
"Wonwoo-noona.."
Semua pasang mata langsung menatap kearahnya, kemudian terdengar suara siulan dan 'aww sweet'.
"Pangeran datang." Wonwoo tersenyum kikuk, pipinya memanas.
"Apa kalian pacaran?" "Kalau iya, sejak kapan?"
Wonwoo menggeleng, "Kami tidak pacaran, hanya teman."
"Aww.."
"Friendzone?"
"Mungkin belum.."
"Lalu.. apa kau menyukainya?" mendengar pertanyaan itu Wonwoo semakin merasa pipinya memanas. Dengan cepat ia mengambil tasnya dan berdiri.
"Um.. em.. aku pulang dulu… aku…" jawabnya tak enak, tapi ia tak ingin menjawab pertanyaan itu, apalagi dengan Mingyu yang menunggu di balik pintu, ia takut kedengaran jika menjawabnya.
"Aah.. dia malu."
"Ya sudah, kita lebih baik pulang."
"Sampai besok."
"Sampai besok."
"Sampai besok."
Wonwoo lalu keluar dari kelas dan menatap Mingyu yang terlihat melamun. Merasa si pemuda tinggi tak menyadari kehadirannya, Wonwoo mencoba untuk menghancurkan lamunan Mingyu dengan colekan di pipi. Si tinggi segera menoleh dan mendapati Wonwoo nyengir kearahnya.
"Hai." Sapa Wonwoo.
"Ha—hai." Balas Mingyu, entah mengapa Wonwoo merasa melihat rona tipis di pipi pemuda itu.
Wonwoo tersenyum, sedang Mingyu melangkah sekali untuk menjauh dan sedikit gugup, lalu berpaling. Wonwoo melongo melihat hal itu, bingung dengan tingkah Mingyu yang aneh.
"A-ayo pulang." Ajak Mingyu, dibalas anggukan oleh Wonwoo, lalu dengan mengabaikan tatapan beberapa murid, keduanya turun lewat tangga dan melangkah ke ruang loker untuk mengganti sepatu, kemudian seperti biasa pergi ke parkiran untuk mengambil sepeda dan pergi dari wilayah sekolah.
"Tidak ada yang mengolok-olokmu? Atau membully mu?" tanya Mingyu sambil mengayuh pedal.
"Tidak," jawab Wonwoo, ia melingkarkan kedua tangannya di pinggang Mingyu agar tidak jatuh. Tapi ia merasa Mingyu tiba-tiba menegang dan Wonwoo diserang rasa malu karena melakukan hal itu, dengan cepat ia melepaskannya dan berpengangan pada tempat duduk yang ia duduki.
"Pegangan yang benar, nanti jatuh." Ucap Mingyu setelah merilekskan diri.
Wonwoo merona hebat, "A-aku tidak apa. Aku tidak akan jatuh. Te-tenang saja, aku pegangan kok." Gugupnya.
Mingyu bergumam sambil mengangguk, sambil terus mengayuh sepedanya kearah gedung apartement Wonwoo.
"Emm… Mingyu.."
"Apa?"
Jeda sejenak, Wonwoo mencoba berpikir apa yang ingin ia katakan, tapi pada akhirnya ia hanya berucap, "T-tidak apa, tidak jadi." Mingyu meliriknya bingung lalu fokus lagi kejalan. Mereka lalu sampai di depan gedung apartment Wonwoo.
"Terimakasih sudah mengantarku. Maaf aku merepotkanmu." Ucap Wonwoo.
Mingyu terkekeh, "Bukannya aku pernah bilang, apapun untukmu?"
Wonwoo memutar mata, lalu tertawa kecil, "Iya."
"Then?" Mingyu menaikkan alis.
Wonwoo tersenyum, "Sampai besok, selamat malam." Lalu Mingyu membalasnya dengan perkataan yang sama sebelum mengayuh sepeda untuk pulang.
Wonwoo menatap kepergian Mingyu sambil tersenyum lalu masuk ke apartment-nya. Ia memainkan jarinya sambil teringat dengan pembicaraan tadi di sekolah.
"Hmm… Prom Night ya…"
.
.
Maafkan aku karena telat banget buat update. ;)
Aku sebetulnya kurang sreg dengan ch ini. Aku nggak punya ide lagi buat ngebalas si Kana. Aku juga ragu dengan percakapan duo Mingyu-Wonwoo. Rasanya kalau tak baca ulang itu rasanya ada yang kuraaaang banyak banget. Tapi aku gatau dimana dan bagaimana cara memperbaikinya.
Jadi, aku menunggu komen dan kritik kalian :*
Thanks to : Svtbae, Arlequeen Kim, Ketiiiliem, adore96, an 2794, ohsaera, kimxjeon, Rie Chocolatos, XiayuweLiu, RistyBoo, Khasabat04, fvcksoo, geuxx29, jeonjk, kwonhosh, putrifitriana177, 17MissCarat , kookies, wonnderella, sindijulia, exoinmylove, tinkuerbxlle, GameSMl, Cissy, lulu-shi, Atma Venusia, Mrs. EvilGameGyu, redhoeby93, Mirror, Mean-ie, Rise Chan, guest, guest112, Baek Gain, Beanienim, NichanJung, Rahma548, desti, vokaliana tyas, Vioolyt, Ara94, NameHaeLin, equeelusblack, reader, lalapoh, Jjinuu7, haru-chan, ruthlesswolf
Don't forget to Review!
Coffey Milk
A/N : MET PUASA LU KABEH/EYY. SELAMAT MENJALANKAN IBADAH PUASA RAMADHAN 1437 H / 2016 M \(^0^)/
/kecupbasahdarisayasebelumpuasa/ smoooochhh/ mmmuaah! :*
See ya! ^^
