Warning : karakter OOC, ada OC, typo, dan segala macam kesalahan yang terkadang luput dari pandangan Author

Disclaimer : Diabolik Lovers bukanlah milik Author, hanya meminjam karakternya untuk membuat fanfiction ini~


Terlambat Sudah

"Kau tidak sendirian, Yuki. Apapun masalahmu itu masalah kami juga," lanjut Ruki. "Menyelesaikan masalah bersama... itulah keluarga. Benarkan?"

Yuki terdiam. Mulutnya nyaris terbuka lebar karena ucapan Ruki barusan. Ia ingin menyangkalnya, tapi tak ada satu patah kata pun yang keluar dari mulutnya. Karena bagaimanapun juga, kata itu adalah kata yang ia ucapkan dulu ketika mereka masih berada dipanti asuhan. Menggantikan kata yang tidak mau keluar, air matanya keluar tanpa ia sadari. Ia tersadar ketika jari panjang Ruki mengusap sudut matanya, menghapus air matanya.

"Meski kita tak bertemu dalam waktu lama, kau tidak berubah ya," ejek Ruki tersenyum. "Masih suka menangis."

"A-aku tidak menangis!" tukas Yuki malu. "Ma-mataku hanya kemasukan debu. Itu saja."

"Tapi, aku cukup suka melihatmu menangis," ucap Ruki. "Kawaii to omou."

"Mou! Jangan mengusiliku!" seru Yuki tak terima.

xxx

Mungkin karena kata – kata yang diucapkan Ruki kemarin membuat keadaan hati Yuki senang hari ini. Jika teringat hal itu, entah mengapa dadanya yang selama ini terasa sesak bisa bernapas lega seperti dulu. Tentunya ia harus berbuat lebih untuk membalas kebaikan kakaknya itu. Ditengah lamunannya, suara ketukan pintu terdengar. Ia bangkit dari kasurnya menuju pintu dan membukanya. Baik mata dan mulutnya terbuka lebar. Jelas saja karena yang mengetuk pintu kamarnya adalah Yuuma. Sejak ia menceritakan masalahnya, Yuuma selalu menghindar darinya. Menurutnya wajar saja jika itu adalah Yuuma. Maka dari itu, ia menutupi rasa sedihnya itu dengan senyum meski sedikit dipaksakan.

"Doukashita, Yuuma-kun?" tanya Yuki. "Jarang sekali melihatmu mengetuk pintu kamarku. Biasanya, kau langsung masuk begitu saja."

Yuuma hanya terdiam, menunduk melihat kakinya yang menapak lantai. Yuki yang melihat itu hanya menghela napas dan menarik lengan besar Yuuma, menyuruh cowok itu masuk. "Ayo masuk," ajaknya. "Ada yang ingin kau bicarakan denganku, kan?"

Ia tuntun Yuuma menuju kasurnya, membiarkan cowok itu duduk disana. Setelah itu, ia duduk disebelah Yuuma, menunggu cowok itu untuk berbicara. Tapi, waktu terus berjalan tanpa ada yang berbicara apa – apa. Yuki pun mulai lelah dan menghadap Yuuma, menatapnya yang masih menunduk.

"Sebenarnya ada apa, Yuuma-kun?" tanya Yuki. "Kau ingin memarahiku karena tidak menceritakan hal itu padamu? Atau kau ingin memukulku? Ii yo. Aku tidak keberatan. Bagaimanapun juga aku yang sa-?!"

Kalimatnya terhenti dan ia bisa menebak wajahnya saat ini pasti merah sekali. Yuuma mendekatkan wajahnya pada Yuki, menempelkan keningnya sendiri pada adiknya itu. Seketika itu juga Yuki bisa melihat warna cokelat yang selalu ia sukai dari cowok tinggi itu. Ia ingin berkata sesuatu, tapi tenggorokannya terasa kering sekali hingga tak ada satupun kata yang keluar. Akhirnya, ia menunggu Yuuma yang berbicara duluan.

"Yuki," panggil Yuuma pelan.

"A-pa?"

"Kenapa kau selalu bertindak ceroboh seperti ini?" tanya Yuuma. "Kenapa kau selalu membahayakan dirimu sendiri hanya untuk kami berempat?"

"Yuuma-kun..."

"Kau tau sendiri kan, kalau kita semua tidak berhubungan darah meski kita adalah saudara. Kau tidak perlu melakukan hal itu untuk orang yang bukan keluargamu sendiri."

Yuki terdiam. Memang benar. Jika dipikir – pikir, tak akan ada yang mau melakukan hal seperti ini jika bukan untuk keluarganya sendiri. Tapi, ia tak pernah mempunyai keluarga yang sesungguhnya sejak kecil. Ia dibuang oleh orangtua kandungnya dan diperlakukan seperti hewan oleh orangtua asuhnya. Tak pernah ia merasakan kehangatan sebuah keluarga. Tapi, sejak bertemu dengan mereka berempat dipanti asuhan itu, ia mulai merasakan kehangatan itu. Ia selalu berpikir mungkin mereka berempatlah sesuatu yang selalu ia cari selama ini.

Yuki mengangkat kedua tangannya, menyentuh wajah Yuuma. "Memang benar kita semua bukanlah saudara kandung, hanyalah orang lain yang dibesarkan dipanti asuhan yang sama," ucapnya sambil memejamkan matanya.

"Tapi Yuuma-kun, aku sudah terlanjur menanggap kalian semua sebagai keluargaku, kakak kandungku. Aku yang sejak kecil tak pernah mengerti apa itu keluarga merasakannya ketika bersama kalian. Aku bisa melepaskan topengku ketika bersama kalian," lanjut Yuki. "Maka dari itu, menyelamatkan kalian dari tangan Cordelia bukanlah apa – apa sebagai bentuk balas budiku."

"Kau ini... memang adik yang merepotkan," ejek Yuuma pasrah.

"Sudah kubilang, kan. Aku bukanlah adik perempuan yang bisa diatur," timpal Yuki.

Mendadak sebuah gebrakan pintu terdengar, mengagetkan mereka berdua. Kou tiba – tiba muncul sambil menunjukkan jari telunjuknya kearah mereka. "Aaa! Kau curang Yuuma-kun!" serunya nyaring. Ia berjalan cepat dan segera memisahkan Yuki dan Yuuma. Tak lupa juga menyuruh Yuki untuk bersembunyi dibelakang Kou, meski yang bersangkutan tidak tahu mengapa.

"Meski kita bukan saudara kandung, kau tidak boleh dan tidak berhak memonopoli Yu-chan sendirian," lanjut Kou. "Tak akan kuserahkan Yu-chan pada cowok macam Yuuma-kun."

"Hah?! Apa maksudmu, Kou?!" tanya Yuuma kesal.

"Kou... melihat... kalian berdua... berciuman..." jawab Azusa yang berada dipintu kamar Yuki.

Baik Yuki dan Yuuma saling memandang. Detik kemudian wajah mereka berdua memerah yang diikuti dengan dengusan kesal Kou.

"Chi-chigau yo, Kou-kun," elak Yuki. "Ka-kami berdua... tidak... ber-..."

"Ba-baka ka omaera?!" sambung Yuuma. "Mana mungkin aku melakukan hal itu pada Yuki."

"Lalu, apa yang kalian lakukan tadi?" tanya Kou masih tak percaya, menyilangkan kedua tangannya didepan dada. "Asal kalian berdua tahu, aku masih bisa tahu kalian berbohong atau tidak."

"Kau ngajak berantem ya, Kou?" tukas Yuuma, berjalan mendekat kearah Kou.

Yuki hanya menghela napas melihat Kou dan Yuuma yang mulai melempar kata makian. Ia tidak bisa mempercayai bahwa Kou melihat mereka dan salah paham.

"Benarkah... kau tidak... melakukannya... Yu-chan?" tanya Azusa.

Yuki mengangguk mantap. "Tentu saja. Mana mungkin aku melakukannya dengan saudaraku sendiri," jawabnya. "Aku hanya berbicara padanya. Yah, mungkin jika dipikir itu tidak normal karena cukup dekat juga tadi. Tapi, benar kok. Aku tidak mungkin bohong."

"Aku percaya ucapanmu, Yu-chan. Tapi..." ujar Kou tiba – tiba. Ia berjalan cepat kearah Yuki dan memeluknya. Yuki bisa merasakan dirinya merinding ketika sesuatu yang hangat menempel dipipinya. Spontan, ia menjauh dari Kou yang baru saja mencium pipinya.

"Tapi, aku tidak puas kalau belum memastikannya sendiri," sambungnya jahil.

"Aa! Zurui zo, Kou!" seru Yuuma.

Kou tersenyum puas dan kembali memeluk Yuki dengan kencang, menyembunyikan gadis itu dari Yuuma. "Kalau tidak suka, kau bisa melakukannya juga kok, Yuuma-kun~" godanya. "Tapi, kau harus bisa merebut Yu-chan dariku."

Belum sempat Yuuma melontarkan sumpah serapahnya pada Kou, Ruki muncul didepan kamar Yuki. Meski samar – samar, mereka bisa merasakan aura tak mengenakan dari kepala keluarga Mukami itu. Yuki yang melihat kesempatan ini, meski sedikit takut, berlari kearah Ruki dan bersembunyi dibalik punggung cowok itu.

"Bisa kalian jelaskan ada keributan apa ini?" tanya Ruki dengan tatapan tak mengenakan.

Melihat Kou dan Yuuma yang tergagap menjawab pertanyaan Ruki sebenarnya cukup lucu. Tapi, Yuki juga tahu kalau Ruki punya batas kesabaran yang pendek. Maka dari itu, ia menggantikan dua kakaknya itu menjawab pertanyaan Ruki barusan.

"Kou-kun hanya salah paham tentangku dan Yuuma-kun, Ruki nii," jawab Yuki hati – hati. "Karena itu, Kou-kun dan Yuuma-kun sempat berantem."

"Salah paham? Mengenai?"

Kali ini giliran Yuki yang tak bisa menjawabnya. Ia ingin mengatakannya, tapi cukup memalukan baginya hingga wajahnya terasa panas.

"Kou... mengira... Yu-chan dan Yuuma... berciuman..." jawab Azusa.

Mereka bertiga langsung menoleh pada Azusa yang hanya bingung melihat wajah Yuki, Kou, dan Yuuma yang terkejut sekaligus ketakutan. Yuki yang kebetulan berada dibelakang Ruki bisa merasakan aura tak mengenakan semakin keluar. Namun, mendadak menghilang digantikan dengan Ruki yang menoleh pada Yuki.

"Benarkah kau melakukannya Yuki?" tanya Ruki memastikan.

Yuki menggelengkan kepalanya dengan kuat.

"Bagus. Berarti, aku masih punya kesempatan," ujar Ruki.

"Eh? Kesempatan?" tanya Yuki. "Maksu-hmmp?!"

Tak ada yang berbicara. Semuanya hanya tercengang melihat kejadian itu. Bahkan Azusa pun terlihat sangat terkejut melihatnya. Terlebih untuk Yuki yang tak mengira akan begini jadinya. Tidak. Ia tidak mengira Ruki akan melakukan itu padanya. Begitu Ruki melepaskan bibirnya, ia menatap Yuki yang hanya bengong menatapnya. Mendadak, kekuatannya terasa hilang dalam sekejap. Beruntung Ruki cekatan dan segera mendekap tubuh Yuki agar tidak jatuh.

"Ng? Kenapa kalian semua terdiam?" tanya Ruki, menyadari ketiga saudaranya membatu.

"Cu-cu..."

"Cu?"

"Curang!" seru Kou histeris. "Ruki-kun, kau curang!"

xxx

Akibat Ruki yang mencium Yuki tiba – tiba, Kou menjadi lebih protektif terhadap Yuki. Begitu pula dengan Azusa dan Yuuma yang berusaha melindunginya dari Ruki, seolah Ruki adalah binatang buas. Ruki sendiri tidak keberatan. Ia justru terlihat sangat menikmati ekspresi saudara – saudaranya itu. Yang tak terlihat tenang justru Yuki. Ia masih kepikiran akan ciuman Ruki itu. Wajahnya akan kembali terasa panas jika ia mengingat hal itu.

"Kenapa wajahmu merah, Yuki?" tanya Ruki. "Mungkinkah, kau mau aku melakukannya lagi?"

"I-iranai!" tukas Yuki. "Mou, jangan mengusiliku, Ruki nii."

"Aku tak keberatan kok, melakukannya lagi," goda Ruki.

Tak sempat membalas ucapan Ruki, mendadak Yuki mencium aroma aneh. Ia segera menoleh kesekelilingnya dan mendapati si kembar tiga Sakamaki yang anehnya sedang terlihat bersama. Ia mengenali aroma aneh ini.

"Oi Yuki, daijoubu ka?" tanya Yuuma.

"Yu-chan, ada ap-? Yu-chan?"

Tanpa berpikir panjang lebar, Yuki melangkahkan kakinya kearah si kembar tiga berada. Tak mengindahkan hinaan Ayato, Yuki menarik kerah seragam cowok rambut merah itu.

"Yui wa doko?" tanya Yuki tajam.

"Hah? Apa maumu kuso onna?" Ayato kembali bertanya. "Dimana chichinashi berada itu sudah bukan urusanmu lagi."

"Cepat jawab saja pertanyaanku!" seru Yuki. Ia menarik lebih kencang lagi, membuat Ayato mengerang kesal.

"Kenapa kau tertarik sekali Bitch-chan berada dimana?" tanya Raito, mencoba mengambil alih perhatian Yuki yang mendadak seperti orang kerasukan. "Kau sudah bukan siapa – siapanya Bitch-chan, kan?"

"Jangan basa – basi dan jawab pertanyaanku," perintah Yuki tajam. Ia melontarkan tatapan tajam pada Raito yang ada dibelakang Ayato, membuat cowok itu cukup terkejut.

"Dia tidak masuk sekolah," akhirnya Kanato yang menjawab. "Reiji-san bilang kalau dia sedang sakit."

Jawaban Kanato barusan melonggarkan cengkaraman Yuki. Tapi, disaat yang sama raut wajah Yuki semakin kelam. Tanpa berpikir panjang lagi, ia berlari, sekencang yang ia bisa. Panggilan saudara – saudaranya pun tak ia dengarkan. Ia terus berlari menuju mansion Sakamaki meski ia tahu jaraknya cukup jauh dari sekolah.

Kumohon. Semoga aroma yang kucium barusan itu salah, batinnya.

Meski ia berdoa sekuat apa pun, kenyataannya tak bisa terkabul begitu saja. Semerbak aroma yang mengganggu dan mengusiknya selama ini tercium dengan kuat. Ia juga bisa merasakan perasaan yang berbeda ketika menginjakkan kakinya kembali ke mansion Sakamaki. Dengan tubuhnya yang gemetar, ia menguatkan dirinya untuk masuk kedalam, memastikannya sendiri.

Tanpa dipastikan pun, ia sangat mengenali aroma juga sosok angkuh itu.

Ditaman belakang yang sering ia kunjungi dulu, sosok angkuh itu ada disana, bersama dengan seorang pemuda disampingnya. Sosok itu menyadari kehadiran Yuki dan menoleh padanya, memperlihatkan senyuman yang sanggup memberikan mimpi buruk dalam tidur.

"Ah... kelihatannya kita kedatangan tamu, Ricther," ujar sosok itu. "Tamu yang selalu mengangguku."

"Kau benar," sahut pemuda yang bernama Richter. "Haruskah aku menguncinya seperti dulu, Cordelia?"

"Sepertinya, itu tidak perlu," jawab Cordelia. Ia mengulurkan tangannya, seolah menyuruh Yuki untuk datang mendekatinya. "Okaerinasai watashi no itoshii musume, Yuki."


Kawaii to omou : Menurutku manis

Doukashita Yuuma-kun : Ada apa, Yuuma-kun

Chi-chigau yo : Bu-bukan

Ba-baka ka omae ra : Ka-kalian semua bodoh ya

Zurui zo : Curang

Iranai : Tidak butuh

Yuki wa doko da : Dimana Yuki

Okaerinasai watashi no itoshii musume, Yuki : Selamat datang anak kesayanganku, Yuki