Previously, in chapter 25: Akatsuki melakukan serangan balasan terhadap Espada dengan menculik anak angkat Aizen... yang ternyata juga adalah Espada peringkat empat.
.
Past, Present, and Future by Roux Marlet
-AU, OOC, OC, Charas' Death-
Chapter 26: Trust [part I]
.
Tahun 1969—lima tahun yang lalu.
.
"...Kalau mereka tidak mau segitu, lupakan saja. Oke, oke. Apa? Proyek Fukushima minta tambahan dana? Harus berapa kali lagi kubilang—apa? Oh, tidak, tidak lagi. Tidak! Kubilang, tidak!"
Inoue Sora melemparkan gagang telepon itu ke pesawatnya seolah benda itu sesuatu yang paling ingin disingkirkannya dari dunia. Pria berambut cokelat itu menghenyakkan diri di kursi berlengannya seraya mengurut dahi dengan frustrasi.
Kacau.
Orang-orang selalu minta lebih. Memangnya mereka tak pernah mengawasi kenaikan saham dan nilai tukar dolar?
Sekali lagi teleponnya berdering, nyaris membuatnya terlompat dari kursi. Disambarnya gagang telepon seraya berseru ke corong bicara,
"Siapa kau dan apa maumu?!"
Sedetik hening, mungkin orang di seberang sana kaget bukan main. Lalu terdengar jawaban lirih,
"Otoo-san... Aku ingin tahu, apa kau bisa datang ke bunkasai Sabtu besok? Aku... kelasku akan main kabuki."
Menyadari bahwa putrinyalah yang menelepon, Sora melembutkan suaranya. Ia melirik kalender mejanya dan mengeluh.
"Maaf Hime. Jadwalku sangat padat. Maafkan aku."
Seperti biasa, jawaban gadis itu demikian,
"Tak apa, Otoo-san. Maaf sudah mengganggumu. Sampai ketemu di rumah."
.
.
Bagi Inoue Sora, bisnisnya adalah prioritas nomor satu bahkan sejak ia belum menjadi duda sepuluh tahun terakhir. Orihime, putri tunggalnya yang tahun ini berusia tujuh belas, ada di urutan nomor sekian.
Sora bukannya tak peduli pada putrinya. Ia selalu memantau kemajuan belajarnya, memberinya hadiah jika mendapat juara kelas, memotong uang sakunya jika nilainya jelek, membelikannya gaun-gaun indah di hari ulang tahunnya. Apa lagi yang kurang? Sora tahu dirinya sibuk, karena itu ia tak mungkin menjadi tipe ayah yang mengajak anaknya ke kebun binatang atau taman ria di akhir pekan. Namun tiap akhir pekan, ia mengizinkan Orihime mengadakan pesta kebun di rumah mereka. Itu cukup sebagai hiburan bagi remaja, menurutnya.
Bagaimanapun, Sora tak sadar bahwa Orihime kurang mendapat kasih sayang darinya.
Namun saat ia mendengar laporan teman-teman sekelas putrinya tentang hilangnya gadis itu, ia sangat histeris.
.
.
"Inoue Sora sudah merasakan penderitaan."
Pria berambut hitam pendek itu tertawa. Di tangannya ada gelas sake dan tampangnya menunjukkan bahwa ia mabuk berat.
"Kau jadi meminta anak itu dikirim ke luar negeri?" tanya lawan bicaranya yang juga berambut hitam namun lebih panjang dan lurus.
"Ya, ke Taiwan," kekeh pria pertama. "Kau puas, Hashirama?"
"Tentu saja. Ini pembalasan yang pantas untuk Sora."
"Setelah pengalaman traumatis ini, perusahaan Sora akan bangkrut. Dan nama-nama kitalah yang akan berjaya."
"Kau benar seperti biasanya, Isshin."
Kurosaki Isshin menenggak sakenya lebih banyak dan mulai mengoceh lagi.
"Inilah akibatnya; ia begitu serakah."
"Sora memang konglomerat busuk," desis Senju Hashirama. "Maukah kau memberitahuku siapa yang kaupesan untuk menghancurkan hidupnya?"
"Oh, mereka agen internasional," sahut Isshin, cegukan satu kali. "Aku punya kenalan yang punya koneksi ke mereka."
"Bukan yakuza?"
"Oh, bukan. Meskipun pemiliknya memang orang Jepang. Reputasi mereka bagus sekali—hik—sekalipun masih baru."
"Aku sangat ingin tahu," desak Hashirama. Ia belum mabuk—ia tahu lebih bijaksana untuk tetap sadar saat membicarakan hal sepenting ini. Siapa tahu, suatu saat nanti ia membutuhkan orang-orang seperti yang sedang mereka bicarakan ini?
"Nama mereka..." Isshin sengaja berhenti, lalu berbisik dramatis, "Espada."
.
.
"Misaki..." bisik Hashirama pada wanita dalam pelukannya. Keduanya berbaring di ranjang, bergumul dalam selimut.
"Aku tidak mengira punya suami sekeji itu, Hashirama..." tangis wanita itu.
Ya. Senju Hashirama sekarang tahu siapa sebenarnya yang busuk. Kurosaki Isshin!
Isshin-lah yang mengubah audit keuangan perusahaan yang mereka bertiga rintis—ia, Isshin, dan Sora—dan baru setahun yang lalu bangkrut sebelum bisa berkembang. Isshin mengisikinya bahwa Sora-lah yang menggelapkan uang dan ia punya catatan-catatan rekening Inoue Sora yang bisa membuktikan hal itu.
Semua itu bisa saja manipulasi. Isshin punya lebih banyak koneksi dibanding dirinya atau Sora.
Dan dari Kurosaki Misaki, Hashirama bisa tahu bahwa sebetulnya Isshin memiliki dendam pribadi terhadap Sora. Inoue Sora pernah mencurangi Isshin saat mereka mengadakan transaksi dengan pialang saham yang sama, membuat perusahaan Sora meroket duluan. Namun seiring waktu, tampaklah bahwa Isshin lebih handal dan cabang-cabang perusahaannya sekarang berjumlah delapan kali lipat milik Sora. Seharusnya itu sudah merupakan pembalasan yang manis.
Tapi Isshin bukan seorang yang pemaaf; ia tak puas dengan itu. Dan Hashirama diikutsertakan dalam pembalasan ini. Hashirama, yang tak tahu apa-apa dan malah setuju bahwa Sora bersalah. Oke, Sora memang bersalah, tapi tidak pada Hashirama. Dan Hashirama bahkan setuju pada cara Isshin untuk memesan penculik profesional!
Dan sekarang, Inoue Sora harus menanggung dendam masa lalu Isshin. Sekarang, mungkin di detik ini, putri tunggal Sora sedang dilayarkan ke Taiwan.
Misaki pernah mendengar Isshin bergumam pada dirinya sendiri, di ruang kerjanya, lupa mematikan interkom. "Tak ada yang tahu bahwa akulah pengadu dombanya. Sora dan Hashirama! Keduanya orang tolol."
Sesungguhnya dendam tak lain dari sebuah bom waktu. Dipendam dan akan meledak pada waktunya.
Hashirama berhenti mendorong dan menciumi tubuh Misaki. Ia harus melakukan sesuatu.
"Kau ingin menolongku, 'kan, Hashirama?" suara perempuan itu begitu merdu di telinganya. "Kau juga ingin menolong Sora?"
"Tentu saja, Sayang." Hashirama bangkit dan berpakaian. "Aku akan melenyapkan jahanam itu dari muka bumi."
.
.
28 Februari 1969. Kurosaki Isshin ditemukan tewas tersayat-sayat di rumahnya.
Assassin Jepang pesanan Hashirama dari seorang kenalannya itu tak seberapa terkenal, tapi rupanya Espada pesanan Isshin belum bisa melacak jejaknya. Bagus. Ia akan aman untuk sementara waktu.
Inoue Sora telah mendapatkan putrinya kembali hampir tanpa bantuan polisi—yang menakjubkan, dan akan diselidiki Hashirama nantinya—dan seperti dugaan dirinya dan Isshin sebelumnya, hidup mereka tak pernah sama lagi. Ayah dan anak itu pindah ke Amerika, mencoba melupakan trauma yang diakibatkan para Espada.
Inoue Sora, Kurosaki Isshin, dan Senju Hashirama. Ketiga laki-laki yang dulu pernah menjadi sahabat itu telah menemui takdirnya masing-masing. Saling tusuk dan berkhianat. Ikatan di antara mereka musnah sudah.
Siapa yang sesungguhnya paling keji di antara ketiganya, hanya Tuhan yang tahu.
.
.
Kurosaki Misaki, istri Isshin, menangis memilukan berhari-hari setelah kematian suaminya yang tragis. Hashirama tidak tahu betulan atau pura-purakah air mata itu, yang jelas wanita itu tampak tertekan dan hubungannya dengan putra sulungnya, Ichigo, jadi tidak harmonis.
Hashirama Senju sudah pernah beristri saat ia menjalin hubungan dengan Misaki. Tapi ia tak pernah mencintai kekasih gelapnya itu.
Ia menikahi wanita yang betul-betul dicintainya tahun 1963. Kurosaki Isshin dan Inoue Sora menghadiri resepsinya; Sora adalah pendamping prianya.
Mereka baru satu tahun menjalani bahtera rumah tangga ketika kanker menggerogoti rahim sang istri. Istri Hashirama meninggal sebelum mereka sempat memiliki anak.
Sedih karena menduda, Hashirama semakin sibuk dengan pekerjaannya. Toh ia memang tak punya anak. Kadang ia mencari pelarian dari kepenatan bekerja pada Misaki, istri kawannya sendiri.
Namun suatu hari, ada berita mengenai meninggalnya sanaknya, pasangan Uchiha, dan ia terpaksa menjadi ayah wali bagi kedua anak laki-laki Uchiha.
Ia tidak pernah menyukai Fugaku, maka ia tidak berusaha menjadi wali yang baik bagi Itachi dan Sasuke. Ia orang sibuk. Cukuplah datang saat tahun baru dan satu kali lain dalam setahun, toh ia mengirimi mereka uang tiap bulan dan mempekerjakan seorang tua untuk membantu kedua anak itu. Itachi sendiri sebenarnya sudah cukup besar untuk bertanggung jawab.
Satu percekcokan kecil dengan Itachi membuatnya marah besar dan ia jadi tak peduli lagi dengan kakak-beradik itu.
Dan puncaknya, di bulan Maret 1969, hampir sebulan setelah malam naas yang mengubah hidupnya dan dua mantan sahabatnya, terjadi tiga hal berturut-turut:
Pertama, Uchiha Sasuke mengalami kecelakaan; ia tewas tertabrak truk di Maruo.
Seharusnya Hashirama melakukan lebih banyak hal daripada cuma menghadiri pemakaman dan berdoa untuk Sasuke. Itachi pasti sangat kehilangan; ayah, ibu, dan adiknya sudah tiada. Hashirama-lah satu-satunya keluarga yang ia punya sekarang. Tapi gengsi mencegahnya untuk memberi perhatian pada Itachi.
Dan ketidakpeduliannya ini memicu peristiwa yang kedua:
Uchiha Itachi menghilang. Rumahnya ditinggalkan begitu saja, perabotnya tetap utuh, tapi seluruh pakaiannya lenyap dari lemari.
Kepolisian Jepang dimintainya tolong. Tapi mungkin ia terlalu terlambat atau prosedur mereka terlalu kaku; pada akhirnya pencarian itu baru dijadikan berskala nasional setelah dua minggu sejak Hashirama tahu Itachi menghilang.
Tidak sabaran, Hashirama meminta badan intel Negeri Sakura. Bayarannya amat mahal, dan porsi itu seharusnya hanya bisa diminta oleh seseorang berstatus kepala negara atau kepala pemerintahan. Tapi apapun dilakukannya demi menemukan Itachi. Tetap belum ditemukan titik terang.
Hal yang ketiga adalah motifnya mencari sanaknya yang hilang itu. Warisan keluarga Uchiha, yang selama ini dikiranya hanya orang-orang miskin, ternyata disimpan di enam bank internasional dan jumlah seluruhnya jauh di atas total penghasilan Hashirama sejak awal kariernya.
Ia harus memastikan apakah Itachi masih hidup atau sudah mati. Kalau kenyataannya adalah yang pertama, maka ia akan menjadikan anak itu penerus perusahaan. Itachi pasti tidak tahu apa-apa tentang bisnis—yang ia tahu, Itachi hanya lulusan SMA—jadi semua hartanya akan disimpan Hashirama sebagai saham dan pria itu akan membimbing Itachi menapaki jalur pengusaha.
Kalau ternyata anak itu sudah mati... butuh proses hukum yang rumit agar harta Uchiha bisa jadi miliknya dan bukan jatuh ke tangan negara sebagai sumbangan.
Intelijen Jepang tidak menemukannya di manapun bahkan di seluruh Asia—demikian laporan mereka.
Tapi Hashirama belum puas; kalau Itachi memang sudah mati, ia perlu bukti dengan menemukan mayatnya.
Dan saat itulah dirinya mulai mendapat teror.
Bukan sekadar surat kaleng murahan.
Penerornya tidak main-main. Ia pernah hampir mati tertimpa beton bangunan di suatu proyek sipil. Obat maagnya ditukar dengan obat lain dan membuatnya muntah dahsyat hingga dehidrasi dan harus diopname satu minggu.
Ia menyewa orang untuk mencari tahu siapa pelaku teror itu, tapi tidak memperoleh jawaban. Sampai suatu hari, ia mendapati foto-foto lama dirinya bersama Isshin dan Sora dikeluarkan dari laci terkunci dan ditandai.
Wajah Isshin diburamkan dengan tinta merah. Wajah Sora diberi tanda silang merah.
Dan wajahnya... diberi lingkaran, merah juga.
Lingkaran merah...
...target selanjutnya?
Hashirama langsung menyadari bahwa dirinya sedang berhadapan dengan Espada. Espada yang itu.
.
Madrid, Oktober 1974—sebulan yang lalu.
.
"Itachi sudah berhasil menyembunyikan ouken," ujar Pain pada istrinya.
"Kau pasti punya maksud tertentu dengan cara ini, Nagato," sahut Konan.
"Kau sangat mengenalku, Konan," jawab Pain, tersenyum kecil. "Mau menebak?"
Konan bergumam sembari menyandarkan kepalanya ke dada Pain, "Menguji kredibilitas mereka sekali lagi?"
"Tepat sekali." Pain mengecup puncak kepala wanita itu.
Mereka hanya berdua di dalam kamar sebuah penginapan.
"Selain itu," bisik Pain di telinga Konan, "aku takut mereka mengincar ouken juga."
.
.
Akatsuki dibentuk bukan tanpa tujuan. Mereka memang organisasi tanpa-markas; kelompok pencuri dan pedagang barang ilegal yang, uniknya, berkeliling dunia. Dari luar, mereka hanya tampak seperti sepuluh orang pengelana dalam karavan; tapi di balik itu, ada sistem dan orang-orang yang tak terhitung banyaknya di dataran Asia dan Eropa yang bekerja di bawah perintah langsung Pain. Selain itu...
"...Kita menekankan loyalitas dan kesetiakawanan. Kita berkeliling dunia, hidup dan berbagi pengalaman bersama, dan di akhir tahun ketujuh nanti kita sudah akan kaya-raya dan akan memimpin perusahaan tekstil dengan modal sendiri. Kau dan aku, Konan. Seperti janjiku. Kita berdua akan tinggal di tepi danau dengan dua anak. Dan kedelapan kawan kita akan memilih: tetap menjadi bawahan kita atau melanjutkan jalan hidup mereka masing-masing."
Akatsuki memang pencuri. Tapi apakah salah, mencuri barang yang dicuri? Mereka juga pedagang—ini mempertajam insting bisnis mereka, karena di zaman ini wirausaha sedang populer. Akan halnya barang dagangan mereka... Akatsuki selalu menjual kembali barang hasil curian. Menjual senjata-senjata ilegal dan narkoba—hal ini jelas termasuk pelanggaran hukum di negara manapun—adalah strategi Pain untuk memperoleh banyak koneksi baik yang bersih maupun kotor. Karena, bila tiba saatnya nanti, ketika mereka menempuh jalan bisnis yang serius sebagai warganegara yang bersih, mereka akan perlu juga pegangan pada dunia yang gelap itu—agar orang-orang kotor itu tak berani mengganggu Akatsuki, dan jalan mereka menuju kesuksesan tidak akan terhalang.
Pain sendiri sebetulnya agak was-was melibatkan narkoba dalam strateginya—ini terjadi setelah Deidara direkrut, karena pecinta peledak itu punya banyak kenalan yang menggeluti bidang itu. Akhirnya Pain memasukkan benda-benda terlarang itu dalam daftar dagangannya, dengan catatan keras, Tidak boleh ada anggota Akatsuki yang mengonsumsi benda itu. Dengan begini, Akatsuki hanya akan menjadi pengedar—setidaknya, kerugiannya tidak akan sebesar pada pecandu, demikian menurut Pain.
Yang dia maksud adalah kerugian pada pribadi seseorang. Dia tahu sekejam apa hukuman bagi pengedar narkoba bahkan di tanah airnya sendiri. Tapi, itu 'kan kalau sampai tertangkap. Masih ada peluang, meski kecil, untuk melarikan diri.
Sedangkan, kalau jadi pecandu... ke mana lagi kau bisa lari?
.
.
Hidup di Gurun Sahara cukup berat; hawa panas tak terkira jauh melebihi suhu ekstrem musim panas terpanas di Jepang. Suatu saat, Akatsuki kehabisan persediaan air.
Tobi yang terakhir bertugas mengisi drum-drum air sewaktu tiba di oasis hari sebelumnya. Ia ingat sudah mengisinya sampai penuh; tapi drum-drum itu hanya terisi air dua sentimeter dari dasarnya sekarang.
"Seseorang—atau lebih—menimbun air untuk dirinya sendiri," demikian Pain berkata.
Lalu Hidan berseru kepada yang lain, "Siapa?! Mengakulah sekarang, keparat!"
Kedua isi karavan ribut karena masing-masing merasa tidak mungkin ada yang melakukan hal seegois itu. Tapi kenyataannya, drum-drum itu kosong.
Di sela keributan itu, Pain mengisiki Tobi,
"Aku tahu kau tidak melalaikan tugasmu, Tobi... Tapi, maukah kau pura-pura saja mengaku bahwa kemarin kau lupa mengisinya sampai penuh?"
Tobi ragu sejenak sebelum akhirnya berkata, "Kalau tidak begitu, sepertinya suasana akan jadi sulit. Begitu, Senpai?"
Pain mengiyakan.
Dan begitu Tobi mengaku, suasana jadi tenang lagi. Tidak ada yang menyalahkan Tobi, semua memaklumi si yunior.
Ternyata Pain sendiri yang membuang air—dia sudah tahu mereka akan menemukan oasis yang lain hari itu, dan tidak terjadi kelangkaan air bersih.
Tanpa diketahui siapapun, Pain melakukan semua itu; dan dia mencatat hal ini dalam bukunya.
Berbagai percekcokan dan masalah-masalah kecil mewarnai kehidupan Akatsuki di Gurun Sahara sepanjang tahun 1973—dan selalu saja ada yang berhasil menengahi. Jalan keluar ditemukan. Kerukunan mereka semakin terbangun tanpa disadari, dan Pain puas akan hasil kerjanya—memanipulasi di sana-sini dan menciptakan soal ujian tanpa disadari yang lain, lalu mendapatkan yang dia mau: karakter.
Seperti apa hasil ujiannya itu?
Itachi patuh pada perintah namun tidak menerimanya mentah-mentah; dia seorang yang kritis.
Sasori selalu ingin tahu dan tidak puas sampai ia mendapat penjelasan mendetail akan segala sesuatu. Tapi begitu diberi kepercayaan, dia akan menjalankannya.
Hidan setia pada organisasi, antara lain karena dia penganut sekte yang taat; sebetulnya simpatik di balik kejamnya perkataannya.
Tobi... hanya kata 'penurut' yang bisa digambarkan tentang anak itu.
Zetsu agak kurang sabaran tapi selalu mau bertanggung jawab. Ingatannya bagus.
Kisame setia kawan dan mau berjuang bersama-sama, simpatik, tapi agak pengecut.
Kakuzu penuh pertimbangan, berwawasan ke depan meskipun uang adalah segalanya bagi dia.
Deidara sensitif dan arogan... tekun adalah satu-satunya sifatnya yang baik. Nilai ujiannya dalam hal ini adalah yang terendah.
Kesetiaan sejati tidak bisa dibeli; Pain tahu itu. Yang bisa dia lakukan sekarang hanyalah memberi kepercayaan yang adil pada semua anggota Akatsuki—waktu akan membuktikan, siapa saja yang pantas dan siapa yang tidak pantas mendapat kepercayaan Pain.
Dan tentang ouken ini... Pain tidak tahu apakah Espada memang mengincar benda ini. Dia hanya punya sedikit waktu untuk berpikir dan pilihannya hanya dua: Itachi atau Sasori, dua orang yang menurut hasil ujian-ujiannya di Sahara meraih nilai tertinggi. Keduanya tidak akan merugikan Pain; Pain tahu itu dan dia sangat yakin.
Saat itu Pain memutuskan untuk memercayai Itachi mengenai ouken. Bukannya ia kurang percaya pada Sasori; Pain akan menyimpan kepercayaannya pada bawahannya yang pandai hipnotis itu pada kesempatan yang lain.
.
"Baiklah, Pain. Kalau seperti itu alasannya, aku akan melakukannya," Itachi berkata dengan tegas.
Mereka masih berada di Maroko di Benua Afrika; kesembilan Akatsuki meninggalkan Itachi sendirian di kota itu untuk mendapatkan ouken.
.
Siang itu, 9 Oktober. Itachi sudah menempatkan ouken di suatu tempat, dan ia hanya menunjukkan kotak ouken yang sebetulnya kosong pada Kisame. Pain menyimpan kotak kosong itu di laci bersama peledak-peledak Deidara; dikuncinya laci itu dan diselipkannya kuncinya di sepatunya yang agak apak. Tempat terjitu untuk menyimpan kunci!
Setelah rapat di karavan besar yang membahas rencana perdagangan mereka untuk malam itu, Pain dan Konan berdiskusi di kursi pengemudi sementara yang lain sibuk mengangkuti beberapa barang ke luar karavan.
"Setelah ini kita akan tetap pada rencana semula, bukan?" ujar Konan.
"Ya, tentu saja," sahut Pain, tangannya bergerak untuk membelai bahu sang istri.
Mendadak, Pain terpaku.
"Ada apa?" Konan menoleh ke arah pandangan Pain. Ia tak melihat sesuatu yang janggal; hanya pepohonan dan beberapa ekor burung.
"Kami-sama," desah Pain, "mereka ada di sini."
Konan menatap suaminya, cemas. "Espada?" mulutnya bergerak tanpa suara.
Pain mengangguk.
"Kau yakin, Pain?"
"Kuharap firasatku salah. Aku harus bicara dengan Itachi."
.
.
Pencuri itu mengambil peledak di malam hari. Mungkin saat Akatsuki berdagang. Kapan lagi karavan besar bisa kosong? Tapi kalau benar begitu, artinya pencuri itu melakukannya tepat di depan hidung Kisame dan Itachi, yang waktu itu duduk persis menghadap karavan besar.
Letak lemari itu sendiri ada di pojok gudang, dan tidak ada yang memerhatikannya sekalipun dengan sengaja menjengukkan kepala ke dalam ruangan itu. Deidara saja yang, keesokan paginya, ingin mengecek peledaknya sehingga fokusnya langsung terpusat pada lemari itu.
Bisa jadi, pelakunya adalah salah satu calon pembeli? Lumayan banyak orang yang berkeliaran di pasar gelap mereka malam itu.
Dan kebetulan... ada empat orang yang mengenakan pakaian putih saat itu. Keempat perempuan yang menghampiri dagangan Itachi dan Kisame. Itachi jadi teringat akan organisasi yang diperingatkan oleh Pain kepadanya.
Pada kesempatan berikutnya, Itachi menemukan dua dari empat wanita itu. Intuisi Itachi sembilan puluh lima persen akurat, dan dari hasil observasinya selama sehari, si Peramal menyimpulkan bahwa wanita-wanita itu memang pencuri dalam arti yang lain—kleptomaniak permata. Selain itu, menurutnya mereka berhubungan dengan Espada... Inilah arti pesannya dalam telegram, 'Sepuluh-dua-positif', kedua wanita itu berhubungan dengan Espada.
Karena Itachi sendiri yang 'mencuri' ouken, tugasnya sebenarnya hanyalah memastikan apakah wanita-wanita itu yang mencuri peledak Deidara atau bukan. Dan saat ia menyimpulkan 'bukan'... Ia merasa tidak tenang. Menurut intuisinya, 'bukan', tapi entah kenapa ia jadi meragukan intuisi itu.
Ouken sudah dijual, Akatsuki mendapat uang, mereka pergi ke Zaragoza dan bersantai untuk sesaat. Bahkan Itachi mendapat jackpot di rumah judi. Dalam dua hari mereka akan berangkat ke Perancis. Kelihatannya tidak ada masalah.
Tapi masalah hadir di malam pertama mereka di Zaragoza. Itachi mendapat penglihatan tentang terbunuhnya Pain dan guillotine yang mengerikan; dan malam itu Tobi, Sasori, Zetsu, serta Deidara nyaris tertangkap polisi di bar—jika bukan karena bantuan Señor Esteban, yang belakangan mereka ketahui adalah Espada yang menyamar.
Hari berikutnya mereka sudah berangkat ke Perancis—di perjalanan, Itachi mendapat visi sekali lagi tentang mansion mewah dekat menara Eiffell.
Beberapa hari kemudian terjadi kekacauan di pegunungan Pyrenees—Espada mengejar mereka. Itachi, Deidara, dan Zetsu terpisah dari yang lain; Kisame tewas di sana; dan baru-baru ini Deidara mengaku bahwa dirinya adalah agen Alessandro Del Soccachio. Yang terakhir ini menjelaskan banyak hal tentang hilangnya peledak-peledak itu—tapi belum ada kejelasan tentang siapa yang mencurinya.
Itachi tahu Deidara sudah mengaku pada Pain mengenai statusnya sebagai agen Del Soccachio. Tapi apa yang Pain peroleh dari pengakuan itu selain rasa sakit hati akibat ketidakjujuran Deidara? Sepertinya ia juga belum bisa menemukan siapa pencuri peledak.
Dan pada kenyataannya, Pain memang belum tahu. Untuk sementara ini, fokus mereka diarahkan pada serangan balasan terhadap Espada—Deidara diberinya tugas merakit peledak sebanyak mungkin, dan menelusuri apakah masih ada peledak Del Soccachio yang menjadi haknya. Pain akan mengurus Deidara nanti. Ternyata ujian-ujiannya beberapa tahun silam di Gurun Sahara memang menunjukkan kenyataan.
Andai saja Pain bukan seorang yang amat sangat pengampun, mungkin saja Deidara sudah dicekiknya sampai mati begitu dia mengaku!
Pain tahu orang-orang seperti Deidara ini. Kolektor fanatik yang akan melakukan apa saja termasuk pelanggaran hukum demi memuaskan keinginannya akan benda koleksi. Di balik itu, sebenarnya, ada rasa kesepian dalam diri orang itu; cintanya akan benda koleksi melebihi rasa sayangnya terhadap orang-orang di sekitarnya, dan inilah yang menjauhkannya dari kasih sayang orang lain. Deidara juga seperti itu. Terlebih setelah kakeknya, yang adalah satu-satunya keluarga yang tersisa, meninggal. Deidara mencari pelarian pada Del Soccachio—memuaskan obsesinya akan peledak. Meskipun, hubungan mereka hanya sebatas bisnis saja.
Tapi di Akatsuki, Deidara menemukan orang-orang yang mau menerimanya—dan menyayanginya seperti saudara. Saat mengatakan ini, Pain yakin Deidara lebih berbicara tentang Tobi. Hasil ujian Pain mengenai Tobi juga terbukti benar, dalam kasus ouken ini.
Banyak hal membebani pikiran Pain sejak Akatsuki tiba di Spanyol... Dan selain Deidara, ia mencemaskan satu orang lagi, yang nilai ujiannya kedua terendah... yang juga mulai menunjukkan tanda-tanda mencurigakan seperti Deidara sejak di Madrid.
Di samping itu, ia merasa bahwa kematian Kisame sangat janggal—meskipun ia memercayai Itachi, mayat yang hangus bisa saja dipalsu. Pain merasa ada kemungkinan bahwa Kisame masih hidup, dan, kalau benar demikian... dia berada dalam tangan Espada.
.
Chicago, Illinois, 7 November 1974. Dua minggu yang lalu.
.
"Lelucon yang sama sekali tidak lucu."
Sudah lama sekali Orihime tidak melihat emosi bagaikan gunung berapi yang siap meletus itu di wajah ayahnya.
"Maafkan aku, Inoue-san," tutur Ichigo sembari menunduk dalam-dalam di hadapan ayah Orihime. "Aku tidak berpikir jernih."
"Jelas!" bentak Inoue Sora. "Kau bisa masuk penjara gara-gara ulahmu!"
.
.
"Aku putus asa, Orihime-san. Aku terpaksa melakukannya. Kupikir—yah, kupikir, kau tahu sesuatu tentang ayahmu."
Orihime memandangi pemuda di hadapannya dengan rasa kasihan bercampur kesal. Kekanak-kanakan sekali tindakannya ini! Ichigo bahkan menulis surat kaleng pada ayah Orihime, menyampaikan bahwa telah terjadi penculikan atas dirinya—lagi.
Tapi, ya... Orihime belum pernah sedetik pun memikirkan bagaimana rasanya menjadi Kurosaki Ichigo. Anak laki-laki yang kehilangan sosok ayah sebagai figur yang dipanutinya... lalu kehilangan juga ibunya. Kurosaki Masaki baru saja meninggal tahun lalu setelah depresi berkepanjangan.
Ichigo tahu kasus penculikan Orihime lima tahun silam; tapi siapapun yang ditanyainya tidak ada yang bisa menjawab. Orang-orang tidak mau membicarakannya. Seolah topik mengenai Orihime najis untuk dibicarakan.
Pemuda itu menjalani hidup yang tak terarah; dia memang masuk sekolah bisnis dan dia punya dua adik perempuan yang masih anak-anak, tapi jiwanya hilang dari rumah. Kurosaki Karin dan Kurosaki Yuzu merasa tidak mengenali kakak mereka lagi, yang belajar dan kuliah di luar rumah sampai malam dan tidak pernah memasak lagi. Ichigo selalu membeli makanan cepat saji dan komik dan beberapa hiburan menyenangkan bagi kedua adiknya, tapi seiring dewasanya mereka hiburan itu jadi tidak ada artinya kalau Ichigo jarang berada di rumah.
Kasus Orihime terjadi di hari yang sama dengan pembunuhan ayah Ichigo. Pemuda itu tak bisa tidak berpikir bahwa keduanya saling berhubungan—ia menyewa orang untuk menyelidiki, dan mendapati seseorang memang memesan pembunuh bayaran untuk membunuh Kurosaki Isshin waktu itu. Dan Ichigo akhirnya tahu bahwa Isshin-lah yang membuat Orihime diculik. Ayah macam apa dia itu!
Tapi Ichigo tidak berhasil mengetahui siapa pemesan assassin yang menghabisi ayahnya yang keji itu. Dari motifnya, mestinya orang itu punya hubungan dengan Isshin—atau hubungan dengan Orihime—atau keduanya.
Dan Ichigo memikirkan Inoue Sora, ayah Orihime, yang memenuhi kedua syarat itu. Yang membuatnya melakukan kenekatan seperti ini.
Tapi Orihime sendiri tahu ayahnya bukanlah orang yang dicari Ichigo—apalagi mereka berurusan dengan interpol sejak hari itu. Orang lain-lah yang telah memberi perintah untuk membunuh Kurosaki Isshin—
—tapi, siapa? Dan dengan alasan apa, kalau bukan untuk menyelamatkan Orihime?
"Maukah kau membantuku, Inoue-san?"
Ichigo menatap Orihime tepat di matanya. Sebenci apapun Ichigo terhadap ayahnya yang laknat, anak tetaplah anak. Hidupnya tidak akan tenang sebelum tahu kebenaran yang sebenarnya.
Orihime menyahut dengan tegas,
"Aku akan membantumu, kalau kau juga membantuku, Kurosaki-kun. Hal pertama yang harus kau pikirkan, alasan apa yang akan kau sampaikan pada ayahku tentang kejadian hari ini."
Ichigo merenung sejenak, tampak murung dan menyedihkan. Tapi pemuda itu lalu mengangkat kepala dan berkata,
"Aku sudah tahu banyak hal tentang Espada, Inoue-san. Orang-orang yang dipesan ayahku untuk menculikmu..."
.
[Present time]
.
"Luppi Antenor!"
Teriakan itu terdengar bersamaan dengan satu peluru yang ditembakkan Cero Espada pada sang Ketua Akatsuki.
Pain tidak sempat menghindar.
Kakuzu langsung memberondong Yammy dengan peluru dari senapan semiotomatis yang dipegangnya. Espada bertubuh besar itu menghindar ke balik properti-properti studio.
Sementara itu, Itachi dan Zetsu membantu Pain berdiri. Si Ketua baik-baik saja—ia memang telah mempersiapkan diri dengan rompi antipeluru. Untung Yammy tidak menembak kepalanya.
"Dia Espada yang menyerang karavan kecil dahulu," ujar Zetsu menjelaskan.
Itachi mengepalkan tangannya. Dia juga ingat; orang ini yang membuat Kisame tertahan di karavan kecil... yang akhirnya meledak itu.
Jadi benar, seorang Espada sudah dikirim dari markas besar.
Tapi Akatsuki memegang kendali di sini. Deidara telah memasang beberapa peledak di pintu masuk markas Espada di Madrid dan ia memegang detonatornya. Lagipula Ulquiorra masih terikat di sini, terluka dan tak berdaya.
.
.
"Itu bagian dari karakternya, Zetsu. Dedikasinya pada Aizen. Kalau dia hidup di zaman dulu, dia pasti rela diumpankan pada singa lapar demi Aizen."
"Tidak ada lagikah kelemahan atau kelebihannya yang bisa kita manfaatkan?"
Untuk waktu yang cukup lama, mereka semua hanya diam.
"Pain... mengenai yang diutus dari markas Espada ke sini," gumam Itachi.
Sang Ketua mengangguk. "Aizen sudah tahu rencana kita. Yang aku heran adalah bagaimana caranya dia bisa menyampaikan perintah ke markas. Sinyal komunikasinya 'kan kita sadap di tengah jalan."
"Mungkin ada hal lain yang membuat mereka bisa tahu?" komentar Zetsu.
"Orochimaru atau siapapun di kapal pesiar, bagaimana?" tanya Kakuzu.
"Menurut Juugo, Aizen tidak terlihat panik," sahut Pain. "Orochimaru dan Kimimaro tidak menyampaikan apapun. Juugo melihat Orochimaru malah bermain bridge dengan Aizen dan beberapa orang lain."
"Apa-apaan itu?" sembur Hidan.
"Orochimaru menanyai Aizen tentang Ulquiorra karena mereka tidak melihatnya lagi setelah makan malam... dan dia berkilah tentang masa sulit yang dihadapi anak muda. Dia curhat pada semua orang bahwa, meski tidak kelihatan, ia dan Ulquiorra sedang berselisih paham."
"Orochimaru pasti tertawa," sindir Hidan. "Aku yakin orang-orang akan pura-pura bersimpati padanya."
"Yang jelas, Aizen sendiri tidak melakukan apa-apa," gumam Pain, tidak membagikan informasi setelahnya yakni tentang Aizen yang ditanyai dengan canggung mengenai tiadanya sosok seorang istri oleh salah satu tamu. "Jadi kenapa mereka bergerak? Dan kau bilang tadi, Itachi, hanya satu sepeda motor?"
Itachi mengiyakan. "Bisa satu atau dua orang. Motor itu berangkat ketika aku dan Deidara masih di sana." Kedua Akatsuki itu berpindah dari Madrid ke Valencia menggunakan helikopter pribadi milik Orochimaru, makanya mereka duluan yang sampai.
"Kalau orang itu ngebut sekalipun, ia akan tiba paling cepat siang nanti, un," imbuh Deidara.
Ya. Mereka memang menipu Ulquiorra soal waktu dan tempat. Karavan Akatsuki hanya berputar-putar dalam studio film itu, yang dibuat terang sepanjang saat. Ketika Ulquiorra siuman pertama kali dan dikiranya hari sudah pagi, sebetulnya itu adalah subuh sebelum pesta kapal pesiar berakhir. Saat matahari benar-benar terbit nanti, barulah mereka akan mengeluarkan Ulquiorra lagi. Dan tipuan mengenai berondongan peluru di luar karavan itu sebenarnya dilakukan oleh Ukon yang mengendarai sepeda motor di dalam studio, berpura-pura menghadirkan tokoh sniper Espada tak dikenal yang mengejar grup karavan kecil di insiden malam Hallowe'en yang sudah berlalu. Dengan begitu Ulquiorra mengira bantuan untuk dirinya sudah datang. Perkiraan Pain tepat sekali, bahwa manipulasi lewat suara adalah jebakan paling efektif terhadap si Cuatro Espada.
Aizen sendiri tidak bertindak dan sepertinya dia sendiri yang membawa kunci mobil sehingga dia bisa pulang sendiri—ke rumahnya yang entah di mana.
"Jadi kita harus siap untuk serangan dari satu atau dua orang," simpul Pain. "Kemungkinan besar, yang diutus adalah Espada, dengan peringkat yang lebih tinggi dari Ulquiorra."
"Dan dia—atau mereka—ke sini untuk...?" Zetsu memberi jeda, "...membebaskan Ulquiorra? Atau?"
"Serangan balasan?" gumam Hidan.
Konyol sekali. Akatsuki-lah yang menyerang balik di sini.
"Satu orang. Artinya, dia mungkin akan langsung menarget... Ketua..." gumam Kakuzu, melirik Pain dengan cemas.
"Hal itu akan kuurus nanti. Sekarang kita kembali ke pembicaraan kita sebelumnya. Apa yang akan kita lakukan pada Ulquiorra?"
Kalau Akatsuki terlalu lama menahan Ulquiorra di sini, bisa jadi malah polisi yang datang pada mereka dengan tuduhan penculikan anak pengusaha kaya...
Akatsuki tidak tahu bahwa tim litbang Las Noches selalu memantau alat pelacak pada sonido siapapun yang pergi; hal ini penting dilakukan untuk berjaga-jaga, karena ada kasus seperti Starrk yang pernah ketiduran di kereta api dan tidak turun di stasiun yang seharusnya, atau Harribel yang pernah mengambil cuti liburan ke Baghdad dan tersasar saking miripnya bangunan yang satu dengan yang lain.
Pada tanggal 21 November, yang pergi hanya Aizen dan Ulquiorra. Sonido tetap bisa dilacak keberadaannya meski sinyal komunikasinya dikacau, dan orang-orang Las Noches langsung menyadari keanehan ketika sonido Ulquiorra terpisah dari milik Aizen dan untuk beberapa saat hanya berputar-putar di sebelah rumah Orochimaru di Valencia.
Yammy-lah yang pertama kali berinisiatif untuk pergi. Jelas dia merasa sebagai yang paling bertanggungjawab ketika Aizen tidak ada di markas.
.
.
"Aku memasang bom di tempat ini." Terdengar suara Yammy dari balik miniatur bangunan. "Lepaskan Murcielago dan aku akan menonaktifkannya."
Pain tertawa. "Deidara, kau tahu tugasmu."
"Ya, un." Pria berambut pirang itu mengeluarkan transistor kecil dan mulai bekerja.
"Mana Tuan Aizen?" seru Pain. "Dia tidak berani menghadapi Akatsuki?"
"Oh, menurutnya dia tidak perlu terlibat dalam perang yang sudah pasti dimenangkan olehnya," sahut Yammy seenaknya.
"Dari mana kau bisa tahu apa pendapatnya?" tantang Hidan sok, seolah mereka mengerti bagaimana caranya bisa ada Espada yang diutus ke sini padahal tidak.
"Oh, tentu saja aku tahu. Aku Cero Espada," jawab Yammy.
Suaranya semakin dekat dan tiba-tiba ia melompat maju; tapi ia dihadang Hidemaru, Sakon, dan Ukon, informan-informan Akatsuki yang juga jago bela diri.
"Senang bisa melihatmu, Murcielago," sapa Yammy santai sembari mengeluarkan jurus-jurus pada tiga orang sekaligus menghindari tembakan-tembakan Kakuzu. "Atau kupanggil saja namamu yang sesungguhnya? Toh mestinya para Akatsuki busuk ini sudah tahu."
"Jangan banyak bicara!" sergah Hidan saat Sakon jatuh terkapar dan tidak bisa bangun lagi, entah apa yang barusan dilakukan Yammy terhadapnya. Kenapa orang ini bisa tahu banyak hal?
"Tidak ada bom di manapun, un!" Deidara berseru dari dekat pintu.
Seseorang menerjang Deidara sampai terjatuh, lalu secepat kilat kelebatan orang itu berpindah ke balik kotak lalu menyerang Itachi sebelum Kakuzu sempat menembakinya. Kedengaran desingan lebih dari satu pedang dan seruan si Peramal yang terkejut.
Pain mengumpat keras. "Orang ini... dia membawa fraccion!"
.
.
Ulquiorra merasa kebas. Berusaha keras mempertahankan kesadarannya, hanya beberapa percakapan yang dapat ditangkap pendengarannya. Meski tubuhnya terikat di meja, Cuatro Espada itu merasa seperti melayang. Pendarahan di kakinya pasti sudah parah sekali.
Sejak kapan Yammy ada di tempat ini? Apa yang sudah dilakukan Akatsuki selama dia—ketiduran?
Lemas sekali... rasanya akan lebih menyenangkan kalau dia tidur saja, dan berharap semua ini akan beres ketika dia bangun nanti.
Ulquiorra menggigit bagian bawah bibirnya dan mengerjapkan mata berulang kali. Dia tidak boleh pingsan sekarang. Tidak setelah Yammy ada di sini. Dia bisa mendengar pertarungan-pertarungan sengit terjadi di sekitarnya. Ini kesempatan besarnya untuk kabur!
Tapi kali itu kedua netranya tidak bisa diajak kerja sama; kelopak penglihatannya selalu ingin menutup rapat seberapapun inginnya si pemilik untuk membuatnya terbuka.
Sudah tinggal seperempat sadar, Ulquiorra tahu dirinya didorong menuju ke luar gedung.
Dan tiba-tiba terdengar ledakan superkeras, yang akhirnya membuat mata Ulquiorra terbelalak lebar. Kaget; jelas bahwa suara apapun menjadi lebih keras di telinganya yang peka, dan Ulquiorra berjengit sedikit ketika dia tidak bisa menahan suara itu masuk ke indera pendengarannya lantaran tangannya terbelenggu.
Sesuatu di sisi kirinya terbakar—sebuah truk.
Sekali lagi terdengar ledakan meski kecil, dan seorang laki-laki menjerit.
Apa yang bisa dilihat Ulquiorra dari sudut matanya sekarang adalah, Zetsu dan Pain yang membawa meja ini bergeming menatap sesuatu. Yammy ada di seberangnya...
.
.
Pain dan Zetsu sudah di luar gedung bersama Ulquiorra, tidak jadi masuk ke truk milik Orochimaru karena kendaraan itu baru saja diledakkan Yammy—Deidara tidak tahu bahwa ada bom di luar gedung.
Mereka bisa saja memilih kendaraan yang lain, tapi tidak ada waktu untuk itu karena...
...Yammy menahan Kakuzu dengan pedang pendek—katana—melintang di leher si Bendahara. Senapan semiotomatisnya tergeletak dalam kondisi hangus, larasnya telah dipuntir oleh si Espada sehingga pelurunya meledak di dalam. Luka bakar di tangan tidak bisa dihindari baik oleh Yammy maupun Kakuzu, namun yang disebut lebih dahulu sama sekali tidak terpengaruh.
"Lepaskan Ulquiorra," ujar Yammy dengan dingin sambil bergerak ke dinding, mencegah siapapun yang masih di dalam untuk menyerangnya dari belakang.
Dan di sisi Yammy, seorang remaja laki-laki dengan pakaian sejenis menyiagakan katana-nya.
Trik itu sangat konvensional, dan di saat seperti ini hal itu sangat tidak adil! Akatsuki sudah melangkah sebegini jauh dan harus mengalah pada sandera-menyandera?
Hidemaru, tanpa diduga, menerjang Yammy dari samping. Tapi remaja laki-laki itu dalam sekejap menyerangnya duluan sehingga si informan terjengkang dan pingsan.
Ujung katana Yammy menusuk leher Kakuzu, dan darah mulai menetes dari bawah cadarnya. Mencegah siapapun untuk menyerang pihak berbaju putih.
"Kalian tahu aku seorang assassin. Dan bagiku nyawa orang ini tidak ada artinya," Yammy mengancam.
"Lalu kenapa nyawa Ulquiorra ada artinya bagimu?!" Pain membalik perkataannya.
Situasi ini gawat sekali! Fraccion Yammy itu jago main pedang dengan dua tangan, dan tubuhnya yang kecil sangat mendukung kelincahannya. Atau jangan-jangan, anak laki-laki berambut kepang itu juga salah satu Espada? Yammy sendiri sepertinya cerdas di samping kuat. Akatsuki juga belum tahu nama keduanya. Yang jelas, kedua orang itu yang memegang kendali sekarang.
"Kalian sudah tahu!" Yammy berseru. "Nyawanya berharga karena ia putra Tuan Aizen."
Dari sudut matanya, Ulquiorra bisa melihat bahwa Yammy serius dengan ucapannya. Dia tidak sedang bersandiwara. Jadi dia sudah tahu.
"... Nyawa Kakuzu berharga karena ia adalah kawan kami," ujar Zetsu tanpa berpikir, dan ia sendiri terkejut karena mengatakannya.
Bukannya berterima kasih atas perkataan Zetsu yang amat menyentuh, Kakuzu malah berseru, "Abaikan aku dan jauhkan Ulquiorra darinya!"
Yammy mendengus. "Persahabatan yang manis," cibirnya. "Akan panjang jadinya kalau kita teruskan omong kosong ini. Aku ingin pertukaran yang adil, untuk nyawa yang berharga bagi masing-masing kita."
Pain menyipitkan mata, tapi ia tidak melihat adanya jalan lain untuk menyelamatkan Kakuzu. Matanya melirik ke Ulquiorra lalu ke Yammy.
"Aku akan melepaskannya," ujar Sang Ketua Akatsuki.
"Oh, hanya begitu saja tidak adil," seringai Yammy. Ia mengeratkan cengkeramannya di kedua tangan si Bendahara dan menyabetkan pedangnya ke kaki kanan Kakuzu.
Kakuzu berteriak kesakitan dan Hidan menggerung marah. Si Jashinist menerjang maju, tapi si remaja laki-laki mengayunkan pedangnya ke arah Hidan yang langsung mundur sambil mengumpat.
Darah mengalir deras dari kaki Kakuzu; pria bercadar itu tampak sangat pucat. Kaki kanan Kakuzu terluka; kurang lebih sama dengan keadaan Ulquiorra. Itukah yang diinginkan Yammy?
"Belum adil," ujar Yammy lagi, menunjuk Ulquiorra, "kalian harus lepaskan dia dari meja dan menahannya di tangannya seperti aku melakukannya pada orang ini."
Zetsu bertukar pandang dengan Pain, yang hanya menggeleng. Tidak ada jalan lain. Apa yang bakal terjadi kalau mereka terlalu lama memutuskan?
Sang Ketua membuka belenggu besi di kedua tangan Ulquiorra dan Zetsu langsung mencekal tangan si Espada. Dengan terkejut didapatinya lengan kurus itu terasa sangat lemas seolah Ulquiorra akan langsung jatuh bila tidak dipegangi, tapi Zetsu diam saja dan menyerahkannya pada Pain. Si Cuatro menapakkan kaki ke tanah dengan hati-hati.
"Sekarang sudah adil." Yammy menoleh pada Hidan dan yang lain. "Aku tidak akan curang. Jangan mengintervensi." Pria besar itu berjalan ke arah Pain, menyeret Kakuzu bersamanya. Pain melakukan hal yang sama, dengan pandangan terkunci pada Yammy. Akankah Espada ini menepati perkataannya dan menyerahkan Kakuzu dengan selamat?
Yammy bertanya, "Kau masih bisa berjalan, Ulquiorra?"
"Masih," jawab yang ditanya dengan suara serak karena terlalu lama diam.
"Mari kita berjalan bersama-sama."
Kalimat Yammy itu aneh sekali kedengarannya, tapi detik itu juga Ulquiorra merunduk dan menghajar Pain dengan kakinya yang sehat dan Yammy melemparkan bom asap ke arah tiga Akatsuki di belakangnya.
Seperti dugaan Pain, perkataan Yammy tak bisa dipercaya! Espada bukan orang suci yang anti main kotor!
Pain terpelanting mundur—tendangan Ulquiorra cukup luar biasa untuk seorang yang habis tertembak. Zetsu berusaha membantu, tapi sebuah bom asap dilempar ke arah Ulquiorra oleh Yammy, menghalangi pandangan si pria albino.
Di saat yang sama, Deidara melontarkan bom berisi gas yang meniadakan asap dari bom pertama milik Yammy. Ia dan Itachi menyerang si remaja laki-laki yang lengah. Tapi anak itu memilih menerjang Zetsu lebih dahulu dan ketiganya ikut terperangkap dalam asap tebal bekas bom kedua di dekat Ulquiorra. Belum sempat Deidara mengebom gas lagi, sesuatu menyambar kantongnya dan peledak-peledaknya berceceran keluar.
"Tidak—un!"
Yammy, sementara itu, berlari... sambil menyeret Kakuzu! Hidan mengejarnya...
Kejadian-kejadian berikutnya berlangsung sangat cepat.
Di tengah asap dari bom kedua Yammy, Sang Ketua Akatsuki menghembuskan napas keras dengan sengaja dan sesuatu terayun cepat dari sisi kanannya.
Dapat! Pain langsung menerjang ke arah kanan, dan mendapati leher Ulquiorra tepat dalam genggamannnya lalu menahannya di tanah—Cuatro Espada itu memberontak dan berusaha memukuli Pain—tapi Pain terlalu kuat dibanding dirinya dalam keadaan begini.
Kaki Ulquiorra yang tidak tertembak diayunkan ke kepala Pain, tapi pria bertindik itu menangkapnya dengan cekatan.
Pain pernah mematahkan tulang orang sebelumnya, dan ia sangat menyesal waktu itu serta bersumpah tidak akan pernah mengulanginya lagi; tapi ia harus membuat Ulquiorra tak bisa kabur dengan kakinya sekarang.
Si pemilik kaki benar-benar tak mampu menyembunyikan kengerian di matanya sekarang, sadar betul apa yang akan dilakukan Pain.
Zetsu terpelanting keluar kepulan asap oleh pertarungan buta antara dia, Deidara, Itachi melawan si fraccion dan pandangannya jadi lebih jelas, tapi pemandangan di depan matanya itu membuatnya membeku di tempat.
Sebuah balon udara melayang-layang di atas mereka, dan dua utas tangga tali terjulur ke bawah dari pinggirannya.
Espada sialan!
"Pain!" seru Zetsu, tapi terlambat.
Yammy sudah berpegangan pada ujung tangga itu, pedangnya meneteskan darah; entah sejak kapan ia membawa Itachi yang meronta-ronta bersamanya. Itachi menggigit tangan si Espada...
…dan Yammy melemparkan Itachi ke tanah diiringi jeritan si Peramal.
Pain terlalu syok menyaksikan bawahannya diperlakukan seperti boneka kain usang dan Ulquiorra segera mendorongnya sebelum kakinya sempat dicederai.
Itachi terjatuh dengan keras, setidaknya tidak tewas seketika karena patah leher namun entah bagian lainnya, tapi ada hal lain yang lebih gawat.
Yammy turun dari tangga tali dan mulai menyerang Pain, memberi kesempatan bagi Ulquiorra untuk bergegas menuju tangga itu dengan tertatih.
Zetsu menggeram, "Penipu licik!" dan ia menerjang Ulquiorra hingga terjatuh. Saat itu juga, Hidan menangkap si fraccion dan Deidara berlari ke arah Zetsu untuk membantu. Jelas ia juga menganggap Ulquiorra adalah sasaran yang lebih mudah ditaklukkan.
Hidan meraung sambil menghajar si fraccion remaja yang sekarang sedang ditindihnya.
Tapi Yammy sudah kembali bergelantungan di tangga tali—Pain kini terbungkuk di tanah—dan Cero Espada itu menyambar Ulquiorra naik dengan entengnya, yang segera berusaha memanjat sendiri di tangga tali yang satu lagi.
"Tidak, tidak," gumam Yammy, menyodok wajah Zetsu dengan gagang pedangnya—sialnya, kena matanya—dan si Akatsuki mengumpat tanpa bisa berbuat lebih.
Deidara menghujani Yammy dengan peledak-peledak skala kecil, tapi Espada besar itu tidak terlihat terganggu.
Pain, mencengkeram dadanya, masih sempat menyarangkan sebuah tinjunya ke ujung kaki Ulquiorra yang tertembak. Benar-benar tak berperasaan. Cuatro Espada itu berjengit. Deidara berhasil meraih kaki malang itu, dan detik berikutnya hidungnya ditendang sampai retak. Si maniak peledak mengaduh dan Ulquiorra berseru kesakitan; usahanya melukai Deidara membuat lukanya sendiri tambah parah.
Mata Pain yang awas berhasil menangkap sesuatu. Ekspresi Ulquiorra tidak sekaku sebelumnya; dia banyak mengeluh dan mengernyit, seolah ada sesuatu yang lain yang lebih gawat daripada luka tembak di kakinya.
"Ternyata ini sudah pagi," seloroh Ulquiorra. Dari tadi dia merasa limbung. Yammy masih melempari Akatsuki dengan bom-bom asap yang bau dari sakunya.
"Ira..." Ulquiorra memanggilnya, pelan.
"Cepatlah naik!" desak Yammy tak sabar. Ia menengok sebentar. Apakah Ulquiorra sudah tidak bisa memanjat karena lukanya?
Bukan... Ulquiorra terhenti di situ, agak gemetar, lebih pucat dari yang pernah ditunjukkannya, dan Yammy mengerti ada sesuatu yang salah. Dia meledakkan bom asap di kakinya sendiri, menghalangi pandangan Akatsuki padanya.
Kepala Ulquiorra serasa berputar saat ia berpikir, Ternyata ini sudah pagi... Pagi? Sudah pagi lagi? Tanggal berapa sekarang? Kapan terakhir kalinya ia makan dan minum? Kapan terakhir kali insulin diinjeksikan ke tubuhnya?
Yammy mendengus. Hell, ada apa dengan yuniornya ini?
"Lepaskan peganganmu," perintahnya.
"Hah?"
Yammy mendecakkan lidah. Kenapa Ulquiorra jadi lambat begini? Disambarnya Ulquiorra yang sudah sangat lemas itu dari tangga tali, ditangkapnya dengan cekatan, dan setengah direngkuhnya yuniornya itu sementara jemarinya bergerak ke leher si Cuatro.
Dan dengan satu tarikan cepat di urat leher ia membuat si Cuatro tak sadarkan diri. Cepat-cepat Yammy memanjat naik sambil menggendong Ulquiorra.
"Ah, aku melupakan sesuatu," gumamnya, dan ia mengacungkan pistol ke arah Hidan.
Bersamaan dengan itu, bom-bom lain yang sudah diatur mulai berjatuhan dari balon udara itu dan membuatnya semakin cepat mengudara.
"Berhati-hatilah, Akatsuki..." Cero Espada itu bicara dengan keras, siap membidik. "Kalian tidak tahu apa yang menanti kalian esok hari."
Di bawah sana, sebuah lolongan panjang yang keras dan menyedihkan bergaung dari mulut Hidan yang masih memukuli si fraccion. Dan akhirnya perhatian sisa anggota Akatsuki teralih pada si Jashinist untuk pertama kali.
"Sayangnya, aku tidak berhasil mengirim Hoshigaki Kisame ke neraka," Yammy menggeleng dengan sedih. Dan kalimat terakhirnya ia ucapkan dengan takzim, "Beristirahatlah dalam damai, Bendahara Akatsuki."
Asap-asap itu mulai menipis tapi balon udara itu sudah sangat jauh...
...Espada menang. Lagi.
"Ira-sama..." fraccion muda di bawah sana merintih, berusaha merangkak melepaskan diri dari Hidan yang sudah tak peduli pada dirinya lagi.
Dan dengan satu tembakan jarak jauh Yammy di kepalanya, fraccion itu tumbang.
"Selamat tinggal, Tigre. Terima kasih atas pengabdianmu pada Arrogante!" Kalimat Yammy ini tentu saja tidak terdengar lagi oleh yang bersangkutan.
Hidan meraung ke langit dengan sia-sia. Air matanya tidak terkendali. Jashinist itu menangis sejadi-jadinya, menyebut nama dewanya dan mengutuk Espada. Dukacita dan amarah dalam suara itu merobek kesunyian ganjil yang tercipta di studio film yang berantakan itu. Pain merengkuh tubuh Hidan yang berguncang hebat.
Hari itu, meski mereka dikalahkan hanya oleh dua orang Espada dan satu fraccion yang pada akhirnya juga mati, tidak ada yang lebih pahit bagi para Akatsuki daripada mendapati Kakuzu tergeletak tak bernyawa bak hewan disembelih.
.
.
.
To be continued.
A.N.
Kabuki adalah seni teater tradisional khas Jepang dari zaman Edo yang memiliki ciri khas riasan mencolok pada wajah aktornya. Bunkasai adalah festival budaya.
Tigre artinya 'harimau', dan Arrogante artinya 'arogan, angkuh'. Bagi yang kurang familier dengan nama-nama zanpakutou dalam Bleach, dua nama ini merujuk pada Ggio Vega dan tuannya, Barragan Luisenbarn. Sementara Ira dan Murcielago, yang dalam cerita ini adalah nama alias Yammy dan Ulquiorra, masing-masing berarti 'kemarahan' dan 'kelelawar'. Cero adalah peringkat Yammy dalam Espada, yang berarti 'nomor nol'.
Rencana Roux yang awalnya bakal menamatkan cerita ini di chapter 31, sepertinya terpaksa berubah. Mungkin jadi 33. Atau 32. Salah satunya karena chapter berjudul "Trust" ini Roux pisah jadi dua. Bukan hanya untuk mengurangi panjangnya chapter, tapi menurut Roux akan lebih mengena kalau bagian yang kedua dipisah :) Trust [part II] akan (diusahakan) di-update setelah Lebaran.
Sedikit hint untuk pembaca, Trust [part II] akan mengulas masa lalu Pain dan Konan dan beberapa hal yang masih berhubungan dengan chapter ini :D
Akhir kata, RnR? Tunjukkan bahwa pembaca menghargai tulisan penulis :) Merci beaucoup...
