Char :
Sasuke Uchiha
Sakura Haruno / Sakura Uchiha
Sarada Uchiha
DLL
.
.
MY GUARDIAN ANGEL IS BACK.
.
.
.
(Special Collab With Joanna Katharina and DeShady Lady).
.
.
Satu tahun pasca perang.
Konaha masih tampak sibuk disana sini membangun. Sebagai negara yang paling banyak mengalami kerusakan, tentu saja butuh waktu lebih dari setahun untuk memperbaiki semuanya. Tapi setidaknya sudah rampung sekitar 90 persen. Itupun karena di bantu oleh sekutunya.
Sakura terlihat sedang mendorong kereta bayi, di dalamnya terdapat Sarada yang Nampak sedang tertidur pulas
"Sakura" Itachi menyapa Sakura, ketika sudah berada di depan rumah elite bergaya tradisional itu.
Sakura menoleh sambil tersenyum menatap Itachi.
"Kak Itachi…, sudah lama? Kak Konan mana?" Sakura menanyakan Konan yang kini sudah menjadi isteri Itachi, "biasanya datang bersama Kak Itachi"
"di dalam, sedang bersama Ibu. Kami juga baru datang".
"Sarada sedang tidur kan, kenapa malah di bawa jalan-jalan?" Itachi menambahkan.
"Tadinya masih bangun, Kak"
"Ooh!, sudahlah, kau segera masuk. Dan tidurkan Sarada" titah Itachi sambil mengamati bayi Sasuke versi perempuan.
"Iya" respon Sakura sambil tersenyum manis.
Tanpa sengaja Sakura melihat kearah lain dan melihat seorang anak sedang merengek pada ayahnya. Melihat situasi itu, senyum ceria Sakura menghilang di ganti Sakura tersenyum miris. Ia merasa kalau ia tak akan pernah menyaksikan keluarganya atau puterinya merengek pada seorang ayah.
Memikirkan lagi hal itu, Sakura kembali mangenang masa kebersamaannya dengan Sasuke.
Sasuke yang selalu melindunginya, selalu memberinya rasa aman. Godaannya yang membuat Sakura sebal, tapi Sakura sangat Suka. Perlakuan Sasuke padanya yang selalu membuat jantungnya berdegup kencang, dan membuat wajahnya merona merah. Dan yang paling penting, Sasuke yang selalu memanjakan dirinya.
Melompat pikiran ke masa depannya, bagaimana dengan Sarada? Sarada tidak akan pernah lagi memiliki sosok ayah. Meskipun Sakura tetap pada keyakinannya kalau Sasuke masih hidup. Tapi, jika Sasuke benar-benar tidak kembali, adakah umpamanya yang bisa menjadi sosok ayah yang tepat bagi puterinya. Sakura ragu mengatakan iya. Tidaklah sama seorang ayah tiri dengan ayah kandung. Meski ayah tiri itu, memberi kasih sayang.
Seperti halnya dengan dirinya, meski ia mendapat rasa aman dan kasih sayang dari Itachi, tapi tidaklah sama rasanya dengan rasa yang di berikan Sasuke. Dan adakah lagi sosok yang bisa menggantikan Sasuke di hatinya? Untuk yang ini, Sakura mustahil mengatakan iya.
Memikirkan semuanya itu, pandangan Sakura mengabur, air matanya tumpah tanpa bisa lagi ia bendung.
Itachi mengerti, ia segera meraih Sakura dalam pelukannya. Sakura memang sering menitikan air matanya, jika melihat interaksi antara ayah dan anak.
"Kak.. Hiks..hiks.." akhirnya Sakura benar-benar menangis. Kembali kerinduannya pada Sasuke terasa menghimpit dadanya.
"Aku merindukan Sasuke, kak. Hiks…hikss.. Sasukee…" yang terucap hanyalah nama tanpa adanya sosok orang yang di panggil.
Seperti sebelumnya, Itachi tidak berkomentar, ia membiarkan Sakura menangis menumpahkan beban kerinduannya.
Setelah puas menangis, "maaf Kak. Aku terlalu cengeng ya. He..he..he.." Sakura menyekah air matanya. Itachi tersenyum gemas melihat Sakura. Yah! Seperti itulah Sakura di mata Itachi. Setelah puas menangis, ia kembali pada senyumannya. Itachi kembali menarik Sakura kedalam pelukannya.
"Tidak apa-apa Sakura. Seandainya Sasuke melihatmu menangis begini, pasti Sasuke menghajarku lagi"
"Mmmhm" Sakura membalas dengan mengangguk, tetap dalam pelukan Itachi.
"Ha..ha..ha.." Itachi sedikit tertawa, "Tapi aku benar-benar berharap Sasuke saat ini muncul dan menghajarku"
"Dengan senang hati, akan ku penuhi keinginan mu, Itachi" tahu-tahu terdengarlah suara bariton. Mata onix itachi dan emerald milik Sakura membulat. Suara yang muncul benar-benar suara yang telah satu tahun menghilang. Itachi dan Sakura menoleh pada sumber suara.
"Sasuke" Sasuke muncul dengan penampilan berbeda, rambut agak panjang dengan bagian depan yang menutup sebelah matanya. Wajar saja, karena Sasuke sudah satu tahun tidak bercukur. Rambut model chicken butt-nya juga hilang.
Sakura benar-benar tidak percaya pada siapa yang telah berdiri di depannya, sosok yang sangat dirindukannya, "Sasuke.. hwaaaaa…." Sakura berlari kedalam pelukan Sasuke, dan menangis sekencang-kencangnya. Menumpahkan semua kerinduannya. Sasuke menciumi pucuk kepala Sakura dan membiarkan Sakura menangis sepuas-puasnya.
Itachi juga tidak bisa berkata lagi, ia begitu bahagia melihat baka Otouto-nya itu ternnyata masih hidup.
Sasuke merasakan dadanya basah oleh air mata Sakura. Dan Sasuke membiarkannya, ia malah memeluk Sakura dengan erat.
Sasuke mengangkat kepala sakura dengan memegangi kedua pipinya, "Aku pulang, Hime" seraya mengecup hangat kening Sakura.
Dengan wajah yang sudah basah oleh air mata, "Selamat datang…hiks.. selamat datang kembali malaikatku"
Sakura kembali menenggelamkan diri dalam pelukan Sasuke.
Sakura kemudian melingkarkan tangannya di leher Sasuke, "Ne, apa kau ingin melihat Sarada, puteri kita?"
"Puteri?" Sasuke tersenyum, "dia pasti sangat cantik sepertimu"
"Dia memang cantik, tapi dia lebih mirip denganmu" suara lirih Sakura, menunjukan kemanjaannya.
Sakura menarik Sasuke menuju kereta bayi yang sempat terabaikan.
Sasuke berjongkok didepan kereta bayi, Sasuke menatap bayi perempuan berusia sepuluh bulan yang masih terlelap tidur.
"Sasuke.. itu…" Sakura ingin mencegah aktivitas Sasuke yang menjulurkan tangannya hendak membelai puteri pertamanya. Tapi terlambat. Bayi itu sudah terlanjur bangun karena mungkin merasa terganggu.
"Maafkan Papa sayang, papa baru datang", bayi yang di belai Sasuke itu tampak tertawa. Sasuke membenarkan Sakura, kalau bayi itu memang mirip dirinya, kecuali mata dan hidung adalah warisan dari Sakura.
"Oh, ya. Tadi ada yang ingin kau katakan?" Sasuke mengalihkan pandangannya pada Sakura.
"Anoo, Sarada kalau bangun tidur, biasanya akan rewel. Dan lagipula, Sarada juga jika melihat orang asing ia pasti menangis", Sasuke kembali meraih Sakura dalam pelukannya. "Mungkin karena dia juga merindukan papanya, jadi ketika ia tahu papanya datang, ia malah senang. Oh ya, aku selalu memperlihatkan foto mu padanya, dan dia selalu senang"
Sasuke berdiri di ikuti Sakura yang kembali memeluk pinggang Sasuke.
Sasuke menatap Itachi, yang dari tadi mereka abaikan, "terima kasih Itachi"
"Untuk apa?" sebenarnya Itachi ingin sekali memeluk adiknya, tapi karena dari tadi selalu di dominasi oleh Sakura, makanya tidak jadi.
"Karena telah menjaga Sakura, dan maaf"
"Itu adalah kewajibanku Sasuke, dan untuk apalagi minta maaf"
"Karena Sakura pasti banyak merepotkanmu"
Itachi menggaruk-garuk kepalanya, "iya sich"
Madara, fugaku dan Konan datang buru-buru karena tadi sempat mendengar suara tangisan Sakura.
Alangkah kagetnya ketiga orang itu, ketika melihat siapa yang berpelukan dengan Sakura.
Sama seperti Itachi, Madara ingin sekali memeluk cucunya, sayangnya Sakura selalu menempel.
"Sasuke, ternyata benar kalau kau masih hidup… selamat datang kembali" Madara sangat senang melihat salah satu pahlawan perang itu ternyata masih hidup. Ia hanya bisa menepuk pundak Sasuke.
"Sasu-chan" panggilan yang tidak asing di telinga Sasuke.
"Apa yang kau lakukan Sasu-chan, kau sekarang bukan hanya memiliki Sakura, tapi juga Sarada, kau harus adil. Dasar!" seperti di komandoi semuanya membelalakan mata mendengar Mikoto justeru mengomel. Bukan memeluk Sasuke.
Mikoto mengomel demikian karena ia mendapati Sasuke malah terus berpelukan dengan Sakura, dan jadinya kelihatan mengabaikan Sarada.
"Sini sayang, kalau papa-mu lebih menyayangi mama-mu, tenang saja, ada nenek" Mikoto meraih Sarada dalam gendongannya.
"Dan Kau.." menuding Sasuke, "kau benar-benar papa yang buruk Sasu-chan" usai menuding Sasuke, Mikoto berlalu begitu saja.
Anggota keluarga ini kembali tersenyum melihat Mikoto mengomeli Sasuke.
Tapi tidak lama kemudian, "Sasu-chan!" Mikoto kembali sambil berlari merentangkan tangannya. Sakura dengan berat hati sedikit mundur memberikan kesempatan pada Mikoto untuk memeluk Sasuke.
Mikoto memeluk erat Sasuke. Sementara Sasuke hanya minta maaf.
"Ibu…" Mikoto menatap Sasuke yang memanggilnya, "Sarada..?"
"Eh! Sarada-chaaaan!" Mikoto sontak meninggalkan Sasuke dan berlari menuju ke arah datangnya tadi.
Kembali tawa mengiringi Mikoto yang sibuk sendiri.
Sasuke kembali menarik Sakura dan merangkul bahunya.
"Sasuke, bagaimana kau bisa lolos dari ledakan hebat itu?" Fugaku yang dari tadi penasaran bertanya.
[FLASHBACK]
Sasuke masih menggenggam kendali pada Helicraft. Ia tak sanggup lagi mendengar tangisan Sakura di bawah sana. Ingin sekali ia memeluk dan menenangkan Sakura.
Hatinya makin miris, tanpa ia sadari juga, air matanya telah menetes.
'Maafkan aku Sakura. Aku mencintaimu'
Genggamannya makin mengencang. Ia menarik tuas kendali ke arahnya.
Sasuke sudah pasrah, Sesaat kemudian ia menyunggingkan senyumannya, 'Itachi, terima kasih, kau mau melindungi Sakura-ku, maaf, aku merepotkanmu lagi' Sasuke hanya membatin, ia tak sanggup lagi mengucapkan satu kata pun, meski di ear phonnya masih terdengar suara dan tangisan Sakura.
Sasuke menyunggingkan senyumannya, ia kini berfikir, kata apa yang akan ia ucapkan pada Kizashi dan Mebuki jika mereka berjumpa di alam sana.
Seperti ada yang menginstruksikan, Sasuke menoleh pada Orochimaru.
Sasuke melihat Orochimaru yang telah dilumpuhkan, merangkak menuju sebuah pintu rahasia.
Sasuke bisa melihat, kalau itu bukanlah sembarang pintu rahasia. Melihat bagian dalam yang berbentuk sililder, Sasuke bisa menduga kalau itu adalah kapsul penyelamat. Sasuke segera beranjak dari kursi kendali.
"Minggir kau!" Orochimaru yang sudah berada di pintu masuk, terpaksa harus rela ketika ia di tarik oleh Sasuke.
"Kau, brengsek! Hentikan keparat!" Orochimaru memaki.
Sasuke tidak peduli sama sekali dengan makian Orochimaru. Sasuke segera menutup pintu dan menekan bebrapa tombol peluncuran kapsul penyelamat.
Beberapa detik setelah peluncuran, Helicraft meledak sangat dahsyat. Bahkan efek dari ledakannya itu sangat berpengaruh pada kapsul penyelamat yang ia tempati. Kapsulnya rusak parah dan terlempar sangat jauh dengan Sasuke yang ada didalamnya.
Sasuke tidak tahu, sejauh mana dirinya terlempar. Dan yang pasti, kapsul yang dia tempati itu mengalami benturan keras. Sasuke tidak ingat apapun setelah mengalami benturan.
.
.
.
"Ikh..!"
Sasuke terbangun di sebuah ruangan. Ia mendapati dirinya, berada dalam tabung kaca. Sasuke merasakan sekujur tubuhku terasa sangat sakit. Sasuke juga sudah merasa beberapa anggota tubuhnya sudah mati rasa. Sasuke mencoba menggerakan tangannya, tapi tidak bisa, bahkan jari-jari tangannya.
Sasuke mengamati tabung kaca tempat ia berbaring. Ia melihat sekilas kilatan cahaya selalu melewati dirinya seperti sedang di scan.
"Kau sudah bangun?" suara serak dari seorang wanita tua terdengar di indera Sasuke. Sasuke hanya menggulirkan matanya mencari sumber suara.
"Sudah satu minggu kau tidak sadar. Kami menemukanmu sedang sekarat. Tulang-tulang mu banyak yang patah. Kau pun masih bisa terselamatkan karena tubuhmu yang kuat dan juga berkat alat yang kau tempati dan obat buatan kami" seorang suara pria yang lain muncul di belakang wanita tua tadi.
"Tunggu!" suara Sasuke serak dan nyaris tidak terdengar jelas. Kedua penolongnya itu bisa mengerti melalui gerakan bibir Sasuke. "Kalau semua tulangku berpatahan, itu artinya aku akan cacat dan terus menghabiskan hidupku berbaring di sini?" suaranya serak dan perlahan.
Si Nenek tersenyum, "Kau masih memiliki harapan sembuh. Kami sudah memasukan obat ke dalam tubuhmu. Dan kau bisa pulih, tapi bersabarlah, mungkin sedikit butuh waktu untuk proses penyembuhan"
"Tapi bagaimana bisa?" Sasuke masih ragu. Tulang yang sudah patah atau bahkan sampai hancur, tidak mungkin lagi pulih dan menjalani kehidupan normal.
"Aku dan Kimimaro adalah ahli biotechnologi, kami berhasil memanipulasi sel tumbuhan. Kau ingat ketika kau melubangi batang pohon. Maka mekanisme yang ada pada pohon itu akan menutupi lubang itu oleh jaringan epidermis, jaringan inilah yang kami manipulasi"
"Meskipun system regenerasi sel pada manusia juga ada, tapi mekanisme sel yang dimiliki manusia dan tumbuhan tidak sama. Maka kami memakai system pada tumbuhan"
"Tempat yang kau tempati itu, mengandung sinar Gamma yang akan membantu dan tetap mengontrol sel yang kami masukan ke dalam tubuhmu" sahut pria berambut puith yang di panggil Kimimaro. ,
"Tunggu.. "Sasuke menarik nafas yang serasa sesak, "bagaiman jika sel baru yang kalian masukan tidak berhenti tumbuh seperti pada tumbuhan. Bukankah dengan begitu, tulang-tulangku akan terus membesar. Dan selain itu, bagaimana dengan system imunku yang mungkin akan memakan sel baru ini"
"Tenang saja, itulah fungsi sinar Gamma itu. Jika tubuhmu sudah tidak lagi terkena sinar gamma itu, maka sel baru tadi tidak akan berfungsi. Dan yang berikut, system imunmu tidak akan mengenali sel ini karena kami sudah memodifikasinya"
Sasuke meringis menahan rasa sakit yang menyerang sekujur tubunya. "Bukankah matahari juga mengandung sinar Gamma"
Kimimaro tersenyum, "benar, tapi kerapatan partikelnya beda. Dan sel tadi hanya bisa sinkron dengan Sinar gamma tempatmu berbaring itu"
Sasuke hanya bisa menarik nafas kuat-kuat, tanda mengerti.
"Kimimaro adalah ahli tulang, jadi dia akan terus menerus memantaumu sampai peregenerasian dalam tubuhmu bisa di sesuaikan, terutama pada tulang mu, agar kau bisa kembali normal" kembali Si Nenek berbicara. "Beberapa persendian dan patahan tulangmu juga bergeser, dan semua akan di urus oleh Kimimaro"
"Nah, Istrahatlah, aku akan menyuntikmu dengan zat analgesi agar kau tidak merasa sakit. Istrahatlah, 90 persen tubuhmu rusak. Dan jangan terlalu banyak berusaha menggerakan anggota tubuhmu, karena itu akan mengganggu kinerja sel baru tadi" Imbuh Kimimaro.
Kimimaro melangkah ke samping Sasuke. "Dalam pingsanmu kau masih menyebutkan satu nama. Tapi kurang jelas"
Kimimaro tidak mendapat respon dari Sasuke.
"Kau menyebut apa ya, ha….ku..a, da…ku..ya, ja..ku.."
"Sakura" Sasuke menegaskan.
Kimimaro tersenyum kembali, "Sudahlah, setelah kau sembuh, kau boleh bercerita tentang Sakura"
"Tuan Kimimaro, terimakasih"
Kimimaro mengangguk seraya tersenyum.
Sasuke memejamkan matanya perlahan, 'tunggulah aku, Sakura'
[FLASH BACK END]
.
.
.
Mendengar cerita Sasuke, Sakura makin erat memeluk pinggang Sasuke. Ia benar-benar ngeri jika membayangkan penderitaan sasuke saat itu.
Sasuke berhenti sejenak, ia memegang kedua pipi Sakura, "Oh ya, Sakura. Aku berutang terima kasih pada keluarga Sabaku. Karena orang yang menolongku adalah nenek dari Gaara yang bernama Ciyo. Dialah yang membantu merawat dan menyembuhkanku, selama satu tahun ini"
"Siapa sebenarnya mereka?"
"Menurut pengakuan Kimimaro, dia adalah salah satu staff di lab penelitian Orochimaru. Dia sangat menyukai science, tapi ia dimanfaatkan Orochimaru. Dia melarikan diri dari orochimaru karena ia tidak menyukai jika science digunakan untuk kehancuran" Sasuke menambahkan.
"Tapi satu hal, mereka sangat menyukai science, tapi mereka tidak mau jika ada orang lain yang mengganggu dan memanfaatkan hasil pengetahuan mereka"
"Lalu selama ini Sasuke berada dimana?" usai berkata demikian, Sakura kembali merapatkan kepalanya di dada bidang Sasuke, seakan ia tak akan melepas diri dari Sasuke.
"Aku, Nenek Ciyo dan Kimimaro tinggal di hulu sungai Konoha, yang berada di perbatasan".
Sakura menatap Itachi seakan menyalahkan Itachi yang tidak mempercayai ucapannya kalau Sasuke masih hidup. Mengerti arti tatapan itu, Itachi meoleh kearah lain.
Sasuke menautkan alis melihat kekasihnya memandang sang kakak dengan tatapan menyalahkan.
"Sakura…" panggilan Sasuke tidak di tanggapi Sakura. Tapi Sakura menggembungkan pipinya menatap kesal pada Itachi.
Tidak ingin di sesali, "baiklah aku mengaku, aku salah"
Sasuke makin menautkan alisnya.
"Ketika kami semua sudah menganggapmu sudah tewas, Sakura pernah bilang kalau kau masih hidup" respon Itachi terhadap tatapan Sasuke.
"Lalu?"
"Sakura beberapa kali nekat meninggalkan rumah untuk mengikuti firasatnya itu. Dia mencarimu. Tapi aku tidak cukup bodoh membiarkan adikku yang hamil delapan bulan, berjalan menyusuri sungai menuju hulu"
Sasuke balik menatap Sakura, "Senekat itu?"
"Habis, aku kangen" Sakura lirih menundukan kepala, "aku sudah memberi tahu kak Itachi, tapi Kak Itachi tidak percaya"
Sasuke tersenyum ia kembali menarik Sakura ke dalam pelukannya, "seharusnya kau cukup menungguku"
Sasuke menoleh pada Konan, "mungkin terlambat, tapi selamat atas kehamilanmu Kak"
Konan dengan senyumannya menganggukan kepala.
Naruto sudah berencana untuk mengunjungi Itachi membicarakan tentang misi. Dan ia malah kaget melihat Sakura sedang memeluk seseorang. Naruto memang tidak bisa melihat wajah orang yang di peluk Sakura karena posisinya yang membelakangi Naruto.
Naruto menghentikan mobilnya, "jadi, Sakura sudah bisa melupakan Sasuke, ya" Naruto sedikit tersinggung, anggapannya, begitu mudahnya Sakura berpaling dari Sasuke. Meski itu sah-sah saja, tapi perasaan Naruto tetap tidak enak.
"I..itu tidak mungkin Naruto" Hinata yang duduk di sampingnya menanggapi. Dia bisa menebak pikiran Naruto.
"Buktinya…" Naruto mulai ingin berdebat.
"Tidak mungkin… aku wanita sama seperti dia. Bagi kami para wanita, sangat sulit bagi seorang wanita untuk jatuh cinta lagi kepada yang lain, ketika sudah terlanjur jatuh cinta pada satu orang" Hinata seperti seorang pengacara yang membela kliennya.
"Lalu bagai mana menjelaskan yang itu"
"Mungkin Sakura sudah menemukan sosok yang tepat menjadi ayah bagi Sarada. Yang bisa melindungi Sarada. Tapi bukan berarti Sakura telah menyerahkan hatinya" nampak meyakinkan bagi Naruto, "kalau aku di posisi Sakura, mungkin aku melakukan hal yang sama. Aku hanya ingin seseorang yang bisa mengayomi anakku".
"Begitu ya" sangat masuk akal bagi Naruto, "itu memang hak Sakura, dia masih terlalu muda untuk menjalani kehidupan dan membesarkan anaknya sendirian. Dan syukurlah kalau sudah ada yang bisa menjaganya" ucapan Naruto memelan, ia sedikit menundukan kepalanya. Entah apa yang berada dalam pikirannya.
"Naruto-kun, itu kan Sasuke" Hinata menunjuk pada pria yang di peluk Sakura. Hinata sempat melihat sebagian wajah Sasuke ketika menoleh pada Konan.
"Benarkah" Naruto masih tidak percaya. Naruto keluar dari mobilnya.
"Sasuke, Benarkah itu kau?"
Orang yang di panggil menoleh, "ada apa lagi Dobe. Kau pikir aku siapa?"
"Temeee.." Naruto berlari. Sakura mengeratkan pelukannya. melihat hal itu, Naruto terpaksa berhenti dan membatalkan keinginannya memeluk Sahabatnya, sambil cengengesan. "He..he..he.. selamat datang kembali Teme. Ternyata Sakura benar, kau masih hidup. Ikatan yang benar-benar hebat" Naruto memuji, sambil menggaruk-garuk kepala.
"Sudah tahu".
"Naruto, kenapa kau kesini, bukannya kau mau bersiap menjadi pengawal bersama para Uchiah besok?"
"Oh, justeru aku kesini ingin membicarakannya denganmu. Kemarin kau tidak memberi jawaban yang pasti. Kau setuju atau tidak" jawab Naruto sambil menatap Itachi.
"Satu tahun meninggalkanmu ternyata kau masih belum pintar. Bukannya baru saja Itachi menanyakan kesiapanmu, itu artinya, kau di setujui untuk ikut" urat kepala Naruto menegang ketika mendengar sindiran Sasuke.
"Gizzk… dari dulu kau benar-benar menyebalkan Teme.. aku tidak tahu apa yang membuat Sakura mau bertahan untuk mu" Naruto berteriak-teriak sambil menuding sahabatnya.
Seperti biasa Sasuke memilih bermasa bodoh, menanggapi semprotan Naruto. Keluarga Uchiha memang sudah paham keadaan ketika kedua sahabat itu saling bertemu. Pasti akan menjadi seperti pasar karena keberisikan Naruto.
"Tunggu… besok? Memangnya ada apa?" pertanyaan Sasuke menghentikan omelan Naruto.
"Sudah menjadi kesepakatan pada negara yang sudah beraliansi dengan Konoha. Bahwa setiap tahun kita akan mengenang para pahlawan pertempuran dengan Akatsuki. Sekaligus menjadi titik awal persatuan kita" Madar menjelaskan.
"Upacara sekaligus ritual meletakan karangan bunga akan dilakukan di lokasi pertempuran dengan Zetsu. Tempat itu juga sudah di bangun monumen sekaligus menjadi kuburan bagi para pahlawan. Dan telah di tulisi pula daftar nama para pejuang yang tewas di sana" Fugaku menambahkan.
Sasuke mengangguk, "Oh, tadi aku sempat membaca nama dari daftar Uchiha. Dan sepertinya masih ada nama yang belum selesai di pahat di deretan pertama. Uchiha Sa..?, siapa yang di maksudkan?" sasuke memang tadi ketika datang, tanpa sengaja membaca daftar para pahlawan perang dari deretan nama Uchiha.
"Aha..ha..ha.. Ketika nama itu mulai di pahat, seorang wanita rambut merah muda datang mengamuk dan mengatakan kalau pemilik nama itu masih hidup" kenang Naruto.
"Jadi…" Sasuke menatap Sakura dalam pelukannya. Sakura menatap mata Sasuke lalu kembali menyembunyikan wajahnya pada dada Sasuke.
"Kalian tidak capek, dari tadi terus berpelukan?" Naruto sok memakai tampang polosnya.
Sasuke mendelik, "Tidak akan" kesal juga oleh pertanyaan Naruto.
"Bukankah kau harus siap-siap" imbuh Itachi kemudian.
"Aa.. baiklah aku akan pulang. Sasuke, selamat datang kembali" Naruto berbalik menuju mobilnya tempat Hinata menunggu.
"Hn"
Naruto begitu terharu setelah melihat sahabatnya itu ternyata masih hidup. Naruto menoleh ke belakang, "jangan tinggalkan dia lagi, merepotkan tahu!" lanjutnya lagi. Ia melangkah menuju mobil sambil melap air mata harunya yang sempat tumpah.
.
.
.
"Sasuke, kau baru pulang, sebaiknya kau masuk rumah dan istrahatlah" madara berkata kemudian. Sebenarnya dia juga merasa nggak enak dengan Sasuke dan Sakura, ia merasa kalau kehadirannya mengganggu pasangan itu untuk melepas kerinduannya
"Baik, Kek"
Madara berjalan mendahului di susul Fugaku. Meninggalkan dua pasangan itu.
Dan bagaimana dengan Mikoto?
Setelah mengambil Sarada dari salah seorang maid-nya, ia kembali ingin menemui dan memeluk Sasuke. Tapi karena Sasuke dan Sakura terus menerus berpelukan, membuat Mikoto mengurungkan niatannya. Ia lebih memilih melihat dari jauh, membiarkan Sasuke dan Sakura saling melepas kerinduannya. Mikoto hanya bisa tersenyum melihat puteranya yang juga ia rindukan, 'maaf Sasu-chan, ibu hampir memberikan milikmu pada yang lain'.
Itachi berjalan mendahului dan menyenggol kasar bahu Sakura yang masih berpelukan dengan Sasuke.
"Hei.."
"Aku benar-benar tidak menyukaimu Sakura!" suara tajam nan dingin keluar dari mulut Itachi. Posisi tubuhnya membelakangi Sasuke dan Sakura.
"Itachi/Kak Itachi" SasuSaku bersamaan
"Kenapa!" Sakura makin mengeratkan pelukannya pada Sasuke. Sakura hampir menangis tapi masih bisa di tahan, karena Sasuke juga memeluknya erat.
Dalam pikiran Sakura 'Jadi selama ini, Kak Itachi… berpura-pura' Sakura memejamkan matanya. Ia tidak peduli jika ia akan di benci oleh semua Uchiha bahkan semua orang, asalkan ia bersama Sasuke.
Sasuke membelai lembut Sakura.
"Apa maksudmu Itachi? Bukankah selama ini kau mengatakan kalau kau menyayangi Sakura sebagai adikmu?" seru Konan protes.
Itachi menatap tajam Sakura, sedetik kemudian ia menatap Sasuke. Sasukepun menatap tak kalah tajam pada Itachi.
"Tentu saja, aku sangat tidak menyukai mereka. Aku tidak menyukai Sakura, karena ia telah mengambil adik bodohku" Sasuke membelalakan matanya mendengar ucapan Itachi barusan, "dan kau Sasuke, aku ingin sekali menghajarmu karena kau telah memiliki kembali adik manjaku"
"Brengsek!" Sasuke dan Konan bersamaan.
"Aaaaa…. Hufffff!" Sakura menggembungkan pipinya, sadarlah kalau Itachi ingin menggoda mereka.
Seandainya saja Sakura tidak masih memeluknya, sudah pasti Sasuke akan menendang bokong Itachi.
"Aha..ha..ha… menggoda kalian berdua sangat menyenangkan, terutama kau Sakura" Itachi tanpa rasa bersalah, sangat senang melihat tampang menggemaskan dari Sakura ketika kesal.
"Hm!" Sasuke mendengus, "Kau tahu Itachi, si manja ini hanya di titipkan padamu, sekarang si manja ini sudah kembali pada pemiliknya".
Itachi mengangkat bahu, "Oh ya?" Itachi menatap Sasuke, "Aku menang lagi darimu Sasuke".
"Maksud Kakak?" Sakura yang menanggapi.
"Kalian baru punya anak, tapi belum nikah. Tapi aku, aku sudah menikah, dan sekarang kau bisa melihat Konan juga hamil" sepertinya Itachi masih belum puas menggoda kedua adiknya.
"Iiishhh…" lagi-lagi Itachi ingin mencubit kedua pipi Sakura, karena gemas melihat ekspresi sebalnya,
"Sasuke akan menikahiku kok, benarkan Sasu" sahut Sakura setelah menyingkirkan tangan Itachi dari pipinya yang di cubit.
"Hn. Menikahlah denganku, minggu depan. Waktu persiapanmu satu minggu" sahut Sasuke.
"Eh!"
"Huh! Dasar tidak romantis" dengus Itachi.
"Tentu saja, karena aku bukanlah laki-laki penggoda sepertimu"
"Itachi!" nampak kalau Konan sangat cemburu mendengar penuturan Sasuke.
"Hei..hei" Itachi masih santai, "Jangan dengarkan si bodoh itu bicara. Eeerr, gadis rambut merah itu siapa ya, Sasuke. Dan jangan lupa pula, pemimpin yang cantik itu. Jadi, siapa yang penggoda Sasuke? atau kau memang suka yang berhubungan dengan merah?" balasan Itachi sambil mengangkat alisnya.
"Itachi" geram Sasuke.
"Aku tidak peduli, lagi pula itu sudah berlalu. Benar kan, Sasu?" sahut Sakura.
Sasuke lega, ucapan Itachi tidak sampai membuat Sakura ngambek.
"Sudahlah, hentikan kekonyolan kalian, ayo masuk" Konan melerai. Ia segera menarik Itachi.
Sasuke merangkul bahu Sakura mengikuti langkah kedua Kakaknya.
"Ne Sasuke, kenapa kau baru mau menikahiku setelah aku melahirkan?"
Sasuke menghentikan langkahnya, begitu juga dengan Itachi dan Konan. Mereka juga penasaran, kenapa Sasuke dulu menunda pernikahan mereka
Sasuke memegang kedua pipi Sakura, "karena aku ingin menunggu anak kita lahir. Sebelum anak kita lahir, Sakura adalah milik Sasuke. Tapi setelah anak kita lahir, berarti kita harus menikah karena Mamanya Sarada adalah milik Papanya Sarada"
"Alasan konyol" gerutu Itachi. Sasuke mendengus.
Sakura kembali merapatkan pelukannya pada Sasuke. Sepertinya ia juga tidak pernah bosan dengan kehangatan yang Sasuke berikan.
Bagi Sakura, anggapan orang tentang Sasuke dan para pria Uchiha lain yang dingin dan tidak berperasaan adalah Salah. Bahkan bagi Sakura, jika ingin belajar cinta yang hakiki, belajarlah pada Sasuke dan Uchiha. Sakura telah mengalami dan membuktikan dengan berada di tengah-tengah para Uchiha.
Di mata Sakura, Sasuke adalah sosok seperti iglo, ia diciptakan dari kumpulan salju dingin yang di bentuk dan dipadatkan, sehingga dari luar, ia tampak sangat dingin dan membekukan. Namun sebenarnya, ia menyimpan kehangatan dan memberikan perlindungan.
.
.
.
=== Keep Moving Down
.
-[ THE END ]-
.
Omake ada di bawah
.
.
Read Me
Yosh! Ini benar-benar finish… \(^-^)/
Bacot ending
Inspirasi sasu lolos dengan kapsul penyelamat, lahir dari idenya DeShady. Dan inspirasi yang di flashback juga adalah hasil dari ide joanna.
Pokoknya yang di Flashback adalah ide Shady dan Joanna, kalo ada yang salah, jangan salahkan ane. Tapi salahkan mereka berdua. [Author:*kabur*…. Shady and Joanna: WTF…dasar tidak bertanggung jawab *menghantam author pake monas*]
Terima kasih yang sempat ngasih saran tentang rasionalkan Sasuke selamat.
Kalau begini, sudah termasuk colab kan?
.
.
Kok malah endingnya maksa bangat juga ending gaje.
Gomen lagi nih, sebenarnya ini memang sengaja buru-buru diselesaiin, soalnya Empunya Laptop mao pake, katanya sih buat kerja apalah.. gak tahu tuh. Maklum aja.. he..he..he..
Yosh sampai ketemu lagi di fic selanjutnya. Entar deh kalo ane punya laptop pribadi, ane bakal buat fic yang banyak.. Eh ada nggak yang mau nyumbang [ngareeep]. Ya enggaklah, Cuma bercanda kok, ane bakal usahain deh. Doain ya. [ADA YANG BISIKIN READER:.. jangan percaya, nih bocah bisa apa, kencing aja belum lurus, sok mao beli laptop sendiri]
Eermm.. untuk beberapa bulan ke depan mungkin nggak publish fict multichap.. Fokus mid dan final test di universitas [di rahasiakan], apatah lagi masih maba.. aduuh… pada tahu kan, kalo masih berstatus MABA, pasti di tuntut harus baiiiiik banget.
Tapi fict oneshot, mungkin masih bisa di luangkan waktu.
Tapi tenang aja sohib ane semua, ane tetap akan berusaha membuat fict. Selama nafas dan darah masih mengalir dalam tubuh *plakk* sok
.
.
See you on the next Fict.
Ingat ya, fict ane pasti nggak jauh dari action dan lemon.
.
.
Special thx.
Para Sohib baru ane di FFn ini
,Kirach,ranindri, ,younghee lee,Thasya Rafika Winata,Arinamour036,Dewazz,Guest,carnation,Ss,puma178, Nurulita as Lita-san, Knisasa,FashionSaku,Lightflower22,zarachan,Donat Bunder,Gome Gome, dark blue and pink cherry, DeShadyLady, Asuka Kazumi, dina haruno, Uchiha Nazura, hira1804, ayie, Sa, chibiu, Kaame Yuu dan yang lain yg tidak sempat di tulis. Review kalian adalah penyemangat ane untuk up date
Sankyu Yang udah follow and favoritkan kan cerita author. bahkan udah ada yang favoritkan author.
Thx juga buat Para silent readers,
Oh ya, Joanna sempat nulis ini di kolom review (Well, bukan promosi ya…) itu memang bukan lagi promosi karena ane udah baca :D. Fict-nya juga sangat bagus. Di update lagi ya.. sumpah keren.
Ane memang selalu melakukan kunjungan balik, jika ada yang isi kolom review ane. Meski ane jadi silent reader sich. Terpaksa jadi silent readers, Soalnya aneh kehabisan kata, karena ternyata para author yang sempat mampir, semuanya sudah level profesional.
Ane merasa jadi kecil bangat, ane sampai malu bikin fict abal-abal kayak gini *pundung di dalam laci*
Thank you so much, guys. Without you, I'm nothing
.
.
.
.
Omake…
Sekalian warning juga
.
.
.
Mikoto muncul berpakaian rapi dengan bayi Sarada berada dalam gendongannya.
Melihat Mikoto dengan penampilan yang berbeda, membuat anggota keluarga menjadi heran.
"Mikoto…" fugaku, dialah yang paling heran dengan penampilan sang isteri yang kali ini sangat cantik.
"Ibu, bukannya ibu ingin menyiapkan makan malam, aku bantu" Konan bergerak hendak menuju dapur.
"Tidak perlu, Konan" Mikoto tersenyum menahan menantunya itu.
"Sebaiknya kita semua makan malam di luar, malam ini juga sebaiknya kita bermalam di markas Uchiha" Mikoto tersenyum menawan, "nah, Sarada-chan juga, jangan ganggu papa dan mama ya" sembari Mikoto mencium cucu pertamanya itu.
Melihat anggota keluarganya masih tidak bergeming, "ara..ara.. ayo.. ayo, segera berangkat, apa lagi yang ditunggu, biar mereka melepas kerinduannya" Mikoto tersenyum mengingatkan dia baru saja menyaksikan Sasuke seperti melahap habis bibir mungil Sakura.
Fugaku dan Konan terpaksa menuruti tanpa banyak bertanya lagi. Mereka beranjak dari tempatnya.
"Tunggu ibu" seruan Itachi menahan langkah yang lain.
Itachi segera melangkah kembali masuk rumah menuju lantai dua, tapi tak lama kemudian dia muncul sambil berlari keluar.
"Eh?"
[FLASH BACK]
Sasuke perlahan memasukan penisnya ke kelamin Sakura, "Aakh" Sakura mendesah menikmati gesekan perlahan penis Sasuke dalam vaginanya, rasa yang telah satu tahun ia rindukan.
"Sakura, benarkah kau sudah melahirkan?" Sasuke menggerakan pinggulnya dengan kecepatan sedang.
"Ke..kenapa Sasuke? Aaah…nm"
"Vaginamu masih sempit" Sasuke menambah kecepatannya
"Ah..ahn.. a.. i.. ini untukmu Sasuke, oh,aah" Sakura meracau lagi.
"Ahss… sasuke… ku…mo.. hoooon.. aku mau yang lebih.. buat aku orgasme berkali-kali.. buat aku tiidak bisa berjalan besok.. Sasuu.. aaahngg" racauan Sakura di dengar oleh Itachi di luar kamar.
Itachi makin melebarkan senyumnya, sebenarnya ia kesini karena penyakit iseng pada sang adik kambuh lagi.
Tok! Tok! Tok!
"Sasuke, kami mau keluar dan tidak akan pulang malam ini. Oh ya, Sarada juga bersama kami" usai berkata demikian, Itachi memilih mengambil langkah seribu.
[FLASH BACK END]
"Itachi…! Brengsek kau!" Suara teriakan Sasuke masih terdengar.
Sadarlah Mikoto, kenapa Itachi tadi minta izin untuk menunggu.
"Itachi… tadi ku bilang jangan ganggu adik-adikmu!" Itachi yang di teriaki sang ibu sudah menjauh.
.
*oHHHHHHHo*
Finished : October 31, 2016
