Sasuke terbangun di tengah malam dan merasa heran karena ada tangan seseorang yang mengenggam telapak tangannya. Ia segera mengucek matanya dan menguap karena masih merasa ngantuk serta mengernyitkan dahi ketika melihat kepala dengan rambut merah muda yang bersandar di tepi kasur dengan tubuh yang terduduk di lantai.

Sasuke segera menarik tangannya dan ia segera duduk meskipun kepalanya masih agak pusing karena mengantuk. Ia merasa tidak tega membangunkan Sakura, namun ia tidak bisa membiarkan Sakura tidur sambil duduk di lantai.

Jarak kamar Sasuke dan Sakura hanya beberapa langkah karena bersebelahan. Namun jarak antara kasur Sasuke ke pintu lumayan jauh dan Sasuke terlalu lelah untuk menggendong tubuh Sakura ke kamar.

Perlahan Sasuke segera bangkit berdiri dan menatap tubuh Sakura yang masih terduduk di lantai. Ia merasa agak canggung karena ia mau tak mau menyentuh bokong Sakura jika ingin menggendongn wanita itu. Sasuke merasa malu hanya dengan membayangkannya.

Wajah Sasuke memerah dan ia bahkan tak berani melihat tangannya sendiri. Ia segera menyentuh bokong Sakura yang agak terangkat dan punggung wanita itu. Namun ia merasa benar-benar gugup karena takut tangannya salah menyentuh dan ia malah menyentuh dada wanita itu.

Sasuke segera mengangkat tubuh Sakura dan ia mengangkat kepalanya, tak berani melihat wajah Sakura yang sedang tidur. Udara pagi membuat kejantanannya sedikit menegang dan ia sedang dalam kondisi sehat meskipun ia sebetulnya mengantuk, dan ia takut kalau ia malah bergairah dan melakukan sesuatu yang tak seharusnya dilakukan pada Sakura.

Otot-otot lengan Sasuke sedikit menegang karena menggendong Sakura dan ia tak yakin kalau ia kuat menggendong wanita itu sampai ke kamarnya. Ia benar-benar mengantuk dan malas berjalan keluar, sehingga pada akhirnya ia meletakkan tubuh wanita itu di bagian kasur yang bersebelahan dengannya dan menutupi tubuh wanita itu dengan bed cover yang tadi dipakainya serta meletakkan sebuah bantal kecil di tengah-tengah sebagai batas.

Sasuke langsung kembali berbaring di kasurnya setelah menggendong Sakura. Ia tak peduli kalau ia terkesan tidak gentlemen karena tidur di kasur yang sama dengan seorang wanta, toh ia juga tidak melakukan apapun padanya.

Dalam hati Sasuke merasa benar-benar kagum dengan Sakura. Rasanya ia masih tak habis pikir bagaimana bisa wanita itu menggendongnya ke kamar dengan mudah. Ia merasa malu pada wanita itu.

,

,

Sakura membuka matanya dan merasa heran karena mendadak kamarnya terlihat berbeda. Seingatnya kemarin Sasuke mengenggam tangannya dan ia merasa tidak enak melepaskan tangan lelaki itu setelah ia pernah melepaskan tangan lelaki itu dengan sangat kasar. Pada akhirnya Sakura memutuskan untuk tidur sebentar dengan menyenderkan kepala di tepi kasur karena sudah mengantuk dan berharap Sasuke akan melepaskan tangannya, namun ia malah terbangun di atas kasur lelaki itu.

Sakura merasa panik seketika. Pakaiannya masih terlihat normal dan ia segera menyentuh dadanya. Ia hampir menjerit ketika teringat kalau ia memiliki kebiasaan tidur tanpa mengenakan bra. Dan ketika ia keluar dari kamar malam itu ia juga tidak mengenakan bra karena ukuran dadanya kecil sehingga tidak begitu menonjol.

Rasanya Sakura benar-benar malu. Bagaimana kalau semalam Sasuke memiliki pikiran kotor dan mengintip apa yang berada dibalik pakaiannya. Bagaimanapun juga Sasuke adalah seorang lelaki dewasa dan tidak menutup kemungkinan kalau lelaki itu bergairah terhadap dirinya.

Pintu kamar mandi terbuka dan Sakura terkejut setengah mati ketika melihat Sasuke keluar dari kamar mandi hanya dengan memakai celana panjang dan tidak memakai pakaian sama sekali sehingga bagian atas tubuhnya yang tak tertutup sehelai benangpun terlihat.

Sasuke mendelik sesaat ketika menyadari Sakura sudah terbangun dan menatapnya dengan terkejut, namun ia berpura-pura tenang. Biasanya ia akan keluar dari kamar mandi hanya dengan memakai handuk yang menutupi bagian pribadinya dan berpakaian di kamarnya, namun kali ini ia memutuskan berpakaian di kamar mandi karena ada orang lain di kamarnya. Namun Sasuke lupa mengambil atasan sehingga ia terpaksa keluar dari kamar mandi hanya dengan mengenakan celana.

"Kau tidak melakukan sesuatu padaku semalam, kan?!" ucap Sakura dengan panik sambil meletakkan kedua tangan secara menyilang di depan dada secara refleks.

Sasuke tak segera menjawab. Ia mengeringkan rambutnya dengan sedikit hati-hati dan menggeser lemarinya sedikit serta mengambil kemeja pertama yang dilihatnya. Ia segera melepaskan kemeja dari gantungan dan memakainya.

"Aku menggendongmu ke kasur karena kau tidur di lantai. Karena aku mengantuk, aku tidur di sampingmu," jelas Sasuke sambil mengancingkan pakaiannya dengan harapan Sakura merasa puas dengan jawabannya.

"Aduh, bukan itu maksudku. Maksudnya-" Sakura memutus ucapannya sendiri. Ia merasa malu menjelaskannya lebih lanjut dan berharap Sasuke mengerti maksudnya.

"Apa?"

Sakura meringis. Sasuke tidak mungkin benar-benar polos sampai tidak mengerti maksudnya, kan?

"Maksudku, kau tidak melakukan sesuatu yang tidak seharusnya dilakukan, kan? Misalnya menyentuh di tempat yang tidak seharusnya?"

Sasuke terpikir untuk sedikit menjahili Sakura, namun ia mengurungkan niatnya. Ia yakin wanita itu akan panic dan berteriak keras hingga membuat telinganya terasa berdengung tidak enak.

"Tidak."

Sakura menarik nafas lega. Ia berusaha menenangkan dirinya dengan berusaha mempercayai Sasuke meskipun dalam hati ia masih merasa agak ragu. Sebetulnya tidak masalah sekalipun lelaki itu menyentuhnya di tempat yang tak seharusnya atau bahkan bercinta dengannya, toh mereka adalah pasangan suami istri.

Memikirkan hal ini membuat Sakura merasa agak dilema. Seandainya nanti ia menikah dengan orang lain, akankah orang itu percaya kalau ia mengatakan bahwa ia masih perawan? Jika ia ingin orang itu percaya, mau tak mau ia menceritakan soal perjanjiannya dengan Sasuke. Namun akankah imagenya menjadi jelek?

"Kenapa kau kemarin malah tidur di lantai?"

"Aku juga tidak akan tidur di lantai kalau kau mendadak tidak menarik tanganku dan terus memegang tanganku tanpa melepaskannya," ujar Sakura dengan serius.

Sasuke merasa tidak enak karena membuat wanta itu sampai tidur di lantai. Semalam ia benar-benar mengantuk dan tidak sadar apa yang ia lakukan. Mungkin saja saat itu ia berpikir tangan Sakura adalah bantal sehingga ia langsung menarik dan mengenggamnya tanpa menyadari apa yang ia sentuh.

"Seharusnya lepaskan saja tanganku."

"Mana mungkin aku melepaskan tanganmu setelah waktu itu aku melepaskan tanganmu dengan kasar? Aku merasa tidak enak kalau melakukannya lagi."

"Lain kali lepaskan saja. Aku tidak keberatan."

Sasuke merasa agak kecewa setelah mengakhiri kalimatnya. Tak akan ada lain kali bagi mereka, waktu perjanjian mereka sudah hampir selesai dan setelahnya mereka akan berubah menjadi dua orang yang tak saling mengenal. Entah kenapa Sasuke merasa berat berpisah dengan wanita itu.

Sakura hanya menganggukan kepala, namun jika ada lain kali, maka ia tak berniat melepaskan tangan lelaki itu. Ia merasa nyaman mengenggam tangan yang lembut dan agak dingin itu. Ia merasa senang memberikan kehangatan pada tangan lelaki itu.

.

.

Sakura menikmati pemandangan yang terlihat dari mobil yang dikemudikan dengan kecepatan lumayan tinggi. Padahal biasanya ia melihat pemandangan kota dari jendela tempat tinggalnya setiap hari, namun pemandangan kota yang dilihatnya terasa berbeda.

Malam ini Sasuke memutuskan untuk mengemudi berkeliling kota dan meningkat kecepatan mobilnya begitu mereka memasuki jalan bebas hambatan. Bahkan Sakura tak tahu kemana tujuan Sasuke saat ini karena lelaki itu sama sekali tak mengatakan apapun.

"Kita mau kemana, sih?"

"Yokohama."

Sakura mengernyitkan dahi, merasa tak mengerti dengan pemikiran Sasuke. Saat ini jam sudah menunjukkan pukul setengah dua belas malam, apa yang bisa dilakukan lelaki tu di Yokohama? Apakah lelaki itu berniat mengajaknya ke kelab malam?

"Hah? Memangnya masih ada tempat yang buka jam segini? Kau mau mengajakku ke kelab malam?"

"Kau mau kesana?"

Sakura menggelengkan kepala. Ia sedang tidak terlalu berminat pergi ke kelab malam, sekalipun ia ingin pergi, ia jelas tak akan mengajak Sasuke. Lelaki itu tak mungkin bisa menikmati musik yang berisik di kelab malam dengan pendengarannya yang bermasalah, dan tampaknya lelaki itu juga bukan tipe yang akan menikmati suasana di kelab malam. Mustahil lelaki itu mau turun ke lantai dansa, dan ia bahkan tak yakin kalau lelaki itu pernah berdansa.

"Tidak. Lagipula kau juga tidak akan menyukai suasana disana."

"Kalau kau mau, kita bisa pergi kesana."

"Disana akan ada musik yang berisik, lampu remang-remang, banyak orang yang berdansa serta mnuman beralkohol serta perempuan berpakaian minim. Bahkan kau bisa mendapati orang gila yang bercumbu atau melakukan one night stand di toilet. Kau yakin mau kesana?"

"Hn? Itu tergantung kelab yang kau kunjungi."

Sakura hampir menjerit karena terkejut. Selama ini ia berpikir kalau Sasuke adalah tipe lelaki elegan yang tampaknya sangat serius dan tak akan menikmati kesenangan di tempat semacam itu. Namun ternyata lelaki itu tampaknya sudah berpengalaman pergi ke kelab. Sepertinya lelaki itu tak sepolos dugaannya.

"Kau pernah pergi kesana?"

"Hn."

"Lalu… kau juga pernah mencoba one night stand disana?"

Sasuke menatap wajah Sakura yang terlihat melalui kaca mobil. Sakura benar-benar merasa tidak enak sekarang. Mengapa ia harus menanyakan kehidupan pribadi lelaki itu? Itu sama sekali bukan urusannya. Namun ia benar-benar penasaran karena image lelaki itu berbeda dengan apa yang ia bayangkan selama ini.

"Aku memilih untuk menunggu hingga malam pernikahanku."

"HAH?!" Sakura menjerit karena terkejut. "Kau bohong, kan?"

Sasuke tak peduli kalau ia akan terkesan seperti lelaki cupu. Biasanya orang akan melakukannya dengan kekasih, namun ia sendiri tak pernah memilki kekasih sehingga ia memilih untuk tidak melakukannya sama sekali. Bagaimana kalau ia tertular penyakit kelamin dari orang yang bahkan tidak dikenalnya? Ia tak ingin memberikan lebih banyak aib bagi keluarganya. Lagipula ia juga merasa rugi jika ia harus mengeluarkan banyak uang untuk berobat dan menanggung malu karena orang yang tidak dikenal.

"Untuk apa bertanya kalau kau tidak percaya padaku?"

Sakura mengangguk dengan gugup. Ucapan lelaki itu memang benar. Seharusnya ia tidak usah bertanya kalau memang tidak percaya.

Di jaman modern rasanya hampir tidak mungkin menemukan lelaki yang perjaka hingga menikah, kecuali seorang pastor yang telah bersumpah. Rasanya agak sulit dipercaya kalau Sasuke masih perjaka dengan tubuh yang menggoda dan wajah yang tampan, namun rasanya masih bisa dipercaya mengingat lelaki itu memiliki masalah pendengaran dan itu adalah hal yang mengecewakan bagi para wanita.

Jika dipikirkan lagi, sebetulnya Sasuke agak kasihan. Lelaki itu pasti mati-matian menahan diri hingga tetap perjaka di usia tiga puluh kalau lelaki itu memang tidak berbohong. Saat menikah, pasti lelaki itu berharap mendapatkan seks, namun ia malah tidak bisa mendapatkannya karena Sakura memintanya untuk tidak menyentuhnya.

Sebagai seorang wanita, Sakura tak mengerti bagaimana perasaan seorang pria yang mati-matian menahan diri. Namun ia tahu kalau pria adalah mahluk yang mudah bergairah, berbeda dengan wanita yang umumnya tidak masalah meski tidak melakukan seks bertahun-tahun. Sakura bahkan masih ingat kalau mantan pacar pertamanya di universitas bahkan hampir memperkosanya, dan Sakura beruntung karena ia berhasil melawan karena sempat mempelajari ilmu bela diri dan setelahnya ia melaporkan lelaki itu ke polisi sehingga lelaki itu ditahan dan dikeluarkan dari universitas.

Sakura merasa salut pada Sasuke yang mampu menahan diri untuk tidak melakukan apapun padanya meskipun sebetulnya ia berhak melakukan hubungan intim dengan istrinya sendiri. Ia jad merasa curiga kalau lelaki itu sebenarnya gay.

"Kau bukan gay, kan?"

Sasuke menatap Sakura dengan tajam, ia merasa benar-benar kesal. Ia memang tak pernah jatuh cinta pada wanita, namun ia sangat yakin kalau ia bukan gay. Buktinya, ia merasa jijik dengan homoseksual dan ia bahkan pernah berniat mencuci bibirnya dengan sabun serta menggosoknya selama tiga puluh menit karena ia pernah mencium bibir Naruto tanpa sengaja di sekolah dasar.

"Kau berniat mengujiku, hn?"

Sakura merasa malu karena ia terkesan seperti perempuan yang berniat menggoda seorang lelaki. Ia segera menyahut, "Ingat. Menurut surat perjanjian yang kau setujui, kau dilarang menyentuh tubuhku di tempat yang tidak semestinya."

Sasuke merasa ingin tertawa mendengar ucapan Sakura. Tentu saja ia tidak berniat melakukan apapun yang tidak seharusnya ia lakukan pada Sakura. Menurutnya, ia adalah manusia yang memiliki harga diri dan mampu mengendalikan diri, bukan binatang yang hanya mengandalkan insting. Baginya kemampuan mengendalkan diri adalah hal yang membedakannya dengan binatang.

"Memang aku berniat begitu?"

Sakura meringis mendengar ucapan Sasuke. Rasanya semakin hari Sasuke semakin pandai membuatnya jengkel setengah mati. Namun ia malah merasa tidak ingin berpisah dengan lelaki itu.

-TBC-