Are you doing well? As if you're a stranger!
Although we don't meet, it's okay. You don't have to worry, it's fine.

Kuroko & Kise – TIME MACHINE ga Nakutatte


Sejujurnya, dari saat Okaasan memintaku untuk menemaninya belanja bulanan, aku sudah merasa tidak enak. Ada sesuatu yang akan terjadi. Pertanda buruk? Anggap saja begitu. Aku diam saja, berusaha berpikir positif kalau semuanya akan baik-baik saja.

"Tetsu-kun, kenapa belanjaan kita lebih sedikit dari biasanya, ya?" heran Okaasan.

Mataku mengikuti arah pandangnya yang tertuju pada troli di hadapanku. "Coba dicek lagi, Okaasan. Mungkin ada yang terlewatkan," balasku. Kami pun melakukan pengecekan dengan bantuan catatan kecil yang dibuat Okaasan semalam. Kurasa memang ada yang kurang, tapi apa—

"—Shin-nii! Hiyo mau boneka ini~!"

"Boneka kelinci Hiyori 'kan sudah banyak di rumah-nodayo."

Deg. Suara itu... suara Midorima-kun.

"Ugh, tapi boneka ini bedaaa! Lihat! Lebih imut dan warnanya biru muda! Hiyo 'kan belum punya boneka kelinci warna biru muda seperti ini. Boleh, ya? Pwiiis, Oniichan!"

Gerakan tangan kananku terhenti karena suara anak kecil yang kuyakini milik adik satu-satunya Midorima-kun terdengar dekat sekali dari tempatku berdiri sekarang. Tak lama setelahnya, suara Midorima-kun tertangkap oleh indera pendengaranku. Ia menolak dan mengajak adiknya kembali mencari barang-barang yang dibutuhkan. Samar-samar aku bisa mendengar suara troli lain mendekat. Aku menahan napas secara reflek seolah jika aku bernapas, Midorima-kun yang sedang berjalan ke arahku bisa merasakan keberadaanku.

"Oniichan jahat banget~ Nanti kalau kita ke sini lagi tapi bonekanya sudah habis, bagaimana?"

"Kalau habis, tinggal minta ke pabriknya langsung-nodayo."

"Iya, ya?"

"Hmph."

Entah kenapa aku merasa kasihan pada gadis mungil berambut pendek dan berwarna sama dengan Midorima-kun itu karena mau dihasut dengan mudahnya. Pandanganku teralih, mencari boneka yang dimaksud Hiyori. Setengah dari rak khusus boneka diisi oleh boneka-boneka tersebut. Sepertinya memang stok boneka itu baru datang hari ini, jadi Midorima-kun tidak khawatir akan kehabisan.

"Ternyata memang sudah lengkap." Perhatianku langsung teralih pada Okaasan yang tengah memandangiku dengan tatapan bingung. "Ada apa, Tetsu-kun?"

Sekali lagi aku menatap rak tadi. "Aku ingin beli boneka," ucapku datar.

.

Okaasan masih berusaha menghentikan tawanya ketika kami ingin ke toko lain. Bibirku mengkerucut melihat ekspresinya yang menahan tawa geli. Belum lagi warna wajahnya sudah memerah karena terlalu banyak tertawa.

"Tolong hentikan, Okaasan. Banyak yang melihat ke arah sini," pintaku sekaligus mengingatkan kalau kami masih berada di pusat perbelanjaan.

Tawa bernada lembut itu berangsur-angsur menghilang. "Oke, oke. Maaf, Tetsu-ku—pfft!"

Nah 'kan, sekalinya tertawa akan susah dihentikan. Jadi, kupilih untuk mengabaikannya saja. Aku mencari jalan terdekat menuju toko buku. Dari awal, tujuan kami (selain belanja kebutuhan rumah tangga untuk sebulan ke depan), yaitu membeli perlengkapan sekolahku. Buku tulis kosong sudah habis. Pensil, pulpen, penghapus, sampai tempat pensil juga harus kubeli. Tempat pensil itu sudah tak layak pakai karena resletingnya rusak.

Ehem, sekalian beli novel misteri terbaru juga sih, sebenarnya.

Pipi kiriku ditusuk sesuatu. Jari Okaasan. "Mukamu jadi aneh, mirip tupai begitu," ucapnya.

"Mirip tupai dari mananya, Okaasan?" heranku. Dan pipi kiriku sekali lagi menjadi korban dari keganasan tangan Okaasan. Ia mencubit pipiku. Walau tidak terlalu kencang, tapi cukup membuatku meringis kesakitan.

"Kalau Tetsu-kun tersenyum lebar, pipi tembemmu itu akan ikut melebar dan naik ke atas. Tanpa kau sadari, wajahmu jadi mirip tupai dengan kacang yang tersimpan rapi di mulutnya," jelas Okaasan.

Haruskah kuanggap ini... pujian?

Saat kami sampai di toko buku, aku sempat melihat seseorang yang tak asing bagiku di dalam sana. Aku berhenti melangkah tanpa melepas arah pandangku. Okaasan juga ikut berhenti tepat dua langkah di depanku. Sekali lagi ia memandangku bingung. Mataku melirik ke arah lain. Mencari sesuatu yang bisa kujadikan alasan untuk tidak ke toko itu sekarang.

Apapun itu... Apapun itu...

"Aa, Okaasan. Bisa kita ke sana sebentar?" tanyaku sambil menunjuk salah satu toko.

"Tetsu-kun, sebenarnya siapa yang ulang tahun?" Okaasan bertanya balik.

Sepertinya aku salah tunjuk toko. Sial. Aku berdeham sebentar lalu menjawab, "A-aku pikir, ada baiknya memberi kejutan untuk Touya-kun dan Kana-chan kalau mereka datang ke rumah..." Demi apa, mata Okaasan jadi seram.

Sebelum mengambil keputusan, Okaasan sempat menengok ke toko buku. "Baiklah, kita makan siang saja. Soal kejutan, bisa dibeli nanti kalau mereka benar-benar mau datang, ya."

Aku mengangguk seraya melirik ke tempat yang sama. Sosok itu masih di sana dengan seorang gadis yang memiliki wajah mirip dengannya. Mungkin gadis itu kakaknya? Dan sosok yang kumaksud dari tadi adalah Kise-kun.

Intinya, hari ini aku bertemu Midorima-kun dan Kise-kun.

Sampai di rumah pun, Okaasan tidak bertanya tentang kejadian tadi siang. Aku lega tapi aku juga kesal. Aku kesal pada diriku sendiri. Kenapa aku melarikan diri? Toh, setidaknya aku bisa bersikap biasa saja seolah tak ada mereka karena mereka juga takkan menyadari keberadaanku. Belum lagi... aku terlanjur membeli boneka kelinci yang diinginkan adiknya Midorima-kun. Sekarang harus kuapakan bonekanya?

Omong-omong soal boneka kelinci, aku masih menyimpan boneka kelinci warna merah muda di lemari. Oh, dan itu tidak penting.

Akan kupikirkan besok saja. Waktunya tidur, oyasumi!


Aku menghindari Kise-kun dan Midorima-kun siang ini. Okaasan tidak bertanya tapi ia langsung mengerti karena gerak-gerikku terlihat gelisah. Okaasan mengajakku pergi ke toko lainnya.

~ Tetsuya's 26th Paper End ~


Format berubah! Lebih greget begini ternyata. ._. Jadi, saya gak kasih spoiler di awal seperti sebelumnya, ya. :D Ganba desu. Terima kasih sudah meluangkan membaca fanfic ZPS! #bow

CHAU!


~ Others Side Story ~


Kise Ryouta, seorang model remaja yang sempat hiatus selama satu tahun lebih itu kini terlihat sedang menyamar dengan kacamata berbingkai hitam besar. Pakaiannya kasual ditambah syal jingga yang menutupi bagian mulut sehingga tak ada yang menyadari penyamarannya. Bibir yang sering dicap 'seksi' oleh para penggemarnya nampak maju beberapa centi.

"Apa, sih? Horoskopnya tidak sesuai-ssu!" gerutu pemuda tersebut.

Ia menaruh kembali majalah yang sempat ia baca lalu mencari majalah lain. Pilihannya jatuh pada majalah otomotif. Ryouta lumayan tertarik dengan dunia otomotif karena sejak dulu ingin menjadi pilot. Meski pesawat jarang dibahas, tapi Ryouta puas bisa mengetahui berbagai macam kendaraan di udara itu. Terutama tentang pesawat tempur.

Sedang asyik melihat-lihat, seorang gadis yang memiliki paras—ehem—secantik Ryouta datang menghampiri. "Ryou-chan! Menurutmu, beli novel ini atau buku panduan merawat anak?" tanyanya.

"Ruri-nee 'kan bilang tadi mau kasih buku panduan-ssu. Kenapa jadi novel?" bingung Ryouta.

"Ya habis, novelnya bagus. Pasti Neechan suka," sahut Kise Ruri.

Belum sempat si bungsu membalas, Ruri sudah pergi ke rak lain sambil berkomentar atau lebih tepatnya menggerutu. Entah apa yang ia gerutukan, tapi nama Ryouta dibawa-bawa. Memilih untuk mengabaikannya, ia kembali memfokuskan diri dengan majalah otomotif. Namun perhatiannya teralihkan saat indera penglihatannya menangkap siluit yang sangat ia rindukan. Sosok itu membelakangi Ryouta tapi dengan sekali lihat kalau dialah orangnya.

"Kurokocchi..."

Ya, Ryouta rindu dengan mantan pemandunya sewaktu SMP, Kuroko Tetsuya.

"Kise, apa yang kau lakukan di sini-nodayo?"

Suara khas mantan teman setim Ryouta mengalun di telinganya. Ia menengok pada sumber suara yang sudah berdiri di sisi kirinya. Sebuah majalah kesehatan terlihat berpindah tempat. "Midorimacchi, hisashiburi-ssu! Aa, aku sedang menemani kakak beli kado. Oh iya, sebentar lagi kakak pertamaku melahirkan, loh~ Ehehe, aku tak sabar ingin melihat bayinya!" sapa Ryouta sekaligus bercerita mengenai kabar bahagai dari keluarganya.

"Oh. Selamat kalau begitu. Semoga persalinannya lancar-nodayo," balas Shintarou singkat, padat, dan jelas.

Bibir Ryouta mengkerucut lagi. "Lalu Midorimacchi sendiri, kenapa ada di sini?"

"Menemani Hiyori beli buku dongeng," jawabnya seraya membolak-balikkan halaman majalah.

"Wah! Dengan adikmu!? Mana, mana!?" Nada antusias terdengar jelas di sana. Kedua matanya mencari gadis kecil yang memiliki rambut serupa dengan sang kakak. Ternyata benar, gadis itu sudah sibuk sendiri di deretan rak khusus buku anak-anak. Pandangan penuh antusias itu dalam sekejap berubah jadi kosong. Matanya terlihat sayu lalu menatap Shintarou. "Barusan aku melihat Kurokocchi-ssu..." ucap Ryouta pelan.

"Dimana?" tanya Shintarou antara acuh tak acuh. Anggap saja mode tsundere.

"Di luar toko dan sepertinya, dia pergi dengan ibunya."

"Hmm."

"Sejujurnya, aku merasa bersalah sekarang padanya-ssu." Fokus Ryouta teralih ke yang lain, pada makhluk yang identik dengan warna biru muda yang dilihatnya tadi. Pemuda itu menaruh majalah pada tempat semula seraya memasukkan kedua tangan ke kantong jaket. "Kau tahu, hampir tiap hari aku melihat wajah frustasi Kurokocchi waktu itu di mimpiku. Jujur saja, aku jadi tidak tega," ceritanya sambil menunduk.

Reaksi diamnya Shintarou membuat Ryouta manyun. Sekilas mata topaz-nya menangkap getaran dari tangan kanan pemuda tersebut. "Tapi sekarang, Kurokocchi memilih untuk menghindari kita, kan?" Ia menepuk bahu Shintarou sebelum menghampiri kakaknya yang sudah memanggil di dekat bagian kasir.

"Aku tahu-nodayo. Aku tahu."