Disclaimer: This story is based on characters and situations created and owned by J.K. Rowling. I only own the storyline, Vippra and of course, crazy idea.

Warning(s): SLASH, AU/AR, OOC, typo, BEWARE with Time Paradoxes, Manipulative but not Evil!Dumbledore, OOC!Angsty!Voldemort (sorry!). Regulus tidak pernah mencuri Horcrux milik Voldemort, oke?

Pairing: Tom Marvolo Riddle Jr. / Harry James Potter and others

:::

Chapter 26: Kill Or be Killed

Juli 1943

Harry seolah-olah kehilangan semua pasokan udara di sekitarnya ketika menyadari siapa sosok yang tadi berbicara dengan Profesor Dippet. Tidak. Bukan karena ia merasakan nyeri dan sakit pada bekas luka mirip sambaran kilat yang terpatri di dahinya. Justru sebaliknya, ia tidak merasa sakit sedikit pun. Ia tidak mengerti. Bukankah seharusnya jika ia bertemu dengan Voldemort, rasa sakit itu justru menyerangnya?

"Bagaimana...?" Harry berbisik pelan. Ya. Bagaimana pria mirip ular itu bisa berada di masa ini? Bagaimana cara Voldemort untuk sampai di masa yang sama dengannya? Pertanyaan-pertanyaan seperti itu muncul di kepalanya. Namun, tidak satupun yang terucap selain kata 'bagaimana'. Ia masih sangat terkejut melihat Tom di masa depan berada tepat di depan matanya; menyunggingkan seringai hanya hanya bisa diartikan oleh Voldemort sendiri. Apakah pria itu datang untuk membunuhnya? Seperti yang dikatakan ramalan?

"KAU!"

Tubuh sang Seeker Slytherin itu kontan tersentak ketika mendengar seseorang di sampingnya berteriak. Ah, Harry sampai melupakan keberadaan Tom yang berada di ruangan yang sama dengannya. Dilihatnya pemuda berambut gelap itu merogoh tongkat sihir dari balik jubah penyihir yang dikenakannya dan mengacungkan benda tersebut ke arah Voldemort. Namun sebelum Tom dapat menyuarakan sebuah mantra, Voldemort selangkah lebih cepat. Sang Pangeran Kegelapan itu hanya menghentakkan pelan tongkat sihir miliknya sendiri dan melucuti tongkat sihir Tom; membuat benda itu melayang sejenak di udara sebelum terhempas di dekat kaki rak di ruang kepala sekolah.

"Tidak sopan mengacungkan tongkat sihir seperti itu kepada seseorang, Tom," ujar Voldemort dengan nada santai. Sepasang iris merahnya kali itu terpaku ke arah Harry. "Dan kau, Harry, jangan lakukan apapun. Kita tidak perlu bertemu dan berakhir dengan perang mantra."

Harry yang ketika itu sudah setengah mengulurkan tangannya di balik jubah penyihir yang dikenakannya berhenti seketika. Tangan kanannya terkulai di sisi tubuhnya dengan pandangan yang menatap lekat pada sosok Voldemort. Di belakang pria itu, Harry bisa melihat ekspresi terkejut di wajah Profesor Dippet. Ia juga bisa mendengar lukisan mantan kepala sekolah di belakang Dippet yang terlihat sibuk berbisik-bisik membicarakan apa yang baru saja terjadi. Dippet terlihat bingung. Ya. Tentu saja. Tidak ada yang pernah mengharapkan kalau akan terjadi perang mantra di kantormu, bukan?

"... Bisakah salah satu dari kalian menjelaskan apa yang sedang terjadi?" sang kepala sekolah Hogwarts tersebut bertanya. "Aku tidak mengerti mengapa kau ingin menyerang Mr. Riddle, Tom."

Voldemort memasukkan tongkat sihir miliknya di balik jubah sebelum membalikkan tubuh dan menatap Dippet. "Kesalahanku, Kepala Sekolah," ujarnya dengan nada suara yang ramah. "Kurasa Tom dan Harry tidak begitu suka dengan kedatanganku. Bagaimanapun, aku bukanlah wali yang baik, kurasa. Tidak pernah menemui mereka sebelumnya adalah kesalahan terbesarku. Bagaimanapun, kedua orang tua mereka menitipkan mereka padaku. Perlu waktu lama untuk menceritakan secara detailnya."

Harry hanya bisa bertukar pandang kepada Tom yang berdiri di sampingnya. Pemuda itu juga terlihat sama bingungnya dengan apa yang dikatakan Voldemort barusan. Wali? Hell! Harry tidak pernah membayangkan kalau Voldemort adalah walinya! Kebohongan apa yang baru saja dikatakan pria itu?

Profesor Dippet mengangguk mengerti. "Ah, kurasa aku cukup mengerti. Sebagai seorang wali yang tidak bertemu setelah lima belas tahun, kurasa mereka tidak mungkin dengan mudah kedatanganmu yang mendadak seperti ini. Come... come, Harry, Tom. Apa seperti itu salam terhadap wali kalian sendiri?"

What. The. Hell!

Harry hanya bisa menatap bingung sosok kepala sekolahnya yang sedang berbicara dengan Voldemort. Tidak tahukah pria itu kalau sosok di hadapannya sekarang adalah sosok Pangeran Kegelapan di masa depan? Voldemort adalah penyihir hitam yang bahkan telah membunuh kedua orang tuanya! Untuk apa Dippet membiarkan Voldemort memasuki Hogwarts? Sial! Di saat seperti ini Dumbledore tidak ada di Hogwarts. Bagaimana jika Voldemort menyerang murid-murid dan bahkan pengajar di Hogwarts?

"... Mengapa orang itu berada di sini?" Untuk pertama kalinya sejak Voldemort melucuti tongkat sihirnya, Tom angkat bicara. Rahang sang Prefek Slytherin itu mengeras; teringat dengan apa yang dilakukan Voldemort tadi. Ya. Tom tahu siapa pria berkulit pucat tanpa hidung tersebut. Masih segar di ingatannya saat pertama kali melihat pria itu di ingatan Evans. Orang itu bukanlah Mr. Riddle. Tapi Voldemort. Tom langsung mengenalinya karena ia merasakan suatu dorongan aneh ketika melihat sepasang kilau merah mirip darah itu. Bagaimanapun juga, pria yang dilihatnya sekarang adalah sosok dirinya di masa depan. Mereka adalah satu orang yang sama. Dirinya yang telah menjadi Pangeran Kegelapan; menggantikan tempat Grindelwald. Tom tidak tahu mengapa dirinya tidak suka setiap kali menyadari tatapan Voldemort yang mencuri pandang ke arah Evans.

Apa yang sebenarnya pria itu inginkan dengan datang ke masa ini? Masa yang sama dengannya? Untuk membunuh Evans? Tidak. Jika hal itu terjadi, Tom tidak akan membiarkannya. Ia tidak akan membiarkan hal itu terjadi walau ia harus membunuh dirinya yang datang dari masa depan.

"Mengapa kalian tidak mengajak Mr. Riddle berkeliling tempat ini, Tom?" Perkataan Dippet membuyarkan pemikiran sang Pewaris Slytherin itu. Ia mendongakkan kepala dan menatap Dippet sebelum menggeretakkan giginya. "Kurasa Mr. Riddle sangat ingin mendengar banyak hal yang sudah kalian habiskan selama lima tahun. Bukankah begitu, Mr. Riddle?"

Tom sangat ingin mengatakan kalau tidak ada hal yang perlu mereka bicarakan. Namun ketika ia menyuarakan pemikirannya, ia sudah terlebih dahulu merasakan Evans menggenggam erat telapak tangan kirinya. Tom menaikkan sebelah alis ketika melihat pemuda di sampingnya menggelengkan kepala sebelum mendekatkan bibir ke telinganya dan berbisik.

"Jangan mengatakan apapun, Tom," bisik Harry. "Diam dan turuti saja apa yang dikatakan kepala sekolah. Aku rasa... aku rasa Voldemort tidak bermaksud jahat."

Kening Tom berkerut. Evans pasti sedang bercanda, bukan? "Apa kau sudah gila? Dia itu Voldemort, Evans. Apalagi yang diinginkannya datang ke masa ini selain membunuhmu?" desis Tom tanpa melihat ke arah Evans. Ia bisa melihat kalau Voldemort sesekali melirik ke arah mereka selagi berbicara dengan Dippet.

"Tapi luka di dahiku tidak sakit. Lagi pula..." Harry terdiam sejenak sambil mencuri pandang pada sosok Voldemort. "... orang itu terlihat berbeda dengan Voldemort yang pernah kutemui dulu. Dia... aku seperti melihat dirimu di sana."

"Aku bukan orang itu, Evans," Tom mendesis pelan.

"Aku tahu... aku tahu, Tom. Tapi bisa kita mengiyakan apa yang dikatakan kepala sekolah? Ada beberapa—tidak. Ada banyak hal yang ingin kutanyakan kepada Voldemort."

Dan pada akhirnya—walau dengan keraguan dan keengganan—Tom menyetujui perkataan Dippet. Tidak sekalipun Tom melepaskan pandangan pada dirinya di masa depan yang berjalan beberapa langkah di depannya sepeninggalnya dari kantor kepala sekolah. Tom sempat mendengar Harry mengumpat pelan ketika Dippet mengatakan kalau mereka tidak perlu mengkhawatirkan mengenai keberangkatan Hogwarts Express menuju London. Mr. Riddle—Voldemort—meyakinkan pria itu kalau mereka akan kembali ke Hogwarts dengan portkey yang disiapkan Voldemort. Harry sungguh tidak mengerti mengapa Dippet terlihat selalu mengiyakan perkataan Voldemort.

"... Ah, apa aku pernah menyebutkan kalau aku senang bertemu denganmu lagi, Tom? Aku yakin kalau kau sudah tahu siapa diriku yang sebenarnya, bukan?"

Tom Riddle hanya mengernyitkan kening mendengar Voldemort yang tiba-tiba berbicara setelah sebelumnya mengajak mereka memasuki sebuah kelas kosong yang tidak terpakai karena tahun ajaran berakhir. Tongkat yew miliknya tergenggam erat di balik saku celananya. Hanya ingin bersiap-siap jika ada yang terjadi. Sudut matanya mengerling ke arah Evans. Ia mendapati pemuda di sampingnya tidak henti-hentinya menatap Voldemort.

"Apa yang kauinginkan?" Harry bertanya; menggantikan apa yang ingin dikatakan Tom. "Dan bagaimana kau bisa berada di sini kemudian mengaku sebagai wali kami? Apa... apa kau datang ke sini untuk membunuhku?"

Kedua iris emerald itu menatap sosok Voldemort yang berdiri tidak jauh darinya. Ia sangat tahu kalau sosok itu adalah orang yang sudah membunuh kedua orang tuanya. Sosok yang sama yang ia lihat bangkit dari sebuah kuali menggelegak saat dirinya berada di masanya—masa depan. Ia bisa merasakan perbedaan besar antara Voldemort yang pertama kali dilihatnya dengan Voldemort di hadapannya. Harry tidak tahu mengapa suara di dalam dirinya mengatakan kalau Voldemort yang ada di hadapannya sekarang adalah Voldemort yang lain. Berbeda namun tetap sama. Harry sungguh tidak mengerti.

"... Membunuhmu? Mengapa aku harus melakukannya, Ev—Potter?" tanya Voldemort; membuat Harry mengernyit ketika bagaimana pria itu memanggilnya. Ia masih tidak terbiasa atas nama keluarga yang seharusnya disandangnya. "Karena sebuah ramalan yang dibuat untuk kita? Kaupikir aku akan mengikuti apa yang dibuat oleh ramalan bodoh itu? Tidak ada hal di dunia ini yang bisa mengaturku, Potter."

"Dan apa tujuanmu ke sini? Bagaimana kau bisa datang ke masa ini?"

Voldemort hanya menyunggingkan seringai di wajahnya atas pertanyaan Tom. "Tidak sabar seperti biasa, Tom?" Voldemort berujar. "Mengapa kau tidak memikirkan sendiri jawaban dari pertanyaan itu. Well, bagaimanapun juga, kita adalah orang yang sama bukan? Kita berbagi jiwa yang sama."

Tom kembali mendesis; tanda bahwa ia tidak menyetujui apa yang dikatakan Voldemort. Tom tidak akan pernah mau disamakan dengan pria mirip ular itu walau mereka adalah orang yang sama sekalipun. Tidak. Tom tidak pernah menginginkan dirinya berwujud seperti itu. Apa yang sudah dilakukannya sehingga dirinya di masa depan berubah sedemikian jauhnya?

Voldemort tiba-tiba saja tertawa; mengirimkan getar aneh yang membuat tubuh Tom bergetar pelan. "Bagaimana jika tujuanku datang ke masa lalu seperti ini adalah untuk menolong kalian?" tanya Voldemort tanpa melepaskan pandangan dari sosok Tom dan Harry. "Bagaimana jika seseorang menawarkan bantuan kepadaku sehingga membuatku bisa mengubah sesuatu yang seharusnya tidak kulakukan ketika diriku masih seorang pemuda yang menginginkan kekuatan? Apa kalian akan mempercayai apa yang kukatakan, huh?"

"Aku... aku tidak percaya kepadamu."

Seringai kembali muncul di wajah Pangeran Kegelapan. "Benarkah demikian, Potter? Apa kau tidak akan percaya jika aku mengatakan kalau aku bisa menyelamatkanmu tanpa harus membuat Horcrux?" tanya Voldemort. Pria itu bisa melihat sekilas keterkejutan di wajah Tom. "Jangan terlihat terkejut seperti itu, Tom. We are the same person—the same soul—after all. Aku bisa tahu apa yang akan kaulakukan selangkah ke depan karena aku adalah masa depanmu."

Tom mau tidak mau mengakui kalau dirinya memang terkejut. Namun bukan karena Voldemort mengetahui perihal mengenai Horcrux. Ia terkejut karena ada cara lain untuk menghindari Evans dari kematian. Haruskah ia mempercayai kata-kata pria itu? Tapi... tapi apa yang dikatakan Voldemort memang ada benarnya. Bagaimanapun ia menolaknya, memang benar jika mereka adalah orang yang sama. Jiwa yang sama. Bukankah selama ini ia hanya mempercayai dirinya sendiri? Bukankah ia sudah berjanji kepada dirinya sendiri akan melakukan apa saja agar Evans tidak mati? Ia bahkan sudah bertekad untuk membelah jiwanya dengan konsekuensi melakukan sihir yang paling hitam sekalipun.

"Apa yang bisa kaulakukan?" Tom bertanya setelah mengabaikan bisikan Evans yang menyuruhnya untuk tidak dengan cepat mempercayai apa yang ditawarkan Voldemort. 'Tidak ada yang bisa menghindari kematian!' adalah kalimat yang diteriakkan Evans kepadanya. "Apa yang harus kita lakukan selain membuat Horcrux?"

Sudut bibir Voldemort terangkat membentuk seringai. Seketika itu juga Harry merasakan rasa sakit yang membakar pada bekas luka di dahinya. Kedua iris pemuda itu melebar melihat Voldemort mengacungkan tongkat sihir ke arah Tom.

"Kita hanya perlu membunuhmu, Tom. Avada Kedavra!" seru Voldemort. Kilau yang sama dengan iris emerald milik Harry dengan cepat melaju ke arah Tom.

( )

Flashback

Oktober 1995

Voldemort bukankah orang yang suka membagi rahasia yang dimilikinya kepada orang lain. Tidak kepada siapa pun walau Severus Snape sekalipun. Ia tidak suka jika ada yang memanfaatkan rahasia itu untuk menghancurkannya. Namun sekarang, sepertinya sang Pangeran Kegelapan itu harus membeberkan rahasia terdalamnya. Dan orang yang beruntung itu tidak lain adalah Albus Dumbledore. Ya. Sekarang ini ia akan mengatakan kepada pria tua itu mengenai Horcrux; benda hitam yang sudah membuatnya hidup abadi.

Sudah benarkah keputusan yang dibuatnya?

"Lima...?" Suara Dumbledore terdengar sayup-sayup di tengah deburan ombak yang mengelilingi mereka. "Kau membuat lima Horcrux? Aku tidak pernah membayangkan kau akan membagi jiwamu sebanyak itu."

Voldemort tidak mengacuhkan kata-kata Dumbledore. Pria beriris seperti warna darah itu melangkahkan kakinya memasuki sebuah gua gelap dan dalam yang terletak di daerah pesisir pantai yang pernah dikunjunginya ketika masih tinggal di panti asuhan. Rentetan mantra keluar dari bibirnya disertai dengan ayunan tangan yang rumit. Tempat ini. Voldemort sudah tidak lama ke sini setelah menyembunyikan salah satu Horcrux miliknya. Ia mengenal setiap perintang yang terpasang di tempat ini karena dirinyalah yang membuatnya. Inferi, anti-apparation, dan bahkan minuman beracun adalah sihir yang ia pasang untuk menyingkirkan pengganggu yang datang ke tempat ini.

Begitu semua sihir di tempat itu dihentikan, Voldemort meraih Horcrux yang disimpannya di tengah-tengah danau. Ia bisa merasakan kalung peninggalan ibunya berdetak pelan di tangannya. Jiwanya mengenali apa yang tersembunyi di balik liontin kalung Slytherin itu. Timbul keraguan di dalam diri Voldemort. Apakah keputusannya sudah tepat? Ya, pikirannya berkata. Bukankah hanya ini cara satu-satunya yang bisa dilakukannya sekarang?

Semuanya masih bisa berubah.

Sang Pangeran Kegelapan membelai ukiran ular yang terpasang pada kalung itu sebelum menyerahkannya kepada Dumbledore. Pria itu tersenyum tipis sebelum menerimanya, meletakkan di atas sebuah batu. Tangan pria tua itu mengulurkan pedang Gryffindor; peninggalan Godric Gryffindor yang diinginkannya sebagai salah satu wadah jiwanya. Ironis. Justru pedang itulah yang kini akan menghancurkan Horcrux miliknya.

Voldemort tidak merasakan apapun begitu ia memerintahkan kalung tersebut terbuka. Ia tidak merasakan sakit saat Dumbledore menghancurkannya. Hanya desir aneh sebelum jiwa Horcrux itu kembali kepadanya; menyisakan sebuah kalung biasa tanpa arti. Hal yang sama juga dirasakannya ketika Dumbledore menghancurkan Tiara Ravenclaw, Piala Hufflepuff dan cincin Gaunt. Hanya ketika Dumbledore membunuh Nagini, ia merasakan rasa sakit di dadanya. Aliran sihir di sekitarnya berubah menjadi tidak tentu. Dadanya sesak ketika dirinya mengingat perasaan-perasaan yang dulu pernah dilupakannya; terkunci rapat-rapat pada Horcrux-Horcrux miliknya. Perasaan mengenai bagaimana ia melihat Evans terbunuh di hadapannya dan menyisakan tubuh tanpa nyawa yang perlahan mendingin membuatnya tidak tahan untuk tidak mencengkeram erat dadanya. Ia ingin menangis. Ia ingin mengoyak tubuhnya dan menghilangkan rasa sakit ini.

Ia benci perasaan seperti ini. Perasaan inilah yang selalu ingin ia hilangkan dari dirinya. Tidak apa-apa jika tubuhnya tidak memiliki perasaan apapun. Setidaknya hal itu justru jauh lebih baik dari apa yang dirasakannya sekarang.

Sakit...

Kesepian...

Ia tidak menginginkan perasaan yang hanya membuatnya lemah.

"... Kau sudah semakin mendekati jiwa manusiamu. Apa kau merasakannya, Tom? Apa kau merasakan bagaimana seluruh jiwa yang kau cabik menjadi Horcrux kini kembali menyatu padamu?"

Voldemort tidak mengiyakan atau membantah. Ia hanya diam sambil menggeretakkan giginya. Perburuan Horcrux ini seperti menghabiskan seluruh tenaga yang ada pada dirinya. Ia lelah. Sangat. Ia sangat ingin berbaring di atas tempat tidurnya dan meredakan rasa sakit di dadanya. Namun ia tahu. Ia tahu kalau semuanya belum berakhir. Masih ada hal yang harus dilakukannya. Dan ini adalah bagian yang terakhir sebelum apa yang diinginkannya tercapai.

"Kau sudah menghancurkan semua Horcrux milikku," desis Voldemort, "apa maksudmu dengan mengatakan kalau aku semakin mendekati jiwa manusiaku? Aku bahkan tidak memiliki Horcrux lagi, Dumbledore!"

Voldemort tidak tahu mengapa pria itu itu menggeleng. "Tidak. Kau masih punya satu Horcrux lagi. Horcrux yang tidak sengaja kau buat ketika kau mencoba membunuh Harry empat belas tahun yang lalu. Apa kau tidak merasakan bahwa kau belum utuh sepenuhnya?"

Voldemort yang tidak mau mempertanyakan mengapa Dumbledore begitu tahu mengenai Horcrux-nya lebih dari dirinya sendiri hanya bisa mendengarkan penjelasan dan teori pria itu. Sang Pengeran Kegelapan menatap tidak percaya pada sosok kepala sekolah Hogwarts tersebut. Ia mempunyai Horcrux lain yang tidak disadarinya?

"... Apa yang harus kulakukan?" tanya Voldemort sembari berusaha mencerna dugaan yang disampaikan pria itu.

"Kau harus membunuhnya. Itu adalah satu-satunya cara yang bisa kaulakukan," ujar Dumbledore tanpa memperlihatkan ekspresi apapun di wajahnya. Pria itu menggumankan rentetan mantra sebelum memunculkan sebuah lubang berwarna hitam yang terlihat tanpa ujung. "Kill him, Tom."

End of flashback.

( )

Juli 1943

Semuanya terlihat seperti gerakan film yang dilambatkan di mata Tom. Dengan gerakan lambat ia melihat Voldemort mengacungkan tongkat sihir kepadanya dan meneriakkan Kutukan Pembunuh yang ditujukan untuknya. Dengan gerakan yang sama pula, kedua iris gelapnya menangkap gerakan dari sampingnya. Ia hanya bisa terpaku dan tidak bergerak sama sekali melihat bagaimana Evans berdiri di depannya, menghalangi pandangannya pada sosok Voldemort sekaligus menerima Kutukan Pembunuh yang seharusnya ditujukan kepadanya. Otaknya seakan-akan berhenti bekerja saat itu juga. Tidak ada satu pun reaksi yang diberikan sang Pewaris Slytherin itu ketika melihat sosok Evans yang terkena Kutukan Pembunuh sebelum tubuh pemuda itu terdorong ke belakang; mengenai bagian depan tubuhnya dan dengan perlahan merosot sebelum tergeletak begitu saja di atas lantai kelas yang dingin.

Mengapa? Mengapa Evans berbaring di lantai kelas yang dingin? Mengapa Evans tidak bergerak walau ia sudah mengguncang tubuh pemuda itu dan menyuruhnya untuk membuka mata? Mengapa Evans tidak bernapas? Mengapa semua ini harus terjadi? Mengapa—

Bibir Pewaris Slytherin itu bergetar ketika membisikkan nama pemuda di pelukannya. Jemari tangannya juga ikut bergetar saat ia menggeraknya jemarinya ke wajah Evans; menelusuri setiap lekuk wajah pemuda itu. Sepasang kelopak mata Evans terpejam erat. Tidak terlihat ada gerakan dari pemuda di pelukannya. Tubuh pemuda itu masih terasa hangat. Ia masih bisa melihat rona merah di beberapa bagian permukaan tubuh Evans; membuktinya masih ada darah yang mengalir di pembuluh darah pemuda itu. Tapi mengapa Evans tidak bernapas?

"... Siapa yang menyangka jika ada sifat Gryffindor di balik jubah Slytherin yang dipakainya. Selalu bersikap spontan tanpa berpikir dua kali. Slytherin yang ceroboh, kurasa."

Kalau saja Tom memiliki tatapan membunuh milik Basilisk, mungkin saat ini juga ia akan melihat satu lagi sosok yang terbaring tidak bernyawa di atas lantai yang dingin. Namun nyatanya, Tom tidak memiliki hal itu; hanya bisa menatap tajam ke arah sosok Voldemort yang perlahan berjalan mendekatinya. Ia mendesis sembari mengacungkan tongkat sihir miliknya ke arah Voldemort.

"Kau mengatakan kalau kau akan membantu agar Evans tetap hidup!" desis Tom dalam Parseltongue tanpa sadar. Kedua matanya berkilat penuh amarah. "KAU BARU SAJA MEMBUNUHNYA!"

Voldemort hanya memutar bosan kedua bola matanya. "Aku memang mengatakan kalau aku akan membantunya untuk tetap hidup. Bukan salahku jika sifat Gryffindor milik kedua orang tuanya membuatnya maju untuk menyelamatkanmu, Tom Riddle. Semua ini adalah kesalahannya sendiri. Kau seharusnya bersyukur karena Potter menyelamatkanmu. Jika tidak, mungkin kaulah yang kini terbaring tidak bernyawa."

Bersyukur katanya? Voldemort seharusnya tahu jika selama ini dirinya sudah menghabiskan banyak waktu untuk mencari bagaimana cara agar Evans bisa menghindari kematiannya. Seharusnya tidak seperti ini. Tidak seharusnya Evans terbaring di pelukannya dan tidak bergerak sama sekali. Semua usaha yang dilakukannya kini hanya sia-sia saja. Semuanya sudah berakhir. Evans... Harry... pemuda itu sudah tidak ada lagi di dunia ini; meninggal karena menyelamatkannya.

Mengapa... mengapa Takdir begitu kejam kepadanya? Tidak adakah yang bisa dilakukannya sekarang? Tidak bisakah ia mengembalikan nyawa Evans?

Tom tidak tahu mengapa tiba-tiba saja seluruh tenaganya menguap entah ke mana. Tubuh pemuda itu tertunduk; seolah-olah tidak ada sedikit pun tenaga yang tersisa lagi. Ia bisa melihat kalau wajah Evans mengabur akibat air mata yang mulai terbentuk. Ia memejamkan matanya dengan erat dan mendekatkan tubuh Evans; menenggelamkan kepalanya pada helaian rambut hitam berantakan milik pemuda itu. Ia tidak ingin menangis. Tidak. Bagaimanapun sesak yang dirasakannya sekarang, bagaimanapun otaknya tidak bisa mencerna apa yang tengah terjadi, ia tidak ingin menangis.

"Harry...," bisik Tom di telinga pemuda di pelukannya; berharap jika Evans bisa mendengar apa yang dikatakannya. Ia tahu kalau dirinya terlihat seperti orang bodoh. Akan tetapi, Tom tidak peduli. Ia sudah gagal. Ia sudah gagal menyelamatkan pemuda itu. Apa gunanya semua hal yang sudah dilakukannya selama ini.

"... Kau terlihat sangat lemah sekali, Tom." Voldemort menatap kedua pemuda di hadapannya. Tidak sekalipun melepaskan pandangan kepada sosok dirinya di masa lalu yang tengah menangisi kematian Evans. Ia sudah pernah merasakan hal ini sebelumnya. Namun... harus ia akui, perasaan yang sama kembali dirasakannya setiap kali mengingat bagaimana Evans meninggal dan ialah yang membunuh pemuda itu. Tapi ada tujuan di balik semua hal yang dilakukannya. Ia tahu kalau Evans akan hidup. Ya. Hal itulah yang dikatakan Dumbledore kepadanya.

Saat ini, mereka hanya perlu menunggu. Hanya itulah yang bisa dilakukannya.

"Aku tidak tahu aku terlihat begitu menyedihkan seperti ini jika tidak melihatnya sendiri," Voldemort kembali berkata. Ia tidak peduli jika dirinya di masa lalu tidak mendengarkan apa yang dikatakannya. "Mungkin aku memang baru menyadari arti keberadaan Evans setelah kehilangannya. Setidaknya kau beruntung, Tom, kau masih bisa bersamanya."

"Dia mati, Idiot!" Tom berseru. Kali ini pemuda itu mendongak; menatapnya dengan kedua mata yang masih mencerminkan kalau dirinya di masa lalu adalah manusia biasa; bukan makhluk yang sudah membagi jiwanya menjadi enam Horcrux. "Apa kau lupa kaulah yang membunuhnya?"

"Tapi Evans akan hidup," ujar Voldemort dengan nada tenang. "Dia akan hidup. Begitu juga dirimu."

Namun belum sempat Voldemort mengatakan apa maksud di balik kata-kata yang diucapkannya barusan, Pangeran Kegelapan itu merasakan sentakan aneh pada dadanya. Ia meringis dan tanpa sadar berlutut di atas lantai untuk menopang tubuhnya. Napas pria itu memburu dan sesekali terlihat tidak bisa bernapas dengan benar. Ia merasakan sihir di sekelilingnya berubah; hal yang sama dirasakannya setelah Dumbledore membunuh Nagini. Ya. Satu-satunya Horcrux yang tersisa kini telah musnah.

Voldemort tidak lagi makhluk yang abadi. Ia hanyalah seorang pria biasa. Tidak ada lagi Horcrux. Tidak ada lagi yang bisa mencegahnya dari kematian.

"... Well, selama datang kembali, Potter," desis Voldemort yang mencoba untuk berdiri. Pria itu masih memegangi erat dadanya yang berdenyut. Ia bisa melihat pandangan tidak mengerti di mata Tom yang ditujukan untuknya. Namun sang Pangeran Kegelapan itu hanya mengedikkan kepala dan menyuruh pemuda itu untuk melihat ke arah Evans. Tidak ada yang menyadari sebelumnya kalau tubuh yang tadi kaku itu mulai bergerak. Dada Evans bergerak naik dan turun dengan perlahan sebelum sepasang kelopak mata yang sebelumnya tertutup perlahan terbuka. Kedua mata pemuda itu sempat bergerak liar sebelum menyadari keberadaan Tom dan dirinya. "Senang kau kembali dari kematianmu."

Tom sungguh tidak mengerti apa yang sedang terjadi. Bukankah sesaat yang lalu Evans tidak bergerak? Pemuda itu bahkan tidak bernapas! Lalu... lalu bagaimana sekarang Evans tiba-tiba saja membuka matanya kembali? Bukankah Evans sudah terkena Kutukan Pembunuh? Apa yang sebenarnya terjadi? Mengapa Evans masih hidup?

"Tom...? Apa yang—"

Tom tidak membiarkan Evans menyelesaikan kalimatnya. Ia sudah terlebih dahulu merengkuh tubuh pemuda itu dan memeluknya dengan erat. Persetan mengenai apapun yang terjadi. Ia tidak peduli lagi. Asalkan Evans hidup, ia tidak peduli dengan semuanya. Semua itu bisa dibicarakan lagi. Yang terpenting sekarang adalah Evans. Hanya Evans.

Tidak peduli sekarang ini Voldemort masih berada di ruangan yang sama dengannya atau Evans yang masih terlihat bingung dengan apa yang terjadi, Tom menangkupkan tangannya pada kedua sisi wajah Evans sebelum meraup bibir pemuda itu. Ia bisa mendengar Evans sempat tersentak pelan sebelum membalas setiap pagutan yang diberikannya. Tom hanya ingin merasakan keberadaan pemuda itu; meyakinkan dirinya kalau Evans memang masih hidup. Evans kembali kepadanya. Ia perlu memastikan dirinya sendiri; menyakinkan bahwa ia sedang tidak bermimpi. Evans bersamanya dan sekarang tengah membalas ciumannya.

"... Kau hidup," desah Tom ketika kedua bibir mereka tidak lagi terpagut satu sama lain. Kedua mata Harry sempat tidak terfokus selama beberapa saat sebelum membelalakkan matanya; teringat apa yang terjadi sebelum ini. Bukankah ia terkena Kutukan Pembunuh dari Voldemort? Lalu mengapa sekarang ia masih hidup? Dengan cepat Harry mengalihkan pandangannya dan mencari sosok Voldemort; melihat pria itu berdiri dengan tenang tidak jauh darinya.

"Mengapa—?"

"Mengapa kau masih hidup?" tanya Voldemort; Harry hanya mengangguk. "Karena kau adalah Horcrux. Horcrux milikku yang tidak sengaja kubuat saat aku mencoba membunuhmu. Pengorbanan yang dilakukan ibumu berhasil mencegahku untuk membunuhmu; membuat Kutukan Pembunuh berbalik menyerangku. Aku tidak bisa mati karena sebelumnya aku sudah membuat beberapa Horcrux. Ketika perlindungan ibumu melindungimu dan memusnahkan tubuhku, jiwaku tidak sengaja tercabik dan mencari sebuah wadah untuk bisa bertahan hidup. Kau... adalah satu-satunya wajah yang cocok di tempat itu."

"Aku... adalah Horcrux-mu?"

Voldemort mendecakkan lidah. "Kaupikir mengapa kau bisa berbicara dengan ular, huh? Kau bahkan tidak memiliki garis keturunan Salazar. Kaupikir mengapa bekas lukamu terasa sakit setiap kali ak—maksudku Tom marah atau merasakan emosi yang berlebihan? Karena kau memiliki jiwa kami di tubuhmu. Setidaknya itu teori yang dikatakan Dumbledore padaku."

"Dumbledore?" tanya Tom dan Harry bersamaan.

Harry hanya bisa mendengarkan apa yang dikatakan Voldemort. Bagaimana Dumbledore membantu Voldemort untuk pergi ke masa ini, bagaimana pria itu juga menghancurkan semua Horcrux milik Voldemort sampai kepada bagaimana Voldemort merencanakan untuk membunuh Tom. Harry sungguh tidak percaya jika ia terpancing dengan mudah apa yang dilakukan Tom. Horcrux di dalam dirinya hanya bisa dihancurkan jika ia menyerahkan nyawanya untuk mati tanpa paksaan apapun; dengan begitu jiwa Voldemort di dalam dirinya bisa hancur. Dan dengan meyakinkan dirinya bahwa Voldemort akan membunuh Tom, ia menyerahkan dirinya untuk melindungi pemuda itu.

Lalu apakah dengan seperti ini nyawanya sudah bisa diselamatkan? Apa ia sudah terhindar dari kematian?

"Nyawa Evans belum sepenuhnya aman," kata Voldemort seolah-olah tahu apa yang ada di pikirannya; membuat Harry memfokuskan pandangan kepada Voldemort. "Ada satu hal yang harus kaulakukan. Dan hal itu hanya kau yang bisa melakukannya."

"Apa—"

"—Kill me, Harry."

To be continued

-o-

[a/n]: saya update tergantung mood. So, jika ingin mood saya baik dan update cepat, silahkan tinggalkan review, oke? Terima kasih banyak atas review yang sudah diberikan (HAGU) dan untuk silent reader, tidak apa-apa lho, sekali-kali memberi komentar. Jujur, kadang melihat hits dan visitor yang segitu banyak dan tidak sebanding dengan ripiu membuat mood saya jatuh. I know. I'm being childish here. But sometimes, I wanna hear your opinion about this fanfiction =)

See you soon, Pals! Jaa~ #runsaway