Jihoon mulai memasuki sebuah kastil dengan nuansa yang masih sama dengan kastil sebelumnya. Kastil yang tentu saja beraura gelap dan memiliki penerangan minim.
Rubah kecil yang menuntunnya telah menghilang tepat di depan kastil beberapa saat lalu.
Tak bisa dipungkiri bahwa kini jantungnya berdebar tak karuan. Jelas saja sudah ratusan tahun ia tak bertemu sosok yang melahirkanya ini.
Yang masih ada di ingatannya bahwa ibunya memiliki wajah yang amat sangat manis walau sifatnya benar-benar bertolak belakang dengan wajahnya. Begitulah ia mendapatkan sifatnya sekarang ini. Sifat yang seperti ular namun berwajah seperti kelinci.
Pintu di ujung sana terbuka dengan sendirinya. Jihoon dapat mendengar nada-nada padu oleh dentingan piano. Jihoon yakin bahwa disanalah ibunya berada karena sang ibu amat sangat menyukai piano.
Jihoon tersenyum kala melihat sosok pria dengan rambut coklat memainkan sebuah grand piano.
Benar bukan, ibunya sosok yang amat cantik. Mata pria itu tertutup seolah menikmati dengan sangat permainannya. Kala ia usai, Jihoon dapat melihat manik karamel itu menatap ke arahnya.
Pria itu menutup pianonya lalu berjalan menuju Jihoon.
"Hi, son. Wanna hug me?"
Tak perlu waktu yang lama untuk Jihoon jatuh kepelukan sosok yang amat ia sayangi itu.
Jihoon dapat merasakan pelukan yang benar-benar ia rindukan. Walau ia sosok yang amat sangat handal dalam segala kondisi, ia tetaplah seorang anak yang juga perlu kasih sayang.
Kini mereka duduk di sofa yang ada di ruangan itu.
Jihoon sama sekali tak berniat berjauhan dengan ibunya. Ia meletakan kepalanya di pangkuan ibunya. Hei, kau akan jarang melihat sosok Jihoon yang seperti ini.
"Bagaimana kabarmu?" Tanya ibunya.
Jihoon tersenyum kecil.
"Lebih dari baik. Memerlukan banyak waktu untuk bisa bertemu dengan saudaraku yang lain. Oh ma, kau semakin muda saja." Kata Jihoon.
"Tentu saja son, Pa mu itu mengembalikan kemudaan ma. Aku masih ingat ketika kau menangis keras saat ma hampir menghembuskan nafas terakhir. Apa ma jelek saat itu? Umur ma mungkin sudah 90 tahun saat itu."
Jihoon tersenyum kembali. Kenangannya semasa kecil kembali terulang. Namun sedetik kemudian Jihoon terdiam.
"Hei, ma… Aku ingin bertanya. Aku ingat bahwa daddy biasa saja terhadapku walau aku bukan anak kandungnya. Mmm… Bisakah ma menceritakan saat ma bertemu dengan pa hingga aku lahir?"
Ibu Jihoon menyeritkan dahinya.
"Kenapa kau ingin mengetahuinya, son?"
Jihoon terdiam kembali.
"Pertama aku hanya ingin tahu karena aku adalah master dari ilmu pengetahuan. Karena aku ingin tahu kenapa ma yang terpilih bukan orang lain. Dan alasanku sebenarnya…. karena aku takut ma terluka seperti ma Minki. Hatiku sangat sakit kala menyaksikan dengan mataku ini bagaimana kehidupan ma Minki."
Pria itu tersenyum.
"Kita tunggu saat semuanya berkumpul. Mungkin saat makan malam. Itu yang kami sepakati sebelum kalian datang."
Jihoon hanya mengangguk menyetujui.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
Gelak tawa super elegan sudah memenuhi ruangan itu.
Ini adalah kastil ibu Jisoo yang sifatnya tak jauh beda dengan anaknya.
Jisoo menemukan ibunya sedang asyik merangkai karangan bunga. Memang indah, hanya saja bentuk bunga-bunga itu yang sedikit melenceng dari bunga yang ada di Cassiopeia.
Bayangkan saja salah satu bunga berbentuk mata horus yang bisa berkedip setiap 3 detik. Atau daun berbentuk tangan yang bisa berjabat tangan. Ah, ada yang lebih aneh. Bunga berbentuk berlian yang luar biasa cantiknya. Mungkin bukan aneh, namun tetap saja tak akan ada hal alami seperti itu di Cassiopeia.
Ibu Jisoo adalah seorang permaisuri kekaisaran Quartzea saat itu. Ia memiliki tampilan ala pria Quartzea pada umumnya yang memiliki rambut panjang. Anggun parasnya dan tahu tata krama.
"Astaga, aku tak tahu bahwa kau tumbuh menjadi pria yang cantik begini." Kata pria itu sambil mengelus rambut Jisoo.
"Maafkan jika aku tak bisa menjadi tampan dan malah menjadi cantik. Oh iya ma, apa ma Minki selama ini baik- baik saja?" Tanya Jisoo tiba-tiba.
Ibunya terdiam sebentar sebelum sebuah senyuman ia tampakan.
"Tentu saja Minki baik- baik saja. Apa kau bertanya karena Seungkwan membuat ulah?".
Jisoo mengangkat alisnya. Hei, bagaimana ibunya ini tahu.
"Tentu saja ma mengetahuinya, sayang. Di kamar ma ada sebuah cermin besar yang berfungsi untuk memantau kalian, yah walau tak setiap saat. Bahkan kami semua memiliki cermin kami masing-masing." Jawab pria itu.
Jisoo kembali mengangkat alisnya.
"Aku belum sempat berbicara ma dan kau sudah menjawabnya."
"Hahaha, insting seorang ibu, Jisoo. Bagaimana dengan secangkir susu untukmu?" Tanyanya.
Jisoo menyeritkan keningnya. Ia berpikiran aneh saat ini karena melihat karangan bunga yang ibunya tadi rangkai.
"Ma, jika bunga saja seperti itu… Apa teh dan juga susu itu…" Katanya menggantung.
Sang ibu tersenyum lebar.
"Teh yang kau akan minum ini berasal dari daun teh di jurang Hoius yang dapat tumbuh subur dengan suhu optimal dari nafas juga lendir naga yang juga disiram setiap hari oleh sisa pencernaan burung hio…"
Jisoo tahu ibunya itu belum usai berbicara. Hanya saja ia dalam usaha menelah ludahnya dengan susah payah.
"… Lalu masalah susu, tentu saja dari chimera. Kau pasti menyukainya."
Dan kembali Jisoo menelan ludahnya dengan susah payah untuk kesekian kali.
"Haha… jangan memasang wajah seperti itu Jisoo. Oh iya, bagaimana kabarmu dengan Seokmin? Berjalan baik bukan?"
Jisoo tertegun. Lalu sebuah senyuman penuh ketulusan ia tunjukan.
"Baik- baik saja, ma. Sekarang mungkin tidak seperti dulu, namun kami baik-baik saja."
Dan wanita itu tersenyum membalas.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
Grep.
Pelukan hangat di terima Mingyu. Sungguh ia sangat merindukan pelukan ini.
"Bagaimana keadaanmu Mingyu -ya? Ma sangat merindukanmu." Ucap wanita yang lebih pendek dari Mingyu itu.
Mingyu mengangguk sambil tersenyum tipis.
Wanita di hadapannya yang adalah ibunya ini benar-benar masih tampak seperti di ingatan Mingyu. Sosok wanita yang memiliki kulit tan dan badan yang aduhai.
"Sangat lama tak jumpa, aku seolah tak ingin melepaskan pelukanmu ma…"
"Kau menjadi anak baik bukan selama ma tak ada? Bagaimana dengan papamu saat ma tak ada?"
Wanita itu melepaskan pelukannya namun masih merangkul anaknya.
Mingyu mengangguk sambil tersenyum kecil.
"Aku selalu menjadi anak baik, ma. Soal papa, ia meninggal dengan damai. Ia bisa dimana saja saat ini." Balas Mingyu.
Mereka kini duduk di meja makan.
"Ingin tambahan susu?"
Ibu Mingyu menyiapkan kudapan ringan seperti cake dan beberapa minuman.
Ah, tidak seperti Jisoo yang meminum teh dan susu dari dunia ini, ibu Mingyu sengaja membawa bahan makanan dari dunia manusia.
Ia ingin memasak apple pie yang sangat disukai oleh Mingyu saat ia kecil. Benar saja, Mingyu memakannya dengan lahap.
Mingyu sangat ingin bermanja-manja dengan ibunya saat ini. Ia pun tak perlu memaksakan diri untuk menunjukan sisi seorang 'anak' karena memang ia masih anak-anak untuk ibunya.
"Mingyu, ma dengar bahwa Seungkwan bermasalah dengan Jeonghan ya?" Tanya sang ibu.
Mingyu menghela nafasnya.
Ia hampir lupa masalah itu.
"Mungkin masalah Seungkwan adalah dengan perasaan dalam hatinya, ma. Ia belum bisa berdamai dengan dirinya sendiri. Seperti Jisoo hyung dan Putra Mahkota Jisoo."
Ibu Mingyu terdiam sambil menganggukan kepalanya.
"Jika ma ada di posisi ma Minki… Apa yang akan ma lakukan?"
Pertanyaan Mingyu membuat ibunya tersenyum menyeringai. Senyuman yang membuat Mingyu bingung.
"Mingyu, bagaimana jika kau yang berada di posisi Seungkwan? Saat kau memiliki kemampuan untuk melihat masa depan. Apa yang akan kau lakukan?"
Kali ini Mingyu yang terdiam. Ia mengalihkan pandangannya ke pie yang ada di tangannya dan sebuah senyum tipis ia keluarkan.
"Pasti. Pasti akan sama dengan yang dilakukan Seungkwan saat itu."
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
Jika yang lainnya sibuk bercengkrama dengan ibunya, Seokmin malah sebaliknya.
Tak ada pembicaraan di antara ia dan ibunya. Yang ada hanya kicauan burung phoenix yang lebih mirip jeritan.
Alasannya?
Bukan karena mereka tak akrab. Mereka amat sangat saling mencintai. Hanya saja mereka tengah berkebun kini.
Rubah berwarna merah tadi menuntunnya ke belakang kastil. Tepat saat ia melihat sesosok wanita berambut sebahu yang sibuk menyirami bunga-bunga disana.
Seokmin tahu betul sifat ibunya. Maka dari itu ia tak mengajaknya berbicara dan langsung mengambil siraman bunga setelah menugaskan rubah merah itu masuk ke dalam dirinya.
Ibunya hanya tersenyum kala melihat sosok Seokmin ikut menyirami bunga-bunga di sampingnya. Mereka saling bertukar pandang, tersenyum, dan melanjutkan menyirami aneka bunga.
Beberapa saat mereka telah usai dengan siram-menyiram.
"Seokmin, ayo masuk. Ma akan menunangkan teh untukmu." Ucap wanita itu.
Seokmin mengangguk lalu ikut masuk ke dalam kastil.
Di dalam kastil, Seokmin duduk di sebuah meja makan yang terletak di salah satu ruangan.
"Jadi, Seokmin… Untuk apa kalian kemari?" Tanya ibunya setelah menuangkan teh ke cangkir Seokmin.
Seokmin menyeritkan dahinya.
"Kenapa kau bertanya seperti itu ma?"
Wanita itu tersenyum. Bahkan dengan tersenyum saja bisa menunjukan bahwa wanita ini sosok yang cool.
"Kau tahu, aku selalu ingin membuatmu hidup sebagai manusia. Dan sekarang karena kau sudah masuk ke dunia ini, darah iblismu menjadi lebih kental, mungkin saja darah iblismu itu menggerogoti darah manusiamu. Bukan apa- apa, hanya saja ma sedikit kesal mengingat perjuangan ma waktu itu."
Seokmin tersenyum lebar.
"Mau bagaimana lagi, ma. Kami kemari juga karena ingin membantu Seungkwan. Ma, kau tak semenyakitkan itu bukan? Maksudku… Kisah kau dan pa…" Tanyanya.
Wanita itu menghela nafasnya.
"Sebenarnya hampir sama. Hanya saja, bukan orang lain yang menyakiti ma, tapi ma sendiri." Jawab ibu Seokmin.
Jika boleh jujur, sekarang ini Seokmin mencoba mengingat kenangan-kenangannya bersama sosok ibunya. Tak satu pun yang mencerminkan bahwa ibunya itu menderita.
Bahkan ayahnya sangat mencintai ibunya ini walaupun anak yang dikandungnya adalah anak penguasa dunia bawah.
"Jangan memasang wajah seperti itu. Ingat ketika ma meninggal karena pemberontakan klan Lee utara? Sebenarnya ma bunuh diri dengan menusukan sebilah pedang milik musuh. Bukankah kau baru berumur 8 tahun saat itu?"
Seokmin melebarkan matanya.
"Aku menangis keras saat itu dan astaga! Ma ternyata bunuh diri? Syukur aku bertemu denganmu sekarang ma." Kata Seokmin akhirnya.
"Jika Minki tersiksa karena ia sangat menerima kehadiran Seungkwan, maka ma menderita karena kau lahir. Bukan karena ma tak mencintaimu, tapi ma sangat terguncang waktu itu. Dan ini bukan salahmu, kau mengerti?"
Seokmin hanya bisa menganggukan kepalanya.
Ibunya itu seorang yang absolute. Keputusannya tak akan mudah untuk diubah dan Seokmin hanya bisa menerima setiap kata yang ibunya ucapkan.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
Kini kita berada di sebuah kastil dengan corak merah disana sini. Sangat persis dengan suasana di Liliabay membuat Wonwoo bernostalgia. Ini adalah kastil ibu Wonwoo.
Tak jauh berbeda dengan yang lainnya, Wonwoo duduk di sofa sambil berbicara banyak hal.
Sejujurnya Wonwoo sama sekali tak pernah bertemu sosok ibunya. Ia hanya mengetahui lewat sebuah foto yang ada di rumahnya saat itu.
Ibunya meninggal karena terserang penyakit yang sekarang kita ketahui sebagai kanker leher rahim.
Jika saja tak ada Satan, mungkin ibu Wonwoo tak akan menjadi wanita seutuhnya yang bisa melahirkan anak dengan normal.
Disinilah Wonwoo sekarang.
Ibunya memiliki wajah yang persis dengan dirinya. Mungkin karena itu Wonwoo sedikit cantik atau ibunya yang sedikit tampan?
"Ma, bagaimana dengan kehidupan ma disini? Apa menyenangkan?" Tanya Wonwoo.
Ibunya tersenyum kecil lalu terkekeh.
Wonwoo mau tak mau menatap sang ibu bingung. Pada akhirnya wanita itu membuka mulutnya siap berbicara.
"Berada di samping sosok yang ma cintai tentu saja membuat ma bahagia." Kata ibunya.
Wonwoo menyeritkan dahinya.
"Apa semuanya mencintai pa?" Tanya Wonwoo.
"Tentu saja. Jika kami tak mencintai Lux, mana mungkin kami mau menjadi iblis, sayang? Yah walau banyak yang terjadi, tetap saja semuanya mencintai pa mu itu."
Kini Wonwoo mengangguk-anggukan kepalanya.
"Sebenarnya aku penasaran dengan kisah kalian, hanya saja kita tak punya cukup waktu. Ayo, kita harus berkumpul di istana utama."
Wonwoo menyerit bingung.
"Berkumpul?" Tanya Wonwoo.
Ibunya mengeluarkan sebuah senyuman.
"Kita semua harus bertemu bukan? Ingatkah bahwa ibumu itu bukan hanya ma seorang?"
"Ah.. Aku mengerti. Baiklah." Jawab Wonwoo.
Mereka bangkit lalu berjalan keluar kastil.
"Ma, kenapa kastil ini sepi sekali? Tak adakah yang mengurusnya selain ma?"
Memang benar. Kastil ini seperti kastil berhantu, memang bertempat di dunia bawah, namun tetap saja aneh untuk ukuran 'para pendamping Raja Iblis'.
"Mereka akan muncul jika kita memerlukan entah itu maid, tukang kebun, bahkan kereta sekalipun. Lihat."
Ibu Wonwoo menunjuk dengan dagunya ke arah depan.
Sebuah kereta muncul dari bawah tanah lengkap dengan kusir, penjaga, juga hewan aneh yang mungkin menjadi penarik kereta itu.
"Ayo, kita harus cepat karena ayahmu itu tak suka jika kita terlambat."
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
"Jadi kisahmu?"
