Sebuah Remake dari novel yang berjudul A Romantic Story About Serena karya Shanty Agatha

.

Disclaimer:
Ide cerita dan sebagian besar plot diambil dari novel aslinya, disertai dengan penambahan dan pengurangan seperlunya dari saya. KyuMin is not Mine!

.

Warning:
OOC, Yaoi, Typo(s), DLDR, de el el

.

Part 26

.

Terbangun di tempat yang masih terasa asing membuat Sungmin berpikir bahwa ia sedang bermimpi dan masih tersesat di dalam mimpi tersebut.

'Dimana ini?' tanyanya dalam hati, matanya masih terasa berat, godaan untuk melanjutkan tidur jelas masih ada. Mungkin sebaiknya ia harus mengurutkan semua hal yang terjadi sebelum ia tertidur di kamar dan ranjang mewah ini. Sambil mengedarkan pandangan ke sekelilingnya, Sungmin berusaha mengenali tempat dimana ia berada sekarang.

Rumah sakit.

Ji Young.

Dan Kyuhyun.

Malapetaka pun telah terjadi.

Semua kejadian semalam kembali berputar seperti potongan dari bagian film yang rusak dan membuat kepalanya berdenyut sakit. Kejadian itu terus hadir di depan matanya, seolah sedang mengingatkannya betapa buruk jalan nasibnya sekarang.

Ji Young sudah mengetahui semuanya dan mau tidak mau aib yang selama ini ia simpan harus muncul ke permukaan. Tidak hanya melukai hati orang yang pernah begitu ia cintai itu, tapi juga membuat Kyuhyun, orang yang harusnya tetap di luar lingkaran kini turut berada dalam pusaran masalah yang jauh lebih besar. Sekarang dua masalah besar itu bertemu dalam satu masalah yang lebih besar. Sungmin semakin tidak sanggup menemukan jalan keluar dari semua masalah ini. Ia terjebak, benar-benar terjebak.

Semakin ia memikirkan semua ini semakin menambah nyeri di kepalanya. Sungmin memutuskan untuk merebahkan dirinya kembali dan menunggu nyeri itu hilang.

"Hai..." sebuah suara datang menyapanya sebelum ia memejamkan kedua matanya. "Ini pagi yang cerah, kau akan melewatkan banyak hal baik jika hanya berbaring di sana."

Sungmin menoleh ke si pemilik suara tersebut, suara itu tidak asing rasanya. Dan ternyata benar. Nicole sudah berdiri di dekat pintu kamar tersebut sambil melipat tangannya di dada dan menatap ke arah Sungmin dengan tatapan yang lumayan ramah. Ia ingat sempat merasa cemburu terhadap gadis ini sebelumnya. Syukurlah dia hanya seorang sepupu, seperti dokter Kim.

"Ke-kepalaku sakit." Jawab Sungmin sedikit ragu-ragu.

"Kita akan mencarikan solusi tepat untuk yang satu itu. Sebaiknya kau mandi atau kalau sakit kepalamu sangat mengganggu kau cukup mencuci mukamu saja. Aku akan meninggalkanmu sebentar, lalu kembali dengan aspirin dan sarapan pagi untukmu."

"Kau tidak perlu repot-"

"Ahh, jangan sungkan. Harusnya kau mengatakan terima kasih padaku." Potong Nicole sambil mengibaskan tangannya. "Kyuhyun sudah berangkat ke kantor- "

"Kantor?" ujar Sungmin panik. "Aku juga harus ke kantor, aku harus masuk kerja. Astaga, aku terlambat," katanya semakin panik setelah melihat jam digital di meja lampu. Sungmin pun mengabaikan nyeri di kepalanya dan segera bangun. Mungkin masih ada waktu untuk bersiap-siap, ia akan masuk ke kantor dengan pakaian yang ia kenakan kemarin. Syukurlah Kyuhyun meminjamkannya piyama untuk tidur.

"Kau sudah dipecat, Sungmin-ssi." Kata Nicole hati-hati, ia menatap Sungmin dengan prihatin.

Sungmin terkejut, tidak ada kata-kata yang keluar dari mulutnya. Ini begitu tiba-tiba dan Kyuhyun tidak mengatakan apa-apa pun sebelumnya.

"Tidak mungkin, mereka tidak mungkin memecatku begitu saja. Aku tidak melakukan kesalahan apa-apa." Sungmin segera berjalan menuju lemari pakaian dan mengeluarkan pakaiannya dari sana. Ia harus ke kantor untuk memastikan perkataan Nicole.

"Kyuhyun sudah menghubungi kepala divisimu mengenai pemecatanmu. Aku rasa mereka sudah akan mengeluarkan surat pemecatanmu pagi ini. Jadi tidak ada gunanya kau kembali ke sana." Jelas Nicole.

"Tapi kenapa? Sebaiknya Kyuhyun mempunyai alasan yang tepat untuk memecatku, jika tidak aku akan menuntut perusahannya. Dia tidak bisa memecatku begitu saja. Aku tidak melakukan perbuatan yang merugikan perusahaan. Aku benar-benar tidak bisa menerima ini." balasnya dengan marah. Satu lagi masalah menambah daftar panjang alasannya memulai hari ini dengan sangat buruk.

'Sial! Aku masih sangat membutuhkan pekerjaan ini. Cho Kyuhyun, kau sedang menguji kesabaranku. Jangan sampai aku membencimu lagi.' Geramnya dalam hati.

"Ya, sebelum kau memutuskan untuk menyusul Kyuhyun ke kantor, aku juga harus menyampaikan satu berita penting lagi. Hmm...berita yang sangat penting menurutku."

"Apa?" tanya Sungmin agak ketus sebelum ia masuk ke kamar mandi.

"Kau dan Kyuhyun akan menikah malam ini."

"Apa?!"

.

-KyuMin-

.

Heechul membuang napas panjang. Tubuhnya terbaring lelah di sofa ruangan pribadinya. Semua semakin runyam. Rencananya berantakan, tidak berjalan sesuai rencana. Padahal tinggal sedikit, hanya tinggal menunggu keadaan Kang Ji Young membaik dan ia bisa segera memberangkatkan gadis itu bersama Sungmin ke Beijing untuk melanjutkan pengobatannya di sana.

Sekarang ia tidak tahu lagi harus melakukan apa. Belum usai terpuruk dengan kegagalan rencananya, Kyuhyun malah melempar kabar yang jauh lebih mengejutkan pagi ini. Ia akan segera menikahi Sungmin malam ini juga. Satu lagi tindakan bodoh yang tidak pernah ia prediksi sebelumnya. Entah apa yang ada di kepala adik sepupunya itu hingga mengambil keputusan besar dengan cara yang sangat gegabah seperti itu. Pernikahan apa yang akan terjadi dalam satu malam? Kalaupun pernikahan itu akan terjadi, dirinyalah yang akan menjadi orang pertama yang akan menggagalkan pernikahan tersebut.

"Pernikahan itu tidak boleh terjadi." Gerutunya sambil memijit-mijit pangkal hidungnya. Saat ini ia sedang memikirkan cara untuk membujuk Kyuhyun agar mau membatalkan rencana pernikahannya tersebut. Pernikahan mereka akan menjadi bencana. Tidak hanya bagi Kyuhyun sendiri tapi juga bagi nama besar keluarga mereka. Meski sudah melepas nama Cho dan membawa marga ibunya, Heechul masih merasa dinasti Cho adalah bagian darinya yang tidak akan hilang. Oleh karena itu ia merasa berhak dan wajib menjaga nama baik mereka setelah sebelumnya ia gagal melakukannya.

"Jangan gegabah Cho Kyuhyun, bukan seperti ini caranya. Kau hanya akan mengalami hal yang sama sepertiku." Gumamnya lagi sambil terus berpikir.

Tok tok!

Seorang suster masuk dan mengatakan, "Dokter Kim, Tuan Cho ingin bertemu dengan anda."

Heechul menjatuhkan kepalanya ke punggung sofa, samar-samar menggerutu, "Sial, jangan sekarang, Kyuhyun."

Heechul pun bangkit dan merapikan pakaiannya. Sambil duduk ia menyuruh suster itu mempersilahkan Kyuhyun masuk.

"Apa aku mengganggumu?" tanya Kyuhyun sambil berjalan masuk ke dalam ruangan tersebut, ia menutup pintu lalu berjalan menuju sofa dan duduk bergabung bersama Heechul di sana.

"Ya. Apa tidak cukup kau mendominasi pikiranku hari ini? Kenapa datang ke sini? Kau malah menambah beban pikiranku." Ujarnya menggerutu. "Mau apa kau ke sini? Aku masih marah padamu."

"Kalau begitu kita sama. Aku juga masih marah padamu, hyung. Tapi untuk hari ini aku akan melupakan marahku. Ada yang ingin kubicarakan denganmu." katanya mulai serius.

"Sebaiknya kau membawa hal bagus ke sini, jangan menambah beban pikiranku."

"Ini hal yang sangat bagus dan kujamin akan sangat baik. Kau akan sangat menyukainya. Aku hanya minta kau mendengarkanku dan setelah itu keputusan ada di tanganmu."

Kyuhyun sedang merencakan sesuatu, jujur saja Heechul tidak menyukai hal seperti ini. Ia sangat mengenal sepupunya yang satu ini, benar-benar licik dan pintar memanfaatkan kesempatan untuk kepentingannya sendiri. Kali ini ia bisa menebak rencana Kyuhyun bukanlah hal yang main-main. Pasti akan ada pihak yang dirugikan, karena Kyuhyun tidak punya empati untuk berbuat baik terhadap lawannya. Ia berharap Kyuhyun tidak akan melakukan hal yang buruk terhadap Kang Ji Young.

"Baiklah, aku akan mendengarkan."

Kyuhyun menyeringai, "Aku tahu kau mendengarkanku, hyung."

.

-KyuMin-

.

Ia sangat menyesal.

Ji Young kini merasa menyesal berada di tempat ini. Mungkin sebaiknya ia memutuskan untuk menyerah dan memilih bergabung bersama orang tuanya yang sudah tiada. Sekarang ia tidak mempunyai alasan untuk bertahan ataupun untuk pulih kembali. Gairah untuk hidup seolah mati setelah menyaksikan bagaimana jahatnya cara Sungmin mengkhianati cinta mereka. Tidak hanya menyakitkan tapi juga memalukan. Ia tidak munafik, hubungan sesama jenis terlalu sadis untuk menjadi alasan kandasnya hubungannya dengan Sungmin. Mungkin hatinya tidak akan sesakit ini jika orang lain itu juga seorang wanita seperti dirinya.

Kemarahannya memang tidak akan adil untuk perasaan cinta Sungmin terhadap kekasihnya itu, tapi bagaimana dengan harga dirinya sebagai seorang wanita? Mereka akan menikah, setidaknya itulah Ji Young kira setelah ia sadar dari koma beberapa waktu yang lalu. Ia mengira satu-satu penghalang sudah mereka lalui. Namun kali ini bukannya hanya penghalang, namun perbedaan yang amat mencolok harus menghancurkan semua impiannya.

Lalu untuk siapa lagi ia bertahan hidup?

Satu-satunya alasan yang membuatnya kuat menjalani semua ini sudah memalingkan hatinya untuk orang lain.

"Hallo, Kang Ji Young-ssi."

Ji Young mengangkat wajahnya yang tertunduk dalam, ia tidak sadar pipinya telah basah kembali. Ia tidak bisa berhenti menangis sejak tadi malam. Matanya pasti sembab.

Ia tidak mengenali wanita ini, dia sangat cantik, begitu tinggi dan langsing.

"Aku lihat keadaanmu sudah semakin membaik." Kata wanita itu sambil tersenyum.

"Siapa kau?" tanya Ji Young tak bersemangat.

"Aku? Aku seorang teman." Jawab wanita itu dengan ramah, ia berjalan menuju kursi di samping tempat tidur Ji Young lalu duduk di sana.

"Teman? Maaf, tapi aku tidak mengenalimu."

"Tapi aku mengenalmu dengan baik, Ji Young-ssi. Aku mengenalmu dan juga tunanganmu. Aku temannya Sungmin."

Mendengar nama itu membuat perut Ji Young terasa mual, terbayang olehnya bagaimana bernafsunya Sungmin mencium pria itu di depan matanya.

"Dia tidak ada di sini. Dan dia bukan tunanganku lagi. Sebaiknya kau pergi dari sini. Aku sedang tidak mau diganggu."

Wanita itu menatapnya dengan sedih, "Aku tahu apa yang terjadi. Aku turut menyesal dengan semua ini. Pasti sangat berat untukmu menanggung hal seperti ini sendiri. Sebagai temannya, aku juga merasa kecewa Sungmin." Ia membuang napas sejenak, kemudian melanjutkan, "tapi aku tahu Sungmin juga tidak punya pilihan lain."

"Aku tidak peduli dengan semua itu. Aku tidak mau mendengar apa pun tentangnya." Ujar Ji Young menggeleng-gelengkan kepalanya dengan kuat

"Tapi kau hanya melihat apa yang ada di depan matamu. Pernahkah kau melihat ke dalam hatinya? Ke dalam matanya?" wanita itu menatapnya. "Disaat kita kecewa, terkadang kita melupakan kenyataan di sekitar kita."

"Aku sudah melihat semuanya dengan jelas! Sangat jelas. Penjelasan apapun tidak akan merubah kenyataan yang ada di depan mataku."

"Pernahkah kau bertanya kenapa semua ini bisa terjadi?"

'Tidak pernah'. Yang ia pikirkan hanyalah kemarahan dan kebenciannya saja. Tapi ia tidak pernah memikirkan kenapa semua ini bisa terjadi. Harusnya ada sebuah alasan. Tapi ia takut untuk mencari tahu, ia takut akan semakin terluka.

"Sungmin-ssi sangat mencintaimu. Dia selalu menjagamu, menunggu setiap waktumu, sampai kau kembali. Demi kesembuhanmu dia mengusahakan semuanya. Ia banyak berkorban untukmu. Waktu, teman-teman, rumah, bahkan saudara-saudara angkatnya. Ia mengorbankan itu semua demi fokus menjagamu. Tapi itu saja tidak akan pernah cukup. Dia juga harus bekerja dan meminjam uang di sana sini demi membiayai perawatan dan pengobatanmu selama di rumah sakit. Selama dua tahun dia melakukannya seorang diri. Tanpa bantuan siapapun. Dan tidak terpikirkan olehnya untuk menyerah menantikanmu kembali. Dia terus berjuang, sama seperti kau yang juga berjuang untuk bertahan hidup demi dia, Ji Young-ssi."

Wanita itu mengulurkan tangannya, lalu menggenggam tangan Ji Young dengan lembut.

"Tapi pengorbanannya belumlah cukup untuk membawamu kembali." Nada suara wanita terdengar sedih, "keadaanmu terus memburuk, dan dokter semakin kewalahan mengawasimu. Begitu pun juga dengan Sungmin, dialah orang yang paling menderita setiap kali kau mendapat serangan. Dia terus berdoa dari balik kaca untukmu."

Air mata Ji Young jatuh membasahi pipinya.

"Hal yang sama terus terjadi, sampai akhirnya dokter memutuskan untuk melakukan tindakan operasi yang lumayan besar untukmu. Sungmin tidak berpikir dua kali untuk mengizinkan operasi itu untuk dilakukan. Ia meminta operasi segera dilakukan, tetapi itu semua membutuhkan biaya yang tidak sedikit, Ji Young-ssi."

Hening, Ji Young tidak siap untuk mendengar apa yang akan disampaikan oleh wanita ini selanjutnya.

"Sudah kukatakan Sungmin sangat mencintaimu, dia akan melakukan apa pun untuk kesembuhanmu. Dia akan mengorbankan semuanya untukmu. Dan kali ini Sungmin rela mengorbankan hal terakhir yang ia punya. Dirinya sendiri." Wanita itu tersenyum pilu, "Sungmin bersedia menjual tubuhnya kepada pria itu agar dia bisa membayar biaya operasimu, Ji Young-sii. Pria itu, pria yang kau lihat kemarin malam."

Tubuh Ji Young terasa dingin. Ia serasa ditampar dengan begitu keras dan ditenggelamkan ke dalam lautan yang begitu dalam. Napasnya terasa sesak, kenyataan ini jauh lebih menyakitkan daripada sebelumnya.

'Tidak mungkin. Sungmin oppa tidak mungkin menjual dirinya kepada pria itu.'

"Kau pasti berbohong. Sungmin tidak akan melakukan semua itu."

"Tapi kenyataannya memang seperti itu. Seharusnya kau mendengarkan penjelasan ini darinya, mungkin setelah itu kau akan mengerti. Tapi sayang kau tidak mau menemuinya. Dan sebagai seorang teman yang peduli pada hubungan kalian, aku berharap dengan melakukan ini aku bisa menyelamatkan sedikit saja perasaan cinta yang masih kau miliki terhadap Sungmi-ssi."

Wanita itu berdiri, "Ji Young-ssi, Sungmin-ssi masih sangat mencintaimu. Dan aku tahu kau juga masih sangat mencintainya. Oleh karena itu sebelum semuanya terlambat jangan biarkan pria itu mengambil Sungmin darimu. Aku tahu kau marah, jijik dan mungkin saja kau tidak sudi menerimanya kembali, tapi Sungmin harus diselamatkan. Dan satu-satunya orang bisa melakukan itu hanya kau, Ji Young-ssi. Sungmin hanya akan mendengarkanmu dan bawalah dia kembali sebelum pria itu benar-benar menjeratnya untuk selama-lamanya. Kumohon, Ji Young-ssi."

Wanita itu mengusap air mata yang menggenang di sudut matanya, lalu meninggalkan ruangan tersebut.

"Apa ini?" Ji Young terisak sambil memegangi kepalanya.

Samar-samar ia mendengar keributan dari luar kamar rawatnya. Namun ia terus saja menangis. Kemudian pintu terbuka dan suster Lee masuk dengan raut wajah penuh kekhawatiran.

"Ji Young-ssi, kau tidak apa-apa?" ia segera menghampiri Ji Young lalu memeluk bahunya yang bergetar karena menangis. "Apa perempuan itu mengganggumu?" katanya sambil menatap tajam ke arah pintu.

Ji Young terus menangis, ia tidak menjawab.

"Ya Tuhan, apa yang sudah terjadi padamu?"

Ji Young mengangkat wajahnya lalu menarik tangan Suster Lee dengan kedua tangannya, ia memohon "Aku ingin bertemu dengannya..." ia terisak "Aku ingin bertemu dengan Sungmin oppa. Aku mohon."

.

.

.

Tbc

Nah lhoooo...Kyuhyun ngajak kawin? O_O

Trus Kyuhyun ama Heechul mau ngapain tuh? O_O

Trus Ji Young?

Waduh siapa sih tuh cewek rese' ?*bete* =3=

See u next chap aja dah! Wokeh!

NO COPAST KAY!

.

Mami Ju2E