BAB 24 QUIDDITCH
.
T/N: Hai, semua! Ada yang kangen dengan fic ini? Maaf baru sempat terjemahkan lagi, dari kemarin sibuk dengan tugas-tugas kuliah. Apalagi belakangan fic-fic favorit saya masih belum update sampai sekarang, jadi belakangan agak malas berkunjung ke sini. Sekarang setelah tugas besar saya selesai, semoga bisa kembali rutin menerjemahkan.
Enjoy!
.
"HESTIA MARGARET JONES!"
"Lily, aku kepingin bunuh diri," erang Hestia. Dia dan Lily sudah di kamar Lily seharian sementara kedua kekasih mereka latihan Quidditch. Remus dan Peter menonton jalannya latihan. Alice dan Frank lagi-lagi membicarakan pernikahan. Lily dan Hestia sempat menonton selama kurang lebih satu jam, lalu karena bosan, keduanya memutuskan ke kamar Lily dan mengobrol.
"HESTIA MARGARET JONES!"
"Lily!" erang Hestia, merosot—kepala duluan—ke bantalnya. Sejak Sirius mengetahuinya semalam, dia tidak berhenti meneriakkan nama belakang Hestia.
"Dia bakal menerobos masuk?" saran Lily.
Hestia mendelik pada Lily, yang berusaha keras menahan tawanya.
"Kau boleh tertawa," tantang Hestia.
Lily nyengir pada sahabatnya itu.
"Terima kasih atas izinnya."
"Sama-sama."
"HESTIA MARGARET JONES!"
"ASTAGA, APA?" Hestia berteriak balik, membuat Lily terlonjak. "Sori, Lils," tambah Hestia. Lily tertawa.
"HESTIA MARGARET JONES! HESTIA MARGARET JONES! MARGARET! MARGARET!"
"Kau tahu, kalau kau mengulang-ulang kata yang sama, kata itu mulai terdengar aneh," kata Lily, mendengarkan Sirius meneriakkan, "Margaret."
"Margaret."
"Margaret."
"Margaret."
"Margaret."
"Kau benar, kedengarannya aneh," Hestia terkikik. "Aku penasaran, apa Sirius juga berpikir begitu. Ngomong-ngomong, menurutku kau harus melakukannya," katanya, kembali ke topik obrolan mereka.
"Kau yakin?"
"Tentu, memangnya kau tidak mau?"
"Sebenarnya... ya," aku Lily. Hestia mengedip padanya. "Hest!" tegur Lily, mencubit Hestia. Tertawa, keduanya bersama-sama menuruni tangga.
"HESTIA MARGARET JONES! HESTIA MARGAR—oh, ini dia," seru Sirius gembira.
Keempat Marauder sedang duduk di ruang rekreasi, tiga di antaranya menertawai Sirius yang terus-menerus berteriak memanggil Hestia. Peter menyumpalkan jari ke telinganya. James menertawakan Sirius sekaligus Peter. Remus, sementara itu, sambil membaca buku.
"Bagaimana kau melakukan itu?" tuntut Hestia, duduk di sebelah Remus.
"Latihan bertahun-tahun," kekeh Remus.
"Entah apakah aku punya dedikasi semacam itu," komentar Hestia serius, dan mengedipkan mata pada kekasihnya, yang tampak keheranan.
"Hai," sapa Lily, duduk di samping James, yang selama ini terus mengawasinya.
"Hei," balas James pelan, tersenyum.
"Bagaimana latihannya?" tanya Lily, mengedik ke jubah Quidditch yang masih dipakai James.
"Bagus," jawab James dengan berbisik. "Kurasa kami sudah siap untuk besok."
Lily menyunggingkan senyum lebar.
"Bagus sekali, James!"
"Kalian tadi ngapain saja?"
"Yah, kami —"
"Kenapa kalian berbisik-bisik?" seru Sirius, menyeruak di antara Lily dan James.
"Astaga, Sirius," tukas Lily, menggosok telinganya.
"Ah, Bunga-Lily, sensitif banget," tukas Sirius, menepuk kepala Lily.
Lily mendelik padanya, lalu berpaling pada James, yang sedang nyengir pada sahabatnya.
"Kalau kita menikah nanti, kita tidak akan memelihara anjing," kata Lily tegas.
Mereka semua meledak tertawa.
"Kita akan mencari orang yang mau mengadopsinya," kata James serius.
Lily tersenyum lebar.
"Aku tahu aku mencintaimu," katanya riang. James tertawa.
"Bunga-Lily, aku tersinggung, nih!" kata Sirius, mencengkeram dadanya dan berlutut di depan Lily.
"Berhentilah berbuat begitu!" kata Hestia frustrasi, menarik Sirius ke dekatnya.
"Aku membuatmu cemburu, Sayang?"
"Tidak," tukas Hestia.
Sirius menyeringai, meletakkan satu tangannya di rambut Hestia dan mendekat selangkah.
"Tak ada alasan untuk cemburu, Sayang," katanya pelan, lalu menunduk dan menciumnya.
"Hueekk," cibir Remus, pindah ke sebelah James sehingga dia tidak bisa melihat apa-apa. James hanya tertawa dan menepuk bahunya.
"Aku sependapat," sahut Peter, tampak mual.
"Kurasa kita harus pergi sekarang," engah Sirius.
Wajah Hestia berubah merah jambu. James, Peter, dan Remus mencibir bersamaan. Sirius balas mendelik pada kawan-kawannya. Lily terkikik, membuat Sirius mengalihkan pandangan padanya.
"Kau juga boleh bergabung dengan kami, Bunga-Lily," katanya mengedip. James menggeram dari sebelah Lily. "Oh, takut!" sindir Sirius. "Oke, sampai jumpa!" Sirius menyambar tangan Hestia dan berlari meninggalkan asrama Ketua Murid.
"Aku akan kembali, Lily!" teriak Hestia dari balik bahunya. "Aku belum selesai bicara denganmu!"
"Apa yang kalian bicarakan?" tanya Peter penasaran.
"Bukan apa-apa," teriak Lily.
James mengangkat alisnya.
"Nah, kita juga harus pergi," kata Remus, memberi isyarat pada Peter.
"Apa, kenapa?" tuntut Peter, bingung.
Remus memutar matanya, membuat geli Lily dan James, dan menyambar jubah Peter dan menariknya keluar. Lily dan James masih bisa mendengar seruan Peter, "Moony, aku tidak mengerti!" dan tertawa. Begitu pintu tertutup, James menunduk menatap Lily.
"Jadi, apa yang kalian bicarakan?"
"Bukan apa-apa!" cicit Lily.
Lagi-lagi James megangkat alisnya.
"Kedengarannya tidak 'bukan apa-apa'," seringai James.
Lily merona. Dia memutuskan berdiri.
"Mandi sana, Potter! Kau bau sekali."
James mencebik.
"Aku tidak bau!"
"Kau bau, James," kikik Lily.
"Oke, mungkin aku bau. Berhentilah mengubah topik!"
"Aku tidak mengubah topik," kuak Lily, wajahnya yang merona seolah hendak membocorkan rahasianya.
"Tentu saja tidak," kata James, berdiri mendadak sehingga dia hanya beberapa senti jauhnya dari Lily. "Nah, apa yang tidak ingin kauberitahukan padaku?" godanya, mendekat selangkah lagi.
"Mandilah, Potter," gumam Lily, sambil menunduk, dia berusaha menjauh dari James. James terkekeh dan menyambar siku Lily, memutar tubuhnya, dan mengecupnya..
"I love you, Lils."
"Aku tahu," kata Lily, tersenyum lebar, dan menghilang ke tangga menuju kamarnya.
James menggelengkan kepala, juga tersenyum, dan menuju kamar mandi seraya melepas jubahnya.
"Sirius," gumam Hestia, mencondongkan tubuh menjauhi Sirius. Sirius mengabaikannya. "Sirius..."
"Mmm..."
"Sirius, berhentilah," kata Hestia, mendorong Sirius sedikit. Sirius menggelengkan kepala dan meletakkan tangan di pinggang Hestia. Hestia terkikik. "Sirius!"
"Apa, Margaret?" seringai Sirius.
"Astaga, Sirius Black, bisa-bisanya kau memanggilku begitu," gerutu Hestia, menyipitkan mata padanya. Sirius mengedip.
"Kau mau apa, Margaret?"
"Aku benci kau," gumam Hestia, mendorongnya, lantas meninggalkan Kamar Kebutuhan.
Sirius terkekeh dan merebahkan diri di sebuah kursi berlengan, menarik Daily Prophet dari bawahnya. Terdengar suara di luar, dan dia mendekati pintu. Suara teredam itu datang dari sisi lain, maka Sirius mencabut tongkatnya untuk memperjelas suara itu. Dia mendengar percakapan yang membuat hatinya berdesir.
"Ya Tuhan," erangnya, terempas ke lantai dan menjambak rambutnya sendiri.
"Lily, aku benci cowokku," keluh Hestia, menyerbu masuk ke asrama Ketua Murid, tempat Lily sedang terkapar di sofa sambil menjerit sementara James di atasnya. "Apa yang kaulakukan?" serunya pada James.
"Aku menggelitikinya," jawab James, nyengir.
"Jangan Lily! Dia gampang geli!"
"Aku tahu," kata James senang, masih terus menggelitiki Lily, yang jeritan tawanya semakin keras.
"Kenapa kau menyiksa sahabatku?"
"Karena dia tidak mau mengatakan apa yang kalian obrolkan."
Hestia merona. "Bertahanlah, Lils," pekiknya.
James terngaga.
"Kukira kau bakal bilang untuk menyelamatkannya!"
"Jelas tidak," dengus Hestia.
Mendesah, James melepaskan Lily.
"Sudah waktunya," engah Lily, menyipitkan mata pada James, yang tertawa genit.
"I love you too, Lils."
"Lily, ayo pergi!" kata Hestia, menyeruak di antara pasangan itu.
"Tidak, dia milikku!" protes James, menyambar Lily dan mengayunkannya ke bahunya. Dia mulai berbalik, tetapi Hestia, lebih cepat, sudah berada di hadapannya.
"James Potter, kembalikan sahabatku!" perintahnya, nadanya jelas menunjukkan bahwa dia menahan tawa. James menggelengkan kepala, sebagai akibatnya Hestia menyerbunya. James berteriak dan berkelit. Lily menjerit sementara Hestia mengejar James, yang melompat ke atas sofa, meja, dan kursi.
"James, turunkan aku!" jerit Lily.
James menghembuskan napas keras dan menurunkan Lily, namun tetap memeganginya.
"Dasar cowok menyebalkan," gerutu Hestia melihat James mencium Lily, lalu menjambak rambut Lily dan menariknya.
"Yang benar saja, Hestia!" pekik Lily, menarik kembali rambutnya. James terkekeh dan mengecup pipi Lily.
Hestia merasa dongkol.
"Kalian boleh berciuman dan melakukan apa pun setelah aku bicara dengan Lily!"
Mata James berbinar penuh antisipasi.
"Sumpah?"
"Ya, sumpah," kata Hestia.
"Halo?" gerutu Lily, berpaling pada sahabatnya.
James terkekeh.
"Hai, sayangku," kata Hestia cerah, menyambar tangan Lily's. "Bilang 'dadah' pada cowokmu."
"Dah, cowok," kata Lily, nyengir pada James.
"Anak baik, ayo pergi," ajak Hestia, menarik tangan Lily dan membawanya naik.
"Dah, Sayang," teriakan James mengikuti mereka.
Lily berbalik untuk tersenyum padanya sebelum menghilang ke dalam kamarnya. James menggelengkan kepala, terkekeh sendiri, dan berjalan menuju mejanya, tempat dia menyimpan diagram strategi pertandingan untuk keesokan harinya. Baru beberapa saat duduk, dia terlonjak ketika pintu menjeblak terbuka.
"Prongs."
James berbalik cepat. Sirius berdiri di dekat pintu, ada bekas-bekas air mata di wajahnya.
"Padfoot, ada apa?" tanya James khawatir, menghampiri Sirius.
"Regulus," kata Sirius, tercekat.
James meletakkan tangannya di pundak Sirius, yang menggigit bibirnya dalam usahanya menahan tangis.
"Di atas, sobat, ada cewek-cewek di sini," kata James, memimpin Sirius ke kamarnya. Setelah Sirius duduk di tempat tidur, James bertanya lagi, "Apa yang terjadi, sobat?"
"Dia bergabung," bisik Sirius.
James mengerutkan dahi.
"Dia bergabung dengan apa?"
"Mereka," bisik Sirius, mengusap matanya. "Voldemort."
James membeku. Ditatapnya Sirius tak percaya. Sirius menarik napas dalam-dalam dan membalas tatapan itu.
"Kau serius?" tanya James.
Sirius terkekeh dan mengangguk. James menggelengkan kepalanya; hanya Sirius Black yang masih bisa bercanda di tengah situasi seperti ini.
"Ya, aku serius," kata Sirius sedih.
James merasa perutnya mengejang. Sirius dan Regulus memang benar-benar berbeda, dan ketika keluarga Black mencoret nama Sirius dari keluarga mereka, Regulus pun demikian. Tetapi Sirius selalu peduli pada Regulus, karena itu dia begitu ngeri mendengarnya, karena dia tidak ingin Regulus bergabung dengan pihak kegelapan.
"Aku ikut sedih, sobat," bisik James.
Sirius mendesah, menundukkan kepalanya ke bahu James.
"Adik kecilku seorang Pelahap Maut!"
"Lily, lakukan saja!" kata Hestia sebal.
"Aku takut, Hestia!"
"Aku tahu kau takut, tapi bukan berarti kau tidak harus melakukannya," kata Hestia. Lily mendesah. "Sekarang, berhentilah bermuram durja begitu. Aku harus mencari Sirius karena aku sudah meninggalkannya, dan kau bisa mencium cowokmu," lanjut Hestia, berdiri dan mengulurkan tangannya pada Lily, yang terkikik. "Ayo!"
"Kau yakin kita bisa mengatasinya?" tanya Lily serius.
Hestia meledak tertawa.
"Kita coba saja. Yuk!"
Kedua anak perempuan itu menuruni tangga pada saat yang bersamaan dengan Sirius dan James keluar kamar.
"Ketemu, kau!" kata Hestia senang, menyambut Sirius dengan melingkarkan tangan di sekeliling leher Sirius.
Sirius tersenyum. James ikut tersenyum melihatnya.
"Tak perlu susah payah," kata Sirius serak.
Lily mengerutkan dahi. Kedengarannya Sirius baru saja menangis. Hestia juga memperhatikan itu dan melepaskan rangkulannya, mundur selangkah untuk mengamati kekasihnya.
"Ada apa?" tanyanya.
Sirius menggeleng.
"Tak mau bicara soal itu," katanya.
Hestia mengangguk mengerti.
"Yuk?" ajaknya, mengulurkan tangan. Sirius menerimanya.
"Trims, sobat," katanya pada James, yang menggeleng sambil tersenyum.
"Tak masalah, sobat."
"Aku sayang padamu, James!" kata Sirius gembira.
James tertawa.
"Aku juga sayang padamu, Sirius."
"Jelas, kita perlu tambahan pacar," Hestia bergumam pada Lily.
"Kupikir satu saja sudah cukup," sahut Lily, menaikkan alis dengan menggoda.
"Bukan itu yang kumaksud!" sungut Hestia.
Lily tertawa, begitu juga yang lain.
"Siapa yang mengira, kita bisa berakhir dengan cowok-cowok yang lebih tergila-gila pada sahabatnya dibandingkan kita?" desah Lily.
Hestia mengangguk penuh ketakutan.
"Itu yang kumaksud!"
"Ayo jalan," kata Sirius malu, merangkul bahu Hestia. "Sampai nanti," pamitnya pada Lily dan James, yang melambai.
"Lily, ingat apa yang kukatakan," kata Hestia melalui bahunya.
Lily merona. Hestia dan Sirius meninggalkan asrama, menutup pintu di belakang mereka. Mendaddak Lily mendapati cowok setinggi seratus delapan puluh senti itu di depannya.
"Hai," katanya, nyengir.
"Hai, Sayang," balas James, merangkul pinggan Lily. "Sekarang, boleh aku tahu apa yang kalian bicarakan?"
"Tidak," kata Lily, merona. James mengerang. "Kau akan tahu secepatnya," janji Lily.
"Aku bisa bertahan," kata James senang, dan mencium Lily.
"Sirius kenapa?" tanya Lily, menarik dirinya dari James. James mendesah. "Oh, maaf, kau tak perlu memberi tahuku," kata Lily lembut.
James menggelengkan kepala.
"Bukan seperti itu. Er... oke, kau tahu Regulus?"
"Adik Sirius? Yeah..."
"Yeah, nah, dia Pelahap Maut," James berbisik.
Dia mengharapkan Lily berteriak, memasang ekspresi jijik, atau setidaknya mengerutkan hidung, tetapi reaksi Lily benar-benar di luar dugaannya.
Lily menghela napas. "Kasihan Sirius," katanya.
"Kau tidak merasa... kau tahu... muak?" tanya James dengan suara terkejut.
"Terhadap?"
"Yah, Regulus... Sirius..."
"Kenapa aku harus muak pada Sirius?"
"Yah, orang-orang biasanya kan begitu," kata James pelan.
Lily menatap James.
"Ini bukan kesalahannya. Dan lagi, aku menyayanginya seperti saudara sendiri. Kukira dia tidak bisa mengubah keluarganya," katanya. Lalu, melihat James tersenyum padanya, dia menambahkan, "Apa?"
"Kau sungguh berbeda, Lily Evans," kekeh James, memainkan jemari Lily.
"Berbeda dari apa?"
James menyeringai. Dia mencium Lily, dan Lily melingkarkan lengannya di leher James, memainkan rambut di ujung lehernya.
"Boleh aku minta hadiah lagi?" bisik James di telinganya. Lily terkikik sebagai jawaban.
Keesokan paginya, Lily terbangun oleh suara gedebuk yang keras. Dia tersandung-sandung menuju kamar James dan mendapatinya sedang melakukan pemanasan yang biasa sebelum Quidditch. Lily mematung di depan pintu selama beberapa menit, menonton. Dia penasaran, bagaimana bisa orang-orang punya tenaga untuk melakukan segala sesuatu di pagi hari. Dia jarang sekali bisa menuruni tangga di pagi hari tanpa merasa pegal.
"Sudah selesai?" goda James, mendongak di tengah pushup-nya. "Atau aku harus bangkit dan meregangkan dirimu?"
Lily terkekeh dan mulai berbalik.
"Jangan!" tahan James. "Masuklah!"
Mendesah, Lily memasuki kamar James. James melompat berdiri dan menghampiri Lily. Dia mengenakan pakaian olahraga berupa celana pendek dan kaus.
"Pagi?" sapa Lily ragu-ragu sementara James menciumi lehernya. James tertawa dan menjauhkan tubuhnya dari Lily, tetapi keningnya tetap menempel pada kening Lily.
"Pagi."
"Ada apa dengan antusiasme di pagi hari?"
"Aku tegang sebelum pertandingan."
Lily memutar matanya.
"Kau tidak setegang ini sebelum melawan Hufflepuff."
"Situasinya beda, ini final."
"Apa kau selalu setegang ini?"
"Ya," jawab James, bingung dengan arah pembicaraan Lily.
"Jadi, yang tahun lalu itu Sirius?" ejek Lily.
"Bagaimana kau tahu?" tanya James sarkastis.
Lily tersenyum padanya. James balas memandangnya dengan berseri-seri sebelum mendekatkan dirinya pada Lily lagi.
"Yang benar saja, James," engah Lily begitu James melepaskannya. "Ini kan cuma permainan, seperti pertandingan Quidditch yang kaumainkan sebelum-sebelumnya."
"Cuma permainan?" ulang James gusar.
Lily tertawa.
"Yah, tempatnya sama seperti pertandingan lainnya?"
"Ya."
"Keramaiannya juga sama?"
"Kurasa begitu."
"Sistem pertandingannya sama?"
"Tentu."
"Kalau begitu, sama saja, kan?" kata Lily, meletakkan tangannya di bahu James.
"Tidak sama!"
"Kau tidak bakal menang," gumam Lily. James nyengir padanya. "Sana, teruskan pemanasanmu," kata Lily, menggosok matanya.
"Tidak, aku lebih suka melakukan sesuatu yang lain," kata James dengan suara rendah, menempelkan bibirnya ke bibir Lily.
"Aku tidak mau mengganggu konsentrasimu dari Quidditch," kata Lily, wajahnya merona, dan meraih tangan James untuk melepasnya dari dirinya.
"Oh, kalau dipikir-pikir, ini juga tentang Quidditch," kata James, melepaskan tangannya dari pegangan Lily dan meletakkannya di bibir Lily.
"Apa aku ingin tahu?" tanya Lily dongkol.
"Aku tahu kau ingin aku menjelaskannya," kata James, mengecup hidung Lily. "Jadi, kau ini gawang," dia memulai. Lily terkikik. "Ya, gawang, dan aku akan mencoba mencetak gol."
Lily meledak tertawa. James buru-buru menekapkan tangannya ke mulut Lily.
"Yah, kan harus ada bolanya," tukas Lily serius.
"Kau mau ada bolanya?" tanya James, memeluk Lily lebih erat.
Wajah Lily berubah merah.
"Aku mau tidur," jeritnya, tetapi James tidak melepaskannya.
"Kenapa kau selalu merona kalau di dekatku, Lils?" tanya James. Wajah Lily semakin merah. "Lihat, kau baru saja merona!"
"Tidak apa-apa."
"Aku tidak suka kebohongan."
"Baiklah, ini... sesuatu."
"Hore! Kemajuan," James mengedip. "Jadi, sesuatu yang misterius ini apa?"
"James!" dengking Lily, berusaha melepaskan diri dari James yang justru mempererat pelukannya.
"Aku tidak akan melepaskanmu sampai kau memberi tahuku."
"Bagaimana kalau sudah waktunya Quidditch dimulai? Kau bakal telat."
"Marauder tidak pernah terlambat," James memulai.
Lily menggelengkan kepala.
"Semua orang yang datang terlalu pagi, kan?"
"Bukan itu yang mau kukatakan," dengus James. "Aku mau bilang, semua orang jelas butuh kehidupan," dia nyengir. Lily tertawa. "Ayolah, Lils, sejujurnya aku tak ingin melewatkan Quidditch!"
"Aku tidak ingin membicarakannya."
"Kenapa tidak? Kau bisa memberitahuku, Lily."
"Er... ini sesuatu yang sudah kubicarakan dengan Hestia," kata Lily pelan. Mata James melebar.
"Jadi ini hal misterius yang kalian bicarakan! Hore! Aku bisa membunuh dua kata dengan satu batu."
"Aku tidak suka kau membunuh burung," kata Lily.
James memutar matanya.
"Aku akan mengabaikan pernyataan itu," katanya. Lily berseri-seri. "Pukul aku."
Lily meninju lengan James, yang mendengus, "Maksudku bukan secara harfiah, Lils."
"Kau tidak bilang."
"Kau jadi sinting kalau sedang mengulur-ulur," seringai James.
Lily merona.
"Sinting?"
"Astaga, Lily, katakan saja. Aku jadi semakin tua nih."
"Oh, baiklah. Aku hanya... eh..."
James menyunggingkan senyum melihat kecanggungan Lily. Lily menunduk memandang lantai dan memainkan seberkas rambutnya dengan jemarinya yang kecil.
"Aku tidak tahu kau suka melakukannya," kata James. Lily mengernyit padanya. "Memain-mainkan rambut, maksudku. Apalagi dengan jari kecilmu."
Lily meleletkan lidah padanya, tetapi toh melepaskan jarinya dari rambut.
"Nah, teruskan saja, Lily," pinta James. "Aku bisa mati menunggumu. Oke, kita buat lebih mudah saja. Kata pertama yang terlintas di benakmu tentang itu."
"Yang benar saja?"
"Coba saja!"
"Erm..."
"Lily!"
"Bercinta!"
"Apa?" James terperangah. Lily kembali merona dan melompat menjauhi James, yang membelalak padanya. "Apa kaubilang, Lils?"
"Bukan apa-apa!" kuak Lily, menutup mulutnya dan menggelengkan kepala dengan jengkel. "Aku ingin... uhm... melakukan seuatu," katanya, berbalik untuk keluar, tetapi James menyambar lengannya dan menariknya kembali padanya. James memaksa Lily menatapnya dengan meletakkan jarinya di dagu Lily. "Maaf!" pekik Lily.
James mulai tertawa.
"Kenapa kau minta maaf?"
"Entahlah! Kau kelihatan bingung!"
"Aku memang bingung, tapi kau tidak perlu minta maaf."
"Maaf!"
"Kau minta maaf karena sudah minta maaf?" tanya James, nyengir. "Kau lucu sekali kalau sedang gugup, Sayang."
Lily membalas senyumnya hati-hati, tapi tidak mengatakan apa-apa.
"Jadi, bercinta?" tanya James, membuat Lily semakin merah padam. Lily membuka mulutnya, tetapi James mendahuluinya. "Kalau kau minta maaf, aku akan menggelitikumu." Lily tertawa. "Jadi?"
"Eh... ya," kata Lily pelan, menunduk.
"Kau mau?"
"Tidak," bantah Lily, suaranya penuh muatan sarkasme.
James tertawa lagi sebelum berucap pelan, "Aku juga mau."
Lily mendongak, matanya melebar.
"Sekarang apa?" tanyanya.
James melemparkan kepalanya ke belakang sebelum tertawa lebih keras.
"I love you," katanya. Lily berseri-seri. "Eh, sekarang?" tanya James, memainkan rambutnya sendiri dengan cemas.
"Jangan sekarang, kau kan harus main Quidditch!"
"Aku tak keberatan melewatkan Quidditch, Lils," kekeh James.
"Ini buruk buatmu," kata Lily serius. James nyengir. "Nah, pergilah! Sarapan sebentar lagi!"
Lily mendorong dada James, tetapi James menggelengkan kepala.
"Aku takkan bisa berpikir lurus sekarang!"
"I love you too," Lily menyeringai sebelum beranjak keluar.
"Kapan?" seru James.
Lily hanya mengangkat bahu dan mengedip, lalu benar-benar menghilang dari kamar itu.
"Lily," gerutu James, menggelengkan kepala dengan sayang sebelum meraih jubah Quidditch-nya.
"Bunga-Lily?"
"Ya?"
"Itu betul-betul kau?" tanya Sirius, mengulurkan tangan untuk menyentuh Lily seolah-olah memastikan itu memang Lily.
"Ya," kata Lily, menjauhkan tangan Sirius.
"Kau bangun sepagi ini?" tanya Sirius tak percaya.
Semua orang tertawa melihat Lily meleletkan lidah sebagai balasan.
"Kok bisa kau sudah bangun? Ini tidak biasa!" seru Sirius.
Lily merona sementara semua orang di sekitarnya menoleh untuk mencari tahu kenapa Sirius berteriak.
"Aku sependapat dengannya," kata Hestia, menyeringai dari seberang Lily. Diinjaknya kaki Lily.
Lily sudah hendak berteriak padanya ketika dilihatnya alis Hestia terangkat tinggi. Tentu saja, percakapan rahasia cewek-cewek. Lily mengangguk. Berseri-seri, Hestia mengangkat bahu seakan hendak bertanya ada apa.
"Dengan dia, itu berarti cowok tampan dan nakal yang dia cintai itu," kata Sirius.
Para Marauder mendengus, lupa dengan "percakapan" cewek-cewek itu. Hestia memekik, membuat anak-anak laki-laki itu terlonjak dan memandang Hestia seolah-olah dia sudah gila.
"Apa?" tanya Remus, bergantian memandang Hestia dan Lily, yang merona.
"Tidak apa-apa!" kata Hestia dengan suara melengking. "Sampai ketemu di pertandingan nanti!" serunya, berdiri dan menunjuk Lily, yang ikut bangkit.
"Jangan!" kata James, menyambar tangan Lily. "Apa yang akan kulakukan?"
Lily mendesah.
"Kau akan baik-baik saja," katanya, menunduk pada James di tempat duduknya. James mendongak menatapnya dengan khawatir. Lily meletakkan tangannya di kepala James dan mengacak rambutnya. " Kau akan baik-baik saja," dia mengulangi, lebih bersungguh-sungguh, dan menciumnya, lalu berdiri dengan cepat.
James merengut.
"Dia akan memberimu lebih setelah kau menang," kata Sirius, mendorong Lily menjauh dari James. Remus mengangkat alisnya. "Inspirasi," kata Sirius.
"Menurutku, kau ingin mengatakan 'motivasi'," dengus Alice.
Sirius menyipitkan mata padanya.
"Dua-duanya."
"Yeah, baiklah, Sirius," Alice nyengir.
Sirius tersenyum, lalu berpaling pada Hestia.
"Lihat, kan, aku pintar."
"Aku tak pernah bilang sebaliknya!" tukas Hestia.
"Tetap saja, aku pintar."
"Oke?" kata Hestia tak yakin, menyambar tangan Lily. "Sampai ketemu lagi nanti."
"Jangan begitu, bagaimana kalau nanti aku senewen?" kata Sirius, menyambar rambut Hestia yang dikucir kuda.
"Kami akan mampir ke ruang ganti, oke?" kata Hestia. "Sekarang lepaskan cakarmu dari rambutku!"
Sirius tertawa dan melepaskan rambut Hestia.
"Aku akan mengajak Lily juga," Hestia menambahkan pada James, yang menyeringai dan kembali pada serealnya. "Betul deh, Lily, cowok-cowok ini konyol," kata Hestia ketika mereka menjauh.
"AKU DENGAR ITU!"
"AKU JUGA CINTA PADAMU, SIRIUS!" teriak Hestia sembari keluar dari Aula Besar. "Jadi?"
"Yah, aku menyampaikannya," kata Lily kaku. Hestia menyeringai lebar.
"Jadi, kapan?"
"Entahlah!"
"Menurutku kalian harus melakukannya malam ini," kata Hestia, membuat Lily tersedak. "Oh, dewasalah!"
Lily tertawa. Keduanya berjalan menuju lapangan Quidditch bersama seisi sekolah yang juga mulai meninggalkan Aula Besar.
"Kita mampir?" tanya Lily, menunjuk kamar ganti.
Hestia menghela napas.
"Kurasa memang harus," sungut Hestia, menarik Lily masuk. Didorongnya pintu kamar ganti hingga terbuka dan menghambur masuk.
"MARGARET!"
"Sepertinya kita salah masuk kamar ganti," kata Hestia, menyambar tangan Lily dan berbalik, membuat para anggota tim tertawa geli.
"Cewek cantikku, ini beneran aku!" seru Sirius, menyambar tubuh Hestia dan membaliknya agar menghadap dirinya. Hestia menggeleng penuh sayang dan mengacak rambut Sirius. "Hestia!" seru Sirius lagi, melepaskan Hestia dan berlari ke cermin untuk merapikan kembali rambutnya.
"Hei, apakah itu uban?" tanya Lily, meneliti rambut Sirius.
James harus menyumpalkan kepalan tangan ke mulutnya ketika Sirius mulai berteriak.
"Tidak! Jangan uban! Jangan di rambut indahku! Jangan hari ini!" pekik Sirius panik, mencari-cari di rambutnya dalam cermin. Begitu tidak mendapati uban sehelai pun, wajahnya sedikit memerah dan menegakkan diri. "Aku tidak khawatir."
"Tentu saja tidak," Hestia nyengir, mendekat dan mengecup pipi Sirius.
"Tak ada yang boleh terjadi pada rambut indahku," dengus Sirius.
Hestia terkikik. Lily memalingkan muka dan mendapati James sedang menatapnya. Lily tersenyum, mendekatinya.
"Gugup?"
"Yeah!" jawab James, suaranya melengking.
Lily tersenyum dan mengusap lengan James.
"Kau akan baik-baik saja," katanya.
"Bagaimana kalau kami kalah?" kata James dengan suara tertahan.
"Kau tidak akan kalah," kata Lily. "Kau kan melawan Slytherin! Keeper mereka kan tolol. Chaser-Chaser mereka juga tidak melakukan apa-apa selain berterbangan ke tiang gawang. Seeker mereka juga lambat banget. Yang harus kaucemaskan hanya kedua Beater!" Lily memperhatikan bahwa seluruh anggota tim Quidditch Gryffindor menatapnya tak percaya, membuatnya merona. "Aku tidak memata-matai," gumamnya.
Sirius tertawa menggonggong.
"Ketua Murid kita yang bertanggung jawab," katanya lembut.
Lily nyengir.
"Aku tak percaya kau memata-matai," kekeh James. Lily menunduk. James mendekatinya dan meletakkan tangan di rambut Lily. "Kau tahu apa yang kupikirkan?" bisik James.
Lily terkikik.
"Tidak lucu!" tukas James.
Lily berseri-seri memandangnya.
"Yeah, itu lucu."
"Lils!"
"Yah, setidaknya kau punya sesuatu yang bisa diharapkan setelah pertandingan," Lily mengangkat bahu.
Mata James melebar.
"Benarkah?" tanyanya, mulutnya merekah membentuk senyuman. Lily memutar matanya, namun dalam hati dia berusaha menenangkan kupu-kupu di perutnya.
"Sampai nanti!" kata Hestia, menyambar pinggang Lily dan menariknya dari James. Seluruh anggota tim tertawa ketika Lily terjengkang. James menyipitkan mata padanya.
"Aku benci padamu, Hestia Jones!"
"Aku juga sayang padamu," Hestia nyengir, meniupkan ciuman jauh pada James sebelum berpaling pada Lily. "Oh, yang benar saja, Lily," kata Hestia kesal
Lily menatapnya tak percaya.
"Kau membuatku jatuh!"
"Tidak, itu masalah keseimbanganmu," kata Hestia, meletakkan tangan di bibirnya. "Aku hanya menarikmu dari cowok tololmu yang hormonal itu."
Nyengir, Lily mengawasi James yang mengangkat alis pada Hestia, diiringi derai tawa seluruh tim.
"Bagaimana kau bisa tahu tentang hormon Prongs?" tanya Sirius, tangannya mendarat di bahu James.
"Rahasia," Hestia mengedip, lalu menarik Lily berdiri. "Lily, kau ini lambat sekali!"
"Hestia Jones, aku akan—"
"Aku juga sayang padamu, Lily," kikik Hestia sementara dia menarik Lily keluar diiringi tawa dari seisi kamar ganti.
"Jadi, Piala Quidditch," James memulai, memandang satu per satu anggota timnya. "Ini saatnya. Kita bisa melakukannya. Kita harus menang! Ini kesempatan terakhir kita tahun ini, kesempatan terakhirku untuk menang dalam hidupku."
Sirius berdeham.
"Baiklah, kesempatan terakhirku dan Padfoot untuk menang," James mengalah. Sirius tersenyum puas, ditingkahi gelak tawa anggota tim lainnya. "Ini dia. Kalau kita kalah hari ini, latihan kita sia-sia saja."
"Ya, dan seluruh pagi-pagi konyol dan waktu-waktu tak terhitung jumlahnya yang menjauhkan kesempatanku punya anak," komentar Sirius. James menatapnya.
"Padfoot, bisakah kau tutup mulut?"
"Tidak."
"Kurasa juga begitu," gumam James lembut. Anggota tim yang lain tertawa. "Yang jelas, ini tahun yang luar biasa, dan kalian semua sudah menjadi tim yang hebat bagi sang kapten. Aku bangga pada kalian semua... kecuali Padfoot," dia menambahkan. Sirius mendengus. "Kita sudah berkembang menjadi pemain Quidditch yang lebih baik tahun ini, jadi kuharap kita bisa menang sekarang. Ayo kita lakukan!"
Para anggota tim menyambutnya dengan sorakan riuh.
"Untuk buah zakarku!"
"Padfoot!"
"Oke, oke, untuk Gryffindor!" ralat Sirius dengan nada yang kurang antusias.
Para anggota tim tertawa di sela-sela sorakan mereka. Mereka keluar dari kamar ganti. Sirius menggandeng James yang membuatnya dihadiahi sorakan dari anak-anak Gryffindor, Hufflepuff, dan Ravenclaw. Terdengar suara auman dan, berbalik cepat, mereka melihat seekor singa melayang di atas tribun penonton. James tersenyum lebar melihat siapa yang memantrainya: Lily, tentu saja, yang sedang menyisipkan tongkatnya ke dalam lengan jubahnya. Lily tersenyum malu-malu padanya selagi singa itu mengaum lagi.
"Wow," desis Tonks.
"Ini dia Piala Quidditch!" Remus berseru melalui mikrofon, disambut riuh sorak sorai seisi stadion. "Gryffindor versus Slytherin!" Dia mengucapkan kata 'Slytherin' dengan nada getir. Sorakan untuk tim Slytherin sedikit lebih sepi, karena hanya sedikit yang mendukungnya.
"Kapten, jabat tangan," gelegar Madam Hooch.
James maju beberapa langkah untuk menjabat tangan Kapten Slytherin, Mulciber. Avery berdiri tak jauh darinya, menyeringai licik pada James. Agak di belakangnya berdiri Regulus Black, matanya terpaku pada kakaknya, yang juga menatapnya. James merasakan Mulciber berusaha meremukkan tangannya, dan dia balas meremas sekuat tenaga. Dia puas sekali ketika Mulciber cepat-cepat melepasnya.
"Aku menginginkan permainan yang bersih dari kalian semua!" kata Madam Hooch. "Semoga beruntung! Tiga, dua, satu!" Ditiupnya peluit keras-keras.
Para pemain melesat ke angkasa. Singa di atas sekali lagi mengaum. James tersenyum lebar merasakan angin yang menerbangkan rambutnya.
"Semoga berhasil, sobat!" teriak Sirius, menepuk punggungnya.
"Pukul keras-keras," James mengedip.
Sirius tertawa sebelum melesat mengejar Bludger yang sudah dilepaskan.
"Para pemain sudah di udara, dan Tonks membawa Quaffle, melesat melintasi lapangan. Slytherin bahkan tidak melakukan apa-apa untuk menghentikannya, bukannya aku mengeluh—maaf, Profesor—dan OH! Dia mengelak dari serangan Bludger menjijikkan yang diarahkan Avery—aku tak pernah suka cowok itu—dan Tonks melakukan gerak tipu ke kiri, dan—GOL! SEPULUH UNTUK GRYFFINDOR!"
Penonton bersorak-sorai.
"Bagus sekali, Tonks!" seru James. Tonks tersenyum padanya ketika dia lewat.
"Fantastis, Tonks! Sekarang Keeper Slytherin memegang Quaffle, melemparkannya pada Mulciber, yang melintasi lapangan, dan—OUCH! Itu pasti sakit!—dia dihantam Bludger hasil pukulan McKinnon. Dia menjatuhkan Quaffle, ditangkap oleh McLaggen—dilemparkannya pada Tonks, yang melemparnya balik—lempar lagi, dan lagi, dan lagi, dan—OH!—sial! Keeper Slytherin berhasil memblokirnya. Slytherin memegang Quaffle dan menukik—Tonks mencoba menghalanginya dan—OUCH! IDIOT KAU!" raung Remus, berdiri. Tadi Avery memukul Bludger menuju Tonks, yang menghantam terbang mendekat dan bersama Sirius, keduanya membantu Tonks mendarat.
"Tonks! Kau tak apa-apa?" tanya James, mengabaikan gemuruh sorak dari pendukung Slytherin di sisi lain lapanga.
"Yeah," jawab Tonks, memegangi hidungnya. "Kurasa hidungku patah."
James menyingkirkan tangan Tonks untuk memeriksa. Hidung Tonks memang patah.
"Oke, aku bisa membetulkannya, tapi mungin sedikit sakit." James mencabut tongkatnya. "Episkey!"
Terdengar suara berderak. Hidung Tonks berhenti mengalirkan darah dan kembali ke kondisi semula.
"Sudah oke?"
"Yeah, ayo!"
Sirius tertawa keras. James memberi tanda dengan jempolnya pada Remus, yang mengangguk.
"Tonks baik-baik saja!" Remus mengumumkan. Seisi stadion bersorak. "Itu baru gadis kita!"
James sempat melihat Tonks yang merona merah, dan nyengir sendiri.
"Dan mereka kembali mengangkasa, Tonks sepertinya berusaha membalasnya. Dia terbang ke arah Avery dan—oh, wow—dia menampar wajahnya!" Remus terkekeh. Para penonton tertawa dan bertepuk tangan. "Tonks mendapatkan penalti!"
Setelah beberapa saat berlalu, terdengar sebuah teriakan.
"JAMES!" jerit Remus.
James berbalik cepat untuk melihat salah satu Bludger melesat menujunya, dan buru-buru berkelit menghindarinya. Terdengar helaan napas lega dari seluruh isi stadion. Sirius, tampak geram, terbang menghampiri James.
"Kau tak apa-apa, sobat?"
"Yeah, aku baik-baik saja," kata James.
Sirius mengangguk. Dia mengangkat pemukulnya dan memukul Bludger keras-keras ke arah Keeper Slytherin, memberi kesempatan pada McLaggen untuk mencetak gol.
"Bagus sekali!" teriak James.
"Prongs!" teriak Sirius tiba-tiba, menunjuk ke sisi lain lapangan tempat kilatan emas baru saja terlihat.
James membungkuk di sapunya dan melesat mengejar Snitch. Itu tak luput dari perhatian Regulus, yang bergegas mengejar James. Kedua Seeker terbang begitu dekat sampai-sampai bahu mereka beradu. James mengulurkan tangan ke depan, namun langsung menariknya kembali ketika salah satu Bludger melesat ke arahnya. Bludger itu malah mengenai jari Regulus, dan dia meraung kesakitan. James kembali mengulurkan tangannya dan merasakan jari-jarinya menggenggam logam dingin itu, dan tersenyum lebar.
"YES!" teriak James seraya menghentikan tukikannya dan mengacungkan kepalannya ke udara.
"KITA MENANG!" seru Remus ke dalam mikrofon. Di sampingnya, Profesor McGonagall menangis tanpa malu-malu.
James menyeringai lebar dan terbang ke tribun di tempat Lily duduk, menariknya ke atas sapu.
"James, jangan!" jerit Lily, tetapi James hanya menggelengkan kepala dan kembali ke lapangan untuk melakukan terbang kemenangan, dengan Lily di belakangnya di atas sapu.
"Kau menang!" seru Lily, mengaitkan tangannya kuat-kuat di pinggang James.
James menyeringai, merasa bahwa dia belum pernah sebahagia ini. Diturunannya Lily di sebelah Hestia, dan terbang kembali menuju teman-teman timnya.
"PRONGS!" teriak Sirius, terbang menubruknya, membuat James hampir terjatuh dari sapunya.
Regulus, yang masih melayang-layang di tempat James tadi menangkap Snitch, memandang kakaknya. Menyadari tatapan Regulus, Sirius mendongak menatapnya.
"Hai," sapa Regulus pelan.
James melihat Sirius mengatupkan gerahamnya kuat-kuat.
"Ada yang bisa kubantu?"
"Aku merindukanmu," kata Regulus.
Mata Sirius sedikit berkaca-kaca.
"Aku juga rindu padamu."
"Pulanglah, please?"
"Tidak," kata Sirius, menggelengkan kepalanya. "Aku tidak bisa pulang. Aku tak percaya kau bergabung, Reg," tambahnya.
Regulus secara naluriah menunduk menatap tangannya.
"Aku juga tak percaya," katanya pelan. "Selamat, dan... erm... sampai jumpa."
Sirius tersenyum pada adiknya.
"Sampai ketemu!"
"SIRIUS!"
Ketiga anak laki-laki itu berbalik. Hestia ada di sana, dengan Lily di sisinya. Sirius tersenyum pada kekasihnya, sementara Regulus juga tersenyum pada kakaknya.
"Dia cantik sekali, man."
"Aku tahu," kekeh Sirius, nyengir pada adiknya. "Jaga dirimu."
"Kau juga," kata Regulus, lalu terbang kembali menuju teman-teman Slytherin-nya sementara Sirius dan James mendarat.
"Aku bahagia sekarang," kata Sirius pada James, yang tersenyum lebar mengetahui betapa berartinya itu bagi Sirius.
"Aku ikut bahagia, sobat," kata James. "Aku harus bicara denganmu," dia menambahkan dengan kikuk.
Sirius menyambar sapu James, menghentikannya.
"Soal bercinta?"
"Bagaimana kau tahu?" tanya James canggung.
Sirius nyengir.
"Hestia benar-benar parah kalau harus menjaga rahasia," ungkapnya, memutar mata. James tertawa. "Lakukan saja, sobat," saran Sirius, menepuk bahu James.
"Aku tak bisa melakukannya," kata James, mengedip.
Sirius menggonggongkan tawa selagi mereka mendarat di rerumputan.
"SIRIUS!" jerit Hestia, menarik sapu Sirius dan memeluknya erat. "KAU MENANG!"
"Aku tahu!" kata Sirius gembira, mengayunkannya berputar-putar.
"Aku tak percaya ini sudah berakhir," Alice menghela napas dari dekat Hestia.
"Aku tahu," gumam James, memainkan rambutnya.
"POTTER!" teriak Profesor McGonagall seraya berlari ke arah James.
James memandangnya, ketakutan, lalu Profesor McGonagall melemparkan dirinya dan memeluk James, membuat anak-anak Gryffindor itu ternganga.
"POTTER, KAU BERHASIL!" kata Profesor McGonagall dengan suara melengking, dan melepaskan James.
"Er, yeah," kata James canggung, wajahnya merah.
"MINERVA!" seru Sirius.
Profesor McGonagall berbalik menghadapnya.
"Kau juga, Mr Black," katanya, mengulurkan tangan pada Sirius. Sirius hanya memutar mata dan merangkul Hestia, mengabaikan uluran tangan McGonagall.
"Aku sakit hati, Minnie! Sudah berakhir!" kata Sirius dramatis.
"Memang sudah saatnya," gumam McGonagall, memutar mata.
Lily nyengir lebar. Profesor McGonagall mengedip padanya dan kembali mengusap mata dengan jubahnya. Dumbledore berjalan memasuki lapangan, lalu menyerahkan Piala kepada McGonagall diiringi tepukan meriah. Profesor McGonagall terisak.
"PESTA! DI RUANG REKREASI!" teriak Sirius, disambut sorakan riuh anak-anak Gryffindor.
Satu tangan Sirius berayun ke bahu James, satunya lagi merangkul Hestia, dan memimpin mereka ke kamar ganti. James menarik Lily mengikuti mereka. Mereka memasuki kamar ganti dengan suasana perayaan.
"TONKS, KAU HEBAT SEKALI!" teriak Remus, yang mengikuti di belakang.
"Trims, Remus," balas Tonks, nyengir.
"Aku tak percaya kau masih kelas dua," kata Remus, menggelengkan kepala.
Tonks merona. Ini tak luput dari perhatian Lily, yang langsung menyenggol Hestia, dan keduanya nyengir. James mengganti jubah Quidditch-nya dengan cepat dan menghampiri Lily, memeluknya dari belakang. Lily merasa tangannya merinding dan tersenyum pada James.
"AYO!" teriak Sirius, menarik semua orang dalam jangkauannya ke pintu. "Kita harus masuk bersama-sama, seluruh tim!"
James nyengir pada sahabatnya.
"Kami duluan, kalau begitu," kata Lily, menunjuk dirinya sendiri, Hestia, dan Remus. Sebelum ada yang bisa mencegah, ketiganya merunduk keluar dari kamar ganti. "Kau mengambil semua kebutuhan pesta dari Hogsmeade?" Lily menanyai Remus, yang terkekeh.
"Pete yang mengambil. Jadi, ada rencana apa?"
Lily merona sekilas sebelum menggelengkan kepala. Mereka naik ke menara Gryffindor, tempat pesta sudah berlangsung meriah. Ketiganya sedang berdiri di dekat meja minuman, menikmati Butterbeer, ketika seluruh anggota tim masuk, disambut tepukan meriah, bahkan para penghuni lukisan pun bersorak. Mereka diselamati orang-orang selama setidaknya satu jam sebelum James bisa membebaskan dirinya untuk mendekati Lily, yang sedang ngobrol dengan Hestia.
"Hai," kata James, memeluk Lily dari belakang.
"Hai," balas Lily terlonjak.
Hestia mengedip padanya sebelum menghampiri Sirius, yang duduk di dekat perapian bersama serombongan gadis yang membuat Hestia sedikit khawatir. Ketika Hestia mendekat, Sirius, mengabaikan gadis-gadis itu, berdiri menyambutnya.
"Selamat," kata Lily, memutar badan untuk menghadapi James.
"Aku bahagia sekali," kata James, tersenyum lebar.
Lily balas tersenyum. James ternyata sangat rupawan, membuatnya menyesali, kenapa dia harus menunggu sampai tahun ini untuk bisa menerimanya?
"Oh, kau kan baru saja dikelilingi cewek-cewek," kata Lily serius. James mendengus. "Aku tak tahu mana yang lebih buruk, anak-anak Slytherin atau cewek-cewek itu."
James terbahak.
"Tentu saja cewek-cewek ini," katanya. "Anak-anak Slytherin tidak seegois mereka."
Lily terkikik.
"Yeah, kita kan punya cakar," katanya, menggoyang-goyangkan jemarinya di depan wajah James untuk menunjukkan kuku-kukunya yang cukup besar.
"Kau tidak punya cakar, Sayang, kau punya belati," koreksi James, menyambar tangan Lily dan mengamati kuku-kukunya. "Jangan gunaan ini sebagai senjata kecuali ada anak Slytherin di dekatmu," tambah James galak.
Lily tertawa.
"Anak Slytherin dan Sirius?"
"Ya, tentu saja," kekeh James. Lily nyengir padanya.
"Jadi, James Potter, kau baru saja memenangkan Piala Quidditch. Apa yang ingin kaulakukan selanjutnya?" tanyanya, melingkarkan tanganya di leher James yang berseri-seri.
"Aku ingin berdansa dengan makhluk tercantik di muka bumi ini," kata James. Lily nyengir. "Apa menurutmu aku boleh meminjam Hestia?"
Lily mengerang. Tertawa, James menempelkan dahinya di dahi Lily.
"Lily, maukah kau berdansa denganku?"
"Tidak," kata Lily. James mengangkat alisnya. "Kepalamu menggelembung terlalu besar, pasti bakal memenuhi ruangan," lanjut Lily.
James melempar kepalanya ke belakang dan terbahak.
"Bagaimana kalau aku mengecilkannya?"
"Kalau begitu, aku mau berdansa denganmu."
James terkekeh dan berlagak sedang mengecilkan kepalanya, membuat sudut-sudut mulut Lily berkedut.
"Lebih baik?"
"Sangat."
"Jadi, Lily Evans, kekasihmu sudah memenangkan Piala Quidditch dan memanggilmu makhluk paling cantik di muka bumi. Apa yang ingin kaulakukan selanjutnya?"
"Aku kepingin tidur," goda Lily.
James memainkan alisnya.
"Dengan kekasihmu?"
"Mungkin," Lily terkikik.
"Jadi, kau kepingin tidur dengan kekasihmu?" tanya James kikuk.
Lily menggigit bibirnya.
"Entahlah, kita lihat saja."
"Kurasa aku masih punya sesuatu yang bisa diharapkan."
"Ya, tapi aku tidak menyebutkan kapan persisnya. Aku cuma bilang 'setelah pertandingan'," Lily menekankan. James menyipitkan mata padanya. "Bercanda!" tawa Lily. James ikut tertawa.
"Lelucon jelek."
"Yang benar? Kukira itu lumayan bagus."
"Tidak."
"Bagus, kok!" protes Lily. James menggeleng. "Ya sudah, mungkin aku akan tidur sendiri saja," tukas Lily, berbalik sedemikian rupa sehingga rambutnya menampar wajah James, dan menjauhinya. Baru tiga langkah dia berjalan, James sudah menangkapnya dan mengayunkannya berputar-putar.
"Itu tadi lelucon yang benar-benar lucu," James meyakinkannya.
Lily terkikik.
"Kau memang cowok menyebalkan, James."
"Apa itu berarti kau mencintaiku?"
"Tidak, itu artinya kau cowok menyebalkan," kata Lily, memutar matanya. James tertawa.
"HALO!" teriak Sirius, menyampirkan lengannya ke bahu Lily. "Bunga-Lily!" serunya gembira, mengecup pipi Lily.
"Sirius, kau mabuk, ya?" kikik Lily, mengusap pipinya ketika dilihatnya James mendelik pada sahabatnya.
"Tidak! Aku cuma minum beberapa!"
"Beberapa apa?" seringai James.
"Botol," Sirius balas menyeringai.
"Hai," dendang Hestia, menyeruak ke sebelah Lily.
"HESTIA MARGARET JONES!" kata Sirius gembira, menubruk Hestia yang memutar matanya dan menyangga Sirius selagi Sirius menciumnya.
"Aku mau pergi," kekeh Lily, sementara Hestia berkutat melepaskan diri dari Sirius.
"Dah, Sayang," seru Sirius, memeluk Lily kuat-kuat.
"Dah, Sirius," Lily tertawa dan mendorong Sirius, yang oleng ke belakang dan menabrak James.
"PRONGSIE!" Dipeluknya juga James, yang balas menepuk punggungya.
"Aku juga sayang padamu, Pads," kekeh James.
Sirius melepaskan pelukannya.
"SELAMAT BERSENANG-SENANG!" teriaknya.
James merona sementara Sirius menyambar Hestia dan menyeretnya untuk mengambil sebotol lagi Wiski Api. James menatap Lily, yang mendadak saja merasa seolah-olah ada kupu-kupu berterbangan di perutnya. James mengangguk ke arah lubang lukisan, dan menariknya ke sana.
Setibanya di asrama Ketua Murid, James menutup pintu di belakangnya. Lily mendongak menatapnya, gugup. James tersenyum sekilas sebelum mendekat dan menyibakkan rambut di wajah Lily.
"Kau yakin?" bisiknya.
Lily menatap tepat-tepat ke mata James.
"Pernahkah aku melakukan sesuatu tanpa berpikir?"
"Maksudmu berpikir berlebihan?" goda James. Mata Lily menyipit. "Bercanda!" seru James.
Lily tertawa. Tangannya melingkari leher James.
"I love you, James."
"I love you too, Lily."
.
T/N 2
Waktunya balas review!
DmHgLovers: Penginnya sih semua sekuel diterjemahkan. Semoga ada waktu untuk itu ya! :)
nnsoynnlooin: A/N itu Author's Note, padahal saya bukan author cerita ini, cuma menerjemahkan. Jadi akhirnya saya ganti jadi T/N alias Translator's Note yang lebih tepat. Wah, fic-nya boleh tahu judulnya? :D
lilyevcns: Terima kasih semangatnya! :)
