Pertama-tama, terima kasih kepada yang sudah mau mereview, fav, dan follow!
Ly ingin sekali bisa segera menyelesaikan cerita ini kalau bisa sebelum tahun depan. Ada kemungkinan aku akan super sibuk sampai tidak peduli pada fanfic lagi. Mari berharap akhir dari cerita ini bisa terlihat.
Warning: Mood whiplash
~o~o~o~
Disclaimer : I do not own Katekyo Hitman Reborn
Undying Flame
Chapter 26 : The Strange Rain
~o~o~o~
"Bos..." Lal Mirch mendongak menatap langit. Titik-titik air hujan mengenai wajahnya. "Aku punya firasat buruk."
Lal Mirch tidak perlu mengatakannya dengan ekspresi serius. Iemitsu sendiri bisa merasakannya.
Langit yang semula bersinar terang sekarang tertutupi awan abu-abu seakan memberi pertanda buruk.
Sesuatu yang besar akan terjadi.
~o~o~o~
Entah kenapa tetesan air hujan yang turun dari langit ini membuatnya gelisah.
Tsuna memang sudah merasakannya sejak lama. Hujan ini memberinya firasat aneh.
Tapi, sensasi ini sama sekali tidak asing. Dia yakin pernah merasakannya sebelumnya.
Sesosok tubuh berlumuran darah langsung memenuhi seluruh pikirannya. Tsuna harus memejamkan mata untuk menghilangkan bayangan yang menyakitkan itu.
Tidak sekarang, dia memberitau dirinya sendiri. Aku akan menemuimu, tapi tidak sekarang.
"Tsuna?"
Tsuna tersentak.
Entah sejak kapan Cielo berdiri di sebelahnya. Tangannya memegang payung yang dia gunakan untuk menaungi Tsuna juga.
"Kau tidak apa-apa? Kau tak seharusnya berada di atap rumah sakit."
Kekhawatiran di wajahnya sangat jelas dan murni. Tsuna tersenyum masam. "Aku tidak mau mendengarnya dari seorang pasien yang belum sembuh sepenuhnya."
"Aku melihat Gokudera tidur di atas kursi pengunjung tadi," ucap Cielo, tangannya terlipat diatas pagar yang Tsuna duduki. "Dia terlihat lelah."
Tsuna tidak terkejut. Gokudera lah yang bekerja paling keras diantara mereka semua. "Biarkan saja dia istirahat. Dia terlalu memaksakan diri."
"Bukankah kau juga begitu?"
Meskipun Tsuna menyadari kepedulian dan kekhawatiran yang tersembunyi di balik pertanyaan itu dengan jelas, dia hanya bisa tertawa.
Cielo menghela nafas. Dia terdiam selama beberapa saat sebelum akhirnya bersuara dengan tatapan kosong, "Hey, Tsuna, apa yang kau pikirkan tentang saudaraku?"
"Sawada Ienari? Menurutku dia hanya penakut kecil."
"Eh?" Cielo memiringkan kepalanya bingung. Dia sama sekali tidak terlihat seperti hacker nomer satu saat melakukan itu. Hanya remaja normal lainnya yang terlibat dalam masalah orang lain.
"Kelihatannya dia membencimu, tapi sebenarnya dia hanya takut akan kehilangan," Tsuna tersenyum tipis. "Dia takut akan kehilangan lebih dari siapapun, karena itulah dia tidak ingin terlalu dekat denganmu."
Dia sudah sering menemukan orang seperti itu. Jika orang-orang seperti itu dibiarkan saja, mereka akan berakhir menyakiti diri sendiri dan orang yang mereka cintai.
Sawada Ienari adalah salah satunya. Semua hinaan itu bukan bertujuan untuk melukai hati saudaranya, melainkan untuk melindungi hatinya sendiri.
"Kupikir dia membenciku karena kepayahanku. Ienari mulai menjaga jarak dariku sejak pertama kali aku jatuh koma. Aku tidak ingin menghalangi jalannya, jadi kubiarkan jarak itu tumbuh," Cielo mengistirahatkan kepalanya diatas pagar atap rumah sakit yang dingin. "Tapi, hari ini dia berubah."
Begitu, ya. Jadi, akhirnya dia telah membuat pilihan.
"Dia telah memilih untuk melawan ketakutannya," ucap Tsuna pelan.
Cielo terdiam, tampak memikirkan kata-katanya dengan sepenuh hati.
Tsuna menggunakan keheningan ini untuk kembali memperhatikan langit yang tertutupi awan hitam.
Perasaan buruk di hatinya terus membesar. Tapi, setiap dia mencoba memikirkannya lebih jauh, sesuatu menghalanginya, suara dan pemandangan yang samar-samar seperti rekaman rusak.
"Tsuna?"
Tsuna memegang sisi kepalanya. Semua pemikiran yang rumit itu membuatnya lelah. "Ya, Cielo?"
"Seseorang di keluarga Abel punya kekuatan yang bisa menciptakan elemen Flame, benarkan?" Cielo menahan kata-katanya. Ekspresinya menunjukkan keragu-raguan.
Mendadak, Tsuna merasakan sesuatu yang dingin menyirami hatinya, membekukannya, hingga dia tidak bisa bergerak.
"Selamat siang, Vongola Decimo."
"Orang ini bisa mendatangkan badai dan membuat matahari bersinar lebih panas dari biasanya."
Kata-kata Cielo menyatu dengan tembakan dan teriakan seseorang.
"Larilah, Tsuna!"
"Reborn, tidak!"
"Kalau tidak salah, namanya adalah-"
"Reborn sudah mati. Pembunuhnya adalah-"
"William Thower."
Nama itu bukan keluar dari mulut Cielo. Saat ini, mereka berdua bukan satu-satunya yang berada di atap itu.
Tsuna berbalik dan melompat turun dari pagar. Sensasi dingin masih mencengkram hatinya.
"Selamat siang, Vongola Decimo."
Sambil memasukkan kedua tangannya yang bergetar kedalam kantong jaket, Tsuna berkata dengan nada yang diusahakan tetap tenang, "Selamat siang, Abel."
~o~o~o~
"Mungkinkah... Tanpa aku sadari... Garis takdir sudah..."
...Dihancurkan?
Byakuran mengatur nafasnya. Bahkan jika dugaannya benar, tidak ada yang bisa dia lakukan.
Tempat itu sangat sepi. Dia memang sengaja pergi ke tempat yang jauh dari pemukiman, dengan begitu tidak akan ada orang tak bersalah yang terlibat.
Tapi, sisi negatifnya tidak akan ada orang yang datang menolong.
Byakuran menunduk menatap lantai yang dibanjiri darah. Dalam kegelapan ini, hanya warna merah menjijikkan itu yang bisa dilihat oleh pandangannya yang mulai kabur.
Akankah gedung tak terpakai ini menjadi tempat peristirahatannya yang terakhir?
Tidak sulit membayangkan hal itu terjadi.
Byakuran Gesso mati membusuk sendirian dalam gudang yang sudah lama ditinggalkan.
"Apa kau sudah menyerah terhadap Abel, Sky Arcabaleno?"
Suara dingin seorang wanita memasuki telinganya.
Dengan sisa tenaganya, Byakuran mendongakkan kepala.
Viola dari keluarga Abel menatapnya dengan ekspresi datar. Tangannya menggenggam pisau lipat yang berkilauan di kegelapan.
"Jawab pertanyaanku."
Byakuran sudah tidak bisa bergerak. Dia sudah kehilangan terlalu banyak darah dan tenaganya terkuras habis. Sebenarnya sungguh suatu keajaiban dia masih bisa sadar.
Tapi, bahkan setelah semua itu...
"Aku tidak bisa menyerah," Byakuran menyeringai. Tawa seorang gadis kecil dari masa lalu memenuhi pikirannya, membuat hatinya terasa hangat. "Selama aku masih bisa melangkah maju, aku tidak akan menyerah."
Tidak mungkin dia mau menyerah disini.
"Aku mengerti," Viola mengangkat pisaunya. Senjata berbahaya di tangannya itu pasti digunakan demi orang yang dia sayangi.
Sambil menopang satu sisi tubuhnya pada dinding, Byakuran memaksakan kakinya yang terluka parah untuk berdiri dan menghadapi musuh sekali lagi. Dia sendiri juga akan bertarung untuk orang yang dia sayangi.
"Majulah, Abel."
~o~o~o~
A/N : Maaf karena lebih pendek dari chapter sebelumnya. Dan maaf kalau alur ceritanya terlalu cepat.
Cocoa2795-Saya juga berharap ceritanya segera terungkap. Let's just wait and see.
Frwt-Terima kasih atas dukungannya! Dan maaf untuk apdetannya yang lama. Kalau Ly jadi Frwt-san, saya juga bakalan lupa sama flashbacknya.
Jaa nee~!
