Akatsuki no Yona

Chapter 25 – The Red Sunset Sky

.


.

~ Kuil Kousei ~

.

Yona dkk menyiapkan barang-barang mereka untuk keberangkatan mereka besok menuju ke perbatasan untuk menahan para pasukan Kekaisaran Kai Selatan. Sorenya, Zeno yang berdiri di hamparan padang rumput Kaya menghampiri Kayano yang duduk di dekat ladang bunga Cosmos, tepat di bawah pohon Momiji.

"sebentar lagi musim dingin, ya" ujar Kayano meniup kedua tangannya melihat daun Momiji yang berguguran.

Melihat Kayano yang sekarang, Zeno merasa seolah ia melihat Kaya, seperti dulu saat bertemu dengan Kaya, Kayano juga tinggal seorang diri di tempat terpencil ini sehingga Zeno merasa tak tega meninggalkan Kayano tapi Zeno tahu misi yang harus ia emban sehingga tak mungkin Zeno meninggalkan Yona dan teman-temannya yang membutuhkannya.

"sedang apa disitu? cepat kemari... ada yang ingin kau bicarakan denganku, kan?" ujar Kayano yang memunggungi Zeno.

Melihat wajah Kayano yang memerah, Zeno tersenyum dan menghampirinya "iya".

"besok kalian pergi, kan?".

"iya..." ujar Zeno diam di belakang Kayano "...apa kau selalu seorang diri disini?".

"tidak, masih ada burung-burung kecil dan para binatang di hutan yang menjadi temanku dan sesekali ada orang yang berkunjung kemari..." ujar Kayano berbalik dan berhadapan dengan Zeno "bukankah seharusnya ada yang harus kau katakan padaku sebelum pergi, Zeno?".

Zeno merutuk dirinya sendiri yang tak tahu harus berkata apa pada Kayano, terlalu banyak hal yang ingin ia katakan pada Kayano tapi Kayano bukanlah Kaya.

"dewa selalu mengajariku, banyak hal yang diberitahu dewa padaku termasuk... soal kau yang merupakan suamiku di kehidupanku sebelumnya...".

Zeno terbelalak melihat Kayano "kau sudah tahu...".

Kayano menggelengkan kepala "bukan, sebelum dewa memberitahuku... sejak awal aku sudah tahu soal kau, Zeno... karena aku ingat waktu yang telah kita lewati bersama saat aku masih hidup sebagai Kaya".

"kalau sudah tahu... kenapa kau tak bilang apa-apa sejak awal?".

"karena kau tak menepati janji... selama 900 tahun aku bereinkarnasi dan mencarimu, hingga akhirnya kita berhasil bertemu disini tapi kenapa..." ujar Kayano memegang kedua lengan Zeno "kenapa kau tak pernah menceritakan apapun padaku saat aku masih hidup sebagai Kaya? soal kau yang merupakan Ouryuu generasi pertama, soal kau yang abadi dan tak bisa mati... kenapa hal sepenting itu tak pernah kau ceritakan padaku? bukankah aku istrimu?" .

"karena aku tak ingin kau mengetahuinya!? kau berusaha melawan penyakitmu dan bertarung dengan maut tiap harinya menginginkan agar kau bisa hidup dan berharap waktu bisa berhenti sehingga kita bisa tetap bersama... kau tak pernah menyerah pada penyakitmu... kau bahkan tak pernah menyerah untuk tetap hidup, itu membuatku jatuh cinta padamu... bertolak belakang dengan diriku yang abadi dan tak bisa mati, aku jadi menginginkan kematian dan mengatakan hal yang kejam di pertemuan pertama kita?!" ujar Zeno memegang bahu Kayano "hingga akhir hidupmu, melihatmu yang tersenyum sambil berkata agar kita bertemu lagi di surga, aku tak sanggup memberitahumu bahwa kita tak mungkin bisa bertemu di surga karena jiwa ini tak bisa pergi kemanapun lagi... aku tak ingin kau takut padaku atau membenciku...".

Kayano terbelalak melihat sorot mata Zeno yang seolah siap menangis kapanpun dan getar tubuh Zeno.

.

"ah, disini... saat inilah mereka berdua bertemu dalam mimpiku" ujar Yona menjelaskan seperti apa suasana yang ia lihat di dalam mimpinya.

"terus, kenapa kita semua pakai ngintip begini?" ujar Yun yang ikut sembunyi di balik semak-semak bersama teman-temannya karena ia juga penasaran.

"kalian pada kurang kerjaan, ya? kenapa aku pakai diseret-seret?" gerutu Hak yang ditarik oleh Yona barusan.

.

Kayano memegang wajah Zeno dan menyundulkan dahinya keras-keras ke dahi Zeno "apa kau meremehkanku? Dasar bodoh?!".

"Kaya... atau Kayano... kau marah padaku?" ujar Zeno mengelus dahinya.

"tentu saja aku marah... aku selalu menunggumu di surga tapi kau lama sekali, sehingga aku terus mencarimu dan berkelana sejak 900 tahun yang lalu, aku marah karena kau membuat janji yang tak bisa kau tepati... aku marah karena kau tak bilang apapun padaku soal dirimu sendiri sedangkan kau selalu mendengarkanku, aku kesal pada diriku sendiri yang tak berguna bagimu dan selalu saja ditolong olehmu... maafkan aku, karena meninggalkanmu sendirian selama ini dan tak mengerti penderitaanmu... maaf, seharusnya aku lebih mendengarkanmu" ujar Kayano memeluk erat Zeno dan mulai menangis "jangan pernah berpikir aku akan membencimu atau takut padamu karena sejak dulu hingga sekarang, perasaanku padamu tak pernah berubah, jika kau memang tak bisa mati dan menemuiku di surga, tak masalah karena tak peduli meski harus bereinkarnasi berapa kali, aku akan mencari dan menemuimu... aku mencintaimu, Zeno...".

"aku juga" ujar Zeno memegang wajah Kayano, mencium bibir dan kening Kayano.

Langit di sore hari ketika matahari mulai terbenam saat itu terlihat begitu indah bagi mereka.

.

"mantap... saat ini baru aku merasa kalau dia benar-benar dewasa dan yang paling dewasa di antara kita" ujar Jae Ha yang menutup mata Yun dan Shina.

"belakangan ini kok pada ciuman terus, ya? sekarang Zeno dan Kayano, kemarin..." ujar Yona.

"siapa yang kau maksud, tuan putri?" ujar Hak.

.

"kau yakin tak apa sendirian disini, nona Kayano?" ujar Yona.

"tak masalah, tuan putri... lagipula jika saya pergi, tak ada yang mengurus kuil ini".

"kalau begitu, kami akan berkunjung kemari sesekali dan jika semuanya sudah selesai, akan kupastikan Zeno kami tinggal disini" ujar Yona memegang kedua tangan Kayano sehingga Kayano tertawa "wah, akan kunantikan itu...".

"sudah, kasih salam cium atau peluk sama istrimu sana" ujar Jae Ha mendorong Zeno dibantu Kija dan Shina.

"kalian apa-apaan, sih?" protes Zeno.

"terima nasibmu, Zeno, sebab setelah tahu kalau istrimu masih ingat padamu, kalian langsung malam pertama di kehidupan kedua, kan?" ujar Hak menggoda Zeno yang semalam tidur di kamar Kayano.

"mumpung istrinya ingat, memangnya tak masalah dengan suami sepertinya?" tanya Jae Ha menunjuk Zeno.

"tak masalah, aku akan selalu menunggunya... lagipula, aku istrinya, selalu ada tempat untuk pulang baginya" ujar Kayano tersenyum lebar, terlihat begitu cantik dan lembut.

"dasar si bahagia satu ini!? beruntung sekali?!" ujar Jae Ha menjitak Zeno.

"Ryokuryuu, mukulnya beneran, ya?! sakit, tahu!?" protes Zeno.

"tak apa-apa, kan? mumpung lagi bahagia" ujar Hak tertawa melihat kelakuan temannya.

Melihat Hak tertawa, Yona tersenyum karena lega.


.

~ Kastil Saika ~

.

"beliau hanya perlu beristirahat sementara waktu" ujar Yuria begitu keluar dari kamar.

"bicara soal kondisinya, apa ada masalah pada jantungnya? Kulihat ia berusaha menahan rasa sakit di dadanya... mungkin itu juga disebabkan bekas luka di dadanya, tapi apa itu penyakit bawaan sejak lahir?" tanya Yohime.

"bukan, kondisi nona Aina jadi begitu sejak mendapat bekas luka itu" jawab Tae Woo.

"tapi kami cukup terkejut, permaisuri cekatan saat memberikan pertolongan pertama pada ratu" ujar Geun Tae.

"benar, kami seperti melihat dokter sungguhan menangani pasiennya" angguk Kyo Ga.

"itu karena ibuku dokter, aku memang sempat meneruskan pekerjaan beliau sebelum masuk ke istana" ujar Yohime.

Saat Soo Won membopong Aina dan hendak membawa Aina ke kamar lain, Yohime sempat menghentikannya dan melakukan pertolongan pertama mulai dari membuka obi (tali yukata) dan melonggarkan baju untuk melegakan pernapasan. Saat itu sempat terlihat bekas luka yang ada di dada Aina. Teringat jumlah bekas luka di tubuh Aina, para jenderal kini paham kenapa Aina selalu mengenakan pakaian yang menutupi hingga lehernya.

"dilihat dari bekas luka di dadanya, seharusnya dia sudah mati karena itu mengenai titik vital" komentar Yohime.

"yah, itu karena nona Aina memiliki daya tahan hidup yang tinggi" angguk Han Dae.


.

~ Kastil Hiryuu ~

.

Rombongan yang terdiri dari Soo Won, Aina, Mundok dan kelima jenderal tiba, disambut oleh Keishuk, Lily dan kedua dayangnya.

Lily yang disuruh tinggal di kastil Hiryuu oleh Joon Gi langsung memeluk Aina "syukurlah".

"maaf membuatmu cemas" ujar Aina tertawa sambil menepuk kepala Lily.

"langsung ke kamarmu dan istirahatlah, serahkan saja urusan mereka padaku" pinta Soo Won.

"baiklah, kalau begitu biar saya temani" ujar Lily mendorong pelan Aina yang diseret kedua dayangnya ke kamar.

Lily terbilang gadis yang memiliki kepekaan yang tinggi, ibarat jarum yang tajam, ia melihat ada sesuatu yang berbeda sehingga ia bertanya langsung pada Aina "apa ada sesuatu? Entah kenapa aku merasa kalau sebagian jenderal jadi tegang begitu".

"benarkah? Siapa saja?".

"hm, entah kenapa aku merasa ada tatapan permusuhan dari jenderal Joo Doh dan jenderal Kyo Ga, kalau untuk jenderal Geun Tae dan ayah sih bisa dibilang biasa-biasa saja dan sisanya bisa dibilang tegang meski aku tak tahu kenapa... memang apa yang terjadi?".

"yah, bisa dibilang itu karena kartu jokerku sudah dibuka".

.

"jadi bisa jelaskan apa maksud ucapan permaisuri saat itu, jenderal Tae Woo, tetua Mundok?" ujar Joo Doh melipat tangan.

"apalagi yang harus dijelaskan? Sudah dengar sendiri, kan? nona Aina dan tuan Hak memang sempat tunangan... du-lu ya, sebelum menikah dengan yang mulia..." ujar Tae Woo bertopang dagu, terlihat jelas kalau ia bad mood dari wajahnya yang cemberut "lalu memangnya hal itu perlu diungkit lagi?".

"kenapa hal sepenting itu disembunyikan!?" protes Joo Doh.

"kalian tak pernah tanya, kan? kurasa tak ada kewajiban bagi kami untuk menjawab lagipula menyembunyikan hal itu atau tak mau menjawab pertanyaan tentang hal itu terserah kami, bukankah itu lebih baik ketimbang berbohong?" sahut Tae Woo.

"sudah, tak perlu meributkan hal itu... kalau hanya soal itu, aku sudah tahu sejak awal sebelum aku meminangnya menjadi istriku..." ujar Soo Won menghentikan perdebatan dan membuka rapat kelima suku yang sempat tertunda.

.

"apakah anda meminangnya menjadi istri anda karena rasa bersalah atau merasa bertanggung jawab?" tanya Joo Doh.

Tepat setelah rapat kelima suku berakhir, ketika ia mendampingi Soo Won yang bergegas pergi ke kamarnya, tanpa ragu ia bertanya pada Soo Won.

"atau... anda memang berniat mati di tangan wanita itu?".

Soo Won menundukkan kepala dan mendengus "kau tenang saja, karena Aina tak bisa membunuh orang... aku sudah dengar kalau Aina bisa bertarung tapi tak bisa membunuh, kupikir itu tak mungkin sampai akhirnya aku melihatnya sendiri... ia memang kuat dan memiliki teknik bertarung yang sama seperti Hak tapi saat ia hampir berhasil membunuh Lou Wen, tangannya berhenti sendiri... entah apa yang menyebabkannya, tapi yang jelas dia tak bisa membunuh seseorang... seharusnya kau tahu, dia memang belum pernah membunuh orang meski dia bisa melukai orang lain dan bertarung dari sorot matanya, kan?".

.

"bukannya itu gawat!?" ujar Lily terkejut, tapi ia mengerti dilema yang harus dirasakan Aina yang tak bisa berbohong meskipun ingin.

"tenang saja, setidaknya mereka takkan bisa macam-macam padaku karena kak Kou Ren sudah memberikan ultimatum, jika aku mati karena terbunuh, pasukan kerajaan Xing siap menyerbu kerajaan Kouka dan suku angin tentu takkan tinggal diam, kan? lagipula sekarang backingku bertambah" ujar Aina menjelaskan hubungan Kaisar Kai Utara dengan Hak dan berbisik "yang diketahui oleh mereka, Hak hanya adik seibu dengan Yue tapi sebenarnya ayah dan ibu mereka sama jadi sebenarnya mereka berdua memang kakak adik kandung... Yue bilang karena aku adalah wanita yang dicintai adiknya, ia akan memihakku seperti suku angin yang berpihak pada Yona dkk".

"susunan keluarga macam apa itu?!" pekik Lily terkejut mengetahui susunan keluarga Hak, ia jadi mencemaskan Yona dan penasaran bagaimana reaksi Yona jika Yona tahu hal ini.

Soo Won masuk bersama Joo Doh, sekilas Aina bisa merasakan tatapan permusuhan dari Joo Doh sehingga Lily yang bisa merasakannya juga khawatir pada Aina.

"bisa kalian tinggalkan kami berdua?" pinta Soo Won.

Lily yang khawatir pada Aina sempat ragu meninggalkan mereka berdua namun setelah Aina meyakinkan kalau ia akan baik-baik saja, akhirnya Lily keluar kamar bersama Joo Doh.

"...sedang apa, jenderal Joo Doh?" tanya Lily heran melihat Joo Doh mengintip ke dalam lewat celah pintu.

"hanya memastikan jika yang mulia takkan dicelakakan oleh permaisuri..." jawab Joo Doh terang-terangan.

Saat Lily ikut mengintip karena khawatir, mereka berdua terkejut melihat Soo Won mendorong Aina ke atas ranjang.

.

"hentikan, Soo Won... jika kau menginginkan seseorang untuk berada di sampingmu hanya untuk mengusir rasa kesepian dan rasa sakitmu, itu hanya akan memperdalam kesepian dan sakit di hatimu..." ujar Aina yang berbaring di atas ranjang, memegang wajah Soo Won "jangan lupa, aku akan terus berada di sampingmu hanya sebagai pedang dan perisaimu, jangan ragu menggunakanku sampai tiba waktunya kau membuangku dan tak membutuhkanku lagi".

"...mana mungkin aku lupa, kan?" ujar Soo Won memegang tangan Aina.

"baguslah...".

"tapi bukan berarti kau harus melalaikan tanggung jawab dan tugasmu sebagai istriku..." ujar Soo Won mencium punggung tangan Aina.

"oh, masalah itu... aku mengerti dan aku paham sepenuhnya, hanya saja kau harus ingat bahwa meski kau bisa mendapatkan tubuhku dan sisa waktuku, aku tak berniat menyerahkan hatiku".

"aku tahu".

"satu lagi... ini masih sore, tunggu malam dulu, bodoh" ujar Aina menahan Soo Won.

"aku tahu, tapi saat ini..." ujar Soo Won mendekapkan wajahnya ke dada Aina "...aku hanya ingin memelukmu".

Melihat sorot mata Soo Won begitu sedih saat mendekapkan wajahnya ke dadanya, Aina hanya bisa diam sambil mendekap kepala Soo Won dan memeluknya.

.

Lily yang melihat adegan dewasa barusan menutupi wajahnya yang memerah "ya, ampun... ini kan masih sore...".

Melihat reaksi Lily, Joo Doh yang pertama kali mengintip jadi ikut merasa malu karena merasa mereka berdua sudah melakukan hal yang tak sopan "yah, memang kita tak mendengar apa yang mereka bicarakan, tapi sepertinya tetap perlu mewaspadai permaisuri untuk sementara waktu".

"kenapa? kau masih curiga kalau kak Aina akan mencelakakan yang mulia Soo Won untuk membalas dendam? bukankah kau lihat sendiri, permaisuri bahkan tak melawan saat yang mulia memeluknya" protes Lily yang menoleh ke arah Joo Doh.

"nona Lily, ternyata anda memang sudah tahu soal pertunangan nona Aina dengan pria itu dan anda menyembunyikannya?".

Melihat Joo Doh menatapnya sinis, Lily tak gentar dan melipat tangan "memangnya kenapa? itu bukan hal yang perlu disembunyikan, tapi karena itu masa lalu, bukankah tak perlu diambil pusing? Dan aku rasa menyembunyikan sesuatu dan berbohong adalah dua hal yang berbeda, jenderal Joo Doh".

"anda mengatakan hal yang sama dengan jenderal Tae Woo..." ujar Joo Doh menghela napas "tapi perlu anda ingat, nona Lily, tak mengubah kenyataan kalau masa lalu pasti berpengaruh besar terhadap apa yang terjadi di masa depan... tak mungkin permaisuri menikahi yang mulia Soo Won tanpa ada maksud, hanya wanita tak waras yang rela menikah dan bisa mencintai pria yang telah membunuh tunangannya, kecuali wanita itu berniat balas dendam... dan jika terbukti bahwa permaisuri memang berniat mencelakakan yang mulia, saat itu...".

"tunggu, kau tak bisa membunuhnya?!".

"kenapa tidak? anda tentu tak lupa apa yang anda saksikan di Sensui, kan?".

Joon Gi, Kyo Ga dan Geun Tae yang sedang berbincang-bincang terpaksa sembunyi karena tak sengaja mereka melihat Lily dan Joo Doh yang sedang bicara dengan atmosfer yang terasa berat.

"aku mengerti kalau apa yang terjadi di Sensui membuatmu waspada, tapi tidak semua orang seperti itu, kan? perlu kau ingat, jenderal Joo Doh, itu semua terjadi juga karena salah kalian, kan?! jika mereka tak melawan, mereka yang akan terbunuh?! mereka harus menderita akibat perbuatan kalian jadi jangan heran jika mereka bersikap seperti itu?! di atas segalanya, mereka hanya ingin tetap hidup, apa itu salah!? kau tak berhak mengatai kak Aina sedangkan kau masih belum tahu apa-apa soal dia, kan?" ujar Lily dengan mata berkaca-kaca, teringat apa yang telah menimpa Yona, Hak dan Aina serta betapa menderitanya mereka selama ini. Lily merasa Aina mirip dengan Yona, karena itulah ia perlahan jadi menyayangi Aina seperti ia menyayangi Yona.

Joo Doh mengerti perasaan Lily karena ia juga satu pemikiran dengan Lily, harus mengawal Soo Won, ia telah menetapkan dalam hatinya bahwa ia menaruh loyalitasnya pada Soo Won dan ini menyebabkan ia jadi protektif dan paranoid terhadap apapun yang ia rasa bisa membahayakan Soo Won.

"...maafkan saya jika ucapan saya menyinggung anda, nona Lily, seharusnya saya ingat betapa berharganya mereka bagi anda" ujar Joo Doh menyerahkan potongan kain mantelnya yang ia sobek pada Lily "jika anda berkenan, karena saya tak punya sapu tangan...".

Lily tertawa sebelum ia menyembunyikan air mata di wajahnya dengan potongan kain mantel itu "kau lucu juga, jenderal Joo Doh...".

"wanita benar-benar makhluk paling rumit yang menyusahkan dan membingungkan... setelah menangis, bisa langsung tertawa?" ujar Joo Doh menghela napas.

"aku merasa dari punggungmu, kau seolah berkata kalau kau hanya malu..." pikir Lily diam-diam tersenyum. Joo Doh yang sempat melihat senyuman Lily segera memalingkan wajahnya, memunggungi Lily dan menatap ke depan untuk menyembunyikan wajahnya yang memerah. Joo Doh bisa saja meninggalkan Lily, tapi ia tak tega meninggalkan Lily melihat Lily masih menangis sehingga ia memutuskan akan pergi setelah memastikan tangisan Lily sudah reda. Di lorong istana kastil Hiryuu, Joo Doh dan Lily yang melihat langit senja sore hari itu teringat pada Yona. Lily menyayangi Yona sebagai sahabatnya, Joo Doh tidak pernah menginginkan kematian Yona dan berharap Yona bisa tetap hidup.

"ah, salju..." ujar Lily mendongak dan berlari ke taman.

Melihat Lily tersenyum di saat berlari di tengah salju, Joo Doh tersenyum dan menghampirinya "anda seperti anak kecil, nona Lily...".

"ini akan jadi musim dingin pertama Yona di luar kastil" pikir Lily meniup tangannya yang kedinginan "apa mereka akan baik-baik saja, ya?".

"daripada mencemaskan orang lain, kembalilah ke dalam, anda bisa masuk angin..." ujar Joo Doh menutupi Lily dengan jubahnya.

"jenderal Joo Doh, sebelum menaruh curiga dan mewaspadai orang, kenapa tak lihat dulu kak Aina orangnya seperti apa dan coba percaya padanya?" tanya Lily.

.

"meski nona Lily bilang begitu... nyatanya nona Lily dan nona Aina ada di pihak putri Yona, kan?" pikir Joo Doh mengawasi Aina dan Soo Won yang tengah berbincang di atap benteng sore itu.

"semua berjalan sesuai rencanamu... sejak awal, kau memang tak berniat mengotori tanganmu dan berencana menggunakan orang di sekitarmu, kan? termasuk aku..." ujar Soo Won melipat tangan, terlihat jelas dahinya ditekuk.

"sepertinya moodmu jadi jelek setelah sadar hal itu... memang kenapa? toh, kau juga pernah melakukan hal yang sama denganku, kan? anggap saja impas..." sahut Aina tertawa sinis saat menatap Soo Won, mengangkat tangannya ke atas agar burung kecil di tangannya terbang ke langit "kau menggunakanku sebagai alat pernikahan politik sehingga kerajaan Xing dan Kouka bisa menjalin kerja sama, sebagai gantinya aku jadi bisa membalaskan dendam kematian orang tua mantan tunanganku...".

"dengan nyawamu sebagai taruhannya? Aku tak setuju... jika terjadi sesuatu padamu, tetap saja kami akan kena imbas kemarahan putri Kou Ren".

"kita tak bisa dapat hadiah secara cuma-cuma, kan? seharusnya kau bersyukur, berkat kejadian kali ini, hubungan dengan Kekaisaran Kai Utara membaik dan kita tinggal meminta kompensasi dari Kekaisaran Kai Selatan atas perbuatan Lou Wen".

"tak kusangka, isi perutmu cukup hitam...".

"tapi kurasa isi perutmu lebih hitam dariku".

"garis lurus, ya..." ujar Soo Won menghela napas "jika kau marah padaku, lampiaskan semua itu padaku karena aku memang pantas mendapatkannya".

"Soo Won..." ujar Aina menarik kerah baju Soo Won "berdalih begitu padaku dan menikahiku karena ingin menebus sesuatu melalui diriku tak akan membuat rasa bersalahmu berkurang... sejak awal, bukan aku yang harus mendapat permintaan maafmu karena kau tahu kepada siapa kau harus minta maaf, kan?".

"aku tak menyesal dan takkan minta maaf, karena semua berjalan sesuai rencanaku, itu saja..." ujar Soo Won menatap kedua mata Aina dan memegang wajah Aina "tapi yang tak kumengerti itu kau... kenapa kau tetap memilih berada di sampingku?".

"karena kau bodoh... kau pikir kau lebih jahat dari yang dipikirkan orang lain termasuk mereka berdua... tapi kau salah, kau bukan orang baik, bukan juga orang jahat, kau hanyalah orang bodoh... dengan menggenggam harapan yang tersisa sebagai putra kandung Yu Hon, kau kotori tanganmu dan tak menyalahkan siapapun meski tangan kotor itu dibenci... kau pikir dirimu tak pantas bahagia atau hidup damai..." ujar Aina memegang wajah Soo Won dan mengadu dahi "hanya kakek yang sadar, beliau sedih karena ia merasa senyuman tulusmu yang dulu tak bisa ia lihat lagi... aku tahu demi melindungi kerajaan ini, kau korbankan orang yang paling berharga bagimu... meski begitu, punggungmu selalu melangkah maju, seorang diri... ini bukan karena rasa kasihan atau simpati, bukan juga kewajiban, aku hanya tak bisa membiarkanmu sendirian... karena itulah, biarkan aku berada di sampingmu sebagai ganti mereka berdua, agar aku bisa melihat semua yang kau lakukan demi negeri ini, anggap itu penebusan untuk mereka berdua, sebagai pedang dan perisaimu selama aku masih bisa bersamamu...".

Mendengar ucapan Aina, Soo Won memeluknya erat sambil menyembunyikan wajahnya ke bahu Aina "biarkan aku begini sementara waktu...".