Disclaimer: Tsukiuta by Fujiwara dan jiku
Tidak ada keuntungan yang diambil dari pembuatan fanfiksi ini. Semuanya murni untuk senang-senang saja.
Notes:
- Canon compliant x Omegaverse
- Omega!Hajime, Alpha!Haru, Beta!Shun, Beta!Yuki, basically kali ini tentang reaksi Hajime terhadap hubungan Shun dan Yuki.
- haruhaji, Unrequited Shunhaji & Yukiai.
DLDR as usual.
XXVI
「Realization」
Canon compliant
.
Enjoy Reading
Nyonya Mutsuki sering bilang, kau tidak akan sadar kau memiliki sesuatu yang sebenarnya berharga sampai hal itu mendadak menjadi tak lagi bisa diraih. Hajime cukup sering mendengar ucapan itu, namun tidak pernah merasa akan mengalaminya karena ia adalah tipe yang akan serius menjaga apa yang berharga untuknya. Sepanjang ia menjalani hidup, Hajime selalu memastikan hal itu. Kawan-kawan dan keluarga, hal-hal lain yang berharga ia jaga agar selalu dekat dengannya.
Haru kadang menggodanya, mengatakan Hajime terlalu posesif untuk seorang omega. Hajime sering tidak mengambil pusing, hanya mengangkat bahu dan menganggap ucapan Haru angin lalu. Toh ia tahu alpha, dan suami sekarang karena mereka sudah resmi menikah, itu hanya menggodanya.
Tapi ketika satu hari Shun kembali ke dorm, setelah keluar dengan pakaian yang, jujur saja, sedikit lebih formal dari biasanya, bersama Yuki, Hajime merasa mungkin ini saatnya ia menyicipi ucapan yang sering disebutkan ibunya itu.
.
.
"Aku dan Yuki punya berita untuk kalian."
Shun berkata di depan anggota Six Gravity, Procellarum, Fluna, dan Seleas. Dia duduk bersama Yuki, keduanya terlihat sedikit gugup. Hajime melihat jemari Yuki menarik lengan baju Shun sedikit, seolah menjadikannya pegangan untuk tetap kuat ketika ingin menyampaikan apapun yang akan mereka ingin sampaikan saat itu.
"Uh-huh, berita apa?" Kai bertanya kasual, sedikit bingung melihat kombinasi Shun dan Yuki.
"...," Shun dan Yuki saling tatap. Yuki mengangguk dan Shun sekali lagi menatap mereka semua. "Aku dan Yuki akan menikah."
Ada jeda sejenak sebelum beberapa orang secara kompak berseru.
"HAAH?!"
"M-Menikah, Shun-san?" Yoru bertanya sambil mengelus dada. "Eeh?"
"Iya. Habis aku dan Yuki'kan beta. Jadi tidak perlu menjadi mate dulu." Shun tertawa pelan. "Kami sudah membicarakan ini beberapa waktu lalu dan kami sepakat mau membawa hubungan ini ke tahap yang lebih serius."
"U-Uwah… K-kalau sudah begitu sih…"
"Uuuh… Selamat?"
Selagi Yuki dan Shun diserbu dengan pertanyaan bertubi-tubi, Hajime sendiri terdiam. Masih berusaha memahami ucapan mereka.
Shun dan Yuki, akan menikah. Mereka sudah membicarakan hal ini beberapa saat. Sama-sama ingin membawa hubungan mereka ke tahap yang lebih serius.
Hal pertama yang Hajime rasakan adalah terkejut. Itu sudah pasti. Tapi kemudian ada sedikit rasa sebal karena tidak pernah sekalipun dia mendengar Shun dan Yuki menjalin hubungan. Yang terakhir adalah yang membuat Hajime paling tak habis pikir.
..dia tak mengerti kenapa ada rasa tak rela ketika mendengar kabar yang seharusnya bahagia ini.
.
.
Haru membuka tangannya, menyambut Hajime yang tanpa kata memeluknya begitu mereka masuk ke kamar. Bau feromon Hajime semakin asam, sekecut ekspresi yang mungkin ia pasang di wajahnya yang dibenamkan ke pundak Haru. Haru sendiri menghela napas sambil mengelus kepala si omega.
"Tuh'kan. Aku sudah bilang kau ini menganggap remeh perasaanmu sendiri pada Shun."
"Berisik."
Cengkraman Hajime di punggung baju Haru menguat. Haru menghela napas kecil, ia mengarahkan Hajime dan membawa omega itu merebah di ranjang. Kakinya dia tautkan dengan milik Hajime, membuat omega itu mengeluarkan dengkur senang seperti kucing karena sekarang Haru memeluknya erat.
"Tapi benar-benar deh, Hajime. Kan aku sudah pernah bilang jangan sampai menyesal..."
Haru mau tak mau teringat ke masa sebelum Haru mulai serius menunjukkan niat ia ingin menjadi mate dengan Hajime. Saat itu, satu-satunya hal yang membuat Haru sedikit memendam dulu niatnya untuk menyatakan niatnya adalah karena Shun. Tidak perlu menjadi seorang jenius untuk menyadari perasaan Shun pada Hajime. Beta itu tidak pernah menutupinya, tapi di saat yang sama, kadang sedikit susah menganggapnya serius dengan segala tingkah fans beratnya itu. Hanya saja bila kau seperti Haru, maka perasaan Shun itu sangatlah jelas, dan sedikit membuat Haru segan.
Haru tahu kalau hubungan seorang beta dan omega masih susah diterima masyarakat. Berbeda dengan hubungan alpha beta yang dimana posisi alpha masih cukup dominan untuk diakui, antara beta dengan omega terkendala pada masalah tanda. Seorang beta tidak bisa menandai omega, entah dengan gigitan atau dengan feromon. Hal itu membuat omega dalam hubungan beta dan omega tak ada bedanya dengan omega yang tidak sedang dalam suatu hubungan dengan seseorang. Haru tahu Shun pasti tidak mengambil tindakan sedikitpun untuk mendekati Hajime karena Shun juga tahu hal itu, dan karena Haru meminta izin Shun untuk mulai menunjukkan niat menjadikan Hajime mate.
Hajime menerima niatannya dengan mudah. Mereka sudah kenal lama, jadi hubungan merekapun berjalan mulus. Haru menjadikan Hajime matenya pada tahun ketiga mereka menjadi idol, kemudian melamarnya pada tahun keempat. Mereka menikah pada tahun kelima, dengan upacara pernikahan privat yang dihadiri teman-teman satu agensi, manager dan presdir mereka, juga orang tua dari pihak keluarga masing-masing.
Shun menyelamatinya sekali lagi secara pribadi ketika tamu-tamu berpecar saat resepsi. Senyumnya tulus, walaupun matanya tampak sedih.
"Jaga Hajime, ya, Haru?"
"Sudah pasti."
Haru hanya bisa menggeleng ketika Shun kemudian menyelamati Hajime, sudah kembali dalam tingkah seperti fansnya.
Adalah hal yang sedih melihat seseorang begitu tulus mencintai seseorang lainnya, tapi kondisi mereka membuatnya tidak bisa melakukan apa-apa. Yang membuat Haru makin miris kali ini adalah fakta bila Hajime tampaknya belum menyadari Shun benar-benar serius menyukainya ataupun indikasi kalau Hajime sendiri bisa jadi membalas perasaan Shun. Tambahkan Haru kini berada di tengah-tengah mereka sebagai pasangan Hajime.
Aah, ini benar-benar menyedihkan.
.
.
Hari pernikahan Shun dan Yuki datang terlalu cepat untuk yang Hajime suka. Rasanya baru seminggu lalu Shun bilang dia dan Yuki akan menikah, lalu hari ini tiba-tiba saja sudah pernikahannya. Haru menyenggolnya pelan ketika mereka berangkat bersama anggota Six Gravity dan Procellarum yang lain ke Kyoto, ke rumah kediaman Shimotsuki.
"Jangan pasang muka masam begitu. Kasihan Yuki dan Shun." Haru mengucap pelan dan menghela napas. "Aku bisa mencium feromonmu lebih asam dari biasanya."
Sejak hari dimana Shun menyampaikan berita dia akan menikah dengan Yuki, rasanya ada rasa asam yang tersisa di lidah Hajime. Haru mengajaknya bicara panjang lebar, dan sampai sekarang Hajime masih menolak kesimpulan yang dicapai Haru tentang dirinya menyimpan perasaan pada Shun. Konyol menurutnya. Ia adalah pasangan Haru, bagaimana bisa dia menyukai, atau setidaknya juga masih menyimpan rasa suka, pada Shun?
Hajime menghela napas. "Iya, iya. Berisik."
Hajime berusaha mengontrol feromonnya sendiri sepanjang perjalanan. Ketika sampai di rumah kediaman Shimotsuki, mereka disambut orang tua Shun sebelum mereka dipersilakan menemui Shun sendiri.
Rasanya aneh melihat Shun dalam balutan kimono formal hitam. Yang berkomentar bukan cuma satu atau dua orang tentang hal itu, tapi Hajime hanya bisa memaklumi. Shun dalam balutan kimono hitam mungkin seaneh dia dalam balutan kimono putih kemarin. Tidak biasa.
Yang lain meninggalkan mereka karena mereka mau melihat Yuki. Kai pergi untuk membantu menyambut tamu, sedikit kasihan dengan Sakaki-san yang kerepotan. Haru juga kemudian menyusul membantu Kai setelah memberi tatapan penuh arti pada Hajime.
Sekarang tinggal dirinya dan Shun. Hajime berusaha memulai percakapan.
"Selamat untuk pernikahanmu." Ia mengucap agak canggung, yang dibalas tawa pelan Shun.
"Pernikahanku baru mau dimulai, lho, Hajime? Tapi terima kasih ucapannya. Ucapan dari Hajime.. Aah, ini adalah hadiah terindah."
Hajime hanya bisa tersenyum kecut. Tingkahnya ini seperti biasa, membuat Hajime sedikit menyayangkan. Andai saja Shun bisa bertingkah serius sedikit. Ia kemudian mengucap pelan.
"..Aku tidak menyangka kau akan menikah dengan Yuki."
"Aku juga tidak menyangka." Shun tersenyum. "Tapi yang terjadi akan terjadi. Que sera sera~"
Hajime mau tak mau tertawa. Jawaban yang sangat Shun. Shun juga terkekeh pelan dan kemudian menatap Hajime.
"...Hajime."
"Hm?"
Shun membuka mulut, seakan ingin bicara, tapi kemudian menutup mulutnya lagi dan menggelengkan kepala. "Tidak apa. Maaf, lupakan saja."
"?" Hajime mengerjap heran. "Kau kenapa?"
"Tidak apa. Bukan masalah besar."
Dibilang begitu, Hajime malah semakin cemas. "Kenapa, Shun?"
"Mm…" Shun tersenyum pada Hajime. "Terima kasih."
Entah apa yang Shun maksud terima kasih. Tapi Hajime merasa tak enak. Ia bermaksud memanggil Shun lagi, tapi kemudian Kai datang dan menyampaikan kalau acara pernikahan akan dimulai sebentar lagi. Shun berdiri dan mengangguk. Ia tersenyum sekali lagi pada Hajime.
"Doakan supaya acaranya berjalan lancar ya?"
"Ah.." Hajime mengangguk kikuk. "Un.."
"Hajime juga, ayo." Kai mengajak. "Haru sudah menunggu."
Hajime dan Kai menuju arah berlawanan dengan Shun yang mengikuti Sakaki-san. Saat melihat punggung Shun yang menjauh itul, mendadak Hajime akhirnya paham ucapan Haru.
….Aah. Haru memang benar. Ia mungkin.. Juga jatuh hati pada Shun.
.
.
Haru memberinya senyum penuh pengertian ketika Hajime bersimpuh di sampingnya. Perlahan, alpha itu menjalin jarinya dengan Hajime dan menggenggam tangannya pelan.
"Apa kubilang."
"...Iya. Kau benar."
Mereka terdiam lagi ketika Shun dan Yuki memasuki ruangan. Keduanya tampak serasi, Yuki dengan kimono putih dan Shun dalam kimono hitamnya. Hajime mengucap pelan ketika keduanya bertukar cangkir sake.
"Haru, lalu aku harus bagaimana?"
"Mmm." Haru menggumam ketika upacara selesai dan pernikahan keduanya disahkan. "...Aku juga belum tahu. Kita pikirkan sama-sama nanti ya?"
Hajime hanya membalas dengan mengeratkan genggamannya.
.
.
Hajime tidak sengaja berpapasan dengan ibunya ketika resepsi berlangsung. Nyonya Mutsuki tertawa kecil ketika melihat wajah masamnya, senyumnya seakan menyatakan ia sudah tahu apa yang terjadi. Ia menggeleng pelan.
"Tidak anak, tidak orang tua… Sama saja ternyata ya." Wanita itu tersenyum. "Takdir memang senang bermain dengan kita."
"...Maksudnya?"
Itu adalah kali pertama Hajime mendengar kisah cinta ibunya dan ayah Shun. Dua alpha yang saling suka, tapi terpaksa berpisah karena tidak mungkin dua alpha bisa menjadi pasangan. Wanita itu tertawa hambar ketika mereka tanpa sengaja melihat Tuan Besar Shimotsuki bersama pasangannya. Hajime memerhatikan ibunya.
"...Tapi Kaa-sama mencintai Tou-san?"
"Tentu saja." Senyum wanita itu tampak pahit. "Tapi melupakan seseorang yang kau masih menyimpan rasa untuknya itu sangat susah'kan?"
"...Walaupun sudah menjadi pasangan Tou-san?"
Nyonya Mutsuki mengangguk. "Perasaanku pada mereka sama besar. Aku menyukai mereka untuk hal yang berbeda."
"Apa Tou-san tahu?"
"Tentu saja. Dia tidak sengaja melihat kami ketika kami memutuskan untuk mengakhiri hubungan kami." Nyonya Mutsuki menghela napas. "Ayahmu itu omega yang baik. Kami berdua belajar mencintai satu sama lain, dan dia mengerti kalau sangat susah untukku melupakan orang itu begitu saja."
Dia menatap Hajime, bibir berpoles gincu melengkung membentuk senyum sedih.
"Sedih'kan? Walaupun aku dan dia menikah dengan pasangan masing-masing, tapi kami masih menyimpan rasa suka. Sayangnya kami juga tidak bisa apa-apa walaupun pasangan kami sendiri tahu kami masih saling suka."
Hajime mau tak mau mengangguk.
