Reply Review dulu, ya... ^^
Fansy Fan: Actually, they still need a long time to reach Shu... But in the next chap, you will see a POV from a Shu General so be sure to read! ^^
Putri: Wkwkwkwk... Kalo Yangmei udah balik secepat itu, ya ceritanya taman, donk... ^^v Wkwkwkwk...
Yulius: Saran diterima. Chap berikutnya ada seorang Jendral Shu muncul...
ShaYuuRan: Aaaahahaha~~ Makasih, yaaa~ ^^
Note: Chap ini saya tulis pas saya kumat gilanya. Jadi, kalau ada beberapa hal yang gila di chap ini, maafkan saya, yaaaa~~~ XDDDD
Lu Xun
Pagi yang baru datang lagi.
Kemarin aku tidur larut malam sekali. Hari ini, sebagai konsekuensi, aku bangun telat. Untung saja aku tidak sedang berada di istana. Jadi, ini sama sekali tidak memalukan. Yah, semoga saja. Yang lebih beruntung lagi, Zhou Ying sendiri masih tertidur. Kasihan dia, pasti dia akan sulit terbiasa dengan kehidupan yang serba berkekurangan seperti sekarang ini.
Dan ngomong-ngomong, karena pertemuanku kemarin dengan Yangmei, tangan kananku harus diperban sampai lukaku benar-benar kering. Ah, sudahalah. Ini dia salah satu kejelekan tidak bisa menyembuhkan diri sendiri.
Ketika aku sedang sibuk memadamkan api unggun, tiba-tiba saja Zhou Ying bangun. Kami berdua mengemasi barang kami yang hanya sedikit sekali, kemudian dia mengeluarkan bekal yang sengaja disiapkannya dari Zhou Zhi beberapa hari yang lalu. Wah, syukurlah ada Zhou Ying yang sampai memikirkan hal-hal sedetil ini.
Tak lama kemudian, kami berdua, ditambah seekor kuda yang luar biasa tidak beradab ini bersiap untuk melanjutkan perjalanan. Seperti biasa, Huo Li menolak untuk kutunggangi, dan memang aku juga tidak ingin menungganginya. Setelah memaksa Zhou Ying, barulah dia bersedia naik.
"Kan enak kalau ditunggangi seorang gadis cantik, tuan." Kata Huo Li saat kami berada dalam perjalanan. Nah, kekurang-ajarannya akan segera dimulai lagi. "Kalau kau yang sekarang seperti pengemis menunggangiku, tuan, kan orang-orang akan bilang aku ini seekor kuda murahan. Tapi kalau nona secantik Nona Zhou Ying yang menunggangiku, setidaknya orang akan menganggap aku kuda kepunyaan seorang putri, bukan seorang pengemis!"
Aku cuma bisa memutar bola mataku sangking jengkelnya pada kuda satu ini. Yahhh... kurasa aku harus mempersiapkan diri untuk bersabar menghadapi kuda satu ini. "Oh, begitu? Baiklah, kalau begitu kau jadi kuda Zhou Ying saja untuk selamanya." Balasku cuek.
Huo Li langsung mengetuk kepalaku menggunakan moncongnya. "Wah! Jangan begitu, tuan!" Akhirnya, kuda ini mengaku kalah juga. Kan memang benar dari awal dia yang bilang kalau semua kuda, termasuk dirinya sendiri, ingin menjadi kuda tungganganku. Hmmm... tapi kurasa aku tidak boleh cepat bersenang hati, sebab ternyata alasan Huo Li jauh lebih parah dari yang kuperkirakan!
"Kalau tidak jadi kuda tunggangan tuan, kan tidak ada orang lain yang bisa kujahili!"
Tanganku kini berada di keningku sambil meratapi nasib. Bayangkan saja, aku sekarang berusaha mencari gadis yang benar-benar aku sayangi, tapi saat aku bertemu dengannya, aku selalu gagal membawanya kembali. Itu stress pertama. Kemudian, aku terpaksa menjalani hidup sebagai Gaibang, padahal selama sepuluh tahun terakhir masa hidupku, aku selalu tinggal di istana. Nah, itu stress kedua. Dan sekarang, aku punya seekor kuda yang kurang ajarnya melebihi kekurang-ajaran Si Pendekar Kera, Sun Wukong, terhadap gurunya sendiri, Pendeta San Zang. Itu stress yang terakhir, tapi yang terbesar!
Satu-satunya hal yang aku syukuri adalah bahwa Huo Li adalah kuda. Sekali kuda, tetap saja kuda. Kalau suatu saat dia jadi manusia, aku akan benar-benar jadi gila.
Tapi, bersamaan dengan sekali kuda dia tetap seekor kuda, begitu juga sifat kurang ajarnya! Sekali kurang ajar, tetap kurang ajar! Eh, salah. Yang benar, sekali kurang ajar, bukan cuma tetap kurang ajar, tapi malah tambah kurang ajar!
Ya, sudahlah. Memang dari awal aku yang salah sudah menyelamatkannya dari api. Nasi sudah jadi bubur, dan bubur sudah masuk ke dalam perut. Apa boleh buat?
Hei, kok rasanya kata-kataku makin kacau saja, ya? Persis seperti Yangmei yang suka mengubah-ubah pepatah dan puisi ditambah cara bicaranya yang selalu ngawur kalau sedang stress...
"Aduh!"
"Hei, Lu Xun! Kau tidak apa-apa?"
Awww... sial... pasti aku kelihatan bodoh sekali di depan Zhou Ying! Gara-gara asyik sendiri melamun, sekarang jalanku jadi ngawur sampai menabrak pohon!
Aku menggeleng sambil berusaha memaksakan senyum pada Zhou Ying. "Tidak apa-apa, kok! Tadi cuma kurang konsentrasi..."
Kurang konsentrasi apanya? Pikirku dalam hati menyangkal jawabanku sendiri. Yang benar adalah kurang ajarnya si Huo Li yang membuatku seperti ini! Kalau bukan gara-gara dia, tidak mungkin aku sampai menabrak pohon dan mempermalukan diriku sendiri di depan Zhou Ying!
Ah, pikir-pikir, ini salah Tian juga mempertemukan aku dengan kuda seperti Huo Li! Dari sekian juta kuda di China ini, kenapa yang menjadi milikku adalah kuda yang seperti ini? Apa tidak ada kuda lain yang lebih pantas kudapatkan?
Tuh, kan? Aku jadi semakin mirip Yangmei, suka menyalahkan siapapun.
Yangmei...
Dari Huo Li, pikiranku dengan cepatnya berubah. Sekarang yang memenuhi pikiranku hanya Yangmei dan Yangmei saja.
Kuambil mawar putih yang berada di balik bajuku untuk melihatnya. Tapi...
... Bunga itu tidak ada di sini!
"Eh? Dimana, ya?" Tanyaku pada diriku sendiri, namun suaraku cukup jelas untuk dapat terdengar oleh Zhou Ying. Langkah kakiku juga berhenti.
Zhou Ying memajukan kepalanya untuk melihatku. "Ada apa, Lu Xun?"
"Nggg..." Bingung sendiri, akhirnya aku menanyakannya. "Zhou Ying, apa kau lihat bunga mawar putih yang kemarin kubawa?"
Aku yakin dia akan bilang tidak tahu. Tapi, diluar dugaanku, dia mengeluarkan sesuatu yang disimpannya dalam buntalan kain yang dia bawa. Dari sana, dia mengeluarkan bunga mawar putih yang kucari itu! Bukan hanya satu tapi dua!
"Ini maksudmu?" Tanyanya sambil menyerahkan salah satu kuntum mawar itu padaku.
Aku menggeleng, kemudian mengambilnya dari tangannya. Bingung juga aku, darimana dia mendapat bunga yang satunya? Dan kenapa dia sepertinya enggan menyerahkannya padaku? "Iya, ini yang kucari." Jawabku. "Ngomong-ngomong, darimana satu yang kau dapat itu?"
Dia menghela nafas sekali, kemudian mulai menjawab. "Akan kujelaskan. Tapi sesudah itu, aku punya pertanyaan yang harus kau jawab." Katanya. Sesudah aku mengangguk, baru dia melanjutkan pada penjelasannya sambil kami tetap meneruskan perjalanan.
"Aku penasaran pada bunga ini. Kurasa pertama kali kulihat berwarna hitam. Sekarang jadi putih. Jadi, kemarin malam aku mencari mawar-mawar yang sama di tengah hutan. Mawar-mawar itu rupanya berwarna agak merah karena sebelumnya telah melukaimu, bukan? Salah satu bunga itu kubawa bersamaku. Nah, beberapa saat kemudian, bunga itu akhirnya berubah warna menjadi warna putih."
Begitulah penjelasannya. Aku tidak bisa mengatakan apapun.
"Mulailah aku berpikir. Kalau tidak salah, kemarin pagi kejadiannya hampir sama, bukan? Mawar hitam yang berhasil melukaimu, setelah itu berubah menjadi putih." Ungkapnya tegas. "Lu Xun, katakan, apa itu ada hubungannya dengan Yangmei?"
Daripada menjawab, aku malah balik menanyainya. "Menurutmu sendiri bagaimana?"
Dia diam sejenak. "Kalau kujelaskan pemikiranku, Lu Xun, akan sangat rumit." Katanya. Aku hanya diam, mengizinkannya untuk melanjutkan. "Aku ingat bahwa Feng sering dilambangkan sebagai matahari dan Huang sebagai bulan. Selain itu, aku juga melihat akhir-akhir ini bulan tidak pernah bercahaya. Ternyata, setelah kulihat, diantara kau dan Meimei terjadi sesuatu yang hampir serupa. Kegelapan bulan mungkin melambangkan hati Meimei sekarang. Kegelapan itu sendiri kurasa datangnya juga dari musuh Feng dan Huang yang disebutkan dalah legenda, makhluk siluman iblis yang bernama T'an Mo. Menurutku, bunga mawar itu sebagai perlambangan untuk itu, bukan hanya sebagai senjatanya saja."
"Lalu?"
"Kemudian, aku ingat bahwa bulan yang gelap itu, hanya bisa bercahaya kalau matahari yang menyinarinya. Sama juga dengan bunga mawar itu, yang adalah simbol dari Meimei. Untuk mengusir kegelapan di hatinya, kau harus mencarinya, bukan?" Itu adalah penjelasannya yang terakhir. "Yang aku tidak tahu sekarang cuma satu. Apa maksud dari bunga itu dapat menjadi putih kembali setelah terkena darah dan airmatamu?"
Pertanyaan itu tidak langsung kujawab. Kepalaku kutengadahkan ke atas, melihat matahari yang sekarang tepat di tengah, menunjukkan waktu sekarang tepat tengah hari. "Menurutmu, Zhou Ying, apa bulan bisa bersinar kalau matahari tetap ada di sana?" Tanyaku sambil menunjuk pada matahari tersebut. Tanpa perlu berpikir dua kali lagi, dia langsung menggeleng. Semua orang juga tahu itu.
"Kau tahu, Zhou Ying?" Aku menatapnya sekilas sebelum menjawab. Kulihat wajahnya yang seperti terkejut itu. "Pada saat senja, matahari akan bersinar dengan warna merah seperti darah. Baru sesudah itu tenggelam. Pada saat itu, barulah bulan bisa bercahaya." Satu tanganku perlahan terkepal saat mengatakan ini. "Matahari-lah yang telah memberikan cahayanya pada bulan yang sangat dia sayangi dengan cara membiarkan senja membunuhnya."
Aku hanya menjawab itu saja. Selebihnya, kurasa Zhou Ying sudah bisa mengetahui maksudku. Seandainya dia tidak tahu pun, tidak perlu aku menjelaskannya lebih jauh. Apa gunanya bagi dia untuk tahu?
"Tunggu, Lu Xun, itu berarti..." Aku mendengar suaranya yang makin tersendat-sendat dan pecah. Saat aku menoleh kebelakang, rupanya aku tidak salah. Wajahnya sudah memerah, dengan tangan berada di depan mulutnya. Ya, kemungkinan besar dia sudah mengerti. "Kenapa harus seperti itu? Apa tidak ada jalan lain?"
Aku cuma bisa menghela nafas. Kalau memang ada jalan lain, aku tidak perlu sampai berada di sini. Aku sayang pada Yangmei, terlalu sayang sampai tidak mau membiarkannya terus-menerus terjatuh dalam kegelapan. Tapi aku juga tidak mau kalau harus bercampur dalam kegelapan itu bersama-sama dengan Yangmei. Aku ingin dia kembali lagi, dan ini satu-satunya cara.
"Tidak ada."
"Tapi kenapa?" Sudah kuduga, Zhou Ying tidak mungkin bisa menerima hal itu dengan begitu mudahnya. "Kalau untuk menyelamatkan Yangmei kau harus sampai melakukan itu, tidakkah kedengaran absurd sekali? Maksudku, benar bukan, seperti yang ada di legenda juga, bahwa T'an Mo yang menculik Huang? Bukan begitu?"
Aku menggangguk pendek. "Tapi itu dulu, Zhou Ying. Itu yang dikatakan legenda. Sekarang kisahnya berbeda." Jawabku. "Sekarang, kalau diibaratkan, Meimei bahkan sudah menjadi milik T'an Mo sendiri, dan tentunya T'an Mo tidak mau membebaskannya dengan mudah. Dia hanya akan mengembalikan Meimei kembali jika dia mendapat gantinya."
"Ganti...?"
"Jiwa hanya bisa digantikan oleh jiwa. Dan T'an Mo hanya ingin penggantinya itu aku. Itu artinya..." Sekarang langkahku berhenti. Mataku kini menatap Zhou Ying lurus-lurus. Satu tangan kuletakkan di dadaku. "... kau benar. Itulah kenapa mawar yang hitam itu, lambang dari Meimei, akan menjadi putih jika terkena darah dan airmataku."
Sesudah itu, tanpa melihat pada Zhou Ying lagi, aku berbalik menatap jalan ke depan. Sampai beberapa saat lamanya keheningan melingkupi kami, baru dia mulai bicara lagi. "Tapi... kenapa masalahnya jadi serumit ini?" Tanyanya dengan suara pasrah. "Apa tidak bisa seperti dalam legenda itu? Kau tinggal membunuh T'an Mo saja, kan? Kemudian menyelamatkan Meimei? Terlepas dari masalah cahaya atau kegelapan, kalau kau sayang padanya, dia pasti sadar juga suatu saat."
Pemikiran Zhou Ying itu sama denganku. Tapi, aneh kalau memang benar hanya begitu. Terlalu mudah dan sederhana untuk masalah sesulit ini. Sayangnya, aku sendiri tidak tahu apa yang salah dengan pernyataannya itu. Yang pasti aku tahu, cara itu salah.
"Tentang itu, sekarang aku pun belum tahu." Jawabku. "Tapi suatu saat, aku akan menemukan jawabannya."
Hanya sampai di sana diskusi kami. Zhou Ying tidak berkata apa-apa lagi. Dan kurasa, aku sendiri sudah cukup menjawab pertanyaannya. Sekali lagi keheningan memenuhi udara di antara kami. Tapi, kali ini adalah keheningan yang panjang namun menyenangkan. Bukan keheningan yang janggal seperti tadi. Perjalanan sambil menikmati pemandangan hutan yang asri di Shu memang menyenangkan.
Tak terasa, sudah tiga jam perjalanan kami tempuh. Sebentar lagi, kami akan keluar dari hutan ini dan mulai masuk wilayah dalam Kerajaan Shu. Di tempat berbatasan Shu-Wei di sana, tentu mudah meminta izin untuk masuk ke wilayah Shu. Tetapi untuk keluar dari wilayah Wei, pasti akan sulit sekali, terutama dengan para prajurit Wei yang sekarang sudah dikerahkan untuk mencariku. Identitasku sekarang sudah terbongkar oleh Cao Pi.
"Zhou Ying, tunggu aku di sini, ya?" Pesanku padanya.
Dia mengerutkan kening. "Hah? Kau mau apa?"
"Aku akan melihat apa di depan ada penjagaan dari prajurit Wei." Jawabku. "Kau tunggu di sini sebentar."
Tanpa menunggu lagi protes dari Zhou Ying, aku segera berjalan ke depan. Saat ini, sampai lima puluh meter kedepan, aku tidak melihat apapun. Bagus. Mungkin memang bagian ini tidak dijaga oleh prajurit Wei...
"Hei! Siapa kau di sana!"
Ups...
Gawat! Aku ketahuan!
Baru saja aku akan berbalik untuk kembali, rupanya dua orang prajurit berkuda sudah berada di belakangku! Bahkan keduanya sudah mengacungkan tombaknya ke arahku! Tidak hanya itu, di depanku sendiri muncul dua orang prajurit lain! Gawat... maju salah, mundur pun salah. Apa satu-satunya jalan adalah dengan pertumpahan darah? Tapi, dengan tanganku yang seperti ini, apa aku bisa bertarung?
"Siapa kau! Dan sedang apa kau di sini!" Bentak seorang prajurit menuntut jawabanku.
Dengan sangat gugup dan panik, aku berusaha bertindak sewajar mungkin. Sesudah bersoja, aku pun menjawab pertanyaan mereka. "Kenapa tuan-tuan mencurigaiku begitu? Aku cuma seorang Gaibang rendahan yang sedang dalam perantauan menuju ke daerah Shu."
"Kalau memang kau seorang Gaibang, tentu kau tahu bahwa ada informasi yang mengatakan Pangeran Kelima Wei melarikan diri dari Istana Chang An, bukan?" Aku terkejut bukan buatan, tetapi tetap mati-matian berusaha menyembunyikannya. Jantungku berdengup cepat sekali, dan tanganku mulai basah dan bergetar tak karuan. "Setiap orang yang melalui garis perbatasan patut dicurigai sebagai Pangeran Kelima yang sedang menyamar!"
Segera saja aku menggeleng pelan. "Tentu tuan-tuan semua salah besar! Mana mungkin aku yang seorang Gaibang ini adalah Pangeran Kelima yang menyamar? Makhluk rendah seperti aku ini mana mungkin menyembunyikan jati diri seperti itu?"
Bagaimana pun aku berusaha meyakinkan mereka, tetap saja mereka masih tidak percaya padaku. Seorang prajurit langsung menyahut. "Hmph! Bahasamu sopan dan tutur katamu halus! Wajah dan kharismamu tidak seperti Gaibang! Tidak salah lagi, kau pasti Pangeran Kelima yang sedang menyamar!"
Celaka! Ini benar-benar celaka! Tebakan mereka benar-benar seratus persen tepat! Bagaimana ini...?
Saat ketika tanganku akan dicekal, barulah aku mendengar suara yang sangat familiar, yang aku kenal baik tetapi sudah tidak kudengar untuk waktu yang sangat lama.
"Hei, sedang apa kalian di sana?"
Seorang Jendral Wei yang menunggangi kuda, berbelok pada sebuah pohon dan menghampiri kami. Segera para prajurit yang berada di sekitarku berhenti akan menyeretku. Satu persatu mereka membungkuk sambil bersoja.
"Jendral Zhang He! Kami menemukan seseorang yang sangat mencurigakan."
Entah bagaimana caraku harus menatapnya sekarang. Dia mengamatiku dari atas sampai bawah, tetapi sepertinya itu hanya pura-pura saja, sebab ia sempat mengerdipkan mata padaku seolah menyampaikan bahwa ia sudah sudah memiliki rencana dan memintaku untuk mengikutinya saja. Aku pun percaya padanya dan mengiyakan dalam hati.
"Benar. Dia kelihatan sangat mencurigakan." Ungkap Zhang He sambil turun dari kudanya. Dia kemudian berjalan mendekat ke arahku dan mencekal pundakku. "Hei, ikut aku! Kau akan kuperiksa!" Tanpa menunggu persetujuanku, dia langsung mendorongku untuk mengikutinya ke balik sebuah pepohonan.
"Kalian tunggu di sini! Jaga tempat ini dan cegat setiap orang yang melewati perbatasan!" Pesannya pada anak buahnya sebelum berjalan semakin jauh dari mereka.
Aku sendiri tidak berkata apa-apa dan hanya mengikuti Zhang He sampai pada jarak yang aku kira tidak mungkin lagi terdengar oleh mereka. Zhang He pun pada akhirnya menghentikan langkahnya dan melepaskan cekalan tangannya dari pundakku.
"Untung saja..." Aku langsung menghela nafas lega. "Kalau kau tidak datang, entah apa yang akan terjadi padaku sekarang."
"Tenang saja. Memang itu gunanya teman." Jawabnya sambil tersenyum lebar. Aku kemudian menjatuhkan tubuhku dan duduk di atas rumput yang lembut sambil mengistirahatkan kakiku. Zhang He pun melakukan yang sama denganku.
"Hei, Lu Xun!" Panggilnya lagi. Aku menoleh ke arahnya. "Aku sudah tahu semua yang terjadi padamu. Sekarang kau akan pergi mencari Yangmei, kan?" Tanyanya, yang langsung kujawab dengan anggukan. "Wah, apa Yangmei sampai lari sejauh itu sampai kau mengejarnya ke Shu?"
Aku menggeleng. "Memang benar aku mencari Yangmei. Dan pada akhirnya pun aku akan mendapatkannya di Shu. Tapi bukan berarti sekarang dia ada di Shu." Jawabku. "Ada sesuatu yang harus kulakukan... di Kerajaan Barat."
"Apa it..."
"Kalau kuceritakan, butuh waktu yang sangat lama." Potongku langsung sebelum pertanyaannya selesai. "Yang pasti, satu hal yang harus aku katakan adalah aku harus meninggalkan Wei sekarang dan menuju ke Kerajaan Barat. Demi mendapatkan Yangmei, aku memang harus melakukan ini."
Dia mangut-mangut mengerti. Sekarang tatapan matanya berhenti padaku dan menatapku lama sekali, sampai rasanya dia sudah berubah menjadi patung. Beberapa menit lamanya, baru dia buka suara lagi. "Hei Lu Xun, ternyata kau benar waktu itu." Aku menoleh dan menatapnya dengan alis terangkat. "Yang kau katakan tentang Yangmei akan membunuhmu, itu memang benar..."
Mataku kembali menatap rerumputan di bawahku. Atas pernyataan Zhang He itu, aku tidak bisa memberikan tanggapan apapun.
"Kalau aku mengingat malam itu, rasanya mustahil sekali Yangmei akan membencimu. Tapi ternyata..." Dia menggeleng perlahan sambil menghembuskan nafas panjang. "Aku sungguh tidak mengerti."
"Kalau kau ingin tahu hal yang lebih tidak bisa dimengerti lagi, akan kuberitahu." Kataku sambil berbalik menatapnya. "Kau tahu alasan kenapa aku bisa ada di sini sekarang?"
Dia tidak menjawab dengan anggukan maupun gelengan kepala. "Mula-mula aku kira, karena memang dari awal kau ingin melarikan diri dan kembali ke Wu." Jawabnya. "Tapi, melihat kau sekarang ada di tempat ini, belum lagi kabar yang kudengar tentang hal yang terjadi pada Yangmei di Istana Chang An, aku yakin kau sekarang bukan menuju ke Wu untuk pulang, melainkan menuju ke Shu untuk mencarinya. Meskipun aku tidak tahu kenapa Yangmei bisa sampai berada di Shu..."
Memang benar yang dia katakan adalah alasan aku berada di sini. Tapi maksudku tentang hal yang tidak bisa dia mengerti bukan hanya itu saja. Yang sebenarnya ingin kusampaikan adalah kenapa aku harus jauh-jauh pergi ke Kerajaan Barat, meski pada kenyataannya Yangmei belum tentu ke tempat itu.
Tapi, ah, sebaiknya Zhang He jangan kuberitahu tentang itu, sampai masalah ini tuntas sepenuhnya.
"Karena itu aku pergi dan mencarinya." Balasku sambil menundukkan kepala. "Parah... aku ini sudah diperintahkan untuk menjadi Kaisar menggantikan Kaisar Xian, sekarang malah aku sendiri melarikan diri..."
"Kau melakukannya untuk Yangmei seorang, aku sama sekali tidak habis pikir." Zhang He menepuk bahuku sekali. "Melepas kekuasaan sendiri dan meninggalkan kekayaan, itu adalah hal yang sangat... gila."
Aku tersenyum lebar sambil menjawabnya, tentu saja dengan nada bercanda. "Kalau kau menyayangi seseorang dengan sangat, kau tidak akan peduli apa yang kau lakukan itu gila atau tidak."
Zhang He kemudian langsung mengacak-acak rambutku. "Kau memang sudah gila, teman!" Katanya sambil tertawa. "Padahal, dilihat dari segi manapun, Putri Mingzhu jauh lebih baik daripada Yangmei, kan? Dia lebih cantik, lebih ramah dan lembut, serta lebih pintar dan berpendidikan..."
Omongannya belum selesai, aku langsung menyelanya. "... tapi aku tetap lebih sayang pada Yangmei."
Mendengar itu, akhirnya dia pun mati kata.
"Hei, Lu Xun."
Aku menoleh lagi. "Ya?"
"Kau harus cepat pergi dari Wei." Kata Zhang He dengan suara tegas. "Cao Pi sudah mengerahkan semua prajuritnya untuk mencarimu. Aku termasuk salah satunya yang disuruh untuk menjaga perbatasan Shu-Wei. Kupikir pertama kali aku tidak akan bertemu denganmu karena kau akan ke Wu. Ternyata kau sedang ke Shu. Untunglah, kau bisa kutolong."
Aku mengangguk sambil tersenyum. "Iya. Lagi-lagi aku berhutang padamu. Terima kasih banyak. Entah kapan aku bisa membalasnya..."
Zhang He menatapku beberapa saat sebelum menyahut balik. "Kalau kau ingin membalas kebaikanku, aku ingin meminta sesuatu."
"Apa itu?"
"Ini tentang Yang Mulia Pangeran Cao Pi." Ujarnya sambil menghela nafas panjang. "Aku tahu apa yang ia lakukan padamu sudah sangat amat keterlaluan. Sejak dari awal dia menginginkan Yangmei menjadi selirnya, kemudian saat dia menawanmu di He Fei, bahkan sampai akhir-akhir ini..." Zhang He terdiam beberapa saat sementara aku masih menunggunya. Sekarang matanya menatap jauh ke barisan pepohonan yang tidak beraturan. "Kesalahannya memang luar biasa besar. Tapi, satu permintaanku adalah, tolong maafkan dia."
Mataku terbuka lebar-lebar. Zhang He meminta hal seperti itu? Agar aku memaafkan atasannya? Permintaan itu sungguh tidak aku sangka. Ada juga orang yang masih memikirkan orang lain seperti itu. Aku sungguh terkejut mendengar permintaannya
Meski demikian, aku yakin jawabanku membuatnya lebih terkejut lagi.
"Sebelum kau memintanya, aku sudah memaafkannya, kok." Jawabku dengan suara lembut sambil tersenyum lemah. "Bahkan saat dia melakukan itu, aku sudah memaafkannya." Benar, kok. Aku tidak bohong. Buktinya, saat Ling Guang akan membunuh Cao Pi dulu, aku mencegahnya. Aku tidak tahu bagaimana jelasnya perasaanku saat itu pada Cao Pi. Tetapi aku sama sekali tidak ingin membalasnya. Justru sebaliknya... entah kenapa... ada sesuatu yang membuatku kasihan padanya... Tapi aku tidak tahu apa itu.
"Benarkah?" Reaksi Zhang He sungguh di luar dugaanku. Ia dengan cepat langsung menggenggam kedua tanganku kuat-kuat. Mulutnya terbuka, sepertinya ingin mengatakan sesuatu. Tetapi, tidak ada suara yang keluar dari mulutnya kecuali desahan panjang. "Kalau memiliki Jin-pengampunan yang setinggi itu, tidak salah lagi, kau memang Phoenix. Dan jika begitu, Lu Xun, ada satu hal lagi yang ingin kuminta darimu."
Aku mengangkat alis. "Apa itu? Katakan saja."
"Masih tentang Pangeran Cao Pi." Zhang He memulai. "Aku tidak tahu kenapa, sejak awal keluarga Cao memang sangat kemaruk pada kekuasaan. Kaisar Cao Cao sudah keterlaluan. Anaknya, Pangeran Cao Pi, tidak kalah malah melebihi ayahnya. Syukurlah, ketika Kaisar Cao Cao melihatmu, sepertinya dia berubah." Sebelum melanjutkan, dia mengambil nafas sebentar, sekaligus membiarkanku mencerna kata-katanya. "Yang ingin kuminta, Lu Xun, bisakah kau melakukan hal yang sama pada Pangeran Cao Pi, sama seperti yang kau lakukan pada Kaisar Cao Cao?"
Sekali lagi, aku terkejut mendengar permintaan itu. Kali ini, jauh lebih terkejut lagi. "Kau ingin aku mengubah Cao Pi?"
Zhang He mengangguk mantap. "Kalau kau bisa melakukannya pada Kaisar Cao Cao, tentu kau bisa melakukannya juga pada Pangeran Cao Pi, kan?" Tanyanya. "Aku tidak mau Pangeran Cao Pi menjadi orang yang begitu serakah pada kekuasaan. Di antara Kerajaan Utara, Barat, dan Timur, tidak dapat dipungkiri bahwa Kerajaan Utara memiliki wilayah serta jumlah penduduk terbesar. Apa perlu Wei masih menindas kerajaan lain dan berusaha mengambil semua kerajaan lainnya, terutama dengan cara mengorbankan sebegitu banyak orang?"
Aku tertunduk. Sebenarnya, perkataannya itu benar. "Ambisi yang seperti itulah yang membuat China tidak pernah melihat perdamaian." Gumamku. "Baiklah, Zhang He. Aku akan mencoba, tapi..."
"Aku tahu kau mungkin tidak akan kembali ke Wei untuk waktu yang sangat lama." Potong Zhang He. "Untuk kau bisa bertemu lagi dengan Kaisar Cao Cao setelah dia membumi hanguskan kampung halamanmu dulu membutuhkan waktu empat belas tahun bukan? Begitu kata Yangmei. Sekarang, jika kau membutuhkan waktu empat belas tahun lagi, atau bahkan lebih dari itu, aku akan menunggunya."
Kelihatannya memang mudah sekali untuk diucapkan, tetapi untuk mewujudkannya akan sangat sulit sekali. Tapi, aku harus bisa menyanggupinya. Inilah permintaan Zhang He dan dengan melakukannya, setidaknya aku telah membalas pertolongannya selama ini padaku.
"Baiklah." Aku mengangguk. "Aku akan mencoba."
Sesudah Zhang He berulang-ulang mengucapkan terima kasih, ia mengajakku berdiri, kemudian menunjuk ke arah timur. "Kalau kau ingin melewati perbatasan Wei-Shu, sebaiknya kau ke bagian timur sedikit. Lima kilometer dari sini tidak ada penjagaan sama sekali. Kau pasti bisa lewat dari situ."
Dengan begitu, aku mengangguk dan kami bergegas meninggalkan tempat tersebut. Zhang He tetap menggiringku layaknya tahanan melewati empat prajurit berkuda yang tengah berjaga-jaga itu. Kemudian Zhang He berseru pada mereka. "Hei, ternyata dia ini bukan siapa-siapa! Cuma Gaibang saja! Lain kali jangan sampai salah menangkap orang!"
Dengan demikian, Zhang He melepaskanku. Aku berlari masuk ke dalam tengah-tengah hutan dimana sudah tidak terlihat oleh keempat prajurit itu lagi. Namun saat aku berbalik, ternyata Zhang He masih memperhatikanku. Untuk yang terakhir kalinya, aku tersenyum sambil melambaikan tangan. Entah kapan aku bisa bertemu dengannya lagi, tetapi aku yakin suatu saat kami akan bertemu lagi. Baru sesudah itu meninggalkannya dan kembali kepada Zhou Ying.
Tak lama, akhirnya aku sampai juga di tempat dimana Zhou Ying sudah menunggu dengan perasaan gelisah setengah mati. Ini terlihat ketika aku menghampirinya, dan dia langsung mendengus kuat-kuat, tetapi ada perasaan lega luar biasa di wajahnya. "Kemana saja kau? Aku sudah khawatir terjadi sesuatu padamu!"
Aku tersenyum sekilas sambil menggenggam tali kekang Huo Li. "Tadi aku bertemu dengan teman lama." Jawabku pendek, membuat Zhou Ying bingung. Tetapi aku tidak memberikan penjelasan lebih jauh. "Ayo, lima kilometer dari sini dan baru kita bisa masuk ke Shu!"
Dengan demikian, kami melanjutkan perjalanan. Meskipun kelihatannya hanya lima kilometer, rupanya perjalanan itu cukup jauh. Kami baru sampai di sana ketika hari sudah menjelang petang.
"Lu Xun," Tiba-tiba, Zhou Ying memanggilku, menanyakan sesuatu yang membuatku sangat tertarik. "Kau tahu Si Xiang, kan? Menurutmu, Si Xiang yang adalah roh pelindung itu memang benar ada atau hanya dongeng?"
Aku menoleh sekilas. Kukira dia bercanda dengan pertanyaan itu, tetapi dia kelihatan serius. "Tentu saja ada, Zhou Ying." Jawabku mantap. "Memangnya kenapa?"
Dia meletakkan satu jari di depan bibirnya, seolah-olah sedang menimbang-nimbang apakah dia harus menanyakan hal ini atau tidak. Sementara aku menunggunya, akhirnya dia memutuskan untuk menyampaikannya juga. "Kau ingat bukan saat perang He Fei berlangsung?" Aku mengangguk perlahan. Bagaimana aku bisa lupa? Perang itulah awal dari masa-masa sukar yang sekarang kulalui ini. "Ayahku berkata... saat tengah mengerahkan prajurit untuk mendapatkan kembali kau dan Yangmei yang ditawan, dia..."
Kepalaku kumiringkan karena bingung. "Ada apa dengan Penasihat Zhou?"
"Ayahku..." Zhou Ying terlihat sangat ragu-ragu menyampaikannya. Aku sendiri tidak tahu kenapa. "... ayahku berkata dia bertemu dengan Harimau Putih, salah satu Si Xiang yang melindungi Kerajaan Wu."
"Hah? Benarkah?" Tanyaku kaget. Ohhh... pantas saja waktu itu Ling Guang berkata padaku bahwa Jian Bing pernah bertemu dengan seseorang di Wu. Ternyata yang ditemuinya saat itu adalah Penasihat Zhou. Hei, ini membuatku penasaran bukan main. Kukira, seperti Cao Pi ketika ia tidak bisa melihat Ling Guang dulu, semua manusia tidak bisa melihat keempat Si Xiang. Tapi, ternyata Penasihat Zhou sudah pernah melihat Jian Bing! Padahal, aku saja belum pernah...
Zhou Ying melanjutkan lagi. "Iya! Ayah sampai takjub sekali ketika melihat itu. Sampai sekarang, ayah tidak bisa melupakannya."
"Begitu..." Aku mangut-mangut mengerti. "Apa Penasihat Zhou memberitahumu bagaimana pelindung Wu itu? Seperti apa dia?"
"Iya." Zhou Ying mengangguk cepat. "Ayah berkata, pelindung Wu itu, seperti yang kita tahu, adalah Bai Hu-Harimau Putih. Mula-mula dia menampakkan diri sebagai harimau, kemudian berubah wujud menjadi manusia." Jelas Zhou Ying panjang lebar. "Dan kata ayah, dia berambut putih meski masih terlihat sangat muda. Pakaiannya seperti pakaian petualang. Tapi auranya kuat sekali, sangat berwibawa sampai membuat ayah dan ibu keduanya takut."
"Eh?" Perkataan Zhou Ying tentang penampilan roh pelindung itu sama persis dengan yang selama ini kudengar. Tapi tentang sifat, kenapa rasanya beda, ya? Berwibawa dan bahkan membuat Penasihat Zhou takut? Kenapa sangat berbeda dengan yang dikatakan Ling Guang dan Zhi Ming, ya?
"Dan kalau tidak salah, namanya..." Zhou Ying melanjutkan, sekarang sambil mengingat-ingat.
"Jian Bing?"
"Ah, benar!" Sahut Zhou Ying. "Kau pernah bertemu dengannya, Lu Xun?"
Aku menggeleng. "Belum sih... hanya saja, aku pernah bertemu dengan roh pelindung yang lain Zhu Que-Burung Merah dan Xuan Wu-Kura-kura Hitam. Yang satu namanya Ling Guang, yang satunya Zhi Ming." Gantian aku yang menjelaskan. "Dan kata keduanya, Jian Bing sifatnya tidak seperti itu. Jian Bing itu, menurut mereka, orangnya menyenangkan, lucu, dan supel. Yahhh... mungkin seperti Yangmei..."
Mendengar perkataanku, bukannya ikut bingung, Zhou Ying malah tertawa kecil. "Mana mungkin roh pelindung seperti itu?" Tanyanya dengan nada bercanda. "Kau pasti bercanda!"
"Tapi, begitu kata dua roh pelindung yang lain!" Balasku berusaha membela diri. "Jangan-jangan Penasihat Zhou yang salah orang!"
"Ayahku tidak mungkin salah orang!"
"Tapi Ling Guang dan Zhi Ming tidak mungkin berbohong!"
"Dua-duanya memang tidak salah."
Saat itulah, detik itu juga, aku dan Zhou Ying terdiam, baik omongan maupun langkah kaki kami. Entah darimana asalnya, suara itu datang begitu saja! Bukan hanya menjawab perdebatan kami, tetapi juga membuat kami kaget bukan buatan! Ini kan masih kawasan Wei, bagaimana kalau ternyata keributan kami yang sedang berdebat ini malah mendatangkan berlusin-lusin prajurit Wei? Kan bisa bahaya?
Tapi, sepertinya suara baru itu bukan dimiliki prajurit Wei. Sebab, pertama, aku yakin prajurit Wei hanya mengerti tentang Si Xiang, tetapi tidak pernah seberuntung Penasihat Zhou yang pernah melihatnya. Kedua, mana mungkin prajurit Wei memiliki suara seperti itu? Entah kenapa... seperti suara anak kecil.
Hei, tunggu. Anak kecil?
Ada apa gerangan seorang anak kecil di tengah hutan begini?
"Tentu, dimanapun, makhluk-makhluk Tian tidak mungkin akan menunjukkan sifat asli mereka di depan manusia. Bukan karena mereka ingin melakukannya, tetapi dengan sendirinya aura mereka yang kuat itu akan menimbulkan kesan demikian di mata manusia. Tetapi bagi makhluk Tian yang lain, mereka semua sama saja." Begitu kata suara itu.
Zhou Ying menepuk bahuku. "Lu Xun? Itu siapa?" Tanyanya sambil menoleh kiri-kanan, tetapi tidak ada seorang pun di sana.
"Entahlah..." Aku pun mulai awas. "Aku juga tidak tahu."
Suara itu melanjutkan lagi.
"Unsur kesempurnaan Langit yang ada pada mereka itulah yang membuat manusia merasa takut melihat mereka. Bagaimanapun, manusia memiliki kecenderungan untuk merasa takut pada apapun yang lebih dari mereka. Seperti yang dialami Penasihat Zhou dari Wu ketika melihat Jian Bing."
Baik aku maupun Zhou Ying masih terlalu bingung untuk mengatakan apapun.
Ketika itulah, seseorang muncul dari balik pohon besar. Seorang anak kecil, dengan sebuah buku di tangannya. Sambil membaca buku itu, ia melanjutkan jawabannya.
"Tapi, lain halnya jika makhluk Langit itu sendiri menghilangkan unsur itu dalam diri mereka. Ketika menjadi manusia, mereka tidak lagi memiliki aura yang sama yang bisa membuat manusia merasa takut melihat mereka. Itulah sebabnya kenapa Penasihat Zhou, bahkan manusia-manusia yang lain, tidak takut melihat makhluk Langit lain yang sebenarnya ada di tengah-tengah mereka."
Anak itu menutup bukunya, kemudian menatap kami berdua dengan senyum sombong. "Benar begitu bukan, Phoenix?"
Hening.
Tanpa kusadari, aku dan Zhou Ying bengong sendiri melihat anak itu. Melihat anak sekecil itu, yang umurnya tidak lebih dari sepuluh tahun, menjawab pertanyaan kami dengan sangat luar biasa, membuat kami takjub sekali. Tapi, melihatnya yang baru seumur jagung membuatku mengabaikan dan melupakan semua jawabannya itu dan malah menjawabnya dengan sangat aneh.
"Nggg... selamat sore, dik." Balasku pura-pura ramah. "Apa kau sedang tersesat?"
Sesudah aku mengatakan itu, tepat sebelum anak itu menjawab, Zhou Ying terlebih dahulu turun dari kuda, kemudian berdiri di depan anak itu sambil membungkuk. "Adik kecil, kau tinggal dimana kok bisa sampai tersesat semalam ini?" Tanyanya. Yah, bagaimanapun, anak kecil pasti akan lebih merasa aman bersama dengan perempuan ketimbang bersama laki-laki, kan?
Anehnya, anak itu ternyata memang bukan sembarang anak! Ekspresinya yang tadi menampakkan kepercayaan diri, sekarang menunjukkan sedikit kejengkelan. Dia langsung membalas perkataan Zhou Ying dengan ketus. "Hei, kau lebih baik diam saja. Urusanku bukan denganmu tetapi dengan dia." Anak kecil itu berujar sambil menuding ke arahku, membuat tidak hanya Zhou Ying tetapi aku juga merasa kaget! Padahal, siapa anak ini aku juga tidak tahu.
Eh, tapi, kurasa dia tahu aku. Kalau tidak salah tadi dia mengatakan 'Phoenix' kan?
Belum sampai shock kami berdua pulih, anak itu sudah beranjak pergi. "Hei, kau. Ikut aku." Perintahnya.
Aku dan Zhou Ying cuma bisa saling berpandang-pandangan seperti orang bodoh. Sementara si anak kecil tadi akhirnya berbalik lagi, berkacak pinggang, kemudian menyahut. "Kau, yang sedang menuntun kuda," Aku cuma bisa menunjuk diriku sendiri, seolah bertanya 'maksudmu aku?'. Dan dia langsung membalas dengan cepat. "Kemari sebentar bersamaku."
"Hei, Lu Xun, aku ikut denganmu." Kata Zhou Ying sambil mengamit tanganku saat aku akan mengikuti anak itu.
"Tidak perlu, Zhou Ying. Dia cuma anak kecil, kok!" Balasku sambil tersenyum. "Mungkin dia ingin aku mencarikan kucingnya yang tersesat di tengah hutan." Dengan begitu, akhirnya sekali lagi aku meninggalkan Zhou Ying dan Huo Li di tengah hutan, sementara aku mengikuti bocah itu.
Perjalanan itu ternyata cukup panjang, dan selama itu pula bocah itu tidak mengatakan apa-apa. Tidak seperti pada awalnya ketika ia berbicara banyak hal menjawab pertanyaan kami. Aneh juga anak ini, begitu beraninya masuk ke tengah hutan malam-malam begini. Apa orangtunya tidak khawatir dan mencarinya, ya?
"Hei, adik kecil." Dia mendengarku, tetapi tidak memperlambat langkahnya. "Kenapa kau di tengah hutan begini? Apa kau mencari kucingmu yang hilang?" Tanyaku sambil tersenyum bercanda, meski dia tidak melihatku.
Kali ini, baru bocah itu berhenti dan berbalik. Sekarang dia memandangku dengan tatapan merendahkan khas anak kecil yang bukan main menjengkelkan. "Hmmm... kalau tidak salah yang kucing itu kau, kan?"
Huh! Bagaimana aku bisa tidak kesal! Tapi, yah... namanya juga anak kecil.
Eh, tapi, bagaimana kalau dia memaksudkan yang sebenarnya? Maksudku, aku kan pernah terkena racun sehingga wujudku berubah jadi kucing? Atau setidaknya, baru saja kemarin aku dan Yangmei bermain kucing dan anjing. Apa sebenarnya anak ini...
Tapi, hei, mana mungkin hal seperti itu mungkin terjadi?
"Kau sedang melamun apa?" Tanya anak itu sambil melipat tangan. "Dasar payah. Kau memang benar-benar lupa segala sesuatu, ya?"
Hah? Pertanyaan itu... rasanya aku sering sekali mendengarnya. Taigong Wang berkata begitu, Fu Xi dan Nü Wa juga. Lalu Ling Guang dan Zhi Ming, dua dari keempat Si Xiang itu. Hei, jangan-jangan dugaanku benar. Apa benar anak ini...
"Adik kecil," Bagaimanapun, aku tidak boleh sok tahu dulu dan sembarangan mengambil keputusan, kan? "Ngomong-ngomong, aku belum tahu namamu. Namamu siapa?"
"Kau jangan memperlakukan aku seperti anak kecil begitu." Balas anak kecil itu. "Peduli setan dengan bagaimana di dunia akhirat. Tapi di dunia ini, aku masih lebih lama berada di dunia daripada kau, tahu." Katanya dengan suara yang ponggah.
Jadi, benar dia itu salah satu Si Xiang juga! Dan dari pakaian serta rambutnya yang berwarna biru kehijauan, juga tempatnya yang berada di daerah Shu, jangan-jangan dia ini Qing Long-Naga Biru pelindung Shu!
"Ah! Kau...!" Seruku sambil menudingnya, kemudian berusaha mengingat namanya. "Meng Zhang, bukan?" Dia tidak menjawab, kecuali mendesah sambil menggumamkan sesuatu dari mulutnya seperti berkata 'akhirnya ingat juga'. Tanpa mempedulikan sifatnya yang ketus itu, aku mengamit kedua tangannya, kemudian tersenyum lebar. "Di Istana Chang An dulu, yang menolongku adalah kau kan, Meng Zhang? Kau naga biru yang tiba-tiba datang dari langit dan membawaku turun itu, kan? Terima kasih! Terima kasih banyak!"
Dia langsung dengan tanpa permisi langsung menarik tangannya. Yah... memang ternyata setiap Si Xiang punya sifat yang sangat berbeda. Kalau kulihat, Meng Zhang ini sangat cuek sekali, sifatnya sungguh berkebalikan dengan Ling Guang. "Salah orang. Aku tidak pernah merasa pernah membantumu. Dan lagi, apa untungnya membantumu? Menghabiskan waktu saja."
Aku tertawa kecil. "Ah, kau jangan begitu, Meng Zhang! Naga biru itu siapa lagi kalau bukan kau?"
"Aku ini tidak peduli padamu. Jadi, untuk apa datang menolongmu?" Balasnya dengan balik bertanya.
Meskipun dia bilang begitu, aku yakin itu cuma caranya untuk bersikap saja. Aku yakin benar itu dia, dan meski sifatnya memang sedikit cuek dan sombong begitu, rasanya perkataannya itu tidak sepenuhnya benar. Setidaknya, begitu kata Ling Guang dan Zhi Ming. Setiap Si Xiang, bagaimanapun sifat mereka padaku, sedikit banyak pada ada kepedulian padaku. Kalau tidak, tidak mungkin saat itu Meng Zhang membantuku.
"Hei, ayolah..." Pintaku dengan suara memelas sambil memasang muka yang juga sama memelasnya. "Itu memang kau, kan? Memangnya ada yang lain selain kau yang bisa menjadi naga biru?"
Pada akhirnya, dia menjawab sekali lagi dengan nada sangat cuek. "Kalau iya, apa urusannya denganmu?"
Aku tersenyum. "Tentu saja ada! Kalau itu kau, aku harus berterima kasih padamu!"
"Dan kalau itu bukan aku?"
"Berarti aku harus mencari orang yang lain untuk kuberi ucapan terima kasih."
Dia memutar bola mata sambil bergumam pelan, tapi aku bisa mendengarnya 'cuma ucapan terima kasih saja...'. "Ngomong-ngomong, kau sampai jauh-jauh datang ke sana untuk membantuku. Terima kasih banyak! Pasti aku telah sangat merepotkanmu."
Meng Zhang cuma mengangkat bahu sambil menjawab. "Jauh-jauh? Sama sekali tidak." Jawabnya. Tentu saja ini membuatku bingung. Perjalanan untukku dari Chang An sampai ke tempat ini saja butuh waktu hampir seminggu. Pertanyaan di kepalaku ini, sepertinya dia bisa membacanya. "Kau kira aku berjalan kaki sepertimu yang sekarang manusia biasa? Tentu saja aku bisa berpindah sesuka hatiku." Jawabnya. "Lagipula, Shu aman-aman saja. Aku bosan di sini jadi aku memutuskan untuk pergi ke tempat lain."
Meski masih tidak mengerti, aku sok mengerti saja supaya tidak terlihat bodoh. "Oh, begitu." Balasku. Hmmm... benar juga Yangmei saat dia mengatakanku sok tahu. "Menyenangkan juga, ya. Kalau aku bisa seperti itu, mungkin aku tidak perlu bercapek lelah berjalan sejauh ini."
"Yahhh..." Dia mengangkat bahu, sekali lagi menunjukkan senyum sombongnya itu. "Suruh siapa jadi manusia? Tidak enak, kan? Kemana-mana harus berjalan kaki."
Dan lagi-lagi, aku tidak mengerti maksudnya itu.
"Hei, hei..." Aku melipat tangan karena kesal. "Kau jangan salah. Aku ini sejak awal ya manusia biasa. Sejak dulu kan aku juga tidak pernah bilang 'hei, aku tidak ingin jadi manusia. Aku ingin jadi Si Xiang saja'. Jadi, jangan salahkan aku." Kataku menyindirnya.
Sebagai balasan, Meng Zhang cuma tersenyum simpul, kemudian menggumamkan sesuatu. "Mereka benar, rupanya kau sudah lupa semuanya saat menjadi manusia..."
Aku mengerjap-ngerjapkan mataku mendengar pernyataannya. "Mereka? Mereka siapa? Maksudmu Si Xiang yang lain?"
Meng Zhang menggeleng. "Bukan. Mereka ini adalah Pendeta San Zang dan Sun Wukong. Dan sekarang aku ada di sini sekaligus ingin menyampaikan sesuatu padamu."
Tentu saja, jawaban Meng Zhang membuatku kaget bukan kepalang. San Zang? Sun Wukong? Bukankah mereka itu adalah guru dan murid yang menurut legenda memiliki misi mencari tiga kitab sampai ke luar China di daerah Tianzhu? Hei, bukankah ini seperti Taigong Wang? Kalau kejadiannya seperti Taigong Wang, maka sesudah matipun, mereka diangkat menjadi Abdi Langit juga!
Bahkan dengan mendengar nama mereka saja, aku jadi tegang setengah mati. Memang, pesan apa yang ingin mereka sampaikan, ya?
"Mereka ingin menyampaikan apa padaku?" Tanyaku langsung.
"Mereka ingin bilang," Meng Zhang diam sejenak, seolah memang ingin membuatku penasaran bukan main. "... kau salah jalan."
"APAAA?" Seruku bukan main terkejutnya. Gara-gara bertemu dengan Meng Zhang seorang, entah sudah berapa kejutan kudapatkan hari ini! "Apa maksudnya salah jalan? Aku memang harus ke Kerajaan Shu, bukan?"
Meng Zhang menggeleng lagi. "Memang benar kau harus ke Shu. Tapi belum saatnya kau masuk. Ada satu tempat yang harus kau lalui dulu."
Kakiku seketika itu juga langsung lemas. Aku menggembungkan pipi sambil menjatuhkan diri di atas tanah, duduk dengan perasaan kesal bukan main. Bayangkan saja! Aku sudah berjalan dari Chang An sampai ke perbatasan Wei-Shu. Sekarang, ketika hanya dalam beberapa menit lagi aku bisa masuk Shu, baru seseorang memberitahuku kalau jalanku salah. Heran, kenapa tidak sejak awal aku diberitahu rute yang benar?
"Memangnya aku harus kemana?" Tanyaku lesu.
"Daerah Jing."
"DAERAH JING?" Tanyaku nyaris berteriak. Ya Tian... tempat itu jauh sekali dari sini. Bisa-bisa aku perlu waktu dua sampai tiga minggu untuk sampai ke sana! "Kenapa harus sejauh itu?"
Seolah tidak mendengar pertanyaan terakhirku, Meng Zhang melanjutkan. "Tepatnya di daerah paling tengah. Gunung Jing."
"Gunung Jing?" Tanyaku mengulangi kata-katanya. "Di sekitar Istana Fan di kota Xiang Yang?"
Dia menggeleng sebagai jawaban. "Tidak, tidak sejauh itu. Agak ke barat sedikit."
Baru kali ini aku mendengar ada Gunung Jing. Kalau daerah-daerah di sana aku tahu semua, Istana Fan, Xiang Yang, Yi Ling, Xiao Ting, Istana Mai, Istana Bai Di. Tapi Gunung Jing, baru kali ini aku mendengarnya.
"Memang daerah itu tidak begitu terkenal. Tidak ada kota di sekitar situ kecuali sebuah gunung saja. Yah, mungkin hanya ada beberapa desa kecil di sana. Tetapi selebihnya tidak ada apa-apa." Ujar Meng Zhang menjawab pertanyaan di kepalaku yang tak sempat kuucapkan keluar. "Yang menarik, Gunung Jing itu letaknya tepat di pertemuan ketiga kerajaan, Wei, Wu, dan Shu."
Meskipun tidak yakin akan menemukan tempat itu, aku mengangguk paham. "Memangnya, kenapa aku harus ke tempat itu?" Tanyaku.
"Bukankah selama ini kau selalu bingung dengan jati diri dan masa lalumu di kehidupan sebelumnya?" Meng Zhang balik bertanya. Tentu saja aku langsung tertarik, memang itu yang selama ini mengganjal pikiranku. "Pendeta San Zang ada di sana. Dia bersedia untuk memberitahumu segala sesuatunya jika kau mau."
"Tentu saja aku mau!" Balasku langsung. Ya, bagaimana aku bisa tidak mau tahu? Baiklah, meskipun aku harus kehilangan dua minggu untuk perjalanan ke sana, yang penting asal aku tahu segala sesuatunya saja tidak apa-apa.
Eh, tunggu. Baru sekarang aku sadar sesuatu. "Ngomong-ngomong, Meng Zhang, kau ternyata sedikit berbeda dengan Si Xiang yang lain ya?" Kataku sambil berusaha tidak membuatnya tersinggung. "Kau ternyata berwujud anak kecil..."
"Aku bisa berwujud seumur dengan Ling Guang, Jian Bing, atau Zhi Ming, tahu." Meng Zhang mengangkat bahu. "Tapi aku bosan."
Oh iya. Benar juga. Alasan dia membantuku di Wei kan karena dia bosan di Shu. Karena dia bosan dengan wujud dewasa, makanya dia memakai wujud anak kecil. Logis juga.
"Oh, iya, Meng Zhang!" Sahutku lagi. "Kalau memang kau bosan, bagaimana kalau kau menemaniku ke Gunung Jing menemui Pendeta San Zang? Kan kau jadi tidak bosan lagi!" Tanyaku dengan gaya yang kupikir agak kelewat polos. Entah apa yang akan dipikirkan Meng Zhang.
Rupanya, dia memang menolak, tapi menolak tanpa memikirkan perasaan orang lain! "Untuk apa? Kau lebih membosankan daripada menjaga Shu..."
Aku cuma bisa menggembungkan pipi karena kesal. Yah, seharusnya aku tahu kalau Meng Zhang akan berkata begitu. Sifatnya yang unik ini sangat bertentangan dengan Ling Guang. Tapi, sifat seperti itu menyenangkan juga. "Baiklah kalau begitu, aku akan segera pergi supaya kau tidak bosan! Terima kasih, Meng Zhang!"
Baru saja aku akan berbalik untuk meninggalkannya, ia menarik bahuku hingga aku hampir saja jatuh! "Ingin membuatku tidak bosan itu baik, tapi kau harus hati-hati dengan langkahmu!" Tepat bersamaan dengan itu, di hadapanku aku melihat seseorang... bukan, sesuatu yang menyerangku! Tapi, dengan begitu cepatnya ia menghilang pada detik dimana sebuah pisau es menusuknya. Kejadian itu cepat sekali, aku sampai tidak bisa mengikutinya!
"Yaoguai..." Aku bergumam sambil berusaha bangkit berdiri. Sekarang, aku dan Meng Zhang berdiri berlawanan arah, saling melindungi punggung masih-masih. Sementara itu, dalam kegelapan malam, bepasang-pasang mata berwarna merah menatap kami. Lama-kelamaan, mereka semakin dekat, menampakkan wujudnya di depan kami.
Sial... aku juga baru sadar, sekarang aku tidak bisa menyerang mereka dengan mudah. Aku sudah melepaskan cahayaku.
"Kau memang bodoh." Celetuk Meng Zhang seolah menanggapi pikiranku. Saat aku menoleh, kulihat tubuhnya yang mulai bercahaya, mengeluarkan aura berwarna hijau kebiruan seperti asap yang pekat. Tubuhnya bersinar, begitu juga tangannya. "Untung saja hanya segini. Kekuatanku pun cukup."
"Mana bisa begitu? Aku kan juga harus membantu?" Tapi, baru sekarang aku sadar. Aku tidak bisa menggenggam pedang lagi! Tangan kananku kan masih terluka dan belum sembuh!
Tanpa kusadari, seekor Yaoguai melompat, kemudian menyerangku! Namun, seperti tadi, Yaoguai itu tidak sempat menyerangku.
"Bing Dao!"
Rupanya, itu adalah salah satu senjata Meng Zhang. Dia menggunakan sihir! Kekuatan sihir yang terwujud dalam bentuk pisau es itu langsung menikam Yaoguai itu, dan seketika itu juga langsung menghilang dalam kegelapan.
Belum selesai ketakjubanku melihat itu, Meng Zhang mengeluarkan jurusnya lagi. Kali ini, sebuah bidang berbentuk setengah bola melingkupi kami, sebelum dari atas turun beribu-ribu tetes air yang seperti jarum-jarum panjang dan besar tepat sesudah dia berseru 'Shui Zhen Xia Yü!'. Kemudian, entah hanya visualisasiku atau bukan, aku melihat aliran air yang keras seperti alisan sungai Chang Jiang menyapu bersih para Yaoguai itu sampai bersih.
"Kekuatanmu api, sementara aku air. Dalam pertarungan, itu tidak akan efektif!" Baru sekarang sesudah melancarkan jurusnya, ia menjawab pertanyaanku.
Ternyata, aku baru tahu kalau aliran air yang kulihat rupanya adalah pancaran kekuatan Meng Zhang, bukan air sesungguhnya sedang menyerang para Yaoguai itu. Buktinya, tanah ini tidak sedikitpun basah. Yang ada di sini hanya Yaoguai yang bergelimpangan di tanah. Satu persatu mereka yang sudah mati menghilang dengan sendirinya.
Bidang setengah bola yang tadi melindungi kami sekarang menghilang. Meng Zhang berjalan ke arah seekor Yaoguai yang masih belum benar-benar mati. Aku mengikutinya.
Naga Biru pelindung Shu itu berdiri dengan tegap di depan Yaoguai itu, kemudian dengan gaya angkuh melipat tangannya. "Betapa bodohnya kau. Berani-beraninya menyerang ketika tahu Feng ada di sini." Tentu saja aku terperanjat mendengar perkataannya. Memang benar aku di sini, dan dulunya para Yaoguai itu akan mati cukup dengan mendekatiku, Tapi sekarang kan tidak lagi? Buktinya, sedari tadi hanya dia yang menggunakan kekuatannya melawan Yaoguai-yaoguai itu.
Yaoguai itu cuma membalas sambil tertawa. Meskipun dalam keadaan seperti itu, ia masih bisa menatap dengan sombong. Tetapi tatapan itu tidak diarahkan pada Meng Zhang, melainkan padaku. "Ha! Justru kami datang sekarang karena dia cuma manusia biasa! Mana mungkin dia punya kekuatan lagi untuk mengalahkan kami?" Sekali lagi dia tertawa. Dan Meng Zhang... entah cuma perasaanku atau tidak, meskipun aku tahu dia kelihatan cuek dan tidak peduli padaku, dia kelihatan marah mendengar itu. Tangannya sampai terkepal. "Dan kau, Naga Biru pelindung Shu, sahabat Phoenix itu sendiri! Kalau kau tidak ada di sini, pasti dia sudah bisa kami bunuh sekarang!"
Meng Zhang tetap tenang, tidak menunjukkan perubahan apapun. "Kau sekarang sudah nyaris mati dan berani berkata begitu?"
"Tentu saja! Kenapa tidak? Tidak ada lagi hal yang perlu ditakutkan dari Phoenix itu! Dan kau, untuk apa aku takut padamu?" Kemudian, kali ini Yaoguai itu menatapku. Aku bisa melihat jelas kalau tatapannya itu penuh kemarahan dan kebencian, tetapi pada saat yang sama matanya yang licik itu juga menyorotkan perasaan sombong. "Hai, Phoenix! Kenapa diam saja dari tadi? Kehilangan cahayamu, hmmm? Ayo, mumpung aku dan beberapa lainnya masih hidup, tunjukkan kekuatanmu! Kau memang Phoenix, kan?"
Mendengar itu, nyaris saja Meng Zhang tidak bisa lagi memendam kemarahannya. Dia mendesis kesal, tetapi cepat juga hilangnya saat aku meletakkan tanganku di atas bahunya, menyuruhnya tidak melakukan apapun. Sesudah itu, akhirnya giliranku menjawab Yaoguai yang kelewat nekad itu.
"Memamerkan kekuatanku sekarang padamu?" Tantangku. "Untuk apa melakukannya pada makhluk rendah sepertimu yang sudah nyaris mati? Tidak ada gunanya." Balasku sambil berlalu, dengan diikuti oleh Meng Zhang. Aku sadar sepenuhnya, suaraku dingin sekali. Rasanya aku belum pernah berkata-kata dengan kata-kata sedingin ini sebelumnya. "Sayang, kau tidak akan melihat kekuatanku. Kau mati sekarang."
Sesudah aku selesai mengucapkan itu, seolah angin berhembus dengan kencang menerbangkan dedaunan pohon sampai gugur, begitu juga Yaoguai itu seperti tercabik-cabik dalam kegelapan dan menghilang begitu saja.
Tidak lama kemudian, aku dan Meng Zhang berhenti. Ketika kami menoleh ke belakang, tempat itu sudah tidak ada apa-apanya. Yaoguai-yaoguai itu sudah menghilang semua.
"Feng," Panggilan Meng Zhang seketika itu juga membuyarkan lamunanku. "Yang kau katakan itu, tentang menunjukkan kekuatanmu pada Yaoguai yang hampir mati..." Dia berkata dengan suara yang pelan dan redah. "Memang tidak berhubungan, tapi aku ingin mengatakan sesuatu. Mungkin kau tidak sadar saat mengucapkannya, tetapi kau tahu kapan waktu para Yaoguai, semuanya, akan melihat kekuatanmu yang sebenarnya?"
Aku bingung dengan maksud pertanyaannya. "Hah? Maksudmu?"
"Para Yaoguai itu tidak akan melihat kekuatanmu yang sebenarnya saat mereka nyaris mati sementara kau berdiri seperti pemenang. Memang bukan itu saatnya." Ungkap Meng Zhang pelan. Kalimatnya yang sangat kontradiksi itu masih belum bisa kumengerti sebenarnya, tapi toh aku tetap melanjutkan mendengarnya. "Justru kekuatanmu yang sebenarnya akan mereka lihat ketika kau perlahan meninggalkan kehidupan, sementara merekalah yang berdiri seperti pemenang."
Perkataan Meng Zhang seketika itu juga membuatku terhenyak. Waktu itu aku masih belum merasa bingung atas pernyataannya, hanya kaget, terkejut. Itu saja. Mataku melebar, menatap tanpa fokus. Sementara itu, merasa dirinya telah melakukan tugasnya, Meng Zhang berjalan melewatiku tanpa mengatakan apapun lagi.
Ketika sepenuhnya sadar dia tidak berada di depanku, aku menoleh dengan cepat, ingin bertanya apa maksudnya itu.
Tapi, tidak ada seorang pun di sana. Yang ada hanya aku sendiri di tengah malam ini.
Ahhhh... di chapter ini saya harus mengucapkan terima kasih... ^^
Pertama, pas bagian Lu Xun bilang "Satu-satunya hal yang aku syukuri adalah bahwa Huo Li adalah kuda. Sekali kuda, tetap saja kuda. Kalau suatu saat dia jadi manusia, aku akan benar-benar jadi gila.", nah itu saya terinspirasi pas baca reviewnya Mocca-Marochi! ^^v Thanks a lot, yaaa~~~ Oh, dan yang Zhang He memuji2 Putri Mingzhu itu juga idenya dari parody anda~~~ Makasih...
Yang kedua adalah adegan pertemuan Lu Xun ama Meng Zhang. Saya harus berterima kasih juga ama IXA Cross yang sudah bantu saya menemukan ide ini... Hohoho~ Thanks a lot~~~
Dan tentang Meng Zhang, berhubung dia munculnya sebagai anak kecil (beda sama para Si Xiang lainnya) saya udah menyiapkan artwork Meng Zhang versi 10 taon~ Ada di album FB saya... Tapi maaf, soalnya saya pake teknik arsitektur (cuma pake pensil n diarsir doank), bukan digital colouring... Wkwkwkwk... silahkan liat... ^^
Keterangan:
1. Tianzhu: Sebutan orang China untuk India di masa lalu. Sorry, kagakz ketemu hanzinya...
2. Jurus2nya Meng Zhang, Bing Dao: (arti literal) 'Knives of Ice', Shui Zhen Xia Yü: (arti literal) 'Water Pierce Storm'. Kalo ada yang merasa bahasa salah, tolong kasih tau saya~~~ Maaf, saya nggak ngasih Hanzinya. Dan satu lagi, berhubung ini dunia RPG dan ada magic2nya, mungkin semua nama magic di sini saya pake China aja... soalnya lebih keren... XDDDDD
Sekian... updatenya minggu depan hari Minggu...
Jangan lupa review, bapak-bapak, ibu-ibu, sodara-sodari...
