A/N : Gomen baru bisa update Fic ini sekarang, kemaren (mungkin) ada kucing naik pohon terus gak bisa turun, jadi aku bantuin (baca:ketawa) deh. :D
Len : jangan pakai alasan gak jelas Author!
Rin : Author kan dari dulu memang gak jelas Len...
Len : *ngangguk*
Nova : sudahlah...
Bales review ada di bawah.
Enjoy~
Summary : Ulangan semester akan digelar untuk Vocaloid Gakuen, tapi remaja-remaja ajaib ini malah bermain-main sampai H-1. Bagaimana persiapan (GJ) mereka? Baca saja.
Ulangan Semester
.
Disclaimer: I don't own any of these characters, except this story.
Warning : Gaje (sudah pasti), Typo (kalau ada), pendek, aneh, ajaib, bahasa gahol ada disini, ada OC yang gaje kepemilikannya, dll. dst. dsb.
.
.
Don't like? Must Like! Hahahaha...
#gue serius!
.
[ All in normal pov ]
Kejadian ini diambil pada saat sebelum Remidi Ulses (lihat Ch. 14-16) dimulai...
Kesamaan nama dan tempat hanyalah kebetulan belaka...
-0o0-
"Another Story : Uji Nyali part II"
-0o0-
Ulses telah berakhir bagi Vocaloid Gakuen, tapi para muridnya masih harus mengikuti acara Remidi Masal by Otaku Kepsek.
"Ahh~ akhirnya Ulses selesai juga..." Ucap sesosok makhluk cowok berambut blonde pendek sambil menjatuhkan dirinya ke sofa ruang tamu.
"Tinggal nunggu remidi aja..." Sambung sosok cewek di sampingnya yang juga berambut blonde pendek dengan empat jepit rambut.
"Lu mau ikut remidi?" tanya cowok yang berambut blonde pendek yang bernama Kagamine Len.
"Ya gak lah." Jawab cewek berambut blonde di sebelahnya, Kagamine Rin.
"Terus? Kok lu nungguin remidi?" tanya Len lagi.
"Gue gak yakin nilai gue diatas KKM." Jawab Rin lesu.
"Gue juga." Sambung Len lemas.
"Haahhh.." Mereka berdua menghela nafas.
Kemudian Rin berdiri dari sofa.
"Mau kemana lu?" tanya Len.
"Kamar mandi, mau ikut?" jawab Rin dengan malas.
"Gak, makasih." Ucap Len gak kalah malasnya. "Dasar." Lanjutnya pelan pelan.
Kemudian Len pergi ke dapur untuk mencari kulkas. Setelah ketemu, dia membuka kulkas tersebut dan mencari sebuah botol berwarna kuning. Atas, bawah, kanan, dan kiri. Botol yang dicarinya tidak ada dimana pun. Frustrasi, maka pintu kulkas tidak bersalah itu dibanting dengan indahnya.
"Rin, minuman gue lu kemana'in?" tanya Len dari dapur.
"Minuman apa?" jawab Rin dari dalam kamar mandi. Kamar mandi bersebelahan dengan dapur.
"Itu tuh yang di botol berwarna kuning ada gambar pisang di bagian depannya." Ucap Len menjelaskan.
"Oh itu, udah gue habisin kemaren." Jawab Rin tenang dari kamar mandi.
BRAK
Len mendobrak pintu kamar mandi.
"APA LU BILANG!" Ucap Len marah.
"...!"
"!"
BRAK
Len membanting pintu kamar mandi lagi. Wajahnya merah tuh. Hahaha. :D
Rin diam membeku karena kedinginan plus kaget. Wajahnya biru! (Nova : ambulan mana ambulan. XD )
"TERSERAH! POKOKNYA SETELAH INI LU HARUS BELI LAGI!" Ucap Len dari luar kamar mandi. Wajahnya masih merah.
"..." Rin masih membeku ditempat. (Nova : ambulan mana ambulan. :-D )
Kemudian Len kembali ke dapur.
"Masak apa ya?" tanya Len pada dirinya sendiri.
"Ayam Spesial Saus Pisang ajaa~" Ucap sebuah suara di belakang Len.
"Ide bagus, tumben lu cerdas Ri-" ucapan Len terpotong karena setelah dia menoleh ke asal suara, di sana tidak ada siapa-siapa. Kemudian dia berlari ke kamar mandi lagi.
BRAK
"Hah..ha...hah..." Len kehabisan nafas setelah berlari dari dapur ke kamar mandi.
"Ada apa lagi Len?" tanya Rin yang sudah tidak membeku dan juga berpakaian tentunya.
"A-ada i-tu..ada itu..." Jawab Len gagap dengan muka ketakutan dan keringat dingin.
"Ada apa'an?" tanya Rin lagi.
"Itu..ada itu..." Jawab Len masih dalam keadaan yang sama.
"Apa'an?" tanya Rin sekali lagi.
"Itu...di dapur ada..." Jawab Len masih ketakutan.
"Ada apa di dapur?" Tanya Rin lagi sambil mendorong adiknya keluar dari kamar mandi lalu menutup pintunya.
"A-ada h-han-hantuu..." Jawab Len lalu bersembunyi di balik punggung kakaknya.
"Heh?" Rin bingung. "Ini masih siang Len. Mana mungkin ada hantu." Lanjutnya.
"Enelan kok, ciyus deh." Ucap Len yang bahasanya mulai gak bener.
"Ciyus? Miapah?" ucap Rin yang ikut-ikutan gak bener.
"Ah lupakan! Sekarang cepat lu ke Superman-eh salah, maksudku ke supermarket dan beli tuh minuman kesukaan gue. Jangan banyak-banyak, 10 kardus aja." Ucap Len panjang lebar tinggi diagonal luas volum keliling. (Yuki : kok jadi matematika?)
"Hmm, ok deh, lu jaga rumah. Sendirian." Ucap Rin lalu berjalan menuju pintu depan. Len terdiam sebentar.
'Sendirian.' Batin Len.
Sendirian...
Sendirian...
Sendirian...
Sendirian...
SENDIRIAN...
SENDIRIAN...
SENDIRIAN...
SEN-
"AAKHH!" Len berteriak gaje.
"Tunggu!" seru Len dari belakang.
"Ada apa lagi?" tanya Rin sambil membalik badannya yang disambut pelukan adiknya.
"Gue ikut!" seru Len lagi.
"Heh? Lah terus yang jaga rumah siapa?" tanya Rin heran masih dalam pelukan adiknya.
"Bodoh amat, yang penting gue ikut!" seru Len lagi sambil mendorong Rin keluar rumah dan mengunci pintu.
-0o0-
"Ada apa sih? Lu aneh deh hari ini." Ucap Rin di perjalanan. Mereka berjalan ke supermarket, walaupun agak jauh tapi pemandangan selama di perjalanan itu, wah banget, hehehe. :)
"Gue takut dirumah sendirian." Kata Len sambil sesekali menengok kebelakang.
'Kok gue ngerasa kayak diikutin?' batin Len.
"Hihihihihihihihihi..." Len mendengar seseorang tertawa di belakangnya, tapi Len tak berani menoleh.
"Lu kan udah SMA kok takut di rumah sendiri sih?" tanya Rin atau lebih tepatnya mengejek adiknya.
"Kali ini lain, gue ngerasa ada sesuatu di rumah kita." Ucap Len sambil menoleh kebelakang lagi. Rin yang heran dengan tingkah laku adiknya ikut menoleh kebelakang, tapi tidak ada siapapun di sana.
"Lu hari ini benar-benar aneh." Ucap Rin.
"Gue ngerasa ada yang ngikutin kita." Ucap Len.
"Gue gak merasa tuh, berarti cuma lu aja. Hihihi." Ucap Rin sambil menakuti adiknya.
"KYAAAAA!" tak disangka Len berteriak ketakutan. Wajahnya biru!. (Nova : ambulannya kok belum datang ya? :-D )
"AHAHAHAHA." Rin tertawa puas melihat adiknya ketakutan.
"BAKAAA!" teriak Len lalu memukul kepala kakaknya.
"Oww..." Rin meringis. Len tertawa. Warga yang melihat mereka diam saja.
"Eh lu bawa uang berapa?" tanya Len.
"Gue bawa 50 ribu Yen." Ucap Rin tenang. Len kaget dengan mulut jatuh kebawah kayak anime.
"Bercanda, mana mungkin gue punya uang sebanyak itu." Lanjut Rin.
"Jadi lu bawa berapa?" tanya Len lagi.
"Hmm sekitar 1000 Yen." Ucap Rin.
"Gue juga bawa 1000 Yen, sekalian aja belanja buat persediaan seminggu, gimana?" tawar Len.
"Ide bagus, dan sepertinya dapur kita sudah mulai kosong." Ucap Rin menyetujui ide adiknya.
"Dan lu tau, bahwa tempat yang kosong itu adalah favorit para hantu lho~." Lanjut Rin lagi sambil tersenyum. Len menjerit lagi, dan memukul kepala kakaknya lagi.
"Ahahaha." Rin tertawa walau kepalanya sakit.
"Diam baka!" seru Len. Wajahnya merah lagi. (Nova : halo? Pemadam kebakaran bisa datang kesini? :-D )
"Emang beneran di dapur ada hantu?" tanya Rin masih gak percaya.
"Beneran, kalo lu gak percaya liat aja deh nanti." Ucap Len sambil melipat tangannya di depan.
"Ok ok nanti gue liat." Ucap Rin gak niat.
"Heh Rin! Lu sadar gak?" tanya Len pada kakaknya.
"Apa'an?" ucap Rin.
"Supermarket udah kelewatan 3 blok tadi." Ucap Len sambil menunjuk ke arah belakang mereka. Rin terdiam, lalu memukul dahinya.
"Kenapa lu gak bilang?" tanya Rin menoleh ke adiknya.
"Gue pikir lu mau jalan-jalan dulu." Jawab Len.
"Ya udah deh, kita balik lagi." Ucap Rinlalu mereka berbalik arah.
Tanpa mereka berdua sadari, ternyata ada seseorang yang mengikuti mereka dari balik pohon. (Nova : chapter ini diambil sebelum Remidi Ulses, jadi Len dan Rin belum mengetahui siapa sebenarnya Mbak Kunti dan jati diri si Otaku Kepsek.)
-0o0-
KRINCING
Suara lonceng berbunyi ketika mereka memasuki Supermarket. Mereka berjalan ke depan, lalu ke kiri, kemudian ke kanan, ke kanan lagi, dan ke kanan lagi dan lurus. Bisa tebak mereka berada di mana? Tepat! Mereka ada di tempat semula. Wkwkwkw. :D
"Kok kita balik lagi ke sini?" tanya Len.
"Ulangi deh." Jawab Rin.
Kemudian mereka mengulangi lagi dari awal. Ke depan, lalu belok kiri, kemudian ke kanan lalu ke kiri. Mereka sampai di tempat sayur dan buah-buahan.
"Jeruk...Jeruk...Jeruk..." Rin menggumam gaje sambil mencari jeruk di tumpukan buah-buahan disana.
"Aha!" lalu dia meloncat senang ketika menemukan apa yang dicarinya.
"Lu kayak anak kecil tau gak." Ucap Len menyindir kakaknya.
"Biarin. :-P" Balas Rin sambil memeletkan(?) lidahnya.
Lalu mereka berjalan ke depan, belok kiri, lurus, lalu ke kanan.
"Jus pisang...jus pisang..." Gumam Len yang juga gaje.
'Sekarang siapa coba yang kayak anak kecil...' Batin Rin melihat adiknya menggumam gaje.
"Aha!" sama seperti ekspresi Rin tadi, Len melompat gembira setelah menemukan apa yang dicarinya.
"Udah yuk pulang." Ajak Len.
"Hanya beli 20 kardus jeruk dan 2 kardus jus pisang aja?" tanya Rin heran.
"Ya gak lah, tuh." Jawab Len sambil memperlihatkan keranjang belanjaan nya yang menggunung.
'Kapan dia mengambil semua itu?' batin Rin sweatdrop.
"Udah ayo pulang." Ucap Len sambil menarik Rin.
Kemudian mereka membayar semuanya dan berjalan pulang.
-0o0-
Kediaman Kagamine Twins...
Len dan kakaknya langsung menuju dapur untuk menata barang belanjaan mereka di kulkas, sampai Len merasakan sesuatu. Sensasi dingin yang melegenda di belakang lehernya. :D
'Kok gue merinding tiba-tiba?' tanya Len dalam hati.
'Mungkin kamu kedinginan.' Jawab sebuah suara.
'Mungkin juga-eh? Tunggu dulu...' Len kaget lalu menoleh.
"Rin, lu ngomong sesuatu gak?" tanya Len pada kakaknya.
"Gak tuh, ada apa?" tanya Rin balik.
"G-gak ada apa-apa." Jawab Len ketakutan. Rin hanya menatap adiknya heran.
Malam harinya...
Len dan kakaknya sudah tidur di kamar masing-masing. Entah kenapa malam hari ini terasa sangat berbeda dari biasanya.
-0o0-
Suasana di kamar Kagamine Rin...
.
Hening~.
Tidak ada yang aneh di sa-
TRING
-na... huh? Suara apa itu?
TRING TRING BLAAR
Oh rupanya Rin sedang main game di komputernya. Dia belum tidur meskipun jam sudah menunjukkan pukul 10 malam. Padahal besoknya dia (dan semua murid Vocaloid Gakuen) harus mengikuti acara Remidi Masal by Otaku Kepsek.
.
Suasana di kamar Kagamine Len...
.
Ssshhhh~
MENCEKAM! :D
Len tidak bisa tidur gara-gara kejadian tadi di dapur. Dia memutar tubuhnya ke kiri, memejamkan mata dan berusaha untuk tidur.
Sssshhhhh~
Len terjaga lagi. Dia memutar tubuhnya lagi ke kanan, menutup mata dan berusaha tidur.
Sssshhhhhh~
Suara aneh itu semakin jelas di telinga Len. Dia pun memutar tubuhnya lagi menghadap ke atas, memejamkan mata dan berusaha untuk tidur.
Ssssh-
"AAH DIAAAAMMMMM!" teriak Len frustrasi pada siapa pun yang ada di kamarnya. Kemudian dia bangun dari tempat tidurnya dan berjalan menuju pintu kamarnya.
KRIET
Dibukanya pintu tersebut dengan perlahan.
Tidak ada siapa-siapa disana.
Hening~
Lalu Len menutup kembali pintu kamarnya dan meringkuk di kasur nya, memejamkan matanya sekali lagi dan berusaha untuk tidur meski itu mustahil untuk malam ini.
Sssshhhh~
Suara aneh itu terdengar lagi di telinga Len.
"AH CUKUP!" teriak Len frustrasi lalu pergi dari kamarnya dan berjalan menuju kamar di depannya.
Tok tok tok
"Rin, lu udah tidur belum?" tanya Len dari luar kamar kakaknya.
KRIET (Yuki : kenapa suara pintunya aneh gitu? | Nova : untuk malam ini saja.)
Pintu berwarna orange dengan gambar jeruk berwarna hijau itu terbuka perlahan, menampakkan sesosok makhluk kuning dengan wajah pucat.
"KYAAAAA!" teriak Len lagi sambil menonjok sosok tersebut.
"Aww aww...ampun...ampun...ini gue Len no baka..." Yang ditonjok hanya bisa meringis kesakitan.
"Lu sih pake nakutin gue segala!" seru Len yang masih ketakutan.
"Hehehe, ada apa?" tanya Rin.
"Gue gak bisa tidur." Jawab Len.
"Oh." Respon Rin singkat.
"..."
"..."
Mereka berdua diam untuk waktu yang lama.
"B-boleh gak gue tidur disini?" Len mengawali pembicaraan.
"Hah?" Rin memiringkan kepalanya bingung.
"Gue gak bisa tidur, jadi untuk malam ini saja ya, plisss." Len memohon pada kakaknya yang masih bingung. Kemudian Rin tersenyum gaje.
"Lu takut ya?" goda nya pada Len.
"S-siapa yang takut." Protes Len padahal terlihat jelas dari raut wajahnya kalau dia ketakutan.
"Ok, kalau gitu lu tidur sendiri aja. Dah~" ucap Rin lalu menutup pintu kamarnya.
"Ah! Tidak! I-iya g-gue takut, jadi biarkan gue masuk." Ucap Len sambil mencoba membuka pintu kamar Kakaknya.
Ssshhhhhh~
Suara aneh itu datang lagi dan kali ini disertai dengan hawa dingin yang mencekam.
"...!" Len bergidik ngeri.
DOK DOK DOK
Terdengar bunyi aneh dari dapur.
"RIN! BUKA PINTUNYA!" teriak Len sambil memukul pintu tak bersalah di depannya dengan sangat keras.
"Uh..iya iya...emang ada ap-"
Len langsung masuk saja dan meringkuk di kasur milik kakaknya seperti kucing yang ketakutan.
"-pa?" Rin terheran-heran melihat adiknya yang sangat aneh malam ini. Apa ini karena pengaruh bulan purnama malam ini? Entahlah. #dilindasLen
BLAM
Pintu ditutup dan Rin kembali ke meja komputernya.
"Lu gak tidur?" tanya Len.
"Gue masih ngelanjutin game gue." Ucak Rin tanpa menoleh ke adiknya. Jari-jarinya sibuk beradu dengan keyboard dan mouse di sampingnya.
"Oh." Respon singkat Len, lalu membalikkan tubuhnya membelakangi Rin.
Hening lagi~
Pukul 12 tepat tengah malam.
TRING
Rin masih asik bermain game di komputernya.
Len? Masih gak bisa tidur gara-gara suara game yang dimainkan kakaknya dan suara-suara aneh yang (hanya) didengarnya.
"Lu masih belum tidur?" tanya Len lagi sambil membalik tubuhnya menghadap ke arah kakaknya.
"Bentar lagi." Ucap Rin masih berkonsentrasi dengan game-nya.
Len bangun dari tempat tidur lalu duduk di samping kakaknya.
"Heh? Ada apa?" tanya Rin yang merasa terganggu dengan kehadiran adiknya.
"Pengen liat aja." Jawab Len sambil menatap layar milik kakaknya.
"Ow." Respon singkat Rin, lalu melanjutkan aktivitasnya yang sempat tertunda.
Len hanya melihat dari samping, hingga...
Sssshhhhh~
Suara aneh itu datang lagi, tapi anehnya hanya Len yang mendengarnya.
"Ada apa sih Len?" tanya Rin heran karena adiknya semakin mendekatinya.
"G-gue kedinginan." Ucap Len berbohong.
"Tidur saja sana, gue nanti aja." Perintah Rin. Len mengangguk pelan lalu naik ke kasur dan menyelimuti tubuhnya dengan selimut bermotif jeruk milik kakaknya.
Ssshhhhhh~
Suara itu makin jelas terdengar di telinga Len. Dia menutup matanya rapat-rapat berusaha menghilangkan pikiran-pikiran aneh yang mulai menghampirinya.
'Apa kau kedinginan? Hihihi.'
Sebuah suara memaksa Len untuk membuka kembali matanya.
"Kau bilang sesuatu?" tanya Len pada kakaknya yang dibalas dengan gelengan kepala Rin. Lalu Len mencoba kembali tidur.
'Apa kau takut?'
Suara itu datang lagi. Kali ini kesabaran Len sudah habis.
"AAHHHH!"
Len melompat dari kasur dan memeluk kakaknya erat sampai terdengar bunyi 'kretek'. (Nova : ambulan mana ambulan. :D )
"K-khekk..." Rin berusaha melepaskan diri tapi percuma.
"E-eh, ma'ap." Len segera menyingkir dan duduk di samping kakaknya.
"Ada apa sih, dari tadi lu aneh tau!" seru Rin yang ikut terganggu akibat tingkah adiknya.
"A-aku mendengar suara." Ucap Len dengan ketakutan lalu memeluk kakaknya lagi. Rin memutar matanya bosan.
"Suara apa?" tanya Rin heran.
"Suara aneh." Jawab Len.
"Lu yang aneh." Ucap Rin sambil tertawa.
"Serius nih."
"Emang apa masalahnya sampai lu mendengar suara aneh itu?" tanya Rin.
"Karena, semenjak uji nyali yang kakak lakukan kemeren dengan gue sebagai korban, gue gak bisa tidur sampai pagi akibat suara-suara GJ itu." Jawab Len dengan menekankan di beberapa kata.
"Hehehehe." Rin tertawa garing mengingat 'acara' uji nyali yang mereka lakukan (lihat Ch. 7).
"Dan selain itu..." Len menggantung kalimatnya.
"Selain itu?" tanya Rin penasaran.
"Entah kenapa, sekarang gue bisa melihat makhluk tak kasat mata." Ucap Len pelan.
"Maksudmu? Arwah?" tanya Rin memastikan.
"Semacam itu lah." Jawab Len. "Dan kakak tau siapa yang membuat suara-suara itu?" lanjut Len bertanya pada kakaknya. Kakaknya hanya menggeleng.
"Mereka." Ucap Len sambil menunjuk kearah luar jendela, tepatnya di bawah pohon sakura di samping ruang kamar tidur mereka.
Rin menoleh dan mendapati sesosok cewek berambut hitam panjang dengan pakaian serba putih yang menatap mereka dengan pandangan kosong.
Rin ingin berteriak tapi tak bisa. Lalu dia menoleh ke arah adiknya.
"...!" wajah Rin tiba-tiba memucat karena yang ada di sampingnya itu bukanlah adiknya, melainkan sesosok Mbak Kunti yang lagi asik main game.
"KYAAAAAAHHHHH!"
-0o0-
"KYAAAAAAHHHHH!"
"Rin! RIN! Bangun!" Len mengguncang tubuh kakaknya yang berteriak histeris di tempat tidurnya.
Samar-samar Rin mendengar suara, lalu dia membuka matanya.
"Len?" ucapnya heran. Lalu dia melihat sekeliling.
'Syukurlah hanya mimpi.' Batin Rin lega lalu menghela nafas.
"Kenapa kau ada di kamar ku?" lanjutnya.
"Heh, bukannya kemaren kakak yang mengizinkan gue ikut tidur di sini." Jawab Len dengan smirk-nya.
Hening~
"...!" Rin sadar dan menonjok wajah shota adiknya. Len jatuh dari tempat tidur dengan tidak elitnya.
"HENTAI!" Ucap Rin lalu menonjok Len lagi dan lagi.
"Chotto-ugh." Len kembali mendapat dua tinjuan 'cinta' lagi dari kakaknya.
Skor : 5-0.
*Mohon tunggu sebentar*
...
"Ugh, kejam sekali kau ini..." Ucap Len mendramatisir. Rin hanya ber-'hmph' saja.
"Kenapa lu gak tidur di lantai?" tanya Rin.
"Dingin." Alasan yang bagus Len.
DUAGH
Skor : 6-0.
"Dan kenapa aku memakai baju tidur ku? Perasaan kemaren malem aku belum ganti baju?" tanya Rin lagi. Len meneguk ludah.
"A-aku menggantikannya untuk mu... hehe." Jawab Len pelan.
"..."
DUAGH
"HENTAI!"
Skor : 7-0.
DUAGH
"ECCHI!"
Skor : 8-0.
DUAGH
"KENAPA CUMA BAJUNYA SAJA!"
Skor : 9-0.
"Eh...?" Len bingung lalu mengamati kakaknya yang ternyata hanya memakai ehemcelanadalamehem. Wajah Len memerah lalu menoleh ke arah lain tapi terlambat karena...
DUAGH
"PERVERT!"
Skor : 10-0.
Kemenangan untuk Rin. Len K.O. di tempat dengan elitnya. Wkwkwk. :D
-0o0-
"Lu beneran gak 'ngapa-ngapain' gue semalam kan?" tanya Rin dengan dark aura-nya. Len merinding ketakutan. Mereka berdua dalam perjalanan menuju sekolah ajaib mereka.
"A-aku tidak..."
"Ima no watashi ni KOTAERU NASAI!" ucap Rin dengan nada serius. Len tersentak kaget.
"Aku tidak melakukan apa-apa. Hanya mengganti pakaian mu saja." Ucap Len tiba-tiba.
'Heh! Rin tidak menggunakan kekuatan Geass-nya, tapi kok gue kayak dipaksa...' Batin Len heran.
"Itu kekuatan baru ku. 'Authority'. Sebuah Gift yang diberikan oleh si Author gaje." Ucap Rin yang mengerti isi pikiran Len.
'Heh! Dia punya Gift!' batin Len kaget.
Setelah itu tidak ada yang berbicara lagi sampai mereka berdua sampai di Vocaloid Gakuen untuk menjalani Remidi Masal by Otaku Kepsek.
.
~Another Story End~
Review boleh, gak review gak boleh. :D
#gue duarius!
.
Semua kritik diterima disini.
#gue tigarius!
.
A/N : Akhirnya fic gaje ini bener-bener selesai. Arigatõ buat semua review dan support yang kalian berikan, sangat berharga bagi kami. :)
Yosh! Bales review yang gak login aja, yang login lewat PM...
To Flippy :
Di Chapter 25 :
Idenya ngawur, hahaha. :D
Pertanyaan anda sudah ku jawab di atas. *nunjuk ke atas*
Sekarang mereka berdua yang ketakutan. XD #dilindas
Orang dari masa lalunya Yuki, hmmm... hehe, lihat di chapter 23. Dan yang pasti orang jahat, mwahahaha. :D #dihajarwarga
Sudah update.
Arigatõ.
Di Chapter 26 :
Kemenangan untuk Rin, Yey~ :D
Mungkin, hahaha. :D
Yosh!
Arigatõ.
To Qoriaria :
Hahaha, iya, kasian banget mereka. XD #dihajar
Hai'. :)
Arigatõ.
To Fernith-san :
Hahaha, iya, dia nge-fans sama Len. :D
Arigatõ.
To Qoriaria :
Baca Fic "Mondaiji Gakuen"! #maksa
Arigatõ.
To AikaNabilla23 di ch. 2 :
Halo juga. :)
Benar kah? Senang nya~ *terbang ke afrika*
Oh, teman nya Aoi-san ya...
Q : Kakak kapan bikin FF lagi?
A : masih mau selesai'in fic yang lain. Baca aja Mondaiji Gakuen. :)
Q : Oh iya,kakak kls berapa?
A : himitsu yo~ :D
Arigatõ.
To AikaNabilla23 di ch. 5 :
Q : Kak,Kamehameha itu artinya apa?
A : aku juga tidak mengerti. XD #plak
Lucu? Thanks! Panjang? Alhamdulillah! :D
Q : Nama si OtakuKepsek-nya siapa kak?
A : karena fic nya udah tamat, ku kasih tau aja. Nama nya Mizuhashi Yuki, OC ku.
Q : Si Len kan adiknya Rin,kok sekelas sama si Rin,sihh?
A : iya, kan mereka se umuran. Cuma beda beberapa menit aja umur nya.
Gak apa-apa kok. :)
Arigatõ.
Oke. Sekali lagi terima kasih buat semuanya dan mohon maaf kalau update-nya terlambat.
Saya Yami Nova beserta para OC yang bertugas mengucapkan mohon maaf bila ada kata-kata yang menyinggung perasaan anda.
Arigatõ Gozaimaaaasu~ :D
Psstt! Kalau ada waktu, akan dibuat sekuelnya... mungkin... hehehe. :)
