Author : Kembali update, mungkin saia akan mengupdate dari hari kamis sampai minggu secara random. Dan terimakasih atas support dari teman-teman. Dichapter ini akan lebih banyak percakapannya dibanding fight, jadi bacanya hati-hati hehehehe, karena saia selalu menyematkan hint disetiap percakapan karakter. Hint mengenai sosok Joker dan Game master. Ah, saia ucapkan terimakasih bagi yang sudah memberi ide tentang naga dan usulan nama tempatnya saia pakai (tapi ada beberapa perubahan), terimakasih untuk masukannya. Enjoy this chapter.
Warning : T rate, Chara death, bahasa gamers.
Genres : Adventure/Fantasy/Friendship/Mystery/Humor/Action/Tragedy/Crime.
Pairing : Still hint.
Disclaimer : Naruto Cs milik Masashi Kishimoto, para OC milik teman-teman readers, Cerita ini punya saia dan Riku.
Neverland
Chapter 25
(Let's saves our friends!)
.
.
Flashback chapter sebelumnya
"Medusa! Bagaimana kalau kita mendiskusikan ini di dalam?" tanya Joker kepada Medusa, sepertinya dia sedang mencari celah untuk bisa mendekati Medusa.
"Baiklah, tapi hanya kalian berdua. Yang lain tunggu di luar!" balas Medusa yang meluluskan permintaan Joker.
"Hebat! Joker, lo pasti udah punya rencana, kan?" kata Naruto sedikit mengagumi Joker yang tampaknya sudah memiliki rencana untuk menolong teman-temannya.
"Tidak ada" balas Joker dengan datar membuat wajah Naruto dan yang lainnya menjadi pucat.
"Masuklah ke dalam!" terdengar suara Medusa dari dalam. Dia sudah membuka pintu gerbang istana. Joker dan Sakura segera memasuki pintu tersebut.
End Flashback.
.
~o0o~
.
"Selamat datang!" ucap Medusa sambil tersenyum mencurigakan begitu Joker dan Sakura sudah berada di dalam.
"Tak usah banyak basa-basi lagi! Mana teman-temanku!" balas Sakura yang sudah muak dengan segala tipu daya yang dilakukan Medusa.
"Kau gadis yang sangat berani ya" kata Medusa yang sedikit mengagumi sikap Sakura yang begitu berani padanya. "Baiklah-baiklah, akan kuperlihatkan teman-teman kalian semua." Medusa menepuk-nepukkan tangannya, secara ajaib muncul Ino, Shiryu, Asakura dan Chouji diantara mereka, juga Queen Marie yang terbaring lemah di belakangnya.
"Bebaskan mereka!" pinta Sakura dengan sedikit memaksa, dia khawatir teman-temannya akan terluka.
"Tidak semudah itu gadis kecil. Bukankah aku sudah bilang untuk melakukan pertukaran?" balas Medusa sambil memajukan tubuhnya sedikit ke depan dan memamerkan seringai liciknya.
"Bagus Sakura. Ajak dia bicara terus." Kata Joker dengan suara pelan agar tidak terdengar oleh Medusa, tapi suaranya cukup terdengar oleh Sakura.
"Eh? Apa itu artinya kau ada rencana?" tanya Sakura sambil melirik Joker yang berada di belakangnya dengan suara pelan.
"Tidak juga." Balas Joker dengan enteng.
"Heh? Kalau begitu untuk apa aku mengajaknya bicara?" tanya Sakura sedikit keki, dia pikir Joker menyuruhnya seperti itu karena dia sudah memiliki akal untuk menolong Ino dan yang lainnya.
"Apa yang kalian berdua bicarakan?" tanya Medusa memotong pembicaraan Sakura dan Joker dengan curiga melihat dari tadi Joker dan Sakura kasak-kusuk berduaan, membuatnya menjadi sebal saja karena merasa diacuhkan.
"Huh … Ka-kami … " Sakura mencoba mencari akal untuk menjawab pertanyaan Medusa tapi dia terlanjur gugup duluan.
"Kami hanya sedang memperdebatkan dirimu, itu saja." Jawab Joker sambil memamerkan senyum malaikatnya, tapi bagi Sakura senyuman itu seperti senyuman iblis yang menipu lawan.
"Apa yang kalian bicarakan tentang diriku? Cepat katakan!" Medusa dengan nada mengancam meminta Sakura dan Joker untuk mengatakan apa yang mereka bicarakan mengenai dirinya.
"Joker apa yang harus kita bilang ke dia?" bisik Sakura yang sudah buntu tidak tau harus menjawab apa.
"Gadis ini hanya mengatakan kalau dia bisa mengalahkanmu dengan sekali jurus saja" jawab Joker asal, bikin Sakura sweatdrop dan Medusa geram.
"Dia juga bilang kalau penampilanmu sangat aneh, lihat bajumu serba hijau. Dia bilang seleramu jelek, dan rambutmu juga seperti ular." Sambung Joker yang malah mengatakan hal yang aneh-aneh pada Medusa.
"Kurang ajar sekali kau meremehkanku dan menghinaku!" Medusa mendesis galak, dia mengeluarkan lidahnya yang berbentuk ular, seolah dia siap untuk menelan Sakura saat itu juga.
"Joker kau bodoh! " Sakura berkata pelan kepada Joker yang gak jelas sebenarnya NPC itu mau melakukan apa coba.
"Tapi sayang sekali ya Medusa, sepertinya pembicaraan kita selesai sampai disini saja." Kata Joker secara tiba-tiba.
"Apa maksudmu? Yang seharusnya mengatakan hal itu adalah aku!" balas Medusa yang tak terima, karena seharusnya kata-kata itu menjadi kalimat yang harus dia ucapkan berikutnya.
"Maksudku rencanamu berakhir sampai disini!" kata Joker yang kemudian menarik Ino dan Asakura yang berubah menjadi batu dengan benang-benang yang ternyata sudah dia kaitkan ke tubuh patung Ino dan Asakura.
'Sialan! Rupanya pembicaraan tadi hanya pancingan untuk membuatku lemah agar dia bisa mengambil celah!' geram hati Medusa yang baru menyadari rencana Joker.
ZREEEEEET!.
Joker menarik Ino dan Asakura jauh dari Medusa dengan menggunakan benang-benang yang sudah meliliti Ino dan juga Asakura. Medusa tentu tak diam saja melihat tindakan Joker.
"Kurang ajar kau Joker!" Medusa yang terlambat menyadari tindakan Joker langsung mengeluarkan ular-ular dari lengan baju hijaunya. Ular-ular itu bergerak cepat mengincar Ino dan Asakura.
"Ah, Joker awas!" Sakura berteriak panik saat melihat ular-ular itu bergerak cepat dan hampir menggigit Ino dan Asakura. Joker dengan cekatan mempercepat tarikannya agar Ino dan Asakura terhindar dari ular-ular yang mengejarnya.
"Tak akan kubiarkan lolos!" kata Medusa yang memerintahkan ular-ularnya untuk bergerak lebih cepat lagi.
"Tch … " Joker hanya berdecak kesal karena ular-ular itu sangat keras kepala. Dengan satu tarikan dia melempar Ino dan Asakura jauh ke atas. Sakura yang melihatnya langsung tercengang kaget dengan tindakan nekad yang dilakukan Joker.
"Joker mereka akan jatuh!" Sakura berteriak ngeri melihat Ino dan Asakura yang kini tengah melayang tinggi di udara. Dia sangat takut kalau sampai Ino dan Asakura jatuh ke bawah, keduanya bisa hancur berkeping-keping.
Joker tentu tidak diam saja melihat Ino dan Asakura yang berada di atas. Dia segera melompat ke salah satu pilar yang ada di dalam istana, kemudian dia melompat ke pilar yang ada disebrang, setelah itu dia melompat ke atas dan menangkap Ino dan Asakura.
'Fiuh … Hampir saja … ' batin Sakura bisa lega ketika Joker berhasil mendarat dengan mulus sambil memegang Ino dan Asakura.
"Jaga mereka berdua" kata Joker yang kemudian meletakkan Ino dan Asakura didekat Sakura dengan hati-hati.
"Grrr … Kurang ajar … Jangan senang dulu, aku masih punya tawanan lainnya!" kata Medusa mulai menjaga jarak dari Joker yang mulai berjalan ke arahnya. Medusa menunjuk Shiryu dan juga Chouji yang berada di sisi sebelahnya. Tangan Medusa kini sudah berubah menjadi ular dan siap untuk menerkam Shiryu dan Chouji.
SRAAAAT!.
Sebuah serangan mendadak terjadi pada Medusa.
"Argh … Ta-tanganku!" Medusa terkejut melihat tangannya yang berubah jadi ular kini sudah terpotong. Tangannya yang terjatuh itu berubah menjadi ular-ular kecil yang berserakan dan menghilang.
"Beraninya kau bocah!" Medusa menatap marah pada Shiryu yang ternyata telah memanggil guardian miliknya entah sejak kapan untuk menyerang Medusa.
"Jangan … Menganggap remeh kami!" kata Shiryu yang kini sudah berdiri sambil bersiaga meski kondisinya tidak terlalu baik.
"Kalian semua … ! Aku tak akan pernah melupakan hal ini dan kalian akan membayarnya!" Medusa yang mengetahui tidak akan menang melawan Sakura dan yang lainnya secara bersamaan memutuskan untuk mundur. Sosoknya perlahan menghilang ke dalam dasar bumi.
Somewhere else ...
.
.
"Tolong … Siapapun yang di luar, kalau bisa mendengar tolong aku!" Sai berteriak sekuat tenaga, berharap ada seseorang di luar sana yang mendengar suaranya.
"Hello? Ada orang yah di dalam?" sapa seseorang dari luar yang ternyata mendengar teriakan Sai.
"Syu-syukurlah ada yang mendengarku! Iya, aku terjebak di dalam. Bisakah kau membuka pintu di luar? Kumohon, aku hampir kehabisan tenaga disini!" pinta Sai berkata lega, akhirnya ada juga orang yang lewat dan bisa membantunya.
Gadis yang berada di luar itu mencoba untuk melihat ke dalam siapa yang terjebak di dalam tempat itu. Mata merah gelapnya mencari-cari celah yang sekiranya bisa dia gunakan untuk mengintip. Tapi percuma karena tempat itu tertutup sangat rapat. Tak ada pilihan, dengan perlahan gadis itu membuka pintu tersebut.
"Hei … Lo kagak apa-apa?" tanya seorang cewek yang kini sedang menatap Sai dengan wajah cemas.
"Aku … Tidak apa-apa … " balas Sai yang malah pingsan di tempat karena sudah kehabisan tenaga.
"E-eh? Hei, bagun! Bangun!" teriak gadis itu mencoba membangunkan Sai yang kini pingsan dipangkuannya.
.
~o0o~
.
"Joker, apa yang harus kita lakukan sekarang?" tanya Sakura yang mencemaskan keadaan Ino, Asakura dan Queen Marie yang kini berubah menjadi batu.
"Tak ada cara lain selain meminta penawarnya pada Medusa" balas Joker dengan kata lain mereka harus berhadapan kembali dengan Medusa.
"Tapi kita tidak tau kemana Medusa pergi, kan? Kalau sampai terlalu lama dalam kondisi tubuh membatu seperti itu, mereka semua bisa mati!" samber Cho yang sudah takut duluan.
"Medusa pasti kembali ke sarangnya" kata Arkhan dengan yakin.
"Jangan khawatir, aku tau letak sarang Medusa, tapi … Butuh perjalanan yang cukup jauh dari sini." Timpal Shun yang sepertinya sangat hapal dengan lokasi-lokasi seperti itu.
"Kita tak bisa mengulur waktu untuk pergi ke tempat Medusa" kata Joker yang kelihatannya dia sama sekali tidak mau ikut campur dalam urusan ini. Saat ini tujuannya adalah menyelesaikan misi lainnya dengan segera.
"Tapi kita juga tak bisa mengabaikan mereka!" balas Sakura secara reflek setengah membentak Joker. Dia benar-benar tak habis pikir, apakah Joker sama sekali tidak memiliki toleransi.
"Yang dibilang Joker itu benar, Sakura. Kita tak bisa membuang waktu … " kata Naruto di luar dugaan menyetujui perkataan Joker.
"Naruto … Kau sama saja dengan Joker!" Sakura benar-benar tak percaya kalau Naruto bisa berpikir demikian.
"Perjalanan untuk ke tempat Medusa itu pasti cukup jauh dan akan memakan waktu! Kita tak bisa berlama-lama seperti itu, Sakura. Karena … Karena Sasuke dan Gaara menunggu kita! Kita tidak tau bagaimana keadaan mereka berdua! Semakin lama kita mengulur waktu, Sasuke dan Gaara semakin terancanm!" Naruto langsung mengeluarkan semua isi kepalanya, dia tau mungkin Sakura sangat membenci perkataannya saat ini, tapi dia hanya tak mau terjadi hal yang buruk pada Sasuke dan Gaara. Karena dia sendiri tidak tau bagaimana keadaan kedua temannya itu, dia takut kalau semakin mereka mengulur waktu akan semakin sulit untuk menemukan Sasuke dan Gaara.
"Kalian berdua hentikan! Ini bukan saatnya bertengkar!" Neji berusaha menengahi pertengkaran antara Sakura dan Naruto.
"Itu benar. Tenang saja Sakura, kita bisa membagi tim. Bukankah jumlah kita banyak?" Shikamaru ikut menimpali dengan santai.
"Begini saja, biar aku yang pergi dengan Arkhan ke tempat Medusa" Shun ikut mencoba mencairkan suasana.
"Gue ikut! Gue harus menolong Asakura … Jadi gue harus ikut!" sambar Shiryu dengan cepat begitu mendengar kalau Shun dan Arkhan akan pergi mencari Medusa.
"Shiryu kau sedang terluka dan terkena racun … Jangan memaksakan diri." Kata Chouji yang cemas dengan keadaan Shiryu yang bisa dibilang dalam kondisi yang tak baik itu.
"Gue gak apa-apa … Gue harus pergi … Harus … " balas Shiryu ngotot masih kukuh ingin ikut bersama Shun.
"Aku juga ikut!" timpal Cho sambil melirik Shiryu.
"Kami juga ikut!" ucap Yumiko dan Shina secara berbarengan.
"Wah, cewek-cewek pada ikut semua nih! Kalau gitu, gue juga ikutan!" samber Reika yang langsung berdiri di tengah-tengah antara Yumiko dan Shina sambil merangkul bahu kedua gadis itu.
"Sudah-sudah, jangan banyak-banyak kalau mau pergi. Kalian itu mau menghadapi Medusa, bukan pergi piknik!" kata Hery sambil geleng-geleng melihat mereka yang mau pergi sambil senyum-senyum gaje.
"Siap pak!" sahut Yumiko, Shina dan Reika sambil memberi hormat ke Hery.
"Kita berangkat sekarang" kata Shun yang memutuskan untuk segera berangkat.
Heroes Village ...
.
.
"Hmm … Ah! Di-dimana ini?" tanya Sai kebingungan begitu sadar dari pingsannya.
"Hei, tenanglah! Jangan tegang begitu!" samber seorang cewek berambut panjang warna ungu gelap yang kini duduk di sebelah Sai.
"Dimana ini? Dan, lo siapa?" Sai kembali mengulangi pertanyaannya dan kali ini dia dapat bersikap jauh lebih tenang dari sebelumnya.
"Kita berada di Heroes Village! Dan kenalkan namaku Kyoko Takerumi, panggil aku Kyoko!" jawab gadis itu memberitahu keberadaan mereka sekarang sekaligus memperkenalkan diri kepada Sai.
"Begitu ya … Terima kasih ya, karena sudah menolongku tadi, tapi aku harus cepat pergi dari sini." Kata Sai sambil setengah tergesa berusaha bangkit dari tempat tidurnya.
"Eh, jangan dulu. Kau masih lemah! Kau butuh istirahat minimal seharian penuh untuk memulihkan kekuatanmu!" balas Kyoko yang mencegah Sai keluar dari tempat tidurnya.
"Tapi aku harus cepat mencari teman-temanku, ada hal penting yang harus kusampaikan pada mereka, juga memberitahu Joker kalau dikubunya ada mata-mata" Sai bersikeras untuk tetap berdiri sambil berbicara mengenai mata-mata yang berada dikubu Joker yang ternyata adalah Kabuto. Selain itu mereka perlu mewaspadai Orochimaru dan mereka semua harus segera tau akan hal itu.
"Kau bilang apa barusan? Joker? Maksudmu NPC rahasia itu? Benarkah?" tanya Kyoko yang berubah menjadi antusias saat dia mendengar nama Joker disebut oleh Sai.
"I-iya, memangnya kenapa?" tanya Sai sedikit heran dengan sikap Kyoko yang kini berubah seperti seorang gadis berumur lima tahun yang sedang memohon minta dibelikan permen.
"Kalau begitu ayo cepat kita pergi menemui Joker!" Kyoko dengan cepat malah menyeret Sai yang masih duduk di atas kasurnya, membuat pemuda pucat itu terjatuh.
"Aw! Hey, hati-hati! Aku kan masih belum pulih benar!" giliran Sai yang sekarang protes gara-gara diseret Kyoko.
"Maaf tidak sengaja!" balas Kyoko sambil menghampiri Sai dan membantunya untuk berdiri. "Ayo kita pergi!" sambungnya lagi sambil mengulurkan tangan kepada Sai.
.
~o0o~
.
"Shun, kita akan pergi kemana?" tanya Cho yang penasaran tepatnya mereka akan pergi kemana dan bagaimana.
"Tempat Medusa berada di South west dari Illusion forest" jawab Shun membicarakan arah tujuan mereka.
"Tapi kenapa kita malah menuju South east?" tanya Reika dengan heran karena mereka berjalan ke arah yang berlawanan dari yang dikatakan Shun.
"Untuk sampai ke tempat Medusa tidak mudah. Hutan dimana Medusa berada ditumbuhi pohon-pohon beracun dan ribuan ular berbisa, jadi kalau langsung masuk dari depan hutannya kita pasti celaka. Satu-satunya cara untuk masuk adalah lewat atas." Shun menceritakan sedikit kondisi dari hutan dimana Medusa berdiam.
"Lewat atas? Maksud lo kita harus terbang gitu?" Shina malah kayaknya semangat banget, dari dulu dia emang pengen banget terbang tapi gak kesampean.
"Hahaha kau bermimpi Shina! Kita gak punya sayap, mana mungkin bisa terbang!" samber Reika sedikit mentertawakan tingkah Shina yang berubah jadi kekanak-kanakan.
"Shina benar kita akan terbang" jawaban Shun barusan membuat Shina bersorak girang dan membuat Reika melotot horror.
"Lo serius? Tapi gimana caranya?" Reika nanya sekali lagi ke Shun untuk memastikan pendengarannya.
"Makanya, kita akan meminjam salah satu naga terbang milik seorang raja di Warrior kingdom. Untuk sampai kesana kita harus melewati Dragon cave yang ada di south east dari Illusion forest." Balas Shun menjelaskan alasannya mengapa mereka pergi ke South east.
"Wah, bakalan lama ya? Kira-kira butuh waktu berapa lama untuk sampai ke goa itu?" tanya Yumiko yang sepertinya gak mau lama-lama berjalan menelusuri hutan.
"Kalau kita berjalan dengan kecepatan seperti ini kita akan sampai besok pagi di goa itu" jawab Shun sambil mengira-ngira.
Queen heart castle ...
.
.
"Kita akan kembali melanjutkan perjalanan kita besok" kata Joker yang kemudian pergi tanpa mau mendengar protes dari Sakura.
"Si Joker itu … Aku tak mungkin bisa pergi melihat keadaan yang lain seperti ini … " Sakura kembali menatap Ino, Asakura dan Queen Marie.
"Pergilah Sakura … Biar gue yang jagain mereka … " kata Naruto sambil berdiri di sebelah Sakura.
"Naruto … Tapi gue juga pengen … " Sakura sesaat menatap Naruto, dapat terlihat keseriusan yang terpancar dari mata Naruto. Sakura kembali menatap Ino dan yang lain.
"Sakura gue tau lo khawatir, tapi lo harus tetep pergi. Inget lo adalah harapan kami semua. Nyawa kami semua bergantung padamu Sakura! Lo gak boleh mengulur-ngulur waktu disini, gue janji bakal jagain mereka." Naruto mencoba untuk menyemangati Sakura agar gadis itu tetap maju untuk menyelesaikan semua misi apapun yang terjadi.
"Percayakan mereka pada kami … Saya juga akan membantu Naruto" samber Alice secara tiba-tiba yang ikut ke dalam pembicaraan.
'Naruto benar … Aku tak boleh buang-buang waktu disini … Mereka semua tergantung pada keberhasilan semua misi ini … Aku harus percaya padanya … ' batin Sakura yang sepertinya sudah mulai menguat.
"Baiklah Naruto, maaf kalau aku sempat meragukanmu tadi … Aku titip Ino dan yang lainnya padamu ya, nanti … " balas Sakura dengan semangat yang sudah kembali muncul di dalam dirinya.
"Tentu saja! Sekarang kau istirahatlah!" Naruto ikut tersenyum senang, tawa renyahnya keluar setelah dia melihat Sakura kembali bersemangat. Dia lalu menyuruh Sakura untuk istrahat agar besok pagi dia tidak kelelahan.
Game Master place ...
.
.
"Aoki, bagaimana keadaanmu?" tanya Shin dengan cemas begitu dilihatnya Aoki setengah siuman pagi itu.
"Aku tidak apa-apa Shin … " balas Aoki dengan sedikit senyum di wajahnya.
"Shin, Game Master ingin bicara padamu" tiba-tiba muncul Shimizu yang masuk ke dalam ruangan Aoki.
"Game Master … ?" tampak Shin terdiam bingung. Ini pertama kalinya dia akan menghadapi Game Master secara langsung.
'Ini kesempatan gue buat mengungkap jati diri Game master … ' Shin berpikir dalam hati kalau ini bisa menjadi peluang yang dia manfaatkan untuk mengetahui identitas Game master.
"Baiklah, aku akan menemuinya" jawab Shin yang bersedia untuk menemui Game master.
"Aku ikut, Shin." Sambar Aoki langsung yang menginginkan untuk ikut bersama Shin, dia hanya tak ingin terjadi sesuatu nantinya.
"Tapi keadaanmu … " tampak Shin ragu melihat Aoki yang masih lemah.
"Aku sudah tidak apa-apa, ijinkan aku ikut." Kata Aoki dengan mantap yang kini sudah berdiri tegap.
"Sigh … Baiklah kau ikut denganku" akhirnya Shin mengalah, membiarkan Aoki untuk ikut dengannya.
"Kalau begitu ikuti aku" kata Shimizu meminta Shin dan Aoki untuk mengikutinya.
Apa yang di inginkan Game master dari Shin? Bagaimana perjalanan Shun dan kawan-kawan?.
TBC …
Author : Sepertinya saia memunculkan satu OC baru disini. Dan mulai dari sini saia akan memulai memakai nama-nama kota yang dikirimkan teman-teman, tapi mungkin akan ada sedikit perubahan. Bagi yang masih mau memberi saran soal nama-nama tempat silahkan, atau saran serta kritik silahkan. Tapi kalau mau memberi kritik tolong jangan OUT OF TOPIC, karena saia juga tidak menerima kritikan SAMPAH. Jadi tolong sebelum mengkritik pakai otak duluan jangan napsunya. Mungkin chapter depan saia akan membongkar satu rahasia.
Untuk para OC yang masuk dan belum punya skill bisa dikirim skill-nya lewat PM atau langsung ke review, karena tanpa adanya skill saia tidak bisa membuat adegan mereka bertarung (kemungkinan besar akan game over lebih cepat). Ne, maaf kalau ada missing typos, karena sangat sulit bagi saia sebenarnya untuk mengetik dalam keadaan seperti ini... I hope everyone like this chapter.
.
.
HAPPY READ^^V.
