PARADISE
Part XXVIII
Warning: Lots of flashback. Kalimat yang dicetak miring adalah bagian flashback dari chapter-chapter sebelumnya.
.
"Cinta Tak Pernah Tepat Waktu"
Wu Yifan duduk termangu di sebuah bangku taman yang masih basah akibat hujan yang turun sebelumnya. Laki-laki yang hampir berusia 30 tahun itu kemudian mendongakkan kepalanya, sesekali kedua matanya mengerjap ketika angin yang berhembus menggoyangkan dedaunan hingga tetes-tetes air menjatuhi wajahnya. Ia sesekali menghirup nafas dalam-dalam, mencium bau tanah yang basah, untuk melegakan dadanya yang terasa begitu sempit.
Langit malam itu kelabu. Mendung yang menggumpal menutupi benda-benda langit yang biasanya bersinar. Yifan kecil pernah membaca sebuah buku astronomi yang menampakkan isi langit hingga membuatnya jatuh cinta pada galaksi. Gugusan planet yang begitu luas di angkasa itu membuatnya merasa kecil, tidak terlihat, tapi ada.
Di antara benda-benda langit itu, ada bintang. Penelitian mengatakan bahwa bintang yang berbinar di langit sebenarnya adalah pantulan dari cahaya jutaan tahun silam. Maka ketika kita memandang bintang, kita sedang menatap masa lalu.
Memangnya apa yang tersisa dari masa yang sudah berlalu itu? Selain flashback dari kejadian-kejadian menyakitkan yang seandainya kita punya kuasa atasnya, ingin rasanya kita putar ulang kembali dan melakukan hal yang benar. Tapi tahu apa kita tentang kebenaran kan?
Sementara itu, ketika kita terjebak di masa lalu, waktu seolah tidak peduli dan tetap berjalan meninggalkan siapa pun yang memilih untuk berhenti di satu tempat. Yifan, adalah salah satunya. Laki-laki itu bisa saja memilih untuk melanjutkan hidupnya, mengubur ingatan-ingatan yang menyakitinya, dan menjalani masa depan tanpa beban apapun. Tapi Yifan memilih untuk menahan dirinya pada ingatan ketika ia tujuh belas tahun. Ketika ia melaluinya bersama seseorang yang mengubah hidupnya hingga seperti ini.
Yifan pikir ia bisa menyelamatkan Chanyeol dari apapun yang sedang memangsanya kala itu. Tetapi bagaimana jika kala itu justru Yifan yang merasa perlu diselamatkan? Bagaimana jika karena itulah Yifan membuka diri pada pemuda itu, menyerahkan jiwanya secara utuh begitu saja. Bagaimana jika perasaan cinta yang Yifan kala itu dan hingga saat ini rasakan ilusi dari rasa kesepian yang selama ini ia rasakan? Bagaimana jika ia hanya memanfaatkan Chanyeol hingga tidak pernah menyadari perbedaannya?
Udara malam itu membuat dada Yifan semakin sesak. Dengan jemari yang bergetar, Yifan menyelipkan sebatang rokok di antara bibirnya dan menyalakan daun tembakau kering itu hingga asapnya mengepul di sekitar wajahnya.
.
.
.
"Rasanya seperti kembali ke rumah." Ujar Chanyeol ketika ia ke luar dari kamar mandi setelah mengganti pakaiannya dengan pakaian yang disediakan rumah sakit.
Baekhyun menarik kedua sudut bibirnya dan menata beberapa barang yang akan Chanyeol butuhkan selama ia dirawat di rumah sakit.
"Kau hanya akan menginap beberapa hari sampai Dokter Kim mengabulkan permohonan rawat jalanmu." Kata Baekhyun berusaha menghibur.
Chanyeol menggigit bibir bawahnya ketika ia terlihat ragu-ragu untuk mengungkapkan isi kepalanya.
"Kau sebenarnya tidak perlu repot-repot untuk membawakan barang-barangku dan mengurusku di sini." Kata Chanyeol.
Baekhyun menghentikan kegiatannya dan berdiri di hadapan Chanyeol yang duduk di tepi ranjang.
"Ini adalah salah satu hal yang bisa aku lakukan untukmu. Kau tidak perlu khawatir." Kata Baekhyun sambil mengusap pipi kiri Chanyeol pelan.
"Aku tidak tahu bagaimana harus membalasmu nantinya."
"Kau tidak perlu—"
"Dan mengenai hubungan kita yang kau pertanyakan tempo hari.." Chanyeol melepaskan tangan Baekhyun dari pipinya untuk ia remas pelan.
Baekhyun memiliki jemari lentik yang sungguh kontras dengan milik Chanyeol.
"..Bukannya aku membencimu, tapi aku sedang bingung sekarang. Maksudku, aku sedang berada di keadaan di mana aku bahkan tidak bisa mengingat hal-hal yang pernah terjadi dalam hidupku sebelumnya, dan aku pikir aku tidak bisa memutuskan apakah aku siap untuk menjalin hubungan dengan seseorang.."
Chanyeol mendongakkan kepalanya yang semula tertunduk dan menatap Baekhyun. Dokter itu lagi-lagi menunjukkan senyum simpulnya.
"Aku tahu." Baekhyun menarik bahu Chanyeol dan memeluk pemuda itu.
"Kita tidak perlu berada dalam hubungan apapun saat ini."
Baekhyun mengeratkan pelukannya ketika nyeri yang ia rasakan di dadanya semakin menjadi. Dan entah kenapa, hal ini rasanya sudah lebih dari cukup baginya.
.
.
.
Luhan menghela nafas ketika ia pulang ke apartemennya dan mendapati Yifan sedang duduk di meja makannya menenggak sekaleng bir. Laki-laki itu melonggarkan dasinya sebelum ikut duduk di hadapan sahabatnya yang sudah beberapa hari ini menempati kamar tamu di apartemen yang kantor sediakan untuknya.
"Apa kau akan melakukan hal ini selamanya?" Tanya Luhan.
Entah merujuk pada apa. Kebiasaan buruk Yifan yang tidak bisa lepas dari alkohol dan rokok, atau sikapnya. Dua-duanya hampir tidak ada bedanya. Beracun.
"Aku akan kembali ke Nanjing minggu depan." Kata Yifan seolah menjawab pertanyaan Luhan.
Luhan menatap tajam ke arah Yifan. Ia tiba-tiba mencibir.
"Seperti ini saja? Setelah menunggu selama beberapa tahun dan kau akan menyerah begitu saja? Ku dengar Chanyeol di rawat di rumah sakit. Apa terjadi sesuatu ketika kalian bertemu?" Tanya Luhan. Pria itu bangkit dan meraih air mineral dari kulkas.
Yifan mengangkat bahunya. "Sudah bukan urusanku lagi. Aku sudah tidak peduli."
Luhan mendengus. Omong kosong. Luhan tidak bisa melewatkan bagaimana tatapan mata Yifan ketika mendengar Chanyeol di rawat di rumah sakit.
Kini giliran Yifan yang bangkit untuk menghindari topik pembicaraan Luhan yang saat ini sedang tidak ia inginkan.
"Chanyeol dirawat di pusat rehabilitasi kejiwaan di Seoul kalau kau ingin tahu." Kata Luhan bersamaan ketika Yifan menutup pintu kamarnya.
.
.
.
Chanyeol duduk dengan bersandar pada sebuah kursi bersofa yang berada di ruangan konsultasi Dokter Kim. Si pemilik ruangan itu sedang menyiapkan beberapa hal yang ia butuhkan untuk sesi itu.
"Ini akan membantumu sedikit rileks." Kata Dokter Kim sembari menyuntikkan sebuah cairan pada perpotongan lengan Chanyeol.
Pemuda itu mengernyit ketika jarum itu menembus kulitnya. Tak berapa lama kemudian, ia memang merasa lebih tenang dan tidak lagi gugup untuk memulai sesi dengan Dokter Kim.
Ini adalah bagian dari terapi yang harus Chanyeol hadapi untuk mengembalikan ingatannya sebelum terjadi kecelakaan. Pemuda itu memutuskan bahwa apapun yang terjadi di masa lalunya, ia akan siap menerima ingatan itu kembali.
"Kau siap?" Tanya Dokter Kim.
Chanyeol mengangguk.
Dokter Kim menekan bolpoinnya dan menuliskan sesuatu pada catatannya. Meskipun sudah terpasang kamera yang akan merekam sesi itu, sang Dokter tetap mempersiapkan diri dengan hal-hal yang perlu ia catat dan garis bawahi untuk perkembangan sesi selanjutnya.
"Namamu?" Dokter Kim memulai.
"Park Chanyeol."
"Usiamu?"
"28 tahun."
"Pendidikanmu?"
"Aku menyelesaikan program kesetaraan tingkat SMA dan melanjutkan kuliah di Seoul National University dalam program tertutup."
Dokter Kim mengangguk. "Aku sekarang punya tiga pilihan. Kau bisa memilih salah satu untuk memulai ingatanmu di bagian itu."
Chanyeol menatap laki-laki paruh baya itu.
"Keluarga, teman, atau kehidupan pribadimu."
Tanpa perlu berpikir lama Chanyeol menjawab, "Keluarga."
"Sekarang tutup matamu dan usahakan untuk membuat otakmu mengingat." Kata Dokter Kim sambil menuliskan sesuatu di catatannya.
Chanyeol melakukan seperti apa yang dokter itu perintahkan.
"Tapi ingat Chanyeol, karena di sini tidak ada yang bisa memvalidasi ingatanmu, aku tidak bisa memastikan bahwa apa yang akan muncul di kepalamu setelah ini adalah kejadian nyata atau hanya sekadar imajinasimu." Jelas Dokter Kim.
"Siapa nama Ayahmu?" Tanya Dokter Kim.
Chanyeol terdiam. Ia tahu nama Ayah dan Ibunya ketika Pengacara Kangin menjelaskan sedikit mengenai keadaannya beberapa tahun lalu. Namun pemuda itu tiba-tiba mengernyit.
"Ketika umurmu 6 atau 7 tahun, permainan apa yang sering kau lakukan bersama Ayahmu?" Tanya Dokter Kim lagi.
Chanyeol membayangkan dirinya menjadi anak-anak kembali. Kosong. Ia tidak tahu seperti apa penampilan atau kebiasaannya ketika masih kecil. Tapi Chanyeol terus mencari.
Sebuah kue ulang tahun. Chanyeol menyatukan kedua alisnya ketika ia melihat sepasang tangan kecil sedang menghias kue bolu berbentuk kotak menggunakan krim berwarna putih. Potongan buah strawberry ia susun di setiap ujungnya.
Tapi kemudian tubuh pemuda itu bergetar. Ia tiba-tiba berada di sebuah rumah. Pemilik tangan kecil tadi duduk meringkuk di atas sebuah sofa ketika samar-samar terdengar suara yang menghardiknya. Anak kecil itu menangis dalam diam ketika kue ulang tahunnya berakhir di tempat sampah.
"Ada yang muncul?"
Chanyeol membuka matanya ketika keringat dingin menuruni dahinya. Dokter Kim memandangnya dengan tangan yang tidak berhenti menulis.
Chanyeol kemudian menggeleng dan menutup kembali matanya.
"Aku mungkin akan menggunakan metode hipnotis untuk sesi selanjutnya kalau kau tidak mengungkapkan apa yang terjadi di kepalamu. Aku tidak bisa melakukannya sendiri, Chanyeol." Ujar Dokter Kim ketika nafas Chanyeol sedikit terengah.
"Aku tidak yakin. Aku melihat diriku sedang dimarahi oleh Ayahku." Kata Chanyeol.
"Kenapa dia memarahimu?"
Chanyeol menggeleng. "Aku tidak tahu."
"Kau ingat rumahmu? Maksudku, rumah yang kau tinggali dulu."
Chanyeol pernah menyinggung mengenai rumah yang dulu ia tinggali pada Pengacara Kangin. Laki-laki itu mengatakan bahwa ia sebaiknya tidak tahu daripada hal itu mengganggu pikirannya. Chanyeol menurut dan benar-benar melupakan hal itu karena ia tidak pernah tahu apa yang terjadi di tempat itu.
Sesi terapi itu berjalan hingga satu jam kemudian. Tubuh Chanyeol sudah basah oleh keringat meskipun Dokter Kim sudah mengatur suhu ruangan itu agar menjadi paling rendah. Tenaga pemuda itu seolah habis ketika Dokter Kim mengatakan bahwa ia akan melanjutkan sesi berikutnya minggu depan.
Perawat mengantarnya kembali ke kamar perawatannya siang itu. Chanyeol menatap ke arah kaca jendela yang menghubungkan balkon dan keadaan luar yang saat itu sedang hujan. Pemuda itu kemudian bangkit dari atas tempat tidurnya dan berjalan di sisi jendela untuk melihat keadaan di luar.
Rintik hujan yang berjatuhan dari langit membuat jalanan dan semua benda di sekitarnya basah. Jalanan yang terlihat lengang itu hanya dilewati oleh satu atau dua kendaraan. Letak ruangannya yang berada di lantai dua membuat Chanyeol bisa leluasa memandang pemandangan di luar. Namun hal itu justru membatasi jarak pandangnya.
Kedua manik hitam milik Chanyeol menangkap sesosok laki-laki yang berdiri di seberang jalan gedung rehabilitasi itu. Laki-laki itu tampak berlindung di sebuah pohon maple rindang yang daun-daunnya sudah mulai berwarna kecokelatan pada musim gugur.
Chanyeol tiba-tiba mencengkeram sisi jendela kaca di hadapannya ketika sakit kepala yang luar biasa menyerangnya. Pemuda itu memejamkan matanya dan berusaha meredam rasa sakit itu.
"Aku sudah di depan rumahmu."
Chanyeol menghentikkan langkah kakinya dan berdiri mematung. Detak jantungnya seketika berhenti tapi kemudian berdetak dengan lebih cepat.
"What?" Chanyeol segera berlari ke arah balkon yang terletak di samping jendela kamarnya. Dan benar saja, ia melihat Yifan berdiri di depan rumahnya sambil melambai ke arahnya.
"Cepat keluar atau aku akan berteriak memanggilmu dari sini." Ancam Yifan.
"Kau gila!" Tapi entah kenapa Chanyeol tidak bisa menghentikan sudut bibirnya yang tertarik membentuk senyuman.
Setelah berhasil membuka pintu utama dan memastikan satpam yang biasa berjaga di dekat gerbang sedang lengah, Chanyeol membuka pintu gerbang mansion yang ia tinggali selama enam belas tahun itu. Ia melihat seorang pemuda berdiri di samping gerbang itu dengan kedua tangannya ke dalam saku jaketnya.
Chanyeol membuka matanya ketika ia belum sempat melihat wajah sosok pemuda di dalam ingatannya. Ia kemudian menatap sosok yang masih berdiri di tempatnya itu. Dengan tergopoh-gopoh dan jantung yang berdebar keras, Chanyeol berlari menuju pintu kamarnya dan membukanya ketika ia dihadang seorang perawat yang berjaga di luar.
"Ada seseorang berdiri di depan. Aku ingin melihatnya." Kata Chanyeol dengan terburu-buru dan berusaha meloloskan diri dari perawat yang menahan tangannya itu.
"Maaf, Tuan. Anda tidak bisa meninggalkan ruangan Anda." Cegah perawat itu.
Chanyeol yang tidak peduli menampik cengkeraman tangan di lengannya dan berlari sekuat tenaga untuk mengejar sosok itu. Namun ketika Chanyeol sampai di depan lift yang akan membawanya ke lantai satu, seorang perawat berhasil menahan lengannya lagi. Chanyeol terus berontak dan berusaha melepaskan diri ketika dada Chanyeol tiba-tiba kebas dan ia seperti tertohok.
Tubuh pemuda itu tiba-tiba lemas hingga ia jatuh dengan tubuh meringkuk. Ia seperti merasakan tubuhnya sekarang sedang dipukuli oleh beberapa orang sekaligus. Chanyeol mengerang dan memeluk tubuhnya demi menghentikan pukulan-pukulan tidak nyata yang diterimanya. Pemuda itu sempat melihat segerombolan pemuda berseragam SMA mengerumuni tubuhnya yang terkulai di lantai sebelum akhirnya ia tidak sadarkan diri.
.
.
Sementara itu Yifan yang pakaiannya sudah mulai basah akibat derasnya hujan siang itu memutuskan untuk berbalik arah dan kembali ke apartemen Luhan. Keberaniannya saat itu tidak cukup untuk membuat kakinya bergerak memasuki kompleks pusat rehabilitasi yang berada di depan matanya itu.
.
.
.
"Ku dengar kau pingsan setelah melakukan sesi dengan Dokter Kim beberapa hari yang lalu." Kata Baekhyun sambil meletakkan sebuah snack favorit Chanyeol.
Psikiater muda itu baru sempat mengunjungi Chanyeol mengingat jadwalnya sendiri yang begitu padat. Chanyeol hanya mengangkat bahunya.
"Dokter Kim pasti memberimu obat dengan dosis lebih tinggi. Tidak apa-apa. Kau melakukan tugasmu dengan baik." Kata Baekhyun sambil duduk di hadapan Chanyeol.
"Kau memberitahu Bibi Vic mengenai keadaanku?" Tanya Chanyeol ketika wanita yang merupakan mantan pengasuhnya itu mengunjunginya kemarin.
Baekhyun tersenyum. "Aku yakin pengacara Kangin yang melakukannya." Ujarnya.
Chanyeol mengangguk. Pemuda itu kemudian menatap ke arah Baekhyun yang saat ini memakai kemeja putih dengan lengan dilipat.
"Uh, aku hanya penasaran, kenapa aku tidak diizinkan keluar dari tempat ini?" Tanya Chanyeol.
Baekhyun mengernyit. "Maksudmu keluar untuk pulang atau keluar—"
"Aku melihat seseorang di luar." Potong Chanyeol.
Baekhyun menatap pemuda itu. "Dan aku ingin menemuinya." Lanjut Chanyeol.
Baekhyun menghirup nafas sebelum menahannya di dadanya. "Siapa?"
Chanyeol menggeleng. "Aku tidak tahu."
"Kenapa kau ingin menemuinya?" Tanya Baehyun lagi.
Chanyeol tertegun. Ia sendiri tidak mengerti kenapa ia begitu ingin menemui sosok itu padahal ia tidak mengenalinya. Ia bahkan tidak bisa melihat wajahnya dengan jelas siang itu mengingat jarak pandangnya yang terbatas ditambah keadaan saat itu yang sedang hujan.
"Aku tidak tahu." Bisik Chanyeol.
Baekhyun menghela nafas yang tadi sempat ditahannya. Ia melirik ke sebuah tas yang dibawanya. Laki-laki itu terlihat ragu-ragu sebelum mengeluarkan beberapa lembar kertas dari dalamnya.
"Pengacara Kim memberikan ini padaku. Ia ingin kau melihatnya." Baekhyun menyodorkan beberapa lembar kertas itu ke hadapan Chanyeol yang menerimanya dengan dahi mengerut.
Lembaran kertas itu berisi desain sampul depan dan belakang novel terjemahan yang akan diterbitkan oleh perusahaannya. Yang membuat hal itu cukup spesial adalah novel terjemahan itu merupakan proyek pertama di mana Chanyeol terlibat dalam pengambilan keputusan dan bahkan menemui penulisnya secara langsung.
Chanyeol tersenyum melihat hasil print yang didominasi warna biru langit itu. Pandangan mata pemuda itu tiba-tiba meredup ketika ia mengingat kembali pertemuannya dengan penulis itu.
"Aku tidak menyelesaikan pertemuanku bersama penulis ini dengan baik. Aku mengacaukannya." Ujar Chanyeol.
Entah kenapa Baekhyun merasa gugup saat itu. "Hal itu tidak bisa dihindari. Kau tidak bisa mencegah serangan hiperventilasi itu. Lagipula penulis itu sudah menyerahkan semuanya pada penerbit di China. Kau tidak perlu khawatir." Kata Baekhyun berusaha menghibur pemuda itu.
Chanyeol meraba nama Kris Wu yang ia yakin dicetak timbul pada hard cover novel itu nantinya. Ia menarik kedua sudut bibirnya lagi.
"Kau tahu apa jawaban penulis itu untuk pertanyaanku yang menanyakan nama Korea apa yang tepat untuk Pu Chanlie?" Kata Chanyeol.
Baekhyun hanya menggeleng. Chanyeol menatapnya dengan mata cemerlangnya.
"Park Chanyeol. Katanya nama korea untuk Pu Chanlie adalah Park Chanyeol."
Baekhyun merasakan nyeri ketika melihat lesung pipit di pipi Chanyeol mencekung ketika pemuda itu tersenyum.
Ia sudah tergoda untuk mengeluarkan jurnalnya dan menarik lipatan foto itu lagi ketika melihat pandangan Chanyeol kala itu. Ia tidak tahu sejarah seperti apa yang sudah Chanyeol dan Kris Wu atau Wu Yifan lalui bersama hingga semuanya terlihat begitu dramatis bagi Baekhyun.
"Kau sudah makan?" Chanyeol tiba-tiba mengalihkan pembicaraan dan meraih makanan yang Baekhyun bawakan untuknya.
Dokter itu mengangguk dan membiarkan Chanyeol menikmati makanannya sementara kepalanya terus dipenuhi dengan pertanyaan-pertanyaan yang ia tidak tahu harus tanyakan pada siapa.
.
.
.
Tap. Tap. Tap.
Suara langkah kaki yang berasal dari alas sepatu dan lantai yang beradu itu mengisi lorong apartemen lengang itu. Baekhyun memantapkan hatinya sekali lagi sebelum berhenti di depan pintu sebuah apartemen dan memencet belnya.
Pukul 10 malam bukanlah waktu yang wajar untuk bertandang ke rumah seseorang, tetapi Baekhyun tidak bisa menunggu lebih lama lagi. Beberapa menit kemudian pintu berbahan besi itu terbuka dan menampakkan sosok laki-laki bertubuh ramping dengan wajah kecil.
Baekhyun berusaha tersenyum untuk melenyapkan kecurigaan pada ekspresi wajah laki-laki itu.
"Maaf mengganggu seperti ini. Tapi apa benar Kris Wu tinggal di sini?" Kata Baekhyun tanpa berbasa-basi.
Laki-laki itu semakin memperdalam kerutan di dahinya ketika ia mengernyit.
"Kau pasti Luhan. Aku Baekhyun, uh, teman dekat Park Chanyeol." Baekhyun mengulurkan tangannya dan berjabat-tangan dengan laki-laki berkewarganegaraan China itu.
Pertanyaan Luhan akhirnya terjawab ketika ia merasa tidak asing dengan sosok di hadapannya itu.
"Ada perlu apa?" Tanya Luhan yang masih belum bisa menghilangkan kecurigaannya.
"Aku ingin berbicara sebentar dengannya kalau dia ada." Kata Baekhyun.
"Mengenai Chanyeol." Tambahnya ketika dirasanya Luhan sudah akan menolak kunjungan dadakannya itu.
Tanpa berkata apa-apa lagi Luhan mempersilahkan Baekhyun masuk ke dalam apartemennya. Ketika Baekhyun duduk di sofa ruang tamu, Luhan menggedor pintu kamar Yifan yang seharian ini tertutup rapat.
"Apa yang kau inginkan?" Teriak Yifan dari dalam kamarnya.
"Ada seseorang yang ingin menemuimu." Luhan menyahut menggunakan bahasa Mandarin.
Yifan mengernyit. "Siapa?" Ia tiba-tiba merasa gugup.
"Dia ingin berbicara padamu mengenai Chanyeol." Kata Luhan sambil sesekali melirik ke arah Baekhyun yang membisu di tempatnya duduk.
Luhan bisa mendengar Yifan mengumpat sebelum membuka pintu kamarnya. Penampilan pemuda itu terlihat begitu berantakan dengan bau asap rokok yang begitu kentara ketika ia hanya memakai sebuah kaos dan celana panjang.
Pandangan mata Yifan terjatuh pada sosok yang duduk di sofa ruang tamu itu. Ia melipat kedua tangannya di depan dada sebelum berjalan mendekat pada sosok itu.
"Siapa kau?" Tanya Yifan dengan bahasa Korea yang ketus.
Baekhyun bangkit dan mengulurkan tangannya. "Aku Byun Baekhyun. Aku teman dekat Chanyeol."
Yifan menahan diri untuk tidak mendengus ketika ia membalas jabatan tangan pemuda itu. "Kris Wu." Gumamnya.
"Aku yakin nama Wu Yifan terdengar lebih bagus." Kata Baekhyun sambil menjilat bibir tipisnya.
Yifan menatap tajam pada tamunya malam itu.
"Apa yang kau inginkan?" Tanya Yifan.
Baekhyun duduk kembali di tempatnya dan menatap Yifan dengan tidak kalah tajamnya.
"Chanyeol sedang dirawat di sebuah pusat rehabilitasi kejiwaan untuk mengembalikan ingatannya yang hilang setelah kecelakaan sekaligus melakukan terapi untuk gangguan hiperventilasinya." Ungkap Baekhyun yang malam itu tidak berniat untuk berbasa-basi.
Dokter muda itu lagi-lagi menjilat bibir tipisnya untuk menunggu reaksi Yifan atas penjelasannya mengenai keadaan Chanyeol. Namun Yifan tetap membungkam.
"Lalu apa hubungannya denganku?" Tanya Yifan akhirnya.
Luhan yang menyimak pembicaraan dua orang itu dari meja makan hanya bisa menghela nafas panjang. Ia tidak lagi mengerti dengan apa yang ada di kepala Yifan sekarang. Luhan tahu betul bagaimana menderitanya Yifan hanya karena memikirkan Chanyeol, namun sikap yang Yifan tunjukkan sungguh bertolak belakang.
"Apa kalian pernah mengenal sebelum ini?" Tanya Baekhyun. Pemuda itu tanpa sadar mengepalkan kedua tangannya yang ia letakkan di atas pahanya.
Yifan tidak langsung menjawab. Ia masih siap dengan pertahanannya.
Seperti bisa membaca sikap Yifan yang begitu dingin padanya, dan Baekhyun tidak ingin membuang lebih banyak waktu, ia mengeluarkan jurnal dari dalam tasnya dan mengeluarkan selembar foto yang ia cetak bertahun-tahun yang lalu itu.
"Aku yakin foto ini diambil ketika kalian SMA?" Baekhyun menyodorkan foto itu ke hadapan Yifan.
Pemuda itu awalnya enggan melihat foto itu, namun ketika sudut matanya menangkap foto yang tidak asing itu, Yifan akhirnya menyerah.
"Darimana kau mendapatkannya?" Tanya Yifan dengan pandangan menyelidik.
"Aku menghabiskan masa Koasku dengan merawat Chanyeol. Aku sedikit mencari tahu tentang masa lalunya dan foto ini muncul."
Yifan menatap foto itu dan otaknya memutar kembali memori tentang bagaimana ia bisa berfoto dengan Chanyeol. Satu-satunya foto yang mereka ambil dalam keadaan mabuk ketika Yifan menyetujui ajakan Chanyeol untuk pergi ke sebuah klub malam pada awal kedekatan mereka.
"Serangan hiperventilasi Chanyeol berhubungan dengan kondisi psikologisnya. Ia tidak selalu mendapatkan serangan itu dalam rentan waktu tertentu seperti penyakit kebanyakan, ia hanya akan mengalaminya jika ada sesuatu yang memancing kegelisahannya."
Baekhyun menyimpan kembali foto itu ke dalam jurnalnya. Namun tidak seperti biasanya di mana ia melipat rapi foto itu sebelum menyelipkannya di bagian sampul, kali ini Baekhyun hanya menyelipkan foto itu di antara lembaran halamannya.
"Serangan hiperventilasi pertama Chanyeol adalah ketika aku menyebutkan namamu pada sebuah sesi. Dan yang paling baru ketika ia bertemu denganmu di kafe itu."
Kali ini Yifan tidak bisa menyembunyikan perasaannya. Pemuda itu terus menanti Baekhyun untuk melanjutkan kalimatnya.
"Aku bertanya-tanya apakah mungkin kau mempunyai peran besar dalam hidup Chanyeol sebelum kecelakaan hingga kau bisa mempengaruhinya seperti itu. Kemudian kau yang menulis novel tentangnya..." Baekhyun meregangkan telapak tangannya yang sedari tadi ia kepalkan.
"Apa sebenarnya tujuanmu ke mari?" Tanya Yifan.
Hingga detik ini motif Baekhyun masih belum pemuda itu mengerti.
"Aku hanya ingin menjawab pertanyaan-pertanyaan yang terus memenuhi kepalaku. Juga untuk melihat apakah kau cukup peduli pada Chanyeol, karena jika tidak, maka aku tidak akan menyerahkan posisiku di sampingnya." Kata Baekhyun.
Baekhyun tahu ia telah melampaui batas, ia bahkan tidak mengerti kenapa ia mengatakan hal itu pada Yifan. Apa ia iri karena Yifan pernah menjadi bagian penting dalam hidup Chanyeol?
Baekhyun kemudian berpamitan setelah ia sadar bahwa pertemuannya dengan Yifan kali ini tidak menghasilkan apapun.
Sementara itu Yifan hanya mendengus mendengar kalimat yang Baekyun lontarkan. Entah mengapa ia merasa semua ini terasa semakin konyol. Memangnya apa yang orang-orang itu tahu tentang perasaannya pada Chanyeol?
Yifan membanting pintu kamar yang ia tempati selama tinggal di apartemen Luhan. Pemuda itu kemudian meraih sebatang rokok dan menyalakannya. Ia tiba-tiba menghela nafas dan tersenyum bahkan tertawa. Lucu sekali rasanya mendengar pendapat orang lain tentangnya berdasarkan dari apa yang mereka lihat.
Mata pemuda itu kemudian berubah merah ketika cairan panas menggenang di pelupuk matanya. Yifan buru-buru menyekanya agar air mata itu tidak jatuh di pipinya. Rokok itu kembali ia selipkan di antara bibirnya sebelum menghisapnya dalam.
Yifan meraih ponselnya dan dengan tekad yang bulat ia membuka mesin pencarian pada benda itu sebelum mengetikkan sesuatu.
Nama Park Chanyeol dan tanggal di mana ia mengalami kecelakaan di Seoul menjadi kata kunci yang Yifan ketikkan malam itu. Belasan artikel berita yang membahas mengenai kecelakaan itu muncul di halaman utama mesin pencarian itu. Selama ini Yifan menahan diri untuk tidak mencari tahu mengenai kecelakaan yang Chanyeol alami karena ia tidak berani melihat kemungkinan-kemungkinan yang bisa terjadi pada pemuda itu.
Dan setelah semua kekacauan yang terjadi di antara mereka, bagaimanakah mereka akan menyelamatkan satu sama lain? Atau setidaknya, bagaimana mereka akan memperbaikinya?
.
.
.
"Aku punya anjing?"
"Menurutmu begitu?"
Chanyeol meraih selembar tissue dan mengelap dahinya ketika ia baru saja menyelesaikan sesi keduanya dengan Dokter Kim. Kali ini gambaran yang melintas di kepala pemuda itu terlihat lebih jelas dan terasa begitu nyata hingga Chanyeol yakin gambaran-gambaran itu adalah bagian dari ingatannya.
"Kau sudah berkembang cukup baik. Terlalu baik, malah. Aku yakin kau sudah berusaha keras." Ujar Dokter Kim sambil memeriksa kembali catatannya.
"Aku mungkin akan menyetujui permohonanmu untuk rawat jalan mengingat kau sudah cukup stabil. Apa kau siap untuk kembali ke rumah besok?"
Chanyeol menarik kedua sudut bibirnya mendengar pernyataan Dokter spesialis kejiwaan itu.
"Uh, sebenarnya ada yang ingin aku tanyakan." Kata Chanyeol tiba-tiba.
Pemuda itu membetulkan posisi duduknya agar lebih tegap dan menatap Dokter Kim yang menunggu pertanyaannya.
"Pada sesi tadi, aku beberapa kali melihat gambaran di mana aku menghabiskan sebagian waktuku dengan seseorang. Aku bisa melihat dengan jelas postur tubuhnya, jenis pakaian yang ia kenakan, aku bahkan bisa melihat ujung kukunya. Tetapi aku tidak pernah berhasil melihat wajahnya. Apakah itu wajar?" Ungkap Chanyeol yang membuat Dokter Kim mengerutkan dahinya.
Laki-laki itu menekan kembali bolpoinnya dan menuliskan sesuatu pada catatannya.
"Gambaran seperti apa yang kau lihat dengan orang itu?" Tanya Dokter Kim.
Chanyeol membasahi bibirnya yang kering sebelum menjawab.
"Aku bermain dengannya, berjalan dengannya, aku uh, bahkan, melakukan beberapa hal yang cukup intim dengannya." Jelas Chanyeol dengan wajah sedikit memerah ketika ia menyebutkan bagian terakhir kalimatnya.
"Dia laki-laki atau perempuan?" Tanya Dokter Kim.
"Laki-laki." Jawab Chanyeol.
Dokter Kim terlihat berpikir sebentar sebelum menatap Chanyeol kembali.
"Jujur saja kau juga tidak tahu apakah hal itu wajar atau tidak. Tetapi ketika kau tidak berhasil melihat wajahnya, ada kemungkinan bagian dari otakmu membuat sistem pertahanan hingga mengeblok ingatan itu." Jelas Dokter Kim.
"Apa maksudmu otakku sendiri menghalangiku untuk mengingat wajah orang itu?"
Dokter Kim terlihat ragu-ragu ketika ia mengangkat bahunya.
.
.
.
Hari terakhir Yifan di Korea bertepatan dengan peluncuran perdana novel yang sudah beberapa tahun lalu diterbitkan di China itu. Luhan menawarinya untuk bergabung pada pesta yang diadakan untuk novel itu.
"Chanyeol sudah keluar dari rumah sakit. Aku pastikan ia akan ikut datang ke acara itu. Kau yakin tidak ingin menemuinya sebelum kembali ke Nanjing?" Kata Luhan ketika Yifan sedang mengemasi barang-barangnya.
Yifan menggigit bibir bawahnya dan mempertimbangkan tawaran Luhan. Yifan merasa bahwa ia setidaknya bisa sedikit menghargai Luhan dengan menerima tawaran itu. Dan bertemu dengan Chanyeol adalah bonus.
"Aku tidak harus datang sebagai Kris Wu kan?" Tanya Yifan.
Luhan tersenyum mendengarnya. "Kau bisa datang sebagai benben."
Yifan ikut tersenyum ketika Luhan menyebutkan nama olokannya semasa tinggal di Kanada dulu.
Dan seperti sudah bisa diduga sebelumnya, Chanyeol datang bersama Baekhyun pada acara peluncuran perdana novel itu. Rumor mengenai hubungan mereka sudah menjadi rahasia umum, dan keduanya juga tampaknya tidak keberatan dengan apa yang orang lain asumsikan.
Yifan yang datang bersama Luhan malam itu meraih segelas sampanye untuk mengalihkan perhatiannya pada pasangan itu.
Acara kemudian dimulai dengan sambutan dari tim editor dan pimpinan perusahaan yang diwakili oleh Chanyeol. Ketika pemuda itu menyapukan pandangannya pada hadirin yang datang malam itu, pandangan mata keduanya tanpa sadar bertemu. Chanyeol membelalakkan mata besarnya ketika mengetahui kehadiran Yifan malam itu. Ia sudah tergoda untuk menunjukkan pada hadirin yang lain bahwa penulis novelnya ikut hadir malam itu. Namun seperti sudah bisa membaca apa yang Chanyeol pikirkan kala itu, Yifan menggerakkan tangannya dan membuat sebuah gestur dengan meletakkan jari telunjuknya di depan bibirnya. Chanyeol tersenyum tanda mengerti.
Setelah acara formal selesai, para hadirin segera berpencar dan mulai menikmati hidangan yang disediakan. Acara yang bertemakan standing party malam itu juga diisi dengan lantunan akustik dari sebuah band lokal.
Yifan yang tidak terlalu lapar menjamu dirinya sendiri dengan beberapa gelas sampanye. Luhan memperkenalkannya pada beberapa teman sekantornya yang juga ikut datang.
"Aku tidak tahu kau akan datang." Kata Chanyeol yang tiba-tiba menghampiri Yifan dengan segelas sampanye di tangan kanannya.
Wajah Chanyeol terlihat pucat, namun senyuman di wajahnya berhasil menyembunyikan apapun yang sebenarnya pemuda itu rasakan.
Luhan yang terkesiap ketika Chanyeol datang memilih untuk berpura-pura mengambil minuman demi memberikan mereka waktu untuk berbicara berdua.
Tidak seperti ketika bertemu dengan Yifan di kafe, sikap Chanyeol kali ini terlihat lebih terbuka dan ramah. Hal itu sedikit mengingatkan Yifan pada Chanyeol yang dulu dikenalnya.
"Uh, aku sepertinya belum meminta maaf atas apa yang terjadi di Kafe tempo hari. Aku benar-benar minta maaf. Aku bersumpah tidak ingin semuanya berakhir seperti itu." Kata Chanyeol.
Yifan mengangguk. "Kau tidak usah khawatir." Kata Yifan sambil menawarkan sebuah senyum kecil.
Chanyeol ikut tersenyum. Kedua lesung di pipinya mencekung. Chanyeol mengangkat gelasnya dan menyesap sedikit sampanye itu.
"Apa aku sudah pernah bilang bahwa kau terlihat begitu familiar?" Tanya Chanyeol dengan kerut di dahinya.
Yifan membeku. Namun ia menyembunyikan rasa gugup yang tiba-tiba ia rasakan dengan menenggak sampanyenya hingga habis.
"Mungkin hanya perasaanmu saja." Kata Yifan pada akhirnya.
Chanyeol mau tidak mau setuju. Keheningan kemudian menyelimuti keduanya.
"Uh, kau sudah tahu? Kami tetap menggunakan nama asli dari kedua tokoh." Kata Chanyeol memulai pembicaraan kembali.
"Akan aneh rasanya kalau salah satu tokohnya menggunakan nama yang sama denganku." Tambahnya sebelum menyesap kembali sampanye di tangannya.
Yifan memperhatikan setiap gerak-gerik Chanyeol dengan penuh ketelitian. Sementara Chanyeol yang merasa diperhatikan tiba-tiba salah tingkah.
Bagaimana bisa memandangi sesuatu—seseorang, bisa menjadi hal yang begitu menarik untuk dilakukan? Yifan berkali-kali menggelengkan kepalanya untuk menetralkan isi kepalanya yang sudah mulai kacau –atau setidaknya dia pikir begitu. Tapi setiap kali Chanyeol –pemuda yang kini duduk di sampingnya terkikik geli hingga salah satu sudut mata kirinya menyipit atau ketika ia mengerucutkan bibirnya, Yifan bersumpah ia tidak merasakan jantungnya berdebar lebih cepat dari biasanya.
Chanyeol yang akhirnya tersadar bahwa sedari tadi ia tengah diperhatikan mendongakkan kepalanya dari ponsel yang ia pegang. Ada perasaan aneh di perut Yifan ketika Chanyeol memandangnya dengan mata besarnya itu. Apakah memang bulu mata Chanyeol selentik itu? Yifan hampir menampar dirinya sendiri ketika ia tidak juga bisa berhenti untuk memperhatikan setiap detail yang ada pada diri Chanyeol.
"Wae?" Chanyeol sedikit memiringkan kepalanya ketika ia melihat Yifan yang terlihat salah tingkah.
Yifan menepis pendapat di kepalanya yang berpikir bahwa Chanyeol terlihat sangat cute saat ini. Laki-laki tidak seharusnya cute kan?
Chanyeol tersenyum ketika Yifan tidak juga menjawab. Pemuda itu kemudian mengangkat buku yang ada di tangannya.
"Aku sedang membaca buku." Kata Yifan ketika ia akhirnya menemukan kembali suaranya, mengelak bahwa sedari tadi ia sedang memperhatikan Chanyeol. Pemuda itu membuka bukunya dan berpura-pura membaca baris demi baris yang tertera di dalamnya ketika Yifan sama sekali tidak bisa fokus pada apa yang dibacanya.
Chanyeol menelan ludahnya. Pemuda itu menganggap apa yang baru saja terlintas di kepalanya sebagai de javu. Dan masih dengan sosok tanpa wajah itu. Meminum obat yang Dokter Kim dan meminum sampanye setelahnya bukanlah ide bagus.
Ketika mata Chanyeol bertemu pandang dengan mata Yifan, waktu seperti berhenti dan kerumunan di sekitar mereka tiba-tiba lenyap.
Mungkin memang benar bahwa hanya di kehidupan lain aku layak mendapatkanmu.
Tepat ketika Yifan memalingkan wajahnya, seseorang menghampiri mereka.
Baekhyun meletakkan tangannya di punggung Chanyeol dan mengusapnya pelan. Pemuda bersurai hitam itu kemudian tersadar dari entah sihir apa yang baru saja bekerja padanya. Chanyeol tersenyum dan memperkenalkan dua orang itu satu sama lain.
"Byun Baekhyun." Dokter muda itu mengulurkan tangan kanannya dengan mengulas senyum.
Yifan memasang wajah stoicnya dan meraih jabatan tangan itu.
"Kris Wu."
Baekhyun kemudian mengalihkan perhatiannya kembali pada Chanyeol. Yifan memperhatikan interaksi dua orang itu ketika ia memilih untuk berpamitan dan meninggalkan tempat itu.
"Aku harus pergi." Kata Yifan yang membuat Chanyeol kembali menatapnya.
Chanyeol kali ini yang mengulurkan tangannya. "Senang bertemu denganmu, Kris." Kata Chanyeol.
Yifan membalas jabatan tangan itu hingga membuat keduanya bertemu. "Senang bertemu denganmu juga, Chanyeol."
"Katakan padaku kalau lain kali kau berpikiran untuk bunuh diri lagi." Ucap Yifan pelan.
Chanyeol menggelengkan kepalanya ketika ingatannya mulai meracau. Sementara itu Yifan memastikan untuk memperhatikan senyum pemuda di hadapannya itu baik-baik sebelum membalikkan badannya dan meninggalkan tempat itu –dan Chanyeolnya sekali lagi.
Chanyeol memandangi punggung Yifan yang semakin menjauh dari hadapannya dan entah kenapa pemuda itu merasa ada sebagian dari dirinya yang ikut terampas atas kepergian penulis itu.
Baekyun yang menyaksikan pemandangan itu hanya bisa membisu.
"Kita sebaiknya juga segera pulang. Aku ingin tidur." Ujar Chanyeol pelan.
"Kau bisa menyetir sendiri? Aku akan mengantarmu sampai di rumah. Lalu aku akan naik taksi nanti." Kata Baekhyun.
Chanyeol menggeleng. "Aku akan mengantarmu."
.
.
Perjalanan menuju apartemen yang Baekhyun tinggali itu terisi dengan diam. Baekhyun dan Chanyeol sama-sama tidak memiliki bahan pembicaraan dan memilih untuk menutup rapat bibir masing-masing. Begitu sampai di depan kompleks apartemen itu Chanyeol segera menghentikan mesin mobilnya.
Namun ketika Baekhyun akan pintu di sampingnya, ponselnya tiba-tiba berbunyi. Pemuda itu harus membuka dan merogoh tas kerjanya ketika ia menyimpan ponselnya di sana. Gerakan Baekhyun yang terburu-buru untuk segera meraih ponselnya membuat dokter itu tanpa sengaja menjatuhkan jurnal yang selalu ia bawa di dalam tas itu.
Chanyeol yang sebelumnya hanya melamun kemudian berniat untuk meraih jurnal yang terjatuh di dekat kakinya itu ketika sebuah benda menarik perhatiannya. Benda itu tidak lain adalah selembar foto yang selalu Baekhyun simpan rapi di dalam jurnalnya.
Awalnya Chanyeol merasa bahwa pandangan matanya itu pasti sedang mengelabuinya ketika Chanyeol memperhatikan baik-baik foto yang menampakkan dirinya dan... Kris?
Chanyeol menahan nafasnya sebelum memastikannya sekali lagi. Baekhyun yang menyadari apa yang baru saja terjadi tiba-tiba membeku.
Lembaran foto itu terlepas dari genggaman tangan Chanyeol yang melemas. Benda itu kembali terjatuh di dekat kaki Chanyeol sementara pemuda itu mencengkeram kemudi di hadapannya. Pemuda itu tidak sanggup berkata-kata. Berbagai pertanyaan muncul di kepalanya, tapi tidak ada satu pun yang sanggup keluar dari mulutnya.
Sakit kepala hebat tiba-tiba menyerang Chanyeol dan membuatnya semakin mengeratkan pegangannya pada kemudi. Sakit yang berdenyut itu kini bahkan membuat mengerang kesakitan.
"Sleep." Yifan menarik kepala Chanyeol pada lekukan lehernya, membiarkan pemuda itu memejamkan matanya dengan tangan erat mencengkeram kaosnya.
Baekhyun sudah berniat untuk membantu pemuda itu ketika lengan Chanyeol mengelaknya. Nafas pemuda itu mulai sesak tetapi Chanyeol terus berusaha menguasai tubuhnya. Bulir-bulir keringat dingin mulai membasahi dahi dan sekujur tubuh Chanyeol.
"Sejak awal kita bertemu..." Yifan menatap Chanyeol tajam.
"...aku sudah sadar bahwa kau adalah sosok yang harus kuhindari."
Ingatan yang bermunculan di kepalanya seperti potongan-potongan adegan dalam film yang semakin membuat kepala Chanyeol rasanya mau pecah.
"Chanyeol..." Baekhyun tidak kalah gugup berusaha menenangkan pemuda itu.
"Ngh..." Chanyeol yang merasa dadanya seperti sedang dihimpit itu kemudian keluar dari mobilnya dan menghirup udara sebanyak-banyaknya.
"Do you like me?" Tanya Chanyeol dengan nafas tersengal.
"I don't know." Jawab Yifan yang tak kalah terengah-engah sebelum menyatukan bibir mereka kembali.
Wajah Chanyeol sudah mulai basah tanpa ia sadari, namun kali ini bukan karena keringat, tetapi karena air mata yang tiba-tiba berjatuhan dari kedua sudut matanya tanpa bisa ia kendalikan. Dada Chanyeol sakit, tapi bukan karena rasa sesak itu. Rasa sakit ini lebih kepada nyeri, yang membuat perasaan tidak menyenangkan menjalar ke seluruh tubuhnya hingga kakinya tidak sanggup lagi menopang berat tubuhnya. Pemuda itu jatuh berlutut.
"Don't." Yifan mengeratkan rangkulannya membuat Chanyeol juga melakukan hal yang sama.
"Don't die." Bisik Yifan.
Tangisan Chanyeol malam itu berubah menjadi isakan. Bahu bidang pemuda itu berguncang ketika ia semakin keras menangis. Sosok tanpa wajah itu—Chanyeol menekan dadanya ketika rasa sakit semakin menjadi. Perlahan tapi pasti, sosok itu mulai terlihat jelas bagi ingatan Chanyeol.
Sosok itu memiliki mata tajam, rahangnya tegas, alisnya kerap kali menyatu dan membuatnya terlihat seperti sedang marah setiap waktu. Sosok yang awalnya terlihat samar dan bahkan tidak berwajah itu berubah menjadi seorang pemuda yang tidak asing baginya.
"Do you like me?" Bisik Chanyeol. Kedua lengannya masih melingkar di lengan Yifan dengan posisi tubuhnya yang duduk di atas perut pemuda itu.
Yifan terdiam sejenak sebelum menjawab, "I don't hate you."
Chanyeol mendengus mendengar jawaban itu sebelum meniupkan angin pada wajah Yifan membuat rambut yang terjatuh di dahinya terangkat. Chanyeol tertawa melihatnya.
"I don't hate you too."
Keduanya kembali bertatapan sambil mengeliminasi jarak di antara mereka. Bibir mereka sudah akan bertemu ketika bagian depan topi yang Chanyeol kenakan berbenturan dengan dahi Yifan. Keduanya kembali tertawa.
Di dalam ingatan Chanyeol, ia dan Yifan tertawa dengan satu sama lain.
.
.
.
Waktu sudah menunjukkan pukul 1 dini hari ketika Baekhyun menghentikan mobil Chanyeol di depan sebuah apartemen yang pernah ia kunjungi sebelumnya. Pemuda itu menahan tangan Chanyeol sejenak ketika ia sudah akan berlari ke luar dari mobil.
"Maaf. Aku seharusnya memberitahumu lebih awal." Kata Baekhyun menyesal.
Chanyeol yang saat itu tidak sanggup berpikir hanya mendorong tangan Baekhyun dari lengannya sebelum berjalan dengan terhuyung menuju sebuah tempat untuk menemui seseorang.
Aku pernah membaca sebuah prosa yang mengatakan bahwa jika kita memang tidak disatukan dalam kehidupan ini, maka barangkali ada kehidupan di luar sana di mana kita memang terlahir untuk bersama.
Tapi aku tidak sanggup mencari atau menunggu datangnya kehidupan itu,
Lift yang Chanyeol tunggu sama sekali tidak bergerak. Pemuda itu sudah tidak sabar dan memilih untuk memasuki tangga darurat.
Maka aku persembahkan buku ini untukmu, untuk kita,
Chanyeol meniti anak tangga yang seolah ada ribuan itu. Tenaganya sudah terkuras habis namun ia tetap melangkahkan kakinya. Semakin banyak anak tangga yang ia lewati, semakin dekat pula pemuda itu pada tujuannya.
Karena paling tidak di dalam buku ini,
Aku layak mendapatkanmu.
Mencintaimu dengan leluasa tanpa harus menunggu persetujuan orang lain.
Nafas Chanyeol tersengal. Karena kelelahan sekaligus adrenalin yang memacu di dalam tubuhnya. Satu anak tangga lagi dan Chanyeol sampai di lantai tujuannya. Pemuda itu menapaki koridor yang sunyi.
Dan setidaknya di dalam buku ini,
aku membiarkanmu hidup ketika orang lain –bahkan dirimu sendiri menginginkan mati.
Chanyeol menghirup nafas dalam-dalam sebelum memencet bel di depan sebuah pintu apartemen sekaligus mengetukkan tangannya pada pintu besi itu.
Paradise... adalah ketika aku melaluinya bersamamu.
Tak berapa lama pintu apartemen itu terbuka. Chanyeol menahan nafasnya ketika sosok itu yang menyambutnya. Lelehan cairan panas yang menuruni pipi Chanyeol.
"Chan—" BUAGH.
Yifan jatuh tersungkur ketika sebuah hantaman diterima tulang pipinya. Sudut bibirnya mengeluarkan darah ketika Yifan tanpa sadar menggigit pipi bagian bawahnya akibat pukulan itu. Wajahnya pun mendadak kebas.
"Argh!" Chanyeol melayangkan pukulan ke rahang Yifan sekali lagi sebelum menubruk tubuh pemuda itu dan memeluknya.
Tubuh Chanyeol bergetar ketika ia melingkarkan lengannya pada leher Yifan. Nafas Chanyeol terengah dan dadanya bergerak tidak beraturan saat tubuhnya menempel begitu eratnya dengan tubuh Yifan yang sepertinya masih mati rasa.
Yifan yang masih tidak mengerti dengan apa yang terjadi mendadak berubah menjadi patung dan menunggu hingga Chanyeol melakukan atau setidaknya mengatakan sesuatu. Tapi Yifan sepertinya tidak memerlukannya lagi ketika pemuda itu sudah berada di dalam pelukannya. Meskipun entah apa makna dari pelukan ini.
Wajah Yifan ikut basah. Bercak darah yang membuat beberapa bagian wajahnya terasa perih telah bercampur dengan cairan asin yang mengalir dari matanya.
"Wu Yifan. Kau Wu Yifan." Bisik Chanyeol di sela-sela isakannya membuat Yifan mengeratkan pelukan mereka.
Yifan tidak sanggup mengatakan apapun ketika ia melonggarkan sedikit pelukannya sebelum meraih wajah Chanyeol menggunakan tangannya.
Pemuda itu mengusap pelan wajah Chanyeol, memastikan bahwa yang berada di hadapannya ini benar-benar nyata dan bukan sekedar mimpi yang selama ini menghantui tidurnya. Yifan menyeka sudut mata Chanyeol menggunakan ibu jarinya. Ia mengusap rambut Chanyeol ke belakang dengan gerakan selembut mungkin seolah wajah Chanyeol terbuat dari porselen yang rapuh.
Mata keduanya beradu untuk ke sekian kalinya malam ini. Namun tatapan mereka begitu berbeda kali ini. Chanyeol menirukan gerakan Yifan dan meletakkan telapak tangannya pada pemuda yang sempat tidak ia kenali itu. Chanyeol meraba dan mengusap wajah Yifan demi menyegarkan ingatannya kembali pada sosok itu.
Kini giliran Chanyeol yang menyeka bercak darah pada sudut bibir Yifan. Pemuda itu memajukan wajahnya perlahan dan mengecup bagian yang terluka itu sama seperti yang ia lakukan beberapa tahun silam ketika Yifan membantunya dari bahan bully-an teman sekolahnya.
Keduanya masih membisu, hanya gestur dan gerakan tubuh mereka yang bicara. Yifan bangkit dan menuntun Chanyeol agar melakukan hal yang sama. Setelah menutup pintu apartemen kembali, Yifan menggandeng tangan Chanyeol untuk masuk ke dalam kamarnya.
Dua orang itu berbaring dengan berhadap-hadapan dengan tangan yang saling terkait sebelum terlelap seperti anak kecil yang membutuhkan satu sama lain.
BERSAMBUNG
Uh, anu, terima kasih untuk yang sudah membaca dan meninggalkan review ^^
Mohon maaf kalau masih banyak typos dan penggunaan istilah yang tidak pada tempatnya.
Btw, feel free to say hi to me on twitter at Cupkyucake ^^
Dengan cinta,
Mutmut Chan.
