Previous
"Sehun…."
Ya, sepertinya Sehun benar, dengan atau tanpa ingatan yang hilang darinya Luhan akan kembali mencintai Sehun dengan cara yang berbeda namun rasa cinta yang sama atau bahkan lebih kuat dari sebelumnya.
.
Je'Te Veux
.
.
.
Main cast : Lu Han as Xi Luhan
Oh Sehun as Oh Sehun
Rate : T-M
.
.
.
.
"Baek mengertilah, aku tidak datang bukan karena aku tidak ingin, tapi ada sesuatu yang harus aku lakukan."
"….."
"Soo….."
Salah satu keuntungan dari tempat kecil yang disebut Sehun sebagai rumah adalah tata letak dari ruangan yang hanya memiliki satu kamar berdekatan dengan ruang tunggu dan ruang makan, belum lagi jarak kamar yang digunakan Luhan dan sofa yang dijadikan tempat tidur oleh Sehun sangat dekat.
Jadi kemungkinan kau akan mendengar sebuah percakapan ataupun suara dari dalam maupun luar kamar sangatlah besar, terlebih saat kau sulit untuk memejamkan mata, maka suara lirih Sehun yang terdengar sedang berbicara dari ponselnya cukup terdengar sampai ke kamar Luhan.
Hal itu membuat Luhan mau tak mau mendengarkan apa yang sedang dibicarakan Sehun di panggilan yang sedang dia buat, awalnya hanya seperti bisikan, lalu semakin menit berlalu semakin lirih pula suara yang dibuat Sehun di panggilannya.
"Mengertilah, bukan aku tidak mau tapi aku tidak bisa datang ke pernikahan kalian karena sesuatu. Aku-….Baek?"
Tak ada jawaban lagi sepertinya, Sehun terlihat menjambak kencang rambutnya lalu memanggil lirih sekali lagi "Soo?"
Luhan bisa melihat dari celah pintu yang terbuka bagaimana Sehun membanting kesal ponselnya, dia juga bisa mendengar umpatan Sehun yang terus mengatakan "Sial!" hingga membuat dirinya secara refleks membuka pintu untuk memanggil pria yang entah mengapa selalu membuatnya berdebar tiap mereka berdekatan.
"Sehun?"
Lalu Sehun terlihat gugup, dia memandang cemas Luhan namun tak bisa berkata saat pria cantiknya berjalan mendekati, mungkin jika dia bisa membuka suara dia akan meminta Luhan untuk kembali tidur dan tidak bertanya.
Tapi dia salah, satu-satunya yang dia butuhkan memang berbicara dengan seseorang, tidak, dirinya butuh berbicara banyak dengan Luhan, terlepas dari alasan dia masih merindukan istrinya atau hanya ingin mencium lagi bibir menggoda Luhan, Sehun tidak mengerti.
Dia sungguh tidak mengerti kekuatan macam apa yang dimiliki Luhan hingga selalu bisa membuatnya tenang saat hatinya marah atau cemas atau bahkan tak mengerti harus berbuat apa sejak mereka kecil hingga mereka menikah dan bahkan menjadi orang asing saat ini.
"Maaf Lu, sepertinya aku membangunkanmu." Sesalnya tersenyum.
Dia kemudian membiarkan Luhan mengambil bantal yang digunakannya untuk tidur, si pria cantik juga tak ragu untuk duduk tepat disampingnya dan bertanya "Ada apa?" dengan suara lembut serta gerakan tangan yang mengusap lembut punggung tegapnya.
"Tidak apa." Sehun berbohong dan Luhan tersenyum "Dengan siapa kau bertengkar? Siapa Baek? Dan siapa Soo? Dua nama yang kau panggil bergantian?"
"Kau mendengarnya?"
Luhan tersenyum kecil, dia mengambil tangan Sehun, menggengam serta menepuk lembut tangan Sehun yang terasa dingin dan berkeringat "Hampir seluruh percakapan kalian aku mendengarnya."
"…."
Sehun terlihat melamun, sirat matanya juga menunjukkan kesedihan dan sedikit menyesal karena sesuatu hingga membuat lagi-lagi Luhan tersenyum. Rasanya dia begitu familiar dengan sifat keras Sehun pada dirinya sendiri, hal itu membuatnya mengerti dan tidak akan memaksa lebih jauh jika memang Sehun tidak ingin berbicara dengannya.
"Baiklah aku tidak akan memaksa, hanya jangan menyimpan semua seorang diri, bicara padaku jika kau sudah lebih tenang, ya?"
Perlahan Luhan melepas genggaman tangannya dari tangan Sehun, berniat untuk kembali ke kamar sampai tangan Sehun kembali menariknya, memaksanya untuk duduk lebih dekat hingga gerakan cepat Sehun yang sudah memeluknya erat.
Dia juga bisa merasakan nafas Sehun berhembus dengan dagu yang menopang di kepalanya, awalnya dia merasa canggung, tapi keberanian itu muncul dengan sendirinya hingga menuntun Luhan untuk membalas pelukan Sehun dengan melingkarkan kedua tangannya di pinggang pria yang selalu membuatnya nyaman dan tidak merasakan takut seperti malam-malam yang telah dia lewati sebelumnya.
"Maaf membuatmu cemas Lu." Katanya lirih dibalas senyum kecil Luhan yang kini mengusap lembut dada Sehun "Ada apa?" tanyanya mendongak, mengunci pandangan Sehun hingga membuat pria tampan itu seperti kehabisan kata dan tak bisa menolak pertanyaannya lagi.
"Baek dan Soo yang berbicara denganku adalah kekasih Kai dan Chanyeol."
"Benarkah?"
"hmmm…Aku rasa kau juga sudah bertemu dengan mereka."
Luhan membenarkan, dia terus mendongak sementara Sehun terus mengecupi kening dan bangir hidungnya "Bukan pertemuan menyenangkan karena aku hampir membuat mereka terluka."
"Taecyeon yang nyaris membuat mereka terluka, bukan kau."
"Tetap saja."
"Lu…."
Luhan memejamkan mata saat bibir hangat Sehun mencium lembut bibirnya, sekejap dia kembali berdebar lalu Sehun menatapnya lembut seperti memohon maaf padanya "Kau ingat aku pernah memberitahumu bahwa Kai dan Chanyeol akan segera menikahi kekasih mereka masing-masing?"
"Ya aku ingat," balas Luhan mengusap bibir Sehun yang sedikit bengkak untuk bersandar di pelukan si pemilik dada bidang yang selalu membuatnya nyaman "Lusa mereka menikah."
"Lalu?"
"Aku mengatakan pada mereka jika aku tidak bisa datang ke pernikahan mereka."
"Kenapa?"
"….."
Sehun diam tak menjawab, hal itu cukup membuat Luhan bertanya-tanya merasa perubahan detak jantung Sehun yang menjadi lebih cepat seolah menyembunyikan sesuatu.
Dia pun melepas pelukannya pada Sehun, tak lupa kakinya bersila untuk berhadapan dengan Sehun dan mulai mengangkat dagu lancip Sehun yang terus tertunduk entah karena apa "Tatap aku sebentar."
Sehun tersenyum dan tak menyia-nyiakan kesempatan untuk menggoda Luhan "Nanti aku terkena serangan jantung."
"Wae?"
"Kau terlalu manis untuk ditatap."
"eyy!"
Luhan refleks memukul dada Sehun, tatapannya menyipit sedikit kesal untuk memekik "Jangan menggodaku."
"Tapi aku suka!"
Luhan dibuat merona wajah dan pipinya, hatinya juga berdebar tak karuan terlebih saat Sehun melebarkan kedua kakinya dan membawa Luhan masuk ke pelukannya "Kau benar-benar Luhan jika sedang merona."
"Sehun cukup! Kau mengalihkan pembicaraan."
"Apa?"
"Kenapa kau tidak datang ke pernikahan Kai dan Chanyeol?"
"entahlah."
Luhan kesal, dia berniat menjauh tapi percuma karena Sehun kini melingkarkan kakinya di sekitar pinggang Luhan hingga membuat gerakan Luhan nyaris terkunci oleh pria besar didepannya.
"Apa karena aku?"
"huh?"
Sehun tertangkap basah, alasannya memang Luhan, dia belum siap mempertemukan Luhan dengan sahabat mereka atau paling buruk dengan keluarganya, dia hanya ingin menyimpan Luhan untuk dirinya seorang diri sementara ini.
Tapi lihatlah dua mata cantik yang sedang menatapnya kesal saat ini, dia benar-benar Luhan, yang bisa membuat Sehun lemah dalam hitungan detik hanya karena tatapan kesal, atau merengek khas milik Luhan yang selalu membuatnya tunduk.
"Jadi benar? Kau tidak bisa datang karena aku?"
Sehun gugup, dia mengusap tengkuknya canggung lalu kini dua tangan Luhan menangkup wajahnya agar tatapannya tidak kemana-mana selain melihat dua mata cantik milik istrinya "Diam dan lihat aku!"
"Tidak bisa, jantungku tidak kuat!"
"SEHUN!"
Sehun tertawa gemas, dia kemudian membawa Luhan ke pelukannya untuk bergumam "Maaf cantik, tapi aku benar-benar tidak bisa melihat langsung dua matamu, terlalu cantik dan aku takut kehilangan kontrol atas diriku."
"Waeyo?"
Luhan bertanya dibalas kekehan Sehun yang mengatakan "Bagaimanapun aku seorang pria yang mencintai pria yang sedang dipeluknya, aku sulit menahan diri terlebih jika pria yang sedang aku peluk benar-benar menggodaku dan terus membuatku gila."
"Aku tidak menggodamu!"
"Kau sedang melakukannya!"
"Sehun!"
"Baiklah, baiklah. Aku bercanda Lu."
Sehun mengalah, dia melepas pelukan Luhan lalu mengusap lembut wajah sempurna istrinya, sesekali dia mengagumi paras cantik Luhan yang selalu membuatnya terpesona dan terus bersyukur karena dilahirkan untuk memiliki pria yang kini sedang merajuk padanya.
"Lalu kau benar-benar tidak akan datang?"
"Aku ingin, tapi aku tidak bisa."
"Kenapa tidak bisa? Apa karena aku?"
"Aku tidak ingin meninggalkanmu sendiri Lu."
Luhan diam, dia membalas tatapan sendu Sehun untuk mengutarakan ide gilanya "Kalau begitu ajak aku ke pesta pernikahan Kai dan Chanyeol."
"huh?"
Sehun berhenti mengusap wajah Luhan, raut cemas juga terlihat di wajahnya saat Luhan mengatakan sesuatu diluar dugannya. Hal itu pula yang membuat Sehun refleks menggeleng sabagai tanda penolakan darinya "Aku menolak Lu."
"Kenapa? Apa kau takut?"
"Tidak, kau belum siap bertemu dengan mereka semua. Aku menolaknya."
"Tapi aku bisa bersikap baik, aku janji tidak akan mengacaukan pernikahan Kai dan-….."
"CUKUP! JAWABANKU TETAP TIDAK!"
Luhan kesal, dia sengaja mendorong tubuh Sehun lalu berlari ke kamarnya. Entah, apa yang ada di pikiran Sehun, setidaknya jika dia melarang katakan dengan cara lebih baik, Sehun tidak perlu berteriak seolah dia akan menghancurkan pesta pernikahan Kai dan Chanyeol karena kedatangannya.
Hal itu cukup menyinggung Luhan dan membuat Sehun menyesal karena berteriak sebagai respon berlebihan atas permintaan Luhan padanya.
"Lu…."
Dia kemudian berlari menyusul Luhan di kamarnya, beruntung Luhan tidak mengunci pintu kamarnya dan hanya duduk di tepi tempat tidur seraya menatap marah pada Sehun yang kini berjalan mendekatinya.
"Maaf."
Sehun berjongkok di depan Luhan, memohon maaf tapi sepertinya Luhan terlanjur merasa sakit hati hingga menolak sentuhan Sehun di tubuhnya "Lu…." tapi jangan sebut namanya Sehun jika menguasai Luhan yang sedang marah tak bisa dilakukannya.
Karena lihatlah kini, walau Luhan enggan berbicara tapi dia tidak menolak saat Sehun menautkan jari mereka seraya menggenggamnya erat "Aku tidak bermaksud berteriak padamu."
"Tapi kau melakukannya." gertak Luhan dibalas ucapan lembut Sehun sebagai permintaan maaf "Aku bodoh, aku terlalu takut dengan permintaanmu sayang."
"Apa yang salah dengan datang membawaku ke pernikahan Kai dan Chanyeol sebagai Luhan?"
Sehun mengecupi jemari Luhan, berniat untuk membuatnya tenang dan sepertinya berhasil karena nafas Luhan mulai stabil dan tak lagi berbicara dengan nada tinggi "Tidak ada yang salah Lu, tapi aku takut kau belum siap."
"Aku siap jika kau terus berada di sekitarku! Aku janji akan bersikap baik dan tidak mengacaukan acara."
Sehun tersenyum lagi, dia sengaja bertumpu pada dua lututnya agar mudah menggapai bibir Luhan, mengecupnya lagi sebagai permohonan maaf hingga membuatnya terkejut karena diluar dugaan Luhan membalas kecupannya.
Gigitan kecil bibir Luhan di bibir Sehun yang paling membuat Sehun gila, dia bahkan nyaris membaringkan tubuh Luhan jika tidak mengingat Luhan memiliki dua kondisi dimana kontak fisik selain berciuman masih asing untuknya hingga membuat Sehun tahu diri dan mulai menyudahi lumatan lembut bibirnya dari bibir Luhan.
Keduanya mengatur nafas masing-masing, bibir Luhan masih terbuka mencari nafas sementara Sehun mulai bertanya lagi "Apa kau yakin ingin datang kesana sebagai Luhan?" katanya bertanya, mengusap bibir menggoda Luhan untuk mendengar jawaban "Aku yakin."
Dia pun tersenyum, mengecup lama kening Luhan lalu berdiri karena sudah tak tahan lagi berada satu ruangan dengan tempat tidur yang memanggil agar segera menyentuh Luhan "Baiklah, kita akan datang kesana."
"Benarkah?"
"hmm…Sekarang kau harus tidur."
"Bagaimana denganmu?"
"Aku juga akan tidur diluar. Selamat malam Lu."
Entah mengapa saat langkah kaki Sehun menjauh dari kamarnya hati Luhan mencelos tak rela, bohong jika dia tergoda dengan bentuk tubuh Sehun yang atletis dan kekar, terlebih karena saat ini Sehun memakai singlet hitam yang menunjukkan berkali-kali lipat bahwa tubuhnya memang sempurna hingga rasanya Luhan dibuat gila dan ya, dia tidak tahan melihat punggung tegap Sehun menjauh hingga tak sadar berteriak
"SEHUN!"
"hmmh?"
"Apa kau akan tidur diluar lagi?"
Pertanyaan Luhan rasanya tak perlu dijawab. Mereka hanya mempunyai satu kamar dan Luhan menolak untuk berhubungan fisik, jadi ya, Sehun memang akan tidur diluar seperti kemarin dan mungkin hari-hari selanjutnya.
"Dimana lagi aku akan tidur jika bukan di sofa?"
Luhan menggigit cemas bibirnya, dia bersumpah bisa merasakan panas di wajahnya saat mendengar ucapan Sehun. Dia salah tingkah, tapi saat Sehun kembali berjalan pergi, dia justru berteriak, sangat memalukan untuk menawarkan
"AKU TIDAK KEBERATAN BERBAGI TEMPAT TIDUR DENGANMU!"
Tap!
Rasanya, sedetik yang cepat Sehun baru saja mendengar ucapan paling indah dan menggoda selama dirinya tinggal bersama Luhan, jantungnya dua kali berdegup lebih cepat seperti meyakinkan diri bahwa telinganya tidak salah mendengar dan tidak sedang menghiburnya.
"Kau apa?" tanyanya gugup, Luhan lebih gugup dan kini terlihat salah tingkah "mmhh…Aku rasa kau akan kedinginan jika tidur di sofa, maksudku, tempat tidur ini bisa untuk kita berdua, jadi aku tidak keberatan jika kita berbagi tempat tidur."
Jadi benar? aku tidak salah dengar….
Sehun menelan kasar air liurnya, tawaran Luhan sangat menggoda, bahkan terlalu menggoda hingga dengan bodohnya dia menggeleng sebagai penolakan "Tidak terimakasih, aku akan tetap tidur di sofa."
"Kenapa?"
Yang berparas tampan terlihat frustasi, dia menjambak kencang rambutnya, mengusap kasar wajahnya lalu lirih menatap Luhan dan berkata jujur "Aku tidak akan bisa menahan diri jika tidur disampingmu."
"Maksudmu?"
"Aku begitu ingin menyentuhmu, bukan hanya mencium, tapi aku rindu tubuhmu. Aku ingin merasakannya lagi tapi aku tahu kau akan membencinya!"
Sehun mulai lagi berbicara dengan nada tinggi, beruntung kali ini dia sadar lebih cepat lalu menatap menyesal pada Luhan "Maaf Lu, tapi jangan berikan penawaran manis padaku, aku akan melakukan lebih dan mungkin membuatmu benci lagi padaku, aku tidak mau." Katanya bersiap menutup pintu namun sepertinya Luhan tidak mempedulikan alasan konyol Sehun.
"Jika kau ingin menyentuhku, Lakukan!"
"huh?"
"Aku istrimu, lalu kenapa aku harus benci disentuh suamiku sendiri, itu tidak masuk akal!"
"Tapi kau bilang-…."
"Aku benci berhubungan fisik dengan pria yang asing dan tidak diterima hatiku, Taecyeon! Tapi berbeda denganmu, aku, entah mengapa aku ingin terus disentuh olehmu, aku suka saat kau mencium bibirku, aku suka saat kau memelukku, aku suka saat kau berkata manis padaku, saat kau menggodaku, saat kau-….."
"sial!"
Sehun mengumpat tertahan, pusaran gairahnya sudah meledak tak bisa dikendalikan, dia pun sengaja membanting pintu kamar Luhan untuk berjalan tak sabar seraya membuka singlet hitam miliknya.
"Ya Tuhan!"
Hal itu cukup membuat Luhan terkejut karena saat ini, tepat didepan kedua matanya, Sehun sudah bertelanjang dada dan itu cukup membuat jantung Luhan melompat keluar karena Sehun benar-benar terlihat seksi dan begitu tampan.
"Aku rasa kau juga suka saat aku menyentuhmu kan?"
Sehun bertanya dibalas anggukan Luhan yang mengundang, dan tak bisa dibohongi lagi Sehun benar-benar kehilangan akal sehatnya untuk menggendong bridal Luhan dan membaringkannya ke tempat tidur yang akan menjadi saksi percintaan panas mereka setelah berbulan-bulan tak dilakukan keduanya.
"Aku tidak percaya bisa menyentuhmu lagi Lu."
Sehun mendekatkan bibirnya, ingin mengecup tapi sepertinya dia lebih suka menggoda Luhan yang sudah membuka mulutnya, karena alih-alih menyatukan dua bibir mereka, Sehun lebih suka membuat Luhan mendesah putus asa dan lebih memilih menggigit bangir hidung Luhan.
"Sehun…!"
Si pria cantik menggeliat seperti menuntut, namun sepertinya Sehun masih betah menggoda Luhan. Terlihat ketika bibir Luhan sudah membuka seperti mengundang, Sehun mendekatinya, berniat mengecupnya tapi lagi-lagi dia menggoda Luhan dan lebih memilih untuk menggigit dagu lancip Luhan hingga terdengar suara geraman putus asa dari si pria cantik,
"Sehun cium aku!"
Kali ini Sehun tertawa, dia pun menyerah tak tahan untuk merangkak diatas tubuh mungil dan seksi milik istrinya. Mata keduanya beratapan cukup lama hingga kalimat manis "Kau cantik dan terlalu sempurna untukku." Berhasil melelehkan hati Luhan yang kini benar-benar dikecup panas oleh Sehun.
Gerakan Sehun tidak stabil pada awalnya, dia seperti tidak puas jika mencium lembut dan terus memaksa bibir Luhan membuka lebar untuknya, semakin lebar sementara lidah panjangnya mulai menghangatkan mulut Luhan yang merasa nikmat karena Sehun seperti mengetahui dimana titik dan tempat yang bisa membuat tubuh Luhan bergerak liar diatas tempat tidur.
"Sehun!"
Dan ini semua terlalu banyak untuk Luhan, terlalu nikmat hingga kepalanya berputar karena sepertinya dia baru dengan segala rasa nikmat yang diberikan Sehun untuknya.
"Ada apa?"
Sehun bertanya, dia memperhatikan rona merah wajah Luhan hanya untuk membuatnya semakin bergairah "Lu, jangan hentikan aku." Dia kemudian memohon, mengecup lagi bibir Luhan yang terbuka sementara diam-diam tangannya melepas satu persatu kancing piyama tidur milik Luhan.
Semua berjalan lancar, sampai tangan Sehun berhenti di kancing terakhir barulah Luhan bereaksi cukup berlebihan, dia mendorong tubuh Sehun, posisinya yang terbaring bersandar di tempat tidur dan kini menutupi setengah dadanya yang sudah terekspos bebas "Jangan buka kemejaku!"
"Tapi kenapa?"
Sehun mendekat dan Luhan menjerit takut "BANYAK LUKA DITUBUHKU! KAU AKAN TIDAK AKAN SUKA MELIHATNYA!"
Lalu rasanya Sehun ingin menangis, nyatanya Luhan mengijinkan dia menyentuhnya tanpa memperlihatkan tubuh mulusnya secara keseluruhan, tidak,
Mungkin terdapat banyak luka di tubuh istrinya, tapi bukankah itu yang menunjukkan bahwa pria cantik yang sedang ketakutan itu benar-benar istrinya? Benar-benar Luhan?
Anggap Sehun egois, dia juga tidak peduli saat Luhan terus berteriak tak ingin disentuh di bagian dadanya. Hal itu cukup menyakiti Sehun namun seolah ingin memperlihatkan Luhan bahwa dia tidak peduli dengan banyak luka di tubuhnya, Sehun merobek kemeja sialan itu hingga dalam sekejap beberapa luka gores dan luka bakar kini terlihat di tubuh istrinya yang dulu begitu halus tanpa cela dan bekas luka.
"Aku sudah bilang kau akan jijik melihat tubuhku, aku malu."
Yang tidak diketahui Luhan adalah fakta bahwa sebagian besar luka di tubuhnya disebabkan oleh suaminya sendiri, oleh Sehun yang gagal menjaganya, bahwa semua luka yang terlihat membekas di sekitar perut dan punggung Luhan terjadi sebagai tanda bahwa Sehun memang tidak pernah bisa menjauhkan Luhan dari bahaya.
"Kau salah."
Lalu untuk menebus semua rasa bersalahnya, Sehun mendekat, dia juga memaksa Luhan untuk tidak menutupi tubuh miliknya agar Sehun bisa menikmatinya dengan mudah "Aku menyukai tubuhmu dengan atau tanpa luka sialan yang terdapat di tubuhmu." Katanya kesal, dia sengaja membaringkan Luhan lalu fokus menghisap seluruh bekas luka yang terdapat di tubuh Luhan.
Lehernya terdapat luka bakar yang mengering namun sepertinya membekas, Sehun kemudian menghisapnya kencang hingga rasa nyeri dan nikmat bercampur dirasakan Luhan.
"ah~"
Lalu pundaknya terdapat luka gores memanjang, luka yang diberikan Donghoon tanpa sepengetahuan Sehun, ah ya, ingatkan Sehun untuk memberikan luka yang sama pada bajingan cacat yang kematiannya masih begitu diinginkan Sehun.
"Sehun…"
Hingga tanpa sadar Sehun menggigit pundak Luhan terlalu kencang dan meninggalkan bekas cintanya disana,
"ah, disini juga ada?"
Dia menunjuk luka bakar di sekitar tonjolan kecil milik Luhan, hal itu membuatnya geram hingga lidah panjangnya kini menjulur memutar menikmati tonjolan kecil istrinya sebelum bibir tipisnya menghisap kuat nipple yang selalu membuatnya bergairah semenjak pertama kali melihat Luhan tidur tanpa pakaian dirumahnya beberapa tahun yang lalu.
"Sehun, haah~"
Lalu jilatan Sehun semakin turun kebawah, dia tersenyum saat melihat tanda lahir Luhan masih terlihat jelas di sisi kanan perutnya. Membuatnya gemas untuk menahan diri dan hanya mengisap tanda lahir tersebut sebelum beralih ke pusar Luhan dan memainkan lidahnya di pusar sang istri.
"ngghh~"
Tubuh Luhan bergerak liar saat Sehun mengerjainya semakin jauh, tangannya juga diam-diam melucuti celana pendek yang dikenakan Luhan hingga membuat bagian paling private milik Luhan terlihat tegang dan sudah dipenuhi pre-cum di ujung kepala penisnya.
"Kau sudah tidak tahan?" katanya mendongak, menggoda Luhan yang terlihat frustasi lalu dengan santai mengatakan "Aku juga, jadi biarkan aku membuatmu relax sejenak."
Sial!
Relax apa yang dimaksudkan Sehun jika tujuannya mengulum habis penisnya yang sudah sangat tegang, Luhan tidak bisa menjelaskan bagaimana rasanya, tapi yang jelas mulut Sehun begitu hangat melingkupi bagian private miliknya hingga Luhan bisa merasakan letupan-letupan asing yang membuatnya nyaris gila jika Sehun tidak menghentikan gerakan mulutnya yang panas saat ini.
"Sehun cukup, aku—haah~"
Tangan Luhan berhasil menjambak rambut Sehun, namun sial, Sehun justru terlihat semakin seksi sementara bibir tipisnya masih memberi kehangatan di bawah sana, Luhan ingin menolak tapi sepertinya semua berbalik menyerangnya karena saat ini Sehun sedang bergerak mengeluar masukkan bibir yang membuat panas dan nikmat penisnya dengan mata tak berkedip memandang Luhan seolah menikmati bagaimana Luhan tersiksa nikmat yang begitu hebat dan tak bisa ditolaknya.
"Sehun, Sehun! Aku akan-…..ah~"
Klimaks pertama Luhan berhasil didapatkannya dari kuluman nikmat Sehun dibawah sana, dia terlentang pasrah, tenaganya terkuras habis sementara Sehun sepertinya sedang menikmati menelan cairan yang baru saja dikeluarkan di bibirnya.
Pria yang diyakini hati Luhan sebagai suaminya itu juga terlihat mengusap seksi sudut bibirnya sebelum merangkak lagi keatasnya "Aku bahkan merindukan rasa dari milikmu Lu."
Luhan tak bisa menjawab, dia pasrah dan kehabisan tenaga sampai dirasanya Sehun sedang menurunkan celana pendek yang dia gunakan sebelum terlihat bagian private milik Sehun yang sialnya terlihat dua kali, tidak, sepertinya milik Sehun tiga sampai lima kali lebih besar dari miliknya sendiri.
"oh tidak…"
Luhan mengumpat pasrah, dia bahkan tak bisa melakukan apapun saat Sehun melebarkan kedua pahanya dan melakukan penetrasi dengan jari tengah yang diam-diam masuk kedalamnya "ngghh~ / sial! Kau begitu sempit sayang." hingga membuat tubuh Luhan melengkung ke atas sementara penis Sehun terus menusuk perut dan bagian selangkangan dalam miliknya.
Rasanya keras dan besar, Luhan lalu terbuai fantasinya sendiri dan menebak bagaimana jika milik Sehun menerobos lubang kecilnya yang masih harus membiasakan diri dengan ketiga jari Sehun yang kini bergerak menggunting sesekali menusuk kencang bagian terdalam dirinya.
"Ah~"
"Aku menemukannya lagi?"
Sehun bertanya, lalu dia tidak membuang kesempatan untuk memposisikan Luhan di posisi terbaik saat titik nikmatnya ditemukan. Dia mengangkat tinggi satu kaki Luhan, mencoba mencari letak lubang yang akan dimasukinya sebelum merangkan dan menyatukan dahinya dengan Luhan, meminta izin untuk kali terakhir.
"Aku akan masuk."
"Sehun, aku rasa itu tidak akan cukup di tubuhku, terlalu besar—aah~"
Hal itu membuat Sehun tertawa dan Luhan kesal melihatnya "Kenapa tertawa?"
"Luhan remaja juga mengatakan hal itu saat pertama kali aku mengambilnya."
"Mwo?—rrhnggh~"
Sehun sengaja menumbuk kuat lagi prostat Luhan dengan jari tengahnya, Luhan mendesah lagi lalu dengan santai Sehun mengatakan "Kau sudah terbiasa aku masuki sejak kita remaja, jadi aku rasa kau akan terbiasa lagi walau ini seperti pertama untukmu."
Sejujurnya Luhan sedikit terkejut dengan fakta bahwa mereka sudah sering bercinta sejak remaja, seperti bukan dirinya, tapi lagi-lagi Sehun berhasil membuatnya yakin hingga akhirnya dia mengangguk dengan posisi tangan mencengkram kuat-kuat sprei dan selimut yang sudah tak berbentuk di tempat tidur.
"Lakukan, aku siap."
"Dengan senang hati."
Sehun mengecup bibir Luhan, mulai mengangkat kaki kanan Luhan cukup tinggi agar lubang kecil istrinya terlihat jelas, dia bahkan tersenyum puas saat menemukan posisi tepat dan segera memposisikan miliknya ke lubang Luhan.
"nghhh…"
Luhan memejamkan kuat-kuat matanya, Sehun baru melakukan penetrasi kecil tapi Luhan bisa merasakan betapa keras dan perkasa Sehun yang akan segera memasuki tubuhnya. Dia tak bisa melakukan apapun, hanya menyerahkan semuanya pada Sehun dan
"ARKHSEHUNN!~~"
Sepertinya Sehun tidak berbaik hati padanya, dia bahkan tak melakukan perlahan melainkan dengan satu gerakan cepat dan keras langsung menyatukan tubuh mereka.
Luhan menggelinjang kuat, tubuhnya bergerak liar seolah meminta Sehun untuk mengeluarkan benda yang membuat tubuhnya serasa terbelah dua. Dia tidak tahan, air matanya sudah menetes namun ditenangkan Sehun yang sedikit mengeluarkan penisnya dan mulai merangkak lagi meyakinkan Luhan.
"Lu, hey sayang….Kau akan baik-baik saja, aku tidak akan menyakitimu."
"Ke—hkks—keluarkan Sehun, aku sakit."
"tenang sayang, Lihat aku…kau selalu menangis setiap kali aku mengambilmu untuk waktu yang lama."
"Tapi sakit."
Luhan masih menolak menatap Sehun, ini benar-benar seperti percintaan pertamanya yang menyiksa, bukan dia tidak menyukainya tapi milik Sehun benar-benar besar dan keras hingga sepertinya Luhan bisa terbelah jika dia bergerak lagi.
"Lu, kumohon lihat aku, hey hey…."
Luhan membuka matanya, berusaha untuk mempercayai Sehun walau nyatanya penis Sehun masih membuatnya takut karena masih berada di dalam lubangnya. "Seperti itu." Sehun bergumam lega, mencoba untuk meyakinkan Sehun dengan mengecup lembut bibirnya.
Dia pun kembali menatap Luhan dan berbisik "Aku akan bergerak."
Luhan panik, dia menggeleng seraya berteriak "tidaktidak…Jangan berge-…akh!"
Awalnya perih, sangat perih, dia seperti terbagi menjadi dua tapi Sehun pintar mengalihkan perhatiannya. Beberapa kali dia juga masih menangis dan meringis sakit sampai tusukan kelima dia mulai terbiasa karena Sehun melakukannya perlahan dan penuh cinta, dia juga tidak melepas pandangan Luhan hingga membuat Luhan nyaman dan perlahan meraskan letupan aneh di sekitar perutnya
"Bagaimana? Sudah terbiasa?"
Sehun menghentak lagi tubuhnya, kali ini semakin dalam dan Luhan mulai terbiasa, Luhan juga tidak menangis lagi dan hanya menggigit bibir tanda dia mulai menikmati pergerakan Sehun di atas tubuhnya.
"Katakan jika kau menyukainya, aku akan membuatnya semakin nikmat."
"ngghh~"
Tubuh Luhan bergerak hebat saat entah hentakan keberapa Sehun mulai memperdalam lagi tusukannya, dia kemudian berani melingkarkan tangannya di leher Sehun untuk berbisik "Aku menyukainya, aku—Sehun~"
"Seperti itu, sebut namaku jika kau merasa nikmat."
Luhan semakin gila seiring hentakan Sehun, tak ada lagi rasa sakit, yang ada hanya bunyi decit tempat tidur disertai bunyi khas saat dua tubuh mereka menyatu sempurna. Sehun merasa dunianya menjadi putih saat Sehun mengocok penisnya serta menumbuk prostat nya dengan tempo yang sama cepat dan menggairahkan.
Dia mencakar, menjambak, hingga tanpa sadar Sehun sudah mengubah posisinya menjadi on top, dia bahkan menuntun Luhan untuk "mengendarai" nya ke atas dan kebawah membuat hentakan dan tusukannya jauh masuk kedalam prostat Luhan.
"Luhan! Sayangku, ah~"
Sehun sendiri merasa begitu menikmati gerakan turun naik Luhan di pangkuannya, dia melihat Luhan begitu seksi saat mendongak seraya mendesahkan namanya, kesempatan ini tak dia sia-siakan untuk memberi tanda cinta sebanyak-banyaknya dileher mulus dan menggoda milik istrinya.
Sehun juga menghisap nipple Luhan bergantian, terkadang menjilatnya, tanpa mengurangi kocokan di penis istrinya, semua terasa begitu sempurna terlebih saat suara berat Luhan terus memanggil seksi namanya
"Sehun….Sehun…Sehunna—aah~"
Dan tak lama Luhan mendapatkan klimaks keduanya, dia berhenti bergerak di pangkuan Sehun, yang dilakukannya memeluk erat Sehun seraya mengetatkan lubangnya hingga membuat Sehun meringis.
Dia juga menggigit kuat pundak Sehun sementara cairan miliknya sukses mengotori perut Sehun dan tempat tidur mereka, membuatnya begitu malu namun tidak dengan Sehun yang belum menyelesaikan "urusannya"
Dia pun segera membaringkan tubuh Luhan, membuka lebar-lebar paha Luhan lalu mulai memasukkan lagi penisnya, bergerak lagi sementara Luhan terlentang pasrah saat Sehun terus bergerak diatasnya.
Bukannya dia tidak ingin membantu, tapi seluruh tubuhnya lemas tak berdaya, yang bisa dilakukannya hanya melingkarkan kaki di pinggang Sehun, sesekali mengetatkan lubangnya hingga raut frustasi ditunjukkan Sehun yang sepertinya menyerah untuk bertahan lebih lama dan…..
"Luhann—aah~"
Dan benar saja, Luhan cukup terkejut menerima sperm Sehun yang memenuhi lubangnya. Rasanya panas namun membuatnya bahagia, setidaknya dia berhasil memuaskan Sehun untuk pertama kali yang bisa diingatnya.
Terlihat dari bagaimana Sehun memejamkan mata saat menikmati klimaks, hingga dua mata lucu itu terbuka dan mulai membanjirinya dengan berbagai pujian "Aku benar-benar memujamu sayang."
Namun sepertinya pujian itu harus dibayar langsung oleh Luhan, karena alih-alih mengeluarkan penisnya dari tubuh Luhan, Sehun lebih memilih untuk memaksa Luhan bertumpu dengan lutut kedua tangannya sementara dia melakukan penetrasi dari belakang.
"Sehun, jangan bilang kau—akh~"
Ya, Sehun masih belum cukup puas setelah tiga bulan tidak bercinta, dia pun kembali mengambil istrinya dengan berbagai gaya kali ini, dia juga melakukannya dengan posisi berdiri seolah memastikan bahwa seluruh sudut dirumahnya menjadi saksi bahwa malam ini Sehun dan Luhan kembali bercinta sebagai sepasang suami dan istri.
.
.
.
A few hours later….
.
Sekiranya waktu sudah menunjukkan pukul dua pagi, itu artinya sudah tiga jam lebih percintaan panas keduanya berlangsung, Sehun bahkan masih terlihat bersemangat setelah klimaks yang entah sudah berapa kali dia dapatkan dari Luhan. Dan mungkin dia akan meminta lagi jatahnya jika tidak menyadari bahwa Luhan sudah merengek kesakitan dan lemas karena terus menerus dimasuki tanpa jeda sekalipun.
Ya, dan Sehun menyetujuinya, dia menyudahi seluruh malam indah bersama Luhannya setelah beberapa bulan berlalu. Dia cukup puas karena sudah membanjiri Luhan dengan sperm yang sedang dia harapkan membuahkan hasil sebagai bukti cinta mereka.
Dan karena alasan itu pula Sehun menolak untuk mengeluarkan penisnya dari hole Luhan dan hanya berniat untuk menjemput pagi dengan tubuh menyatu. Luhan sendiri tidak menolak, apapun itu, asalkan tidak bercinta lagi akan dipenuhinya.
Jadi saat Sehun bersikeras memeluknya tanpa melepas penyatuan tubuh mereka, Luhan hanya perlu membisakan diri dan tertidur di dada Sehun yang kini depenuhi keringat "Kita benar-benar lengket." Katanya tertawa namun dibalas senyum Sehun yang terdengar puas malam ini.
"Tapi aku menikmatinya."
Luhan tersenyum kecil mendengar betapa Sehun sangat bahagia hanya karena dia melayaninya, bohong jika dia tidak merasa senang, karena untuk Luhan kesenangan Sehun seperti menjadi candu untuknya.
"Kau bagaimana? Apa kau juga menikmatinya?"
Luhan tersipu malu, dia menenggelamkan wajahnya di dada Sehun untuk mengangguk "Aku juga menikmatinya."
Sehun puas, dia lagi-lagi mengambil bibir Luhan, melumatnya lembut lalu melepasnya untuk kembali memeluk tubuh mungil yang selalu membuatnya bergairah "Aku mencintaimu Lu."
Luhan tidak tahu harus menjawab apa, dia terlihat bingung dan Sehun cukup mengerti untuk menarik selimut menutupi tubuh polos mereka "Tidak apa, jangan mengatakan hal yang tidak diinginkan hatimu, sekarang tidurlah, aku memelukmu."
Luhan mengangguk, sebenarnya dia menyesal tapi dia terlalu lemas hanya untuk sekedar mengatakan maaf, ah, salahkan pelukan Sehun yang selalu membuatnya nyaman, karena hanya di pelukan Sehun dia benar-benar bisa memejamkan mata tanpa takut mimpi buruk itu akan datang lagi mengganggunya.
Lalu Sehun tersenyum, dia mengecup lagi kening Luhan untuk menyusul si pria cantik yang hati dan tubuhnya perlahan dia dapatkan kembali sebagai Luhan, istrinya.
"Cepat ingat aku, tapi ingat juga kau tidak boleh membenciku." Katanya memeluk erat Luhan, ikut tertidur menyusul pria cantiknya tanpa menyadari bahwa sedari tadi, sekitar dua jam yang lalu ponsel Luhan terus bergertar dengan nama Taecyeon tertera di layar ponselnya.
.
.
.
.
.
.
"Aku baik Taec…."
"….."
"Aku benar-benar baik."
Jika bukan karena dia merasa kehilangan sosok mungil yang dipeluknya sepanjang malam, mungkin mata Sehun masih enggan terbuka, dia juga sanggup memejamkan mata lebih lama atau sampai keesokan hari lagi dengan catatan Luhan berada di pelukannya.
"Tidak perlu…"
Tapi suara Luhan seperti menariknya dari mimpi yang indah, membuat dengan berat hati Sehun membuka mata untuk mencari asal suara dimana Luhan berada.
"Lu…." panggilnya, tapi Luhan tidak menjawab, yang terdengar hanya suara Luhan yang sedang berbincang dengan seseorang dan itu membuatnya cemas.
Buru-buru Sehun menyingkap selimutnya, mencari dimana Luhan lalu menemukan istrinya sedang berada di dekat jendela memakai asal kemeja miliknya yang menampilkan paha menggoda Luhan yang malam tadi baru dia nikmati.
"Baiklah, kapan kau ingin bertemu?"
Jika saja janji yang sedang dibuat Luhan tidak mengganggunya, mungkin Sehun akan merayu dan meminta "jatah" paginya, namun sial Luhan terlihat serius berbicara entah dengan siapa, membuatnya hanya bisa menunggu dengan sabar sampai janji itu sepertinya dibuat
"Baiklah."
Terlihat Luhan mematikan ponselnya, pandangannya kosong menatap jendela, dia terlihat melamun dan Sehun tidak tahan untuk bertanya "Siapa yang menghubungimu?"
Luhan tersentak, jujur dia tidak ingin mengganggu Sehun, tapi melihat bagaimana Sehun berdiri disana mengenakan celana pendek dan bertelanjang dada, pastilah Luhan sudah mengganggu tidur dari pria yang malam tadi menghabiskan waktu panas dengannya.
"Apa aku membangunkanmu?"
Luhan mengalihkan pembicaraan, dia berjalan mendekati Sehun lalu memeluknya erat, meminta Sehun untuk tidak menjadikannya sebuah masalah dan hanya melupakan apa yang baru didengarnya.
"Lu…."
"hmmh?"
"Siapa yang menghubungimu?"
Tak mau berbohong Luhan menjawab "Taecyeon."
Dan benar saja kejujurannya membuat Sehun kesal, terlihat dari caranya melepas pelukan Luhan lalu berjalan menuju lemari pendingin serta menenggak kasar air mineralnya "Kenapa dia menghubungimu?"
Luhan juga tak mau kalah, dia berjalan mendekati Sehun lagi, menutup lemari pendingin yang membatasi jarak mereka lalu memeluk erat pria yang sudah terpancing emosinya "Dia ingin bertemu denganku minggu depan."
"Lalu?"
"Lalu aku akan datang menemuinya."
"oh ayolah Lu! kau sedang bersamaku saat ini! Kenapa harus menemuinya?"
"Aku tidak bisa mengabaikannya begitu saja."
"Kau mengabaikan aku saat itu!"
"Sehun, ada yang ingin aku bicarakan juga dengannya, ini mengenai kita."
"Terserah!"
Sehun gusar dipenuhi rasa cemburu, sikapnya yang seperti itu yang belum sepenuhnya berubah, namun lucunya Luhan tidak merasa kesal, karena sebaliknya, daripada kesal Luhan justru terus mendekati Sehun dan memeluk atau bahkan duduk di pangkuannya seperti yang saat ini dia lakukan.
"Wae? Kau takut aku tidak kembali atau kau sedang cemburu?"
"…."
Luhan bergerak di pangkuan Sehun, hal itu cukup membuat Sehun resah mengingat dibawah sana Luhan tidak mengenakan apapun dan bisa saja membuatnya gila seperti malam tadi.
"Sehun jawab aku."
"Keduanya."
Lalu Luhan tertawa puas, diciumnya lama bibir Sehun sampai tangannya mengeluarkan sesuatu dari saku kemejanya "Jika aku bilang akan kembali, itu artinya aku akan kembali."
"Aku tidak yakin dia akan mengembalikanmu padaku."
"Yakinlah, aku juga bisa memilih pilhanku."
"Tapi dia tidak."
"Sehun,,,,,"
Pada awalnya Sehun menolak dicium Luhan, namun saat Luhan berniat untuk bangun dari pangkuannya, dia kalah….
Dia kembali menarik pinggang Luhan, membawanya kedalam ciuman panas yang dengan senang hati dilayani Luhan saat ini. Keduanya seperti tidak ingin mengalah sampai Sehun berhenti mencium dan mulai menyuarakan ketidakrelaannya "Baiklah, aku akan mengantarmu."
"Oke."
Lalu Luhan berdiri dari pangkuan Sehun, berjalan menuju kamarnya dan membuka laci tempat dimana dia menemukan benda yang cukup menarik perhatiannya. Dia pun membawa benda tersebut lalu bertanya pada Sehun "Sehun? aku menemukan ini."
Sontak mata Sehun membulat saat cincin pernikahan yang sengaja dia buat menjadi liontin ditemukan Luhan, dia tidak bisa berkata apa-apa selain menyambut Luhan di pangkuannya lagi selain menjawab "Apa kau ingat sesuatu tentang cincin ini?"
"Tidak, tapi aku menyukainya."
"Aku juga."
"Apa ini cincin pernikahan?" tebaknya dibalas raut terkejut dari Sehun "Darimana kau tahu?"
"Tertulis Belong to Luhan didalam cincin ini, bukankah itu seperti mengikat janji?" katanya polos, membuat Sehun tertawa dan mengangguk membenarkan "Kau benar."
"Lalu dimana milik Luhan?"
"….."
Alasan mengapa Sehun tidak lagi memakai cincin pernikahan dan menjadikannya liontin adalah karena dia melihat hal terakhir yang tersisa saat melihat jasad orang asing yang dijadikan Luhan sedang memakai cincin pernikahannya.
Hal itu membuat semacam trauma untuk Sehun, antara rasa bersalah karena sudah membuat hidup Luhan dipenuhi kesedihan, atau menyesal karena Luhan harus menghabiskan waktu singkat bersama pria bodoh sepertinya.
Dia selalu merasa bersalah pada Luhan lalu suara lembut itu terus bertanya "Sehun? kau baik-baik saja?"
Yang membuatnya semakin bersalah dan berakhir tersenyum kecil, kemudian Sehun memeluknya erat seraya berbisik "Aku akan membelikan yang baru untukmu."
"Tidak perlu."
"Kenapa?" tanya Sehun dibalas senyum cantik Luhan yang kini memakaikan liontin tersebut ke leher Sehun, matanya kemudian menatap lembut mata Sehun sementara tangannya terus mengusap cincin pernikahan yang begitu indah untuknya
"Aku suka cincin ini."
"Aku bisa membelikan yang sama untukmu."
"Mungkin kau bisa membeli cincin yang sama, tapi kau tidak akan bisa membeli cerita yang sama."
"Apa maksudmu?"
Luhan membungkukan badannya, memeluk leher Sehun dengan erat sementara diam-diam dia menitikkan air mata haru karena tak tahan saat dia tidak mengingat apapun bahkan tentang hari pernikahannya "Jika benar aku adalah Luhan, maka cincin ini memiliki cerita dan kisah pernikahan kita, bagaimana kita saling mencintai, sekuat apa cinta kita dan aku tidak ingin mengganti benda yang memiliki cerita tentangku dan pria yang paling aku cintai."
"Lu…."
Luhan semakin mengeratkan pelukannya, sesekali dia menciumi tengkuk Sehun lalu berkata sedikit jujur walau pikirannya masih kosong dan terbagi "Kumohon jangan lupakan Luhan. Dia ingin terus berada di hati dan pikiranmu."
Sehun mengangguk kuat, air matanya cepat menetes dipenuhi perasaan bersalah mengingat beberapa kali dia ingin merelakan Luhan, ingin melupakan Luhan, tapi lihatlah saat ini, istrinya sedang memohon tidak ingin dilupakan meski tanpa ingatan yang dimilikinya.
Hal itu hanya membuat Sehun merasa semakin terlihat buruk dan bersumpah untuk tidak memiliki pikiran sedikitpun untuk merelakan atau melupakan Luhan dalam keadaan apapun.
"Aku tidak akan melakukannya Luhan, maafkan aku. Aku sangat mencintaimu."
Luhan bisa mendengar ketulusan hati Sehun, dia juga bisa merasakan serta keputus asaan Sehun karena dirinya, hal itu membuat Luhan semakin yakin pada siapa hatinya memilih dan berakhir membalas pelukan erat suami dari Luhan, mungkin dirinya, menepuk punggung yang sedang terisak seraya berbisik menguatkan "Aku tahu Sehun, aku bisa merasakannya."
.
.
.
.
.
.
.
The Wedding…
.
.
.
.
.
Dan tibalah hari bahagia milik empat sahabat terdekat Sehun dan Luhan. Hari dimana mereka akhirnya memutuskan untuk mengikat satu sama lain sabagai pasangan suami dan istri yang akan saling menjaga, mencintai dan menghormati hingga maut memisahkan.
Tak ada yang bisa menggambarkan bagaiamana bahagia kedua pasangan yang akan menikah di waktu dan tempat yang sama. Terlebih saat buah hati mereka masing-masing ikut menjadi bagian dari hari bahagia mereka.
"Samchon!"
Itu suara Taeoh, anak bayi yang kini menjelma menjadi balita menggemaskan seiring dengan usia ketiganya bulan depan, dia lincah dan banyak tertawa seperti ayahnya, pintar dan tenang seperti ibunya, dia juga jarang menunjukkan wajah sedihnya terutama saat kedua orang tuanya sedang berduka atas kematian Lulu kesayangannya tiga bulan yang lalu.
"Hay Taeoya….!"
Yang dipanggil Samchon adalah sulung dari tiga bersaudara Oh, Yunho. Sepertinya dia memutuskan kembali untuk menghadiri pernikahan keempat sahabat adiknya yang sudah dianggap adik sendiri olehnya.
Awalnya dia ragu untuk kembali, dia hanya takut akan bertengkar lagi dengan Sehun, tapi kemudian Kyungsoo dan Baekhyun secara khusus memintanya datang hingga rasanya sulit untuk Yunho membuat sedih dua pria cantik yang selalu dijaganya sejak kecil.
"Samchon, Haowen hyung dimana?"
"ah, Samchon minta maaf sayang, Haowen hyung masih berada di Tokyo bersama Jeje."
Saat hyung favoritnya dikabarkan tidak datang, bibir mungil Taeoh mengerucut kesal, tapi sesungguhnya itu tidak terlihat menakutkan karena Yunho justru merasa gemas dan semakin merindukan putranya yang sengaja dia tinggalkan di Tokyo bersama Jaejoong istrinya.
"Bagaiamana kalau Taeoh yang datang ke Tokyo? Kita lihat Hao hyung bersama? Hmm?"
"Suka! Taeoh suka ke Tokyo, sama papa sama mama."
"Oke! Kita pergi dengan Papa dan Mamamu."
"yey!"
Dia bersorak senang di gendongan Yunho lalu menambahkan "Sama Papa Yeol dan Baekie juga, Jiwon juga."
"Oke."
Yunho masih tertawa, membawa masuk putra Kai dan Kyungsoo sementara matanya mencari cemas di keramaian, bohong jika dia tidak merindukan kedua adiknya, Sehun terutama. Berharap jika nanti mereka bertemu dia bisa berbicara baik-baik dengan Sehun tanpa harus saling berteriak dan menyalahkan seperti beberapa bulan yang lalu.
"Sama Jaehyun hyung juga."
"Jae hyung? Kau yakin ingin membawa Jae hyung?"
"eoh! Jae hyung baik padaku."
"Baiklah, sebenarnya kau memanggil paman atau hyung pada Jaehyun?"
"mmmhh….hyung!"
"hahaha…araseo, araseo, kalau begitu kita akan ajak Jae hyung juga."
"Oke!"
Lalu mereka tiba di tengah kerumunan, Yunho juga masih setia mendengarkan celoteh riang Taeoh, dia tidak berniat memotong atau meminta Taeoh berhenti berbicara hingga mata elangnya tak sengaja melihat adik bungsunya yang tengah menatap dan memperhatikannya dari jauh.
"Jaehyun?"
Yang dipanggil memalingkan wajah, si bungsu bahkan memberikan senyum menyedihkan pada kakak tertuanya sebelum menghilang di tengah kerumunan, hal itu membuat Yunho cemas hingga terpaksa menurunkan Taeoh dan berjongkok di depan bayi tiga tahun di depannya "Taeoh, dimana Papa dan Mama?"
Taeoh menunjuk kedalam rumah dan berseru "Di dalam."
"Kalau begitu Taeoh harus kembali ke dalam dan bilang pada Mama atau Papa kalau Yunho Samchoon sudah sampai, bagaimana?"
Tanpa memberikan jawaban khusus Taeoh mengangguk, jalannya sudah sangat lancar walau beberapa kali harus menabrak kerumunan tamu yang sudah hadir, sepertinya fokus Taeoh hanya untuk memberitahu kedua orang tuanya dan itu memberikan kesempatan bagi Yunho untuk mencari dimana adiknya.
"Jaehyun!"
Tak lama dia menemukan Jaehyun, kali ini adiknya tidak menolak dan hanya berdiri diam saat kakaknya mendekat "Kau baik-baik saja?" tanyanya dibalas senyum singkat Jaehyun yang terkesan dingin.
"oh, hay hyung."
"Jae…."
"Aku baik-baik saja, omong-omong aku senang melihatmu kembali, walau tidak pulang kerumah setidaknya aku lega mendapati kau berada di pernikahan Kyungsoo dan Baekhyun hyung, gomawo."
Seluruh kata-kata Jaehyun terdengar menyindir, tapi yang mengganggu Yunho adalah kenyataan bahwa adiknya terlihat pucat, Jaehyun juga banyak kehilangan berat badannya hingga tanpa sadar dia bertanya "Kau baik-baik saja? dimana Taeyong? Aku tidak melihatnya."
Lagi-lagi senyum dingin yang ditunjukkan Jaehyun, adiknya terlihat tidak ingin menjawab dan hanya berjalan meninggalkannya "Jae!" lalu Yunho juga tidak ingin menyerah, dia menahan lengan Jaehyun dan meminta penjelasan atas sikap adiknya yang terlihat dingin "Ada apa denganmu?"
"hyung, aku sedang tidak ingin berteriak. Jadi lepaskan aku." Katanya memperingatkan namun Yunho tetap pada keputusannya untuk menuntut jawaban dari adik kandungnya "Katakan padaku apa yang terjadi? Kenapa kau terlihat marah padaku?'
"tsk!"
Jaehyun menghempas tangan kakaknya, di juga sedikit menyeringai lalu memandang remeh pria yang begitu dihormati dan dia sayangi sejak kecil "Apa pedulimu padaku? Pergi saja dan jangan pernah kembali, itu lebih baik untukku, untuk mama, untuk papa sekalipun! Kau dan Sehun hyung sangat membuatku marah!"
"Jae…"
"Jangan membuat moodku hancur lagi hyung, aku kesulitan mendamaikan hatiku yang kacau. Hanya nikmati pesta pernikahan Baek dan Soo hyung lalu kembalilah ke Tokyo." Katanya beranjak pergi namun sial, lagi-lagi Yunho mencengkram lengannya dan tetap pada pertanyaan yang sama "Apa yang terjadi padamu? Apa Sehun menyakitimu?"
"Bukan hanya Sehun hyung, kau juga. Kalian berdua menyakiti Mamaku dan aku benci pada kalian! Pergilah dan lupakan jika kalian memiliki keluarga yang selalu menunggu kepulangan kalian ke rumah! PERGI DAN JANGAN PERNAH-…"
"Ada apa? Kalian bertengkar?"
Lalu suara berat lain terdengar di tengah-tengah teriakan Jaehyun pada Yunho, kedua kakak beradik itu menoleh bersama untuk menemukan Sehun yang terlihat gusar melihat pertengkaran mereka "Sehun?"
Mengabaikan panggilan Yunho, Sehun hanya sebatas peduli pada satu hal dan itu tidak berkaitan dengan keluarganya "Jangan membuat keributan di pernikahan temanku." Lalu dia beranjak pergi, meninggalkan lagi Yunho dan Jaehyun yang masih memandang harap padanya hingga memancing kemarahan Jaehyun yang kini mengepalkan erat tangannya.
"Kalian berdua adalah kakak paling burung untukku, aku—DENGAN SELURUH HIDUPKU AKU MEMBENCI KALIAN!" katanya menjerit, berlari pergi sampai tangan Sehun yang kini mencengkram kuat lengannya "Lepas."
Sehun mempelajari raut wajah Jaehyun, jelas adiknya marah pada sesuatu, dia juga terlihat pucat dan bohong jika Sehun tidak cemas melihatnya "Ada apa denganmu?"
"Berhenti peduli padaku karena aku muak pada kalian berdua!"
Jaehyun melepas genggaman Sehun pada lengannya, dia juga menghapus air mata sialan yang menetes karena sesaknya untuk berjalan pergi, meninggalkan dua saudara yang lebih dulu meninggalkannya, berusaha untuk mengabaikan Yunho dan Sehun seperti mereka berdua yang mengabaikan dirinya, meninggalkannya dalam kesulitan hingga rasanya sesak karena untuk bernafas saja sulit untuknya.
"Kalian berdua membuatku muak!" katanya murka dibalas ucapan Sehun yang sukses membuat tak hanya Jaehyun tapi Yunho membuka lebar kedua mata saat adik dan kakak mereka mengatakan
"Luhan masih hidup."
Sontak hal itu membuat Jaehyun berhenti melangkah, dia ragu untuk menoleh namun tetap dilakukan hanya untuk melihat reaksi terkejut yang sama yang diberikan Yunho sebagai respon atas ucapan kakak keduanya.
"Apa yang kau bicarakan?"
Sejujurnya Sehun enggan mengatakan pada siapapun tentang Luhan, tapi semakin dia menyembunyikan keberadaan Luhan maka semakin sulit untuknya menjauhkan Luhan dari bahaya. Setidaknya dengan memberitahu kabar tentang istrinya yang masih hidup akan membuatnya lebih mudah mengawasi Luhan dengan bantuan keluarga atau kerabat dekatnya.
"Jadi benar Luhan hyung masih hidup?"
Sehun mengangguk perlahan, membenarkan pertanyaan berharap dari Jaehyun untuk menunjuk ke arah pria cantik yang sedang menunggu tak jauh darinya "Tapi dia tidak bisa mengingat apapun."
"huh?" Jaehyun bergumam bingung. Tatapannya terkunci pada sosok mungil yang memakai kemeja putih senada dengan milik hyungnya. Dia juga tidak banyak berinteraksi, hanya sesekali tersenyum jika seseorang mengajaknya berbicara atau mengambil juice dan menenggaknya cepat seperti menghilangkan gugup yang begitu terlihat di wajah kakak iparnya
"Apa yang terjadi?" Lalu Yunho bertanya. Dan sama seperti Jaehyun yang sedang memperhatikan Luhan, sulung bersaudara Oh itu juga terlihat sedang menahan diri antara ingin berlari atau merasa sedih karena saat matanya dan mata Luhan bertemu, Luhan hanya diam menatapnya asing.
"Luhan tidak bisa mengingat siapa dirinya, siapa kalian atau bahkan diriku. Entah, apa yang terjadi padanya hanya jangan memaksakan apapun jika kalian bertemu dengannya. Dia butuh waktu dan aku akan memberikan sebanyak apapun waktu yang diperlukan Luhan agar bisa kembali menjadi Luhanku seutuhnya."
"hyung…."
Sehun menoleh lagi pada Jaehyun, dia tersenyum walau setengah hatinya masih tak rela memberitahukan kabar ini pada keluarganya, dia cemas jika Luhan mengingat nanti siapa keluarga yang telah membuat hancur keluarganya sendiri akan membuat rasa benci dirasakan lagi oleh Luhan.
Dan karena alasan itu pula Sehun memberanikan diri mengatakan "Jangan beritahu Mama dan Papa." Tanpa tahu bagaimana menderita serta penyesalan yang terus menghantui kedua orang tua mereka karena terus membuat Luhan menderita. Puncaknya adalah hari dimana Luhan dinyatakan tewas di dalam kebakaran mengerikan beberapa bulan lalu, hal itu secara keseluruhan membuat mental ayah mereka sangat terpukul dan berakhir hidup seperti mati tak berdaya di kursi roda yang sudah menemaninya hampir tiga bulan berlalu.
"Tapi kenapa?"
"Jangan tanya kenapa karena kau tahu alasannya Jae." Jelasnya singkat, dan memutuskan untuk kembali pada Luhan yang sedang menunggunya "Maaf membuatmu menunggu." Katanya berbisik dibalas pertanyaan singkat oleh Luhan "Siapa mereka?"
Sehun tak mengindahkan pertanyaan istrinya kali ini, yang dia lakukan hanya memberitahu kepada keluarganya tanpa harus membuat Luhan merasa bersalah karena tidak mengenali adik dan kakak dari suaminya sendiri "Aku akan memberitahumu nanti, ayo pergi, aku yakin Baekhyun dan Kyungsoo sudah menunggu."
Rasanya ada sesuatu yang menarik perhatian Luhan saat Sehun membawanya menjauh dari dua pria yang masih menatap sendu padanya, bukan karena dia mengingat atau merasa pernah begitu dekat dengan keduanya, tapi tatapan mereka seolah memintanya untuk mengingat walau Sehun sepertinya enggan memberitahunya lebih cepat.
.
.
.
.
.
.
Klik….!
"Aku datang-….."
"Astaga Sehun! Akhirnya kau datang!"
Yang terlihat memekik adalah Kwon Yuri, dia kakak ipar Jongin yang sedang bertugas sebagai make up dan stylist dari dua calon mempelai pria cantik yang enggan touch up jika belum melihat Sehun di ruangan mereka.
Jadilah dia terus meghubungi Sehun, menunggu cemas kedatangan sahabat dari dua mempelai hingga akhirnya pintu terbuka dan pria dengan postur tinggi tegap serta tampan terlihat di depan kedua matanya.
"Noona, kau tidak perlu memelukku sangat kencang."
Sehun memperingatkan, matanya cemas melirik ke samping Luhan yang memandangnya tak suka, sedetik yang cepat dia berusaha melepaskan pelukan Yuri walau berakhir harus tetap dipeluk istri dari kakak kandung Kai, Kim Woobin.
"Noona-….."
"Ah mian, Noona hanya terlalu bersemangat! Cepatlah masuk kedalam sana dan temui dua temanmu, mereka sangat menyebalkan dan-…" Yuri berhenti berbicara, Demi Tuhan dia tidak memperhatikan jika ada malaikat yang berdiri tepat disamping Sehun, dia pikir Sehun datang sendiri namun rupanya dia salah karena adik Yunho ini ternyata membawa seorang pria cantik yang terlihat sangat mempesona dan tengah meliriknya saat ini.
"as-ta-ga! Siapa yang ada disampingmu? Kenapa dia terlihat sangat sempurna?"
Buru-buru Sehun menarik pinggang Luhan, dia memeluknya erat lalu tersenyum bangga untuk mengatakan "Dia istriku Noona, cantik bukan?"
Yuri mengernyit dahi, wajar jika dia tidak mengenal istri Sehun sebelumnya, dia hanya sesekali mendengarkan cerita Kai mengenai kekasih dan sahabatnya yang untuk Kai begitu cantik dan menggemaskan, tapi untuk melihat langsung Kyungsoo, Baekhyun atau bahkan istri Sehun sekalipun ini adalah kali pertama untuknya mengingat dirinya terlalu sibuk sebagai model dan menetap cukup lama di Jepang karena bisnis suaminya disana.
"Istri?"
Lalu Yuri mengingat lagi, terakhir yang dia ingat Kai menghubungi Woobin dan menangis terisak menceritakan tentang kematian sahabat yang begitu dicintainya, seingatnya pula Kai terus mengatakan istri Sehun namun Yuri melupakan namanya.
Jadi ketika Sehun memperkenalkan si pria cantik sebagai istrinya, dia bertanya bingung seolah memastikan "Bukankah istrimu-…."
"Dia masih hidup, dia tidak pergi kemanapun. Jadi jangan membuatnya bingung Noona, Kumohon."
Luhan hanya diam dan mendengarkan, semua keadaan ini, semua orang yang ditemuinya, semua hal yang tidak diketahuinya terasa begitu asing dan menakutkan untuknya. Dia tidak mengerti harus mengatakan apa jika seseorang mengenalinya sebagai Luhan, dia juga tidak tahu harus bersikap apa hingga membuatnya terpaksa terus mengekori kemanapun Sehun pergi jika tidak ingin merasakan sakit dikepala karena terlalu memaksakan diri mengingat seseorang atau sesuatu diluar kemampuannya.
"Kau baik-baik saja?" Sehun bertanya dibalas anggukan kecil Luhan yang mulai merasakan mual karena dikelilingi banyak orang yang tak dikenalnya "Jangan jauh dariku, aku takut."
"Aku akan terus menggenggam tanganmu."
Dan lihatlah, saat Sehun menautkan jemarinya yang besar dan kasar ke tangan mungil Luhan yang begitu lembut, si pria cantik merasa begitu terlindungi, rasa mualnya juga berangsur hilang terlebih saat Sehun berbisik "Kau siap bertemu dengan Baekhyun dan Kyungsoo?" yang mana membuat hati Luhan berdebar tak sabar mengingat pertemuan pertamanya dengan kekasih Kai dan Chanyeol cukup membuat hatinya berdebar penuh rasa ingin tahu.
"Aku siap."
Sehun mengecup lagi jemari Luhan, dia kemudian melihat Yuri dan mulai melirik pintu ruangan bertuliskan "Baek-Soo" yang artinya mereka menunggu disana sebelum berjalan menuju altar tempat mereka mengikat janji nantinya.
"Aku akan masuk ke dalam."
Yuri mengangguk, dia juga tersenyum saat Luhan membungkuk sopan padanya, setelahnya dia menyingkir hanya untuk membiarkan Sehun membawa si pria cantik yang entah mengapa membuat hatinya senang tanpa alasan.
.
.
Sementara itu…..
Tepat lima menit sebelum kedatangan Sehun, dua pria cantik yang berada di ruangan "Baek-Soo" itu benar-benar terlihat cemas, yang satu terus berjalan ke kanan dan ke kiri tanpa henti sementara yang satu terus melipat kesal tangan di atas dadanya.
Mereka sedang bertaruh jika Sehun akan datang, tapi setengah jam sebelum acara dimulai Sehun belum menunjukkan wajahnya hingga hanya kesal dan cemas jika Sehun tak datang yang memenuhi isi kepala dua pria cantik yang masing-masing akan menyandang nama Park dan Kim sesaat lagi.
"Baek berhentilah membuatku pusing, tenang dan tunggu saja!"
"Bagaimana bisa aku tenang jika bajingan itu tidak menunjukkan wajahnya? Apa dia serius tidak akan datang ke pernikahan kita?"
"Tidak mungkin, Sehun tidak akan berani."
"Bagaimana jika dia benar-benar tidak datang?"
Kyungsoo gusar, dia menarik dalam nafasnya seraya memasang tatapan mengerikan untuk mengatakan "Pernikahan kita batal!"
"Mwo? ssshh….Oh Sehun aku benar-benar ingin membunuhmu sial-…."
Klik…!
Lalu pintu tempat mereka menunggu terbuka,
"Oh Astaga akhirnya kau datang! Biar aku membunuhya sekali Soo!"
Baekhyun memekik pertama kali, dia bahkan setengah berlari mendekati Sehun lengkap dengan kepalan bulat di tangannya.
Niatnya benar-benar akan memukul wajah tampan yang sedang memberikan senyum super menjijikan miliknya jika tidak melihat siapa pria yang sedang berada di belakang Sehun dan tengah menatapnya canggung dengan sepasang mata cantik khas milik…..
"Luhan?"
Suara Baekhyun tercekat, rasanya menyebalkan melihat seseorang yang begitu mirip dengan Luhannya tengah berdiri tepat di kedua matanya, terlebih saat Sehun yang membawa pria itu, membuatnya terus memanggil Luhan walau Chanyeol sudah mengatakan dia hanya pria yang menyerupai Luhan, Bukan Luhannya!
"Apa yang kau lakukan disini?"
Hingga tanpa sadar suaranya menjadi tinggi, hal itu membuat Luhan ketakutan, dia segera bersembunyi di belakang tubuh Sehun sementara Kyungsoo sedang mengatur nafasnya yang sesak dan keterkejutan yang sama seperti milik Baekhyun ketika melihat Sehun membawa pria menyerupai mendiang istrinya ke hari bahagianya dan Baekhyun.
"Sehun?! Kenapa kau membawa orang asing ke pernikahanku?"
"Baekhyun benar! Harusnya kau tidak membawa orang asing yang menyerupai Luhan! itu-….ITU MENYAKITI KAMI!"
"Lu tenang sayang, tidak apa." Sehun melingkarkan tangan Luhan di pinggangnya, berjaga-jaga jika Luhan akan berlari pergi karena Baekhyun dan Kyungsoo terlalu menakutkan bahkan untuk Sehun sekalipun.
"Dan kalian tenanglah, dia Luhan."
"BOHONG! Kami sudah memastikannya sendiri dan dia bukan Luhan! Luhan tidak akan diam jika melihat kami, kami bahkan berteriak memanggilnya tapi dia tak bergeming dan hanya bersembunyi di belakang pria yang nyaris memukulku!"
"Baek…."
Sehun terlihat frustasi, dia menyadari Luhan juga sudah tak nyaman di belakang tubuhnya, ingin dia berteriak marah pada kedua sahabatnya jika tidak melihat air mata luka yang menetes bahkan di hari yang harusnya hanya dipenuhi senyum dan tawa.
"Biar aku menjelaskan."
"Bawa dia pergi!"
"Soo. Dia Luhan, sungguh."
"SEHUN CUKUP! DIA BUKAN LUHAN KARENA LUHAN KITA SUDAH MATI! BAWA DIA PERGI DAN-….."
"AKU TIDAK BISA MENGINGAT APAPUN!"
Kini suara teriakan Luhan bersahutan dengan milik Kyungsoo dan Baekhyun. Sepertinya dia tidak rela jika tidak bisa mengikuti upacara pernikahan dari dua pria yang entah mengapa disukai hatinya.
Luhan yang tidak mengingat apapun biasanya cenderung pergi jika seseorang memintanya, terlebih saat dirinya dibentak dan dikatakan pembohong oleh dua pria asing didepannya, harusnya dia pergi, tapi yang membuat Baekhyun serta Kyungsoo terdiam adalah kenyataan bahwa pria yang sedang mereka bentak memutuskan untuk tidak berlindung di balik tubuh kekar Sehun.
Dia bahkan membalas teriakan kenang Kyungsoo hanya untuk menatap langsung kedua mata pria yang terus mengatakan Sehun pembohong "Sehun tidak berbohong, aku, Aku tidak tahu aku Luhan atau bukan, tapi Sehun tidak berbohong pada kalian." Isaknya pilu dan menolak untuk dipeluk Sehun karena akan berakhir menangis tersedu di pelukan nyaman Sehun.
"Benar namaku Rein, tapi aku rasa aku juga Luhan, Sehun berhasil meyakinkan aku dengan caranya, hanya dia…."
Baik Kyungsoo maupun Baekhyun merasa lemas, debaran jantung mereka berpacu lagi dengan akal sehat yang menyakitkan kepala, mereka ingin mengelak, tapi jauh di hati mereka sangat bahagia menyadari bahwa kemungkinan mereka bisa melihat Luhan lagi, bisa bersama dengan Luhan lagi.
"Tapi apa yang terjadi?"
Kyungsoo melunak, dia tak lagi melebarkan kedua matanya yang bulat, tatapannya juga mengiba pada Luhan sesekali menatap sendu pada Sehun "Apa kau sakit?"
"entahah, Aku tidak bisa mengingat apapun." Lirihnya, "Aku benar-benar menyukai kalian saat kita bertemu saat itu, aku minta maaf karena Taecyeon-….."
Tiba-tiba Luhan merasa tangannya ditarik kencang, sedetik kemudian dia sudah berada di pelukan pria yang dia tebak bernama Baekhyun hanya untuk mendengar teman Sehun berbisik "Aku tidak tahu apa yang terjadi padamu, tapi aku janji akan mengobatimu. Aku akan melakukan segala cara agar kau mengingat kembali, aku janji…..astagaakutidakpercayakauLuhan!"
Baekhyun bahkan menggigit kencang bibirnya, menahan isakan pilu yang tak bisa ditahannya lebih lama, dia memeluk erat Luhan, terlalu erat hingga rasanya Luhan bisa merasakan sesak yang dirasakan Baekhyun saat ini "Baekhyun? Aku benar?"
"ya, Ya aku Baekhyun sayangku, kau benar, Aku—astagaaLuhaaan…."
Lalu dalam sekejap tangisan Baekhyun memenuhi ruang tunggu di hari pernikahannya, suaranya menggema kencang antara lega dan tak percaya karena bisa kembali memeluk Luhan dengan erat.
Hal yang sama juga dirasakan Kyungsoo yang kini memperhatikan Luhan tak berkedip, dia membiarkan Baekhyun melepas rindunya lebih dulu sementara mata sendunya kini menatap Sehun yang kini memeluknya erat.
"Terimakasih sudah membawa Luhan pulang kerumah Sehunna, terima—hkss….terimakasih."
Sehun tidak menjawab apapun, yang dia lakukan hanya memeluk erat Kyungsoo sementara matanya tak sengaja bertatapan dengan Luhan yang kini tersenyum lembut ke arahnya, air mata mereka nyaris tak bisa disembunyikan karena rindu yang menyesakan. Lalu Sehun menghapus cepat miliknya serta mengatakan "Gomawo" pada Luhan sebelum pintu kembali terbuka dan kini dua mempelai pria yang terlihat membeku di tempat mereka berdiri saat ini.
"Siapa yang membuat Baekhyun berteriak?" Chanyeol yang bertanya, awalnya dia geram melihat calon istrinya memeluk seseorang yang tak dikenalnya, tapi kemudian mereka semua menoleh hingga satu tatapan familiar yang sudah lama tak dilihatnya mengganggu.
Sesekali dia berkedip, berharap salah melihat, berkedip lagi lalu dia yakin bahwa pria cantik yang sedang memeluk Baekhyun adalah…..
"Luhan?"
Kai yang bertanya, dengan wajah enggan dibantah dia bersikeras memanggil pria yang mereka ketahui bernama Rein dengan Luhan. Hal itu membuat tawa sarkas Chanyeol terlihat hingga tak sengaja dia berkata sangat kasar "Luhan kita sudah mati Kai."
Kai menatapnya marah, dia tak terima saat Chanyeol mengatakan kalimat tabu yang selalu dihindarinya jika mereka sedang membahas Luhan.
"Apa kau tuli? Baekhyun berteriak Luhan!" gertaknya pada Chanyeol hingga membuat si pria berlesung pipi gusar, bohong jika dia tidak mendengar Baekhyun berteriak Luhan, bohong pula jika dia tidak ingin mendengar kenyataan bahwa pria yang sedang memandangnya takut itu benar adalah Luhan.
Tapi mereka sudah pernah bertemu sebelumnya dan Kai, dirinya atau bahkan Sehun sekalipun mengetahui jika pria menyerupai Luhan itu bernama "Rein, namanya Rein. Dia bukan Luhan!" ujarnya tak sabar hingga membuat Kai sedikit terpancing emosinya "Lalu apa yang dia lakukan disini?"
"Sepertinya bukan salahnya dia ada disini, salahkan Sehun!"
Semua yang berada di ruangan itu memaklumi ucapan kasar dan tindakan gegabah dari Kai dan Chanyeol yang seolah menolak keberadaan Luhan.
Mereka tahu alasan mengapa Chanyeol bersikeras mengatakan Luhan adalah Rein, ya, bahkan jika Sehun berada di posisi Chanyeol dia akan memberikan reaksi yang sama atau mungkin lebih buruk untuk melindungi hatinya agar tidak terluka lagi.
"Kenapa kau membawanya ke pernikahan kami? Apa kau ingin menjadikannya Luhan hari ini?"
"Dia Luhan." Sehun memberitahu dibalas teriakan "OMONG KOSONG!" Dari Kai yang kini menarik lengan calon istrinya dan membawa Kyungsoo ke pelukannya "Aku tahu ini trik murahan yang kau gunakan untuk melindungi dirimu sendiri!"
Jadilah semua kesalahan itu dilimpahkan pada Sehun, mereka bahkan tidak memberi kesempatan pada Sehun untuk bebricara dan hanya terus menuduh Sehun melakukan hal keji pada mereka "Kau menjadikannya Luhan hanya untuk menyenangkan hatimu sendiri tanpa mempedulikan bagaimana perasaan kami melihatnya!"
"Kai…."
Kyungsoo berusaha menenangkan, namun ayah dari putranya itu terlihat sangat gusar karena harapannya sendiri. Dia ingin mengakui bahwa pria yang sedang bersama mereka benar adalah Luhan, tapi dengan kesadaran yang dimiliki, Kai enggan mengakui karena pastilah hatinya akan terluka lagi.
Bukan hanya hatinya, semua hati yang ada di ruangan ini akan meremat sakit, semua, tak terkecuali pria cantik yang sedang menatapnya seperti Luhan saat ini "Sebaiknya kau pergi."
"Kai benar, kehadiranmu hanya menyiksa kami." Timpal Chanyeol, dia menjauhkan Baekhyun dari pria asing itu hingga membuat calon istrinya meronta karena geram "Cukup!" katanya berdiri di depan Luhan, melindunginya dari dua pria bodoh yang begitu putus asa untuk mengatakan "DIA LUHAN! AKU, SEHUN DAN KYUNGSOO MENGAKUINYA!"
"Bee…"
"DIA LUHAN YEOL! TIDAKKAH KAU MEMILIKI SEDIKIT SAJA AKAL SEHAT YANG MENGATAKAN DIA LUHAN!"
"Akal sehat adalah omong kosong, kau tahu itu." katanya tegas pada Baekhyun lalu menatap tak suka lagi pada Luhan "Dan sebaiknya kau pergi!"
"Aku harus mengatakan apa lagi agar kalian percaya dia Luhan?"
Kini Sehun terlihat marah, raut wajahnya tak terima saat Kai dan Chanyeol bergantian mendesak pria yang memang adalah Luhan, tangannya bahkan sudah terkepal, bersiap-siap jika penjelasan terakhirnya masih belum bisa menyadarkan dua idiot bodoh yang terus menyangkal kata hati mereka.
"Bagaimana bisa kami mempercayai dia Luhan jika sebelumnya dia mengenalkan diri sebagai Rein? Dia juga mengakui pria yang nyaris melukai Baekhyun adalah suaminya! Lalu bagaimana kami bisa percaya jika dia-….."
"DIAM!"
"Kenapa kau berteriak? Apa kau akan terus melakukan sandiwara gila ini? Apa kau akan terus menjadikannya Luhan sementara Luhan kita sudah pergi?! JAWAB AKU PENGECUT!"
"yeol…."
Semua terlihat tegang saat tak hanya Chanyeol yang kini mencengkram kemeja Sehun tapi Kai juga terlihat sudah mengepalkan erat tangannya. Keduanya menatap murka pada Sehun sampai satu bisikan dari Sehun berhasil merubah ekspresi Kai dan Chanyeol.
"Dia Luhan, percayalah padaku."
"Berhenti mengatakan omong kosong padaku."
"Aku tidak."
"Lalu kenapa kau tega menyebut orang asing sebagai istrimu?"
"Karena dia memang Luhan."
"SEHUN!"
Kai berteriak tak tahan, dia bahkan mengambil alih cengkraman Chanyeol dengan kepalan tinju yang siap memukul wajah Sehun jika Sehun tidak berbisik "Seunghyun yang mengatakannya padaku, Luhan masih hidup."
"Mwo?"
Sebisa mungkin Sehun mengecilkan suaranya, dia tidak ingin kebenaran ini didengar oleh ketiga pria cantik yang sedang menatap cemas pada mereka, dia terus melirik, memastikan tak ada satupun dari Baekhyun, Kyungsoo atau Luhan mendengar apa yang akan dikatakannya pada Kai dan Chanyeol.
"Seunghyun? Omong kosong apalagi yang akan kau katakan? Seunghyun sudah mati!"
"Tidak, dia masih hidup. Aku membiarkannya hidup, kondisinya kritis tapi dia sadarkan diri, dan kalian tahu hal gila apa yang dikatannya saat pertama kali bajingan itu membuka mata?"
Tak ada yang bersuara dari Kai dan Chanyeol. Kedua wajah mereka tegang namun penuh harapan, lalu sepertinya Sehun berbaik hati untuk membawa harapan mereka menjadi nyata dengan mengatakan "Luhan tidak pernah mati, bajingan itu sengaja menukar tubuh Luhan dengan milik orang lain, dia juga memakaikan cincin pernikahan kami pada jasad orang asing, membiarkannya terbakar agar kita berfikir Luhan sudah mati!"
"tidak mungkin…."
Kai sedikit lemas, dia ingat pertama kali melihat jasad tubuh Luhan hanya cincin yang dikenakannya yang mereka kenali, sisanya hangus, seluruh tubuh Luhan hangus terbakar hingga pihak rumah sakit tidak bisa melakukan visum pada tubuh Luhan yang nyaris tak dikenali.
"Lalu apa yang dilakukan Seunghyun pada Luhan?"
Mata Sehun setengah terpejam, antara marah dan ingin membunuh Seunghyun untuk memberitahu "Dia membuang tubuh Luhan ke tengah laut."
Kai dan Chanyeol berusaha mempercayai Sehun, lalu seketika ucapan Sehun menjadi masuk akal mengingat saat itu hanya ada ayahnya dan Seunghyun terjebak dalam kebakaran mengerikan yang menewaskan Luhan.
"Bajingan!"
Lalu saat ini Sehun sedang memberitahukan hal gila yang membuat kepalanya semakin sakit, kejadian mengerikan yang harus mereka alami seolah menjadi lelucon gila karena nyatanya Luhan kini berada di tengah-tengah mereka.
"Lalu kenapa dia tidak mengingat kita? Siapa Taecyeon? Dan kenapa dia mengenalkan diri sebagai Rein?"
Sekilas Sehun menatap sendu istrinya, raut ketakutan di wajahnya masih sangat terlihat, dia pun tersenyum lembut menenangkan sebelum menatap memohon pada dua pria yang memiliki sekitar empat puluh persen bagian di hati Luhan "Luhan butuh bantuan kita."
"Apa yang terjadi?"
"Dia kehilangan ingatannya."
"tidak….Itu tidak mungkin."
Kai tertawa sinis, dia menoleh sekali lagi untuk melihat Luhan, lalu kembali lagi menatap Sehun dan gerakan terakhir saat dia menoleh, dia bersumpah melihat kebiasaan Luhan disaat terdesak atau ketika dia dimarahi oleh Mama dan papa dengan menggigit cemas bibir bawahnya.
Hal itu sedikit membuat Kai sesak sampai suara Chanyeol terdengar lagi bertanya "Apa yang terjadi?"
"entahlah, aku yakin Taecyeon yang menemukannya. Dan menyadari bahwa Luhan kehilangan ingatannya, dia menjadikan Luhan sebagai Rein, istrinya yang memiliki wajah serupa dengan Luhan."
"sial!"
Chanyeol menggeram, setelah mendengar semua penjelasan Sehun hatinya mulai terbuka, pikirannya mulai mengulang di beberapa bagian saat mereka bertemu sebagai Chanyeol dan Rein.
Ada dimana Chanyeol akan menemukan kebiasaan kecil Luhan seperti menggembungkan pipi jika gugup atau menggigit bibir jika sedang dimarahi, lalu dari caranya berbicara saat mereka bertemu di Minimarket hanya membuat Chanyeol semakin yakin bahwa sedari awal mereka bertemu, hati kecilnya memang mengatakan dia Luhan namun ditutupi hatinya karena takut terluka jika pria cantik itu bukan Luhan.
"Lu…."
Jadilah Chanyeol melangkah gontai mendekati Luhan, awalnya Luhan bersembunyi diantara Baekhyun dan Kyungsoo karena takut, tapi saat keduanya tersenyum dan mengatakan "Tidak apa, mereka teman kecilmu." Serta menguatkannya, Luhan tak lagi bersembunyi.
Dia membiarkan Chanyeol mendekat, begitupula Kai yang sedang menatapnya dan berjalan dibelakang Chanyeol mengikuti. Keduanya sendu menatap, hanya ada sebaris senyum kecil yang terlihat sampai lebih dulu Chanyeol bertanya dan berdiri tepat didepannya.
"Jadi benar? Kau Luhan?"
Entah apa yang dikatakan Sehun pada Chanyeol dan Kai, tapi keduanya merubah ekspresi benci mereka menjadi berharap, Luhan bisa melihat bagaimana Chanyeol menatapnya lembut lalu tak lama Kai bergabung dan ikut bertanya padanya.
"Kau Luhan?"
Luhan bergerak cemas, sekilas dia menatap Sehun meminta bantuan, tapi Sehun hanya tersenyum padanya, tatapannya juga mengatakan kau akan baik-baik saja, hingga membuat Luhan tak memiliki pilihan lain selain menjawab "entahlah, Aku juga masih mencari tahu siapa diriku."
Dilihat dari tatapannya yang cemas, caranya menjawab pertanyaan dari orang asing atau bahkan gesture tangannya sangat gugup hanya menggambarkan Luhan kecil yang begitu mereka kenal.
Hal itu membuat Chanyeol menggeram sementara air mata Kai jatuh menetes seperti menyesal karena tidak menyadari Luhan lebih awal "Kau Luhan."
"huh?"
"Itu bukan pertanyaan tapi pernyataan, aku benar-benar melihatmu seperti Luhan."
Luhan tersenyum kecil lalu mengangguk sedikit cemas "aku juga berharap."
"Apa?"
Kali ini dia menatap sendu wajah kelima orang yang membuatnya nyaman dalam waktu singkat, kenyamanan yang bahkan hanya diberikan melalui keyakinan yang membuat Luhan berani mengatakan.
"Aku berharap aku adalah Luhan, aku ingin bersama kalian dan-…."
Grep!
Satu tarikan kencang Luhan sudah berada di pelukan Chanyeol diiringi isakan Kai yang juga memeluknya erat. Keduanya seolah memperebutkan diri untuk melepas rindu dengan cara yang membuat Luhan semakin tak rela jika dirinya bukan Luhan
"Maafkan aku Lu, maaf tidak bisa mengenalimu rusa kecil."
Chanyeol mencium pucuk kepalanya, diikuti pelukan Kai yang semakin erat dan berbisik di telinganya "Kau Luhanku, Kau Luhan, aku janji kau adalah Luhan."
Tak tahan dengan semua kehangatan ini, Luhan luluh.
Tangan mungilnya melingkari tubuh dua pria besar yang entah mengapa terlihat sangat menyayanginya dengan tulus, hal itu membuat Luhan sesak dan semakin berharap jika dirinya memang Luhan, jika pelukan dan kasih sayang dari lima orang yang berada di ruangan ini adalah mutlak milknya, hanya miliknya.
"aku Luhan….aku ingin bersama kalian." Katanya mengangguk pilu disela pelukan Kai dan Chanyeol semakin erat. Ketiga teman kecil itu menangis melepas rindu yang sama, lalu ketiga teman kecil yang lain juga terlihat menahan haru yang sama.
Ah, sepertinya hanya Sehun yang terlihat menahan harunya, karena saat ini, Kyungsoo dan Baekhyun sedang menangis tersedu di pelukannya, bergantian membasahi kemeja putih yang dia gunakan hingga rasanya sayang jika Sehun tidak menggodanya.
"Kalian akan terlihat seperti monster jika berjalan ke altar nanti."
"Berisik! / Diam Oh Sehun!"
Lalu Sehun tertawa, mencium pucuk kepala Kyungsoo dan Baekhyun bergantian sementara matanya menatap bahagia karena bisa melihat Luhan kembali pada dua saingannya sejak kecil, walau belum sepenuhnya mengingat tapi Sehun memiliki keyakinan bahwa bahagia Luhan hanya saat mereka bersama.
"Kalau begitu kau akan pulang kerumah setelah pernikahan kami. Kau dengar?"
"Tapi aku sudah pulang ke rumah."
"Dengan siapa?"
"Sehun."
"Percayalah Lu! Itu bukan rumah!"
"Tapi….."
Luhan terlihat bingung saat Kai mengatakan rumah, membuatnya menatap pada Sehun sampai tangan besar Chanyeol menangkupnya dan dengan tegas mengatakan "Kali ini benar-benar rumah kita."
"huh?"
"Rumah dimana kau, aku, Kai, Baekhyun, Kyungsoo dan suami idiotmu tinggal! Itu baru rumah."
Entah mengapa mendengarnya saja sudah membuat hati Luhan merasa hangat, bagaimana jika dia benar-benar pulang ke rumah sesungguhnya, entahlah, mungkin dia akan sangat bahagia.
"Kau mau kan?"
Luhan tak tahu harus menjawab apa, tujuannya hanya Sehun, jadi saat pertanyaan menggoda yang membuatnya ingin sekali mengatakan YA! Luhan masih harus meminta persetujuan Sehun dengan menatapnya.
Tebakannya Sehun akan mengatakan tidak, tapi diluar dugaan dia mengangguk tanda mengijinkan, membuat Luhan benar-benar nyaris memekik walau berakhir menahan diri dengan menjawab pertanyaan Chanyeol yang membuatnya sangat bahagia.
"Aku mau."
"yeah! Kau harus mau atau aku akan memaksamu."
Semua tertawa, tak terkecuali Luhan yang merasa tingkah Kai dan Chanyeol benar-benar konyol, keduanya bahkan terus mengatakan hal bodoh yang membuatnya merasa terhibur sampai suara ketukan pintu terdengar dan wanita cantik yang memeluk Sehun beberapa menit lalu terlihat kesal dan gusar.
"Maaf, aku tidak bermaksud menganggu, tapi pendeta sudah menunggu! Jadi bisakah kita mulai acaranya?"
Baik Kai dan Chanyeol masing-masing menatap Luhan untuk mengatakan "Kami akan menikah."
"Aku tahu, selamat untuk kalian."
"Kau tidak cemburu?"
"HEY!"
"Abaikan dia, suamimu memang suka berteriak!"
Luhan banyak tertawa jika dikelilingi keluarga barunya, dia juga selalu merasa bahagia hingga air mata harunya kembali terlihat "Aku bahagia, Selamat untuk kalian." Katanya memeluk bergantian Kai dan Chanyeol lalu beralih pada Baekhyun dan Kyungsoo "Dan untuk kalian."
"Gomawo Lu."
Sehun kemudian melepas pelukannya dari Baekhyun dan Kyungsoo, menatap kedua teman kecilnya yang akan mengikat janji untuk mengucapkan rasa bahagianya "Well, Selamat dariku juga! Walau untuk ukuran pengantin yang belum berdandan kalian terlihat sangat berlebihan makeup dan pakaian!" katanya menyindir dan dihadiahi cubitan panas di pinggang dan pundaknya.
"ssshh….!"
"Berhenti menggoda kami idiot!"
Kyungsoo kesal, lalu tak lama Kai datang mendekat dan menciumnya di bibir "Aku tidak siap mengikat janji denganmu."
"Aku juga."
Lalu hal sama dilakukan Baekhyun yang kini merangkul lengan Chanyeol dan bersiap untuk berjalan menuju altar untuk mengikat janji sehidup semati yang akan membuat mereka resmi menjadi pasangan hidup di mata Tuhan.
"Apa aku sudah boleh memanggilmu istriku?"
"Yeolll!"
"tsk! kalian menjijikan."
"Berisik!"
"Biarkan mulutku berbicara!"
Sehun mencibir, dia juga merangkul pinggang Luhan sementara kedua pasang pengantin didepannya sudah berjalan meninggalkan ruangan untuk bersiap menuju altar "Sampai nanti Luhan."
"eoh…."
Luhan melambaikan tangannya, mengantar kepergian Kai-Kyungsoo, Chanyeol-Kai untuk mengikat janji sementara dirinya tak sabar untuk menjadi saksi janji indah yang akan diucapkan keempat pasang mempelai.
Dia ingin melihat lebih dekat, lalu Sehun menciumnya di keninga untuk bertanya "Kau senang berada disini?"
"mmhh….Tapi aku juga sedang bertanya-tanya."
"Mengenai apa?"
"Apa pernikahan Sehun dan Luhan juga semanis pernikahan mereka?"
Sehun terdiam sejenak, mengenang bagaimana mereka menikah hari itu sampai satu senyum terlihat di wajahnya yang tampan "Milik kita lebih manis."
"Benarkah?"
Sehun mengangguk, menawarkan lengannya pada Luhan disambut lingkaran tangan Luhan di lengannya "Ya, tentu saja."
"Maaf aku tidak bisa mengingatnya."
Sehun berhenti sesaat, menatap menyesal karena tak bisa membantu Luhan mengingat dengan cepat namun dia bersumpah, apapun yang terjadi, terlepas Luhan akan membencinya atau tidak setelah ingatan itu datang, dia akan mengembalikan seluruh ingatan Luhan tanpa mengurangi apapun, itu janjinya "Kau akan segera mengingatnya Lu, aku janji." Katanya bersamaan dengan suara Kai-Kyungsoo, Chanyeol-Baekhyun yang kini bersahutan saling mengatakan "aku bersedia." Hingga kini, di hari yang begitu indah ini, keempat sahabat mereka telah menyusul bahagia memiliki pasangan sehidup-semati yang sah di mata Tuhan dan kerabat serta keluarga.
"haah~ Mereka benar-benar melakukannya."
Sehun berujar bangga diiringi raut tanya oleh Luhan "Melakukan apa?"
"Akhirnya mereka menikah setelah-…."
"SEHUN CEPAT KEMARI!"
Sehun dan Luhan sama-sama menoleh saat suara Chanyeol berteriak, awalnya mereka bertanya-tanya tapi sepertinya Sehun sudah mengetahui apa yang terjadi hingga suaranya membalas "TIDAK TERIMAKASIH!"
"Sehun, naiklah." Luhan membujuk, Sehun menggeleng "Tidak, terimakasih."
"Sehun….."
"Mereka hanya akan berbuat konyol disana."
"Aku ingin melihatnya."
"SEHUN….SEHUN….SEHUN…"
Entah hal gila apa yang akan dilakukan Kai dan Chanyeol di atas panggung, perasaan Sehun tidak enak, lalu lihatlah saat ini Luhan juga meneriakan "SEHUN…SEHUN…" Hingga membuat si pria tampan tidak memiliki alasan selain menyerah dan berjalan menuju panggung.
"BAIKLAH!"
Luhan bertepuk senang dan Sehun mencium keningnya berpamitan "Tunggu aku disini."
"Oke."
Setelahnya Sehun berlari menuju panggung,
Dan benar saja, mereka bertiga menyanyikan entah lagu apa di atas sana, yang jelas suara mereka sangat merusak gendang telinga hingga beberapa kerabat dekat laing berteriak "TURUN…TURUN…"
Hal itu membuat Luhan tertawa geli, beruntung dua pengantin pria cantik bersedia menjadi relawan dari kegagalan tiga pria tampan, mereka kemudian bernyanyi dengan sangat indah sesekali tertawa untuk perayaan hari pernikahan mereka.
Kelima dari mereka terlihat sangat bahagia, begitupula Luhan yang tanpa sadar mengatakan "aku ingin segera pulang." Karena untuknya, rumah bukan sekedar tempat tinggal, rumah adalah tempat penuh cinta yang akan selalu menyambutnya dalam keadaan terburuk sekalipun, ya, Rumah adalah cinta, dan lima orang yang sedang bernyanyi dan tertawa disana adalah "Rumah" untuk Luhan.
Kebahagiaan Luhan mungkin tidak sama dengan kebahagiaan menyedihkan yang dirasakan Jaehyun dan Yunho, karena disaat Luhan dan Sehun terlihat bahagia dengan dunia mereka, maka kedua bersaudara itu hanya bisa memandang dari jauh sosok yang begitu dicintai keluarga mereka.
Jaehyun yang paling terluka, dia adalah saksi hidup bagaimana keluarganya hancur dan saling meninggalkan, dia juga adalah saksi hidup dimana ibunya harus mengkonsumsi obat penenang karena ayah dan kedua kakaknya.
Dia merasa bersalah untuk Luhan, terlebih saat kekasihnya, Taeyong memutuskan untuk kembali ke dunia hitam dengan niat membalas dendam pada pembunuh Luhan, dia terisak, hidupnya hancur dan kini Luhan kembali.
Kembalinya Luhan seperti membuatnya memiliki harapan hidup untuk keluarga dan kekasihnya.
Jadi dengan atau tanpa persetujuan Sehun, Jaehyun memutuskan untuk mendekati sosok yang juga dirindukannya, yang sangat dicintainya, menahan segala isak pilu serta mencoba untuk menjadi kuat saat menepuk pundak Luhan yang kini menoleh dan biasa, Luhan selalu menatapnya lembut dengan kedua mata cantik miliknya, yang selalu disukai semua orang
"Hey bukankah kau Jaehyun?" dia bertanya, tapi Jaehyun terlalu frustasi menyadari satu hal, Luhan mengingatnya bukan sebagai seorang adik melainkan sebagai remaja yang merupakan teman adiknya.
Hal itu membuat hati Jaehyun memukul sakit, terlalu sakit hingga tanpa sadar dia menarik Luhan ke pelukannya, memeluknya erat seraya terisak pilu "Ingatlah aku hyung, aku membutuhkanmu."
.
.
.
.
.
tobecontinued
.
.
.
Dan tara….Sehun turun dari panggung, nyamperin Jaehyun terus Jaehyun diapain? Alesan tbc adalah karena masih gue pikirin :""" boong deng, udah deadlinenya up, ngantuk juga guenya wkkwk *human!
.
Tapi yang ga gue pikirin lagi nextchap Luhan's memory is back…but how? Let's see, ada beberapa yang nebak mendekati benar :**.
.
Tenkyu, seeyou, loveyou
.
Doain biar weekend bisa up lagi, ini ga janji, kalopun UP weekend mungkin ga sebanyak skrg wordsnya, tapi plis bgt jangan dibegadangin, biar gue aja, asli, tau2 kalian bangun Up gtu, oke? Take care, jangan sakit kecuali ada yang nyakitin :"
.
Byeeee…
