FT Island Fan Fiction
Mr. Cassanova
©MikiHyo
.
Cast : FT Island, Kira Akegawa, Kazu Uzumi, Miki Amakura, & Other Cast
Genre : Romance, Friendship, Hurt/Comfort, School Life
Rated : T
Length : Part (On Going)
Desclaimer : Hak Cipta dilindungi Tuhan Yang Maha Esa ^^
A/N : Cerita di part ini lebih panjang, dan banyak MinKi + Bomi scene, karena ini mulai masuk part-part penutup, dan hubungan diantara MinKi + Bomi belum jelas, jadi aku putusin buat nyelesein kisah MinKi. Part-part terakhir Mr. Cassanova ini emang difokuskan untuk mereka, jadi maklumin author kalau disini kebanyakan cerita mereka.
.
.
Part 28
.
.
Author POV
.
"Hebat sekali! Mereka semua memang hebat!" seru murid-murid yang berkumpul didepan papan pengumuman besar yang berisikan daftar nilai murid kelas 3 yang telah mengikuti Ujian Percobaan Kelulusan.
"Jonghun Sunbae masuk peringkat 2, sedangkan Hongki sunbae peringkat 4"
"Wonbin Sunbae juga hebat, dia yang menduduki peringkat 1"
Murid-murid yang kebanyakan terdiri dari perempuan itu pun semakin sumringah memuji pujaan-pujaan mereka. Seisi sekolah cukup heboh saat daftar nilai tersebut dipajangkan. Mereka memang telah menanti-nanti bagaimana hasil ujian pujaan-pujaan mereka.
Sementara ditempat lain, tepatnya Ruang OSIS. Terlihat lelaki manis yang menjabat sebagai Ketua OSIS tengah sibuk membahas acara perpisahan untuk kelas 3.
"Proposal yang kuajukan sudah disetujui dan ditanda tangani oleh Kepala Sekolah, susunan panitia juga sudah dibuat, apa ada masalah lagi?" tanya Jaejin –si Ketua- sembari merapikan lembaran jadwal kegiatan yang sudah ia persiapkan.
"Ketua, kudengar Wonbin Sunbae menduduki peringkat tertinggi lagi" salah satu anggota OSIS berseru pada Jaejin.
Jaejin pun tersenyum, "Benarkah? Bagus sekali, Wonbin Hyung memang hebat"
"Ketua ini memang paling dekat dengan Wonbin Sunbae. Disaat yang lainnya memuji Hongki dan Jonghun Sunbae, kau tetap saja memuji Wonbin Sunbae" sahut yang lain.
"Ya, aku juga dekat dengan Hongki dan Jonghun Hyung. Kami semua berasal dari sekolah yang sama, siapa bilang aku tidak mendukung mereka. Mereka juga hebat, selalu masuk peringkat 5 besar" Jaejin hanya tersenyum menanggapi ucapan anggotanya.
"Yah... Wonbin Sunbae memang sangat hebat, dia orang terpopuler keempat setelah Minhwan. Ketua sangat dekat dengan mereka semua, nilai-nilai Ketua pun selalu diatas rata-rata. Hah... kalian berlima ini memang orang-orang yang menyilaukan"
Jaejin pun tertawa mendengar ucapan-ucapan anggota OSISnya. Mereka yang kebanyakan adalah adik-adik kelasnya memang suka menggoda Jaejin.
"Yah, kalian ini berlebihan"
"Setelah Jonghun Sunbae, Hongki Sunbae dan Wonbin Sunbae lulus. Maka Ketua Lee dan Minhwan akan menjadi pujaan berikutnya"
"Hahahaha" Jaejin pun hanya bisa tertawa.
Rapat OSIS itu pun diakhiri candaan oleh para anggota. Jaejin tak henti-hentinya dipuji oleh semua anggotanya, sementara ia hanya bisa tersenyum dan tak jarang menundukkan wajahnya karena malu.
Tak terasa kelulusan kalian hanya tinggal beberapa minggu lagi, Hongki Hyung, Jonghun Hyung, Wonbin Hyung... aku bersyukur disaat seperti ini kita bisa berkumpul lagi. Semoga kita bisa terus bersatu walaupun pada akhirnya kita pun akan berpisah, aku hanya berharap hubungan kita tidak akan pernah terputus lagi
.
.
Author POV
.
"Jonghun-ah! Kau menyebalkan!"
Pria tampan berhidung indah itu tak menanggap, tangannya masih saja memainkan instrumen kesayangannya, Gitar. Tak mengindahkan sedikit pun sorotan mata tajam dari laki-laki manis disampingnya, Lee Hongki.
"Aish, benar-benar Pinochio ini. Grr.." Hongki pun terus mengumpat sambil mengerucutkan bibir. Sementara dikursi lainnya, Wonbin tengah menatap kedua sahabatnya itu dengan sebelah alis mengangkat.
"Ya ampun, kedua orang ini tidak ada berubah-berubahnya" Wonbin mendecak ringan seraya membaca kembali kertas-kertas berisikan lirik lagu yang ia pegang.
"Astaga... kenapa aku harus punya teman-teman yang menyebalkan seperti kalian, malangnya nasibku" Hongki meninggikkan suaranya sambil mengibas-ibaskan tangan kanannya seolah ia merasa panas padahal didalam studio ini AC sudah menyala.
"Hongki-ah, kau berisik. Aku sedang konsentrasi membuat lagu baru, ini untukmu juga. Kalau aku tidak memproduksi lagu lagi, bisa-bisa suara emasmu berkarat karena tidak pernah menyanyi" kata-kata nista pun meluncur bebas dari mulut Jonghun.
Membuat Hongki setengah mati menahan nafas, atau mungkin menahan emosinya.
Sudut bibirnya pun tertarik tajam kebelakang, "Ya, Choi Jonghun! Bisa-bisanya kau mendapat peringkat diatasku! Bahkan dua tingkat diatasku! Arrrgh" Hongki mengacak-acak rambutnya frustasi.
Jonghun pun menghela nafas, "Sudah kuperingatkan ujian percobaan dihari pertama adalah Bahasa Korea, yang kau ingat hanya Bahasa Inggris" ketus Jonghun.
"Ya, kalau nilai Bahasa Inggrisku tidak meningkat, aku tidak akan lulus masuk universitas di Jepang!" balas Hongki.
Jonghun pun menepuk jidatnya, "Dasar anak ini, diotaknya hanya ada Kira" cibir Jonghun.
Wonbin yang mendengar pertengkaran kedua sahabatnya itu pun hanya bisa tergelak, ia mencoba menahan tawanya, berpura-pura fokus dengan lirik-lirik yang dibacanya.
"Hihihi"
"Ya, kalau mau tertawa jangan ditahan. Suara tawamu jadi terdengar seperti tawa hantu" Hongki yang sadar Wonbin menertawakannya pun mengerucutkan bibirnya.
"Haha, kau seperti tidak tahu dia saja. Dia kan memang seperti itu kalau sudah menyangkut miliknya yang berharga" ucap Wonbin pada Jonghun. Jonghun pun hanya mengangguk.
"Hmpth, sikapmu sok cuek. Padahal kau pun memikirkan kepulangan Kazu kan" Hongki balas meledek kearah Jonghun, yang langsung mendapat sorot mata tajam dari pria tampan berhidung indah itu.
"Oh iya, bagaimana denganmu? Kalau Hongki mau menyusul Kira ke Jepang, lalu kau dan Kazu bagaimana?" Wonbin pun beralih kearah Jonghun.
Pria tampan itu tampak berpikir sejenak. Sesekali menghela nafas dan menggelengkan kepalanya.
"Aku tidak tahu" jawabnya pasrah.
"He? Jadi kau mau hubunganmu berakhir begitu saja?!" Hongki dan Wonbin pun menatap horror Jonghun.
Namun pria tampan itu kembali diam dan berdecak ringan.
"Bukan, bukan begitu. Tentu saja aku pun akan menyusulnya kesana" ucap Jonghun lagi.
"Jadi kau juga akan meneruskan kuliahmu di Jepang? Lalu apa lagi masalahnya?" Hongki masih menatap Jonghun dengan rasa penasaran tinggi.
"Itu... mmm," Jonghun terus-terusan saja menggantungkan kalimatnya, membuat dua sahabatnya yang tengah menatapnya penasaran mulai termakan emosi karena durasi waktu.
"Ya! Cepat katakan!" sergah Hongki.
"Kau tahu apa yang dikatakan Ayahku saat aku memperkenalkan Kazu padanya minggu lalu?" kini Jonghun malah balik melontarkan pertanyaan pada dua sahabatnya.
Wonbin menggeleng, dan Hongki "Mana aku tahu! Ayolah, kau membuatku penasaran~" ia kembali merengek.
"Ayahku bilang..." Jonghun menarik nafas panjang. "Nikahi dia"
"APA?!"
Seisi ruangan itu pun langsung menoleh horror kearah sumber suara yang berasal dari seorang namja jangkung berpipi chubby yang kelihatannya baru masuk keruang studio.
"Seunghyun-ah, kau berisik sekali" desis Hongki dengan tatapan tajamnya kearah Seunghyun.
"Hyung, kau akan menikahi Kazu?! Maldo andwae! Aku tidak mengizinkannya!"
PLETAK(?)
Jitakan bebas pun melayang kekepala Seunghyun. Membuat namja jangkung itu meringis sakit sambil mengusap-usap kepalanya –yang sebenarnya tak terlalu sakit-
"Ya! Kazu itu sudah jadi milik Jonghun, kau masih saja memikirkannya. Dasar anak ini" gerutu Hongki –si pelaku- yang menjitak kepala Seunghyun tadi.
"Ta-tapi Hyung, kau kan baru 19 tahun, Kazu baru 17 tahun. Bagaimana bisa kalian—"
"Ya, aku juga tahu soal itu. Aku kan hanya menyampaikan apa yang dikatakan Ayahku, kau ini heboh sekali. Aku pun hanya menganggap ucapannya angin lalu, aku hanya sedikit shock" Jonghun pun ikut menyahuti ucapan Seunghyun.
"O-oh... jadi begitu, aah.. aku kaget sekali tadi Hyung. Kukira kau akan menikahinya sekarang juga" Seunghyun pun menghela nafas lega.
"Kenapa kau terlihat lega begitu? Kau masih mengincar Kazu? Tidak akan kuberikan" Jonghun pun menatap tajam kearah Seunghyun.
Membuat namja berpipi chubby itu hanya menundukkan kepala dan mencoba sabar dengan siksaan-siksaan –tak berarti- dari para Hyung barunya ini.
"Jadi kau juga menyukai Kazu?" Seunghyun pun kembali mengangkat wajahnya saat mendengar suara yang tak ia kenal.
"Ne?" kini matanya bertemu pandang dengan sesosok laki-laki tampan bermata sipit yang tersenyum padanya.
"Hai, ini pertama kalinya kita bertatap muka seperti ini ya" senyum Wonbin. Seunghyun pun semakin mengerenyit heran pada senior tampan yang ada dihadapannya.
"Jangan bilang kau tak tahu dia. Dia itu Oh Wonbin, orang yang posisinya kau gantikan di Band ini" sahut Hongki santai.
Seunghyun pun menoleh kearah Hongki dan Wonbin bergantian dengan tatapan bingungnya. Namun tak lama kemudian ia pun menyadari sesuatu.
"Wo-Wonbin Hyung?! Benarkah? Ma-maafkan aku, namaku Song Seunghyun" ucap Seunghyun seraya membungkukan tubuhnya dihadapan Wonbin. Wonbin pun hanya tersenyum.
"Masalah kami sudah selesai, karena itu dia kembali lagi kesini" sahut Jonghun yang masih asik bermain dengan gitarnya.
"Ke-kembali? Jadi itu artinya... aku sudah tidak diperlukan lagi disini?" Seunghyun pun menatap miris kearah ketiga Hyungnya itu.
Hongki dan Jonghun tak menjawab, mereka hanya terkekeh kecil satu sama lain.
"Tidak Seung. Kau akan tetap disini" Wonbin pun berbaik hati untuk memberi penjelasan agar doangsaeng barunya itu tak semakin termakan rasa suram akan dikeluarkan dari FTIsland.
"Lalu Hyung?"
"Setelah kelulusan, aku akan pindah ke Singapore. Jadi aku tidak akan bisa melanjutkan posisi ini. Lagipula aku senang posisiku digantikan oleh orang sepertimu, aku sudah melihat permainanmu waktu festival sekolah, kau sangat hebat" puji Wonbin sambil tersenyum lebar kearah Seunghyun.
Namja jangkung itu pun hanya tersenyum-senyum malu seraya mengusap-usap rambutnya sendiri.
"Untung saja aku bertemu Minhwan, kalau tidak aku tidak akan bisa bergabung di grup ini" ucap Seunghyun.
"Oh, jadi yang memilihmu adalah Minhwan? Haha, oh iya.. kemana anak itu?" Wonbin pun menyadari dongsaengnya yang satu itu belum menampakkan dirinya.
"Aku juga tidak tahu, belakangan ini anak itu jadi sedikit aneh. Dia sering melamun seperti memikirkan sesuatu dan menghilang tiba-tiba" sahut Hongki.
"Apa ini ada hubungannya dengan Miki?"
Semua orang distudio itu pun langsung melotot kearah Wonbin.
"Kenapa? Apa kalian tidak menyadarinya?" Wonbin malah semakin terlihat bingung.
"Minhwan dengan Miki? Benarkah?" Hongki pun mulai mengingat-ingat bagaimana sikap dongsaengnya yang aneh belakangan ini.
"Apa? Miki? Bukankah mereka selalu bertengkar? Miki selalu menceritakan hubungannya yang buruk dengan Minhwan" sahut Seunghyun yang juga terlihat bingung.
"Tapi kurasa... apa yang dikatakan Wonbin ada benarnya juga" kali ini semuanya menatap horror kearah Jonghun. "Apa kalian tidak menyadarinya? Saat Miki hilang waktu uji nyali di Kyoto, bukankah Minhwan yang mencarinya? Dan juga... Hongki-ah, kau tahu kan bagaimana tatapan Minhwan terhadap Miki?"
Hongki pun mengangguk, " Yah, caranya melihat seorang gadis seperti Miki memang berbeda dengan cara ia melihat gadis lainnya. Aku menyadari itu..." gumam Hongki yang masih mengira-ngira.
"Minhwan dengan Miki? Aku tidak pernah membayangkannya... tapi mereka terlihat cocok" Seunghyun ikut menyahut.
"Ada apa denganku?"
Semua orang didalam ruang studio pun langsung terdiam kaku saat menyadari kehadiran seseorang.
"Sepertinya aku mendengar namaku disebut-sebut. Ya, apa yang kalian bicarakan?" Minhwan mulai mengerucutkan bibirnya menatap para Hyungnya dengan menginterupsi.
"Kau salah dengar, untuk apa kami membicarakanmu" Hongki malah tertawa dan mengalihkan pembicaraan.
Minhwan pun mendengus sebal, lalu berjalan menuju Drumnya.
"Minhwan" panggil Jonghun tiba-tiba.
"Ya?"
"Bagaimana dengan keputusan Ayahmu?" pertanyaan Jonghun pun sukses membuat semua orang di studio itu menoleh kearahnya. Terkecuali Hongki yang menyadari kearah mana pembicaraan Jonghun tertuju.
Minhwan pun tak langsung menjawab. Ia memutar bola matanya, nampak berpikir sejenak.
"Ayahmu melakukan itu karena ia tahu kau sering bermain dengan para Noona di klub kan. Apa kau tidak jelaskan bahwa sekarang kau tidak pernah lagi mengunjungi tempat itu?" Jonghun menambah pertanyaannya.
"Ya, Ya, Ya apa yang sebenanya sedang kalian bicarakan?" Seunghyun dan Wonbin saling menatap satu sama lain dengan tatapan bingung.
"Entahlah Hyung, aku tidak mau memikirkannya" jawab Minhwan seadanya.
"Gadis yang dijodohkan denganmu itu..." ucapan Jonghun kali ini semakin membuat semua orang menatapnya horror. "Apa kau menyukainya?" lanjut Jonghun.
"Dijodohkan? Minhwan-ah, kau?" Seunghyun pun mengalihkan perhatiannya kepada Minhwan.
"Ayahku... benar-benar tahu caranya agar aku tidak bisa menolak perjodohan ini" Minhwan pun bangkit dari balik Drumnya.
"Apa maksudmu? Jadi kau menyukainya? Kau menerima perjodohan itu?"
Minhwan mengangkat bahu dengan raut wajah tak berarti. "Aku mau keluar sebentar, jangan tanya aku soal masalah ini lagi Hyung. Aku tidak tahu harus menjawab apa"
Dan Minhwan pun langsung melangsang pergi meninggalkan studio.
Membuat rasa bingung di benak para Hyungnya kembali bergejolak.
.
.
Miki POV
.
"Otto-san, ogenki desuka?" *Ayah, apa kabarmu?*
Rasanya senang sekali saat dipagi hari ini aku bisa menerima telepon dari Keluargaku di Jepang, terutama Otto-san.
"Aku baik-baik saja. Bagaimana dengan Otto-san? Aku merindukanmu, aku ingin menghabiskan waktu lagi bersamamu di pantai setiap pulang sekolah. Otto-san... aku ingin bertemu" ucapku dengan nada manja.
Sementara Otto-san hanya bisa tertawa kecil disana.
"Eum! Eum! Aku bisa menyesuaikan diri disini, tidak jauh berbeda dengan Jepang. Lagipula ini sekolah internasional, banyak murid asing selain aku, Kira dan Kazu yang bersekolah disini, jadi tidak ada masalah" ucapku lagi pada Otto-san.
"He? Kembali bekerja? Apa tidak bisa ditunda?" aku pun merengut saat Otto-san bilang ia harus kembali bekerja dan memutuskan telepon.
"Unng, wakatteimasu. Kalau begitu baik-baik disana, 1 bulan lagi aku akan pulang. Nanti jemput aku dibandara ya" seruku riang. Otto-san pun mengiyakan permintaanku.
Ia berjanji akan menjemputku dibandara nanti.
Ah... aku ingin segera bertemu dengannya.
SAT
"Kyaa!"
Tiba-tiba kakiku terpeleset. Karena terlalu asik menelepon, aku jadi tidak melihat tangga yang berada dihadapanku.
HUP
"Hati-hati!" aku pun benafas lega saat seseorang menahan tubuhku sebelum sesuatu yang lebih buruk terjadi.
Mendengar suaranya saja aku sudah tahu siapa dia. Tentu saja, orang yang selalu datang menolongku disaat aku membutuhkannya. Dan sekarang ia menyelamatkanku lagi.
"Minhwan-ah" aku pun tersenyum lega menatap wajahnya.
Ia juga tersenyum kecil kepadaku, kemudian menoyor kepalaku pelan, "Kau itu, kalau begini terus aku akan memanggilmu anak TK. Kau benar-benar seperti anak kecil yang sangat hiperaktif" ia pun menarik pelan tubuhku perlahan untuk kembali berdiri tegap.
"Hufth... aku tahu aku ceroboh, tapi jangan panggil aku anak TK. Aku sudah cukup risih kau panggil anak SD. Tapi... terima kasih, kau selalu menolongku" ucapku setulus mungkin walaupun aku selalu saja kesal tiap kali ia meledekku.
"Tidak ada yang luka kan? Coba kulihat kakimu, sepertinya tadi tergesek tangga" Ia tak memperdulikan ucapanku barusan, sekarang ia malah memeriksa tiap lekuk tubuh luarku dengan cekatan.
"Aku tidak apa-apa. Pokoknya terima kasih" yah, aku hanya bisa tersenyum melihat sikapnya yang terlihat seperti mengkhawatirkanku. Kenapa ia selalu ada disaat aku membutuhkannya?
"Hmm, baguslah. Kau selalu membuatku khawatir" ia kembali mengacak-aak rambutku. Ternyata dia memang mengkhawatirkanku. "Telepon dari siapa tadi? Sepertinya kau senang sekali. Pacarmu?"
Aku yang tengah sibuk merapikan rambutku pun terkejut mendengar ucapannya barusan, "He? Bu-bukan! Aku tidak punya pacar"
Minhwan pun tersenyum mendengar jawabanku. Kenapa? Sepertinya ia lega sekali dengan jawabanku? Apa mungkin dia memang...
"Tadi telepon dari Otto-san!" seruku cepat. Aku berusaha menghilangkan pikiran-pikiran rancu yang berkelebat diotakku.
"Otto-san?" Minhan terlihat bingung dengan kata-kataku.
"Maksudku Appa, Otto-san itu artinya Appa dalam bahasa Jepang" jelasku lagi.
Kami pun duduk disebuah bangku taman yang terletak tak jauh dari tempat kami berdiri. Berbincang dengan santai, seolah kami sudah punya hubungan yang dekat.
"Kau sangat dekat dengan Appamu ya? Waktu kita tersesat saat uji nyali di Kyoto, kau juga bercerita tentang Appamu" ucap Minhwan dengan senyum manisnya.
Aku pun mengangguk, "Sangat dekat. Kurasa aku lebih cocok bersama Appa. Biasanya anak perempuan akan lebih dekat ke Ummanya, tapi aku tidak. Aku kurang dekat dengan Umma, sejak kecil aku lebih nyaman bersama Appa" jelasku.
"Haha, pasti menyenangkan sekali bisa dekat dengan Appamu. Kau benar, biasanya anak laki-laki yang akan dekat dengan Appanya"
"Apa kau juga dekat dengan Appamu? Kau kan laki-laki, pasti sering menghabiskan waktu bersamanya kan" aku menatapnya penuh penasaran. Ia pun balik menatapku, tertawa sekilas melihat ekspresi wajahku yang sepertinya selalu terlihat lucu dimatanya.
Namun sesaat kemudian ia tersenyum tipis, "Tidak. Aku sama sekali tidak dekat dengan Appaku, dia selalu sibuk bekerja dan kami jarang bertemu walaupun tinggal satu rumah"
Aku pun ikut terdiam. Aku baru ingat bahwa Ayahnya adalah pemilik perusahaan besar di Korea, dia pasti sangat sibuk. Bukankah ini hal yang biasa terjadi pada anak-anak orang kaya. Walaupun mereka hidup penuh dengan materi, namun mereka selalu kurang mendapat kasih sayang dari orang tuanya.
Tapi... aku tidak menyangka aku akan benar-benar bertemu anak seperti itu. Dan orang itu adalah Minhwan.
"Maafkan aku" ucapku pelan.
Ia pun tersenyum dan mengusap kepalaku dengan lembut.
"Walaupun aku tidak dekat dengannya, namun aku sangat menyayanginya. Sama sepertimu terhadap Appamu"
Aku pun kembali menatapnya.
"Appaku orang yang keras, dia selalu menginginkan hal yang terbaik, karena itu dia mau aku menuruti semua kata-katanya dan bisa menjadi anak yang membanggakan. Dan selama ini akupun selalu menuruti semua ucapannya, aku pun berusaha menjadi anak berprestasi karena dia... semuanya kulakukan untuk Appa. Ia selalu menggantungkan harapan yang tinggi padaku" jelasnya panjang lebar.
Sementara aku hanya bisa terdiam mendengar ceritanya. Aku tidak menyangka dibalik sifatnya yang ketus dan menyebalkan, ternyata dia adalah anak yang sangat berbakti pada orang tuanya. Namun karena hal itu juga, ia menyimpan kehidupan yang mungkin cukup membuatnya tertekan.
"Ummaku meninggal saat melahirkanku, dan Appa yang merawatku sejak kecil. Umma adalah orang yang paling Appa cintai, karena itu ia benar-benar menjagaku," Minhwan pun terdiam sejenak dari ceritanya. Aku bisa melihat ekspresi wajahnya yang berubah menjadi semakin sendu.
Seperti memikirkan sesuatu, dan aku tahu itu bukanlah hal yang bagus. Bisa kulihat dari raut wajahnya yang tertekan. Mungkinkah ini adalah hal yang berat untuknya?
"Selama ini aku selalu menuruti ucapannya, aku pun sangat menghormatinya dan tidak mau jadi anak yang pembangkang mengingat bagaimana pengorbanannya untuk membesarkanku. Tapi... untuk permintaan yang satu itu... kurasa aku tidak bisa menurutinya" wajah itu pun tertekuk. Ia memejamkan mata dan menghela nafas panjang. Sepertinya ia benar-benar tertekan.
Permintaan? Sebenarnya permintaan seperti apa yang diajukan oleh Appanya sampai membuatnya terlihat kacau seperti ini? Aku tidak tahu.
"Kalau aku bisa menolaknya dengan mudah, maka aku akan menolaknya. Tapi... entahlah, aku bingung..."
"Minhwan-ah" entah dari mana aku mendapat keberanian untuk memeluknya seperti ini.
Aku hanya merasa hanya ini yang bisa kulakukan untuknya, ia pun selalu seperti ini setiap kali aku terpuruk. Dan aku menyayanginya, aku tidak bisa melihat orang yang kusayangi ini tertekan dan menderita.
"Miki..." aku pun terdiam saat ia membalas pelukanku dengan erat. Namun sesaat kemudian ia merenggangkannya, dan menatapku dalam.
Kini wajah kami tak terpaut jarak lagi. Sampai akhirnya aku bisa merasakan sentuhan hangatnya dibibirku, deru nafasnya dikulit hidungku, perasaan hangatnya yang sampai kedalam hatiku.
Ya Tuhan... aku benar-benar menyayangi orang ini.
Kurasa hubungan ini tidak perlu dijelaskan lagi. Bukankah hal ini sudah menjelaskan semuanya? Bagaimana perasaan kami berdua.
Minhwan-ah... aku mencintaimu.
.
.
Someone POV
.
Aku hanya bisa terdiam saat melihatnya mencium gadis itu. Ia menciumnya dengan penuh kasih sayang, aku bisa melihat dari wajahnya. Ia terlihat tulus melakukan itu semua.
Bahkan ia hanya pernah memelukku sekali.
Ia sangat kaku jika bersamaku, seolah aku adalah barang yang tidak boleh tergores sedikitpun. Ia benar-benar menjagaku dengan baik, ia selalu tersenyum menyahuti ucapanku, sejak aku mengatakan bahwa aku menyukainya waktu itu... Sikapnya menjadi semakin baik kepadaku.
Bahkan ia bilang ia menyukaiku.
Tapi... ia tidak pernah memberi keputusan yang jelas akan hubungan ini.
"Jadi karena itu... ternyata kau sudah punya orang lain yang kau cintai..."
Aku pun hanya bisa tersenyum miris menahan rasa sakit yang mengoyak hati ini. Inikah yang namanya patah hati? Aku baru pertama kalinya menyukai seseorang dan hal indah itu harus berakhir seperti ini.
.
.
Author POV
.
"Darimana saja kau? Kenapa baru pulang?" Minhwan tercekat saat dirinya tertangkap basah oleh lelaki paruh baya yang sedang menatapnya tajam dengan kedua bola matanya yang mirip dengan miliknya
Ayahnya, Mr. Choi kini tengah menatap putra semata wayangnya itu dengan serius. Seperti menuntut suatu jawaban pasti.
"Appa..." Minhwan pun tak tahu harus berkata apa. Ia benar-benar terkejut melihat keberadaan Appanya, ia pikir Ayahnya tidak akan pulang dalam beberapa hari karena sibuk mengurus perusahaan di luar negeri.
"Katakan kau darimana? Apa kau bermain dengan Wanita-wanita klub itu lagi?"
"Appa! Aku tidak—"
"Choi Minhwan, sudah Appa katakan berapa kali Appa tidak suka melihat kebiasaan burukmu itu. Apa kau tidak kasihan dengan Bomi? Kenapa kau masih menggantungkan perasaanmu padanya? Kenapa kau belum memutuskan apapun untuk pertunangan ini? Bukankah ia adalah tipe idealmu? Appa tahu, karena itu Appa menjodohkanmu dengannya" Mr. Choi pun semakin mendesak Minhwan dengan berbagai pertanyaan yang membuat pikirian dalam otak Minhwan semakin tertekan.
Minhwan kembali terdiam. Ia benar-benar tidak bisa melawan kata-kata Ayahnya yang satu itu. Kalau sudah menyangkut Bomi., ia tidak tahu harus menjawab apa. Memang benar apa yang dikatakan Ayahnya. Bomi adalah tipe wanita yang ia sukai, karena itu ia pastilah berbohong kalau ia mengatakan ia tidak menyukai Bomi, padahal jelas-jelas ia menerima keberadaan gadis itu.
Namun sesuatu yang lain tengah mengganjal hatinya, jika masalah suka ia bisa dengan mudah mengatakan bahwa ia menyukai Bomi. Namun cintanya... ia tidak yakin itu ada pada Bomi.
"Ajjushi... lebih baik Ajjushi istirahat, Ajjushi baru saja tiba di Korea" tiba-tiba saja wanita yang tengah dibicarakan itu muncul. Bomi berbicara selembut mungkin pada Mr. Choi agar ia tidak mendesak Minhwan lagi.
"Bukankah sudah kubilang, tidak apa untuk memanggiku Appa, Yoon Bomi" lelaki bermarga Choi itu pun balik menatap Bomi tajam. Membuat gadis bermata cantik itu sedikit tercekat dengan sikap calon mertuanya itu.
Minhwan apalagi, dia sangat terkejut mendengar ucapan Ayahnya barusan, ia tak menyangka Ayahnya sudah sejauh itu memikirkan pertunangannya.
"N-Ne.. A-Appa," Bomi pun bicara gugup. "Tapi kau harus istirahat sekarang. Biar aku yang menemani Minhwan" Bomi pun tersenyum tipis seraya meminta Mr. Choi untuk tidak mempermasalahkan Minhwan lagi sekarang.
Mr. Choi pun menghela nafas, ia menatap Minhwan sejenak. Kemudian memberi isyarat dengan tatapan matanya yang tajam agar anaknya itu mau menemani Bomi. Tak lama kemudian ia pun pergi meninggalkan ruang tengah diikuti beberapa asisten kerjanya.
Kini hanya tinggal dua pasang sejoli ditengah ruang besar nan mewah itu. Tak ada yang bicara, bahkan mereka cenderung menghindari tatapan satu sama lain. Perasaan gundah mendominasi keduanya.
Minhwan dan Bomi. Dalam beberapa menit ruangan itu hanya diselimuti hawa sunyi.
"Minhwan-ah" akhirnya Bomi pun memulai pembicaraan. Minhwan yang merasa namanya dipanggilpun mendangakkan wajahnya, menatap gadis bermata cantik itu yang juga sedang menatapnya dalam.
Merasa risih dengan jarak yang terpaut agak jauh, mereka pun mendekatkan diri, memperpendek jarak satu sama lain.
"Choi Ajjushi... dia seperti itu karena ucapan Appaku" Minhwan pun mengerenyit mendengar ucapan Bomi.
"Appamu? Kenapa?" bingung Minhwan.
"Appaku tahu, kau tak kunjung menyetujui pertunangan ini. Karena itu ia memutuskan untuk menghentikan pertunangan ini dan membawaku pulang ke Canada"
DEG
Minhwan terbujur kaku seketika. Jantungnya serasa berhenti mendadak saat mendengar bahwa Bomi akan pergi. Jika Bomi pergi, maka ia tahu mereka mungkin tidak akan pernah bisa bertemu lagi.
"Ke-kenapa? Kau tidak bisa tinggal disini?" Minhwan masih tak mempercayai apa yang barusan ia dengar.
"Sejak kecil aku sudah menjadi warga Canada. Aku tidak bisa tinggal disini lama-lama jika aku tidak mengubah statusku menjadi warga Korea. Aku hanya bisa menggantinya kalau..." Bomi pun mengecilkan suara diakhir kalimat. "Aku menikah denganmu"
Perasaan Minhwan kembali jatuh. Ia benar-benar dihadapkan dengan keputusan yang berat. Di satu sisi ia menyukai gadis ini dan berharap bisa terus berhubungan dengannya, namun disisi lain ia tahu Bomi bukanlah keputusannya yang tepat.
Ia benar-benar ingin mengutuk dirinya karena terlalu lamban dalam menyadari sesuatu. Kenapa ia tidak bisa berpikir lebih pintar lagi tentang apa yang sebenarnya ia pilih.
"Dan satu hal lagi... aku pun menyetujui keputusan Appaku untuk mengakhiri pertunangan ini..."
Mata Minhwan semakin terbelalak lebar saat mendengar ucapan Bomi berikutnya, "A-Apa yang kau katakan?"
"Aku sudah tahu alasannya kenapa kau tidak bisa menerima perasaanku. Tapi aku tidak mau mengatakannya, biar saja kupendam hal ini sendiri" gadis bermata cantik itu pun tersenyum miris.
"Apa maksudmu? Sebenarnya apa yang kau sadari?" Minhwan semakin dimakan rasa bersalah atas sikapnya selama ini. Dan kini ia tahu Bomi menyadari sesuatu yang bahkan ia sendiri pun tidak tahu apa itu.
Namun gadis itu justru menggelengkan kepala, menolak untu menjawab pertanyaannya. Sesaat kemudian ia kembali tersenyum, "Minhwan-ah bolehkah aku meminta satu permintaan?" tanyanya dengan senyum tipis.
Minhwan pun mengangguk.
"Aku akan pulang ke Canada hari Sabtu malam. Maukah kau menemaniku seharian sebelum aku pulang?"
Minhwan tak langsung menjawab. Jika ia bisa, ia akan langsung menyetujuinya. Namun ada satu hal yang membuatnya tidak bisa langsung mengambil keputusan.
.
::Flash Back::
.
"Hari Sabtu ini, apa kau mau menemaniku pergi ke pusat perbelanjaan? Aku ingin membawakan oleh-oleh untuk Appaku. Karena aku bukan orang Korea, aku tidak tahu apa yang harus kubeli. Aku berharap kau mau memilihkan sesuatu yang berkesan untuk aku bawa pulang ke Jepang" ucap Miki dengan tatapan penuh harap.
Minhwan pun menimbang-nimbang permintaan gadis Jepang itu, mengingat ia tak punya jadwal apapun dan ia sedang ingin menghabiskan waktu bersama gadis Jepang itu, Minhwan pun mengiyakan permintaannya.
"Baiklah, aku akan menemanimu. Aku takut kau memilih sesuatu yang salah, kasihan Appamu nanti kalau sampai ia menerima sesuatu yang aneh" Minhwan tergelak seraya menggoda gadis Jepang itu seperti biasanya.
Miki pun mempoutkan bibirnya imut, kemudian membalas memukul-mukul bahu Minhwan dengan cepat, "Yah, menyebalkan! Kapan aku bisa mengucapkan terima kasih yang tulus kalau kau selalu saja meledekku setiap kali membantuku" gerutu Miki.
"Oh, jadi selama ini kau tidak pernah tulus mengucapkan terima kasih?" Minhwan pun sengaja mendekatkan wajahnya pada Miki, menatap bola mata besar gadis Jepang itu dengan matanya yang lebih sipit.
"Ukh... jauhkan wajahmu" ucap Miki yang mulai merasa risih sekaligus berdebar tiap kali Minhwan memperpendek jarak dengannya.
"Bukankah tadi kau bilang ingin makan permen lemon?" Tiba-tiba Minhwan mengatakan hal lain yang membuat Miki terkejut. Namun ia tidak mengubah sedikitpun posisinya.
"Eh?" Miki pun hanya bisa mengerenyit bingung mendengar ucapan Minhwan yang keluar dari jalur.
"Aku baru saja memakan permen lemon" ucap Minhwan lagi,
Miki menjadi semakin tak mengerti dengan kata-kata Minhwan. Namun belum sempat ia bertanya lagi, sesaat kemudian bibirnya sudah dikunci oleh ciuman Minhwan. Bahkan kali ini Minhwan tidak tanggung-tanggung untuk melakukan Deep Kiss.
"Bagaimana rasanya?" senyum Minhwan disaat ia sudah melepaskan ciumannya.
"Lemon..." Miki pun menundukkan wajahnya yang merona malu.
"Kalau begitu ucapkan terima kasih. Aku sudah memberimu rasa lemon yang manis kan" Minhwan kembali tersenyum sambil menepuk-nepuk pundak Miki. "Ucapkan dengan tulus"
"N-ne, Terima kasih"
Minhwan hanya bisa tersenyum puas melihat raut wajah Miki yang selalu terlihat menarik dimatanya. Mereka pun kembali menghabiskan waktu berdua.
.
::Flash Back END::
.
Minhwan menggigit bibir bawahnya. Apa yang harus ia katakan? Apa ia harus jujur pada Bomi kalau ia sudah punya janji. Kenapa? Apa yang membuat janjinya dengan Miki itu terasa begitu penting sehingga ia tidak bisa membatalkannya.
"Kau tidak bisa ya?"
Minhwan kembali tersentak mendengar suara Bomi. "Bukan begitu... tapi..."
"Walaupun aku menerima keputusan Appa untuk mengakhirinya. Tapi... masih bolehkah aku menaruh harapan padamu? Jujur, berat sekali untuk mengambil keputusan ini. Bagaimanapun juga aku terlanjur menyukaimu Minhwan-ah.." suara Bomi semakin bergetar.
Satu tetes air mata pun mulai mengalir membasahi pipi gadis bermata cantik itu. "Aku berharap... dihari terakhir kita bersama, kau bisa menerima perasaanku. Tapi... kalaupun kau tetap tidak bisa menerimanya, maka aku akan pergi dan tidak akan mengganggumu lagi"
GREP
Minhwan pun tak tahan lagi untuk menarik gadis dengan perasaan rapuh itu kedalam dekapannya. Ia tahu Bomi pun sangat tertekan dengan keadaan ini, bisa ia rasakan dari getaran tubuh gadis itu. Bomi pastilah sangat tersakiti atas sikapnya yang selalu menggantungkan perasaan Bomi terhadapnya.
Padahal Minhwan pun tahu, tak sepantasnya ia bermain-main dengan perasaan tulus gadis itu. Ia tahu Bomi sangat menyukainya, namun ia tetap tak bisa memutuskan untuk menerima perasaan tulus itu dengan mudah.
"Minhwan-ah... bolehkah aku egois untuk sesaat? Aku ingin dirimu..." ucap Bomi disela-sela tangisnya.
Minhwan pun mengusap kepala gadis itu dengan penuh sayang. Hatinya sakit mendengar isakan-isakan pilu Bomi. Rasanya ia ingin sekali membunuh dirinya sendiri karena sudah membuat gadis itu menderita.
Kenapa ia terlalu bodoh dalam hal ini? Bahkan menentukan perasaannya saja ia tidak bisa.
"Baiklah... aku akan menemanimu..."
"Minhwan?"
"Satu hari itu.. aku milikmu"
Kini Bomi pun hanya bisa tersenyum lega didalam dekapan Minhwan. Sementara Minhwan merasakan ada luka yang menganga dihatinya saat ia menyetujui permintaan Bomi.
Ia tahu ia akan mengecewakan Miki, sangat mengecewakannya. Namun ia pun tidak mau mengecewakan gadis yang ada dalam dekapannya sekarang.
Miki... Gomenasai* (maafkan aku)
.
.
Miki POV
.
Nomor yang anda tuju sedang tidak aktif, silahkan hubungi beberapa saat lagi
"Ada apa ini? Kenapa ponselnya tidak aktif?" aku mendengus kecewa saat panggilan ini tetap mendapat jawaban yang sama dari operator telepon.
Minhwan tidak mengaktifkan ponselnya.
Sebenarnya ada apa? Sejak semalam aku sama sekali tidak bisa menghubunginya. Apa dia lupa dengan janjinya?
"Hah..." aku pun menghela nafas panjang seraya melihat jam tanganku. Sudah lewat satu jam aku menunggu disini, tapi dia tak kunjung datang.
"Miki?" aku pun menoleh saat seseorang memanggilku dari arah lain.
"Jonghun sunbae?"
Jonghun sunbae pun berjalan menghampiriku, matanya terlihat serius menatapku. Bahkan ia memperhatikan penampilanku dari atas sampai bawah.
"Ke-kenapa sunbae?" tanyaku yang agak risih sekaligus malu dilihatnya seperti ini. Pasti penampilanku sangat terlihat aneh, aku tidak pernah berdandan. Dan saat Kira tahu aku akan pergi dengan Minhwan, ia dan Kazu pun memonopoli tubuhku untuk dirias. (=_=)
"Kau manis sekali" ucap Jonghun sunbae yang terlihat tersipu malu.
"E-eh?! Aku pikir aku aneh, aku tidak pernah berpenampilan seperti ini sebelumnya" ucapku gugup seraya ikut memperhatikan penampilanku.
Jonghun sunbae pun terkekeh pelan. "Tidak, aku serius. Kau manis. Gadis Jepang itu memang manis-manis ya" ia memujiku lagi. Aku pun hanya bisa tertunduk malu.
"Apa kau mau pergi? Atau jangan-jangan kau akan kencan dengan seseorang?" ia pun tersenyum padaku.
"Ti-tidak Sunbae. Aku hanya akan pergi dengan... Oh iya, apa Sunbae tahu dimana Minhwan?" tanyaku cepat. Aku baru ingat kalau Jonghun sunbae adalah orang terdekatnya, mungkin saja ia tahu dimana Minhwan sekarang.
"Minhwan? Jadi kau akan pergi bersamanya?" Jonghun sunbae terlihat agak terkejut saat mendengarku menyebut nama Minhwan. Ia pun mengerenyitkan alisnya menatapku.
"Ne, tapi sejak semalam aku tidak bisa menghubunginya. Apa kau tahu sesuatu?"tanyaku lagi.
Ia terdiam sejenak seperti memikirkan sesuatu, "Miki, apa ini hari Sabtu?" ia pun balik bertanya padaku.
"I-iya, memangnya kenapa?" aku semakin bingung dengan sikap Jonghun sunbae yang terlihat aneh.
"Aku akan coba menghubunginya dulu" ia pun mengambil ponselnya dan menghubungi Minhwan. "Benar, ia tidak mengaktifkan ponselnya" ucap Jonghun sunbae beberapa saat kemudian.
Aku pun hanya bisa terdiam dan kembali merasa kecewa. Bahkan ia menolak panggilan dari Hyungnya, sebenarnya ada apa? Kalau dia memang tidak bisa menemaniku, kenapa tidak bilang saja!
"Miki... kau benar-benar tidak tahu soal ini ya?"
"Ng? Soal apa?" aku semakin mengerenyit bingung saat Jonghun sunbae menanyakan pertanyaan yang aneh.
"Soal... pertunangan Minhwan"
DEG
"Pe-pertunangan?" aku benar-benar terkejut mendengarnya. Rasa bahagia dihatiku seakan luruh seketika saat mendengar pernyataan itu. Pertunangan Minhwan? Apa maksudnya?
"Appanya tahu kalau dia suka bermain dengan wanita-wanita di Klub. Karena itu dia menjodohkan Minhwan dengan anak dari rekan kerjanya diluar negeri. Ayahnya memang orang yang keras dan sejak dulu Minhwan selalu patuh pada ucapan Ayahnya. Tapi untuk pertunangan ini... aku tahu Minhwan tidak bisa mengiyakannya seperti biasa" Aku pun terdiam mendengar penjelasan Jonghun sunbae.
Untuk permintaan yang satu itu... kurasa aku tidak bisa menurutinya
Kalau aku bisa menolaknya dengan mudah, maka aku akan menolaknya. Tapi... entahlah, aku bingung...
Aku pun teringat dengan kata-katanya waktu itu.
Permintaan inikah yang kau maksud? Pertunanganmu dengan gadis lain seperti yang diharapkan Appamu? Inikah sesuatu yang tidak bisa kau tolak dengan mudah?
"Minhwan selalu menceritakan semua masalahnya padaku, karena itu aku tahu. Dan hari ini adalah hari kepulangan tunangannya itu ke Canada"
"Ca-Canada? Dia tidak tinggal disini?" aku semakin terkejut mendengar ucapan Jonghun sunbae.
"Ayah dari tunangannya itu tahu kalau Minhwan tak kunjung menerima pertunangannya. Karena itu ia ingin memutuskan hubungan Minhwan dengan anaknya, dan membawa putrinya itu pulang ke Canada"
Aku pun terdiam. Lidahku terasa kelu mendengar penjelasan Jonghun sunbae. Sungguh, ini terlalu mendadak, rasanya seperti ada bom yang menghantam tubuhku. Aku bingung, aku tidak tahu apa yang harus kulakukan.
"Kurasa Minhwan sedang menemani gadis itu sebelum kepulangannya nanti malam. Mungkin ia tidak mau siapapun mengganggunya karena itu dia tidak mengaktifkan ponselnya atapun menghubungimu sekalipun"
DEG
Begitukah? Jadi itu alasanmu kenapa kau tidak datang menemuiku seperti ini? Kau lebih memilih gadis itu.
"Sunbae... apa Minhwan benar-benar menyukai gadis itu? Ia tidak bisa menolak pertunangannya dengan mudah, pasti karena ia benar-benar menyukainya..." tanpa sadar mulutku bergumam sendiri. Hatiku sangat sakit membayangkan hal itu terjadi, ternyata Minhwan menyukai orang lain.
"Miki, maafkan aku kalau kata-kataku sudah menyakitimu"
"Sunbae?"
"Apa aku salah kalau aku mengatakan, kau menyukai Minhwan?"
Aku pun hanya bisa terdiam. Bahkan Jonghun sunbae pun menyadarinya. Ingin sekali aku membenarkan ucapannya barusan, tapi mengingat ternyata Minhwan menyukai orang lain, bukan aku. Rasanya aku tidak sanggup untuk mengakui perasaan ini.
"Nama gadis itu adalah Yoon Bomi. Minhwan tidak bisa menolaknya karena Bomi adalah tipe gadis yang ia sukai. Ayahnya benar-benar tahu caranya agar Minhwan tidak menolak perjodohan itu, karena itu ia menjodohkannya dengan Bomi. Dan Minhwan benar-benar senang saat menceritakan hubungannya dengan Bomi, ia tidak menyangka bahwa ia bisa bertemu dengan gadis seperti Bomi"
NYUT
Sakit. Sangat sakit. Aku tidak bisa menerimanya.
"Sepertinya aku harus pulang sekarang. Terima kasih sudah menceritakan semuanya padaku sunbae, aku pergi dulu" aku pun segera membungkukkan badanku dan berlari meninggalkan Jonghun sunbae.
Rasanya ingin menangis tapi tidak bisa. Terlalu sakit sampai aku tidak bisa menangis. Yang bisa kulakukan hanyalah berlari, seolah aku menghindari sesuatu yang mengerikan. Padahal aku tahu sejauh apapun aku berlari, perasaan itu tetap membekas dihatiku.
Tidak akan hilang sampai aku bisa melupakannya.
"Minhwan-ah"
Langkahku terhenti saat aku melihat seseorang yang sudah membuat perasaanku berkecamuk seperti ini. Minhwan.
"Setelah ini aku ingin makan siang direstoran tradisional. Kau tahu tempatnya kan?"
Gadis itu, Yoon Bomi? Tunangannya.
Ia terus saja merangkul lengan Minhwan seolah tak ada jarak yang memisahkan mereka. Ia tersenyum, ia tertawa, ia bahagia. Minhwan ada disampingnya, menemaninya sepanjang waktu kemanapun ia ingin pergi.
Minhwan
Dia juga tersenyum, dia juga tertawa, dia juga... bahagia. Sepertinya dia memang bahagia bersama gadis itu.
"Ng?" aku pun terdiam kaku saat mata kami bertemu pandang. Ia melihatku, ia tahu aku sedang menatapnya. Gadis itu pun ikut melihat kearahku.
"Minhwan..." ucap gadis itu.
Minhwan hanya diam menatapku dengan tatapan yang sulit kumengerti. Itu bukan tatapan yang lembut seperti biasanya, ia menatapku seperti aku bukan orang yang ia kenal. Bahkan tatapan tajam dan ketus yang biasa ia berikan mungkin jauh lebih baik daripada tatapannya padaku sekarang.
"Ayo kita pergi, masih banyak tempat yang harus kita kunjungi" Minhwan pun merangkul pundak gadis itu kembali. Sementara gadis itu masih mencuri pandang menatapku.
Tak lama kemudian mereka pun pergi. Minhwan mengajak gadis itu pergi meninggalkanku disini. Tanpa bicara apapun.
"Minhwan..."
.
.
Minhwan POV
.
Gadis itu... Miki...
Kenapa kami bisa bertemu disaat seperti ini? Apa dia mencariku karena aku tidak memberinya kabar sedikitpun?
Raut wajahnya itu... entah kenapa aku merasakan hal yang buruk. Apa dia tahu sesuatu? Soal aku dan Bomi...
"Kau melamun lagi"
Aku pun tersentak saat menyadari Bomi tengah menatapku. "A-ah, maafkan aku" aku menggelengkan kepalaku sejenak kemudian memijat keningku yang terasa pusing.
"Minhwan, sudahlah..."
Aku pun menoleh kearah Bomi, kulihat ia tengah menatapku dengan tatapan sendu dan tersenyum miris.
"20 menit lagi aku akan berangkat dan kau belum memutuskan apapun"
"Bomi... aku..." sial, aku benar-benar tidak tahu harus melakukan apa. Aku belum bisa memutuskan apapun, rasanya kepalaku mau pecah memikirkan hal ini.
"Mungkin perasaanku memang harus berakhir disini. Satu hari bersamaku tetap saja tak bisa membuat perasaanmu berubah padaku" Bomi tertawa pelan seraya menatap jauh suasana ramai disekeliling kami.
"Bomi, aku minta maaf. Aku belum bisa memutuskan apapun" ucapku seadanya. Hanya itu yang bisa kukatakan, aku tidak bisa berpikir lagi.
"Baiklah aku mengerti. Kalau begitu pulanglah... kau tidak perlu menemaniku lagi" suaranya terdengar semakin pilu.
"Apa maksudmu? Aku akan menemanimu sampai kau berang—"
"Minhwan-ah," aku tercekat saat melihat setetes air mata kembali membasah pipinya. "Aku sudah cukup senang dengan sikap egoisku hari ini, terima kasih karena kau mau menemaniku"
Tanpa sadar tanganku kembali bergerak untuk menariknya kedalam dekapanku. Namun disaat yang bersamaan, aku pun berusaha menahan tanganku dan ia menghindar dariku.
"Sudah cukup. Bersamamu saja aku sudah senang, kau tak perlu berbaik hati padaku lagi, hal itu justru akan menyakitiku" suaranya bergetar. Air mata pun mulai membanjiri kulit putih mulusnya.
Sesuatu dalam hatiku pun ikut memaksaku untuk berhenti memberi harapan palsu padanya. Itu benar, selama ini aku hanya memberikan harapan palsu padanya. Aku selalu menggantungkan perasannya.
"Sekali lagi aku berterima kasih atas waktumu hari ini. Sekarang pergilah... kau tidak perlu menemaniku lagi"
Aku pastilah seseorang yang sangat kejam sampai membuat gadis ini begitu menderita seperti ini. Choi Minhwan, kau benar-benar laki-laki brengsek.
Aku pun tak bicara apapun lagi. Kuturuti permintaannya, aku beranjak dari kursiku dan berjalan meninggalkannya.
Aku meninggalkannya walaupun aku tahu ia tengah menangis disana. Aku meninggalkannya walaupun aku tahu ia sangat rapuh disana. Aku meninggalkannya walaupun aku tahu dia pasti membutuhkanku saat ini.
"Mungkin kata maaf pun tak pantas untukku..."
Choi Minhwan, kau benar-benar bodoh.
.
.
Minhwan POV
.
Aku brengsek.
Tidak berguna. Otak ini sudah tidak bisa memikirkan hal apapun lagi. Bahkan hal yang berguna tak sedikitpun terlintas dalam pikiranku. Aku sudah menyakiti perasaan seorang gadis.
Jika gadis itu bukan orang yang kusukai, mungkin aku tidak akan memikirkannya sampai seperti ini.
Tapi... walaupun aku menyukainya, kenapa hatiku belum bisa menerimanya? Kenapa aku tertahan oleh perasaanku sendiri? Sebenarnya siapa yang aku cintai?
"Minani~ kau mengacuhkanku"
Aku tersenyum tipis mendengar suara rayuan itu. Noona ini benar-benar berisik. Ternyata seperti ini rasanya bermain dengan orang dewasa. Selama ini aku hanya bermain dengan Noona-Noona yang umurnya tak jauh berbeda denganku.
Namun kali ini aku ingin melakukan sesuatu yang lain. Bukankah aku sudah menjadi seorang laki-laki brengsek? Untuk apa berlagak menjadi suci lagi? Lebih baik aku benar-benar menjadi seseorang yang brengsek.
"Aku bosan disini!" dengan kasar aku pun menarik tangan Noona itu keluar dari ruangan private ini. Aku tak memperdulikan tatapan-tatapan dari orang-orang sekeliling kami. Aku mendobrak pintu klub dengan kasar dan membawa Noona itu keluar dari gedung beraura memabukkan itu.
BRUK
Dengan kasar aku mendorong tubuh Noona itu menghantam tembok. Dengan nafsu yang tak terkontrol, aku pun menghujam bibir Noona itu dengan deep kiss. Aku tidak perduli siapa yang ada dihadapanku. Aku hanya menginginkan suatu kepuasan agar rasa sakit ini bisa kulupakan.
Bisa kudengar suara rintihan Noona itu saat lidahku mengoyak masuk kedalam mulutnya. Bahkan aku bisa merasakan darah yang keluar dari bibir tipis Noona itu saat aku menggigitnya tadi.
"Noona... bisakah kau mengajariku untuk merasakan cinta? Aku tak perlu cinta yang serius, hal itu justru membuatku merasa tertekan terus menerus" ucapku dengan nafas tersengal.
"Minani..."
"Bukankah orang-orang dewasa itu bisa puas merasakan apa itu cinta? Berikan aku hal itu juga, aku ingin melupakan hal ini secepatnya!" nada bicaraku semakin membentak.
Tanpa pikir panjang aku pun menarik kasar tali baju wanita ini.
Namun gerakanku langsung terhenti saat aku merasakan kehadiran seseorang. Aku pun sadar bahwa ada seseorang yang melihat kami disini, dan orang itu adalah...
"Min... hwan..." gadis Jepang itu membelalakkan matanya tak percaya.
Miki, ya gadis itu adalah Miki. Kenapa ia bisa ada disini? Dan disaat seperti ini?
"K-kau..." entah kenapa perasaan aneh langsung menghantamku saat kulihat air mata yang tiba-tiba saja mengalir jatuh di wajah mungilnya.
"Minani, siapa dia?" suara Noona itu memecahkan lamunanku. Saat itu juga pandanganku teralih saat melihat Miki berlari meninggalkan kami.
Tanpa pikir panjang aku pun mengejarnya. Tak perduli dengan teriakan Noona yang saat ini tengah memanggil namaku.
Yang ada di pikiranku sekarang hanyalah gadis Jepang itu, Miki.
.
.
Author POV
.
Miki berlari cepat. Tangan kanannya tak terlepas mendekap mulutnya. Ia menangis, menangis dengan keras kalau saja ia tidak berusaha untuk menahannya.
Nafasnya tersengal hebat. Hatinya benar-benar sakit melihat apa yang baru saja dilakukan oleh lelaki yang ia sukai.
"Hiks... Hiks..." ia pun menghentikan langkahnya disaat ia merasa tak bisa lagi menahan tangisnya. Lututnya tersungkur bebas menghantam tanah, ia kembali berusaha menahan tangisnya dengan menutupi wajah dengan kedua tangannya.
"Miki..." Minhwan yang berhasil mengejarnya pun hanya bisa terdiam kaku melihat isakan hebat dari gadis Jepang yang selalu terlihat ceria itu. Ia tak pernah membayangkan bahwa ia akan melihat gadis itu menangis seperti ini. Dan ia tahu, hal itu diakibatkan oleh dirinya sendiri.
"Ternyata... kau lebih dari yang aku bayangkan..." ucap Miki gemetar disela-sela isak tangisnya. "Seharusnya aku tahu kalau kau memang laki-laki kurang ajar yang suka bermain dengan wanita"
Minhwan tercekat dengan ucapan Miki. Nafasnya seolah tertahan saat kata-kata itu menusuk tajam kedalam hatinya.
"Padahal sudah jelas-jelas aku melihatmu di klub malam itu. Bahkan kau mengancamku untuk tidak membeberkan masalah itu di sekolah. Kau pasti sangat menikmati waktumu bersama wanita-wanita itu sampai-sampai tidak mau ada pengganggu yang mengacaukannya" Miki kembali berdecak miris.
"Dan seharusnya... aku pun tahu kalau kau tak benar-benar serius menyukaiku..."
DEG
Minhwan terdiam seketika oleh kata-kata Miki. Menyukainya? Ia menyukai gadis Jepang itu?
Perasaan aneh pun kembali menyelubungi pikirannya. Jantungnya ikut merespon saat mendengar kata Suka dari Miki.
"Aku yang terlalu bodoh. Aku terlena oleh semua sentuhanmu, seharusnya aku menyadarinya sejak awal, bukankah kau pun bisa dengan mudah mencium wanita-wanita itu? Bukankah kau pun bisa dengan mudah membelai lembut kulit wanita-wanita itu? Kenapa aku terlalu bodoh sampai bisa terlena oleh semua sentuhanmu itu!" Gadis Jepang itu pun bangkit dan membalikkan badannya menatap Minhwan.
"Apa kau bilang? Aku bisa dengan mudahnya menyentuh gadis-gadis itu?" emosi pun mendadak menguasai pikirannya disaat ia merasa terhina dengan kata-kata Miki barusan.
Miki belum tahu bagaimana ia sebenarnya. Bahkan baru sekali itu ia berani menyentuh seorang gadis dan gadis itu adalah Miki. Ia bahkan tak tahu mengapa ia berani menyentuh gadis Jepang itu, ia hanya merasa nyaman dengan gadis itu.
Namun gadis Jepang itu justru tidak memahaminya dan malah merendahkannya sekarang.
"Padahal aku berusaha sekuat tenaga merelakanmu kalaupun kau lebih memilih tunanganmu itu. Tapi ternyata... kau hanya mempermainkan perasaan kami. Kau... benar-benar kurang ajar Choi Minhwan" Miki pun menggeram kesal. Suaranya meredam dalam, kini ia menatap Minhwan dengan tatapan benci sekaligus kecewa.
"Percuma saja aku mencintaimu selama ini"
"YA! Gadis Jepang kurang ajar! Tahu apa kau tentang perasaanku?! Apa kau tahu seberapa tertekannya aku memikirkan ini semua?! Kau tidak mengerti perasaanku!" Minhwan pun semakin termakan emosi, terlebih lagi saat Miki kembali mengungkit soal Bomi. Pikirannya semakin terasa berat.
Miki pun ikut tersentak saat Minhwan membentaknya, terlebih lagi ia dengan sendiri Minhwan mengatainya Kurang Ajar. Hatinya semakin teriris perih mendengar kata-kata kasar dari seseorang yang selama ini ia cintai dan ia sayangi.
"Aku memang tidak perlu tahu soal perasaan apapun dari laki-laki sepertimu! Sudah cukup, aku tidak mau tersakiti lebih dari ini lagi! Aku membencimu CHOI MINHWAN!"
"AKU LEBIH MEMBENCIMU AMAKURA MIKI!"
Nafas keduanya pun tersengal setelah mengungapkan murkanya masing-masing. Air mata masih mengalir membasahi pipi Miki, dan Minhwan tampak tak memperdulikannya sedikitpun.
"Mungkin aku harus menyesali rasa cinta ini" ucap Miki.
"Bahkan aku lebih menyesal sudah menolong dan bersikap baik padamu selama ini" Minhwan pun menyahuti ucapan Miki dengan dingin.
Miki tak tahan lagi, ia tidak bisa berada didekat Minhwan lebih lama lagi. Semua kenangan indahnya bersama Minhwan serasa hancur seketika. Terkoyak habis dengan cara yang kejam. Tak ada lagi yang perlu diingat.
Miki pun memutuskan untuk pergi meninggalkan tempat itu juga lelaki yang pernah ia cintai. Pergi dengan membawa perasaan berat yang terus-menerus mengoyak hatinya.
Minhwan pun hanya bisa diam tanpa ada kemauan sedikitpun untuk mengejar gadis Jepang yang selama ini memenuhi pikirannya itu. Ia mendecak kesal seraya menendang pagar batu yang ada dihadapannya dengan kasar.
Minhwan dan Miki... mungkin saja kalimat makian tadi adalah kata-kata terakhir yang dilontarkan keduanya untuk satu sama lain. Mungkinkah ini adalah akhirnya?
.
.
TBC!
.
Background Song : Cho Kyuhyun – THE WAY TO BREAK UP (Poseidon OST)
