The Death Fourth
.
.
.
Main Cast : Oh Sehun , Xi Luhan, Kim Jongin, and Park Chanyeol
Pairing: HunHan/KaiSoo/ChanBaek
Genre : Romance, Action, Friendship, Hurt/Comfort
Rate : T-M
Length : Chapter
YAOI. Typo (s)
HUNHAN STORY!
.
.
.
Minggu pagi di kediaman yang terletak jauh didalam hutan terasa sepi dan tenang, bukan hanya karena rumah bertingkat dua yang tampak elegan itu terletak didalam hutan, namun sepi karena keempat penghuninya sedang tidak dalam mood mereka karena bosan tidak ada pekerjaan yang bisa mereka lakukan hampir seminggu ini karena dunia "gelap" mereka sedang ramai dibicarakan di public dan polisi sedang mencari siapa saja pemegang terbesar peran dari pekerjaan yang mereka jalani. Jika polisi sampai menemukan siapa pemegang bisnis "gelap" terbesar di Korea, tidak menutup kemungkinan jika keempatnya akan dicari dan dilibatkan dengan polisi.
Hal itu membuat Sehun bertanya-tanya pada orang yang berani membuat polisi merasa tertarik dengan kasus yang berhubungan dengan pekerjaan mereka, dan dirinya memutuskan kalau mereka berempat tidak akan melakukan pekerjaan mereka sampai suasana menenang dan polisi tak lagi berkeliaran mencari tersangka dari kasus yang sedang mereka kerjakan.
Cklek!
"Pagi yeol…"
Kai mendekati Chanyeol yang sedang membuat sarapan untuk mereka dan membuka lemari es dan meminum sisa birnya semalam.
"Luhan belum bangun?" tanyanya meringis merasakan sensasi bir yang ia minum dipagi hari.
"Belum…"
"Sehun dimana?"
"Di garasi, dia benar-benar harus melakukan sesuatu kalau tidak dia bisa menggila." Kekeh Chanyeol merasa Sehun seperti pecandu narkoba karena tidak melakukan pekerjaan mereka selama seminggu penuh membuatnya uring-uringan dan seperti kehilangan sesuatu.
"Yah kita harus mencari tahu kenapa polisi sialan itu menjadi tertarik pada kasus yang sebelumnya selalu mereka abaikan kan?" ujar Kai berjalan ke sofa dan kembali berbaring sambil menutup mata menggunakan lengannya.
"Kai…."
Kai baru saja kembali menutup matanya sampai suara pria cantiknya memanggil.
"Hey Lu…" sapanya bersandar di sofa dan memperhatikan Luhan yang sedang menuruni tangga seperti orang mabuk karena jalannya terhuyung.
"Kau kenapa?" Tanya Kai menaikkan kedua alisnya melihat Luhan yang tampak berantakan
"Haus." Balas Luhan berjalan asal.
"Kau demam." Kekeh Kai yang sudah hafal bagaimana Luhan saat demam. Jika Luhan demam maka apa yang dikatakannya tidak akan sama dengan apa yang dilakukannya. Seperti saat ini misalnya, jelas-jelas dia mengatakan haus tapi Luhan malah berjalan ke tempat penyimpanan makanan Monggu dan Janggu dan akan minum susu khusus hewan kalau saja Kai tidak segera menghentikan tindakan konyolnya dan langsung menggendong paksa Luhan seperti mengangkut beras.
"YEOLIE…!" pekik Luhan membelalakan mata saat dirasa tubuhnya diangkat paksa dan membuatnya seperti dijungkir balikan.
"Baiklah rusa kecil sudah dipastikan kau demam. Jadi jangan banyak melawan." Katanya membaringkan Luhan di sofa dan memeriksa dahinya.
"Ngomong-ngomong aku Kai bukan Chanyeol." Kekeh Kai karena mengingat Luhan memanggilnya Chanyeol.
"Ini.." Chanyeol pun langsung memberikan thermometer pada Kai untuk memeriksa suhu tubuh Luhan.
"Buka mulut.." perintahnya membuat Luhan tak suka.
"Tidak Mau dan jangan menindihku Kai… kau berat. Aku baik-baik saja." Luhan meronta menggeleng-gelengkan kepalanya saat Kai memaksanya membuka mulutnya.
"Ayu buka…aaaaaaa."
"Sehunnie..!"
Luhan memekik sangat kencang membuat Sehun yang sedang membereskan peralatannya tersentak dan segera berlari memasuki rumahnya.
"Lu….Astaga Kai kenapa kau menindihnya?"
Sehun membuang lap tangan yang dia pegang dan segera mencengkram erat kaos Kai dan
BRAK!
Sehun dengan tidak elitnya membuat Kai terjatuh dari sofa.
"Yak..!"
"Kenapa berteriak?" tantang Sehun berkilat.
"Sehun…kau seharusnya membiarkan Kai melakukannya." Kekeh Chanyeol melihat kelakuan Sehun dan Kai
"Melakukan apa?" Tanya Sehun masih memandang tajam Kai tak berkedip.
"Calon istrimu demam, dia mulai meracau tak jelas."
Sehun kemudian membelalak melihat kea rah Chanyeol..kemudian ke Luhan dan terakhir ke Kai yang juga memandanganya kesal sampai pandangannya kembali lagi pada Luhan.
"Apa benar kau demam Lu..?"
Sehun langsung memangku Luhan yang juga langsung mendekap erat leher Sehun. "Aku baik-baik saja Sehunnie…kau mau kemana? Kenapa memakai kemeja?" Tanya Luhan membuat Sehun mengernyit.
"Kau benar-benar demam sayang. Aku hanya memakai kaos oblong bukan kemeja." Kekeh Sehun mencium bibir Luhan dan menyatukan dahi mereka.
"Bahkan aku merasa terbakar menempelkan dahiku di dahimu sayang…. Kai kemarikan thermometer nya." Perintah Sehun tanpa merasa bersalah pada Kai sedikitpun yang sudah setengah mencibir Sehun.
"Ini…" katanya agak kasar memberikan thermometer pada Sehun membuat Sehun terkekeh.
"Oke…maafkan aku, aku tidak tahu kau mau mengukur suhu tubuhnya, yang aku tahu kau pasti akan berbuat mesum pada milikku." Katanya menekankan kata milikku mengingatkan Kai kalau Luhan hanya miliknya seorang.
"Sayang buka mulutmu…aaaa"
Dan Kai kembali mencibir namun kali ini pada Luhan yang tanpa harus meronta langsung membuka mulutnya saat Sehun memintanya.
"Aigoo lulu pintar." Gemas Sehun dan kembali memeluk Luhan yang seluruh tubuhnya memang panas dan berkeringat.
tittt…tiiitt
thermometer yang berada di mulut Luhan pun berbunyi menandakan kalau alat kecil itu telah selesai mengukur suhu tubuh pria cantiknya.
"biar kulihat.." Sehun mengambil thermometer nya dari mulut Luhan dan tak lama menaikkan kedua alisnya.
"Well…38.9 derajat. Kau demam. Ayo minum obat. Kalian bersiaplah." Katanya mengerling Kai dan Chanyeol
Yang dimaksud bersiap disini adalah ketiganya harus mengantisipasi semua bentuk penolakan Luhan yang sudah dipastikan tidak akan mau makan apalagi minum obat. Itu dikarenakan jika Luhan demam, bukan pusing atau sakit kepala yang dirasakan, namun dunia imajinasinya yang menguasainya membuatnya suka meracau dan melakukan hal-hal yang berada di luar kesadarannya sendiri.
"Ini…" Chanyeol memberikan semangkuk sup dan air putih agar Luhan makan sebelum minum obat dan tak lama Kai juga memberikannya obat penurun demam beserta kompresan untuk dahi Luhan.
"Nah Lulu cantik…ayo kita sarapan."
"Kau siapa? Ah…..kau suamiku ya? Omo! Aku sudah menikah." Racau Luhan merona sambil mencubit pipi Sehun gemas.
"Iya aku suamimu, sekarang buka mulutmu..aaaaa."
Sehun tersenyum senang karena Luhan membuka mulutnya dengan cepat dan memakan bubur yang ia suapi untuknya.
"Dia hanya mau mendengarkan aku." Katanya menyombongkan diri pada Kai dan Chanyeol yang mencibir sebal pada Sehun.
Sehun hanya terkekeh dan berniat kembali menyuapi Luhan sebelum..
Byurrrrrr…..
Sebelum Luhan menyemburkan bubur yang sedang berada di mulutnya tepat ke wajah Sehun yang kini penuh dengan bubur yang disemprotkan Luhan.
HAHAHAHAHAHAHA….
Sehun memejamkan matanya dan kembali membukanya menatap mengerikan melihat ke Luhan "Lu…" desisnya menggertakan gigi sementara tawa Kai dan Chanyeol menggema ke seluruh ruangan.
"Pahit…jauhkan makananan menjijikan itu dariku." Katanya meronta turun dari pangkuan Sehun.
Sehun sebenarnya masih gemas dengan kebiasaan jelek Luhan jika sedang demam, namun kemudian dia terkekeh karena menyadari calon pendamping hidupnya ini memang sedang sakit dan harus diurus dengan benar.
"Aku mau pergi..!" teriaknya seperti orang mabuk,
Sehun hampir kehilangan pegangan Luhan kalau saja dirinya tak langsung meraih pergelangan tangan Luhan dan membawa pria cantiknya kembali duduk ke pelukannya.
Dia sedikit kewalahan karena Luhan terus meronta dan tak mau makan dan minun obat seperti biasa kalau dirinya terkena demam.
"sekarang." Katanya mendekap erat Luhan dari belakang dan memberi aba-aba Kai dan Chanyeol.
Dan yang dimaksud "sekarang" adalah setiap kali Luhan meronta karena demamnya, Sehun harus memeluknya dari belakang, mendekap pria cantiknya agar tak berlarian kemana-mana sementara Kai dan Chanyeol bertugas untuk menyuapinya dan meinumkan obat pada Luhan.
"LEPAS KAI..!" Pekik Luhan menatap tajam Kai yang beringsut takut.
"Kau sakit Lu….kau harus makan." kekeh Kai yang juga menyuapi Luhan namun mendapat nasib yang sama dengan Sehun karena Luhan mulai menyemburkan makanannya secara asal.
"Sehun lepas…" Luhan kembali memekik namun kali ini Sehun menahan kedua tanganya.
"Aku lepas tapi kau harus minum obat. Setuju?" tanya Sehun mencoba berunding dengan Luhan.
"Tidak..!" katanya kembali menggeleng membuat Sehun mendengus sebal.
"Baiklah kalau begitu aku tidak punya pilihan lain." katanya berbisik pada pria cantiknya.
"Yeol, berikan obatnya."
Chanyeol yang sudah mengerti pun mengangguk dan segera mengambilkan obatnya, namun dia tidak memberikan obatnya pada Luhan namun memberikannya pada Sehun, Sehun pun dengan cepat meminum obatnya, kemudian dia memaksa Luhan melihat ke arahnya dan
"Hmphhhhh….."
Luhan meronta namun tak bisa berbuat apa-apa saat Sehun memegang tengkuknya dan menciumnya paksa agar dirinya menelan obat yang berada di mulut Sehun.
Sehun sendiri semakin memperdalam ciumannya memastikan obat yang berada di mulutnya telah berpindah ke pria cantiknya, dia terus menekan tengkuk Luhan dan tersenyum saat mendengar suara
Glup…!
Yang menandakan kalau Luhan telah menelan obatnya dengan terpaksa.
"Aigoo lulu pintar." Kekeh Sehun mencium cepat bibir Luhan.
Wajah Luhan memerah bukan hanya karena demamnya namun juga karena paksaan kekasih tercintanya membuat Kai dan Chanyeol otomatis menjauh saat melihat reaksi wajah Luhan yang memerah yang menandakan dia sedang sangat marah, dan Sehun yang sedang memangku Luhan pun sudah menutup kencang telinganya karena sebentar lagi Luhan pasti akan..
"EOMMAAAAA…!"
Luhan pasti akan berteriak memanggil ibunya dengan suara Sembilan oktaf yang membuat ketiganya harus menutup telinga karena teriakan Luhan benar-benar sangat memekakan telinga.
"Kalian jahat..!" katanya meracau menyalahkan Sehun, Kai dan Chanyeol yang hanya bisa terkekeh melihat Luhan yang begitu menyebalkan saat demam.
"Huwaaa kalian jahat dan menyebalkan."
"Oh tidak…" gumam Kai menutup telinganya menyenggol bahu Chanyeol menandakan kalau Luhan yang dalam mood akan menangis sekencang-kencangnya.
"Huwaaaaa….!"
"Oh babyku jangan menangis. Aku disini sayang…"
Sehun pun dengan sigap membawa Luhan ke dalam gendongannya dan menimang-nimang Luhan seperti menenangkan bayi berusia enam tahun.
Kai mengusak pelan telinganya terkekeh menyadari kekuatan berteriak Luhan masih sangat hebat dan tak berubah sedikitpun.
"Aku rasa aku bisa tuli jika Luhan terus berteriak." Kekeh Chanyeol yang kini berjalan ke arah dapur untuk memakan sarapan yang belum lama ia buat.
"Aku juga." Gumam Kai terus memperhatikan Luhan dan mulai mengernyit saat Luhan melingkarkan kakinya di pinggang Sehun dan mengeratkan pelukannya di leher kekasihnya.
"Eomma…Luhan rindu."
Tak hanya Kai, Sehun yang sedang menggendong Luhan serta Chanyeol yang baru saja ingin memasukkan makanan ke dalam mulutnya diam di tempat mereka masing-masing. Mereka memang sudah sangat mengenal satu sama lain dengan baik termasuk kebiasaan mereka saat salah satu dari mereka sakit.
Seperti Luhan contohnya, dia dengan tiba-tiba terkena demam, lalu dia kemudian mengigau merindukan ibunya, itu hanya menyimpulkan satu hal yakni pria cantik mereka terkena demam karena dia sedang sangat merindukan ibunya dan kemudian berusaha terlalu keras menyembunyikannya membuat dirinya kemudian jatuh sakit.
"Eomma…" Luhan kembali terisak di leher Sehun.
"Sst….tenanglah sayang. Semua akan baik-baik saja." Gumam Sehun mengelus sayang punggung pria cantiknya.
Kai dan Chanyeol dengan otomatis pun kembali mendekati Luhan, keduanya berdiri di belakang Sehun agar bisa melihat wajah Luhan.
"Lulu merindukan eomma?" tanya Kai bermain di poni Luhan yang tampak berkeringat.
Luhan pun mengangguk sebagai respon "eomma…" lirihnya sedikit mencengkram leher Sehun karena tak bisa menyembunyikan rasa rindunya.
"Kalau begitu lulu harus segera beristirahat dan temui ibumu didalam mimpi. Mau kan?" Kai kembali membujuk Luhanyang mulai semakin meracau karena suhu badannya.
"hmm.." gumamnya yang semakin lemah karena merasa sangat mengantuk.
Dan tak lama Luhan pun tertidur karena pengaruh dari obat penurun demam yang belum lama ia minum, ketiganya pun menghela nafas lega mendapati Luhan sudah tidur setelah meminum obatnya.
"Cepat sembuh Lu." Gumam Chanyeol mencium pipi Luhan.
Luhan pun tampak menggeliat di pelukan Sehun tanda kalau ia sangat nyaman berada di pelukan calon suaminya kelak.
..
..
..
Malam harinya Luhan merasa seluruh badannya pegal dan sakit dia menggeliat perlahan dan membuka matanya kemudian sedikit mengernyit mendapati dirinya tertidur di pangkuan Sehun dengan Kai dan Chanyeol yang masing-masing tertidur di paha Sehun dengan nyaman.
Luhan mengerjapkan matanya berulang kali berusaha mengingat apa yang terjadi, dia kemudian menggigit keras bibirnya saat menyadari hal konyol yang ia lakukan pagi tadi, dia langsung memandangi wajah Sehun, Kai dan Chanyeol yang terlihat kelelahan dan ikut tertidur setelah dirinya tertidur.
Luhan masih tak bersuara sampai dia merasa tengkuknya kembali ditarik merasa dahinya kini menyatu dengan dahi pria tampan yang sedang memangkunya.
"Aku rasa sudah normal." Gumam Sehun yang memastikan suhu tubuh Luhan sudah kembali normal.
Luhan hanya terkekeh kemudian mengerucutkan bibirnya lucu "Maaf aku kembali berulah." Lirihya membuat Sehun menarik pelan hidungnya.
"Kau sedang sakit dan kau tak membuat ulah sayang." Gemasnya membuat Luhan meringis.
"Sehunnie gomawo." Ujar Luhan tiba-tiba memeluk Sehun.
"Tidak perlu berterimakasih Lu, kau juga akan melakukan hal yang sama jika aku sakit." Balas Sehun mengelus sayang punggung Luhan.
"Aku ingin selamanya seperti ini." Gumam Luhan bermain di wajah Sehun yang terlihat sangat tampan.
"Kita akan seperti ini…..selamanya" katanya membalas keinginan Luhan dan mencium telak bibir Luhan yang tampak merona.
"Sehunnie… ayo kita kekamar." rengek Luhan sedikit berlonjak di pangkuan Sehun.
"Ke kamar?" tanya Sehun mengernyit memastikan.
Luhan mengangguk penuh semangat "Iya…"
"Kenapa tidak disini? Kau biasanya suka kita tidur bersama."
"Malam ini hanya ingin tidur dengan Sehunnie." gumam Luhan menyembunyikan wajahnya di perpotongan leher Sehun.
"Kau kan memang selalu tidur dengan-... Ah…. Apa lulu sayang sedang ingin bercinta?" bisik Sehun membuat Luhan mengeratkan pelukannya sebagai jawaban.
"Kalau begitu kau harus memintaku." bisik Sehun menjilat telinga Luhan
"Sehunnie…" rengek Luhan yang semakin merona dengan permintaan Sehun.
"Tidak mau? Yasudah…." balas Sehun kembali memejamkan matanya.
"Ish menyebalkan sekali." gerutu Luhan memandangi wajah Sehun yang berpura-pura tidur.
"Sehunnie...aku ingin bercinta denganmu." ujarnya dengan merona berbisik di telinga Sehun.
Sehun pun dengan otomatis membuka matanya dan mengecup bibir Luhan sekilas.
"araseo...aku akan memuaskanmu." katanya bersemangat memindahkan perlahan kepala Kai dan Chanyeol yang berada di pahanya, lalu kemudian menggendong Luhan menuju kamar mereka dengan terburu.
..
..
..
"shhhh…" Luhan sedikit mengerang saat Sehun membaringkan agak kasar tubuhnya.
"Pelan-pelan." protes Luhan mengerucut lucu membuat Sehun tak mau berbasa basi.
Dengan cepat Sehun menyambar bibir plum Luhan memanjakannya dengan bibirnnya begitu agresif, Luhan pun tak bisa mengimbangi permainan Sehun namun sebisa mungkin Luhan membalas perlakuan calon suaminya itu.
Suara kecipak dan desahan erotis menggema dari dua pasangan yang sudah sangat bernafsu ini. Keduanya nampak sangat bersemangat mengulum dan menjilat junior masing-masing dengan posisi wajah Luhan yang bertemu dengan junior Sehun dan sebaliknya, Luhan nampak mendesah-desah sambil memegangi kepala junior milik Sehun saat tangan dan mulut Sehun terus saja menggelitik mengigit dan menghisap kepemilikannya
"Shhh… Yah… Sehunnie…" desah Luhan menggigit kencang bibir bawahnya
"Hmmm sayang. Apa kau menyukainya?" sejenak Sehun melepas kulumannya terhadap junior Luhan. Tangannya menggesek-gesek dan menyodok kepala junior Luhan dengan lidahnya membuat penisnya semakin menegang begitupun dengan Luhan.
"Ya sayang."
Balas Luhan mengangguk. Kedua kakinya nampak menjepit penisnya sendiri yang sudah menegang akibat perlakuan Sehun. Sehun tersenyum puas lalu melanjutkan aktivitasnya kembali membuka kaki Luhan lebar-lebar dan mengulumnya.
"Oooohh… hmmhh...Sehunnn,,akhhh…" desah Luhan sambil terus menekan kepala Sehun ke arah penisnya.
Sehun menjauhkan kepalanya dari selangkangan Luhan dan menggantikan posisi lidahnya dengan jemari tangannya. Jemari itu memulai penetrasi ke liang hangat luhan, membuat luhan mendongakkan kepalanya ke atas. "Ummmhhhhhh…" pekiknya.
Luhan menggerakkan pinggulnya maju mundur, menyamakan irama dengan gerakan jemari Sehun.
"Yeaaahhh…" desah Luhan agak keras. Tak ketinggalan, tangan Sehun pun merayap ke atas, ke dua niple Luhan. Pemuda itu langsung mengerahkan tangannya untuk meremasnya, memberikan kenikmatan tambahan pada Luhan.
Mata Luhan menatap sayu tunangan tampannta dengan tatapan mengundang pejuh nafsu dengan birahi yang sudah memuncak, Luhan ingin lebih lagi dari ini..
"hmphh...sayang masukkan sekarang!" ucap Luhan di tengah desahannya. Ia sudah pasrah ia tidak tahan lagi dengan sentuhan Sehun. tubuhnya sudah tidak bisa di kontrol lagi. Luhan hanya ingin mendapatkan klimaksnya secepatnya
Tanpa menunggu lama, Sehun langsung menyerang tubuh Luhan lagi. Lidahnya menjilat-jilat mulai dari dada hingga berhenti di selangkangan Luhan lagi. "Sehun…!" desah Luhan karena lagi-lagi Sehun mempermainkan juniornya dengan menghisapnya kuat
Sehun menyeringai puas dan memutuskan untuk segera membuat Luhan kenikmatan dia pun mengocok juniornya kasar, beberapa saat setelahnya Sehun mulai mendekatkan penisnya ke arah hole Luhan
"sshhhhhhh…"desah Sehun saat penis miliknya perlahan tertanam di manhole hangat Luhan.
"Aaaaaaaaahhh… Sehunn!" jerit Luhan.
"Iya sayang...tahan sebentar..sshhhh,,,,, aku akan melakukannya dengan lembuth,,, akh…."
Sehun menggerakkan pinggangnya maju dan mundur, menarik keluar seluruh kejantanannya sebelum membenamkannya lebih dalam lagi dari sebelumnya dan perlahan namun pasti pula gerakan in outnya itu semakin brutal membuat tubuh Luhan ikut bergoyang terbawa gerakan tubuh Sehun yang kini tengah mengagahinya,,
"Sehunnie..!,,,,umphhhn" Sehub tersenyum dan mengecup kening Luhan, karena pria cantiknya baru mencapai klimaksnya.
Luhan kembali mempersiapkan dirinya setelah orgasme pertamanya, ia tahu ini masih akan berlanjut , penis Sehun yang masih tertanam dengan gagahnya dan menegang di dalam sana mana mungkin secepat dirinya mengalami orgasme, mempersiapkan diri kembali sebelum Sehun menggerakan pinggulnya menumbuk kembali prostatnya.
"Aaaaah… Ssssshhh…" desis Sehun saat merasakan hole Luhan semakin menjepit miliknya.
"Sayang….umphh…..akhhhh" Luhan mendesah agak keras.
Sehun langsung menggerakkan penisnya keras, menumbuk prostat luhan tanpa ampun dan agak kencang
"SEHUNNIE….! hmphhhhh." racaunya semakin menjadi tatkala Sehun kembali menghujam kedalam juniornya dengan hentakan keras yang sangat memabukkan.
"LU…!"
Dan tak lama pun Sehun memejamkan matanya menikmati klimaksnya sambil mengeluarkan seluruh cairannya ke lubang Luhan.
Setelah mendapatkan klimaksnya sepenuhnya Sehun mengeluarkan juniornya dari lubang Luhan perlahan, membuat pria cantiknya meringis kesakitan.
"Aku dengan senang hati mengijinkamu terkena demam jika akhirnya seperti ini." kekeh Sehun membawa Luhan ke pelukannya dan melingkarkan tangannya ke pinggang ramping kekasihnya.
"Sehun…!" protes Luhan memukul kesal pria tampan nya.
"araseo...araseo..aku hany bercanda. Tidurlah sayang." gumam Sehun mengelus sayang punggung Luhan membuat si pemilik panggilan rusa ini seperti dihipnotis karena usapan sang kekasih yang begitu nyaman di punggungnya.
"aku mencintaimu." gumam Luhan dan tak lama benar-benar tertidur.
"Aku juga mencintaimu sayang." balas Sehun mengecup kening Luhan dan ikut menyusul pria cantiknya untuk beristirahat.
..
..
..
Hari berikutnya, Luhan yang sudah membersihkan diri keluar dari kamarnya, dia sedikit kesal karena Sehun begitu saja meninggalkannya di kamar mereka.
Dia menuruni tangga dan mendapati tiga pria tampannya sedang sibuk dengan urusan masing-masing. Chanyeol sedang memakan sarapannya, Kai yang sedang bermain dengan kedua anjingnya serta Sehun yang sedang menonton berita di televisi dengan serius.
"Kau sudah bangun? Bagaimana Lulu? Puas?" Kai bertanya namun terdengar menyindir untuk Luhan.
"Puas apa?" tanya Luhan mendekati Chanyeol dan mengambil sarapan pria tertinggi di rumahnya tersebut.
"Tidurmu nyaman?" tanya Chanyeol mengusak rambut Luhan.
"Ummh…Gomawo sudah merawatku, appa." Cengirnya membuat Kai mendengus mendengarnya.
"Iya kami yang merawatmu tapi Sehun yang bercinta denganmu, menyusahkan." Gerutu Kai membuat Luhan
Uhuk..!
Tersedak minumannya dan membelalak tak percaya menatap Kai.
"KIM JONGIN….!"
Breaking news…
Kabar terbaru datang dari pemilik dari empat perusahaan terbesar di Korea. Komisaris tertinggi Oh Jaewan, Kim woobin, Park Yonhwa serta pemilikbisnis terbesar di Korea dan China Xi Dong Li terlibat berita tak menyenangkan yang menyebutkan bahwa masing-masing dari putra tunggal mereka yakni Oh Sehun, Kim Jongin, Park Yoochun serta Xi Luhan dikabarkan menjalini bisnis gelap dan ilegal. Tersebar beberapa foto yang membuktikan kalau pria yang berada di gambar adalah benar putra dari keempat pemilik perusahaan terbesar di korea.
Keempat pemuda ini menamakan diri mereka The Death Fourth yang artinya keempat raja kematian yang bisa membunuh lawan dan siapapun jika berani mengganggu mereka atau pekerjaan yang mereka jalani. Dan dalam melakukan pekerjaan mereka, keempat pemuda ini terkenal tidak segan untuk menghabisi lawan dengan keji.
Akibat dari tersebarnya berita mengejutkan ini, berdampak pada menurunnya nilai saham dan perjanjian bisnis dengan negara tetangga secara drastis, hal ini mengakibatkan ratusan hingga ribuan karyawan terpaksa diberhentikan karena perusahaan tak mampu lagi membayar.
Polisi masih menyelidiki keberadaan keempat putra komisaris tertinggi dari empat perusahaan untuk dimintai keterangan lebih lanjut.
Demikian berita yang kami sampaikan…selamat siang..!
Keempatnya terdiam di tempat masing-masing. Berita yang baru saja mereka dengar cukup membuat mereka terkejut dan tak bisa berkata apa-apa.
"A-apa benar nama ayah dan nama kita baru saja disebut?" Luhan bertanya gugup namun tak mendapat jawaban dari ketiga temannya.
"Sial….!"
Gumam Kai mengambil kunci mobilnya dan segera pergi menuju suatu tempat, terdengar dia menyalakan mobil dengan terburu-buru dan kecepatan tinggi.
Luhan menatap Sehun dan Chanyeol yang berusaha santai namun terlihat tegang, matanya kemudian bertemu dengan mata Sehun dan Sehun pun tersenyum menatapnya.
"Bersiaplah Lu, aku akan mengantarmu ke kampus." Ujar Sehun yang langsung menaiki tangga dan masuk kedalam kamarnya.
Sepeninggal Sehun, Luhan menatap Chanyeol berharap kalau Chanyeol akan berkata sesuatu, Chanyeol yang seakan mengerti Luhan pun hanya tersenyum getir.
"Itu hanya rumor Lu, habiskan sarapanmu dan cepat berangkat." Katanya mengusak rambut Luhan dan tak lama pergi keluar rumah meninggalkan Luhan sendirian.
Guk..Guk..
Luhan tersadar dari lamunannya saat Janggu menggonggong di kakinya, dia kemudian mengangkat Janggu dan anjing milik Kai itu sekilas.
Guk..Guk..
Janggu terus menggonggong tanpa henti membuat Luhan mengernyit "Entahlah Jangguya…perasanku tidak enak." Lirihnya memeluk Janggu erat.
Berita mengejutkan ini bukan pertama kalinya mereka denganr, tepat seminggu yang lalu keempatnya bercerita kalau orang kepercayaan ayah mereka masing-masing mendatangi mereka untuk meminta bantuan, namun karena menganggap ini hanya lelucon tak ada satupun yang menanggapi sampai berita yang baru saja mereka saksikan memberitahukan segalanya.
Keempatnya memang memutuskan untuk pergi dari keluarga mereka masing-masing, mereka tidak membutukan bantuan apapun untuk hidup dari harta keluarga mereka, namun saat mereka mengetahui keluarga mereka berada dalam masalah mereka tak bisa tak peduli karena jauh didalam hati mereka, mereka sangat menyayangi keluarga mereka masing-masing dan akan melakukan apapun untuk membuat keluarga mereka baik-baik saja serta memastikan bahwa pekerjaan yang mereka jalani tidak akan membuat keluarga mereka terusik.
..
..
..
Luhan baru saja selesai dari kelasnya, dia sedang tak berminat mengikuti kelas selanjutnya karena Baekhyun dan Kyungsoo sedang sibuk mengurusi acara ulang tahun kampus mereka yang akan diselenggarakan minggu depan, hal itu membuatnya kesal dan berniat segera pulang kerumah menggunakan bis karena sudah setengah jam mencoba menghubungi ketiga pria tampannya namun tak ada satupun dari mereka yang menjawab. Alasan Luhan untuk pulang lebih awal bukan hanya karena Kyungsoo dan Baekhyun, namun pikirannya sedang bercabang memikirkan berita pagi tadi yang ia dengar, dia juga mengkhawatirkan ketiga temannya yang tampaknya tidak akan tinggal diam jika benar keluarga mereka terusik karena pekerjaan yang mereka jalani.
Luhan kemudian menghela nafasnya dalam dan kembali melanjutkan perjalanan pulangnya
Saat sedang berjalan menuju gerbang kampusnya, langkah Luhan terhenti menyadari siapa yang sedang berdiri di sandaran mobil dengan bantuan tongkatnya seperti sedang menunggu kedatangannya.
Keduanya bertatapan cukup lama sampai akhirnya Luhan kembali berjalan, berusaha mengabaikan pria paruh baya yang sepertinya sangat menunggu kedatangannya.
Saat keduanya berpapasan Luhan berusaha mengabaikan keberadaaan pria tua yang tak lain adalah ayahnya dengan terus berjalan namun langkahnya terhenti saat ayahnya memegang erat lengan Luhan membuat Luhan menatap ke arahnya.
"Ada apa?" tanyanya tak berbasa basi.
"Apa kau sudah dengan berita tentangmu dan teman-temanmu?"
"Sudah." Balasnya tegas tak mau menatap ayahnya.
"Kami baik-baik saja." Katanya memberitahu ayahnya yang semakin mencengkram erat lengannya.
"Maaf aku ingin pergi." Balas Luhan tak mau lagi berlama-lama dengan ayahnya yang dikawal oleh beberapa orang anak buahnya.
Luhan pun melepas paksa cengkraman ayahnya dan kemudian kembali berjalan melewatinya
"Kau mungkin baik-baik saja nak, tapi aku tidak."
Luhan menghentikan langkahnya saat ayahnya kembali berbicara
"Apa maksudmu?" tanyanya membalikan badannya menatap dalam ke mata ayahnya.
"Aku membutuhkan bantuanmu nak."
Dan permintaan ayah Luhan hari itu menjadi sesuatu yang menentukan kebersamaan Luhan dengan ketiga temannya.
Ya, semenjak hari dimana berita di televisi itu tersebar dan hari dimana ayah Luhan meminta bantuan pada Luhan membuat Luhan tak punya pilihan lain selain bertanggung jawab atas kerusakan dan kerugian yang ia buat untuk perusahaan ayahnya. Semenjak hari itu pula, Luhan sudah jarang pulang kerumah dengan alasan mengerjakan sesuatu yang rusak karena perbuatannya, dan tanpa banyak bertanya Kai, Sehun dan Chanyeol pun mengijinkan Luhan untuk mengurus urusannya karena mereka bertiga sendiri juga harus mengurus hal yang sama dengan Luhan, bertanggung jawab karena pemberitaan tentang diri mereka yang berdampak pada perusahaan keluarga mereka.
..
..
..
Cklek…!
Luhan baru saja membuka pintu rumahnya, hari ini dia benar-benar kelelahan karena harus mengikuti serangkaian kegiatan yang membuat seluruh kepalanya terasa sakit karena saat berada di tempat ayahnya Luhan harus membuktikan kalau pemberitaan tentang dirinya hanya omong kosong walaupun sepenuhnya benar, dia hanya harus membuktikan kemampuan berbisnisnya sampai rasanya ia ingin menembaki seluruh pemegang saham yang bekerja sama dengan ayahnya karena tak ada satupun yang mempercayainya.
"Aku pulang…" gumam Luhan namun tak ada jawaban, dia kemudian tersenyum pahit menyadari kalau ketiga pria nya juga terlihat sibuk belakangan ini.
Cklek..!
Suara pintu kembali terbuka, Luhan yang sedang duduk di sofa menoleh dan mendapati Kai yang sama sepertinya terlihat berantakan dan sangat tidak bersemangat.
"Kai.." Luhan memanggilnya membuat Kai sedikit melebarkan matanya.
"Astaga Lu.."
Kai bergumam dan kemudian berlari cepat menghampiri Luhan lalu mendekap erat Luhan yang tampak kebingungan.
"Kai.." gumam Luhan merasa sesak karena Kai memeluknya terlalu erat.
"Astaga Lu..sudah berapa lama aku tidak melihatmu? Sehari? Dua hari? Ah….Aku rasa seminggu. Aku sangat merindukanmu rusaku." Gumam Kai menciumi seluruh wajah Luhan.
Luhan hanya terdiam mendengarkan seluruh penuturan Kai sampai dia merasa ucapan Kai sangat benar dan nyata. Luhan mengakui terakhir kali ia melihat Sehun, Kai dan Chanyeol bersaman adalah saat dirinya demam minggu lalu dan setelah itu keempatnya tiba-tiba menjadi jarang dirumah karena sibuk mengurusi banyak hal.
Luhan tersenyum dan juga memeluk erat pria yang selalu mengganggu dan menggodanya ini "Aku juga merindukanmu Kai….sangat." lirihnya semakin memeluk Kai.
"Lu, apa kau tidak melihat Sehun dan Chanyeol?" Tanya Kai melepas pelukannya pada Luhan
Luhan menggeleng lemah dan kembali menatap Kai "Aku bahkan tak bisa menghubungi salah satu dari kalian sama sekali." Gumamnya memberitahu Kai.
Kai kemudian mengusak rambut Luhan dan menenangkan pria cantiknya "Setelah semua urusan gila ini selesai, kita akan berlibur. Kau mau kan?" Tanya Kai membuat Luhan bersemangat.
"Tentu." Balasnya terdengar senang namun kembali mengernyit saat melihat Kai yang sibuk mencari sesuatu.
"Kai kau mau pergi lagi?" Tanya Luhan melihat Kai yang tampak tak focus.
"Hmm…masih ada yang harus kuurus. Kau tidurlah, kita bertemu nanti malam. Aku menyayangimu Lu." Ujarnya mencium pipi Luhan sekilas lalu bergegas keluar rumah kembali meninggalkan Luhan.
Luhan hanya diam di tempatnya, ingin sekali dia menahan Kai agar tidak pergi, namun rasanya tidak mungkin mengingat alasan dirinya pulang kerumah saat ini hanya untuk berganti pakaian dan kemudian kembali ke tempat ayahnya karena harus menghadiri rapat pengalihan saham dengan beberapa perusahaan lain.
"Well, Aku juga menyayangimu Kai..ani-..aku merindukan kalian." Gumamnya berjalan menaiki tangga dan bersiap untuk segera kembali ke tempat ayahnya.
..
..
..
Tring….
Terdengar suara pintu kafe terbuka menampilkan tiga wanita dengan wajah menyeringai mereka memasuki kafe dengan angkuh dan tersenyum puas. Mereka sudah membuat janji dengan wanita lainnya yang tak kalah angkuh dan kejam seperti mereka.
"Aku akui kerjamu bagus, baru seminggu kau bertindak, pria tolol itu sudah terpisah dari ketiga temannya." Jessica duduk tepat didepan Hyoojo yang masih menggunakan kacamata hitamnya menyeringai.
"Well, terimakasih karena sudah bekerja sama dengan kami, paling tidak jika suamiku yang bodoh itu terlalu focus pada perusahaannya yang berada di Korea, aku dengan mudah akan menguasai perusahaan miliknya dan mendiang istrinya dengan mudah. Gadis pintar." Kali ini Hyewon, ibu Jessica yang memuji kepintaran Hyoojo.
"Eonni, kau keren." Krystal pun bersemangat mengagumi Hyoojo.
"Jadi apa yang bisa kami berikan untukmu sebagai imbalan?" Jessica kembali bertanya pada Hyoojo.
Hyoojo menyeringai dan melepas kacamata hitamnya "Kau hanya perlu mengurusi pria sialan itu dan selebihnya biar aku yang mengurus ketiganya. Sangat menyenangkan saat semua yang kau inginkan berada di genggamanmu." Ujar Hyoojo yang langsung berjalan meninggalkan ketiga wanita licik yang kentara sekali hanya berpura-pura berterimakasih padanya.
"Nyonya, tuan besar sedang sekarat dirumah sakit. Apa kita perlu kesana?" Tanya pengawal Hyooo memberitahu istri bos besarnya.
Hyoojo menghela nafasnya kasar dan menatap keluar jendela "Biarkan dia mati, kita pergi." Gumamnya memberi perintah dan tak lama pergi meninggalkan kafe tempatnya bertemu dengan ketiga wanita licik dan gila harta seperti dirinya.
Sementara di tempat lain, tampak Luhan terburu-buru memasuki sebuah gedung tempat dia harus menghadiri rapat bersama ayahnya siang ini, dia sudah cukup terlambat karena tidak bisa menemukan gedung yang tampaknya dipilih agar tidak terlalu mencolok oleh semua peserta rapat siang ini.
"Tuan muda." Seseorang memanggil Luhan membuat Luhan menoleh dan mendesah lega.
"Paman aku benar-benar muak bekerja memakai jas dan harus menghadiri rapat, aku bersumpah setelah semua ini selesai aku akan membakar jas ku." Geram Luhan membuat pengurus keuangan keluarganya tertawa mendengar ocehan Luhan.
"Saya takut anda harus memakai jas itu untuk waktu yang lama." Gumam Pengurus Lee membuat Luhan mengernyit.
"Eh apa maksudmu?" Tanya Luhan tak mengerti.
"Masuklah terlebih dulu tuan muda anda sudah terlambat."
Cklek….!
Pengurus Lee membukakan pintu untuk Luhan dan Luhan sedikit mengernyit mendapati beberapa orang yang berada disana nampak tak asing untuknya, dia kemudian melangkah masuk kedalam ruangan dan kali ini benar-benar mengernyit dan sedikit membeku mendapati ketiga pria nya berada di ruang yang sama dengannya dan menatapnya dengan sama pucatnya seperti dirinya.
"Apa bisa kita mulai?"
Seorang pria paruh baya yang Luhan tebak adalah ayah Sehun, menginterupsi dirinya yang hanya diam dan tak segera duduk di kursinya, Luhan sendiri hanya bisa membungkuk meminta maaf dan segera menarik kursinya yang berada di samping ayahnya dan tepat berada di depan Sehun yang terlihat berantakan dan sangat ia rindukan.
"Well, jadi apakah The Death Fourth yang terkenal telah berkumpul." Ujar seorang wanita paruh baya yang terdengar menyindir Sehun, Kai Chanyeol dan Luhan dengan suaranya yang marah dan sangat tidak suka.
"Eomma.." terdengar Chanyeol mendesis memperingatkan ibunya untuk tidak banyak bicara.
"Kalian lebih pantas berlindung dibalik nama ayah kalian daripada harus membuat kami menanggung akibat dari perbuatan kalian. Memalukan." Kali ini seorang wanita paruh baya yang lain yang menyindir, jika Luhan lihat wanita tersebut memiliki rahang yang sama dengan Sehun dan setelah diperhatikan Luhan yakin kalau wanita tersebut adalah ibu kekasihnya.
"Kalian harus bertanggung jawab atas kehancuran yang kalian buat pada kami. Kami sudah cukup sabar mendapati kenyataan kalian memberontak, kami membangun usaha kami bertahun-tahun dan kalian menghancurkannya dalam waktu seminggu. Kurang ajar… Dan Kau! Bagaimana bisa putraku menyukaimu? Dan aku bersumpah pertunangan kalian saat itu adalah sampah dan aku akan membersihkannya dalam waktu dekat" ujar Nyonya Oh menyalang penuh kebencian menatap Luhan.
BRAK!
"EOMMA CUKUP!"
Kali ini Sehun yang tak bisa mengontrol amarahnya saat Luhan disalahkan oleh ibunya.
"Berhenti mengatakan teori menjijikanmu. Katakan apa yang harus kami lakukan? " geram Sehun menatap seluruh orang yang menghadiri rapat yang sengaja diselenggarakan untuk menyidir mereka berempat.
"Kalian memang harus bertanggung jawab." Kini tuan Kim Woobin, ayah Kai yang berbicara.
"Kami berbicara disini bukan sebagai pemilik perusahaan yang dibuat rugi oleh putra merkea sendiri, kami disini berbicara sebagai orang tua yang mempunyai hak penuh atas apa yang akan kalian lakukan selanjutnya."
"Cih, jangan bertele-tele." Kai menggeram marah mendengar celotehan ayahnya.
"Well, Kami sudah memutuskan kalau kalian berempat tak bisa lagi tinggal bersama."
"MWO?"
Luhan yang memberikan respon tercepat, menolak dengan sangat keputusan menjengkelkan yang dibuat oleh semua orang yang berada di ruangan itu.
"Ck…bagaimana bisa tipikal manja sepertimu menjadi seorang pembunuh? Kau lebih pantas berada di tempat yang sangat jauh dari putraku. Beruntung ayahmu mengirimmu kembali ke China, jadi putraku tak punya lagi alasan untuk menemuimu, nona." Sindiran pedas nyonya Oh kembali harus Luhan dengar. Namun kali ini bukan hanya Sehun yang marah, ayah Luhan pun menatap tajam nyonya Oh memperingatinya.
"Kau sama sekali tidak mempunyai hak untuk menghina putraku." Desis tuan Xi menggenggam erat tongkat penyangganya.
"Apa maksudnya kau mengirimku kembali ke Cina?"
Luhan sudah tak bisa focus mendengar celotehan apapun, dia hanya ingin tahu apa yang sedang ayahnya rencanakan.
"Kita bisa bicara dirumah nak."
"Katakan sekarang.!" Luhan meninggikan suaranya membuat tuan Xi tak punya pilihan lain.
"Berkat bantuanmu seminggu ini, ayah bisa menstabilkan seluruh saham kita yang berada di Korea, namun kabar buruk datang dari Cina. Ibu tirimu mengambil kesempatan untuk menjual seluruh sisa aset milik mendiang ibumu dengan harga murah. Transaksi terakhir dilakukan minggu depan, ayah tidaki punya kesempatan lagi selain mengandalkanmu Lu. Appa mohon hentikan mereka, nak."
"Tidak mungkin." Gumam Luhan
Grep…!
Luhan merasa pergelangan tangannya ditarik dan dalam sekejap dirinya sudah berada di pelukan Sehun dengan Kai dan Chanyeol mengelilingi dirinya.
"Kami akan bertanggung jawab atas kerusakan yang kami buat, tapi kami bersumpah saat semua ini selesai. Kami juga selesai dengan kalian dan keluarga menjijikan ini." Geram Sehun membawa Luhan ke luar ruangan diikuti Kai dan Chanyeol yang sengaja membanting pintu rapat dengan kencang.
..
..
..
Tak ada yang berbicara saat Sehun membawa Luhan dan kedua temannya ke kafe terdekat yang bisa mereka singgahi. Keempatnya larut dalam pikiran masing-masing, kenyataan yang membuat mereka marah adalah siapa orang yang berada dibalik semua kejadian yang sangat menyita waktu mereka.
"Kalian tampan menggunakan kemeja dan jas."
Suara Luhan menginterupsi Sehun, Kai dan Chanyeol yang entah pikirannya sedang berada dimana.
"Hmmh..Kau bicara apa sayang?" Tanya Sehun mengusap lembut wajah Luhan.
"Kau tampan menggunakan kemeja dan jas Sehunnie." Ujarnya berusaha membuat suasana kembali rileks.
"Kalian juga." Tambahnya mengerling Kai dan Chanyeol bersamaan.
Ketiganya mengusak bergantian kepala Luhan sambil tersenyum lega mengetahui pria cantik mereka baik-baik saja.
"Maafkan kami Lu." Chanyeol membuka suara membuat Luhan mengernyit
"Untuk apa?"
"Tidak memberitahumu apa yang kami lakukan seminggu ini."
Luhan menggeleng dan menatap Chanyeol "Aku melakukan hal yang sama dengan kalian, aku juga tidak mengatakan apapun. Tapi demi Tuhan, aku merindukan kalian." lirihnya menatap satu persatu wajah tampan ketiga temannya.
"Kami lebih merindukanmu Lu." Lirih Sehun membawa pria cantiknya kembali ke pelukannya.
"Kita sudah terlibat terlalu jauh kan? Jadi aku rasa kita harus saling merindukan untuk waktu yang lama." Gumam Luhan bersembunyi di pelukan Sehun.
Ketiganya mengernyit dan memaksa Luhan mengatakan apa maksudnya "Apa yang ingin kau bicarakan Lu." Tanya Kai sedikit menegang.
"Kau dengar ucapan ayahku kan?" katanya terdengar putus asa.
"Kau tidak harus kesana Lu." Kai menginterupsi dengan cepat.
"Sayangnya Luhan harus."
"Sehun!" Chanyeol membentak Sehun yang sama sekali tak membantu.
"Kita tidak bisa menjadi boneka keluarga kita terus menerus, Kita harus melakukan sesuatu yang bisa membuat kita lepas dari mereka. Dan sayangnya satu-satunya jalan untuk mewujudkan hal tersebut serta membereskan kekacauan yang kita buat adalah seperti yang mereka katakan."
"Apa harus?" Tanya Kai frustasi
"Setelah semua ini selesai, kita akan kembali seperti sekarang kan?" Tanya Chanyeol menatap ketiga temannya.
"Tentu." Balas Sehun, Kai dan Luhan bersamaan.
"Baiklah….aku rasa memang hanya ini satu-satunya pilihan yang kita punya." Lirih Chanyeol memijat kepalanya.
Sehun kemudian menghela kasar nafasnya dan berdiri dari kursinya "Kita bertemu dirumah nanti malam. Aku juga harus mempersiapkan keberangkatanku ke Jepang."
..
..
..
Dan disinilah mereka, dirumah hangat mereka yang terasa sangat sepi seperti tak berpenghuni, tidak ada lagi tawa dari penghuni rumah tersebut yang sebentar lagi akan mereka tinggalkan. Terlihat keempatnya sedang mengemasi pakaian mereka seperlunya di kamar masing-masing, tak ada yang bersuara hanya membawa apa yang dianggap mereka penting.
Untuk Luhan, ini terasa seperti mimpi buruk kedua yang harus ia rasakan, pertama kali ia pergi meninggalkan rumah karena ayahnya mengusirnya dan kali ini dia harus kembali meninggalkan rumah yang terlalu ia cintai. Bukan hanya karena ia hidup dengan ketiga pria yang selalu bisa membuatnya tertawa. Tapi rumah ini-..rumah ini terlalu banyak menyimpan kenangan manis Luhan bersama ketiga pria tampannya.
Luhan sendiri sebenarnya sudah siap dengan barang-barangnya, tapi dia enggan keluar dari kamarnya karena takut dengan perpisahan yang akan segera ia rasakan dengan ketiga prianya. Dia hanya duduk di ranjangnya sambil melihat bingkai foto dirinya bersama Sehun, Kai dan Chanyeol. Berkali-kali ia mengusap sayang wajah ketiga prianya yang berada di foto dan berkali-kali pula air mata terus turun jatuh membasahi pipinya.
"Apa aku bisa hidup tanpa kalian." Lirihnya tak sanggup dan tak mau membayangkan bagaimana hidupnya tanpa Sehun, Kai dan Chanyeol yang selalu menemaninya.
Tok...tok..
Luhan menoleh ke arah pintu saat pintu kamarnya diketuk. Dia kemudian menghapus cepat air matanya dan bergegas membukakan pintu kamar.
Cklek…!
"Sehunnie." Luhan tersenyum mendapati pria tampannya berdiri di hadapannya, namun senyumnya sedikit memudar saat menyadari barang-barang Sehun berada di belakangnya menandakan Sehun sudah siap untuk pergi.
"Apa kau sudah siap?" Sehun menangkup wajah Luhan dan mencium telak bibir pria cantiknya yang akan jarang ia kecup ini.
"umh...sedikit lagi." lirih Luhan menjawab Sehun.
"Eh apa ini?" Luhan tiba-tiba bertanya saat Sehun menyematkan cincin di jari manisnya.
"Aku mengikatmu dengan cincin ini Lu. Kau tidak boleh terlalu dekat dengan pria lain...aku membencinya… kau tidak boleh berbagi nomor ponselmu dengan banyak pria atau wanita...aku juga membencinya.. dan yang paling penting kau harus hidup dengan baik selama kau di Cina, kau harus makan yang banyak, tidur yang cukup dan segera kembali padaku."
Sehun tiba-tiba berhenti bicara dan memukul pelan dadanya.
"ish… kenapa sakit sekali rasanya." katanya mendongak mencegah air matanya jatuh karena tak mau membuat Luhan khawatir.
"Sehunnie…!" Luhan dengan cepat memeluk kekasihnya menenangkan kekasihnya yang selalu tak bisa mengontrol rasa kehilangan jika harus ditinggalkan.
"Kau juga harus menjaga dirimu dengan baik di Jepang dan segera kembali padaku hmm… aku tidak akan dekat dengan siapapun dan aku janji akan hidup dengan baik walaupun sulit." lirihnya mengeratkan pelukannya pada Sehun.
"Aku akan menunggumu kembali padaku Sehunna." katanya mengusap air mata Sehun dan sedikit berjinjit mengecup bibir kekasihnya.
"Aku tidak memberikan cincin ini untuk sementara. Cincin ini akan mengikat kita berdua selamanya."
"Eh?" Luhan kembali dibuat bingung oleh ucapan Sehun
"Dengarkan aku Xi Luhan, nanti setelah semua masalah sialan ini selesai dan kita kembali hidup bersama. Aku berjanji akan langsung menikahimu agar tak ada lagi yang bisa menghinamu dan memisahkan kita. Kau mau kan?" tanya Sehun penuh harap
Sehun sedikit cemas saat Luhan tak meresponnya dia kemudian menangkup wajah Luhan memaksa pria cantiknya menatap ke arahnya. "Aku mohon bilang iya, aku sedang melamarmu sayang." gumam Sehun mengecup hidung Luhan.
"Astagaa…. " Luhan kembali menghambur memeluk Sehun namun kali ini karena terlalu bahagia mendengar apa yang dikatakan pria tampannya.
"Aku mau Sehunna… tentu saja aku mau." Luhan pun terisak sangat bahagia di pelukan Sehun yang kini bisa bernafas lega.
Sehun kembali menangkup wajah Luhan dan mencium bibir mungil milik pria cantiknya. "Gomawo Lu." lirihnya kembali memeluk Luhan erat.
Dan setelah acara lamaran singkat yang dilakukannya, Sehun memutuskan untuk menunggu Luhan dibawah bersama Kai dan Chanyeol yang juga sudah bersiap untuk pergi dari rumah yang sudah mereka tempati hampir tiga tahun lamanya.
Tak ada yang bersuara dari ketiganya yang sedang menunggu Luhan turun dari kamarnya, Sehun sudah menceritakan keinginannya untuk menikahi Luhan pada kedua temannya. Keduanya pun menyetujui rencana Sehun dengan syarat mereka tetap tinggal bersama, dan tentu saja Sehun pun menyanggupi syarat kedua temannya.
"Aku sudah siap."
Suara Luhan menginterupsi keheningan yang dirasakan oleh Sehun, Kai dan Chanyeol setengah jam yang lalu. Ketiganya menoleh dan tersenyum getir menyadari perpisahan mereka dengan pria cantik mereka sebentar lagi. Ketiganya pun menyadari kalau mata Luhan terlalu sembab untuk dikatakan baik-baik saja. Mereka sangat mengenal pria cantik mereka dengan baik. Karena apapun yang Luhan rasakan dan Luhan takutkan. Itu juga yang mereka rasakan.
"Apa ini waktunya?" tanya Kai tak rela menghampiri Luhan dan membantu Luhan dengan barang-barangnya.
Luhan hanya menunduk tak menjawab apapun
"Yah…Aku rasa ini waktunya." Gumam Chanyeol menghampiri Luhan dan memeluk pria cantiknya.
"Apa ada hal yang ingin kau katakan padaku?" tanya Chanyeol menangkup wajah Luhan yang hanya menunduk.
Luhan mengangguk cepat dan menatap Chanyeol "Cepat kembali padaku." Rengeknya membuat Chanyeol sungguh tak rela berpisah dengan pria yang paling sudah ia anggap seperti adik kandungnya tiga tahun belakangan ini.
"Aku akan kembali padamu secepatnya hmm…Kau juga harus menjaga dirimu dengan baik disana. Kau janji kan?" tanya Chanyeol bergetar hebat tak sanggup menatap Luhan lagi.
"Aku janji yeol…" balas Luhan membuat Chanyeol membalikan badannya karena tak sanggup lagi menahan rasa sedih karena perpisahan sialan ini.
Luhan hanya menatap punggung Chanyeol yang bergetar dan kemudian beralih menatap Kai yang hanya memandangnya datar.
"Kenapa melihatku? Aku tidak mau mengucapkan kata perpisahan sialan ini. kita akan segera kembali bersama jadi jangan berharap aku akan menangis seperti mereka." katanya menyindir Sehun dan Chanyeol. Namun sindiran Kai sangat bertolak belakang dengan yang ia katakan, karena saat Kai mengatakan semua hal menyebalkan itu, suaranya sudah benar-benar bergetar tak berani menatap Luhan.
"Aghh sial..!" geramnya berjalan cepat ke arah Luhan dan memeluk pria cantiknya erat.
"Apa kau akan baik-baik saja tanpa kami hmm? Bagaimana kalau kau demam? Siapa yang akan mengurusmu? Siapa yang akan memastikan kau makan dengan baik? Tidur dengan cukup? Dan siapa yang akan membuatmu tertawa saat kau menangis? Aku tidak bisa Lu." Kai mengucapkan seluruh ketakutannya dalam satu kali nafas membuat Luhan benar-benar tercekat mendengarnya.
"Kai…" gumam Luhan mencengkram erat punggung pria yang selalu menggodanya ini dengan tak rela.
"Berjanji padaku kau akan menghubungiku jika ada yang menggagumu hmmm? Mau kan?" tanya Kai menangkup wajah Luhan
Luhan menggeleng lemah membuat Kai berteriak tertahan karena frustasi
"LU…!" katanya membentak Luhan membuat Luhan sedikit berjengit.
"Aku tidak mau menghubungi kalian selama aku berada disana karena saat aku mencoba menghubungi kalian aku hanya akan berakhir menangis semalaman karena terlalu merindukan kalian. Aku tidak bisa Kai, tapi aku janji akan menjaga diriku. Kau juga harus menjaga dirimu dan jangan terlalu banyak menonton video porno, aku benci." Lirihnya sedikit tertawa namun gagal karena hanya isakan yang keluar dari mulutnya.
"Lu." Gumam Kai semakin tak rela memeluk Luhan dengan erat
"Baiklah tidak perlu menghubungiku tapi kau harus janji akan hidup dengan baik disana hmm? Kita tidak tahu berapa lama kita akan sibuk mengurusi hal sialan ini, tapi aku harap ini semua cepat berakhir, dan kau…kau harus segera kembali padaku. Oke?" Kai bertanya dengan bergetar namun memastikan Luhan mengerti ucapannya.
"Kau juga harus kembali padaku hitam." Balas Luhan menghapus cepat air matanya.
"Aku bisa gila Lu." Lirihnya mencium kening Luhan dan beralih ke Sehun.
"Kau juga harus kembali padaku, karena jika kau tidak kembali rusaku tidak akan kembali." Katanya beralih pada Sehun yang sedang berpamitan pada Chanyeol.
"Jaga dirimu." Kai memeluk Sehun sekilas dan menepuk pelan punggung Sehun.
"Kau juga, jaga dirimu dengan bai." Katanya membalas tepukan Kai dan bergumam menasehati pria yang selalu berebut Luhan dengannya.
"Aku bisa mengunci rumah ini dan membuang kuncinya jika kita tidak segera pergi." kekeh Chanyeol merangkul pinggang Luhan membuat ketiganya tertawa.
"Kau benar…sebiknya kita segera pergi, semakin lama kita disini semakin sulit untuk meninggalkan tempat luar biasa ini." gumam Sehun menyetujui ucapan Chanyeol
Dan keempatnya pun membawa perlengkapan mereka masing-masing menuju garasi mobil. "Aku akan mengantarmu." Sehun berbisik merangkul pinggang ramping Luhan.
"Tidak perlu Sehunnie aku bisa sendiri, apa kau mau melihatku menangis lagi saat kau melambaikan tanganmu setelah mengantarku?" katanya memprotes Sehun yang tampak keberatan.
"Aku akan baik-baik saja. Sungguh." Katanya meyakinkan Sehun. Sehun pun tak punya pilihan lain selain menuruti kemauan Luhan.
"Setidaknya kabari aku saat kau berada di bandara. Aku sangat mengkhwatirkanmu." Gumam Sehun mencium kening Luhan.
"Araseo..aku akan menghubungi Sehunnie." Gumam Luhan membuka pintu mobilnya.
"LUHAN..!"
Terlihat Kai berlari ke arahnya dengan terburu-buru.
"Kenapa Kai?"
Kai yang masih terengah hanya menodorkan Monggu dan Janggu yang berada di tangannya pada Luhan.
"Eh? Kenapa kau menyerahkan Monggu dan Janggu?" tanya Luhan tak mengerti.
"Bawa mereka bersamamu. Mereka akan lebih baik denganmu daripada denganku." Ujarnya mencium kedua anjingnya lalu memberikannya pada Luhan.
"Kai… be-benarkah boleh?" tanya Luhan penuh harap.
"Tentu, mereka akan lebih bahagia bersamamu. Lagipula kau akan selalu mempunyai alasan untuk segera kembali padaku. Jaga mereka dan kembalikan mereka padaku jika saatnya tiba. Kau mengerti kan?" katanya mengusak rambut Luhan.
"Gomawo Kai..!" Luhan pun tak bisa menyembunyikan rasa bahagianya saat Kai memperbolehkan Janggu dan Monggu ikut bersamanya.
"Aku akan merindukanmu Lu, cepat pergi dan jaga dirimu baik-baik." Lirihnya kembali membukakan pintu mobil Luhan.
Luhan memasukkan Janggu dan Monggu ke mobil terlebih dulu, sebelum akhirnya dia memeluk ketiga pria tampannya bergantian benar-benar berpamitan untuk terakhir kalinya.
"Aku pergi."
Luhan tidak mau menangis lagi, dia sangat lelah memikirkan tak bisa melihat kekasih serta kedua temannya dan setelah memeluk erat ketiga prianya bergantian dia dengan terburu-buru memasuki mobilnya, takut kalau dirinya akan kembali berulah dan membuat ketiga pria nya khawatir.
Luhan membuka kaca jendela mobilnya dan tersenyum lirih menatap ketiga pria tampannya "Aku akan sangat merindukan kalian, aku mohon cepat kembali padaku."
Ketiganya pun ikut membalasnya dengan senyuman lirih "Kau juga harus kembali pada kami." Ujar ketiganya bersamaan.
"Aku pergi. Kali ini benar-benar pergi."
Luhan menutup jendela kaca mobilnya dan
Brrmmm….!
Dia menjalankan mobilnya dengan cepat membuat ketiganya benar-benar merasa kehilangan saat ini
"Jaga dirimu sayang." Gumam Sehun dan tak lama juga memasuki mobilnya diikuti Kai dan Chanyeol yang juga memasuki mobil mereka dan
Brrmmmm….!
Ketiganya pun menyusul Luhan pergi meninggalkan rumah mereka yang sangat nyaman untuk menghadapi kehidupan baru yang menyesakan dan harus mereka jalani esok hari dengan harapan akan segera kembali berkumpul bersama dan tak pernah terpisahkan lagi.
Sebuah mobil benz berwarna merah terpakir di tepi jalan dan kentara sekali terlihat kalau pengemudinya sengaja memarkirkan mobilnya agar tak terlihat oleh siapapun. Dia terus memperhatikan dari kaca spionnya dan terisak hebat saat mengetahui ketiga mobil yang sangat ia kenal melewati mobilnya.
Hal itu menandakan kalau dirinya dan ketiga pria nya akan benar-benar berpisah untuk waktu yang tidak tahu sampai berapa lama, isakan yang sudah ia tahan semenjak dirinya pulang ke rumah hari ini tak terbendung lagi.
"Kenapa harus seperti ini?" gumamnya memukul kencang kemudi mobil, menghiraukan rasa sakit yang sangat terasa karena dirinya memukul terlalu kencang.
Guk..guk,,!
Luhan kemudian menoleh ke kursi belakang dan menyadari ada Janggu dan Monggu yang dititipkan padanya, dia kemudian mengambil Janggu dan Monggu lalu memeluk kedua anjing pemberian Kai dengan erat.
"Kalian benar….Aku hanya perlu menyelesaikan urusanku disana lalu kembali pada mereka. Dan aku janji pada kalian kalau kalian tidak akan pernah terpisah lagi dari Kai. Aku janji." Katanya masih terisak menciumi Monggu dan Janggu bergantian.
Luhan kemudian menghapus cepat air matanya dan meletakkan kedua anjing Kai di kursi samping kemudi. "Kita akhiri semua mimpi buruk ini sekarang juga." Gumamnya penuh keyakinan dan tak lama
Brrmm…..!
Luhan benar-benar menyusul ketiga pria tampannya untuk menjalani mimpi buruk tanpa kehadiran sosok yang selalu ada untuknya dan selalu memberinya tawa yang sangat ia butuhkan.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
E
N
D
.
.
.
.
.
See you soon in The Death Fourth part II
.
.
.
.
.
.
.
Jangan protesssss dulu...")
.
karena pertimbangan sewaktu sakit akhirnya 28 chapter diputuskan sudah sangat kepanjangan dan akhirnya diputuskan juga buat dilanjutin di part dua... part dua ga akan sepanjang part 1 kok tenang aja...ya mungkin 20 chpter #canda :p
.
kalau mau ngeluarin uneg-uneg...yuk boleh...
.
follow2 an di acount twitter triplet yang baru yuk triplet794
twitternya triplet buat khusus buat kalian yang punya unek2 sama sharing info Hunhan/song triplet juga bleh :p,,,
.
tapi no spoiler cerita apalagi bocoran ending ya hehe...
.
.
.
see you soon!
