Chapter 28
.
.
,
Warning ALUR SINETRON MASIH BERLAKU, TIDAK SUKA SILAHKAN SKIP...
.
.
Manusia bertahan karena memiliki mimpi, impian tinggi bak imajinasi fiktif yang sedang berusaha direalisasikan menjadi kisah nyata yang indah...
.
.
.
Oh iya... wifi di rumah mati jonnn... Author akan kesulitan update. Biasanya kudu ke warnet. Tapi jauuuuh.. kalo lewat Hp bisa, ya syukurlah, ntar author akan coba2 dulu...
Dozo...
.
.
.
SAKURA'S LOVE STORY
.
Cast: Haruno Sakura, Uchiha Sasuke, Sabaku no Gaara,
Uzumaki Karin, Ino Yamanaka, Shimura Sai, Namikaze Naruto, Madara Uchiha, Hatake Kakashi, yang lain menyusul seiring berjalannya cerita.
.
Naruto itu punya Masashi Kishimoto-sensei.
saya Cuma minjem nama dan karakternya.
Cerita murni dari saya.
.
=SATA ERIZAWA PRESENT=
.
WARNING: aneh, gaje, abal-abal, OOC,
.
Rated: T
.
ALUR SINETRON
.
===========ITADAKIMASU==========
.
.
.
Mansion Uchiha..
"Kondisi Sakura tidak stabil, perlakukanlah dia dengan baik!" Kata Gaara, ia meletakkan kresek berisi obat milik Sakura yang tertinggal di apartemennya. Gaara langsung meninggalkan Sasuke, ia tidak ingin berdebat lebih rumit lagi dengan Sasuke. Ini demi kebaikan Sakura.
"Aku tidak butuh saran untuk mendidik istriku!" Gerutu Sasuke. Ia lalu menyambar kresek obat yang Gaara letakkan di meja tamu. Ia melihat beberapa jenis obat itu... "Cih, seminggu tak kuawasi, kondisimu memburuk... Maunya apa sih? Hanya menambah rumit masalah saja!"
Sasuke masuk ke kamar sambil membawa senampan makanan dan minuman untuk Sakura. Ia melihat Sakura sedang berbaring membelakanginya. Sakura tidak tidur, ia bisa mendengar suara isak tangis lirih.
Ia meletakan nampan berisi makanan dan minuman itu di meja samping tempat tidur. Sakura hanya meliriknya sebentar lalu mengalihkan pandangannya. Sasuke menghela nafas, ia lalu duduk di ranjang samping Sakura. Merasa terganggu dengan kehadiran Sasuke, Sakura membalikan badan membelakangi Sasuke lagi. Perlakuan gentlenya bahkan Sakura abaikan. ia menggulung kemeja putihnya ke atas, dan melonggarkan dasinya. Kesabarannya sedang diuji... Ia lalu menarik pelan lengan atas Sakura agar Sakura berbalik menatapnya.
Mereka saling tatap.
"Maumu apa?" Tanya Sasuke. Sakura mengalihkan pandangannya.. "Mau mogok makan? Silahkan! Itu hakmu, tapi aku tidak suka kau menyakiti janin yang kau kandung!" Siang ini Sakura menolak makanan yang maid keluarga Uchiha siapkan. Hal ini membuatnya sangat kesal.
"Pergilah, aku tidak ingin melihatmu!" kata Sakura pelan.
"Aku akan pergi setelah memastikan kau menghabiskan makananmu!"
"Aku tidak mau berdebat denganmu, jadi pergilah! Wanita itu lebih membutuhkanmu!"
Perempatan muncul di kening Sasuke. Kata manisnya bahkan tidak Sakura indahkan... "Aku akan menemuinya setelah kau makan!"
Jadi Sasuke memang akan menemuinya setelah ini? Bukan ini jawaban yang ia inginkan. Rasanya sakit. Tak bisakah Sasuke sedikit memahami perasaannya?... ia mengepalkan tangannya. Ia lalu mencoba bangun dari tidurannya. Ia sedikit kesulitan karena kehamilannya, Sasuke mencoba membantu. Tapi ia menampik kasar tangan Sasuke... "Jangan menyentuhku!" Kata Sakura ketus.
Sakura duduk di samping Sasuke. Ia mengambil makanannya dan memakan makanannya. Tidak selera. Ia memakan ala kadarnya. Tidak peduli bagaimana dengan rasa makanan itu. Meski mungkin terasa begitu enak, tapi rasanya sungguh hambar di lidahnya. Memakan makanan dengan seorang yang saat ini enggan dilihat sama seperti sedang memakan duri mawar.
"Habiskan! Kau butuh banyak sayur hijau untuk memenuhi kebutuhan zat besimu!"
"Kau bukan dokter seperti Gaara-senpai, kau tidak perlu repot-repot menasihatiku!"
Pranngggggggg...
Sebuat vas bunga pecah karena hempasan Sasuke.. "Aku tidak mengizinkanmu menyebut namanya saat kita sedang berdua!"
"Ha?.. haha.." Sakura tertawa hambar.. "Apakah alasan irasionalmu itu berlaku untukku?.. ENGGAK!.. Mulut, mulutku sendiri, hakku untuk bersuara seperti yang aku inginkan! Aku tidak butuh izin darimu!"
Sasuke mengepalkan tangannya. Sakura masih menatap tajam dirinya. Ia tak mengerti, kenapa setiap kata yang ia ucapkan justru semakin membuat emosi Sakura meledak-ledak terhadapnya... "Sakura... Berhentilah melawan argumenku! Kita sudah menikah, sebaiknya kita bekerja sama.." Sasuke mencoba melembut.
"Kerja sama seperti apa, Uchiha-san? Jika sejak awal ini adalah sebuah kerja sama, harusnya kita sama-sama untung. Tapi aku merasa, aku di pihak yang dirugikan..."
"Uchiha-san? Yang benar saja, Sakura! Kau anggap aku ini apa, hah?" Sasuke kembali meninggi. Bisa-bisanya Sakura memanggilnya dengan sebutan seperti itu lagi.
Sakura minum seteguk air putih lalu meletakkannya dengan kasar. "Aku sudah selesai makan. Kumohon pergilah, tinggalin aku sendiri!"
"Minum obatnya!"
"Nanti gampang.."
"Sekarang!"
"Kenapa kau jadi pemaksa sekali, sih? Tak perlu kau suruhpun aku nanti juga akan meminum obatku!"
"Minum!"
"Kau tidak mendengarku ya? Aku bilang nanti, ya NANTI!"
Batas kesabaran Sasuke sudah habis. Ia lalu mengambil obat yang ada di dalam kresek. Ada 4 jenis obat yang harus Sakura minum. Ia mencoba memberikannya pada Sakura, tapi Sakura menampisnya. Butiran obat itu terjatuh sembarang di lantai. Sasuke lantas menatap tajam Sakura, jauh lebih tajam dari biasanya. Ia benar-benar sangat marah. Sakura bahkan sampai menelan ludahnya sendiri. Seolah terisolasi aura dingin yang Sasuke pancarkan.
Sasuke kembali mengambil obat yang ada di kresek. Menghitungnya ulang. Sakura hanya melihat apa yang Sasuke lakukan. Ia tidak ingin berkomentar, perlakuannya barusan pasti sudah melukai mood Sasuke.
Sasuke kemudian memasukkan 4 butir obat itu ke dalam mulutnya sendiri, ia mengambil air minum dan meminumnya sedikit, tak sampai ia telan, hanya ia pertahankan di mulutnya bersama dengan butiran obat milik Sakura. Ia memegang pipi Sakura, lalu dengan cepat memasukkan obat itu ke dalam mulut Sakura. Ya dengan cara berciuman.
Sakura mencoba berontak, tapi Sasuke manahan pipi dan dagu Sakura dengan erat. Sakura mengeratkan pegangannya pada kemeja Sasuke. Merasakan pahitnya obat-obat itu menyerang lidah dan kerongkongannya.
1
2
3
4
Akhirnya ke empat obat itu berhasil ia telan. Ia lalu menjauhkan diri dari Sasuke. Ia terbatuk-batuk. Sasuke mengambilkan air minum, Sakura menerimanya dan langsung meminumnya dengan cepat. Sasuke menyodorkan buah jeruk yang sudah terkupas pada Sakura, Sakura memakannya untuk mengurangi rasa pahit obat itu.
"Aku akan melakukan hal yang sama seperti ini jika malam nanti kau melewatkan obatmu." Sasuke mendekatkan diri pada Sakura. Sakura bergidik saat Sasuke menghemuskan nafas di area telinga kanannya... "Dan satu lagi, tanamkan dalam otakmu baik-baik!... Aku... tidak... suka... dibantah!"
Sasuke bangkit lalu meninggalkan Sakura sendiri di kamar.
Seketika itu Sakura langsung menangis lagi. Ia bingung dengan perasaannya sendiri. Ia tidak bisa mengalahkan ego Sasuke. Ia selalu kalah debat dengan Sasuke.
"Cinta ini tak hanya sakit, tapi pahit juga..."
.
.
.
Sakura's Love Story..
.
,
,
Salju pertama bulan desember sudah turun beberapa hari yang lalu. Sakura masih memandangnya di balik jendela kamarnya. Jika sesuai dengan rencana, harusnya ia sudah PKL di Miyagi bersama Karin. Tapi sepertinya Sasuke membuat surat izin untuknya dalam 2 minggu ini dengan alasan kesehatannya. Sebenarnya, ia sempat berdebat karena Sasuke meminta untuk menunda PKLnya sampai melahirkan nanti. Tapi ia enggan melakukannya. Bukan takut telat lulus kuliah, ia hanya ingin pergi mejauh saja dari masalahnya. Semakin lama semakin sesak. 2 minggu sudah sasuke mengurungnya di kamar, ia sama sekali tak diijinkan keluar kamar tanpa Sasuke menemaninya. Ia bahkan sampai tidak memegang Hp sama sekali.
"Burung dalam sangkar... Hah, aku ingin membuat jejak salju di luar sana.. aku ingin menapaki tempat-tempat sebelum orang lain..." Gumam Sakura sambil menatap indahnya salju bergumpal bak selimut kapas nan putih bersih.
Di balik kamar ia mendengar suara bertengkar antara Ibu mertunya dengan sasuke. Sepertinya Mikoto baru tahu jika ia dikurung di kamar oleh Sasuke. Setahu Mikoto, Sakura sudah pergi PKL di Miyagi. Sakura ingin tertawa ketika mendengar bagaimana cara ibu mertuanya memarahi Sasuke. Sasuke sepatah kata, ibu mertuanya langsung menyerangnya dengan puluhan kata. Poor Sasuke.
/
/
"Maafkan Sasuke, Sakura..." Mikoto mengelus kepala Sakura dengan sangat lembut. Khas seorang ibu yang begitu khawatir dengan anaknya. "Ibu akan membuat sasuke mengizinkanmu berangkat PKL. Meski jujur saja, ibu lebih setuju kau menunda PKLmu sampai musim semi nanti. Udara di luar masih sangat dingin... Ibu khawatir denganmu dan janinmu..."
"Terima kasih sudah mengkhawatirkanku, Bu... Tapi, aku ingin segera lulus, kalau menunggu musim semi nanti, kandunganku sudah sangat besar, itu justru lebih riskan lagi... Jika aku menundanya sampai beberapa bulan ke depan, sampai musim panas, aku akn melahirkan, dan itu tidak mungkin untuk PKL... Ini adalah waktu yang tepat, Bu..."
Mikoto sejenak berfikir, benar juga, jika hari ini gagal PKL, ke depannya akan sulit untuk Sakura. Kemungkinan besarnya, sakura bakal skip setengah tahun atau bahkan setahun demi anaknya nanti... "Haah, baiklah, Ibu kalah... jadi, jangan terlalu stress memikirkannya.. Kau harus bahagia karena saat, ada kehidupan lain dalam dirimu yang perlu kau perhatikan juga!"
"Iya Bu..." Sakura memeluk Mikoto... "Terima kasih juga tidak memberitahu Ibuku perihal diriku yang dikurung oleh Sasuke..."
"Sama-sama, Sayang... Ibu akan memihakmu asal itu demi kebaikanmu..."
/
/
"Bagaimana, Dok?" Tanya Sakura.
"Bayinya sehat, ibunya juga sehat. Semua akan baik-baik saja. Kau diizinkan untuk PKL asal tetap menjaga kondisimu.." Kata Dokter Kandungan.
Sakura tersenyum... "Terima kasih banyak, Dokter..."
"Sama-sama..."
Sakura meninggalkan ruang pemeriksaan. Ia lalu menghampiri Sasuke yang duduk di ruang tunggu. Ia belum berbaikan dengan Sasuke, tapi Sasuke mengantarkan dirinya periksa ke rumah sakit. Sasuke seolah mengerti apa yang harus dilakukan seorang ayah demi anaknya. Tidak banyak percakapan antara dirinya dengan Sasuke. Mereka berdua sama-sama memilih saling diam untuk menghindari debat yang panjang.
Sasuke menggandeng tangan Sakura. Sakura merasakan sentuhan hangat dari tangan sasuke. Ia ingin menangis karenanya. Ia tak mengerti apapun tentang sikap Sasuke. Ia tak bisa mengartikan segala tingkah Sasuke terhadapnya. Mungkinkah karena ia mencintai Sasuke maka ia dibutakan olehnya? Mungkinkah cintanya ini memaksanya untuk memaafkan Sasuke?
Sakura hanya tertunduk saat Sasuke menggadeng tangannya dan berjalan di lorong rumah sakit berdua.
"Sasuke-kun?" Kata Ino. Ia melihat tangan Sasuke dan Sakura saling bertautan. Ditambah, perut Sakura yang membesar. Berati kehamilan Sakura itu benar adanya.
"Ino? Apa yang kau lakukan di sini? Bukankah kau harusnya di kamarmu? Kembalilah, di luar sangat dingin..." Kata Sasuke.
Sakura hanya berpikir jika Sasuke itu bisa sangat perhatian dengan Ino. Sasuke memang baik hati, terhadapnya pun baik meski kadang dengan cara yang sangat menyebalkan. Hanya saja, ia tahu bagaimana perasaan Sasuke terhadap Ino, uh, tiba-tiba dadanya sangat sesak.
"Aku sedang menunggumu, Sasuke-kun..." Kata Ino sambil tersenyum manis.
"Nanti aku akan menemui setelah mengantarkan Sakura pulang..."
Sakura melepaskan tautan tangan Sasuke... "Aku bisa pulang sendiri, kau selesaikan saja urusanmu!"
Sasuke kembali meraih tangan Sakura... "Aku bilang mau mengantarmu pulang!"
Sakura memaksa melepaskannya... "Dokter bilang aku dan bayiku sehat, aku bisa melakukan aktivitas seperti biasanya! Wanita itu terlihat sangat lemah dibandingkan diriku!" Sakura menunjuk ke arah Ino... "Bukankah... kau menyukai wanita yang lemah, heh?" Kata Sakura meremehkan. Ia menampik tangan Sasuke dan berbalik meninggalkan Sasuke dan Ino.
Sasuke kesal. "SAKURA!" Sasuke berusaha mengejar Sakura tapi Ino menahannya.
"SASUKE-KUN! AKU LEBIH MEMBUTUHKANMU! KAU SUDAH BERJANJI PADAKU!"
/
/
Sakura menata pakaiannya. Ia memberitahu ibunya dan ibu mertuanya jika siang ini ia akan ke Miyagi untuk melaksanakan PKLnya.
Sasuke sudah kembali ke rumah setelah ia menenangkan Ino. Ia menemui Sakura yang sedang makan siang bersama Ibu dan neneknya. Suasana terlihat normal, Sakura mengendalikan baik emosinya. Suasana makan siang berlangsung biasa meski Sasuke ikut bergabung.
/
Belakang Rumah...
Sakura memainkan ponselnya yang rupanya Sasuke kembalikan semalam. Ia mengabari Karin jika hari ini ia akan datang ke Miyagi.
"Sakura, kau tidak apa-apa?" Tanya Gaara yang rupanya pulang dari RS karena mengambil tesis pasiennya yang tertinggal. Ia begitu khawatir dengan kesehatan Sakura mengingat, tadi ia tak sengaja mencuri dengar pertengkaran Sakura, Sasuke, dan Ino di lorong RS.
"Aku baik-baik saja, Senpai... Oh iya, kau sudah makan?" Tanya Sakura. Ia tidak ingin membuat Gaara khawatir dengannya.
"Sudah tadi di katin rumah sakit..." Jawab Gaara... "Maaf, tadi aku tak sengaja mendengar obrolanmu dengan Karin, kau sungguh ingin ke Miyagi hari ini?"
"Iya, aku harus cepat..."
"Sasuke yang akan mengantarmu?"
"Hmm, sepertinya tidak mungkin... Nanti temannya marah, aku bisa naik kreta atau bus nanti... Tapi, dengan Shikamaru-san sepertinya lebih memungkinkan.."
"Bolehkah aku yang mengantarmu? Sendirian itu berbahaya, apa lagi kau sedang hamil. Di tambah sedang turun salju.."
"Haha, apanya yang sendirian, aku ini selalu berdua dengan anakku.."
"Ha.. ha.. Benar juga..." Kenapa ia jadi kikuk begini?... "Jadi, apa kau setuju?"
"Aku tidak mengizinkan seseorang mengantar Sakura ke Miyagi!" Kata Sasuke yng tiba-tiba menyela pembicaraan mereka.
Sakura bangkit dari duduknya... "Senpai, terima kasih atas tawarannya, aku bisa ke Miyagi sendiri, Senpai kan memiliki banyak pasien yang membutuhkan tenagamu... Aku akan baik-baik saja... Sampai jumpa." Sakura pergi menuju kamarnya dan mengabaikan Sasuke.
Sepeninggal Sakura, kini berdirilah dua orang laki-laki seayah yang saling melempar tatapan tajam..
"Terima kasih sudah menghawatirkan istriku, tapi aku masih bisa mengurusinya sendiri.." Kata sasuke dingin.
"Jika kau becus mengurusinya harusnya dia bisa lebih bahagia dari saat dia bersamaku dulu!" Kata Gaara, ia bahkan meninggikan suaranya.
Dulu?
Bersama gaara dulu?
Sakura dan Gaara?
Dulu?
Punya hubungan macam apa mereka berdua?
"Apa maksudmu, hah?" Tanya Sasuke.
"Kau tidak tahu seberapa berharganya senyumannya, kau bilang bisa mengurusinya? Yang benar saja, sasuke! Kau tidak tahu apa-apa soal dirinya!"
"Lau, apa yang kau tahu soal dirinya? APA?"
"Aku sangat tahu soal dirinya, hubungan kami sangat indah sampai sebelum kau datang!" Kata Gaara, ia lalu meninggalkan Sasuke untuk kembali ke rumah sakit. Tak lupa ia juga mengirim pesan pada Sakura untuk tetap menjaga diri dan jangan stress. Ia juga menyuruh Sakura jangan pergi ke Miyagi dulu.
Sasuke yang kesal karena baru pertama kalinya berdebat serius dengan Gaara langsung menuju kamar untuk mencari Sakura. Banyak unek-unek di kepalanya yang membuatnya berasa pusing. Hubungan Sakura dan Gaara di masalalu. Seperti apakah itu? Kenapa hanya memikirkannya saja membuatnya sangat kesal? Marah? Emosinya juga meledak-ledak?
BRAAAAAKKK...
"Bisa tidak pelan-pelan saat membuka pintu?" kata Sakura kesal karena kaget setengah mati mendengar suara gebrakan pintu dari Sasuke.
"Kau mengenal Gaara selain sebagai senior di masa lalu?"
"..."
"Kalian berteman baik?"
"..."
"Kalian memiliki hubungan yang lebih jauh dari itu?"
"..."
"Apa Gaara pernah menjalin hubungan denganmu?"
"..."
"..."
"..."
"JAWAB SAKURA!"
"IYA, GAARA-SENPAI ADALAH MANTAN KEKASIHKU! MASALAH BUATMU?"
"KENAPA KAU TAK BILANG SEBELUMNYA?"
"MEMANG PENTING BUATMU?"
"SAKURA!"
"APA?"
"KAU MERAHASIAKAN INI DARIKU?"
"KAU SENDIRI TIDAK TANYA, ITU SALAHMU!"
"..." Benar juga, ia awalnya memang tidak tertarik sama sekali soal kehidupan pribadi Sakura. Tapi ia sungguh tak menyangka jika Sakura memiliki hubungan special dengan Gaara yang notabene adalah kakaknya sendiri.
"Aku tidak mengerti dirimu, sasuke.. Kenapa kau begitu marah mendengar fakta ini? Bukan kah kau juga memiliki kehidupan pribadi yang tak ingin kau bagi denganku?"
"DENGAR SAKURA, MULAI HARI INI AKU TIDAK MENGIZINKANMU BERBICARA DENGAN GAARA!"
"HAH? ALASAN TIDAK MASUK AKAL APA LAGI YANG AKAN KAU GUNAKAN UNTUK MEMENJARAKAN HAKKU, HAH? TUAN UCHIHA!... ANDA MEMANG SUAMI SAH SAYA TAPI SAYA PEMILIK MUTLAK KEHIDUPAN SAYA!" Sakura mengambil tas bajunya dan meninggalkan Sasuke. Ia menuju parkiran mobil.
Sasuke mengikutinya dari belakang berusaha untuk menghentikan langkah Sakura.
/
Di dekat parkiran mobil...
"SAKURA BERHENTI! JIKA KAU TAK BERHENTI, AKU AKAN MEMUKULMU!" Sasuke sungguh marah besar.
Sakura berhenti. Ia lalu berbalik... "Memukulku? Heh, muncul juga sifat aslimu, Tuan?... PUKUL SAJA! PUKUL!" Sakura ngece.
Tentu saja Sasuke hanya bercanda, tapi Sakura sungguh menantang kesabarannya... "Kedua kakek kita memang saling menjodohkan kita di masa lalu, tapi kau harus ingat jika keluargaku membelimu dengan banyak uang... Kau... Perhatikan sikapmu!"
Sakit.
Kata-kata ini sungguh menyakitkan walau benar adanya... ia dibeli keluarga Uchiha dengan banyak uang... harga 250 cc darah tak akan semahal itu..
"..." Sakura meremas kencang gagang tas bajunya. Ia hanya bisa menunduk.
Sasuke berjalan mendekat saat melihat sakura tak berkutik melawan kata-katanya... "Aku sabar, kau tak tahu jika sedang disabari... aku memerintahkanmu untuk menuruti, kau abaikan..." Sasuke memegang dagu Sakura agar Sakura membalas tatapannya. "Katakan padaku, kau akan tetap di rumah dan membatalkan PKLmu!"
Sakura mengalihkan pandangannya. "..."
"Tidak mau?"
"Aku harus PKL musim dingin ini agar lulus tepat waktu." Jawab sakura lirih.
"Ho.. jadi ini, hasil didikan Gaara padamu?"
Sakura kembali menatap Sasuke... "Apa maksudmu?"
"Apa kalian pernah melakukan ini sebelumnya?"... Sasuke mencium paksa bibir Sakura... Sakura berusaha berontak karena perlakuan yang ia terima. Sasuke kekeuh tak melepaskannya. Ia bahkan berani menggerayangi tubuh Sakura. Sakura tidak suka dengan perlakuan itu, dengan kasar ia mendorong tubuh Sasuke menjauh.
Ia mengusap bekas ciuman 'menjijikan' dari Sasuke. Ia meneteskan air mata. Meski dilakukan oleh suaminya sendiri, entah mengapa ia merasa hina karenanya... "..." Tanpa kata, Sakura membalikkan badannya untuk meninggalkan Sasuke. Ia tidak ingin memperlihatkan air matanya pada Sasuke. Ia ingin kuat meski sesungguhnya saat ini merasa sangat rapuh.
"Jadi kau menolakku?" Tanya Sasuke yang tak suka jika Sakura mengabaikannya... "Kau menyembunyikan hubungan masa lalumu dengan Gaara, saat inipun kau bisa saja juga menyembunyikan hubunganmu dengan Gaara yang belum kelar.." Sasuke menyilangkan kedua tangannya di depan dada.
Sakura berusaha tidak gentar, ia selangkah melangkahkan kakinya. Apa sih maunya Sasuke itu?
"Rupanya benar, hubungan kalian masih berlanjut..."
Sakura tetap melangkah menuju mobil.
"Dan kalian diam-diam bermesraan di belakangku...
Sakura menghentikan langkahnya... Bermesraan? "..."
"Hmm, jadi kalian bercumbu juga saat aku tidak ada?"
Bercumbu?
"Senpai sangat menghormatiku, dia tidak akan pernah melakukan hal menjijikan sepertimu!" Kata Sakura kasar.
Menjijikkan? Perempatan kembali muncul... "Jika benar dia tidak melakukan hal menjijikan seperti yang aku lakukan tadi, kenapa kau terus membantahku? Kenapa kau tak mengatakannya sambil menatapku? Kau takut jika aku tahu kebohonganmu? Orang yang berbohong akan selalu takut menatap lawan bicaranya..."
"..."
"Kini, aku bahkan meragukan siapa ayah dari janin yang kau kandung.."
Cukup.
Cukup sudah.
Sasuke sungguh keterlaluan.
Sakura berbalik, ia menatap Sasuke jauh lebih tajam dari yang sudah-sudah. Jauh lebih dingin dari sebelumnya. Tidak hanya sakit, tapi sakit sekali. Hatinya kali ini benar-benar sangat hancur.
Ia ingin memukul Sasuke sekerasnya.
Menamparnya.
Bahkan membunuhnya sekalipun. Bagaimana bisa Sasuke mengatakan hal seperti itu? Meragukan janin yang ia kandung? Gila, sasuke benar-benar sudah gila!
Kata-katanya memang kasar, tapi berhasil membuat Sakura berbalik padanya. Sasuke lalu melepaskan silangan tangannya di depan dada. Ia bersiap menyambut Sakura kembali ke dalam rumah.. "Ayo kita ke dalam, di luar sangat dingin, tidak baik untuk ibu hamil!" Kata Sasuke melembut.
"Tuan Uchiha, berhubungan Anda meragukan ayah dari janin yang saya kandung, jadi Anda tidak perlu berepot-repot mengurusi saya dan anak saya..." Kata Sakura, ia lalu berbalik cepat berjalan menuju mobil.
"SAKURA!"
Sakura menyalahkan mesin mobilnya, ia lalu ke luar dari garasi mobil. Sasuke berusaha menhentikannya. Sasuke menggedor-gedor kaca mobilnya, namun ia abaikan. Ia terus melaju keluar dari mansion Uchiha.
"SAKURA!" Teriak Sasuke saat melihat mobil yang dikendarai Sakura melewati gerbang mansion uchiha. Ia bahkan menendang udara dengan kasar.. "Arrrggggggghh, brengsek! Kenapa sulit sekli memahaminya sih? Aku baik, dia brontak.. Aku bersikap kasar, ia justru makin berontak.."
Shikmaru dan Mikoto datang mendekat.
"Loh? Sasuke mana sakura?" Tanya Mikoto...
"Sudah pergi." Jawab Sasuke ketus.
"Bukankah dia minta dibuatkan bekal udon sapi?"
"Biarkan saja!" Sasuke melenggang pergi ke dalam rumah.
"Sasuke, kau tak boleh seperti ini!"Mikoto mengikuti Sasuke. Ia harus mencermai anaknya yang keterlaluan itu.
"Nyonya, biar saya yang berbicara dengan tuan Muda..." Kata Shikamaru. Mikotopun menyetujuinya. Memang benar, Sasuke itu lebih terbuka dengan Shikamaru daripada dengannya. Dsn itu mmbuatnya sangat iri.
/
/
"Sasuke-sama, maafkan saya, jika tadi saya lebih cepat ke parkiran, nona Sakura tidak akan pergi sendiri.." Kata Shikamaru.
"Tidak apa-apa, dia sendiri yang ingin pergi sendirian, biarkan saja!" Ketus sasuke.
Kekanak-kanakan. Tuan Mudanya sangat kekanak=kanakan.
"Tapi, masalahnya, nona Sakura tidak memiliki SIM dan dia belom lancar mengendarai mobil, itu sangat berbahaya..."
Benar juga, terakhir latihan berkendara Sakura hampir menabrak anjing liar. Cih. Sial... "..."
"Sasuke-sama..."
"Dia paling akan berhenti di suatu tempat dan ganti naik kendaraan umum..."
Shikamaru yang masih sangat khawatir hanya bisa menghela nafas... "Bolehkah saya menyusul nona sakura?"
"Tidak!"
"Tuan..."
"Aku bilang tidak ya TIDAK!"
Shikamaru terdiam.
/
/
1 jam kemudian...
"Ada sebuah badai salju tak biasa bergerak menuju wilayah Miyagi. Badai ini diperkirakan akan sampai di Wilayah Miyagi dalam 2 jam ke depan... Badai ini berasal dari anomali cuaca yang tak terkendali beberapa hari ini. Untuk wilayah Miyagi dan sekitarnya harap untuk tidak melakukan aktifitas di luar rumah. Beberapa stasiun dan angkutan akan berhenti beroprasi untuk beberapa jam sampai cuacanya membaik... Pemerintah meminta maaf atas kejadian ini dan diharap semua warga berhati-hati... Terima kasih... selanjutnya berita lain datang..."
"Sasuke-sama..." Shikamaru menoleh ke tempat Sasuke duduk.
Kosong.
Ia lalu mendengar suara mesin mobil berbunyi.
Shikamaru hanya bisa tersenyum. Rupanya Tuan Mudanya itu sangat khawatir sampai-sampai pergi meninggalkan rumah dengan terburu-buru.
.
.
.
.
============== bersambung ================
/
/
/
Ya begitulah mas Sasuke, aslinya Tsundere.. hahahah.. dia tuh intinya khawatir ma Sakura, tapi berhubung emosinya labil karena 'cemburu' jadinya malah makin ribet.
Sabar ya mbak Sakura.. puk puk puk...
.
.
.
Sampai jumpa...
Author mau piknik dulu.. ehheheh
