Disclaimer :
Demi neptunus naruto bukan punya saya, punya masashi sensei. sasuke punya saya *dibantai masashi sensei dan sakura*
.
TOLONG DI BACA APAPUN DI BAWAH INI, KEBIASAAN BEBERAPA READER MALAS BACA DAN BERAKHIR DENGAN ME-REVIEW HAL YANG TIDAK PERLU KARENA SUDAH TERCANTUM DI BAWAH INI.
.
Warning :
OOC, TYPO tingkat akut, AU, OOT, EYD berantakan, flame tidak diijinkan. DI LARANG MENG-COPY TANPA SEIJIN AUTHOR SASUKE FANS APALAGI NYOLONG!
.
Catatan :
Author teringat akan princess hours setelah membaca salah satu review reader, author akan mencoba membuat fic dengan tema film korea yang keren itu.
.
Peringatan...!
Fic ini hanyalah cerita fiksi belaka yang tidak ada sangkut pautnya dengan kehidupan seseorang, sedikit mengambil sudut pandang dan selebihnya di karang-karang oleh author, tidak menyinggung suku, ras, agama dan apapun, hanya merupakan fic untuk menghibur semata, author pun tidak akan mengambil keuntungan apapun selain kepuasan membaca dari reader.
.
Enjoy for read
.
But
.
Don't like Don't Read
.
.
~ To Be A Princess ~
[ Chapter 27 ]
.
.
Normal Pov.
"Pesta hari ini cukup meriah." Ucap Shisui.
"Hn, kau benar, raja Michiru tidak akan tanggung-tanggung dalam membuat sebuah acara, dia bahkan mengundang banyak orang." Ucap Izuna.
Keduanya sedang bersantai di ruangan bar, pesta sudah berakhir dan kedua pangeran ini memilih untuk sejenak berbicara sebelum kembali ke kamar mereka.
"Ibu bahkan sampai mengatakan ucapan jijik pada raja Michiru itu." Ucap Shisui dan tertawa.
"Dia pun berencana melakukan hal buruk pada putri Sakura."
"Ah, ngomong-ngomong tentang putri Sakura, sampai kapan kau akan terus mencintainya? Dia sudah menjadi milik Sasuke, sadarlah Izuna, kau bisa mendapatkan putri lainnya." Ucap Shisui dan sedikit memberi saran.
"Putri Sakura adalah takdirku, seharusnya kami bersama dan bukan Sasuke."
"Aku tahu, ini sangat tidak adil, tapi kau tidak bisa berbuat apa-apa, putri Sakura pun sepertinya sangat mencintai Sasuke, aku bisa lihat itu dari sorot matanya."
"Bagaimana jika dia melihatku lebih dulu? Mengetahuiku lebih dulu? Aku yakin dia pun aku menyukaiku sebelum Sasuke."
"Keras kepala tidak akan membuahkan apa-apa, pikirkan itu Izuna."
"Aku tidak keras kepala, aku hanya ingin sebuah keadilan." Ucap Izuna, raut kecewa yang di perlihatkannya.
"Sudahlah, lupakan putri Sakura, kita bersantai sejenak atau mau aku kenalkan dengan seorang gadis yang lebih baik?"
"Tidak, terima kasih, sepertinya aku akan kembali ke kamar saja." Ucap Izuna, beranjak pergi.
Shisui menatapnya dan mengangkat kedua bahunya, menghela napas dan tidak akan ikut pusing dengan masalah Izuna, dia sudah menasehatinya berkali-kali, tapi Izuna seakan tidak mendengar apa yang di ucapkannya.
Berjalan di koridor hotel, langkahnya terhenti di salah satu kamar, kamar Sasuke dan Sakura, di sana pun di jaga oleh dua pengawal.
"Selamat malam Yang mulia, apa Yang mulia ada perlu?" Ucap salah satu pengawal.
"Tidak, tapi apa pangeran Sasuke dan putri Sakura telah kembali ke kamar mereka?"
"Mereka baru saja masuk."
"Hn, baiklah, selamat berjaga." Ucap Izuna dan kembali berjalan, mendengarnya saja rasanya ada sedikit rasa sakit di dadanya, hal yang masih belum di terimanya.
.
.
.
FlashBack.
Uchiha Izuna, anak dari raja pertama Uchiha Ren, sejak dia lahir, para tetua dan kakek buyutnya menaruh banyak harapan dari generasi penerus kerajaan Uchiha berikutnya, bahkan hal itu sudah di perlihatkannya saat masih duduk di bangku sekolah menengah pertama, mewarisi wajah tampan ayahnya, dia cukup populer, selalu menjadi pusat perhatian, kecerdasannya tidak di ragukan lagi, peringkatnya tidak pernah tergeser bahkan itu Itachi yang satu sekolah dengannya, memiliki banyak bakat di bidang olahraga, hampir semua hal mampu di lakukannya, dia akan rajin masuk di beberapa majalah sebagai pangeran yang sempurna.
Saat menduduki bangku SMA.
"Hari ini dapat nilai sempurna lagi?" Ucap Itachi.
"Kau harus belajar 1000 tahun lagi agar melampaui posisiku." Ucap Izuna dengan penuh percaya diri.
Buught.
"Dasar pangeran sombong." Ucap Itachi dan menendang kaki Izuna.
"Dasar pangeran kasar." Ucap Izuna dan membalas Itachi.
Para pengawal bingung melihat mereka, terlihat seperti tengah bertengkar tapi wajah mereka terlihat ceria dan bahkan tawa lepas itu dari wajah mereka, para pengawal jadi tidak berani untuk memisahkan keduanya, menganggap jika itu cara mereka bermain.
"Pangeran Itachi! Pengaran Izuna! Dimana sikap terhormat kalian!" Tegur putri Mikoto, melihat tingkah keduanya seperti anak nakal.
Mereka berhenti dan menundukkan kepala, mereka kedapatan bercanda dan di omelin oleh putri Mikoto.
.
.
Malam harinya, di kamar Itachi, Izuna akan selalu mendatangi kamar Itachi, selain satu sekolah, mereka akan sering belajar bersama, tapi itu hanya pemikiran para ibu mereka, keduanya hanya akan bermain dan bercerita.
"Aku dengar kau akan segera menikah?" Ucap Itachi.
"Itu masih lama, aku harus menunggunya, mungkin saja dia masih anak kecil, bisa-bisa aku di tangkap karena menikahi gadis di bawah umur." Ucap Izuna.
"Kakek buyut sangat peduli dengan amanah, kenapa sejak dulu tidak di lakukan saja?"
"Apa mungkin kasusnya seperti ayahku? Mereka sudah mendapat putri mereka dan terus menurunkan amanah itu pada anak mereka?"
"Mungkin saja, dan kau sendiri, apa mau menikahi gadis yang tidak kau ketahui itu?"
"Aku akan melakukan amanah itu, berharap saja dia gadis yang sempurna."
"Aku harap dia gadis yang bodoh dan selalu membuatmu kesal."
"Hey, apa kau sedang dendam padaku?"
"Aku tidak dendam, untuk apa dendam padamu." Ucap Itachi.
Keduanya kembali berkelahi, jika di kamar mereka tidak akan di lihat dan mendapat teguran.
Sreeekk!
"Aniiki."
Keduanya berhenti, melihat ke arah pintu, segera menarik Sasuke masuk dan menutup pintu.
"Aku pikir ibu yang masuk." Ucap Itachi, mereka hampir mendapat teguran lagi.
"Hahaha, selalu saja, setiap kita berkelahi bibi pasti akan menemukan kita." Ucap Izuna, merasa bibinya itu memiliki alat pelacak untuk mereka.
"Iya, ini salahmu." Ucap Itachi. "Ada apa Sasuke?" Tambahnya dan menatap Sasuke.
"Tolong ajarkan rumus ini." Ucap Sasuke, membawa sebuah buku catatannya.
"Kau minta tolong saja pada Izuna, dia jauh lebih pintar dariku."
"Ah, kau ini jangan merendah seperti itu, nilai kita hanya beda satu point saja kan, kau jauh lebih pintar."
"Jika aku jauh lebih pintar, rankingmu akan tergeser."
"Oh, kau harus belajar 1000 tahun lagi baru akan menggeserku."
"Bicara itu lagi!"
"Apa? Aku tidak takut padamu."
"Sini kau pangeran menyebalkan!"
Sasuke menatap keduanya, mereka tidak mengajarinya dan malah berkelahi, Sasuke menghela napas, dia tidak mengerti kenapa kedua kakaknya itu lebih senang berkelahi seperti itu.
"Jika tidak mengajariku, aku akan memanggil ibu." Ucap Sasuke, beranjak, membuka pintu dan langkahnya terhenti, Izuna dan Itachi bergegas menariknya masuk dan mengajarinya, keduanya panik setelah mendengar Sasuke mengatakan akan memanggil putri Mikoto.
.
.
Pintu kamar Izuna terbuka, pemuda itu bisa melihat anak kecil yang sangat mirip dengannya waktu masih seumuran.
"Ada apa Sasuke?" Tanyanya.
"Aniiki menyuruhku untuk belajar denganmu saja." Ucap Sasuke.
"Dasar Itachi itu, selalu saja membiarkanmu ke sini."
"Aniiki memang pintar, sayangnya dia tidak pandai untuk mengajar." Ucap Sasuke, sedikit kecewa akan kakaknya itu.
"Baiklah, aku akan mengajarimu, datanglah kapan saja ke kamarku." Ucap Izuna.
"Terima kasih, Aniiki." Ucap Sasuke, dia pun senang, Izuna jauh lebih mendengar keinginannya dan akan selalu membantunya.
.
.
.
.
Hari ini, entah mengapa seluruh anggota keluarga di kumpulkan, para tetua dan raja pun turut hadir, hanya satu orang yang tengah duduk bersimpuh di hadapan mereka.
"Pangeran Ren! Berani-beraninya kau menjual aset kerajaan, apa kau tahu ini melanggar peraturan kerajaan!" Ucap raja terdahulu dan terlihat sangat marah.
Para tetua pun tengah berunding, di hadapan Izuna, ayahnya hanya terdiam dan tidak menjawab apapun, dia hanya tertunduk dan menjawab 'iya' di setiap pertanyaan yang di ajukan tetua, Izuna terlihat marah dan segera ingin menolong ayahnya, sayangnya ibunya menahan apa yang ingin di lakukan Izuna, ibunya tahu, jika Izuna berbicara dia pun akan mendapat masalah.
"Kami sudah rundingkan dan sebagai hukumannya, status pangeran pertama dan calon raja bagimu kami cabut dan hapuskan, kini kau bukan lagi anggota keluarga kerajaan."
Uchiha Ren semakin tertunduk dan wajahnya terlihat sedih, dia harus pergi dan di husir secara tidak terhormat dari kerajaan ini.
"Kenapa hanya aku saja yang tinggal?" Ucap Izuna, kedua orang tuanya telah beres-beres untuk pergi.
"Kau masih memiliki hak di sini, tinggalah di sini demi ayah dan ibu." Ucap Ren.
"Ini tidak adil!"
"Semuanya akan baik-baik saja." Ucap Ren dan berusaha untuk membuat Izuna menerima keadaannya.
"Aku akan membalas kakek tua itu!" Izuna terlihat marah.
"Jangan seperti itu, dengarkan ayah, tinggallah dan jadilah pangeran yang berbakti pada kerajaan."
"Tidak! Aku akan protes!"
Uchiha Ren meminta para pengawal untuk menahan Izuna, menahan apa yang akan di lakukannya, hingga kedua orang tuanya pergi.
.
.
Hampir memasuki masa ujian kelulusan untuk SMA.
Izuna jadi terus berdiam diri di kamarnya, tidak ada yang bisa di perbuatnya, ayahnya sudah melarangnya untuk menentang kakek buyutnya, sekarang dia pun sering bolos dan malas ke sekolah, nilai Izuna jatuh dan kini yang mendapat ranking 1 adalah Itachi.
"Kau bolos lagi?"
Izuna hanya menoleh dan setelahnya kembali menatap taman yang berada tepat di belakang kamarnya.
"Aku datang ke sini karena kau sudah tidak pernah datang ke kamarku lagi, Sasuke bahkan sangat ingin menemuimu tapi dia tidak berani datang." Ucap Itachi.
"Aku sedang tidak ingin keluar dan sampaikan permintaan maafku pada Sasuke." Ucap Izuna, nada suaranya terdengar letih.
Itachi pun sempat melihat tatapan kosong itu dari Izuna.
"Aku turut sedih akan kepergian paman Ren dan bibi."
Izuna terdiam, hanya ada rasa kesal yang terus bergejolak di dalam dadanya, rasanya dia ingin marah dan berteriak pada seluruh isi istana ini, ayahnya dalam keadaan terpuruk dan tidak ada satu pun yang membantu ayahnya, Izuna merasa kecewa akan sikap seluruh keluarganya.
"Tidak ada yang bisa di lakukan lagi." Ucap Izuna.
"Uhm, aku datang ke sini dan membawa surat dari ayahmu."
"Bacalah."
"Surat ini khusus untukmu."
"Aku tetap percaya padamu, jika kau membacanya itu tidak masalah." Ucap Izuna.
.
.
TBC
.
.
update...! update...!
kali ini author akan menceritakan kisah si pangeran Izuna, sebelumnya ada pernah singgung deh, jadi kali ini chapter khusus untuk pangeran Izuna, walaupun sedikit menjauh sebentar, karena awalnya fic ini membuat kisah tentang si tokoh utama yaitu Sakura, tapi untuk chapter ini dan chapter berikutnya sangat penting, yaa kurang lebih begitulah.
uhm...uhmm..uhmmm,
sudah segitu saja, nggk balas apapun dulu,
see you next chapter..
