Disclaimer : Yuri on Ice not mine
Rage by Cyancosmic
Warning: AU, Fem!Yuuri, Fem!Yura, OOC, 1st pov
.
.
.
Enjoy!
Yuuri : Disappear
"Yura!"
Aku mengguncang-guncang tubuhnya, berusaha memanggil namanya namun matanya tetap terpejam. Gadis belia yang ada di pelukanku tetap tidak bergerak, hanya hembusan napasnya yang menyatakan bahwa kehidupan belum meninggalkannya. Walaupun setelah melihat aksinya tadi, aku sempat ragu bahwa tindakannya memiliki konsekuensi yang berpotensi membahayakan nyawanya.
"Chris!" Seseorang di dekatku memanggil nama rekannya. "Kau urus dia!"
Tak jauh dari tempatku berada, pemuda pirang bernama Chris mendecakkan lidah saat melihat gadis belia di pelukanku itu. Ia melenyapkan dua buah rapier berbilah semerah darah di tangannya sebelum menghampiriku. Begitu ia sudah berada di hadapan kami, pemuda pirang itu berkata, "Tidak kusangka, anak ini termasuk yang 0,0000000001% itu."
"0,0000000001 %?" tanyaku ketika mendengar ucapannya.
Pertanyaanku membuat Chris mengangguk. "Sudah kujelaskan sebelumnya, 'kan? Anak ini bisa saja menambah visionnya yang hanya lima detik dalam waktu singkat?"
Aku mengangguk. Aku masih ingat ucapannya soal itu. Ia bilang hanya ada kemungkinan 0,0000000001% bahwa seorang pengguna vision dapat meningkatkan waktu melihatnya. Tapi sepertinya, yang terjadi pada Yura bukanlah melihat. Gadis ini… seperti bergerak terlalu cepat.
"Double talent, ya?" gumam Chris. "Sangat langka sekali."
"Double…?"
Lagi-lagi pemuda berambut pirang itu menganggukkan kepalanya. Ia pun berkata, "Hampir mustahil terjadi, tapi seorang anak bisa saja memiliki dua buah kemampuan selain kemampuan utamanya. Di dunia ini hanya ada satu orang saja yang memiliki dua kemampuan seperti itu."
"Jangan banyak bicara, Chris!"
"Tapi ngomong-ngomong, anak ini masih belia sekali," ujar pemuda yang seringkali tidak bisa menahan ucapannya walau rekan-rekannya sudah seringkali memperingatkan, "seingatku, kau sendiri baru menguasainya di usia mendekati delapan belas tahun."
Tanpa banyak bicara, pemuda berambut kelabu itu menggerakkan ujung kukunya dan mendekatkannya pada leher Chris. Kesan intimidasi yang kuat muncul darinya saat itu, hingga membuatku mengeratkan pelukanku pada Yura. Secara insting, aku mengambil jarak darinya untuk mengurangi perasaan menekan yang ia berikan.
"Chris," pemuda berambut kelabu itu berkata dengan suara sinis yang familiar di telingaku. Nada suara yang dingin dan mengandung ancaman ini rasanya pernah kudengar, walaupun aku tidak lagi mengingatnya. "Aku benci harus melakukan ini."
Sepertinya perasaan intimidasi yang kurasakan tidak ada pengaruhnya bagi Chris. Dengan santainya, pemuda itu hanya menggerakkan bahunya dan berkata, "Baiklah, kalau itu maumu. Aku tidak akan banyak omong lagi."
Tekanan yang kurasakan langsung lenyap setelah mendengar jawaban Chris. Setelahnya, pemuda berambut kelabu yang mengeluarkan ancaman tersebut berbalik memunggungi Chris dan mendekat padaku. Tangannya kembali terulur padaku seraya berkata, "Ayo,Yuuri!"
Kugelengkan kepalaku kuat-kuat sementara kedua tanganku memeluk leher Yura. Aku pun beringsut mundur, berusaha menjauh darinya seiring setiap langkah mendekat yang diambilnya.
"Tidak," ucapku sambil menggelengkan kepala, "tidak mau. Aku tidak mau ikut denganmu."
Aku tahu ini tindakan bodoh. Penolakanku tidak akan berarti apa-apa baginya. Ia tetap akan mendekat padaku, merebut Yura dan membawaku ke pelelangan seperti perkataannya sebelumnya. Hanya saja, aku masih berharap bahwa segurat kesedihan yang mampir sekilas di wajahnya adalah suatu pertanda. Pertanda bahwa aku masih bisa bernegosiasi dengan pemuda yang tak dapat kutebak jalan pikirannya ini.
"Kau tidak punya pilihan," ujar pemuda itu sembari menarik tanganku dengan kasar, memaksaku menjauh dari Yura. Akibatnya, tubuhku ikut terseret sementara Yura terlepas dari pelukanku. Untungnya, Chris sudah bergerak cepat dan mengambil Yura sebelum kepalanya menubruk lantai.
"Viktor…" panggilku ketika ia memaksaku berjalan mengikutinya. "Aku tidak mau. Bukan ini maksudku…"
Pemuda itu tidak memberikan respon atas panggilanku. Ia terus saja berjalan dengan sebelah tangannya memegangiku erat. Ketika aku menghentikan langkahku, Viktor akan terus menarikku hingga aku terpaksa berjalan walaupun harus meronta.
Ketika ia tidak mendengar suara pelanku, aku pun akhirnya mengubahnya menjadi teriakan keras yang bahkan memantul di dinding koridor. Aku terus berteriak, berharap bahwa ia akan melepaskanku. Aku juga berusaha melepaskan cengkeraman tangannya dengan mengangkat jarinya satu persatu. Sayangnya, semua upayaku tidak ada yang berhasil. Pemuda ini tetap saja berjalan walaupun langkahnya jadi terhambat karena upaya sia-siaku.
"Aku tidak mau," jawabku keras kepala sambil berusaha melepaskan diri dari cengkeraman tangan si pemuda berambut kelabu. "Kubilang aku tidak mau! Aku tidak datang ke tempat ini untuk menjadi barang lelang. Aku tidak mau."
"Bukankah kau sudah mempersiapkan diri, Yuuri?" Ia berkata lagi. "Kau yang bilang bahwa aku bisa memanfaatkanmu dan darahmu."
"Bukan ini," jawabku sambil berusaha menahan langkahnya, "aku tidak mengatakan untuk menjadi barang yang dapat dijual."
"Dijual pun merupakan salah satu bentuk memanfaatkan," jawab pemuda itu tanpa emosi apa pun dalam suaranya. "Seharusnya kau sudah memikirkan hal ini sebelum menyerahkan dirimu padaku."
"Bukan ini…," ucapku sambil menggelengkan kepala, "bukan ini maksudku…"
"Viktor!"
Seseorang yang berada di ujung koridor yang berlawanan memanggil nama pemuda yang menyeretku itu. Suaranya membuatku berhenti berbicara dan menatapnya begitu juga halnya dengan Viktor. Tatapan kami berdua sama-sama tertuju pada sosok yang berjalan diterangi penerangan temaram di koridor. Sosoknya yang mengenakan jubah berwarna hitam dengan kantung mata hitam dan kelopak yang juga menghitam membuatku menyadari siapa sosok yang tengah menghampiri kami.
"Minggirlah, Georgi!" Viktor langsung berkata ketika melihat sosoknya. "Aku tidak punya waktu."
Mantan petinggi nomor dua, atau mungkin sekarang ia-lah si nomor dua begitu Viktor kembali ke tempatnya, berpura-pura tidak mendengar perkataan Viktor. Dengan acuh, ia berjalan mendekati kami seraya berkata, "Ini gadis pemilik Sanguinem Sanctorum terakhir itu?"
Viktor tidak menjawab, tidak seperti biasanya bila ia berhadapan dengan para petinggi. Saat ini, diamnya pemuda ini lebih memberikan kengerian dibandingkan gayanya yang santai saat berhadapan dengan mereka.
"Masih hidup dan bergerak, pasti bernilai tinggi," lanjut Georgi dengan sinis. "Benar-benar tangkapan besar tahun ini."
Tidak seperti biasanya, Viktor memilih untuk tidak menjawab. Pemuda satu itu malah menarik tanganku dan memaksaku berjalan melewati Georgi sebelum petinggi nomor dua itu menghentikan kami dengan memegangi tanganku. Dengan cara demikian, ia berhasil mendapatkan perhatian Viktor sepenuhnya.
"Singkirkan tanganmu!"
Alis Georgi terangkat saat mendengar nada perintah dalam nada bicara Viktor. Kemudian ia berkata, "Jangan sombong, Viktor! Kau baru saja dimaafkan karena berhasil mendapatkan buruan bernilai tinggi! Tapi kau tetap tidak akan kembali ke tempatmu sebagai sang pewaris!"
"Sombong?" Viktor mengulangi ucapan pemuda itu dengan nada sinis yang merupakan andalannya. "Apakah aku boleh bersikap sombong di hadapan petinggi dan ahli waris keluarga Nikiforov sekalipun hasil buruanku lebih tinggi nilainya?"
"Kau…"
Kali ini suara tawa sinis yang membuat nyaliku ciut kembali diperdengarkan oleh pemuda berambut kelabu itu. Mendengarnya membuatku ingin menyembunyikan diriku dari hadapan dua pemuda ini dan melarikan diri sejauh mungkin. Andai tangan keduanya tidak berada di atas tanganku, pasti aku sudah pergi dari tempat ini.
"Sebaiknya kau jaga sikapmu, Georgi!" Viktor kembali berkata dengan nada sinisnya yang biasa. "Aku tak pernah membiarkan orang lain meminjam tempatku untuk waktu yang lama."
Georgi pasti sudah kehilangan kata-kata untuk membalas. Ia tidak lagi bertukar kata-kata sinis seperti yang biasanya mereka lakukan bila bertatap muka. Kali ini, ia memilih untuk mengangkat tangannya dariku dan berkata, "Aku tidak pernah meminjam tempatmu, sejak awal, ini tempatku."
"Begitukah?" Viktor bertanya dengan nada intimidasinya. "Kalau begitu, sebaiknya kau pertahankan tempatmu sebaik mungkin."
Pemuda berambut hitam dengan riasan serba hitam itu menggumamkan kata-kata yang tak dapat kudengar. Walaupun begitu, Viktor hanya menyunggingkan senyum sinisnya dan berlalu tanpa mengucapkan apa pun. Dengan langkahnya, kami melewati koridor dalam waktu singkat dan berbelok menuju koridor lain.
Berbeda dengan sebelumnya, para penghuninya banyak yang berkeliaran di sekeliling koridor. Beberapa berhenti sejenak saat melihat kami, namun beberapa hanya diam dan memandang kami dengan tatapan permusuhan. Kebanyakan dari mereka mengenakan setelan jas dan berpakaian rapi walaupun mereka tidak dapat menyembunyikan niat membunuh yang dipancarkan dari tiap individu.
Jadi inilah kediaman keluarga Nikiforov. Kediaman di mana setiap anggotanya berhak mengalahkan petinggi mana pun yang tidak kompeten untuk mendapatkan posisi. Tidak heran masing-masing di antara mereka begitu bernafsu untuk membunuh pemuda berambut kelabu yang pernah memegang posisi tertinggi itu.
Menyadari bahwa kami bisa saja dibunuh dalam sekejap membuatku menghentikan sikap keras kepalaku dan mengikuti tuntunan Viktor. Aku membiarkan pemuda itu membawaku berbelok dari koridor yang satu menuju ke koridor lain hingga akhirnya kami tiba di sebuah ruangan luas yang berisi tabung-tabung tinggi. Di dalam ruangan itu tidak ada lagi nafsu membunuh, hanya ada tabung-tabung besar yang diisi cairan.
Tanganku bergetar sedikit saat melihat tabung itu. Penglihatanku pun mengabur untuk sesaat dan sebuah gambaran yang sama muncul di benakku. Pemandangan dengan tabung-tabung cairan ini pernah kulihat sebelumnya.
"Sudah lama sekali," ucap pemuda berambut kelabu itu sembari melepaskan tanganku.
Sudah lama? Apa maksudnya? Apakah ia pernah berada di tempat ini? Tapi…
Viktor tidak melanjutkan ucapannya. Pemuda satu itu berjalan mendekat pada salah satu tabung dan menjalankan computer yang diprogram di sampingnya. Ia menyalakan computer itu dan membuat tabung di sampingnya menyala dan mengeluarkan gelembung-gelembung di dalam cairan tersebut. Ketika melihat gelembung itu, seketika itu juga aku terkesiap.
Tanpa membuang waktu lagi, aku langsung berbalik menuju pintu dan berlari sekuat tenaga. Aku tidak mau berada di sini. Aku harus keluar dari sini. Aku harus pergi. Aku…
Sebelum aku berhasil mencapai pintu, pemuda yang sebelumnya berada di dekat komputer sudah lebih dulu berpindah tempat dan menangkap tanganku. Begitu ditangkap, aku mencoba menggerakkan tangan dengan niat menghantamnya. Hanya saja tangannya yang lain kembali menangkap tanganku dan mengunci gerakanku.
"Tenanglah, Yuuri!"
Tenang? Bagaimana ia bisa mengharapkanku tenang setelah melihat tabung-tabung berisi cairan itu? Apa ia mengharapkanku untuk menurutinya dan diam saja sekalipun ia memintaku untuk masuk ke dalam tabung?
"Lepaskan…" aku berkata setelah putus asa mencoba melepaskan diri. "Lepaskan aku…"
"Tidak bisa," jawabnya sambil menyunggingkan senyumnya padaku. "Kan sudah kukatakan bahwa aku tidak akan melepaskan Yuuri."
Kugelengkan kepalaku kuat-kuat. Kenaifanku memang sumber bencana. Aku tidak pernah menyangka bahwa maksud pemuda ini untuk tidak melepaskanku adalah ini. Aku tidak pernah berpikir bahwa pemuda itu akan mengurungku di sini, di dalam cairan yang bahkan tidak memungkinkanku untuk bergerak.
"Kenapa…" akhirnya aku berkata padanya, "kenapa kau melakukannya?"
Alis pemuda itu terangkat saat mendengar pertanyaanku dan ia berkata, "Hm, aku tidak punya pilihan lain 'kan?"
"Bukan ini," lanjutku sambil menundukkan kepala, "hidup yang kuinginkan bukan seperti ini."
Mendengar ucapanku, pemuda itu mengerjapkan matanya selama beberapa saat. Entah mengapa, saat itu aku kembali berilusi bahwa pemuda itu menunjukkan raut wajahnya yang sebenarnya. Sekalipun di hadapanku pemuda yang telah memanfaatkanku selama lebih dari sepuluh tahun itu sudah menunjukkan maksudnya dengan jelas.
"Kau sudah ingat rupanya?"
Aku tidak menjawab walaupun aku mengerti ucapannya. Kualihkan pandanganku darinya sehingga pemuda itu menyentuhkan kedua tangannya pada wajahku dan memaksaku untuk menatapnya. Berhubung aku tidak mau lagi menatap atau mendengarkan ucapannya, aku pun memejamkan mataku kuat-kuat.
Di luar dugaan, pemuda itu malah menyentuhkan dahinya padaku dan ia berkata, "Kau pun memejamkan matamu seperti ini ketika kau takut."
Sekali lagi, aku memilih untuk tidak mengatakan apa-apa dan membiarkannya berbicara sendirian. Sepertinya pemuda itu pun memahami sikapku sehingga ia kembali berkata, "Kau tak perlu takut. Bukankah aku ada bersamamu?"
"Justru…," ucapku ketika mendengar ucapannya, "kaulah sumber ketakutan itu, Viktor."
Viktor mengangkat dahinya dariku dan menatapku dengan alis yang terangkat. Aku pun mengikutinya dan membuka mataku. Kali ini kuarahkan iris cokelatku padanya dan aku berkata, "Kalau kau tidak ada, aku tidak perlu merasa takut."
"Ah…"
"Kau yang menanamkan rasa takut itu padaku," lanjutku dengan tatapan yang tak lepas darinya. "Rasa takut itu takkan pernah hilang selama kau bersamaku. Aku baru menyadarinya sekarang."
Senyum kembali mengembang di wajah pemuda itu dan ia berkata, "Kenapa kau berkata begitu, Yuuri?"
"Sebelumnya kupikir bila aku mengejarmu, aku akan mendapatkan jawaban atas semua sikapmu dan mengenyahkan rasa takutku," jawabku dengan tatapan tegas padanya. "Tapi ternyata aku salah."
"Apa yang…," tanyanya dengan suara yang terputus, "salah?"
"Kesalahan terbesarku adalah memercayaimu," jawabku lagi. "Aku memercayai bahwa semua sikapmu punya maksud tertentu. Aku percaya semua kata-katamu. Aku percaya bahwa kau takkan mengkhianati orang yang memercayaimu. Aku memercayai semuanya dan itulah kesalahan terbesarku."
Tidak ada senyum di wajah pemuda berambut kelabu itu. Kali ini ia hanya diam dengan iris tosca yang tak pernah melepaskan tatapannya dariku.
"Aku yang memaksa mereka mengejarmu," ucapku sambil menatapnya dengan airmata yang menggenangi pelupuk mataku. "Aku… yang membuat mereka harus bertarung sia-sia melawanmu. Semua… karena aku memercayaimu."
Lagi-lagi tidak ada perkataan apa pun yang keluar dari mulutnya. Pemuda itu tetap diam di tempatnya dengan ekspresi yang sama seperti sebelumnya. Ekspresi monoton yang justru membuat emosiku meningkat karena tahu bahwa aku telah terjebak dalam permainannya.
"Aku seharusnya tidak percaya padamu," lanjutku. "Seharusnya aku tidak mengejarmu…"
Masih tidak ada respon dari lawan bicara di hadapanku.
"Seharusnya kau menghilang saja!"
Cengkeraman tangannya di tanganku menguat ketika aku mengatakannya. Sikapnya membuatku meringis sedikit dan barulah cengkeramannya kembali mengendur. Walaupun begitu, aku tidak berniat mengangkat kepala untuk melihat ekspresinya.
"Begitu rupanya," kata pemuda itu akhirnya setelah sekian lama tidak mengatakan apa pun. "Sebaiknya aku menghilang, ya?"
Kali ini aku tidak mengatakan apa-apa dan tetap menundukkan kepalaku. Sebagai gantinya, pemuda itulah yang akhirnya berkata, "Boleh juga. Mungkin memang sebaiknya begitu."
Kepalaku terangkat ketika mendengar ucapannya. Walaupun saat itu aku memang berharap bahwa pemuda ini sebaiknya menghilang, aku tidak menyangka bahwa ia akan menerimanya begitu saja. Aku malah menduga bahwa pemuda ini akan mengeluarkan lagi aura mengintimidasinya yang biasa.
"Tenang saja," lanjut pemuda itu sembari mengusap rambutku dengan lembut, "kali ini aku takkan membiarkan mereka menyentuh milikku lagi."
Menyentuh… miliknya?
"Dan ketika semuanya telah selesai," tangan yang tengah mengusap rambutku itu berhenti bergerak dan kali ini seulas senyum tipis mampir di wajah pemuda itu. Senyum tipis yang terlihat begitu sedih, "aku akan menghilang, seperti keinginan Yuuri."
"Vik…"
"Sampai saat itu tiba," lanjut pemuda itu, "percayalah padaku, Yuuri!"
Tidak, aku tidak boleh termakan ucapannya lagi. Aku sudah salah besar karena memercayainya. Bagaimana bisa aku memercayainya lagi kali ini? Ia hanya akan menipuku dengan kata-kata manisnya dan membuatku terjebak. Ini bukan pertama kalinya ia memintaku untuk mendengarkan permintaannya dan berakhir dengan pengkhianatan. Waktu itu pun, ia juga melakukannya hal yang sama.
"Viktor…"
Tanganku terus memegangi baju berwarna hijau yang dikenakan Viktor. Pemuda itu sendiri tampaknya tidak terganggu dengan tingkahku yang membuatnya menjadi perhatian banyak orang sejak kami tiba di tempat ini. Beberapa orang memandangiku dengan bingung, namun yang paling menakutkan bagiku adalah orang yang berjalan di samping kami.
"Singkirkan mereka, Stephane!" Pemuda belia yang kuikuti itu akhirnya membuka suara. "Aku benci tatapan mereka."
Pria berambut klimis yang berjalan di samping kami, pria yang sama dengan yang membuatku takut itu memperdengarkan suara tawa menggelegar. Mendengarnya, aku pun mengeratkan peganganku pada baju yang dikenakan Viktor dan menatapnya dengan pandangan waspada seolah-olah pria itu dapat menjauhkanku dari satu-satunya benteng perlindunganku.
"Sejak kapan kau benci ditatap oleh mereka?" Stephane, si pria berambut klimis dan mengenakan jaket panjang kembali berkata. "Bukankah kau bahkan tidak menyadari tatapan mereka sebelumnya?"
Viktor hanya menatapnya. Ia tidak menyanggah ataupun mendebat perkataan Stephane. Sebagai gantinya, ia hanya berkata dengan suara yang penuh ancaman, "Singkirkan!"
Salah! Aku salah besar. Orang paling mengerikan di sini bukanlah si pria berambut klimis ataupun orang-orang yang menatap kami. Mereka semua hanya kelinci jinak bila dibandingkan dengan pemuda yang kupegangi bajunya ini. Justru pemuda inilah ancamannya. Justru pemuda inilah yang paling menakutkan di antara semua orang yang pernah kutemui.
"A… a…."
Mengetahui hal itu, tanganku pun langsung terlepas dari bajunya. Perlahan-lahan, aku berusaha menjauh dari pemuda itu selangkah demi selangkah. Bahkan aku sempat berharap pemuda itu takkan menyadari apa yang tengah kulakukan.
Sayangnya sebelum aku mundur lebih jauh, seseorang menahan pundakku dengan kedua tangannya. Sentuhannya membuatku terperanjat dan menggerakkan kepala dengan refleks padanya. Begitu kulihat orang yang tak kukenali berada di belakangku, aku pun mencoba melarikan diri dengan berlari menjauh.
"Viktor!" Orang itu mencegahku berlari dengan memegangi pundakku erat-erat. "Apa yang kau bawa ini?"
Iris tosca milik pemuda berambut kelabu itu langsung terarah pada orang yang memanggilnya dan berakhir padaku. Ketika pandangan kami bertemu pandang, pemuda itu mendekat pada kami dan menaruh tangannya di atas tangan orang itu. Kemudian ia berkata, "Singkirkan tanganmu, Georgi!"
"Kenapa?" Orang di belakangku kembali berkata, "Apa ini milikmu?"
Viktor tidak menjawab. Ia hanya menatap lawan bicaranya selama beberapa saat hingga akhirnya ia berkata, "Kubilang, singkirkan tanganmu!"
Suara Viktor sekali lagi membuat lawan bicaranya langsung mengangkat tangannya dariku secara refleks. Bahkan orang yang memegangiku itu beringsut mundur sambil menatap pemuda berambut kelabu itu dengan waspada. Ia memperhatikan setiap gerak-gerik Viktor, sekalipun yang ditatap sepertinya tidak lagi menaruh perhatian padanya.
"Sudah kukatakan sebelumnya 'kan?" tanya Viktor ketika aku menatapnya dengan takut-takut. "Jangan melepaskan peganganmu!"
Aku mengangguk dengan gugup. "T-tapi…"
"Sudahlah!"
Tanpa mendengarkan jawabanku, Viktor langsung menarik tanganku dan menggendongku di pelukannya. Ia membiarkan kedua tanganku memeluk lehernya sementara wajahnya berada di sampingku. Dengan nada mengintimidasi yang sama, ia pun berkata, "Kau tidur saja kalau takut."
"Y-Yuuri takut…," ucapku dengan sedikit terbata-bata. Sementara batinku menambahkan, 'terutama pada Viktor.'
"Tempat ini memang mengerikan," jawab Viktor sambil membawaku berjalan, "tapi tidak ada tempat lain yang lebih aman kalau kau ingin tetap hidup."
Ucapannya membuatku tertarik sehingga aku pun mengangkat kepala. "Lebih aman? Seaman di rumah?"
Pertanyaanku membuat Viktor terdiam selama sesaat. Iris toscanya bertemu pandang denganku sebelum akhirnya ia mengalihkan perhatiannya dan berkata, "Lebih aman dari itu."
Aku mengerjapkan mata karena mendengar jawabannya. "Kenapa? Apa di sini banyak penjaganya?"
Pemuda berambut kelabu yang membawaku menggelengkan kepalanya dan berkata, "Tidak, tapi aku bersamamu, bukan?"
Sekali lagi mataku mengerjap-ngerjap saat mendengar jawabannya. Dalam hati aku bertanya-tanya, apakah dengan begitu akan lebih aman? Bersama dengan orang yang menakutkan, akankah memberiku rasa aman yang lebih baik dibandingkan di rumah? Aku tidak mengerti. Benakku yang baru berusia tujuh tahun belum sanggup mengerti maksud di balik ucapannya sehingga aku kembali berkata, "Di rumah ada Tou-chan, tapi sekarang Tou-chan sudah tidak ada. Apakah Viktor seperti Tou-chan?"
Viktor tidak langsung menjawab pertanyaanku. Ia tetap berjalan selama beberapa langkah sebelum akhirnya ia berkata, "Jadi yang memberimu rasa aman adalah ayahmu, ya?"
"Ng?"
"Boleh saja," ucap pemuda itu sambil mengangkatku sedikit hingga bola mata kami kembali bertatapan, "kau boleh menganggapku sebagai ayahmu."
Dahiku berkerut mendengar perkataannya. "Viktor?"
"Memanggilku Viktor juga boleh," lanjutnya sambil mengangkatku. "Terserah kau saja."
"Vik…tor?" Aku menyentuh wajahnya dan ia pun kembali menatapku. Ketika menyentuhnya, pemuda itu memejamkan matanya sehingga aku pun tidak merasakan ancaman saat bersamanya. Tapi kenapa, saat bersama orang lain ia terasa begitu menakutkan?
"Sebagai gantinya," ucapnya sambil memejamkan mata, "Yuuri harus mendengarkan aku."
"Men… dengarkan?"
Ia mengangguk dan kembali membuka matanya. Saat itu, aku langsung menarik tanganku dan berusaha menjauh darinya. Sayangnya tanganku tidak cukup cepat sehingga Viktor dapat dengan mudah menangkapnya kembali.
"Kalau kubilang tidak, artinya tidak boleh," ujar pemuda itu, "dan kalau kubilang boleh, artinya boleh. Apa sampai sini kau paham?"
"Kenapa?"
Viktor mengangkat alisnya saat aku bertanya. Ia bergumam sedikit sehingga aku pun kembali melanjutkan pertanyaanku.
"Kenapa Viktor yang memutuskan boleh dan tidak boleh?"
Sekali lagi, iris tosca yang memesona itu menatapku selama beberapa saat sebelum akhirnya seulas senyum mampir di wajahnya. Senyum yang menakutkan sekaligus membuatku penasaran akan maksudnya. Terlebih ketika pemuda itu berkata, "Sudah jelas, 'kan? Yuuri itu milikku."
Miliknya?
"Karena Yuuri milikku," ucap pemuda itu sambil menyentuhku, "maka Yuuri tidak boleh mendengarkan ucapan orang selain aku."
"Tidak boleh… mendengarkan orang selain Viktor?"
"Apa sejauh ini kau paham?"
Aku mengangguk dengan pelan. Memang perkataannya tidak sulit dimengerti, namun aku masih tidak paham. Sejak kapan aku menjadi miliknya? Kenapa Viktor menganggapku sebagai miliknya?
"Aku…"
"Kau membawa barang yang bagus, Viktor?"
Suara wanita yang tiba-tiba datang membuatku mengerjapkan mata karena terkejut. Aku pun hendak berbalik dan menoleh padanya, namun salah satu tangan Viktor berada di kepalaku dan menahanku untuk tidak menengok ke belakang. Ia juga menaruh kepalaku di lehernya, sementara tangannya yang lain memelukku erat, berbeda dengan sebelumnya.
"Lilia…"
"Perlihatkan padaku, Viktor!" Wanita itu berkata. "Mainan macam apa yang kau bawa ke tempat ini?"
Pegangan Viktor semakin kencang dan membuatku meringis sembari memeluk lehernya erat. Entah mengapa, tiba-tiba aku merasakan ancaman dalam nada suara wanita yang baru saja datang itu. Padahal aku belum melihat wajahnya atau melihatnya melakukan hal-hal menakutkan.
"Dia milikku."
Wanita itu menghela napas mendengar perkataan Viktor dan ia berkata, "Stephane bilang, anak itu memiliki darah langka."
"A…"
"Berikan anak itu, Viktor!" Wanita itu kembali berkata dengan suara yang lebih mengintimidasi dibandingkan nada suara Viktor. "Sekarang!"
Ketika mendengar kata 'sekarang' diucapkan oleh wanita itu, tiba-tiba saja pegangan tangan Viktor mengerat. Sekali ini aku bahkan mengaduh keras, namun Viktor seolah tidak mendengarku. Bahkan iris tosca yang sebelumnya memberiku rasa aman, kini mengandung ancaman yang membuatku ingin segera melarikan diri darinya.
"Kubilang," ucap Viktor sambil menatapnya, "ini milikku!"
Sikapnya membuat wanita yang berada di dekat kami kembali menghela napasnya. Kemudian ia berkata, "Kau harus masuk ruang isolasi, Viktor!"
"Kau tidak berhak memerintahku, Lilia!"
"Patuhi hukumnya, Viktor!" Wanita itu kembali berkata. "Misimu gagal. Kau seharusnya membawa seluruh keluarganya, dan bukan hanya membawa anak kecil ini dan mengatakan bahwa ini milikmu!"
"Stephane yang membunuhnya," jawab Viktor. "Aku tidak membunuh satu pun dari mereka. Stephane-lah yang membunuh mereka di perjalanan, karena ia memiliki kemampuan yang sama denganku."
"Tetap saja bukan alasan bagimu untuk membawa dan menyatakan satu pemilik darah langka sebagai milikmu!" Wanita itu kembali berkata. "Darah mereka terlalu mahal untuk kau jadikan sebagai milikmu sendiri."
"Kalau begitu biar kubeli," jawab Viktor acuh.
"Kau tidak bisa membelinya," balas wanita itu dengan nada suaranya yang sama mengintimidasi. "Anak ini milik keluarga Nikiforov."
Tatapan iris tosca itu terasa begitu menakutkan. Teringat perkataannya, aku pun menutup mataku dan membenamkan wajahku di lehernya. Aku terlalu takut untuk melihat ataupun bergerak sehingga aku memilih untuk diam di pelukan pemuda berambut kelabu itu.
Ia bilang bahwa bersamanya akan memberiku rasa aman 'kan? Bila bersamanya dan mendengarkan semua yang ia katakan, maka aku akan baik-baik saja 'kan? Aku hanya perlu diam dan berada di sisinya saja 'kan?
Kupikir, Viktor pun akan mempertahankanku di sisinya. Namun ternyata, pemuda itu malah menurunkanku dan mendudukanku di salah satu meja yang ada di samping ruangan. Ia melepaskan pelukannya padaku seraya berkata, "Diam di sini sampai aku kembali! Mengerti?"
Walaupun aku bingung karena ia melepaskanku, aku pun mengangguk dan membiarkan pemuda itu berbalik. Aku masih dapat melihat punggungnya sementara beberapa jarinya digerakkan saat ia mendekat pada wanita dengan tulang pipi tinggi. Dari gerakannya, sepertinya Viktor takkan menyerahkanku pada si wanita.
"Mundur, Viktor!"
Viktor berhenti tepat di hadapannya dan mereka saling berhadapan. Hanya saja, beberapa saat kemudian sosoknya langsung lenyap bersamaan dengan wanita tadi. Aku tidak dapat melihat keduanya, atau pun pergerakan mereka.
Selama beberapa saat aku menunggu, kedua sosok yang sebelumnya kulihat tidak juga menampakkan wujudnya. Yang ada hanyalah suara barang-barang jatuh di sekelilingku, juga beberapa guratan panjang yang tiba-tiba muncul dan menggores dinding atau menjatuhkan lukisan. Kejadian itu terus berlangsung selama beberapa saat, hingga akhirnya kedua sosok itu kembali muncul.
"V-Viktor…"
Aku hendak menghampiri sosok berambut kelabu yang berdiri di hadapanku itu. Tanganku hendak meraih baju yang ia kenakan ketika aku menyadari keanehan padanya. Bahkan ketika aku menyentuhnya, pemuda itu langsung tumbang dan jatuh ke lantai.
"V-Viktor!"
Tanpa banyak bicara aku langsung berlari dan mengguncang-guncang tubuhnya. "Viktor! Viktor!"
Sekeras apa pun aku memanggil, suaraku tidak terdengar. Pemuda satu itu tetap memejamkan matanya dengan beberapa luka gores membanjiri tubuhnya. Melihatnya, aku pun mengulurkan tanganku dan berusaha menutup lukanya dengan menggunakan kedua tanganku.
Di saat aku tengah melakukannya, seseorang mengangkatku dari tubuh Viktor sehingga aku bertemu pandang dengannya. Aku tidak terlalu terkejut ketika menemukan wanita bertulang pipi tinggi itulah yang mengangkatku. Walaupun begitu, bukan berarti aku tidak takut padanya. Keberadaannya memberikan kengerian sendiri bagiku. Kengerian yang membuatku tidak ingin berada di tempat yang sama dengannya.
"Sanguinem Sanctorum," ujarnya sambil memicingkan mata saat melihatku. "Masih muda, masih terlalu muda."
"A… a…."
Beberapa orang masuk ke dalam ruangan ketika aku hendak mengatakan sesuatu. Aku mengenali salah satunya sebagai orang yang bernama Stephane, walaupun tidak ada lagi yang kukenali di antara mereka. Dalam sekejap, mereka langsung berdiri di belakang wanita dengan tatanan rambut tinggi dan tulang pipi yang tinggi, seolah menunggu diberi perintah.
"Tempatkan Viktor di ruang isolasi," ucap wanita itu sembari membawaku berjalan, perlahan-lahan hingga menjauh dari pemuda yang terbaring tak sadarkan diri itu. "Jangan biarkan dia keluar hingga ia mengerti kesalahannya!"
"Baik, Nyonya!"
"Satu lagi, Stephane," kata wanita itu ketika mendengar Stephane menjawab perkataannya, "siapa yang mengatakan padamu untuk membunuh para pemilik Sanguinem Sanctorum?"
"Ah…"
"Apa kau tahu harga mereka di pasaran?" Wanita itu berkata dengan nada intimidasi yang kuat, yang bahkan jauh lebih mengerikan dibandingkan Viktor.
"S-saya minta maaf, Nyonya," ucap orang bernama Stephane yang bahkan masih bisa membantah ucapan Viktor sebelumnya. "Itu kecelakaan. Mereka melawan dan kami sulit untuk menahan mereka."
"Itu bukan alasan," balas wanita itu dengan ketus. "Seharusnya aku tidak membebankan tugas ini pada orang sepertimu!"
"Ny-nyonya…," kata Stephane dengan nada mencicit, "s-sebagai gantinya, saya membawakan darah mereka yang masih segar, apabila Nyonya berkenan."
Wanita yang dipanggil Nyonya itu memicingkan matanya dan berkata, "Berapa banyak yang kau bawa?"
"S-sebanyak yang Nyonya perlukan."
Tidak ada jawaban dari orang yang dipanggil Nyonya itu. Ia hanya terdiam selama beberapa saat sebelum akhirnya ia menatapku dan kembali memandang orang-orangnya. Ketika ia berbalik, yang diucapkannya adalah, "Stephane, masukkan darah mereka semua dalam list pelelangan besok."
"H-hah?" Stephane berkata dengan terkejut. "M-mereka semua, Nyonya?"
"Ya," ucap Nyonya itu. "Gunakan saja semuanya untuk pelelangan."
"T-tapi bagaimana dengan persediaan kita?" Si pria berambut klimis kembali bertanya. "Dengan apa kita mensuplai senjata yang terbuat dari darah langka? Bagaimana bila di pihak musuh ada lawan yang lemah terhadap darah itu?"
"Tidak perlu khawatir," kata wanita itu dengan pandangan yang tertuju padaku. "Kita punya aset yang tak terbatas."
Aku tidak terlalu mengerti ucapannya, namun ketika Stephane tidak membalas perkataannya dan wanita itu membawaku, perasaan takut kembali menghantuiku. Viktor sudah berpesan agar aku tidak meninggalkan ruangan itu tanpanya. Maka itu sebaiknya aku mendengarkannya, seharusnya, aku tidak keluar dari ruangan itu.
"K-kembali…," ucapku ketika wanita itu membawaku keluar dari ruangan tempat Viktor berada hingga ke lorong yang ada di sebelahnya. "V-Viktor di sana."
Mendengar perkataanku, wanita itu kembali berkata, "Tidak. Tempatmu bukan di sana."
"T-tempatku… bukan di sana?"
Wanita itu menggelengkan kepala. "Bukan."
"V-Viktor bilang," ucapku dengan terbata-bata, "aku tidak boleh pergi tanpanya. Ia bilang begitu padaku."
"Kau tidak perlu mendengarkannya," ucap wanita itu hingga akhirnya kami berhenti di sebuah ruangan, di mana banyak tabung-tabung berada di sekeliling kami. "Kau bahkan tidak akan mendengar suaranya lagi."
"T-tapi…"
"Selamat tidur," ujar wanita itu, "Sanguinem Sanctorum."
Ingatan itu terputus dan aku kembali menatap pemuda beriris tosca yang sama dengan pemuda yang dulu memelukku erat. Sekalipun tahu bahwa mungkin aku akan dikhianati lagi olehnya, aku malah berkata, "Apa kali ini… aku bisa memercayaimu?"
Pemuda berambut kelabu perak itu mengerjapkan mata saat mendengar ucapanku. Seulas senyum tipis kembali muncul di wajahnya dan ia berkata, "Itu… terserah padamu, Yuuri."
"Apa setelahnya… kau benar-benar akan menghilang?"
Bahunya terangkat dan ia kembali berkata, "Kalau kau memang menginginkannya."
"Aku menginginkannya," ucapku sambil menatapnya, "menghilanglah dari hadapanku."
Pemuda itu tidak bergerak selama beberapa saat, sebelum seulas senyum kembali muncul di wajahnya dan ia berkata, "Aku mengerti."
"Dan sampai saat itu tiba," lanjutku sambil menatapnya, "aku akan memercayaimu."
.
.
.
t.b.c
Author's note:
YESSSS! Berhasil apdet lagi hari ini XD semoga kalian menikmati ceritanya :D
Fujoshi desu XD: fufufu, jadi… apa menurutmu Vitya makin nyebelin setelah chapter ini? :P
Sementara itu, kekuatan Yura sendiri sama dengan kekuatan kedua Viktor. Seperti yang Chris bilang, walaupun agak mustahil, ada juga anak yang punya 2 kemampuan semacem Viktor dan kali ini Yura pun begitu. Kebetulan, kemampuan baru mereka berdua juga sama persis, makanya waktu itu cuman Viktor yang bisa bergerak sesuai sama Yura. Ane belum namain apa namanya sih, tapi yang jelas berbeda dari accelerate punya Bang Beka :D walaupun sebagai efeknya mereka jadi bisa bergerak sangat cepat dengan kekuatan yang nggak tanggung-tanggung
Dan… Bang Beka baru aja tertidur lelap, jadi di next chapter, kita tunggu aksi si Abang yah ;D
ChocoCroissant9: w-wow? Apa itu artinya? Semoga saya dapat clue buat menebak kesan reviewmu dari poin-poin yang kamu berikan ya Chocochii, nah mari kita mulai :
Satu, nggak, nggak, ini pertarungan datar dengan sudut kemiringan hampir 0 derajat :D kecuali pas bagian mereka naik tangga. Walaupun sudut kemiringannya juga uda terkikis dengan step step di tangga :P
Dua, buat chara Vitya sendiri, memang gambaran emak2 naek motor emang sepertinya cocok banget sama sifat dia :D tapi mungkin karena saia pake dua tokoh dengan dua sudut pandang. Kalau saya pake satu tokoh yang tetap, kemungkinan besar nggak akan jadi gambaran emak2 naek motor :D jadi jwabannya, semoga kedepannya Yuuri dan Yura satu pendapat soal Vitya :P
Tiga, LOL! Seperti biasa, efek seranganmu emang di luar dugaan. Kalo Bang Beka ato Bang Vitya tiba-tiba naked, itu yang cewe bisa pada mimisan parah #termasukauthor makanya saia nggak pake, berhubung khawatir dua tokoh utama kita bakal kehilangan darahnya #alesan. Welcome to the madness sendiri sebenernya serangan yang bikin Bang Beka ada di level 'monsternya', next time akan saya jelasin lebih detail maksudnya :D
Empat, Nah! Yura belom mati sampe saat ini, jangan khawatir :D walopun dia dua kali dibuat sakratul maut, next time… semoga dia juga nggak kenapa-kenapa…
Lima, kalo kotanya, sayangnya pelelangan di St. Petersburg, kotanya Vitya XD dan yang biasanya saya ambil dari manga yang uda dibaca itu settingnya, ato suasananya, sementara jalan ceritanya, sebisa mungkin ane nggak ambil karena ane uda pernah baca, dan kalau hasilnya mirip ane sendiri kurang puas (maaf, author terlalu mementingkan diri sendiri T_T)
Enam dan tujuh, soal kemampuan Yura, Chris baru aja beberin cluenya di atas :D walopun nggak begitu jelas dan baru aja saia jelasin ke Fujocchi bahwa kemampuannya sama dengan kemampuan kedua Vitya :D efeknya itu… Killua kalo di komik lebih ke step dan listrik ya (semoga ane nggak salah) sementara Yura, lebih ke sightseeing dan timing sih :D
Delapan, satu orang dewasa lima liter? (baru tahu) wow! Banyak juga ya? Kalau pake peluru, bisa dapet ribuan peluru tuh, walopun sayang banget itu darah dibuang-buang begitu aja buat jadi peluru. Makanya kebanyakan lebih suka kayak Chris, yang pake darahnya buat dijadiin senjata. Entah sabit, entah rapier, doi lebih suka senjata bergerak jadi darahnya bisa masuk lagi ke tubuh begitu senjata beres dipake :P
Aniway… jadi kesimpulannya huruf-huruf di awal tadi apa? Kodekah? :P
SayaTest: si rambut uban akhirnya ungkapin juga ;D walopun nggak begitu jelas. Apakah kira-kira maksud si rambut uban uda kebaca?
And for all of you, thank you for reading! I hope you enjoy reading this fic. Aniway, if you mind, please give any review so I can make it better XD
