Warning : karakter OOC, ada OC, typo, dan segala macam kesalahan yang terkadang luput dari pandangan Author

Disclaimer : Diabolik Lovers bukanlah milik Author, hanya meminjam karakternya untuk membuat fanfiction ini~


Akhir Dari Segalanya

Jika memang ada cara lain untuk menghentikan Cordelia, ia mungkin akan memilih cara itu. Namun, jika dipikir lebih dalam tak ada cara lagi selain membunuh Cordelia, yang secara tak langsung juga membunuh Yui. Ia tak peduli apa pendapat saudaranya juga Sakamaki bersaudara mengenai hal ini, tapi ia akan melakukannya. Tak akan ada yang bisa mengubah niatnya.

Ia tak boleh gagal kali ini!

Ia mengenggam dengan erat pisau yang ada didalam kantung jaketnya, seolah berusaha menghilangkan rasa gugupnya. Ia takut, hingga rasanya ingin menghilang dari dunia ini dan melupakan semua kejadian yang sudah ia alami selama ini. Tetapi, ia tak mau melarikan diri lagi. Meski saudaranya mengkhianati dirinya, ia harus menyelesaikan apa yang sudah ia lakukan.

"Kono akumu... owari ni shiyou," gumamnya.

xxx

Melangkah sambil menghilangkan hawa keberadaannya bukanlah hal yang mudah bagi Yuki, mengingat dirinya masih berstatus manusia. Namun, berkat obat – obatan yang pernah diujikan pada tubuhnya, ia jadi tidak perlu khawatir jika ketahuan oleh Sakamaki bersaudara maupun saudaranya sendiri. Dibalik bayangan sebuah lorong, ia melihat sosok itu sedang asik bercanda riang dengan seorang pemuda. Manik merah muda yang biasa ia lihat pun sudah berganti dengan hijau terang. Aroma Yui sudah hilang sempurna digantikan dengan aroma yang selalu membawanya pada mimpi buruk. Padahal, sebelum masuk kedalam mansion ini ia sangat ketakutan hingga tubuhnya gemetar. Namun, melihat sosok itu secara langsung ia tak bisa merasakan apa – apa selain kemarahan, yang sebisa mungkin ia tekan didalam dadanya.

Ditengah asiknya mereka berbincang, muncul Reiji yang kelihatannya menyadari ada seorang tamu dimansion mereka. Melihat mereka berdua yang mulai berbicara hingga bersentuhan sangat dekat pun, ia hanya diam melihat ditempatnya berada. Tak ada satu pun yang ia lakukan. Bernapas pun jarang sekali ia lakukan, karena berusaha menyembunyikan hawa keberadaannya.

Sepertinya tak hanya Reiji saja yang mengetahui sosok orang itu, semuanya sudah tahu, termasuk saudaranya sendiri. Tanpa melihat pun, dari aroma mereka yang sangat khas, ia tahu mereka juga ada disana seolah meminta penjelasan pada yang bersangkutan. Yah, walaupun ia tahu sosok itu, Cordelia, tak akan memberitahu rencana tersembunyinya begitu saja. Basa – basi mereka dilanjutkan dengan sangat membosankan hingga Ritcher, pemuda yang sejak tadi hanya diam melihat aksi Cordelia, mulai memancing emosi Subaru.

"Tak ada satu pun dari kalian yang bisa menyaingi diriku," ujar Ricther bangga, setelah berhasil menangkis semua serangan yang diberikan Subaru.

"Ini hiburan yang bisa kalian berikan padaku?" tanya Cordelia kecewa. "Kalian memang membosankan seperti biasanya. Bahkan anggota tambahan kalian pun hanya diam melihat tanpa melakukan apa – apa."

Cordelia berjalan mendekat kearah Ricther dan memeluk tangannya dengan mesra. Senyum manis yang mengerikan muncul diwajah mungil milik Yui. "Sepertinya, aku harus mengenalkan kalian seseorang yang hanya bisa menghilangkan kebosananku," ucapnya bangga.

Jantungnya mendadak berhenti berdetak ketika mata hijau terang itu menatap kearah lorong gelap, tempat dirinya berada. Tangan Cordelia yang dibalut sarung tangan ungu panjang terulur, seolah menyambut dirinya untuk menggenggam tangan itu.

"Kochira ni irrashai, watashi no itoshii musume, Yuki," sambung Cordelia.

Mendengar namanya dipanggil tak hanya membuat suasana mendadak hening seperti tempat makam, ia juga terkejut bahwa Cordelia mengetahui dirinya berada disini. Karena sudah terlanjur ketahuan, ia memasang wajah sedatar mungkin dan keluar dari tempatnya berada. Seperti boneka yang patuh terhadap perintah tuannya, Yuki berjalan mendekati Cordelia namun tidak menyambut uluran tangan sosok itu.

"Apa kau kesini untuk menghabisiku? Ataukah datang untuk melihat hal itu lagi?" tanya Cordelia. "Jika pilihanmu adalah yang kedua, aku sangat penasaran akan ekspresi yang kau keluarkan kali ini."

"Kau tidak perlu bertanya apa yang sedang kulakukan disini, Cordelia," jawab Yuki ketus.

"Ne, kenapa Yuki-chan bisa mengetahui namanya?" tanya Raito. "Selain itu kenapa orang itu memanggilmu, musume?"

Yuki melirik kearah Raito yang sedikit penasaran. Ia memang tak mempunyai kewajiban untuk mengabaikan pertanyaan cowok itu. Namun, ia juga tak ingin menjawabnya karena menurutnya akan sangat merepotkan. Akhirnya, ia hanya menghela napas dan tetap berdiri ditempat, memandang Cordelia yang tengah memperhatikan mereka yang penasaran. Puas melihat wajah bingung sekaligus penasaran, ia melirik kearah Ricther yang terus saja diam.

"Apakah kita perlu memberitahunya, Richter?" tanya sosok itu yang tampak senang sekali.

Richter tersenyum sambil menundukkan kepalanya sedikit. "Apapun keputusanmu, aku akan terus mengikutimu, Cordelia."

"Aku tahu kau akan berkata seperti itu, Richter," ujar Cordelia puas. Ia membalikkan tubuhnya dan menatap Yuki yang hanya diam, tak bergerak sedikit pun dari tempatnya berdiri. "Bagaimana menurutmu, Yuki? Perlukah aku memberitahu mereka termasuk saudara kesayanganmu?"

Yuki menghela napas panjang. "Terserah kau saja."

Cordelia tersenyum dan kembali menatap Sakamaki juga Mukami bersaudara. Hal tidak mengenakan segera Yuki rasakan meski ia sedang tidak bertatap muka dengan Cordelia.

"Tapi, sayang sekali," ujar Cordelia, pura – pura menyesal. "Bercerita panjang lebar bukanlah keahlianku. Bagaimana jika kau sendiri yang menceritakannya pada mereka, Yuki?"

Mata Yuki melebar. Benar seperti dugaannya, Cordelia ingin membuatnya merasa bersalah karena telah menyembunyikan fakta mengenai dirinya selama ini. Mengenai hubungannya dengan Karl Heinz, orang yang menyelamatkannya juga yang mengkhianatinya. Ia memang tak pernah cerita dirinya sebelum bertemu dengan saudaranya dulu. Menurutnya itu tidak penting karena ia sudah tak ingin mengingat hal itu lagi.

Ia mengingit bibir bawahnya dan menggenggam erat pisau yang ada dibalik saku cardigan hitamnya. Keinginan untuk menusuk sosok yang ada dihadapannya ini begitu kuat sehingga ia yakin dirinya akan tersesat dalam hitungan detik oleh hasratnya itu. Tapi, ia juga belajar dari pengalaman sebelumnya untuk menunggu waktu yang tepat. Hanya saja, ia tak pernah menemukan dan selalu terlambat untuk memulai rencananya.

Sama seperti sekarang ini.

Sangat terlambat bagi Yuki menyadari Ritcher yang sudah berada disampingnya dan menarik lengan Yuki yang sejak tadi disembunyikan. Yuki yang bermaksud untuk memberontak justru terlempar hingga membentur tembok tak jauh dibelakangnya. Detik berikutnya, ia bisa merasakan sakit yang luar biasa dibagian perut kanannya. Ia terlalu terkejut untuk memproses apa yang sebenarnya terjadi padanya saat ini.

"Yuki!" seru Yuuma dari bawah. "Sialan kau!"

Ritcher masih tak bergeming dari tempat dan tetap menancapkan pedang panjangnya diperut Yuki. Meski menerima beberapa pukulan juga tendangan dari Yuuma yang notaben tubuh dan kekuatannya yang besar, tak membuat Ricther bergerak sedikit pun. Akhirnya, Yuuma terpaksa mundur dari serangan Ricther. Melihat Yuki yang masih syok akan keadaannya sendiri, membuat Cordelia tersenyum senang. Ia kemudian memungut pisau perak yang sejak tadi digenggam oleh gadis berambut hitam itu. Senyum liciknya tampil kembali diwajah cantik milik Yui.

"Ne Ricter, aku punya ide yang sangat bagus," ujar Cordelia. Ia berjalan mendekat kerah Ricther yang tengah mencabut pedangnya dari perut Yuki. "Bagaimana kalau kita menyingkirkan mereka semua?"

"Bukankah ini belati milik Subaru?" tanya Ricther, menerima belati itu dari tangan Cordelia. "Jika tak salah, satu tusukan saja bisa membuat mereka mati?"

"Sou. Satu tusukan dijantung sudah cukup membuat mereka hancur seketika tanpa rasa sakit," jawab Cordelia senang. "Dengan merasakan rasa sakit itu mereka bisa mengetahui betapa besarnya cintaku pada mereka."

Mendengar ucapan Yuki, membuat dirinya kembali terjaga. Ia harus segera menghentikan Ricther sebelum pemuda itu mulai membantai semua penghuni yang ada disini, termasuk dirinya. Ia harus menghentikan semua ini jika tidak ingin menyesal sebelum pergi dari dunia ini. Ia harus melakukan sesuatu!

Tapi, apa yang bisa ia lakukan. Menggerakan satu jari saja sudah tak sanggup, apalagi menggerakan tubuhnya yang terluka parah.

Diambang keputusasaannya, tubuhnya menegang. Aroma aneh yang entah mengapa membuatnya lega menyita perhatiannya. Tak jauh dari hadapannya, ia melihat cowok merah yang ia tahu mempunyai sikap menyebalkan selama ini.

"Oi, jangan seenaknya membunuh kami hanya untuk mengetahui besarnya cintamu," orang itu.

"Ayato," sahut Cordelia. "Hisashiburi ne."

xxx

Melihat kesempatan yang dibuat Ayato secara tak sengaja, dengan sigap Yuuma menghampiri Yuki yang terkapar dengan luka tusuk cukup parah diperutnya. Ia tahu gadis itu masih menyimpan amarah pada dirinya juga yang lain. Namun, melihat situasi ini ia harus membawa gadis itu ketempat yang aman dan mengobati lukanya.

Sementara Ayato sibuk mengurus Ricther juga Cordelia, yang lainnya hanya bisa diam menonton. Kecuali Reiji yang anehnya mau mengobati luka Yuki, mengingat gadis itu bukanlah siapa – siapanya cowok berkacamata itu. Banyak sekali yang ingin ia tanyakan pada adik perempuannya itu. Tapi, tak ada satu pun kata yang mau keluar dari mulutnya.

"Bagaimana keadaannya?" tanya Ruki pada Reiji begitu cowok itu selesai mengobati luka Yuki.

"Cukup parah karena lukanya menembus hingga belakang," jawab Reiji tenang. "Selain itu ia juga kehilangan banyak darah. Tapi, melihat kondisinya yang masih bisa sadar sepertinya tak ada yang perlu dikhawatirkan."

"Begitu," sahut Ruki. "Aku berhutang padamu, Sakamaki Reiji."

"Yu-chan... daijoubu...?" tanya Azusa khawatir.

Tak ada jawaban yang keluar dari mulut Yuki. Gadis itu benar – benar diam seolah dirinya sedang tak berada disini. Iris birunya yang biasanya terlihat seperti langit biru cerah perlahan berubah menjadi semakin gelap. Melihat keadaan Yuki yang seperti itu membuat keempat cowok itu makin khawatir. Terlebih untuk Yuuma yang sejak tadi gelisah melihat Yuki yang diobati oleh Reiji. Tidak, ia pasti merasa gelisah ketika gadis itu dipanggil oleh Cordelia yang berada didalam tubuh Yui. Sebenarnya ada hubungan apa gadis itu dengan ibu kandung dari sikembar tiga Ayato, Kanato, dan Raito. Mengapa Cordelia memanggil Yuki adalah anaknya.

Jika dipikir kembali, kenapa Cordelia bisa bangkit kembali dan menguasai tubuh Yui. Ia memang pernah mendengar dari Karl Heinz bahwa didalam tubuh Yui terdapat jantung milik Cordelia. Namun, ia ingat betul bahwa kesadaran Cordelia harusnya sudah tak ada, mengingat wanita itu sudah mati. Kata – kata Yuki mendadak muncul didalam benaknya.

"Maka dari itu menyelematkan kalian dari Cordelia bukanlah apa – apa sebagai bentuk balas budiku."

"Kalian tahukan kalau kalian tidak bisa menjadi Adam? Hanya Sakamaki bersaudaralah yang bisa menjadi Adam."

"Kupikir kali ini akan berbeda karena kalian telah mengingatku. Tapi sama saja. Tak peduli sebanyak apa pun aku mengulang waktu, semuanya sama."

"Kalian yang memaksaku."

Semua jawaban ada pada Yuki. Namun, melihat kondisi gadis itu membuatnya tak bisa apa – apa dan dirinya semakin kesal. Terlebih lagi suasana disini begitu tegang ketika Ricther mulai memainkan pedangnya, bersiap untuk menebas siapa saja yang berani melawannya. Hanya saja, lawan pertama yang harus dihadapi oleh pemuda itu bukanlah orang yang mudah diatur. Cowok berambut merah itu bukanlah tipe yang diam saja ketika sesuatu yang ia sukai direbut. Ayato yang menerima lemparan pedang dari Raito, mulai melawan ayunan pedang Ricther. Tak ada yang membantu Ayato, semuanya hanya diam melihat. Berbeda dengan Yuki yang mendadak seperti tersadar dari lamunan panjangnya. Ia mendadak berdiri dari duduknya, membuat Azusa yang sejak tadi disampingnya heran.

"Yu-chan?"

Yuki yang hendak pergi dicekal lengannya oleh Yuuma yang menyadari keanehan dari adik perempuannya itu. "Oi, doko iku tsumori da yo omae?"

Tak ada jawaban yang keluar dari mulut Yuki. Gadis itu justru semakin terlihat seperti bukan dirinya ketika Yuuma memperhatikan dengan seksama. Ekspresi matanya begitu kosong seolah tak ada yang menghuni tubuh yang ia sentuh saat ini.

"Yuki!" seru Yuuma.

Bersamaan dengan seruan Yuuma, aroma darah langsung menyebar didalam ruangan ini. Dengan telak, Ayato menerima pedang Ricther tepat dipundaknya, seolah menghentikan pergerakan tangan cowok itu. Tak terima dengan kekalahan yang hampir telak itu, Ayato masih berusaha untuk bangun dan melawan dengan sisa tenaga yang ada.

"Yui... wo... tomenai to..." bisik Yuki pelan.

Yuuma langsung berpaling, menghadap Yuki yang sepertinya telah kembali pada dirinya sendiri. Raut wajah gadis itu begitu pucat seolah ketakutan akan sesuatu. "Apa maksudmu, Yuki?" tanyanya pelan, berusaha menenangkan adiknya itu.

Menggantikan kata – kata yang tak mau keluar, tubuh Yuki semakin menengang. Matanya melebar ketika menyadari aroma sosok itu menghilang, lenyap begitu saja yang digantikan dengan aroma Yui sepenuhnya. Menyadari arah tatapan Yuki, Yuuma segera mengikutinya. Sama seperti adiknya, dan mungkin dengan semua orang yang ada diruangan ini, semuanya terkejut melihat tindakan nekat itu.

Yui, yang berdiri ditangga dengan kedua tangannya memegang belati perak milik Subaru, menghadapkan mata belati itu kearah jantungnya. Disela rasa takutnya, Yui seperti membisikkan sesuatu yang seperti menguatkan tekadnya untuk melakukan hal ini.

Tanpa ada darahnya yang keluar, seolah tak memiliki darah dalam tubuh gadis cantik berambut pirang itu, mata belati itu tertancap mulus dijantungnya.


Kono akumo... owari ni shiyou : Ayo akhiri... mimpi buruk ini

Kochira ni irasshai watashi no itoshii musume, Yuki : Ayo kemari anak sesayangku, Yuki

Doko iku tsumori da yo, omae : Mau pergi kemana kau

Yui wo tomenai to : Harus menghentikan Yui