Persona 3: Petualangan Sang Kakak

Disclaimer: Persona 3 milik Atlus, Gundam milik Sunrise, Kamen Rider milik Toei dan Ishinomori Productions, Ultraman milik Tsuburaya production, Final Fantasy milik Square Enix.

Warning: OC, OOC dan kemungkinan ada character's dead*Author dibunuh* penuh dengan CrossHover dan GAJE.

Summary: Norn kini telah berevolusi menjadi Chronos. Bisakah semua orang menghentikan perbuatannya? Dan juga apakah ini akhir dari kontrak Reizato?


Selasa/23/06/2009, Dark Hour.

Iwatodai Dorm, Lounge.

Semua orang duduk dengan perasaan yang masih gelisah, terus bertanya di masing-masing pikiran mereka. Kenapa mereka lama? Apakah mereka berhasil? Apakah Yukari dan Selena berhasil mereka selamatkan? Kenapa hal ini harus terjadi? Itulah yang ada di pikiran mereka saat ini. Tiba-tiba Junpei berdiri dengan kedua tangan terkepal. Seperti kesal karena menunggu 2 orang yang membuatnya gelisah.

"Hah?" Tiba-tiba Fuuka-yang dari tadi duduk dan diam sambil menyatukan kedua tangannya, berdiri dari tempat duduknya. Membuat semua orang menatapnya karena heran, seperti baru mendapatkan firasat yang tak enak untuk dimakan tentunya. #Plak

"Ada apa, Yamaghisi?" panggil Mitsuru.

Wajah Fuuka terlihat pucat. "Tiba-tiba aku merasakan aura besar yang tak tertandingin yang keluar dari dalam Tartarus" jelasnya, membuat semua orang berdiri karena kaget.

"Ya-Yang benar?" Junpei kelihatan tak percaya. Fuuka mengangguk. "Apakah itu dari musuh atau mereka berdua?" tanyanya yang ingin tahu secara terperinci.

"Ini bukan dari Reizato-kun dan Arisato-kun, tapi... ini dari orang lain yang tidak kukenal. Sepertinya dari musuh!" Semua yang mendengar hal tersebut yang telah keluar dari mulut Fuuka, semakin gelisah.

Akihiko menoleh ke arah Mitsuru. "Mitsuru!" teriaknya seperti mau meminta perintah dari gadis berambut merah Crimson.

Mitsuru memejamkan mata sebentar seperti berpikir dan setelah itu membuka matanya dengan tajam. "Baiklah!" semua yang mendengarnya mulai bersemangat. Mereka semua membawa peralatan masing-masing dan pergi menuju Tartarus.

.

~Chapter 28: Goodbye my Goddes~

Selasa/23/06/2009, Dark Hour.

Tartarus, Monad Block lantai 10.

Yoshino yang berhasil mengendalikan Chronos, tertawa. "HAHAHAHAHAHA! Dengan begini... aku bisa kembali ke masa lalu dan mengubah jalannya takdir kejam yang di berikan oleh Tuhan yang kalian banggakan! HAHAHAHAHAHA!" suaranya menggema di setiap sudut ruangan tersebut, dengan membawa aura kuat yang aneh.

"Onii-chan! Kumohon hentikan semua ini!"

"Yoshino, Hentikan! kau kali ini sudah kelewatan! Kumohon, hentikan!"

Sayu dan Kizuka berusaha menghentikan Yoshino dengan nada memohon dan air mata yang membasahi pipi mereka masing-masing.

"Hentikan? Hentikan apa? Aku belum mulai!" jelas Yoshino. "Dan sekarang... AKANKU MULAI!" lalu menyuruh Chronos untuk membuat sebuah portal kecil dan perlahan-lahan menjadi besar.

"Rei-kun, tolong hentikan Nii-chanku! Tapi tolong jangan bunuh dia!" Sayu akhirnya memohon kepada Reizato yang ada di sebelahnya. Reizato yang melihat itu menggangguk dan menyuruh Joker untuk terbang mengalahkan Chronos. Sambil di temani oleh Orpheus, Atropos, Io dan Andromeda.

Yoshino sedikit menoleh ke arah belakang, menyadari kedatangan Persona-Persona yang mau menghancurkan rencananya. "Hm, kalian semua mau mencegahku? Oh tidak bisa~" sambil menggoyangkan jari telunjuknya, Chronos berhenti membuat portal dan maju menghadap 5 Persona tersebut. "Takdir kalian, kini aku yang menentukan!" teriaknya.

"Semua bersiap!" teriak Kizuka yang kini ikut kelompok Reizato.

"Oryaaaaaa!" Joker menebas Chronos.

"Hyper Clock up!"

[Hyper Clock Up!]

Sebuah cahaya hijau menyelimuti tubuh Yoshino dan Chronos.

SLASH!

Wush!

Namun di saat bersamaan, Chronos dan Yoshino menghilang setelah hampir terkena tebasan Joker. Membuat Reizato kaget beserta semua orang terkejut dan mencari Chronos juga Yoshino.

"Lemah..." Sebuah bisikan terdengar di belakang telinga Reizato, yang tak lain berasal dari Yoshino yang entah sejak kapan sudah berada di belakangnya. Begitu juga Chronos yang berada di balik punggung Joker.

"apa?" Reizato dengan cepat membalik badan ke belakang, namun sebuah tendangan dari Yoshino tepat mengenai perutnya dan membuat dirinya kesakitan hingga jatuh berlutut . "AAARGH!" Lalu memegangi perutnya yang sakit.

BUK!

Begitu juga dengan Joker yang di pukul oleh Chronos di perutnya setelah Choronos berhasil menunduk untuk menghindari tebasan Joker dan berhasil membuat baju besi Joker hampir retak.

"Rei-san!" Minato berlari ke arah Yoshino dan mencoba untuk menusuknya. Di ikuti dengan Orpheus yang memainkan harpahnya dengan menggunakan pedang di tangannya bagai memainkan sebuah biola untuk menciptakan api besar dan di tembakan ke arah Chronos.

"Hm," Yoshino kembali menghilang dalam sekejap dan membuat mata Minato melebar karena kaget setelah hampir menusuk Yoshino dari belakang. Bersamaan dengan Chronos yang berhasil menghindari bola api raksasa tersebut hingga bola itu menabrak lantai dan meledak.

"Dimana dia?" Minato kemudian menoleh ke segala arah sambil memutar –mutar tubuhnya.

"Rei-kun!"

"Nii-san!"

Sayu dan Yukari berlari ke arah Reizato.

"Tenanglah, kami akan menyembuhkanmu!" ucap mereka sambil berusaha menyembuhkan perut Reizato.

"Se-selena... Onii-chanmu kuat banget..." ucap Reizato dngan lemah sambil menahan sakit.

"Ma-maafkan Onii-chanku..." Sayu membuang pandangannya karena nama aslinya masih tidak di sebut oleh Reizato.

"Orpheus-Apsaras, Candeza!" Minato mengeluarkan Fussion skill Candezanya lagi agar semua orang yang ada di sana dapat bergerak dengan ringan. Tapi itu telah menguras banyak tenaganya hingga membuat pandangannya sedikit kabur karena kelelahan dan jatuh berlutut sambil menyanggah dirinya dengan cara menancapkan pedangnya ke lantai.

"Hey-hey, hati-hatilah menggunakan Skill. Kau bisa kelelahan karenanya sampai mati." ucap Yoshino yang berada tepat di hadapan Minato sesaat mengatakan hal tersebut.

"Diam kau!" Minato mencoba menusuk pedangnya ke arah Yoshino.

"Hehehehe..." Namun dengan cepat, Yoshino berhasil menghindar. "Tidak kena!" ejeknya.

"Yoshino!" Kizuka menembak Yoshino dengan pistol di kedua tangannya sambil berlari menuju ke arahnya.

Cklik

DHRO-DHOR-DHOR-DHOR!

Wush!

Namun sekali lagi Yoshino menghilangkan diri dengan cepat. Kizuka sudah berada tepat di depan Minato. "Bodoh! Kau seharusnya memperhatikan tenagamu sebelum memakai Skill yang dapat menguras banyak tenaga!" teriaknya pada Minato. Lalu memberi Minato sebuah botol berisi air berwarna kuning, "Ini tangkap dan minum!".

Minato menangkap botol itu yang bertuliskan Extra Joss dan langsung meminumnya. "hah~, terimakasih. Kini kelelahanku sedikit menghilang." ucapnya setelah menghabiskan isi botol tersebut dan kembali berdiri. Namun kizuka tidak membalas ucapan tersebut dan tetap memfokuskan pandangannya ke segala arah untuk mencari Yoshino.

"Yoshino tunjukan dirimu jika kau bukan seorang pengecut!" teriak Kizuka yang sedang mencoba memancing Yoshino.

"Kau benar Kizuka, aku memang seorang pengecut." Suara Yoshino terdengar berada di belakang Kizuka, sehingga membuat Kizuka dengan cepat membalikan badan. Namun tidak ada Yoshino di belakangnya. "Seorang pengecut yang lari dari takdir untuk mengubah hidupnya yang kejam ini!" Chronos muncul di hadapan Atropos dan dengan cepat memukul perut Atropos dengan keras hingga pukulan tersebut terasa pada pemilik Atropos yaitu Kizuka.

"Ugh!" Kizuka langsung terjatuh pingsan dan Atropos menghilang.

"Dan karena itulah, akan ku ubah takdir yang kejam ini dengan kembali ke masa lalu." Jelas Yoshino yang mucul di hadapan tubuh Kizuka.

"Orpheus!" Orpheus mengayunkan Persona Gearnya ke arah Chronos, bersama Minato yang mengayunkan pedangnya beberapa kali tapi .

"Kemudian, akan kujalani masa lalu yang ku ubah itu untuk masa depan yang cerah" Yoshino menghindari tusukan Minato dengan Skill Hyper Clock Up-nya dan dengan cepat menendang perut Minato dengan lututnya hingga membuat Minato berteriak kesakitan dan terlempar ke belakang. Namun dengan reflesk, Minato menancapkan pedangnya ke lantai agar tidak jatuh. Orpheus yang mengayukan Persona Gearnya yang berupa sebuah pedang, juga terkena tinju Chronos dan terhempas ke bawah hingga menabrak lantai.

"Argh! Uhuu-uhuk..." Minato tiba-tiba memuntahkan darah dari mulutnya dan jatuh berlutut. Darah yang belepotan di mulutnya, di hapusnya dengan tangannya.

"Minato!" Yukari menghampiri Minato. Tapi tiba-tiba Yoshino menghadang Yukari.

"Karena itulah, mungkin di sebut tujuan mulia" ucap Yoshino yang merentangkan tangannya ke depan. "Jadi, kalian yang mencoba menghalangi tujuanku, kemungkinan kecil tak akan berhasil!" kemudian sebuah es membekukan kaki Yukari.

Yukari mencoba bergerak, namun gagal. "Kakiku tidak bisa di gerakan" teriaknya.

"Yu-Yukari!" Minato berjalan mendekati Yukari. Namun Yoshino menghadang Minato dari samping.

"Dan benar saja, kalian tidak dapat mencegahku" Yoshino langsung memukul perut Minato lagi sampai pada akhirnya Minato memutahkan banyak darah dan pingsan di atas lantai berceceran darah.

"Hentikan! Jangan lukai Minato!" Yukari kembali berusaha meraih tangan Minato di hadapannya namun gagal.

"Onii-chan, Hentikan! Jika tidak, aku akan melawan dirimu!" Andromeda mengayunkan rantainya layaknya cambuk untuk mencambuk Andromeda. Tapi Chronos berulang-ulang berhasil menghindari cambukan tersebut. Chronos kemudian memakai Skill Bufunya untuk membekukan kaki Sayu sama seperti Yukari. "Tidak! Aku juga tidak dapat bergerak!" Sayu mencoba bergerak namun gagal.

Yoshino kemudian berada di hadapan semua orang. "Karena itulah, Akan ku rubah masa lalu kita untuk hari esok yang cerah!" sambil mengacungkan tangan kanannya dengan gagah berani.

"Ni-Nii-chan...!" Sayu hanya bisa memandang tajam ke arah kakaknya.

"Masa depan yang cerah, heh? HAHAHAHAHAHA!" Reizato yang perlahan bangkit, entah mengapa tiba-tiba tertawa jahat.

Yoshino kemudian menoleh ke arah Reizato. "Apa yang kau tertawakan?" tanyanya dengan jengkel.

Reizato kemudian membenarkan topi Fedora hitamnya di atas topeng Kamen Rider Joker,kemudian menunjuk Yoshino dengan tangan kanannya sambil menghadapkan badannya ke samping dan menoleh ke arahnya.

"Kau, Tidak akan mendapatkan masa depan yang cerah melalui hal bodoh seperti itu!" Reizato kemudian berjalan ke arah Yoshino. "Masa depan yang cerah, di dapatkan melalui usahamu menjalani hidup ini! Bukan melalui jalan dimana kau mengubah masa lalu!" Reizato kemudian melempar kartu Tarot Arcana Star ke arah Joker. Dua buah cakar lipat terpasang di kedua tangannya dan kini terbuka. Reizato kemudian melanjutkan kata-katanya, "Dan juga, kau seharusnya menjadi teladan yang baik bagi adikmu, Sayu." Kemudian meremas kartu Tarot Arcana Fool yang dapat memunculkan pedang putih di tangan kanannya.

Sayu yang mendengar nama aslinya di sebut, hanya bisa terkejut.

"DIAM KAU! KAU YANG TIDAK TAHU TENTANG HIDUPKU, JANGAN MENASEHATIKU?" teriak Yoshino.

[Hyper Clock Up!]

Setelah Chronos mengatakan hal tersebut, Yoshino dan Chronos menghilang dari pandangan Reizato.

"AKU MEMANG TIDAK TAHU APA-APA TENTANG HIDUPMU!" teriak Reizato dan bersiap meniru Skill Hyper Clock Up milik Chronos.

[Paste Mind! Hyper Clock Up!]

Setelah Joker mengatakan hal tersebut sama seperti Chronos, Reizato dan Joker akhirnya ikut-ikut menghilang.

TRANG!

DHOR-DHOR!

BRUAK!

WUSH!

Dua buah siluet hitam saling bertabrakan dengan kecepatan tinggi. Bersama dua buah siluet besar di atas mereka yang juga saling bertabrakan dengan keras.

.

"TAPI, KAU ADALAH ONII-CHANNYA SAYU, JADI LIHATLAH JUGA HIDUP ADIKMU!" Reizato melanjutkan perkataanya sambil bertarung dengan Yoshino.

"AKAN KU HANCURKAN KAU, SETELAH ITU, AKU AKAN KEMBALI KE MASA LALU UNTUK MEMBUAT MASA DEPAN YANG CERAH BAGI ADIKKU!" teriak Yoshino sambil berusaha menembak Reizato dengan Revolvernya tapi tak kena karena reflek Reizato sangat tinggi setelah mendapatkan skill Candeza dari Minato.

"SUDAHKU BILANG! MASA DEPAN YANG CERAH DI DAPAT DARI HASIL JUANG DIRIMU UNTUK MENJALANI HIDUP INI! APALAGI ADIKMU TIDAK SETUJU DENGAN USAHAMU!" teriak Reizato yang terus mengayunkan pedangnya ke arah Yoshino.

"AKU TIDAK MENERIMA SEMUA KEBOHONGANMU! KETIKA TAKDIRNYA KU UBAH, DIA PASTI SENANG!" Chronos berhasil memukul perut Joker, bersamaan itu juga Yoshino tersebnyum di balik topeng dan Reizato tengah memegang perutnya untuk menahan rasa sakit serangan Chronos. "HAHAHAHA! Sudah kubilangkan, usaha orang yang menggagalkan rencanaku tak akan berhasil!" ejek Yoshino.

"urgh!" Reizato memuntahkan darah dari balik topengnya hingga darah berlepotan di sekitar mulutnya akibat tinju yang menyakitkan tersebut. Tapi tidak lama kemudian, Reizato tersenyum licik di balik topengnya. "ini saatnya!" membuat Yoshino yang mendengar hal itu berhenti tersenyum.

SLASH!

Joker berhasil mencakar tubuh Chronos dengan dua buah cakar lipat di kedua tangannya. Membentuk huruf 'X' di perutnya. Membuat Yoshino merasa kesakitan di perutnya, tapi di tengah-tengah itu dia tersenyum karena menganggap remeh luka tersebut.

"Argh... luka ini memang benar-benar sakit. Tapi, karena aku memiliki skill Regeneration tingkat 3, maka akan sembuh dengan sendirinya" jelas Yoshino. Sebuah cahaya hijau menyelimuti tubuh Chronos dan menutupi luka perutnya. "HAHAHAHAHA!" dia kembali tertawa.

"Hm, memang benar skill Regenerationmu itu tinggi dan dapat menyembuhkan luka dalam sekejap. Tapi, bisakah Skillmu tersebut dapat menghilangkan racun dari dalam tubuhmu?" tanya Reizato yang membuat Yoshino kaget.

"A-apa? ugrh! Uhuk-uhuk..." Yoshino kemudian membuka topengnya dan memuntahkan darah di tanganya. "Ra-Racun? Bagaimana bisa?" tanya Yoshino yang kaget. Efek Hyper Clock Up untuk kedua orang tersebut menghilang.

.

"Sejak kapan kau melakukannya? Apa mungkin..." Yoshino segera tersadar. "Uhuk-uhuk..." dan kembali memuntahkan darah sampai dirinya terjatuh berlutut.

"Ya benar, cakar lipat Joker memiliki Ailment khusus di kedua belah cakarnya yaitu, Ailment Poison!" ucap Reizato. Tidak lama kemudian dia terjatuh berlutut dan memegang lantai agar tidak tersungkut ke tanah.

"Apa jangan-jangan saat menerima pukulanku tadi, kau..." Yoshino tidak percaya dengan apa yang ada di pikirannya.

Reizato membuka topengnya lalu menjatuhkannya di lantai dan tersenyum ke arah Yoshino setelah memakai kembali topi Fedora hitamnya. "Ya benar, aku memang sengaja untuk menerima pukulanmu agar bisa menyerangmu. Dan aku akui, tinju Chronos tadi sangat dashyat. Tapi, untuk orang sombong seperti dirimu, tinju begini saja, tidak dapat menghentikanku!" lalu kembali berdiri.

Sayu dan Yukari yang melihatnya hanya bisa terdiam sambil mencoba melepaskan diri.

"Kenapa? Kenapa bisa jadi begini? Uhuk-uhuk." darah kembali keluar dari mulut Yoshino. "Aku... tidak boleh kalah... di sini, aku... harus kembali... ke masa la... lu... uhuk-uhuk." Yoshino berusaha kembali berdiri, di temani dengan hiasan cairan merah lengket di permukaan bibirnya, serta ke adaan Chronos yang mulai bersiap untuk menghilang karena keadaan tuannya yang tidak memungkinkan untuk melanjutkan pertarungannya. Sayu yang melihat kondisi buruk kakaknya, mulai khawatir. "A-aku... uhuk-uhuk, harus... KEMBALI KE MASA LALU UNTUK MENDAPATKAN MASA DEPAN YANG CERAH DEMI SAYU!"

"ONII-CHAN HENTIKAN!"

Yoshino menoleh ke arah. "Sa-Sayu... uhuk-uhuk..." Terilhat Sayu menampakan expresi kesedihan mendalam di wajahnya. Butir-butir air mata berjatuhan dari kelopak matanya, membuat matanya sedikit bengkak karena menangis.

"Kumohon... Onii-chan berhenti melakukan hal bodoh seperti ini lagi, hiks... meski setiap malam aku selalu mengenang mereka sampai menangis, tapi kini... hiks... sekarang ada Rei-kun yang menemaniku." Sambil terus menangis hingga kelopak matanya makin bengkak, Sayu terus menjelaskannya. Dia lalu menyeka air matanya. "Dan itu saja, sudah merasa cukup bagiku, jika ada Rei-kun yang selalu menemaniku. Di tambah sekarang dengan ke hadiran Onii-chan. Jadi, hentikan perbuatan bodoh ini, Onii-chan!" lanjutnya sambil menahan air mata yang mau keluar.

Reizato kemudian teringat ketika Sayu menangis sambil memeluk kotak peti yang kini hancur sebelum kejadian dimana Minato pernah di culik oleh Miku gara-gara mengira Minato adalah Kaito.

"Sa-Sayu uhuk-uhuk... kau pasti berbohongkan!" bantah Yoshino yang mendengarnya.

Reizato yang mendengar perkataan Yoshino, mendekatinya. "Kau...!" lalu memukul wajahnya dengan keras sekali sampai darah kembali keluar dari mulut pria berwajah mirip Lockon Stratos tersebut, di saat bersamaan dengan Joker yang memukul wajah Chronos. "KENAPA KAU TIDAK MEMPERCAYAI ADIKMU SENDIRI! BUKANKAH DIA SUDAH BILANG PADAMU, DIA TIDAK INGIN KAU MELANJUTKAN HAL BODOH INI LAGI!" Menarik kerah bajunya, Reizato berteriak di depan wajah Yoshino yang hampir tak berdaya.

"Rei-kun HENTIKAN, INI SEMUA SUDAH CUKUP! REI-KUN!" Sayu mencoba menghentikan Reizato, tapi Reizato tidak mau mendengar.

Reizato kemudian memegang wajah Yoshino dan memaksanya menoleh ke arah sekitar. "COBA LIHATLAH SEKITARMU!" pintanya.

Yoshino melihat sekitarnya, di matanya terdapat Kizuka yang pingsan sambil menyebut namanya. Lalu Yukari yang kini bisa bergerak dan mencoba membangunkan Minato yang terus tak sadarkan diri sambil menangis. Dan terakhir adalah Sayu yang kembali menumpahkan tetesan kesedihan.

"MEREKA MENDERITA KARENA DIRIMU! APAKAH INI MASA DEPAN YANG KAU INGINKAN!" Reizato berteriak keras sekali lagi di wajah Yoshino. "Tengoklah Kizuka-nee, walau kau telah menghianatinya, tapi dia tulus mencintaimu. Apakah kau ingin membuang perasaan seseorang yang telah mencintaimu?" sambil menunjuk ke arah Kizuka, Yoshino sedikit membelalakan matanya. "Lalu lihatlah Sayu, adik kandungmu yang kini tengah menangis kembali hingga matanya bengkak. Apa kau mau membuat wajah cantik Sayu tinggal sejarah?" Yoshino kini melebarkan matanya, memandang Sayu yang membuang pandangan darinya. "Lalu terakhir, lihatlah 2 orang idiot di sana yang mereka kira diri mereka adalah Romeo dan Juliet. Juliet yang di sana adalah adik perempuanku dan Romeo yang tengah pingsan di sana adalah seorang pemalas yang sebenarnya pura-pura pingsan agar bisa tidur di atas pangkuan adiku." Sambil menunjuk ke arah Yukari dan Minato dan menjelaskannya dengan suara yang dapat di dengar oleh mereka, Minato yang ketahuan bahwa aksinya tersebut telah di ketahui oleh Reizato, bergidik gemetaran karena dirinya merasa ada tatapan membunuh yang di lancarkan ke arahnya dan itu tak lain dan tak bukan oleh Yukari. Sementara Yoshino yang mendengarnya malah Sweatdrop, tidak jadi terharu.

("Oh tidak, AUTHOR! KENAPA KAU MEMBERI COBAAN YANG BERAT PADAKU INI! Protagonis Persona 3 yang cakep, imut and Sekseh gene?") teriak Minato dalam hati.

"Mi~Na~To~!" Yukari mendeathglare wajah Minato dengan sepenuh hati yang masih pura-pura pingsan.

("O-oh... lebih baik aku bangun seperti habis tidur") Minato akhirnya membuka mata secara perlahan, lalu menguap. "Hoawm..." mengucek mata dan melihat sekitar lalu tersenyum ke arah Yukari. "Pagi Yukari..." dengan senyum manis tentunya dan menunjukan sisi Baby Facenya.

"KYAAAAAA MINATO!" Yukari langsung pingsan setelah melihat wajah Minato yang imut.

"Cepat sekali marahnya habis!" teriak Reizato yang terkejut melihat kejadian tersebut.

"Hey kau uhuk-uhuk... bisakah kau melepaskan tanganmu? Aku ingin memeluk adikku yang kini menangis." Dengan nada malas, Yoshino memohon kepada Reizato. Bersamaan itu juga, Chronos menghilang.

Reizato melepaskan cengkraman tersebut. Setelah itu, Sayu yang dapat bergerak, berlari ke arah Yoshino dan memeluknya.

"Onii-chan!" Yoshino dengan lemah menerima pelukan adiknya tersebut. Dirasa pelukan tersebut begitu kuat karena dia sendiri dalam ke adaan lemah akibat efek dari racun yang tidak dapat di sembuhkan.

"Sayu... ma-maafkan aku... Sayu... telah membuat dirimu... terus menangis hari ini..." air mata menetes dari kelopak mata Yoshino dan membasahi bahu Sayu.

"Aku maafkan, sebagai gantinya, Onii-chan harus jujur dan tidak boleh berbohong padaku lagi!" teriak sayu di telinga Yoshino hingga budek.

"Baiklah, tapi tolong lepaskan, ada yang harus Nii-chan lakukan." Yoshino melepaskan pelukannya dan berjalan menghampiri Kizuka yang masih pingsan tak sadarkan diri. Tak lama kemudian, dia akhirnya berlutut di hadapan Kizuka. "Maaafkan aku Kizuka, uhuk-uhuk... aku tidak bisa mengemalikan ke dua orang tuamu juga" penyesalanlah yang telah dia rasakan sesudah rencana yang dia simpan telah gagal, sekali lagi meneteskan butiran air matanya hingga mengenai pipi Kizuka.

Perlahan-lahan mata Kizuka terbuka, terlihat di hadapannya wajah seseorang yang di cintainya tersenyum lemah berlepotan darah. "Yoshino..." Kizuka membelalakan matanya. Dengan secepat mungkin, dia berdiri lalu menodongkan pistolnya dengan reflek. Tidak lama kemudian, dia mulai mencermati kondisi Yoshino, lalu melihat sekitarnya yang menandakan selesainya pertarungan tersebut. Tapi, dia masih tetap mengarahkan pistolnya pada Yoshino.

Yoshino kembali berdiri dalam keadaan lemah, "Ki... Zuka... uhuk-uhuk... maafkan aku...".

Kizuka tidak merespon, dia masih tetap menodongkan pistolnya.

"Ini semua salahku, aku sebenarnya tidak bermaksud untuk melukaimu. Aku sebenarnya hanya ingin kembali ke masa lalu untuk mencegah kecelakaan yang menimpa keluargamu. Aku hanya ingin kamu bahagia Kizuka-chan. Tapi... sepertinya dari awal aku memang salah dan tidak pantas untukmu. Aku telah membohongimu selama ini dan juga, maafkan aku telah membuatmu menangis... uhuk-uhuk..." sambil menahan rasa sakit dari dalam racunnya, Yoshino mengatakan semua hal tersebut tanpa jeda. Dengan menolehkan pandangannya di atas lantai yang berlumuran darah, dia sepertinya telah menyesali semua ini. "Maafkan aku Kizuka, Jika kau mau menembakku, silahkan. Karena aku... Karena aku sekarang tidak pantas untukmu lagi. Bunuhlah aku jika kau mau dan siksalah aku sesuka hatimu sampai kau puas... uhuk-uhuk..." Mengepalkan tangan dan menggigit bibirnya sendiri, itulah yang di lakukan Yoshino setelah mengucapkan semua kalimat tersebut.

"Yoshino..."

Yoshino mengangkat kepalanya dan dengan cepat, Kizuka mengulum bibir Yoshino. Membersihkan darah yang telah mengotori mulut Yoshino. Semua yang melihat itu kecuali Reizato yang sudah sekarat akibat melihat hal tersebut, hanya terkejut. Begitu juga Yoshino yang terkejut ketika hal itu menimpa dirinya secara langsung.

Kizuka kemudian memundurkan wajahnya setelah melakukan hal tersebut dan memandang wajah Yoshino dengan senyum kebahagiaan. Yoshino masih tetap terdiam, berusaha mencerna dengan otaknya kejadian yang baru saja di alami barusan.

"Jika kau mau aku maafkan, jangan lari dari takdir lagi, oke?" bujuk Kizuka sambil memegang pipi Yoshino dan memeluknya dengan erat. "Dan jangan pernah... berbohong padaku..." lanjutnya, berbisik di telinga Yoshino.

"Baik..." Yoshino membalas pelukan tersebut dengan lemah.

Reizato menoleh ke arah Minato. "Minato, pakai Apsaras dan gunakan Posumudi untuk menghilangkan racun yang berada dalam tubuh Onii-channya Sayu!" dengan nada lemas karena sedang menahan rasa sakit akibat efek tinju Chronos yang masih terasa dan juga melawan Phobianya tersebut. Sayu yang menyadari hal itu, segera menyebuhkan Reizato. Minato segera mengganti Orpheus dengan Apsaras untuk menyembuhkan racun dari dalam tubuh Yoshino. Tidak lama setelah Yoshino sembuh dan berhenti memeluk Kizuka.

.

"Ayo kita pulang, Yoshino..." Kizuka menjulurkan tangannya.

"Ayo..." Ketika Yoshino menerima uluran tangan Kizuka,

DHOR-DHOR-DHOR!

Dari arah belakang, tiga butir peluru menembus punggung Kizuka. Membuat Kizuka tanpa sengaja memuntahkan darah ke wajah Yoshino dan terjatuh tepat di pelukannya, membuat Yoshino secara reflek menangkapnya. Yoshino yang tadinya senang, kini shock dengan hal yang ada di depannya.

Semua yang melihatnya hanya bisa terdiam dengan mulut ternganga sedikit sambil membuka mata mereka lebar-lebar. Berusaha mencerna kejadian yang baru saja mereka lihat sekali lagi.

"Ki-Kizuka..." Yoshino yang masih belum mencerna seluruh kejadian tersebut karena shock, memandang Kizuka yang berlumuran darah di pelukannya. "Ki...zuka...?" tanyanya.

Kizuka yang dalam keadaan diantara sadar dan tak sadar, tersenyum lemah di pangkuan Yoshino dan memandang wajahnya untuk yang terakhir kali dalam hidup ini. Dia lalu menyentuh pipi Yoshino dengan darah di telapak tangannya, mengotori pipi Yoshino dengan darahnya. Yoshino memegang tangan halus bening belumuran darah tersebut dengan tegangnya.

"Yo...shino..." dengan suara lemah, dengan senyum tipis yang terhiasi oleh darah, dan dengan nafas yang tersengal-sengal, Kizuka menyebut nama kekasihnya. Kata terakhir dalam hidupnya yang di ucapkan untuk orang yang di sayanginya. Dalam kegelapan yang telah menutup kelopak matanya yang indah. Tertidur dengan damai di dalam pelukan sang kekasih yang telah lama menipunya. Di atas penderitaan dunia yang harus di selesaikan oleh kekasihnya sendirian. Dan telah memberinya masa depan yang gelap.

Tangan yang telah di pegang erat olehnya, kini di lepasnya dan tergeletak kaku di atas lantai berdarah. Keputus asaan menghampiri Yoshino. Ditemani dengan luka jiwa yang menyelimuti matanya. Luka yang tak akan pernah bisa terhapus karena rasa bersalah yang mendalam di ufuk fajar. Dengan alunan melodi kematian yang telah mengambil nyawa sang kekasih.

"KIZUKA!"

Melihat itu, Yukari kemudian memendamkan wajahnya di dada Minato, tidak tahan melihat kejadian naas di hadapannya. Begitu juga dengan Sayu yang sedih melihat kakaknya kehilangan orang yang paling berharga di hadapannya. Minato hanya bisa terdiam dan memejamkan matanya sambil memeluk erat Yukari. Sedangkan Reizato, hanya bisa mengalihkan pandangannya dan mengepalkan tangannya, terlihat air mata membasahi pipinya.

"KIZUKA, BANGUNLAH! KIZUKA! BUKANKAH KITA AKAN PULANG BERSAMA DAN MENJALANI MASA DEPAN? KIZUKA?" teriakan marah bercampur sedih keluar dari Yoshino dengan wajah sedih yang telumuri oleh darah kekasih yang tertidur untuk selama-lamanya.

Dan setelah tu, terdengar suara tawa di sudut ruangan yang dapat di dengar oleh seluruh orang yang ada disana. Mereka kemudian mengalihkan pandangan ke arah sang penembak yang ternyata adalah Shadow Reaper. Tapi ada yang berbeda dengan Shadow yang selalu di lawan oleh Minato dan teman-temannya jika terjebak dalam perangkapnya. Yakni Shadow Reaper yang di hadapan mereka, berjubah putih dengan di kelilingi rantai emas dan memegang dual Revolver emas.

"Reaper!" teriak Minato yang terkejut, namun dia akhirnya menyadari keanehan pada Reaper tersebut. "Apakah ini... the Great Reaper?" tanyanya.

[HAHAHAHA! Manuia memang lemah!] The Great Reaper tersebut tertawa dan dapat berbicara, membuat semua orang terkejut kecuali Yoshino yang masih memandang wajah Kizuka dengan tatapan kosong. [Perkenalkan, namaku Pluto. Aku datang hanya untuk satu tujuan, yaitu membunuh kalian semua yang ada di sini!] ucapnya.

"Diam..." Yoshino mengucapkannya dalam nada yang pelan, lalu memakai topengnya Kamen Rider Kiva kembali.

["Hah? Kau bilang apa? tadi aku tidak dengar, mungkin karena kau menangis layaknya bayi ketika kau kehilangan bonekamu, HAHAHAHA!]" ejek Pluto.

"DIAM!" Yoshino mengambil pistol milik Kizuka dengan tangan kirinya dan mengambil Revolver Cerberusnya dengan tangan kanan. Dia lalu berdiri dan membidik Pluto dengan hawa pembunuh yang begitu kuat. "Kau... kau...!"

JTAR!

Chronos muncul kembali seperti sebelumnya. Namun kali ini di selimuti dengan aura hijau membara. Mata kanan Yoshino bersinar hijau hingga terbentuklah api hijau di matanya. "TAK AKANKU MAAFKAN!" dengan nada amarah yang di penuhi dendam, rasa benci yang menusuk jiwa karena di tinggal mati oleh sang dewi yang telah lama menemaninya. Akibat Takdir tak memihak siapapun. Meski akhirnya, takdir tersebut akan berakhir kepada kematian. "LOCKON STRATOS! BIDIK DAN TEMBAK!" di dalam sebuah kalimat sang penembak jitu Calestial Being. Menargetkan 1 halaman putih di hadapannya yang di sebut dengan the Great Reaper. Dengan memegang 2 senjata yang siap di tembakannya. Berharap setiap butir peluru dapat memuaskan nafsu dendam dan amarahnya.

CKLAK!

Walau dia tahu, dengan cara tersebut tak akan bisa mengembalikan kekasihnya.

DHOR!

Goodbye My Goddes

To Be Continue


Akhirnya selesai juga, walau saya dalam keadaan UAS. Maaf jika updatenya lama, soalnya habis menimbah ilmu dengan cara membaca novel Highschool DXD(yang berumur 17 ke bawah, jangan coba-coba membacanya).

Oke, bagaimana cara pengetikannya? saya mempelajarinya dari novel tersebut dan di tambah dari cerita para Author Fanfiction Indonesia semua. terima kasih semuanya, karena kalian, cerita ini berjalan walau di berakhir dengan sedih.