Bagian 2 "Seoul, South Korea"

~ Chapter 26 ~

Cast :

VIXX N as Yeonie & Cha Hakyeon (GS)

VIXX Leo as Leo & Jung Taekwoon

DBSK Max as Shim Changmin

Yoo Jaesuk as Yoo Ssaem

VIXX Hongbin (GS)

JYJ Yoochun as Shim Yoochun

2PM Junho as Junho

Super Junior Kyuhyun as Kyuhyun (GS)

Super Junior Henry as Henry (GS)

Super Junior Sungmin as Sungmin (GS)

~ AERIAL ~

Tolong kamiiiiiiii!

"Hah?!"

Gubrakkk!

"SIAL!"

Shim Changmin yang duduk di deretan meja paling belakang terlonjak keras dari tidurnya hingga bangkunya terbalik dan ia jatuh terjungkal menghajar tembok di belakangnya.

"Aduh… apaan sih itu tadi?" Ia mengelus-elus kepalanya yang nyut-nyutan.

Suasana yang tadinya hening, karena semua mendengarkan penjelasan Yoo Ssaem tentang perang saudara di Amerika Serikat—panjang dan membosankan—langsung berubah jadi makin hening. Lebih cocok diesbut kuburan daripada kelas Sejarah.

Suara perempuan… siapa dia? Kenapa minta tolong? Ia melirik ke kanan-kiri, berharap suara itu berasal dari slaah satu teman cewek di kelas, tapi saat ini semua orang sedang konsen sama Sejarah.

Changmin mengelap keringat dingin yang mengalir deras di kening dan lehernya. Saking bosannya mendengarkan uraian bertele-tele Yoo Ssaem, ia jadi ketiduran di mja dan bermimpi sangat aneh—kalau peristiwa tadi itu bisa dibilang mimpi.

Dan sesaat sebelum Changmin akan membuka kelopak matanya yang terasa berat, ia seperti dapat melihat rekaman peristiwa di otaknya, seperti video yang diputar secara fastforward, cepat namun sangat jelas; mulai dari seorang gadis bernama Yeonie menyelinap ke daratan mengambang Aerial di hari ulang tahunnya… pertemuan pertama kali gadis ini dengan Leo, makhluk Kegelapan seperti vampire (tidak bisa terkena matahari) tapi bedanya mereka tidak bertaring… perang yang berlangsung turun-temurun antara negeri Kegelapan dan Cahaya… konspirasi Penasihat Siwon dan antek-anteknya, sampai pada ritual Animus Accesor, yang keadaannya sangat genting.

Changmin tidak sekedar melihar semua itu—ia bahkan dapat merasakan tiap denyut kejadiannya! Seperti dirinya ikut mengalami apa yang dialami orang-orang ini.

"Yeonie, dan Leo. benar-benar menakjubkan…," bisik Changmin, masih berpikir sambil menopang dagu dengan kedua tangannya.

Brak!

Sebuah penggaris kayu besar menggebrak permukaan mejanya.

"Memang benar-benar heboh teriakanmu tadi, Shim Changmin." Ujar Yoo Ssaem, terlihat murka.

Changmin mengangkat muka dan melihat sekeliling. Teman-temannya semua menahan tawa, tampak excited menunggu hukuman apa yang akan dijatuhkan kepadanya.

"M-Maaf." Changmin memilih menundukkan kepala saja daripada Yoo Ssaem semakin mengamuk.

"Apa penyebab utama pecahnya Perang Saudara di Amerika?"

"Hah?" Changmin mengernyitkan kening, planga-plongo sesaat, baru setelah itu mulutnya ngoceh sendiri, "Karena pas Lincoln memenangkan pemilu, sebelas Negara bagian yang mendukung perbudakan memisahkan diri dari AS dan membentuk Negara Konfederasi Amerika."

"Seharusnya 'saat', bukannya 'pas'. Gunakan Bahasa yang baik dong."

Changmin manggut-manggut aja. Nah, Ssaem sendiri pake 'dong'.

Jawaban Changmin tadi memang benar tapi tetap saja Yoo Ssaem nggak terima. Guru sejarah ini masih nyap-nyap menguliahinya tentang sopan-santun. Siswa di kelas. Changmin hanya mengangguk-angguk dengan pikiran melayang ke mana-mana.

"Sekarang berdiri di luar. Bawa textbook dan alat tulismu juga. Suara saya kedengeran kan sampai di luar?" Yoo Ssaem tersenyum iblis ke arah Changmin.

Changmin hanya melengos. Dari tadi mau konsentrasi mengurai mimpinya susah banget karena Yoo Ssaem masih belum puas mendampratnya.

Tapi baguslah keluar. Di sana lebih bisa mikir, batinnya.

Sebelum beranjak pergi ia melirik sedikit ke kursi pada arah serong kirinya, ke satu-satunya sosok yang tidak ikut menertawainya, yang malah asyik sendiri memandang ke jendela luar, pada beberapa burung kutilang yang bertengger di dahan pohon panjang yang menjulur ke dekat jendela kelas.

Yeonie. Hakyeon.

Changmin menelaah sebentar gadis hitam manis berambut sebahu dan terkenal aktif di klub pecinta alam ini. Namanya Cha Hakyeon. Walau secara keseluruhan ia terkesan pendiam dan tenang, sekalinya ngobrol dan bertatap muka, akan keliatan bagaimana manik matanya bergelore. Bersemangat seperti matahari di awal pagi.

Walau sama-sama duduk di kelas 11 IPS-A Seoul High School, Changmin nggak begitu dekat dengan Hakyeon. Tapi ia tahu cewek ini baik dan tidak sombong walaupun Hakyeon adalah anak bungsu—cewek satu-satunya—dari "mafia" property tersohor, keluarga Cha, pemilik beberapa apartemen, kondominium, dan resor A-class di Seoul dan Jeju.

Kembali ke topic mimpi ajaibnya, bahwa Changmin sekarang nggak akan kaget atas pengalaman seperti tadi. Beberapa bulan belakangan ini ia menemukan dirinya memiliki kemampuan yang cukup aneh; ia bisa melihat dan berkomunikasi dengan roh, makhluk halus—ia juga bisa menangkap sinyalsinyal yang sifatnya gaib, inhuman, dan tak kasat mata.

Terdengar biasa? Awalnya Changmin juga mengira begitu. Ngeliat roh gentayangan pas ia melintas kuburan tua saat menempuh rute terpendek pulang ke rumah, atau mendapati makhluk halus mirip kurcaci yang sedang mengeruk-ngeruk tanah pada kaki pelangi di permukaan bui demi mencari kendi berisi emas—semua itu adalah hal yang belakangan nggak asing lagi di matanya.

Tapi mendapat sinyal SOS, apalagi mendengar jeritan suara perempuan kecil dalam bahasa yang tidak ia kenal tapi dapat ia mengerti, itu benar-benar hal baru baginya.

Dengan ogah-ogahan Changmin berdiri di koridor luar kelas, mencatat tugas untuk minggu depan dan bahan untuk History trivia quiz mendatang. Changmin nggak suka hal-hal detail, makanya ia nggak suka segala bentuk trivia quiz di sekolah. Apalagi ini sebagian besar waktunya di kelas kan nggak hanya diisi dengan kegiatan menyimak pelajaran aja, melainkan ia sekalian harus alert kalau ada roh jahat yang muncul atau makhluk gaib yang ingin mengganggu orang.

Itu sudah bagian dari kewajiban dank ode etik yang harus ia taati walau belum secara resmi diberlakukan oleh secret society di keluarganya. Tidak seperti Shim Yoochun, kakak tertuanya yang kini sudah official mengemban tugas penting dengan kemampuan istimewa yang dimilikinya.

Kalau dipikir-pikir keluarga, keluarga Changmin memang terdiri atas orang-orang yang (mungkin, di mata masyarakat) terlihat ajaib-ajaib, makanya sejak tadi terbangun dan mempelajari isu barunya, ia berharap bisa menyelesaikan sendiri aja.

Dan isu berunya ini ternyata melibatkan beberapa orang, nggak bisa dikerjakan sendiri. Orang pertama ya itu tadi, Cha Hakyeon. Yang kedua—dan ini yang bikin Changmin males banget—adalah ia juga harus berurusan dengan Taekwoon.

Satu-satunya Jung Taekwoon di Seoul High School (mungkin juga di dunia!), si anak judo (udah sabuk hitam, bro!), preman sekolah dengan tato swastika di telapak tangannya, pernah menghajar anak Hyundai Senior High School sampai koma gara-gara sepupu ceweknya digangguin saat clubbing, petarung sejati, dan (ini yang bikin Changmin iri berat) Taekwoon ini anak 11 IPA-B. berangasan tapi pintarnya setengah mati. Otak sama tangan sama cepat bereaksinya.

"Namanya Hongbin," Changmin bergumam. Saking asyiknya melamun, ia tidak sadar, tubuhnya bergerak sendiri kea rah ruangan kelas 11 IPA-B . "Gadis dari kerjaan entah-berantah itu seperti ketakutan setengah mati. Desperate banget. Apa yang sedang terjadi di sana?"

Mengapa ia menghubungiku?

Hongbin, si gadis yang suaranya terdengar oleh Changmin, adalah adik Putri Matahari di salah satu kerajaan di negeri entah-berantah itu. Putri Matahari sendiri merupakan istilah orang-orang negeri itu untuk putri tertua di kerajaan yang nantinya akan menjadi "ibu" dari semua rakyat.

Intinya, dua kerajaan di negeri tersebut saling berperang dan di antara wilayah keduanya dibatasi oleh dataran melayang bernama Aerial. Seharusnya Aerial menjadi daerah netral, tempat terlarang yang tidak boleh dijamah. Namun si Putri Matahari alias Yeonie yang berjiwa petualang penasaran untuk bisa menjejakkan kaki si situ. Leo si Pangeran Kegelapan dari negeri seberangnya juga berpikiran sama. Jadilah mereka bertemu, saling jatuh cinta, dan menjadikan Aerial tempat bertemu mereka berdua.

"Cih! Bikin repot ala," ucap Changmin. "Kenapa juga harus jatoh cinta segala? Kayaknya kalo pada perang sekalian malah nggak akan kayak begini jadinya." Nggak bikin gue harus nyamperin Taekwoon!

"Oiii, Min!" panggil Junho, salah satu sahabat Changmin yang terkenal biangnya kimia dan matematika serta selalu menyempatkan diri menjadi aktivis lingkungan hidup, dari depan kelas IPA.

Junho sekelas dengan Taekwoon dan Kyuhyun, sahabat Changmin juga—cewek—yang bisa dibilang mantan cinta pertamanya yang nggak kesampaian. Awalnya dulu Changmin pernah sirik banget sama Junho karena bisa sekelas dengan Kyuhyun—bisa selalu berada di dekat Kyuhyun—tapi sekarang ia malah bersyukur. Bersama Kyuhyun memang lebih baik menjadi sahabat "gegilaan". Dengan kekuatan baru seperti ini, cinta hanya akan menjadi pendistraksi, bahkan penghalang misinya saja.

Changmin menghampiri Junho, ngobrol sebentar. Rupanya kelas mereka baru selesai olahraga.

Kyuhyun melintas di situ dengan raket tenisnya. Di tangan cewek ini erdapat hand-band biru muda pemberiannya dulu. Ia melambaikan tangan kea rah Changmin, tapi lalu diajak ngobrol Henry dan Sungmin sehingga komunikasi hanya sampai di situ. Changmin dan Kyuhyun sama-sama penggila tenis, tapi sejak Kyuhyun aktif magang di pabrik kosmetik Etude House, Changmin jadi kehilangan lawan yang sama kuatnya.

Junho ikutan cabut dengan anak-anak lain ke kantin untuk beli cemilan.

"Taekwoon?" Changmin menahan anak terakhir yang berjalan ke kantin.

"Eh, elu, Min. Mau apa?" Taekwoon menatap acuh tak acuh, membuat Changmin makingrogi dan bingung bagaimana memulainya.

"Ada apa sih?" Diamnya Changmin membuat suar Taekwoon meninggi. Dikalungkannya handuk di leher, semakin mengukuhkan gaya nih anak yang kayak preman pasar tulen.

"Elu baekan aja deh sama Hakyeon."

Akhirnya Changmin memutuskan untuk mengatakan langsung secara gamblang, tanpa intro, tanpa basa-basi. Ia tunggu perubahan raut muka Taekwoon setelah ini; perlahan-lahan keningnya mengerut, kedua matanya terpicing, sampai mulutnya melengkung ke bawah. Cemberut campur murka.

"Lu udah gila ya?" tanya Taekwoon, suaranya tidak keras tapi mematikan. Changmin sempat malu dan kesal sendiri karena belum-belum ia sudah takut duluan.

Changmin tidak menggubris omongan kasar itu. Ia tetap pada niatan awalnya: membujuk—menyuruh Taekwoon mengikuti kemauannya, apa pun caranya. "Nggak. Gue nggak gila. Tapi, ayolah, elo dan Hakyeon nggak bisa teru-terusan musuhan hanya gara-gara persaingan keluarga kalian, kan? Lagi pula," ia berhenti, menelan ludah sambil mengulum senyum, "elo dan Hakyeon serasi banget kok kalo jadi pacar."

Hening.

Lalu Taekwoon yang lebih dulu tersenyum.

Changmin hampir melompat kegirangan, tidak menyangka semua akan semudah ini.

"LU BENER-BENER MAU CARI MATI AMA GUE, YA?!"

Teriakan Taekwoon nggak hanya menghentikan napas Changmin sesaat, tapi juga seluruh aktivitas di sekeliling mereka.

Sambil negloyor pergi, Taekwoon berkata, "Berani-beraninya ikut campur! Jangan ngomong ke gue tantang beginian. Ngomong tuh ke Hakyeon dan antek-anteknya. Mentang-mentang keluarganya kebanyakan pejabat dan punya banyak network di mana-mana—kalau bisnis yang fair dong! Cih!"

Antek-antek yang dimaksud Taekwoon tuh tak lain adalah keluarga besar Hakyeon yang ikut berkecimpung di bisnis property. Hakyeon sendiri terlihat tidak menaruh minat besar pada bisnis keluarganya, tapi kalau udah berurusan ama bibi, paman, bahkan sepupu—sepupu gadis ini, Taekwoon nyaris angkat tangan. Kadang dia berharap seharusnya premanisme diizinkan aja di Seoul untuk ngebasmi orang-orang licik kayak mereka!

Changmin masih bengong di tempat, bukan lantaran takut tapi takjub. Gile… ternyata Seoul punya Romeo & Juliet versinya sendiri; dua keluarga besar dan cukup berkuasa, Cha dan Jung, cekcok dari zama dulu sampai sekarang.

Tapi bedanya kalau keluarga Montague dan Capulet punya anak-anak yang crazy in love satu sama lain, maka masalah utama yang dihadapi Changmin adalah Hakyeon dan Taekwoon cocok diberi label "crazy in hatred" satu sama lain. Mereka nggak pernah akur sejak awal masuk SMA—atau mungkin ini sudah berlangsung sebelum Changmin kenal keduanya.

Padahal untuk menolong Hongbin, si gadis kecil dari dunia lain itu, untuk bisa mencegah pecahnya perang besar diantara dua klan di sana, Changmin harus bisa meyakinkan Hakyeon dan Taekwoon untuk menyatukan perasaan mereka—atau minimal untuk tidak saling membenci deh.

Untuk memperkuat jiwa Putri Yeonie dan Pangeran Leo yang sedang berjuang di negeri antah-berantah itu dibutuhkan persatuan cinta dari jiwa penjaganya, yaitu Hakyeon dan Taekwoon.

Dan menurut Hongbin, Changmin punya waktu yang sangat singkat. Tidak sampai seminggu. Padahal sampai kini ia benar-benar tidak tahu bagaimana cara membuat Hakyeon dan Taekwoon mau saling ngobrol dulu. Nggak usah muluk-muluk ampe cinta sehidup-semati dulu. Bisa berdiri alam radius kurang dari lima meter aja udah bagus!

Changmin geleng-geleng kepala, ngeloyor ke koridor sebelum Yoo Ssaem menyadari anak didiknya ngilang sejak tadi.

"Fiuhh! Lebih baik urusan ama hantu deh daripada ama preman kayak gitu!"

~To Be Continued~

Umm, saya kurang tau apa di korea selatan ada kelas IPS-IPA juga atau nggak, jadi kalo nggak ada yaa… anggep aja ada nee… hehe

Dan mengenai bahasa yang ala-ala anak gahol Jakarta, memang sengaja nggak saya rubah, semoga nggak aneh..

Maaf kalo banyak typo atau ada salah2 kata dan lainnya. Buat yang udah meluangkan waktu baca ff ini, dan buat yang udah review, fav follow,

Arigatou~ Thank You Very Gamsa~ :*