27
JANJI YANG TERINGKARI
.
.
.
Note:
Kindly use your imagination while reading this story.
Selama beberapa saat, tidak ada yang tahu dari mana asal bunyi ketukan itu. Kemudian terdengar ketukan lagi, kali ini lebih keras.
Ada seseorang di balik pintu Never.
"Sirkus sudah ditutup!" raung si serigala.
Dua ketukan lagi.
"Kupikir guru-guru terkurung di kamar mereka," bisik Baekhyun, tatapannya melekat pada Chanyeol.
"Itu jelas bukan guru," Kyungsoo balas berbisik. Dia menangkap tatapan Amber di seberang lorong. Kedua gadis itu menoleh ketakutan ke pintu yang bergetar karena ketukan kuat.
"Kau tidak dipersilakan masuk!" suara serigala bergemuruh.
Ketukan itu berhenti.
Kyungsoo menghela napas.
Kemudian perlahan, secara ajaib pintu itu berderit membuka dengan sendirinya.
Sosok berbalut tudung hitam berjalan pelan memasuki Teater Dongeng. Ratusan pasang mata menyaksikan sosok asing itu melenggang di sepanjang lorong. Langkah kakinya pelan, bagian bawah jubah kulit ularnya terseret di belakangnya bagai ekor gaun pernikahan.
Dengan mulus dan tanpa suara, si bayangan hitam menaiki tangga dan diam berdiri di bawah Mahkota Sirkus. Sisik jubahnya gemerlapan di bawah cahaya lilin, kepalanya tertunduk seperti kepala kelelawar.
Pintu terbanting menutup.
Jari-jari pucat merayap dari bawah jubah dan menarik tudungnya ke belakang.
Soojung menyoroti para penontonnya. Hidung dan dagunya dirusak oleh kutil. Rambutnya yang dicat hitam bebercak putih. Matanya yang berwarna hijau zamrud kini kelabu kelam. Kulitnya begitu tipis sehingga urat-urat darahnya terlihat.
Perlahan dia menelusuri kerumunan penonton, menikmati wajah-wajah ketakutan dengan senyuman mengejek yang semakin lebar.
Kemudian dilihatnya Kyungsoo, megah berbalut gaun biru tua, lalu senyumnya hilang. Soojung menatapnya, pupil mata kelabunya meredup ngeri.
"Ternyata kita punya seorang putri baru," ucapnya pelan. "Cantik, ya?"
Kyungsoo balas menatapnya, tak merasa kasihan lagi, tak merasa keinginan untuk menyenangkan hati sahabatnya.
"Tapi lihatlah baik-baik, Anak-anak, bahwa sesungguhnya dia seorang vampir, datang untuk mengisap jiwa kita," Soojung melirik sadis. "Karena dia sendiri tidak punya jiwa."
Kyungsoo gemetar di balik gaunnya. Namun dia mempertahankan tatapan sayunya sehingga Soojung tiba-tiba menoleh pada Kai dan tersenyum.
"Kaiku sayang! Senang bertemu denganmu di sini. Kurasa ada pertandingan yang harus kita selesaikan."
"Sirkus sudah selesai dan pemenangnya sudah dinobatkan," sembur Kai.
"Begitu, ya. Lalu itu apa?" Soojung menjulurkan jari kurusnya ke atas dan semua mendongak ke arah Mahkota yang melayang di udara, masih belum diserahkan pada siapapun.
"Ini buruk–sekali," Amber berkata pada Victoria.
Kai berdiri dari bangkunya.
"Pergi saja," bentaknya pada Soojung. "Sebelum kau membodohi dirimu sendiri."
Soojung tersenyum. "Takut, ya?"
Dada Kai menggembung, berusaha menahan diri. Dia bisa merasakan tatapan para Ever tertuju padanya, sama seperti di Tanah Lapang saat Soojung mengungkap janjinya.
"Tunjukkan pada kami, Kai," kata Soojung dengan manis. "Tunjukkan sesuatu yang tak dapat kutandingi."
Kai menggertakkan giginya, melawan harga dirinya.
Tiba-tiba mata Vex menangkap spanduk "TIM JAHAT!" yang hangus di lantai. Matanya bersinar penuh harap.
"TUNJUKKAN!" teriaknya, lalu menyikut Zitao yang langsung bergabung. "TUNJUKKAN! TUNJUKKAN!" Anak-anak Never bersorak serentak, begitu bernafsu ingin merebut kemenangan dari ambang kekalahan.
"Jangan–stop!" teriak Amber saat dia dan Victoria berbalik.
Para penjahat membentak mereka seakan mereka pengkhianat dan kedua penyihir itupun cepat-cepat ikut bersorak.
Sementara sorakan anak-anak Never bertambah keras, Kai tetap bergeming. Anak-anak Ever gelisah di bangku mereka, tak sabar ingin melihat sang Kapten menerima tantangan itu. Semua kecuali Kyungsoo yang memejamkan mata.
Jangan lakukan. Itulah yang diinginkannya.
Raungan serak bertambah gaduh. Mata Kyungsoo terbuka lebar-lebar.
Kai naik ke atas panggung.
"Jangan!" jeritnya, tetapi sorakan kedua pihak menelan suaranya.
Soojung dan Kai berdiri berhadapan pada jarak sekitar dua meter. Soojung tersenyum senang dan sang pangeran balas menatap tajam. Keduanya tak mengatakan apapun sementara sorakan Never beribah menjadi "JAHAT! JAHAT!", sementara Ever melawannya dengan "BAIK! BAIK!". Guntur bergemuruh di kejauhan dan sorakan bertambah riuh dan keras, mengalahkan suara petir yang hebat.
Tubuh Kai menegang hingga tulang pipinya semakin terlihat, sementara senyuman Soojung bertambah lebar. Kyungsoo menggeleng lebih kencang sambil ketakutan, melihat senyuman Soojung bertambah seram, mengejek, hingga akhirnya sang pangeran memerah karena marah, jarinya berpendar emas, dan saat dia terlihat hendak menyerang–
Dia berlutut.
Seisi aula terperanjat.
Sorakan kemenangan anak-anak Never menggelegar. Kyungsoo pucat pasi.
Seraya mendesah kasihan, Soojung berjalan mendekati sang pangeran yang berlutut. Dengan lembut, disentuhnya rambut kuning sang pangeran, dan menyipit ke mata birunya yang bergetar.
"Akhirnya aku mengerjakan PR-ku sendiri. Mau lihat?"
Ekspresi Kai bertambah keras. "Masih giliranku."
Dia menghunuskan pedang latihannya dan Soojung mundur. Namun bukannya menyerang, Kai tetap berlutut, berputar ke arah penonton, mengulurkan pedangnya ke satu arah dengan keyakinan penuh dan tekad yang kuat.
"Do Kyungsoo dari Hutan Luar."
Dia meletakkan pedangnya.
"Maukah kau menjadi putriku di Pesta Dansa?"
Soojung mematung. Anak-anak Never berhenti bersorak.
Dalam keheningan mencekam, Kyungsoo berusaha mengatur napasnya. Kemudian dilihatnya wajah Soojung, rasa terkejutnya meleleh menjadi kepedihan. Saat menatap mata sahabatnya yang cekung dan ketakutan, Kyungsoo kembali tergelincir ke dalam liang keraguan.
Hingga seorang pemuda menariknya kembali.
Seorang pemuda yang tengah berlutut, menatapnya dengan cara yang dilakukannya melalui goblin, peti, dan labu.
Seorang pemuda yang telah memilihnya sejak lama sebelum mereka menyadarinya.
Seorang pemuda yang kini meminta dia untuk memilihnya.
Kyungsoo membalas tatapan sang pangeran.
"Ya."
"Tidak!" Seulgi memekik dan melonjak.
Jaehyun berlutut di depannya.
"Seulgi, maukah kau menjadi putriku di Pesta Dansa?"
Satu per satu, cowok-cowok Ever berjatuhan dan berlutut di depan para gadis Ever pilihan mereka.
"Reena, maukah kau menjadi putriku di Pesta Dansa?" tanya Nicholas.
"Giselle, maukah kau menjadi putriku di Pesta Dansa?" tanya Tarquin.
"Luhan, maukah kau menjadi putriku di Pesta Dansa?" tanya Sehun.
Anak-anak lelaki berjatuhan dalam irama yang indah, tangan terjulur memohon, setiap gadis mendengar namanya dan terkesiap, hingga tersisa seorang tanpa ada yang mencintainya. Tangis meliputi mata Baekhyun dan dia pun menepisnya, yakin dirinya akan gugur. Tetapi ternyata Chanyeol berada di hadapannya sambil berlutut.
"Maukah kau jadi putriku di Pesta Dansa?"
"Ya!" teriak Baekhyun.
"Ya!" teriak Reena.
"Ya!" teriak Luhan.
"Ya!" teriak Giselle.
Ruangan teater dibanjiri suara napas tertahan meluapkan kegembiraan–"Ya!" "Ya!" "Ya!" –hingga lautan cinta itu menghanyutkan bahkan Seulgi sekalipun, yang berusaha memasang senyum terbaiknya dan menyambut tangan Jaehyun. "Ya!"
Seraya menonton dari seberang lorong, wajah anak-anak Never mulai berubah. Satu per satu, raut kemarahan berubah menjadi penuh derita, mata mereka meleleh pilu. Hort, Chaerin, Taehyung, Victoria, bahkan Amber. Seolah merekapun ingin merasakan kegembiraan semacam itu, seolah mereka ingin merasa sama-sama diinginkan. Hilanglah keinginan mereka untuk bertaruh, hilang bersama hati yang terluka. Para penjahat tampak kuyu dalam diam, ular-ular kehabisan racun.
Namun satu ular masih siaga.
Dari panggung, tatapan Soojung tidak pernah meninggalkan Kyungsoo sementara Kai menggandengnya. Pupil mata Soojung menggelap bagai arang panas. Tubuhnya gemetar berkeringat. Kepalan tangannya berdarah tertusuk kuku-kuku hitamnya. Dari lubuk jiwanya, kebencian tumpah bagai lava, menghidupkan kembali nyanyian hatinya.
Sambil memandangi pasangan bahagia itu, Soojung mengangkat tangannya dan bernyanyi dengan teriakan dahsyat. Di atasnya, stalaktit-stalaktit hitam berubah menjadi paruh-paruh setajam pisau, berkoak, dan melengking hidup.
Serentak, burung-burung gagak menerobos dari langit-langit dan menyerang apapun yang dilihatnya.
Anak-anak membungkuk untuk berlindung, menutupi telinga mereka selagi lengkingan Soojung bertambah satu oktaf. Peri-peri berterbangan ke arah Soojung, tetapi burung-burung gagak itu menelan semua kecuali satu yang nyaris tak berhasil lolos melalui retakan dinding. Sementara kaki depan mereka memegangi telinga, para serigala pun tak punya pertahanan dan burung-burung itu menggorok kerongkongan mereka dengan kecepatan sadis.
Serigala putih menyambar serigala cokelat kecil ke dalam pelukannya, memukul burung-burung itu sementara hidung dan telinganya berdarah. Namun kawanan burung menyeret kedua serigala itu ke belakang panggung dan menyudahi perlawanan mereka.
Tepat saat burung-burung melesat hendak melakukan hal yang sama terhadap murid-murid, Soojung berhenti bernyanyi dan gagak-gagak itu hancur dan menghilang.
Sambil terengah kesakitan, semua orang perlahan menoleh pada penyihir di atas panggung. Hanya saja Soojung tidak melihat ke arah mereka.
Ever dan Never mengikuti arah mata Soojung pada Mahkota Sirkus yang berayun di udara, akhirnya terbang untuk penentuan. Mahkota itu bergerak-gerak turun, melayang di antara Kebaikan dan Kejahatan, maju mundur seringan bulu.
Mahkota runcing itu berputar dengan keputusan dan mendarat pelan di kepala Soojung. Bibirnya yang mengerut berubah menjadi seringai.
"Jangan lupa hadiahnya."
Kyungsoo melihat goresan-goresan putih secara ajaib menghapus panggung di belakang Soojung, goresan-goresan yang pernah dia lihat sebelumnya–
"LARI!" teriaknya.
Goresan-goresan putih menghapus dinding, memuncrat ke arah lorong selagi murid-murid berteriak dan berlarian ke pintu tetapi terlambat.
Teater Dongeng lenyap menjadi sapuan putih, memuntahkan kedua isi sekolah ke ruang bawah tangga Kebaikan.
Murid-murid Kebaikan terbentur ke tangga menara pink, Never ke biru. Saat petir dan angin menghancurkan kaca-kaca jendela yang kotor, Amber dan para penjahat berlarian ke tangga Honor dan Valor. Namun saat dia mencapai pijakannya, Amber terpeleset di kaca dan jatuh ke tepi. Sembari bergelantungan di birai tangga dengan satu tangan, dia melihat Luna merangkak melewatinya.
"Luna! Tolong aku!"
"Maaf," Luna mendengus, terus merangkak. "Aku hanya mau menolong teman sekamar."
"Luna, kumohon!"
"Aku tinggal di toilet! Kalian para penindas dan teman-teman yang buruk. Kau membuatku merasa malu menjadi seorang penjah–"
"LUNA!"
Luna menyambar tangan Amber tepat saat tergelincir.
Anak-anak Ever tidak seberuntung itu. ketika mereka merayap dengan panik ke Purity dan Charity, Soojung menyanyikan nada yang membakar untuk mereka dan dua tangga kaca pun meledak. Anak-anak lelaki tampan dan gadis-gadis cantik berjatuhan menghantam marmer. Soojung menaikkan satu nada lebih tinggi. Ruang lobi bergetar di bawah kaki mereka, retak bagai es yang tipis dan terbelah menjadi ratusan keping.
Anak-anak Ever yang terpana berjatuhan tumpang tindih dan terguling ke dalam celah yang menganga. Mereka berusaha mencengkeram marmer yang patah dan pecahan tangga, tetapi lereng lantai yang bergerigi terlalu tajam. Dengan teriakan mengenaskan, anak-anak itu tergelincir di atas tepi-tepinya. Tepat saat mereka terjatuh ke tebing, tangan mereka menemukan pecahan-pecahan marmer tajam. Dengan segala kekuatan hati yang tersisa, anak-anak Ever berpegangan, kaki menendang-nendang dalam kegelapan mematikan di bawah.
"Kyungsoo!" Kai berteriak sambil melompat melewati celah dan jurang yang basah diguyur hujan untuk menariknya, semakin bertambah putus asa.
"Kyungsoo, di mana kau!"
Di seberang ruangan, tinggi di jendela yang remuk, dilihatnya dua tangan pucat berpegangan di tebing dinding yang patah.
"Kyungsoo, aku datang! Bertahanlah!"
Dia melompati kawah batu, mendaki pecahan-pecahan tangga yang terus bertambah tinggi menuju tebing kaca, lalu menyambar tangan Kyungsoo di tepi yang berlawanan–
Soojung bangkit untuk menghadapi Kai.
Kai mundur kaget sampai di tepi tebing. Anak-anak Ever berteriak minta tolong di bawah.
"Jadi, kalau putri diselamatkan pangeran, sekarang aku bertanya-tanya..." ujar Soojung, Mahkota Sirkus gemerlapan di atas rambutnya yang basah kuyup. "Siapa yang menyelamatkan pangeran?"
"Kau janji–" Kai tergagap, mencari-cari cara untuk melarikan diri bersama putrinya. "Kau berjanji akan berubah!"
"Benarkah?" Soojung menggaruk-garuk kulit kepalanya. "Wah, kita sama-sama membuat janji yang tak akan kita tepati." Dia tertawa pelan. Lalu sambil berteriak, dia melepaskan nada yang sejauh ini paling tinggi.
Sang pangeran mengerang dan ambruk bertopang lutut. Menyaksikannya merintih kesakitan, Soojung menaikkan nadanya.
Tak mampu bergerak, Kai merasakan hidungnya mulai berdarah, telinganya mengiang. Perlahan Soojung membungkuk dan menaruh jarinya di bibir Kai yang gemetar. Kemudian dia tersenyum menatap mata biru Kai yang nanar dan mengeluarkan nada maut–
Kyungsoo mendorong dan mengimpitnya ke sisi jendela yang terbuka, mahkota Soojung terbang dibawa badai.
Berdarah dan lemah, Kai berusaha menolongnya tetapi Kyungsoo membelalak ke arahnya dengan panik.
"Selamatkan yang lain!"
"Tapi–"
"Sekarang!" bentak Kyungsoo, mengimpit Soojung lebih kuat.
Dengan mengerahkan segala tenaga, Kai melompat dari tebing ke teman-teman sekolahnya yang terdampar. Mendengar teriakan Kai di bawah, Kyungsoo menoleh untuk memastikan dia selamat. Soojung cepat-cepat menendang kakinya dan wajah Kyungsoo pun membentur tepi jendela.
Kyungsoo bangkit dengan sempoyongan, hidungnya penuh darah.
"Lady Kwon benar," kata Soojung, berdiri menghadapinya. "Kau semakin kuat saat aku semakin lemah. Kau memenangkan hatinya, aku kalah. Kau Nemesis-ku, Kyungsoo."
Soojung berjalan ke arahnya. "Kau tahu bagaimana caranya agar aku bahagia?" Wajahnya redup penuh kesedihan. "Aku hanya bisa bahagia setelah kau mati."
Kyungsoo mundur ke jendela, berusaha membuat jarinya yang gemetar bercahaya.
Empat lantai di atas, Amber, Victoria, dan Luna menembus koridor-koridor Honor. Teriakan menggema dari bawah, sementara petir menggelegar dari atas.
"Mahkota Sirkus sudah diserahkan!" lengking Amber, menjeblak pintu staf pengajar hingga terbuka. "Di mana mereka?"
Dia berbalik dan mendapat jawaban.
Profesor Ahn, Profesor Dovey, dan Profesor Jung membeku dalam posisi berlari, mulut terbuka lebar, seolah mereka diberondong mantra saat mereka berlari ke ruang bawah tangga.
"Amber..."
Amber mengikuti mata Victoria keluar jendela koridor. Di Jembatan Separuh Jalan, petir menerangi Lady Kwon, Profesor Shim, dan Profesor Moon yang diam membeku dengan ekspresi terkejut yang sama.
"Bisakah kita mengembalikan mereka?" tanya Luna, memucat ngeri. "Ini hanya Mantra Mematung."
"Ini bukan sekadar Mantra Mematung." Victoria menepuk kulit Profesor Dovey yang mengeluarkan bunyi gaung lemah.
"Ini Mantra Membatu," Amber mengingat-ingat pelajaran Lady Kwon. "Hanya yang merapalkan mantra yang bisa mengembalikannya."
"Tapi siapa?" Luna merintih.
"Seseorang yang tidak ingin para guru ikut campur," kata Victoria sambil mengamati menara perak di atas teluk.
Luna menggeleng. "T-tapi–itu artinya–"
"Kita harus menanganinya sendiri," ujar Amber.
Di atas pulau marmer menjulang di ruang lobi yang runtuh, Kyungsoo berhadapan dengan Soojung berdua saja.
"Kita tidak harus menjadi musuh, Soojung," Kyungsoo memohon, berusaha menyalakan jari di belakang punggungnya.
"Kau yang membuatku jadi begini," Soojung terengah, air mata berkilauan. "Kau mengambil segalanya yang jadi milikku."
Kyungsoo melihat Kai dan para Ever merayap di antara reruntuhan, menahan sakit dan takut. Dari kelebatan petir, dilihatnya anak-anak Never menonton mereka dari menara-menara di seberang teluk, gemetar dengan ekspresi yang sama. Jantung Kyungsoo serasa dipukul-pukul.
"Kita bisa menemukan akhir bahagia di sini," pintanya, merasakan jarinya memanas di belakangnya. "Kita berdua bisa menemukan akhir bahagia."
"Di sini?" Soojung tersenyum tipis. "Bagaimana dengan pulang ke rumah, Kyungie?"
Kyungsoo tergagap mencari jawaban.
"Ah, aku mengerti," kata Soojung, tersenyum lebih lebar. "Sekarang kau harus pergi ke Pesta Dansa. Sekarang kau punya pangeran."
"Aku hanya ingin kita berteman, Soojung," kata Kyungsoo, air mata mengalir. "Hanya itu yang kuinginkan."
Soojung menatapnya sadis. "Kau tidak pernah ingin berteman, Kyungsoo. Kau ingin aku yang jadi jelek."
Secara ajaib, keriput di pipinya bertambah jelas.
Jari Kyungsoo meredup karena terkejut.
"T-tapi kau sendiri yang melakukannya pada dirimu!"
Soojung mendidih, tangannya membengkok-bengkok dan tumbuh cakar.
"Kau ingin aku yang jadi Jahat."
"Kau bisa jadi Baik!" pekik Kyungsoo, petir menelan suaranya.
"Kau ingin aku yang jadi penyihir," ujar Soojung, pembuluh-pembuluh darah di matanya pecah.
"Tidak!"
"Yah, sayang," Soojung tersenyum, gigi-giginya tanggal. "Permohonan dikabulkan."
"Jangan!"
Dengan sekali dorong, Soojung mendorong Kyungsoo ke dalam badai. Kyungsoo terguling ke Jembatan yang berkilau, tak berdaya dalam detik-detik terakhir hidupnya–Kai berteriak.
Seorang peri meluncur dan menangkap Kyungsoo dengan seluruh kekuatan hati yang tersisa. Saat membaringkan Kyungsoo dengan hati-hati di atas batu yang dibanjiri air, Shindong berterima kasih tanpa suara pada Kyungsoo dari Jangho untuk segala Kebaikan yang dilakukannya. Lalu selagi gadis pucat itu menarik napas pertamanya, Shindong menarik napas terakhirnya dan mati di telapak tangan Kyungsoo yang basah.
Ketika petir menerangi menara, Soojung menunduk, melihat Kyungsoo yang pucat terbaring di atas Jembatan Separuh Jalan, diguyur hujan lebat.
Di seberang Teluk, Soojung melihat anak-anak Never balas memandangnya, menggigil kedinginan. Dia berbalik menghadap Kai dan anak-anak Ever yang berjubel di sudut bawah, sementara Amber, Victoria, dan Luna terbelalak ngeri dari atas tangga.
Gemuruh petir mengguncang, Soojung memungut pecahan cermin dan menyekanya.
Rambutnya yang basah kuyup berubah putih seluruhnya. Kutil-kutil hitam besar memenuhi wajahnya. Matanya hitam menonjol bagai mata burung gagak.
Ditatapnya pecahan cermin itu, dia membeku terserang panik. Namun kemudian, seraya mengamati dirinya di kaca, rasa panik perlahan meleleh dan raut Soojung kini menampakkan rasa lega yang aneh, seolah akhirnya dia bisa melihat apa yang tersembunyi di balik pantulannya.
Bibirnya yang membusuk melengkung jadi senyuman, kemudian tawa kebebasan–semakin keras, semakin melengking.
Soojung melempar kaca itu, mengibaskan kepalanya ke belakang, dan melepaskan gelak menyeramkan yang menjanjikan datangnya Kejahatan indah yang terlalu murni untuk dilawan.
Kemudian matanya menatap tajam pada Kyungsoo di bawah sana. Dengan teriakan peringatan yang dahsyat, dia menyelinap ke dalam jubah ularnya dan menghilang di kegelapan malam.
.
.
.
TBC
Soojungnya mengerikan, ya. Ga tega bikin dia jadi gitu, tapi apa boleh buat(?).
Btw, ada yang bertanya-tanya mengenai Sang Guru? Kalau iya, cluenya sudah sangat jelas di chapter ini.
Buku pertama akan habis dalam 3 chapter lagi. Kira-kira ada yang mau tebak bagaimana endingnya? Hehe.
