KP: Inti chap ini sekitar 16 halaman …
Chapter 27: Incest
"Heeeh? Mirip banget, deh." Kisaliten ngeliatin duo kembar tsb dengan takjub. Tampang n postur tubuh mereka keliatan mirip banget! Yang beda cuman fashion n warna mata. Hm, tapi kalo sifat … belum tau, deh…
Tengu ngangkat kotak kardus penuh berisi duit atas 'pertunjukkan'nya tadi. "Konohamaru!" panggilnya, bikin seorang anak kecil berkuncir berlari kecil di antara keramaian penonton (yang udah mulai bubar) menuju ke arahnya. Bocah itu yang dulu pernah dinasehatin Kyuubi supaya belajar n berenti ngemis. Penampilannya rada lusuh, tapi kali ini nggak make baju ala karung kayaq dulu.
"Ini. Buat loe." Katanya, nyerahin kardus duit tsb. Cukup ringan buat dibawa sendiri ama tuh anak. Soalnya banyakan yang ngasih duit kertas ketimbang logam. "Be-beneran nih, Bang? Ini kebanyakan …"
Tengu tersenyum. "Nggak papa. Loe pengen beli buku buat belajar, kan?. Ambil aja ini buat itu. Ntar kapan-kapan gue bantuin lagi, deh."
Ya, Konohamaru emang udah berenti ngemis n naik satu tingkat jadi pengamen.
Bocah tadi nyusut ingus, terharu. "Makasih, Bang!" katanya, nerima kardus itu.
"Hey, hey, jangan cuma ke gue. Terima kasih juga ke dia."
Konohamaru lalu beralih ke Naruto yang diunjuk oleh cowok tsb. "Makasih, Bang!" serunya sambil membungkuk ala Jepang ke si blonde. Naruto ngangkat ke dua tangannya bagai ditodong. "Sama-sama … " sahutnya, senang. Dia emang seneng banget! Kelewat seneng malah! Why? Karna barusan Konohamaru manggil dia 'Bang', bukan 'Neng' kayaq yang sebelum-sebelum ini!
Ternyata gue udah makin mirip cowooook! Oh, senangnyaaaaaa!. Naruto joget-joget dalam hati.
Lagi puber-pubernya gini, fisik Naruto emang perlahan-lahan mulai berubah. Selain suaranya, bentuk tubuhnya pun mulai berkembang juga. Mukanya yang dulu rada bulat n imut sekarang mulai keliatan rada 'memanjang' n ganteng. Yang dulu kesannya girlish jadi lebih boyish sekarang. Bahunya juga mulai berubah lebih bidang. Tapi, masih kalah maskulin ama Sasuke, sih …
"So … elo barusan ngedance di sini cuman karna mo ngasih duit buat anak itu, ya?" tanya Temujin, sepeninggal Konohamaru. "Yap!" sahut Tengu, ceria. "Lagian, gue juga suka. Nggak masalah, kan?" jawab kembarannya, nyengir.
Naruto kembali ngeliatin duo kembar tsb. Ternyata Tengu juga orang yang baik, sama kayaq sodaranya. Ah, seandainya aja di dunia ini dipenuhi oleh orang-orang kayaq mereka … pasti damai, deh!
"Oh, ya. Naruto-kun … . Terima kasih udah mau ngebantuin sodara gue. Tadi katanya elo ikutan ngedance bareng, ya?"
Suara Temujin barusan bikin Naruto nyadar dari 'keterpanaan'. "Iya, sih. Tadinya gue kira dia tuh elo. Haha!"
"Sayang banget, gue nggak bisa Street Dance. Gue bisanya Waltz Dance yang lebih slow itu."
"Udah gue duga." Tenten ngejentikkan jarinya, manggut.
"Naruto-kun. Elo bisa dansa Waltz?" tanya cowok tadi, mendekati sang Uzumaki bungsu. "Bisa, sih. Tapi nggak mahir. Gue lebih bisa Street Dance or Break Dance." Jawab Naruto, garuk-garuk batang idung. Padahal gak gatal. Entah kenapa doi jadi malu.
"Gue cukup menguasai Waltz. Ntar kapan-kapan mau kan dansa bareng gue? Kalo belum pede, gue bisa ngajarin elo dulu." Katanya, meraih n mencium punggung tangan kiri Naruto. Uzumaki tadi langsung terlonjak kaget. Doi mundur sambil ngeliat panik ke arah Kisaliten n Sakura. Agh! Temu! Kenapa elo ngelakuin itu di depan merekaaa!
"Hmmm? Mencurigakan, nih … " ucap Sakura, ngelus dagu dengan seringaian Fujoshi. Temen-temennya yang lain juga ngelus dagu, walo gak menyeringai. Tampang mereka penuh selidik.
"Tu-Tunggu dulu!" Naruto panik. "I-ini nggak kayaq yang loe semua bayangin!"
"Ini emang sesuai dengan apa yang loe semua bayangin, koq. Gue emang ada hati ke Naruto-kun. Gue jatuh cinta ama dia. Walau sekarang masih one-sided. Tapi, nanti gue bakal bikin dia jatuh cinta juga ke gue." Serobot Temujin, jelas n tandas. Bikin Naruto speechless n melongo. Empat temennya juga bengong ngedenger pernyataan langsung itu. Sedangkan Sakura?
"AKH-HIR-NYA! Muncul juga orang ketiga di antara SasuNaruuuuu!" sorak tuh cewek, heboh. Nggak ambil pusing ama apa yang kini berusaha dijelasin Naruto. "Ouuuh~! Tiba juga saat di mana hubungan SasuNaru diuji. Badai cobaan mulai melanda bahtera cinta mereka. Apakah Naru, yang tengah berada dalam perlindungan bahtera bernama Sasuke ujung-ujungnya bakal direbut oleh ombak badai bernama Temujin?" Fujoshi reporter Mode: ON.
Lagi-lagi Kisaliten dibikin double sweatdrop.
"Duh, Temu. Kan loe udah janji nggak bakal bilang siapa-siapa!" bisik Naruto ke cowok yang bersangkutan, sebel. "Hm? Gue kan cuman janji nggak bakal bilang siapa-siapa soal mimpi basah loe yang ama cowok?" balas Temujin, berbisik juga. "Eh? Iya juga." Naruto jadi ngerasa bego sendiri.
Temujin kembali senyum. "Udah gue bilang, kan? Gue serius. Gue nggak keberatan yang lain tau kalo gue gay. Karna sebelumnya loe nggak pernah bilang 'keberatan' asal nggak berlebihan, so gue pede-pede aja nunjukkin rasa cinta gue ke elo terang-terangan."
"Ugh, tapi …"
"Ini nggak termasuk 'berlebihan', kan?"
"Uhh … gimana, ya ...?" Sejujurnya Naruto jadi ngerasa nggak nyaman. Dia sama sekali nggak punya perasaan cinta ke cowok ini. Tapi, ngeliat muka ramah namun serius itu bikin doi jadi nggak tega buat bilang secara langsung.
"Yang lautan n ombak itu gue, Temu yang jadi halilintar n anginnya. Kami berdua adalah badai." Kalimat Tengu menarik perhatian mereka bertujuh. Naruto, Kiba, Sai, Lee, n Tenten berkedip. Sedangkan Temujin cuman senyum ngedenger itu.
"Maksud loe …?" Sakura udah bisa ngeduga apa maksudnya, sih. Cuman dia mo mastiin aja.
"Gue juga cinta ama Naruto." Katanya, mengingat nama itulah yang dimiliki si cowok blonde inceran dari panggilan Temujin, Kisaliten, n Sakura ke dia. "Dari dance bareng tadi, gue yakin ama perasaan gue. Kalo orang bilang ada yang namanya 'Love at first sight', maka cinta gue bisa dibilang 'Love at first dance'." Jelas Tengu, seraya ngedipin sebelah mata ke Naruto yang cuma bisa bengong.
Meski belum ada kata-kata yang keluar, Sakura nyengir lebar. Orang keempat!
"Elo emang sodara kembar gue. Sampe-sampe orang yang ditaksir aja sama." Temujin tertawa kecil, melangkah n berdiri di sebelah kembarannya. Tengu cengar-cengir. "Jadi dia … yang sering loe ceritain sebagai tokoh hero di sekolah?"
"Yup."
"Eh? Apa maksudnya?" tanya Uzumaki di situ, heran. "Selain tau segala jenis hero yang ada, loe juga suka ngebelain yang lemah dari gangguan Uchiha Sasuke di sekolah, iya kan? Gue nggak tau gimana pandangan anak lain, tapi buat gue … elo adalah hero, Naruto-kun … "
Naruto jadi malu. "A-ah … loe ini … bisa aja. Gue … nggak sehebat itu … " Dia garuk-garuk kepala.
"Dari gangguan Uchiha Sasuke?" ulang Tengu. "Jadi yang disebut-sebut 'Sasukekun' tadi dia, ya? Jadi dia villain (musuh) di sekolah?"
"Dia villain yang cukup tangguh, lho." Sodara kembarnya ngasih tau. "Kalo gitu, sudah saatnya hero baru muncul kan?" Tengu datang n merangkul bahu Naruto yang lebih pendek darinya itu. "Gue bakal bantu elo ngalahin dia, Naruto." Katanya semangat, nunjuk diri pake jempol.
"Eh?"
"Gue juga bakal bantu." Temujin ngomong lagi. "Mulai sekarang, gue nggak bakal sering pergi ikut kompetisi anggar lagi, deh. Gue bakal konsen di sekolah buat ngebela kebenaran n juga buat memperjuangin cinta loe."
Konsen di sekolah tuh biasanya buat belajar, kan?. Kisaliten membatin dengan berpuluh-puluh sweatdrop sejak tadi.
"'Hero' … 'villain' … ?" Gumam Naruto. "Loe berdua … suka heroes juga?"
"Yap!" (Tengu)
"Yup." (Temu)
"Waaah …?" tampang Naruto merekah nemu orang baru yang punya kesukaan sama dengannya. (Temu yang jarang masuk keliatan nggak pernah ngomongin soal hero di sekolah, so dia gak tau kalo tuh anak juga suka). Jadi lupa kalo dianya tadi lagi uncomfortable ama pernyataan cinta dua orang tsb. "Kami suka konsep membela kebenaran n membasmi kejahatan. Bahkan cita-cita gue ntar juga pengen jadi hero, loh!" ucap si cowok hip-hop, semangat. "Gue juga, tuh …" sambung kembarannya.
"Tunggu-tunggu. Gue mo nanya." Sakura angkat sebelah tangan, kayaq murid yang mo nanya di kelas. "Koq kayaqnya … loe berdua sama sekali nggak keliatan bersaing gitu? Bukannya loe berdua lagi jatuh cintrong ama cowok yang sama? Biasanya dalam kondisi kayaq gini paling enggak ada 'kilat-kilat kebencian' antar rival, kan …?"
Temujin n Tengujin saling pandang. Sedetik kemudian keduanya ketawa.
"Mana mungkin benci? Gue kan juga cinta ama Temu/Tengu?" ucap mereka, serempak.
"Hah?"
Seolah mo ngejelasin kebingungan enam orang tsb, Temujin maju n ikutan merangkul pundak Naruto di sisi yang berlawanan ama sodaranya. Kemudian mereka berdua pun saling pandang senyum, sebelum akhirnya ciuman beberapa senti di depan dahi Naruto.
Lip to lip.
Lima detik. (Cukup lama?)
N ciuman barusan keliatan 'mantep' banget. Pake lidah, lagi. Jelas sekali kalo ini bukan pertama kalinya buat mereka!
Kisaliten mangap lebar.
Jiwa Fujoshi Sakura menjerit. Yaoi incest? Gyaaaa!.
Dari awal Temujin n Tengujin emang nggak ada masalah ama status gay mereka. So mereka terang-terangan aja kayaq gini. Well, sebelum hari ini, Naruto, Sakura, n Kisaliten emang belum tau kalo Temu seorang gay meski mereka sekolah di sekolah yang sama. Selain karna Temujin yang sering absen, itu juga karna selama ini nggak ada cowok yang terang-terangan diincer ama tuh anak. Walau dari dulu Temujin udah suka ama Naruto, dia nggak langsung ngincer karna nggak mau maksa Uzumaki tsb. Soalnya, dia kan juga Heroes-freak? Yang sifatnya maksa cuman Villain!
Muka Naruto memucat begitu kedua cowok kembar tsb mulai beralih pelan ke arahnya. Kali ini wajah keduanya mendekat ke dia! "Sekarang giliran ciuman special buat Naruto/Naruto-kun." Ucap mereka lagi, bareng.
Yaoi threesome 2 on 1? Gyaaa! Gyaaa!. Kefujoshian Sakura makin heboh aja. Dia pun sibuk jeprat-jepret alias motret adegan itu, setelah tadi dengan sigapnya berhasil motret kissing scene si kembar lewat hapenya.
"UWAAAAA!"
Sebelum bibir dua orang itu mengenainya, Naruto langsung tereak panik n refleks ngelepasin diri dari mereka. Ngedorong dada keduanya supaya menjauh. Trus doi lari ke arah Tenten, ngambil tas bahu n sepatu rodanya. Lalu lari tunggang langgang ninggalin taman Konoha!
"Wah-waaah? Naruto/Naruto-kun orangnya pemalu, ya?"
Tengu n Temu ketawa, kompak.
(Nambah lagi deh orang gak normal di fic ini …)
Sementara Kisaliten ngejar ketua mereka, Sakura masih tetap ada di sana. "Hey, hey, Tengu-kun." Panggilnya. "Loe sekolah di mana? Kenapa nggak satu sekolah bareng sodara loe aja?"
"Oh, gue home-schooling, koq." Jawab cowok berpenampilan ala hip-hop tadi, nyantai. "Eh? Kenapa?" Sakura heran. Orang ceria n keliatannya sehat-sehat aja macam dia koq homeschooling sementara sodaranya sekolah di sekolah normal? Apa karna ortunya overprotective or nggak percaya ama perkembangan moral sekolah umum? Tapi, kalo gitu kenapa si Temujin dibolehin aja? Masa ortunya pilih kasih ama anak kembar ini?
"Karna gue sakit." Tengu ngejawab lagi, masih ceria.
"Sakit?" ulang Sakura, tambah heran. Karna sekali lagi: Nih cowok keliatannya bukan orang yang sakit-sakitan! Apalagi habis ngeliat street dance mautnya tadi.
"Sudah waktunya pulang, Tengu. Nyaris jam lima, nih." Temujin menepuk bahu sodaranya. "Lain kali jangan tiba-tiba ngilang ya? Gue cariin dari counter ice krim sampe ke lokasi ini, lho. Seenggaknya sms, dong."
"Heheh. Sorry. Habisnya, gue nggak bisa diam aja ngeliat anak itu (Konohamaru) kesusahan." Sahut cowok yang bersangkutan, sambil ngambil radio tape recorder-nya buat ditaruh di pundak.
"Ya … gue ngerti." Temujin lalu noleh ke Sakura. "Haruno-san. Kami permisi dulu, ya? Sampai besok di sekolah."
"… Oh?" cewek tadi pun mutusin buat nunda acara wawancaranya. "Yeah, sampe besok." Sahutnya, melambai bye-bye.
Street Dancer n Anggar-Boy, huh? Keduanya cowok berskor 85. Udah gitu, mereka cowok-cowok berhati baik n punya hobi yang sama ama Naru, lagi … . Tingkat pede-nya pun tinggi. Sakura mencet-mencet hape. Meriksa foto-foto yang baru aja diambilnya. Wah, Sasuke-kun … kayaqnya loe yang punya skor 90 tapi rada lemot ama perasaan cinta loe ke Naru itu punya dua saingan yang cukup berat, nih …
KucingPerak
Malamnya …
"Kyuu, hari ni si Gaara nggak nginep. Udah lama nggak pulang ke rumahnya, katanya!" seru Naruto, dari dapur. Doi lagi masak! Kalo nggak ada Gaara, yang biasanya masak emang Naruto.
Kyuubi cuman nyahut dengan 'hm' habis itu kembali nonton TV di ruang tengah.
Sis-com hari ini nggak nginep? Apa dia nyadar kalo gue lagi nggak mau ketemu habis kejadian di kampus tadi?. Yeah, cowok setan satu ini masih ngerasa malu berat! Baik karna kepergok dalam posisi 'ditindas' Itachi, maupun karna secara nggak nyadar udah ngeluarin air mata n meluk Gaara. Well, walopun soal air mata itu si Gaaranya nggak sempat liat, sih … tetep aja dia ngerasa malu.
Kyuubi ngegigit apelnya, lesu. Masih kurang semangat.
Dia nggak konsen ama apa yang ditontonnya sampe sebuah piring berisi makanan tersodor ke arahnya.
Sepiring nasi goreng.
"Kyuu. Letakkin dulu apelnya n coba makan nasi goreng sarden gue. Enak, lho!" tawar Naruto di depannya, senyum. Sang kakak ngeliat mereka (Naruto n piring), lama. Sebelum akhirnya kembali ngegigit apel. "Nggak nafsu."
Naruto manyun. Dia emang udah tau soal kakaknya yang ogah makan masakan lain selain masakan Gaara. Tapi, tetep aja sebel.
"Ugh, meski mungkin masakan gue nggak seenak bikinan Gaara, seenggaknya mirip, lah. Gue ini kan bisa dibilang 'murid nomer satu'nya Gaara? Coz dia sendiri yang ngajarin scara langsung." Uzumaki bungsu tadi ngehela nafas n ngeletakkin piring tadi di meja sana, trus ngerebut apel yang udah dimakan setengah ama kakaknya. "Buah tuh buat dessert. Bukan appetizer. Udahlah, ayo makan dulu."
"Kalo dibandingin ama masakan loe, buat gue apel adalah main dish." Kyuubi kembali ngerebut apelnya.
"Jahaat~. Padahal kan bikinan gue nggak seburuk itu?" Naruto makin manyun. Emang bener sih masakan Naruto lumayan enak, walau masih belum bisa ngalahin masakan sobat terdekatnya itu. Kyuubi aja yang terlalu berlebihan pake ngenolak segala.
'BRAK!'
Kedengaran suara pintu depan didobrak. Kyuubi langsung bangkit dari sofa, waspada. Naruto juga. Dia pun bergegas menuju sumber suara.
Belum nyampe belok ke ruang depan, Kyuubi langsung nyamber adeknya tsb. Lengan kirinya melingkar di pinggang n tangan tuh anak, sedangkan yang kanan ngebungkam mulutnya. Mereka nempel tembok ruang TV yang tepat bersebelahan dengan ruang depan.
"Sssh. Buodoh! Jangan sembarangan maju ke arah suara yang jelas-jelas mencurigakan gitu. Kalo itu perampok yang bawa pistol, elo udah di-dor, tauk!" bisiknya, keras. "Seenggaknya pastiin dulu siapa or apa asal suara tadi, lalu mikir buat tindakan selanjutnya." Katanya, ngelepasin Naruto dengan kasar. Trus ngeliat dikit dari balik tembok, ngintip ruang depan di mana rak n lemari sepatu serta payung plus pintu berada.
Meski kesel, Naruto juga ngelakuin hal yang sama. Kyuubi emang cukup sering mengatainya dengan 'bodoh' or ledekan lain semacam itu. Tapi, dia nyadar kalau sebenernya kakaknya tsb menyayanginya. Kalo nggak, tuh cowok nggak bakal mau repot narik dia buat sembunyi 'hanya' karna nggak mau adiknya ketembak, kan?
Apa yang duo Uzumaki liat saat itu bener-bener bikin mereka lupa bernafas!
'kruk-kruk'
Kedengaran suara permen loli digigit oleh seseorang berjubah yang kini lagi nginjek kepala orang lain di atas pintu depan yang roboh. Orang yang diinjek itu pingsan! (Nggak heran).
"Yare-yare … " Seorang pemuda berambut putih di belakangnya geleng-geleng. "Inspektur … . Jangan seenak perut ngebanting napi yang lolos dari penjara ke pintu rumah orang, dong. Sampe rusak gini … " dia ngeraba bekas pintu yang barusan lepas dari engselnya. "Kita bisa dituntut ganti rugi, nih …"
"Udah gue bilang jangan panggil gue Inspektur!" bentak si penginjak tadi, marah. "Iya-iya-iya. Tapi, tolong singkirin dulu kaki Anda. Biar pingsan, kasian juga tuh napi!" Pemuda tadi keliatan panik ngeliat kepala napi yang kayaqnya makin diinjak aja pas atasannya marah barusan.
"Che."
Inspektur tadi pun nyingkirin kaki sementara asistennya ngeraih sang napi malang n nelpon markas.
'kruk-kruk'
"Dasar … bisa-bisanya ada penjahat yang lolos dari penjara. Tingkat keamanan kota ini bener-bener ngecewain, deh."
"Mama …?" Naruto yang amat sangat mengenal suara n penampilan ala Sherlock Holmes tsb keluar dari tempat persembunyiannya. Ekspresinya kaget.
Wanita yang dipanggil mama barusan tersenyum lebar gitu ngeliat tuh anak. "Naru Chayaaaank!" Dia melompat n meluk anak bungsunya tsb, erat. "Lama nggak ketemu! Loe udah tambah tinggi, ya? Tapi manisnya tetep ada! Duh, lutuna anak mamaaa~!" Kushina emang bisa berubah jadi super girly kalo udah ama si bungsu.
"Mama?" Asisten inspektur yang baru aja selesai nelpon markas angkat alis ngeliat adegan itu. Jadi … anak itu anaknya inspektur?. Dia ngeliat sekeliling ruang depan tempatnya berdiri. Ini rumah anaknya? Pantesan aja tadi beliau nggak ragu ngerusakin pintu … eh-tunggu dulu. Dia sweatdrop. Meski ini tempat tinggal anaknya mustinya beliau tetep nggak boleh seenaknya ngancurin gini, kan?
"Mmffhh … mhama …. Mfessakkh …" Naruto jadi kesulitan ngomong karna pelukan maut nyokapnya.
"Oups. Sorry, Naru … " Kushina pun ngelepasin dia, bikin anak itu langsung ngehela nafas lega. "Eh, ngomong-ngomong … di mana Watson?" tanyanya, nanyain Gaara. Watson itu nama panggilan Kushina buat dia. Dulu dia sempet nawarin tuh anak supaya jadi asistennya kalo udah gede nanti, mengingat si Gaara emang multi-talented. Tapi, langsung diamuk-amuk ama anak sulungnya.
"Gaaranya hari ini lagi nggak nginap …"
"Yaaah~. Tapi ya sudahlah. Toh besok masih bisa ketemu."
Saat itulah wanita tadi menyadari kalo ada seseorang yang sedari tadi berdiri di samping mereka, di ambang tembok pembatas ruang TV n ruang depan.
Kyuubi.
Cowok ini melotot ngeliat nyokapnya sendiri. Mulutnya merapat. Sedetik kemudian dia pun bergegas mo menuju kamarnya di atas. Tapi belakang kaosnya keburu dicengkram ama Kushina, ditarik.
"Apa loe lupa …? Jangan pernah ngasih liat punggung loe ama lawan, Ninetails …" Bisiknya, niup udara di telinga cowok bermata merah tadi. Bikin Kyuubi merinding. Ninetails adalah nama panggilan Kushina buat Kyuubi. "Ugh!" Doi menepis cengkraman Kushina dari kaosnya di punggung, trus maju dua langkah n berbalik menghadapnya. Mukanya keliatan nggak suka.
"Ngapain loe di sini, Kushina?"
"Heh! Nggak sopan! Panggil gue 'mama'!"
"Gue nggak punya nyokap cowok kayaq loe!"
"Apa loe bilang? Anak kurang ajar!"
Mereka masih aja perang mulut, sementara Suigetsu sang asisten melangkah mendekati Naruto.
"Hai, loe pasti putra bungsu Inspektur yang bernama Naruto itu, kan? Beliau udah banyak cerita soal kalian, lho." Dia senyum n ngulurin tangan. "Kenalin, gue Suigetsu."
Naruto ikut senyum n menyambut tangan tsb. "Naruto."
"Wah, loe bener-bener mirip ama Inspektur ya?" Suigetsu menatap wajah itu, lekat.
"Ya-yaah … beberapa orang emang ada yang bilang gitu … " sahut Naruto, rada nggak enak dipandangi sedekat ini.
"Udah nyaris tiga tahun loe nggak pernah njenguk kami, sekarang tau-tau bawa suami muda? Dasar rubah betina!" Kedengaran suara nyaring Kyuubi lagi. "Dia asisten gue, kampret! Jangan seenaknya nuduh!" balas Kushina, nggak kalah keras.
"Gue dibilang suami muda Inspektur?" Suigetsu pasang muka antusias. "Wah, Gue sih nggak nolak."
'BLETAK!'
Dia pun langsung kena jitak, keras bagai kena tinju.
"Kak Suigetsu!" Naruto langsung meriksain kepalanya, cemas. Suara jitakan tadi kedengaran keras sih. "Hehe. Jangan khawatir, Naru-kun … gue mah udah biasa." Katanya, nyengir.
.
Beberapa menit kemudian …
.
Suasana mulai agak tenang. Napi kabur tadi pun udah dijemput ama kepolisian. Sempet juga ada keramaian oleh tetangga yang penasaran ama keributan yang ada. Tapi gak lama kemudian mereka kembali tenang n pulang ke kediaman masing-masing.
Suigetsu sibuk ngedok-dok alias ngebetulin pintu yang lepas kembali ke engselnya. Tangannya sibuk memalu. Di mulutnya keliatan ada dua paku yang digigit. Hhh … jadi asisten inspektur Kushina emang musti kerja ekstra …
"Apa nggak papa kak Suigetsu ngebetulin pintu sendirian?" tanya Naruto yang kini lagi kumpul ama sang nyokap di ruang tengah. "Udah, jangan dipikirin. Dia udah biasa nanganin hal-hal macam itu." Sahut Kushina, lalu menyantap nasih goreng sarden yang dihidangin. Dia duduk di sofa ruang TV. Topi n jubahnya udah dilepas.
"Hmm, enaknyaaaa~! Naru chayank, loe makin top aja masaknyaaaa~!" puji wanita tadi, setelah satu lahap. "Ah, mama … emangnya mama masih ingat rasa masakan Naru yang udah nggak pernah mama rasain bertahun-tahun?" Naruto ngegeleng-geleng, ngehela nafas.
"Inget, dong. Naru kan anak kesayangan mama?" Kushina ngeletakkin piring n meluk anak bungsunya lagi yang duduk di sebelah, gemas.
"Yeah, right~ … 'kesayangan' … " ucap Kyuubi sinis, seraya ngebanting pintu kulkas di mana dia baru aja ngambil apel merah.
"Cemburu?" Kushina angkat alis n makin meluk si bungsu, seolah nantangin. Naruto jadi nggak enak. Ibunya ini emang lebih sering meluk n ngomong lembut ke dia daripada ke kakaknya. Walau gitu, Naruto masih bisa ngerasain kalo Kushina sebenernya juga sayang ama Kyuubi. Cuman caranya aja yang beda. Tapi, kalo orang luar yang nggak kenal mereka pasti bakal ngeliat kalo ibunya itu pilih kasih.
Naruto yang ngerasa nggak enak ama Kyuubi n nggak mau sampe dibenci ama kakaknya itu, ngelepasin pelukan ibunya.
"Get real. Yang bener aja … " Kyuubi muterin bola matanya. "Mana mungkin gue bisa cemburu ama 'cowok' macam loe?" Lagi-lagi kalimatnya kedengaran sinis. Dia pun naik tangga ke atas, mau ke kamar.
"'cowok' …?" Kushina geram. Itu adalah kata ledekan yang paling disebelin ama dia. "Tunggu loe, Ninetails!" Dia lalu berdiri n nyusul. Sementara itu Naruto cuman ngehela nafas n ngajak Suigetsu buat istirahat n makan dulu.
.
Belum sempet Kyuubi ngunci pintu kamarnya, Kushina udah keburu masuk. Anak sulungnya tadi berdecak kesel, tapi nggak minat ngusir juga coz nyokapnya itu pasti nggak bakalan mau disuruh pergi.
"Mau apa." Tanya Kyuubi, tanpa tanda tanya. Doi ngegigit apelnya n nyander di tembok, deket jendela. Pandangannya mengarah ke luar sana.
Kushina duduk di sisi bed, nggak ngelepasin tatapannya ama tuh cowok.
"Loe ada lagi ada masalah, ya?"
Dahi Kyuubi berkerut.
"Apa maksud loe?" Dia menoleh, nggak percaya. "Apa sih di dunia ini yang bisa jadi 'masalah' buat gue?"
"Ninetails, kadang-kadang sikap yang terlalu was-was nyembunyiin sesuatu itu malah jadinya bikin makin ketahuan, lho." Kushina ngambil permen loli cola dari saku n ngebuka bungkusnya. "Kayaqnya loe punya sesuatu yang nggak mau kalo gue sampe tau."
"Hah? Kenapa loe bisa mikir kayaq gitu?" tanya cowok tadi, sinis. "Gue nggak punya masalah."
"Ha." Kushina ikutan sinis. "Sadar nggak sadar, sikap loe di depan gue dari tadi keliatannya mo ngehindar mulu. Baik waktu gue pertama kali datang, maupun pas kita ngumpul di ruang TV."
"Gue cuman nggak mau ngeliat tampang loe aja, koq."
"Uh huh? Padahal dulu kalo ada gue, elo selalu nantangin catur or permainan adu strategi lainnya. Kenapa kali ini nggak?"
"Udah gue bilang gue lagi nggak mau ngeliat tampang loe. Bikin mual."
'BLETAK!'
Kushina ngejitak kepalanya, cepat. "Dasar pembohong." Putra sulungnya mijit bagian yang habis dijitak, kesal. Huh, nih orang dari dulu emang cepet banget kalo soal jitak-menjitak.
'kruk, kruk'
Kembali terdengar suara permen loli yang digigit. "Ayo tanding catur." Untuk pertama kalinya di antara mereka, Kushina berada di pihak challenger alias penantang.
.
Sementara itu di lokasi lain …
Pintu depan kediaman Uzumaki brothers akhirnya selesai juga dibetulin. Suigetsu ngehela nafas lega n ngelap keringat di muka.
"Kak Suigetsu. Ini silakan." Naruto dateng n ngebawain sebotol minuman ion dingin. Pemuda silver tadi tersenyum. "Makasih, Naru-kun." Dia pun meneguknya sampe habis.
"Hh … nggak nyangka deh, Inspektur bisa juga punya anak sebaik elo … " dia nyengir, lalu nunduk di hadapan Naruto, ngeliatin mukanya. "Mirip ama inspektur kecuali sifatnya, hm …?" Suigetsu lebih terkesan ngomong sendiri ketimbang ngomong ama tuh anak. "Gue … jatuh hati ama beliau waktu pertama kali liat dia, lho."
'BUG!'
"Adow!" Cowok itu pun langsung kena tonjok di muka. "N-Naru-kun~. Kenapa~?" Doi ngelus idungnya yang sakit. Ternyata dia bisa kasar juga, euy! Kalo gini mah jadi mirip banget ama Inspektur!
Naruto cemberut. "Elo ngincer mama, ya? Nggak bakal gue ijinin! Gak bakal gue restuin!" marahnya, nunjuk-nunjuk. Suigetsu berkedip, sebelum akhirnya tersenyum. "Ya ampun, Naru-kun. Nggak mau punya papa baru, ya …?"
"Elo tuh terlalu muda buat mama! Yang bener aja! Elo lebih pantes jadi kakak gue ketimbang jadi bokap gue!"
"Seharusnya dalam situasi begini pihak lebih tua bakal seneng karna udah disukai ama yang lebih muda, dong?"
"Nggak! Nyokap gue bukan orang kayaq gitu!"
Suigetsu angkat tangan, masih senyum. "Allrighty~. Okai … okai …" . Meski diam, Naruto masih melotot. Dia jadi kurang suka ama orang ini. "Gue nyadar diri, koq. Orang macam gue ini nggak pantes buat Inspektur." Cowok silver tadi nyengir, sedih.
"Eh?"
"Gue juga nggak cinta beliau dalam artian itu, koq. Gue emang cinta ama Inspektur, tapi dalam artian bahwa beliau adalah orang nomer satu yang gue kagumin lebih dari siapa pun."
" …?"
"Beliau adalah penyelamat gue."
"Penyelamat?"
"Yeah. Asal tau aja. Meski gue disebut-sebut asisten, gue sama sekali nggak punya pendidikan apapun yang berkaitan dengan polisi. Hmm, 'kayaqnya' sih …"
"Hah?"
"Gue n inspektur ketemu karna suatu kasus sekitar dua tahun lalu. Ingatan gue hilang. Waktu itu gue bahkan nggak tau apa gue ini criminal or korban. Saat dilakukan pengobatan n terapi, orang-orang di kantor polisi ngeliatin gue kayaq ngeliat hewan di kebun binatang. Apa ini karna gue keliatan rada gak normal, ya?" Suigetsu nunjuk ke giginya sendiri yang tajem-tajem bak hiu. "Sejujurnya, gue mau pergi dari sana. Gue nggak tahan. Akhirnya gue kabur saat rehabilitasi."
"Ka-kabur?"
"Yeah." Suigetsu nyengir lagi. "Tapi, gak sampe satu jam, gue ketangkep ama inspektur."
Naruto ngehela nafas. Gak jelas tuh karna kecewa or karna lega.
"Inspektur emang berhasil nangkep gue. Tapi, bukannya ngebawa gue balik ke kantor polisi, beliau malah ngajak gue pergi. Katanya … dia perlu asisten baru. Asisten lamanya penakut, sih."
"Heee …?"
"Trus, kata beliau … karna gue udah berani kabur dari keamanan, berarti gue bukan penakut. Gitu. Lagian, kasus yang ngelibatin gue di mana ingatan gue ilang … menyatakan kalo gue nggak bersalah."
"Eh? Kasusnya udah terpecahkan, ya?"
Suigetsu angkat bahu n ngegeleng. "Entah, ya? Inspektur emang udah nangkap tersangka utama. Tapi tersangka itu langsung bunuh diri sebelum sempat dilakukan penyelidikan lebih jauh. So … "
"… kasusnya dianggep selesai?" sambung Naruto.
"Emang. Tapi … Inspektur nggak nganggap gitu. Coz, sampe sekarang beliau masih suka menyelidiki segala sesuatu yang berkaitan dengan 'itu' …"
"Itu apa?"
"Rahasia."
"Uh, bilang dong. Kali aja ada sesuatu yang bisa gue bantu." Pinta Uzumaki tadi, megang sikunya Suigetsu. Cowok tsb ngehela nafas, trus nepuk kepala Naruto 3 kali, pelan. "Kalo Inspektur tau gue ngelibatin anaknya, gue bisa ditembak. Ini kasus yang bahaya banget. Mungkin selama ini beliau nggak njenguk kalian juga karna nggak mau ngelibatin kalian dengan masalahnya."
" … " Naruto tertunduk, narik kembali tangannya yang tadi megangin Suigetsu. Kenapa, sih …? Ujung-ujungnya gue selalu aja nggak bisa bantu apa pun. Ya Papa, Ya Kyuubi, ya Gaara, ya Mama, semuanya lagi ada masalah. Tapi kenapa gue selalu nggak berguna?
"Naru-kun?"
Padahal kalo gue yang punya masalah, mereka selalu aja ngebantuin gue. Tapi saat mereka yang ada masalah kayaq gini … kenapa … -ah? Apa ini karna gue keseringan minta tolong? Jadinya mereka semua nggak yakin gue bisa ngebantu?
"Oey, Naru-kun?"
Agh! Gue bener-bener payaaaaahh!
"Naru-kun!"
Naruto berkedip dua kali, nyadar. Suigetsu baru aja ngeguncangin kedua pundaknya.
"Ya …?"
"Duh, gue kira loe tadi kesambet. Tiba-tiba aja diam sambil pasang tampang sakit, sih …" Suigetsu ngeraih salah satu telapak tangan Naruto yang memerah karna terlalu keras mengepal. "Liat, kalo tadi gue biarin, bisa-bisa loe nggak sadar sampe tangan loe berdarah nanti. Lagi mikirin apa?"
" … "
"Naru-kun?"
"Nggak … nggak mikir apa-apa, koq … " jawab cowok blonde tadi, murung.
KucingPerak
Di mansion Nikaido brothers …
Si kembar Temujin n Tengujin lagi makan malam sekeluarga. Mereka duduk bersebelahan di sisi meja panjang. Sedangkan di seberang mereka duduklah sepasang suami istri yang udah mulai ubanan.
"Bagaimana acara sore kalian hari ini, Temujin?" tanya seorang laki-laki yang rambutnya nyampur pirang putih karna udah ubanan.
"Asyik banget, Om!" Malah Tengu yang njawab. "Tadi kami ketemu ama cowok manis yang pinter ngedance. Keren, lho!" serunya, semangat. Temu cuma senyum sambil ngeletakkin gelas kosong yang baru aja diminum. Kalo dibandingin ama sodaranya, doi emang bisa dibilang lebih kalem.
"Oooh?" Si Om ngangkat kedua alisnya. "Lalu?" dia ngelipat tangan ke atas meja.
"Lalu? Lalu kami menyatakan cinta padanya." Sahut Tengu, riang.
"Uhuhkh!"
Wanita yang ubannya nggak sebanyak si Om batuk-batuk.
"Ahahaha! Tante nggak sopan, deh! Masa batuk-batuk gitu pas makan? Haha!" Tengujin ketawa-ketawa. "Tengu~." Temujin nusuk pinggangnya pake telunjuk. "Ow!" Cowok blonde pucat bermata merah tadi langsung berenti ketawa. "Errh … sorry …"
"Kalian … jatuh cinta pada laki-laki?" tanyanya, dengan tiga buah tanda tanya.
"Yap!"
"Yup."
Si Tante terperangah atas jawaban ponakannya yang ngomong dengan bangga itu.
Nikaido brothers tinggal di mansion peninggalan orang tua bersama Om n tante mereka, juga lima orang pelayan, satu supir, n satu satpam. Orang tua mereka sudah lama meninggal karna kecelakaan pesawat saat si kembar tsb berusia lima tahun. Karna keduanya masih kecil, maka yang meneruskan perusahaan untuk sementara ini adalah kakak dari pihak ibu mereka, alias si Om. Sebenarnya bisnis Nikaido itu dimiliki oleh almarhum ayah Temu n Tengu. Tapi, berhubung beliau adalah anak tunggal n nggak punya sodara lain, maka yang nerusin sementara ini adalah keluarga dari pihak istrinya. Yah, seenggaknya sampe si kembar mencapai usia 20 tahun.
"Kenapa, Tante? Ada masalah?" tanya Temujin, ramah. Tapi somehow kedengaran kayaq nantangin. Meski mukanya senyum, si tante jadi ngerasa nggak enak ama atmosfir sekitar yang baginya tiba-tiba kerasa berat.
"A-Ah, tidak … " Sahut si Tante, gugup. Dia keliatan buru-buru ngelap mulut pake tisu makan. "Makan malam sudah selesai. Kembalilah ke kamar kalian."
.
.
Temujin n Tengujin lagi jalan menuju kamar mereka di lantai 3 (Mansion Nikaido punya lima lantai). Meski udah lima belas tahun, mereka masih aja selalu tidur bareng! Yah, pernah juga sih mereka tidur misah. Tapi itu kalo Temujinnya lagi pergi ikut kompetisi. Sedangkan Tengujin jarang pernah keluar Mansion tanpa pengawasan sodaranya. Paling jauh cuman sampe halaman mansion ini. Nggak pernah keluar pagar.
Sesampainya di kamar …
"Aaah~, Temu asyik, ya? Besok bisa ketemu Naruto di sekolah …?" keluh si kembar yang bermata merah, sambil ganti baju dengan piyama. Si kembar bermata hijau di depannya juga lagi make piyama. "Hmm? Kalo gitu, besok sore kita jalan-jalan aja, lagi."
"Tapi kan belum tentu dia bakal selalu ada di sana, kan?"
"Bener juga sih …" Temujin mikir sejenak. "Oh, gimana kalo besok dia gue ajak mampir ke sini sepulang sekolah?"
"Nice idea!" Tengujin maju n mencium kembarannya tsb, senang. Biasanya di saat kayaq gini, ciuman mereka nggak kurang dari lima detik. Tapi, baru dua detik si Tengu udah mundur.
"Ada apa?" Temujin keliatan bingung.
"Ugh, brisik~." Cowok blonde bermata merah tadi nutupin telinganya, marah. Dia lalu jalan cepat menuju jendela kamar mereka yang gede. Matanya nanar ngeliat keluar. Temujin mengikutinya. Di situ barulah doi tau masalahnya.
Jauh di luar pager sana, ada seekor anjing kurus n dekil yang menggonggong. Walau lokasinya cukup jauh n di telinga Temujin suara tuh anjing cuman kedengaran sayup-sayup aja, tapi buat Tengujin nggak. Cowok satu ini punya indra yang melebihi orang-orang normal. Terutama mata n telinganya.
"Brisik. Sumbang. Sama sekali nggak asyik. Gue benci anjing." Ekspresi Tengujin masih aja keliatan terganggu. Kalo soal musik, dia emang sama sekali nggak masalah meski suaranya dikerasin. Tapi, Tengu anti ama suara sumbang.
"Ne, Temu …"
" … ya?"
"Boleh gue bunuh makhluk berisik itu?" tanya Tengujin, dengan muka polos. Temujin angkat alis. Ini bukan yang pertama kali buatnya ngedenger pertanyaan kayaq gitu dari sang sodara.
"Jangan, Tengu." Katanya, nepuk pundak cowok tsb. "Anjing itu bukan bukan villain. Kalo elo ngebunuh dia sekarang, ntar elo nggak pantes lagi disebut hero."
"Iya, ya …?" Tengujin jadi cemberut, tapi nggak berbuat apa-apa.
"Brisik, loe!" Kedengaran suara lain dari arah si anjing. Dua sodara tadi kembali focus ke sana. Penglihatan n pendengaran Temujin emang nggak setajem kembarannya, tapi doi masih bisa ngedenger n ngeliat dikit-dikit. Suara keras tsb berasal dari dua or tiga orang yang keliatannya lagi nendangin anjing. Suara anjing tadi pun mengecil karnanya.
Dari penglihatan Tengu yang tajem, dia bisa ngeliat dengan jelas orang-orang n anjing tsb. "Punkers~ … " geramnya, sambil menekan jendela kaca. Tiga orang yang lagi nendangin anjing tsb adalah pemuda pemudi berpenampilan metal ala punk. Dengan gaya rambut yang aneh, plus rantai-rantai bergelantungan di baju ala sobek-sobek mereka. Di tangan mereka juga tampak minuman keras. Kayaqnya mereka baru aja mabuk-mabukan, deh. (Note: Perhatian. Nggak semua punkers kayaq gitu, loh).
"Brengsek … mereka nyiksa anjing itu … . Dasar orang-orang jahat."
'Kriiit!'
Entah sejak kapan kuku Tengujin yang tadinya normal kini memanjang sekitar setengah senti keluar dari ujung jari. Meski gitu, tajem banget! Sampe-sampe ninggalin bekas di kaca. Kedua gigi taringnya pun memanjang n menajam (kayaq vampire!). Warna merah dari irisnya menyebar sampe ke seluruh bagian mata hingga nggak ada lagi warna putih yang terihat di sana. Piyama di bagian punggungnya pun sobek karna tiba-tiba dua buah sayap besar keluar dari situ. Sayap tebal berbulu hitam.
Temujin diam aja, masih menatap lurus ke arah anjing n 3 orang punk tadi. Dia udah biasa dengan perubahan sosok Tengu tiap kali cowok itu emosi. Karna ini jugalah doi jadi di home-schooling kan. Soalnya di sekolah umum kemungkinan adanya stimulus yang bisa bikin dia marah n berubah wujud lebih gede.
"Tiga orang yang nyiksa anjing itu … boleh dibunuh, kan?" tanya Tengujin, ngelirik kembarannya di sebelah.
" … "
"Temu?"
"Boleh, koq. Mereka kan jahat?" Temujin tersenyum. "Yang namanya kejahatan emang musti dibasmi. Sudah tugas seorang hero buat ngebela kebenaran n ngebasmi kejahatan …" katanya, ngebukain jendela gede tsb. Ngasih jalan. "Jangan sampe ketahuan orang luar ya, Tengu?"
Tengujin nyengir. Gigi taringnya jadi terlihat jelas. Dia pun kembali mencium bibir kembarannya tsb, satu detik. "Tentu aja. Seorang hero kan emang selalu nyembunyiin jati dirinya?" Dia pun bersiap terbang keluar. "Ja ne …"
Hembusan angin tanda Tengujin pergi, bikin rambut Temujin tersibak. Cowok tsb senyum, ngebetulin rambut blondenya dengan jari sambil menatap sosok terbang sodaranya di atas sana hingga sampe di depan pagar mansion. Mengawasi alias menyaksikan samar-samar manusia bertaring n bersayap mencabik-cabik 3 orang sampe mati. Kalo dengan wujud biasa, Tengu emang nggak pernah keluar pager tanpa dia. Tapi, beda dengan wujudnya yang sekarang.
Pak Satpam penjaga mansion yang posnya deket ama gerbang cuma bisa memejamkan mata n berusaha menulikan telinganya dari jeritan orang-orang tsb. Seluruh penghuni mansion Nikaido, termasuk para pelayan udah tau soal kelainan salah satu tuan muda mereka tsb. Hanya aja, info soal itu dirahasiakan dari dunia luar demi ngajaga nama baik keluarga.
KucingPerak
"Yagura-kun … apa kau tau kalau di Jepang, Tengu bisa juga berarti 'setan' … ?" Seorang pemuda berambut hitam model polem (poni-lempar kayaq Deidara, cuman dia lebih pendek) tersenyum gitu ngedapetin sebuah kartu devil joker dari tumpukan kartu di atas meja, di depannya. Dia n Yagura tengah duduk berhadapan di sofa hotel sambil nungguin Shukaku selesai mandi.
Pemuda yang keliatannya nggak lebih tua dari Kakashi tsb memiliki mata yang kuning, walau kuningnya nggak setajem mata Shukaku. Dia mengenakan kaos turtleneck hitam panjang n celana panjang dengan warna yang sama. Sepatunya juga hitam polos. Dia juga make lab-coat putih sepanjang lutut yang nggak dikancingin alias dibiarin terbuka. Di saku lab-coat kirinya keliatan menggantung rantai perak, rantai dari jam saku.
"Kenapa loe tiba-tiba ngomongin soal itu, Rokubi …?" tanya Shukaku yang baru keluar kamar mandi. Doi make handuk yukata putih. Rambut panjang coklat muda sepinggangnya udah disisir rapi ke belakang. Dia ngambil segelas wine yang tersedia di kamar tsb, sebelum meminumnya dikit n menghampiri dua orang di sana.
"Panggil aku Utakata saja, Shukaku-san ..." Cowok dengan lab coat yang dipanggil Rokubi alias utakata tadi senyum. "Aku cuma sedang merindukan salah satu objek eksperimen chimera-ku yang bernama Tengu. Dan kartu Devil Joker tadi mengingatkanku padanya." Katanya, sambil ngumpulin kartu-kartu yang bertebaran di atas meja. Dia habis main ama Yagura n kalah berturut-turut. "Yagura-kun … kau memang hebat kalau main ini, ya? Raut wajahmu susah dibaca. Daripada disebut poker-face, menurutku kau lebih cocok disebut tidak punya face sama sekali."
" … " Anak cowok dengan luka jahitan dibawah mata kiri tsb cuman diam, nggak njawab.
"'Objek' eksperimen, huh?" Shukaku ngulang kata-kata sang Rokubi tadi. "Elo bahkan nggak nyebut manusia-manusia itu sebagai 'subjek', malah 'objek'. Apa bagi loe manusia itu sama aja ama benda?"
"Selain perbedaan sifat dan berbagai unsur lainnya, bagiku manusia dan benda sama saja. Begitu juga binatang." Sahut Utakata sambil mengocok kartunya, tenang. "Mereka semua sama-sama bisa dieksperimenkan."
"Apa Yagura yang pernah jadi subjek eksperimen loe itu juga loe anggep cuman sekedar objek?"
"Benar." Jawab Utakata, enteng.
Shukaku ngelirik ke Sang Sanbi beberapa detik, trus beralih lagi ke Rokubi. Dia pun ngehela nafas, panjang. Ekspresi datar Yagura sama sekali nggak nunjukkin tanda-tanda kalo dia tersinggung atas ucapan barusan. Dia pun nggak berminat buat protes. Soalnya dia sendiri juga sering ngebunuh manusia. So, sedikit banyak bagi Shukaku ngebunuh manusia n binatang emang nggak terlalu beda juga sih … .
Utakata no Rokubi adalah salah satu anggota Jinchuuriki Akatsuki. Dia jarang berantem kayaq anggota Jinchuuriki lainnya. Utakata lebih sering berada di lab. Kalo keadaan memaksa, dia bisa bertarung hanya dengan pisau bedah. Kemampuan fightingnya emang ada di urutan keenam. Soalnya dia lebih ahli dalam bidang racun. Sekali aja racunnya mengenai lawan, orang tsb bakal langsung mati. Kalo orang itu lebih cepat dari Rokubi n bisa ngehindar dari serangan-serangannya, dia bukan lawan yang sulit lagi.
Bertarung memang bukan bidangnya. Utakata diangkat jadi salah satu Jinchuuriki itu lebih karna otaknya yang jauh lebih berbahaya daripada ototnya.
Yagura dulu juga pernah dijadikan objek percobaan olehnya. Waktu itu usia Utakata baru berkisar 13 tahun, tapi doi udah ngutak atik tubuh manusia. Saat itu yang diutak-atiknya adalah tubuh si kembar Yukimaru n Yagura yang baru berusia 7 tahun. (orang kembar adalah objek favoritnya!). Karna dialah, Yagura n Yukimaru yang kini sebenarnya udah berusia 17 tahun masih keliatan kayaq bocah 7 tahun. Tapi, walau pertumbuhan fisik mereka terhenti … kemampuan lainnya meningkat drastis. Kayaq daya tahan tubuh, kekuatan, kecepatan, dll. Bahkan di atas Rokubi itu sendiri.
"Ngomong-ngomong … apa tidak masalah kau minum wine? Kau kan belum cukup umur, Shukakun …?" tunjuk Utakata, ke gelas bening yang dipegang ama cowok tsb.
"Jangan panggil gue begitu. Mau mati, ya?" tanya cowok berambut panjang tadi, geram. "Ah, maaf. 'Shukaku-san' … " Utakata angkat tangan, senyum. Shukaku mendengus, n ngabisin winenya dalam sekali teguk. "Gue udah 20 tahun. Lagian, sebelum 20 gue juga udah sering minum ini, koq."
Sang Rokubi tertawa kecil. "Tapi syukurlah … keliatannya tubuhmu kuat dan tidak mudah mabuk."
"Huh. Jangan ngeremehin gue …" Shukaku lalu duduk di sofa single, sebelah Utakata n Yagura yang berhadapan. "Lalu … mau apa loe ke sini? Loe bukan cuman mo ngajakin Yagura main joker, kan?"
Utakata tersenyum sekali lagi n ngeletakkin tumpukkan kartu yang udah tersusun rapi ke atas meja. "Aku mau tanya, kapan kalian mau 'menjemput' kandidat baru? Kalau tidak salah … namanya Akamizu Gaara, ya?"
"Bukan urusan loe …" sahut Shukaku, males. Sama sekali nggak minat buat nanya dari mana tuh orang tau siapa yang dia incer. Di Akatsuki, info soal para kandidat Pein emang cepat menyebar.
"Well … sebenarnya aku ada di Konoha juga untuk menjemput seorang kandidat lain ..."
"Nggak nanya."
Utakata senyum n nerusin ngomong. "Pein-sama yang memberi tugas ini padaku."
"Pein-sama …" ngedenger nama itu disebut, nada Shukaku jadi nggak sekasar tadi.
"Sebenarnya lagi … aku sudah lama ada di sini. Jauh lebih lama dari kalian. Tapi … " Cowok berambut hitam tadi nyanderin diri ke sofa, ngehela nafas. " … aku selalu gagal."
"Payah … " dengus Shukaku.
" … " Yagura diam aja.
Utakata ketawa. "Selama ini aku sudah membunuh 159 Anbu hanya untuk menjemputnya saja. Aku tidak menyangka kalau Uchiha-san akan merelakan 159 orang itu cuma untuk melindungi satu orang. Ternyata … yang 'dingin' tidak cuma kita, ya?"
Ekspresi Shukaku jadi serius ngedenger itu. Uchiha Itachi adalah seseorang yang paling dia anggap sebagai musuh yang sepadan. "Dia ngeledek kita …" geramnya.
"Hah?"
"Dia tau kalo kita ngincer si kandidat itu, makanya dia makin ngejagain." Shukaku berdiri, kedua tangannya mengepal.
"Hmm, bagaikan kera yang memasukkan wortel ke dalam botol kaca tepat di depan kelinci, ya?" Sang Rokubi manggut-manggut. "Si Kera sebenarnya tidak terlalu berminat pada wortel itu, tapi karna kelinci sangat suka … dia menyimpannya hanya karna ingin melihat si kelinci kesal …"
"Jangan samain dengan binatang!" bentak Shukaku, marah. Kesel karna secara nggak langsung disamain ama kelinci, si hewan lemah itu. "Nggak lucu, tau! Analogi loe bener-bener payah!"
"Oh, maaf … maaf~ …" Utakata angkat tangan lagi. "Nah, Shukaku-san … " Nada bicaranya berubah serius. "Sebenarnya aku datang ke sini untuk menawarkan kerja sama … "
" …"
"Akasuna Sasori, kandidat yang kuincar … sepertinya memiliki hubungan yang lumayan dekat dengan Akamizu Gaara. Menurutku … jika salah satu dari mereka tertangkap, maka akan lebih mudah memancing yang satunya lagi."
"Huh. Ini sih bukan kerja sama." Cowok berambut coklat tadi menyilangkan lengannya, angkuh. "Bilang aja loe perlu bantuan gue."
"Tapi aku bisa membantumu untuk mendapatkan Gaara. Memang masih belum jelas, tapi … sepertinya dia juga akan mendapatkan perlindungan dari Uchiha-san. Kalau itu benar, akan sulit untuk berhasil."
"Jangan samain gue ama loe." Shukaku membalikkan badan, jalan ke dinding kaca bening di kamar tsb. Menatap kelap kelip lampu Konoha di bawah sana. "Gue nggak perlu bantuan loe. Yagura aja udah cukup." Katanya, ngomong nggak mandang lawan bicara.
"Yagura-kun, huh?" Utakata beralih ke 'bocah' yang duduk di depannya.
"Aku akan selalu membantu Shukaku-sama. Kau tidak perlu ikut campur, Utakata-san ..." Ucap Yagura sambil mainin yoyonya, datar.
"Wow …" Sang Rokubi miringin kepala, heran. "Kalo bukan karna adanya rasa setia dan keinginanmu yang selalu ingin bersama Shukaku-san … kau pasti sudah kusebut schizoid, Yagura-kun … "
" … "
"Kenapa kau begitu tunduk padanya? Bukankah tidak ada peraturan untuk memanggil –sama pada anggota Jinchuuriki lain meski tingkat mereka di atas kita?"
"Tapi juga tidak ada peraturan tentang adanya larangan untuk hal itu."
"Itu benar." Utakata ketawa. "Tapi … aku masih penasaran, nih … " Doi memajukan badan yang tadinya nyander. "Rasa setiamu yang berlebihan padanya itu tidak wajar. Apa kau … mencintai Shukaku-san …?"
" … " Yagura nggak njawab.
"Well …?" Utakata menuntut jawaban. Mantan objeknya ini tiba-tiba jadi menarik perhatiannya lagi. Biar gimana pun juga, anak itu kan sebenernya udah 17 tahun? Usia yang cukup matang untuk merasakan cinta.
"Cinta itu … apa …" tanya anak cowok bermata ungu tsb, datar.
"He?" Si Rokubi sweatdrop.
"Sudahlah. Kalo loe udah nggak ada urusan, pergi sana." Usir Shukaku, nadanya boring.
"Oh ya …" Utakata berdiri n melangkah mendekati sang Ichibi yang masih berdiri di sana. "Soal 'kerja sama' tadi … anggap saja aku memintamu." Katanya, sambil menyilangkan lengan di belakang pinggang. "Bisakah kau tidak langsung kembali ke Ame begitu berhasil menjemput Gaara? Aku ingin meminjamnya sebentar untuk memancing Sasori."
KucingPerak
KP: Wujud monsternya Tengu di sini terinspirasi alias mirip ama wujud Devil Jin dari game Tekken 5! Walau cuman sayapnya doang, sih. Mata n kukunya beda. Tengu juga nggak bertanduk …
SasuNaru: Kalo gitu apanya yang mirip!
KP: Oiya, mulai sekarang Naruto nggak lagi bakal sering disalah kirain sbg cewek. Tampangnya udah mulai boyish. Maklum … puber. (walau di fic ini proses fisik pubernya bisa dibilang terlalu cepat!). Hal ini terisnpirasi ama sepupuku sendiri yang udah lama nggak ketemu. Pas ketemu beberapa hari lalu, dia udah SMA (Beda banget ama sebelum aku kuliah! Agh!). Sekarang tuh cowok imut udah jadi cowok banget!
Oh, ya … tapi Naruto di sini masih kalah manly daripada Sasuke, koq.
Soal Utakata! Di animenya dia ganteng banget, lhooo! Tapi lupa dia munculnya episode berapa … . kalo gak salah matanya sih emang kuning …
Sasuke: What? Ternyata di antara kami bukan cuma ada orang ketiga doang, ya!
KP: Heheh … kan udah pernah kubilang 'nggak sesederhana itu, kale' …
