FINAL FANTASY VERSUS
028
NYX
27.08.756 M.E. | 08.21 AM
Tidak banyak yang bisa Nyx lakukan semasa berpatroli di gerbang barat kota. Dia berdiri seperti patung. Mulutnya terkatup, pose siaga, dan matanya lurus ke jalanan yang terbentang di depan. Sesekali wajahnya mengerling pada kendaraan yang melintas pos penjagaan. Kebanyakan kendaraan itu berupa mobil pribadi Insomnian dan truk yang membawa bahan pangan dari perkebunan di Duscae.
Seorang polisi berjalan melewati Nyx setelah mengecek sepintas isi sebuah mobil. Dari semua polisi yang pernah berjaga bersama Nyx sepanjang empat tahun pertama di Kingsglaive, dia paling tidak menyukai sang kepala polisi bernama Petra Fortis.
Perawakan Petra tegap, tinggi, dan kokoh. Dia mengenakan seragam serba hitam khas polisi Insomnia. Alat pelindung berbahan cordura melapisi dada, lengan, dan kakinya. Setengah wajahnya tertutup oleh helm yang tak pernah dia lepas sepanjang bertugas. Kelihatannya polisi itu mencintai kebersihan karena kumis dan jenggot selalu dipotong habis dari wajahnya. Kalau saja pisau cukur bisa memotong lidahnya yang tidak berhenti berceloteh, hidup Nyx akan menjadi jauh lebih mudah.
"Aku tidak tahu pelanggaran macam apa yang sudah kaulakukan di Kingsglaive sampai kita bertemu kembali di sini," Petra memulai celoteh rutinnya. Dia berdiri di samping Nyx. "Di pos ini, kau adalah bagian dari kepolisian, dan kau wajib mengikuti perintahku. Aku tidak memberi ampun terhadap segala bentuk pembangkangan. Kau pasti mengenal Tredd. Temanmu itu lebih banyak menimbulkan keributan daripada meringankan tugas kami. Yah, aku senang kau diam saja. Silakan melihat-lihat sampai kau puas."
Nyx tak berkomentar apa-apa. Dia menyadari bahwa di mata para polisi, reputasi semua Glaive sama, entah itu pendatang, perusuh, atau orang barbar. Sebagai imigran, dia telah belajar membaca kebenaran yang disembunyikan orang di balik mata mereka. Awalnya Nyx sulit menerima diskriminasi sosial yang membuatnya tidak nyaman, tapi lambat laun dia berhasil beradaptasi. Celotehan Petra menjadi salah satu bantuan tak disangka untuk membuatnya kebal dari hinaan-hinaan rasis. Tanpa menoleh, Nyx dapat merasakan sorot mata sang polisi tertuju kepada dia.
"Dengar," lanjut Petra, suaranya bernada cemooh, "kami tidak butuh imigran sepertimu yang mendadak muncul dan bersikap sok pahlawan." Petra mengeluarkan bunyi celetek seolah memastikan bahwa Nyx masih sadarkan diri. Nyx tetap memasang ekspresi datar, menghiraukan perkataan sang polisi, bahkan tidak memandangnya. Menghela napas, Petra mengembalikan badan ke posisi semula. Mereka berdua diam dalam keheningan yang canggung.
Sekitar setengah jam kemudian, muncul sebuah truk kuning dari kejauhan. Truk itu terlalu mencolok untuk luput dari perhatian siapapun. Ada kap terbuka di belakang yang berfungsi untuk mengangkut mobil mogok. Plat kendaraan itu hanya bertuliskan "LEIDE" tanpa tambahan nomor. Nyx memberhentikan truk sebelum melewati pos. Dia berjalan mendekati pintu kiri. Di sana, dia menemukan sebuah stiker berukuran besar bertuliskan "Hammerhead – Full Service Station".
Ketika Nyx mengetuk pintu, sang pengendara membuka jendela. Nyx terkesiap menemukan seorang wanita muda yang penampilannya tidak kalah nyentrik dari truknya. Wanita itu mengenakan jaket kuning yang menutupi seluruh lengannya, tapi belahan dada dan pusar perutnya terekspos terang-terangan, celana jeans super pendek, dan sepatu bots putih. Sebuah topi kuning menutupi rambut pirangnya.
Mata Nyx mengerjap cepat dua kali. Dia berusaha kembali fokus pada pekerjaannya. Sebagai pria normal, dia nyaris tersihir oleh keseksian wanita itu. Crowe yang bagi dia berparas cantik saja kalah beberapa level dari sang wanita pengendara truk itu. "Tolong tunjukkan identitas, Nona," pintanya.
"Ah, oke. Tiga detik," balasnya. Aksennya terdengar kental dan aneh di telinga Nyx. Wanita itu membuka laci di samping setir, lalu merogoh-rogoh isinya dan mengambil sebuah kartu. "Ini dia," katanya. Dia menyerahkan kartu tanda pengenal kepada Nyx.
Nyx membaca nama yang tercetak di kartu itu: Cindy Aurum. Kemudian Nyx mencocokkan foto di kartu dengan wajah wanita di hadapannya. Dagu lancip, hidung mancung, rambut pirang keriting dan pendek, dan sepasang mata hijau zaitun. Setelah memastikan kesamaan, Nyx pun bertanya, "Apa urusan Nona berkunjung kemari?"
"Paw-paw memintaku untuk mengirim barang pesanan Raja Regis," jawabnya sambil mengangkat sebuah kotak hitam berukuran kecil yang terbungkus rapi.
Mendengar kata "Paw-paw", secara natural Nyx membayangkan seekor anjing atau kucing. Tapi mustahil seekor hewan memberi perintah pada seorang manusia, jadi dia memutuskan tidak memedulikan siapa sebenarnya Paw-paw itu. Dia lebih tertarik dengan barang yang dikirimkan Cindy. Sebagai orang yang paling berkuasa di Lucis, Raja Regis tentu memiliki materi tak terbatas. Namun mengapa sang Raja sampai repot-repot memesan barang dari luar? Lebih aneh lagi, mengapa beliau mengandalkan seorang wanita hipster seperti Cindy?
"Kami perlu mengecek barang tersebut, kalau kamu tidak keberatan. Sesuai prosedur operasi standar, tidak boleh ada barang sembarangan masuk ke dalam Citadel," kata Nyx.
Cindy tampak berpikir, satu jarinya menempel di pelipis kanan. "Maaf sekali. Aku tidak bisa melakukan itu. Atas permintaan Raja Regis sendiri, benda ini harus dirahasiakan. Aku sendiri tidak tahu apa isi kotak ini."
Nyx mengamati Cindy beberapa saat. Wanita itu tampak tak ada niat menipu. "Tunggu sebentar, Nona Cindy," pinta Nyx. Semalas-malasnya Nyx berbicara dengan Petra, dia membutuhkan bantuan sang kepala polisi untuk menyelesaikan masalah kecil ini. Setelah mendengar cerita dari Nyx, Petra langsung menelepon ke Citadel.
Berselang lima belas menit, Petra berkata, "Raja Regis memberi izin bagi Nona itu untuk mengunjungi Citadel. Dan ada tugas baru untukmu. Kawal dia sampai ke Citadel sesuai perintah Raja."
Nyx mengiyakan. Dia kembali menghampiri Cindy. "Kau bebas melewati gerbang dengan syarat di bawah pengawalanku."
"Aku tidak pernah ke Citadel, jadi kebetulan aku butuh pemandu jalan," kata Cindy diiringi senyum simpul.
"Apa sebaiknya aku yang menyetir atau—"
"Trukku biasanya bermasalah kalau bukan aku yang mengemudi," sela Cindy. Dia membuka pintu kanan. "Ayo, temani aku menjelajahi ibu kota ini."
Ketika Nyx menaiki truk dan duduk di sofa kanan, berbeda dari dugaannya, berada di dalam truk ternyata cukup nyaman dan seru. Ketinggian truk membuat jangkauan pandangnya lebih luas untuk menyaksikan isi kota daripada ketika dia menumpang di van Kingsglaive yang mirip seperti penjara kecil dan panas.
Selama perjalanan Nyx memberi arahan kepada Cindy seolah dia mesin GPS yang hidup. Jalan tol dipadati mobil-mobil orang kantoran. Laju truk hanya berkisar empat puluh kilometer per jam. Perjalanan ke Citadel akan memakan waktu lebih lama dari dugaan awalnya.
"Kutebak dari seragammu, kau adalah seorang tentara Kingsglaive," kata Cindy, membuka topik pembicaraan. "Siapa namamu?"
"Nyx Ulric. Panggil aku Nyx," jawabnya. Dia merasa perlu mengetahui lebih lanjut identitas wanita di dekatnya, sekedar untuk alasan keamanan sang Raja. "Dan apa hubunganmu dengan Raja Regis, Nona Cindy?"
"Paw-paw…," Cindy berhenti mendadak, lalu terkekeh melihat Nyx yang memasang ekspresi kebingungan, "maksudku, kakekku adalah teman lama Yang Mulia. Tidak seperti Tuan Clarus atau Tuan Cor, kakekku cuma seorang montir sederhana. Kujamin kau tidak pernah mendengar nama Cid Sophiar."
"Yeah, kau benar," Nyx mengakui, "jadi kau tinggal di Leide?"
Seulas senyum menghiasi bibir Cindy. "Ya. Tepatnya di Hammerhead. Bersama Paw-paw, kami menjalani bisnis bengkel di sana. Dulu Paw-paw menjadi mekanis rutin Regalia Yang Mulia. Tapi semenjak Paw-paw mengidap reumatik, aku menggantikan pekerjaannya. Dan ternyata, aku malah ketagihan memodifikasi mobil. Aku tak pernah bosan melihat detail demi detail pada body, roda, dan interior mobil. Kalau kau punya waktu senggang, sempatkan diri datang ke bengkelku."
Nyx tersenyum sungging. Dia tidak punya kendaraan pribadi, jadi tawaran Cindy tidak ada gunanya. Namun dia tidak ingin menyinggung perasaan wanita itu, jadi dia berkata, "Jarang sekali ada wanita yang menyukai otomotif."
"Terkadang tak ada salahnya melanggar hukum alam. Ada kebanggaan tersendiri untuk meruntuhkan stereotip," balas Cindy riang.
Nyx berpikir kalau saja semua orang berpikir seperti Cindy, dia dan para Glaive lainnya akan terbebas dari pelabelan buruk Insomnian. Stereotip, prejudis, diskriminasi. Semua itu tidak ada manfaat baik selain memecah persatuan manusia ke dalam kotak-kotak. Dia lelah dipandang sebagai imigran. Hatinya memang terletak di Galahd, tapi fisiknya berada jauh dari kampung halamannya. Setiap hari dia mempertaruhkan nyawa demi Insomnia. Apakah tidak ada apresiasi yang dapat diberikan pada Kingsglaive di samping sebutan imigran yang seolah merendahkan derajat mereka? Mau tidak mau Nyx mengagumi paradigma Cindy, jadi dia pun memuji tulus. "Kakekmu pasti bangga punya cucu sepertimu."
Cindy tertawa. Matanya tetap lurus ke jalan, tapi mulutnya terus bergerak. "Justru sebaliknya. Aku yang bangga punya kakek seperti Paw-paw. Kedua orang tuaku meninggal dalam kecelakaan lalu lintas ketika aku masih kecil. Daemon menghadang perjalanan mereka, menghancurkan mobil, dan membunuh mereka. Sejak saat itu, Paw-paw membesarkanku seorang diri."
Mendengar itu, penyesalan membanjiri Nyx. Dia berpendapat bahwa tidak bijak membahas topik personal kepada orang asing semudah ini. Dia sendiri tidak ingin sembarang orang mengetahui masa lalunya yang kelam. Cukup Raja Regis, Libertus, Crowe, Pelna dan Luche yang tahu. Tapi anehnya, Cindy bisa mengutarakannya dengan mudah dan diiringi canda tawa. "Aku turut berduka cita atas orang tuamu," kata Nyx simpatik.
"Kau tidak perlu menyesal. Aku sudah melupakannya lama sekali." Dia tertawa, lalu menoleh pada Nyx dan sepertinya dia mengerti bahwa Glaive itu tidak ingin ditanya-tanya mengenai keluarganya. Dia mengalihkan pembicaraan dan berkata, "Aku sering sekali melihat para Glaive mampir ke Hammerhead, membeli perlengkapan di mini market atau makan di restoran Takka. Kau tentu tahu kalau Kekaisaran membangun markas Formouth Garrison di Leide. Kekaisaran tidak berhenti menjatuhkan MT ke jalanan dari markas mereka dengan kapal udara. Patroli Kingsglaive setidaknya berhasil mengurangi teror Kekaisaran. Mewakili warga Leide, aku berterima kasih atas bantuan kalian."
Baru kali ini Nyx mendengar pengakuan atas jerih payahnya. Dia merasakan gelombang kebahagiaan menerpanya. Dan ironisnya, itu datang dari seorang Lucian di luar dinding. "Aku hanya seorang bawahan yang mengikuti perintah Kapten, jadi akan kusampaikan rasa terima kasihmu padanya," balas Nyx sambil tersenyum.
"Sayang sekali posisi kalian digantikan oleh Crownsguard. Entahlah, aku merasa kalian tampak lebih berpengalaman daripada mereka."
Sepasang alis Nyx terangkat. "Maksudmu Kingsglaive tidak lagi berpatroli di luar Tembok?"
Cindy sama terkejutnya dengan Nyx. "Kukira kau sudah tahu. Sekitar seminggu yang lalu, aku tidak lagi menemukan seorang Glaive berkeliaran di Hammerhead. Begitu pula dengan Kekaisaran yang menghentikan seluruh aktivitas. Sebagai gantinya, bengkelku penuh oleh Crownsguard. Salah satu dari mereka bilang padaku kalau mereka ditugaskan untuk mengevakuasi Insomnian secara bertahap ke Lestallum."
Timbul firasat buruk dalam diri Nyx. Tidak ada satu pun media yang memberitakan hal sebesar evakuasi Insomnian. Semuanya aman tenteram di dalam kota. Begitu pula kondisi di luar Tembok yang bebas dari pertempuran dengan Niflheim. Mungkin kebanyakan orang menganggap ini akhir dari perang berkepanjangan, namun Nyx meragukannya. Apa yang sebenarnya Raja Regis rencanakan? Manuver beberapa hari lalu pasti ada kaitannya dengan berita baru ini.
Dia menghabiskan setengah perjalanan selanjutnya dengan memikirkan alasan yang masuk akal di balik tindakan sang Raja yang mencurigakan. Truk berbelok ke kiri dan menuruni jembatan layang. Jarak truk dengan Citadel semakin menyempit karena sekarang Citadel tampak semakin jelas dari balik jendela. Dia memberikan arahan kepada Cindy ketika truk melaju di jalan raya. Pada akhirnya truk sampai di dalam komplek Citadel.
Dua orang polisi mengetuk pintu, meminta Cindy membuka jendela, tapi mereka tidak mengecek isi truk. Sepertinya mereka sudah mengantisipasi kedatangan Cindy dari Petra. Cindy menghentikan truk di beranda Citadel. Bersama wanita itu, Nyx masuk ke aula depan.
Dia membantu Cindy mendaftarkan diri ke salah seorang resepsionis. "Nona Cindy, mohon tunggu sebentar. Perwakilan Crownsguard akan melayani Anda," kata sang resepsionis. Nyx menggiring Cindy ke kursi terdekat. Selama duduk, Cindy mengusap-usap pahanya. Tubuhnya tampak menggigil. Pakaian serba minim wanita itu cocok digunakan di Leide yang bertemperatur panas, tapi sama sekali tidak membantu di ruangan ber-AC seperti aula Citadel.
Nyx membuka jaket dan memberikannya pada Cindy. "Gunakan ini untuk menghangatkan tubuhmu."
"Terima kasih. Kau baik sekali," katanya seraya menerima jaket itu. Dia tersenyum lebar. Serta-merta dikenakannya jaket itu dan tubuhnya berhenti bergetar.
"Nah, ini bukan apa-apa, kok," tukas Nyx.
Berselang sekitar sepuluh menit kemudian, mereka mengalihkan perhatian pada pintu koridor di depan yang dibuka oleh dua orang Crownsguard berjas hitam. Cor Leonis menampakkan diri. Dia mengenakan jaket, kaos, celana panjang dan sepatu bot serba hitam.
Menghormati sang Kapten Crownsguard, Nyx segera membungkukkan badan selama dua detik ketika sang Immortal Shogun menghampirinya. Ingatan Nyx akan Cor samar-samar. Terakhir kali dia bertatap wajah dengan Cor adalah dua belas tahun yang lalu. Saat itu, Nyx masih bocah ingusan. Cor membantu Nyx bangun setelah Raja menyelamatkan dirinya yang tak sadarkan diri di Galahd. Setidaknya itulah yang dia dengar dari Libertus.
Cor menyalami Cindy. Tampangnya terlalu serius sampai Nyx tidak bisa membaca apakah pria itu sedang tersenyum atau berduka. "Nona Cindy, terima kasih telah repot-repot mengirimkan barang kemari."
"Aku bersedia melakukan apapun untuk kepentingan Yang Mulia," balas Cindy santai. Dia menyerahkan sebuah kotak hitam di genggamannya kepada Cor. "Ini barang pesanan Yang Mulia."
"Bagaimana kabar Cid?" tanya Cor seraya menerima kotak itu.
"Panjang umur dan masih nendang, seperti biasa," jawab Cindy.
Siratan kelegaan terbaca dari mata biru Cor. "Tipikal Cid. Tetap mendukung Yang Mulia sejauh apapun dia berada dari Insomnia." Dia membuka rapat setengah tutup kotak hitam itu. Dari sudut ini, Nyx dan Cindy tidak dapat mengintip isi kotak tersebut. Ditelitinya benda di dalam dengan cermat selama sepuluh detik. "Sempurna. Cid memang ahlinya di bidang ini." Pandangannya kembali kepada Cindy dan dia berkata, "Tolong sampaikan rasa terima kasih Yang Mulia pada Cid."
"Tentu saja, Tuan Cor."
"Selain itu, Raja Regis mengundang Cid dan kau untuk datang ke ulang tahun Pangeran tiga hari lagi." Cor mengambil sebuah amplop krem dengan segel kerajaan Lucis dari jaketnya. "Detailnya ada di dalam amplop ini. Yang Mulia mengharapkan kedatangan kalian."
Perempuan hipster itu menerima amplop itu. Dahinya mengerut. "Aku tidak berjanji Paw-paw bisa menempuh perjalanan panjang kemari. Tapi aku akan mencoba membujuknya."
"Aku menghargai usahamu," timpal Cor. "Apa kau punya waktu senggang? Kami telah menyiapkan makanan untukmu."
Cindy menolak dengan halus. "Aku ingin sekali, tapi aku tidak bisa meninggalkan bengkel terlalu lama."
"Aku mengerti," kata Cor tanpa berlama-lama. "Berhati-hatilah selama perjalanan pulang." Dia menoleh kepada Nyx. "Kamu boleh kembali ke pos jagamu setelah mengantar Nona Cindy keluar dari kota, Glaive."
Seperti dugaan Nyx, Cor tidak mengingat namanya, atau mungkin saja petarung legendaris itu sama sekali tidak tahu. Wajar apabila Cor hanya memanggilnya dengan sebutan "Glaive". Lagipula, dirinya bukan siapa-siapa di mata sang Marshal yang terhormat. Dengan satu anggukan patuh, Nyx bersama Cindy meninggalkan Citadel, kembali menuju tempat pertama kali mereka berjumpa.
Siang berganti malam dengan lambat ketika dia menganggur di pos kota. Minum bersama teman-teman seusai bekerja adalah kegiatan yang manjur untuk melepas stres. Mengikuti ajakan teman-temannya, Nyx mampir ke Malboro-Kun sebelum pulang ke kos.
Sambil menyandang jas hitamnya, dia berjalan menelusuri gang panjang. Di atas, bulan menggantung berat di langit, cahayanya tidak begitu jelas karena terhalang oleh semburat energi yang memancar dari Kristal Agung yang membentuk dinding magis transparan. Lampu-lampu di jalanan dan bangunan terang benderang. Orang-orang sibuk berjalan sendiri-sendiri atau bergerombol. Suasana ramai, namun terkendali.
Dia menuruni tangga jembatan untuk mencapai area Distrik C yang lebih kumuh. Rusun-rusun berderet di pinggir kali. Para pedagang membuka kedai di pinggir jalan. Meja dan kursi pengunjung hampir menghabiskan areal jalan yang sempit. Nyx menyempatkan diri ke sebuah kedai dan membeli sebotol bir. Tahun ini dia berumur dua puluh lima. Mengonsumsi minuman beralkohol bukan aktivitas yang melanggar hukum baginya.
Sesampainya di Malboro-Kun, Nyx melihat teman-temannya telah tiba duluan. Libertus, Crowe, Pelna, dan Luche duduk di salah satu dari dua meja di warung kecil itu. Mereka semua mengenakan kaos dan celana santai karena tidak bekerja seperti Nyx yang dikenai sanksi atas pelanggarannya. Sang pemilik warung, Yamachang, memanfaatkan beranda rumahnya untuk dijadikan tambang emas. Pemilik warung itu bekerja di sebuah dapur sempit yang menghadap ke beranda. Makanan di sana tidak terlalu istimewa, tapi mereka menyukai lokasi warung yang terbilang sepi dan harga menu yang tidak memeras dompet.
"Hei! Hari yang berat di gerbang ya, Glaive?" sapa Libertus. Temannya itu terpaksa cuti seminggu untuk memulihkan patah tulang karena tidak sengaja tertimpa bongkahan batu besar di Tembok. Kaki kirinya digips dan dia menggunakan sepasang kruk ketiak untuk berjalan.
Nyx menyeringai enggan kepada Libertus.
"Kau ini nggak tahu diri. Gara-gara kamu dia ditempatkan di sana," komentar Crowe. Dia sengaja meninju kaki Libertus hingga pria itu mengerang kesakitan.
"Kok sambutan untuk pahlawan besar seperti itu?" balas Nyx sarkastik.
Crowe bangkit dari kursi dan mendekati Nyx. "Jadi kau mau kupeluk atau kucium? Aku bisa memberimu semuanya gratis, tanpa dipungut biaya," katanya diiringi tawa ringan dan kedipan menggoda.
"Kasihan Libertus. Kakinya sudah patah, nanti hatinya ikut patah," kata Nyx, menggeleng-geleng. Dia mengitari meja, mencari kursi kosong. Ada satu kursi tak bertuan di seberang Crowe. Dia memindahkan sebuah jaket kulit coklat milik Libertus sebelum menduduki kursi tersebut.
Libertus tampak tidak peduli dengan sindiran Nyx. Dia sibuk mencelup sate ke mangkuk berisi saos, lalu mengunyahnya dengan lahap. Wajahnya mendadak mengernyit. Dia berhenti mengunyah dan mengeluh, "Ugh. Kamu kasih apa sih bumbu ini? Rasanya seperti kotoran Chocobo!"
Yamachang tidak terima kritikan Libertus. Dia mengambil sebuah pulpen yang diselipkan di bandana dan mengacungkannya pada Libertus seolah menghunuskan pedang mematikan. "Tutup mulutmu! Aku mencoba resep baru dan semua orang menyukainya."
"Oh, kalau begitu aku menjadi orang pertama yang membencinya. Beri aku saos kacang biasa atau aku nggak mau membayar," gerutu Libertus.
"Orang zaman sekarang maunya serba instan. Tidak mau mengerti susahnya memasak!" gerutu Yamachang.
Nyx melihat ke dalam sebuah mangkuk di depan meja. Dari penampilan luar, memang saos itu terlihat menjijikkan: berwarna hijau, kental, dan dicampur potongan daun bawang dan seledri. Dia juga menemukan beberapa tentakel kecil dalam larutan itu.
Pelna bersender di tepi dapur kecil Yamachang. "Apa itu bahan utama saosmu, Bung?"
Yamachang berhenti mengiris sepotong tentakel keunguan dengan pisau. "Ya, susah sekali mencari bahan ini. Aku harus membunuh Ultros. Kau tahu monster itu? Bentuknya seperti gurita, tapi ukurannya jumbo!"
Mendengar seruan sang pedagang, Pelna tertawa seolah menganggap lawan bicaranya sedang bergurau. "Kau membunuh Ultros dengan apa?"
"Dengan getaku. Percaya kata-kataku. Aku bisa melakukan warp-strike seperti kalian!" jawab Yamachang, berapi-api seperti kompor di belakang punggungnya.
Tawa Pelna semakin meledak. "Kau pandai bercanda, Bung Yama. Tapi bercanda juga ada batasannya. Kami bukan anak kecil yang dungu."
Merasa kesal, Yamachang mendengus hingga lubang hidungnya yang besar bergetar. Dia mengelap wajahnya yang berkeringat terpapar uap dari panci dengan handuk putih yang dilingkarkan di lehernya. "Terserah apa katamu. Kalau kalian nggak suka masakanku, silakan pulang ke Galahd."
"Oh, bagus. Aku senang kau bersedia menggunakan teknik unggulan kami untuk beberapa tambahan Gil!" balas Libertus, nadanya semakin meninggi.
"Hei, Libertus. Kau sudah berterima kasih pada Nyx yang menyelamatkan nyawamu?" tanya Crowe, berusaha meredakan perdebatan.
"Ayolah, Crowe. Sebagai sahabat dekat, aku dan Nyx tidak perlu melakukan itu. Dia membantuku, aku membantunya. Dari dulu sudah begitu," timpal Libertus.
Tidak sengaja Nyx melihat sebuah botol obat di saku jaket Libertus. Di sana tercetak teks "Olseaurare Tablets 25 mg". Dia mengetahui obat itu sebagai pereda rasa sakit yang kuat. "Sepertinya kau dapat 'bantuan' lain, huh kawan?" tanya Nyx. Dia menyodorkan jaket temannya di pergelangan tangan kanan. Libertus menyabet jaketnya dengan kasar dan berseru kepada Nyx untuk tidak ikut campur urusan pribadinya.
Pelna kembali ke meja dan memberikan segelas teh hijau untuk Nyx. Dia berseru, "Demi rumah…"
"…dan tanah air," Nyx membalas spontan slogan Kingsglaive yang sudah terekam sempurna dalam otaknya.
Ketika duduk di kursi seberang Nyx, Pelna melanjutkan perkataannya. "Nyx si penjaga gerbang. Bagaimana pendapatmu tentang penugasanmu yang baru?" tanyanya.
"Tidak ada yang berubah dari tiga setengah tahun aku bertugas di sana. Luar biasa, deh. Kalian pasti akan suka," jawab Nyx. Nada suaranya sengaja dia lebih-lebihkan. "Tugas menjaga gerbang itu benar-benar seru."
Teman-temannya merespon berbeda-beda. Pelna tertawa geli. Crowe tersenyum monyong. Libertus masih saja menyantap sate walau dia tidak menyukainya. Di lain pihak, Luche dari tadi diam. "Bohong banget," komentar Pelna. "Kita semua tahu para polisi paling benci dengan orang asing. Begitu bosannya mereka karena terlalu menganggur."
"Nggak terlalu membosankan. Setidaknya berarti damai. Aku bisa cari ratusan perang di Galahd untuk tahu arti bosan yang sebenarnya." Nyx meneguk isi gelas dari Pelna. Teh itu masih terlalu panas. Lidah Nyx terasa kibas, tapi begitu cairan itu mencapai kerongkongannya, dia merasa tenang. Lalu dia mulai menggigit sate tusuk demi tusuk. Kali ini kecap dan bawang terasa gurih dalam mulutnya, dan dia mulai makan dengan lahap.
"Pokoknya kau jangan sampai mati. Aku masih berhutang banyak padamu," kata Pelna. Raut wajahnya berubah serius. Dia tidak main-main dengan perkataannya. Dari tadi dia baru makan satu tusuk sate. Piring-piring kotor tersebar di meja dekat temannya itu. Pasti dia sudah makan banyak sebelum Nyx tiba di sini.
Nyx tidak pernah menganggap teman-teman yang diselamatkannya berhutang budi padanya. Dia melakukan itu secara sukarela. Tapi seberapa sering dia menepis itu, mereka terus mengangkat hal yang sama.
"Mau jadi apa Glaive tanpa pahlawannya?" Libertus menimpali dengan sinis. Selalu saja Libertus menyindir Nyx dengan sebutan "pahlawan". Temannya yang bertubuh tambun itu tidak jauh berbeda dari Petra yang kerap merendahkannya dengan sebutan "imigran". Kalau Nyx tidak menghargai persahabatan mereka, barangkali sudah dari dulu dia meninju wajahnya yang menyebalkan.
"Bisakah kalian tidak membahas topik ini selagi minum?" Crowe bertindak sebagai mediator. Tepat sekali waktunya bagi sang mage beraksi. "Lagipula kita sudah membuat Niff berlari tunggang langgang, bukan?"
"Mereka tidak lari dari kita. Mereka cuma mempermainkan kita," akhirnya Luche buka suara. Dia berdiri beberapa senti dari meja seolah mengerti bahwa Libertus dan Crowe tidak menyukainya. Luche memaksa Nyx untuk meninggalkan Libertus yang membutuhkan pertolongan. Ada banyak saksi mata tak terbantahkan ketika musibah itu terjadi. Nyx mengerti bahwa Luche adalah Tangan Kanan Kapten dan dia wajib mematuhi perintah sang Kapten. Tapi itu bukan berarti Luche harus mematikan hati nuraninya dan merelakan temannya sendiri mati konyol. Kalau Nyx menuruti perintah Kapten, Libertus tidak akan bisa ikut berkumpul karena sudah berakhir di peti mati. Dan kemungkinan besar Crowe mengurung diri di kamar dan menangis seharian.
"Hentikan sikap menyebalkanmu, Luche," cetus Nyx. Dia tidak mampu lagi menahan kekesalannya. "Kita semua tahu apa yang terjadi."
"Apa kau tahu juga perwakilan Niff kemari setelahnya?" tanya Luche, nadanya berusaha memojokkan Nyx.
"Untuk apa? Mau bilang kalau mereka menyerah?" timpal Libertus. Alisnya berkerut, satu sudut bibirnya belepotan saus sate.
"Justru sebaliknya," tukas Luche.
"Kita yang diminta menyerah? Enak saja!" Suara Libertus terdengar tercekat dan marah.
"Tidak. Coba pikir. Kekaisaran tahu Lucis mulai melemah. Ini waktu yang tepat untuk mengajukan permintaan," Luche berkata tegas dan lantang.
Nyx dan ketiga temannya saling membuang muka. Mereka kehilangan nafsu makan mendengar pendapat Luche yang masuk akal. Bahkan terlalu sulit bagi mereka untuk menerima kenyataan pahit ini. Spontan saja Nyx teringat akan pertemuan pertamanya dengan Cindy tadi pagi. Benda pesanan Raja yang disembunyikan dan pernyataan bahwa Raja melakukan evakuasi Insomnian secara diam-diam semakin meyakinkan firasat buruknya bahwa ada suatu kebenaran yang disembunyikan kerajaan dari publik dan Kingsglaive.
Raja Regis adalah seorang raja yang bijaksana. Nyx memercayai hal itu sedalam dia melayani kepentingan sang raja dengan segenap jiwa dan raganya. Dia berharap Raja tidak mengambil keputusan yang merugikan banyak pihak. Dia tidak ingin gambaran Raja yang diagung-agungkannya selama ini runtuh dalam sekejap. Dan yang terpenting, jangan sampai sumpah setianya pada Lucis berakhir sia-sia dalam lubang penyesalan.
